Anda di halaman 1dari 4

PENDEKATAN ILMIAH NON POSITIFISTIK TEORI FALSIFIKASI

PENDAHULUAN Menurut David Hume, betapapun besarnya jumlah fakta-fakta singular tidak pernah dapat dijadikan kebenaran umum secara logis. Pemikiaran Hume itu jelas berlwanan dengan pendapat umum yang menyatakan bahwa hukum-hukum fisika itu bersifat eksak dan immutable. Menurut Hume, secara psikologis kita tidak bisa hanya berfikir mernurut prinsip induksi. Hal ini diadopsi oleh Popper dengan pernyataannya bahwa suatu ucapan atau teori tidak bersifat ilmiah karena sudah dibuktikan, melainkan karena dapat diuji (testable). Validitas sebuah teori ilmiah justru akan semakin kokoh, jika teori itu mampu bertahan berbagai kemungkinan untuk disangkalnya (the thesist of reputability). Falsifikasi popper ini adalah menjawab mitos induksi milik hume. Induksi adalah metode untuk mendapatkan sebuah teori dengan cara mengamati sebuah keteraturan pengalaman dan kemudian membuat generalisasi. Hume dan Popper mengakui bahwa generalisasi tidak cukup meyakinkan sebuah nilai kebenaran. Jika beberapa materi A tidak ada yang bersifat B, generalisasi menyimpulkan bahwa A pasti tidak bersifat B. Generalisasi tidak meminta untuk memeriksa seluruh A dan menyimpulkan sifat A, tetapi hanya beberapa sampel saja. Untuk menjawab masalah ini, popper menunjukkan kesalahan klaim bahwa generalisasi secara ilmiah adalah kesimpulan. kesalahan kedua adalah kegagalan untk menggambarkan secara akurat prses seorang ilmuwan membuat pendekatan terhadap hipotesis. popper menjelaskan bahwa generalisasi dibuat dari proses penyimmpulan keyakinan yang bersifat tebakan logis. sifat generalisasi adalah hipotesis sementara yang siap diuji dari pengalaman. Dengan cara pandang semacam itu, maka Popper menegaskan bahwa suatu teori ilmiah tidak pernah benar secara definitive. PEMBAHASAN Karl Popper mengkritisi positivisme logis dengan mempertanyakan demarkasi atau batasan antara ilmu pengetahuan dan non ilmu pengetahuan dimana demarasi positivistis adalah hasil verifikasi atas dasar induksi. Karl Popper adalah salah satu tokoh yang mengkritik konsepsi induksi. Metode Induksi yang diterapkan dalam ilmu pengetahuan mengandung permasalahan yang membenarkan bahwa induksi tidak luput dari kritik-kritik. Kritik Popper terhadap induktivisme telah membuka perspektif baru bagi ilmu pengetahuan, yang jauh berbeda dari perspektif yang didasarkan pada induktivisme. Popper memperkenalkan apa yang disebutnya falsifikasi. Falsifikasi menjadi alternatif dari induktivisme. Menurut Popper, titik permasalahan sentral dari filsafat ilmu adalah demarkasi antara ungkapan yang ilmiah dan tidak ilmiah. Problem demarkasi dirumuskan oleh Popper sebagai problem mengenai bagaimana menemukan sebuah kriteria yang bisa membedakan ilmu-ilmu empiris dari matematika, logika dan system-sistem metafisik. Popper merumuskan sebuah kriteria demarkasi antara ilmu dan non ilmu (metafisika). Kriteria demarkasi yang digunakan oleh Popper adalah kriteria falsifiabilitas (kemampuan dan kemungkinan disalahkan atau disangkal). Setiap pernyataan ilmiah pada dasarnya mengandung kemampuan disangkal, jadi ilmu pengetahuan empiris harus bisa diuji secara deduktif dan terbuka kepada kemungkinan falsifikasi empiris. Contoh: Akan terjadi atau tidak terjadi hujan di sini esok Akan terjadi hujan di sini esok Pernyataan (1) tidak bersifat empiris oleh karena tidak dapat disangkal. Sedangkan pernyataan (2) bersifat empiris karena dapat disangkal. Kriteria demarkasi Popper didasarkan pada suatu asimetri logis antara verifiabilitas dan falsifiabilitas. Pernyataan universal tidak bersumber dari pernyataan tunggal, tetapi sebaliknya bisa bertentangan dengannya. Dengan logia deduktif, maka generalisasi empiris atau pernyataan universal dapat diuji dan disangkal secara empiris, tetapi tidak dapat dibenarkan. Hal ini berarti bahwa hukum-hukum ilmiah pada dasarnya dapat diuji, kendatipun tidak dapat dibenarkan atau dibuktikan secara induktif. Dengan ini Popper mengakui kemunginan metafisika yang disangkal oleh positivisme. Dan Tuhan yang bukan bagian dari dunia empiris, maka ada tidaknya Tuhan tidak dapat difalsifikasi dengan pengamatan empiris. Pernyataanpernyataan metafisik, menurut Popper dapat difalsifikasikan, yaitu dengan perkataan metafisik lain sebagaimana pernyataan-pernyataan empirik dapat dibantah oleh pengalaman. Beberapa kritik yang dikemukakan Popper terhadap prinsip verifikasi: Pertama, prinsip verifikasi tidak pernah mungkin untuk menyatakan kebenaran hukum-hukum umum. Menurut Popper, hukum-hukum umum dan ilmu pengetahuan tidak pernah dapat diverifikasi. Karena itu, seluruh ilmu pengetahuan alam (yang sebagian besar terdiri dari hukum-hukum umum) tidak bermakna, sama seperti metafisika; Kedua, sejarah membuktikan bahwa ilmu pengetahuan juga lahir dari pandangan-pandangan metafisis. Karena itu Popper menegaskan bahwa suatu

ucapan metafisis bukan saja dapat bermakna tetapi dapat benar juga, walaupun baru menjadi ilmiah setelah diuji; Ketiga, untuk menyelidiki bermakna atau tidaknya suatu ucapan atau teori, lebih dulu harus kita mengerti ucapan atau teori itu. Kriteria verifiabilitas bukanlah suatu kriteria demarkasi ilmu, melainkan sebagai kriteria kemaknaannya. Bermakna tidaknya suatu pernyataan atau hipotesis ilmiah ditentukan oleh corak empiris positifnya. Logika induktif dan prinsip verifiabilitas mengakibatkan pengetahuan yang bukan ilmiah (metafisika) tidak bermakna sama sekali. Kriteria demarkasi dan logika induktif mengakibatkan terjadinya percampurbauran antara metafisika dan ilmu pengetahuan, yang pada gilirannya dapat mengaburkan kedua-duanya. Hal inilah yang membuat Karl Popper menolak posttifisme dan membuat demarkasi lain dengan kriteria falsifikasi. Falsifikasi merupakan metode yang digunakan oleh Popper untuk menolak metode verifikasi induktif, dan menggantinya dnegan metode verivikasi deduktif, karena dalam rangka membedakan ilmu yang bermakna dan tidak bermakna masih menjunjung tinggi induksi. Dalam konteks penolakan terhadap induktivisme para pendukung teori falsifikasi menyatakan bahwa setiap penelitian ilmiah dituntun oleh teori tertentu yang mendahuluinya. Karena itu, semua keyakinan bahwa kebenaran teori-teori ilmiah dicapai melalui kepastian hasil observasi, sungguh-sungguh ditolak. Teori merupakan hasil rekayasa intelek manusia yang kreatif dan bebas untuk mengatasi problem-problem yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Teori-teori itu kemudian diuji dengan eksperimen-eksperimen atau observasi-observasi. Terori yang tidak dapat bertahan terhadap suatu eksperimen harus dinyatakan gagal dan digantikan oleh teori spekulatif lain. Itu berarti, ilmu pengetahuan berkembang melalui kesalahan dan kekeliruan, melalui hipotesis dan refutasi. Menurut teori falsifikasi, ada teori yang dapat dibuktikan salah berdasarkan hasil observasi dan eksperimen. Ilmu pengetahuan tidak lain dari rangkaian hipotesis-hipotesis yang dikemukakan secara tentatif untuk menjelaskan tingkah laku manusia atau kenyataan dalam alam semesta. Tetapi tidak setiap hipotesis dapat begitu saja diklasifikasikan di bawah ilmu pengetahuan. Hipotesis yang layak disebut sebagai teori atau hukum ilmiah harus memenuhi syarat fundamental berikut: hipotesis itu harus terbuka terhadap kemungkinan falsifikasi. Contoh: 1. Tidak pernah turun hujan pada hari-hari Rabu 2. Semua substansi akan memuai jika dipanaskan Pernyataan (1) dapat difalsifikasikan karena dengan suatu observasi kita dapat menunjukkan bahwa pada hari Rabu tertentu ada hujan. Pernyataan (2) pun dapat difalsifikasi karena melalui observasi kita dapat memperlihatkan bahwa ada substansi tertentu tidak memuai jika dipanaskan. Pernyataan berikut ini tidak memenuhi syarat yang dikemukakan oleh Popper dan konsekuensinya tidak dapat difalsifikasikan; 1. Baik pada hari hujan maupun tidak hujan saya datang Tidak ada suatu pernyataan observasi yang secara logis dapat menyangkal pernyataan (1). Pernyataan ini benar, bagaimanapun keadaan cuaca. Pernyataan di atas ini tidak dapat difalsifikasikan, sebab semua kemungkinan yang akan terjadi atau diturunkan dari pernyataan di atas, tetap benar. Metode induktif harus digantikan dengan metode deduktif yang menitik beratkan pada logika pengetahuan. Dengan cara pandang semacam itu, maka Popper menegaskan bahwa suatu teori ilmiah tidak pernah benar secara definitive. Hal ini menurutnya dapat dilihat dalam dialektika perkembangan ilmu-ilmu fisika. Fisika Newton yang telah dianggap begitu kokoh ternyata di kemudian hari dapat digantikan oleh fisiksa Einstein. Para ilmuwan pun telah dibuat terperangah dengan prinsip ketidak pastian yang diketemukan oleh Werner Heisenbreg. Menurut Heisenbreg, kita tidak bisa mengukur keadaan sebuah sistem secara eksak. Oleh karena itu, kitapun tidak bisa menduga dengan eksak keadaan suatu sistem yang sama di masa yang akan datang. Dengan relatifitas Einstein misalnya, Popper begitu yakin atas sifat tentative semua pengetahuan manusia. Di lain pihak ia merasa ragu dengan perkembangan teori-teori social semacam teori sejarah dari Marx, psikoanalisa Frued dan psikologi individual Alfread Adler. Daya pesona teori tersebut memang luar biasa dan mampu membius orang untuk membenarkannya. Dari kenyataan itulah, maka Popper melancarkan kritik terhadap metode ilmiah tradisional sebagai berikut: Pertama, prinsip verifikasi tidak pernah mungkin untuk menyatakan kebenaran hukum-hukum umum. Kedua, berdasarkan prinsip verifikasi, maka metafisika tidak bermakna. Padahal dalam sejarah dapat disaksikan bahwa seringkali ilmu pengetahuan lahir justru dari pandanganpandangan metafisis atau mistis tentang dunia. Ketiga, untuk menyelidiki bermakna tidaknya suatu ucapan atau teori, harus dimengerti lebih dahulu ucapan atau teori itu. Semua kriteria itu harus diterapkan secara deduktif agar dapat diperoleh pengetahuan yang objektif. Bagi Popper, mencari objektifitas ilmu berarti membentuk kriteria rasional untuk memperoleh pengetahuan dan memahami pertumbuhannya. Dengan prinsip valsifikasi diatas pula, kritertia pembeda antara ilmu dan non ilmu dapat ditentukan. Dalam hal ini, pernyataan metafisis memang tidak ilmiah, tetapi bukan tanpa makna. Pernyataan metafisis dapat bermakna, walaupun baru menjadi ilmiah setelah menjalani proses ujian secara intersubjektif.

Dengan demikian, teori-teori apapun bisa jatuh dan salah. Tak ada satupun pengetahuan yang bersifat mutlak. Teori diuraikan sebagai dugaan atau tebakan spekulatif dan coba-coba, yang diciptakan secara bebas oleh intelek manusia dalam usaha mengatasi problema-problema yang dijumpai teori-teori terdahulu, dan untuk memberikan keterangan yang cocok tentang beberapa aspek dunia atau alam semesta. Teori-teori spekulatif akan diajukan dan diuji keras tanpa belas kasihan oleh observasi dan experimen. Teori-teori yang gagal tidak tahan uji oleh observasi dan exsperimen, akan dibuang dan diganti dengan dugaan-dugaan spekulatif lain dan seterusnya. Ilmu berkembang maju melalui percobaan dan kesalahan, melalui dugaan dan penolakan. Hanya teori yang paling cocok yang bertahan. Selagi ia tidak pernah dapat dikatakan sah sebagai teori yang benar, ia dengan penuh harapan dapat dikatakan sebagai terbaik di antara yang bisa diperoleh dan bahwa ia lebih daripada yang sebelumnya. Pandangan falsifikasi, bahwa beberapa teori dapat ditunjukan sebagai salah dengan meminta bantuan pada hasil observasi dan eksperimen. Kalaupun ada asumsi keterangan-observasi yang benar dapat kita peroleh dengan satu atau lain cara, maka tidak pernah akan mungkin mencapai hukum-hukum dan teori-teori universal dengan deduksi-deduksi logis. Ada satu syarat fundamental kalau suatu hipotesa atau system hipotesa mau diakui memiliki status sebagai hukum atau teori ilmiah. Apabila hipotesa tersebut akan menjadi bagian dari ilmu, maka suatu hipotesa akan harus falsifiable. Suatu hipotesa falsifiable apabila terdapat suatu keterangan observasi atau suatu perangkat keterangan-observasi yang tidak konsisten dengannya, yakni apabila dinyatakan sebagai benar maka ia akan memfalsifikasi hipotesa itu. Falsifikasi menuntut bahwa hipotesa-hipotesa ilmiah harus falsifiabel. Dalam hal ini bersikap mendesak, karena hanya dengan mengesampingkan segala perangkat keterangan-observasi logis, suatu hukum atau teori barulah informative. Apabila suatu pertanyaan tidak falsifiable, maka dunia dapat memiliki apapun, dapat bertindak bagaimanapun, tanpa bertentangan dengan pernyataan itu. Akan tetapi kaum falsifikasionis mempertahankan bahwa beberapa teori, yang mungkin secara dangkal nampaknya memiliki ciri-ciri teori yang ilmiah, dalam kenyataan hanya berlagak sebagai teori ilmiah, karena mereka tidak falsifiabel dan harus ditentang. Popper pernah mengklaim bahwa beberapa versi, sedikit-dikitnya teori marx tentang sejarah, psikoanalisa Freud dan psikologi Alder, dihinggapi kesalahan ini. Suatu hukum atau teori ilmiah yang baik adalah falsifiable justru karena ia mengemukakan klaim-klaim tertentu tentang dunia, karena dari situlah timbul ungkapan bahwa makin falsifiable suatu teori makin baiklah teori itu, dalam pengertian yang longgar. Makin banyak satu teori mengemukakan klaimnya, makin banyak kesempatan potensial untuk menunjukkan bahwa dalam kenyataan dunia ini tidak berprilaku sebagaimana ditetapkan oleh teori. Teori yang sangat baik adalah teori yang mengemukakan klaim yang sangat luas jangkauannya tentang dunia, dan yang konsekuensinya paling tinggi falsifiabilitasnya, dan dapat bertahan teradap falsifikasi jika diuji. Teori-teori yang sangat tinggi fasifiablitasnya adalah lebih baik dari pada yang rendah falsifiabilitasnya, asalkan belum pernah difalsifikasi. Kualifikasi ini penting bagi kaum falsifikasionis. Teori-teori yang pernah difalsifikasi harus ditolak dan tidak mengenal ampun. Kegiatan ilmu mengandung usul hipotesa-hipotesa yang tinggi falsifiabilitasnya diikuti dengan usaha-usaha yang matang dan tekun untuk memfalsifikasinya. Tuntutan bahwa teori harus tinggi fasifiabilitasnya mempunyai konsekuensi yang menarik bahwa teori harus dinyatakan dnegan jelas dan cermat. Apabila suatu teori diajukan sedemikian samar sehingga tidak jelas apa sebenarnya yang ingin dinyatakan, maka bilamana diuji dengan observasi atu eksperimen lain ia dapat di interpretasikan sedemikian rupa sehingga selalu konsisten dengan hasil pengujian. Situasi yang serupa terdapat dalam hubungan dengan ketelitian. Makin teliti suatu teori dirumuskan, semakin ia menjadi falsifiable. Pendekatan falsifikasi dikembangkan oleh Popper yang tidak puas dengan pendekatan induktif. Menurut Popper, tujuan dari suatu penelitian ilmiah adalah untuk membuktikan kesalahan (falsify) hipotesa, bukannya untuk membuktikan kebenaran hipotesa tersebut. Oleh karena itulah pendekatan ini dinamakan pendekatan falsifikasionisme. Proses ilmu pengetahuan berawal dari observasi yang berbenturan dengan teori yang ada atau prakonsepsi. Jika masalah ini terjadi maka kita dihadapkan kepada masalah ilmu pengetahuan, teori kemudian diajukan untuk memecahkan masalah dan hipotesa diuji secara empiris yang tujuannya menolak hipotesa. Jika peramalan teori itu disalahkan (falsifi), maka teori tersebut ditolak. Teori yang tahan uji dari falsifikasi dikatakan bahwa teori tersebut kuat dan dapat diterima sementara sebagai teori yang benar. Menurut falsifikasionis ilmu berkembang secara pendugaan dan penolakan (conjencture and refutation) atau secara trial and error, tujuan ilmu adalah memecahkan masalah dan pemecahan masalah tadi diwujudkan dalam teori yang mungkin akan disalahkan secara tes empiris. Teori yang bertahan dan tidak dapat disalahkan akan diterima secara tentatif untuk memecahkan masalah. Dengan kata lain, teori menurut pendekatan falsifikasi adalah hipotesa yang belum dibuktikan kesalahannya. Teori bukanlah sesuatu yang benar atau faktual tetapi sesuatu yang belum terbukti salah. PENUTUP Dari beberapa paparan di atas penulis mencoba mensarikan bahwa Pemikiran Popper tentang falsifikasi berawal demaekasi antara ilmu dan non ilmu. Pokok demarkasi terletak pada ada tidaknya dasar empiris bagi ungkapan

bersangkutan. Apakah suatu ungkapan bersifat empiris atau tidak, atau dimanakah letak ungkapan itu dari garis batas -menurut Popper tidak dapat ditentukan berdasarkan asas pembenaran yang dianut positivisme logis. Sebab utama diajukannya hal itu ialah mustahilnya pembenaran atas proses induksi. Alih -alaih azas pembenaran itu, ia mengemukakan prinsip falsifiabilitas. Artinya, cirti khas pengetahuan ilmiah ialah bahwa ia dapat dibuktikan salah. Dengan demikian terwujudlah cita-cita para ilmuwan lama, yaitu mendasarkan cara kerja ilmu-ilmu empiris pada logika deduktif yang ketat. Untuk mencapai pandangan ini Popper menggunakan kebenaran logis sebagaimana dicontohkan di atas. Dengan cara itulah hokum-hukum ilmiah berlaku, bahwa bukan dibenarkan akan tetapi cepat dibuktikan salah. Selanjutnya dapat kita ketahui bahwa suatu teori baru dapat diterima ketika ia dapat meruntuhkan teori lama yang ada sebelumnya. Pengujiannya dengan tes empiris (falsifikasi). Kalau dalam tes tersebut suatu teori dianggap salah maka teori itu batal. Di sinilah ilmu pengetahuan akan berkembang bukan karena akumulasi pengetahuan melainkan lewat proses aliminasi yang semakin keras terhadap kemungkinan kekerliruab dan kesalahan. Maka ilmu pengetahuan maju dengan cara kian mendekati. Ini menyangkut error elimination terus menerus. Pengetahuan akan diawali dengan suatu masalah. Untuk memecahkan masalah tersebut diajukanlah teori yang tentative sifatnya. Kalau teori tersebut sesuai dan berdaya guna, ia dapat menyingkirkan kekeliruan dan kesalahan yang menimbulkan masalah. Inilah menjadi ciri khas epistemologi Popper. DAFTAR PUSTAKA Kumara Ari Yuana, The Greatest Philosophers. Yogyakarta: Andi, 2010. K.R. Popper, The Logic of Scientific Discovery (New York: Basic Books, 1959). Franz Magnis-Suseno, Menalar Tuhan. Kanisius 2006 Yogyakarta. Franz Magnis-Suseno, Pijar-pijar filsafat: dari Gatholoco ke filsafat perempuan, dari Adam Mller ke postmodernisme. Yogyakarta: Kanisius, 2005. h Bdk. Prasetya T.W., Anarkisme Dalam Ilmu Pengetahuan P.K Feyerabend, dalam Hakikat Pengetahuan Dan Cara Kerja Ilmu-Ilmu, diedit oleh R. Bambang Rudianto (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm 50. I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme, Yogyakarta: Kanisius, 1996. Hlm. 77 Reza A.A Wattimena, Filsafat dan Sains: Sebuah Pengantar. Jakarta: Grasindo, 2008. Hlm 183