Anda di halaman 1dari 2

Jenis-jenis Pewarnaan Kuman

Pewarnaan negatif, metode ini bukan untuk mewarnai bakteri tetapi mewarnai latar belakangnya menjadi hitam gelap. Padapewarnaan ini mikroorganisme kelihatan transparan (tembuspandang). Teknik ini berguna untuk menentukan morfologi danukuran sel. Pada pewarnaan ini olesan tidak mengalami pemanasanatau perlakuan yang keras dengan bahan-bahan kimia, makaterjadinya penyusutan dan salah satu bentuk agar kurang sehinggapenentuan sel dapat diperoleh dengan lebih tepat. Metode inimenggunakan cat nigrosin atau tinta cina. Sel bakteri tidak berwarna, sehingga sukar untuk diamati secara langsung. Pewarnaan sel bakteri dilakukan untuk mempermudah pengamatan morfologi bakteri tersebut. Tujuan pewarnaan negatif adalah untuk mempelajari danmengetahui sel-sel bakteri sehingga sel bakteri dapat dilihat secarajelas. Prinsip percobaan pewarnaan negatif yaitu berdasarkan pewarnaan tidak langsung dengan hanya mewarnai latar belakangnya. Pewarnaan ini dipakai untuk yang sukar di warnai, misalkan Spirochaeta (Treponema, Leptospira dan Borrelia). Pewarnaan Sederhana, pada tahap pewarnaan sederhana memerlukan satu jenis zat larutan berwarna biru yang biasa disebut larutan biru metilen. Ada pula yang menyebutnya air fukshin. Pewarnaan menggunakan jenis larutan biru metilen ini sebenarnya tahap pewarnaan yang paling umum dilakukan bila seorang peneliti ingin mengetahui bentuk-bentuk sel. Selain cukup mudah dilakukan, hasil yang diperoleh pun cukup cepat yaitu sekitar 30 sampai 60 detik saja. Hal ini disebabkan karena jenis larutan biru metilen bersifat alkalin yang sangat cocok digabungkan dengan sitoplasma bakteri yang suka akan kandungan basa alkalin (bersifat basofilik). Contohnya pada pewarnaan spora dan cendawan eurotium. Pewarnaan Diferensial, Pewarnaan diferensial menggunakan lebih dari satu macam zat warna: A. Pewarnaan Gram: Pewarnaan Diffrensial yang sangat penting. Ditemukan oleh Christian Gram pada tahun 1884. Pewarnaan Differensial dimaksudkan untuk membedakan 2 jenis bakteri berdasarkan daya rekat dinding bakteri terhadap zat warna. Salah satu jenis pewarnaan differensial adalah Pewarnaan Gram, yang menggunakan 2 macam zat warna yaitu Zat warna Primer (Kristal Violet) dan Zat warna Sekunder (Fucshin atau Safranin). Bakteri dapat membentuk bulat/kokus/coccus dengan susunan berkelompok atau berantai, sebagian besar bakteri ini bersifat Gram Positif. Bakteri berbentuk berbentuk batang/basil/bacil dapat bersusun satu-satu, berantai ataupun bertumpuk seperti kayu bakar, sebagian besar bersifat Gram negatif. Contohnya B. Pewarnaan Tahan Asam (acid fast staining). Misalkan pewarnaan Ziehl-Neelsen dan KinyounGabbett untuk membedakan kuman-kuman yang tahan Asam dari yang tidak Tahan Asam. Pewarnaan ini adalah segolongan bakteri yang sulit diwarnai, tetapi sekali diwarnai sulit dihapus. Dinding sel bakteri tahan asam terdiri dari peptidogikan, arabinogalaktan, dan lipid, dimana 50% dari lipid ini terdiri dari asam nikolat. Bakteri ini dimasukkan kedalam golongan mikrobacterium yang sebagian besar bersifat satprofit, dikenal juga golongan atipik , sebagian kecil pathogen bagi manusia yaitu Mycrobaterrium tuberculosis dan Mycrobacterium leprae. Dari pewarnaan BTA dapat dibedakan 2, yaitu golongan bakteri tahan asam yang akan tetap mengikat zat pewarnaan primer (karbofuksin) dan tidak akan dilepas pada pencucian alkoholm asam, serta tidak akan mengikat zat warna sekunder ( metilen blue), sedangkan bakteri tidak tahan asam akan melepaskan zat warna primer pada pencucian alcohol asam dan akan mengikat zat warna sekunder. Ada beberapa cara mewarnai bakteri tahan asam yaitu, menurut Ziehl-Neelseen, menurut Tan

Thiam Hok (1957) yang disebut juga pewarnaan Kinyoun Gabelt, serta pewarnaan dengan auramenphenol. Contohnya pada pewarnaan bakteri Mycobaterium tubercolosis. Pewarnaan Khusus A. Pewarnaan Kapsul Kegunaan kapsul bakteri : 1. Mencegah kekeringan pada kondisi yang tidak menguntungkan 2. Meningkatkan kemampuan bakteri untuk menimbulkan penyakit, merupakan lapisan pelindung yang menghalangi proses fagositosis oleh sel daraah putih. Beberapa metode pewarnaan kapsul : 1. Pewarnaan Muir; kapsul bewarna biru dan badan bakteri berwarna merah. 2. Pewarnaan Hiss; kapsul berwarna biru muda dan badan bakteri ungu tua. 3. Pewarnaan Gins-Burri kombinasi pewarnaan negative dan sederhana, akan didapat hasil kapsul tidak berwarna dan badan bakteri berwarna merah, karena kapsul mudah ditembus zat warna tetapi sukar mengikat zat warna. B. Pewarnaan Spora: Beberapa genus bakteri dapat membuat endospora, yang diantaranya adalah dari genus bacillus dan clostridium. Bakteri ini mengalami siklus diverensiasi untuk merespon keaddaan lingkungan buruk seperti : kekeringan, kekurangan makanan, dll. Tiap sel membentuk satu endospora yang akan dilepaskan bila sel induk mengalami otolisis. Spora adalah bagian dalam bentuk istirahat. Spora bersifat resisten terhadap panas, kekeringan , dan zat kimiawi. Bila kondisi lingkungan telah baik kembali spora dapat kembali melakukan gemisasi dan memproduksi sel vegetative. C. Pewarnaan flagel: Flagel merupakan organel sel yang tidak dapat dilihat dengan pewarnaan biasa. Ntuk itu pewarnaan khusus atau dengan mikroskop electron. Salah satu pewarnaan yang digunakan untuk melihat flagel adalah pewarnaan Gray serta beberapa pewarnaan lain diantaranya pewarnaan Novel, Zattnow, dan Fontana-Tribondeau dengan menggunakan impregnasi Ag. D. Pewarnaan Gray: Digunakan untuk pemantek / mordant untuk mneingkatkan afinitas flagel terhadap zat warna dan memperbesar diameter flagel. Zat warna yang digunakan adalah Karbol Fuksin menjadi flagel dan badan kuman berwarna merah.