Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Daun tersusun atas sel-sel epidermis atas, jaringan mesofil, dan sel-sel epidermis bawah. Jaringan mesofil terdiri atas jaringan palisade dan jaringan bunga karang dengan ikatan pembuluh diantara sel epidermis bawah dengan stomata. Stomata merupakan jalan untuk berdifusi uap air dan gas-gas lainnya dari daun ke atmosfer dan sebaliknya. Oleh karena itu pengaturan membuka dan menutupnya stomata sangat penting dalam menjaga keseimbangan materi-materi tersebut, khususnya untu kepentingan daun. Pada dasarnya perilaku membuka dan menutupnya stomata terjadi akibat perubahan turgor sel-sel penutup stomata namun terdapat alternatif lain untuk mekanisme ini yaitu adanya pemompaan ion-ion aktif. Pada sel penutup stomata yang sedang terbuka dalam cahaya ternyata mengandung ion K+ dalam konsentrasi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan stomata yang tertutup dalam gelap (Salisbury dan Ross, 1992). Kehadiran ion Ca2+ pada sel menyebabkan kenaikan permeabilitas membran sel sehingga akan mempengaruhi ion K+ keluar dari dalam sel dan stomata akan menutup untuk memperjelas teori tersebut maka penelitian mengenai perubahan stomata (membuka dan menutupnya stomata) karena pengaruh ion K+ dan ion Ca2+ perlu untuk dilakukan.

1.2. Rumusan Masalah Bagaimana pengaruh ion K+ dan Ca2+ terhadap perilaku membuka menutupnya stomata stomata pada daun Diffenbachia sp.

1.3. Tujuan Penelitian Mengetahui pengaruh ion K+ dan Ca2+ terhadap perilaku membuka menutupnya stomata stomata pada daun Diffenbachia sp.

1.4. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini yaitu peneliti dapat mengetahui pengaruh ion K+ dan Ca2+ terhadap perilaku membuka menutupnya stomata stomata pada daun Diffenbachia sp.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Daun tersusun atas sel-sel epidermis atas, jaringan mesofil, dan sel-sel epidermis bawah. Jaringan mesofil terdiri atas jaringan palisade dan jaringan bunga karang dengan ikatan pembuluh diantara sel epidermis bawah dengan stomata. Stomata tumbuhan pada umumnya membuka pada saat matahari terbit dan menutup saat hari gelap sehingga memungkinkan masuknya CO2 yang diperlukan untuk fotosintesis pada siang hari. Proses pembukaan stomata memerlukan waktu 1 jam dan penutupannya berlangsung secara bertahap sepanjang sore. Stomata menutup lebih cepat jika tumbuhan ditempatkan dalam gelap secara tiba-tiba (Salisbury dan Ross, 1995). Terbukanya stomata pada siang hari tidak terhambat jika tumbuhan itu berada dalam udara tanpa karbon dioksida, yaitu keadaan fotosintesis tidak dapat terlaksana (Loveless, 1991). Membuka dan menutupnya stomata pada daun terjadi akibat adanya peristiwa turgor pada guard cell. Bergeraknya air dari epidermal cell ke dalam guard cell mengakibatkan turgor meningkat di dalam guard cell dan menimbulkan elastic straccking pada dinding guard cell. Dengan berkembangnya kedua guard cell ini mengakibatkan menutupnya stomata. Apabila tekanan turgor itu rendah, maka stomata tersebut akan membuka lagi. Membuka dan menutupnya stomata ditentukan oleh turgor yang terjadi pada guard cell (Zairif, 2012). Tekanan turgor pada sel penjaga sangat berkaitan erat dengan metabolisme penyerapan ion, terutama ion K+. Meningkatnya konsentrasi K+ pada sel penjaga, stomata membuka lebih lebar sebaliknya ketika menutup tidak terjadi akumulasi K+. Mekanisme membuka menutupnya stomata terutama tergantung pada akumulasi K+ pada sel stomata dan bukan semata-mata oleh adanya hidrolisis amilum menjadi gula sebagaimana dipercaya selama ini, hidrolisa amilum ini hanya faktor sekunder. Untuk akumulasi K+ ini disediakan sebagian oleh vakuola sel lateral dan sebagian lagi oleh sel epidermis. Akumulasi K+ ini akan berbalik bila stomata menutup, yaitu K+ berakumulasi di sel epidermis. Tidak ada perbedaan elektron potential yang menyolok antara setiap sel epidermis dan bagaimanapun keadaan stomata, K + ditransport secara aktif dan ketika stomata membuka atau menutup memerlukan energi (Awalbarri, 2009). Ion Ca2+ memiliki peranan dalam mekanisme pembukaan stomata. Hormon tumbuhan berperan sebagai pengatur kesetimbangan air melalui pengaruhnya terhadap gerakan stomata.

Gerakan stomata salah satunya dipengaruhi oleh perubahan konsentrasi Ca2+ internal. Konsentrasi Ca2+ meningkat mendahului respon stomata terhadap hormon. Hal ini disebabkan karena dikeluarkannya Ca2+ dari tempat penyimpanan seluler. Rhutenium red dan procaine merupakan zat yang menghambat pengeluaran Ca2+ dari penyimpanan intraseluler. Pada sel tumbuhan, vakuola mengandung Ca2+ dengan konsentrasi yang tinggi, sehingga saat saluran ion pada tonoplas terbuka, Ca2+ akan mengalir ke sitoplasma sehingga meningkatkan konsentrasi Ca2+ intraseluler. Rhutenium red akan mengurangi pengeluaran Ca2+ dengan cara menghambat cADP-ribosa yang merupakan perantara pada pengeluaran Ca2+ dari vakuola tumbuhan sedangkan procaine bekerja menghambat saluran yang melepaskan Ca2+ dari retikulum sarkoplasma dengan cara memperpanjang waktu menutupnya saluran ion. Dengan tertutupnya saluran ion maka Ca2+ tidak dapat dikeluarkan dari retikulum sarkoplasma ke sitoplasma sehingga konsentrasi Ca2+ intraselluler menjadi rendah. Hal ini menghambat pembukaan stomata oleh auksin ((Pharmawati, 2008) dalam (Setiono, 2010)). Beberapa faktor lingkungan dapat mempengaruhi proses membuka dan menutupnya stomata, yaitu : 1. Karbondioksida (CO2) Tekanan parsial CO2 yang rendah dalam daun akan menyebabkan pH sel menjadi tinggi. Pada pH yang tinggi (6-7) akan merangsang penguraian pati menjadi gula sehingga stomata terbuka. 2. Cahaya Dengan adanya cahaya maka fotosintesis akan berjalan, sehingga CO2 dalam daun akan berkurang dan stomata terbuka 3. Water Stress Apabila tumbuhan kekurangan air maka potensial air pada daun tersebut akan turun, termasuk sel penutupnya sehingga stomata akan tertutup. 4. Suhu Naiknya suhu akan meningkatkan laju respirasi sehingga kadar CO2 dalam daun akan meningkat sedangkan pH akan turun dan stomata menutup. 5. Angin Angin berpengaruh terhadap membuka dan menutupnya stomata secara tidak langsung. Dalam keadaan angin bertiup kencang, pengeluaran air melalui transpirasi seringkali melebihi kemampuan tumbuhan untuk menggantinya, akibatnya daun dapat mengalami kekurangan air sehingga turgornya turun dan stomata akan tertutup (Zairif, 2012).

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan metode observasi karena tidak adanya perlakuan dan variable-variabel penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan pengamatan secara langsung terhadap sampel yang ada.

3.2. Alat dan Bahan 3.2.1. Alat : 1. Mikroskop 2. Cover glass 3. Object glass 4. Petridisk 3.2.2. Bahan : 1. Larutan KCl dan CaCl2 0,2 M 2. Akuades 3. Daun Diffenbachia sp.

3.3. Prosedur Kerja 1. Membuat irisan-irisan bujur pada epidermis bawah daun Diffenbachia sp. 2. Irisan-irisan tersebut dibagi tiga kelompok, kemudian masing-masing kelompok direndam dalam akuades, larutan KCl dan CaCl2 dalam petridisk selama 3 jam. 3. Mengamati lebar stomata pada irisan daun tersebut setelah direndam, kemudian dibandingan antar tiga kelompok tersebut.

3.4. Rancangan Percobaan daun Diffenbachia sp. Diiris membujur Direndam dengan akuades, larutan KCl dan CaCl2 selama 3 jam

Didokumentasikan

Diamati lebar stomata

BAB IV HASIL, ANALISIS DATA, DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil 4.2. Analisis Data Diagram 1. Pengaruh kepekatan larutan gula terhadap imbibisi biji kacang tanah

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan yaitu pemberian berbagai kepekatan berat yang sama yaitu sebesar 0,3 gram. Biji mampu menyerap air lebih banyak jika dibandingkan dengan larutan glukosa dengan berbagai konsentrasi. 4.3. Pembahasan Berdasarkan penelitian dan analisis data yang telah dilakukan maka kepekatan atau airnya sehingga air berdifusi dari dalam sel menuju ke lingkungan sekitar akibatnya

BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa

DAFTAR PUSTAKA

Awalbarri,

2009.

Keseimbangan

Air

dalam

Tanah.

Online.

Web

publikasi:http://awalbarri.wordpress.com/2009/02/26/keseimbangan-air-dalamtanaman/. Diakses pada tanggal 16 November 2013. Loveless, 1991. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik Jilid I. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. Salisbury dan Ross, 1992. Plant Physiologi. California : Wadsworth Publishing Company. Salisbury dan Ross, 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Penerjemah : Dian R. Lukman dan Sumaryono. Bandung : ITB. Setiono, 2010. Mekanisme Membuka dan Menutup Stomata. Online. Web

publikasi:http://setiono774.blogspot.com/2010/11/mekanisme-membuka-dan-menutupstomata.html. Diakses pada tanggal 16 November 2013. Zairif, 2012. Mekanisme Membuka Menutupnya Stomata. Online. Web

publikasi:http://zairifblog.blogspot.com/2012/05/mekanisme-membuka-danmenutupnya.html. Diakses pada tanggal 16 November 2013.

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU HARA Pengaruh Ion K+ dan Ca2+ Terhadap Perubahan Stomata Daun Diffenbachia sp.

Oleh RATIH IGA LESTARI NIM : 113244210

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI 2013