Anda di halaman 1dari 0

7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Hipertensi Pada Lansia
II.1.1. Pengertian
Pada populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan
sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer,2001).
Menurut WHO ( 1978 ), tekanan darah sama dengan atau diatas 160 /
95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi.
Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang
mengalami kenaikan tekanan darah; tekanan sistole terus meningkat
sampai usia 80 tahun dan tekanan diastole terus meningkat sampai usia
55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan
menurun drastis.
II.1.2. Klasifikasi
Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas : ( Darmojo, 1999 ).
Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140
mmHg dan / atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90
mmHg.Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat
dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu:
Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak
diketahui penyebabnya. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di
sebabkan oleh penyakit lain (Nurse87.2009)
II.1.3. Etiologi
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah
terjadinya perubahan perubahan pada :
1) Elastisitas dinding aorta menurun
2) Katub jantung menebal dan menjadi kaku
8
Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap
tahun sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah
menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi
karenakurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi.
Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer. Meskipun
hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data
penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan
terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut :
1) Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki
kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika
orang tuanya adalah penderita hipertensi
2) Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi
adalah:
a) Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat )
b) Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan )
c) Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih )
3) Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi
adalah :
a) Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr )
b) Kegemukan atau makan berlebihan
4) Stress
5) Merokok
6) Minum alcohol
7) Minum obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin )
Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah :
1) Ginjal
2) Glomerulonefritis
3) Aterosklerosis
9
4) DM
5) Hipertiroidisme
6) Hipotiroidisme
7) Stroke
8) Dan lain-lain
II.1.4. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi
pembuluh darah terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari
pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke
bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis
ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor
dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui
system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron
preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut
saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan
dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh
darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat
mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang
vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap
norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal
tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang
pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga
terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi.
Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan
vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid
lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh
darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal,
menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan
angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu
vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi
10
aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi
natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume
intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan
hipertensi.
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan
structural dan fungsional pada system pembuluh perifer
bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada
usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya
elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos
pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan
distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan
arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume
darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan
penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer,
2001). Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya
hipertensi palsu disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga
tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer (Darmojo, 1999).
II.1.5. Tanda Dan Gejala
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :
1) Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan
dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan
arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi
arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak
terukur.
2) Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai
hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam
kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai
kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.
11
Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien
yang menderita hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala, pusing
Lemas, kelelahan, Sesak nafas, Gelisah, Mual Muntah, Epistaksis,
Kesadaran menurun.
II.1.6. Upaya Pengendalian Hipertensi
Muhammadun (2010), beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam upaya pengendalian hipertensi :
a. Pengendalian hipertensi dengan olah raga teratur.
b. Pengendalian hipertensi dengan istirahat yang cukup.
c. Pengendalian hipertensi dengan cara medis.
d. Pengendalian hipertensi dengan cara tradisional.
e. Pengendalian hipertensi dengan cara mengatur pola makan.
f. Pengendalian hipertensi dengan cara mengurangi konsumsi
garam satu sendok teh perhari.
Menurut Gunawan (2001), untuk menghindari terjadinya
komplikasi hipertensi yang fatal, maka penderita perlu mengambil
tindakan pencegahan yang baik (stop high blood pressure) sebagai
berikut:
II.1.6.1 Pengandalian Hipertensi Baik :
a. Mengurangi konsumsi garam
b. Menghindari kegemukan (obesitas)
c. Membatasi konsumsi lemak
d. Olahraga teratur
e. Makan banyak buah dan sayuran segar
f. Tidak merokok dan tidak mengkonsumsi minuman beralkohol
g. Melakukan relaksasi atau meditasi, dan
h. Berusaha membina hidup yang positif
II.1.6.2 Pengendalian Hipertensi Tidak Baik :
a. Tidak mengurangi konsumsi garam
b. Tidak menghindari kegemukan (obesitas)
c. Tidak membatasi konsumsi lemak
12
d. Tudak berolahraga teratur
e. Tidak makan banyak buah dan sayuran segar
f. Merokok dan tidak mengkonsumsi minuman beralkohol
g. Tidak melakukan relaksasi atau meditasi, dan
h. Tidak berusaha membina hidup yang positif
II.2. Pengetahuan
II.2.1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi
setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia, yakni indera
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan atau kognitif merupakan Domain yang sangat
penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (over behavior). Karena
dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh
pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari
oleh pengetahuan. Penelitian Rogers tahun 1974 mengungkapkan bahwa
sebelum orang mengadopsi perilaku baru, di dalam diri orang tersebut
terjadi proses yang berurutan yaitu:(dalam Notoatmodjo,2003).
a. Awerenes (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).
b. Interest ( tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut
c. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik atau tidaknya
stimulus tersebut bagi dirinya.
d. Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu dengan
apa yang dikehendaki oleh stimulus.
e. Adaption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
13
II.2.2. Pengetahuan Pada Lansia Tentang Hipertensi
Pengtahuan Lansia pada penelitan ini adalah kemampuan lansia
dalam memahami tentang pengertian hipertensi, gejala hipertensi,
dampak dan cara pengendalian hipertensi.
Pengetauan tinggi apbila lanisa tahu tentang pengertian
hipertensi, gejala hipertensi, dampak dan cara pengendalian hipertensi.
Pengetauan rendah apabila lansia tidak tahu tentang pengertian
hipertensi, gejala hipertensi, dampak dan cara pengendalian hipertensi.
II.3. Sikap
Sikap adalah kecendrungan bertindak, berpersepsi, berpikir dan
merasa dalam menghadapi objek, situasi atau nilai. Sikap bukan perilaku
tetapi merpakan kecendrungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu
terhadap objek sikap. Objek benda boleh berupa benda, orang, tempat
gagsan atau situasi, atau keompok. Jadi pada kenyataanya tidak ada istilah
sikap berdiri sendiri. Sikap haruslah diikuti oleh kata terhadap, atau
pada objek sikap. (Jalaludin, 2005)
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup
terhadap suatu stimulus atau objek. Dari berbagai batasan tentang sikap
dapat disimpulkan bahwa manifestasi sikap itu dapat langsung
dilihat,tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang
tertutup.Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian
reaksi terhadap stimulus tertentu.Newcomb salah seorang ahli psikologi
sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan
untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu.Sikap
belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas akan tetapi merupakan
predisposisi tindakan atau perilaku. (Notoatmodjo,2005)
Dalam bagian lain Allport (1954) (dalam Notoatmodjo,2003)
menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok , yakni :
a) Kepercayaan ( keyakinan),ide dan konsep terhadap suatu objek.
b) Kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu objek.
c) Kecendrungan untuk bertindak (trend to behave)
14
Ketiga komponen tersebut secara bersama-sama membentuk sikap
yang utuh (total attitude).Dalam penentuan sikap yang utuh ini,
pengetahuan, berpikir, keyakinan dan emosi memegang peranan penting.
Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai
tingkatan, yakni:
a) Menerima (receiving)
Menerima, diartikan bahwa orang (subjek) mau dan
memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).
b) Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
Karena dengan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau
mengerjakan tugas yang diberikan lepas dari apakah pekerjaan itu benar
atau salah berarti orang menerima ide tersebut.
c) Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan
suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
d) Bertanggung Jawab (Responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya
dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.
Dengan demikian pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung
dan tidak langsung.secara langsung dengan wawancara dapat menanyakan
bagaimana pendapat responden terhadap suatu objek secara tidak langsung
adalah dengan memberikan kuesioner.
Sikap penderita lansia pada penelitian ini adalah pendapat atau respon
lansia tekanan darah yang dialami.
II.3.1 Skap penderita lansia positif adalah :
1. Lansia penderita hipertensi menerima penyakit hipertensi yang
dialaminya
2. Lansia penderita hipertensi merespon dengan baik penyakit
hpertensi yang dialaminya
15
3. Lansia penderita hipertensi menghargai penyakit hipertensi yang
diaminya.
4. Lansia pendertia hipertensi bertanggung jawab terhadap penyakit
hipertensi yang dialaminya.
II.3.2 Skap penderita lansia negatif adalah :
1. Lansia penderita hipertensi tidak menerima penyakit hipertensi
yang dialaminya
2. Lansia penderita hipertensi tidak merespon dengan baik penyakit
hpertensi yang dialaminya
3. Lansia penderita hipertensi tidak menghargai penyakit hipertensi
yang diaminya.
4. Lansia pendertia hipertensi tidak bertanggung jawab terhadap
penyakit hipertensi yang dialaminya.
II.4. Lansia
II.4.1. Pengertian Lansia
Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan.
Dalam mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia menurut Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ada tiga aspek yang perlu
dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial
(BKKBN 1998). Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk
yang mengalami proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai
dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap
serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini
disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan,
serta sistem organ.
II.4.2. Batasan Lanjut Usia
a. Menurut WHO
1. Usia pertengahan (middle age) antara 45 59 tahun
2. Lanjut Usia (Elderly) antara usia 60 74 tahun
3. Lanjut Usia Tua (Old) antara usia 75 90 tahun
4. Usia sangat tua (Very old) diatas 90 tahun
16
b. Menurut Dep. Kes Undang undang No. 4 tahun 1965
Bantuan penghidupan orang jompo / lanjut usia yang bermuat dalam
pasal 1 dinyatakan sebagai berikut :
seseorang dapat dinyatakan sebagai orang jompo / lanjut usia
setelah yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai
tau tidak berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya
sehari hari dan menerima nafkah dari orang lain.
d. Menurut para ahli
1. Prof. Dr. Ny. Sumiati Ahmad Mohammad
a) Masa Bayi : 0 1 tahun
b) Masa Prasekolah : 1 6 tahun
c) Masa Sekolah : 6 10 tahun
d) Masa Pubertas : 10 20 tahun
e) Masa Setengah Umur (Praseniuma) : 40 65 tahun
f) Masa Lanjut usia (Senium) : 65 tahun ke atas
2. Dra. Ny. Jos Masdani (psikolog UI)
a) Fase inventus antara 25 dan 40 tahun
b) Fase verilitas antara 40 dan 50 tahun
c) Fase Prasenium antara 55 dan 65 tahun
d) Fase Seniun antara 65 tahun sampai tutup usia
3. Prof. Dr. Koesoemato Setyonegoro
a) Usia Dewasa (elderly aduithood) : 18 atau 20 25 tahun
b) Usia Dewasa Penuh (middle years / maturitas) : 25 60 atau
65 tahun
c) Lanjut Usia (Geriatric Age) lebih dari 65 atau 70 tahun
1) Young Old : 70 75 tahun
2) Old : 75 65 tahun
3) Very Old : 60 tahun ke atas
II.4.3. Penyakit yang sering terjadi pada lansia
1) Penyakit system pernafasan
2) Penyakit kardivaskuler dan pembuluh darah
3) Penyakit pencernaan makanan
17
4) Penyakit gangguan metabolic
5) Penyakit system urogenital
6) Penyakit pada persendian dan tulang
7) Penyakit keganasaan
II.5. Penelitian Terkait
1. Penelitian yang dilakukan oleh Siti Khotijah dengan judul Hubungan
Antara Pengetahuan Keluarga Tentang Perawatan hipertensi Dengan
Kejadian Hipertensi Pada Usila Didesa Bendo Wilayah Kerja Puskesmas
Bendo Magetan Jawa Timur Tahun 2008. Penelitian ini menggunakan
metode survei analitik dengan Cross Sectional.Responden dalam
penelitian ini adalah keluarga yang mempunyai Usila yang tinggal
diwilayah kerja Puskesmas Bendo Magetan Jawa Timur, pada bulan Mei-
Juni 2008. Untuk mendapatkan data yang relevan dengan masalah yang
diteliti, peneliti menggunakan instrument pengumpulan data yang berupa
kuesioner dan tensimeter. Pertanyaaan yang diajukkan terdiri dari
beberapa hal yang menyangkut pengetahuan keluarga tentang perawatan
hipertensi pada Usila. Uji statistik yang digunakan dengan uji Chi-Square=
0,05 menggunakan SPSS for windows persi 15.0. Hasil penelitian didapat
P = 0,001 terlihat P < , yang berarti ada hubungan yang bermakna antara
pengetahuan keluarga tentang perawatan hipertensi dengan kejadian
hipertensi pada Usila, di Desa Bendo wilayah kerja Puskesmas Bendo
Magetan Jawa Timur.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Dyah Ayu Phitaloka dengan judul Faktor-
faktor yang berhubungan dengan pengendalian hipertensi pada lansia di
Posyandu lansia wilayah keja Mojosongo Boyolali 2010. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara sikap lansia,
pengawasan dari pihak keluarga dan pengetahuan lansia dengan upaya
pengendalian hipertensi pada lansia di Posyandu Lansia Wilayah Kerja
Puskesmas Mojosongo Boyolali. Penelitian ini merupakan penelitian
observasional dengan rancangan cross-sectional. Subjek penelitian ini
adalah lansia yang berusia 55 tahun yang menderita hipertensi di
18
Posyandu Lansia Wilayah Kerja Puskesmas Mojosongo Boyolali. Populasi
dalam penelitian ini adalah lansia yang menghadiri kegiatan posyandu
lansia di Posyandu Lansia Wilayah Kerja Puskesmas Mojosongo Boyolali
dengan jumlah 1542 orang, dengan sampel sebanyak 70 orang. Teknik
pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah
menggunakan Simple random sampling. Analisis data menggunakan uji
statistik chi square (2), dengan tingkat kepercayaan =0,05. Hasil
penelitian menyimpulkan bahwa ada hubungan antara sikap (p=0,000),
pengawasan dari pihak keluarga (p=0,003), dan pengetahuan (p=0,016)
dengan upaya pengendalian hipertensi di Posyandu Lansia Wilayah Kerja
Puskesmas Mojosongo Boyolali.
II.6. Kerangka Teori
Menurut Green (dalam Notoatmodjo, 2005) bahwa ada 3 faktor
yang mempengaruhi perilaku manusia dalam melakukan suatu kegiatan yaitu
faktor predisposisi yaitu faktor internal dalam diri manusia, faktor pendukung
yaitu faktor dukungan lingkungan fisik sekitar perilaku dan faktor
pendorong/penguat yaitu berhubungan dengan penyediaan faktor kesehatan.
Maka dari tinjauan pustaka diatas maka dibuat kerangka teori dalam bentuk
skema seperti di bawah ini.
19
Skema 2.3:
Kerangka Teori
Faktor Predisposisi :
- Karakteristik lansia
- Umur
- Jenis kelamin
- Pendidikan
(L.Green dalam Notoatmodjo, 2005)
Faktor Pendukung :
- Obesitas
- Gaya Hidup
- Pengawasan Keluarga
(L.Green dalam Notoatmodjo, 2005)
Faktor Pendorong :
- Pengtahuan tentang
hipertensi
- Sikap terhadap hipertensi
(L.Green dalam Notoatmodjo, 2005)
Hipertensi
Pengendalian baik:
1.Mengurangi konsumsi garam
2.Membatasi konsumsi lemak
3.Olahraga teratur
4.Makan banyak buah dan sayuran
segar
5.Tidak merokok dan tidak
mengkonsumsi minuman
beralkohol
6.Melakukan relaksasi atau
meditasi,
7.Berusaha membina hidup yang
positif
(Muhamadun,2011)
Sehat
Sakit
Pengendalian tidak baik:
1. Tidak Mengurangi konsumsi
garam
2. Tidak Membatasi konsumsi
lemak
3. Tidak Olahraga teratur
4. Tidak makan banyak buah dan
sayuran segar
5. Merokok dan tidak
mengkonsumsi minuman
beralkohol
6. Tidak melakukan relaksasi atau
meditasi,
7. Tidak berusaha membina hidup
yang positif
(Muhamadun,2011)
Sakit