Anda di halaman 1dari 43

TUGAS MAKALAH

SISTEM DAN BEBAN PEMBUKTIAN

Disusun oleh : Cendy Adam (1006687253) Aulia Ali Reza (1006769940) Ade Rizky Fachreza (1006769890) Michael A.P Pangaribuan (1006687865) Nindya Chaerunisa (1006688016) Yeremia Shedeas (1006688464)

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Pembuktian merupakan salah satu rangkaian dalam peradilan yang

memegang peranan penting. Hal ini disebabkan pada pembuktian di tentukan bersalah atau tidaknya seseorang. Apabila bukti yang disampaikan di pengadilan tidak mencukupi atau tidak sesuai dengan yang disyaratkan maka tersangka akan dibebaskan. Namun apabila bukti yang disampaikan mencukupi maka tersangka dapat dinyatakan bersalah. Karenanya proses pembuktian merupakan proses yang penting agar jangan sampai orang yang bersalah dibebaskan karena bukti yang tidak cukup. Atau bahkan orang yang tidak bersalah justru dinyatakan bersalah. Sistem pembuktian dari satu negara ke negara lainnya tentunya berbeda. Hal tersebut biasanya disesuaikan dengan budaya atau paham yang dianut negara tersebut. Pada umumnya sistem pembuktian di suatu negara dibedakan berdasarkan negara yang menganut paham civil law dan negara yang menganut common law. Selain itu juga didasarkan pada beberapa teori sistem pembuktian. Dalam teorinya, sistem pembuktian dapat dibagi menjadi empat teori yaitu sistem teori pembuktian berdasarkan undang-undang secara positif, berdasarkan keyakinan hakim saja, berdasarkan keyakinan hakim yang didukung oleh alasan yang logis, dan berdasarkan undang-undang negatif. .1 Untuk melihat sistem pembuktian di negara lain maka akan dilihat perbandingan dengan beberapa negara lain yaitu negara Belanda yang menganut civil law, Australia yang menganut common law, dan sistem pembuktian dalam hukum islam yang berbeda dengan empat teori sistem pembuktian menurut Prof.Dr. Andi Hamzah SH.

Prof. Dr. Andi Hamzah, SH, Hukum Acara Pidana Indonesia (edisi revisi), cet.1 (Jakarta: Sinar Grafika. 2001). Hal. 245.

Tidak hanya sistem pembuktian saja yang berbeda, beban pembuktian pun berbeda-beda yang bergantung kepada sistem pembuktian tersebut. Selain berdasarkan sistem pembuktian, beban pembuktian yang digunakan juga dapat ditentukan dari jenis tindak pidana seperti tindak pidana korupsi di Indonesia. Beban pembuktian dalam perspektif hukum pidana dapat dibagi menjadi tiga, yaitu beban pembuktian umum/konvensional, beban pembuktian terbalik dan beban pembuktian berimbang.

1.2

Rumusan Masalah Bagaimanakah teori sistem pembuktian dan beban pembuktian yang berlaku pada umumnya? Bagaimanakah bentuk sistem dan beban pembuktian yang digunakan di Indonesia, Australia, dan Belanda? Bagaimanakah bentuk sistem dan beban pembuktian menurut hukum pidana Islam?

1.3

Tujuan Makalah Untuk mengetahui sistem dan beban pembuktian pada umumnya Menjelaskan sistem dan beban pembuktian yang berlaku di Indonesia, Australia, dan Belanda Mengetahui sistem dan beban pembuktian apa yang diterapkan dalam hukum pidana Islam.

1.4

Metode Penulisan Metode pengumpulan data yang digunakan dalam pembuatan makalah

ini adalah metode data sekunder. Metode data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari lapangan dan suatu organisasi/perorangan dari pihak lain. Data ini diperoleh dari media cetak maupun media elektronik,seperti buku, catatan perkuliahan, makalah, skripsi, dan internet

1.5

Sistematika Penulisan Bab I tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan, metode penulisan,dan sistematika penulisan. Bab II tentang hasil dan pembahasan yang mencakup tentang penjelasan rumusan masalah. Bab III tentang kesimpulan. Daftar pustaka.

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Pengertian Sistem Pembuktian Sistem pembuktian terdiri dari dua kata, yaitu kata sistem dan

pembuktian. Secara etimologis, kata sistem merupakan hasil adopsi dari kata asing system (Bahasa Inggris) atau systemata (Bahasa Yunani) dengan arti suatu kesatuan yang tersusun secara terpadu antara bagian -bagian

kelengkapannya dengan memiliki tujuan secara pasti atau seperangkat komponen yang bekerja sama guna mencapai suatu tujuan tertentu.2

Mengenai arti pembuktian dalam hukum acara pidana terdapat beberapa sarjana hukum mengemukakan definisi yang berbeda-beda. Andi Hamzah mendefinisakan pembuktian sebagai upaya mendapatkan keterangan-

keterangan melalui alat-alat bukti dan barang bukti guna memperoleh suatu keyakinan atas benar tidaknya perbuatan pidana yang didakwakan serta dapat mengetahui ada tidaknya kesalahan pada diri terdakwa.3 Lain lagi dengan M. Yahya Harahap, S.H., dia beranggapan bahwa yang dimaksud dengan pembuktian adalaha ketentuan yang membatasi sidang pengadilan dalam usahanya mencari dan mempertahankan kebenaran.4

Penulis menyimpulkan arti sistem pembuktian dalam konteks hukum acara pidana adalah suatu kesatuan yang tersusun secara terpada antara bagianbagian kelengkapannya untuk mencari kebenaran terhadap perbuatan pidana yang didakwakan serta dapat mengetahui ada tidaknya kesalahan pada diri terdakwa. Maksud kebenaran dalam hukum pidana berbeda dengan kebenaran
2 3

Diambil dari http://www.karyatulisilmiah.com/pengertian-sistem.html Andi Hamzah, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Ghalia: Jakarta 1984, hal 77. 4 Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP , Pustaka Kartini: Jakarta 1993, hal 22.

dalam konteks hukum perdata. Jika pada hukum perdata pembuktian dimaksudkan untuk mencari kebenaran formiil maka pada hukum pidana kebenaran yang dicari adalah kebenaran materiil. Hukum pidana yang berpotensi untuk merampas hak asasi seseorang mengharuskan ditemukannya kebenaran tersebut. Untuk mengetahui bagian-bagian yang menyusun sistem pembuktian maka haruslah menganalisis hukum acara pidana. Didalam hukum acara pidana terdapat pihak-pihak yang terlibat dalam rangka membuktikan kebenaran terhadap perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa. Sebagai contoh kita lihat didalam Undang-Undang No.08 tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana. Didalam Pasal 1 Undang-Undang No.08 tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem pembuktian terdapat elemen-elemen yang menjadi bagian dalam usaha pencarian kebenaran materiil, yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Penyidik Penuntut Umum Penasihat Hukum Majelis Hakim Terdakwa Alat Bukti.

Elemen-elemen inilah yang menjadi bagian-bagian dalam sistem pembuktian. Artinya elemen-elemen inilah yang membentuk suatu kesatuan yang tersusun secara terpadu untuk mencari kebenaran terhadap perbuatan pidana yang didakwakan serta dapat mengetahui ada tidaknya kesalahan pada diri terdakwa.

Sistem Pembuktian Pada Umumnya a. Conviction-in Time Sistem pembuktian conviction-in time menentukan salah tidaknya seorang terdakwa, semata-mata ditentukan oleh penilaian keyakinan

hakim. Dalam sistem pembuktian ini hakim memiliki andil yang sangat besar, jika hakim telah merasa yakin bahwa terdakwa benar melakukan apa yang didakwakan kepadanya maka hakim bisa menjatuhkan pidana terhadapnya, dan sebaliknya. Persoalan darimana hakim mendapatkan keyakinan tidak menjadi permasalahan. Dengan sistem ini, pemidanaan dimungkinkan tanpa didasarkan kepada alat-alat bukti dalam undang-undang.5 Kelemahan dari sistem pembuktian conviction-in time yaitu jika alat-alat bukti yang diajukan di persidangan mendukung kebenaran dakwaan terhadap terdakwa namun hakim tidak yakin akan itu semua maka tetap saja terdakwa bisa bebas. Dan sebaliknya, jika alat-alat bukti yang dihadirkan di persidangan tidak mendukung adanya kebenaran dakwaan terhadap terdakwa namun hakim meyakini terdakwa benar-benar melakukan apa yang didakwakan oleh Penuntut Umum maka pidana dapat dijatuhkan oleh Hakim. b. Conviction-Raisonee Dalam sistem inipun dapat dikatakan keyakinan hakim tetap memegang peranan penting dalam menentukan salah tidaknya terdakwa. Akan tetapi, dalam sistem pembuktian ini, faktor keyakinan hakim dibatasi.6 Memang pada akhirnya keputusan terbukti atau tidak terbuktinya dakwaan yang didakwakan terhadap terdakwa ditentukan oleh hakim tapi dalam memberikan putusannya hakim dituntut untuk menguraikan alasan-alasan apa yang mendasari keyakinannya atas kesalahan terdakwa. Dan reasoning itu harus reasonable, yakni berdasarkan alasan yang dapat diterima.7 Arti diterima disini hakim dituntut untuk menguraikan alasan-alasan yang logis dan masuk akal.

Sri Ingeten Br Perangin-Angin, Peranan Dokter Dalam Pembuktian Perkara Pidana, Fakultas Hukum Universitas Sumatra Utara: Medan, 2008, hal 28. 6 Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP , Pustaka Kartini: Jakarta 1993, hal 256 7 Ibid, hal 256

c. Pembuktian Menurut Undang-Undang Secara Positif Maksud dari pembuktian menurut undang-undang secara positif adalah untuk membuktikan terdakwa bersalah atau tidak bersalah harus tunduk terhadap undang-undang. Sistem ini sangat berbeda dengan sistem pembuktian conviction-in time dan conviction-raisonee. Dalam sistem ini tidak ada tempat bagi keyakinan hakim. Seseorang dinyatakan bersalah jika proses pembuktian dan alat-alat bukti yang diajukan di persidangan telah menunjukkan bahwa terdakwa bersalah. Proses pembuktian serta alat bukti yang diajukan diatur secara tegas dalam undang-undang. d. Pembuktian Menurut Undang-Undang Secara Negatif Berbeda dengan sistem pembuktian menurut undang-undang secara positif, dalam sistem pembuktian menurut undang-undang secara negatif disayaratkan adanya keyakinan hakim untuk menentukan apakah terdakwa bersalah ataukah tidak. Dalam sistem pembuktian ini alat-alat bukti diatur secara tegas oleh undang-undang, demikian juga dengan mekanisme pembuktian yang ditempuh. Ketika alat-alat bukti telah mendukung benarnya dakwaan yang didakwakan kepada terdakwa maka haruslah timbul keyakinan pada diri hakim akan kebenaran dari alat-alat bukti tersebut. Jika alat-alat bukti telah mendukung kebenaran bahwa terdakwa bersalah namun belum timbul keyakinan pada diri hakim maka pidana tidak dapat dijatuhkan. 2.2 Teori Beban Pembuktian Dikaji dari perspektif ilmu pengetahuan hukum pidana dikenal ada 3 (tiga) teori tentang beban pembuktian, yaitu: a. Beban Pembuktian pada Penuntut Umum

Penuntut umum tiada mempunyai hak tolak atas hak yang diberikan undang-undang kepada terdakwa, namun tidak berarti penuntut umum tidak memiliki hak untuk menilai dari sudut pandang penuntut umum dalam requisitornya. Konsekuensi logis teori beban pembuktian ini, bahwa Penuntut Umum harus mempersiapkan alat-alat bukti dan barang bukti secara akurat, sebab jika tidak demikian akan susah meyakinkan hakim tentang kesalahan terdakwa. Konsekuensi logis beban pembuktian ada pada Penuntut Umum ini berkorelasi asas praduga tidak bersalah dan aktualisasi asas tidak mempersalahkan diri sendiri. Teori beban pembuktian ini dikenal di Indonesia, bahwa ketentuan pasal 66 KUHAP dengan tegas menyebutkan bahwa, tersangka atau terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian. Beban pembuktian seperti ini dapat dikategorisasikan beban pembuktian biasa atau konvensional. b. Beban Pembuktian pada Terdakwa Terdakwa berperan aktif menyatakan bahwa dirinya bukan sebagai pelaku tindak pidana. Oleh karena itu, terdakwalah di depan sidang pengadilan yang akan menyiapkan segala beban pembuktian dan bila tidak dapat membuktikan, terdakwa dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana. Pada asasnya teori beban pembuktian terbalik (Shifting Burden of Proof) ini

dinamakan teori Pembalikan Beban Pembuktian (Omkering van het Bewijslast atau Reversal Burden of Proof/ Onus of Proof). Pada hakikatnya makna dari Reversal Burden of Proof dan Shifting Burden of Proof berbeda. Jika Shifting Burden of Proof diartikan sebagai Pergeseran Beban Pembuktian8 maka Reversal Burden of Proof diartikan sebagai Pembalikan Beban Pembuktian. Perbedaan dari kedua pengertian tersebut, jika pada shifting burden of proof pada umumnya diterapkan sebagai pembalikan
8

Indriyanto Seno Adji, Korupsi dan Pembalikan Beban Pembuktian, Prof. Oemar Seno Adji, SH & Rekan, Jakarta,2006, hal.103

beban pembuktian yang terbatas atau tidak murni, sedangkan pada reversal burden of proof menggunakan pembalikan beban pembuktian yang murni atau mutlak menurut istilah Indriyanto Seno Adji Pembalikan Beban Pembuktian yang Total atau Absolut.9 Dikaji dari perspektif teoritis dan praktik teori beban pembuktian ini dapat diklasifikasikan lagi menjadi pembalikan beban pembuktian yang bersifat murni maupun bersifat terbatas (limited burden of proof). Pada hakikatnya, pembalikan beban pembuktian tersebut merupakan suatu penyimpangan hukum pembuktian dan juga merupakan suatu tindakan luar biasa terhadap tindak pidana korupsi. c. Beban Pembuktian Berimbang Konkretisasi asas ini baik Penuntut Umum maupun terdakwa dan/ atau Penasihat Hukumnya saling membuktikan di depan persidangan. Lazimnya Penuntut Umum akan membuktikan kesalahan terdakwa sedangkan sebaliknya terdakwa beserta penasehat hukum akan membuktikan sebaliknya bahwa terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan. Asas beban pembuktian ini dinamakan juga asas pembalikan beban pembuktian berimbang. Dalam Negara Indonesia, beban pembuktian yang digunakan yaitu beban pembuktian umum atau konvensional dimana beban untuk membuktikan terdapat pada Penuntut Umum. Hal tersebut dapat kita lihat pada Pasal 66 KUHAP yang isinya Tersangka atau terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian. Namun dalam tindak pidana tertentu (seperti korupsi) menggunakan beban pembuktian terbalik terbatas seperti yang terdapat dalam Pasal 37 ayat (1) UU No. 20 tahun 2001 yang isinya Terdakwa mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi . Maksud terbatas yaitu terdakwa memiliki hak untuk membuktikan di depan pengadilan,
9

Ibid., hal.138

namun Penuntut Umum harus membuktikan kenapa mengajukan dakwaan tersebut ke pengadilan. Pengaturan Pembuktian Terbalik Dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Pada tahun 1971 telah dibentuk UU No. 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan kemudian pada tahun 1999 diundangkan UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang menganut sistem pembuktian terbalik terbatas yang terdapat dalam Pasal 37 yang memungkinkan diterapkannya pembuktian terbalik yang terbatas terhadap harta benda tertentu dan mengenai perampasan harta hasil korupsi. UU No. 3 Tahun 1971 dan UU No. 31 Tahun 1999 pada asasnya tetap mempergunakan teori pembuktian negative, kemudian di UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yakni berupa Sistem Pembalikan Beban Pembuktian dan Berimbang. Yang mengatur pembuktian terbalik secara lebih jelas yaitu pada Pasal 12 B, 12 C, 37, 37A, 38 A, dan 38 B. Pada KUHP Tindak Pidana jabatan yang berkorelasi dengan perbuatan korupsi terdapat di dalam Bab XXVIII KUHP yaitu khususnya terhadap perbuatan penggelapan oleh pegawai negeri (Pasal 415 KUHP), membuat palsu atau memalsukan (Pasal 416 KUHP), menerima pemberian atau janji (Pasal 418, 419, dan 420 KUHP) serta menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum (Pasal 423, 425 dan 435 KUHP). Pada hakikatnya, ketentuan-ketentuan Tindak Pidana Korupsi itu ternyata kurang efektif dalam menanggulangi korupsi. Maka, dirasakan perlu adanya peraturan yang dapat lebih memberi keleluasaan kepada penguasa untuk bertindak terhadap pelaku-pelakunya. Asas Pembalikan Beban Pembuktian merupakan suatu sistem pembuktian yang berada di luar kelaziman teoritis pembuktian dalam Hukum (Acara) Pidana yang universal. Dalam Hukum Pidana (Formal), baik sistem Eropa Kontinental maupun Anglo-Saxon, mengenal

pembuktian dengan tetap membebankan kewajibannya pada Jaksa Penuntut Umum. Hanya saja, dalam certain cases (kasus-kasus tertentu) diperkenankan penerapan dengan mekanisme yang diferensial, yaitu Sistem Pembalikan Beban Pembuktian atau dikenal sebagai Reversal of Burden Proof (Omkering van Bewijslast). Itu pun tidak dilakukan secara overall, tetapi memiliki batas-batas yang seminimal mungkin tidak melakukan suatu destruksi terhadap perlindungan dan penghargaan Hak Asasi Manusia, khususnya Hak Tersangka/ Terdakwa. Penjelasan umum dalam Undang-undang No. 31 Tahun 1999 dikatakan pengertian pembuktian terbalik yang bersifat terbatas dan berimbang, yakni : terdakwa mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi dan wajib memberikan keterangan tentang seluruh harta bendanya dan harta benda isterinya atau suami, anak, dan harta benda setiap orang atau korporasi yang diduga mempunyai hubungan dengan perkara yang bersangkutan dan penuntut umum tetap berkewajiban untuk membuktikan dakwaannya. Kata-kata bersifat terbatas didalam memori atas pasal 37 dikatakan, bahwa apabila terdakwa dapat membuktikan dalilnya bahwa terdakwa tidak melakukan tindak pidana korupsi hal itu tidak berarti bahwa terdakwa tidak terbukti melakukan korupsi, sebab Penuntut Umum, masih tetap berkewajiban untuk membuktikan dakwaannya. Kata-kata berimbang dilukiskan sebagai penghasilan terdakwa ataupun sumber penambahan harta benda terdakwa, sebagai income terdakwa dan perolehan harta benda, sebagai output. Antara income sebagai input yang tidak seimbang dengan output atau dengan kata lain input lebih kecil dari output. Dengan demikian diasumsikan bahwa perolehan barang-barang sebagai output tersebut (misalnya rumah-rumah, mobil-mobil, saham-saham, simpanan dolar dalam rekening bank, dan lain-lainnya) adalah hasil perolehan dari tidak pidana korupsi yang didakwakan.

Pembuktian terbalik dalam tindak pidana korupsi tidak semata-mata pembuktian di tangan terdakwa. Pembuktian pada tindak pidana korupsi menganut pembalikan beban pembuktian terbatas, sehingga kewajiban pembuktian tetap ada pada tangan penuntut umum meskipun terdakwa memiliki hak untuk membuktikan kalau dia tidak bersalah. Sidang dengan sistem in absencia itu berlaku untuk agenda siding yang memang tidak diperlukan terdakwa. Hal tersebut diatur dalam UU No. 31 Tahun 1999. Martiman Prodjohamidjojo )1 menjelaskan, dalam pembuktian tindak pidana korupsi dianut dua teori pembuktian, yakni : 1) Teori bebas, yang diturut oleh terdakwa Teori bebas sebagaimana tercermin dan tersirat dalam penjelasan umum, serta berwujud dalam, hal-hal sebagai tercantum dalam pasal 37 UU No. 31 Tahun 1999, sebagai berikut: a) Terdakwa mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi. b) Dalam hal terdakwa dapat membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi, maka keterangan tersebut dipergunakan sebagai hal yang menguntungkan baginya. c) Terdakwa wajib memberikan keterangan tentang seluruh harta bendanya dan harta benda isteri atau suami, anak dan harta benda setiap orang atau korporasi yang diduga mempunyai hubungan dengan perkara yang bersangkutan. d) Dalam hal terdakwa tidak dapat membuktikan tentang kekayaan yang tidak seimbang dengan penghasilan atau sumber panambahan

kekayaannya, maka keterangan tersebut dapat digunakan untuk

memperkuat alat bukti yang sudah ada bahwa terdakwa telah melakukan tindak pidana korupsi. e) Dalam keadaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3) dan ayat (4), penuntut umum tetap berkewajiban untuk membuktikan dakwaaannya. 2) Teori negatif menurut undang-undang, yang diturut oleh penuntut umum. Sedangkan teori negatif menurut undang-undang tersirat dalam pasal 183 KUHAP, yaitu : Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang, kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya. Menurut Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001, sistem pembuktian terbalik adalah sistem dimana beban pembuktian berada pada terdakwa dan proses pembuktian ini hanya berlaku pada saat pemeriksaan di sidang pengadilan dengan dimungkinkannya dilakukan pemeriksaan tambahan atau khusus jika dalam pemeriksaan di persidangan ditemukan harta benda milik terdakwa yang diduga berasal dari tindak pidana korupsi namun hal tersebut belum didakwakan. Bahkan jika putusan pengadilan telah memperoleh kekuatan hukum tetap, tetapi diketahui masih terdapat harta benda milik terpidana yang diduga berasal dari tindak pidana korupsi, maka negara dapat melakukan gugatan terhadap terpidana atau ahli warisnya. 10

2.3

Sistem Pembuktian di Indonesia

10

Martiman Prodjohamidjojo Penerapan Pembuktian Terbalik dalam Delik Korupsi (UU No.31, Tahun 1999), Mandar Maju, Bandung, 2001, hal.108

Hukum pembuktian dalam hukum acara pidana kita sejak berlakunya het Herzeine Indonesisch Reglement (HIR) dahulu yang saat ini disebut dengan KUHAP menganut sistem pembuktian menurut undang-undang secara terbatas (negtief wettelijk bewisjstheorie). Perbedaan antara dua kitab ini dalam hal pembuktian terletak pada ditentukannya minimal jumlah alat bukti. Pasal 294 ayat 1 HIR merumuskan: Tidak seorangpun boleh dikenakan hukuman, selain jika hakim mendapat keyakinan dengan alat bukti yang sah, bahwa benar telah terjadi perbuatan yang boleh dihukum dan bahwa orang yang dituduh itulah yang salah tentang perbuatan itu. Pasal ini kemudian disempurnakan menjadi Pasal 183 KUHAP yang berbunyi: Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yng sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya. Rumusan pasal 183 KUHAP dinilai lebih sempurna karena menentukan dengan jelas berapa jumlah alat bukti yang harus digunakan hakim untuk memperoleh keyakinan dan menjatuhkan pidana. System pembuktian negative dalam KUHAP dinilai lebih baik dan lebih menjamin kepastian hukum. Dalam sistem pembuktian negatif yang dianut oleh Indonesia sebagai intinya, yang dirumuskan dalam pasal 183 KUHAP, dapat disimpulkan pokokpokoknya adalah: a. Tujuan akhir pembuktian untuk memutus perkara pidana, yang jika memenuhi syarat pembuktian dapat menjatuhkan pidana. b. Syarat tentang hasil pembuktian untuk menjatuhkan pidana.

Sebenarnya, pembuktian dilakukan untuk memutus perkara in casu perkara pidana, dan bukan semata-mata menjatuhkan perkara pidana. Sebab, untuk menjatuhkan pidana masih diperlukan lagi syarat terbuktinya kesalahan terdakwa melakukan tindakan pidana.11 Pada dasarnya kegatan pembuktian dilakukan dalam usaha mencapai derajat keadilan dan kepastian hukum yang setinggi-tingginya dalam putusan hakim. Pembuktian dilakukan untuk memutus perkara terbukti atau tidak sesuai dengan apa yang telah didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum. Ada dua syarat untuk mencapai suatu hasil pembuktian agar dapat menjatuhkan pidana. Kedua syarat ini saling berhubungan dan tidak terpisahkan. Pertama, hakim harus menggunakan minimal dua alat bukti yang sah. Dua alat bukti ini tidak harus berbeda jenisnya. Jadi bisa saja terdiri dari dua alat bukti yang sama, misalnya keterangan dua orang saksi. Kedua ialah hakim memperoleh keyakinan. Keyakinan hakim ini harus dibentuk atas fakta-fakta yang didapat dari alat-alat bukti yang disebutkan pada syarat pertama, yang telah ditentukan oleh KUHAP. Keyakinan hakim masuk ke dalam ruang lingkup kegiatan pembuktian apabila kegiatan pembuktian tidak dipandang hanya untuk membuktikan saja tetapi untuk mencapai tujuan akhir penyelesaian perkara pidana yaitu menarik amar putusan oleh hakim. Adami Chazawi dalam bukunya menjelaskan ada tiga keyakinan hakim yang sifatnya mutlak, bertingkat dan tidak dapat dipisahkan: 1. Keyakinan bahwa telah terjadi tindak pidana sesuai dengan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Dalam praktiknya di pengadilan, disebutkan bahwa tindak pidana yang didakwakan oleh JPU terbukti secara sah dan meyakinkan. Yang dimaksud dengan sah adalah memenuhi syarat menggunakan dua alat bukti atau lebih. Namun

11

Adami Chazawi, Hukum Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, Penerbit PT Alumni, Bandung, 2005, halaman 31.

keyakinan mengenai terbuktinya tindak pidana belum cukup untuk menjatuhkan pidana terhadap terdakwa. 2. Keyakinan bahwa benar terdakwa yang melakukan tindak pidana. Hakim harus memperoleh keyakinan bahwa benar terdakwalah yang melakukan tindak pidana yang didakwakan Jaksa Penuntut Umum kepadanya. Keyakinan ini pun belum cukup untuk menjatuhkan pidana pada terdakwa. 3. Keyakinan bahwa tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa memang dapat dipersalahkan kepadanya. Ada dua hal yang dapat membuat seorang terdakwa tidak dipidana yaitu ada alasan pembenar dan pemaaf pada dirinya. Jika tidak ditemukan dua alasan ini pada diri terdakwa, hakim dapat memperoleh keyakinan bahwa terdakwa dapat dipersalahkan atas tindakan yang dilakukannya dan dapat dijatuhkan pidana. Apabila hakim tidak meperoleh keyakinan pada tingkat ini, berarti hakim tidak yakin terdakwa dapat dipersalahkan atas tindak pidana yang dilakukannya. Maka pidana tidak akan dijatuhkan melainkan menjatuhkan pelepasan dari segala tuntutan hukum.

Wirjono Prodjodikoro berpendapat bahwa sistem pembuktian negatif sebaiknya dipertahankan karena dua alasan yaitu yang pertama, memang sudah selayaknya harus ada keyakinan hakim tentang kesalahan terdakwa untuk dapat menjatuhkan suatu hukuman pidana. Janganlah hakim terpaksa memidana orang sedangkan hakim tidak yakin atas kesalahan terdakwa. Kedua ialah berfaedah jika ada aturan yang mengikat hakim dalam menyusun keyakinannya, agar ada patokan-patokan tertentu yang harus diturut oleh hakim dalam melakukan peradilan.12 Dalam hukum acara perdata, sistem pembuktian yang dianut adalah positif, artinya pembuktian hanya melihat pada alat bukti saja, yakni yang telah
12

Wirjono Prodjodikoro, Hukum Atjara Pidana di Indonesia (Jakarta: Sumur Bandung, 1967) hlm 77.

ditentukan dalam undang-undang. Surat gugatan dapat dikabulkan apabila didasarkan pada alat bukti yang sah. Jadi dalam sistem pembuktian ini, keyakinan hakim sama sekali diabaikan. Apabila suatu gugatan sudah memenuhi syarat alat bukti yang sah sesuai dengan ketentuan undang-undang, maka gugatan harus dikabulkan. Jadi, dalam sistem pembuktian hukum acara perdata yang dicari adalah kebenaran formil, tidak seperti hukum acara pindana yang mencari kebenaran materil.13

2.4

Sistem Pembuktian di Australia Di Australia terdapat dua macam pengadilan yaitu untuk pelanggaran

yang ringan dan kejahatan yang lebih serius. Hal ini dibedakan berdasarkan sifat pembuktiannya, untuk kejahatan yang lebih serius biasanya pembuktiannya lebih sulit dan memakan proses yang panjang dibandingkan pada pelanggaran ringan. 2.4.1 Pengadilan Untuk Pelanggaran Ringan (Summary Offences) Merupakan perkara yang paling umum di temui di Australia. Perkara ini di adili dan diputus pada Magistrates Court14 yang dipimpin satu orang hakim saja. Seseorang yang dituntut karena pelanggaran ringan disebut dengan terdakwa, dan penuntutan dalam Magistrates Court dilakukan oleh Jaksa Polisi yang

umumnya dikenal dengan complainant. Sesuai dengan adversarial system, maka pihak-pihak yang berperkara disini adalah Jaksa Polisi dan Terdakwa. Tuntutan bisa dilakukan atas dasar keyakinan penuntut bahwa tuntutannya akan menghasilkan putusan di pengadilan. Selain itu masyarakat juga bisa melakukannya atas dasar masyarakat ingin sebuah perkara diselesaikan di pengadilan, caranya adalah seseorang hanya perlu menyampaikan adanya keluhan (complaint) kepada petugas pengadilan di Magistrates Court15. Untuk
13

Hari Sasangka, Hukum Pembuktian dalam Perkara Perdata (Bandung: Penerbit Mandar Maju, 200) hlm. 25-26. 14 Sebuah pengadilan terendah dari sistem pengadilan di Australia yang memiliki yurisdiksi pidana dan perdata yang terbatas, namun dapat memiliki yurisdiksi khusus saat bertindak sebagai Pengadilan Anak. 15 Australia, Summary Procedure Act 1921, s 49

jenis pelanggaran ini, batas untuk mengajukan tuntutan adalah dua tahun. Kepolisian mempunyai keleluasaan untuk memutuskan apakah akan menuntut berdasarkan complaint tersebut16. Pada persidangan pertama di pengadilan, tuntutan terhadap terdakwa dibacakan dengan jelas. Biasanya pada persidangan pertama ini terdakwa tidak diijinkan untuk mengajukan pembelaan tanpa didampingi penasihat hukum. Jadi kemungkinan yang bisa diambil oleh terdakwa adalah; Meminta agar kasus tersebut ditangguhkan pada waktu yang ditentukan sampai terdakwa bisa mendapatkan penasihat hukum Mengaku bersalah, kemudian Hakim akan mencoba menyelesaikan perkara dan memberi putusan hari itu juga Memberitahukan Hakim untuk mengajukan pembelaan. Biasanya perkara ditangguhkan ke pemeriksaan persidangan pada hari lain, jika pengadilan tidak mempunyai waktu untuk memeriksa kasus secara lanjut atau penuntut tidak siap mengajukan saksinya. Dalam persidangan di Magistrates Court selanjutnya, penuntut dan terdakwa harus berunding secara khusus satu sama lain untuk menentukan bahwa sebuah kasus dapat diselesaikan tanpa proses Trial atau pemeriksaan persidangan. Setelah perundingan dengan terdakwa, penuntut boleh tidak meneruskan penuntutan ataupun merubah tuntutan agar terdakwa menerima tuntutan dan mengaku bersalah. Jaksa sebaiknya memberitahu terdakwa dengan jelas apa yang akan saksi katakan, jadi terdakwa dapat membayangkan apakah dia masih akan melakukan pembelaan. Sementara itu terdakwa tidak harus menunjukkan kepada Jaksa tentang pembelaannya atau tentang apa saja buktibukti yang akan ia hadirkan di Trial. Jika perundingan ini tidak bisa menyelesaikan sebuah kasus maka dimulai lah proses Trial. Pada proses Trial, Jaksa harus membuktikan bahwa terdakwa melakukan pelanggaran dan juga terdakawa mengerti apa yang ia lakukan, pembuktian ini

16

Ibid., s 52

harus dilakukan dengan tanpa ragu (beyond reasonable doubt). Untuk memulai pemeriksaan, terdakwa ditanyakan bagaimana responnya terhadap tuntutan, jika masih membela dan menganggap tidak bersalah, Jaksa selanjutnya harus mengajukan lagi argumennya. Jaksa akan memberikan ringkasan singkat dari tuntutannya dan memberi tahu berapa banyak saksi yang akan dihadirkan.

Selanjutnya petugas kepolisian dan saksi-saksi dipanggil satu persatu untuk memberikan keterangan mereka yang terlebih dahulu disumpah. Lalu Jaksa bertanya seluruh hal yang perlu diketahui di dalam persidangan dan setelah selesai terdakwa dapat melakukan pemeriksaan kembali terhadap saksi. Untuk memutuskan apakah terdakwa bersalah atau tidak, Hakim hanya dapat mempertimbangkan kembali bukti-bukti yang dihadirkan dalam persidangan termasuk keterangan yang diberikan oleh saksi dibawah sumpah. Jika Jaksa atau terdakwa keberatan dengan informasi tertentu yang diberikan, Hakim harus memutuskan apakah informasi tersebut memenuhi Rules of Evidence (suatu aturan mengenai bukti-bukti yang diajukan dalam persidangan). Apabila memenuhi, maka informasi tersebut termasuk ke dalam bukti dan Hakim dapat mempertimbangkannya dalam mengambil keputusan. Sebaliknya bila tidak memenuhi maka informasi tersebut tidak termasuk ke dalam bukti yang sah. Ketika semua saksi yang dihadirkan Jaksa telah memberikan keterangan dan argument-argumennya telah ditutup, terdakwa dapat meminta hakim untuk menolak tuntutan Jaksa dengan alasan Jaksa tidak dapat memberikan bukti yang kuat. Jika Hakim setuju maka tuntutan digugurkan dan kasus selesai. Sementara jika tidak setuju, terdakwa harus memberikan argumennya. Lain halnya dengan Jaksa, terdakwa tidak harus membuktikan bahwa dia tidak bersalah dan tidak wajib untuk menghadirkan bukti apapun. Terdakwa dimungkinkan untuk menunjukkan inkonsistensi dan kelemahan tuntutan Jaksa dan menganggap tuntutan tersebut tidak dapat membuktikan bahwa ia

bersalah. Terdakwa dapat juga bersaksi dibawah sumpah dan memanggil saksisaksi lainnya untuk kepentigan pembelaannya. Dalam teorinya, beban

pembuktian pada pengadilan di Australia adalah beban pembuktian biasa, namun sebenarnya terdakwa pun diberikan hak untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah atas tuduhan. Setelah semua bukti atau keterangan diperdengarkan, Jaksa dan terdakwa mempunyai hak untuk berbicara kepada hakim mengenai mengapa terdakwa harus atau tidak harus dinyatakan bersalah atas tuduhan. Jaksa selalu didahulukan dalam hal ini. Setelah semuanya selesai, Hakim berkewajiban untuk memutuskan apakah terdakwa bersalah atau tidak. Tetapi Hakim berhak untuk menundanya untuk mempertimbangkan kesalahan yang dituduhkan terhadap terdakwa. Jika ada keraguan bahwa terdakwa bersalah, maka tuduhan akan dibatalkan. Namun jika terbukti terdakwa bersalah menurut pengamatan hakim, maka aka nada hukuman yang dijatuhkan terhadap terdakwa.

2.4.2 Pengadilan Untuk Kejahatan Serius Ada dua kategori untuk perkara ini yaitu Major Indictable Offences dan Minor Indictable Offences. Major Indictable Offences harus disidangkan di District Court atau Supreme Court. Persidangan ini dilakukan dihadapan Hakim dan Juri, kecuali terdakwa memilih untuk menjalani sidang hanya dengan Hakim saja. Kasus yang dapat ditangani dalam pengadilan ini misalnya, pembunuhan, perampokan, dan pemerkosaan atau yang dendanya melebihi $30000. Sementara itu Minor Indictable Offences disidangkan di Magistrates Court dimana tidak terdapat juri, kecuali terdakwa mengajukan banding ke pengadilan yang lebih tinggi (District Court atau Supreme Court). Awalnya hakim akan mengadakan pemeriksaan pendahuluan untuk mengetahui apa tuntutan jaksa. Jika terdakwa langsung mengakui kesalahan yang dituduhkan maka hakim akan melimpahkan kasus tersebut ke Distrcit Court atau Supreme Court untuk dilakukan penghukuman. Jika atas tuduhan tersebut terdakwa tidak mengaku bersalah, maka pre-trial conference akan dilakukan. Dalam kondisi ini terdakwa atau penasihat hukumnya wajib untuk hadir. Hakim

akan mengadakan sidang lagi untuk mempertimbangkan apakah kasus tersebut dapat diselesaikan tanpa proses Trial. Hasil persidangan tersebut mungkin dapat berupa; Director of Public Prosecutions (DPP) setuju untuk menarik beberapa tuntutan karena terdakwa mungkin akan mengaku bersalah DPP mungkin akan setuju untuk mengubah tuntutan menjadi lebih sedikit lebih ringan agar terdakwa mengaku bersalah DPP dapat dibujuk untuk mempertimbangkan kembali bukti dan memeriksa kembali saksi-saksi, dan selanjutnya memutuskan untuk tidak melanjutkan kembali penuntutannya Terdakwa dapat mempertahankan pernyataan tidak bersalah atas seluruh tuntutan. Proses Pre-trial ini pun dapat diundur jika hakim merasa bahwa negosiasi dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut atau hakim merasa bahwa DPP harus melengkapi materi dalam tuntutannya. Pada proses Trial, penuntut dan terdakwa diharapkan sudah

mempersiapkan dengan matang seluruh bukti yang dimiliki, termasuk saksi yang akan dihadirkan dalam persidangan. Jaksa awalnya membuat pernyataan terbuka kepada juri dan kemudian memanggil para saksi satu persatu. Sebelumnya para saksi harus disumpah agar mengatakan yang sejujurnya. Kemudian jaksa bertanya kepada saksi yang mungkin nantinya akan ditanya/diperiksa kembali oleh penasihat hukum terdakwa. Jika jaksa atau terdakwa keberatan dengan informasi tertentu yang diberikan kepada juri, hakim harus memutuskan apakah hal tersebut sesuai dengan aturan. Kalau sesuai maka informasi tersebut termasuk dalam bukti yang sah dan juri dapat mendengar dan bertindak atas dasar bukti tersebut. Sebaliknya, jika tidak sesuai maka hal tersebut tidak termasuk dalam bukti yang sah. Sama seperti dalam persidangan pelanggaran ringan, no case to answer dapat terjadi. Yaitu ketika pengajuan oleh salah satu pihak bahwa pihak lain

telah gagal membangun sebuah kasus untuk menuntut (kasus prima facie). Pada kondisi ini juri dipersilahkan keluar ruang sidang dahulu. Bedanya dalam perkara ini, terdakwa meminta kepada hakim untuk memberitahu juri bahwa penuntutan yang dilakukan tidak memiliki bukti-bukti yang kuat. Bila hakim setuju, juri akan dipanggil kembali ke ruang sidang dan hakim mengharuskan juri untuk memutuskan terdakwa tidak bersalah. Maka kasus tersebut selesai dengan putusan bahwa terdakwa tidak bersalah. Sementara itu jika hakim tidak setuju, sama seperti pada pelanggaran, terdakwa wajib memberikan argumentargumennya kepada juri. Beban pembuktian pada perkara kejahatan ini sama seperti perkara pelanggaran. Jaksa harus membuktikan tanpa ragu bahwa terdakwa bersalah, sebaliknya terdakwa tidak harus menghadirkan fakta-fakta. Terdakwa dapat membantah bahwa bukti-bukti dari jaksa tidak membuktikan bahwa ia bersalah atau tidak memenuhi beyond reasonable doubt. Terdakwa dapat pula membantah dengan menerangkan alibinya. Setelah semua fakta telah diberikan, maka hakim menyimpulkan kasus kepada juri, menjelaskan hukum yang berlaku terhadap kasus tersebut, dan kemudian juri melakukan perundingan secara khusus di ruang juri untuk memberikan putusan. Putusan yang diambil adalah putusan bersama atau minimal sepuluh keputusan yang sama diantara para juri, dan kemudian keputusan tersebut diterima setelah empat jam, kecuali terdakwa sedang diadili dalam kasus pembunuhan atau pengkhianatan.17 Juri dalam trial mendengarkan fakta, bukti, dan petunjuk, dan memutuskan siapa yang harus dipercayai. Mereka adalah satu-satunya pihak yang dapat menentukan apakah terdakwa bersalah atau tidak. Setelah juri mencapai sebuah keputusan, maka sejak saat itu peran juri sudah selesai. Jika juri menyatakan terdakwa bersalah, maka selanjutnya hakim akan mengambil alih untuk menghukum terdakwa.

17

Australia, Juries Act 1927, s 57

2.5

Sistem Pembuktian di Belanda Belanda memiliki 2300 hakim, baik di pengadilan tingkat pertama

maupun banding. Untuk penyelenggaraan peradilan terdapat 5000 staf dan yang mengatur sarana prasarana sekitar 1500 staf. Perkara yang masuk ke pengadilan sekitar 2 juta meliputi semua jenis perkara(tidak termasuk perkara lalu lintas), 66 % gugatan di kantongerechten, 14% perdata, 10 % di sektor pidana, hukum administrasi 6%. Dibandingkan Negara lain di Eropa, di Belanda rata-rata masyarakat bisa menerima putusan pengadilan tingkat pertama. Terdapat 19 pengadilan tingkat pertama, 5 pengadilan banding. Di setiap pengadilan banding terdapat 250-300 karyawan dan 60-70 hakim. Untuk pengadilan administrasi tingkat banding ada 2 pengadilan, yaitu yang mengurus urusan jaminan sosial, satu lagi mengurus masalah-masalah komersial. Puncak tertingginya adalah Hoge Raad. Sedangkan puncak tertinggi pengadilan administrasi adalah Raad van State. Pengadilan tingkat pertama membawahi 4 sektor: 1. Sektor gugatan kecil (small claim) yang diperiksa oleh hakim tunggal; 2. Sektor pedata/hukum keluarga yang pada masa lalu semuanya ditangani 3 hakim tapi sekarang ditangani cukup dengan hakim tunggal; 3. Sektor pidana untuk perkara sederhana yang diperiksa oleh hakim

tunggal, yaitu untuk perkara dengan ancaman hukuman di bawah 1 tahun, sedangkan perkara yang lebih kompleks ditangani oleh 3 hakim. 4. Sektor hukum administrasi negara, di tingkat pertama diperiksa oleh hakim tunggal. Pada tahun 2002 berdiri sebuah organisasi yaitu RvR. Peran RvR adalah menjembatani parlemen (politik) dan menjamin kemandirian peradilan. RvR bertanggung jawab pada masalah personil, keuangan dan organisasi pengadilan juga mengawasi kualitas putusan yang sebenarnya tetap di bawah tanggung jawab masinng-masing hakim. RvR juga menjamin fasilitas persidangan misalnya

tempat sidang dan gedung. Dengan demikian Mahkamah Agung (Hoge Raad) di Negara Belanda hanya berwenang melaksanakan fungsi yuridis sedangkan Raad vor de Rechtspraak berfungsi melaksanakan tugas-tugas administrasi dan organisatoris. Angggota Komisi terdiri dari Hakim dan non Hakim. Komisi Peradilan (Raad voor de rechtspraak) adalah bagian dari sistem peradilan, tetapi tidak melakukan tugas-tugas peradilan itu sendiri. Komisi ini mengambil alih tanggung jawab atas sejumlah tugas dari Menteri Kehakiman, yaitu tugas-tugas organisatorial dan administrasi pengadilan, termasuk alokasi anggaran, pengawasan manajemen keuangan, kebijakan personalia, teknologi komunikasi dan fasilitas perumahan. Komisi ini mendukung pengadilan dalam melaksanakan tugas mereka di wilayah operasional pengadilan. Selain itu, Komisi bertugas untuk meningkatkan kualitas sistem peradilan dan memberikan saran terhadap suatu undang-undang baru yang memiliki implikasi kepada pelaksanaan fungsi pengadilan. Komisi juga bertindak sebagai juru bicara pengadilan pada tingkat nasional dan internasional. Komisi memiliki peran penting dalam hal mempersiapkan, melaksanakan dan mengelola anggaran pengadilan. Komisi mengelola anggaran dengan berdasarkan pada sistem pengukuran beban kerja. Ruang lingkup tugas Komisi secara khusus meliputi kebijakan personal, fasilitas perumahan, teknologi informasi dan urusan eksternal pengadilan. Budget pengadilan menjadi bagian dari budget Menteri Kehakiman tetapi menjadi lampiran tersendiri. Budget ditentukan berdasarkan perhitungan biaya per perkara yang telah ditangani (performance based). Berbeda dengan MA yang menyusun anggaran berdasarkan biaya perkara yang akan ditangani. Kemudian ditentukan berapa yang kira-kira akan dapat diselesaikan oleh semua pengadilan. Kemudian RvR mengatur pendistribusian budget ke seluruh pengadilan. Khusus untuk anggaran Hooge Raad dan Raad van State tidak diajukan oleh RvR melainkan langsung diajukan sendiri oleh MA dan RvS ke Menkeh. Komisi memiliki beragam kewenangan yang diatur oleh peraturan perundangan. Sebagai contoh, Komisi diberdayakan untuk mengeluarkan instruksi yang mengikat pengadilan tentang kebijakan di bidang adminsitrasi dan

organisatoris pengadilan. Meski demikian Komisi berupaya untuk tidak terlalu sering melakukan kewenangan di bidang ini. Komisi juga bertugas untuk mendukung kegiatan seleksi, rekrutmen dan pelatihan aparat peradilan. Hal ini tentu dilakukan agar adanya pihak yang netral agar kualitas peradilan serta aparaturnya terjaga. Ini menyebabkan Komisi perlu berkonsultasi erat dengan pimpinan pengadilan, selain itu, Komisi memiliki peran yang signifikan dalam pengambilan keputusan untuk pemilihan pimpinan pengadilan. Tugas Komisi karena berkaitan dengan mendorong peningkatan kualitas dari sistem peradilan juga termasuk di dalamnya adalah untuk mendorong penerapan kesatuan hukum dan meningkatkan kualitas peradilan. Namun demikian, mengingat kewenangan ini tumpang tindih dengan substansi/isi putusan pengadilan, maka Komisi tidak memiliki kekuatan memaksa di wilayah kewenangan ini. Komisi juga memiliki tugas memberikan pertimbangan. Dalam tugas ini Komisi dapat memberikan saran dan pertimbangan kepada Pemerintah tentang undangundang baru yang memiliki implikasi untuk sistem peradilan. Proses ini berlangsung melalui konsultasi yang intensif dan berkelanjutan dengan para pimpinan pengadilan. Komisi juga bertindak sebagai juru bicara untuk organisasi Peradilan baik di tingkat nasional dan internasional dan memenuhi tugas-tugas di bidang kerjasama internasional. Komisi Kehakiman terdiri dari empat anggota, dua di antaranya berasal dari peradilan dan dua di antaranya yang sebelumnya memegang posisi senior di sebuah lembaga pemerintahan. Komisi memiliki Biro untuk membantu dalam kegiatan dan untuk melaksanakan berbagai tugas yang mungkin diperlukan. Untuk menjadi anggota RvR maka proses yang dilalui adalah sebagai berikut: RvR mengajukan nominasi dengan tim Seleksi berasal dari peradilan ke Menkeh Menkeh menyampaikan nominasi tersebut kepada Ratu

Anggota

RvR

diangkat

oleh

Ratu

Anggota Komisi diangkat oleh Pemerintah Kerajaan Belanda yang didasarkan pada rekomendasi nominasi dari Menteri Kehakiman. Daftar nominasi ini dibuat oleh Menteri Kehakiman dengan berkonsultasi lebih dahulu dengan dengan Komisi dan pimpinan peradilan. Anggota Komisi bertugas selama enam tahun dan dapat diperpanjang selama tiga tahun. Bagi anggota yang berasal dari pengadilan akan kembali ke pengadilan. Komisioner RvR bekerja secara full time dan didukung oleh hampir 150 staf. Prosedur pembuktian pada Hukum Acara Belanda berlangsung dari prinsip bahwa siapa pun menegaskan fakta harus membuktikan itu. Dengan kata lain, setiap pihak yang bersengketa akan diminta untuk memberikan bukti fakta untuk menegaskan fakta yang diungkapkannya. Tapi pada beberapa kesempatan beban pembuktian mungkin terletak berbeda di bawah aturan hukum tertentu yang berlaku atau berdasarkan prinsip kewajaran dan keadilan. Fakta yang dituduhkan oleh salah satu pihak dan tidak dibantah oleh pihak lawan dianggap oleh pengadilan sebagai terbukti. Tapi ada pengecualian, yaitu situasi di mana menerima ini akan memerlukan konsekuensi hukum yang tidak bebas tersedia untuk para pihak. Dalam hal bahwa pengadilan dapat menuntut bukti. Bukti tidak diperlukan untuk fakta atau keadaan yang dianggap universal dikenal atau aturan pengetahuan umum.'Fakta atau keadaan yang dianggap universal dikenal' berarti fakta atau keadaan yang orang pada umumnya sudah tahu atau bisa tahu. 'Aturan pengalaman umum' berarti hubungan kausal bahwa semua orang mengetahui hal tersebut. Dan tidak perlu pula membuktikan faktafakta yang didapat pengadilan selama proses persidangan. Pengadilan dapat dengan bebas memeriksa bukti-bukti yang diajukan, namun harus tetap berpegang pada undang-undang yang berlaku. Belanda menganut system pembuktian Negatif Wettelijk. Pada system tersebut hakim hanya boleh menjatuhkan pidana bila terdapat paling tidak dua

alat bukti yang telah tercantum dalam undang-undang ditambah keyakinan hakim yang diperoleh dari adanya alat-alat bukti tersebut18. Belanda juga menganut Non-adversarial system. Pada system ini, hakim bersifat aktif dalam mencari kebenaran. Hakim dapat mengajukan pertanyaan kepada terdakwa ataupun saksi, dan keyakinan hakim dianggap sebagai alat bukti sah, namun tetap dibatasi oleh undang-undang yang berlaku. Pada system Belanda, Jaksa Penuntut Umum berada langsung dibawah pengawasan Menteri Kehakiman. Sedangkan Kepolisian berada langsung dibawah pengawasan Jaksa Penuntut Umum. 2.6 Sistem Pembuktian Dalam Hukum Islam Hukum Islam merupakan salah satu bentuk sistem hukum yang mulai berkembang sejak kelahiran agama islam pada abad ke 6 Masehi. Hukum islam merupakan bagian dari ajaran agama islam. Hal ini dikarenakan agama islam dalam ajarannya melingkupi pengaturan mengenai hubungan antara manusia dengan tuhannya dan hubungan antara manusia dengan sesama makhluk tuhan. Aturan tersebut yang nantinya akan menjadi hukum dalam islam yang memiliki sumber utama yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Hukum islam itu sendiri dapat dikategorisasikan kedalam beberapa cabang hukum seperti hukum tata negara, hukum perdata, hukum internasional, dan hukum pidana, yang nantinya akan dibahas lebih lanjut terkait sistem pembuktian dalam hukum pidana islam. Sebelum membahas tentang sistem pembuktian dalam hukum islam, maka terlebih dahulu akan dibahas mengenai bentuk-bentuk tindak pidana dalam hukum islam karena hal tersebut berkaitan dengan sistem pembuktian dalam hukum islam. Didalam hukum islam tindak pidana atau dikenal dengan istilah jarimah dibagi menjadi tiga bentuk yaitu: a) Jarimah Hudud

18

Darwan Prints, Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2002) hlm.7.

b) Jarimah Qisas Diyat c) Jarimah Tazir Pembagian Jarimah diatas didasarkan dari segi hukumannya yang diterima. a) Jarimah Hudud Merupakan jarimah yang hukumannya sudah ditentukan oleh Allah SWT terkait bentuk dan banyaknya dan merupakan hak Allah SWT yang artinya hukuman tersebut tidak dapat dihapus oleh siapapun.19 Menurut Abdul Qader Oudah hukuman hudud ini dilakukan tanpa adanya pertimbangan dari keluarga atau kelompok korban dan berdasarkan kepribadian pelaku. Selain itu hakim juga tidak berhak memaafkan atau mengurangi hukuman hudud ini. Bentuk jarimah yang masuk kedalam jarimah hudud ini antara lain berzina, menuduh berzina, mencuri, merampok, memberontak, murtad, minum minuman keras / khamr, melakukan kerusakan di muka bumi. Alasan mengapa hukuman jarimah merupakan hukuman yang harus dilaksanakan karena hal-hal yang dikategorikan kedalam jarimah hudud merupakan hal-hal yang mengganggu lima tujuan dari agama islam (al-maqasid al-khamsah). Isi dari al-maqasid al-khamsah ini antara lain agama, keturunan, akal, jiwa, dan harta.20

b) Jarimah Qisas Diyat Merupakan jarimah yang pelakunya karena perbuatannya diancam hukuman qisas atau diyat yang mana telah ditentukan batasnya.21 Diyat biasanya berupa denda atau sejumlah barang atau uang yang harus dibayarkan oleh pelaku kepada keluarga korban atas apa yang sudah dilakukannya. Yang termasuk jarimah qisas diyat antara lain adalah pembunuhan sengaja, pembunuhan

19

Topo Santoso SH. MH, Wismar Ain Marzuki SH. MH, Neng Djubaedah SH. MH, Sulaikin Lubis SH. MH, Aspek Pidana Dalam Hukum Islam, Cet.1 (Jakarta: Cintya Press. 2005). Hal. 3 20 Prof. H. Mohammad Daud Ali S.H, Hukum Islam, Cet.6(Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2006). Hal. 61. 21 Topo Santoso SH. MH, Wismar Ain Marzuki SH. MH, Neng Djubaedah SH. MH, Sulaikin Lubis SH. MH, Aspek Pidana Dalam Hukum Islam, Cet.1 (Jakarta: Cintya Press. 2005). Hal. 3

menyerupai sengaja, pembunuhan karena sengaja, penganiayaan sengaja, dan penganiayaan tidak sengaja.22 c) Jarimah Tazir Jarimah ta'zir merupakan bentuk hukuman dalam islam yang berasal dari

pemikiran akal yang berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah karena tidak diatur secara langsung atau belum diatur oleh kedua sumber tersebut. Karenanya Ta'zir merupakan bentuk hukuman islam yang dapat dikembangkan disesuaikan dengan kondisi dan keadaan. Menurut Al-Mawardi definisi dari tazir adalah hukuman pendidikan atas dosa (tindak pidana) yang ditentukan hukumannya oleh syara.23 Sebagaimana artinya yaitu memberi pengajaran, maka prinsip dasar dari jarimah ta'zir adalah restoratif dan pembinaan, rehabilitasi.24 Hukuman tazir ini ditentukan oleh penguasa setempat yang berwenang dan tidak boleh bertentangan dengan kepentingan masyarakat dan syariah. Dalam Hukum Pidana Islam sistem pembuktian yang digunakan tidak menganut mutlak empat teori sistem pembuktian pada umunya yaitu sistem teori pembuktian berdasarkan undang-undang secara positif, berdasarkan keyakinan hakim saja, berdasarkan keyakinan hakim yang didukung oleh alasan yang logis, dan berdasarkan undang-undang negatif.25 Hal ini disebabkan untuk tiap kasus sistem pembuktiannya berbeda didasarkan pada bentuk tindak pidananya. Contohnya adalah dalam pembuktian kasus zina yang pembuktiannya dapat menggunakan persaksian, pengakuan, dan qarinah. Sedangkan untuk kasus pembunuhan selain ketiga alat bukti dapat pula digunakan sumpah (qasamah). Berdasarkan contoh tersebut maka dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan cara pembuktian. Pada umumnya pada kasus-kasus tindak pidana atau jarimah hudud digunakan alat bukti pengakuan, persaksian, dan qarinah (alat bukti). Karenanya dalam pembuktian hukum pidana islam lebih ditekankan
22 23

Ibid. Hal. 153 Abu Al-Hasan Al-Mawardi, Al-Ahkam Al-Khamsah As-Sulthaniyah, Cet.3 (Beirut: Mushthafa AlBaby. Tanpa tahun). Hal.236 24 Ibid. Hal. 4 25 Prof. Dr. Andi Hamzah, SH, Hukum Acara Pidana Indonesia (edisi revisi), cet.1 (Jakarta: Sinar Grafika. 2001). Hal. 245.

pada alat bukti yang digunakan untuk membuktikan tindak pidana tersebut. Berdasarkan Al-Quran, As-Sunnah, dan Ijtihad beberapa ulama dan fuqaha maka terdapat beberapa jenis alat bukti yang dapat digunakan dalam pembuktian hukum islam antara lain adalah pengakuan, persaksian, sumpah (al-qasamah), dan petunjuk (qarinah).26 Terkait alat bukti ini juga terdapat perbedaan pendapat terkait jenis-jenis alat bukti yang dapat digunakan untuk tindak pidana atas jiwa (pembunuhan), bukan jiwa (pelukaan), dan atas janin atau yang termasuk kedalam jarimah qisas diyat. Pandangan pertama, menurut para jumhur ulama, untuk pembuktian qisas dan diyat dapat digunakan 3 cara alat pembuktian yaitu pengakuan, persaksian, dan al-qasamah. Sedangkan pendapat kedua, menurut sebagian fuqaha seperti ibnu al-qayyim dari mahzab hanbali, untuk pembuktian jarimah qisas dan diyat digunakan empat alat pembuktian yaitu pengakuan, persaksian, al-qasamah (sumpah), dan qarinah (petunjuk).27 Berikut adalah pembahasan terkait jenis-jenis alat bukti yang biasa digunakan dalam hukum pidana islam: 1) Pengakuan (Iqrar): Definisi dari pengakuan menurut arti bahasa adalah penetapan. Sedangkan berdasarkan definisi dari syara pengakuan atau iqrar adalah suatu pernyataan yang menceritakan tentang suatu kebenaran atau mengakui kebenaran tersebut.28 Dasar hukum dari pengakuan ini disebutkan dalam beberapa ayat Al-Quran dan Hadist. Ayat Al-Quran yang menyebutkan hal tersebut antara lain: Q.S. An-Nissa ayat 153

"Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah SWT biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu"
26

Abd Al-Qadir Audah, at-tasyri al-jinaiy al-islamiy, juz II, (Dar al-kitab al-arabi, beirut, tanpa tahun).Hal. 303 27 Ibid. 28 Ibid.

Q.S. Ali-Imran ayat 81

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi: Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah,. Allah berfirman: apakah kamu mengakui dan menerima perjanjianKu terhadap yang demikian itu? mereka menjawab: Kami mengakui. Allah berfirman: Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu. Sedangkan hadist yang menjadi dasarnya adalah: Hadist Al-Asif

Dan pergilah kamu hai Unais untuk memeriksa istrinya laki-laki ini, apabila ia mengaku (berzina) maka rajamlah dia. (Muttafaq alaih) HR. Ahmad dan Abu Dawud

Dari Sahl ibn Saad bahwa seseorang laki-laki telah datang kepada Nabi SAW, kemudian ia mengatakan bahwa ia telah berzina dengan seseorang perempuan yang ia sebutkan namanya. Nabi SAW kemudian mengutus seorang sahabat untuk mengambil perempuan tersebut, Nabi kemudian bertanya kepada perempuan tersebut mengenai apa yang dikatakan oleh laki-laki tadi, tetapi perempuan tersebut mengingkarinya. Akhirnya, nabi menghukum laki-laki tersebut dan membebaskan perempuan yang tidak mengaku. (HR Ahmad dan Abu Dawud). Hadist mengenai Maiz (Hadist Riwayat Bukhari)

Barangkali engkau hanya menciumnya, atau meremas-remasnya, atau memandangnya? Maiz menjawab: tidak, ya Rasulullah. (HR Bukhari) Alat bukti pengakuan dalam hal pembuktian hanya berlaku bagi orang yang menyatakan pengakuan itu. Apabila dalam pengakuannya disebutkan nama orang lain yang juga melakukan tindak pidana maka hal tersebut tidak termasuk

kedalam pengakuan, melainkan persaksian.29 Walaupun demikian, pengakuan sebagaimana yang telah disepakati oleh para ulama dan fuqaha, merupakan alat bukti yang memiliki kekuatan yang paling kuat dibandingkan alat bukti yang lainnya. Hal ini didasarkan pada prinsip dasar bahwa manusia tidak akan melakukan kebohongan yang akan merugikan dirinya terkait pengakuan ini. Penggunaan pengakuan sebagai alat bukti memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pengakuan tersebut. Syarat-syarat tersebut antara lain adalah berupa pengakuan yang jelas, terperinci, pasti, serta tidak dapat menimbulkan tafsiran lain terkait tindak pidana yang dilakukannya. Selain itu juga dalam pengakuan tersebut perlu disebutkan hal-hal yang berkaitan seperti waktu, tempat, cara melakukannya, dan lain sebagainya sehingga pengakuan tersebut memiliki suatu kejelasan dan kepastian tanpa adanya dugaan atau tafsiran tindak pidana di luar yang dilakukan olehnya. Dasar hukum dari syarat tersebut adalah hadist mengenai kisah Maiz yang isinya adalah: Barangkali engkau hanya menciumnya, atau meremas-remasnya, atau memandangnya? Maiz menjawab: tidak, ya Rasulullah. (HR Bukhari) Pengakuan juga harus disampaikan tanpa adanya paksaan dan disampaikan oleh orang yang memiliki akal yang sehat.30 2) Persaksian (syahadat): Menurut Wahbah Zuhaili definisi dari persaksian adalah: persaksian adalah suatu pemberitahuan (pernyataan) yang benar untuk membuktikan suatu kebenaran dengan lafazd syahadat di depan pengadilan.31 Persaksian merupakan salah satu alat bukti yang penting dalam pembuktian hukum pidana islam. Hal ini dikarenakan persaksian dapat menjadikan pembuktian lebih objektif karena adanya saksi yang menguatkan. Saksi juga
29 30

Drs. H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam,cet.1 (Jakarta: Sinar Grafika. 2005). Hal.229. Ibid. hal. 230. 31 Wahbah Zuhaili, Al-Fiqih Al-Islami wa Adillatuhu, juz VI (Damaskus: Dar Al-Fik. 1989). Hal. 388

menjadi kunci dalam pembuktian dalam suatu tindak pidana apabila pelaku tidak mengaku. Selain itu apabila salah satu saksi memberikan keterangan yang berbeda dengan keterangan pelaku maka hal tersebut dapat dijadikan bahan pertimbangan terkait pembuktian kasus tersebut oleh hakim. Tanpa adanya saksi ini pada umumnya akan sulit dibuktikan bahwa seseorang telah melakukan suatu jarimah. Contohnya dalam kasus jarimah zina sebagaimana yang telah disepakati oleh para ulama berdasarkan ayat Quran yang mengharuskan adanya empat orang saksi yang melihat langsung kejadian untuk membuktikan suatu jarimah zina. Apabila empat orang saksi ini tidak bisa dihadirkan maka gugurlah tuduhan zina terhadap tersangka. Yang menjadi dasar hukum alat bukti persaksian ini antara lain: Q.S. Al-Baqarah ayat 282:

..Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu. Jika tidak ada dua orang lelaki maka (boleh) seseorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seseorang lupa, yang seseorang lagi mengingatkannya. Q.S. Ath-Thalaaq ayat 2:

..Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah... Hadist Riwayat Nasai:

Dari Amr ibn Syuaib dari ayahnya dari kakeknya, bahwa anaknya Muhaishah yang paling kecil diketemukan terbunuh di pintu Khaibar maka Rasulullah SAW bersabda: ajukanlah dua orang saksi atas orang yang membunuhnya, nanti saya akan berikan kepadamu tambang untuk mengqisaskannya.. Agar persaksian tersebut dapat diterima maka terdapat beberapa syaratsyarat yang bersifat umum yang harus dipenuhi oleh saksi antara lain adalah dewasa, berakal, kuat ingatannya, dapat berbicara, dapat melihat, adil, dan

islam. Pembuktian melalui persaksian ini, berdasarkan tindak pidana pembunuhan dan pelukaan, dapat dibedakan menjadi persaksian untuk tindak pidana yang hukumannya badaniah dan persaksian untuk tindak pidana yang hukumannya maliah.32 Jarimah yang hukumannya badaniah: Jarimah yang hukumannya badaniah bisa berupa qisas atau tazir. Terdapat beberapa perbedaan pendapat terkait persaksian jarimah yang hukumannya badaniah. Namun pada umumnya para ulama dan fuqaha sepakat bahwa pembuktiannya harus dengan dua orang saksi laki-laki, dan tidak boleh dengan seorang laki-laki dan dua orang perempuan, ditambah sumpahnya korban.33 Jarimah yang hukumannya maliah: Pada umumnya dalam hal persaksian terhadap jarimah yang hukumannya maliah, seperti diyat atau denda ganti rugi, para ulama dan fuqaha sepakat bahwa pembuktian dapat dilakukan oleh dua orang saksi laki-laki, atau satu orang saksi laki-laki dan dua orang saksi perempuan. Pendapat lain menyatakan bahwa dapat juga pembuktian dilakukan melalui seorang saksi laki-laki dan sumpah penuntut atau keengganan bersumpahnya terdakwa, atau dua orang saksi perempuan ditambah sumpah penuntut. a. Sumpah (Qasamah) Berdasarkan arti bahasa qasamah adalah sumpah. Sedangkan menurut Hanafiyah mendefinisikan qasamah Dalam istilah syara, qasamah digunakan untuk arti sumpah dengan nama Allah SWT karena adanya sebab tertentu, dengan bilangan tertentu, untuk orang tertentu yaitu si terdakwa dan menurut cara tertentu.34 Dari pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
32 33

atau seorang saksi Laki-laki

Drs. H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam,cet.1 (Jakarta: Sinar Grafika. 2005). Hal.232 Ibid. 34 Ala Ad-Din Al-Kasani, Kitab Badai Ash-Shanai fi Tartib Asy-Syarai, (Beirut: Dar Al-Fikr. 1996). Hal. 422.

qasamah adalah sumpah yang dilakukan berulang-ulang yang dilakukan oleh keluarga korban untuk membuktikan pembunuhan terhadap keluarganya yang dilakukan oleh tersangka, atau dilakukan oleh tersangka untuk membuktikan bahwa ia bukan pelaku pembunuhan.35 Para ulama sepakat bahwa penggunaan qasamah ini hanya untuk tindak pidana pembunuhan saja. Dasar hukum dari sumpah ini adalah hadist Nabi Muhammad SAW yaitu: Hadist Riwayat Ahmad, Muslim, Nasai:

Dari Abi Salamah ibn Abd Ar-Rahman dan Sulaiman ibn Yasar dari seorang lakilaki sahabat Nabi SAW sekelompok kaum Anshar, bahwa sesungguhnya Nabi SAW menetapkan qasamah (sebagai alat bukti) sebagaimana yang berlaku di zaman jahiliyah. Penggunaan qasamah seperti yang telah disebutkan diatas bahwa para ulama telah sepakat hanya untuk kasus pembunuhan saja. Namun yang menjadi perdebatan adalah kapan saat digunakannya qasamah ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa qasamah dilakukan ketika pelaku pembunuhan tidak diketahui. Sedangkan pendapat kedua adalah ketika pelaku pembunuhan diketahui karena adanya petunjuk yang mengarah kepadanya.

3) Petunjuk (Qarinah): Qarinah atau petunjuk menurut definisi dari Wahbah Zuhaili adalah: Qarinah adalah setiap tanda (petunjuk) yang jelas yang menyertai sesuatu yang samar, sehingga tanda tersebut menunjukkan kepadanya36 Contoh salah satu bentuk dari qarinah adalah hamilnya seorang perempuan yang belum menikah dalam tindak pidana zina, bau alkohol pada

35

Drs. H. Ahmad Wardi Muslich, Hukum Pidana Islam,cet.1 (Jakarta: Sinar Grafika. 2005). Hal.235 Ibid. hal.244

36

mulut seseorang dalam jarimah meminum minuman keras. Terwujudnya qarinah ini harus memenuhi beberapa hal yaitu terdapat suatu keadaan yang jelas dan diketahui layak untuk dijadikan dasar dan pegangan. Selanjutnya adalah terdapat hubungan yang menunjukkan adanya keterkaitan antara keadaan yang jelas dan yang samar. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa pembuktian dalam hukum pidana islam tidak sama antara satu tindak pidana dengan tindak pidana yang lainnya. Hal ini disebabkan untuk tiap kasus sistem pembuktiannya berbeda didasarkan pada bentuk tindak pidananya. Yang menjadi kesamaan antara satu tindak pidana dengan tindak pidana yang lainnya dalam pembuktian adalah jenis alat bukti yang digunakannya. Selain itu perbedaan dalam pembuktian pidana islam juga dibedakan berdasarkan jenis tindak pidananya yaitu jarimah hudud, jarimah qisas diyat, dan jarimah tazir. Khususnya jarimah hudud terdapat perbedaan dalam syarat dan ketentuan alat bukti yang digunakan seperti pembuktian jarimah zina. Dalam jarimah zina saksi yang harus dimunculkan minimal empat orang laki-laki, berbeda dengan syarat minimal saksi pada jarimah lainnya yang hanya mensyaratkan minimal dua orang laki-laki. Berikut adalah contoh pembuktian dalam beberapa jenis tindak pidana dalam islam: A. Tindak pidana pencurian: Dalam tindak pidana pencurian pembuktiannya dapat dilakukan melalui tiga alat bukti yaitu persaksian, pengakuan, dan sumpah. Dengan Persaksian

Pada umumnya syarat untuk persaksian dalam pembuktian tindak pidana pencurian tidak jauh berbeda dengan syarat persaksian pada umumnya. Saksi yang diperlukan untuk membuktikan tindak pidana pencurian minimal dua orang laki-laki atau seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Apabila syarat tersebut tidak tidak terpenuhi maka pencuri tidak dapat dikenai hukuman. Dengan Pengakuan

Pengakuan dalam tindak pidana pencurian cukup dinyatakan satu kali dan tidak perlu diulang-ulang. Dengan sumpah

Sumpah dapat dilakukan oleh sang tersangka bahwa ia melakukan pencurian. Namun apabila sang tersangka enggan bersumpah maka sumpah tersebut dapat dikembalikan kepada orang yang kehilangan barang (penuntut). B. Tindak Pidana Zina Pembuktian untuk tindak pidana perzinahan dilakukan dengan tiga jenis alat bukti yaitu pengakuan, persaksian, dan petunjuk. Dengan Persaksian

Pada prinsipnya alat bukti saksi dalam pembuktian tindak pidana perzinahan memiliki syarat yang sama dengan alat bukti saksi pada umumnya. Namun ada beberapa perbedaan seperti jumlah saksi yang harus dihadirkan. Dalam tindak pidana zina jumlah saksi minimal adalah empat orang. Empat orang saksi ini harus melihat langsung kejadian. Mereka harus melihat kejadian dengan mata kepala mereka sendiri. Tidak bisa hanya mendengar kejadian tersebut dari orang lain, karena nantinya akan menimbulkan keraguan (syubhat) yang dapat menyebabkan hukuman hudud gugur. Dasar hukum dari syarat saksi ini adalah surat An-Nisa ayat 15 yang isinya adalah dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksikannya) Dengan pengakuan

Alat bukti memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhi , antara lain adalah pengakuan harus dinyatakan empat kali dan terperinci sehingga menghilangkan syubhat (keragu-raguan). Namun pada prinsipnya sama dengan alat bukti pengakuan pada umumnya.

Dengan Qarinah (petunjuk)

Pembuktian menggunakan petunjuk dalam tindak pidana zina dapat berupa hamilnya seorang wanita yang tidak bersuami. Demikian pembuktian dalam hukum pidana islam. Dalam hukum pidana islam sistem pembuktiannya memang berbeda dengan hukum pidana di Indonesia. Dalam hukum pidana islam setiap tindak pidana bisa jadi memiliki syarat yang berbeda terkait alat bukti yang digunakan dalam pembuktiannya.

BAB III KESIMPULAN Pembuktian merupakan salah satu rangkaian dari proses peradilan yang memiliki peran yang paling penting dalam mentukan bersalah tidaknya seseorang. Cara penentuan tersebut ada bermacam-macam. Ada yang didasarkan pada teori sistem pembuktian pada umumnya yaitu sistem teori pembuktian berdasarkan undang-undang secara positif, berdasarkan keyakinan hakim saja, berdasarkan keyakinan hakim yang didukung oleh alasan yang logis, dan berdasarkan undang-undang negatif. Di Indonesia sistem pembuktian yang digunakan adalah sistem pembuktian berdasarkan undang-undang secara negatif. Sistem pembuktian secara negatif berarti dalam proses pembuktian keputusan bersalah atau tidaknya seseorang didasarkan pada keyakinan hakim yang didukung oleh undang-undang. Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam pasal 183 KUHAP yang isinya adalah Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya. Dari pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa untuk membuktikan suatu tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang dibutuhkan minimal dua alat bukti yang sah yang dengan alat bukti tersebut hakim mendapat keyakinannya akan bersalahnya tersangka. Beban pembuktian di Indonesia menganut beban pembuktian umum / konvensional. Beban pembuktian umum / konvensional merupakan beban pembuktian yang memberikan kewajiban untuk membuktikan suatu tindak pidana kepada penuntut umum karena didasarkan pada asas presumption of innocence. Hal ini diatur didalam pasal 66 KUHAP. Namun untuk tindak pidana tertentu seperti korupsi terdapat penyimpangan berupa berlakunya beban pembuktian yang lain yaitu beban pembuktian terbalik terbatas. Hal ini diatur didalam pasal 37 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan terhadap Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi. Bentuk sistem pembuktian selain yang dianut oleh Indonesia dapat dilihat dari sistem pembuktian di Negara lain seperti Belanda yang menganut Civil Law dan Australia yang menganut Common Law. Di Australia, untuk perkara ringan dan lebih berat dibedakan sistem pengadilan, namun keduanya tetap diusahakan agar perkara dapat diselesaikan tanpa proses persidangan. Jika pada akhirnya akan diproses melalui sidang, maka kedua belah pihak, penuntut dan terdakwa, hadir dalam persidangan dan saling melemparkan bukti dan argumennya masingmasing. Penuntut memberikan bukti dan argumen dengan tanpa ragu yang

menjelaskan bahwa terdakwa bersalah. Sementara terdakwa dapat melakukan pembelaan disertai bukti-bukti dan argumen yang mendukung pula. Dalam perkara berat biasanya juri diperlukan untuk memperoleh suatu putusan pengadilan, dan kemudian hakim yang menyimpulkan putusan dan memberi hukuman sesuai dengan aturan yang berlaku. Di Belanda, sistem pembuktiannya menganut sistem pembuktian negatif ( keyakinan hakim namun dibatasi oleh undang-undang). Sifatnya non-adversarial, berarti hakim bersifat aktif dalam mencari kebenaran selama persidangan. Beban pembuktian berada pada pihak yang mendalilkan fakta. Di peradilan Belanda, penuntut umum berada di bawah pengawasan Menteri Kehakiman, dan Kepolisian berada di bawah pengawasan penuntut umum. Selain itu ada juga bentuk sistem pembuktian yang tidak termasuk kedalam empat teori sistem pembuktian yang ada yaitu sistem pembuktian dalam hukum pidana islam. Dalam hukum pidana islam sistem pembuktian antara satu jenis tindak pidana dengan tindak pidana yang lainnya berbeda. Yang menjadi persamaan hanyalah jenis alat bukti yang digunakan yaitu persaksian, pengakuan, petunjuk, dan sumpah. Pada umumnya untuk tindak pidana hudud dapat menggunakan alat bukti petunjuk, persaksian,dan pengakuan. Sedangkan untuk sumpah hanya digunakan untuk tindak pidana tertentu seperti pembunuhan dan pencurian. Contohnya dalam kasus tindak pidana zina dengan tindak pidana pencurian. Dalam tindak pidana zina alat bukti yang dapat digunakan adalah pengakuan, persaksian, dan petunjuk. Sedangkan untuk tindak pidana pencurian alat bukti yang dapat digunakan adalah pengakuan, persaksian,dan sumpah. Beban pembuktian dalam hukum pidana islam merupakan hak yang dimiliki oleh kedua belah pihak yaitu penuntut dan pihak yang dituntut. Dari pembahasan diatas dapat dilihat perbedaan masing-masing dari Sistem dan beban pembuktian dari beberapa negara dan hukum pidana islam. Perbedaan tersebut pada dasarnya dipengaruhi oleh ajaran, budaya dan kondisi dari masing-masing negara dan tempat yang menganutnya. Namun pada prinsipnya keseluruhan sistem pembuktian tersebut memiliki kesamaan tujuan yaitu mencari kebenaran yang sebenar-benarnya sehingga keadilan dapat ditegakkan.

DAFTAR PUSTAKA

Buku Hamzah, Andi, Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Ghalia: Jakarta 1984. Harahap, Yahya. Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP. Pustaka Kartini: Jakarta. 1993. Muslich, Ahmad Wardi. Hukum Pidana Islam,cet.1. Sinar Grafika: Jakarta. 2005 Santoso, Topo, dkk. Aspek Pidana Dalam Hukum Islam, Cet.1. Cintya Press: Jakarta. 2005. Prodjohamidjojo, Martiman. Penerapan Pembuktian Terbalik dalam Delik Korupsi (UU No.31, Tahun 1999). Mandar Maju: Bandung. 2001 Ingeten, Sri. Peranan Dokter Dalam Pembuktian Perkara Pidana. Fakultas Hukum Universitas Sumatra Utara: Medan. 2008. Adji, Indriyanto Seno. Korupsi dan Pembalikan Beban Pembuktia. Prof. Oemar Seno Adji, SH & Rekan: Jakarta. 2006 Chazawi, Adami. Hukum Pembuktian Tindak Pidana Korupsi. Penerbit PT Alumni: Bandung. 2005. Prodjodikoro, Wirjono. Hukum Atjara Pidana di Indonesia. Sumur Bandung: Jakarta 1967. Ali, Mohammad Daud. Hukum Islam, Cet.6. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta. 2006. Prints, Darwan. Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Citra Aditya Bakti: Jakarta. 2002. Sasangka, Hari. Hukum Pembuktian dalam Perkara Perdata. Penerbit Mandar Maju: Bandung. 2000.

Ala Ad-Din Al-Kasani, Kitab Badai Ash-Shanai fi Tartib Asy-Syarai, (Beirut: Dar Al-Fikr. 1996 Abu Al-Hasan Al-Mawardi, Al-Ahkam Al-Khamsah As-Sulthaniyah, Cet.3 (Beirut: Mushthafa Al-Baby. Tanpa tahun). Wahbah Zuhaili, Al-Fiqih Al-Islami wa Adillatuhu, juz VI (Damaskus: Dar Al-Fik. 1989) Undang-undang Australia, Summary Procedure Act 1921. Australia, Juries Act 1927. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.

Website http://www.karyatulisilmiah.com/pengertian-sistem.html