Anda di halaman 1dari 45

I. PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masa nifas adalah masa 6 minggu setelah persalinan ketika saluran

reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil (Norwitz & Schorge, 2008). Adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama 6 minggu (Luxner, 2009).

Masa Nifas dibagi dalam 3 tahapan, yaitu immediatly Post Partum pada 24 jam pertama, Early Post Partum pada minggu pertama dan Late Post Partum pada minggu kedua sampai ke enam.

Perkembangan adaptasi psikososial pada klien dengan partus kasep mungkin akan sedikit memanjang, karena post sectio caecaria dengan indikasi Partus kasep harus mendapatkan observasi yang ketat, sehingga klien akan mengalami penundaan dalam melakukan rawat gabung dengan bayinya.

Model konsep adaptasi Roy digunakan dalam melakukan pendekatan selama melakukan asuhan keperawatan juga bertujuan untuk memfasilitasi potensi koping ibu. Selain itu, juga memiliki tujuan untuk membantu fase transisi adaptasi sehingga ibu diharapkan dapat beradaptasi secara konstruktif. Konsep dan teori adaptasi Roy disini merupakan konsep dominan yang mendasari asuhan keperawatan yang komprehensif pada ibu post partum dengan sectio caecarea dengan indikasi Partus kasep. Dapat diidentifikasi kondisi ibu melalui tahap pengkajian yang meliputi informasi tentang adaptasi fisiologis maupun psikologis dan perilaku ibu.

B. Perumusan Masalah Adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama 6 minggu. Sectio caecaria atas indikasi partus kasep merupakan suatu kondisi yang membutuhkan observasi ketat, karena keadaan ini masih mungkin berlanjut pada masa setelah

persalinan. Hal ini memerlukan suatu perhatian dan penatalaksanaan yang khusus sehingga klien tetap mampu menjalankan peran secara optimal dan adaptif terhadap perubahan fisik yang ada.

C. Tujuan 1. Tujuan Umum Mempelajari aplikasi Model Konsep Keperawatan Adaptasi Roy pada kasus post sectio caecaria atas indikasi partus kasep dalam bentuk Asuhan Keperawatan di Ruang Nifas RSD dr Soebandi Jember. 2. Tujuan Khusus a. Menguraikan latar belakang pemilihan kasus post sectio caecaria atas indikasi partus kasep. b. Melakukan penerapan model konsep keperawatan adaptasi Roy pada kasus post sectio caecaria atas indikasi partus kasep. c. Melakukan pengelolaan klien pada kasus post sectio caecaria atas indikasi partus kasep dengan konsep keperawatan Roy. d. Melakukan pembahasan terhadap kasus yang telah dikelola. e. Menarik kesimpulan dari proses penerapan model konsep keperawatan tersebut pada persalinan klien atas indikasi partus kasep. menggunakan pendekatan model

II. KONSEP TEORI A. POST PARTUM 1. DEFINISI PUERPERIUM / NIFAS Adalah masa sesudah persalinan dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhirnya ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, masa nifas berlangsung selama 6 minggu (Luxner, 2009). Adalah masa 6 minggu setelah persalinan ketika saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil (Norwitz & Schorge, 2008) 2. PERIODE Masa nifas dibagi dalam 3 periode: a. Early post partum Dalam 24 jam pertama. b. Immediate post partum Minggu pertama post partum. c. Late post partum Minggu kedua sampai dengan minggu keenam. 3. TUJUAN ASUHAN KEPERAWATAN a. Menjaga kesehatan Ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologiknya. b. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. c. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat. d. Memberikan pelayanan keluarga berencana. 4. TANDA DAN GEJALA a. Perubahan Fisik 1). Sistem Reproduksi a). Uterus b). Involusi : Kembalinya uterus ke kondisi normal setelah hamil.

No 1.

Waktu Segera setelah lahir

TFU Pertengahan simpisis dan umbilikus Umbilikus

Konsistensi

After pain Terjadi

2.

1 jam setelah lahir

Lembut

3.

12 jam setelah lahir

1 cm di atas pusat

4.

setelah 2 hari

Turun 1 cm/hari

Berkurang

Proses ini dipercepat oleh rangsangan pada puting susu. c) Lochea - Komposisi: Jaringan endometrial, darah dan limfe. - Tahap : Rubra (merah) : 1-3 hari, serosa (pink kecoklatan), alba kuning-putih) : 10-14 hari - Lochea terus keluar sampai 3 minggu. Bau normal seperti menstruasi, jumlah meningkat saat berdiri. Jumlah keluaran rata-rata 240-270 ml. d) Siklus Menstruasi Ibu menyusui paling awal 12 minggu rata-rata 18 minggu, untuk itu tidak menyusui akan kembali ke siklus normal. e) Ovulasi Ada tidaknya tergantung tingkat prolaktin. Ibu menyusui mulai ovulasi pada bulan ke-3 atau lebih. Ibu tidak menyusui mulai pada minggu ke-6 s/d minggu ke-8. Ovulasi mungkin tidak terlambat, dibutuhkan salah satu jenis kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. f) Serviks Segera setelah lahir terjadi edema, bentuk distensi untuk beberapa hari, struktur internal kembali dalam 2 minggu, struktur eksternal melebar dan tampak bercelah. g) Vagina Nampak berugae kembali pada 3 minggu, kembali mendekati ukuran seperti tidak hamil, dalam 6 sampai 8 minggu, bentuk ramping lebar, produksi mukus normal dengan ovulasi.

h) Perineum Episiotomi: Penyembuhan dalam 2 minggu. Laserasi : TK I : Kulit dan strukturnya dari permukaan s/d otot

TK II : Meluas sampai dengan otot perineal TK III : Meluas sampai dengan otot spinkter TK IV : melibatkan dinding anterior rektal i) Payudara Payudara membesar karena vaskularisasi dan engorgement (bengkak karena peningkatan prolaktin pada hari I-III). Pada payudara yang tidak disusui, engorgement akan berkurang dalam 2-3 hari, puting mudah erektil bila dirangsang. Pada ibu yang tidak menyusui akan mengecil pada 1-2 hari. 2) Sistem Endokrin a) Hormon Plasenta HCG (-) pada minggu ke-3 post partum, progesteron plasma tidak terdeteksi dalam 72 jam post partum normal setelah siklus menstruasi. b) Hormon pituitari Prolaktin serum meningkat terjadi pada 2 minggu pertama, menurun sampai tidak ada pada ibu tidak menyusui FSH, LH, tidak ditemukan pada minggu I post partum. 3) Sistem Kardiovaskuler a) Tanda-tanda vital Tekanan darah sama saat bersalin, suhu meningkat karena dehidrasi pada awal post partum terjadi bradikardi. b) Volume darah Menurun karena kehilangan darah dan kembali normal 3-4 minggu. Persalinan normal : 200 500 cc, sesaria : 600 800 cc. c) Perubahan hematologik Ht meningkat, leukosit meningkat, neutrophil meningkat. d) Jantung Kembali ke posisi normal, COP meningkat dan normal 2-3 minggu.

4) Sistem Respirasi Fungsi paru kembali normal, RR : 16-24 x/menit, keseimbangan asambasa kembali setelah 3 minggu post partum. 5) Sistem Gastrointestinal a) Mobilitas lambung menurun sehingga timbul konstipasi. b) Nafsu makan kembali normal. c) Kehilangan rata-rata berat badan 5,5 kg. 6) Sistem Urinaria a) Edema pada kandung kemih, urethra dan meatus urinarius terjadi karena trauma. b) Pada fungsi ginjal: proteinuria, diuresis mulai 12 jam. c) Fungsi kembali normal dalam 4 minggu. 7) Sistem Muskuloskeletal Terjadi relaksasi pada otot abdomen karena terjadi tarikan saat hamil. Diastasis rekti 2-4 cm, kembali normal 6-8 minggu post partum. 8) Sistem Integumen Hiperpigmentasi perlahan berkurang. 9) Sistem Imun Rhesus incompability, diberikan anti RHO imunoglobin.

B. SECTIO CAECAREA 1. Pengertian Sectio caecarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding uterus atau vagina atau suatu histerotomi untuk melahirkan janin dari dalam rahim (Luxner, 2009) 2. Jenis jenis operasi sectio caecarea a) Abdomen (sectio caecarea abdominalis) 1) Sectio caecarea transperitonealis SC klasik atau corporal (dengan insisi memanjang pada corpus uteri). Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira 10 cm. Kelebihan : - Mengeluarkan janin dengan cepat - Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik 6

- Sayatan bisa diperpanjang proksimal atau distal Kekurangan - Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealis yang baik - Untuk persalinan yang berikutnya lebih sering terjadi rupture uteri spontan 2) SC ismika atau profundal (low servical dengan insisi pada segmen bawah rahim) Dilakukan dengan melakukan sayatan melintang konkat pada segmen bawah rahim (low servical transversal) kira-kira 10 cm Kelebihan : - Penjahitan luka lebih mudah - Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik - Tumpang tindih dari peritoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus ke rongga peritoneum - Perdarahan tidak begitu banyak - Kemungkinan ruptur uteri spontan berkurang atau lebih kecil Kekurangan : - Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah sehingga dapat menyebabkan uteri uterine pecah sehingga mengakibatkan perdarahan banyak - Keluhan pada kandung kemih post operasi tinggi 3) SC ekstra peritonealis yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis dengan demikian tidak membuka cavum abdominal b) Vagina (section caesarea vaginalis) Menurut sayatan pada rahim, sectio caecarea dapat dilakukan sebagai berikut: 1) 2) 3) 3. Indikasi Operasi sectio caecarea dilakukan jika kelahiran pervaginal mungkin akan menyebabkan resiko pada ibu ataupun pada janin, dengan pertimbangan halSayatan memanjang (longitudinal) Sayatan melintang (Transversal) Sayatan huruf T (T insicion)

hal yang perlu tindakan SC proses persalinan normal lama/ kegagalan proses persalinan normal (Dystasia) a) His lemah / melemah

b) Fetal distress c) Janin dalam posisi sungsang atau melintang d) Bayi besar ( BBL 4,2 kg ) e) f) Plasenta previa Kalainan letak

g) Disproporsi cevalo-pelvik (ketidakseimbangan antar ukuran kepala dan panggul) h) Ruptur uteri mengancam i) j) Hydrocephalus Primi muda atau tua

k) Partus dengan komplikasi (eklamsi, DIC, sindrom HELLP, dll) l) Panggul sempit

m) Problema plasenta 4. Komplikasi Kemungkinan yang timbul setelah dilakukan operasi ini antara lain : a) Infeksi puerperial ( Nifas ) 1) Ringan, dengan suhu meningkat dalam beberapa hari 2) Sedang, suhu meningkat lebih tinggi disertai dengan dehidrasi dan perut sedikit kembung 3) Berat, peritonealis, sepsis dan usus paralitik b) Perdarahan 1) Banyak pembuluh darah yang terputus dan terbuka 2) Perdarahan pada plasenta bed c) Luka kandung kemih, emboli paru dan keluhan kandung kemih bila peritonealisasi terlalu tinggi d) Kemungkinan rupture tinggi spontan pada kehamilan berikutnya

C. PARTUS KASEP 1. Definisi Partus kasep adalah suatu persalinan yang mengalami kemacetan dan berlangsung lama sehingga timbul komplikasi pada ibu maupun anak. Partus lama diartikan sebagai persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primipara, dan lebih dari 18 jam pada multipara (Mochtar, 1998). 2. Etiologi Secara umum penyebab partus lama dapat dibagi kedalam beberapa faktor yaitu faktor panggul, faktor anak, faktor tenaga, faktor psikis dan faktor penolong.: a. Faktor Panggul Pada panggul ukuran kecil akan terjadi disproporsi dengan kepala janin sehingga kepala janin tidak dapat melewati panggul meskipun ukuran janin berada dalam batas normal. Kurangnya gizi saat masa kanak-kanak merupakan salah satu hal yang dapat menyebabkan ukuran pelvis yang kecil pada wanita. Ukuran panggul dapat sangat berbeda dari ukuran normal pada seorang wanita yang menderita riketsia atau osteomalasia di masa mudanya. Selain itu faktor keturunan juga berpengaruh terhadap ukuran dan bentuk panggul (Neilson, dkk, 2003).

1) Kesempitan pada Pintu Atas Panggul pintu atas panggul dianggap sempit apabila conjugata vera kurang dari 10 cm atau diameter transversa kurang dari 12 cm. Pada panggul sempit kepala memiliki kemungkinan lebih besar tertahan oleh pintu atas panggul, sehingga serviks uteri kurang mengalami tekanan kepala (Wiknjosastro, 2008). 2) Kesempitan pintu panggul tengah Ukuran terpenting pada pintu tengah panggul adalah distansia interspinarum kurang dari 9.5 cm, sehingga perlu diwaspadai kemungkinan kesukaran pada persalinan jika diameter sagitalis posterior pendek pula (Wiknjosastro, 2008). 3) Kesempitan pintu bawah panggul

bila diameter transversa dan diameter sagitalis posterior kurang dari 15cm, maka sudut arkus pubis juga mengecil (<80) sehingga timbul kemacetan pada kelahiran janin ukuran biasa (Wiknjosastro, 2008). 4) Panggul Sempit Relatif Panggul sempit adalah panggul dengan diameter yang kurang sehingga mempengaruhi mekanisme persalinan normal. Bentuk dan ukuran panggul dipengaruhi oleh: Faktor perkembangan: herediter atau kongenital o Panggul sempit ginekoid o Panggul sempit android o Panggul sempit anthropoid o Panggul sempit platipeloid o Panggul Naegele: tidak adanya salah satu sacral alae o Panggul Robert: tidak adanya kedua sacral alae o High assimilation pelvis: sakrum terdiri dari 6 vertebra o Low assimilation pelvis: sakrum terdiri dari 4 vertebra o Split pelvis: simfisis pubis terpisah Faktor rasial Faktor nutrisi: malnutrisi menyebabkan panggul sempit Faktor seksual: androgen yang berlebihan menyebabkan bentuk panggul android Faktor metabolik: misalnya rakitis dan osteomalasia Trauma, penyakit, atau tumor pada tulang panggul, kaki, atau tulang belakang (El-Mowafi, 2008). b. Faktor Anak 1. Posisi Oksiput Posterior Persisten Prevalensi kondisi ini adalah 10%. Pada posisi ini ubun-ubun tidak berputar ke depan, tetapi tetap berada di belakang. Salah satu penyebab terjadinya adalah usaha penyesuaian kepala terhadap bentuk dan ukuran panggul. Penyebab yang lain adalah otot-otot dasar panggul yang lembek pada multipara atau kepala janin yang kecil dan bulat sehingga tidak ada paksaan pada belakang kepala janin untuk memutar ke depan (Wiknjosastro, 2008). 10

2. Presentasi Puncak Kepala Pada presentasi ini, kepala janin dalam keadaan defleksi ringan ketika melewati jalan lahir. Sehingga ubun-ubun besar menjadi bagian terendah. Pada presentasi puncak kepala, lingkaran kepala yang mealalui jalan kahir adalah sirkumfernsia frontooksipitalis dengan titik perputaran yang berada di bawah simfisis adalah glabela (Wiknjosastro, 2008). 3. Presentasi Muka Presentasi muka adalah keadaan dimana kepala dalam kedudukan defleksi maksimal, sehingga aksiput tertekan pada punggung dan muka merupakan bagian terendah yang menghadap ke bawah. Presentasi muka dikatakan primer jika terjadi sejak masa kehamilan, dan dikatakan sekunder jika baru terjadi pada masa persalinan. Pada umumnya penyebab terjadinya presentasi muka adalah keadaan-keadaan yang memaksa terjadinya defleksi kepala atau keadaan yang menghalangi terjadinya fleksi kepala. Oleh karena itu presentasi muka dapat ditemukan pada panggul sempit atau pada janin besar. Multiparitas dan perut gantung juga merupakan faktor yang memudahkan terjadinya presentasi muka. Kelainan janin seperti anensefalus dan tumor di leher depan juga dapat menyebabkan presentasi muka. Terkadang presentasi muka dapat terjadi pada kematian janin intrauterine akibat otot janin yang telah kehilangan tonusnya (Wiknjosastro, 2008). 4. Presentasi Dahi Presentasi dahi adalah keadaan dimana kedudukan kepala berada diantara fleksi maksimal dan defleksi maksimal, sehingga dahi merupakan bagian terendah. Pada umumnya, presentasi dahi bersifat sementara, dan sebagian besar akan berubah menjadai presentasi muka atau presentasi belakang kepala. Sebab terjadinya presentasi dahi pada dasarnya sama dengan sebab terjadinya presentasi muka karena semua presentasi muka biasanya melewati fase presentasi dahi lebih dahulu (Wiknjosastro, 2008). 5. Letak Sungsang Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri danbokong berada di bagian bawah kavum uteri. Dikenal beberapa jenis letak sungsang, yaitu presentasi bokong, 11

presentasi bokong sempurna, presentasi bokong kaki tidak sempurna, dan presentasi kaki. Diagnosis letak sungsang umunya tidak sulit. Pada pemeriksaan luar, kepala teraba di fundus uteri, sementara pada bagian bawah uterus teraba bokong yang tidak dapat digerakkan semudah kepala. Selain dari pemeriksaan luar, diagnosis juga dapat ditegakkan dari pemeriksaan dalam dan pemeriksaan penunang seperti USG dan MRI (Wiknjosastro, 2008). Faktor yang menyebabkan terjadinya letak sungsang adalah multiparitas, hamil kembar, hidramnion, hidrosefalus, plasenta previa, panggul sempit, dan usia prematur. Pada kehamilan sampai kurang lebih 32 minggu, jumlah air ketuban relatif lebih banyak sehingga memungkinkan janin bergerak lebih leluasa, sehingga janin dapat menempatkan diri pada presentasi kepala, letal sungsang, atau letak lintang. Pada kehamilam triwulan akhir janin tumbuh dengan cepat dan jumlah air ketuban relatif berkurang. Karena bokong dan kedua tungkai yang terlipat lebih besar daripada kepala, maka bokong dipaksa untuk mengisi tempat yang lebih luas di fundus uteri, sedang kepala berada pada ruangan yang lebih kecil di segmen bawah uterus (Pernoll, 2001). 6. Letak Lintang Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang dalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu dan bokong berada pada sisi yang lain. Sebab tersering terjadinya letak lintang adalah multiparitas disertai dinding uterus dan perut yang lembek. Pada kehamilan prematur, hidramnion, dan kehamilan kembar, janin sering dijumpai dalam letak lintang. Kelainan bentuk rahim seperti uterus arkuatus atau subseptus juga merupakan penyebab terjadinya letak lintang. Adanya letak lintang dapat diduga hanya dengan inspeksi. Uterus tampak melebar dan fundus tampak lebih rendah tidak sesuai dengan usia kehamilannya. Pada palpasi, fundus uteri kosong, kepala janin berada di samping, dan diatas simfisis juga kosong (Pernoll, 2001). 7. Presentasi Ganda Presentasi ganda adalah presentasi dimana disamping kepala janin di dalam rongga panggul dijumpai tangan, lengan atau kaki, atau keadaan disamping bokong janin dijumpai tangan. Presentasi ganda terjadi karena 12

pintu atas panggul tidak tertutup sempurna oleh kepala atau bokong, misalnya pada seorang multipara dengan perut gantung, pada kesempitan panggul dan janin kecil (Joy, 2011). 8. Pertumbuhan Janin yang Berlebihan Berat neonatus yang besar adalah apabila berat janin melebihi 4000 gram. Pada janin besar, faktor keturunan memegang peran penting. Selain itu janin besar juga dijumpai pada wanita hamil dengan diabetes mellitus, postmaturitas, dan grande multipara (Wiknjosastro, 2008). 9. Hidrosefalus Adalah keadaan dimana terjadi penimbunan cairan serebrospinalis dalam ventrikel otak, sehingga kepala menjadi besar dan terjadi pelebaran sutura serta ubun-ubun. Cairan yang tertimbun dalam ventrikel biasanya berkisar antara 500-1500 ml, akan tetapi kadang-kadang dapat mencapai 5 liter. Karen akepala janin terlalu besar dan tidak dapat berakomodasi di bagian bawah uterus, maka sering ditemukan dalam keadaan sungsang. Bagaimanapun letaknya, hidrosefalus akan menyebabkan disproporsi sefalopelvik dengan segala akibatnya (Wiknjosastro, 2008). 10. Prolaps Funikuli Prolaps funikuli adalah suatu keadaan dimana tali pusat berada di samping atau melewati bagian terendah janin di dalam jalan lahir setelah ketuban pecah. Pada presentasi kepala, prolaps funikuli sangat berbahaya bagi janin, karena setiap saat atli pusat dapat terjepit diantara bagian terendah janin dengan jalan lahir dengan akibat gangguan oksigenasi janin. Keadaan yang menyebabkan gangguan adaptasi bawah janin terhadap panggul, sehingga pintu atas panggul tidak tertututp oleh bagian bawah janin tersebut, merupakan predisposisi turunnya tali pusat dan terjadinya prolaps funikuli. Dengan demikian prolaps funikuli sering didapatkan pada letak sungsang dan letak lintang. Pada presentasi kepala dapat dijumpai pada disproporsi sefalopelvik. Pada kehamilam premature lebih sering dijumpai karena kepala anak yang kecil tidak dapat menutup pintu atas panggul secara sempurna (Wiknjosastro, 2008). c. Faktor Tenaga Faktor tenaga berkaitan dengan kelainan his. His yang tidak normal dalam kekuatan atau sifatnya menyebabkan hambatan pada jalan lahir yang 13

lazimnya dapat diatasi menjadi tidak dapat diatasi sehingga menyebabkan persalinan menjadi macet. His yang normal dimulai dari salah satu sudut di fundus uteri yang kemudian menjalar merata simetris ke seluruh korpus uteri dengan adanya dominasi kekuatan pada fundus uteri dimana lapisan otot uterus paling dominan. Disusul dengan relaksasi secara merata dan menyeluruh hingga tekanan dalam amnion kembali ke asal. Jenis-jenis kelainan his diantaranya inersia uteri, incoordinate uterine contraction (Wiknjosastro, 2008) 1. Inersia Uteri Pada kondisi ini, fundus berkontraksi lebih kuat dan lebih dahulu daripada bagian-bagian yang lain, peranan fundus tetap menonjol. Kelainannya terletak pada kontraksi uterus yang lebih lemah, lebih singkat dan lebih jarang dibandingkan biasanya. Keadaan umum penderita baik dan biasanya nyeri tidak seberapa. Selama ketuban masih utuh umumnya tidak banyak berbahaya, kecuali jika persalinan berlangsung dalam waktu yang lama. Hal ini disebut inersi uteri primer. Inersia uteri sekunder adalah timbulnya inersia uteri setelah sempat berlangsung his kuat untuk waktu yang lama (Wiknjosastro, 2008). 2. Incoordinate Uterine Contraction Pada keadaan ini sifat his berubah, tonus otot uterus terus meningkat, juga di luar his, dan kontraksinya tidak berlangsung seperti biasa karena tidak ada sinkronisasi diantara bagian-bagiannya. Tidak adanya koordinasi pada kontraksi uterus bagian atas, tengah, dan bawah menyebabkan his tidak efisien dalam mengadakan pembukaan. Disamping itu tonus otot uterus yang meningkat menyebabkan rasa nyeri yang lebih hebat dan lama bagi ibu dan dapat pula menyebabkan hipoksia janin (Wiknjosastro, 2008). d. Faktor Penolong Dalam proses persalinan, selain faktor ibu dan janin, penolong persalinan juga mempunyai peran yang sangat penting. Penolong persalinan bertindak dalam memimpin proses terjadinya kontraksi uterus dan mengejan hingga bayi dilahirkan. Seorang penolong persalinan harus dapat memberikan dorongan pada ibu yang sedang dalam masa persalinan dan mengetahui kapan haruis memulai persalinan. Selanjutnya melakukan perawatan 14

terhadap ibu dan bayi. Oleh karena itu, penolong persalinan seharusnya seorang tenaga kesehatan yang terlatih dan terampil serta mengetahui dengan pasti tanda-tanda bahaya pada ibu yang melahirkan, sehingga bila ada komplikasi selama persalinan, penolong segera dapat melakukan rujukan. Pimpinan yang salah dapat menyebabkan persalinan tidak berjalan dengan lancar, berlangsung lama, dan muncul berbagai macam komplikasi (Pernoll, 2001). Di Indonesia, persalinan masih banyak ditolong oleh dukun. Dan baru sedikit sekali dari dukun beranak ini yang telah ditatar sekedar mendapat kursus dukun. Karenanya kasus-kasus partus kasep masih banyak dijumpai, dan keadaan ini memaksa kita untuk berusaha menurunkan angka kematian ibu maupun anak. Yang sangat ideal tentunya bagaimana mencegah terjadinya partus kasep. Bila persalinan berlangsung lama, dapat menimbulkan komplikasi-komplikasi baik terhadap ibu maupun terhadap anak, dan dapat meningkatkan angka kematian ibu dan anak (Supriatmaja, 2005). Hasil penelitian Irsal dan Hasibuan di Yogyakarta menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh dan secara statistik bermakna terhadap kejadian kala II lama adalah penolong persalinan bukan dokter, sehingga selanjutnya perlu persalinan tindakan di RS. Demikian pula hasil penelitan Rusydi di RSUP Palembang, menemukan bahwa partus kasep yang akhirnya dilakukan tindakan operasi, merupakan kasus rujukan yang sebelumnya ditolong oleh bidan dan dukun di luar rumah sakit (Supriatmaja, 2005). e. Faktor Psikis Suatu proses persalinan merupakan pengalaman fisik sekaligus emosional yang luar biasa bagi seorang wanita. Aspek psikologis tidak dapat dipisahkan dari aspek fisik satu sama lain. Bagi wanita kebanyakan proses persalinan membuat mereka takut dan cemas. Ketakutan dan kecemasan inilah yang dapat menghambat suatu proses persalinan. Dengan persiapan antenatal yang baik, diharapkan wanita dapat melahirkan dengan mudah, tanpa rasa nyeri dan dapat menikmati proses kelahiran bayinya. (Syakurah, 2011)

15

Selain faktor bayi, tenaga, jalan lahir/panggul, dan penolong, partus kasep juga dapat disebabkan oleh jarak kelahiran yang jauh, primi tua, perut gantung, grandemulti, dan ketuban pecah dini. (Mochtar, 1998) 4. Manifestasi klinis Gejala klinis partus kasep dapat dijumpai pada ibu dan anak. Gejala klinis yang tampak pada ibu meliputi: Gelisah, letih, suhu badan meningkat, berkeringat, nadi cepat dan lemah, pernapasan cepat dan meteorismus cincin retraksi patologis, edema vulva, edema serviks, his hilang atau lemah. Cincin retraksi patologis Bandl sering timbul akibat persalinan yang terhambat disertai peregangan dan penipisan berlebihan segmen bawah uterus, dan menandakan ancaman akan rupturnya segmen bawah uterus. Pada partus kasep dapat juga muncul tanda-tanda ruptur uteri yang berupa perdarahan dari OUE, his menghilang, bagian janin mudah teraba dari luar, pada pemeriksaan dalam didapatkan bagian terendah janin mudah didorong ke atas, robekan dapat meluas sampai serviks dan vagina (Pernoll, 2001) Sementara gejala klinis yang nampak pada bayi meliputi: Denyut jantung janin cepat, hebat, tidak teratur, bahkan negatif air ketuban terdapat mekonium, kental kehijau-hijauan, berbau. Kaput suksedaneum yang besar. Kaput ini dapat berukuran cukup besar dan menyebabkan kesalahan diagnostik yang serius. Biasanya kaput

suksedaneum, bahkan yang besar sekalipun, akan menghilang dalam beberapa hari. Moulase kepala yang hebat akibat tekanan his yang kuat, tulang tengkorak saling bertumpang tindih satu sama lain. Kematian janin dalam kandungan atau intra uterine fetal death (IUFD) (Pernoll, 2001) 5. Patofisiologis Persalinan normal rata-rata berlangsung tidak lebih dari 24 jam dihitung awal pembukaan sampai lahirnya anak. Apabila terjadi perpanjangan dari fase laten (primi 20 jam, multi 14jam) dan fase aktif (primi 1,2 cm per jam, multi 1,5 cm per jam) atau kala pengeluaran (primi 2 jam dan multi 1 jam), maka kemungkinan akan timbul partus kasep. 16

Partus yang lama, apabila tidak segera diakhiri, akan berlanjut pada partus kasep dengan tanda-tanda sebagai berikut : Kelelahan ibu Karena mengejan terus, sedangkan asupan kalori biasanya kurang. Dehidrasi dan gangguan keseimbangan asam basa/elektrolit karena intake cairan kurang. Infeksi rahim; terjadi bila ketuban pecah lama, sehingga terjadi infeksi rahim yang dipermudah karena adanya manipulasi penolong yang kurang steril. Perlukaan jalan lahir; terjadi karena adanya disproporsi kepala panggul juga manipulasi dan dorongan dari penolong. Gawat janin sampai kematian janin karena asfiksia dalam rahim. (Syakurah, 2011) Tujuan persalinan adalah untuk melahirkan janin dan kemudian plasenta, dan untuk mengetahui apakah terdapat hambatan pada ibu. Uterus akan menghasilkan energi untuk berkontraksi dan relaksasi. Kondisi metabolik ini dapat berlangsung jika energi ibu cukup, dan aktivitas ini dipertahankan selama berjam-jam. Namun, jika kondisi ini berlangsung terlalu lama lebih dari 24 jam, akan menimbulkan terjadinya komplikasi. Pertama-tama, akan timbul gangguan emosi dan kelelahan pada ibu yang mengakibatkan cadangan glikogen pada uterus akan berkurang, sehingga ATP yang dihasilkan juga akan berkurang. Selain itu juga dapat terjadi asidifikasi karena timbunan asam laktat untuk memenuhi kebutuhan ATP. Timbunan asam laktat ini bisa mengurangi kemampuan uterus untuk berkontraksi. Oleh karena itu, kontraksi uterus akan melemah jika bekerja berkepanjangan karena alasan fisiologis dan biokimia. (Neilson, dkk, 2010) Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kontraktilitas uterus yang berkurang mengakibatkan kesulitan persalinan pada primigravida. Hal ini mungkin disebabkan oleh uterus yang berhenti berkontraksi karena miometrium yang mengalami asidifikasi. Asidifikasi ini disebabkan oleh penurunan energi miometrium, metabolisme anaerob, dan ketosis sistemik. Pada multigravida, kemungkinan miometrium tolerans terhadap efek asidifikasi yang

mekanismenya belum diketahui, sehingga kontraksi uterus tidak berhenti. 17

Kontraksi yang terus-menerus pada miometrium yang mengalami deplesi energi dan hipoksia akan mengakibatkan edema miometrium dan nekrosis yang yang dapat menimbulkan ruptur uteri. (Neilson, dkk, 2010) 6. Penatalaksanaan Dalam menerapi partus kasep keadaan umum ibu perlu diperbaiki. Memperbaiki keadaan umum ibu bertujuan untuk: 1. Koreksi cairan (rehidrasi) 2. Koreksi keseimbangan asam basa 3. Koreksi keseimbangan elektrolit 4. Pemberian kalori 5. Pemberantasan infeksi 6. Penurun panas Untuk itu diperlukan pemasangan infus sebagai akses masuknya cairan, kalori dan elektrolit. Kateter urin perlu dipasang untuk mengontrol produksi urin. Pada pasien dapat diberikan infus dekstrosa 5% sebagai sumber kalori dan cairan dapat diberikan menurut kebutuhan. Koreksi asam basa dapat dilakukan dengan pengukuran karbondioksida darah dan pH. Selain itu juga diperlukan pemberian antibiotika spektrum luas secara parenteral. Apabila ibu mengeluh demam dapat diberikan penurun panas berupa kompres, atau injeksi Xylomidone. Selain itu pada partus kasep, harus segera dilakukan terminasi persalinan. Bila syarat persalinan pervaginam memenuhi dapat dilakukan ekstraksi

vakum/ekstraksi forseps atau embriotomi. Bila syarat persalinan pervaginam tidak terpenuhi maka dilakukan bedah sesar (Kumboyo, 2001) 7. Komplikasi Komplikasi pada partus kasep dapat terjadi pada ibu maupun pada bayi. Pada partus kasep dapat terjadi infeksi sampai sepsis. Infeksi adalah bahaya serius yang mengancam ibu dan janinnya, terutama bila disertai pecahnya ketuban. Bakteri didalam cairan amnion menembus amnion dan menginvasi desidua serta pembuluh korion sehingga terjadi bakteremia dan sepsis pada ibu dan janin. Selain itu dapat terjadi dehidrasi, syok, kegagalan fungsi organ-organ, robekan jalan lahir, ruptur uteri. Penipisan abnormal segmen bawah uterus menimbulkan bahaya serius selama partus lama, terutama pada wanita dengan 18

paritas tinggi dan pada mereka dengan riwayat bedah sesar. Robekan serta pembentukan fistula pada buli-buli, vagina, uterus dan rektum. Apabila bagian terbawah janin menekan kuat ke pintu atas panggul tetapi tidak maju untuk jangka waktu yang cukup lama, bagian jalan lahir yang terletak di antaranya dan dinding panggul dapat mengalami tekanan berlebihan. Karena gangguan sirkulasi, maka dapat terjadi nekrosis yang akan jelas dalam beberapa hari setelah melahirkan dengan munculnya fistula vesikovaginal, vesikoservikal, atau rektovaginal. Umumnya nekrosis akibat penekanan ini terjadi setelah persalinan kala dua yang sangat berkepanjangan. Komplikasi yang terjadi pada janin akibat partus kasep adalah gawat janin dalam rahim sampai meninggal. Juga dapat terjadi kelahiran janin dalam asfiksia berat sehingga menimbulkan cacat otak menetap. Trauma persalinan merupakan akibat lain dari partus kasep. Selain itu dapat terjadi patah tulang dada, lengan, kaki, kepala karena pertolongan persalinan dengan tindakan (Kumboyo, 2001) D. MODEL KONSEP MENURUT S. CALLISTA ROY Dalam asuhan keperawatan menurut Roy (1984) sebagai penerima asuhan keperawatan adalah individu, keluarga, kelompok, masyarakat yang dipandang sebagai Holistic adaptif system dalam segala aspek yang merupakan satu kesatuan. System adalah suatu kesatuan yang di hubungkan karena fungsinya sebagai kesatuan untuk beberapa tujuan dan adanya saling ketergantungan dari setiap bagian-bagiannya. System terdiri dari proses input, output, kontrol dan umpan balik (Roy, 1991). Adapun yang dimaksud dengan tahapan tersebut adalah: 1. Input Roy mengidentifikasi bahwa input sebagai stimulus, merupakan kesatuan informasi, bahan-bahan atau energi dari lingkungan yang dapat menimbulkan respon, dimana dibagi dalam tiga tingkatan yaitu stimulus fokal, stimulus kontekstual dan stimulus residual. a. Stimulus fokal yaitu stimulus yang langsung berhadapan dengan seseorang dan efeknya segera, misalnya infeksi . b. Stimulus kontekstual yaitu semua stimulus lain yang dialami seseorang baik internal maupun eksternal yang mempengaruhi situasi dan dapat 19

diobservasi, diukur dan secara subyektif dilaporkan. Rangsangan ini muncul secara bersamaan dimana dapat menimbulkan respon negatif pada stimulus fokal seperti anemia, isolasi sosial. c. Stimulus residual yaitu ciri-ciri tambahan yang ada dan relevan dengan situasi yang ada tetapi sukar untuk diobservasi meliputi kepercayan, sikap, sifat individu berkembang sesuai pengalaman yang lalu, hal ini memberi proses belajar untuk toleransi. Misalnya pengalaman nyeri pada pinggang ada yang toleransi tetapi ada yang tidak. 2. Kontrol Proses kontrol seseorang menurut Roy adalah bentuk mekanisme koping yang di gunakan. Mekanisme kontrol ini dibagi atas regulator dan kognator yang merupakan subsistem. a. Subsistem regulator. Subsistem regulator mempunyai komponen-komponen : input-proses dan output. Input stimulus berupa internal atau eksternal. Transmiter regulator sistem adalah kimia, neural atau endokrin. Refleks otonom adalah respon neural dan brain sistem dan spinal cord yang diteruskan sebagai perilaku output dari regulator sistem. Banyak proses fisiologis yang dapat dinilai sebagai perilaku regulator subsistem. b. Subsistem kognator Stimulus untuk subsistem kognator dapat eksternal maupun internal. Perilaku output dari regulator subsistem dapat menjadi stimulus umpan balik untuk kognator subsistem. Kognator kontrol proses berhubungan dengan fungsi otak dalam memproses informasi, penilaian dan emosi. Persepsi atau proses informasi berhubungan dengan proses internal dalam memilih atensi, mencatat dan mengingat. Belajar berkorelasi dengan proses imitasi, reinforcement (penguatan) dan insight (pengertian yang mendalam). Penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan adalah proses internal yang berhubungan dengan penilaian atau analisa. Emosi adalah proses pertahanan untuk mencari keringanan, mempergunakan penilaian dan kasih sayang.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

20

Gambar 1 : Sub Sistem Cognator Internal stimuli Intact pathways and apparatus for perceptual /information in processing Proces for Sellective Attention, Coding & Memory

Learning

Imitation, Reinforcement, & Insight Problem Solving & Decicion Making Defences to seek Relief & Affective1 Appraisal & attachment

Judgement

Psychomotor Choice of Effector Response

Response

Emotion External stimuli

3. Output. Output dari suatu sistem adalah perilaku yang dapt di amati, diukur atau secara subyektif dapat dilaporkan baik berasal dari dalam maupun dari luar . Perilaku ini merupakan umpan balik untuk sistem. Roy mengkategorikan output sistem sebagai respon yang adaptif atau respon yang tidak mal-adaptif. Respon yang adaptif dapat meningkatkan integritas seseorang yang secara keseluruhan dapat terlihat bila seseorang tersebut mampu melaksanakan tujuan yang berkenaan dengan kelangsungan hidup, perkembangan, reproduksi dan keunggulan. Sedangkan respon yang mal adaptif perilaku yang tidak mendukung tujuan ini. Roy telah menggunakan bentuk mekanisme koping untuk menjelaskan proses kontrol seseorang sebagai adaptif sistem. Beberapa mekanisme koping diwariskan atau diturunkan secara genetik (misal sel darah putih) sebagai sistem pertahanan terhadap bakteri yang menyerang tubuh. Mekanisme yang lain yang dapat dipelajari seperti penggunaan antiseptik untuk membersihkan luka. Roy memperkenalkan konsep ilmu Keperawatan yang unik yaitu mekanisme kontrol yang disebut Regulator dan Kognator dan mekanisme tersebut merupakan bagian sub sistem adaptasi. 21

Stimulus Tingkat Adaptasi

Mekanisme Koping Regulator Kognator

Fungsi fisiologis Konsep diri Fungsi peran Interdependent

Respon Adaptif & tidak efektif

Gambar 2 : Proses Adaptasi Calista Roy

Dalam memahami konsep model ini, Callista Roy mengemukakan konsep keperawatan dengan model adaptasi yang memiliki beberapa pandangan atau keyakinan serta nilai yang dimilikinya diantaranya, yaitu: a. Manusia sebagai makhluk biologi, psikologi dan social yang selalu berinteraksi dengan lingkungannya. b. Untuk mencapai suatu homeostatis atau terintegrasi, seseorang harus beradaptasi sesuai dengan perubahan yang terjadi.

1. Proses keperawatan menurut Roy Menurut Roy elemen dari proses keperawatan meliputi pengkajian tingkat pertama dan kedua, diagnosa keperawatan, penentuan tujuan, intervensi dan evaluasi. Fokus dari model ini adalah adaptasi, dan tujuan pengkajian adalah mengidentifikasi tingkah laku yang aktual dan potensial apakah memperlihatkan maladaptif dan mengidentifikasi stimulus atau penyebab perilaku maladaptif. Empat model adaptasi dapat digunakan sebagi dasar kerangka kerja untuk pedoman pengkajian. Roy merekomendasikan pengkajian dibagi menjadi dua bagian, yaitu pengkajian tahap pertama dan pengkajian tahap kedua, yaitu: a. Pengkajian tingkat pertama Mengumpulkan data perilaku out put seseorang sebagai sistem adaptasi dihubungkan dengan 4 adaptive mode yaitu fungsi fisiologis, konsep diri, fungsi peran, dan interdependent. Pengkajian tahap pertama ini berkenaan dengan pengkajian perilaku. Empat model sistem adaptasi yaitu: 1) Fungsi fisiologis, komponen system adaptasi ini yang adaptasi fisiologis diantaranya oksigenasi, nutrisi, eliminasi, aktivitas dan istirahat, integritas kulit, indera, cairan dan elektrolit, fungsi neurologis dan fungsi endokrin. 22

2) Konsep diri yang mempunyai pengertian bagaimana seseorang mengenal pola-pola interaksi social dalam berhubungan dengan orang lain. Konsep diri menurut Roy terdiri dari dua komponen yaitu : a) The physical self, yaitu bagaimana seseorang memandang dirinya berhubungan dengan sensasi tubuhnya dan gambaran tubuhnya. Kesulitan pada area ini sering terlihat pada saat merasa kehilangan, seperti setelah operasi, amputasi atau hilang kemampuan seksualitas. b) The personal self, yaitu berkaitan dengan konsistensi diri, ideal diri, moral, etik dan spiritual diri orang tersebut. Perasaan cemas, hilangnya kekuatan atau takut merupakan hal yang berat dalam area ini. 3) Fungsi peran merupakan proses penyesuaian yang berhubungan dengan bagaimana peran seseorang dalam mengenal pola-pola interaksi social dalam berhubungan dengan orang lain. 4) Interdependent merupakan kemampuan seseorang mengenal pola-pola tentang kasih sayang, cinta yang dilakukan melalui hubungan secara interpersonal pada tingkat individu maupun kelompok. Dalam proses penyesuaian diri individu harus meningkatkan energi agar mampu melaksanakan tujuan untuk kelangsungan kehidupan,

perkembangan, reproduksi dan keunggulan sehingga proses ini memiliki tujuan meningkatkan respon adaptasi. b. Pengkajian tingkat kedua Pada tahap ini termasuk pengkajian stimuli yang signifikan terhadap perubahan perilaku seseorang yaitu stimuli focal, kontekstual dan residual. 1) Identifikasi stimuli fokal Stimuli fokal merupakan perubahan perilaku yang dapat diobservasi. Perawat dapat melakukan pengkajian dengan menggunakan pengkajian perilaku yaitu keterampilan melakukan observasi, melakukan pengukuran dan interview. 2) Identifikasi stimuli kontekstual Stimuli kontekstual ini berkontribusi terhadap penyebab terjadinya perilaku atau presipitasi oleh stimulus focal. Sebagai contoh anak yang di rawat dirumah sakit mempunyai peran perilaku yang inefektif yaitu tidak belajar. Focal stimulus yang dapat diidentifikasi adalah adanya fakta bahwa anak kehilangan skedul sekolah. Stimulus kontekstual yang dapat diidentifikasi 23

adalah secara internal faktor anak menderita sakit dan faktor eksternalnya adalah anak terisolasi. Stimulasi kontekstual dapat diidentifikasi oleh perawat melalui observasi, pengukuran, interview dan validasi. Menurut Martinez, 1976 dalam Roy 1989, faktor kontekstual yang mempengaruhi mode adaptif adalah genetic, sex, tahap perkembangan, obat, alkohol, tembakau, konsep diri, peran fungsi, interdependensi, pola interaksi sosial, koping mekanisme, stress emosi dan fisik, religi, dan lingkungan fisik. 3) Identifikasi stimuli residual Pada tahap ini yang mempengaruhi adalah pengalaman masa lalu. Helson dalam Roy (1989) menjelaskan bahwa beberapa faktor dari pengalaman lalu relevan dalam menjelaskan bagaimana keadaan saat ini. Sikap, budaya, karakter adalah faktor residual yang sulit diukur dan memberikan efek pada situasi sekarang. c. Diagnosa keperawatan Diagnosa keperawatan menurut teori adaptasi Roy didefinisikan sebagai suatu hasil dari proses pengambilan keputusan berhubungan dengan kurang mampunya adaptasi. Diagnosa keperawatan dirumuskan dengan

mengobservasi tingkah laku klien terhadap pengaruh lingkungan. Menurut Roy (1991) ada 3 metode dalam membuat diagnosa keperawatan, yaitu: 1) Menggunakan 4 (empat) model adaptif, yaitu fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan interdependen 2) Mengobservasi respon klien yang paling menonjol pada satu model adaptif, misalnya model fisiologis sub kebutuhan cairan. 3) Menyimpulkan respon klien dari satu atau lebih dari model adaptif yang terkait dengan stimulus yang sama. Misalnya model yang terganggu adalah model fisiologis, konsep diri dan interdependensi. d. Tujuan Roy (1984) menyampaikan bahwa secara umum tujuan pada intervensi keperawatan adalah untuk mempertahankan dan mempertinggi perilaku adaptif dan mengubah perilaku inefektif menjadi adaptif. Penentuan tujuan dibagi atas tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek. Tujuan jangka panjang yang akan dicapai meliputi hidup, tumbuh, reproduksi dan kekeuasaan. Tujuan jangka pendek meliputi tercapainya tingkah laku yang diharapkan setelah dilakukan manipulasi terhadap stimulus focal, konteksual dan residual. 24

e. Intervensi Intervensi keperawatan dilakukan dengan tujuan mengubah atau memanipulasi stimulus fokal, kontekstual dan residual, juga difokuskan pada koping individu atau zona adaptasi sehingga seluruh rangsang sesuai dengan kemampuan individu untuk beradaptasi. Tindakan keperawatan berusaha membantu stimulus menuju perilaku adaptif. Hal ini menekankan kembali pentingnya mengidentifikasi penyebab selama pengkajian tahap II. f. Evaluasi Evaluasi merupakan penilaian efektifitas terhadap intervensi keperawatan sehubungan dengan tingkah laku pasien. Perawat harus mengkaji tingkah laku pasien setelah diimplementasi. Intervensi keperawatan dinilai efektif jika tingkah laku pasien sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.

STIMULI

Physiological

Self concept

Coping Mechanisms

Interdepen dence

BEHAVIOR Role Function BEHAVIOR

Gambar 3 : Metode Interaksi ke Empat Mode Menurut S.Calista Roy

25

D. WOC Proses persalinan Penyebab

Faktor panggul faktor anak faktor tenaga faktor psikis

faktor penolong

Tidak ada tanda kemajuan Induksi persalinan Tetap tidak ada kemajuan Sectio Caecaria Post Operasi Adaptasi maternal dan fisik Adaptasi pada pembedahan

Tingkat adaptasi : 1. Regulator 2. Kognator

Model Adaptasi

Fisiologis

Kosep diri

Fungsi peran

Interdependensi

Adaptif

Mal adaptif

26

III. APLIKASI MODEL KONSEP ADAPTASI ROY PADA STUDI KASUS A. PENGKAJIAN 1. Riwayat Pasien a. Identitas Ny. R, 29 tahun, Islam, pendidikan SMA, pekerjaan ibu rumah tangga, suku Madura, kawin dengan suami Tn. A, 31 tahun, Islam, pekerjaan Swasta, suku Jawa, (pengkajian tanggal 27 Mei 2013). b. Keluhan Utama Klien mengatakan nyeri hilang timbul pada luka post operasi, skala sedang, nyeri terasa terutama saat bergerak atau beraktivitas. c. Riwayat Obstetrik 1) Riwayat Menstruasi Menarche usia 13 tahun, teratur, siklus 26-28 hari, lamanya 7 hari, jumlah darah banyak terutama pada hari kedua dan ketiga. Haid terakhir pertengahan bulan 17 Agustus 2012. 2) Riwayat Perkawinan Ny. R menikah 1 kali, yaitu dengan Tn. A pada usia 28 tahun. 3) Riwayat Kehamilan dan Persalinan P1A1. Anak II pada persalinan ini, lahir dengan sectio caecaria atas indikasi Partus kasep dan gagal di Vacum ekstraksi, usia kehamilan 40-41 minggu, BB 3075 gr, PB 53 cm, AS 3-4, bayi langsung dibawa ke ruang perinatologi. 4) Riwayat Kelainan Obstetrik Kehamilan ini adalah kehamilan pertama klien. 5) Riwayat Penggunaan Kontrasepsi Klien tidak pernah menggunakan KB d. Riwayat Ginekologi Klien mengatakan tidak pernah mengalami keluhan yang berkaitan dengan penyakit-penyakit ginekologi. e. Riwayat Penyakit Sekarang Hari Sabtu tanggal 25-5-2013 jam 07.00 klien kenceng-kenceng dan periksa ke bidan pembukaan 2 cm karena masih pembukaan dua ibu pulang kerumah. Jam 23.30 tanggal 25 Mei 2013 klien diperiksa 27

pembukaan 3 cm, jam 3.30 pembukaan 4 cm. jam 13.00 26 Mei 2013 ketuban pecah, 14.30 pembukaan sudah lengkap 10 cm dan ibu dipimpin meneran. Karena tidak ada kemajuan pasien dibawa ke puskesmas dan dirujuk ke RSD dr Soebandi. Karena di vakum tidak berhasil Klien di operasi jam 22.20-22.40 tanggal 26 Mei 2013 atas indikasi Partus Kasep. f. Riwayat Penyakit Dahulu Klien mengatakan tidak memiliki penyakit atau keluhan yang berkaitan dengan penyakit jantung, DM, hipertensi, asma dan lainlain. g. Riwayat Penyakit Keluarga Klien mengatakan keluarganya tidak ada yang menderita penyakit genetik atau menular. h. Status Perkembangan Merupakan keluarga inti, Kehamilan ini adalah kehamilan pertama klien. i. Riwayat Psikososial Ny. R beragama Islam, suku Madura, Tn. A beragama Islam, juga suku Jawa. Pernikahan dengan Tn. A klien hamil dan sangat senang dengan kehamilannya karena klien akan mempunyai anak pertama. Akan tetapi klien sekarang kawatir dengan keadaan anak klien yang masih dirawat di ruang perinatologi. j. Status Sibling Klien mengatakan bahwa ini adalah anak pertama. k. Pola Seksualitas Klien mengatakan sejak usia kehamilan 6 bulan klien tidak pernah lagi berhubungan suami istri, karena takut terjadi sesuatu dengan kehamilan klien

28

2. Aplikasi Teori Adaptasi Roy a. Pengkajian Tahap Pertama 1) Physiological Mode a) Oksigenasi Napas spontan tanpa bantuan alat pernafasan. Pernapasan 22 kali/menit, nadi 80 kali/menit, tekanan darah 100/70 mmHg, Capillary Refill Time < 3 detik, konjungtiva tidak anemis. b) Nutrisi Nafsu makan klien menurun, diet bubur halus, kuah sayur, lauk, susu dan buah, tidak mual, muntah, tetapi masih kembung. c) Eliminasi Sampai hari kedua post op, klien belum bisa BAB, flatus sudah, urine via folley catheter, output 900cc, warna kuning jernih. Jam 11.00 kateter di lepas. d) Aktivitas dan Istirahat Saat ini aktivitas klien hanya disekitar tempat tidur, ADL dibantu parsial oleh keluarga. Klien mengatakan masih lemas dan ingin tidur terus karena kaki klien bengkak dan terasa berat. e) Proteksi Terdapat luka post operasi pada abdomen dengan insisi horisontal, dressing kering, belum ada tanda engorgement pada payudara. f) Senses Terasa nyeri yang hilang timbul pada luka post operasi, nyeri bertambah saat dibuat bergerak atau beraktivitas ringan. g) Cairan dan Elektrolit Tidak ada keluhan pada pola minum, klien mampu untuk minum air putih dan susu yang disediakan dari rumah sakit. Turgor kulit baik, tekstur kulit juga baik.

29

h) Fungsi Neurologi Kesadaran komposmentis, daya ingat baik, fungsi kognitif baik, meningeal signs negatif, hofman signs negatif, klien tidak mempunyai gangguan pendengaran. i) Fungsi Endokrin Tidak ada masalah pada sistem endokrin, tidak ada gangguan hormonal, kelenjar tiroid normal. 2) Self Concept Mode a) Physical Self Klien mengatakan badannya berubah, tambah gemuk dan sekarang, selain ada striae, juga ada bekas luka post operasi sectio caecaria yang menurutnya sedikit mengganggu karena takut suaminya tidak suka dengan adanya bekas operasi b) Personal Self Harga diri klien positif, karena sudah bisa melahirkan anak pertamanya. Klien mempunyai sedikit masalah pada body image terkait dengan luka post operasi yang nantinya akan meninggalkan bekas. 3) Role Function Mode Peran klien saat ini adalah seorang ibu bagi 1 orang anak laki lakinya, dan juga sebagai seorang istri. Klien sangat senang bisa memberikan anak untuk suami klien. Namun yang membuat klien bersedih adalah karena klien belum melihat bayinya sampai saat ini. 4) Interdependensi Mode Hubungan dengan anggota keluarga baik, dengan tetangganya juga baik, karena mayoritas semua dideretan rumahnya adalah saudara-saudaranya. Orang paling dekat saat ini adalah suami klien dan ibu kandung klien karena selama proses kelahiran klien ditunggu oleh keluarga dan ibu secara bergantian. b. Pengkajian Tahap Kedua 1) Faktor Fokal Klien mengatakan nyeri hilang timbul pada luka post operasi, skala sedang, nyeri terasa terutama saat bergerak atau beraktivitas. 30

Saat ini klien juga selalu menanyakan tentang keadaan bayinya dan kapan klien akan bertemu dengan bayinya. 2) Faktor Kontekstual Ny. R post operasi sectio caecaria atas indikasi pertus kasep, hari ke pertama. Tidak memiliki riwayat penyakit apapun sebelum hamil. Klien tidak pernah mengira akan melahirkan dengan cara operasi. 3) Faktor Residual Klien belum mempunyai pengalaman melahirkan karena

kehimilan klien adalah kehamilan pertama klien. Akan tetapi klien mengatakan tidak trauma dan ingin mempunyai 1 anak lagi. 3. Pemeriksaan Fisik a. Keadaan Umum Keadaan klien tampak lemah, kesadaran komposmentis, GCS 4-5-6 b. Tanda tanda Vital Tekanan darah 100/70, nadi 82 x/mnt, RR 26 x/mnt, S 37,5 0C, CRT <3 dtk, expansi dada maksimal, pernapasan spontan 22x/menit. c. Kepala dan Leher Rambut : bersih, muka bentuk bulat, warna sawo matang Mata : tidak ada odema palpebra, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, tidak ada keluhan pandangan Telinga : simetris, bersih, tidak ada keluhan, Hidung : simetris, tidak ada deviasi septum Mulut : bibir agak kering, higiene bersih, tidak ada kesulitan menelan, tidak ada karies gigi, hanya ada karang gigi. Leher : tidak ada pembesaran tonsil, distensi vena leher tidak ada. d. Thorax / Dada Sistem kardiovaskuler : ictus cordis tidak nampak, teraba di ICS 45 mid klavikula sinistra, terdengar bunyi jantung I dan II tunggal, murmur tidak ada, gallop tidak ada. Sistem pernapasan : napas spontan 22x/menit, suara napas vesikuler, ekspansi dada maksimal, wheezing tidak ada, ronchi, tidak ada dan tidak sesak. 31

Payudara lembek, kolostrum belum keluar, higiene pada puting kurang. e. Abdomen Nifas hari ke I, striae ada sedikit, palpasi fundus uteri 3 jari dibawah pusat, kontraksi uterus baik, dressing pada luka post operasi utuh, kering, dibalut dengan plaster opsite, ada nyeri tekan skala 5-6, peristaltik 16x/menit, kembung. f. Genetalia dan anus: lochea rubra, jumlah kurang lebih 50 cc, bau khas, higiene cukup, terpasang foley catheter, produksi urine 900 cc, warna kuning jernih, pada anus tidak terdapat hemoroid. g. Punggung: tidak ada kelainan bentuk h. Ekstremitas: tidak ada edema, terpasang infus pada tangan kiri, kekuatan otot 5, CRT < 2 detik, hofman sign (-), varises tidak ada. 4. Analisa Data a. Analisa 1 Data Subjektif Klien mengatakan nyeri hilang timbul pada luka post operasi, skala sedang, nyeri terasa terutama saat bergerak atau beraktivitas. Data obyektif: P1A1, terdapat luka operasi pada suprapubik tertutup kassa, pasien mobilisasi ditempat tidur dan duduk di tempat tidur, TD 100/70 mmHg, N: 80x/menit, RR: 22x/menit, S: 37,5 0 C post SC hari ke 1 Masalah: Nyeri Kemungkinan penyebab: Trauma jaringan (luka operasi SC) b. Analisa 2 Data Subjektif : Data Objektif : Lochea rubra, TD 140/80 mmHg, N: 88x/menit, RR: 26x/menit, S: 37,4
0

C, post SC hari ke 2, terdapat luka operasi di membujur di

abdomen, tertutup opsite , TFU 3 jari dibawah pusat, higiene pada area sekitar luka cukup. Masalah: Risiko infeksi

32

Kemungkinan penyebab: berkurangnya proteksi primer sekunder terhadap perlukaan di abdomen post SC c. Analisa 3 Data Subjektif : Klien mengatakan air susunya belum keluar Data Objektif : Post SC hari ke 1, mika miki sudah dilakukan, TD saat pengkajian 100/70 mmHg, nadi 80 x/mnt, RR 22 x/mnt, S 37,5 0C, CRT <3 dtk, expansi dada maksimal, pernapasan spontan, payudara masih lembek, higiene pada puting kurang, bayi dirawat di R. Perinatologi Masalah: Ketidakefektifan proses laktasi Kemungkinan penyebab: pemisahan perawatan ibu dan bayi d. Analisa 4 Data Subjektif : Klien merasa sudah sangat gemuk dan enggan untuk mengikuti KB karena takut akan semakin gemuk, disamping itu klien juga mengatakan suaminya bekerja di Kalimantan dan jarang pulang, Data Objektif : Post SC hari ke 2, riwayat menggunakan alat kontrasepsi suntik 3 bulanan. Masalah: Risiko ketidakefektifan perencanaan keluarga Kemungkinan penyebab: pemilihan alat kontrasepsi yang tepat

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Nyeri ybd diskontinuitas jaringan sekunder terhadap luka post operasi 2. Risiko tinggi infeksi ybd berkurangnya proteksi primer sekunder terhadap perlukaan pada abdomen post SC 3. Ketidakefektifan proses laktasi ybd pemisahan perawatan ibu dan bayi 4. Risiko ketidakefektifan perencanaan keluarga b.d pemilihan alat kontrasepsi yang tepat

33

C. RENCANA TINDAKAN 1. Nyeri ybd diskontinuitas jaringan sekunder terhadap luka post operasi a. Tujuan Klien mengatakan nyeri berkurang sampai dengan hilang dengan skala nyeri 1-4 (ringan), setelah diberikan intervensi keperawatan b. Kriteria Hasil Pasien menyatakan nyeri berkurang dari sebelumnya, wajah rileks, mobilisasi pasif sampai dengan aktif (out of bed), TD sistolik 110-120 TD diastolik 80-90, nadi 60-80 x/menit, RR 18-24 x/menit, skala nyeri 1-4 (ringan), TFU dan lochea sesuai. c. Intervensi 1) Bina hubungan saling percaya Rasional : hubungan saling percaya dapat memudahkan proses dalam pemberian informasi dan intervensi 2) Jelaskan dan ajarkan pada pasien tentang nyeri dan penyebabnya, macam dan cara teknik penurunan nyeri non invasive, minta pasien untuk memilih salah satu metode dan gunakan bila nyeri dirasakan Rasional : ketidaktahuan akan menurunkan toleransi terhadap nyeri, tindakan penurun nyeri dapat memblokir impuls nyeri dalam korteks serebral. 3) Anjurkan pasien untuk mobilisasi (jalan-jalan) Rasional : mobilisasi dapat membantu pasien beradaptasi terhadap nyeri 4) Observasi terhadap: nyeri, TTV, TFU Rasional : nyeri dapat diperberat dengan adanya subinvolusi uterus, dan mempengaruhi perubahan TTV. 5) Laksanakan hasil kolaborasi pemberian analgetik Rasional : analgesik bekerja pada hipotalamus untuk

mempengaruhi persepsi nyeri.

34

2. Risiko tinggi infeksi ybd berkurangnya proteksi primer sekunder terhadap perlukaan pada abdomen post SC a. Tujuan Klien tidak mengalami infeksi selama masa hospitalisasi b. Kriteria Hasil Tidak ada tanda-tanda infeksi : rubor, kalor, dolor, dan fungsio laesa, TTV dalam batas normal : TD sistolik 90-120, TD diastolik 80-90, nadi 60-80 x/menit, RR 18-24 x/menit suhu 36,5-37,5 0C, TFU dan lochea sesuai c. Intervensi 1) Jelaskan dan ajarkan pada pasien tentang pentingnya personal hygiene Rasional : pengetahuan meningkatkan motivasi untuk berperilaku sehat, personal hygiene mencegah terjadinya infeksi 2) Rawat luka operasi pada hari ke 3 dan ajarkan cara merawat daerah alat kelamin yaitu dengan membersihkan dengan kasa dan Cairan NaCl Rasional : teknik aseptik dapat mencegah terjadinya infeksi 3) Pantau adanya tanda-tanda infeksi, TTV, pengeluaran lochea Rasional : diagnosis menjadi aktual atau risiko tergantung data yang didapat 4) Dukung upaya pemenuhan nutrisi post partum secara adekuat Rasional : nutrisi adekuat meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah terjadinya infeksi 5) Berikan terapi dokter antibiotik Rasional : antibiotik dapat mencegah terjadinya infeksi 3. Ketidakefektifan proses laktasi ybd pemisahan perawatan ibu dan bayi a. Tujuan Klien mengalami proses laktasi yang efektif setelah diberikan intervensi keperawatan

35

b. Kriteria Hasil Kondisi ibu cukup baik, tekanan darah stabil, meningkatnya kepercayaan diri pasien untuk memberikan ASI, payudara berisi, kolostrum dan air susu keluar, dilakukan rawat gabung c. Intervensi 1) Jelaskan tentang manfaat ASI dan menyusui bagi bayi dan ibu Rasional : pengetahuan meningkatkan motivasi untuk

memberikan ASI secara eksklusif 2) Ajarkan tentang breast care Rasional : breast care yang dilakukan dengan benar dapat mengoptimalkan produksi hormon prolaktin 3) Motivasi ibu untuk: - Percaya diri bahwa akan segera sehat kembali - Menghabiskan porsi makan yang diberikan - Meningkatkan aktivitas mobilisasi Rasional : motivasi yang positif akan meningkatkan rasa percaya diri ibu sehingga keadaan ibu akan membaik dan bisa dirawat gabung dengan bayinya 4. Risiko ketidakefektifan perencanaan keluarga b.d pemilihan alat kontrasepsi yang tepat a. Tujuan Klien memiliki perencanaan keluarga yang efektif tentang pemilihan alat kontrasepsi yang tepat setelah diberikan intervensi keperawatan b. Kriteria Hasil Klien paham dengan tujuan KB, klien setuju dan bersedia mengikuti KB dengan memilih salah satu metode kontrasepsi c. Intervensi 1) Jelaskan tentang tujuan dan manfaat KB bagi kesejahteraan keluarga Rasional : pengetahuan akan meningkatkan pemahaman ibu tentang KB 2) Jelaskan tentang jenis-jenis metode kontrasepsi Rasional : pengetahuan yang cukup akan memfasilitasi klien dalam memilih metode kontrasepsi yang sesuai untuk dirinya 36

D. IMPLEMENTASI Hari Senin, 27 Mei 2013 Pukul 10.00 14.00 WIB 1. Mengkaji skala nyeri klien R/ Skala nyeri sedang, bertambah saat bergerak atau beraktivitas 2. Mengobservasi tanda-tanda vital R/ TD 100/80 mmHg, N: 88x/menit, RR: 24x/menit, S: 37 0 C 3. Memotivasi klien untuk mengoptimalkan intake nutrisi R/ Klien mampu menghabiskan porsi bubur halus, lauk dan sayur habis, susu diminum gelas 4. Mengajari klien teknik breast care dan menganjurkan klien untuk membersihkan puting susunya R/ Klien menolak untuk mempraktekkan sekarang, klien hanya mau membersihkan puting susunya dengan air hangat dan kapas dan klien ingin sekali bisa menyusui bayinya 5. Memantau keadaan luka R/ Dressing utuh, tidak ada rembesan, terasa cekit-cekit walaupun tanpa aktivitas 6. Mengajak klien diskusi tentang keluarga berencana dan metode kontrasepsi yang akan dipergunakan R/ Klien mengatakan merasa sudah sangat gemuk dan enggan untuk mengikuti KB karena takut akan semakin gemuk. Klien masih bingung akan menggunkan KB atau tidak. 2. Hari Selasa, Tanggal 28 Mei 2013 Pukul 20.00 07.00 WIB 1. Mengkaji keadaan umum klien R/ Keadaan umum cukup baik, napas spontan tanpa oksigen 2. Mengobservasi tanda-tanda vital klien R/ TD 100/70 mmHg, S: 36,4 0 C, RR: 18x/menit, N: 80x/menit 3. Membantu klien untuk melakukan mobilisasi R/ Klien mampu untuk miring kanan dan miring kiri, dengan nyeri yang ringan dan klien tampak rileks 4. Memantau keadaan luka post op (H 2) R/ Dressing utuh, ada sedikit rembesan berwarna pada opsite. 5. Membantu dan memotivasi klien untuk menghabiskan makan malamnya

37

R/ Klien mampu menghabiskan 1 porsi makan malamnya, beserta lauk dan sayurnya serta susu 6. Mengajari ibu cara breast care R/ Klien paham cara breast care dan mendemonstrasikan ulang teknik breast care dengan beberapa koreksi 7. Memotivasi klien untuk yakin bahwa klien akan mampu menyusui bayinya R/ Klien yakin dan mau untuk menyusui bayinya segera setelah sembuh 8. Melaksanakan hasil kolaborasi pemberian antibiotik : injeksi ceftriaxone 1 gr IV R/ IV line utuh, injeksi ceftriaxone 1 gr IV masuk perlahan 9. Mengajak klien diskusi dan memberi penjelasan tentang metode kontrasepsi yang bisa digunakan tanpa efek samping kegemukan (non hormonal) R/ Klien mulai terbuka dan mulai bertanya banyak tentang metode

kontrasepsi, termasuk tentang KB alami) 3. Hari Rabu, Tanggal 29 Mei 2013 Pukul 07.00 09.00 WIB 1. Mengkaji skala nyeri klien dan keadaan umum R/ Skala nyeri ringan, klien tampak rileks, klien mampu beradaptasi dengan nyeri, keadaan umum cukup baik, 2. Melakukan rawat luka R/ Luka mulai mengering, sedikit ada rembesan serum pada luka, jahitan utuh, edema tidak ada, eritema tidak ada. 3. Mengajari klien breast care R/ Klien mampu melakukan breast care secara mandiri, puting susu bersih dari lapisan lemak dan kotoran, payudara mulai sedikit keras, kolostrum belum keluar, klien sangat rindu untuk bertemu dengan bayinya. Advice dokter : bisa dilakukan rawat gabung besok 4. Memotivasi klien untuk mobilisasi R/ Setelah Folley catheter dilepas kemarin, klien bisa berjalan kekamar mandi untuk BAK 5. Mengobservasi tanda-tanda vital R/ TD 100/70 mmHg, N: 80 x/menit, RR: 20x/menit, S: 36,7 0 C 6. Melaksanakan hasil kolaborasi : injeksi antibiotik ceftriaxone 1 gr IV 38

R/ Injeksi cetriaxone 1 gr IV sudah masuk perlahan (last dose), IV cath dilepas 7. Mengajak klien diskusi tentang metode kontrasepsi R/ Klien tampak mengerti dan akan mempertimbangkan untuk mengambil metode kontrasepsi suntik setelah berdiskusi dengan suaminya dan berencana ingin mempunyai 1 anak lagi

E. EVALUASI Hari Senin, 27 Mei 2013 Pukul 14.00 WIB Diagnosa Keperawatan 1 S: Klien mengatakan nyeri sedang, bertambah saat bergerak dan beraktivitas O:Klien terkadang meringis menahan sakit, klien mulai beradaptasi dengan nyerinya A : Masalah belum teratasi P : Intervensi dilanjutkan Diagnosa Keperawatan 2 S : Klien mengatakan gatal pada luka post op nya O: Suhu 37,4
0

C, dressing utuh, tidak ada rembesan, mobilisasi sudah,

makan porsi habis A : Masalah teratasi sebagian P : Intervensi dilanjutkan Diagnosa Keperawatan 3 S : Klien mengatakan ingin menyusui bayinya O : Keadaan umum cukup, TD: 100/80 mmHg, ibu masih lemas, tidak sesak, payudara masih lembek, kolostrum belum keluar, puting masih tertutup kotoran dan lemak tubuh A : Masalah teratasi sebagian P : Intervensi dilanjutkan Diagnosa Keperawatan 4 S : Klien mengatakan sudah sangat gemuk dan enggan untuk mengikuti KB karena takut akan semakin gemuk, disamping itu klien juga mengatakan suaminya bekerja di Kalimantan dan jarang pulang, jadi akan aman walaupun tidak menggunakan KB

39

O : Klien tampak enggan dan sedikit ketakutan dibayangi badannya yang akan semakin gemuk A : Masalah belum teratasi P : Intervensi dilanjutkan

Hari Selasa, Tanggal 28 Mei 2013 Pukul 07.00 WIB Diagnosa Keperawatan 1 S : Klien mengatakan nyeri ringan O: Klien tampak rileks, sudah mulai beradaptasi dengan nyeri, mampu duduk dikursi selama 10 menit tanpa bantuan A : Masalah teratasi sebagian P : Intervensi dilanjutkan Diagnosa Keperawatan 2 S : Klien mengatakan terkadang cekit-cekit pada luka post op nya O : Suhu 36,5
0

C, berdasarkan laporan dinas pagi, saat ini dressing bagus,

ada rembesan, mobilisasi sudah, makan 1 porsi habis A : Masalah teratasi sebagian P : Intervensi dilanjutkan Diagnosa Keperawatan 3 S : Klien mengatakan ingin menyusui bayinya segera setelah sembuh O: Keadaan umum cukup baik, TD: 90/70 mmHg, tidak sesak, napas spontan tanpa bantuan oksigen, klien mampu mendemonstrasikan teknik breast care dengan beberapa koreksi, payudara masih lembek, kolostrum

belum keluar A : Masalah teratasi sebagian P : Intervensi dilanjutkan Diagnosa Keperawatan 4 S : Klien menanyakan tentang KB alami O: Klien mulai terbuka dan kontrasepsi A : Masalah teratasi sebagian P : Intervensi dilanjutkan mulai bertanya banyak tentang metode

40

Hari Rabu, Tanggal 29 Mei 2013 Pukul 09.00 WIB Diagnosa Keperawatan 1 S : Klien mengatakan nyeri berkurang, skala ringan O: Klien tampak rileks, klien mampu beradaptasi dengan nyeri A : Masalah teratasi P : Intervensi dihentikan Diagnosa Keperawatan 2 S : Klien mengatakan nyeri pada luka post op nya sudah sangat berkurang O: Suhu 36,5 0 C, rawat luka, dengan kasa dan cairan NaCl, luka sedikit ada rembesan serum pada luka, jahitan utuh, edema tidak ada, eritema tidak ada, tidak ada pus, opsite diganti. A : Masalah teratasi sebagian P : Intervensi dilanjutkan Diagnosa Keperawatan 3 S : Klien mengatakan rindu dan ingin sekali menyusui bayinya O : Keadaan umum cukup baik, TD: 110/70 mmHg, klien mampu melakukan breast care secara mandiri, puting susu bersih dari lapisan lemak dan kotoran, payudara mulai sedikit keras, kolostrum belum keluar, klien sangat rindu untuk bertemu dengan bayinya. Advice dokter : bisa dilakukan rawat gabung besok A : Masalah teratasi sebagian P : Intervensi dilanjutkan Diagnosa Keperawatan 4 S : Klien mengatakan akan mempertimbangkan untuk mengambil metode kontrasepsi suntik karena ingin mempunyai 1 anak lagi O : Klien tampak mengerti dan mulai paham A : Masalah teratasi P : Intervensi dihentikan

41

IV. PEMBAHASAN Kondisi post partum dengan sectio caecaria merupakan kondisi dimana klien akan dihadapkan pada beberapa stressor, yaitu perannya sebagai ibu, pemulihan dari tahap post partum dan luka post operasi sectio caecaria yang nantinya akan meninggalkan bekas. Hal ini membutuhkan proses adaptasi dari Ny. N untuk menerima dan mencapai keseimbangan. Perawat dapat melakukan asuhan keperawatan dengan menggunakan pendekatan model konsep adaptasi Roy untuk mengoptimalkan koping dan potensi yang dimiliki klien untuk beradaptasi terhadap stressor yang dihadapinya.

Sectio caecaria pada persalinan ini merupakan pengalaman pertama klien yang membuat klien agak takut akan tetapi klien masih ingin mempunya satu anak lagi. Masalah keperawatan yang dialami oleh Ny.N yang berhubungan dengan kebutuhan fisiologis adalah gangguan rasa nyaman nyeri yang berhubungan dengan trauma jaringan (luka operasi sectio caecaria), risiko infeksi yang berhubungan dengan port de entree sekunder terhadap luka operasi sectio caecaria, ketidakefektifan proses laktasi ybd pemisahan perawatan ibu dan bayi dan risiko ketidakefektifan perencanaan keluarga b.d pemilihan alat kontrasepsi yang tepat.

Penulis berusaha menangani Ny. N dengan dengan mencoba menerapkan mobilisasi dini dengan teknik distraksi pada klien post partum dengan sectio caecaria dan hasilnya terbukti dapat menurunkan rasa nyeri yang dialami dan menjadikan klien beradaptasi terhadap nyeri yang dirasakan.

Mengenai masalah risiko infeksi yang berhubungan dengan port de entree sekunder terhadap luka operasi sectio caecaria pada Ny.N diatasi dengan kolaborasi pemberian antibiotik dan cara kerja yang aseptik dalam memberikan tindakan keperawatan yaitu dengan mengajarkan personal hygiene dan cara merawat daerah genetalia, serta dengan pemenuhan nutrisi yang adekuat, dan melakukan rawat luka pada hari ke 3 post operasi.

42

Masalah ketidakefektifan proses laktasi ybd pemisahan perawatan ibu dan bayi pada Ny. N diatasi dengan menjelaskan tentang manfaat ASI dan menyusui bagi bayi dan ibu , mengajari klien tentang breast care, memotivasi ibu untuk percaya diri bahwa akan segera sehat kembali, menghabiskan porsi makan yang diberikan dan meningkatkan aktivitas mobilisasi serta memberikan fasilitas rawat gabung apabila keadaan ibu sudah cukup membaik

Sedangkan risiko ketidakefektifan perencanaan keluarga b.d pemilihan alat kontrasepsi yang tepat diatasi dengan memberikan intervensi yang berupa penjelasan tentang tujuan dan manfaat KB bagi kesejahteraan keluarga serta beberapa jenis metode kontrasepsi yang bisa dipilih sesuai dengan keinginan dan kebutuhan klien.

Dari hasil evaluasi didapatkan kondisi bahwa perilaku klien dalam beradaptasi dengan nyeri, melakukan mobilisasi, menjaga personal higiene, belajar dan mendemonstrasikan teknik breast care serta cara memahami keluarga berencana dapat dipertahankan. Pemberian reinforcement positif sangat diperlukan pada klien ini, karena banyak ditemukan perilaku klien yang positif berkaitan dengan masalah yang dihadapi dan demi mendukung kelangsungan atau efek samping dari intervensi yang telah diberikan.

Berdasarkan hal yang telah dipaparkan tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa pendekatan adaptasi Roy dalam pemberian asuhan keperawatan Ny. N dengan status obstetrik P2A2 post partum sectio caecaria atas indikasi partus kasep dapat diterapkan sebagai landasan pemberian asuhan yang ideal.

43

V. PENUTUP A. Kesimpulan Model adaptasi Roy dapat digunakan untuk mengidentifikasi adaptasi terhadap post partum sectio caecaria atas indikasi partus kasep, sehingga dapat diketahui apakah adaptasi yang dilakukan klien Ny. N adaptif atau maladaptif. Selain dukungan petugas kesehatan terhadap masalah yang dihadapi klien, support sosial dari orang terdekat seperti suami atau ibu kandung sangatlah dibutuhkan untuk menguatkan koping klien sehingga klien dapat melalui proses adaptasi secara optimal. Pemberian informasi tentang pentingnya breast care dan penggunaan alat kontrasepsi yang tepat sangatlah penting sehingga klien dapat melalui tahapan dalam merawat dan memenuhi kebutuhan ASI untuk bayi dengan baik dan demi peningkatan kesejahteraan keluarga. B. Saran Asuhan keperawatan pada klien dengan status obstetrik P1A1 post partum sectio caecaria atas indikasi partus kasep dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan model konsep adaptasi Roy. Berkaitan dengan pengkajian yang masih belum bisa diadopsi melalui pendekatan adaptasi Roy, maka perawat dapat memodifikasi dengan menggunakan pendekatan model konsep yang lain untuk melengkapi.

44

VI. DAFTAR PUSTAKA Carpenito L. Juall. (2001). Diagnosa Keperawatan, Edisi 8. EGC: Jakarta Corwin, E. (2009). Patofisiologi. EGC: Jakarta Doengoes.E Marilynn. (2009). Nursing Care Plan Feryanto. (2011). Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta : Salemba Medika Luxner, Karla. (2009). Maternal and Infant Nursing. Newyork Martin L. Pernoll, 2001.Benson & Pernolls handbook of Obstetrics & Gynecology. USA: McGraw-Hill:619-625 Mitayani. (2010). Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta : Salemba Medika Mochtar, 1998. Sinopsis Obstetri, Jilid I Edisi 2. EGC, Jakarta. Norwitz, E & Schorge, J. (2008). At a Glance Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Erlangga Roy. S.C & Andrews, H.A, 1991. The Roy Adaptation Model, The definitive Statement. California : Appleton & Lange Suddarth and Brunner. (2007). Medical Surgical Nursing. Lippincott : Philadelphia Wiknjosastro H., (2008). Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiriharjo, Jakarta: 180-870.

45