Anda di halaman 1dari 72

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2

PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)


PG. OLEAN-SITUBONDO

BAB 3. TUGAS UMUM DALAM PROSES PEMBUATAN GULA


3.1 Timbangan Tebu
Fungsi timbangan adalah untuk mengetahui berat tebu sebelum diproses.
PG Olean-Situbondo memiliki timbangan 2 unit timbangan jembatan elektronik, 1
unit untuk lori dan 1 unit untuk truk.yaitu:
1. Merk / Buatan

: DIGI / Jepang

Kapasitas timbang

: 30 ton

Skala terkecil

: 10 kg

Nomor seri

: 02718278

Kelas

: III

Type

: DI 880

2. Merk / Buatan

: GSC/Taiwan

Kapasitas timbang

: 10 ton

Skala terkecil

: 10 kg

Nomor seri

: 964715

Kelas

: III

Type

: GSC 9600

1. Bagian-bagian timbangan:

Gandar Horizontal
Fungsinya meneruskan gaya dari tuas-tuas penumpu ke gander timbangan.

Tuas Penumpu
Fungsinya untuk landasan yang langsung meneruskaan beban dari truk/lori

yang ditimbang.

Gandar Vertikal
Fungsinya untuk meneruskan gaya dari gandar kearah penunjuk skala.

Skala Penimbangan

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 28

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Untuk menunjukkan angka-angka hasil penimbangan dengan skala


timbang digital.

Jembatan Timbang
Sebagai penerima beban atau tempat truk/lori di timbang.

2. Prinsip kerja timbangan


Sistem Digital dimana tebu masuk dan parkir pada jembatan timbang. Pada
saat truk parkir, truk akan memberikan tekanan atau beban pada tuas penumpu.
Perbedaan tekanan ini menimbulkan gaya.
Gaya yang timbul, dihubungkan dengan sebuah alat instrument otomatik
yang mempunyai kemampuan mengkonversi perubahan gaya yang timbul ke
angka hasil penimbangan secara cepat dan menampilkan pada layar monitor.
3. Perawatan dan Kalibrasi
Berfungsi untuk mengetahui seberapa besar ketelitian dan kesalahan
timbangan. Timbangan dibersihkan setiap sebelum dan sesudah giling. Menjelang
giling dilakukan peneraan atau Kalibrasi. Peneraan dilakukan dengan cara
memberikan beban yang sama secara berulang-ulang, sehingga dapat diketahui
keakuratan dari timbangan tersebut. Kalibrasi ditentukan oleh badan Meteorologi
perwakilan Jember.

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 29

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

DIGITAL

c
A

B
e

Gambar. 3.1 Timbangan tebu


Keterangan
:
A. Gandar Horisontal
B. Tuas Penumpu
C. Gandar Vertikal
D. Skala Penimbangan
E. Jembatan timbang

3.2. Halaman Belakang Pabrik


Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 30

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Fungsi halaman belakang Pabrik adalah untuk menampung tebu baik yang
diangkut oleh truk maupun yang diangkut oleh lori.
Tebu yang masuk ke halaman pabrik diatur sedemikian rupa dengan
system FIFO (First in first out) yaitu tebu yang masuk pertama akan di giling
pertama. Hal ini untuk mengurangi terlalu lamanya waktu tinggal tebu di halaman
pabrik.
Untuk menghitung jumlah tebu yang digiling dapat dilihat dari jumlah
netto tebu yang di giling baik dari truk maupun dari lori/jam. Sedangkan untuk
mengatur tebu yang akan di giling sama dengan cara pengaturan memakai system
FIFO (First in firs out).
3. 3. Stasiun Gilingan
Stasiun gilingan berfungsi untuk memerah nira yang terkandung dalam sel
tebu semaksimal mungkin dengan kehilangan seminimal mungkin secara efektif
dan efisien. Tebu yang masuk ke pabrik diangkat dan diletakkan dimeja tebu.
Selanjutnya tebu di bawa oleh cane carrier menuju cane knife untuk dicacah dan
dilanjutkan oleh unigrator untuk dipukul atau ditumbuk agar sel-sel tebu semakin
terbuka. Tebu yang sudah terbuka selnya dibawa ke gilingan I untuk diperah
niranya. Ampas tebu yang keluar dari gilingan I dibawa oleh intermediate menuju
kegilingan II, hal ini berlanjut sampai dengan gilingan V sedangkan ampas
gilingan V dibawa ke ketelan sebagai bahan bakar ketel.
3.3.1. Alat Pengangkat Tebu (Cane Crane)
Fungsi alat ini adalah memindahkan atau mengangkat tebu dari truk/lori ke
atas meja tebu.
Cara kerja alat:
Tebu yang telah ditimbang diletakkan di sebelah meja tebu kemudian seling
atau rantai di pasangkan pada pengunci rantai lalu diangkat. Sedangkan untuk lori
setelah tebu di dekatkan disebelah meja tebu rantai dimasukkan ke bawah tebu
dengan bantuan pengait/cantolan

kemudian diangkat secara vertical dengan

digerakkan oleh electromotor kemudian dengan gerakan horizontal dipindahkan


Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 31

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

kemeja tebu dan diturunkan, begitu seterusnya. PG Olean Situbondomemiliki dua


alat pengangkat tebu.
Data teknis alat :
1. Pabrik Pembuat

: Demag - Jerman

Tahun Pembuatan

: 1979

Daya angkat

: Max 8 Ton

Penggerak

: Elektromotor

2. Pabrik Pembuat

: CV. A J P Surabaya

Tahun pembuatan

: 1990

Daya angkat

: Max 5 Ton

Penggerak

: Elektromotor

B
G
H

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 32

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Gambar 3.2 Alat pengangkat tebu


A. Panel

E. Motor Peng. Horisontal

B. Motor peng. Vertikal

F. Rell

C. Tahanan motor

G. Tali baja

D. Gulungan tali baja

H. Rol

I. Rantai

J. Tempat operator

3.3.2. Meja Tebu (Cane Table)


Fungsi meja tebu untuk menampung tebu sebelum masuk dan mengatur
masukan tebu ke cane carrier. Tebu yang masuk ke krepyak tebu (cane carrier) di
atur/dibawa oleh rantai yang berputar, sedangkan untuk meratakan diberi cane
leveler yang ditempatkan di ujung akhir meja tebu. PG Olean Situbondo memiliki
dua unit meja tebu.
Data teknis alat :
A. Panjang x Lebar

: 9000 mm x 6000mm

Buatan

: PG Olean-Situbondo

Tahun pembuatan

: 1983

Penggerak

: Elektromotor

B. Panjang x Lebar

: 8000 mm x 6000 mm

Buatan

: CV. A J P Surabaya

Tahun pembuatan

: 1990

Penggerak

: Elektromotor

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 33

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

A
B

Gambar. 3.3. Meja tebu


A. Meja tebu

D. Perata tebu

B. Cane caiier

E. Elektromotor

C. Rantai
3.3.3. Cane leveler
Fungsi alat ini adalah meratakan tebu yang akan jatuh ke cane carrier.
PG Olean Situbondo memiliki satu buah leveler.
Data teknis alat :
Buatan

: PG Olean Situbondo

Penggerak

: Elektromotor

RPM

: 21 rpm

Jumlah sirip

: 10 sirip

Tahun

: 1984

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 34

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Gambar. 3.4. Cane Leveller


A. Pipa 12
B. Sirip Perata
C. Elektromotor
3.3.4. Cane Knife
Fungsi alat ini adalah memotong dan mensayat tebu sehingga sebagian selselnya menjadi terbuka.
Data alat :
Jumlah

: 1 buah

Jumlah pisau

: 44 buah

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 35

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Dibuat oleh

: CV. PONCO

Tahun pembuatan

: 1992

Panjang

: 1980 mm

Kecepatan putaran

: 600 rpm

Penggerak

: Elektromotor 25 Kw

2 3

7
7
8

Gambar. 3.5 Cane Knife


1 .Gear Kopling
2. Blok Lager
3. Sirip Pemegang Pisau
4. Pisau
5. Roda pemberat
6. Poros
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 36

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

7. Roda gigi Penggerak


8. Elektromotor.
Cara perawatan :
Setiap selesai giling cane knife dibongkar untuk dibersihkan. Mata pisau
yang rusak atau tumpul diganti, begitu pula dengan metal-metal yang aus
dibetulkan sehingga standart kembali dan siap untuk dipakai giling berikutnya.
3.3.5. Unigrator
Fungsi alat ini adalah menumbuk sel-sel tebu yang telah pecah oleh cane
knife menjadi lebih terbuka.
Unigrator PG Olean Situbondo sama dengan Cane Knife, hanya
mengganti pisau menjadi hammer.
Data alat :
Tahun pembuatan

: 1982

Type

: Heavy duty chooper schreeder

Panjang

: 1980 mm

Jumlah pisau

: 44 buah

Kecepatan putaran

: 600 rpm

Penggerak

: Elektromotor 450 Kw

Alat ini bisa dikatakan berhasil apabila tebu yang dipecah sel-selnya telah
berbentuk serabut dan halus.

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 37

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Housing

1
2
3

5
6

7
Gambar. 3.6. Unigrator
1. Hammer
2. Sirip pegangan hammer
3. Poros penggerak
4. Poros Unigrator
5. Pegas Penahan Anvil
6. Anvil
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 38

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

7. Corong ampas
2

Gambar. 3.7. Unigrator


1. Elektromotor
2. Gear Box
3. Blok Lager
4. Sirip pemegang hammer
5. Hammer
6. Roda pemberat
7. Poros
Cara kerja alat :
Potongan tebu yang masuk kedalam unigrator terlempar keatas oleh putaran
unigrator yang searah dengan putaran penggerak cane carrier. Setelah terlempar
keatas potongan tebu yang jatuh ditumbuk oleh hammer dengan anvil sebagai
landasannya. Sehingga diperoleh sel-sel tebu yang lebih terbuka.
Bagian dan fungsi :
1. Housing adalah rumah yang menyelubungi unigrator.
2. Poros Digunakan pemegang atau pemutar hammer unigrator.
3. Pemegang hammer adalah Tempat menempelnya hammer pada poros
4. Hammer adalah Pemukul untuk menumbuk cacahan tebu.
5. Anvil adalah Digunakan sebagai landasan menumbuk cacahan tebu.

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 39

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

6. Pengatur anvil adalah Digunakan untuk mengatur jarak anvil dengan


hammer.
Cara perawatan Unigrator hamper sama dengan perawatan cane knife.
3.3.6. Unit Gilingan
Gilingan adalah suatu alat yang terdiri dari 3 (tiga) buah roll yang
berfungsi untuk memerah tebu semaksimal mungkin dengan cara memadatkan
sabut. Masing masing unit dilengkapi oleh sebuah roll pengumpan. PG Olean
Situbondo memiliki 5 (lima) unit gilingan. Dimana dari crusher dan gilingan 1 s/d
5 digerakkan oleh mesin uap. Tebu yang telah mengalami perlakuan pada alat
kerja pendahuluan dilanjutkan pada gilingan.
Bagian dan Fungsi
Setiap unit gilingan pada dasarnya terdiri dari :
a. Roll gilingan ( Roll atas, muka dan belakang ) gunanya untuk memerah
pada sabut tebu pada bukaan muka dan bukaan belakang.
b. Roll Pengumpan untuk mengumpan dan memberi tekanan terhadap ampas
yang masuk di antara roll atas dan roll muka.
c. Standart gilingan adalah penyangga roll gilingan.
d. Ampas plate merupakal penghantar ampas dari pemerahan pada bukaan
muka menuju bukaan belakang.
e. Bed plate tempat penampung nira hasil perahan nira dan sebagai kedudukan
standart gilingan.
f. Metal roll gilingan sebagai bantalan roll pada standart gilingan.
g. Scraper plate sebagai sisir pembersih ampas yang terikut pada alur roll
gilingan.
Cara kerja gilingan:
Mesin menggerakkan roll atas, dengan bantuan roda gigi roll atas akan
menggerakkan roll depan dan roll belakang secara berlawanan arah. Roll
pengumpan dengan perantara roda gigi dan rantai dihubungkan dengan roll depan
sehingga bergerak searah dengan roll depan. Tebu yang telah terbuka sel-selnya
dijatuhkan kecorong ampas dan dipaksa masuk oleh roll pengumpan ke bukaan
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 40

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

muka gilingan untuk melakukan perahan pertama. Selanjutnya diantarkan ke


bukaan belakang gilingan untuk melakukan pemerahan kedua dengan diantar oleh
plate ampas sebagai laluan.
Gilingan dikatakan berhasil apabila nira yang dihasilkan sebanyakbanyaknya dan ampas yang dihasilkan dengan zat kering yang tinggi dan dengan
kadar pol ampas gilingan akhir yang rendah.
Cara perawatan gilingan :
Setiap selesai giling unit gilingan di bongkar.
1.

Roll gilingan dibubut ulang sesuai dengan standart.

2.

Metal-metal gilingan di lamak kembali terhadap as roll yang akan dipakai.

3.

Plat ampas buat baru atau yang lama di revisi sesuai dengan gambar
stelan.

4.

Apabila semua peralatan sudah sesuai dengan standart masing-masing,


baru
gilingan di stel kembali.
B

C
D
K

A
E
J
F

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 41

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Gambar. 3.8 Susunan unit gilingan


Keterangan :
A. Roll pengumpan
B. Bukaan muka
C. Roll atas
D. Bukaan belakang
E. Roll belakang
F. Roll muka
G. Lubang ke talang nira
H. Plate ampas
I. Bed plate
J. Scraper belakang
K. Scraper atas
3.3.7. Pengatur Tekanan (hydroulik)
Pengatur tekanan berfungsi mengatur tekanan pada roll agar tekanan dapat
berjalan normal atau konstan dan seimbang.
Bagian alat dan fungsinya
1. Tangki minyak
Tempat menampung minyak
2.

Pompa minyak
Berfungsi memompa minyak ke dalam accumulator.

3.

Katup pengatur
Berfungsi mengatur tekanan minyak yang masuk accumulator sehingga

apabila berlebih akan dikembalikan ke tangki minyak.


4.

Manometer
Berfungsi untuk mengetahui tekanan minyak pada masing-masing
Accumulator.

5. Rumah torak
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 42

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Tempat torak untuk menekan poros roll gilingan atas.


6. Accumulator
Tempat gas nitrogen untuk menjaga tekanan agar tetap normal.
Cara kerja alat.
Minyak dialirkan oleh pompa dari tangki menuju katup pengatur untuk
ditentukan minyak yang akan masuk ke accumulator. Tekanan diatur sesuai
dengan yang diinginkan sehingga bila berlebih akan dikembalikan melalui pipa
pengembalian minyak. Dengan adanya gas nitrogen di dalam accumulator maka
tekanan tetap normal. Gas nitrogen akan melakukan perlawanan apabila torak
mendapat tekanan berlebihan dari poros gilingan atas.
5
4

..
6

Minyak
Minyak
2
3
7

1
8

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 43

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Gambar.3.9. Sistem tekanan hidrolik gilingan.


Keterangan :
1. Pompa Minyak
2. Tangki minyak
3. Katup pengatur
4. Manometer
5. Acumulator
6. Rumah Hydroulik
7. Torak Hydroulik
8. Metal Gilingan
Data alat :
Dibuat oleh

: Edwards Hydraulic

Tahun pembuatan

: 1980

Jumlah

: 10 unit

Tekanan kerja

: normal 210 kg/cm2 , maximum 350 kg/cm2

Model atau type

: Accumulator system

Penggerak

: Elektromotor 25 Amp

Putaran

: 1450 rpm

3.3.8. Cane Carrier (Krepyak tebu)


Fungsi Cane Carrier (krepyak tebu) adalah untuk mengantarkan tebu dari
meja tebu menuju kealat kerja pendahuluan dan dari alat kerja pendahuluan
menuju gilingan I.
Bagian Alat dan Fungsi:
1. Roda penggerak
Untuk menggerakkan rantai penggerak krepyak tebu
2. Rantai krepyak
Tempat kedudukan plat krepyak tebu ( slate carrier )
3. Roda penahan
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 44

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Menahan rantai krepyak tebu bagian bawah


Cara kerja alat:
Poros penggerak Cane carrier digerakkan oleh elektromotor yang
dihubungkan dengan gearbox dan diterus oleh rantai beroda gigi. Tebu yang jatuh
ke cane carrier I akan terbawa menuju alat kerja pendahuluan (cane knife dan
unigrator). Setelah tebu yang sudah terbuka selnya akan dibawa oleh cane carrier
II menuju gilingan.

3
4
Gambar. 3.10 Cane Carrier I

Gambar.3.11. Cane Carrier Lengkap


Keterangan :
1. Roda penggerak

2. Rantai & krepyak

3. Rantai pehubung

4. Gearbox

5. Elektromotor

6. Roda penahan

3.3.9. Intermediate Carrier (Krepyak ampas antar gilingan)


Fungsi Intermediate Carrier (krepyak ampas antar gilingan) adalah
membawa ampas yang keluar dari gilingan I menuju gilingan II, ampas gilingan II
menuju gilingan III, ampas gilingan III menuju gilingan IV dan ampas gilingan
IV menuju gilingan V.
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 45

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Bagian alat dan fungsinya


1. Roda penggerak untuk menggerakkan rantai pembawa cakar ampas
2. Elektromotor sebagai penggerak intermediate carrier
3. Cakar ampas sebagai pembawa ampas
4. Rantai sebagai tempat kedudukan cakar ampas.
Cara kerja alat
Rantai cakar ampas yang dihubungkan dengan roda penggerak,
digerakkan oleh electromotor penggerak sehingga ampas yang jatuh dari gilingan
sebelumnya terbawa oleh cakar ampas ke gilingan berikutnya.
Cara parawatan :
Setiap selesai giling peralatan tersebut dibongkar.
1. Garpu atau slat dibuka
2. Rantai dibuka atau dipisahkan
3. Bosh dan penrantai yang rusak diganti.
4. Untuk merangkai rantai kembali,bosh dan pen terlebih dahulu harus di
beri grease.
5. Setelah semuanya siap peralatan dirangkai kembali untuk giling tahun
berikutnya.

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 46

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

1
3

Gambar. 3.12 Intermediate carrier


Keterangan :
1. Roda gigi penggerak rantai
2. Cakar ampas
3. Roda luncur
4. Roda penekan rantai
5. Elektromotor
6. Van belt
Data alat
Dibuat oleh

: PG Olean Situbondo

Type

: Bak carrier dengan cakar

Jenis rantai

: H R 1796 dan sejenisnya

Penggerak

: Elektormotor

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 47

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

3.3.10. Sistim Imbibisi


PG Olean Situbondo menggunakan air sebagai imbibisi dengan sisitim
spray. Selain itu juga memakai nira sebagai imbibisi dimana hasil perahan nira
yang lebih encer digunakan sebagai imbibisi juga bagi ampas yang keluar dari
gilingan sebelumnya.
Skema nira dan imbibisi PG Olean Situbondo.
Air imbibisi
Tebu

A1

A2

A3

A4

ampas ke ketel

N4
Gil I

Gil II

Gil III

Gil IV

N5
Gil V

N3
Nira mentah
Gambar. 3.13 Aliran nira dan imbibisi
Keterangan :

A = Ampas

N = Nira

Keterangan system imbibisi :


Ampas yang keluar dari gilingan III dan IV mendapat imbibisi air. Ampas
yang keluar dari gilingan II mendapat imbibisi nira hasil perahan gilingan IV dan
V. Sedangkan ampas yang keluar dari gilingan I mendapatkan imbibisi nira hasil
dari perahan gilingan III. Perahan nira gilingan I dan II adalah nira mentah.
Ampas yang keluar dari gilingan V, kering dan dibawa ke ketel untuk bahan bakar
ketel.

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 48

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

3.3.11. Saringan Nira Mentah


Fungsi saringan nira mentah adalah untuk menyaring ampas yang terikut
nira mentah sebelum menuju proses lebih lanjut. PG Olean Situbondo
menggunakan 2 (dua) jenis saringan.
1. Saringan Sap-zip Carrier
Data alat :
Dibuat oleh

: PG Olean Situbondo

Ukuran lebar x panjang

: 1400 mm x 2000

Jenis rantai

: Detachahble lini chain/ Lys


Derby 103

Penggerak

: Elektro motor

Type

: Horisontal dengan skraper

Ukuran peti penampung

Lebar x panjang

: 2000 x 2500 mm

Tinggi

: 600 mm

Cara kerja alat :


Nira mentah yang masuk saringan sap-zip masih terdapat kotoran atau
ampas kasar. Nira mentah yang melewati saringan ditampung oleh peti
penampung ,sedangkan ampas atau kotoran yang tertahan pada saringan akan
dibawa oleh scraper yang terpasang pada rantai penggerak, kembali ke
intermediate I.

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 49

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Gambar. 3.14 Saringan Sap-zip


Keterangan :
Peti penampung nira
a. Rantai dengan scraper
b. Saringan
c. Elektromotor
d. Roda penahan
e. Roda gigi penggerak
2. Saringan D S M
Cara kerja alat
Nira yang tertampung pada peti penampung nira di pompa menuju
saringan DSM sehingga ampas atau kotoran halus yang masih terbawa tertahan
pada saringan DSM karena memiliki lobang yang lebih kecil/rapat. Ampas dan
kotoran yang tertahan jatuh ke gilingan. Selanjutnya nira yang tersaring di pompa
menuju peti nira tertimbang namun sebelumnya harus melewati timbangan nira
mentah.
Data alat
Jumlah

: 2 buah

Ukuran screen

: 1815 mm X 1500 mm

Ukuran

peti

: 2000 x 1000 x 600 mm

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 50

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

C
D

Gambar. 3.15 Saringan DSM


Keterangan :
A. Saluran nira mentah
B. Saringan DSM
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 51

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

C. Pembuangan kotoran
D. Saluran Pengeluaran nira
Bagian dan fungsi alat :
A. Saluran nira mentah untuk laluan nira mentah masuk.
B. Saringan DSM Saringan untuk menyaring nira mentah.
C. Pembuangan kotoran Tempat laluan ampas dan kotoran lain
di buang ke intermediate I kembali.
D. Saluran pengeluaran nira Tempat laluan nira yang dipompa ke
peti nira mentah.
3. 4. Stasiun Pemurnian
3.4.1 Proses Pemurnian
Tujuan dari proses pemurnian adalah untuk memisahkan zat bukan gula
yang terdapat pada nira mentah sebanyak-banyaknya dengan biaya sekecilkecilnya dan dengan menghidari kerusakan sukrosa seminimal mungkin.
Proses pemurnian nira di PG Olean Situbondo menggunakan sistim
sulfitasi. Nira mentah dari gilingan diukur volumenya terlebih dahulu. Nira
mentah yang telah diukur volumenya dipompa menuju Pemanas Pendahuluan I
(PP I) sampai suhu 75o C, kemudian dialirkan ke Defikator I dan II dengan
dicampur susu kapur sampai pH 7,0. Selanjutnya dialirkan ke Defikator III sampai
pH 8,5 8,6. Dari defikator III nira dialirkan ke peti sulfitasi sampai pH 6,9 7,2.
Nira yang sudah tersulfitasi dipanaskan lagi pada badan Pemanas pendahuluan II
(PP II) sampai suhu 1050 C, dari PP II dialirkan ke Prefloc Tower untuk
penambahan floculan guna mempercepat proses pengendapan. Selanjutnya nira
dialirkan ke peti pengendapan Single Tray Clarifier .
Disini nira dipisahkan, nira jernih lewat over flow dimasukkan ke saringan
nira jernih DSM Screen . Nira jerni kemudian dipanaskan pada Pemanas
Pendahuluan III sampai suhu 1100 C dan untuk selanjutnya diuapkan di stasiun
penguapan. Nira kotor ditampung dipeti penampung nira kotor dan dipompa ke
feed mexer untuk dicampur ampas halus dari bagacillo. Nira kemudian ditapis
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 52

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

dengan Vacum Filter, fitrat yang dihasilkan dikembalikan ke bak nira mentah
tertimbang., sedangkan kotaran berupa blotong dibuang.
3.4.2 Alat Ukur Volume Nira Mentah
Fungsi alat ini adalah untuk mengetahui berapa besar volume nira mentah
yang diperoleh dari proses pemerahan. Untuk menentukan volume nira mentah
PG Olean Situbondomenggunakan alat ukur Magnetric Flow Meter.

Gambar.3.16 Magnetik flow meter


Keterangan :
A. Digital penunjuk volune
B. Alat sensor (mahnit)
C. Laluan nira masuk
D. Laluan nira keluar

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 53

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Data alat:
Nama alat

: Magnetic Flow meter

Merk

: ABB Limited

Made in

: Ukraine

No seri

: MF/E1511WW 10 A 00 EH1301111

Frekwensi

: 47 T 0440 H2

Diameter in out put : 6


Kapasitas

: 200 m3/jam

Cara kerja.
Nira mentah yang masuk melalui Magnetic Flow meter akan disensor oleh
magnetic dan dikirim ke digital angka pengukur volume, maka volume nira yang
melewati alat tersebut dapat langsung diketahui volumenya.
Untuk mengetahui jumlah volume nira mentah selama delapan jam cukup
dengan mengurangi angka yang tertera pada jam yang ke 8 (delapan) dengan
angkah yang terdata pada jam pertama.
3.4.3 Badan Pemanas Nira
Fungsi alat ini adalah tempat memanaskan nira pada suhu tertentu
PG Olean Situbondomemiliki 12 unit Juice Heater dengan perincian :
1. Pemanas Pendahuluan I terdiri dari 5 juice heater (dipakai secara
bergantian ). Nira mentah yang telah diukur volumenya dipompa ke
Pemanas Pendahuluan I dan dipanaskan dengan suhu 70 750 C.
Tujuan pemanasan ini mempercepat reaksi nira dengan Ca(OH)2 (susu
kapur)
2. Pemanas Pendahuluan II terdiri dari 5 juice heater (dipakai secara
bergantian ). Nira mentah yang telah tersulfitir dipompa menuju Pemanas
Pendahuluan II untuk dipanaskan dengan suhu antara 102 -105 0 C. Tujuan
pemanasan ini untuk mempercepat reaksi pembentukan pengendapan.
3. Pemanas Pendahuluan III (akhir ) terdiri dari 2 unit Juice Heater (dipakai
secara bergantian) Nira jerni dari peti pengendapan dipompa menuju
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 54

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Pemanas Pendahuluan III untuk dipanaskan dengan suhu 105 1100 C.


Tujuan pemanasan ini untuk menaikkan suhu nira sampai mendekati titik
didih.
Bagian dan fungsi alat.
a. Valve pengeluaran udara berfungsi mengeluarkan udara yang ada dalam
nira
b. Pipa Amoniak berfungsi untuk mengeluarkan udara dan gas yang tak
terembunkan pada ruang uap.
c. Pipa pemanas nira (Uap bekas) berfungsi untuk salura uap pemanas nira
d. Ruang uap berfungsi untuk tempat uap pemanas
e. Pipa air embun berfungsih sebagai saluran pengeluaran air dari
pengembunan uap pemanas nira
f. Ot In Nira berfungsi untuk pemasukan dan pengeluaran nira ke badan
pemanas
g. Pipa pemanas berfungsih untuk menampung nira yang akan dipanaskan

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 55

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

4
5
6
7

8
x
9
10

11

12

13

Gambar. 3.17 Pemanas Nira (Juice Heater)


Keterangan:
1. Velve buangan udara

6. Input uap pemanas

11. Valve tap-tapan nira

2. Tutup atas

7. Ruang uap pemanas

12. Tutup bawah

3. Sekat atas

8. Pipa sirkulasi nira

13. Sekat bawah

4. Saluran nira in out

9. Pipa amoniak bawah

5. Pipa amoniak atas

10. Saluran Condensat

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 56

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Data Tehnis Pemanas Nira


Tabel 3.4.1 : Data badan pemanas nira
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Pan

LP

Dia.

Pemanas

M2

I
I
I
I
I
II
II
II
II
II
III
III

120
118
137
100
112
139
139
133
120
175
130
130

Pipa

Jumlah

Tahun

mm

Pipa

Pembuatan

33 / 33
33 / 33
33 / 36
33 / 36
33 / 36
33 / 36
33 / 36
33 / 36
33 / 36
33 / 36
33 / 36
33 / 36

384
384
425
312
325
400
400
384
384
504
452
452

1984
1979
1977
1977
1979
1990
1987
1983
1972
2005
1977
1977

Panjang
Pipa
mm
3110
3060
3110
3098
3348
3360
3360
3348
3100
3110
1850
1850

Jumlah
sirkulasi
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6
6

3.4.4 Alat Pengeluaran Air Embun (Condenspot)


Fungsi alat ini untuk mengeluarkan air embun dari ruang pemanas nira.
Cara kerja alat :
Air hasil pengembunan masuk melalui pipa ke dalam condenspot yang
didalamnya terdapat pelampung untuk menggerakkan katup pengeluaran. Ketika
air embun telah memenuhi kondenspot maka pelampung ikut naik dan
mengerakkan klep sehingga terbuka dan air embun keluar menuju bak
penampung.

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 57

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

1.
3

4
Gambar. 3.18 Condespot
Keterangan :
1. Saluran pemasukan air embun
2. Pelampung
3. Saluran pengeluaran air embun
4. Velve/Klep

Bagian dan Fungsi alat :


1. Pipa pemasukan berfungsi untuk saluran masuk air embun.
2. Pelampung untuk menggerakkan Valve/Klep.
3. Valve/Klep berfungsi untuk saluran keluarnya air embun dan menahan agar
tidak masuk kembanli.
4. Pipa pengeluaran berfungsi untuk saluran keluarnya air embun.

3.4.5. Pompa Nira dan Blower


1. Pompa Nira

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 58

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Untuk pemakaian pompa-pompa, PG Olean Situbondomenggunakan


pompa jenis Pompa Centrifugal. Fungsi dari pompa Centrifugal adalah
mempompa bahan cairan (Nira mentah, Nira jernih, Nira kotor, Nira tapis, Air
injeksi, Air embun dan Susu kapur) ke tempat yang diinginkan.
Bagian dan Fungsi alat :
1. Rumah Pompa - Tempat berputarnya kipas pompa (Impeller)
2. Kipas (Impeller) - Sudu pemindah massa (bahan) yang masuk untuk
didorong keluar.
3. Pipa Pemasukan - Tempat masuknya bahan yang akan dipindahkan.
4. Pipa Pengeluaran - Tempat keluarnya bahan yang akan dipindahkan.
5. As Pompa - Berfungsi sebagai penerus putaran pully ke Impeller.
6. Elektromotor - Berfungsi sebagai penggerak pompa.
Keterangan
4
Elektromotor
As pompa
Impeller
Saluran pengeluaran
Saluran pemasukan
Rumah pompa

4
6

1
2
Gambar. 3.19 Pompa Centrifugal

5
3

Keterangan :
1. Rotor
2. Rumah pompa
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 59

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

3. Elektromotor

Gb. 3. 20 Pompa r

Fungsi pompa rotasi adalah untuk memindahkan cairan kental antara lain nira
kental dan tetes.
2. Blower
Fungsi blower adalah untuk menghisap udara dan ampas halus yang akan
di kirim peti nira kotor.
6

8
7

3
2

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Keterangan
Elektromotor
Van belt
Poros pengerak
Impeller/Kipas
Saluran pemasukan
Saluran pengeluaran
Rumah pompa
Corong ampas halus

Gambar. 3.21 Blower


Bagian dan Fungsi alat :
1. Pipa pengeluaran - Berfungsi untuk keluarnya udara dan ampas halus.
2. Corong ampas halus - Berfungsi untuk jatuhnya ampas halus.
3. Rumah Blower- Berfungsi untuk tempat berputarnya impeller.
4. Impeller- Berfungsi sebagai sudu pemimdah udara dan ampas halus.
5. Poros penggerak - Berfungsi untuk penerus putaran pully ke impeller.
6. Pipa pemasukan - Untuk laluan masuk ampas halus dan udara
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 60

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

7. Van belt - Berfungsi untuk penerus putaran electromotor ke pully


8. Elektromotor - Berfungsi sebagai penggerak impeller blower.
Cara perawatan pompa dan blower sama. Diluar masa giling pompa di
buka dan dibersihkan. Semua peralatan dikontrol terutama apakah bearing masih
bagus, apabila sudah tidak layak pakai maka harus diganti.
3.4.6 Peti Reaksi
Peti reaksi yang digunakan di PG Olean Situbondo yaitu peti Defikasi dan
Sulfur tower:
1. Peti Defikasi (Defikator)
Fungsi dari alat ini adalah untuk mereaksikan nira dengan susu kapur
2. Sulfur tower
Fungsi alat ini adalah untuk mereaksikan nira dengan gas SO2.
Cara kerja alat:
1. Defekator
Nira mentah dari pemanas pendahuluan I dicampur dengan susu kapur
dan diaduk sehingga pencampuran benar-benar homogen. Pada
Defekator I hingga mencapai pH 7,0 7,2, Defekator II tidak ada
penambahan Ca(OH)2 namun hanya untuk mencapai reaksi yang lebih
sempurna. Defekator III kembali ditambahkan Ca(OH)2 hingga
mencapai pH 8,5 8,8 karena Assembagoes memakai sistem sulfitasi
netral.
2. Sulfur tower:
Setelah mengalami pencampuran pada defecator I, II dan III nira
dialirkan ke dalam sulfur tower melalui samping atas badan tower.
Nira yang telah bercampur dengan kapur direaksikan kembali dengan
gas SO2. Gas SO2 dimasukkan ke badan tower melalui samping
bawah. Nira yang jatuh akan melalui sekat/tray, sehingga reaksi dapat

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 61

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

berlangsung dengan baik. Gasgas SO2 sisa reaksi dibuang ke udara


dengan ditarik oleh ventury compresor.
. Data alat :
A. Peti Defekator I
Ukuran badan

: T ( 1,5) x L (2,6)

Volume kerja

: 8 M3

RPM

: 1450

E M Penggerak

: Elektromotor 11 kw

B. Peti Defekator II
Ukuran badan

: T ( 1,85) x L (1,55)

Volume kerja

: 3,3 M3

RPM

: 1450

E M Penggerak

: Elektromotor 10 kw

C. Peti Defekator III


Ukuran badan

: T ( 1,25) x L (1,15)

Volume kerja

: 1,41 M3

RPM

: 1450

E M Penggerak

: Elektormotor 10 kw

D. Sulfur tower :

Jumlah

: 1 buah

Tinggi tower

: 9000 mm

Volume

: 900 mm x 650 mm

Diameter

: 900 mm

Jumlah tray

: 10 buah

1
2
1

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 62

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

4
5

6
7
Gambar. 3.22 Defekator
Keterangan :
1. Elektromotor
2. Peti Penampung
3. Saluran masuk nira
4. Saluran pengeluaran nira
5. Poros
6. Baling-baling
7. Saluran tap-tapan
Bagian alat dan fungsinya :
1. Elektromotor fungsinya untuk menggerakkan pengaduk.
2. Peti Penampung fungsinya untuk tempat reaksi nira.
3. Saluran masuk nira fungsinya untuktempat laluan nira masuk.
4. Saluran pengeluaran nira fungsinya untuk tempat laluan nira keluar.
5. Poros fungsinya untuk pegangan baling-baling pengaduk.
6. Baling-baling fungsinya untuk mengaduk nira.
7. Saluran tap-tapan fungsinya untuk pengeluaran nira pada saat di tap.
Bagian dan Fungsi alat Sulfur tower
1. Pipa Ventury fungsinya menciptakan kevakuman pada sulfur tower.
2. Pembuangan gas SO2 fungsinya membuang gas SO2 yang berlebih.
3. Saluran masuk fungsinya fungsinya laluan masuk nira.
4. Saluran pengeluaran fungsinya laluan nira keluar.
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 63

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

5. Badan Sulfur tower fungsinya tempat bereaksinya nira.


6. Kaca penduga fungsinya untuk melihat kondisi nira
7. Tray fungsinya untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
8. Saluran SO2 fungsinya untuk masuknya gas SO2 .
9. Dom kompresor fungsinya untuk tempat menampung udara hasil
kompresor.
10. Saluran outpout fungsinya untuk pengeluaran nira tersulfitir.
11. Kompresor fungsinya untuk menghasilkan udara.
12. Peti nira fungsinya untuk menampung nira yang sudah tersulfitir.
13. Elektromotor fungsinya untuk menggerakkan kompreso

1
2
3
3
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 64

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

4
5

Keterangan :
1. Ventury

2. Pembuangan gas SO2


3. Nozel Ventury
4. Saluran Inpout
5. Badan Sulfur tower
6. Kaca Penduga
7. Tray

8. Saluran SO2
9. Dom Kompresor
10. Saluran Outpout
11. Kompresor

10
9

12. Peti Nira Tersulfitir


13. Elektromotor

11

12

1
13

Gambar. 3.23 Sulfur tower


3.4.7 Bejana Pengendapan (Single Tray)
Fungsi alat ini adalah memisahkan nira jernih dengan nira kotor, dengan
adanya perbedaan berat jenis maka kotoran akan turun/mengendap kebawa.
Data-data alat : (Modifikasi LPP thn 2006)
Type

: Single tray clarifier

Jumlah

: 1 (satu) unit

Kapasitas

: 3000 TCD

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 65

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Diameter

: 6800 mm

Tinggi

: 3870 mm

Elmot Penggerak

: 7,5 Kw / 14,5 Amp

RPM Pengaduk

: 6 putaran/ jam

Cara kerja alat :


Nira yang telah tersulfitir masuk dari bejana pengembang ( Flas tank )
melalui 4 sisi single tray. Sebelum masuk ke badan single tray nira diberi flukolan
untuk mempercepat pengendapan.
Dengan dibantu pengaduk yang memiliki putaran rendah, reaksi antara
koloid dalam nira dan flukolan lebih cepat dan sempurna. Endapan akan turun
kebawah, sedang nira jernih akan keluar melalui over flow menuju pemanas
pendahuluan III.
Kotoran yang mengendap akan dibawa oleh scraper menuju pengeluaran
nira kotor. Nira kotor yang keluar akan ditampung pada peti nira kotor.

1
2

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 66

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

5
6
7

Gambar. 3. 24 Single tray


Keterangan:
1. Saluran nira masuk
2. Saluran nira

3. Tap-tapan nira jernih

4. Scraper

7. Gear box

5. Poros penggerak pengaduk

8. Elektromotor

6. Saluran nira kotor

9. Roda gigi penggerak

Bagian dan fungsi alat :

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 67

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

1. Pipa pemasukan saluran nira fungsinya untuk pemasukan nira dari bejana
pengembang (Flas tank)
2. Pipa saluran nira jernih fungsinya untuk pengeluaran nira jernih hasil
endapan.
3. Saluran pengambilan contoh fungsinya untuk mengontrol/ mengambil
contoh nira.
4. Scraper fungsinya untuk menyapu kotoran/endapan.
5. Poros penggerak scraper untuk menggerakkan scraper.
6. Pipa saluran nira kotor fungsinya untuk laluan nira kotor hasil
pengendapan
7. Gear box fungsinya untuk merubah RPM yang tinggi menjadi rendah.
8. Elektromotor fungsinya sebagai penggerak poros penggerak scraper.
9. Roda gigi fungsinya sebagai penghantar penggerak motor ke poros
penggerak scraper.
3.4.8 Alat Penapisan
PG Olean Situbondodalam penapisan menggunakan 2 buah Rotary Vacum
Filter. Fungsi alat ini adalah untuk menapis nira kotor.
Agar nira kotor dapat ditapis dengan baik oleh RVF maka nira kotor dari
single tray, pada peti nira kotor dipompa ke mud mixer dan dicampur dengan
bagasilo. Nira kotor yang telah bercampur ampas halus dialirkan ke tempat
pencelupan drum RVF. Kotoran akan melekat pada drum dan menjadi blotong
sedangkan nira tapis dikembalikan pada peti nira tertimbang.
Cara kerja alat :
Kinerja drum RVF pada saat berputar dibagi menjadi tiga bagian :
1. Bagian pertama (bawa)adalah Daerah Vacum Rendah.
Pada daerah ini nira kotor akan menempel pada drum karena dihisap oleh
tekanan vacum rendah. (-15 s/d -20 cm Hg )
2. Bagian kedua adalah Daerah Vacum Tinggi.

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 68

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Pada daerah ini nira kotor yang sudah menempel pada drum akan dihisap
sehingga nira akan terhisap sebanyak mungkin. Untuk menghisap nira
sebanyak mungkin maka nira dispray dengan air panas agar gula yang
tersisa dapat terlarut dan pol blotong rendah. (-40 s/d -60 cm Hg)
3. Bagian daerah ketiga adalah Daerah Non Vacum.
Pada daerah ini, karena tidak adanya vacum maka blotong yang melekat
pada drum akan mudah dilepas oleh scraper dan jatuh ke tempat
penampungan.
Data alat Rotary Vacum filter :
a. Penapis I
Merk /Type

: PT. Barata Indonesia/Wrong

Ukuran drum

: 7200 mm x 3000 mm

Ukuran saringan

: 3045 x 480 mm

Jumlah Srceen

: 40 bh

Bahan saringan

: Stainless Steel

R p m drum

: 12 30 putaran/jam

b. Penapis II
Merk /Type

: Sanki

Ukuran drum

: 6000 mm x 3000 mm

Ukuran saringan

: 3045 x 480 mm

Jumlah Srceen

: 40 bh

Bahan saringan

: Stainless Steel

R p m drum

: 12 30 putaran/jam

4
4
6
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 69

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

7
8

9
10
10
12
11

Gambar. 3.25 Rotary Vacum Filter


Keterangan :
1. Pipa air siraman

2. Drum

3. Saringan

4. Roda gigi pengerak drum

5. Pemasukan nira kotor

6. Scraper

7. Corong blotong

8. Elektromotor

9. Saluran nira jernih

11. Bak nira kotor

12. Luapan nira kotor

10. Pipa penghisap


Bagian dan fungsi alat :

a. Drum bersaringan Tempat penyaringan nira kotor.


b. Saluran nira tapis untuk laluan nira jernih yang sudah tersedot oleh
vacum.
c. Pipa penyiraman untuk menyiram mud/blotong yang menempel
pada drum
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 70

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

d. Penampung nira - untuk menampung nira kotor yang telah dicampur


ampas halus.
e. Saluran luapan untuk laluan pengembalian nira kotor yang berlebih.
f. Pengaduk untuk mengaduk nira agar tidak terjadi pengendapan.
g. Scraper untuk melepaskan blotong dari saringan.
h. Elektromotor untuk menggerakkan drum.
i. Pipa tap-tapan untuk pengeluaran nira saat pembersihan.
3.4.9 Alat Pembuat Susu kapur
Proses pembuatan susu kapur adalah kapur tohor dimasukkan ke dalam
tromol dan dicampur dengan air untuk melakukan pemadaman. Hasil pemadaman
disaring agar kapur yang sudah terlarut terpisah dari batu. Larutan kapur
dimasukkan kedalam bak penangkap pasir yang bersekat-sekat sehingga pasir
akan mengendap dan susu kapur dialirkan ke bak penampung susu kapur.
Bagian dan fungsi alat :
1. Tromol pemadam kapur untuk memadamkan kapur tohor dengan
dicampur air agar jadi susu kapur.
2. Pemasukan kapur tempat memasukkan kapur tohor.
3. Elmot penggerak saringan untuk mengerakkan/menggetarkan
saringan getar.
4. Saringan getar untuk menyaring/memisahkan susu kapur dan batu.
5. Peti pengendap tempat mengendapkan pasir yang terbawa susu kapur
6. Elmot penggerak pengaduk untuk menggerakkan pengaduk.
7. Tangki susu kapur tempat penampungan susu kapur sebelum ke
proses
8. Pengaduk untuk mengaduk susu kapur agar tidak terjadi
pengendapan.
9. Pompa susu kapur untukmembawa susu kapur dari peti menuju
penjatah susu kapur
1
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 71

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

5
6

7
8
9

10

Gambar. 3.26 Pembuatan susu kapur


Keterangan :
1. Tromol pemadam kapur

2. Pemasukan kapur

3. Elmot penggerak saringan

4. Saringan getar

5. Peti pengendap

6. Elmot penggerak pengaduk

7. Tangki susu kapur

8. Pengaduk

9. Pompa susu kapur

10. Saluran susu kapur ke proses

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 72

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

3.4.10 Tobong Belerang (Sulfur Buner)


Fungsi tobong belerang adalah untuk membakar belerang padat menjadi
gas belerang.

62

22

52
42

32

Gambar. 3.27 Tobong belerang (RSB)


Keterangan :
1. Tempat belerang

5. Air pendingin

2. Eklektromotor

6. Sublimator

3. Tempat pembakaran

7. Saluran gas SO2

4. Sekat
Bagian dan fungsi alat :
1. Tempat belerang tempat penjatah belerang sebelum di bakar
2. Elektromotor untuk menggerakkan penjatah belerang (rotary)
3. Tempat pembakaran tempat pembakaran belerang.
4. Sekat untuk menyempurnakan reaksi SO2
5. Air pendingin untuk mendinginkan temperatur gas SO2

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 73

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

6. Sublimator - tempat menangkap uap belerang yang tidak sempat


bereaksi dengan O2.
7. Saluran gas SO2 tempat laluan gas SO2 menuju sulfur tower..
Cara kerja alat :
Belerang dimasukkan secara rotary ke dalam peti reaksi dan dibakar.
Dengan adanya vacum dari udara yang ditekan oleh compressor ke pipa ventury,
maka gas SO2 akan tersedot ke peti sulfur tower. Gas SO2 yang tersedot harus
dingin 80 o C, untuk itu tobong belerang dan pipa pengeluaran di beri pendingin
air.
Data alat :
Jumlah

: 2 buah untuk pemurnian


2 buah untuk masakan

Luas ruang bakar

: 1,6 m3 dan 2,9 m3 untuk pemurnian


2 x 1,6 m3 untuk masakan

Kapasitas

: 1,6 m3 = 25 kg /jam
2,9 m3 = 50 kg/jam

3. 5. Stasiun Penguapan
Dalam proses penguapan PG Olean Situbondo menggunakan system
Quandrople effect . Nira dari pemanas pendahuluan III dialirkan lewat pipa
pemasukan nira ke badan penguapan I. Nira masuk melalui bagian bawah dan
melewati pipa-pipa sirkulasi dimana nira mendapat pemanasan, sehingga terjadi
penguapan. Nira kemudian keluar melalui saluran pengeluaran dan masuk ke
badan penguap berikutnya, sampai pada badan penguapan terakhir.
Bahan pemanas yang dipakai adalah uap bekas dari gilingan dan turbin
generator. Uap bekas masuk melalui samping bawah badan pemanas, uap nira
hasil badan penguapan I keluar lewat saluran pengeluaran yang berada diatas dan
digunakan sebagai pemanas dibadan berikutnya. Proses berlajut sampai pada
badan penguapan terakhir. Uap nira badan terakhir dialirkan ke kondensor untuk
pengembunan.
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 74

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

3.5.1 Badan Penguapan dan Peralatannya


Bagian alat dan fungsinya :
1. Pipa saluran uap nira - untuk mengeluarkan uap nira sebagai pemanas
badan selanjutnya.
2. Penangkap nira/sapvanger

untuk menangkap percikan nira yang

terbawa uap nira.


3. Pipa siraman digunakan untuk siraman pada saat stop untuk
pembersihan.
4. Pipa amoniak untuk mengeluarkan gas-gas dan udara yang tak
terembunkan.
5. Kaca penduga untuk melihat kondisi nira didalam badan penguapan.
6. Manhole untuk masuknya orang pada saat pembersihan/pembenahan.
7. Saluran uap panas untuk saluran masuknya uap pemanas/bekas.
8. Ruang uap tempat transfer panas dari uap pemanas ke pipa pemanas
9. Pipa pemanas sebagai pemanas dan sirkulasi nira. Keterangan
10. Pipa jiwa - sebagai tempat sirkulasi nira setelah dipanaskan
1. Saluran uap nira
11. Pembagi nira1 sebagai pembagi nira yang masuk ke badan.
2. sappanger
12. Pipa pemasukan
nira

untuk
laluan
nira
masuk.
2
3. Pipa siraman
13. Pipa pengeluaran nira untuk laluan nira keluar.
4. Pipa amoniak
5. Kaca penduga
14. Pipa air condens untuk laluan air condens hasil pengembunan.
3
6. Menhole
15. Manometer untuk mengukur tekanan uap nira dan pemanas.
7. Pipa jiwa
16. Termometer - untuk mengukur suhu.
8. In pout uap
pemanas
4
9. Ruang pemanas
5
10. Pipa pemanas
6
11. Pembagi nira
12. Pipa air condenst
13. Input nira
7
8
14. Pipa tap-tapan

11
12
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
13
Universitas
Jember
14

Page 75
15

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

15. Ot put nira

Gambar. 3. 28 Evaporator

Data-data alat :
Tabel 3.5.1. Data Evavorator
Nomer
Luas pemanas
Diameter pipa

1
1500 m2

2
1500 m2

3
1500 m2

4
1000 m2

33/36 mm

33/36 mm

33/36 mm

33/36 mm

Panjang pipa pemanas

2500 mm

2500 mm

2240 mm

2050 mm

Jumlah pipa pemanas

5788 bh

5789 bh

6900 bh

4832 bh

pemanas

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

5
1000 m2
33/36
mm
1820
mm
5300 bh

Page 76

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Bahan pipa pemanas

Stainless

Stainless

Stainless

Stainless

Stainles

stell

stell

stell

stell

s stell

3.5.2 Alat Penangkap Nira

Gambar. 3. 29 Alat penangkap nira (Sappanger)


Keterangan :
1. Saluran uap keluar

2. Penakap nira

Fungsi alat pengangkap nira adalah untuk menangkap percikan nira yang
terbawa oleh uap nira. Sapvanger di pasang pada setiap badan penguapan,
sedangkan uap nira dari badan akhir memakai penangkap nira tersendiri di luar
badan penguap.
3.5.3 Perjalan Uap dan Nira pada Evaporator
Jumlah badan penguap di PG Olean Situbondo memiliki 5 (lima) unit.
Dalam setiap pengoperasiannya dipakai 4 (empat) unit dan 1 (satu) cadangan
untuk pembersihan.
Nira dari pemanas pendahuluan III masuk badan I dan dengan pemanas
uap bekas, air dalam nira diuapkan hingga terbentuk uap nira. Uap nira yang
dihasilkan oleh badan I dipergunakan untuk memanaskan nira pada badan II. Bila
uap nira yang dihasilkan badan I masih berlebih untuk penguapan badan II, maka
kelebihan tersebut di pergunakan oleh St masakan (bleeding).
Nira dari badan I masuk ke badan II dan pemanas yang dipergunakan dari
uap nira badan I. Dari badan II nira masuk ke badan III dan diuapkan dengan
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 77

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

pemanas uap nira badan II. Nira dari badan III masuk ke badan IV dan diuapkan
dengan pemanas uap nira badan III. Sedangkan uap nira dari badan IV dialirkan
ke penangkap nira sebelum masuk bejana pengembunan (condensor).
Skema perjalanan uap nira dan nira pada proses penguapan.
Bleding PP. I

Bleding Masakan

Uap
bekas

II

III

IV

Gambar.3.30 Skema aliran uap dan nira


3.5.4 Bejana Pengembunan
Bejana pengembunan adalah alat untuk mengembunkan uap nira dari
badan penguapan akhir. PG Olean Situbondodalam ini menggunakan Jet
Condensor

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 78

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

111
1
2

Penangkap nira
Uap nira Evaforator
Air jatuhan
Keterangan :
1. Air Pendingin

Nira

2. Air Injeksi
3. Nozel
Gambar. 3.31 Jet Condensor
Bagian alat dan fungsinya :
1. Penangkap nira untuk menangkap percikan nira yang terbawa uap
nira.
2. Pipa air jatuhan untuk laluan air yang jatuh dari jet condenser.
3. Pipa air pendingin untuk laluan air pendingin.
4. Pipa air injeksi untuk laluan air injeksi.
5. Nozel untuk mengatur pancaran air.
Cara kerja alat :
Uap nira masuk melalui atas badan jet condensor. Pada badan bagian
bawah air injeksi dipancarkan dengan sudut tertentu sedangkan di bagian atas
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 79

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

badan juga di pancarkan air dengan sudut tertentu yang berfungsi sebagai
pendingin uap nira. Dengan adanya perbedaan suhu tersebut maka akan terjadi
pengembunan.
Data alat :
1. Tingggi badan

: 3000 mm

3. Volume air

: 1000 m3

2. Diameter badan

: 1400 mm

4. Tinggi pipa jatuhan

: 12 meter

1
1

3
2
Gambar.3.32 Pompa injeksi
3
1. Saluran air pengumpan
2. Poros digerakkan Elektromotor
3. Impeller
3.5.5 Alat Pengeluaran Air Embun
Alat pengeluaran air embun pada badan I dan II memakai condenspot.
Sedangkan pada badan III dan IV memakai gaya grafitasi. Dimana air yang jatuh
ditampung pada bejana kemudian dipompa ke peti penampungan air condens.
1

2
3

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 80

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Gambar. 3. 33

Pompa penarik air embun

Keterangan :
1. Pipa pengeluaran air embun

2. Kaca penglihat

3. Kempu

4. Pompa

5. Pipa pengeluaran

4. Elektromotor

3.5.6 Manometer Air Raksa dan Logam


Fungsi manometer adalah untuk mengukur tekanan.
A. Manometer air raksa.

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 81

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Gambar. 3.34 Manometer air raksa


Bagian dan fungsi :
1. Botol air raksa penampung air raksa.
2. Selang karet penghubung air raksa dengan uap nira.
3. Papan skala Penunjuk ketinggian air raksa.
Cara kerja :
Pipa karet yang dihubungkan dengan adanya vacum pada badan akan
menarik air raksa, sehingga air raksa akan naik melalui pipa sesuai besarnya
vacuum.

B. Manometer logam

Bagian dan fungsi :


1. Skala Menunjukan tekanan
2. Jarum Penunjuk tekanan
3. Pegas rambut Pengatur gerak
jarum.

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 82

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

4. Pipa bourdon Menggerakkan


jarum penunjuk sesuai dengan
tekanan yang diterima.

Gambar. 3.35 Manometer Logam


Gb. 3. 32 Manometer
logam logam

Cara kerja :
Tekanan yang masuk pipa bourdon akan mengembangkan pipa dan akan
menarik sektor. Sektor yang tertarik akan menggerakkan roda gigi yang
dihubungkan dengan jarum penunjuk. Sehingga jarum penunjuk bergerak sesuai
tekanan.
3.6. Stasiun Masakan
Fungsi stasiun masakan adalah tempat pembentukan Kristal gula.
PG Olean Situbondodalam hal ini memiliki 7 unit pan kristalisasi dengan type
Calendria. Masing masing pan masak menggunakan jet kondensor sendiri-sendiri.

3.6.1 Proses Kristalisasi


Proses kristalisasi dimulai dari penguapan nira sampai mencapai keadaan
lewat jenuh, sehingga Kristal gula dalam nira dapat terbentuk. Tingkat kejenuhan
ada beberapa tingkat yaitu :
1. Larutan encer
Larutan dimana masih dapat melarutkan kristal sukrosa.
2. Larutan jenuh
Larutan yang sudah tidak dapat melarutkan sukrosa.
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 83

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

3. Daerah meta stabil


Daerah pembesaran Kristal namun tidak dapat membentuk kristal baru.
4. Daerah pertengahan (Intermediate)
Daerah dimana molekul sukrosa dalam larutan telah membentu kristal
baru, asalkan dalam larutan sudah terdapat Kristal-kristal gula.
5. Daerah goyah/labil
Daerah dimana sukrosa dalam larutan telah mampu membentuk inti
kristal baru dengan serentak tenpa hadirnya inti kristal yang lain.
Proses kristalisasi dilakukan dengan dua cara
1. Kristalisasi dengan cara memasir sendiri
Dengan berkurangnya kadar air, maka jarak antar molekul sukrosa
dalam larutan menjadi dekat sehingga terjadi gaya tarik menarik antar
molukul. Molekul sukrosa terus bergabung hingga membentuk inti kristal
dan membesar membentuk kristal. Selanjutnya kristal diperbesar dengan
penambahan nira kental.
Cara ini akan membutuhkan waktu lama sehingga hanya dipakai pada
awal

giling sebelum tersedia bibit.

2. Kristalisasi dengan cara penambahan bibit Kristal


Air dalam nira diuapkan sehingga mencapai tingkat kejenuan
tertentu sesuai dengan yang dikehendaki. Kemudian penambahan bibit
dapat dilakukan, keadaan ini dipertahankan dengan penambahan nira
kental bertahap sehingga kristal gula terbentuk sesuai dengan yang kita
inginkan
3.6.2 Pan Kristalisasi
Pan masakan ini memiliki kontruksi yang sama dengan evaporator, hanya
ukuran pipanya lebih pendek dan diameter yang lebih besar. Dalan pan ini terjadi
sirkulasi yang disebabkan adanya perbedaan berat jenis larutan antara masakan
yang dimasak dan masakan yang melepaskan panasnya pada proses badan
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 84

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

pemanas dan penguapan. Artinya masakan bergerak naik melewati badan


pemanas dan penguapan air pada bagian atasnya dan kemudian turun melewati
pipa jiwa
.
Tahap kristalisasi menggunakan system A C D .
A. Tahap kristalisasi masakan A
Bahannya adalah nira kental yang sudah di blacing ditambah gula C
sebagai bibit.
B. Tahap kristalisasi masakan C
Bahan yang dipergunakan adalah stroop A yang ditambahkan gula D
sebagai bibit.
C. Tahap kristalisasi masakan D.
Bahan yang dipergunakan adalah stroop C dan Foundant.

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 85

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Gambar. 3.36 Pan masakan type Calendria


Tabel 3.6.2 Data Pan Masakan
No Pan Masak

Volume

Luas pemanas

Type

Produk gula

1
2
3
4
5
6
7

300 HL
300 HL
300 HL
250 HL
250 HL
350 HL
350 HL

180 m2
180 m2
180 m2
100 m2
100 m2
200 m2
200 m2

Calendria
Calendria
Calendria
Calendria
Calendria
Calendria
Calendria

A
A
A
A
C
D
D

3.6.3 Palung Pendingin


Fungsi palung pendingin adalah untuk menampung gula yang turun dari
masakan dan sekaligus mendinginkan serta tempat terjadinya proses kristalisali
lanjut. Palung pendingin di PG Olean Situbondomemiliki 2 buah type, yaitu type
U ada 15 unit dan type O 3 unit.
.

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember
Gambar. 3.37

Palung pendingan type O

Page 86
Gambar. 3.38 Palung pendingin type U

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Cara kerja palung pendingin adalah gula yang berada dalam peti
penampung diaduk oleh pengaduk berbentuk ulir yang digerakkan oleh
electromotor. Selain akan dingin kristal gula juga akan membesar karena akan
mengikat molekul gula yang masih ada dalam larutan, selain itu agar tidak terjadi
pengendapan.
Tabel 3.6.3 Data Palung pendingin
No Palung
1 s/d 7
8&9
10 s/d 18

Hasil Masakan
A
C
D

Volume
300 HL
275 HL
275 HL

Jenis Pendingin
Udara Terbuka
Udara Terbuka
Udara Terbuka

3.7. Stasiun Puteran dan Penyelesaian


.

Dikatakan stasiun puteran karena proses pemisahan dilakukan pada

saringan yang berputar. Proses pemutaran dilakukan beberapa tingkatan sesuai


dengan produk gula pada proses kristalisasi yaitu :
1. High Grade Fugal
A. Putera gula A
B. Puteran gula SHS
2. Low Grade Fugal
A. Puteran gula C
B. Puteran gula D1
C. Puteran gula D2
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 87

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

1. High Grade Fugal


High Grade Fugal adalah puteran dengan system kerja secara
terputus (batch). Puteran yang digunakan 5 (lima) unit terdiri dari :
A. 3 (tiga) unit puteran A
B. 2 (dua) unit puteran SHS
2. Low Grade Fugal
Low Grade Fugal adalah puteran dengan system kerja secara terus
menerus. Puteran yang digunakan 10 (sepulah) unit terdiri dari :
A. 4 (empat) unit puteran C
B. 5 (lima) unit puteran D1
C. 2 (dua) unit puteran D2
Pruduk gula SHS yang sudah diputer selanjutnya di keringkan lewat talang getar
yang di hembus udara. Gula debu yang terhembus dihisap dan ditangkap Cyclone.
Gula kering yang dihasilkan dibawa oleh tangga yacob menuju penampung gula
dan seterusnya untuk dikemas dalam karung.

3.7.1 Puteran
Puteran berfungsi untuk memisahkan kristal gula dengan larutannya.
3.7.1.1 High Grade Fugal :
Bagian dan fungsi alat :
1. Elektromotor sebagai penggerak poros basket.
2. Rem Untuk menghentikan poros basbet.
3. Klep pemasukan masakan Pengatur masukan masakan.
4. Pipa air Untuk saluran air siraman.
5. Pipa uap Untuk saluran uap pemanas.
6. Poros Tempat kedudukan basket.
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 88

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

7. Katup pengeluaran Sebagai tutup lubang pengeluaran gula.


8. Pengatur ketebalan Untuk mengatur ketebalan masakan yang akan
diputar.
9. Working screen Penahan Kristal gula.
10. Backing screen Tempat kedudukan working screen.
11. Saluran pengeluaran klare Tempat laluan klare keluar.
12. Scraper untuk mengikis gula yang tertahan pada working screen saat
gula diturunkan.
Data alat :
Merk

: Centryfugal TSK

Model

: Fully automatic Centrifugal

Jumlah

: 5 unit

Kapasitas

: 440 lt/cycle

Ukuran basket

: 48 x 30 ( 1220 x 760 mm)

Penggerak

: Elektromotor MSH 350 V/ 50 Hz

Putaran

: 1450 rpm

2
3
4

5
6
7
8
9
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
10
Universitas Jember
11

13
Page 89

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

12

Gambar.3.39 High grade fugal (Centryfugal TSK)


Keterangan :
1. Elektromotor

2. Tempat masakan

3. Kampas Rem

4. Hidraulik penggerak tutup

5. Poros penggerak

6. Pintu masukan masakan

7. Penggerak scraper

8. Pipa air siraman

9. Working screen
11. Katup pengeluran

10. Backing screen


12. Scraper

13. Pipa saluran uap


Cara kerja :
Puteran high grade memiliki 4 tahap tingkat kecepatan saat beroperasi
yang waktunya diatur oleh timmer secara otomatis. Pada awal saat pengisian
puteran berputar denga kecepatan 250 rpm. Kemudian putaran akan semakin cepat
hingga 600 rpm (tingkat II). Air akan menspray untuk membilas. Selesai
pembilasan uap akan disemprotkan untuk pemanasan, ini berlangsung pada
kecepatan tahap III

dengan putaran 950 rpm. Tahap selanjutnya putaran akan

menurun hingga kecepatan 150 rpm saat melakukan scrap hingga kecepatan 50
rpm. Kemudian katup akan membuka dan kristal gula yang bersih akan turun.
3.7.1.2 Low grade fugal
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 90

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

1
2
5

3
11

4
7

9
10
12
13

14

15
Gambar. 3.40 Low Grade Fugal
Bagian dan fungsi alat :
1. Feed mixer

: Penampung masakan sebelum disalurkan ke puteran.

2. Valve

: Sebagai pembuka / penutup saluran pemasukan

3. Pipa air

: Saluran air untuk siraman atau pelarut stroop.

4. Corong

: Alat pengatur masuknya masakan ke dalam basket.

5. Pipa uap

: Saluran uap atau krengsengan untuk pembersihan.

6. Pembilas saringan

: Saluran air pencuci saringan puteran.

7. Working screen

: Untuk memisahkan gula dengan stroop, tetes, klare D.

8. Backing screen

: Saringan dibelakang working screen sebagai penahan.

9. Basket

: Tempat saringan dan masakan diputar.

10. Ruang pemisahan

: Tempat stroop, tetes, klare D setelah di pisahkan

11. Tabung contoh

: Tempat mengambil contoh gula yang akan dianalisa.

12. Pipa pengeluaran

: Saluran pengeluaran stroop,tetes, klare D

13. Motor listrik

: Untuk menggerakkan atau memutar basket

14. Ruang gula

: Tempat gula atau kristal hasil pemutaran.

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 91

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

15. Lubang pengeluaran

: Saluran untuk mengeluarkan gula.

Data data alat :


A. Puteran Gula C.
Merk

: BMA Braumachweiq

Jumlah

: 4 unit

Kapasitas

: 3 5 ton/jam

Putaran

: 2850 rpm

Ukuran basket

: 850 x 430 mm

Elektromotor

: 30 PK

B. Puteran Gula D1.


Merk

: BMA Braumachweiq

Jumlah

: 5 unit

Kapasitas

: 3 5 ton/jam

Putaran

: 2850 rpm

Ukuran basket

: 850 x 430 mm

Elektromotor

: 37 kw

C. Puteran Gula D2.


Merk

: Westrern States machine Co. USA

Jumlah

: 2 unit

Kapasitas

: 6,4 ton / jam

Putaran

: 2200 rpm

Ukuran basket

: 939 x 475 mm

Elektromotor

: 45 kw

Cara kerja :
Puteran Low Grade digunakan untuk memisahkan kristal yang terbentuk pada
masakan C dan D dari larutan berupa klare dan tetes.
Masakan yang masuk melalui corong dalam tromol akan mendapat gaya
centrifugal dari puteran tromol, sehingga larutan akan melewati saringan dan
kristal akan bergerak ke atas.
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 92

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

3.7.2 Alat Pengering Gula


Fungsi alat pengering gula (Sugar dryer)adalah untuk mengeringkan gula.
1

2
2
3
4
5

Gambar. 3.41 Alat pengering gula


Keterangan :
1. Corong masuk gula

2. Saluran udara dan debu gula

3. Saluran udara kering dan panas

4. Saluran udara kering dan dingin

5. Saluran pengeluaran gula

6. Pegas

7. Elektromotor

8. Stang eksentrik

Bagian dan fungsi alat :


1. Saluran udara kering dan panas untuk masukan udara panas agar
kandungan air dalam gula rendah.
2. Saluran udara kering dan dingin untuk masukan udara dingin agar gula
menjadi dingin setelah pemanasan.
3. Saluran pemasukan gula digunakan untuk memasukkan gula yang akan
dikeringkan dari bucket elevator (tangga yacob).
4. Elektromotor penggerak talang getar.
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 93

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

5. Saluran udara dan debu gula tempat laluan debu gula yang ditarik
Exhaust Fan
6. Kain sebagai sekat penghubung lubang penarik udara dan debu gula.
7. Pegas dipakai penahan getaran talang.
8. Stang exentric pembuat getaran pada talang.
9. Saluran pengeluaran gula tempat laluan gula yang keluar dari talang.
Cara kerja alat:
Gula yang telah berada dalam talang akan berloncatan maju karena getaran.
Ketika berloncatan, bagian sugar dryer diberi hembusan udara kering dan
panas. Sehingga kering dan gula debu beterbangan. Disaat beterbangan gula debu
akan dihisap dan ditangkap oleh cyclone sehingga jatuh pada penampung debu.
3.7.3 Saringan gula
Fungsi saringan gula (Vibrating screen) untuk memisahkan gula kasar/krikilan
dan gula halus dari produk yang standart

5
6
7

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 94

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

10

Gambar. 3.42 Vibrating screen


Keterangan :
1. Saluran masuk gula

2. Badan saringan

3. Saringan I

4. Saringan II

5. Saluran keluar gula kasar

6. Saluran keluar gula produk

7. Saluran keluar gula halus

8. Pegas

9. Elektromotor

10. Stang eksentrik

Bagian dan Fungsi :


1. Saluran masuk gula tempat maasuknya gula dari sugar dryer.
2. Saringan untuk memisahkan gula kasar/krikilan dan gula produk.
3. Elektromotor penggerak saringan.
4. Pegas untuk menahan getaran.
5. Stang exentric pembuat getaran.
6. Rubber ball digunakan untuk menumbuk gula yang menggumpal.
Saringan terdiri 3 (tiga) susun denagn ukuran 4 x 4 mesh, 7 x 7 mesh dan 23 x
23 mesh. Saringan 4 x 4 mesh dan 7 x 7 mesh untuk menahan gula kasar dan
ukuran 23 x 23 untuk menahan gula produk. Kecepatan motor penggerak 1450
rpm. Dengan direduser oleh pully dan vant belt kecepatan gerak stang akan
berkurang. Sedangkan kecepatang hantar gula diatas saringan menjadi 30 meter
tiap menit.
3.7.4 Alat Pelebur Gula
Fungsi alat pelebur gula adalah untuk melarutkan gula kasar atau krikilan
dan gula halus dengan air atau nira encer. Sehingga akan diperoleh larutan gula
yang bebas dari kristal. Leburan gula tersebut dipompa kembali ke peti tampung
nira kental tersulfitir untuk bahan masakan.
1
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

2
Page 95

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

4
3

5
6
7

Gambar. 3.43 Alat pelebur gula


Keterangan :
1. Roda gigi penggerak

2. Roda penghantar

3. Elektromotor

4. Lobang amberan

5. Peti

6. Pengaduk

7. Lobang pengeluaran

3.7.5 Timbangan Tetes


Tetes yang dihasilkan dari puteran gula D1 ditimbang agar diketahui
beratnya. Tetes kemudian dipompa langsung ke tangki penampung tetes (gudang
tetes).

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 96

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

2
3
5

Gambar. 3.44 Timbangan Tetes


Keterangan :
1. Jarum timbangan

2. Lengan timbangan

4. Saluran pengeluaran

5. Penumpu

3.Gandar timbangan

Palung
pendingin
Timbangan
tetes

Puteran
DI
Bak
penampung

Peti penampung
tetes
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Tangki tetes
Page 97

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

Gambar. 3.45 Bagan perjalanan tetes


3.7.6 Pengepakan
Gula yang sudah berada dalam sugar bin kemudian di kemas dalam karung
goni (zak) dengan dilapisi plastic didalamnya agar kebersihan dan kelembapan
gula dapat terjaga. Gula ditimbang secara otomatis di Backing Scale dengan berat
50 kg dan dimasukkan ke dalam zak. Dengan bantuan conveyor zak yang telah
berisi gula kemudian di chek keakuratan timbangannya pada chek scale merk
DIGI Type DI. 28SS
3.7.7 Gudang Gula
Gudang gula adalah tempat penyimpanan hasil produksi selama giling.
PG Olean Situbondo memiliki 1 (satu ) gudang gula dengan kapasitas sebagai
Berikut: A.Gudang gula dalam implasement pabrik 3 buah yaitu :
1. Gudang no. 1 kapasitas 30 ton.
2. Gudang no. 2 kapasitas 40 ton.
3. Gudang no. 3 kapasitas 20 ton.
Untuk menjaga agar gula tidak rusak maka sebelum disimpan gudang gula
harus dilapisi dengan susunan paling dasar adalah pasir, diatasnya balok kayu.
Setelah balok kayu diatasnya diberi zakzak (anyaman bambu) lalu tikar dan
terakhir zak-zak lagi, baru kemudian karung berisi gula bisa ditata. PG Olean
Situbondo dalam penyusunan tumpukan menggunakan kunci 9 dan 6 .
Alat-alat khusus yang dipakai dalam gudang antara lain :
1. Higrometer digunakan untuk mengukur kelembapan udara.
2. Thermometer digunakan untuk mengetahui suhu ruangan
3. Alat pemadam kebakaran
Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik
Universitas Jember

Page 98

LAPORAN KERJA PRAKTEK 2


PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XI (PERSERO)
PG. OLEAN-SITUBONDO

3.7.8 Tangki Tetes


Fungsi tangki tetes adalah tempat penyimpanan tetes.
PG Assembagoes memiliki 3 (tiga) buah tangki tetes dan 1 (satu) buah jeding
tetes.
Tabel. 3.7.8. Data tangki tetes
Diameter

tinggi

Luas
171,946

Volume

Kapasitas

Tangki I

14,8 m

7,15 m

m2
171,946

1229,4 m3

1500 ton

Tangki II

14,8 m

7,5 m

m2
136,778

1229,6 m3

1600 ton

Tangki III
Jedingan

13,2 m
56 x 17 m

7.5 m
2,5 m

m2
952 m2

1025,8 m3
2380 m3
5924,8 m3

1300 ton
2500 ton
6900 ton

Strata 1 Teknik Mesin Fakultas Teknik


Universitas Jember

Page 99