Anda di halaman 1dari 11

PENGOLAHAN AIR

I. Tujuan Percobaan a. Minggu I - Dapat mengoperasikan Jar Test - Dapat menentukan dosis optimum koagulan yang digunakan b. Minggu II - Mahasiswa dapat memahami dan menggambarkan proses pengolahan air baku menjadi air bersih - Mahasiswa dapat menghitung laju alir koagulan yang digunakan - Mahasiswa mampu menganalisa air

II. Alat dan Bahan Alat: Jar Test Turbidity meter pH meter Buret Gelas ukur 500 ml, 1000 ml Labu takar 1000 ml Pipet Ukur 25 ml Bola karet 1 1 1 1 3,1 1 1 1 buah buah buah buah buah buah buah buah

Bahan: - Air Umpan - Koagulan tawas - Aquadest III. Teori Sistem pengelolaan air ini dikenal dengan istilah Water Treatment. Ada beberapa tahap pengelolaan air yang harus dilakukan sehingga air tersebut bisa dikatakan layak untuk dipakai. Namun, tidak semua tahap ini diterapkan oleh masing-masing pengelola air, tergantung dari qualitas sumber airnya. Sebagai contoh, jika sumber airnya berasal dari dalam tanah (ground water), sistem pengelolaan airnya akan lebih sederhana dari pada yang sumber airnya berasal dari sumber air permukaan, seperti air sungai, danau atau laut. Karena air yang berasal dari dalam tanah telah secukupnya secukupnya secukupnya

melalui penyaringan secara alami oleh struktur tanah itu sendiri dan tidak terkontak langsung dengan udara bebas yang mengandung banyak zat-zat pencemaran air. Berbeda halnya dengan sumber air permukaan yang mudah sekali tercemar. Namun demikian air yang berasal dari dalam tanahpun akan jadi tercemar juga jika sistem penampungan dan penyalurannya tidak bagus. Secara umum proses pengolahan air dibagi dalam 3 unit, yaitu: 1. Unit Penampungan Awal (Intake) Unit ini dikenal dengan istilah unit Sadap Air (Intake). Unit ini berfungsi sebagai tempat penampungan air dari sumber airnya. Selain itu unit ini dilengkapi dengan Bar Sceen yang berfungsi sebagai penyaring awal dari benda-benda yang ikut tergenang dalam air seperti sampah daun, kayu dan benda2 lainnya.

2. Unit Pengolahan (Water Treatment) Pada unit ini, air dari unit penampungan awal diproses melalui beberapa tahapan: a. Tahap Koagulasi (Coagulation) Pada tahap ini, air yang berasal dari penampungan awal diproses dengan menambahkan zat kimia. Tawas (alum) atau zat sejenis seperti zat garam besi (Salts Iron) atau dengan menggunakan sistem pengadukan cepat (Rapid Mixing). Air yang kotor atau keruh umumnya karena mengandung berbagai partikel koloid yang tidak terpengaruh gaya gravitasi sehingga tidak bisa mengendap dengan sendirinya. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menghancurkan partikel koloid (yang menyebabkan air keruh) tadi sehingga terbentuk partikel-partikel kecil namun masih sulit untuk mengendap dengan sendirinya. b. Tahap Flokulasi (Flocculation) Proses Flokulasi adalah proses penyisihan kekeruhan air dengan cara penggumpalan partikel untuk dijadikan partikel yang lebih besar (partikel Flok). Pada tahap ini, partikel-partikel kecil yang terkandung dalam air digumpalkan menjadi partikelpartikel yang berukuran lebih besar (Flok) sehingga dapat mengendap dengan sendirinya (karena gravitasi) pada proses berikutnya. Di proses Flokulasi ini dilakukan dengan cara pengadukan lambat (Slow Mixing). c. Tahap Pengendapan (Sedimentation) Pada tahap ini partikel-patikel flok tersebut mengendap secara alami di dasar penampungan karena massa jenisnya lebih besar dari unsur air. Kemudian air di alirkan masuk ke tahap penyaringan di Unit Filtrasi.

d. Tahap Penyaringan (Filtration) Pada tahap ini air disaring melewati media penyaring yang disusun dari bahanbahan biasanya berupa pasir dan kerikil silica. Proses ini ditujukan untuk menghilangkan bahan-bahan terlarut dan tak terlarut. Secara umum setelah melalui proses penyaringan ini air langsung masuk ke unit Penampungan Akhir. Namun untuk meningkatkan qualitas air kadang diperlukan proses tambahan, seperti: Proses Pertukaran Ion (Ion Exchange)

Proses pertukaran ion bertujuan untuk menghilangkan zat pencemar anorganik yang tidak dapat dihilangkan oleh proses filtrasi atau sedimentasi. Proses pertukaran ion juga digunakan untuk menghilangkan arsenik, kromium, kelebihan fluorida, nitrat, radium, dan uranium. Proses Penyerapan (Absorption)

Proses ini bertujuan untuk menyerap / menghilangkan zar pencemar organik, senyawa penyebab rasa, bau dan warna. Biasanya dengan membubuhkan bubuk karbon aktif ke dalam air tersebut. Proses Disinfeksi (Disinfection)

Sebelum masuk ke unit Penampungan Akhir, air melalui Proses Disinfeksi dahulu. Yaitu proses pembubuhan bahan kimia Chlorine yang bertujuan untuk membunuh bakteri atau mikroorganisme berbahaya yang terkandung di dalam air tersebut. 3. Unit Penampung Akhir (Reservoir) Setelah masuk ke tahap ini berarti air sudah siap untuk didistribusikan ke masyarakat.

Gambar. Pengolahan Air

Pengolahan air bersih didasarkan pada sifat-sifat koloid, yaitu koagulasi dan adsorbs. Air sungai atau air sumur yang keruh mengandung lumpur koloidal dan kemungkinan juga mengandung zat-zat warna, zat pencemar seperti limbah detergen dan pestisida. Bahan-bahan yang diperlukan untuk pengolahan air adalah tawas (aluminium sulfat), pasir, korin atau kaporit, kapur tahar, dan karbon aktif. Tawas berguna untuk menggumpalkan lumpur koloidal, sehingga lebih mudah disaring. Tawas juga membentuk koloidal Al(OH)3 yang dapat mengadsorpsi zat-zat warna atau zat-zat pencemar seperti detergen dan pestisida. Apabila tingkat kekeruhan air yang diolah terlalu tinggi, maka selain tawas digunakan karbon akiif. Pasir berfungsi sebagai penyaring. Klorin atau kaporlt berfungsi sebagai pembasmi hama (desinfektan), sedangkan kapur tohor berguna untuk menaikkan pH yaitu untuk menetralkan keasaman yanq terjadi karena penggunaan tawas. Sistem pengolahan air bersih dengan sumber air baku sungai, tanah dan air pegunungan, dengan skala atau standar air minum, memerlukan beberapa prosses. Mengenai prosses yang perlu diterapkan tergantung dari kwalitas air baku tersebut. Proses yang diterapkan dalam sistem pengolahan air bersih antara lain: Proses penampungan air dalam bak penampungan air yang bertujuan sebagai tolak ukur dari debit air bersih yang dibutuhkan. Ukuran bak penampungan disesuaikan dengan kebutuhan (debit air) yang mana ukuran bak 2 kali dari kebutuhan. Proses oksidasi atau penambahan oksigen ke dalam air agar kadar-kadar logam berat serta zat kimiawi lainnya yang terkandung dalam air mudah terurai. Proses pengendapan atau koagulasi, proses ini bisa dilakukan dengan menggunakan bahan koagulan (hipoklorit/ PAC) dengan rumus kimia juga. Proses ini bisa dilakukan dengan menggunakan teknik lamella plate. Proses filtrasi (karbon aktif), proses ini bertujuan untuk menghilangkan kotorankotoran yang masih terkandung dalam air dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas air agar air yang dihasilakan tidak mengandung bakteri (steril) dan rasa serta aroma air. Proses terakhir adalah proses pembunuhan bakteri, virus, jamur, makroba dan bakteri lainnya yang bertujuan mengurangi pathogen yang ada, proses ini menggunakan proses klorinator atau sterilisasi dengan menggunakan kaporit. Proses Penjernihan air bertujuan untuk menghilangkan zat pengotor atau untuk memperoleh air yang kualitasnya memenuhi standar persyaratan kualitas air seperti : a. Menghilangkan gas-gas terlarut b. Menghilangkan rasa yang tidak enak

c. Membasmi bakteri patogen yang sangat berbahaya d. Mengelolah agar air dapat digunakan untuk rumah tangga dan industri e. Memperkecil sifat air yang menyebabkan terjadinya endapan dan korosif pada pipa atau saluran air lainnya. Parameter kualitas air dibagi menjadi tiga, yaitu : I. Parameter Fisika 1. Suhu, adalah ukuran derajat panas atau dinginnya suatu benda (air). 2. Kecepatan arus, gerakan massa air dari satu tempat ke tempat lain baik secara vertikal (gerak ke atas) maupun secara horizontal (gerakan ke samping) dengan satuan m/s. 3. Kecerahan, suatu kondisi yang menunjukkan kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada kedalaman tertentu. 4. Kedalaman, suatu keadaan yang menunjukkan tinggi rendahnya air dengan satuan meter (m). 5. Warna air, parameter yang menunjukkan warna perairan yang dipengaruhi oleh jenis substrat atau biota yang mendiami perairan tersebut seperti plankton dan lain-lain. 6. Salinitas, konsentrasi total ion di perairan dengan satuan ppt (part per thousand). II. Parameter Kimia 1. DO (Dissolved Oxygen) adalah jumlah oksigen terlarut dalam air yang berasal dari fotosintesa dan absorbsi atmosfer/udara dengan satuan ppm (part per million). 2. pH (Power of Hydrogen atau Poisson Hard) adalah suatu ekpresi dari konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam air. Besarannya dinyatakan dalam minus logaritma dari konsentrasi ion H. 3. COD (Chemical Oxygen Demand) adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh biota perairan dalam reaksi kimia dengan satuan ppm (part per million). 4. BOD (Biology Oxygen Demand), umlah oksigen yang dibutuhkan oleh biota perairan dengan satuan ppm (part per million). 5. CO2 (Karbondioksida), jumlah karbon yang dihasilkan oleh biota air dalam respirasi dengan satuan ppm (part per million). 6. Amonia (NH4), senyawa yang terbentuk dari oksidasi bahan organik yang mengandung bahan nitrogen dalam air dengan bantuan bakteri. Amonia merupakanproduk sisa metabolisme yang utama dari ikan. 7. Nitrat (NO3-), hasil dari proses nitrifikasi oleh bakteri Nitrobacter.

8. Nitrit (NO2-), hasil dari proses oksidasi amonia oleh bakteri Nitrosomonas. 9. Total Amonia Nitrogen (TAN) adalah gabungan dari beberapa senyawa nitrogen yang meliputi NH4 (amonia terionisasi, karena memiliki ion positif) dan NH3 (tak terionisasi, karena tidak memiliki ion) 10.Total Organic Matter (TOM) atau sering disebut bahan organik terlarut total merupakan kandungan bahan organik total atau keseluruhan di perairan yang terdiri dari bahan organik terlarut, tersuspensi (particulate) dan koloid. 11.Alkalinitas, suatu parameter kimia perairan yang menunjukan jumlah ion karbonat dan bikarbonat. 12.Kesadahan, adalah kandungan mineral tertentu di dalam air, umumnya

yaitu ionkalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Air sadah atau sering disebut dengan air keras adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi. 13.Total Dissoved Solid (TDS), jumlah ukuran zat terlarut (baik itu zat organik maupun anorganik) yang terdapat pada sebuah larutan. TDS menggambarkan jumlah zat terlarut dalam part per million (ppm) atau sama dengan milligram per liter (mg/L). 14.Total Suspended Solid (TSS), adalah residu dari padatan total yang tertahan oleh saringan dengan ukuran partikel maksimal 2m atau lebih besar dari ukuran partikel koloid. 15.Hidrogen Sulfida (H2S), gas beracun yang dihasilkan dari hasil penguraian atau perombakan bahan organik oleh bakteri. III. Parameter Biologi 1. Plankton Plankton adalah mikroorganisme yang hidup melayang di perairan, mempunyai gerak sedikit sehingga mudah terbawa oleh arus. Plankton merupakan salah satu komponen utama dalam sistem rantai makanan atau food chain dan jaring makanan atau food web (Ferianti, 2007). Plankton dibagi menjadi dua jenis yaitu fitoplankton (plankton tumbuhan) dan zooplankton (plankton hewan). 2. Bakteri Bakteri adalah salah satu golongan organisme prokariotik (tidak mempunyai selubung inti), uniselluler dan berukuran renik (mikroskopis). Bakteri merupakan organisme yang paling banyak jumlahnya dan lebih tersebar luas dibandingkan mahluk hidup yang lain. Bakteri ada yang menguntungkan tetapi ada pula yang merugikan. Bakteri yang menguntungkan seperti golongan Bacillus sp, Nitrosomonas, Nitrobacter dll. Sedangkan bakteri merugikan antara lain adalah Vibrio sp, Pseudomonas dan lain-lain.

IV. Prosedur Percobaan Minggu I 1. 2. Mengambil sampel air dari bak luar penampung Membuat larutan tawas dengan kosentrasi 1000 ppm

3. Mencampur sampel dengan larutan tawas dengan konsentrasi yang berbeda 50 ppm, 75 ppm, 100 ppm dan 150 ppm 4. Mengaduk sampel dengan Jarr Test selama selama 1 jam. 15 menit dan mendiamkan larutan air

5. Mengukur kekeruhan dan pH Minggu II 1. Menghidupkan pompa air yang akan mengalirkan air dari bak luar penampung ke bak pengolahan 2. 3. 4. Membuat larutan koagulan di dalam bak koagulan Mengalirkan air umpan dan selanjutnya akan tercampur dengan koagulan Mengambil sampel output untuk diperiksa nilai kekeruhan dan pH

V. Data Pengamatan Sampel awal Kekeruhan = 42,3 NTU ; pH = 6,37 Tabel 1. Pengolahan Air Secara Batch Sampel Konsentrasi tawas (ppm) A B C D 50 75 100 150 Kekeruhan (NTU) 13,7 16,3 26,2 16,2 6,4 5,8 4,9 4,4 pH

Tabel 2. Pengolahan Air Secara Kontinyu Sampel Output Hari Ke1 2 3 Kekeruhan (NTU) 38,7 35,9 18,8 4,07 6,41 6,49 pH

VI. Perhitungan Pembuatan Larutan Tawas Induk 1000 ppm 1000 ppm = 1000 mg/l = 1 gr/l

Penambahan volume koagulan dalam 500 ml air umpan berdasarkan konsentrasi A. V1 x M1 V1 x 1000 ppm V1 B. V1 x M1 V1 x 1000 ppm V1 C. V1 x M1 V1 x 1000 ppm V1 D. V1 x M1 V1 x 1000 ppm V1 Laju Alir Air Umpan Q= Laju Alir Koagulan Q= 1384,61 l/jam = M2 x V2 = 50 ppm x 500 ml = 25 ml = M2 x V2 = 75 ppm x 500 ml = 37,5 ml = M2 x V2 = 100 ppm x 500 ml = 50 ml = M2 x V2 = 150 ppm x 500 ml = 62,5 ml

Volume Bak Air Umpan p= 90 cm; l= 42 cm; t= 9 cm Volume Bak Koagulan p = 50 cm; l= 42 cm; t= 48 cm V = 100800 cm3 V =34020 cm3

VII. Analisis Percobaan Setelah melakukan percobaan, dapat dianalisa bahwa pengolahan air dilakukan dengan menambahkan koagulan tawas ke dalam air yang akan dijernihkan. Dalam industri, pengolahan air digunakan untuk mengolah air sungai atau air yang tercemar menjadi air bersih. Selain dengan penambahan tawas, pengolahan air dapat juga dilakukan dengan

penambahan bakteri pengurai, proses clarifier dan sand filter. Pengolahan air dilakukan dengan dua sistem, yaitu sistem batch dan kontinyu. Pengolahan air dengan sistem batch dilakukan pada minggu I yang hanya dilakukan dengan peralatan Jarr Test. Proses koagulasi dan flokulasi dapat membantu mengikat partikelpartikel kontaminan air sehingga zat pengotor dapat terendapkan dan menghasilkan air dengan kemurnian yang lebih baik. Pembuatan larutan tawas induk memiliki konsentrasi 1000 ppm. Ini berarti sebanyak 1 gram padatan tawas dilarutkan dalam 1 liter aquadest. Dalam menentukan konsentrasi optimum yang dibutuhkan dalam pengolahan air, dilakukan 4 kali pengolahan dengan penambahan larutan tawas yang memiliki konsentrasi yang berbeda. Praktikan mencoba konsentrasi 50 ppm, 75 ppm, 100 ppm dan 150 ppm. Pengolahan air pada minggu II dilakukan dengan sistem kontinyu. Aliran air umpan terus dialirkan dengan alat bantu pompa ke dalam bak penampung yang selanjutnya akan tercampur dengan larutan koagulan. Penambahan tawas memengaruhi nilai kekeruhan dan pH. Zat-zat

kontaminan/pengotor air dalam baka penampung akan semakin jernih. Akan tetapi semakin banyak tawas melebihi kapasitas, maka itu tidak akan membuat air menjadi lebih jernih dari sebelumnya, tapi dapat menjadi keruh. Penambahan tawas ini juga memengaruhi pH campuran. pH yang ditambah tawas akan menjadi lebih asam, hal ini dikarenakan tawas bersifat asam. Data minggu I menunjukkan bahwa pengolahan air yang baik didapat pada konsentrasi 50 ppm. Dikatakan demikian dilihat dari endapan yang terbentuk dan tidak terdapat lagi kotoran kecil yang masih mengambang di air sampel. Sedangkan data yang diperoleh pada minggu II menunjukkan bahwa sampel yang diuji tiap harinya memiliki tingkat kekeruhan dan keasaman yang berbeda. Dan dapat dikatakan bahwa sampel hari ke-3 adalah sampel yang memiliki tingkat kejernihan yang paling tinggi dibanding sampel hari pertama dan kedua. Hal yang menjadi pembeda dari tiap sampel per harinya ialah waktu yang diperlukan flok-flok kontaminan air untuk mengendap sehingga menghasilkan air yang jernih.

VIII. Kesimpulan Berdasarkan percobaan pengolahan air yang telah dilakukan dapt disimpulkan bahwa: Pengolahan air merupakan salah satu proses yang bertujuan untuk mengolah air dari air yang banyak mengandung kontaminan menjadi air yang memiliki kejernihan yang tinggi. Pengolahan air yang baik pada percobaan minggu I didapat pada konsentrasi 50 ppm. Sampel hari ke-3 percobaan minggu II memiliki hasil output yang lebih baik dengan kejernihan air yang tinggi. Penambahan tawas harus dilakukan dengan takaran yang pas, yang tidak membuat air menjadi semakin keruh.

Daftar Pustaka

Yerizam, M. 2013. Penuntun Praktikum Utilitas. Politeknik Negeri Sriwijaya: Palembang.

http://airminum.globalmuliaperkasa.com/2012/11/pengolahan-air-bersih.html

http://sanfordlegenda.blogspot.com/2012/10/Water-Treatment-Tahap-tahap-pengolahanair.html