Anda di halaman 1dari 13

PROTOZOA ATAU ENDOPARASIT PADA IKAN AIR TAWAR BAB I PENDAHULUAN Parasit adalah hewan atau tumbuh-tumbuhan yang

berada pada tubuh, insang, maupun lendir inangnya dan mengambil manfaat dari inang tersebut. Dengan kata lain parasit hidup dari pengorbanan inangnya. Parasit dapat berupa udang renik, protozoa, cacing, bakteri, virus, dan jamur. Manfaat yang diambil parasit terutama adalah zat makanan dari inangnya. Penyakit pada ikan didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat mengganggu proses kehidupan ikan, sehingga pertumbuhan menjadi tidak normal. Secara umum penyakit dibedakan menjadi dua kelompok yaitu penyakit infeksi dan non infeksi. Penyakit infeksi disebabkan oleh organisme hidup seperti parasit, jamur, bakteri, dan virus dan penyakit non infeksi disebabkan oleh faktor non hidup seperti pakan, lingkungan, keturunan dan penanganan (Afrianto dan Liviawaty, 2003). Berdasarkan letak penyerangannya parasit dapat dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama disebut ektoparasit yaitu parasit yang menempel pada bagian luar tubuh ikan dan kelompok kedua adalah endoparasit yaitu parasit yang berada dalam tubuh ikan. Argulus sp. merupakan ektoparasit ikan yang menyebabkan argulosis. Akibat yang ditimbulkan oleh infeksi Argulus sp. pada ikan adalah beberapa sisik tubuh terlepas, terdapat titik-titik merah pada kulit, insang berwarna kehitam-hitaman dan timbulnya lendir (mukus) yang berlebih pada sirip. Pertahanan pertama ikan terhadap serangan penyakit berada di permukaan kulit, yaitu mukus, jaringan epitelia, insang. Mukus melapisi seluruh permukaan integumen ikan, termasuk kulit, insang dan perut. Pada saat terjadi infeksi atau iritasi fisik dan kimiawi, sekresi mukus meningkat. Lapisan mukus secara tetap dan teratur akan diperbarui sehingga kotoran yang menempel di tubuh ikan juga ikut dibersihkan. Mukus ikan mengandung lisosim, komplemen, antibody (ig M) dan protease yang berperan untuk mendegradasi dan mengeliminer patogen.

I.1

TINJAUAN PUSTAKA Parasit ini masuk ke dalam tempat pemeliharaan biasanya melalui pergesekan antar

kulit ikan yang terinfeksi Argulus sp. Sifat parasitik Argulus sp. cenderung temporer yaitu mencari inangnya secara acak dan dapat berpindah dengan bebas pada tubuh ikan lain atau bahkan meninggalkannya. Hal ini dapat dilakukan karena Argulus sp. mampu bertahan hidup selama beberapa hari di luar tubuh ikan (Purwakusuma, 2007). Dactylogyrus sp. Merupakan parasit yang penting pada ikan air tawar dan ikan air laut. Juga merupakan parasit yang penting pada carp fry. Hidup di insang, tergolong monogenea, punya kaki paku dan beracetabulum. Parasit yang matang melekat pada insang dan bertelur disana. Dactylogyrus sp. merupakan cacing Trematoda dari sub-kelas Monogenea. Spesiesnya berparasit pada hewan air berdarah dingin atau pada ikan, amfibi, reptil, kadang-kadang pada invertebrata air. Distribusinya luas, memiliki siklus hidup langsung dan merupakan parasit eksternal pada insang, sirip, dan rongga mulut. Bisa juga ditemukan pada traktus urinaria. Cacing ini bersifat ovipara dan memiliki haptor yaitu organ untuk menempel yang dilengkapi dengan 2 pasang jangkar dan 14 kait di lateral. Intensitas reproduksi dan infeksi memuncak pada musim panas. Telur pada umumnya memliki operkulum dan filamen disalah satu ujungnya yang berfungsi untuk melekatkan telur pada hospes atau benda lain. Larva (oncomiridium) mempunyai silia dan eye spot lebih dari satu. Larva akan berenang dan menempel pada tubuh hospes kemudian menjadi dewasa di hospes. Dactylogyrus sp. Menyerang ikan pada bagian insang. Paperna (1980), menyebutkan bahwa insang yang terserang berubah warnanya menjadi pucat dan keputih-putihan. Hal ini sesuai pendapat Bunkley dan Ernest (1994) dalam Talunga (2007) bahwa Dactylogyrus spp paling banyak menyerang pada bagian filament insang sehingga mengakibatkan rusaknya insang dengan produksi lendir yang berlebih dan ini akan mengganggu pertukaran gas oleh insang. Ditambahkan oleh Gusrina (2008) bahwa Dactylogyrus spp sering menyerang pada bagian insang ikan air tawar, payau dan laut. Insang merupakan organ penting yang sangat dibutuhkan oleh organisme perairan sebab insang merupakan organ primer untuk pertukaran gas-gas juga berperan dalam proses osmoregulasi. Hal ini sesuai dengan peryataan Fujaya (1999) bahwa insang pada organisme

perairan sangat dibutuhkan dalam mempertahankan kondisi tubuh dengan lingkungan agar tetap seimbang untuk mempertahankan diri dari lingkungan. Leong (1994) melaporkan infeksi parasit pada ikan kerapu dan ikan kakap telah dilaporkan oleh di Malaysia dari spesies Benedenia. Di Indonesia infeksi oleh

parasit Benedenia,

Neobedenia,

Diplectanum,

Pseudorhabdosynochus,

Haliotrema,

Trichodina, Lepeophtheirus, dan Cryptocaryon irritans pada ikan kerapu dilaporkan Zafran et al. (1997). Dari pengamatan parasit pada ikan kerapu di Gondol, Neobedenia lebih dominan dibanding Benedenia dan ukurannyapun terlihat lebih besar (Zafran et al., 1997). Parasit Neobedenia girellae ditemukan di Jepang pertama kali pada tahun 1991, parasit ini sekarang termasuk patogen yang penting di Jepang, sebab dapat mematikan inang, tingkat spesifik inang yang rendah, dan tersebar luas (Ogawa et al., 1995). Parasit ini terutama

ditemukan di daerah tropis (Bondad-Reantaso et al., 1995). Parasit Diplectanum dilaporkan menyerang ikan laut budidaya pada keramba jaring apung di Singapura, dan parasit Haliotrema menginfeksi ikan kakap, Lutjanus johni (Leong, 1994).

Bakteri merupakan mikrobia prokariotik uniselular, termasuk klas Schizomycetes, berkembang biak secara aseksual dengan pembelahan sel. Bakteri tidak berklorofil kecuali beberapa yang bersifat fotosintetik. Cara hidup bakteri ada yang dapat hidup bebas, parasitik, saprofitik, patogen pada manusia, hewan dan tumbuhan. Habitatnya tersebar luas di alam, dalam tanah, atmosfer (sampai + 10 km diatas bumi), di dalam lumpur, dan di laut.

Bakteri mempunyai bentuk dasar bulat, batang, dan lengkung. Bentuk bakteri juga dapat dipengaruhi oleh umur dan syarat pertumbuhan tertentu. Bakteri dapat mengalami involusi, yaitu perubahan bentuk yang disebabkan faktor makanan, suhu, dan lingkungan yang kurang menguntungkan bagi bakteri. Selain itu dapat mengalami pleomorfi, yaitu bentuk yang bermacam-macam dan teratur walaupun ditumbuhkan pada syarat pertumbuhan yang sesuai. Umumnya bakteri berukuran 0,5-10 .

Polusi atau pencemaran adalah keadaan dimana suatu lingkungan sudah tidak alami lagi karena telah tercemar oleh polutan. Misalnya air sungai yang tidak tercemar airnya masih

murni dan alami, tidak ada zat-zat kimia yang berbahaya, sedangkan air sungai yang telah tercemar oleh detergen misalnya, mengandung zat kimia yang berbahaya, baik bagi organisme yang hidup di sungai tersebut maupun bagi makhluk hidup lain yang tinggal di sekitar sungai tersebut. Polutan adalah zat atau substansi yang mencemari lingkungan. Air limbah detergen termasuk polutan karena didalamnya terdapat zat yang disebut ABS. Jenis deterjen yang banyak digunakan di rumah tangga sebagai bahan pencuci pakaian adalah deterjen anti noda. Deterjen jenis ini mengandung ABS (alkyl benzene sulphonate) yang merupakan deterjen tergolong keras. Deterjen tersebut sukar dirusak oleh mikroorganisme (nonbiodegradable) sehingga dapat menimbulkan pencemaran lingkungan (Rubiatadji, 1993). Lingkungan perairan yang tercemar limbah deterjen kategori keras ini

dalamkonsentrasi tinggi akan mengancam dan membahayakan kehidupan biota airdan manusia yang mengkonsumsi biota tersebut.

BAB II PEMBAHASAN

Endoparasit (parasit yang berada dalam tubuh ikan) yang mungkin menginfeksi ikan air tawar adalah dari golongan Metazoa. Dari golongan Metazoa yang mungkin menginfeksi ikan air tawar adalah filum Plathyhelminthes, Nemathelminthes dan Acanthocephala (Kabata, 1985). 1. Filum Plathyhelminthes Dari filum Plathyhelminthes yang mungkin menyerang ikan air tawar, termasuk juga ikan konsumsi adalah Digenea (Kabata,1985). Digenea Digenea adalah trematoda endoparasit yang memiliki siklus hidup kompleks yang melibatkan satu atau lebih inang antara. Digenea umumnya berbentuk pipih seperti daun dengan struktur mirip turbelaria free living. Tubuh lunak dan terdiri 2 sucker, faring, kaekum intestinalis, sistem reproduksi. Bentuk dasar tubuh digenea dewasa bermacam-macam. Digenea yang telah diketahui mendekati 400 genera dan sedikitnya 4000 spesies yang menyerang ikan. Parasit ini memperlihatkan inang spesifisitas yang tinggi terutama pada inang antara yang pertama dan pada inang akhir. Organ yang diserang pada inang akhir adalah organ internal seperti saluran gastrointernal dan organ yang berdekatan seperti hati dan empedu, paru-paru, gelembung renang serta saluran darah. 2. Filum Nemathelminthes Dari filum Nemathelminthes yang mungkin menyerang ikan air tawar, termasuk juga ikan-ikan konsumsi adalah Nematoda (Kabata,1985). Nematoda sering juga disebut cacing gilig, biasanya kecil bila dibandingkan dengan cacing pipih, sehingga banyak diantara nematode adalah cacing yang mikroskopis (Nable dan Nable, 1989). Menurut Kabata (1985), nematode ini mempunyai tubunh panjang dan silindris dan dilindungi oleh lapisan kutikula yang kuat dibawahnya terdapat lapisan hypodermis. Sedangkan Noble dan Noble (1989) mengatakan bahwa cacing ini sangat aktif, ramping, biasanya kedua ujungnya runcing dan mempunyai mulut dan anus, jadi cacing ini mempunyai saluran pencernaan yang lengkap.

Ciri taksonomi terpenting dari Nematoda adalah terletak di bagian kepalanya, dimana mempunyai bentuk yang lonjong dan di dalamnya terletak ganglion kepala (Kabata, 1985). Saluran pencernaan Nematoda berupa tabung sederhana terdiri dari sel-sel yang tersusun dalam lapisan tunggal. Mulut menuju kapsula bukali, kemuduan ke esophagus yang berotot yang selanjutnya ke usus. Anus terdapat hamper di ujung posterior cacing dan sebuah pelebaran yang dinamakan rectum terletak tepat di ujung anterior usus. Makanan nematode terdiri dari jaringan-jaringan hospes darah atau pemotongan jaringan dari usus hospes dan akhirnya dicerna (Noble dan Noble, 1989). Dalam perkembangan hidupnya, nematode menggunakan ikan sebagai inang definitive maupun sebagai inang antara dari siklus hidup Nematoda. Dari empat tingkatan larva, keempatmerupakan stadia infektif teerhadap inang definitif (Kabata, 1985). 3. Filum Acanthocephala Pada ikan air tawar, parasit metazoan yang mungkin menyerang adalah dari Acanthocephala, dimana filum ini semuanya merupakan parasit. Bentuk tubuh luar yang dapat dikenali dari Acanthocepala adalah adanya proboscis, leher dan trunk (Kabata, 1985). Sedangkan menurut Noble dan Noble (1989), filum Acanthocephala ini disebut cacing kepala berduri karena adanya kait-kait mirip duri pada probosisnya (acanth berarti duri dan cephala berarti kepala). Acanthocephala merupakan caing yang berbentuk silinder, agak pipih dan mempunyai proboscis yang dapat dimasukkan dan dikeluarkan dari tubuhnya yang berada di ujung anterior tubuh (Kabata,1985). Untuk mengidentifikasi spesies dari Acanthocephala adalah jumlah dan susunan kait pada probosis. Probosis berbentuk bulat atau silindris, dilengkapi baris-baris kait atau spina yang membengkak yang berguna untuk melekatkan tubuh cacing tersebut pada usus inangnya (Noble dan Noble, 1989).

Penyakit ektoparasit dan endoparasit yang menyerang ikan ini ditemukan 4 jenis parasit, yakni Trichodina sp. (ektoparasit), Dactylogyrus sp. (ektoparasit), Capillaria sp. (ektoparasit dan endoparasit), dan Myxobolus sp. (ektoparasit). Parasit ini hanya ditemukan pada 5 jenis ikan dari 6 ikan sempel yang digunakan. Sesuai dengan tujuan dari indentifikasi penyakit bahwa hal ini dilakukan agar supaya dapat diketahui penyebab penyakit yang dapat menyerang dan menular pada ikan budidaya. Sehingga mendiagnosis serangan penyakit pada ikan merupakan cara yang tepat untuk mengetahui penyebab serangan dan jenis penyakitnya. Dalam pembahasan ini, makalah ini akan mengulas tentang Identifikasi jenis parasit yang didapat serta Frekuensi kejadian dan intensitas parasit, yaitu sebagai berikut : 1. Idenfikasi jenis parasit

a. Trichodina sp. Trichodina sp. termasuk dalam jenis parasit Ciliata, yaitu parasit yang bergerak dengan menggunakan bulu-bulu getar (cilia) dan memiliki susunan taksonomi sebagai berikut: Filum Sub filum Kelas Ordo Sub ordo Famili Genus Spesies : Protozoa : Ciliophora : Ciliata : Peritrichida : Mobilina : Trichodinidae : Trichodina : Trichodina sp. Gambar 1. Trichodina sp.

Menurut Afrianto dan Liviawati (1992) mengemukakan bahwa Protozoa yang menyerang ikan mas dan nila adalah Trichodina sp, Penyakitnya disebut Trichodiniasis. Trichodiniasis merupakan penyakit parasit pada larva dan ikan kecil yang disebabkan oleh ektoparasit Trichodina. Selanjutnya menurut Budi Sugianti (2005), Beberapa penelitian membuktikan bahwa ektoparasit Trichodinamempunyai peranan yang sangat penting terhadap penurunan daya kebal tubuh ikan dan terjadinya infeksi sekunder. Trichodina sp merupakan ektoparasit yang menyerang/menginfeksi kulit dan insang, biasanya menginfeksi semua jenis ikan air tawar. Populasi Trichodina sp di air meningkat pada saat peralihan musim, dari musim panas ke musim dingin. Berkembang biak dengan

cara pembelahan yang berlangsung di tubuh inang, mudah berenang secara bebas, dapat melepaskan diri dari inang dan mampu hidup lebih dari dua hari tanpa inang. Parasit jenis ini memiliki dua bagian yaitu anterior dan posterior yang berbentuk cekung dan berfungsi sebagai alat penempel pada inang. Parasit ini juga memiliki dua inti, yaitu inti besar dan inti kecil, inti kecil yang dimiliki berbentuk bundar menyerupai vakuola dan inti besar berbentuk tepal kuda. Organisme ini dapat menempel secara adhesi (dengan tekanan dari luar), dan memakan cairan sel pada mucus atau yang terdapat pada epidermis. Parasit ini tidak dapat hidup jika diluar inang. Penempelan Trichodina sp., pada tubuh ikan sebenarnya hanya sebagai tempat pelekatan (substrat), sementara parasit ini mengambil partikel organik dan bakteri yang menempel di kulit ikan. Tetapi karena pelekatan yang kuat dan terdapatnya kait pada cakram, mengakibatkan seringkali timbul gatal-gatal pada ikan sehingga ikan akan menggosok-gosokkan badan ke dasar kolam atau pinggir kolam, sehingga dapat menyebabkan luka. Ikan yang terserang parasit Trichodina sp., akan menjadi lemah dengan warna tubuh yang kusam dan pucat (tidak cerah), Produksi lendir yang berlebihan dan nafsu makan ikan turun sehingga ikan menjadi kurus. Beberapa penelitian membuktikan bahwa

ektoparasit Trichodina sp., mempunyai peranan yang sangat penting terhadap penurunan daya tahan tubuh ikan dengan rendahnya sistem kekebalan tubuh maka akan terjadinya infeksi sekunder. Kematian umumnya terjadi karena ikan memproduksi lendir secara berlebihan dan akhirnya kelelahan atau bisa juga terjadi akibat terganggunya sistem pertukaran oksigen, karena dinding lamela insang dipenuhi oleh lendir. Penularan penyakit ini bisa melalui air atau kontak langsung dengan ikan yang terinfeksi dan penularannya akan didukung oleh rendahnya kualitas air pada wadah tempat ikan dipelihara. Menurut Noga(1995) dalam Laporan Pemantauan HPIK Stasiun Karantina Ikan Kelas II Luwuk Banggai (2007) Perlakuan yang diberikan untuk ikan yang

terinfeksi Trichodiniasis adalah dengan perendaman dengan garam atau asam asetat untuk ikan air tawar sedangkan ikan air laut dengan perendaman air tawar, dapat juga menggunakan formalin dengan kosentrsi tertentu.

b.

Dactylogyrus

Dari hasil penelitian salah satu parasit yang ditemukan adalah Dactylogyrus sp. Parasit ini ditemukan pada insang sampel ikan Nila (Oreochromis niloticus). Hal ini sesuai pendapat Gusrina (2008) bahwa Dactylogyrus sp sering menyerang pada bagian insang ikan air tawar, payau dan laut serta menambahkan bahwa gejala infeksi Dactylogyrus sp pada ikan antara lain: pernafasan ikan meningkat, produksi lendir berlebih. Sedangkan Kurnia (2010), mengemukakan bahwa Dactylogyrus sp menginfeksi insang semua jenis ikan air tawar, terutama ukuran benih. Gambar 2. Dactylogyrus sp

Secara taksonomi, klasifikasi dari parasit Dactylogyrus sp ini adalah sebagai berikut: Filum : Vermes Sub Filum Kelas Ordo Family : Platyhelmintes : Trematoda : Monogenea : Dactylogyridae

Sub-family : Dactylogyrinae Genus : Dactylogyrus sp. Hewan parasit ini termasuk cacing tingkat rendah (Trematoda). Dactylogyrus spsering menyerang pada bagian insang ikan air tawar, payau dan laut. Pada bagian tubuhnya terdapat posterior Haptor. Haptornya ini tidak memiliki struktur cuticular dan memiliki satu pasang kait dengan satu baris. Kutikular, memiliki 16 kait utama, satu pasang kait yang sangat kecil.Dactylogyrus sp mempunyai ophistapor (posterior suvker) dengan 1 2 pasang kait besar dan 14 kait marginal yang terdapat pada bagian posterior. Kepala memiliki 4 lobe dengan dua pasang mata yang terletak di daerah pharynx. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar . Gejala infeksi pada ikan antara lain : pernafasan ikan meningkat, produksi lendir berlebih.

Parasit Dactylogyrus sp. mempunyai siklus hidup langsung yang melibatkan satu inang. Parasit ini merupakan ektoparasit pada insang ikan. Telur-telur yang dilepaskan akan menjadi larva cilia yang yang dinamakan penetasanoncomiracidium.

Oncomiracidium mempunyai haptor dan dapat menyerang sampai menyentuh inang. Sebagian besar parasit monogenea seperti Dactylogyrus spp bersifat ovivarus (bertelur) dimana telur yang menetas menjadi larfa yang berenang bebas yang dinamakan oncomiracidium. Insang yang terserang berubah warnanya menjadi pucat dan keputih-putihan. Penyerangan dimulai dengan cacing dewasa menempel pada insang atau bagian tubuh lainnya (Gusrina, 2008). Beberapa gejala klinis akibat infeksi parasit yang dapat digunakan sebagai presumtif enderu antara lain ikan tampak lemah, tidak nafsu makan, pertumbuhan lambat, tingkah laku dan berenang tidak normal disertai produksi ender yang berlebihan. Ikan sering terlihat mengumpul di sekitar air masuk, karena pada daerah ini kualitas air terutama kadar oksigen lebih tinggi. Sering mengapung dipermukaan air. Insang tampak pucat dan membengkak, sehingga operculum terbuka. Kerusakan pada insang menyebabkan sulit bernafas, sehingga tampak megap-megap seperti gejala kekurangan oksigen. Insang ikan rusak, luka dan timbul perdarahan serta berlebihan ender (stadium awal). Dalam keadaan serius enderu insang akan rusak dan enderum ikan tidak tertutup dengan sempurna mengakibatkan kesulitan bernafas. Irawan (2004) mengemukakan bahwa Dactylogyrus sp sering menyerang ikan di kolam yang kepadatannya tinggi dan ikan-ikan yang kurang makan lebih sering terserang parasit ini dibanding yang kecukupan pakan. c. Cacing Capillaria

Cacing Capillaria adalah nama jenis cacing dari genus nematoda. Cacing ini merupakan parasit pada sistem pencernaan dan juga pada hati ikan. Capillaria diketahui kerap menyerang ikan Diskus (Symphysodon spp) dan Angelfish (Pterophyllum spp). Pada infestasi ringan capillaria sering tidak menimbulkan gejala-gejala yang berarti. Sedangkan pada infestasi berat biasanya ditandai dengan gejala emaciation atau badan kurus, kehilangan nafsu makan, mengeluarkan kotoran berwarna putih dan tipis, atau kotoran dengan warna berselang-seling antara gelap (hitam) dan terang (putih).

Kehadiran Capillaria biasanya disebabkan oleh penularan dari ikan lain yang telah terinfeksi sebelumnya. Capillaria tidak memerlukan inang tertentu, sehingga infeksi hanya bisa dilakukan oleh ikan lain yang terinfeksi. Telur Capilaria Capilaria dewasa

Gambar 3. Capillaria d. Myxobolus sp.

Dari hasil penelitian salah satu parasit yang ditemukan adalah Myxobolus sp. Parasit ini ditemukan pada bagian operculum sampel ikan bawal ((Colosoma

brachyponum). Myxobolus sp., tergolong jenis parasit sporozoa. Parasit dari golongan ini fase infektifnya berupa spora dan berada dalam tubuh ikan dengan membentuk kista (cyste) yang biasanya dilapisi dengan jaringan pengikat.Myxobolus sp., memiliki susunan taksonomi sebagai berikut :

Gambar 4. Myxobolus sp. Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Protozoa : Sporozoa : Cnodosporidia : Myxobolidae : Myxobolus : Myxobolus sp. Parasit jenis ini merupakan penyebab penyakitMyxosporeasis. Gejala infeksi pada ikan antara lain adanya benjolan pada bagian tubuh luar (bintil) yang berwarna kemerah merahan. Pengaruh seranganmyxosporea tergantung pada ketebalan serta lokasi kistanya.

Serangan yang berat pada insang menyebabkan gangguan pada sirkulasi pernafasan serta penurunan fungsi organ pernafasan. Sedangkan serangan yang berat pada jaringan bawah kulit dan insang menyebabkan berkurangnya berat badan ikan, gerakan ikan menjadi lambat, warna tubuh menjadi gelap dan sistem saraf lemah.

BAB III KESIMPULAN

1. Endoparasit (parasit yang berada dalam tubuh ikan) yang mungkin menginfeksi ikan air tawar adalah dari golongan Metazoa. Dari golongan Metazoa yang mungkin menginfeksi ikan air tawar adalah filum Plathyhelminthes, Nemathelminthes dan Acanthocephala (Kabata, 1985). 2. Penyakit ektoparasit dan endoparasit yang menyerang ikan ini ditemukan 4 jenis parasit, yakni Trichodina sp. (ektoparasit), Dactylogyrus sp. (ektoparasit), Capillaria sp. (ektoparasit dan endoparasit), dan Myxobolus sp. (ektoparasit) 3. Hal ini (penyakit endoparasit) terjadi dikarenakan mudahnya penularan melalui kotoran yang dikeluarkan oleh ikan. Kotoran ikan yang terinfeksi pada umumnya akan mengandung telur Capillariasp. dalam jumlah banyak sehingga akan mudah menular ke ikan lainnya. Hal ini dilakukan untuk menghindari penularan melalui kotoran yang dikeluarkan. Kotoran ikan yang terinfeksi pada umumnya akan mengandung telur Capillaria dalam jumlah banyak sehingga akan mudah menular ke ikan lainnya. 4. Berdasarkan letak penyerangannya parasit dapat dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama disebut ektoparasit yaitu parasit yang menempel pada bagian luar tubuh ikan dan kelompok kedua adalah endoparasit yaitu parasit yang berada dalam tubuh ikan.