Anda di halaman 1dari 26

Pengantar Aqidah Islamiyah

1 year ago

Email Favorite Download Embed

/38

0 comments

1 Favorite

Tuti Hariyati Binti Aman at SMAN 4 KOTA TANGERANG, 2 months ago

Pengantar Aqidah Islamiyah - Presentation Transcript


1. PENGANTAR AQIDAH ISLAMIYAH 2. Pendahuluan o Sesungguhnya aqidah merupakan masalah yang paling pokok dan paling mendasar bagi setiap mukmin. Aqidah menjadi pintu awal masuknya seseorang ke dalam Islam dan aqidah pula yang harus dia pertahankan hingga akhir hidupnya. Seorang mukmin dituntut untuk membawa serta kalimah tauhid, kalimat ikhlas laa ilaaha illallah hingga menghembuskan napas yang terakhir agar dia dikategorikan ke dalam hamba-hamba Allah Swt. yang husnul khatimah . Semua mukmin meyakini bahwa barang siapa yang demikian adanya pasti meraih ridha Allah Swt., rahmat-Nya dan surga-Nya. Oleh karena itu bahasan tentang aqidah menjadi masalah paling urgen dan krusial bagi setiap mukmin. o Terdapat banyak istilah tentang aqidah yang diperkenalkan oleh ulama. Berikut ini adalah sebagian istilah tersebut beserta relevansinya sesuai dengan makna dan maksud dari pengistilahannya. 3. URGENSI AQIDAH o Aqidah adalah kebutuhan dasar 4. Aqidah o Istilah aqidah ini telah melalui tiga periode o Periode awal o Pada periode ini aqidah lebih banyak diartikan dengan makna etimologis yaitu; kemauan yang kuat, penghimpunan, maksud, pengikatan janji, dan diartikan dengan apa yang diyakini oleh seorang manusia baik hal itu haq ataupun batil . o Periode kedua o Pada periode ini aqidah telah meningkat menjadi suatu keyakinan iman yang tidak mengandung pembatalan dan kebalikannya atau lawan katanya. o Periode ketiga o Periode ini menjadikan aqidah mencapai kematangan dan sterilisasi. Aqidah menjadi suatu istilah yang berdiri sendiri dan ilmu khusus yaitu; ilmu tentang hukum-hukum syariat yang berkenaan dengan keyakinan yang disimpulkan dari dalil-dalil yang diyakini dan membantah serta menolak setiap syubhat dan buktibukti rusak yang masih diperdebatkan . 5. Tauhid o Makna tauhid secara bahasa adalah o menjadikan sesuatu adalah esa, tunggal, satu-satunya . o Dalam terminologi aqidah, tauhid didefinisikan sebagai; o ilmu yang dapat digunakan untuk menetapkan buhul-buhul agama dengan dalildalil yang kuat dan diyakini . 6. As-Sunnah o As-Sunnah berarti jalan , atau panutan . o Sedangkan yang dimaksud dengan istilah As-Sunnah dalam aqidah adalah

mengikuti dan tunduk kepada aqidah yang benar yang ditetapkan dengan dalil AlQur'an dan Sunnah Nabi Saw . 7. Usuluddin o Usuluddin terdiri dari dua kata yaitu usul dan ad-din . Usul adalah kata jamak bermakna; pokok-pokok, dasar-dasar, pondasi-pondasi . Ad-din artinya agama . Jadi usuluddin bermakna; pokok-pokok agama . o Usuluddin dalam aqidah didefinisikan sebagai; prinsip-prinsip umum dan kaidah-kaidah besar yang mencakup, dengannya dapat diraih hakikat ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya, kemudian tunduk dan menyerahkan diri secara total kepada perintah dan larangan-Nya . 8. Al-fiqhul akbar o Al-fiqhul akbar bermakna o pemahaman yang terbesar o Istilah ini digunakan untuk membedakannya dengan istilah fiqih biasa yang menerangkan tentang hukum halal, haram, makruh, boleh, wajib, sunah, sah, batal dan lain-lain . 9. Ahlus Sunnah wal Jamaah o Jamaah bermakna kaum yang berkumpul . o Sedangkan menurut istilah aqidah adalah o Rasulullah Saw. beserta para sahabat, para tabiin, dan para pengikut setia mereka hingga akhir zaman . o Jadi pengertian ahlus-sunnah wal jamaah adalah o orang-orang yang mengikuti aqidah Islamiyah yang benar, yang berpegang teguh dan meyakini tuntunan Rasulullah Saw., para sahabatnya, para tabiin dan para pengikut setianya hingga akhir zaman . 10. Ahlul Hadits o Ahlul hadits menurut istilah aqidah adalah o setiap orang yang menjadikan hadits Rasulullah Saw. sebagai sumber pokok diantara sumber-sumber pembelajaran talaqqi , yang bermanfaat dalam menetapkan dasar-dasar aqidah Islamiyah dan dibangun ketetapan-ketetapannya . 11. As-Salaf o Menurut bahasa salaf bermakna: o orang lebih yang lebih dahulu ada dibanding orang lain . o Sedangkan menurut istilah adalah: o para sahabat, para tabiin, dan para pengikut setia mereka hingga akhir zaman yang diijma dan disepakati oleh umat atas kejujuran, kesucian dan belum pernah dituduh berbuat bidah yang menjadikannya kafir atau fasiq . 12. Sumber-sumber Aqidah o Al-Qur'an o Diyakini bersama bahwa semua isi Al-Qur'an tidak perlu diragukan lagi, karena semuanya kalamullah. Dalam mengambil dalil dari Al-Qur'an untuk menetapkan suatu materi aqidah, para ulama menggunakan metode-metode berikut; merujuk kepada tafsir dari Al-Qur'an sendiri. Bila tidak ditemukan penjelasannya sendiri di dalam Al-Qur'an, kemudian mencari tafsirnya di dalam; hadits Nabi Saw.,

tafsir para sahabat, tafsir para tabiin makna bahasa Arab. 13. Sumber-sumber Aqidah o Al-Qur'an o Ketentuan; o Haram menafsirkan dan menjelaskan Al-Qur'an khususnya yang berkenaan dengan aqidah dengan hanya menggunakan akal. o Tidak boleh membawa dan mencondongkan penafsiran ayat Al-Qur'an khususnya tentang hanya kepada mazhab tertentu. o Lebih memperioritaskan makna-makna syar'i dibanding makna-makna bahasa. o Memahami lafadz-lafadz Al-Qur'an yang mempunyai banyak arti atas makna yang jelas dan mudah dipahami. o Pendapat yang benar dari ulama berkaitan dengan lafadz-lafadz Al-Qur'an, khususnya tentang aqidah bahwa lafadz-lafadz tersebut tidak mengandung makna kiasan atau majaz. o Sedangkan metode Al-Qur'an menetapkan masalah-masalah aqidah secara umum ada dua; penyusunan ayat-ayat berurutan yang berkenaan dengan petunjukpetunjuk aqidah dengan gaya bahasa pemberitaan yang mutlak benar dan jelas sekali maknanya yang tidak mungkin seorang pun mengingkarinya. Penyusunan ayat-ayat yang teratur menurut pertimbangan dan ukuran akal yang sehat. 14. 2. As-Sunnah atau Hadits o Hadits merupakan penjelasan dan penafsiran bagi Al-Qur'an dan penyingkap dari rahasia-rahasia Al-Qur'an, makna-makna tersembunyinya dan hukum-hukumnya. Kaidah yang telah disepakati bersama oleh ulama adalah bahwa tidak semua hadits dapat dipakai sebagai sumber dan dalil untuk masalah aqidah. Hal ini disebabkan tidak semua hadits yang dibukukan dan diriwayatkan dapat ditetapkan dan diyakini sebagai hadits yang shahih dari Nabi Saw. Hadits yang digunakan sebagai dalil dalam masalah aqidah adalah; o - Hadits mutawaatir , yaitu yang diriwayatkan oleh sangat banyak perawi. o - Hadits masyhur , yaitu yang diriwayatkan oleh tiga perawi o - Hadits mustafidh , yaitu yang diriwayat oleh lebih dari tiga tetapi tidak cukup banyak untuk dikategorikan sebagai mutawattir. o - Hadits Aziz , yaitu diriwayat oleh dua perawi. o - Sedangkan hadits khabarul wahid yaitu hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi saja, masih diperdebatkan dapat digunakan sebagai dalil atau tidak ? 15. Penyimpangan dalam Memahami al-Quran o Ada penyimpangan-penyimpangan dalam memahami Al-Qur'an dan hadits yang berkaitan dengan aqidah, yaitu sebagai berikut; o ilhad , yaitu menyimpang -dengan berdalil kepada nash-nash Al-Qur'an dan hadits- dari kebenaran yang ditetapkan oleh keduanya. Hal ini terdiri dari tiga macam;

menamakan Allah Swt. dengan nama yang tidak layak dan tidak pantas, seperti kaum nasrani menamakan-Nya dengan Tuhan Bapak, atau ahli filsafat menamakan-Nya Super Causa atau Alam awal. Menamakan makhluk dengan nama dari nama-nama Allah Swt. Mensifati Allah Swt. dengan sifat yang Allah Swt. sendiri mensucikan Diri-Nya Sendiri dan membebaskan Diri-Nya darinya. Seperti perkataan kaum Yahudi bahwa; Allah Swt. fakir. Memisahkan dan meniadakan makna-makna yang hakiki dari nama-nama Allah Swt. dan sifat-sifat-Nya. Seperti meyakini bahwa nama-nama Allah Swt. seperti Ar-rahman tanpa sifat kasih sayang. Menyerupakan Allah Swt. dengan makhluk baik dalam bentuk Wujud dan Zat, ataupun sifat-Nya 16. Penyimpangan dalam Memahami al-Quran o at-tatil , yaitu mengosongkan dan menghilangkan makna yang dimaksud oleh nash-nash Al-Qur'an dan hadits. Ada tiga macam; meniadakan dan mengosongkan Zat Allah Swt. dari kesempurnaan-Nya yang mutlak, yaitu dengan mencabut sifat-sifat dan nama-nama-Nya dari Diri-Nya, baik salah satunya saja seperti menghilangkan nama-Nya saja, ataupun kedua-duanya yaitu sifat-Nya juga. Meniadakan muamalah dengan Allah Swt., yaitu dengan menghilangkan unsur ibadah makhluk kepada-Nya. Meniadakan unsur penciptaan makhluk dari konstribusi Ciptaan Allah Swt., seperti menisbatkan bahwa sesuatu diciptakan oleh zat selain Allah Swt. 17. o at-tamtsil , yaitu menyamakan selain Allah Swt. dengan Allah Swt. baik dalam zat-Nya, sifat-sifat-Nya ataupun sebaliknya yaitu menyamakan Allah Swt. dengan selain-Nya dalam hal tersebut. Ada dua macam; analogi penyamaan, yaitu; menjadikan makhluk sebagai pokok kemudian Allah Swt. sebagai cabangnya dianalogikan dengannya, ataupun sebaliknya. Hal ini terbagi dua macam; Analogi penuh dan sempurna, yaitu menganalogikan zat makhluk dengan Zat Allah Swt. ataupun sebaliknya. Analogi sebagian, yaitu menganalogikan sebagian sifat Allah Swt. sama dengan sifat makhluk atau sebaliknya. analogi pencakupan dan menyeluruh, yaitu memasukkan Allah Swt. dan makhluk-Nya dalam kaidah yang sama, seperti setiap benda (termasuk Allah Swt.) pasti terdiri dari bentuk dan gambar, dan lain-lain. 18. o at-tahrif , yaitu merubah makna-makna nash-nash Al-Qur'an dan hadits kepada makna-makna lain yang tidak dimaksudkan oleh keduanya. Hal ini terdiri dari dua macam; merubah lafadz yang otomatis maknanya pun berubah. Tidak merubah lafadznya, tetapi artinya diselewengkan, seperti kata istawa diartikan dengan mengalahkan dan menguasai. 19.

at-takyif , yaitu mengungkap inti dan hakikat dari makna yang tidak diketahui kecuali hanya Allah Swt., seperti mengungkapkan hakikat dari zat Allah Swt., sifat-sifat-Nya, dan hakikat Diri-Nya. At-takwil , yaitu memaknakan ayat atau hadits dengan makna yang sangat jauh dan merusak makna aslinya, seperti; khatamannabiyyin yang aslinya bermakna penutup para nabi tetapi ditakwilkan dengan perhiasan dan cincin para nabi. As-Syubuhat , yaitu kesimpulan yang membingungkan dan mengacaukan dalam aqidah, baik yang naqliyah maupun yang aqliyah. Al-Majaz , yaitu mengartikan dan menggunakan suatu perkataan bukan pada hakikat maknanya yang aslinya, yang pertama kali digunakan.

20.
o

21.
o

22.
o

23. Al-Mutasyabih , yaitu antonim dari al-Muhkamat . Al-Mutasyabih yaitu lafadz atau susunan kalimat yang belum jelas maknanya. Ada dua macam; Hal yang tidak diketahui maknanya kecuali Allah Swt. seperti urusanurusan ghaib. Hal yang hanya diketahui oleh sebagian manusia seperti; para arrasikhun dalam mengetahui hakikat ayat-ayat mutasyabihat. 24. Akal Yang Sehat o Definisi akal dalam aqidah dapat dibagi dua; yang dimaksudkan dengan akal adalah pengetahuan-pengetahuan pokok dan utama dan kaidah-kaidah akal yang tidak dapat dibantah. Akal yang dimaksud adalah kesiapan naluri dan kemampuan intelektual yang matang. o Kedua definisi ini didayagunakan untuk memahami masalah-masalah aqidah. Pertimbangan dan analogi akal yang dituntut oleh Al-Qur'an adalah; analogi kontradiksi dalam ketuhanan. Yaitu bila premis pertama tidak bisa diterima maka premis ke-dua pun tidak bisa diterima. Contohnya; bila di alam semesta ini ada dua Tuhan, maka alam semesta ini akan rusak. Alam ini tidak rusak, maka premis pertama yaitu adanya Tuhan adalah salah. (QS. Al-anbiya: 22) Analogi prioritas dan lebih utama. Seperti kalau kursi ada pembuatnya, maka manusia pun punya Pencipta. Analogi metafisik (ghaib) atas fisik yang tampak secara lahiriyah. Analogi terbagi dua; analogi yang benar, seperti membandingkan kenikmatan dengan contoh kenikmatan yang tidak bermakna sebenarnya, karena apa yang disediakan Allah Swt. di akhirat adalah sesuatu yang belum terlintas dalam hati, belum pernah dilihat oleh mata, dan belum didengar oleh telinga. Tetapi karena itulah satu-satunya cara menganalogikannya yang berbentuk fisik, maka terpaksa dilakukan.
o o o

Analogi yang salah, seperti menganalogikan anggur di surga sama persis dengan anggur di dunia. 25. Karakteristik Aqidah Islamiyah (1) o At-Tauqifiyah o Yang dimaksud dengan at-tauqifiyah adalah prinsip bahwa Rasulullah Saw. telah menjelaskan dan membatasi pemahaman hakikat-hakikat aqidah atas umat Islam tanpa menyisakan sedikitpun melainkan diterangkan oleh beliau . Hal itu mengharuskan prinsip-prinsip berikut ini; Membatasi sumber-sumber aqidah hanya pada Al-Qur'an, hadits dan pemahaman atas keduanya dengan akal yang sehat. Berpegang kepada lafadz-lafadz Al-Qur'an dan hadits yang diistilahkan oleh keduanya dalam aqidah Islamiyah. Tidak boleh memberikan makna lain kepada lafadz-lafadz Al-Qur'an dan hadits yang tidak pas dan tidak sesuai dengan makna aslinya. Tidak mengungkit sesuatu yang tidak dijelaskan oleh Al-Qur'an dan hadits. Lebih memprioritaskan apa yang terdapat Al-Qur'an dan hadits atas segala yang lain, baik; akal, perasaan, penemuan, naluri dan lain-lain. 26. Karakteristik Aqidah Islamiyah (2) o Al-Ghaibah o Yaitu segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera . o Beriman dan meyakini hal-hal yang ghaib adalah ciri khas dan keistimewaan dari aqidah Islamiyah . Hal ini akan membebaskan seorang mukmin dari pemojokan dan tekanan dari para pengikut hakikat dan thariqat yang bersikeras ingin mengungkapkan hal-hal ghaib. 27. Karakteristik Aqidah Islamiyah (3) o As-Syumuliyyah o Pemahaman yang dikehendaki oleh aqidah Islamiyah adalah pemahaman yang menyeluruh dan mencakup dalam makna dan aplikasi . Dari sisi makna seorang mukmin harus benar-benar meyakini dan memiliki gambaran yang sempurna atas segala kaidah umum tentang aqidah. 28. Karakteristik Aqidah Islamiyah (4) o Al-Wasatiyyah o Makna harfiyyah dari al-wasatiyyah adalah pertengahan (QS. Al-Baqarah:143). Yang dimaksud dari wasatiyyah dalam aqidah Islamiyah yaitu bersikap pertengahan dalam poin berikut; bersikap seimbang dan pertengahan dalam pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang berkenaan dengan sifat-sifat Allah Swt. antara kaum Jahmiyah yang meniadakannya dan kelompok paham yang menyamakannya dengan sifat-sifat makhluk. bersikap seimbang dan pertengahan dalam pemahaman terhadap perbuatan-perbuatan Allah Swt. antara kelompok Qadariyah dan Jabariyah . bersikap seimbang dan pertengahan dalam pemahaman terhadap janji dan ancaman Allah Swt. antara kelompok Murjiah (kelewat berharap) dengan Qodariyah dan kelompok paham lainnya.

bersikap seimbang dan pertengahan dalam pemahaman terhadap masalah bab nama-nama iman dan agama antara Haruriyah dan Al-Muktazilah , dan antara Al-Murjiah dan Al-Jahmiyyah . bersikap seimbang dan pertengahan dalam pemahaman terhadap para sahabat Rasulullah Saw. antara kelompok menyanjung mereka secara berlebihan dan ekstrim dan kelompok yang mengkafirkan mereka secara ekstrim pula. bersikap seimbang dan pertengahan dalam pemahaman terhadap akal dan wahyu antara kelompok Asyariyyah dan Muktazilah 29. Urgensi Syahadatain (QS. 4: 41, 2: 143) o Pintu gerbang Islam o Intisari ajaran Islam (QS. 21: 25) o Dasar-dasar perubahan total pribadi dan masarakat (QS. 6: 125, 13:11) o Hakikat Dakwah para Rasul (QS. 21: 25) o Keutamaan yang besar 30. Kandungan Makna Syahadatain Pernyataan (ikrar) (3: 18, 81) Sumpah (63: 1-2) Perjanjian (3: 81, 57:8 , 7: 172, 5: 7, 2: 26) 31. Iman dan Istiqomah; dan hubungannya dengan syahadatain o a. Iman Perkataan Membenarkan Amal o b. Istiqomah (41: 30) Berani (41: 30, 5: 52) Tenang (41: 30, 13: 58) Optimis (41: 30, 24 : 55) 32. Pengertian kata Ilah o aliha-yalahu-ilahan ; merasa tenang padanya; (QS. 10: 7) melindungkan diri selalu rindu padanya (7:138) mencintainya (2: 165) o aliha artinya: abadahu : sempurna menghinakan diri (padanya) menundukkan diri. o Kandungan kata ilah ; yang diharapkan , yang ditakuti , yang dicintai o Al-ilah ; yang wajib diberikan kepadanya loyalitas yang wajib diberikan kepadanya otoritas . 33. Syahadatain o Syahadat Tauhid: o Laa = adalah kata penolakan yang tegas.

Ilaaha = yang ditolak dan harus melepaskan diri darinya; (60: 4 dan 7: 59, 65 ,73, 85) o *menghancurkan dan membangun makna ikhlas (98: 5/ 39: 11, 14) o Illa Allah = penetapan, pengukuhan, ( itsbat ) o Syahadat Rasul o Muhammadurrasulullah = konsep wala dan bara Allah Swt. Sumber Nilainya (2: 147/ 7: 2) Rasul Contoh Pelaksanaannya (33: 21, 59: 7) Orang Mukmin Sebagai Pelaksananya (33: 36, 35: 32) Cara Menghancurkan Dan Membangun Dengan Ittiba (3: 31) 34. Arti laa ilaaha illa Allah o Tiada pencipta selain Allah (25: 2) o Tiada pemberi rizki selain Allah (51:57-58) o Tiada pemilik selain Allah (4:131-132, 2:284) o Tiada raja/ kerajaan selain Allah (62:1, 36:83, 67:1, 3:189) o Tiada pembuat hukum selain Allah (12:40, 6: 114, 33:36, 28:68, 45:18, 42:20, 6:137) o Tiada pemberi perintah selain Allah , (7:54) o Tiada pemimpin selain Allah, (2:257) o Tiada yang dicintai selain Allah (2:165) o Tiada yang ditakuti selain Allah (2:40, 9:18) o Tiada yang diharapkan selain Allah (94:8, 18:110) o Tiada yang memberi mudharat/ manfaat selain Allah (6:17) o Tiada yang menghidupkan/ mematikan selain Allah (2:258) o Tiada yang mengabulkan permohonan selain Allah (2:186, 40:60) o Tiada yang melindungi selain Allah (16:98, 72:6) o Tiada yang wakiil (bersandar dan bertawakkal) selain Allah (3:159 , 9:52) o Tiada daya dan kekuatan selain Allah. o Tiada yang diagungkan selain Allah o Tiada yang dimohon selain Allah (1:5) 35. Syarat-syarat Dikabulkannya Syahadatain o Ilmu (47:19, 3: 18, 43: 86) o Yakin (49: 15) o Ikhlas (98: 5, 18: 110) o Membenarkan (2: 8-9) o Cinta (2: 165, 8: 2) o Menerima (4: 65) o Melaksanakan (24: 56, 31: 22) o Ridha (76: 31) 36. Cinta Allah Swt. o Cinta terbagi dua; o Cinta syari ; o yaitu dasarnya iman (3:15, 52:21, 3:170) o Cinta non- syari o yaitu yang didasari oleh syahwat dan nafsu (3:14, 80:34-37, 43:67) 37. Ciri-ciri Cinta

Selalu mengingat-ingat (8:2) Mengagumi (1:1) Ridha/rela (9:62) Siap berkorban (2:207) Takut (21:90) Mengharap (21:90) Mentaati (4:48) 38. Tingkat Cinta o Hubungan Hati o hanya dengan benda - untuk memanfaatkan o Rasa Simpati o pada manusia umumnya untuk didakwahkan o Curahan Hati o untuk orang Islam pada umumnya - untuk persaudaraan iman. o Rasa Rindu o dengan mukmin (keluarga dan jamaah) - untuk saling kasih sayang dan saling mencinta. o Mesra o dengan Rasulullah Saw. Dan rela berkorban. o Tatayyun o (cinta menghamba) hanya kepada Allah Swt. Menyembah atau mengabdikan diri.

o o o o o o o

Tauhid Uluhiyah
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Uluhiyah Allah adalah mengesakan segala bentuk peribadatan bagi Allah, seperti berdoa, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain Allah termasuk perbuatan dzalim yang besar di sisi-Nya yang sering diistilahkan dengan syirik kepada Allah.

Daftar isi
[sembunyikan]

1 Dalil Tauhid Uluhiyah Allah 2 Penjelasan Dalil

3 Contoh Penyimpangan Uluhiyah Allah 4 Nasehat Ibnul Qoyyim 5 Pranala luar

[sunting] Dalil Tauhid Uluhiyah Allah


Allah berfirman di dalam Al Quran: Hanya kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan hanya kepada-Mu ya Allah kami meminta. (QS. Al Fatihah: 5) Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah membimbing Ibnu Abbas radhiallahu anhu dengan sabda beliau: Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada Allah dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah. (HR. Tirmidzi) Allah berfirman: Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun (QS. An Nisa: 36) Allah berfirman: Hai sekalian manusia sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa. (QS. Al Baqarah: 21)

[sunting] Penjelasan Dalil


Dengan ayat-ayat dan hadits di atas, Allah dan Rasul-Nya telah jelas mengingatkan tentang tidak bolehnya seseorang untuk memberikan peribadatan sedikitpun kepada selain Allah karena semuanya itu hanyalah milik Allah semata. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Allah berfirman kepada ahli neraka yang paling ringan adzabnya. Kalau seandainya kamu memiliki dunia dan apa yang ada di dalamnya dan sepertinya lagi, apakah kamu akan menebus dirimu? Dia menjawab ya. Allah berfirman: Sungguh Aku telah menginginkan darimu lebih rendah dari ini dan ketika kamu berada di tulang rusuknya Adam tetapi kamu enggan kecuali terus menyekutukan-Ku. ( HR. Muslim dari Anas bin Malik Radhiallahu Anhu ) Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Allah berfirman dalam hadits qudsi: Saya tidak butuh kepada sekutu-sekutu, maka barang siapa yang melakukan satu amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku maka Aku akan membiarkannya dan sekutunya. (HR. Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu )

[sunting] Contoh Penyimpangan Uluhiyah Allah


Contoh konkrit penyimpangan uluhiyah Allah di antaranya ketika seseorang mengalami musibah di mana ia berharap bisa terlepas dari musibah tersebut. Lalu orang tersebut datang ke makam seorang wali, atau kepada seorang dukun, atau ke tempat keramat atau ke tempat lainnya. Ia

meminta di tempat itu agar penghuni tempat tersebut atau sang dukun, bisa melepaskannya dari musibah yang menimpanya. Ia begitu berharap dan takut jika tidak terpenuhi keinginannya. Ia pun mempersembahkan sesembelihan bahkan bernadzar, berjanji akan beritikaf di tempat tersebut jika terlepas dari musibah seperti keluar dari lilitan hutang.

[sunting] Nasehat Ibnul Qoyyim


Ibnul Qoyyim mengatakan: Kesyirikan adalah penghancur tauhid rububiyah dan pelecehan terhadap tauhid uluhiyyah, dan berburuk sangka terhadap Allah. Dikutip sebagian dari sumber: 1. http://www.mediamuslim.info/index.php?option=com_content&task=view&id=29&Itemi d=9 2. Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin hal 4145

[sunting] Pranala luar

Tauhid Rububiyah
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa

Rububiyah Allah adalah mengesakan Allah dalam tiga perkara yaitu penciptaan-Nya, kekuasaanNya, dan pengaturan-Nya. (Lihat Syarah Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin hal 14) ALLAH YANG MAHA PENCIPTA, MAHA KUASA DAN MAHA PENGATUR Allah yang merencanakan PENCIPTAAN, KEKUASAAN DAN PENGATURAN, suatu kejadian/penciptaan sebut saja proses seekor nyamuk dari sebelum ada, akan menjadi ada, setelah ada Allah mengatur kehidupan, habitat nyamuk apa yang akan dimakannya, kemana ia akan terbang berapa jumlah jatah makanan detik ini, dengan myamuk mana ia akan kawin, Allah yang memberi tahukan atau memberi petunjuk ke mana ia akan mencari makanan, bagaimana bentuk, rupa warna, bau makanannya dan berapa jumlah makanan yang akan di dapatnya Allah yang memaklumkan yang memberitahukan, mengajar, mendidik nyamuk tersebut, dan menentukan berapa telur yang akan dihasilkannya, mengatur keturunannya seterusnyaseterusnya. Allah Maha Pencipta segala sesuatu, Mencipta segala sesuatu mmenjadi nyata, segala sesuatu menjadi berbeda, segala sesuatu menjadi berupa-rupa, segala sesuatu menjadi nyata warnawarninya, terang, gelap, kabur, samar-samar dan sampai tak terlihat sama sekali, karena Allah

menciptakan sesuatu menjadi nyata, maka Allah itu secara hakikat sebenarnya/sesungguhnya lebih nyata dari segala sesuatu, bagaimana segala sesuatu menghijab Allah sedangkan segala sesuatu itu Dia yang menjadikan Nyata dan Allah Maha Besar dari segala sesuatu(segala sesuatu yang dimaksud di sini adalah Selain dari Allah SWT),segala sesuatu lebih kecil dari pada Dia, bagaimana mungkin yang kecil mendinding Yang Maha Besar, kalaulah ada Yang Maha Besar bisa dihijab/didinding oleh sesuatu maka bukanlah Dia Maha Besar. Bukankah kebanyakan dari manuasia itu tidak mengenal Allah dengan sebenarnya ' Awaluddin Ma'rifatullah /awal agama mengenal Allah" mengenal Allah tidak hanya kenal nama dan tidak kenal dengan Yang Empunya Nama, kalau tidak mengenal Allah dengan sebenarnya kemungkinan akan bertingkah laku, beranggapan, berapresiasi terhadap sesuatu termasuk kepada Syirik (Menyekutukan Allah) inilah dosa yang tidak akan diampunkan. " Dosa walau sepenuh langit dan bumi akan diampunkan Oleh Allah Yang Maha Pengampun kecuali dosa syirik (menyekutukanNya)atau Bagaimana mungkinkah untuk memahami arti atau maksud kalimat "mendekatkan diri kepada Allah" sedang Allah itu lebih dekat dari urat leher kita ? atau iman (percaya) sedangkan kita belum kenal, atau setengah kenal, kemungkin juga kita belum iman atau setengah iman. (Ruslan FK. Unsri)

Daftar isi
[sembunyikan]

1 Makna Tauhid Rububiyah Allah o 1.1 Konsekuensi Tauhid Rububiyah o 1.2 Sikap Jahiliyah dalam Tauhid Rububiyah 2 Tujuan Cerita Allah dalam Al Qur'an o 2.1 Pertama Mendekatkan Diri Kepada AllAh o 2.2 Kedua syafaat (pembelaan ) di sisi Allah 3 Kesimpulan Umum o 3.1 Renungan 4 Pranala luar

[sunting] Makna Tauhid Rububiyah Allah


Maknanya, menyakini bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki, mendatangkan segala mamfaat dan menolak segala mudharat. Dzat yang mengawasi, mengatur, penguasa, pemilik hukum dan selainnya dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah. Dari sini, seorang mukmin harus meyakini bahwa tidak ada seorangpun yang menandingi Allah dalam hal ini. Allah mengatakan: Katakanlah! Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya sgala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya. (QS. Al Ikhlash: 1-4)

[sunting] Konsekuensi Tauhid Rububiyah

Maka ketika seseorang meyakini bahwa selain Allah ada yang memiliki kemampuan untuk melakukan seperti di atas, berarti orang tersebut telah mendzalimi Allah dan menyekutukan-Nya dengan selain-Nya.
[sunting] Sikap Jahiliyah dalam Tauhid Rububiyah

Dalam masalah rububiyah Allah sebagian orang kafir jahiliyah tidak mengingkarinya sedikitpun dan mereka meyakini bahwa yang mampu melakukan demikian hanyalah Allah semata. Mereka tidak menyakini bahwa apa yang selama ini mereka sembah dan agungkan mampu melakukan hal yang demikian itu. Lalu apa tujuan mereka menyembah Tuhan yang banyak itu? Apakah mereka tidak mengetahui jikalau tuhan-tuhan mereka itu tidak bisa berbuat apa-apa? Dan apa yang mereka inginkan dari sesembahan itu?

[sunting] Tujuan Cerita Allah dalam Al Qur'an


Allah telah menceritakan di dalam Al Quran bahwa mereka memiliki dua tujuan.
[sunting] Pertama Mendekatkan Diri Kepada AllAh

Mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya sebagaimana firman Allah: Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai penolong (mereka mengatakan): Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami di sisi Allah dengan sedekat-dekatnya. (Az Zumar: 3 )
[sunting] Kedua syafaat (pembelaan ) di sisi Allah

Agar mereka memberikan syafaat (pembelaan ) di sisi Allah. Allah berfirman: Dan mereka menyembah selain Allah dari apa-apa yang tidak bisa memberikan mudharat dan manfaat bagi mereka dan mereka berkata: Mereka (sesembahan itu) adalah yang memberi syafaat kami di sisi Allah. (QS. Yunus: 18, Lihat kitab Kasyfusy Syubuhat karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) Keyakinan sebagian orang kafir terhadap tauhid rububiyah Allah telah dijelaskan Allah dalam beberapa firman-Nya: Kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan mereka? Mereka akan menjawab Allah. (QS. Az Zukhruf: 87) Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan yang menundukkan matahari dan bulan? Mereka akan mengatakan Allah. (QS. Al Ankabut: 61) Dan kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan bumi setelah matinya? Mereka akan menjawab Allah. (QS. Al Ankabut: 63)

[sunting] Kesimpulan Umum

Demikianlah Allah menjelaskan tentang keyakinan mereka terhadap tauhid Rububiyah Allah. Keyakinan mereka yang demikian itu tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam dan menyebabkan halalnya darah dan harta mereka sehingga Rasulullah mengumumkan peperangan melawan mereka. Makanya, jika kita melihat kenyataan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin, kita sadari betapa besar kerusakan akidah yang melanda saudara-saudara kita. Banyak yang masih menyakini bahwa selain Allah, ada yang mampu menolak mudharat dan mendatangkan mamfaat, meluluskan dalam ujian, memberikan keberhasilan dalam usaha, dan menyembuhkan penyakit. Sehingga, mereka harus berbondong-bondong meminta-minta di kuburan orang-orang shalih, atau kuburan para wali, atau di tempat-tempat keramat. Mereka harus pula mendatangi para dukun, tukang ramal, dan tukang tenung atau dengan istilah sekarang paranormal. Semua perbuatan dan keyakinan ini, merupakan keyakinan yang rusak dan bentuk kesyirikan kepada Allah.

Tauhid Asma dan Sifat


Januari 4, 2007 Ahmad Nizam Aqidah akidah, Aqidah, tauhid, tauhid asma' dan sifat, usuluddin Tinggalkan komen

2 Votes

Tauhid Asma wa-Sifat iaitu beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya,
sebagaimana yang diterangkan dalam Alquran dan sunah Rasul-Nya, menurut apa yang pantas bagi Allah SWT, tanpa tawil dan tathil (menghilangkan makna atau sifat Allah), tanpa takyif (mempersoalkan hakikat asma dan sifat Allah dengan bertanya bagaimana) dan tamtsil (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Hal itu berdasarkan firman Allah SWT (yang ertinya),

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Asy-Syura: 11).
Allah menafikan jika ada sesuatu yang menyerupai-Nya, dan Dia menetapkan bahawa Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat. Maka, Dia diberi nama dan disifati dengan nama dan sifat yang Dia berikan untuk diri-Nya, dan dengan nama dan sifat yang disampaikan oleh

Rasul-Nya. Alquran dan sunah dalam hal ini tidak boleh dilanggar, kerana tidak seorang pun yang lebih mengetahui Allah daripada Allah sendiri, dan tidak adasesudah Allahorang yang lebih mengetahui Allah daripada Rasul-Nya. Maka, barang siapa yang mengingkari nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya atau menamakan Allah dan menyifati-Nya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluk-Nya, atau menakwilkan dari maknanya yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Siapakah yang lebih zalim daripada orangorang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? (AlAllah SWT berfirman, Kahfi: 15).
Sumber: At-Tauhid lish-Shaffil Awwal alAliy, Dr. Shalih bin Fauzan bin Abd

Makna Aqidah dan kepentingannya Sebagai Landasan Agama


Disember 30, 2006 Ahmad Nizam Aqidah Tinggalkan komen

1 Vote Erti aqidah secara etimologi Aqidah berasal dari kata aqd yang bererti pengikatan. Ataqattu kadza ertinya saya beritiqad begini. Maksudnya, saya mengikat hati terhadap hal tersebut. Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan, Dia mempunyai akidah yang benar, bererti aqidahnya bebas dari keraguan. Aqidah merupakan perbuatan hati, iaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu. Adapun makna aqidah secara syara adalah sebagai berikut. Iaitu, iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan kepada hari akhir, serta kepada qadar yang baik mahupun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman. Syariat terbahagi menjadi dua: itiqadiyyah dan amaliyyah. Itiqadiyyah adalah hal-hal yang tidak berhubungan dengan tata cara amal, seperti itiqad (kepercayaan) terhadap rububiyyah Allah dan kewajiban beribadah kepada-Nya, juga beritiqad terhadap rukun-rukun iman yang lain.

Hal ini disebut ashliyyah. Benar dan rosaknya amaliyyah tergantung dari benar dan rusaknya itiqadiyyah. Maka, aqidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal. Hal itu sebagaimana firman Allah SWT (yang ertinya), Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh, dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya. (AlKahfi: 110). Dan, sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), nescaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (Az-Zumar: 65). Maka, sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik). (Az-Zumar: 23). Ayat-ayat di atas dan yang senada, yang jumlahnya banyak, menunjukkan bahawa segala amal tidak diterima jika tidak bersih dari syirik. Kerana itulah, perhatian Nabi saw. yang pertama kali adalah pelurusan akidah. Dan, hal pertama yang didakwahkan para rasul kepada umatnya adalah menyembah Allah semata dan meninggalkan segala yang disembah selain Dia. Allah SWT berfirman, Dan, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul tiap-tiap umat (untuk menyeru): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu, . (An-Nahl: 36). Dan, pada awal dakwahnya setiap rasul selalu mengucapkan, Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. (Al-Araf: 59, 65, 73, 85). Pernyataan tersebut diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Saleh, Syuaib, dan seluruh rasul a.s. Selama 13 tahun di Mekahsesudah bitsahNabi saw. mengajak manusia kepada tauhid dan pelurusan akidah, kerana hal itu merupakan landasan bangunan Islam. Para dai dan para pelurus agama dalam setiap masa telah mengikuti jejak para rasul dalam berdakwah. Sehingga, mereka memulai dengan dakwah kepada tauhid dan pelurusan aqidah. Setelah itu mereka mengajak kepada seluruh perintah agama yang lain. Sumber: Kitab Tauhid 1 terbitan Yayasan Al-Sofwa, terjemahan dari At-Tauhid Lish-Shaffil Awwal al-Aliy, Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan
Pengertian Aqidah Secara Bahasa (Etimologi) :
Dikirimkan oleh Hermanto di 10:44

Kata "aqidah" diambil dari kata dasar "al-aqdu" yaitu ar-rabth(ikatan), al-Ibraam (pengesahan), alihkam(penguatan), at-tawatstsuq(menjadi kokoh, kuat), asy-syaddu biquwwah(pengikatan dengan kuat), at-tamaasuk(pengokohan) dan al-itsbaatu(penetapan). Di antaranya juga mempunyai arti alyaqiin(keyakinan) dan al-jazmu(penetapan). "Al-Aqdu" (ikatan) lawan kata dari al-hallu(penguraian, pelepasan). Dan kata tersebut diambil dari kata kerja: " Aqadahu" "Ya'qiduhu" (mengikatnya), " Aqdan" (ikatan sumpah), dan " Uqdatun Nikah" (ikatan

menikah). Allah Ta'ala berfirman, "Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja ..." (Al-Maa-idah : 89). Aqidah artinya ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan. Sedang pengertian aqidah dalam agama maksudnya adalah berkaitan dengan keyakinan bukan perbuatan. Seperti aqidah dengan adanya Allah dan diutusnya pada Rasul. Bentuk jamak dari aqidah adalah aqa-id. (Lihat kamus bahasa: Lisaanul Arab, al-Qaamuusul Muhiith dan al-Mu'jamul Wasiith: (bab: Aqada). Jadi kesimpulannya, apa yang telah menjadi ketetapan hati seorang secara pasti adalah aqidah; baik itu benar ataupun salah. Pengertian Aqidah Secara Istilah (Terminologi) Yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidka tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan. Dengan kata lain, keimanan yang pasti tidak terkandung suatu keraguan apapun pada orang yang menyakininya. Dan harus sesuai dengan kenyataannya; yang tidak menerima keraguan atau prasangka. Jika hal tersebut tidak sampai pada singkat keyakinan yang kokoh, maka tidak dinamakan aqidah. Dinamakan aqidah, karena orang itu mengikat hatinya diatas hal tersebut.

Aqidah Islamiyyah: Maknanya adalah keimanan yang pasti teguh dengan Rububiyyah Allah Ta'ala, Uluhiyyah-Nya, para Rasul-Nya, hari Kiamat, takdir baik maupun buruk, semua yang terdapat dalam masalah yang ghaib, pokok-pokok agama dan apa yang sudah disepakati oleh Salafush Shalih dengan ketundukkan yang bulat kepada Allah Ta'ala baik dalam perintah-Nya, hukum-Nya maupun ketaatan kepada-Nya serta meneladani Rasulullah SAW.

Aqidah Islamiyyah: Jika disebutkan secara mutlak, maka yang dimaksud adalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, karena itulah pemahaman Islam yang telah diridhai oleh Allah sebagai agama bagi hamba-Nya. Aqidah Islamiyyh adalah aqidah tiga generasi pertama yang dimuliakan yaitu generasi sahabat, Tabi'in dan orang yang mengikuti mereka dengan baik.

MEMAHAMI SYAHADAT (bag I)


ARTI SYAHADAT Syahadat secara harfiah (etimologi) berasal dari kata Syahada Yasyhadu yang artinya bersaksi-menyaksikan. Atau berarti juga ilan (pernyataan), qassam (sumpah), dan wadun (janji). Kata Asyhadu berarti saya bersaksi atau saya menyaksikan. Dalam hal ini saya memberikan kesaksian. Sedangkan secara istilah (terminologi) memberikan kesaksian yang tidak hanya dalam bentuk sebuah kalimat yang diucapkan oleh lisan sebagai formalitas kemusliman seseorang, tetapi harus menjadi keyakinan yang mendalam tanpa ada sedikit pun keraguan dan direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang Muslim. Inilah makna Iman yang sebenarnya, seperti yang didefinisikan oleh para ulama yakni mengikrarkan dengan lisan, meyakini dalam hati, dan mengamalkan dengan anggota badan. Syahadat dalam arti formalitas merupakan gerbang bagi seseorang untuk masuk atau memeluk dienul Islam. Sehingga seseorang yang telah mengucapkannya melalui lisan dan membenarkannya dalam hati (dengan kesadaran dan niat yang tulus) berarti secara formal ia telah menyandang status Muslim. Syahadat dalam arti hakekat merupakan inti ajaran Islam. Di dalamnya terkandung kalimat agung Laa Ilaaha Illallah-Muhammadurrasulullah. MAKNA SYAHADAT Dalam syahadat terdiri dari dua kalimat yakni Asyhadu anlaa Ilaaha Illallah Wasyhadu anna Muhammadarasulullah. Kedua kalimat syahadat itu disebut juga dengan Syahadatain. Kalimat pertama mengandung makna pengakuan tauhid. Artinya, seorang muslim hanya mempercayai Allah sebagai satu-satunya Ilah. Allah yang menjadi motivasi atau tujuan. Jadi dengan mengikrarkan kalimat pertama, seseorang telah memantapkan diri dan hatinya hanya kepada Allah semata sebagai tujuan, motivasi, dan jalan hidup. Kalimat kedua mengandung makna pengakuan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sebagai

utusan Allah SWT. Dengan mengikrarkan kalimat ini seseorang telah meyakini sepenuhnya terhadap ajaran Allah yang disampaikan melalui Muhammad SAW, yang di dalamnya meyakini juga hadits-hadis Nabi Muhammad SAW. Dan meyakini tidak pernah mempercayai adanya klaim kenabian dan atau kerasulan setelah Muhammad SAW. Syahadatain merupakan jiwa dari totalitas status Islam seorang hamba. Dalam hal ini dapat dianalogikan sebagai nyawa bagi tubuh manusia. Tanpa nyawa, maka seluruh anggota tubuh manusia tidak akan berfungsi. Demikian juga, seorang manusia tak akan memiliki amal kebajikan apapun di sisi Allah SWT, jika tanpa dilandasi oleh Syahadatain, walaupun selama hidupnya banyak beramal. MAKNA KALIMAT Laa Ilaaha Illallah Muhammadurasulullah a. Laa Ilaaha Illalah Umumnya, masyarakat terpaku pada arti Tidak ada tuhan selain Allah. Kalimat itu tidaklah salah, karena merupakan terjemahan (alih bahasa) dari kalimat Syahadat Laa Ilaaha Illallah. Sedangkan makna yang terkandung dalam kalimat Laa Ilaaha Illallah jauh lebih dalam. Karena itulah, memahami makna Laa Ilaaha Illallah merupakan perkara yang diwajibkan oleh Allah SWT atas setiap muslim, sebagaimana dalam firman-Nya : Falam annahu laa ilaaha illallahu. Artinya; Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Allah. (QS: Muhammad: 19) Imam Al Biqoi dalam Fathul Majid berkata, Sesungguhnya ilmu tentang Laa Ilaaha Illallah merupakan ilmu yang paling agung yang dapat menyelamatkan seorang manusia dari ancaman kengerian di hari kiamat. Secara etimologi, kata Laa artinya tidak ada, atau tiada. Ilaaha, menurut Ibnu Taimiyyah adalah Dzat yang diibadahi lagi ditaati. Dan, Imam Ibnul Qoyyim berpendapat Ilaah adalah Dzat yang hati ini rela untuk beribadah kepada-Nya dengan penuh kecintaan, pemujaan, kepasrahan, pemuliaan, pengagungan, pengabdian, perendahan diri, ketakutan dan harapan serta penyerahan diri. Illa: Kecuali, atau melainkan Allah: menurut Ibnu Abbas, Dialah yang mempunyai hak penyembahan dan ibadah atas seluruh makhluk-Nya, atau hanya Dialah yang berhak untuk disembah, tidak ada yang lain. Adapun bila ditinjau dari terminologinya, dalam buku tafsir Aziz Al-Hamid syarah Kitab Tauhid, Sulaiman bin Abdullah memaknai kalimat Laa Ilaaha Illallah dengan Laa Mabuda bihaqqin Illa Ilaahun Waahid yang artinya tidak ada yang disembah dengan sebenar-benarnya sesembahan kecuali Ilaah yang satu, yakni Allah Yang Maha Tunggal yang tidak ada sekutu bagi-Nya.

Allah SWT berfirman, Wama arsalnaaka min qoblika min roluulin illa nuuhii ilaihi annahu laa lilaaha illa anaa fabuduuni Artinya; Dan tiadalah Kami mengutus sebelummu (Muhammad) seorang rasul pun kecuali Kami wahyukan kepadanya, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah kecuali Aku, maka sembahlah Aku. (QS: Al-Anbiya:25). Allah SWT juga berfirman, Walaqod baatsnaa fii kulli ummatin rosuulaa anibudullaha wajtabuththoguuta Artinya; Dan sesungguhnya Kami telah mengutus pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut. (QS: An-Nahl:36) Dalam konteks ini, dapat difahami bahwa makna Ilah yang sebenarnya adalah al-mabud (sesuatu yang disembah). Menurut Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab Al Ushul Ats Tsalatsah yaitu : Laa Mabuda Bihaqqin Illallah Tiada sesembahan (Tuhan) yang berhak diibadahi melainkan Allah semata. sebagai nafyu (peniadaan) atas segala apa yang diibadahi selain Allah, sebagai itsbat (penetapan) bahwa seluruh ibadah hanyalah milik Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya dalam hal ibadah ini sebagaimana tiada sekutu bagi-Nya dalam hal kekuasaan. Kalau kita tinjau lebih dalam lagi, sebenarnya kalimat Laa Ilaaha Illallah mengandung dua makna, yaitu makna penolakan (nafi) segala bentuk sesembahan selain Allah, dan makna menetapkan (itsbat) bahwa satu-satunya sesembahan yang benar hanyalah Allah semata. Berkaitan dengan mengilmui kalimat ini Allah SWT berfirman: Falam annahu laa ilaaha illallahu Artinya; Maka ketahuilah bahwasannya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. (QS: Muhammad : 19) Menurut Abu Yazid, makna kalimat Laa ilaaha illallah adalah Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah. Artinya, Tuhan yang berhak diibadahi adalah Allah. Tuhan-tuhan selain Allah tidak punya hak untuk disembah (diibadahi), walaupun jin dan manusia menyembahnya. Maka peribadatan kepada Allah sajalah yang benar (haq), sedangkan peribadatan kepada selain Allah itulah yang salah (bathil). Makna ini sesuai dengan firman Allah, Zaalika biannallah huwal-haqu wa anna maa yaduuna min duunihi huwal-bathilu wa annallaha huwal-aliyulkabiir

Artinya; Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq, dan sesungguhnya apa saja yang mereka ibadahi selain Allah, itulah yang bathil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS: Al-Hajj: 62) Abdul Aziz bin Baaz dalam Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah menyatakan seorang muslim adalah mereka yang menauhidkan Allah, hanya kepada-Nya lah mengkhususkan ibadah, bukan yang lainnya. Seluruh peribadatannya, mulai dari shalat, shaum, berdoa, istighosah, nadzar, menyemblih hewan dan ibadah-ibadah lainnya, hanya ditujukan untuk Allah SWT. Seorang muslim harus mengetahui dengan seyakin-yakinnya, sesungguhnya hanya Allah SWT yang punya hak untuk disembah, adapun selain-Nya tidak ada hak untuk disembah, baik itu nabi, malaikat, wali, berhala, pepohonan, jin atau pun yang lainnya. Semuanya tidak punya hak untuk disembah, karena ibadah itu hanya untuk Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya: waqadla rabbuka alla tabuduu illa iyyahu wabil walidaini Artinya: Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan kepada kedua orang tua berbuat baik, (QS: Al-Isra : 23). Ayat di atas jelas, merupakan perintah dari Allah dan merupakan wasiat-Nya agar engkau sekalian tidak menyembah (sesuatu apapun) melainkan hanya kepada Allah SWT. Ini adalah makna kalimat Laa illaha illallah, yang berarti tidak ada ilaah yang wajib disembah dengan haq melainkan Allah SWT. Di dalam kalimat Laa ilaaha illallah terdapat nafyi (meniadakan) dan isbat (menetapkan), yaitu meniadakan segala ilaah yang disembah dari selain Allah SWT dan menetapkan Ilaah yang haq hanya untuk Allah SWT, maka apa saja yang disifati sebagai ilaah selain Allah SWT adalah bathil. Sebagaimana firman-Nya ; Zaalika biannallaha huwal-haqu wa anna maa yaduuna min duunihi huwal-bathilu wa annallaha huwal-aliyulkabiir Artinya: (Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (Rabb) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang bathil dan sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS: Al-Hajj : 62) Orang kafir yang beribadah kepada selain Allah itu adalah bathil dan telah menempatkan ibadah bukan pada tempatnya. Allah SWT berfirman : Yaa ayyuhannasubuduu rabbakumullazii kholaqokum wallaziina min qoblikum laallakum tattakuun

Artinya: Hai manusia sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu agar kamu bertaqwa. (QS: Al-Baqarah : 21) Dan firman Allah dalam surat Al-Fatihah : Iyyaaka nabudu waiyyaka nastaiin Artinya: Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. (QS: Al-Fatihah : 5). Yakni hanya kepada Engkau-lah satu-satunya kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah satu-satunya kami memohon pertolongan. Dan selanjutnya Allah SWT berfirman : Wabudullaha walaa tusyrikuu bihi syai-an Artinya: Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. (QS: An-Nisa : 36). Wamaa umiruu illa liyabudullaaha mukhlishiina lahuddiina khunafa Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. (QS: Al-Bayinah : 5) Dan firman Allah Azza wa Jalla : Fabullaha mukhlishiina lahuddiina walau karihal kaafiruun Artinya; Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orangorang kafir itu tidak menyukainya (QS: Al-Mukmin : 14). Fabudullah mukhlishan lahuddiina Artinya: Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, ingatlah hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik) (QS: Az -Zumar : 2) Dan, masih banyak ayat-ayat lainnya yang bisa kita baca dalam Al-Quran, yang menjelaskan bahwa ibadah itu hanya untuk Allah. Tidak ada sedikit pun dari ibadah yang ditujukan kepada makhluk Allah. Inilah makna kalimat Laa ilaaha illallah, tafsiran dan hakikatnya adalah memurnikan ibadah hanya untuk Allah semata dan membersihkan ibadah dari selain-Nya. Bahwa banyaknya ritual peribadahan yang ditujukan kepada selain Allah seperti menyembah berhala (patung-patung), Firaun, Malaikat, para Rasul, orang-orang shaleh, benda pusaka, kuburan, dan mahluk lainnya, jelas merupakan bentuk ibadah (penyembahan) yang bathil dalam arti tidak benar. Walaupun orang tersebut telah melafalkan kalimat Laa Ilaaha Illallah Muhammadurasulullah, namun hanya sebatas lisan, yakni status keislamannya hanya sebatas kulit belaka.

b.Muhammadurrasulullah Kesaksian seorang hamba dengan melafalkan kalimat Laa Ilaaha Illallah, tentunya tidak akan bisa terealisasikan secara benar dalam kehidupannya sehari-hari, jika tidak mengikuti petunjuk yang disampaikan Rasulullah Muhammad SAW. Karena itulah, persaksian terhadap kerasulan Muhammad SAW merupakan salah satu kesatuan dari syahadatain, sebagai pintu gerbang untuk memasuki Dienul Islam. Rasulullah SAW merupakan suri tauladan yang utama bagi setiap Muslim. Keteladanannya bersifat total, baik peribadatan khusus secara vertikal kepada Allah SWT, maupun yang bersifat horizontal, yakni kepada sesama makhluk (dalam ibadah-ibadah yang bersifat umum). Sebagaimana firman Allah SWT; Laqod kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanatun liman kaana yarjuullaha wal-yaumalaakhira wazakarallaha katsiraa Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS: Al-Ahzab: 21) Sebagai pencipta seluruh mahluk, Allah SWT tidak akan membiarkan manusia berada dalam kebingungan mencari pegangan hidup. Karena itulah, Allah SWT memberikan petunjuk melalui Rasul-Nya. Dan Muhammad SAW adalah Rasul terakhir yang diutus Allah, sekaligus menjadi penutup para nabi. Beliau sebagai penyempurna ajaran-ajaran yang dibawa para Rasul sebelumnya. Allah berfirman; Wamaa arsalnaaka illa rahmatan lilalamiina Artinya: Dan tidaklah Aku utus engkau (hai Muhammad) kecuali untuk sebagai rahmat kepada seluruh alam. (QS: Al-Anbiya:107) Dalam kaitan inilah, maka makna Muhammadurasulullah adalah mengakui secara lahir dan bathin bahwa beliau SAW adalah hamba Allah dan Rasul-Nya (abduhu wa rosuluhu) yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan setiap ajaran yang dibawanya. Dan, meyakini hanya satu-satunya jalan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, yaitu dengan mengikuti dan menjalankan agama ini sesuai sunnah Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman; Mayyuthiirrasuula faqod athoallaha waman tawalla fama arsalnaaka alaihum hafiidzon Artinya: Barangsiapa yang menaati Rasul itu (Muhammad), sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami mengutusmu untuk jadi pemelihara bagi mereka. (QS: An-Nisa:80)

Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, dari Anas RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, Maka, barang siapa yang tidak suka kepada sunnahku, bukanlah dia dari golonganku (umatku). Demikian pula yang dikeluarkan oleh Ibnu Asakir dari Ibnu Umar RA, Barangsiapa yang berpegang kepada sunnahku, maka dia dari golonganku. (HR: Muslim) Dalam hadits marfu yang dibawa Thabrani dan Abu Nuaim yang diriwayatkan Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW telah bersabda, Orang yang berpegang kepada sunnahku dalam zaman kerusakan, ummatku akan mendapat pahala orang yang mati syahid. Hadits lainnya yang juga diriwayatkan Abu Hurairah dari Hakim menyatakan, Orang yang berpegang kepada sunnahku dalam masa perselisihan di antara ummatku adalah seperti orang yang menggenggam bara api. Kemudian, Daroquthni juga mengeluarkan sebuah hadits dari Siti Aisyah bahwa Nabi SAW bersabda, Barang siapa yang berpegang kepada sunnahku, akan memasuki surga. Dan dikeluarkan oleh As-Sajzi dari Anas, bahwa Nabi SAW bersabda, Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku, maka dia telah mengasihiku, dan siapa yang mengasihiku dia akan memasuki surga bersama-sama aku. Dengan demikian maka jelaslah bahwa ikrar seorang muslim dengan melafalkan kalimat Muhammadurrasulullah harus disertai dengan ketaatan dan wajib melaksanakan beberapa hal, yakni; 1. Membenarkan (baik dengan lisan maupun hati) setiap apa yang beliau kabarkan. Karena, sesungguhnya apa pun yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW semata-mata hanya berasal dari Allah SWT. 2. Senantiasa selalu taat terhadap apa yang diperintahkan. Taat dan patuh adalah suatu kewajiban (mutlak) bagi kita yang sudah mengikrarkan syahadat. Sebab, dengan taat kepada Rasul merupakan perwujudan taat kita kepada Allah SWT. 3. Selalu menjauhi apa pun yang dilarang Rasulullah SAW. 4. Menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan dalam kehidupan kita seharihari. Apalagi, sudah pasti Rasul yang diutus Allah adalah manusia pilihan. Rasulullah adalah teladan utama dalam kehidupan Muslim. 5. Seperti halnya kalimat Laa Ilaaha Illallah, maka kalimat Muhammadurasulullah juga memiliki konsekuensi-konsekuensi logis, yang harus diamalkan oleh kaum muslimin. Yaitu membenarkan ucapannya, menaati perintahnya, menjauhi larangannya dan tidak menyembah kecuali dengan apa yang disyariatkannya.