Anda di halaman 1dari 15

LINGKUNGAN YANG BERUBAH

Para professional selalu diminta untuk cermat ketika menjalankan tugas melayani klien. Munurut common law, para profesionalaudit bertanggung jawab untuk memenuhi apa yang telah dinyatakan dalma kontrak klien. Apabila auditor gagal memberikan jasa atau tidak cermat dalam pelaksanaannya, mereka secara hukum bertanggung jawab kepada klien atas kelalaiannya dan/atau pelanggaran kotrak, dan dalam situasi tertentu, kepada pihak selain klien mereka. Meskipun profesi telah melakukan berbagai upaya untuk membahas kewajiban hokum akuntan public, jumlah tuntutan dan besar ganti rugi bagi para penuntut tetap tinggi, termasuk tuntutan yang melibatkan pihak ketiga menurut common law maupun UU sekuritas federal. Tidak ada alasan sederhana yang menjelaskan tren ini, tetapi factor berikut merupakan penyebab utamanya. 1. kesadaran para pemakai laporan keuangan yang semakin meningkat akan tanggung jawab akuntan public 2. Kesadaran yang meningkat di pihak Securities & Exchange Commission (SEC) mengenai tanggung jawabnya melindungi kepentingan para investor 3. Kerumitan fungsi-fungsi auditing dan akuntansi yang disebabkan oleh meningkatnya ukuran bisnis, globalisasi bisnis, dan kerumitan operasi bisnis. 3. Kecenderungan masyarakat untuk menerima tuntutan dari pihak yang dirugikan terhadap siapa saja yang dapat memberikan kompensasi, tanpa melihat siapa yang salah, bersama dengan beberapa doktrin tentang kewajiban. 4. Keputusan pengadilan menyangkut ganti rugi yang besar pada beberapa kasus melawan akuntan public telah mendorong para pengacara untuk memberikan pelayanan hokum atas dasar fee kontijen. 5. Banyak kantor akuntan public lebih memilih menyelesaikan masalah hokum di luar pengadilan untuk menghindari biaya pengendalian yang mahal dan publisitas yang merugikan, ketimbang menyelesaikannya melalui proses pengadilan. Kesulitan yang dihadapi hakim dan juri dalam memahami serta menginterpretasikan masalah teknis akuntansi akuntansi dan auditing.

MEMBEDAKAN ANTARA KEGAGALAN BISNIS, KEGAGALAN AUDIT, DAN RISIKO AUDIT


Banyak professional akuntansi dan hukum yakin bahwa penyebab utama tuntutan hukum kepada kantor akuntan public adalah kurangnya pemahaman para pemakai laporan keuangan atas dua konsep: 1. Perbedaan antara kegagalan bisnis dan kegagalan audit 2. Perbadaan antara kegagalan audit dan risiko audit Kegagalan bisnis (business failure) terjadi apabila bisnis tersebut tidak mampu mengembalikan pinjamannya atau memenuhi harapan para investor karena keadaan ekonomi atau bisnis, seperti resesi, keputusan manajemen yang buruk, atau persaingan yang tak terduga dalam industri itu. Kegagalan audit (audit failure) terjadi apabila auditor mengeluarkan pendapat audit yang tidak benar karena gagal memenuhi persyaratan standar audit. Risko audiot merupakan kemungkinan bahwa auditor akan menyimpulkan, setelah melaksanakan audit yang memadai bahwa laporan keuangan telah dinyatakan secara wajar, sedangkan dalam kenyataanya mengandung salah saji yang material. Resiko audit tidak dapat dielekkna karena audit mengumpulkan bukti hanya atas dasar pengujian dan karena kecurangan yang disembunyikan dengan baik sangat sulit dideteksi. Para profesional akuntansi cenderung setuju bahwa dalam kebanyakan kasus, ketika audit tidak dapat menemukan salah saji yang material dan pendapat audit yang salah sudah diterbitkan maka layak untuk dipertanyakan apakah auditor menggunakan kemahirannya dalam melaksanakan audit.

KONSEP-KONSEP HUKUM YANG MEMPENGARUHI KEWAJIBAN


Seorang akuntan publik bertanggung jawab atas setiap aspek pekerjaan akuntansi publiknya, termasuk auditing, perpajakan, jasa bantuan manajemen, dan jasa akuntansi serta pembukuan. Jika seorang akuntan publik gagal menyiapkan dan mengisi SPT pajak klien dengan benar, akuntan publik itudapat dituntut untuk membayar semua denda dan bunga yang harus dibayar oleh klien ditambahfee penyiapan SPT pajak. Sebagian besar tuntutan hukum terhadap kantor akuntan publik berkaitamn dengan laporan keuangan yang sudah maupun belum diaudit.

Ada kesempatan antara profesi akuntan dan pengadilan bahwa auditor bukan penjamin atau penerbit laporan keuangan. Auditor hanyan diharapkan untuk melaksankan audit dengan kemahiran, dan tidak diharapakan untuk benar 100%. Standar kemahiran atau due care ini sering disebut sebagai konsep orang yang bijak ( prudent person concept). Hal ini dikemukakan dalam Cooley on Torts sebagai berikut : - setiap orang yang menawarkan jasa kepada orang lain dan yang dipekerjakan memiliki kewajiban untuk menggunakan keahlian yang dimilikinya dalam melakukan pekerjaan secara hati-hati dan tekun.Dalam semua pekerjaan yang memerlukan keahlian proses itu, bila seseorang menawarkan jasanya, dia sudah memahami bahwa ia mengumumkan kepada publik bahwa ia memiliki keahlian yang umumnya dimiliki orang lain yang menangani pekerjaan tersebut, dan bila ia berpura-pura meliki keahlian itu dan orang lain tau, ia sudah melakukan penipuan terhadap setiap orang yang mempekerjakan ia menyangkut profesi pubiknya tetapi tidak seorang pun, baik yang terlatih maupun tidak, menjalankan tugas yang ia perkirakan bisa berhasil tanpa keselahan sedikitpun. Ia bekerja dengan keyakinan dan integritas yang baik, tetapi bukannya tanpa kesalahan, dan ia bertanggung jawab kepada pemberi kerja atas kecerobohan, niat buruk, atau ketidakjujuran, tetapibukan untuk konsekuensi kerugian yang semata-mata akibat sesuatu kerugian penilaian. Biasanya, para partner, atau para pemegang saham korporasi profesional, memiliki tangung jawab bersama untuk mengambil tindakan perdata (civil action) terhadap setiap pemilik. Akan tetapi, situsinya berbeda jika kantor ini beroperasi sebagai persekutuan dengan kewajiban terbatas (limited liability partnership = LLP), perseroan dengan kewajiban terbatas (limited liability company = LLC), korporasi umum, atau korporasi profesional dengan tanggung jawab terbatas. Menurut struktur perusahaan diatas, kewajiban yang timbul dari tindakan salah satu pemilik tidak mempengaruhi aktiva pribadi pemilik lain, kecuali pemilik lain terlibat langsung dalam tindakan yang dilakukan pemilik yang menyebabkan kewajiban ini. Tentu saja, aktiva perusahaan menjadi jaminan atas kerugian yang mungkin timbul. Tiga kelompok auditor yang paling mungkin diandalkan para karyawan, kantor akuntan publik yang lain yang ditugaskan untuk melakukan sebagian pekerjaan, dan para spesialis yang dihubungi untuk menyediakan informasi teknis. Beberapa negara bagian memiliki UU yang mengizinkan komunikasi istimewa atau rahasia antara clien dan auditor. Bahkan dalam hal itu pun, niat yang timbul pada saat komunikasi terjadi tetapi merupakan

rahasia. Seorang akuntan publik dapat menolak untuk bersaksi di suatu negara bagian yang memiliki UU komunikasi istimewa. Namun, keistimewaan ini tidak berlaku pada pengadilan federal. Apabila tuntutan hukum diajukan menurut UU sekuritas federal, pendekatan yang berlaku adalah kewajiban terpisah dan proporsional, kecuali dapat diperlihatkan bahwa akuntan publik tergugat mempunyai pengetahuan aktual tentang kecurangan atau berpartisipasi dalam kecurangan ini, dimana berlaku kewajiban bersama dan tertentu. Empat sumber hukum auditor: 1. Kewajiban kepada klien 2. Kewajiban kepada pihak ketiga menurut Common Law 3. Kewajiban sipil menurut UU sekuritas federal 4. Kewajiban kriminal

KEWAJIBAN PADA KLIEN


Sumber tuntutan hukum yang paling umum terhadap akuntan publik adalah dari klien. Tuntutannya sangat bervariasi, meliputi klaim seperti kegagalan untuk menyelesaikan penugasan nonaudit pada tanggal yang telah disepakati, menarik diri dari auudit secara tidak semestinya, kegagalan untuk menemukan penggelapan (pencurian aktiva), dan melanggar persyaratan kerahasiaan bagi para akuntan publik. Kewajiban yang umum akibat tuntutan hukum klien melibatkan klaim bahwa audiotr tidak dapat menemukan pencurian oleh karyawan akibat kelalaian dalam melaksanakan audit. Tuntutan hukum ini dapat menjadi pelanggaran kontrak, tindakan yang merugikan akibat kelalian, atau keduanya. Tindakan yang merugikan lebih umum terjadi karena jumlah ganti rugi yang diperoleh biasanya besar ketimbang dalam pelanggaran kontrak. Tindakan yang meugikan dapat didsarkan pada kelalaian biasa, kelalaian besar, atau kecurangan. Masalah utama dalam kasus yang melibatkan dengan kelalaian biasanya adalah tingkat kemahiran yang diperlukan. namun pada kebanyakan contoh, setiap kekeliruan atau kesalahan yang signifikan dalam pengambilan kesimpulan mengakibatkan paling tidak suatu pendapat bahwa profesional seharusnya bisa menghindari kelalaian itu. Dalam audit, kegagalan untuk memenuhi standar auditing sering

dianggap sebagai bukti yang jelas tentang kelalaian. Mari kita telaah kasus yang menimbulkan pertanyaan atas kinerja yang lalai dari sebuah kantor akuntan publik: Cenco Incorporated vs. Seidman & Seidman. Dalam kasus tuntutan hukum manajemen baru cenco, auditor berhasil membela diri dengan beragumen bahwa tidak ada kelalaian dan bahwa tindakan salah dari tim manajemen sebelumnya telah menghalangi auditor untuk mengungkapkan kecurangan itu. Pertanyaan tentang tingkat kemahiran menjadi semakin sulit dalam lingkungan review atau kompilasi laporan keuangan yang belum di audit, di mana ada lebih sedikit standar yang berlaku untuk mengevaluasi kinerja. Meskipun tidak pernah ditugaskan untuk melaksanakan audit bagi 1136 Tenants corporation, akuntan publik dianggap bertanggung jawab karena gagal mendeteksi skema penggelapan yang dilakukan oleh salah satu manager klien. Salah satu alasan terjadinya hal ini adalah kurang jelasnya pemahaman antara klien dengan akuntan publik mengenai sifat jasa yang tepat yang dilakukan oleh akuntan publik. Kantor akuntan publik biasanya menggunakan satau atau kombinasi dari empat pembelaan bila ada tuntutan hukum oleh klien: yaitu, tidak ada tugas yang harus dilaksanakan, pelaksanaan kerja tanpa kelalaian, kelalaian kontribusi, dan ketiadaan hubungan timbal balik (sebab-akibat). Tidak ada Tugas Tidak ada tugas yang harus dilaksanakan jasa berarti bahwa kantor akuntan publik mengklaim bahwa tidak ada kontrak yang tersirat atau pun yang dinyatakan secara jelas. Sebagai contoh, kantor akuntan publik dapat mengkalim bahwa salah saji tidak dapat diungkap karena kantornya hanya melakukan jasa review, bukan audit. Penggunaan surat penugasan oleh akuntan publik memberikan dasar untuk memperlihatkan tidak adanya kewajiban untuk melaksanakan jasa. Pelaksanaan Kerja Tanpa Kelalaian Untuk pelaksanaan kerja tanpa kelalaian (nonnegligent performance) adalah suatu audit, kantor akuntan publik mengklaim bahwa audit dilaksanakan sesuai dengan standar auditing. Meskipun ada salah saji yang tidak terungkap, auditor tidak bertanggung jawab jika audit telah dilakukan secara tepat Kelalaian Kontribusi (Contributory Negligence) Pembelaan terhadap kelalaian kontribusi terjadi apabila auditor mengkalim bahwa tindakan klien telah mengakibatkan baik kerugian yang menjadi dasar denda atau pun campur tangan dalam pelaksanaan audit dengan cara sedemikian rupa sehingga auditor tidak dapat menemukan penyebab kerugian tersebut. Jika kantor akuntan tersebut telah memberi tahu klien (lebih baik tertulis) tentang kelemahan pengendalian internal yang dapat menghalangi pencurian, tetapi

manajemen tidak melakukan perbaikan, kantor akuntan publik mempunyai pembelaan terhadap kelalaian kontribusi. Ketiadaan Hubungan Sebab Akibat Agar berhasil dalam menggugat auditor, klien harus dapat menunjukan adanya hubungan sebab akibat yang jelas antara kelalaian auditor dalam menaati standar auditing dengan kerugian yang diderita klien. Anggap seorang auditor gagal dalam menyelesaikan audit pada waktu yang telah disepakati. Klien mengatakan bahwa hal ini menyebabkan bank tidak bersedia memperbharui pinjaman, sehingga perusahaan menderita kerugian. Auditor akan mebela diri dengan mengatakan bahwa bank menolak memperbaharui pinjaman karena alasan lain, seperti kondisi keuangan klien yang semakin lemah. Pembelaan ini disebut ketiadaan hubungan timbal balik atau sebab akibat (absence of casual connection).

KEWAJIBAN TERHADAP PIHAK KETIGA MENURUT COMMON LAW


Selain dituntut oleh klien, akuntan publik juga dapat memiliki kewajiban kepada pihak ketiga menurut common law. Pihak ketiga meliputi pemegang saham aktual dan calon pemegang saham, pemasok, bankir dan krediotr lain, karyawan, serta pelanggan. Sebuah kanor akuntan publik dapat mempunyai kewajiban terhadap pihak ketiga jika pihak yang mengklaim menderita kerugian akibat mengandalkan laporan keuangan yang menyesatkan. Kasus audit utama yang mengawali kewajiban terhadap pihak ketiga adalah Ultramares Corporation vs. Touche (1931). Kasus ini membentuk suatu doktrin yang dikenal sebagai doktrin Ultramares. Dalam kasus ini, pengadilan menyatakan bahwa meskipun para akuntan lalai, mereka tidak bertanggung jawab kepada para kreditor karena kreditor bukan penerima manfaat utama (primary beneficiaries). Dalam konteks ini, penerima manfaat utama adalah seorang yang diberi tahu kepada auditor sebelum melaksanakan audit (pihak ketiga yang dikenal). Kasus ini menciptakan preseden, yang biasa disebut dengan doktrin Ultramares, bahwa kelalaian biasa tidak cukup untuk menimbulkan kewajiban terhadap pihak ketiga karena tidak adanya privity of contract antara pihak ketiga dengan audiotr, kecuali pihak ketiga adalah penerima manfaat utama. Dalam tahun-tahun terakhir, pengadilan telah memperluas doktrin Utramares untuk mengizinkan pemulihan oleh pihak ketiga dalam banyak situasi dengan memperkenalkan konsep foreseen users, yang merupakan anggota dari golongan pemakai terbatas yang mengandalkan laporan keuangan. Sebagai contoh, bank yang masih mempunyai pinjaman yang beredar kepada klien pada tanggal neraca dapat

menjadi foreseen users. Menurut konsep ini, foreseen user diperlakukan sama dengan pihak ketiga yang dikenal. Meskipun konsep foreseen user dapat langsung diterapkan, pengadilan telah membuat beberapa interpretasi yang berbeda. Saat ini, tiga pendekatan utama yang diberlakukan adalah sebagai berikut: Credil Alliance dalam kredit Alliance vs. Arthur Andersen & Co. (1986) di New York, pemberi pinjaman menuntut auditor atas nama salah satu peminjamnya, karena pemberi pinjaman itu telah mengandalkan laporan keuangan peminjam dalam memberikan pinjaman, yang ternyata menyesatkan. Pengadilan Banding di New York berpegang pada konsep dasar dari privity of contract yang ditetapkan dalam Ultramares dan menyatakan bahwa agar dapat bertanggung jawab (1) auditor harus mengetahui dan menyadari bahwa hasil pekerjaannya sakan digunakan oleh pihak ketiga untuk tujuan tertentu, dan (2) pengetahuan serta kesadaran tersebut harus dibuktina oleh perilaku auditor. Sekitar 15 negara bagian mengikuti beberapa variasi dari pendekatan ini. Restatement of Torts Pendekatan yang digunakan oleh sebagian besar negara bagian adalah menerapkan peraturan yang mengacu pada Restatement of Trots, yaitu seperangkat prinsip hukum otoritatif. Restatement Rule menyatakan bahwa foreseen user harus menjadi anggota dari kelompok pemakai yang terbatas dan dapat diidentikasi yang mengandalkan pekerjaan akuntan publik. Foreseeable Users Interpretasi yang paling luas dari hak pihak ketiga untuk memperoleh manfaat adalah penggunaan konsep foreseeable users. Menurut konsep ini, para pemakai yang sudah harus dapat ditentukan sebelumnya oleh auditor sebagian pemakai laporan keuangan klien, memiliki hak yang sama seperti halnya pada privity of contract. Terjadinya kebingungan yang disebabkan oleh perbedaan pandangan atas kewajiban terhadap pihak ketiga menurut common law, tetapi perkembangannya jelas menjauhi pendekatan foreseeable use, dan karenanya menuju kedua pendekatan pertama. Sebagai contoh, pada kasus Billy vs Arthur Young (1992), Pengadilan Tinggi California membalik keputusan pengadilan yang lebih rendah yang memberatkan Arthur Young, yang dengan jelas membenarkan doktrin Restatement. Dalam keputusannya, pengadilan menyatakan bahwa auditor tidak memiliki kewajiban secara umum untuk melaksanakan audit terhadap lain selain kliennya, dan membuat kesimpulan bahwa kewajiban potensial bagi auditor menurut doktrin foreseeable user, jelas berada di luar proporsi setiap kesalahan. Dan mungkin ada peralihan dari pendekatan Restatement of Torts ke pendekatan Credit Alliance.

Sebagai contoh, di New Jersey, dimana pendekatan foreseeable user telah diikuti oleh pengadilan, barubaru ini lembaga pembuat UU menggunakan standar privitas yang ketat. Pembelaan tidak ada kewajiban dalam menghadapi tuntutan pihak ketiga mencakup tidak adanya privity of contract. Sejauh mana privity of contarct ini menjadi pembelaann yang efektif dan sifat pembelaannya akan sangat tergantung pada jurisdiksi negara bagian dan hukum kasus tersebut. Pembelaan yang lebih ampuh dalam menghadapi tuntutan pihak ketiga adalah pelaksanaan kerja tanpa kelalaian. Jika auditor melaksanakan audit sesuai dengan standar auditing, pembelaannya lainnya tidak akan diperhatikan. Ketiadaan hubungan timbal balik atau sebab akibat dalam menghadapi tuntutan pihak ketiga sering kali berarti pemakai tidak mengandalkan laporan keuangan. Asumsikan auditor dapat menunjukan bahwa dalam memberikan pinjaman, si pemberi pinjaman mengandalkan pada hubungan bank dengan nasabahnya, bukan pada laporan keuangan. Dalam situasi itu, kelalaian auditor dalam melaksanakan audit tidak relevan. Tentu saja, sulit untuk membuktikan pemakai tidak mengandalkan laporan keuangan. Sebab akibat atau hugungan timbal balik sulit ditentukan karena pemakai dapat mengkalim bahwa ia mengandalkan laporan keuangan sekalipun keputusan menyangkut investasi atau pinjaman diambil tanpa memperhatikan kondisi keuangan perusahaan.

KEWAJIBAN SIPIL MENURUT UNDANG-UNDANG SEKURITAS FEDERAL


Menurut common law, terdapat beberapa pertumbuhan dalam tindakan terhadap akuntan oleh kliennya atau pihak ketiga. Pertumbuhan paling pesat dalam proses litigasi kewajiban akuntan publik adalah yang diatur menurut UU sekuritas federal. Para penuntut umumnya berusaha mendapatkan ganti rugi dari pengadilan federal karena tersedianya litigasi atau proses pengadilan class action dan kemudahan dalam memperoleh ganti rugi yang cukup besar dari tergugat. Securities Act Tahun 1933 Hanya berkaitan dengan persyaratan pelaporan bagi perusahaan yang menerbitkan sekuritas baru, termasuk informasi dalam laporan registrasi atau pendaftaran dan prospektus. Satu-satunya pihak yang dapat mendapat ganti rugi dari auditor menurut UU tahun 1933 adalah pembeli pertama sekuritas tersebut.

Securities Act tahun 1933 mengenakan beban yang tidak biasa terhadap auditor. Section 11 dari UU tahun 1933 tersebut mendefinisikan hak pihak ketiga dan auditor, yang diikhtisarkan sebagai berikut: Setiap pihak ketiga yang membeli sekuritas, yang dijelaskan dalam laporan pendaftaran bisa menggugat auditor atas adanya salah saji yang material atau penghilangan angka dalam laporan keuangan yang telah diaudit yang disertakan dalam laporan pendaftaran. Pemakai pihak ketiga tidak mempunyai beban untuk membuktikan bahwa mereka mengandalkan laporan keuangan atau bahwa auditor telah lalai atau menipu dalam melakukan audit. Pemakai hanya harus membuktikan bahwa laporan keuangan yang telah diaudit mengandung salah saji yang material. Auditor berkewajiban menunjukkan pembelaannya bahwa (1) audit yang memadai telah dilakukan atau (2) seluruh atau sebagian dari kerugian penggugat disebabkan oleh faktor-faktor selain laporan keuangan yang menyesatkan. Securities Exchange Act Tahun 1934 Kewajiban auditor seringkali berpusat pada laporan keuangan yang telah diaudit yang diterbitkan kepada publik dalam laporan tahunan yang diserahkan kepada SEC sebagai bagian dari laporan tahunan Form 10-K. Setipa perusahaan yang sekuritasnya diperdagangkan di bursa nasional dan OTC diminta untuk menyerahkan laporan keuangan yang sudah diaudit setiap tahunnya. Jadi, lebi banyak laporan yang termasuk dalam UU tahun 1934 dibandingkan dengan UU tahun 1933. Peraturan 10b-5 dari Securities Exchange Act Tahun 1934 Section 10 dan Peraturan 10b-5 seringkali disebut sebagai ketentuan anti kecurangan dari UU tahun 1934, karena menghalangi setiap aktivitas penipuan yang melibatkan pembelian atau penjualan setiap sekuritas. Berbagai keputusan pengadilan federal menjelaskan bahwa Peraturan 10b-5 berlaku tidak hanya bagi penjual langsung, tetapi juga akuntan, penjamin emisi, dan pihak lainnya. Foreign Corrupt Practice Act Tahun 1977 UU ini melarang pemberian uang suap kepada pejabat di luar negeri untuk mendapatkan pengaruh dan memperoleh atau mempertahankan hubungan bisnis. UU yang baru ini juga mewajibkan

anggota yang terdaftar pada SEC menurut Securities Exchange Act tahun 1934 untuk memenuhi persyaratan tambahan menyangkut catatan yang lengkap dan akurat, serta sistem pengendalian internal yang memadai. UU ini secara signifikan mempengaruhi semua perusahaan yang terdaftar di SEC, dan secara potensial mempengaruhi auditor menyangkut tanggung jawabnya untuk mereview dan mengevaluasi sistem pengendalian internal sebagai bagian audit. Sarbanes-Oxley Act Tahun 2002 Sarbanes-Oxley Act semakin memepertebal tanggung jawab perusahaan publik dan para auditornya. UU itu mensyaratkan CEO dan CFO untuk mengesahkan laporan keuangan tahunan serta kuartalan yang didaftarkan ke SEC. Selain itu, manajemen harus melaporkan penilaiannya terhadap efektivitas pengendalian internal atas pelaporan keuangan, dan auditor harus memberikan pendapat atas penilaian manajemen serta efektivitas pengendalian internal atas pelaporan keuangan.

KEWAJIBAN KRIMINAL
Cara keempat para akuntan publik dapat dianggap bertanggung jawab adalah menurut kewajiban kriminal bagi akuntan (criminal liability for accountants). Akuntan publik dapat disalahkan karena tindakan kriminal menurut hukum federal ataupun negara bagian. Menurut hukum negara bagian, UU yang paling mungkin diberlakukan adalah Uniform Securities Act yang serupa dengan sebagian peraturan SEC. UU federal yang lebih relevan yang mempengaruhi auditor adalah Securities Act tahun 1933 dan 1934, serta Federal Mail Fraud Statute dan Federal False Statement Statute. Semua peraturan itu menetapkan bahwa menipu orang lain, yaitu dengan sadar terlibat dalam laporan keuangan yang palsu merupakan tindakan kriminal. Selain itu, Sarbanes-Oxley Act tahun 2002 juga menetapkan bahwa merupakan suatu kejahatan bila merusak atau membuat dokumen untuk menghambat atau menghalangi penyelidikan federal. Seseorang yang melakukan hal tersebut dapat dikenai denda atau hukuman penjara sampai 20 tahun. Sayangnya, dalam tahun-tahun terakhir terdapat beberapa kasus kriminal yang melibatkan akuntan publik. Sekalipun jumlahnya tidak terlalu besar, namun hal itu telah merusak integritas profesi. Dari sisi positif, tindakan kriminal itu memaksa para praktisi untuk sangat peduli dan menggunakan itikad baik dalam melaksanakan aktivitasnya.

RESPONS PROFESI TERHADAP KEWAJIBAN HUKUM


AICPA dan profesi secara keseluruhan dapat melakukan sejumlah hal untuk mengurangi resiko para praktisi terkena tuntutan hukum. 1) Mencari perindungan dari proses pengadilan atas litigasi yang tidak terpuji 2) Meningkatkan performa auditing agar dapat memenuhi kebutuhan para pemakai dengan lebih baik 3) mendidik para pemakai mengenai batas-batas auditing Aktivita khusus. -Riset dalam auditing : diperlukan untuk menemukan cara yang lebih baik guna menggungkpkn salah saji atau kekurangan yang tidak disengaja, mengkomunikasikan hasil audit kepada pemakai laporan dan memastikan bahwa auditor bersikap idenpenden. -Penetapan standar dan peraturan : AICPA dan PCAO harus segera konstan menetapkan standar serta merevisinya untuk memenuhi kebutuhan audit yang terus berubah -Menetapkan persyaratan utnuk melindungi auditor : AICPA dapat membantu melindungi para anggotanya denga menetapkan persyaratan tertentu yang telah sukses diikuti oleh para praktisi -Menetapkam pesyaratan per-review : dengan memeriksa acara periodik praktik dan prosedur kantor akuntan, AICPA dapat mendidik para praktisi serta mengidentifikasi kantor akuntan yang tidak memenuhi standar profesi -Melawan tuntutan hukum : kantor akuntan publik harus terus melawan tuntutan yang tidak berdasar meskipun, dalam jangka pendek, biaya untuk memenangkan perkara itu lebih besar daripada biaya untuk berdamai. -Pendidikan bagi pemakai laporan keuangan : AICPA, pimpinan kantor akuntan publik dan para pengajar harus mendidik investor serta pihak lai yang membaca laporan keuangan mengenai arti yang tepat dari pendapat auditor serta ruang lingkup dan sifat dari pekerjaan auditor -Memberi sanksi kepada anggota karena perilaku dan kinerja yang tidak pantas : suatau profesi harus mengawasi anggotanya sendiri, AICPA telah mencatat kemajuan dalam menangani masalah kinerja

akuntan publik yang kurang memadai, tetapi masih diperukan review yang lebih keras terhadap kegagalan yang telah dituduhkan -Melobi perubahan UU sejak tahun 1990-an : diberlakukannya Private Securities Litigation Reform Act Tahun 1999secara signifikan telah mengurangi keugian potensial akibat proses pengadilan yang berhubungan dengan saham dengan menyediakan kewajiban yang proposional pada sebagiann besar contoh. Namun, karena Reform Act hanya diterapkan pada pengadilan federal, para penagcara mulaii memindahkan kasus mereka ke pengadilan negara bagian, di mana Reofrm telah berlaku. Akan tetapi lubang kecil ini dituutp oleh Securities Litigation Uniform Standars Act 1998, yang mewaibkan bahwa tindakan class aactions yang melibatkan sekuritas diajukan ke pengadila distrik federal

MELINDUNGI AKUNTAN PUBLIK DARI KEWAJIBAN HUKUM


Seorang auditor yang berpraktik juga dapat pula mengambil tindakan tertentu untuk meminimalkan kewajibannya. Tindakan umum tersebaut yaitu : -Hanya berurusan dengan klien yang memiliki integritas -Mempekerjakan personil yang kompeten dan melatih serta mengawasi mereka secara layak -Mengikuti standar profesi -Mempertahankan indenpedensi -Memahami bisnis klien -Melaksanakan audit yang bermutu -Mendokumentasikan perkejaan yang layak -Mendapatkan suart penugasan dan surat representasi -Mempertahankan hunungan yang bersifat rahasia -Mengadakan asuransi yang memadai -Mencari bantuan hukum -Memilih bentuk orgaisasi dengan kewajiban terbatas

PERTANYAAN : 1. (0110u291) Gadis N. Agustina Tindakan-tindakan apa sajakah yang dilakukan seorang auditor untuk meminimalkan kewajibannya? 2. (0111U026) Valeria Anthea Callista

Apa arti kewajiban bagi seorang auditor?


3. (0111U090) Cahyo Ramadhanianto Bagaimana auditor menyikapi konsep-konsep hokum yang mempengaruhi kewajiban, adakah pengaruh terhadap independensi auditor sendiri?

Kewajiban Hukum
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Auditing I Dosen : Bpk. Robertus Ary Novianto, S.E., Ak., M.M. Kelompok 5

Disusun oleh: (0111U001) Siti Rachmalia (0111U026) Valeria Anthea Callista (0111U090) Cahyo Ramadhanianto (0111U388) Janter Frisman (0110u291) Gadis N. Agustina UNIVERSITAS WIDYATAMA FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI S-1 Bandung 2013