Anda di halaman 1dari 5

Nama : Arman Suntoro NIM 1.

Wawancara Konseling Untuk melakukan wawancara konseling, konselor menggunakan langkah kerja/fase-fase agar apa yang akan dibicarakan dan diselesaikan bersama konseli dapat tersusun secara sistematis. Berikut adalah beberapa langkah dalam proses konseling menurut para ahli. 1. Mears dan Thorne (dalam McLeod, 2008:366) Ada tiga fase dalam proses konseling, yaitu: a. b. c. 2. a. b. Fase awal : membantu konseli mengenali dan menjernihkan situasi masalah. Fase tengah : mengembangkan program untuk situasi yang konstruktif. Fase akhir : mengimplementasikan target. Williamson (Koestoer, 1984:58) Analisis : pengumpulan data dari berbagai sumber. Sintesis : meringkas dan menyusun data yang menampakkan sifat-sifatnya yang bernilai, kekuatan, kekurangan, tanggung jawab, kesesuaian dan ketidaksesuaian. c. Diagnosis : memformulasikan konklusi-konklusi tentang sifat-sifat dan sebab-sebab masalah yang ditampilkan konseli. d. Prognosis : meramalkan masa depan perkembangan masalah siswa, sejauh mana hal itu dapat mengadakan perubahan-perubahan tingkah laku siswa yang lebih baik. e. Tindak lanjut : membantu siswa dengan masalah-masalah baru atau masalah lama yang muncul kembali. 3. a. b. c. d. e. Winkell (1991:227) Fase pembukaan, Fase penjelasan masalah, Fase penggalian masalah, Fase penyelesaian masalah, dan Fase penutup. : 1301413008

Dari beberapa model fase/langkah kerja dalam proses konseling yang dijelaskan oleh para ahli tersebut, berikut langkah kerja/fase-fase untuk mengadakan wawancara konseling, yaitu: 1. Hubungan Awal Hubungan awal diletakkan pada dasar untuk membangun hubungan pribadi dengan konseli yang nantinya akan mendukung proses wawancara konseling yang baik. Hal yang dilakukan konselor dalam hubungan awal adalah sebagai berikut: 1. Menyambut kedatangan konseli dengan sikap ramah, senyuman, dan bahasa-bahasa yang lembut. 2. Mempersilahkan konseli duduk. 3. Konselor mengajak konseli berbasa-basi. Dalam hal ini, basa-basi yang dimaksud kiranya sesuai dengan konteks yang terhangat saat itu atau konteks mengenai seputar kehidupan konseli, misalnya basa-basi dalam hal kegiatan yang baru saja konseli lakukan, hobi, atau

kebiasaannya. Dalam basa-basi ini konselor harus pandai mengatur waktunya, basa-basi yang terlalu lama juga tidak baik. 4. Jika konseli datang karena dipanggil, konselor wajib menjelaskan alasan konseli dipanggil. Jika ada peraturan khusus yang menjadi syarat bagi konseli, konselor juga perlu menjelaskannya. Jika konseli datang karena kesadarannya sendiri, konselor tidak perlu menjelaskan alas an konseli dipanggil. 5. Konselor mempersilahkan konseli untuk mengungkapkan masalahnya.

2. Penjelasan Masalah Konseli mengungkapkan hal yang ingin dibicarakan dengan konselor. Inisiatif berada di pihak konseli. Konseli bebas mengutarakan apa yang akan diungkapkan. Sambil mendengarkan ungkapan masalah konseli, konselor mulai menentukan pendekatan yang tepat terhadap masalah konseli tersebut. 3. Penggalian Masalah Di dalam penjelasan masalah biasanya konseli hanya mengungkapkan hal-hal pokok yang menjadi beban pikiran dan perasaannya. Penggalian masalah dipakai untuk mengungkapkan lebih dalam masalah konseli. Penggalian ini tentunya akan disesuaikan dengan masalah dan pendekatan yang digunakan dalam konseling. Menurut Winkell (1991:339-370), beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk melakukan penggalian masalah terhadap masing-masing pendekatan adalah sebagai berikut:

1. Behavioristik Konselor menggali informasi yang lebih dalam dari konseli. Data-data yang akan digali terkait dengan kejadian pada masa sekarang, pengalaman-pengalaman negative yang pernah dialami pada masa lalu, perasaan-perasaan sekarang, perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan pada kejadian masa lalu, apa yang dipikirkan pada saat sekarang, apa yang dipikirkan pada masa lalu ketika mengalami kejadian yang kurang menyenangkan, dan konsekuensi yang diterima setelah kejadian. Dengan demikian, alur yang akan dipakai oleh konselor adalah: A (antecedent) B (behavior) C (consequence) 2. Konseling Terapi Emotif Konselor menggali informasi yang lebih dalam dari konseli. Data-data yang akan digali terkait dengan kejadian tertentu (activating event, activating experience), tanggapan terhadap kejadian yang dialami konseli (belief) yang menimbulkan pikiran irasional dari setelah kejadian itu direspons, akibat pandangan irasional (consequence). 3. Wawancara Pengambilan Keputusan Konselor menggali informasi yang lebih dalam dari konseli. Data-data yang akan digali terkait dengan asal usul masalah konseli, unsur penting (pokok) yang mendukung munculnya konflik konseli,

perasaan-perasaan dan pikiran konseli, dan orang-orang yang terlibat sehingga ikut memunculkan konflik konseli. 4. Konseling Sifat dan Faktor Konselor menggali informasi yang lebih dalam dari konseli. Data-data yang akan digali terkait dengan asal usul masalah konseli, data pribadi tentang konseli (cita-cita, kemampuan kognitif, bakat khusus, sifat-sifat positif dan negative dalam diri konseli, nilai-nilai hidup yang diperjuangkan, hobi, harapanharapan untuk masa depan, perguruan tinggi yang diinginkan), dan data tentang keluarga konseli (pekerjaan orangtua, jumlah saudara, harapan orangtua terhadap perguruan tinggi). 5. Konseling Wawancara Penyesuaian Diri Konselor menggali informasi yang lebih dalam dari konseli. Data-data yang akan digali terkait dengan unsur-unsur yang mendukung munculnya konflik konseli, yaitu data tentang keluarga, lingkunganlingkungan luar tempat konseli tinggal, perasaan, dan pikiran yang dialami.

4. Penyelesaian Masalah Konselor dan konseli membahas pilihan-pilihan yang akan dibuat oleh konseli. Konselor akan menuntun konseli agar semakin terbuka untuk berani mengambil keputusan terhadap masalahnya. Menurut Winkell (1991:339-370), beberapa strategi yang bisa digunakan untuk melakukan penggalian masalah pada masing-masing pendekatan adalah sebagai berikut:

1. Behavioristik Konselor menjelaskan sumber masalah yang dialami konseli, bahwa pengalaman pada masa lalu mempengaruhi proses belajar sekarang. Konselor mengajak konseli untuk berperilaku baru yang lebih realistic dengan menggali pengalaman-pengalaman positif di masa lalu. Pengalaman positif inilah yang akan dijadikan patokan konseli untuk memiliki kognisi yang baru. Dengan demikian, konseli akan merencanakan tindakan-tindakan konkret yang lebih baik. 2. Konseling Terapi Emotif Konselor menjelaskan sumber masalah yang dialami konseli. Konselor memberikan pandanganpandangan yang akan mengubah pikiran irasional konseli. Untuk mengubah pandangan tersebut, konselor menentang pikiran irasional (dispute) konseli dengan pertanyaan-pertanyaan. Dengan demikian, konseli diharapkan akan mengubah pandangan irasionalnya (efek). 3. Wawancara Pengambilan Keputusan Konselor menjelaskan sumber masalah yang dialami konseli. Konselor mengajak konseli untuk membuat/menentukan norma/patokan mengenai hal-hal yang kiranya menjadi landasan dalam hidupnya. Konselor mengajak konseli untuk membuat perbandingan dengan melihat keuntungan (pro) dan kerugian (kontra) dengan beberapa pilihan yang menjadi kesulitannya. Selanjutnya, untuk mengarahkan konseli agar bisa memutuskan pilihannya, konselor memberikan pertanyaanpertanyaan pembanding. 4. Konseling Sifat dan Faktor

Konselor menjelaskan sumber masalah yang dialami konseli. Konselor mengajak konseli untuk membuat perbandingan dengan melihat keuntungan dan kerugian dengan beberapa pilihan yang menjadi kesulitannya. Memberikan pertanyaan-pertanyaan pembanding dengan kata mungkinkah, inginkah, dan bisakah. Selanjutnya, konselor mengarahkan konseli agar bisa memutuskan pilihannya. 5. Konseling Wawancara Penyesuaian Diri Konselor menjelaskan sumber masalah yang dialami konseli. Konselor menanyakan sesuatu yang ideal yang diharapkan konseli, mengajak konseli untuk menemukan sikap yang tepat untuk menyesuaikan dirinya sehingga akhirnya konseli menemukan pilihanyang tepat bagi dirinya. 6. Hubungan Akhir Jika konseli sudah merasa mantap dengan keputusannya selama konseling, pertemuan dapat diakhiri. Konselor memberikan ringkasan dari apa yang sudah dibicarakan sejak awal sampai akhir. Ringkasan ini dapat dilakukan oleh konseli atau konselor. Jika pertemuan dirasa belum selesai, konselor dan konseli dapat membuat janji lagi sesuai dengan jadwal dan waktu yang telah disepakati bersama. 7. Tindak Lanjut (Follow Up) Meskipun wawancara konseling sudah berakhir, konselor wajib memantau konseli untuk melihat perkembangan yang sudah terjadi dalam dirinya. Kegiatan ini juga bisa dilakukan secara terjadwal sesuai waktu yang telah disepakati. Hal yang dilakukan adalah mengevaluasi keberhasilan konseli dalam melaksanakan alternatif pilihan/keputusan yang telah disepakatinya.

2. Persiapan Konseling Untuk mengadakan konseling, seorang konselor harus melakukan persiapan agar proses konseling bisa berjalan dengan baik. Adapun persiapan yang harus dilakukan konselor adalah sebagai berikut: 1. Persiapan pribadi konselor Persiapan pribadi konselor mencakup hal-hal yang sifatnya fisik maupun psikologis. Hal-hal yang sifatnya fisik: Cara berpakaian; konselor tampak lebih berwibawa dan menarik ketika menghadapi konseli jika mengenakan pakaian yang rapi, bersih, dan tidak berbau. Penampilan; penampilan yang rapi akan membuat konselor menjadi semakin percaya diri. Penampilan yang dimaksud adalah wajah yang tidak kusut/muka bersih, rambut rapi, sepatu yang layak, kuku tangan yang bersih, dan mulut yang tidak bau.

Hal-hal yang sifatnya psikologis: Persiapan mental; konselor harus siap menghadapi konseli dengan karakter yang berbedabeda. Konselor tidak boleh minder, takut, jijik, subjektif/pilih-pilih (jika tidak sesuai selera, konseli tidak dilayani). Tidak sedang bermasalah: konselor yang sedang menghadapi masalah dan masih terhanyut dalam masalahnya tersebut akan sulit membantu konseli.

2. Persiapan data Secara professional, sebelum melakukan wawancara konseling, konselor harus siap dengan datadata yang ada, misalnya hasil tes psikologis konseli, nilai rapor, data orangtua, catatan-catatan harian siswa, data dari pengamatan sehari-hari, dan sebagainya. Dengan mempersiapkan banyak data, konselor akan kaya pemahaman untuk membantu konseli. 3. Persiapan ruang konseling Konselor harus mempunyai ruang khusus untuk konseling. Ruang konseling tidak sama dengan ruang kerja pribadi. Ruang konseling harus terasa nyaman dan membuat kerasan. Jika memungkinkan, ruang konseling bisa diberi tambahan hiasan dinding, bunga, dan sebagainya. Ruang konseling didesain agar pembicaraan yang dilakukan tidak mudah didengar oleh orang lain yang berada di luar ruang konseling. Kursi dan meja untuk konseling diatur sedemikian rupa sehingga membuat konselor dan konseli merasa nyaman.

3. Teknik Rapport Teknik Rapport dalam konseling merupakan suatu kondisi saling memahami dan mengenal tujuan bersama. Tujuan utama teknik ini adalah untuk menjembatani hubungan antara konselor dengan klien, penerimaan dan minat yang mendalam terhadap klien dan masalahnya. Melalui teknik ini akan tercipta hubungan yang akrab antara konselor dan klien yang ditandai dengan saling mempercayai. Implementasi teknik rapport dalam konseling adalah: (1) pemberian salam yang menyenangkan (2) menetapkan topik pembicaraan yang sesuai (3) suasana ruang konseling yang menyenangkan (4) sikap yang ditandai dengan: (a) kehangatan emosi (b) realisasi tujuan bersama (c) menjamin kerahasiaan klien (d) kesadaran terhadap hakikat klien secara alamiah.

Daftar Pustaka : http://lelyokvitasari.blogspot.com/2012/04/psikologi-konseling.html http://siskacounseling.wordpress.com/teknik-konseling/1-teknik-rapport/