Anda di halaman 1dari 10

Gangguan tidur

Mimpi buruk adalah mimpi menakutkan yang terjadi selama tidur REM (rapid eye movement). Seorang anak yang mengalami mimpi buruk biasanya akan benar-benar terbangun dan dapat mengingat kembalimimpinya secara terperinci. Mimpi buruk yang terjadi sewaktu-waktu adalah hal yang normal, dan satu-satunya tindakan yang perlu dilakukan orang tua adalah menenangkan anak. Tetapi mimpi buruk yang sering terjadi adalah abnormal dan bisa menunjukkan masalah psikis. Pengalamam yang menakutkan (termasuk cerita menakutkan atau film tentang kekerasan di televisi) bisa menyebabkan terjadinya mimpi buruk. Hal ini terutama sering ditemukan pada anak-anak yang berumur 3-4 th, karena mereka belum bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan. Teror dimalam hari adalah suatu keadaan dimana sesaat setelah tertidur anak setengah terbangun dengan kecemasan yang luar biasa. Anak tidak dapat mengingat kembali apa yang atelah dialaminya. Tidur sambil berjalan adalah suatu keadaan dimana dalam keadaan tertidur anak bengkit dsari tempat tidurnya dan berjalan-jalan. Teror dimalam hari dan tidur sambil berjalan biasanya berlangsung selama tidur dalam (Non REM) dan terjadi dalam 3 jam pertama setelah anak tertidur. Tiap episode berlangsung dari beberapa detik sampai beberapa menit. Teror dimalam hari sifatnya dramatis karena nak menjerit-jerit dan panik, keadaan ini paling sering ditemukan pada anak yang berumur 3-8 th. Untuk anak yang susah tidur bisa dilakukan beberapa tindakan berikut: 1. Ajak anak kembali ketempat tidurnya. 2. Berikan cerita yang pendek. 3. Tawari untuk ditemani oleh boneka atau selimut kesayangannya. 4. Gunakan lampu redup. 5. Masalah Pelatihan Buang Air (Toileting) Pelatihan buang air besar biasanya mulai dilakukan pada saat anak berumur 2-3 tahun, sedangkan pelatihan buang air kecil dilakukan pada umur 3-4 tahun. Pada umur 5 tahun, kebanyakan anak sudah dapat melakukan buang air sendiri; melepas pakaian dalamnya sendiri, membersihkan dan mengeringkan penis, vulva maupun anusnya sendiri serta kembali memakai pakaian dalamnya sendiri. Tetapi sekitar 30% anak berusia 4 th dan 10% anak berusia 6 th masih mengompol pada malam hari. Cara terbaik untuk menghindari masalah pelatihan buang air (toilet training) adalah dengan mengenali kesiapan anak.

Adapun tanda dari kesiapan anak adalah: 1. Selama beberapa jam pakaian dalamnya masih kering. 2. Anak menginginkan pakaian dalamnya diganti jika basah. 3. Anak menunjukkan ketertarikannya untuk duduk di atas Potty Chair (pispot khusus untuk anakanak) atau diatas toilet (jamban, kakus). 4. Anak mampu mengikuti petunjuk atau aturan lesan yang sederhana. Kesiapan anak biasanya terjadi pada usia 24-36 bln. Metode toilet training yang banyak digunakan adalah metode timing. Anak yang tampaknya sudah siap diperkenalkan kepada potty chair dan secara bertahap diminta untuk duduk diatasnya sebentar saja dalam keadaan berpakaian lengkap. Kemudian anak diminta untuk melepaskan pakaian dalamnya sendiri, lalu duduk di atas potty chair selama tidak lebih dari 5-10 mnt. Hal itu dilakukan sambil ibu memberikan penjelasan bahwa swkarang sudah saatnya anak untuk melakukan BAB/BAK ditempatnya (maksudnya pada potty chair/kloset) buka di pakaian dalam atau popok. Jika Anak sudah bisa melakukannya, ibu boleh memberikan pujian ataupu hadiah. Tetapi jika anak belum bisa melakukannya, ibu sebaiknya tidak memarahi ataupun menghukum anak. Metode timing efektif untuk anak-anak yang memiliki jadwal BAB/BAK yang teratur. Metode toilet training lainnya menggunakan boneka sebagai alat bantu. Kepada anak yang sudah siap diajarkan cara-cara toilet training dengan menggunakan boneka sebagai model. Ibu memberikan pujian kepada boneka karena pakaian dalamnya kering dan telah berhasil melewati setiap proses toilet training. Kemudian ibu meminta anak untuk menirukan proses toliet training dengan bonekanya secara berulang-ulang, anak juga diajari untuk memuji bunekanya. Selanjutnya anak menirukan apa yang telah dilakukan oleh bonekanya dan ibu memberikan pujian kepada anak. Jika anak tetap bertahan duduk di toilet sebaiknya diangkat dan toilet training dicoba kembali setelah anak makan. Tetepi jika hal ini berlangsung selama beberapa hari sebaiknya tolet traing ditunda selama beberapa minggu. Sangat penting untuk memberika pujian kepada anak yang telah berhasil melakukan toilet training. Setelah pola BAB/BAK stabil secara perlahan pujian mulai dikurangi. Memaksa anak untuk BAB/BAK di toilet dengan kekerasan tidak efektif dan bisa menyebabkan ketegangan pada hubungan ibu-anak. a) Insomnia Pengertian insomnia mencakup banyak hal. Insomnia dapat berupa kesulitan untuk tidur atau kesulitan untuk tetap tidur, bahkan seseoranng yang terbangun dari tidur tapi merasa belum cukup tidur

dapat di sebut mengalami insomnia (japardi 2002). Jadi insomnia merupakan ketidak mampuan untuk mencukupi kebutuhan tidur baik secara kualitas maupun kuantitas. Insomnia bukan berarti seseorang tidak dapat tidur/kurang tidur karena orang yang menderita insomnia sering dapat tidur lebih lama dari yang mereka pikirkan, tetapi kualitasnya berkurang. Jenis insomnia yaitu : 1. insomnia insial adalah ketidakmampuan seseorang untuk dapat memulai tidur. 2. insomnia intermiten adalah ketidakmampuan seseorang untuk dapat mempertahankan tidur atau keadaan sering terjaga dari tidur. 3. insomnia terminal adalah bangun secara dini dan tidak dapat tidur lagi. Beberapa factor yang menyebabkan seseorang mengalami insomnia yaitu rasa nyeri, kecemasan, ketakutan, tekanan jiwa kondisi, dan kondisi yang tidak menunjang untuk tidur. Berbagai penyebab sering disebut adalah gangguan keadaan emosialpsikologi,demam yang tinggi, stres atau posisi tidur yang terganggu. b) Somnambulisme Merupakan gangguan tingkah laku yang sangat kompleks mencakup adanya otomatis dan semipurposeful aksi motorik, seperti membuka pintu, duduk di tempat tidur, menabrak kursi,berjalan kaki dan berbicara. Termasuk tingkah laku berjalan dalam beberapa menit dan kembali tidur (Japardi 2002). Lebih banyak terjadi pada anak-anak, penderita mempunyai resiko terjadinya cidera. c) Enuresis Enuresis adalah kencing yang tidak di sengaja (mengompol) terjadi pada anak-anak, remaja dan paling banyak pada laki-laki, penyebab secara pasti belum jelas, namun ada bebrapa faktor yang menyebabkan Enuresis seperti gangguan pada bladder, stres, dan toilet training yang kaku.

Enuresis fungsional Merupakan gangguan dalam pengeluaran urine yang involunter pada waktu siang atau malam hari pada anak yang berumur lebih empat tahun tanpa adanya kelainan fisik maupun penyakit organic. Kondisi ini terdapat pada anak umur empat tahun ke atas mengingat pada umur tersebut kondisi sfingter eksterna vesika urinaria sudah mampu dikontrol akan tetapi pada usia demikian tetap belum bias, hal tersebut dapat disebabkan beberapa factor di antaranya kegagalan dalam toilet training pada anak dan adanya negative reinforcement(pemberian hukuman lebih ditekankan dari pada pujian) sehingga terjadi kegagalan dalam proses berkemih sehingga dapat terjadi enuresis fungsional. Keadaan demikian apabila berlangsung lama dan panjang maka akan mengganggu tugas dalam perkembangan anak. 1. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kerusakan transfer oksigen, gangguan metabolisme,kerusakan eliminasi,,pengaruh obat,imobilisasi, nyeri pada kaki, takut operasi, lingkungan yang mengganggu.

2. Cemas berhubungan dengan ketidak mampuan untuk. tidur, henti nafas saat tidur,a(sleep apnea) dan keetidak mampuan mengawasi prilaku. 3. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan insomnia. 4. Gangguan ukaran gas berhubungan henti nafas saat tidur. 5. Potensial cidera berhubungan dengan Semnambolisme. 6. Gangguan konsep diri berhubungan dengan penyimpangn tidur hipersomia. b) Bila faktor insomnia maka Anjurkan pasien memakan makanan yang berprotein tinggi sebelum tidur. Anjurkan pasien tidur pada waktu sama dan hindari tidur pada waktu siang dan sore hari. Anjurkan pasien tidur saat mengantuk. Anjurkan pasien mennghindari kegiatan yang membangkitkan minat sebelum tidur. Anjurkan pasien menggunakan teknik pelepasan otot serta meditasi sebelum tidur. c) Bila terjadi somabulisme, maka : Berikan rasa aman pada diri pasien Bekerjasama dengan diazepam dalam tindakan pengobatan. Cegah timbulnya cidera. d) Bila terjadi enuresa, maka : Anjurkan pasien mengurangi minum beberapa jam sebelum tidur. Anjurkan pasien mel akukan pengosongan kandungan kemih sebelum tidur. Bangunkan pasien pada malam hari untuk buang air kecil. Masa Sebelum Sekolah : Berikan kebiasaan waktu tidur malam dan siang secara konsisten. Tempel jadwal tidur Berikan aktivitas yang tenang sebelum tidur. Dukung aktivitas pereda ketegangan seperti bercerita Sering perlihatkan ketergantungan selama menjelang tidur. Berikan rasa aman dan nyaman Nyalakan lampu agak terang PENGKAJIAN TIDUR Kebanyakan individu dapat memberi perkiraan yang akurat dan beralasan tentang pola tidur mereka, terutama jika terjadi suatu perubahan. Salah satu metode yng singkat dan efektif untuk mengkaji kualitas tidur adala dengan menggunakan skala analog visul ( closs, 1988). Perawat membuat sebuah garis horizontal sepanjang kira-kira 10 cm. Tulis pernyataan-pernyataan yang berlawanan seperti tidur malam yang terbaik dan tidur malam yang terburuk pad setiap ujung garis. Klien diminta untuk memberi tnda titik pada garis yang menandakan persepsi mereka terhadap tidur malam.pengkajian juga dilakukan untuk

mengetahui kebiasaan-kebiasaan yng dilakukan sebalum tidur, apakah klien harus membaca dulu sebelum tidur, maka perawat menawarkan buku bcaan kepada klien. Ataupun kebiasaan-kebiasaan yang lainnya. Sumber untuk pengkajian tidur. Biasanya klien merupakan sumber yang terbaik untuk menggambarkan masalah tidur dan sampai sejauh mana masalah tersebut mengubah pola tidur dan bangun mereka yang biasa. Seringkali klien mengetahui penyebab masalah tidur tersebut, seperti kebisingan lingkungan atau kekhawatiran akan suatu hubungan. Pada saat merawat anak-anak, perawat perlu mencari informasi tentang pola tidur dari orang tua karena biasanya mereka dlah sumber informasi yang baik tentang mengapa anak mereka mengalami msalah tidur. Riwayat tidur Untuk memulai perawat perlu terlebih dahulu memahami sifat dari masalah tidur, tnd dan gejalanya, awitan dan durasinya, keparahannya, dan adanya faktor pencetus atau penyebab-penyebabnya, serta efeknya secara umum pada klien. Pertanyaan-pertanyaan pengkajian antara lain mencakup: 1. sifat dari masalah : beritahu saya jenis masalah tidur apa yng anda alami. Beritahu saya mengapa anda beranggapan bahwa tidur anda tidak adekuat. Jelaskan pada saya tentang karakteristik tidur malam anda. Seberapa jauh perbedaan tidur anda sat ini dari tidur anda yng dulu? 2. Tanda dan gejala : apakah anda mengalami kesulitan untuk tidur, tetap tidur atau untuk bangun ? 3. Awitan dan durasi : kapan pertama kali anda menyadari masalah ini ? 4. Keparahan : berapa lama waktu yng anda butuhkan untuk tertidur? 5. Faktor pencetus : beritahu saya apa yang and lakukan sesaat sebelum tidur? 6. Efek pada klien : bagaimana pengaruh tidur ini bagi anda ? Pola tidur biasa. Mengetahui pola tidur klien yang biasa dan disukai memungkinkan perawat untuk mencoba menyesuaikan kondisi tidur dilingkungan layanan kesehatan dengan kondisi tidur dirumah. Untuk menentukan pola tidur klien perawat mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut : 1. Pukul berapa biasanya anda naik ketempat tidur setiap malam ? 2. Pukul berapa biasanya anda tertidur ? apakah abda melakukan sesuatu yang khusus untuk membantu anda tertidur ? 3. Berapa kali anda terbangun dimalam hari ? mengapa anda beranggapan bhwa nd terbangun ? apa yang anda lakukan terhdp hal yang membuat anda bangun tersebut ? 4. Pukul berapa biasanya anda terbangun di pagi hari ? 5. Pukul berapa anda turun dari tempat tidur setelah anda terbangun ? 6. Berapa jam rata-rata anda tidur disetiap malam ? Pengelompokan data Data subjektif a. klien mengatakan mengalami gangguan tidur insomnia b. klien mengatakan tidurnya sering terbangun dan susah untuk tidur kembali c. klien mengatakan saat terbangun kepalanya pusing dan sat pertama kali tidur kepala seperti berputar-putar d. klien mengatakan mengalami masalah tidur sejak 2 bulan yang lalu e. klien mengatakan kesulitan tertidur setiap hri f. klien mengatakan butuh waktu 2-4 jam untuk tertidur namun 1-3 kemudian terbangun dn susah untuk tidur kembali g. klien mengatakan sebelum tidur biasanya melihat tv sebentar h. klien mengatakan saat beraktivitas merasa kelelahan dan keletihan Data objektif a. Klien terlihat kelelahan b. Terlihat lingkar hitam disekitar mata c. Wajah terlihat kusam d. Terlihat gelisah

e. f. 1. a. b. c. 2. a. b. c. 3. a. b. c. d. 4. a. b. c. d.

Tidur selalu terbangun Tidur tidak pernah tenang Pemeriksaan fisik Tingkat energi terlihat kelelahan kelemahan fisik terlihat lesu Ciri-ciri diwajah mata sipit kelopak mata sembab, mata merah semangat Ciri-ciri tingkah laku oleng/ sempoyongan menggosok-gosok mata bicara lambat sikap loyo Data penunjang yang menyebabkan adanya masalah potensial obesitas deviasi septum TD rendah RR dangkal dan dalam

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Gangguan pola tidur : insomnia (kesulitan masuk tahap tidur) sd khawatir tentang keluarga b. Gangguan pola tidur : insomnia ( kesulitan mempertahankan tidur) S/D lingkungan rumah sakit yang gaduh c. Gangguan pola tidur : insomnia ( bangun terlalu awal) S/D kurang pengetahuan tentang bantuanbantuan sebelum tidur (selain obat) dan ketagihan barbiturate d. Gangguan pola tidur : hipersomnia b/d perubahan siklus, ketidakmampuan mengatasi stres yng berlebihan e. Gangguan pola tidur (kehilangan tidur REM ) S/D rasa tidak nyaman O.K. nyeri f. Kecemasan s/d : 1. ketidakmampuan masuk dalam tahap tidur 2. ketidakmampuan mengontrol perilaku saat tidur 3. henti napas saaat tidur g. Perubahan rasa nyaman s/d kehilangan / kkurangan waktu tidur h. Koping individu tidak efektif s/d insomnia i. Ketakutan s/d narcolesi j. Potensi injury s/d narcolesi, somnabulisme, sleep apnea k. Harga diri rendah s/d noctural eneurisme 3. INTERVENSI Kurangi kebisingan Atur prosedur untuk memberi jumlah terkecil gangguan selama periode tidur (mis. Sewaktu individu bangun untuk pemberian obat juga lakukan tindakan dan ukur tanda vital) Jika berkemih malam mengganggu, batasi asupan cairan waktu malam dan berkemih sebelum tidur. Tetapkan bersama individu suatu jadwal untuk program ktivitas sepanjang waktu (jalan, terapi fisik) Batasi jumlah dan panjang waktu tidur jika berlebihan Kaji waktu rutin bersama individu, keluarga, atau oarang tua-waktu, praktik kebersihan, ritual

Batasi asupan minuman yang mengandung kafein sore hari Hindari alkohol Pertahankan waktu tidur teratur dan waktu bangun Menyusun rutinitas untuk persiapan tidur Perthankan ruang tidur agak dingin Gunakan penutup telingan bila kebisingan menjadi masalah Jangan latihan dalan 3 jam

4. IMPLEMENTASI Lingkungan yang aman a. Memberikan comfortable bed sprei harus bersih dan tegang/tidak banyak lipatan serta bahannya halus selimut harus aman, tidak berat/tidak menekan kaki dan bahannya lembut b. Mengatur posisi tubuh klien sejajar / posisi tertentu yang rileks c. Mengatur lingkungan yang aman untuk tidur : suasana tenang ; redup ; privacy ; situasi yang mirip situasi rumah d. Mengatur ventilasi kamar e. Memelihara suhu kamar Lingkungan yang aman dari suara f. suara langkah orang berjalan g. suara percakapan h. lingkungan yang asing i. pengunjung yang banyak j. suara pintu yang ditutup k. suhu lingkungan yang panas/sangat dingin l. kamar yang sempit/pengap m. kamar yang kurang privacy Memenuhi keb. Psiko-spiritual n. membaca majalah o. mendengarkan radio p. menonton tv q. mendongeng r. berdoa s. gosok gigi, cuci muka/tangan/kaki Pada anak-anak t. memberikan mainan kesukaannya u. mendengar dongeng v. memberikan good night kiss w. berdoa bersama sebelum tidur 5. EVALUASI Setiap kegiatan yang akan dilakukan perawat harus direncanakan, dilakukan dan yang terakhir adalah mengevaluasi semua kegiatan atau proses keperawatan yang telah tilakukan apakah proses tersebut berhasil atau tidak. Jika proses tersebut tidak berhasil maka harus mengulangnya. Fisiologiskah mengompol usia 5 tahun Sebagian besar kasus ngompol pada anak dapat sembuh dengan sendirinya ketika usia anak mencapai 10 15 tahun. Hanya sekira 1 dari 100 anak yang masih tetap ngompol setelah usia 15 tahun. Bila diabaikan, hal ini akan berpengaruh bagi anak. Biasanya, anak menjadi tak percaya diri, rendah diri, malu, dan hubungan sosial dengan teman-temannya pun terganggu. Dalam dunia kedokteran, ngompol-tidak dapat menahan keluarnya air kencing dikenal dengan istilah enuresis. Lebih khusus lagi, ngompol yang terjadi ketika tidur pada malam hari biasa disebut nocturnal enuresis. Ngompol masih

dianggap normal bila terjadi pada anak balita. Namun, jika anak di atas usia 5 atau 6 tahun masih ngompol, setidaknya 2 kali dalam sebulan, hal ini perlu mendapat perhatian khusus. Faktor yang mempengaruhi euresis Masalah psikologis. Beberapa anak mengompol, ternyata mengalami ketakutan, kekhawatiran, dan ketidaknyamanan di lingkungan sekolah atau rumahnya. Sebagian lainnya, mengalami rasa tidak bahagia karena kurang mendapat perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya, antara lain karena bersaing dengan adiknya yang baru lahir atau masih bayi. Tidur terlalu nyenyak. Pada sebagian anak yang mengompol, orang tuanya mengeluhkan anak mereka kalau tidur sangat sulit untuk dibangunkan. Ini merupakan salah satu ciri khas pada anak-anak yang mengalami gangguan mengompol. Gangguan pernapasan. Dari hasil riset yang dilaporkan New Scientist disebutkan anak-anak yang menderita gangguan pernapasan akibat kelainan bentuk pada langit-langit rongga mulutnya, mengalami masalah mengompol. Infeksi saluran kemih. Penyakit infeksi ini agak susah diketahui karena bisa tidak bergejala. Kalaupun ada, gejalanya rasa ingin buang air kecil, demam ringan, nyeri, dan rasa seperti terbakar pada saluran kemih atau ginjal. Gangguan hormon ADH. Hormon ADH (antidiuretic hormone) yang berfungsi memberitahu ginjal untuk mengurangi jumlah urin yang diproduksi. Beberapa orang menghasilkan hormon ADH yang tidak tepat di malam hari sehingga produksi urin tetap tinggi. Atau bisa juga produksi hormon ADH yang cukup tapi tidak direspon oleh ginjal sehingga terus menghasilkan jumlah urin yang sama seperti siang hari. Kandung kemih yang lebih kecil. Umumnya kapasitas dari kandung kemih penderita nocturnal enuresis untuk menampung urin lebih kecil dibanding dengan orang yang tidak mengompol. Jika jumlahnya melebihi kapasitas dan tidak mampu menahan, menyebabkan otot-otot pada kandung kemih tegang yang kemudian menyebabkan buang air kecil berlebih. 2.3. Tahap Tahap Tidur Tanda-tanda menjelang tidur : Suhu badan (SB) menurun Pernapasan melambat Otot2 rileks Menguap.(tanda tubuh beradaptasi akibat pernapasan melambat) Basic Rest Activity Cycle (BRAC): NREM (Non Rapid Eye Movement) Slow wave sleep, yang terdiri dari 4 tahap : Tahap I : o Mulai saat hilangnya Gel Alpha yang biasa terdapat pada seseorag yang sedang terjaga. o Muncul gel2 yang tidak sinkron, frekuensi bercampuran dan voltase rendah. o Merasa ingin tidur, bila banyak pikiran akan mudah dibangunkan. o Merupakan tidur paling dangkal, berlangsung selama beberapa detik beberapa menit. Tahap II : o Merupakan tidur yang tidak dalam. o Muncul gel yang berbentuk seperti spindel dengan voltase lebih tinggi, runcing2 (Gel K) o Berlangsung 5-10 menit. Tahap III : o Merupakan tidur yang dalam. o Muncul gel Deltha, yang lambat dengan amplitudo besar, tinggi dan dalam.

o Biasanya sulit dibangunkan. o Berlangsung 10 menit Tahap IV : o Tidur yang paling dalam. o Pada EEG dipenuhi Gel Deltha. o Sangat sulit dibangunkan. o Terjadi mimpi sehubungan dengan kejadian sehari sebelumnya. o Lamanya 5-15 menit o Terjadi perubahan fisik : o Nadi & pernapasan melambat o TD turun o Otot-otot sangat rileks o Basal metabolisme dan SB menurun REM (Rapid Eye Movement) Paradoksical sleep- sebagai puncak Tidur : Sangat sulit dibangunkan. Pada orang dewasa tahap ini 20-25% dari tidur malam, bila seseorang terbangun pada tahap ini mereka dapat mengingat mimpi mereka. Biasanya terjadi 80-100 menit setelah orang tertidur. Semakin lelah seseorang makin cepat mengalami tahap ini . Karakteristik Tahap REM : Terjadi pada tahap II NREM dan berlangsung selama 5-10 menit. Kembali ke tahap II NREM lagi. Saat perpindahan dari NREM ke REM biasanya terjadi hentakan otak yang tidak disadari. TD menngkat. Sekresi getah/asam lambung meningkat Basal metabolisme dan SB meningkat Terjadi mimpi yang menyenangkan, bersemangat dan sibuk. Orang yang tidak mengalami periode REM biasanya tidak merasa puas dengan tidurnya. Orang biasanya mengalami 4-5x masa REM 2.4. Kegunaan Tidur (Delment & Wolman ) Beradaptasi terhadap rangsangan yang dapat menimbulkan kecemasan. Memperbaiki ingatan. Mempermudah mempelajari sesuatu serta dalam mengatasi masalah-masalah yang sulit. Relaksasi 2.5. Kebutuhan Tidur Rata Rata Perhari Bayi baru lahir : Lama tidur 14-18 jam/hari dengan 50% REM dan 1 siklus tidur rata-rata 45-60 menit Bayi(s/d 1 thn) : 1 siklus tidur rata2 12-14 jam/hari dengan 20-30% REM dan tidur sepanjang malam Todler(1-3 thn): Lama tidur 11-12 jam/hari dengan 25% REM dan Tidur sepanjang malam + tidur siang Pra sekolah : 11 jam/hari dengan 20% REM Usia sekolah : 10 jam/hari dengan 18,5% REM Usia sekolah : 10 jam/hari dengan 18,5% REM Adolescent : 8,5 jam/hari dengan 20% REM Dewasa muda : 7-8 jam/hari dengan 20-25% REM Dewasa menengah : 7 jam/hari dengan 20% REM dan sering sulit tidur Dewasa tua : 6 jam/hari dengan 20-25% REM dan sering sulit tidur PENATALAKSANAAN gangguan tidur pada anak

Penanganan gangguan tidur pada anak , harus dilakukan pendekatan pencarian penyebab dan mengatasi penyebabnya Penanganan gangguan tidur karena alergi makanan pada anak haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan gangguan tersebut tetapi yang paling ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi tersebut. Penghindaran makanan penyebab alergi pada anak harus dicermati secara benar, karena beresiko untuk terjadi gangguan gizi. Sehingga orang tua penderita harus diberitahu tentang makanan pengganti yang tak kalah kandungan gizinya dibandingklan dengan makanan penyebab alergi. Penghindaran terhadap susu sapi dapat diganti dengan susu soya, formula hidrolisat kasein atau hidrolisat whey., meskipun anak alergi terhadap susu sapi 30% diantaranya alergi terhadap susu soya. Sayur dapat dipakai sebagai pengganti buah. Tahu, tempe, daging sapi atau daging kambing dapat dipakai sebagai pengganti telur, ayam atau ikan. Pemberian makanan jadi atau di rumah makan harus dibiasakan mengetahui kandungan isi makanan atau membaca label makanan. Obat-obatan simtomatis anti histamin dapat digunakan dalam keadaan yang tidak ringan dan sulit untuk diatasi dengan pendekatan biasa. Penggunaan obat sebaiknya digunakan hanya sementara dan bila sangat perlu bukan untuk digunakan jangka panjang Konsumsi obat-obatan, konsumsi susu formula yang mengklaim bisa membuat nyenyak tidur, terapi tradisional ataupun beberapa cara dan strategi untuk membuat tidur nyenyak pada anak tidak akan berhasil selama penyebab utama gangguan tidur pada anak karena alergi makanan tidak diperbaiki. Orang tua secara psikologis harus memberi perhatian dan dorongan baik langsung maupun dari sikap kita seperti menciptakan keharmonisan, menjaga hubungan antara anggota keluarga yang baik. Bagi orangtua hal penting lainnya adalah memperhatikan jadwal tidurnya. Untuk mencegah dari bahaya yang dapat terjadi sebaiknya di kamar penderita sleepwalking dihindarkan dari barang-barang yang mudah pecah dan tajam. Usahakan untuk mengunci rapat semua pintu dan jendela saat hendak tidur, dan sebaiknya menaruh kunci-kunci yang sedikit susah untuk dijangkau. Karena biasanya penderita dapat mengenali pintu dan jalan-jalan dalam rumah. Secara medis, parasomnia tidak memiliki standar cara pengobatan yang baku. Namun ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari oleh penderita, seperti porsi tidur yang kurang. Seorang anak karena asyik bermain akan melupakan tidurnya. Berbagai terapi non medis dan alternative yang biasa dilakukan adalah terapi yang dapat dilakukan seperti psikoterapi, relaksasi, hipnotis dan meditasi.