Anda di halaman 1dari 4

1

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Rajungan merupakan salah satu komoditi perikanan yang bernilai ekonomis tinggi, karena komoditi ini sangat diminati oleh masyarakat, baik dalam maupun luar negeri. Selain rasanya yang lezat, juga karena kandungan gizinya yang sangat tinggi. Rajungan di Indonesia sampai sekarang masih merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Rajungan yang diekspor dalam bentuk segar maupun olahan mencapai 60% dari total hasil tangkapan rajungan. Negara utama tujuan ekspor yaitu Singapura, Jepang, Belanda dan Amerika (Aminah 2010). Penyebaran rajungan di perairan Indonesia salah satunya di perairan Teluk Banten. Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu adalah salah satu pelabuhan perikanan yang terletak dekat dengan Teluk Banten. Nelayan yang mendaratkan rajungan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu melakukan penangkapan rajungan di perairan Teluk Banten. Menurut Suadela (2004), kegiatan penangkapan rajungan di Teluk Banten berkembang ditunjang adanya perusahaan pengolahan rajungan setempat yang terletak di Karangantu. Berdirinya perusahaan pengolahan ini menuntut tersedianya produksi rajungan sepanjang tahun. Oleh karena itu kegiatan penangkapan rajungan pun dilakukan secara terus menerus sepanjang tahun. Seluruh kebutuhan ekspor rajungan di Indonesia banyak yang masih mengandalkan hasil tangkapan nelayan di laut. Namun, satu hal yang paling penting dalam pengelolaan sumberdaya perikanan adalah tetap menjamin tersedianya stok secara mantap. Bentuk eksploitasi dan degradasi lingkungan perairan laut yang terus mengancam keseimbangan stok dan ekosistem laut Indonesia menjadi hambatan sekaligus tantangan bagi nelayan, masyarakat dan pemerintah. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk menggambarkan kondisi sebenarnya di suatu wilyah perairan melalui pemodelan. Model adalah contoh sederhana dari sistem dan menyerupai sifat-sifat sistem yang dipertimbangkan, tetapi tidak sama persis dengan sistem. Penyederhanaan dari

2 sistem sangat penting agar dapat dipelajari secara seksama. Model dikembangkan dengan tujuan untuk studi tingkah laku sistem melalui analisis rinci akan komponen atau unsur dan proses utama yang menyusun sistem serta interaksinya antara satu dengan yang lain. Dengan demikian pengembangan model adalah suatu pendekatan yang tersedia untuk mendapatkan pengetahuan yang layak akan suatu sistem. Model beperanan penting dalam pengembangan teori karena berfungsi sebagai konsep dasar yang menata rangkaian aturan yang digunakan untuk menggambarkan sistem (Sitompul 2004). Model produksi surplus dapat digunakan untuk mendukung pengelolaan rajungan di perairan Teluk Banten. Model produksi surplus merupakan salah satu model yang umum digunakan dalam penilaian-penilaian stok ikan, karena kelompok model ini dapat diaplikasikan dengan tersedianya data hasil tangkapan dan upaya tangkapan secara runut waktu (time series) yang umumnya tersedia di setiap tempat pendaratan ikan. Model yang diterapkan dalam perikanan mungkin berbeda untuk ikan yang berbeda. Artinya ikan yang sama dan hidup di wilayah perairan yang berbeda belum tentu memiliki kecocokan model yang sama. Sama halnya dengan jenis ikan yang berbeda dan hidup di perairan yang sama, model yang cocok diterapkan mungkin saja berbeda.

1.2.

Rumusan Masalah Perairan Teluk Banten terletak di bagian utara Provinsi Banten dan

merupakan bagian dari perairan Laut Jawa, dengan luas permukaan totalnya adalah 150 km2. Teluk Banten termasuk perairan dangkal dengan kedalaman maksimum 9 meter dan panjang pantai 22 km serta turbiditasnya tinggi. Dasar perairan pada umumnya lumpur berpasir (Nuraini 2004). Terdapat beberapa pulai kecil di kawasan perairan Teluk Banten, yaitu Pulau Panjang, Pulau Pamujan Kecil, Pulau Pamujan Besar, Pulau Semut, Pulau Tarahan, Pulau Pisang, Pulau Gosong Delapan, Pulau Kubur, Pulau Tanjung Gundul, Pulau Lima dan Pulau Dua (Tiwi 2004). Sumberdaya ikan yang ada di perairan ini sangat beragam, mulai dari jenis ikan sampai krustasea. Salah satu tempat pendaratan ikan yang berada dekat dengan Teluk Banten adalah Pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu. Hasil tangkapan

3 dari di Teluk Banten tidak semuanya dilelang di TPI. Ikan ekonomis penting seperti rajungan langsung dibawa ke tempat pengolahan atau tempat pembekuan. Menurut Nuraini (2004) kondisi perikanan di perairan Teluk Banten dipengaruhi oleh dua musim, yaitu musim barat dan musim timur. Musim barat yang merupakan musim dengan curah hujan tinggi terjadi pada Desember hingga Februari. Musim timur merupakan musim kemarau. Ketersediaan sumberdaya ikan di perairan selain dipengaruhi oleh musim, juga karena kenaikan suhu permukaan air laut. Perubahan kondisi perairan Teluk Banten akan mempengaruhi kegiatan penangkapan rajungan. Hal ini akan berimplikasi pada hasil tangkapan nelayan, terutama nelayan yang ada di PPN Karangantu. Jika tidak ada bentuk pengelolaan yang tepat maka komoditi rajungan di perairan Teluk Banten terancam mengalami lebih tangkap (over fishing). Selain itu, sumberdaya ikan termasuk rajungan bersifat open access, artinya semua orang berhak untuk melakukan penangkapan dan tidak ada batasan mengenai besarnya upaya penangkapan untuk memanen sumberdaya tersebut di alam. Apabila hal ini berlangsung terus menerus dan tanpa adanya kontrol yang tepat, maka fenomena lebih tangkap bukan tidak mungkin terjadi, sebagaimana fakta yang terlihat di beberapa perairan Indonesia. Menurunnya kualitas dan kuantitas tangkapan rajungan akan menyebabkan menurunnya pula keuntungan yang diperoleh nelayan. Model matematis produksi surplus yang sesuai dengan kondisi rajungan di perairan Teluk Banten merupakan salah satu pendekatan biologi yang dapat digunakan untuk membantu menentukan upaya tangkapan optimal dalam menjamin ketersedian dan kelestarian stok rajungan di perairan Teluk Banten. Produktivitas stok ikan di suatu perairan dipengaruhi oleh faktor-faktor biologi seperti rekruitmen, pertumbuhan individu, mortalitas alami. Selain itu juga dipengaruhi oleh faktor-faktor non biologi, misalnya perubahan iklim dan kegiatan manusia. Volume tangkapan, dinamika upaya penangkapan serta bentuk kebijakan perikanan juga akan turut mempengaruhi keberadaan stok rajungan di perairan Teluk Banten. Tinungki (2005) menyatakan bahwa tidaklah mungkin

mempertimbangkan semua faktor tersebut untuk memperkirakan perubahanperubahan dalam produktivitas suatu stok ikan, karena adanya kendala ketersediaan data. Oleh karena itu, model yang paling sederhana dalam dinamika populasi ikan

4 adalah model produksi surplus. Model ini memperlakukan ikan sebagai biomasa tunggal yang tak dapat dibagi, yang tunduk pada aturan-aturan sederhana, kenaikan dan penurunan biomasa. Model-model produksi surplus mengabaikan proses biologi dalam suatu stok ikan dengan mengasumsikan bahwa stok tersebut dapat diperlakukan sebagai biomasa agregat. Bila semua faktor lain tetap konstan, biomasa agregat dari suatu stok ikan akan menurun ketika tekanan dilakukan terhadap sumberdaya tersebut melalui kenaikan upaya penagkapan. Permasalahan dalam studi ini adalah belum adanya kajian stok rajungan menggunakan model produksi surplus yang paling sesuai untuk menentukan tingkat upaya tangkapan optimal sehingga dapat menjamin kelestarian dan keberlanjutan sumberdaya rajungan di perairan Teluk Banten.

1.3.

Tujuan Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk:

1) Mengetahui model produksi surplus yang paling sesuai dengan karakteristik perikanan rajungan di perairan Teluk Banten 2) Menentukan hasil tangkapan maksimum lestari dan tingkat upaya penangkapan optimum untuk mendukung pengelolaan berkelanjutan sumberdaya rajungan di perairan Teluk Banten

1.4.

Manfaat Penelitian dan penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi

pihak yang terkait untuk mendukung penentuan bentuk pengelolaan rajungan Portunus pelagicus secara lestari dan berkelanjutan. Selain itu, diharapkan penelitian ini dapat memperkaya wawasan pembaca mengenai kondisi perikanan secara umum, khususnya sumberdaya rajungan Portunus pelagicus di perairan Teluk Banten.