Anda di halaman 1dari 23

I.

PENDAHULUAN

Erosi tanah adalah peristiwa terangkutnya tanah dari satu tempat ke tempat lain oleh air atau angin (Arsyad, 1976). Pada dasarnya ada tiga proses penyebab erosi yaitu pelepasan (detachment) partikel tanah, pengangkutan (transportation), dan pengendapan (sedimentation). Erosi menyebabkan hilangnya tanah lapisan atas (top soil) dan unsur hara yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Erosi yang disebabkan oleh air hujan merupakan penyebab utama degradasi lahan di daerah tropis termasuk Indonesia. Tanah-tanah di daerah berlereng mempunyai risiko tererosi yang lebih besar daripada tanah di daerah datar. Selain tidak stabil akibat pengaruh kemiringan, air hujan yang jatuh akan terus-menerus memukul permukaan tanah sehingga memperbesar resiko erosi. Berbeda dengan daerah datar, selain massa tanah dalam posisi stabil, air hujan yang jatuh tidak selamanya memukul permukaan tanah karena dengan cepat akan terlindungi oleh genangan air. Pencegahan dengan teknik konservasi yang tepat sangat diperlukan dengan

mempertimbangkan faktor-faktor penyebab erosi. Kondisi sosial ekonomi dan sumber daya masyarakat juga menjadi pertimbangan sehingga tindakan konservasi yang dipilih diharapkan dapat meningkatkan produktivitas lahan, menambah pendapatan petani serta memperkecil risiko degradasi lahan. Pada dasarnya teknik konservasi dibedakan menjadi tiga yaitu: (a) vegetatif; (b)

mekanik; dan (c) kimia. Teknik konservasi mekanik dan vegetatif telah banyak diteliti dan dikembangkan. Namun mengingat teknik mekanik umumnya mahal, maka teknik vegetatif berpotensi untuk lebih diterima oleh masyarakat. Teknik konservasi tanah secara vegetatif mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan teknik konservasi tanah secara mekanis maupun kimia, antara lain karena penerapannya relatif mudah, biaya yang dibutuhkan relatif murah, mampu menyediakan tambahan hara bagi tanaman, menghasilkan hijauan pakan ternak, kayu, buah maupun hasil tanaman lainnya. Hal tersebut melatarbelakangi pentingnya informasi mengenai teknologi konservasi tanah secara vegetatif (Subagyono et al, 2001). Selanjutnya pada konservasi vegetaif, hendaknya memanfaatkan tanaman lokal yang tumbuh di daerah masing-masing sebagai upaya menghidupkan kearifan lokal setempat.
1|Page

Berbagai tanaman lokal telah banyak digunakan sebagai tanaman konservasi, makalah ini membahas tentang penggunaan bambu lokal yaitu Bambu Hitam (Gigantochloa atroviolaceae Widjaja) sebagai upaya konservasi yang salah satu studi kasus diambil pada daerah Kebun Raya Purwodadi.

2|Page

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengertian Konservasi Air dan Tanah Konservasi tanah merupakan penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Upaya konservasi tanah ditujukan untuk (1) mencegah erosi, (2) memperbaiki tanah yang rusak, dan (3) memelihara serta meningkatkan produktivitas tanah agar tanah dapat digunakan secara berkelanjutan. Konservasi air adalah penggunaan air hujan yang jatuh ke tanah dan mengatur waktu aliran air agar tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau (Arsyad, 2006).

2.2

Jenis-Jenis Konservasi Metode konservasi tanah dapat dibagi dalam tiga golongan utama, yaitu (1) metode vegetatif, (2) metode mekanik dan (3) metode kimia. Metode vegetatif adalah penggunaan tanaman atau bagian-bagian tanaman atau sisa-sisanya untuk mengurangi daya tumbuk butir hujan yang jatuh, mengurangi jumlah dan kecepatan aliran permukaan yang pada akhirnya mengurangi erosi tanah (Arsyad, 2006). Metode mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanik yang diberikan terhadap tanah dan pembuatan bangunan untuk mengurangi aliran permukaan dan erosi, dan meningkatkan kemampuan penggunaan tanah. Termasuk dalam metode mekanik dalam konservasi tanah dan air adalah pengolahan tanah, guludan, teras, penghambat (check dam), waduk, rorak, perbaikan drainase dan irigasi (Arsyad, 2006).

2.3

Jenis-Jenis Konservasi secara Vegetatif Konservasi tanah vegetative mencakup semua tindakan konservasi yang menggunakan tumbuh-tumbuhan (vegetasi), baik tanaman legume yang menjalar, semak atau perdu, maupun pohon dan rumput-rumputan serta tumbuh-tumbuhan lain, yang ditujukan untuk mengendalikan erosi dan aliran air permukaan pada lahan pertanian. Tindakan konservasi tanah vegetative tersebut sangat beragam, mulai dari pengendalian
3|Page

erosi pada bidang olah atau lahan yang ditanami dengan tanaman utama, sampai dengan stabilisasi lereng dari bidang olah, saluran pembuangan air (SPA), maupun jalan kebun (Santoso et al, 2013). - Budidaya Lorong (Alley Cropping) Dalam alley cropping system ini yang kemudian di Indonesia disebut sebagai sistem budidaya lorong, tanaman pangan (semusim) sebagai tanaman utama ditanam pada bidang olah di lorong-lorong (alleys) antara barisan-barisan tanaman pagar (hedgerow crops) dari semak berkayu atau pohon legum, yang secara berkala dipangkas untuk mengurangi naungan dan sebagai sumber bahan organik. Tanaman semak atau pohon yang ditanam sebagai pagar tersebut tetap mempunyai fungsi seperti pada sistem bera dengan semak belukar (bush-fallow system), yaitu mendaur ulang unsure hara, sumber mulsa dan pupuk hijau, menekan pertumbuhan gulma dan mengendalikan erosi (gambar 1). Penggunaan tanaman pagar legum lebih disenangi karena juga dapat menyediakan nitrogen gratis bagi sistem pertanian ini. Oleh karena itu, sistem budidaya lorong dapat juga disebut sistem bera dengan semak belukar yang diperbaiki, yaitu dengan menggabungkan masa pertanaman dengan masa bera untuk meningkatkan intensitas penggunaan lahan (Santoso et al, 2013).

Gambar 1. Konsep sistem budi daya lorong (sumber : Kang et al., 1989 dalam (Santoso et al, 2013).
4|Page

Penerapan sistem budidaya lorong pada lahan berlereng mampu membentuk teras alami setinggi 20-30 cm dalam waktu 4 tahun. Dengan terbentuknya teras, maka panjang lereng berkurang dan kemiringan lahan masing-masing bidang olah juga berkurang. Teras alami terbentuk karena sedimen yang terbawa oleh aliran permukaan tertahan oleh barisan tanaman pagar. Pembentukan teras dipercepat dengan pengolahan tanah, karena setelah diolah tanah menjadi gembur dan lepas sehingga erosi menjadi lebih tinggi. Selain dapat menekan aliran erosi permukaan, budidaya lorong juga menekan kehilangan hara N, P dan K hingga menjadi seperlimanya. Kehilangan hara dapat ditekan lebih rendah lagi bila diikuti dengan tindakan konservasi tanah yang lain, misalnya pemberian mulsa dan pengolahan tanah minimum (Santoso et al, 2013). Meskipun sistem budidaya lorong mempunyai berbagai kelebihan, sistem ini juga memiliki beberapa kelemahan, yaitu luas bidang olah berkurang, perlu tambahan tenaga untuk pemeliharaan dan pemangkasan atau panen tanaman pagar dan adanya sifat alelopati dari jenis tanaman pagar tertentu. Selain itu juga dilaporkan terjadi persaingan antara tanaman pagar dengan tanaman pokok dalam serapan hara, cahaya dan air sering mengurangi dampak positif dari budidaya lorong (Santoso et al, 2013).

- Wanatani (Agroforestry) Sistem wanatani (agroforestry) adalah sistem penggunaan lahan yang mengintegrasikan tanaman pangan, pepohonan dan atau ternak secara terus-menerus ataupun periodik, yang secara social dan ekologis layak dikerjakan oleh petani untuk meningkatkan produktivitas lahan dengan tingkat masukan dan teknologi rendah (Nair, 1989). Semua definisi wanatani tersebut diatas mengimplikasikan bahwa : (1) terdapat interaksi yang kuat baik kompetitif maupun komplementer antara komponen pohonpohonan dan bukan pepohonan; (2) terdapat perbedaan yang nyata antara masingmasing komponen wanatani dalam dimensi fisik, umur dan dan penampilan fisiologi; (3) wanatani umumnya mengintegrasikan dua atau lebih jenis tanaman (atau tanaman dan ternak), dimana paling tidak salah satunya merupakan tanaman berkayu; (4) wanatani selalu mempunyai dua atau lebih hasil; (5) siklus wanatani selalu lebih dari
5|Page

satu tahun; (6) walaupun dalam bentuk sederhana, secara ekologi dan ekonomi wanatani lebih kompleks dibandingkan dengan usaha tani monokultur; dan (7) wanatani dapat diterapkan pada lahan-lahan yang berlereng curam, berbatu-batu, berawa ataupun tanah marginal dimana sistem usaha tani lainnya kurang cocok (Santoso et al, 2013).

- Tanaman Sela Dilihat dari perkembangan tajuk tanaman tahunan, terdapat dua model pertanaman sela, yaitu: pertanaman sela terus-menerus dan pertanaman sela periodic. Pertanaman sela terus-menerus adalah penanaman tanaman pangan semusim atau menahun, palawija, atau rumput pakan diantara tanaman tahunan yang sudah menghasilkan. Pada sistem ini, tajuk tanaman tahunan tidak rapat, sehingga memungkinkan untuk membudidayakan tanaman lainnya yang memiliki tajuk lebih rendah dari tanaman tahunan. Pengaturan tanaman dilakukan sedemikian rupa, sehingga interaksi antar tanaman tidak saling merugikan. Penanaman coklat, pisang, ubi kayu, padi gogo, nanas atau jagung diantara barisan kelapa adalah salah satu contoh penanaman sela terus-menerus (Santoso et al, 2013). Tanaman sela sementara adalah penanaman tanaman pangan semusim palawija atau rumput pakan diantara tanaman tahunan yang tajuknya belum menutupi selruh permukaan tanah. Jika tajuk tanaman tahunan sudah menutup seluruh permukaan tanah, maka tanaman semusim tida dapat dibudidayakan lagi. Penanaman jagung, pdi gogo, kacang tanah dan sayuran dataran rendah diantara barisan kelapa sawit muda atau karet merupakan contoh tanaman sela sementara (Santoso et al, 2013).

- Pagar Hidup Pagar hidup adalah barisan tanaman tahunan jenis perdu atau pohon sepanjang batas pemilikan lahan yang ditanam dengan jarak tanam rapat, dipangkas pada ketinggian1,5 2 m. selain sebagai batas pemilikan lahan, pagar hidup dapat berfungsi sebagai pencegah orang, ternak pemakan rumput atau tanaman masuk ke lahan dan merusak tanaman, sumber pakan ternak serta menahan erosi.

6|Page

- Pola Tanam Pola tanam adalah sistem pengaturan pertanaman berdasarkan distribusi curah hujan, baik pola tanam monokultur maupun tumpang sari pada tanaman hampir sama umur pada sebidang tanah sebagai salah satu strategi untuk menjamin keberhasilan usaha tani lahan kering. Dalam perkembangannya pola tanam ini sangat tergantung kepada jenis tanah, iklim, topografi dan pemasaran hasil (Effendi, 1984). Dengan meningkatkan intensitas tanaman, maka bukan hanya produktivitas lahan yang ditingkatkan, tetapi sekaligus juga merupakan tindakan konservasi vegetative. Tertutupnya lahan hampir sepanjang tahun akan mengurangi erosi serta menghasilkan sisa tanamansebagai bahan organik (Santoso et al, 2013). Pertanaman campuran (mixed cropping) Pertanaman campuran adalah sistem penanaman lebih dari satu macam tanaman semusim pada lahan dan waktu yang sama dengan pola tidak teratur. Jenis tanaman yang diusahakan biasanya terdiri atas tanaman semusim seperti padi gogo, palawija atau sayuran. Kadang-kadang lahan ditanami dengan tanaman tahunan seperti jati, sonokeling, dan mahoni sebagai pembatas pemilikan lahan. Ttapi berbeda dengan kebun campuran, komponen tanaman semusim dalam sistem pertanaman campuran lebih dominan. Tujuannya untuk konsumsi pangan, pakan, kayu bangunan rumah dan kayu bakar (Santoso et al, 2013). Pertanaman berurutan (sequential cropping) Pertanaman berurutan adalah sistem dengan dua tanaman atau lebih secara berurutan/bergilir. Pola tanam dapat berupa padi gogo, kacang tanah, kacang tunggak atau jagung, kacang tanah, tanaman penutup tanah atau tanaman pupuk hijau. Tanaman pertama biasanya ditanam di awal musim hujan dan setelah panen, lahan diolah lagi kemudian diganti dengan tanaman kedua. Tanaman ketiga ditanam tergantung dari ketersediaan air, kalau tidak memungkinkan biasanya tahan diberikan sampai musim hujan yang berikutnya (Santoso et al, 2013). Benguk dan kacang tunggak (Vigna sinensis) dapat ditanam pada musim tanam ketiga dalam pola pergiliran tanaman lahan kering untuk mencegah merosotnya produktivitas tanah. Selama empat bulan (Mei Agustus) benguk dan
7|Page

kacang tunggak mampu menghasilkan biomassa sebesar 8 dan 5 ton/ha (Purnomo et al, 1992). Tanaman penutup tanah kacang-kacangan pada musim kemarau berpengaruh meningkatkan hasil kedelai dan jagung yang ditanam sesudahnya.

Tabel 1. Pengaruh berbagai tanaman penutup tanah terhadap hasil biomassa tanaman penutup tanah, kedelai dan jagung dan hasil biji kedelai di Kuaman Kuning, Jambi.

Sumber : Purnomo et al, (1992) dalam Santoso et al, (2013). Pertanaman Tumpang Sari Pertanaman tumpang sari adalah sistem penanaman lebih dari satu macam tanaman pada lahan yang sama secara simultan, dengan umur tanaman relative sama dan diatur dalam barisan atau kumpulan barisan atau kumpulan baris secara berselang-seling seperti : padi gogo + jagung + kacang tanah. Pertanaman pertama padi ditanaman tumpang sari dengan jagung, pertanaman kedua jagung ditumpangsarikan dengan kacang tanah (Santoso et al, 2013). Pertanaman Tumpang Gilir Pertanaman tumpang gilir adalah penanaman lebih dari satu macam tanaman pada lahan yang sama secara bergilir. Tanaman kedua ditanam di antara tanaman pertama sebelum panen. Pola tanam dapat berupa padi gogo + jagung -/ubi kayu kacang tanah. Pertanaman pertama padi gogo ditumpangsarikan dengan jagung. Sebulan sebelum jagung dipanen, ubi kayu ditanam dengan cara disisipkan di antara jagung. Setelah padi dan jagung di panen, kacang tanah ditanam di antara barisan ubi kayu (Santoso et al, 2013).

8|Page

Pertanaman Berjalur (Strip Cropping) Pertanaman berjalur adalah penanaman dua jenis tanaman atau lebih dalam strip-strip secara berselang-seling antara tanaman pokok dan tanaman penutup tanah. Sistem ini diterapkan pada lahan berlereng 15 40% (Santoso et al, 2013).

Gambar 2. Pertanaman berjalur (Sumber : FFTC, (1995) dalam (Santoso et al, 2013). Pertanaman bertingkat (Multistorey Cropping) Pertanaman bertingkat adalah sistem penanaman kombinasi antara pohon dan tanaman lain yang lebih pendek habitusnya. Penanaman berbagai tanaman pohon yang berbeda tinggi tajuknya diatur dengan arah barisan timur-barat, dan tanaman pangan atau tanaman pangan atau pakan diantaranya. Misalnya etase 1 kelapa, setase 2 cengkih, durian melinjo, etase 3 pisang, jeruk, kopi dan etase 4 tanaman pangan dan pakan. Pada prinsipnya sistem ini adalah untuk meningkatkan produktivitas lahan dengan mengurangi luas lahan yang diolah dan memperbanyak tanaman. Pengelolaannya perlu memperhatikan pengawetan tanah dan air, intensitas sinar surya semaksimal mungkin, serta daur ulang bahan organik dan hara (Widjaja Adhi et al., 1993).

Tanaman Penutup Tanah Tanaman penutup tanah adalah tanaman yang ditanam untuk menutupi permukaan lahan pertanian yang berguna mengendalikan erosi dan memperbaiki sifatsifat tanah. Tujuan dari tanaman penutp tanah adalah melindungi permukaan tanah dari
9|Page

erosi percikan akibat jatuhnya tetesan air hujan; meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan memperbaiki sifat-sifat fisik dan kimia tanah; menekan pertumbuhan gulma sehingga dapat mengurangi biaya perawatan tanaman; dan meminimumkan perubahanperubahan iklim mikro dan suhu tanah, sehingga dpat menyediakan lingkungan hidup yang lebih baik bagi tanaman (Santoso et al, 2013). Tanaman penutup tanah harus memenuhi persyaratan antara lain: mudah diperbanyak terutama dengan biji, tumbuh cepat dan menghasilkan banyak daun, toleran terhadap pemangkasan dan injakan, bukan tanaman inang hama dan penyakit, sistem perakaran tidak berkompetisi berat dengan tanaman pokok, dan mampu menekan gulma. Jenis tanaman penutup tanah yang umum digunakan adalah kacang-kacangan / legume yang merambat paling baik sebagai penutup tanah karena mampu secara langsung memfiksasi nitrogen dari udara, dan mampu beregenerasi sendiri (Santoso et al, 2013).

Gambar 3. Benguk (Mucuna munaneae) ditanam sebagai tanaman penutup tanah sekaligus dapat digunakan untuk rehabilitasi lahan alang-alang (Photo : I G. P. Wigena dalam (Santoso et al, 2013). Penanaman Rumput Penanaman rumput pada berbagai tempat yang terbuka (tidak tertutup oleh tanaman utama) sangat penting dalam mengendalikan erosi dan aliran permukaan di lahan pertanian. Tempat-tempat terbuka tersebut antara lain adalah saluran pembuangan air (SPA), rorak, jalan dan bidang lereng dari lahan pertanian. Penanaman rumput pada SPA atau dinamakan sebagai SPA yang diperkuat dengan rumput (grassed waterways) penting untuk mengamankan SPA sehingga lahan pertanian dapat lebih stabil. Teknik ini
10 | P a g e

baik untuk lahan yang lerengnya < 30%. Jika air buangannya mengalir terus dan kecepatannya melebihi 1,5 m/detik, maka dasar salurannya perlu diperkuat dengan semen. Untuk mengurangi kekuatan aliran air, maka SPA yang diperkuat dengan rumput tersebut di beberapa tempat dengan jarak yang teratur perlu ditambah dengan terjunan air (drop spillways). Rumput yang sesuai dengan teknik ini adalah Bahia grass (Paspalum notatum) atau rumput karpet (Axonopus affinis). Tempat-tempat yang terus-menerus ternaungi atau tanahnya terlalu berbau tidak cocok untuk teknik SPA dengan rumput ini (FFTC, 1995).

Pupuk Hijau Pupuk hijau dapat ditanam secara khusus untuk memperbaiki sifat-sifat tanah dan berguna sebagai pupuk. Kandungan nitrogen pupuk hijau tertinggi pada masa awal pembentukan bunga, waktu tanaman masih lunak dan mudah dilapuk. Oleh karena itu, tanaman pupuk hijau sebaiknya dipangkas pada waktu itu dan segera dibenamkan ke dalam tanah waktu masih berwarna hijau. Tanaman pupuk hijau dapat meningkatkan kandungan bahan organik tanah, memperbaiki sifat-sifat fisik dan kimia tanah serta meningkatkan ketahanan tanah terhadap erosi. Tanaman pupuk hijau dapat dipakai untuk memperbaiki tanah berpasir, tanah liat berat atau tanah-tanah lain yang tidak produktif (Santoso et al, 2013).

Mulsa Mulsa adalah penutup tanah yang berasal dari pangkasan rumput, sisa panen atau bahan-bahn lain yang penggunaannya disebarkan di permukaan tanah sepanjang barisan tanaman atau melingkari batang pohon. Mulsa berguna untuk mengurangi erosi dan aliran air permukaan, menekan gulma dan mengurangi biaya penyiangan. Mengatur suhu tanah, meningkatkan kandungan bahn organik tanah dan mengurangi penguapan air tanah atau meningkatkan kelembaban tanah. Penutup tanah atau rumput yang ditanam diantara tanaman pohon-pohonan dapat dengan mudah dipangkas untuk bahan mulsa (Santoso et al, 2013).

11 | P a g e

Gambar 4. Bagan penyebaran mulsa di lahan pertanian (Sumber: FFTC, 1995). Pematah Angin Pematah angin (windbreaks) adalah barisan pohon atau rumput tinggi yang ditanam dengan jarak yang tepat untuk mencegah atau mengurangi erosi angin dan kerusakan tanaman yang disebabkan oleh angin. Pematah angin berguna untuk mengendalikan erosi angin, mengurangi kerusakan fisiologis atau mekanis terhadap tanaman yang disebabkan oleh angin yang keras, mengurangi evapotranspirasi dan mengurangi kerusakan tanaman akibat garam jika lokasinya dekat laut (Santoso et al, 2013).

12 | P a g e

Gambar 5. Bagan pematah angin (FFTC, 1995).

13 | P a g e

III.

PEMBAHASAN

3.1 Alasan Pemilihan Tanaman Bambu Sebagai Tanaman Konservasi Tanaman bamboo mempunyai sistem perakaran serabut dengan akar rimpang yang sangat kuat. Karaktersitik perakaran bamboo memngkinkan tanaman ini menjaga sistem hidrologis sebagai pengikat tanah dan air sehingga dapat digunakan sebagai tanaman konservasi. Rumpun bamboo di Tatar Sunda disebut dapuran awi juga akan menciptakan iklim mikro di sekitarnya, sedangkan hutan bamboo dalam skala luas pada usia yang cukup dapat dikategorikan sebagai satu satuan ekosistem yang lengkap. Kondisi hutan bamboo memungkinkan mikroorganisme dapat berkembang bersama dalam jalinan rantai makanan yang saling bersimbiosis. Kita mengetahui bersama bahwa kerusakan sumberdaya alam di Indinesia telah melampaui ambang batas kerusakan dan cenderung untuk menuju pada kemusnahan fatal apabila tidak ada usaha penaggulangannya yang berarti. Kawasan hutan seluas 122 jta ha tinggal separuhnya akibat pembalakan liar / illegal logging, yang sampai kini belum ada penanganannya secara tuntas. Akibatnya kita merasakan sendiri terjadinya malapetaka bagi seluruh lapisan masyarakat seperti terjadinya banjir, longsor, sedimentasi, pendangkalan sungai serta muaranya pada musim hujan serta kekurangan air dan pencemaran air pada musim kemarau. Usaha rehabilitasi memang sudah dimulai baik melalui GERHAN, GRLK provinsi, kabupaten, kota tetapi hasilnya belum mencapai sasaran yang diinginkan. Padahal Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis ini telah berlangsung lebih dari 40 tahun yang lalu. Secara rutin bertahun-tahun tanaman penghijauan pada lahan kritis tersebut didominasi oleh komodita jenis kayu-kayuan sebagai tanaman konservasi dan buah-buahan sebagai tanaman produktif. Sedangkan tanaman bamboo sebagai jenis tanaman tradisional dengan sifatnya multiguna, belum tersentuh padahal sepantasnya jenis tanaman ini diikutsertakan dalam rangka rehabilitasi lahan kritis. Environment Bamboo Foundation (EBF) merupakan sebuah yayasan yang intensif mengenai bamboo di Indonesia menjelaskan fungsi EBF dan beberapa manfaat utama
14 | P a g e

tanaman bamboo : Misi EBF adalah memperkenalkan bamboo sebagai bahan bangunan di masa depan, sepertiga rumpun bisa dipanen dan memiliki sifat setengah tanaman keras. Dalam beberapa minggu, tunas baru akan tumbuh tanpa penanaman ulang, dan tidak mengakibatkan tanah longsor atau hilangnya penyerapan karbon. (Studi menunjukkan bahwa satu hektar tanaman bamboo bisa menyerap lebih dari 12 ton karbondioksida dari udara). EBF mendapat laporan dari banyak Negara bahwa debit air meningkat setelah beberapa tahun ditanami bamboo dan dalam beberapa kasus muncul mata air baru. Tidak mengherankan mengingat bamboo merupakan tanaman C3 dan efektif dalam konservasi air. pepohonan rata-rata menyerap 35-40% air hujan; sedangkan bamboo bisa menyerap sampai 90%. Itu sebabnya orang di kolombia mengatakan bahwa mereka menanam air apabila mereka menanam bamboo. Dengan demikian fungsi bamboo sangatlah banyak, diantaranya adalah : a) Meningkatkan volume air bawah tanah, b) Konservasi lahan, c) Perbaikan lingkungan dan d) Sifat-sifat bamboo sebagai bahan bangunan tahan gempa, khususnya wilayah rawan gempa. Penghijauan dengan memanfaatkan bamboo local, bukan hanya penting bagi kelestarian sumber mata air tetapi juga dapat berdampak positif terhadap peningkatan perekonomian masyarakat. Mulai baru tumbuh pohon bamboo sudah memiliki nilai guna bagi kepentingan masyarakat. Pohonnnya yang baru tumbuh (rebung) bisa dibuat sayur sebagai pelengkap makanan sehari-hari. Nilai jualnya juga lumayan bagus serta bisa memberikan nilai tambah bagi masyarakatnya. Berikutnya, batang bamboo tersebut juga dimanfaatkan untuk tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan industry, seperti kerajinan rumah tangga, keperluan rumah dan lain sebagainya. Diantaranya yang paling mungkin bisa mendatangkan hasil lebiha adalah bamboo tersebut bisa dibuat kerajinan tangan yang memiliki nilai ekspor yang bernilai tinggi (Widnyana K., 2006).

15 | P a g e

3.2 Bambu sebagai Tanaman Konservasi Dibandingkan dengan Tanaman Berkayu (Kluwih) Karakterisasi Tumbuhan Lokal untuk Konservasi Tanah dan Air, Studi Kasus pada Kluwih (Artocarpus altilis Park. ex Zoll.) Forsberg) dan Bambu Hitam (Gigantochloa atroviolaceae Widjaja)

Kluwih (Artocarpus altilis Park. ex Zoll. Forsberg), merupakan salah satu anggota famili Moraceae, yang banyak dijumpai di hutan dataran rendah di daerah Jawa. Tanaman ini banyak dimanfaatkan masyarakat tradisional untuk dikonsumsi buahnya, sebagai bahan mentah dari sayur. Tanaman ini, sebagaimana tanaman Moraceae lainnya, juga sering dijumpai pada mata air. Di Kebun Raya Purwodadi, koleksi tanaman kluwih dapat dijumpai di vak IV.B.I (Gambar 6).

Gambar 6. Tanaman kluwih (Artocarpus altilis Park. ex Zoll. Forsberg) di Kebun Raya Purwodadi (Sumber: Sofiah dan Fiqa, 2012). Bambu hitam (Gigantochloa atroviolaceae Widjaja), merupakan salah satu jenis bambu yang menjadi primadona untuk dimanfaatkan buluhnya sebagai bahan dasar furniture. Bambu hitam juga merupakan salah satu tanaman asli di dataran rendah Pulau Jawa. Di Kebun Raya, jenis ini bisa dijumapi di vak XII.J.I.

16 | P a g e

Gambar 7. Tanaman bamboo Hitam (Gigantochloa atroviolaceae Widjaja) koleksi Kebun Raya Purwodadi (Sumber: Sofiah dan Fiqa, 2012). Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, diketahui bahwa tanaman kluwih, memiliki tipe kanopi bulat. Bambu hitam yang memiliki karakter khas tumbuh merumpun, juga dikategorikan berkanopi bulat, berdasarkan bentuk keseluruhan rumpun yang dibentuknya. Sedangkan berdasarkan klasifikasi tipe akar, bamboo memiliki akar serabut (fibrous root), sedangkan tanaman kluwih memiliki tipe tunggang (tap root). Hasil pengukuran fungsi tumbuhan dalam pendistribusian air hujan yang jatuh pada kedua tanaman menunjukkan hasil yang berbeda satu sama lain (gambar 8). Bambu hitam memiliki kemampuan menahan lolosan hujan lebih tinggi dibandingkan kluwih. Sehingga diketahui daya tahan terhadap lolosan hujan pada keduanya, didapatkan dari Intersepsi tajuk/curah hujan saat itu dikalikan 100%.

17 | P a g e

Gambar 8. Kemampuan distribusi air hujan pada tanaman (Sumber: Sofiah dan Fiqa, 2012).

Gambar 9. Perbandingan kemampuan tanaman menahan lolosan hujan (Sumber: Sofiah dan Fiqa, 2012). Bambu hitam adalah salah satu jenis bambu yang banyak diminati karena buluhnya yang khas. Jenis ini dicirikan dengan warna buluhnya yang hitam. Rebungnya kehitaman dengan ujung jingga, tertutup bulu coklat hingga hitam. Buluh tingginya mencapai 15 m, tegak. Buluh muda dengan bulu hitam hingga coklat, gundul ketika tua dan keunguan, ruas panjangnya 40-50 cm, berdiameter 6-8 cm, dinding tebalnya mencapai 8mm. Daun 20-28 x 2-5 cm, gundul; ligula menggerigi, tinggi 2 mm, gundul (Widjaja, 2001).

18 | P a g e

Bambu banyak dijumpai di sekitar mata air maupun daerah tepian sungai. Tanaman bambu memiliki kemampuan menahan erosi, dengan perakarannya yang menyebar luas sehingga mampu menyerap dan menyimpan air lebih banyak di dalam tanah. Tipe perakaran yang dimiliki bambu, yaitu fibrous root, juga menjadikan bamboo memiliki kemampuan untuk mengikat tanah dengan baik. Kluwih, merupakan tanaman berhabitus pohon. Tinggi mencapai 30 m, batang lurus, diameter 0,6-1,8 m, seringkali berakar papan, memiliki tanda-tanda bekas daun dan bekas penumpu. Daun berselang-seling, berbentuk bundar telur sampai menjorong, berukuran 2060 (-90) cm x 20-40 (-50) cm, sewaktu muda pinggiran rata atau terbagi menyirip dalamdalam, lembaran daun tebal menjangat, berwarna hijau tua dan berkilap pada lembaran bawah. Perbungaan muncul di ketiak daun, perbungaan jantan menggantung berbentuk gada, berukuran (15-25) cm x (3-4) cm. Perbungaan betina berbentuk bulat /silinder, berukuran (810) cm x (5-7) cm, berwarna hijau. Buah berbentuk silinder sampai bulat, berdiameter 10-30 cm. Biji berwarna kecoklatan, berbentuk bulat atau memipih dan panjangnya mencapai 2,5 cm (Rajendran, 1992). Kluwih memiliki tipe akar tunjang (tap root), seperti halnya spesies lain dalam famili Moraceae. Menurut Oliveira (2003) dalam Fiqa dkk. (2005) menyebutkan bahwa single tap root memiliki kemampuan untuk menyerap air dari kedalaman tanah yang dalam dan mencukupi kebutuhan air lebih dari 65% pada tanaman tersebut pada musim kemarau, membuktikan bahwa tanaman ini mampu menembus lapisan tanah yang dalam untuk mencukupi kebutuhan airnya. Tanaman dengan tipe perakaran yang dalam seperti pada jenis ini, diketahui pada dini hari hingga pagi hari saat musim kemarau permukaan tanah tempat tumbuhan tersebut tumbuh kondisinya basah (Fiqa, dkk., 2005). Ada dugaan bahwa tanaman mempunyai mekanisme hydraulic conductance yaitu kemampuan tanaman dalam menyerap air dalam jumlah banyak di malam hari untuk disebarkan ke permukaan, selanjutnya saat pagi hari air permukaan akan diserap kembali oleh akar-akar permukaan dan dipergunakan untuk metabolismenya (Larcher, 1995). Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, diketahui bahwa bambu, mampu menahan lolosan hujan hingga 84,63%, jauh lebih besar dibandingkan tanaman kluwih yang menahan lolosan hanya 51,00%. Sejalan dengan hal itu, Sikumbang (2010), menyebutkan bahwa
19 | P a g e

dibandingkan dengan pepohonan yang hanya menyerap air hujan 35-40% air hujan, bambu dapat menyerap air hujan hingga 90 %. Intersepsi tajuk dan serasah pada bambu, juga diketahui lebih besar dibandingkan dengan kluwih. Helaian daun pada bambu lebih kecil dibandingkan helaian daun luwih. Pengaruh luasan helaian daun ini berpengaruh bagi besarnya intersepsi tajuknya. Selain itu, bentuk tajuk bambu yang lebih rapat, juga membantunya meningkatkan daya tahan terhadap cucuran air hujan. Tajuk kluwih yang berbentuk bulat dengan helaian daun lebar, cenderung tidak rapat dibandingkan tajuk bambu, meskipun demikian, tipe kanopi dapat berubah akibat penyempitan area tumbuh dan stres yang disebabkan oleh pemangkasan (Sutrisno dkk., 1998). Karena itulah, tipe kanopi hanya dapat ditentukan jika pohon tumbuh secara alami di alam secara soliter. Tajuk tumbuhan yang berlapis-lapis, dengan batang berbagai dimensi, ruangan yang penuh terisi dari lantai hutan hingga pucuk pohon dominan, disertai lapisan serasah dan humus berbagai tingkat kemasakan merupakan ciri-ciri ekosistem yang unggul dalam memelihara kualitas lingkungan (Manan, 1992). Menurut Morgan (1986 dalam Suripin, 2002), efektifitas tanaman penutup dalam mengurangi erosi dan aliran permukaan dipengaruhi oleh tinggi tanaman dan kontinuitas dedaunan sebagai kanopi, kerapatan tanaman, dan kerapatan sistem perakaran. Seperti diketahui bahwa semakin tinggi tempat jatuh butiran hujan makin tinggi kecepatannya pada saat mencapai permukaan tanah, dengan demikian makin tinggi pula energy kinetiknya. Oleh karena itu ketinggian tanaman berperan sangat penting, karena semakin tinggi tanaman akan semakin besar energi kinetik butiran air hujan yang jatuh dari tanaman tersebut. Lebih jauh lagi, butiran air hujan yang jatuh dari ketinggian tujuh meter dapat mencapai kecepatan 90% kecepatan maksimumnya, sehingga tinggi tanaman yang melebihi ketinggian ini tidak efektif sebagai tanaman konservasi. Di samping itu, butiran hujan yang terinsepsi oleh tanaman dapat saling menyatu untuk membentuk butiran yang lebih besar sehingga lebih erosif. Dengan demikian tanaman rendah berdaun kecil memberi dampak lebih efektif dalam mengurangi energi kinetic butiran hujan dibanding tanaman tinggi dan berdaun lebar, sebab daun lebar akan berfungsi sebagai cawan pengumpul butiran air hujan. Keberadaan kedua tanaman ini di alam, membuktikan keduanya memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian tanah dan air, lengkap dengan karakteristik keduanya.

20 | P a g e

IV.

KESIMPULAN

Tanaman bambu memiliki kemampuan menahan erosi, dengan perakarannya yang menyebar luas sehingga mampu menyerap dan menyimpan air lebih banyak di dalam tanah. Tipe perakaran yang dimiliki bambu, yaitu fibrous root, juga menjadikan bamboo memiliki kemampuan untuk mengikat tanah dengan baik. Bambu mampu menahan lolosan hujan hingga 84,63%, jauh lebih besar dibandingkan tanaman kluwih yang menahan lolosan hanya 51,00%. Dibandingkan dengan pepohonan yang hanya menyerap air hujan 35-40% air hujan, bambu dapat menyerap air hujan hingga 90 %. Intersepsi tajuk dan serasah pada bambu lebih besar dibandingkan dengan kluwih. Helaian daun pada bambu lebih kecil dibandingkan helaian daun luwih. Pengaruh luasan helaian daun ini berpengaruh bagi besarnya intersepsi tajuknya. Selain itu, bentuk tajuk bambu yang lebih rapat, juga membantunya meningkatkan daya tahan terhadap cucuran air hujan. Tajuk kluwih yang berbentuk bulat dengan helaian daun lebar, cenderung tidak rapat dibandingkan tajuk bambu, meskipun demikian, tipe kanopi dapat berubah akibat penyempitan area tumbuh dan stres yang disebabkan oleh pemangkasan. Tanaman rendah berdaun kecil memberi dampak lebih efektif dalam mengurangi energi kinetic butiran hujan dibanding tanaman tinggi dan berdaun lebar, sebab daun lebar akan berfungsi sebagai cawan pengumpul butiran air hujan.

21 | P a g e

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, S. 2006. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Bogor. Effendi , S. 1984. Membngun Pertanian Lahan Kering yang Tangguh. hlm 391-398 dalam Prosiding Pertemuan teknia Penelitian Pola Usaha Tani Menunjang Transmigrasi. Cisarua, bogor 27-29 Februari 1984. Badan Litbang Pertanian, Deptan. FFTC. 1995. Soil Conservation Handbook. Chinese Edition. Food and Fertilizer Technology Center (FFTC) for the Asian and Pacific Region. Taipei. Taiwan. Fiqa, A.P., E. Arisoesilaningsih dan Soejono. 2005. Konservasi Mata Air DAS Brantas Memanfaatkan Diversitas Flora Indonesia. disampaikan pada Seminar Nasional Basic Science II FMIPA UNIBRAW Tanggal 26 Februari 2005. Larcher, W. 1995. Physiological Plant Ecology. Third Edition. Springer. Austria Sikumbang, H. 2010. Bambu untuk Menghadapi Pemanasan Global.

http://ksupointer.com/2010/bambuuntuk- mengahadapi-pemanasanglobal. Akses tanggal 19 November 2013. Manan, S. 1992. Silvikultur. Dalam Manual Kehutanan. Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Jakarta. Nair, P. K. R. 1989. AAgroforestry Systems in the Tropics. Kluwer Academic Publisher. London. Santoso Djoko, Purnomo Joko, Wigena I G. P. dan Tuherkih Enggis. 2013. Teknologi Konservasi Tanah Vegetatif.

http://balittanah.litbang.deptan.go.id/dokumentasi/buku/lahankering/berlereng4.pdf. diakses tanggal 19 November 2013. Sofiah Siti dan Fiqa Abban Putri. 2012. Karakterisasi Tumbuhan Lokal untuk Konservasi Tanah dan Air,Studi Kasus pada Kluwih (Artocarpus altilis Park. ex Zoll.) Forsberg) dan Bambu Hitam (Gigantochloa atroviolaceae Widjaja). UPT Balai Koonservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi Jl. Raya Surabaya-Malang km. 65 Purwodadi-Pasuruan. Subagyono Kasdi , Marwanto Setiari , dan Kurnia Undang. 2001. Teknik Konservasi Tanah Secara Vegetatif. Balai Penelitian Tanah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan

22 | P a g e

Agroklimat . Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian . Departemen Pertanian. Seri Monograf No. 1 Sumber Daya Tanah Indonesia. Suripin. 2002. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Penerbit Andi. Yogyakarta. Sutrisno, U.,T. Kalima, Purnadjaja. 1998. Seri Manual Pedoman Pengenalan Pohon Hutan di Indonesia. Yayasan PROSEA, Pusat Diklat Pegawai dan SDM Kehutanan. Bogor. Hal 24-31. Widjaja, E. A. 2001. Identikit Jenis-jenis Bambu di Jawa. Puslitbang Biologi LIPI. Bogor. Rajendran, R. 2010. Plant Resources of South East Asia2 Edible Fruits and Nuts. Verheij, E.W.M dan R.E. Coronel (Ed.). PROSEA. Bogor. Widjaja Adhi, I P. G., Budhiastoro T., dan H. Djohar. 1993. Teknologi Pengembangan Lahan Kering Marginal untuk Usaha Tani Terpadu di Kalimantan Timur hlm. 97-109 dalam Risalah Seminar Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat. Puslittanak, Bogor. Widnyana K. 2006. Bambu dengan Berbagai Manfaatnya. Bali: Fakultas Pertanian Universitas Mahasaraswati Denpasar.

23 | P a g e