Anda di halaman 1dari 10

Trakeostomi adalah tindakan membuat lubang pada dinding depan/anterior trakea untuk bernafas.

Menurut waktu dilakukan tindakan trakeostomi dibagi dalam 1) trakeostomi darurat dan segera dengan persiapan sarana sangat kurang dan 2) trakeostomi berencana (persiapan sarana cukup) dan dapat dilakukan secara baik (lege artis). Sejarah Trakeostomi Trakeostomi telah dilakukan selama lebih dari 2.000 tahun. Trakeostomi pertama kali tertulis dalam Rig eda! kitab suci umat "indu 2000 #M. $ada tahun 1%20 "abicot menerbitkan buku pertama tentang trakeostomi. $ada tahun 1&00'an topik tentang trakeostomi men(adi populer karena dapat men)elamatkan pasien difteri. $ada saat itu ada dua cara! metode letak tinggi dengan memotong tulang rawan krikoid dan )ang kedua metoda letak rendah melalui pemotongan tulang rawan tarkea. #ampai tahun 1*00'an trakeostomi han)a dilakukan pada pasien )ang hampir meninggal dengan angka morbiditas dan mortalitas )ang tinggi. #ikap terhadap tindakan trakeostomi ini berubah ketika +he,alier -ackson pada tahun 1*0* menggambarkan teknik trakeostomi moderen. -ackson kemudian menggambarkan bahwa tinggin)a kerusakan dan stenosis pada laring dan trakea )ang dihubungkan dengan tindakan trakeostomi letak tinggi dalam artikeln)a pada tahun 1*21 )ang ber(udul High Tracheotomy and Other Errors: The Chief Cause of Chronic Laryngeal Stenosis. . /alam artikel ini -ackson mengatakan bahwa tinggin)a angka stenosis laring dan trakea akibat tindakan trakeostomi letak tinggi! )ang merusak kelen(ar tiroid dan trakea. -ackson kemudian men)arankan trakeostomi dibawah cincin trakea kedua )ang secara signifikan mengurangi stenosis laring dan trakea dan dapat menurunkan angka kematian dari 201 sampai 1'21! terutama pada anak'anak. Teknik ini telah diikuti sampai sekarang10!11 2natomi Trakea

3aring merupakan sfingter atau pintu masuk ke saluran nafas bawah! men)erupai limas segitiga terpancung. $ada pria letakn)a setinggi ,ertebra cer,ikal 444' 4! sedangkan pada wanita dan anak'anak biasan)a lebih tinggi. 5atas atas laring adalah epiglotis dengan plika ariepiglotika dan batas bawah adalah cincin trakea pertama. (6ambar 1)7!8 5angunan kerangka laring tersusun dari satu tulang dan beberapa tulang rawan. Tulang hioid berbentuk huruf 9! permukaan atasn)a dihubungkan dengan lidah! mandibula dan tengkorak oleh tendon dan otot. #edangkan tulang'tulang rawan )ang men)usun laring adalah kartilago epiglotis! kartilago krikoid! kartilago aritenoid! kartilago kornikulata! kartilago kuneiformis dan kartilago tritisea.7!8 6erakan laring dilaksanakan oleh otot ekstrinsik dan instrinsik. :tot ekstrinsik suprahioid adalah m. digastrikus! m. geniohioid! m. stilohioid dan m. milohioid! sedangkan otot ekstrinsik infrahioid adalah m. sternohioid! m. omohioid dan m. tirohioid.7!8 Rongga laring dibagi dalam 7 bagian )aitu supraglotik! daerah glotik dan subglotik. /aerah supraglotis terdiri dari epilaring dan ,estibulum. ;pilaring merupakan gabungan dari permukaan epiglotis! plika ariepiglotika dan aritenoid! sedangkan daerah subglotik adalah rongga laring )ang terletak di bawah plika ,okalis. 3aring dipersarafi oleh cabang'cabang ner,us ,agus! )aitu ner,us laringeus superior dan inferior. $endarahan untuk laring terdiri dari 2 pasang! )aitu arteri laringeus superior dan inferior. 2rteri laringeus superior merupakan cabang arteri tiroid superior! kemudian bersama cabang ner,us laringeus superior menembus membran tirohioid untuk ber(alan di bawah mukosa dinding lateral dan lantai sinus piriformis dan memperdarahi otot'otot laring. 2rteri laringeus inferior cabang arteri tiroid inferior! bersama'sama ner,us laringeus inferior ke belakang sendi krikotiroid dan memasuki laring melalui daerah pinggir bawah muskulus konstriktor inferior.& ena laringeus superior dan inferior letakn)a se(a(ar dengan pembuluh nadin)a untuk selan(utn)a bergabung dengan ,ena tiroid superior dan inferior&

$embuluh limfe laring cukup ban)ak. /i plika ,okalis! pembuluh limfe dibagi dalam golongan superior dan inferior Trakea merupakan pipa )ang terdiri dari tulang rawan dan otot )ang dilapisi oleh epitel torak berlapis semu bersilia. Trakea dapat dibagi 2 )aitu trakea bagian atas (ser,ikal) dan trakea bagian bawah (thorak). Trakea terletak ditengah'tengah leher dan makin ke distal bergeser ke sebelah kanan dan masuk ke mediastinum di belakang manubrium sterni. $an(ang trakea! dari pertemuan laring dan trakea setinggi +% (kartilago krikoid) sampai bifurkasio aorta setinggi T8! setinggi iga kedua pada orang dewasa dan iga ketiga pada anak'anak. Trakea terdiri dari 10'20 cincin trakea )ang berbentuk 9! di bagian posterior terdapat (aringan )ang merupakan batas dengan esophagus! )ang disebut dinding bersama antara trakea dan esophagus (tracheoesophageal party wall . +incin'cincin tersebut dihubungkan dengan membran elastik )ang tipis $an(ang trakea kira'kira 12 cm pada pria dan 10 cm pada wanita. /iameter antero' posterior rata'rata 17 mm sedangkan diameter trans,ersa rata'rata 1& mm. +incin trakea paling bawah meluas ke inferior dan posterior diantara bronkhus utama kanan dan kiri! membentuk sekat )ang lancip disebalah dalam )ang disebut karina. Mukosa didaerah subglotik merupakan (aringan ikat (arang! )ang disebut konus elastikus. <eistimewaan (aringan ini adalah bila terangsang mudah ter(adi edema dan akan terbentuk (aringan granulasi bila rangsangan berlangsung lama. $erdarahan trakea berasal dari cabang'cabang )ang berasal dari a.t)roid superior! a. bronkhial dan a. torakalis interna. /rainase melalui ,. t)roid inferior dan dialirkan menu(u ke salah satu atau kedua ,ena brakhiosefalik. 2liran limfe melalui kelen(ar limfe ser,ial! trakea dan trakeobronkial. $ersarafan simpatik berasal dari cabang' cabang kardial trunkus simpatikus ser,ikal dan n. ,isceral torak! serat post gangglionikn)a ke otot trakea untuk fungsi bronkodilator. #erabut parasimpatis berasal dari n. ,agus dan n. lar)ngeus rekuren! men)ebabkan bronkokontriksi.

Sumbatan Laring $rinsip penanggulangan sumbatan laring ialah menghilangkan pen)ebab sumbatan dengan cepat atau membuat (alan nafas baru )ang dapat men(amin ,etilasi. #umbatan laring dapat men(amin ,entilassi. #umbatan laring dapat disebabkan oleh 1) radang akut dan radang kronis! 2) benda asing! 7) trauma akibat kecelakaan! perkelahian! percobaan bunuh diri dengan sen(ata ta(am! 8) trauma akibat tindakan medic! 0) tumor laring! baik berupa tumor (inak ataupun tumor ganas! %) kelumpuhan ner,us rekuren bilateral. 6e(ala dan tanda sumbatan laring ialah = 1. #uara serak (disfoni) sampai afoni 2. #esak nafas (dipsnea) 7. #tridor (nafas berbun)i) )ang terdengar pada waktu inspirasi 8. +ekungan )ang terdapat pada waktu inspirasi di suprasternal! epigastrium! suprakla,ikula dan intercostal. +ekungan itu ter(adi sebagai upa)a dari otot' otot pernafasan untuk mendapatkan oksigen )ang adekuat. 0. 6elisah karena pasien haus udara *air hunger) %. >arna muka pucat dan terakhir men(adi sianosis karena hipoksia -ackson membagi sumbatan laring )ang progresif dalam 8 stadium dengan tanda dan ge(ala = #tadium 1 = +ekungan tampak pada waktu inspirasi di suprasternal! stridor pada

waktu inspirasi dan pasien masih tenang.

#tadium 2

= +ekungan pada waktu inspirasi di daerah suprasternal makin dalam!

ditambah lagi dengan timbuln)a cekungan di daerah epigastrium. $asien sudah mulai gelisah. #tridor terdengar pada waktu inspirasi. #tadium 7 = +ekungan selain di daerah suprasternal! epigastrium (uga terdapat di

infrakla,ikula dan sela'sela iga! pasien sangat gelisah dan dipsnea. #tridor terdengar pada waktu inspirasi dan ekspirasi. #tadium 8 = +ekungan'cekungan di atas bertambah (elas! pasien sangat gelisah!

tampak sangat ketakutan dan sianosis. -ika keadaan ini berlangsung terus maka pasien akan kehabisan tenaga! pusat pernafasan paralitik karena hiperkapnea. $asien lemah dan tertidur! akhirn)a meninggal karena asfiksia /alam penanggulangan sumbatan laring pada prinsipn)a diusahakan supa)a (alan nafas lancar kembali. Tindakan konser,atif dengan pemberian anti inflamasi! anti alergi! antibiotic! serta pemberian oksigen intermitten dilakukan pada sumbatan laring stadium 1 )ang disebabkan peradangan. Tindakan operatif untuk membebaskan saluran nafas ini dapat dengan cara memasukkan pipa endotrakea melalui mulut (intubasi orotrakea) atau melalui hidung (intubasi nasotrakea)! membuat trakeostoma atau krikotirotomi. 4ntubasi endotrakea dan trakeostomi dilakukan pada pasien dengan sumbatan laring stadium 2 dan 7! sedangkan krikotirotomi dilakukan pada sumbatan laring stadium 8. -ika ruangan perawatan intensif tidak tersedia! sebaikn)a dilakukan trakeostomi.

Indikasi Trakeostomi 1. Mengatasi obstruksi laring

2. Mengurangi ruang rugi (dead air space) di saluran nafas bagian atas seperti daerah raongga mulut! sekitar lidah dan faring. /engan adan)a stoma maka seluruh oksigen )ang dihirupn)a akan masuk ke dalam paru! tidak ada )ang tertinggal di ruang rugi itu. "al ini berguna pada pasien dengan kerusakan paru! )ang kapasitas ,italn)a berkurang. 7. Mempermudah pengisapan secret dari bronkus pada pasien )ang tidak dapat mengeluarkan secret secara fisiologik! misaln)a pada pasien dalam koma. 8. 9ntuk memasang respirator (alat bantu pernafasan) 0. 9ntuk mengambil benda asing dari subglotik! apabila tidak mempun)ai fasilitas untuk bronkoskopi. %. Membantu respirasi untuk periode )ang lama ?. $roteksi traktus trakeobronkhial pada pasien dengan resiko aspirasi

<ontraindikasi <ontraindikasi dan operasi anatomi. Tekhnik Trakeostomi #urgical Tracheostom) Trakeostomi surgical elektif paling baik dilaksanakan diruang operasi dengan bentuan dan peralatan )ang adekuat. 3angkah'langkah teknik operasi = mutlak leher untuk tracheostom) )ang adalah benar'benar infeksi kulit

ma(or

sebelumn)a

men)amarkan

1. $asien tidur posisi supine dengan meletakkan gan(al diantara tulang belikat sehingga leher hiperekstensi dan posisi trakea lebih tinggi dibanding dada. 2. 4nsisi kulit secara hori@ontal sepan(ang 8'% cm dilakukan 1'2 cm dibawah kartilago krikoid. 4nsisi hori@ontal didepan m. sternokleidomastoideus. 5eberapa ahli bedah lebih men)ukai insisi secara ,ertikal. 4nsisi secara ,ertical mungkin lebih menguntungkan pada ba)i karena dapat meminimalkan pergerakan tube trakeostomi. 7. 4nsisi kulit sampai ke platisma kemudian diretraksi keatas dan kebawah. 4nsisi ,ertikal pada fasia di garis tengah diantara otot'otot strap. <artilago krikoid akan terlihat di bagian atas dan istmus t)roid di bagian bawah! diantaran)a tampak ligamentum suspensorium kelen(ar t)roid. 8. 4stmus t)roid kemudian ditarik keatas dengan retarktor ,ena dan akan tampak cincin trakea ke'2! 7 dan 8. -ika istmus t)roid sulit diatarik ke atas! dilakukan insisi hori@ontal pada ligamentum susupensorium kelen(ar t)roid! sisipkan klem bengkok melalui insisi! kemudian istmus t)roid dipotong dan di(ahit ikat. 0. /engan menggunakan (arum h)podermic )ang berisi 1'2ml cocain 101 atau tetracain 21! diin(eksikan pada lumen trakea! udara )ang terlihat saat (arum ditarik memastikan bahwa u(ung (arum berada didalam lumen trakea. %. 5lade no.11 kemudian digunakan untuk membuat (endela pada trakea! insisi hori@ontal 0'& mm diatas cincin trakea 2!7 atau 8. 4nsisi diteruskan ke bawah melewati cincin trakea. 5enang nilon mungkin dapat di(ahitkan pada bagian bawah untuk tanda dalam keadaan darurat (ika kanul lepas. $ada ba)i dan anak'anak mungkin dapat di(ahitkan benang nilon pada dua sisi! bagian atas dan bagian bawah dan dilekatkan pada kulit.

?. <anul trakeostomi )ang sebelumn)a telah disiapkan kemudian dimasukkan ke dalam stoma. 9(ung bawah kanul tidak boleh mencapai karina. <anul trakeostomi kemudian difiksasi. 2nak kanul dipasang dan kasa dipasang dibawah kanul sekitar stoma. 3uka trakeostomi dekat kanul tidak boleh tertutup rapat atau di(ahit karena dapat menimbulkan emfisema subkutis! pneumomediastinum! pneumothorak dan infeksi. &. Roentgen dada selalu dilakukan setelah operasi selesai. Trakeostomi Dilatasi Perkutaneus Trakeostomi dilatasi perkutaneus adalah suatu teknik trakeostomi minimal in,asif sebagai alternatif terhadap teknik kon,ensional. Trakeostomi dilatasi perkutaneus (T/$) dilakukan dengan cara menempatkan kanul trakeostomi dengan bantuan serangkaian dilator dibawah panduan endoskopi. $rosedur ini dikenalkan oleh $asAuale +iagalia pada tahun 1*&0. 6riggs pada tahun 1**0 melakukan modifikasi dengan menggunaan kawat pemandu dan forsep dilatasi ( !riggs !uidewire "ilating forceps# !$"%) pada prosedur ini. (6ambar 7). $ada tahun 1**& dilakukan modifikasi lagi terhadap teknik ini! dimana serangkaian dilator digantikan dengan dilator tunggal! ta(am dan meruncing pada bagian u(ungn)a! dilapisi oleh lapisan hidrofilik (Ciaglia&s 'lue (hino method )dan memungkinkan dilatasi lengkap dalam satu langkah (6ambar 8). $ada tahun 2002! fro,a dan Buintel membuat alat dilator tunggal baru )ang berbentuk sekrup )ang disebut )ercu Twist Teknik ini dimulai dengan insisi kulit sepan(ang 1.0'2 cm! 2 cm dibawah kartialgo krikoid. #epasang forsep mosAuito digunakan untuk diseksi secara tumpul sampai fasia pretrakea. /engan menggunakan (ari kelingking identifikasi tulang rawan krikoid dan trakea. -arum dengan katetern)a ditusukkan! idealn)a antara cincin trakea kedua dan ketiga dan tindakan ini dapat dipantau dengan menggunakan bronkoskopi )ang telah dihubungkan ke kamera. -arum kemudian ditarik! kawat pemandu ( *+$ire) kemudian dimasukkan kemudian kateter ditarik sepenuhn)a dan mempertahankan kawat pemandu dalam lumen trakea. /ilator +iaglia kemudian dimasukkan melalui

kawat pemandu sampai dengan ukuran 7&C. <anul trakeostomi kemudian dipasang dengan ukuran )ang sama dengan dilator melaui kawat pemandu! dan kawat pemandu kemudian dilepas. <anul trakeostomi difiksasi dan cuff dikembangkan. Roentgen thorak post operatif dilakukan untuk melihat adan)a komplikasi penumotorak dan pneumomediastinum. $rosedur T/$ ini merupakan prosedur elektif )ang sering dilakukan di unit perawatan intensif atau 4+9. $ada dekade terakhir! T/$ men(adi tindakan rutin )ang praktis dilakukan di beberapa R# dan beberapa artikel telah membandingkan T/$ dengan trakeostomi! dimana adan)a komplikasi )ang lebih rendah pada T/$ dan laman)a waktu )ang digunakan lebih pendek.1% $ada awaln)a keban)akan penulis men)adari bahwa prosedur ini kontraindikasi relatif pada pasien obesitas dan leher pendek! dan kontraindikasi absolut pada cedera ser,ikal! anak'anak dan keadaan darurat. #ekarang ini beberapa laporan men)ebutkan keamanan dan kemungkinan dilakukann)a teknik ini pada pasien'pasien )ang memiliki kontraindikasi tersebut. 5en'nun1% dkk melakukan T/$ pada 10 pasien )ang mengalami trauma dengan rata'rata waktu )ang digunakan adalah 0.0 menit dan tidak ditemukann)a komplikasi. 5en'nun1% dkk kemudian me)impulkan bahwa di tangan )ang berpengalaman! T/$ emergensi pada pasien trauma adalah mungkin dan aman.1% 9rwin dkk seperti )ang dikutip oleh 5en'nun berhasil melakukan T/$ pada pasien obesitas. Ma)berr) seperti )ang dikutip oleh 5en'nun (uga berhasil melakukan T/$ pada pasien trauma. <omplikasi dari prosedur ini lebih rendah dibanding prosedur trakeostomi standar. 2ngka mortalitas 0'0.%1 pada $/T dan 0'?.81 pada prosedur standar. $erdarahan merupakan komplikasi )ang paling sering! meskipun frekuensin)a lebih rendah dibanding prosedur trakeostomi standar. Reganon1? dkk melakukan penelitian retrospektif pada &00 pasien )ang men(alani prosedur T/$ di 4+9 dan menemukan komplikasi )ang paling ban)ak adalah perdarahan intraoperatif! seban)ak 17 pasien

(80.%21) dari 72 (81) pasien )ang mengalami komplikasi! namun tidak memerlukan transfusi darah karena han)a perdarahan ringan <euntungan teknik ini T/$ adalah! dibawah panduan bronkoskopi sehingga masukn)a kawat pemandu dan kanul trakeostomi di garis tengah dapat dipastikan dan dapat menghindari komplikasi rusakn)a dinding trakea posterior serta ,ideon)a dapat digunakan sebagai bahan untuk pelatihan berikutn)a.11 <erugian dari teknik ini adalah D pemilihan pasien sangat selektif untuk keberhasilan tindakan ini! pasien dengan landmar, tidak (elas! obesitas! koagulopati atau adan)a massa di leher merupakan calon )ang tidak dian(urkanD perlun)a mentor terlatih dalam pelaksanann)a untuk mencegah kemungkinan komplikasi )ang seriusD membutuhkan lebih ban)ak tim terlatih dan peralatan tambahan sehingga bia)an)a lebih besar Trakeostomi emergensi Trakeostomi emergensi relatif (arang dilakukan ! dan pen)ebab )ang sering adalah obstruksi (alan nafas atas )ang tidak bisa diintubasi. 2noksia pada obstruksi (alan nafas akan me)ebabkan kematian dalam waktu 8'0 menit dan tindakan trakeostomi harus dilakukan dalam 2'7 menit. Teknik insisi )ang paling baik pada trakeostomi emergensi adalah insisi kulit ,ertikal dan insisi ,ertikal pada cincin trakea kedua dan ketiga.12 insisi ,ertikal ini lebih baik karena lebih mudah dilakukan dan lebih cepat! dimana insisi kulit ,ertikal dapat langsung diteruskan dengan cepat menu(u (aringan lemak subkutan! fasia ser,ikal dalam pada garis tengah )ang relatif a,askuler.