Anda di halaman 1dari 16

Dinamika Kemajuan IPTEK dalam Pelayanan Keperawatan di Berbagai Sosial Budaya Masyarakat

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Antropologi Dosen: Ns. Latifa Aini S., M.Kep., Sp.Kom

Oleh: Kelompok 5 Alfian Fachrosi Desy Rindra P. Allusia Paradipta C. Bafidz Arifahmi B. Velina Silviyani Pramuditya Dian A. Wanda Yudhi Putra P. Rozy Yudha Y. Rizal Pamungkas C.Y. 082310101069 092310101002 092310101025 092310101036 092310101044 092310101047 092310101056 092310101071 092310101079

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER 2013

a. Pendahuluan Saat ini dunia keperawatan semakin berkembang. Perawat dianggap sebagai salah satu profesi kesehatan yang harus dilibatkan dalam pencapaian tujuan pembangunan kesehatan baik di dunia maupun di Indonesia. Salah satu tujuan pembangunan kesehatan di Indonesia adalah pemerataan pelayanan kesehatan ke seluruh daerah di Indonesia. Sampai saat ini pembangunan kesehatan di Indonesia masih belum merata, pembangunan masih terpusat di pulau Jawa, Sumatera dan kota kota besar saja. Selain itu pemerintah pun menghadapi permasalahan lain yaitu masih sulitnya jangkauan masyarakat terhadap fasilitas-fasilitas layanan kesehatan. Hal tersebut terjadi karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang terpisah oleh lautan dan jarak yang saling berjauhan, sehingga pelayanan kesehatan tidak merata. Fasilitas pelayanan kesehatan yang lengkap jarang ada di daerah-daerah, sehingga masyarakat di daerah sulit mengakses fasilitas kesehatan.

Teknologi informasi yang terus berkembang sekarang ini harus dicermati oleh dunia kesehatan khususnya dunia keperawatan untuk membantu menjawab permasalahan kesehatan yang ada. Semakin berkembangnya teknologi informasi merupakan suatu peluang untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan dan meningkatkan jangkauan pelayanan keperawatan bagi masyarakat di seluruh Indonesia, termasuk masyarakat di daerah yang terpencil dan jauh (rural area). Salah satu teknologi keperawatan yang terus berkembang adalah telehealth nursing atau telenursing.

Telehealth nursing atau telenursing diartikan sebagai praktek pemberian layanan keperawatan menggunakan teknologi telekomunikasi (Lancet, 2000). Telenursing adalah upaya penggunaan teknologi informasi dalam memberikan pelayanan keperawatan dimana ada jarak secara fisik yang jauh antara perawat dan pasien, atau antar perawat. Telenursing merupakan bagian dari telehealth atau telemedicine dan beberapa bagian terkait dengan aplikasi bidang medis dan non medis seperti telediagnosis, telekonsultasi dan telemonitoring.

Menurut US Office of Disease Prevention and Health Promotion (2010), salah satu tujuan telehealth atau telenursing adalah untuk meningkatkan akses yang lebih komprehensif dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Adanya hambatan dalam struktur kesehatan, akses kesehatan, tenaga kesehatan karena hambatan geografis dapat diatasi dengan telenursing. Selain itu telenursing juga mengizinkan perawat untuk memberikan layanan keperawatannya melalui suatu sistem yang menakjubkan.

b. Pembahasan 1. Definisi Telenursing Telenursing adalah bagian dari telehealth yang terjadi ketika perawat memenuhi kebutuhan dasar klien dengan menggunakan teknologi informasi, komunikasi dan webbased system (Kawaguchi et al, 2004). Telenursing juga didefinisikan sebagai suatu proses pemberian, manejemen dan koordinasi asuhan serta pemberian layanan kesehatan melalui teknologi informasi dan telekomunikasi (CNA, 2005). Teknologi yang dapat digunakan dalam telenursing sangat bervariasi, meliputi: telepon (land line dan telepon seluler), personal digital assistants (PDAs), mesin faksimili, internet, video dan audio conferencing, teleradiologi, system informasi komputer bahkan melalui telerobotics (Scotia, 2008).

Walaupun ada sedikit perubahan dalam pemberian asuhan keperawatan melalui telenursing tetapi hal tersebut tidak merubah prinsip pemberian asuhan keperawatan secara fundamental. Seorang perawat yang melakukan telenursing tetap menggunakan proses keperawatan untuk mengkaji, merencanakan, mengimplementasikan dan mengevaluasi serta

mendokumentasikan asuhan keperawatan. Telenursing juga melibatkan proses pemberian pendidikan kesehatan kepada klien, serta adanya sistem rujukan. Selain itu telenursing juga tetap mengharuskan adanya hubungan terapeutik antara perawat dan klien, dalam telenursing hubungan tersebut

dapat terbina melalui penggunaan telepon, internet atau alat komunikasi yang lainnya.

2. Area-area praktek keperawatan yang dapat diaplikasikan melalui telenursing Praktek telenursing dapat diaplikasikan dalam berbagai setting area keperawatan. Perawat dapat praktek dalam berbagai setting perawatan seperti ambulatory care, call centers, home visit telenursing, bagian rawat jalan dan bagian kegawatdaruratan. Bentuk-bentuk telenursing dapat berupa triage telenursing, callcenter services, konsultasi melalui secure email messaging system, konseling melalui hotline service, audio atau videoconferencing antara klien dengan petugas kesehatanatau dengan sesama petugas kesehatan, discharge planning telenursing, home-visit telenursing dan pengembangan websites untuk sebagai pusat informasi dan real-time counseling pada pasien (CNA, 2005; Centre for E-Health Nursing, 2006; CanadianNursing Informatics Association, 2006).

3. Prinsip Telenursing Menurut Scotia (2008), dalam melakukan telenursing perawat harus menerapkan beberapa prinsip antara lain: meningkatkan kualitas asuhan keperawatan, meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan, mengurangi pemberian layanan kesehatan yang tidak perlu, melindungi

kerahasiaan/privasi informasi klien.

4. Kompetensi, Kualifikasi dan Skill perawat dalam Telenursing Menurut Scotia (2008), kompetensi yang diperlukan oleh seorang perawat untuk melakukan telenursing adalah sebagai berikut: memiliki karakteristik personal: sikap positif, terbuka terhadap teknologi dan memiliki skill yang baik tentang teknologi; memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengoperasikan teknologi informasi, seperti kemampuan untuk

mengoperasikan kamera, videoconferencing, komputer, dll; mengerti

tentang keterbatasan dari teknologi yang digunakan; kemampuan untuk mempertimbangkan sesuai atau tidaknya kondisi klien untuk dilakukan telenursing; mengetahui protocol dan prosedur telehealth, memiliki kemampuan komunikasi yang baik dan melakukan praktek berdasarkan evidence based dan riset.

5. Perkembangan Telenursing Menurut Durrani dan Khoja (2009), telehealth dan telenursing sudah digunakan di negara-negara maju dalam beberapa tahun terakhir, terutama di Amerika, Australia dan Eropa, beberapa literatur melaporkan tentang kesuksesan dan kegagalan dalam melaksanakan telenursing. Di Amerika terdapat McKesson telenursing system, dimana telenurses memiliki akses terhadap suatu pusat data sentral melalui link Citrix dan Wyse terminal dengan memasukkan password tertentu, kemudian perawat dapat mengakses data-data klien. Metode tersebut memungkinkan perawat dan klien berinteraksi melalui instant messaging (IM), dan percakapan akan direkam secara otomatis oleh audio dan video recorded. Kerahasiaan data klien terjamin karena data hanya bisa diakses oleh klien, perawat dan dokter. McKesson menyediakan pendidikan kesehatan jarak jauh untuk pasien menggunkan webcast dan online modul yang bisa diakses oleh klien kapan saja dan dimana saja. Selain itu real time communication melalui IM messaging dan videoconferencing menjadikan perawat dan klien dapat berkomunikasi sesuai kebutuhan klien. Sistem ini juga memungkinkan perawat bisa menelpon ke dokter atau ambulan ketika menerima telepon dari klien tanpa memutus komunikasi dengan klien (George et al, 2008).

Durrani dan Khoja (2009) melakukan systematic review untuk melihat perkembangan telehealth dan telenursing di wilayah Asia. Berdasarkan studi Durrani dan Khoja didapatkan data bahwa: Jepang merupakan negara yang paling banyak melakukan telehealth nursing, kemudian India dan HongKong. Telenursing dilakukan di RS, pusat layanan kesehatan primer,

rawat jalan, home-visit, dan hospice care. Di Asia metode yang digunakan dalam telehealth nursing sebagian besar menggunakan non-real time consultation dan videoconferencing. Teknologi yang paling banyak digunakan di Asia adalah line ISDN, saluran telepon konvensional, koneksi satelit broadband, mobile phone atau wireless. Berdasarkan hasil penelitian tersebut mendapatkan bahwa 40% penelitian tentang aplikasi telenursing mengindikasikan adanya peningkatan dalam kualitas layanan yang diberikan dan pengguna telenursing menyatakan puas.

Menurut Durrani dan Khoja (2009), penelitian telehealth di Asia mengindikasikan bahwa telehealth nursing dapat meningkatkan kualitas asuhan dengan memberikan klien akses yang luas terhadap konsultasi, meningkatkan ketepatan diagnosa, meningkatkan on-time hospitalization, meningkatkan pengetahuan klien, memelihara kondisi kesehatan klien, tetapi sebagian besar penelitian ini mengindikasikan bahwa telehealth tidak cocok untuk pengobatan (curing). Penelitian ini juga mengindikasikan bahwa dengan telehealth akan meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan, mengurangi biaya dan waktu perjalanan. Sedangkan dari segi biaya, sebagian besar penelitian tentang aplikasi telehealth dan telenursing mengindikasikan bahwa biaya mungkin akan lebih besar jika perawat dan klien melakukan video atau audioconferncing, sedangkan jika komunikasi dilakukan melalui email, IM messaging biaya yang dikeluarkan relatif lebih sedikit. Studi ini juga mengindikasikan perlunya komitmen pemerintah untuk melakukan telehealth nursing.

Berdasarkan systematic review oleh Durrani dan Khoja (2009), beberapa hambatan yang ditemui dalam mengaplikasikan telehealth dan telenursing di negaranegara Asia adalah sebagai berikut: inkompatibilitas software yang digunakan antar negara atau antar institusi; gangguan internet menyebabkan terlambatnya pengiriman data atau gambar video dan gangguan transmisi suara; masih tingginya biaya komunikasi dan alat-alat yang digunakan

dalam telehealth nursing; gangguan komunikasi lainnya seperti adanya masalah ketika terdapat perubahan dalam IP address dan konfigurasi penerimaan jaringan, kabel-kabel yang rusak di jaringan pengirim atau penerima; masih banyak perawat dan dokter yang masih belum terbiasa dengan penggunaan teknologi informasi; di negara-negara Asia saat ini infrastuktur teknologi informasi belum terlalu baik, tetapi sebagian besar negara Asia sedang mengembangkansistem teknologi informasi di negaranya masing-masing.

6. Model Sistem Telenursing Salah satu model telenursing adalah model yang diaplikasikan oleh Kawaguchi et al (2004) dari College of Nursing and Medical Technology, University of Tsukuba, Jepang, yaitu pengembangan system telenursing untuk pasien dengan kondisi kronik, yaitu diterapkan pada klien diabetes mellitus tipe 2. Klien dengan penyakit kronis seperti DM atau penyakit jantung sangat sesuai untuk melakukan telenursing, mengingat klien dengan kondisi ini memerlukan pembelajaran dan pemeliharaan kondisi kesehatan secara terus menerus. Mereka mungkin memiliki motivasi yang tinggi tetapi kurang mendapatkan pengetahuan dan kemampuan, dengan adanya telenursing maka mereka dapat mengakses informasi dan kontak secara terus menerus dengan petugas kesehatan, sehingga mereka bisa

menginformasikan kondisi kesehatan mereka secara up to date dan mereka akan mendapat pengananan segera melalui telenursing system. Model yang diaplikasikan Kawaguchi et al (2004) terdiri dari: a. Database server: yang berlokasi di pusat kesehatan universitas wilayah regional, berfungsi sebagai pusat penyimpan dan penyampai data dan informasi. Melalui database server ini, klien, perawat dan dokter dapat melihat dan memasukkan data dalam website. b. Health subcenter: berlokasi di seluruh wilayah di daerah-daerah, dimana di pusat kesehatan ini terdapat perawat-perawat on call, yang akan mendapatkan instruksi dari database server, jika ada klien yang

membutuhkan bantuan maka klien akan didatangi oleh perawat dari pusat subcenter terdekat dengan lokasi klien. Sistem telenursing ini menginformasikan tiga tipe informasi yang akan dikirim klien kepada perawat. Informasi tersebut adalah: a. Email dari pasien tentang laporan mengenai status kesehatan dan hal lain yang dianggap penting oleh klien. Pasien mengisi email untuk menuliskan apa yang dirasakan klien atau untuk bertanya mengenai status kesehatannya. Mereka akan menulis keadaan kesehatannya saat ini dengan skala visual analog dari skala 1 (sangat baik) sampai skala 5 (buruk), hal ini memungkinkan tenaga kesehatan dapat mengkaji klien lebih baik dan memberi respon sesuai dengan kebutuhan pasien. b. Vital Sign: yaitu tekanan darah, denyut nadi, pernafasan, suhu, diukur oleh klien karena klien memiliki alat-alat pengukurnya. Selain itu pasien juga memiliki alat finger pletysmography yang dipasang pada jari klien untuk mengukur gelombang tubuh sebagai indikator kesehatan klien, alat ini dibuat oleh A BACS detector, Computer Convenience Ltd, Jepang. Data pletysmography ini ditransfer secara otomatis melalui laptop klien via data cabel. c. Video mail: yang akan mengirimkan gambar klien, hal ini penting agar perawat bisa melihat atau mengevaluasi keadaan kliennya secara langsung melalui visualisasi gambar atau video denagn webcam Sanwa Supply dan Window MovieMaker. Klien dapat mengirim videonya melalui fasilitas ini. d. Akses internet menggunakan wireless (Air-H Card G; Honda Electronic Japan) dengan koneksi 128kbit/s yang akan menghubungkan klien dengan pusat data. Klien sangat mudah melakukannya hanya dengan mengklik icon di website saja. Alur dalam pelaksanaan telenursing yang diaplikasikan Kawaguchi et al (2004) adalah sebagai berikut: a. Klien akan memasukkan informasi setiap hari dengan memasukkan datadatanya pada website pasien. Pasien juga dapat melihat data-data

sebelumnya di homepage pasien dan melihat saran/instruski dari dokter atau perawat sesuai dengan kondisinya. b. Informasi dari pasien akan disimpan oleh pusat data dan dapat dilihat oleh perawat dan dokternya setiap hari. Kemudian perawat dan dokter melakukan analisa data dan memutuskan apakah pasien hanya memerlukan intervensi melalui telenursing atau perlu dilakukan homevisit. Jika klien bisa diberikan intervensi melalui telenursing maka perawat akan memberikan instruksi-instruksi pada website pasien, dan memastikan apakah pasien melakukan instruksi tersebut atauu tidak dengan menelpon pasien atau melakukan video conference dengan pasien. Jika pasien tersebut perlu dilakukan home visit maka perawat di subcentered terdekat akan mendatangi pasien. Setelah dilakukan telenursing pada klien DM tipe 2 oleh Kawaguchi et al (2004), mendapatkan beberapa hal sebagai berikut: rata-rata kadar gula darah puasa mengalami penurunan secara bermakna dari 142gr/dl menjadi 127gr/dl, tekanan darah sistolik turun secara bermakna dari 153mmHg menjadi 141mmHg, tekanan darah diastolic turun secara bermakna dari 85.4mmHg menjadi 81mmHg. Selain itu klien merasakan bahwa dirinya lebih bisa melakukan self-management terkait kondisi kesehatan dan penyakitnya. Sedangkan menurut perawat, telenursing sangat membantu menciptakan hubungan yang dekat antara klien dengan perawat, serta dapat mengefektifkan waktu dalam perawatan.

7. Hasil penelitian lain terkait telenursing Beberapa hasil penelitian lain yang terkait dengan telenursing adalah sebagai berikut: a. Robert et al (2007) tentang telenursing in hospice palliative care,hasil penelitian menyatakan telenursing dapat meningkatkan partnership dan komunikasi yang lebih baik antara petugas kesehatan dengan keluarga dan klien, dan meningkatkan kemampuan keluarga untuk memberikan perawatan palliative care di rumah.

b. Cady et al (2009) tentang a telehealth nursing intervention reduces hospitalization in children with complex health condition, menyimpulkan bahwa pelaksanaan telenursing melalui telepon bagi anak-anak dengan kondisi kesehatan yang kompleks yang dilakukan secara continue, terbukti secara bermakna menurunkan angka hospitalisasi yang tidak terencana, mengurangi stress keluarga, meningkatkan kesejahteraan anak dan meningkatkan penggunaan fasilitas layanan kesehatan. c. Thomas et al (2004) tentang impact preoperative education program via interactive telehealth network for rural patient having total joint replacement, menyimpulkan bahwa telenursing class membuat pasien lebih siap ketika akan menjalani operasi dan mengurangi lama hari rawat pasca operasi. d. Studi etnographi oleh OConnor et al (2004) dengan judul Health professionals response to the introduction of a home telehealth services, mendapatkan data bahwa petugas kesehatan mendapatkan tantangan baru untuk mengintegrasikan kemajuan teknologi dalam pelayanan

keperawatan yang diberikan. e. Rutenberg, C (2009) menuliskan artikel tentang telephone triage:timely tips, mengatakan bahwa dengan teletriase terbukti mengefektifkan waktu pemberian layanan keperawatan pada klien. Telenursing merupakan salah satu peluang bagi pengembangan praktek keperawatan di Indonesia. Telenursing dapat menjadi jawaban atas permasalahan kondisi geografis yang sangat berjauhan di Indonesia. Tetapi untuk mempraktekkan telenursing ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu: a. Penyediaan sumberdaya manusia yang kompeten Untuk melakukan telenursing diperlukan seorang perawat yang kompeten, yang mampu menggunakan teknologi informasi, mampu menggunakan protokol dan mampu bertanggungjawab dan

bertanggunggugat terhadap asuhan keperawatan yang diberikan terhadap pasien.

b. Aspek penyediaan infrastruktur yang mendukung Untuk melakukan telenursing diperlukan komitmen dan kebijakan lintas sektoral, antara lain pemerintah, masyarakat dan pihak swaswta, untuk membangun masyarakat yang melek teknologi. Untuk melakukan telenursing atau e-nursing pengembangan jaringan komunikasi harus dioptimalkan (Graschew et al, 2009). Menurut Graschew, et al (2009), infrastruktur yang harus disiapkan antara lain pengembangan Quality of Service (QoS), yaitu suatu parameter yang terdiri dari pengembangan bandwith, pencegahan terhadap data loss, data delay, yang memungkinkan tidak lancarnya komunikasi. Pengembangan jaringan, peningkatan kapasitas jaringan dan bandwith merupakan hal yang mutlak diperlukan untuk memperlancar komunikasi, selain itu pemerintah juga harus meregulasi pembiayaan terkait penggunaan internet, sehingga ongkos yang dikeluarkan oleh masyarakat dalam pemanfaatan teknologi telenursing ini dapat lebih murah. c. Penyediaan protokol dan panduan pelaksanaan telenursing Seluruh telenurses yang akan melakukan praktek telenursing harus dikoordinasikan oleh suatu wadah tertentu dalam hal ini adalah lembaga profesi (PPNI), selain itu harus ada suatu protokol atau guideline yang berisi standard praktek yang mengatur kode etik, peran, tanggungjawab dan tanggunggugat telenurses dan peran masyarakat dalam telenursing. Saat ini sudah ada beberapa guideline telenursing antara lain Telenursing Practice Guideline yang digunakan di Scotia Canada (2008), Guidelines for Delegated Medical Functions and Medical Directives (2005), A Guide for Self-Employed Registered Nurses (2003). Guideline tidak hanya mengatur perawat tetapi juga profesi kesehatan lain dan masyarakat, contohnya seperti yang berlaku di Canada yaitu adanya National Initiative for Telehealth Framework of Guidelines (NIFTE) yang mengatur telehealth secara keseluruhan, berlaku secara nasional dan mengatur multistakeholder, dan kolaborasi interdisiplin. Prosedur ini mengatur suatu

struktur yang didesain untuk membantu individu atau organisasi untuk mengembangkan telehealth policy, prosedur dan standarnya. d. Aspek liabilitas dan manajemen resiko (risk management) Issue yang terkait dengan telenursing adalah berkurangnya hubungan terapeutik antara perawat-klien, tetapi sebetulnya telenursing tidak menghilangkan hubungan ini karena kedekatan emosional pun dapat terjalin melalui fasilitas komunikasi dan perawat-klien masih dapat bertemu secara langsung saat kunjungan rumah (Scotia, 2008). Tetapi ada masalah terkait aspek legal dan etik dalam telenursing antara lain privacy dan confidentiality, kemungkinan bocornya data-data klien jika terjadi hacking software, bagaimana mengakomodasi pilihan pasien (patients choice), informed concent yang harus dilakukan akan berbentuk seperti apa, apakah melalui verbal, tertulis atau direkam (recorded informed concent), dokumentasi pelaksanaan asuhan keperawatan, keamanan dan kepemilikan data klien, etika dalam melakukan telenursing dan proteksi liability. Hal tersebut harus diantisipasi sebelum melakukan telenursing, dan perlu adanya standar praktek yang mengatur hal-hal tersebut diatas.

8. Prospek Telenursing di Indonesia Prospek telenursing di Indonesia sangat besar, mengingat negara-negara lain di Asia sudah melakukan telenursing mulai dekade tahun 2000-an. Telenursing sangat sesuai diterapkan di Indonesia untuk mengatasi belum meratanya pembangunan kesehatan yang diakibatkan kondisi geografis yang terpisah-pisah, selain itu jumlah dan fasilitas pelayanan kesehatan belum merata. Tetapi sebelumnya infrastuktur teknologi harus mendukung pelaksanaan telenursing, seperti pengadaan jaringan internet ke desadesa, menekan harga PC atau laptop sehingga terjangkau oleh kalangan menengah, dan menekan cost internet per kilobite-nya, sehingga biaya dapat ditekan, serta perlunya regulasi nasional terkait telehealth, penyediaan standar praktek dan panduan serta kesiapan perawat dan dokter untuk melakukan telehealth nursing.Salah satu bentuk telenursing yang sudah

berlaku di Indonesia adalah prinsip call center di berbagai rumah sakit dan pusat perawatan yang menerima pengaduan dan layanan melalui telepon, melakukan teletriage bila pasien mengalami kondisi kegawatdaruratan. Tetapi praktek telenursing yang lebih canggih menggunakan teknologi videoconferencing antara klien dan perawat mungkin belum diaplikasikan, model tersebut lebih banyak diaplikasikan di institusi pendidikan keperawatan yang menjalankan distance learning sedangkan di institusi pelayanan mungkin akan diaplikasikan pada tahun-tahun mendatang.

c. Kesimpulan Telenursing didefiniskan sebagai suatu proses pemberian, menejemen dan koordinasi asuhan serta pemberian layanan kesehatan melalui teknologi informasi dan telekomunikasi (CNA, 2005). Praktek telenursing dapat diaplikasikan dalam berbagai setting area keperawatan, dan dapat berbentuk ambulatory care, call centers, home visit telenursing, bagian rawat jalan dan bagian kegawatdaruratan. Untuk dapat mengaplikasikan telenursing ada beberapa hal yang harus dipersiapkan antara lain sumberdaya manusia kesehatan yang melek teknologi, infrastuktur teknologi informasi yang memadai, tersedianya panduan dan standar praktek bagi telenurses, adanya kode etik dan suatu badan yang akan mengatur praktek telenursing dengan profesi kesehatan yang lain sebagai bagian dari praktek telehealth. Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat sesuai untuk pengaplikasian telenursing sebagai jawaban atas permasalahan kurang meratanya pelayanan kesehatan di wilayah Indonesia, tetapi tentu saja pemerintah dan organisasi profesi harus membuat regulasi yang akan mengatur praktek telenursing, yaitu membuat standar praktek, kode etik, protokol dan panduan telenursing di Indonsia, selain penyediaan infrastuktur teknologi informasi yang mendukung.

LATIHAN SOAL

1. Media apa sajakah yang bisa di gunakan dalam telenursing, kecuali? a. Internet b. Telegram c. Faximile d. Telephone e. Pos Indonesia 2. Model telenursing yang diaplikasikan oleh Kawaguchi yang berlokasi di seluruh wilayah di daerah-daerah, dimana pusat kesehatan ini terdapat perawatperawat on call, yang akan mendapatkan instruksi dari database server, jika ada klien yang memnbutuhkan bantuan maka klien akan di datangi oleh perawat dari pusat subcenter terdekat dengan lokasi klien adalah . . . . a. Database server b. Health subcenter c. Vital sign d. Email e. Video mail 3. Berikut ini benar mengenai Telenursing, kecuali a. Kualitas asuhan dengan memberikan klien akses yang luas terhadap konsultasi b. Meningkatkan ketepatan diagnosa c. Meningkatkan on-time hospitalization d. Cocok untuk pengobatan (curing) e. Meningkatkan pengetahuan klien 4. Rumah sakit S ingin menerapkan telenursing di rumah sakitnya, langkah pertama yang mereka lakukan adalah memastikan kompetensi yang dimiliki oleh perawatnya. Kompetensi apa sajakah yang harus dimiliki perawat? a. memiliki karakteristik personal b. terbuka terhadap teknologi dan memiliki skill yang baik tentang teknologi c. memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengoperasikan teknologi informasi d. mengerti tentang keterbatasan dari teknologi yang digunakan e. betul semua 5. Bagian dari telehealth yang terjadi ketika perawat memenuhi kebutuhan dasar klien dengan menggunakan teknologi informasi, komunikasi dan webbased system adalah.. a. Telephone genggam b. Telepati c. Telenursing

d. Telegram e. Salah semua 6. Bentuk-bentuk telenursing dapat berupa... a. Triage telenursing b. Callcenter services c. Konsultasi melalui secure email messaging system d. Konseling melalui hotline service, audio atau videoconferencing e. Semua benar 7. Alat yang dipasang pada jari klien untuk mengukur gelombang tubuh sebagai indikator kesehatan klien adalah.. a. Finger pletysmography b. Hand pletysmography c. Nail pletysmography d. Arteri pletysmography e. Body pletysmography 8. Sesuai perkembangan jaman & teknologi, kini asuhan keperawatan yang dibutuhkan masyarakat kini jauh lebih beragam dan kompleks, Salah satu bentuk aplikasi telenursingcare adalah, kecuali a. Ambulatorycare b. Call centers c. Home visit telenursing d. Mentoring e. Bagian rawat jalan

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. (2012). Peran Perawat disampaikan dalam Work Shop Nasional Pengembangan Pelayanan Keperawatan di Rumah Sakit. http://www.buk.depkes.go.id/indek.php.com. Diunduh tanggal 10 Maret 2013 Electronic Medical Record.http:// library.binus.ac.id. Diunduh tanggal 10 Maret 2013 Mc.Leod,.R.Jr. 2008. Sistem Informasi Manajemen. Edisi 10. Editor Nina Setyaningsih. Salemba Empat: Jakarta Miwa., Hiroyasu and Fukuhara. T. (2012). Analysis of Nurse Calls for Residents and Workers Condition Understanding in Nursing

Homes. Journal of Robotics and Mechatronics. Vol. 24, No. 4

Anda mungkin juga menyukai