Anda di halaman 1dari 2

A.

Virus pada Hewan - Virus NCD Virus New Castle Disease merupakan jenis virus yang paling banyak menyerang ayam dan hewan unggas lainnya. Penyakit ini menyebabkan hewan-hewan tersebut mengalami penyakit tetelo.

Penyakit tetelo atau juga sering disebut penyakit samper ayam atau juga pes cekak merupakan penyakit pada ayam yang terjadi karena suatu infeksi viral yang mengakibatkan gangguan pada saraf pernafasan. penyakit ini biasanya terjadi disebabkan oleh virus paramyxo. Penyakit tetelo ini sering ditakuti oleh para peternak ayam karena penyakit ini bisa menular dalam jangka waktu yang singkat, biasanya dalam kurun waktu 3 sampai 4 hari penyakit ini akan menular ke seluruh ternak, penularan ini bisa terjadi melalui udara, peralatan, baju, sepatu, dan burung liar yang ada disekitar. Walaupun penularan penyakit ini bisa melalui udara tetapi jangkauan wilayahnya tidak terlalu luas dan biasanya virus ini tidak akan bertahan lebih dari 30 hari pada area yang sudah dinyatakan terjangkit virus ini, bila diantara kalian belum tahu mengenai penyakit tetelo atau newcastle disease ini saya akan sedikit memberikan gambaran untuk mengenali dan memberikan penanganannya. Gejala pada ayam yang terkena penyakit tetelo : 1. Excessive mucous di bagian trakea. 2. Pada gangguan pernafasan biasanya mulai batuk, bersin-bersin, ngorok, dan juga nafasnya ngap-ngapan. 3. Dilihat dari badannya ayam terlihat lesu. 4. Nafsu makan terlihat menurun. 5. Bila yang terkena ayam betina, produktifitas telur menurun. 6. Kotorannya terlihat encer dan berwarna hijau. 7. Kornea mata terlihat keruh, jenggernya berwarna biru, sayap menurun, dan jika sudah parah akan terjadi kelumpuhan saraf yang mengakibatkan kejang-kejang dan leher terpuntir.

B. Virus pada Hewan Virus RSV Rous Sarcoma Virus merupakan jenis virus yang menyerang hewan ternak, terutama sapi. Virus ini menyebabkan penyakit kuku dan mulut. Tak hanya memberi rasa sakit pada sapi atau kerbau, penyakit yang disebabkan oleh virus ini pun sangat merugikan peternak karena mereka tak bisa menjual daging hewan ternaknya. Virus RABIES pada hewan

Rabies disebabkan oleh virus rabies yang masuk ke keluarga Rhabdoviridae dan genus Lysavirus. Karakteristik utama virus keluarga Rhabdoviridae adalah hanya memiliki satu utas negatif RNA yang tidak bersegmen. Virus ini hidup pada beberapa jenis hewan yang berperan sebagai perantara penularan. Spesies hewan perantara bervariasi pada berbagai letak geografis. Hewan-hewan yang diketahui dapat menjadi perantara rabies antara lain rakun (Procyon lotor) dan sigung (Memphitis memphitis) di Amerika Utara, rubah merah (Vulpes vulpes) di Eropa, dan anjing di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Afrika, Asia, dan Amerika Latin memiliki tingkat rabies yang masih tinggi. Hewan perantara menginfeksi inang yang bisa berupa hewan lain atau manusia melalui gigitan. Infeksi juga dapat terjadi melalui jilatan hewan perantara pada kulit yang terluka. Setelah infeksi, virus akan masuk melalui saraf-saraf menuju ke sumsum tulang belakang dan otak dan bereplikasi di sana. Selanjutnya virus akan berpindah lagi melalui saraf ke jaringan non saraf, misalnya kelenjar liur dan masuk ke dalam air liur. Hewan yang terinfeksi bisa mengalami rabies buas/ ganas ataupun rabies jinak/ tenang. Pada rabies buas/ ganas, hewan yang terinfeksi tampak galak, agresif, menggigit dan menelan segala macam barang, air liur terus menetes, meraung-raung gelisah kemudian menjadi lumpuh dan mati. Pada rabies jinak/tenang, hewan yang terinfeksi mengalami kelumpuhan lokal atau kelumpuhan total, suka bersembunyi di tempat gelap, mengalami kejang dan sulit bernapas, serta menunjukkan kegalakan Meskipun sangat jarang terjadi, rabies bisa ditularkan melalui penghirupan udara yang tercemar virus rabies. Dua pekerja laboratorium telah mengkonfirmasi hal ini setelah mereka terekspos udara yang mengandung virus rabies. Pada tahun 1950, dilaporkan dua kasus rabies terjadi pada penjelajah gua di Frio Cave, Texas yang menghirup udara di mana ada jutaan kelelawar hidup di tempat tersebut. [10] Mereka diduga tertular lewat udara karena tidak ditemukan sama sekali adanya tanda-tanda bekas gigitan kelelawar.