Anda di halaman 1dari 3

Nama Nim

: Surizal Syah. : 510902005. ADAT UREUNG LINGKA

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Masyarakat aceh sejatinya terdiri dari delapan suku bangsa yaitu: Aceh. Gayo. Aneuk Jamee. Tamiang. Kluet. Alas. Singkil. Semelu. Dalam tradisi lokal masyarakat aceh selalu diutamakan keturunan dan

kedamaian yang disebut meuseuraya dan duk pakat yang dilaksanakan di kampongkampung (aceh), masyarakat diwajibkan menjaga dan memupuk hal-hal yang dianggap membawa kebaikan terhadap sesama keturunan dan di lingkungan sekitar rumah atau tempat tinggalnya, agar tercipta harmonisasi dengan sesame tetangganya. Hal ini dipresentasikan dalam ungkapan hadits maja yang berbunyi, toe jakmeujak, jioh weuh-meuweuh, maksudnya dekat saling kunjung-mengunjungi, jauh saling kasih-mengasihi.

Nilai-nilai sosial yang sudah terbentuk sejak dulu dalam masyarakat, semakin termarjinalkan oleh nilai baru yang mengutamakan nilai-nilai materialisme dan sekularisme didalam menggapai keunggulan antara sesama anggotanya. Kearifan masyarakat aceh dulu sudah menurunkan tradisi yang mengatur tata pergaulan, baik dengan tetangganya/lingkungannya di tempat tinggal. 1. Saling menghormati dan saling menghargai semua tetangga tanpa kecuali, seperti diwakili oleh ungkapan,bak gob duk bek gata kubang, bungong dalam reugam bek gata hila, anjuran dan nasehat ini agar harmonisasi didalam masyarakat selalu terjaga. Hak-hak tetangga/orang lain tidak boleh diganggu gugat ataupun dirampas. 2. Bersama-sama menjaga ketertiban dan kehormatan rumah tangganya, begitu juga rumah tangga orang-orang yang tinggal dilingkungan sekitar, seperti ungkapan,boeh ara iri, ie pasang surut, meunyoe tajak bineeh ie, lagenyan taturoet. 3. Member pertolongan yang tulus, dimana yang kita perlukan dan bersamasama kita berturut berduka cita dikala ada tetangga yang ditimpa musibah. 4. Bersama-sama dalam ketuguhan menyimpan harasia tetangga, yang sangat sesuai dengan sifat manusia yang tidak menyinangi. 5. 6. Berhati-hati dalam menjaga keamanan dan ketentraman bersama-sama. Bersama-sama dalam kegembiraan dikala ada tetangga yang mendapat kebahagiaan, bersama-sama membersihkan sifat iri hati dan dengki.

7.

Bersama-sama menjauhkan diri dari sifat suka memfitnah atau memburukburuk tetangganya terhadap orang lain.

8.

Bersama-sama berhati-hati dalam mengontrol dengan menjaga anak masingmasing dalam pergaulan sehari-hari dilingkungannya, agar mereka selalu menganggap bersaudara. Adat-adat tersebut diatas diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari didalam

masyarakat lingka. Selain itu masyarakat juga dilarang keras menyakiti tetangganya sendiri, maka mereka harus menembuskan sikap kasih saying terhadap sesama tetangga dilingkungannya sendiri, sama dengan seperti mengasihi diri sendiri. Kearifan lokal adat dan budaya didalam masyarakat aceh pada masa dulu ternyata telah mengatur segalanya, termasuk detil-detil kehidupan lingkungannya. Dalam konteks ureung aceh, apabila terjadi sesuatu didalam atau dilingkungan rumahnya yang pertama sekali mengetahui dan membantu, ialah disebut ureung lingka ataupun syedara lingka dan pun syedara saboh nang. Masyarakat aceh sangat menghormati syedara lingka, sehingga apabila membeli atau membawa sesuatu oleh-oleh kerumahnya, itu harus melewati rumah atau harus tersium tagannya.