Anda di halaman 1dari 21

Yuri Alpha Fawnia 0211100118 A. PENGANTAR TENTANG SENGKETA LINGKUNGAN 1.1.

PENGERTIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN SENGKETA LINGKUNGAN HIDUP Berdasarkan Undang-undang No. 32 Tahun 2009, Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Sengketa Lingkungan Hidup adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih yang timbul dari kegiatan yang berpotensi dan/ atau telah berdampak pada lingkungan hidup.1 Umumnya sengketa lingkungan hidup dipicu oleh kerusakan atau pencemaran lingkungan yang menimbulkan kerugian pada suatu pihak tertentu, bisa masyarakat, pemerintah maupun sector swasta. Kerusakan dan pencemaran lingkungan hidup ini menyebabkan perselisihan yang disertai dengan tuntutan atau klaim terhadap suatu hak atas lingkungan, dapat berupa tuntutan untuk ganti rugi, tuntutan untuk pemulihan lingkungan hidup menjadi seperti sediakala, maupun tuntutan atas hak tertentu atas lingkungan hidup yang dijamin oleh UU No. 32 Tahun 2009 mengenai Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

1.2. SENGKETA LINGKUNGAN DAN MEKANISME PERADILAN Konsekuensi suatu Negara hukum adalah menempatkan hukum diatas segala kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Negara dan masyarakat diatur dan diperintah oleh hukum, bukan diperintah oleh manusia. Hukum berada di atas segalagalanya, kekuasaan dan penguasa tunduk kepada hukum. Salah satu unsure Negara hukum adalah berfungsinya kekuasaan kehakiman yang merdeka yang dilakukan oleh badan peradilan. 2

1 2

UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Handri Wirastuti dan Rahadi Wasi Bintoro, Sengketa Lingkungan dan Penyelesaiannya, Jurnal FH Unsoed

Dalam hal ini tidak ada badan lain yang berkedudukan sebagai tempat mencari penegakan kebenaran dan keadilan (to enforce the truth and justice) apabila timbul sengketa atau pelanggaran hukum.3

1.3. GANTI RUGI DALAM SENGKETA LINGKUNGAN Ganti rugi dalam sengketa lingkungan diawali dengan Perbuatan Melawan Hukum yang kemudian berkembang menjadi Asas Tanggung Jawab Mutlak. Asas tanggung jawab mutlak (strict liability) merupakan salah satu jenis pertanggung jawaban perdata (civil liability). Pertanggung jawaban perdata dalam konteks penegakan hukum lingkungan merupakan instrumen hukum perdata untuk mendapatkan ganti kerugian dan biaya pemulihan lingkungan akibat pencemaran dan atau perusakan lingkungan. Pertanggung jawaban perdata tersebut mengenal 2 (dua) jenis pertanggung jawaban : 1. pertanggung jawaban yang mensyaratkan adanya unsur kesalahan (fault based liability) 2. pertanggung jawaban mutlak/ketat (strict liabil-ity) suatu pertanggung jawaban tanpa harus dibuk-tikan adanya unsur kesalahan (fault) Konsep pertama teroebut dikenal sebagaimana yang termuat dalam ketentuan pasal 1365 KUH Perdata yaitu perbuatan melawan hukum. Perbuatan melawan hukum berdasarkan Pasal 1365 KUH Perdata mensyaratkan penggugat membuktikan adanya unsur kesalahan (fault).4 Mengandalkan unsur kesalahan dalam konteks pesatnya perkembangan keilmuan dan teknologi sering-kali menimbulkan kesulitan dalam memprediksi risiko yang timbul dari suatu kegiatan (industri). Melihat keterbatasan dari fault based liability ini maka mungkin terjadi timbulnya pencemaran atau perusakan lingkungan tanpa dapat dikenakan pertanggung jawaban. Fault based liability juga memungkinkan pence-mar atau perusak lingkungan terbebas dari pertang-gung jawaban perdata apabila ia dapat membuktikan bahwa ia telah melakukan upaya maksimal pencegahan pencemaran melalui pendekatan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (dengan melaksanakan RKL dan RPL secara

M. Yahya Harahap, 2004, Beberapa Tinjauan Sistem Peradilan dan Penyelesaian Sengketa, Bandung: PT Citra Aditya Bakti, Hal 34 4 Dessy Andrea Muslim, PENERAPAN ASAS TANGGUNG JAWAB MUTLAK DALAM KASUS LINGKUNGAN HIDUP DI PENGADILAN NEGERI, www.eprints.undip.ac.id, 2010, diakses 22 Apri 2013

konsisten)5 Oleh karena itu, sejak adanya UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, Azas yang dianut adalah tanggung jawab mutlak (Strict Liability), begitu juga dalam UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang menganut azas ini, sehingga tidak perlu dibuktikan adanya kesalahan, tetapi cukup membuat potensi tersebut terjadi, maka dapat dijadikan dasar gugatan.

B. PILIHAN PENYELESAIAN SENGKETA 1.1. MODEL PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN System penyelesaian sengketa meliputi sarana pemilihan hak melalui pengadilan maupun upaya penjajagan perdamaian di luar pengadilan.6Dalam penyelesaian sengketa lingkungan hidup melalui pengadilan dapat dituntut adanya ganti kerugian dan pemulihan lingkungan yang didukung oleh konten UU No. 32 Tahun 2009 yang mengatur adanya prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability). 1. Penyelesaian sengketa lingkungan melalui jalur Litigasi Litigasi sangat formal terkait pada hukum acara, para pihak berhadap-hadapan untuk saling beragumentasi, mengajukan alat bukti, pihak ketiga (hakim) tidak ditentukan oleh para pihak dan keahliannya bersifat umum, prosesnya bersifat terbuka atau transaparan, hasil akhir berupa putusan yang didukung pandangan atau pertimbangan hakim. Kelebihan dari litigasi adalah proses beracara jelas dan pasti sudah ada pakem yang harus diikuti sebagai protap. Adapun kelemahan litigasi adalah proses lama, berlarut-larut untuk mendapatkan putusan yang final dan mengikat menimbulkan ketegangan antara pihak permusuhan; kemampuan pengetahuan hukum bersifat umum; tidak bersifat rahasia; kurang

mengakomodasi kepentingan yang tidak secara langsung berkaitan dengan sengketa.7 Mekanisme penyelesaian sengketa melalui jalur litigasi dapat ditempuh oleh perorangan, pemerintah, organisasi lingkungan maupun sekelompok masyarakat (class action). Class action atau disebut pula dengan actro popularitas diartikan dalam Bahasa Indonesia secara beragam disebut pula dengan gugatan
5 6

Ibid. Dr. Siswanto Sunarso, Hukum Pidana Lingkungan Hidup, cet.1, (Jakarta:Rineka Cipta, 2005), hal.109 7 www.dalyerni.multiply.com, diakses 20 April 2013

perwakilan, gugatan kelompok.8 Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan apabila terdapat sebuah masalah lingkungan hidup yang merugikan masyarakat tersebut, misalnya kasus pencemaran lingkungan oleh limbah sebuah perusahaan yang mencemari sungai pada suatu desa. Hal yang terpenting dari suatu gugatan perwakilan adalah adanya kesamaan (commonality) yaitu kesamaan dalam hal mengalami peristiwa atau masalah dalam mengalami kerugian, penderitaan oleh sebab-sebab yang dasar atau sumbernya sama.9 Gugatan perwakilan ini menuntut ganti rugi. Kemudian jenis lainnya adalah legal standing, yang apabila diartikan secara luas yaitu akses orang
10

perorangan, Namun tidak

kelompok/organisasi di pengadilan sebagai pihak penggugat.

semua organisasi dapat mengajukan gugatan legal standing ini, melainkan harus memenuhi persyaratan tertentu. Dengan adanya persyaratan tersebut maka secara selektif keberadaan organisasi lingkungan hidup diakui dan berhak untuk mengajukan gugatan atas nama lingkungan hidup ke pengadilan. Namun dalam gugatan legal standing, yang dituntut bukanlah ganti kerugian seperti dalam gugatan class action yang bersifat keperdataan. Gugatan legal standing menuntut adanya pemulihan lingkungan hidup pada keadaannya seperti sediakala karena organisasi lingkungan dalam hal ini mewakili ekologi sebagai subjeknya. Mekanisme gugatan dapat pula diajukan melalui jalur pidana sebagai salah satu bentuk penyelesaian sengketa secara litigasi. Berkaitan dengan

pertanggungjawaban pidana maka terdapat aturan tentang penerapan doktrin strict liability dan vicarious liability, dalam UU No. 32 Tahun 2009 dianut prinsip strict liability, dimana seseorang sudah dapat dipertanggungjawabkan untuk tindak pidana tertentu meskipun pada diri orang itu tidak ada kesalahan (mens rea).11 2. Penyelesaian Sengketa Lingkungan melalui jalur Non-Litigasi Jalur non-litigasi adalah mekanisme penyelesaian sengketa lingkungan diluar pengadilan. Pihak-pihak yang terlibat dalam proses penyelesaian sengketa melihat adanya faktor peluang untuk menyelesaikan masalah dengan baik
8 9

www.emakalah.com Makalah Penyelesaian Sengketa Lingkungan , diakses 20 April 2013 www.emakalah.com, Loc. Cit, diakses 20 April 2013 10 Sulistiono, Jurnal Elsam 2007, hal. 1 11 Dr. Siswanto Sunarso, op.cit, hal 141

terutama karena ada unsure tawar-menawar dan harapan keberhasilan yang langgeng.12 Dalam menentukan mekanisme penyelesaian sengketa lingkungan perlu dipahami setidaknya enam aspek khusus, yaitu karakteristik kasus, kelembagaan, hukum, pemberdayaan masyarakat, dukungan public dan kemauan politik. Penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan dapat menggunakan jasa pihak ketiga, baik yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan maupun yang memiliki kewenangan mengambil keputusan, untuk membantu menyelesaikan sengketa lingkungan hidup.13 Penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan merupakan pilihan para pihak dan bersifat sukarela. Para pihak juga bebas untuk menentukan lembaga penyedia jasa yang membantu penyelesaian sengketa lingkungan hidup. Lembaga penyedia jasa menyediakan pelayanan jasa penyelesaian sengketa lingkungan hidup dengan menggunakan bantuan arbiter atau mediator atau pihak ketiga lainnya. Apabila para pihak telah memilih upaya penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan, gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil secara tertulis oleh salah satu atau para pihak yang bersengketa atau salah satu atau para pihak yang bersengketa menarik diri dari perundingan. Dalam Undang-undang No. 32 Tahun 2009 penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan diselenggarakan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan/atau mengenai tindakan tertentu guna menjamin tidak akan terulangnya pencemaran dan/atau perusakan dan/atau menjamin adanya tindakan guna mencegah timbulnya dampak negatif terhadap lingkungan hidup. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan ini tidak berlaku terhadap tindak pidana lingkungan hidup.14 Adapun model

penyelesaian sengketa diluar pengadilan dapat ditempuh dengan jalur arbitrase, mediasi, konsiliasi dan negosiasi. 1) Arbitrase adalah suatu proses yang mudah yang dipilih oleh para pihak secara sukarela karena ingin agar perkaranya diputus oleh juru pisah yang netral sesuai pilihan dimana keputusan mereka berdasarkan dalil-dalil dalam perkara tersebut. Para pihak setuju sejak semula untuk menerima
12 13

Ibid,hal 112 Ibid, hal 119 14 www.ojosokgelem.com, Alternatif Penyelesaian sengketa Lingkungan diluar Pengadilan, diakses 20 April 2013

putusan tersebut secara final dan mengikat. 15 2) Mediasi adalah menggunakan seorang penengah yang bersifat netral untuk membantu menyelesaikan sengketa lingkungan hidup, mediator dapat bersifat pasif maupun aktif. 3) Konsiliasi adalah upaya untuk mempertemukan keinginan para pihak yang bersengketa, upaya untuk membawa para pihak melakukan negosiasi. 4)Negosiasi adalah proses tawar-menawar antara kedua belah pihak yang bersengketa untuk menemukan persetujuan tentang hal-hal yang menimbulkan sengketa.

15

Ibid.

C. HAK GUGAT 1. HAK GUGAT PERORANGAN Hak untuk menggugat secara perorangan adalah hak untuk menggugat berkaitan dengan hak sebagai warga Negara yang dilindungi Undang-undang lain. 2. HAK GUGAT KELOMPOK (CLASS ACTION) Masyarakat berhak untuk mengajukan gugatan perwakilan kelompok untuk kepentingan dirinya sendiri dan/atau untuk kepentingan masyarakat apabila mengalami kerugian akibat pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup (Pasal 91 ayat 1 UU PPLH). Mengajukan gugatan perwakilan ke pengadilan ini disebut class action, yaitu sekelompok korban mewakili sejumlah korban lainnya untuk bertindak mengajukan gugatan ke pengadilan atas kerugian yang diderita, yang memiliki sifat kesamaan masalah, fakta hukum, dan tuntutan.16 Dalam gugatan class action terdapat dua subjek penggugat, yaitu sejumlah kecil penggugat yang mewakili sebagai wakil dari kelompok, dan kedua, yaitu para korban yang diwakili yang berjumlah besar, bisa satu desa ataupun satu wilayah, yang disebut anggota kelompok. Keuntungan dari gugatan class action adalah meskipun para korban umumnya bersifat massal atau banyak, tetapi cukup diwakili oleh beberapa orang dan tidak perlu harus memberikan surat kuasa satu persatu kepada mereka yang mewakilinya. Inilah hal yang paling pokok membedakannya dengan gugatan biasa.17 Selain itu class action juga dapat menghemat biaya dibanding jika mengajukan gugatan secara sendiri-sendiri yang juga akan mengakibatkan penumpukan perkara. Class action berbeda dengan legal standing, perbedaannya adalah 1) semua anggota kelas sama-sama langsung mengalami atau menderita suatu kerugian, 2) Tuntutannya dapat berupa ganti kerugian berupa uang (monetary damage) dan/atau tuntutan pencegahan (remedy) atau tuntutan berupa perintah pengadilan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu (injunction) yang sifatnya deklaratif.18 Sehingga yang ditonjolkan disini adalah kesamaan nasib pada anggota kelas, baik yang mengajukan tuntutan sebagai wakil dari kelompok maupun sejumlah besar anggota kelompok yang diwakili. Meskipun tuntutan dapat
16 17

N.T. Siahaan, Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan, ed. 2, (Jakarta:Erlangga, 2004), hal 334 Ibid. 18 www.albar.wordpress.com, Mekanisme Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup Secara Litigasi maupun NonLitigasi serta Tinjauan Gugatan Class Action dan Legal Standing di Peradilan Indonesia

berupa ganti rugi maupun hal lainnya, namun umumnya yang diminta oleh masyarakat adalah ganti kerugian atas rusaknya lingkungan hidup yang berdampak pada kawasan tempat tinggal mereka. 3. HAK GUGAT LSM (NGOS LEGAL STANDING) Hak gugat organisasi lingkungan hidup diatur dalam pasal 92 UU No.32 Tahun 2009, dan merupakan salah satu jenis standing selain citizen suit. Dalam legal standing, kecakapan LSM tampil dimuka pengadilan didasarkan pada suatu asumsi bahwa LSM sebagai wali (guardian) dari lingkungan. Pendapat ini berangkat dari teori yang dikemukakan oleh Professor Christoper Stone, dimana dalam artikelnya yang dikenal luas di Amerika Utara yang berjudul Sholud Tress Have Standing. Dalam teori ini memberikan hak hukum (legal right) kepada objekobjek alam (natural objects) dan menurut Stone hutan, laut, atau sungai sebagai objek alam layak memiliki hak hukum dan adalah tidak bijaksana jika dianggap sebaliknya hanya karena sifatnya yang inanimatif(tidak dapat berbicara).
19

Sehingga LSM bertindak untuk mewakili ekologi

sebagai subjeknya. Legal standing ini pertama kali dikenal dalam praktek peradilan di Indonesia tahun 1988 yaitu ketika PN Jakarta Pusat mengabulkan gugatan Yayasan WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) terhadap lima instansi pemerintah dan PT IIU.20 Urgensi adanya standing ini didasari oleh dua factor, yaitu Faktor kepentingan masyarakat luas dan factor penguasaan sumber daya alam oleh Negara. Sebelum adanya hukum positif yang mengatur legal standing di Indonesia, terdapat beberapa kasus legal standing yang menarik seperti Kasus Walhi vs PT Indorayon Utama, Kasus Walhi vs Kejaksaan Negeri Mojokerto, dan Kasus Walhi vs Presiden RI. Perbedaan antara legal standing dengan gugatan class action adalah : 1) organisasi tersebut tidak mengalami kerugian langsung, kerugian dalam konteks gugatan organisasi (legal standing) lebih dilandasi suatu pengertian kerugian yang bersifat public, 2) tuntutan organisasi (legal standing) tidak dapat berupa ganti kerugian berupa uang, kecuali ganti kerugian yang telah dikeluarkan organisasi untuk penanggulangannya objek yang dipermasalahkannya dan tuntutannya hanya berupa permintaan pemulihan (remedy) atau tuntutan berupa

19 20

www.elsam.or.id, diakses 20 April 2013 www.rangselbudi.com, diakses 20 April 2013

perintah pengadilan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu (injunction) yang bersifat deklaratif.21 4. HAK GUGAT PEMERINTAH Hak gugat pemerintah diatur dalam Pasal 90 UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pemerintah dapat mengajukan hak gugat ini apabila terdapat usaha atau kegiatan yang merugikan lingkungan hidup. Amanat dan peletakan landasan mengenai kedudukan dan kepentingan hukum pemerintah dan/atau pemerintah daerah dalam mengajukan gugatan perdata untuk kepentingan lingkungan sangatlah penting. Disamping untuk memperkuat aspek legalnya dalam mengajukan gugatan perkara di pengadilan (standi in judicio), juga mempunyai tujuan untuk memulihkan kualitas lingkungan yang telah tercemar dan/atau rusak.
22

Hal ini

merupakan implementasi dari adanya welfare staat, dimana ada kewajiban pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan umum bagi warganya. Negara menjadi staatsbemoenies yang menghendaki Negara dan pemerintah terlibat aktif dalam kehidupan ekonomi dan social masyarakat, sebagai langkah untuk mewujudkan kesejahteraan umum, disamping menjaga ketertiban dan keamanan (rust en orde).23 Tugas administrasi Negara dalam welfare state ini menurut Lemaire adalah bestuurzorg yaitu menyelenggarakan kesejahteraan umum.24 Berkaitan dengan tugas administrasi Negara atau pemerintah untuk menyelenggarakan kesejahteraan umum, harus diingat bahwa lingkungan adalah salah satu isu yang paling krusial diantara perebutan isu yang ada dalam suatu Negara,karena apabila kita berbicara tentang lingkungan, maka itu bukanlah hanya semata-mata untuk pemakaian generasi masa kini saja, tetapi juga kita harus memikirkan kelangsungan ekologi untuk tetap memiliki daya dukung yang memadai untuk generasigenerasi selanjutnya. Maka sudah sepantasnya pemerintah memiliki hak gugat, untut menuntut ganti kerugian kepada usaha atau kegiatan yang menyebabkan kerugian lingkungan. Lingkungan rusak menyebabkan masyarakat tidak sejahtera karena kerusakan lingkungan berarti rusaknya kediaman dan juga kesehatan sehingga berarti pemerintah gagal untuk menjalankan fungsinya dalam membangun welfare staat.
21

www.wonkdermayu.wordpress.com, Tinjauan Mengenai Gugatan Class Action dan Legal Standing, diakses 20 April 2013 22 www.medan.tribunnews.com, Pemerintah tidak menggunakan Hak Gugat, diakses 20 April 2013 23 Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, cet.6 (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2011), hal 15 24 Bachsan Mustafa, Pokok-pokok Hukum Administrasi Negara, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti, 1990), hal 40

5. CITIZEN LAWSUIT Citizen Lawsuit merupakan jenis standing selain bentuk legal standing. Citizen Lawsuit atau dapat pula disebut action popularis ini sebenarnya tidak dikenal dalam system hukum keperdataan Indonesia, karena yang dituntut dalam Citizen Lawsuit adalah ganti rugi, namun merupakan adaptasi dari hukum perdata asing. Asas dasar utama yang penting dalam hukum acara perdata kita adalah asas point d'interet point d'action , yang berarti bahwa barangsiapa mempunyai kepentingan dapat mengajukan tuntutan hak atau gugatan. Kepentingan di sini bukan asal setiap kepentingan, tetapi kepentingan hukum secara langsung, yaitu kepentingan yang dilandasi dengan adanya hubungan hukum antara penggugat dan tergugat dan hubungan hukum itu langsung dialami sendiri secara konkrit oleh penggugat.25 Asas penting lainnya dalam hukum acara perdata adalah asas actori incumbit probatio yang berarti barangsiapa mempunyai sesuatu hak atau mengemukakan suatu peristiwa harus membuktikan adanya hak atau peristiwa itu (Pasal 163 HIR). Penggugat harus membuktikan adanya hubungan antara dirinya dengan hak atau kepentingan.Menurut Syahdeini, yang dimaksud dengan actio popularis adalah prosedur pengajuan gugatan yang melibatkan kepentingan umum secara perwakilan. Dalam hal ini, pengajuan gugatan ditempuh dengan acuan bahwa setiap warga negara tanpa kecuali mempunyai hak membela kepentingan umum.26 Dengan demikian setiap anggota warga negara atas nama kepentingan umum dapat menggugat negara atau pemerintah atau siapa saja yang yang melakukan perbuatan melawan hukum, yang nyatanyata merugikan kepentingan umum dan kesejahteraan masyarakat luas. Dalam actio popularis, hak mengajukan gugatan bagi warga negara atas nama kepentingan umum adalah tanpa syarat, sehingga orang yang mengambil inisiatif mengajukan gugatan tidak harus orang yang mengalami sendiri kerugian secara langsung, dan juga tidak memerlukan surat kuasa khusus dari anggota masyarakat yang diwakilinya.27 Sehingga intinya citizen Lawsuit adalah mekanisme bagi Warga Negara untuk menggugat tanggung jawab penyelenggara Negara atas kelalaian dalam memenuhi hak-hak warga Negara., merupakan gugatan yang

25

Brierly Napitupulu, Antara Actio Popularis dan Citizen Lawsuit, www.magisterhukum-kenotariatan.blogspot.com, diakses 21 April 2013 26 Ela Laela Fakhriah, Actio Popularis (Citizen Lawsuit) dalam Hukum Acara Perdata Indonesia (Artikel Pustaka Unpad), hal.2 27 Prof. Sudikno Mertokusumo, www.hukumonline.com, Gugatan Actio Popularis dan Batas Kewenangan Hakim, diakses 21 April 2013

mengatasnamakan kepentingan seluruh Warga Negara atau kepentingan public, untuk melindungi Warga Negara dari kemungkinan terjadinya kerugian akibat tindakan maupun pembiaran dari Negara yang seharusnya tidak terjadi karena merupakan implementasi dari Undang-undang, dan penggugat tidak perlu membuktikan adanya kerugian yang bersifat langsung. Namun, citizen lawsuit tidak dikenal dalam sistem hukum di Indonesia, sehingga dalam praktik banyak hakim tidak seragam dalam memutus gugatan citizen lawsuit ini. Ada yang menerima ada yang menolak. 28 Meskipun terjadi ketidakseragaman antara hakim yang ada di Indonesia, namun biasanya gugatan Citizen Lawsuit tidak ditolak oleh pengadilan, sehingga tetap diajukan oleh orang yang berkepentingan. Karakteristik tergugat dalam citizen Lawsuit ini adalah tergugat dalam Gugatan Citizen Lawsuit adalah Penyelenggara Negara, Mulai dari Presiden dan Wakil Presiden sebagai pimpinan teratas, Menteri dan terus sampai kepada pejabat negara di bidang yang dianggap telah melakukan kelalaian dalam memenuhi hak warga negaranya. Dalam hal ini pihak selain penyelenggara negara tidak boleh dimasukkan sebagai pihak baik sebagai Tergugat maupun turut tergugat.
29

Selain itu dalam

hal pengajuan Gugatan Citizen Lawsuit, penggugat harus memiliki standing untuk melakukan gugatan Citizen LawSuit ini. Apabila tidak maka Tergugat dapat menuntut pembatalan gugatan Citizen LawSuit apabila penggugat tidak memiliki standing untuk menjadi penggugat Citizen Law Suit. Di dalam sistem hukum yang berlaku di Amerika Serikat, persoalan Standing merupakan persoalan penting karena berkaitan dengan kewenangan atau jurisdiksi pengadilan. Seperti yang dikatakan oleh Michael D. Axline because standing involves the question of whether a court has jurisdiction to hear a particular controversy,.30 Di Amerika Serikat, perkembangan hukum standing didasarkan pada pendapat yang bersumber dari putusan The Supreme Court yang menentukan bahwa siapapun yang dirugikan dengan tindakan lembaga negara dapat mengajukan gugatan melawan para agen pemerintah untuk pelanggaran kewajiban yang telah ditentukan oleh Kongres.Jika ada pihak lain (individu atau badan hukum) yang ditarik sebagai Tergugat/Turut Tergugat maka Gugatan tersebut menjadi bukan Citizen Lawsuit lagi,

28 29

www.hukumonline.com, Calon Hakim Agung Tak Paham Citizen Lawsuit, diakses 21 April 2013 Cekli Setya Pratiwi, www.ceklipratiwi.staff.umm.ac.id, Karakteristik Tergugat dalam Citizen Lawsuit, diakses 21 April 2013 30 Ibid.

karena ada unsur warga negara melawan warga negara. Gugatan tersebut menjadi gugatan biasa yang tidak bisa diperiksa dengan mekanisme Citizen Lawsuit.31

6. UU NO. 32 TAHUN 2009 PASAL 90-93 Pasal 90 Hak Gugat Pemerintah dan Pemerintah Daerah (1) Instansi pemerintah dan pemerintah daerah yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup berwenang mengajukan gugatan ganti rugi dan tindakan tertentu terhadap usaha dan/atau kegiatan yang menyebabkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang mengakibatkan kerugian lingkungan hidup. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai kerugian lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. Dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup, berwenang untuk mengajukan gugatan ganti rugi dan tindakan tertentu terhadap usaha dan atau kegiatan yang menyebabkan kerusakan lingkungan hidup dan atau kegiatan yang menyebabkan pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup yang mengakibatkan kerugian lingkungan hidup. ( Pasal 90 Ayat 2).32 Dalam penjelasannya, dicantumkan bahwa yang dimaksud dengan kerugian lingkungan hidup adalah kerugian yang timbul akibat pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang bukan merupakan hak milik privat.

Tindakan tertentu merupakan tindakan pencegahan dan penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan serta pemulihan fungsi lingkungan hidup guna menjamin tidak akan terjadi atau terulangnya dampak negatif terhadap lingkungan hidup. 33 Hal ini merupakan implementasi dari fungsi pemerintah atau administrasi Negara sebagai alat untuk mewujudkan welfare staat di Indonesia, dimana implementasi dari welfare staat tertuang dalam konstitusi, dan salah satu hak yang dimiliki Warga Negara adalah hak atas lingkungan yang baik dan sehat, dan UU No. 32 Tahun 2009 menjamin hal tersebut agar dapat terjadi. Di dalam negara hukum, setiap aspek tindakan pemerintahan baik dalam lapangan pengaturan maupun dalam lapangan pelayanan harus didasarkan pada peraturan
31 32

Ibid. Brierly Napitupulu, Loc.cit 33 www.prolingkungan.blogspot.com, Penjelasan UU No.32 Tahun 2009, diakses 21 April 2013

perundang-undangan atau berdasarkan pada legalitas. Artinya pemerintah tidak dapat melakukan tindakan pemerintahan tanpa dasar kewenangan. 34 Namun dalam welfare state terdapat diskresi, dan tujuannya untuk mensejahterakan rakyat. Apabila pemerintah bisa melakukan diskresi untuk tujuan pelayanan terhadap rakyat, apalagi kewajiban konstitusional yang ada implementasinya dalam Undangundang. Maka sudah seharusnya pemerintah memanfaatkan dengan semaksimal mungkin keberadaan dari hak gugat pemerintah tersebut agar Negara tidak perlu menanggung kerugian lingkungan hidup yang bukan disebabkan oleh bencana alam.

Pasal 91 Hak Gugat Masyarakat (1) Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan kelompok untuk kepentingan dirinya sendiri dan/atau untuk kepentingan masyarakat apabila mengalami kerugian akibat pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup. (2) Gugatan dapat diajukan apabila terdapat kesamaan fakta atau peristiwa, dasar hukum, serta jenis tuntutan di antara wakil kelompok dan anggota kelompoknya. (3) Ketentuan mengenai hak gugat masyarakat dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.35 Merupakan gugatan dimana satu orang/lebih yang mewakili kelompok mengajukan gugatan untuk diri mereka sendiri dan sekaligus mewakili sekelompok orang yang jumlahnya banyak yang memiliki kesamaan fakta atau dasar hukum antara wakil kelompok dan anggota kelompok yang dimaksud;Wakil Kelompok, yang dimaksud dalam gugatan perwakilan adalah satu orang atau lebih (banyak orang) yang menderita kerugian yang mengajukan gugatan dan sekaligus mewakili kelompok orang yang lebih banyak jumlahnya;Anggota Kelompok, merupakan sekelompok orang dalam jumlah banyak yang menderita kerugian yang kepentingannya diwakili oleh wakil kelompok di pengadilan.36 Konsep gugatan class action baik di dalam doktrin maupun praktiknya, terdiri dari dua jenis. Pertama, class action yang

34 35

Iskatrinah, Pelaksanaan Fungsi Hukum Administrasi Negara, www.kunami.wordpress.com, diakses 21 April 2013 UU No. 32 Tahun 2009, www.komisiinformasi.go.id, diakses 21 April 2013 36 www.tanyahukum.com, Class Action, diakses 21 April 2013

menuntut ganti rugi dalam bentuk uang. Kedua, gugatan yang hanya mengajukan permintaan deklaratif atau injunction tanpa menuntut ganti rugi dalam bentuk uang.37

Perbedaan yang prinsipil antara gugatan perwakilan (class actions) dengan hak gugat organisasi (legal standing) antara lain: dalam gugatan perwakilan (class actions). 1) seluruh anggota kelas (class representatives dan class members) sama-sama langsung mengalami atau menderita suatu kerugian, 2) tuntutannya dapat berupa ganti kerugian berupa uang (monetary damage) dan/atau tuntutan pencegahan (remedy) atau tuntutan berupa perintah pengadilan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu (injunction) yang sifatnya deklaratif.)38 Erman Rajagukguk, dkk., memberikan pengertian, class actions adalah suatu cara yang diberikan kepada sekelompok orang yang mempunyai kepentingan dalam suatu masalah, baik seorang atau lebih anggotanya menggugat atau digugat sebagai perwakilan kelompok tanpa harus turut serta dari setiap anggota kelompok.39 Lebih lanjut Erman Rajagukguk, dkk., menyatakan keterlibatan pengadilan dalam gugatan class actions sangat besar setiap perwakilan untuk maju ke pengadilan harus mendapat persetujuan dari Pengadilan dengan memperhatikan: a. class actions merupakan tindakan yang paling baik untuk mengajukan gugatan. b. mempunyai kesamaan tipe tuntutan yang sama. c.penggugatnya sangat banyak, d. perwakilan layak/patut.40Pengaturan mengenai hak gugat masyarakat ini kemudian diatur lebih lanjut dalam Peraturan Mahkamah Agung No.1 Tahun 2002 Tentang Acara Gugatan Perwakilan Kelompok. Dengan berbagai produk hukum sebagai dasar penerapannya,hak gugat masyarakat dan kelompok ini telah banyak dilakukan belakangan ini. Hal ini membuktikan bahwa semakin banyaknya kepedulian masyarakat yang ada di Indonesia guna menjaga dan ikut serta secara aktif meminimalisir pelanggaran terhadap undangundang mengenai Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Contoh dari gugatan yang pernah terjadi di Indonesia diantaranya adalah kasus rokok Bentoel yang terjadi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat,Kasus pencemaran sungan Ciujung yang diajukan di
37 38

www.hukumonline.com, Objek Class Action Terbatas?, diakses 21 April 2013 Erna Herlinda, Tinjauan Tentang Gugatan Class Action dan Legal Standing di Peradilan Tata Usaha Negara, www.repository.usu.ac.id, hal 2 39 Erman Rajagukguk,dkk., Hukum Perlindungan Konsumen, (Bandung:PT Mandar Maju, 2000), hal 71 40 Ibid.

Pengadilan Negeri Jakarta Utara,kasus pembakaran lahan di Riau yang diajukan melalui pengadilan Negeri Pekanbaru,dan Gugatan Walhi terhadap PT.Indorayon Utama.41

Pasal 92 Hak Gugat Organisasi Lingkungan Hidup (1) Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. (2) Hak mengajukan gugatan terbatas pada tuntutan untuk melakukan tindakan tertentu tanpa adanya tuntutan ganti rugi, kecuali biaya atau pengeluaran riil. (3) Organisasi lingkungan hidup dapat mengajukan gugatan apabila memenuhi persyaratan: a. berbentuk badan hukum; b. menegaskan di dalam anggaran dasarnya bahwa organisasi tersebut didirikan untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup; dan c. telah melaksanakan kegiatan nyata sesuai dengan anggaran dasarnya paling singkat 2 (dua) tahun.42 Legal standing atau hak gugat organisasi sebenarnya hanya dikenal didalam sistem hukum Anglo Saxon. Namun sejak diterimanya gugatan Walhi dan kemudian diadopsi didalam UU no. 23 Tahun 1997 Tentang Lingkungan Hidup dan kemudian diteruskan didalam UU no. 32 Tahun 2009, mekanisme gugatan dengan cara hak gugat organisasi sudah menjadi mekanisme yang diterima secara hukum. 43 Ada beberapa persyaratan dimana organisasi dapat menjadi para pihak dalam perkara-perkara yang berkaitan dengan Lingkungan Hidup karena UU No.32 Tahun 2009 sendiri bersifat limitative. Sedangkan gugatan yang ditujukan tidak berkaitan dengan ganti rugi, hanya membicarakan perbaikan terhadap mekanisme lingkungan hidup. Pengadilan kemudian memeriksa terhadap persyaratan itu sehingga organisasi tersebut dapat menjadi para pihak didalam persidangan. Sedangkan terhadap pihak tergugat, gugatan organisasi merupakan cara untuk melakukan perbaikan terhadap proses aktivitas lingkungan
41 42

Ferli Hidayat, Class Action dan Legal Standing, www.ferli1982.wordpress.com, diakses 21 April 2013 UU No.32 Tahun 2009, www.komisiinformasi.go.id, diakses 21 April 2013 43 www.istilahhukum.wordpress.com, diakses 21 April 2013

hidup yang dianggap keliru oleh mekanisme sebagaimana diatur didalam UU no. 32 Tahun 2009.44 Pendapat yang memberikan hak gugat kepada suatu organisasi/lembaga swadaya masyarakat (legal standing) berangkat dari teori yang dikemukakan oleh Prof. Christoper Stone, yang memberikan hak hukum kepada objek-objek alam (natural object) seperti hutan, laut, sungai, gunung sebagai objek alam yang layak memiliki hak hukum dan adalah tidak bijaksana jika dianggap sebaliknya dikarenakan sifatnya yang inanimatif (tidak dapat berbicara) tidak diberi suatu hak hukum.45 Selanjutnya Stone berpendapat, organisasi lingkungan yang memiliki data dan alasan untuk menduga bahwa suatu proyek/kegiatan bakal merusak lingkungan, kelompok tersebut dapat mengajukan permohonan kepada pengadilan agar mereka ditunjuk sebagai wali (guardian) dari objek alam tersebut untuk melakukan pengawasan maupun pengurusan terhadap objek alam terhadap indikasi pelanggaran atas hak hukum.46 Secara konvensional hak gugat hanya bersumber pada prinsip tiada gugatan tanpa kepentingan hukum. Kepentingan hukum yang dimaksud disini adalah kepentingan yang berkaitan dengan kepemilikan atau kepentingan material berupa kerugian yang dialami secara langsung. Perkembangan

hukum hak gugat konvensional berkembang secara pesat seiring pula dengan perkembangan hukum yang menyangkut hajat hidup orang banyak dimana seseorang atau organisasi dapat bertindak sebagai penggugat walaupun tidak memiliki kepentingan hukum secara langsung, tetapi dengan didasari oleh suatu kebutuhan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat luas atas pelanggaran hak-hak public seperti lingkungan hidup, perlindungan konsumen, serta hak-hak sipil dan politik. Sehingga meskipun organisasi tidak memiliki kepentingan langsung, tetapi LSM atau organisasi bertindak sebagai wakil dari ekologi dan masyarakat luas karena lingkungan menyangkut hajat hidup orang banyak.

Pasal 93 Gugatan Administratif

44 45

Ibid. Mas Achmad Santosa, dkk., Petunjuk Pelaksanaan Gugatan Perwakilan Makalah Topic 7, Civil Liability for Environmental Damage Indonesia, yang disampaikan dalam pelatihan hukum lingkungan di Indonesia bekerjasama dengan Australia, Desember 1999 September 2000, ICEL, hal 53. 46 Proyek Pembinaan Teknis Yustisial MARI, 1998, hal. 75.

(1) Setiap orang dapat mengajukan gugatan terhadap keputusan tata usaha Negara apabila: a. badan atau pejabat tata usaha Negara menerbitkan izin lingkungan kepada usaha dan/atau kegiatan yang wajib amdal tetapi tidak dilengkapi dengan dokumen amdal; b. badan atau pejabat tata usaha Negara menerbitkan izin lingkungan kepada kegiatan yang wajib UKL-UPL, tetapi tidak dilengkapi dengan dokumen UKL-UPL; dan/atau c. badan atau pejabat tata usaha Negara yang menerbitkan izin usaha dan/atau kegiatan yang tidak dilengkapi dengan izin lingkungan. (2) Tata cara pengajuan gugatan terhadap keputusan tata usaha negara mengacu pada Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara.47 Gugatan yang diajukan kepada Peradilan Tata Usaha Negara sesuai dengan Pasal 1 Ayat 5 UU No. 5 Tahun 1986 tentang Pengadilan Tata Usaha Negara, apabila didalam ketentuan perundang-undangan yang berlaku tidak ada kewajiban untuk menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara tersebut melalui upaya administrasi, maka seseorang atau Badan Hukum Perdata tersebut dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara.48 Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat dalam hal ini berkaitan dengan masalah tertib administrasi, yaitu amdal, UKL-UPL dan izin lingkungan. Tertib administrasi penting karena berkaitan dengan masalah pertanggungjawaban,49 yaitu siapa yang akan bertanggungjawab apabila terjadi sengketa maupun masalah lingkungan dikemudian hari, karena masalah lingkungan hidup yang merupakan sebuah isu krusial bernegara tidak dapat dilepaskan dari masyarakat dan juga adanya sengketa, sehingga tertib administrasi dalam hal lingkungan yaitu amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan), UKL-UPL dan juga Izin Lingkungan merupakan tertib yang harus dipatuhi oleh pelaku usaha selaku Warga Negara yang baik dan taat asas.

7. PERBANDINGAN DENGAN UU NO.23 TAHUN 1997 PASAL 37-38 DAN UU NO.18 TAHUN 2008 PASAL 36-37 UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
47 48

UU No. 32 Tahun 2009, www.komisiinformasi.go.id, diakses 21 April 2013 Jhon Dewangga, Hukum Acara PTUN dan Subyek Obyeknya, www.jhondewangga.wordpress.com, diakses 21 April 2013 49 www.hubdat.web.id, Tertib Administrasi itu Penting, diakses 21 April 2013

Pasal 37 (1) Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan ke pengadilan dan/atau melaporkan ke penegak hukum mengenai berbagai masalah lingkungan hidup yang merugikan perikehidupan masyarakat. (2) Jika diketahui bahwa masyarakat menderita karena akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup sedemikian rupa sehingga mempengaruhi perikehidupan pokok masyarakat, maka instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup dapat bertindak untuk kepentingan masyarakat. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah.50 Dalam penjelasannya, dinyatakan bahwa yang dimaksud hak mengajukan gugatan perwakilan pada ayat ini adalah hak kelompok kecil masyarakat untuk bertindak mewakili masyarakat dalam jumlah besar yang dirugikan atas dasar kesamaan permasalahan, fakta hukum, dan tuntutan yang ditimbulkan karena pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.51 Perbedaannya dengan Pasal 91 UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mengenai Hak Gugat Masyarakat adalah tidak adanya ketentuan bahwa instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup dapat bertindak untuk kepentingan masyarakat. Kemudian dalam UU PPLH terbaru, masyarakat berhak untuk mengajukan gugatan bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat apabila terdapat kerugian karena

pencemaran/kerusakan lingkungan, tidak hanya yang merugikan perikehidupan masyarakat saja seperti dalam UU No. 23 Tahun 1997. Ketentuan mengenai hak gugat masyarakat dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan pada UU PPLH, sedangkan dalam UU No. 23 Tahun 1997 diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pada Undang-undang No. 32 Tahun 2009 terdapat penguatan demokrasi lingkungan melalui akses informasi, akses partisipasi, dan akses keadilan serta penguatan hak-hak masyarakat dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. 52

50

UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, www.djlspe.esdm.go.id, hal 17, diakses 21 April 2013 51 UU no.23 Tahun 1997, ibid, hal 40 52 www.yessca.blogspot.com, Perbandingan UU No. 4 Tahun 1982, UU No. 23 Tahun 1997 dan UU No. 32 Tahun 2009, diakses 21 April 2013

Pasal 38 (1) Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan pola kemitraan, organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. (2) Hak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas pada tuntutan untuk hak melakukan tindakan tertentu tanpa adanya tuntutan ganti rugi, kecuali biaya atau pengeluaran riil. (3) Organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila memenuhi persyaratan : a. berbentuk badan hukum atau yayasan; b. dalam anggaran dasar organisasi lingkungan hidup yang bersangkutan menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup; c. telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya.53 Dalam penjelasan Pasal 38 dinyatakan, berupa tuntutan membayar ganti rugi, melainkan hanya terbatas gugatan lain, yaitu : a. memohon kepada pengadilan agar seseorang diperintahkan untuk melakukan tindakan hukum tertentu yang berkaitan dengan tujuan pelestarian fungsi lingkungan hidup; b. menyatakan seseorang telah melakukan perbuatan melanggar hukum karena mencemarkan atau merusak lingkungan hidup; c. memerintahkan seseorang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan untuk membuat atau memperbaiki unit pengolah limbah. Yang dimaksud dengan biaya atau pengeluaran riil adalah biaya yang nyata-nyata dapat dibuktikan telah dikeluarkan oleh organisasi lingkungan hidup.54 Perbedaan antara kedua UU tersebut adalah dalam UU No.32 Tahun 2009 adanya pencantuman klausul bahwa organisasi harus telah melakukan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya selama minimal 2 tahun, Pasal 92 ayat 2 c UU PPLH telah

melaksanakan kegiatan nyata sesuaidengan anggaran dasarnya paling singkat 2 (dua)

53 54

UU No. 23 Tahun 1997, www.bk.menlh.go.id, hal 17 diakses 22 April 2013 Ibid, hal 41

tahun.55, dibandingkan dengan UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang tidak mencantumkan syarat limitative mengenai waktu tersebut, yang penting telah melaksanakan kegiatan sesuai anggaran dasarnya.

UU No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah

Pasal 36 Gugatan Perwakilan Kelompok Masyarakat yang dirugikan akibat perbuatan melawan hukum di bidang pengelolaan sampah berhak mengajukan gugatan melalui perwakilan kelompok.56 Perbandingan dengan UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah dalam UU PPLH, masyarakat diberi keterangan dapat mengajukan gugatan untuk dirinya sendiri maupun untuk masyarakat, sedangkan dalam UU No. 18 Tahun 2008 hanya untuk kelompok. Persamaannya, kedua UU tersebut samasama mengatur mengenai gugatan perwakilan kelompok atau class action, dimana yang diutamakan adalah perasaan senasib antara wakil dari kelompok dan sejumlah besar anggota kelompok yang diwakili, sehingga memiliki tuntutan yang sama.

Pasal 37 Hak Gugat Organisasi Persampahan (1) Organisasi persampahan berhak mengajukan gugatan untuk kepentingan pengelolaan sampah yang aman bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan. (2) Hak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas pada tuntutan untuk melakukan tindakan tertentu, kecuali biaya atau pengeluaran riil. (3) Organisasi persampahan yang berhak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persyaratan: a. berbentuk badan hukum; b. mempunyai anggaran dasar di bidang pengelolaan sampah; c. telah melakukan kegiatan nyata paling sedikit 1 (satu) tahun57

55 56

UU No.32 Tahun 2009, Loc.cit UU No. 12 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan sampah, www.bk.menlh.go.id, diakses 22 April 2013

Hak gugat organisasi persampahan ini memiliki kesamaan dengan hak gugat organisasi lingkungan yang diatur dalam Pasal 92 UU No. 32 Tahun 2009, kecuali masalah pelaksanaan anggaran dasar, dimana dalam organisasi lingkungan harus dilaksanakan selama minimal dua tahun, sedangkan dalam organisasi persampahan harus dilaksanakan minimal satu tahun.

8. PERMA NO.1 TAHUN 2002 TENTANG ACARA GUGATAN PERWAKILAN KELOMPOK

Peraturan Mahkamah Agung No. 1 Tahun 2002 merumuskan gugatan Perwakilan Kelompok adalah suatu tata cara pengajuan gugatan, dalam mana satu orang atau lebih yang mewakili kelompok mengajukan gugatan untuk diri atau diri-diri mereka sendiri dan sekaligus mewakili sekelompok orang yang jumlahnya banyak, yang memiliki kesamaan fakta atau dasar hukum antara wakil kelompok dan anggota kelompok dimaksud. Dalam perma No.1 Tahun 2002, dirumuskan adanya Wakil kelompok, satu orang atau lebih yang menderita kerugian yang mengajukan gugatan dan sekaligus mewakili kelompok orang yang lebih banyak jumlahnya;

Anggota kelompok adalah sekelompok orang dalam jumlah banyak yang menderita kerugian yang kepentingannya diwakili oleh wakil kelompok di pengadilan; Sub kelompok adalah pengelompokan anggota kelompok ke dalam kelompok yang lebih kecil dalam satu gugatan berdasarkan perbedaan tingkat penderitaan dan/atau jenis kerugian.58

57 58

Ibid. Peraturan Mahkamah Agung No.1 Tahun 2002 Tentang Acara Gugatan Perwakilan Kelompok, www.hukum.unsrat.ac.id, diakses 22 April 2013