Anda di halaman 1dari 8

PERANAN ILMU FORENSIK DALAM PROSES KEADILAN I.

Dasar Perkebangan Ilmu pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) disamping berpengaruh pada tingkat kehidupan, juga dapat menimbulkan dampak negatif dengan munculnya kejahatan dengan memamfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut. Untuk dapat mengatasi segala tindak kejahatan mulai dari yang tradisional hingga memamfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi haruslah diterapkan Scietific Crime Investigation (SCI). SCI adalah penyelidikan/penyidikan kejahatan secara ilmiah yang didukung oleh berbagai disilin ilmu murni maupun terapan yang dikenal dengan ilmu forensic.

ilmu pengetahuan yang digunakan untuk membantu proses keadilan melalui proses penyerapan ilmu atau scince. Dalam kelompok ilmu forensic dikenal antara lain adalah ilmu fisika Forensik, ilmu Psikologi Forensik, ilmu Toksikologi Forensik dan sebagainya.
Ilmu forensic mulai diterapkan atau digunakan sejak tahun 1952 yaitu sejak kepolisian RI masuk dalam lingkungan Interpol,didahului dengan mendelegasikan kesidang majelis umum Interpol ke-21 di Stoclon. Dan dilingkungan POLRI dengan nama seksi Laboratorium yang secara organisasi adalah salah satu seksi dari bagian Dinas Reserse Kriminal Djawatan Kepolisian Negara dan berkedudukan di Jakarta.

II.

Prisip Adapun prinsip dan dasar dari ilmu forensic adalah sebagai berikut : 1. Setiap objek alam maupun buatan memiliki ciri-ciri khusus 2. Setiap terjadi kontak atau benturan akan terjadi perubahan materi dan meninggalkan bekas. 3. Segala sesuatu dapat disebut sama melalui perbandingan. 4. Membutuhkan penanganan, Pembungkusan, dan pengiriman yang tepat. 5. Fakta tidak bias bohong.

III.

Kegunaan Dalam rangka pelaksanaan tugas Laboratorium Forensik Polri memiliki kegunaan sebagai berikut : 1. Membantu melaksanakan tugas-tugas Polri dalam memberikan informasi terhadap tindak pidana yang terjadi. 2. Berperan dalam menghubungkan antara seseorang dengan tempat kejadian perkara (TKP). 3. Berperan dalam menghubungkan antara tersangka dan korban dalam suatu kasus atau pelanggaran. 4. Merumuskan dan menyiapkan kebijakan Polri dalam menolak dan mendukung pernyataan saksi. 5. Mengerahkan seseorang investigator untuk penyidikan dan mengadakan kerja sama dengan instansi didalam dan diluar Polri untuk kelancaran pelaksanaan tugas.

IV.

Tugas Kegiatan yang biasa dilakukan oleh petugas Laboratorium Forensik Polri adalah sebagai berikut : 1. Mengenali barang bukti dengan mengenali berita acara. 2. Melakukan dokumentasi terhadap tempat kejadian perkara (TKP) dan Barang Bukti (BB). 3. Mengumpulkan, menginformasikan, menyimpan dan mengamankan barang bukti agar tidak terjadi pembusukan dan terkontaminasi. 4. Mengaalisa barang bukti yang diterima. 5. Memberi tafsiran terhadap barang bukti yang diperoleh. 6. Melaporkan hasilnya dan disertai pernyataan keahlian.

V.

Ruang Lingkup Untuk menyelenggarakan dan melaksanakan pemeriksaan barang bukti guna memperoleh kebenaran materil dalam melakukan penyidikan, penuntutan,dan peradilan maka ruang lingkup Laboratorium Forensik dibagi 5 (lima) Bidan yaitu : 1. Bidan Kimia Biologi Forensik (Kimbiofor) bertugas menyelenggarakan dan melaksanakan kegiatankegiatan laboratorium yang meliputi : a. Subbid Kimia b. Subbid Biologi c. Subbid Toksikologi Lingkungan 2. Bidan Narkoba Forensik bertugas menyelenggarakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan laboratorium yang meliputi : a. Subbid Narkotika b. Subbid Psikotropika c. Subbid Bahan Berbahaya.

3.

Bidang Fisika Komputer Forensik (Fiskomfor) bertugas menyelenggarakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan laboratorium yang meliputi : a. Subbid Bakarfor. b. Subbid Aldetsus. c. Subbid Komputer Forensik.
Bidang Balistik dan Metalurgi Forensik (Balmetfor) bertugas menyelenggarakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan laboratorium yang meliputi : a. Subbid Metalurgi. b. Subbid Handak. c. Subbid Senpi.

4.

5.

Bidang Dokumen Uang Palsu Forensik bertugas menyelenggarakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan laboratorium yang meliputi : a. Subbid Dokumen. b. Subbid Upal c. Subbid Prodcet