Anda di halaman 1dari 11

PERMASALAHAN KOMUNIKASI ORANG TUA DENGAN ANAK BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah.

Modernitas memang memaksa orang bergerak cepat, atau tertinggal. Rutinitas yang senantiasa bergerak cepat berpengaruh terhadap keluarga, tempat berangkat dan kembali. Kemudian, bagaimana juga dengan komunikasi orang tua dan anak, tentu semakin berjarak. Kesempatan untuk saling memahami dan mendalami akan semakin sempit. Tak heran jika banyak orang tua yang kaget melihat perkembangan anaknya. Tiba-tiba anaknya ditangkap polisi karena narkoba, tiba-tiba jadi anak yang pendiam, pemarah, pemurung dan masih banyak hal yang tiba-tiba, menunggu para orangtua di rumah. Jika orangtua memberikan respon yang salah terhadap sesuatu yang tiba-tiba itu, malahan bisa menjadi pemicu bertambah retaknya keluarga. Dari peristiwa itu, anak juga tidak dapat di salahkan, karena peristiwa tersebut tidak lepas dari pengaruh lingkungan keluarga, yang mana merupakan awal terbentuknya pendidikan terhadap si anak yang sangat berpengaruh terhadap diri mereka itu sendiri di masa mendatang. Dalam makalah ini, kami membahas tentang bagaimana mencegah agar peristiwa itu tidak terjadi dalam kehidupan berkeluarga. Sebab pendidikan yang kurang tepat, akan membuat diri anak menjadi mudah terpengaruh terhadap lingkungan, baik dari pengaruh positif dan pengaruh negatif. Sebagai contoh, jika orang tua kurang memperhatikan anaknya didalam keluarga, dengan kata lain anak kurang mendapat perhatian atau kasih sayang, maka dampaknya, anak yang dibesarkan dalam lingkungan orang tua yang tidak komunikatif tersebut kemungkinan besar akan mencari bentuk perhatian ke lingkungan lain, misalnya: di lingkungan sekolah atau lingkungan teman sebayanya. Sehingga pencarian perhatian itu akan di ungkapkan dengan perbuatan yang biasa disebut dengan kenakalan remaja. B. Rumusan Masalah Apa Fungsi komunikasi bagi orang tua dan anak? Apakah masalah umum yang timbul bagi komunikasi antar orang tua dengan anak? Apa sajakah faktor-faktor yang menyebabkan masalah tersebut timbul? Bagaimana Solusi untuk menangani permasalahan tersebut? C. Tujuan Pembahasan 1. Untuk mengetahui Fungsi komunikasi bagi orang tua dan anak. 2. Untuk mengetahui masalah umum yang timbul bagi komunikasi antar orang tua dengan anak. 3. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan masalah tersebut timbul. 4. Mengetahui Solusi untuk menangani permasalahan tersebut. BAB II PEMBAHASAN A. Fungsi Komunikasi Bagi Orang Tua Dan Anak Komunikasi antara orang tua dan anak sangatlah penting bagi perkembangan jiwa dan

pembentukan jati diri seorang anak. Menurut Henny, jika orangtua tidak merasa nyaman maka orangtua juga tidak akan bisa menumbuhkan rasa nyaman pada anak. Padahal rasa nyaman penting untuk melaksanakan komunikasi. Oleh sebab itu orangtua haruslah mampu berkomunikasi dengan baik terhadap anaknya, agar tidak terjadi kesalahpahaman serta dapat terjalin hubungan yang baik antara orang tua dan anak. Bentuk komunikasi orang tua dan anak tidak hanya berwujud pembicaraan antara orang tua dan anak saja tetapi juga gerak-gerik fisik orang tua atau sikap dan perasaan orang tua terhadap anak. [1] Dengan adanya bentuk komunikasi yang beragam, orang tua haruslah bijak dalam berbicara dan bertingkah laku, karena semua yang dilakukan oleh orang tua tanpa disadari akan di contoh oleh anaknya. Banyak anak akan disiplin dalam dalam semua kehidupannya karena mereka mencontoh perilaku orang tuanya, hal ini mereka dasari dari mencontoh dan melihat, tidak sekedar orang tua menyuruh dalam memberi suatu perintah kepada anaknya. Sikap saling menghargai antara orang tua dan anak akan memberi nilai lebih pada keluarga dan lingkungannya dan komunikasi yang efektif akan menjadi jembatan yang bernilai lebih antara orang tua dan anak-anaknya. Dengan adanya komunikasi yang baik dan terarah, orang tua dapat mendidik anak-anaknya dengan lebih bijak dan memberikan kebebasan berkreatifitas kepada mereka agar mereka dapat berkembang cemerlang menjadi dirinya sendiri di masa depan. B. Permasalahan Yang Terjadi Hubungan yang terjadi di dalam keluarga biasanya dilakukan melalui suatu kontak sosial dan komunikasi. Kedua hal ini merupakan syarat terjadinya suatu interaksi sosial. Dengan kata lain, interaksi yang sesungguhnya dapat diperoleh melalui kontak sosial dan komunikasi. Menurut Suhendi komunikasi berarti memiliki tafsiran terhadap perilaku orang lain yang berwujud pembicaraan, gerak-gerik badaniah, atau sikap dan perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. Anak akan memiliki sikap yang berbeda terhadap orang tuanya. Sebagian anak ada yang mempersepsikan orang tuanya adalah segala-galanya. Tak heran mereka meniru semua perilaku orang tuanya. Namun, sebagian lagi ada yang mempersepsikan orang tuanya sangat kejam, sadis, dan tidak mau mengerti dengan kehendak anak. Dari dua sisi sikap yang berbeda tersebut (positif dan negatif) dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa sikap yang dimiliki oleh para anak akibat dari proses interaksi yang terjadi di dalam keluarga. Bagi anak yang mempersepsikan orang tuanya adalah segala-galanya, kita dapat menafsirkan bahwa orang tua si anak tersebut memang telah memperhatikan dengan baik mengenai pendidikan serta kasih sayang yang di berikan terhadap si anak, dengan demikian anak pun akan tetap merasa diperhatikan dan kebutuhan akan kasih sayang terhadapnya pun terpenuhi. Namun bagaimanakah dengan anak yang mempersepsikan orang tuanya sangat kejam, sadis, dan tidak mau mengerti dengan kehendak anak? Hal ini jelas sangatlah berpengaruh terhadap diri mereka. Kurangnya perhatian terhadap anak akan menyebabkan anak menjadi mudah terpengaruh terhadap lingkungan, baik dari pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh liungkungan yang baik mungkin akan berdampak baik bagi diri mereka, Namun yang menjadi masalah adalah pengaruh negative dari lingkungan. Sebagai contoh, jika orang tua kurang memperhatikan anaknya didalam keluarga, dengan kata lain anak kurang mendapat perhatian atau kasih sayang, maka dampaknya anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang

tidak komunikatif tersebut kemungkinan besar akan mencari bentuk perhatian ke lingkungan lain, misalnya: di lingkungan sekolah atau lingkungan teman sebayanya. Sehingga pencarian perhatian itu akan di ungkapkan dengan perbuatan yang biasa disebut dengan kenakalan remaja. [2] C. Faktor Yang Menjadi Penyebab Timbulnya Masalah Dari masalah di atas yang menjadi sebab timbulnya faktor permasalahan itu adalah sebagai berikut: 1. Kurangnya Perhatian dan Kasih Sayang Terhadap Anak. Kurangnya perhatian orang tua kepada anak menyebabkan kurangnya kasih sayang yang di terima oleh. Anak seharusnya mendapat kasih sayang yang lebih terutama pada masa kecil mereka, yang mana penuh pengan pembentukan kepribadian. Seperti yang di jelaskan sebelumnya apabila anak kurang mendapat perhatian atau kasih sayang yang seharusnya di berikan opleh orang tua mereka, maka dampaknya anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang tidak komunikatif tersebut kemungkinan besar akan mencari bentuk perhatian ke lingkungan lain, misalnya: di lingkungan sekolah atau lingkungan teman sebayanya. Sehingga pencarian perhatian itu akan di ungkapkan dengan perbuatan yang biasa disebut dengan kenakalan remaja. [3] 2. Pemaksaan Kehendak Oleh Orang Tua Kepada Anak. Anak yang menganggap orang tuanya kejam, mungkin berpikiran bahwa orang tuanya merebut hak mereka. Mungkin Maksud sebenarnya dari orang tua itu baik, namun kurang tepat dalam plaksanaannya. Sebagai contoh Andi memiliki kebiasaan yang buruk yakni suka menghabiskan uang jajannya alias menghaburkan uang. Karena itu orang tua Andi mengurangi jatah uang jajan Andi karena ia berlaku boros. Dalam kasus ini mungkin orang tua Andi bertujuan baik, namun bagi Andi ini merupakan pemaksaan kehendak dan penghapusan hak Andi untuk mendapatkan uang saku yang seharusnya. Dari kasus ini maka dapat di simpulkan bahwa dalam memecahkan berbagai masalah harus berdasarkan pada pertimbangan win-win solution. Artinya orangtua di sini tidak boleh otoriter, tapi harus melihat jalan terbaik untuk kedua belah pihak. Anak dari orang tua yang otoriter umumnya hanya merasa takut.Di depan orangtua anakanak akan mengikuti perintahnya karena khawatir di marahi, namun di belakang orangtuanya anak tersebut akan tumbuh menjadi anak yang pemberontak dan cenderung keras kepala atau sebaliknya, malah menjadi anak yang penakut dan menarik diri.[4] 3. Kurangnya Komunikasi antara Orang tua dengan anak. Kemampuan berkomunikasi secara cerdas, menentukan keberhasilan suatu pendidikan. Suatu tujuan baik bisa diterima menjadi tidak baik, apabila komunikasi berlangsung secara tidak baik, mengakibatkan, sesuatu yang mestinya bisa berhasil, bisa menuai kegagalan total hanya lantaran komunikasi berjalan tidak dengan efektif. Pendidikan orang tua kepada anak yang mestinya bertujuan baik menjadi gagal dan mungkin diterima anak tidak sesuai dengan yang di berikan orang tua. Sementara itu, para ahli berpandangan bahwa upaya mengembangkan kemampuan berkomunikasi, mesti dilakukan sejak dini. Artinya, sejak seseorang masih anakanak. Dan pihak yang paling bertanggungjawab untuk tujuan ini, tiada lain adalah para orang tua anak-anak itu sendiri. Proses komunikasi efektif antara orangtua dengan anak, sangat

membantu anak memahami dirinya sendiri, perasaannya, pikirannya, pendapatnya dan keinginan-keinginannya. Anak dapat mengidentifikasi perasaannya secara tepat sehingga membantunya untuk mengenali perasaan yang sama pada orang lain. D. Solusi Seperti yang telah di jelaskan di atas bahwa Kemampuan berkomunikasi secara cerdas, menentukan keberhasilan suatu pendidikan. Suatu tujuan baik bisa diterima menjadi tidak baik, apabila komunikasi berlangsung secara tidak cerdas, atau dengan kata lain berlangsung tidak baik, mengakibatkan, sesuatu yang mestinya bisa berhasil, bisa menuai kegagalan total hanya lantaran komunikasi berjalan tidak dengan efektif. Oleh karena itu untuk mencegah agar masalah itu tidak terjadi, maka berikut tiga kiat yang bisa ditempuh para orangtua untuk membangun komunikasi secara efektif dengan putra-putrinya. 1. Menggunakan Bahasa Penerimaan Dalam Berkomunikasi Dalam membina hubungan komunikasi dengan anak, orangtua mesti lebih mengutamakan konteks penerimaan daripada tuntutan. Maksudnya adalah, Komunikasi yang tidak sejajar hanya akan hanya akan membuat anak tertutup, takut dan berkomunikasi tidak akan menjadi proses belajar yang efektif. Dengan kata lain apapun yang dikemukakan anak, harus di terima sebagai suatu informasi yang berguna, layaknya benda mungil senilai berlian. Hindari untuk tergesa merespon dengan penolakan, atau apalagi dengan ancaman untuk memberi hukuman. [5] Sebagai misal, bila anak mengeluh atas beratnya pelajaran di sekolah, tidak semestinya orangtua langsung memotong dengan komentar. Segala bentuk komentar justru akan memutus keberlangsungan komunikasi. Anak bahkan jadi patah semangat, dan pupuslah hasrat untuk mengutarakan lebih lanjut berbagai masalah yang mereka alami atau mungkin bakal mereka hadapi. Oleh karena itu kita harus dapat dan mampu menerima dengan tangan terbuka segala beban perasaan yang ditumpahkan anak lewat kejujuran emosionalnya, meski dalam bentuk suatu keluhan. Kejujuran untuk mengutarakan perasaan itulah yang mahal di era masa kini. Umumnya orangtua cenderung menggiring anak untuk bermental super-patuh yang sepenuhnya pantang mengeluh atas segala persoalan yang dialami atau dirasakannya. 2. Lakukan Proses Mendengar Aktif Dalam melakukan komunikasi dengan anak, upayakan untuk selalu memperoleh informasi sebanyak mungkin tentang permasalahan anak. Langkah terbaik, tentu saja dengan cara mendengar. Yakni mendengar segala macam persoalan yang dialami anak dalam kehidupannya sehari-hari. Apakah itu persoalan pelajaran di sekolah, persoalan dengan temantemannya, atau bahkan juga persoalan yang mungkin tersembunyi yang terjadi justru di dalam rumah.[6] Dengan kata lain, berbagai bentuk komunikasi lewat cara menggurui, menasehati, atau memberi instruksi atau perintah, dan lain sebagainya, sebaiknya hal ini kita hilangkan dan lebih kita gunakan cara mendengar secara aktif. Untuk ini, ada satu hal yang patut diingat. Guna menggali pemasalahan yang akan kita dengarkan dari anak, hendaknya kita hindarkan pertanyaan dengan kata Mengapa. Karena pertanyaan Mengapa berdampak memojokkan. Anak bisa seolah tersudut, dan justru mengalami kesulitan untuk menjawab apalagi mengungkapkan problem kejiwaannya secara leluasa.

3. Sering mengadakan dialog dan pembicaraan antara orang tua dan anak dengan rasa nyaman. Dalam berkomunikasi dengan anak, hindarkan kecenderungan orangtua harus menang. Hanya karena kita orangtua, maka posisi kita seolah harus di atas. Orangtua seakan harus serba dituruti, dan anak harus patuh. Sehingga dalam komunikasi sehari-hari, yang ada hanyalah orangtua memberi nasihat, atau bahkan perintah. Bila terjadi beda pendapat, maka tak boleh tidak orangtua yang harus menang. Pantang hukumnya, bila orangtua jadi pecundang. Komunikasi seperti itu tidak akan berlangsung lama. Anak akan kehilangan minat untuk melanjutkan dialog, dan berangsur putuslah jalinan komunikasi yang benar-benar efektif. Semestinya orangtua mengembangkan suasana dialog yang berlangsung antar-subyek. Artinya, posisi kita sebagai orangtua sejajar dengan anak, sama-sama sebagai subyek. Bukannya kita sebagai subyek dan anak kita anggap sebagai obyek semata. Dengan cara komunikasi demikian, memungkinkan anak akan lebih leluasa mengutarakan persoalan apa pun, tanpa ada beban mental yang dirasa berat, sebagaimana halnya kalau kita bertanya dengan gaya main perintah seperti yang pertama. Sehingga, kelanjutannya pun bakal kita rasakan benar, betapa komunikasi berlangsung secara lancar, indah, dan penuh makna. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Fungsi komunikasi bagi orang tua dan anak adalah agar tidak terjadi kesalah pahaman antara orang tua dan anak serta dapat menjalin hubungan yang baik dan erat antara orang tua dan anak. Malah umum yang timbul dalam komunikasi antara orang tua dan anak adalah Kurangnya perhatian orang tua kepada anak yang mengakibatkan anak akan mencari bentuk perhatian ke lingkungan lain, sehingga anak akan mengungkapkannya dengan perbuatan yang biasa disebut dkenakalan remaja. Faktor yang menyebabkan timbulnya permasalahan antara komunikasi orang tua dengan anak adalah: a) kurangnya Perhatian dan kasih sayang terhadap anak, b) pemaksaan Kehendak Oleh orang tua kepada anak, c) serta Kurangnya Komunikasi antara Orang tua dengan anak. Solusi atau langkah-langkah yang di tempuh untuk menangani masalah komunikasi orang tua dengan anak adalah: a) Menggunakan bahasa penerimaan dalam berkomunikasi, b) Melakukan proses mendengar aktif, c) Sering mengadakan dialog dan pembicaraan antara orang tua dan anak dengan rasa nyaman. B. SaranDalam pembuatan makalah Komunikasi orang tua dengan Anak ini kami telah berusaha semaksimal mungkin. Kami yakin makalah yang kami buat masih jauh dari kesempurnaan. Apabila ada kesalahan baik kata maupun isi dalam makalah ini, kami harap pembaca memakluminya. Oleh karena itu saran dan kritik sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

[1] KOMPAS, Membangun Komunikasi Bijak Orangtua dan Anak,(Jakarta: Kompas media nusantara, 2007),4. [2] Tarmizi.wordpress.com/interaksi dan komunikasi dalam keluarga. [3] Ibid, tarmizi wordpress.com [4] Kendariekspress.com [5] Ibid, Kompas,membangun komunikasi..., hal 5 6 Homeschoolingberkemas.blogspot.com/kiat-kiat berkomunikasi dengan anak.

DAFTAR PUSTAKA Kompas. 2007. Membangun Komunikasi Bijak Orang Tua Dan Anak. Jakarta: Kompas Media Nusantara. Homeschoolingberkemas.blogspot.com/kiat-kiat berkomunikasi dengan anak. Tarmizi.wordpress.com/interaksi dan komunikasi dalam keluarga Kendariekspress.com http://sagiyantaruna.blogspot.com/2009/06/permasalahan-komunikasi-orang-tua.html
Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang. Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion,

moratorium, foreclosure, dan identity achieved (Santrock, 2003, Papalia, dkk, 2001,
Monks, dkk, 2000, Muss, 1988). Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja.

Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:
kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan. ketidakstabilan emosi. adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya. Senang bereksperimentasi. Senang bereksplorasi. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.

Beberapa permasalahan utama yang sering dialami oleh remaja, yaitu:

Permasalahan Fisik dan Kesehatan


Permasalahan akibat perubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah dan akhir) permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/ keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-idola mereka. Permasalahan fisik ini sering mengakibatkan mereka kurang percaya diri. Levine & Smolak (2002) menyatakan bahwa 40-70% remaja perempuan merasakan ketidakpuasan pada dua atau lebih dari bagian tubuhnya, khususnya pada bagian pinggul, pantat, perut dan paha. Dalam sebuah penelitian survey pun ditemukan hampir 80% remaja ini mengalami ketidakpuasan dengan kondisi fisiknya (Kostanski & Gullone, 1998). Ketidakpuasan akan diri ini sangat erat kaitannya dengan distres emosi, pikiran yang berlebihan tentang penampilan, depresi, rendahnya harga diri, onset merokok, dan perilaku makan yang maladaptiv (& Shaw, 2003; Stice & Whitenton, 2002). Lebih lanjut, ketidakpuasan akan body image ini dapat sebagai pertanda awal munculnya gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia (Polivy & Herman, 1999; Thompson et al).

Dalam masalah kesehatan tidak banyak remaja yang mengalami sakit kronis. Problem yang banyak terjadi adalah kurang tidur, gangguan makan, maupun penggunaan obat-obatan terlarang. Beberapa kecelakaan, bahkan kematian pada remaja penyebab terbesar adalah karakteristik mereka yang suka bereksperimentasi dan berskplorasi.

Permasalahan Alkohol dan Obat-Obatan Terlarang


Penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang akhir-akhir ini sudah sangat

memprihatinkan. Walaupun usaha untuk menghentikan sudah digalakkan tetapi kasuskasus penggunaan narkoba ini sepertinya tidak berkurang. Ada kekhasan mengapa remaja menggunakan narkoba/ napza yang kemungkinan alasan mereka menggunakan berbeda dengan alasan yang terjadi pada orang dewasa. Santrock (2003) menemukan beberapa alasan mengapa remaja mengkonsumsi narkoba yaitu karena ingin tahu, untuk meningkatkan rasa percaya diri, solidaritas, adaptasi dengan lingkungan, maupun untuk kompensasi.
Pengaruh sosial dan interpersonal: termasuk kurangnya kehangatan dari orang tua, supervisi, kontrol dan dorongan. Penilaian negatif dari orang tua, ketegangan di rumah, perceraian dan perpisahan orang tua. Pengaruh budaya dan tata krama: memandang penggunaan alkohol dan obat-obatan sebagai simbol penolakan atas standar konvensional, berorientasi pada tujuan jangka pendek dan kepuasan hedonis, dll. Pengaruh interpersonal: termasuk kepribadian yang temperamental, agresif, orang yang memiliki lokus kontrol eksternal, rendahnya harga diri, kemampuan koping yang buruk, dll. Cinta dan Hubungan Heteroseksual Permasalahan Seksual Hubungan Remaja dengan Kedua Orang Tua Permasalahan Moral, Nilai, dan Agama

Lain halnya dengan pendapat Smith & Anderson (dalam Fagan,2006), menurutnya kebanyakan remaja melakukan perilaku berisiko dianggap sebagai bagian dari proses perkembangan yang normal. Perilaku berisiko yang paling sering dilakukan oleh remaja adalah penggunaan rokok, alkohol dan narkoba (Rey, 2002). Tiga jenis pengaruh yang memungkinkan munculnya penggunaan alkohol dan narkoba pada remaja: Salah satu akibat dari berfungsinya hormon gonadotrofik yang diproduksi oleh kelenjar hypothalamus adalah munculnya perasaan saling tertarik antara remaja pria dan wanita.

Perasaan tertarik ini bisa meningkat pada perasaan yang lebih tinggi yaitu cinta romantis (romantic love) yaitu luapan hasrat kepada seseorang atau orang yang sering menyebutnya jatuh cinta. Santrock (2003) mengatakan bahwa cinta romatis menandai kehidupan percintaan para remaja dan juga merupakan hal yang penting bagi para siswa. Cinta romantis meliputi sekumpulan emosi yang saling bercampur seperti rasa takut, marah, hasrat seksual, kesenangan dan rasa cemburu. Tidak semua emosi ini positif. Dalam suatu penelitian yang dilakukan oleh Bercheid & Fei ditemukan bahwa cinta romantis merupakan salah satu penyebab seseorang mengalami depresi dibandingkan dengan permasalahan dengan teman. Tipe cinta yang lain adalah cinta kasih sayang (affectionate love) atau yang sering disebut cinta kebersamaan yaitu saat muncul keinginan individu untuk memiliki individu lain secara dekat dan mendalam, dan memberikan kasih sayang untuk orang tersebut. Cinta kasih sayang ini lebih menandai masa percintaan orang dewasa daripada percintaan remaja. Dengan telah matangnya organ-organ seksual pada remaja maka akan mengakibatkan munculnya dorongan-dorongan seksual. Problem tentang seksual pada remaja adalah berkisar masalah bagaimana mengendalikan dorongan seksual, konflik antara mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan, adanya ketidaknormalan yang dialaminya berkaitan dengan organ-organ reproduksinya, pelecehan seksual, homoseksual, kehamilan dan aborsi, dan sebagainya (Santrock, 2003, Hurlock, 1991). Diantara perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja yang dapat mempengaruhi hubungan orang tua dengan remaja adalah : pubertas, penalaran logis yang berkembang, pemikiran idealis yang meningkat, harapan yang tidak tercapai, perubahan di sekolah, teman sebaya, persahabatan, pacaran, dan pergaulan menuju kebebasan. Beberapa konflik yang biasa terjadi antara remaja dengan orang tua hanya berkisar masalah kehidupan sehari-hari seperti jam pulang ke rumah, cara berpakaian, merapikan kamar tidur. Konflik-konflik seperti ini jarang menimbulkan dilema utama dibandingkan dengan penggunaan obat-obatan terlarang maupun kenakalan remaja. Beberapa remaja juga mengeluhkan cara-cara orang tua memperlakukan mereka yang otoriter, atau sikap-sikap orang tua yang terlalu kaku atau tidak memahami kepentingan remaja.

Akhir-akhir ini banyak orang tua maupun pendidik yang merasa khawatir bahwa anakanak mereka terutama remaja mengalami degradasi moral. Sementara remaja sendiri juga sering dihadapkan pada dilema-dilema moral sehingga remaja merasa bingung terhadap keputusan-keputusan moral yang harus diambilnya. Walaupun di dalam keluarga mereka sudah ditanamkan nilai-nilai, tetapi remaja akan merasa bingung ketika menghadapi kenyataan ternyata nilai-nilai tersebut sangat berbeda dengan nilai-nilai yang dihadapi bersama teman-temannya maupun di lingkungan yang berbeda. Pengawasan terhadap tingkah laku oleh orang dewasa sudah sulit dilakukan terhadap remaja karena lingkungan remaja sudah sangat luas. Pengasahan terhadap hati nurani sebagai pengendali internal perilaku remaja menjadi sangat penting agar remaja bisa mengendalikan perilakunya sendiri ketika tidak ada orang tua maupun guru dan segera menyadari serta memperbaiki diri ketika dia berbuat salah. Dari beberapa bukti dan fakta tentang remaja, karakteristik dan permasalahan yang menyertainya, semoga dapat menjadi wacana bagi orang tua untuk lebih memahami karakteristik anak remaja mereka dan perubahan perilaku mereka. Perilaku mereka kini tentunya berbeda dari masa kanak-kanak. Hal ini terkadang yang menjadi stressor tersendiri bagi orang tua. Oleh karenanya, butuh tenaga dan kesabaran ekstra untuk benar-benar mempersiapkan remaja kita kelak menghadapi masa dewasanya. http://netsains.com/2009/04/psikologi-remaja-karakteristik-dan-permasalahannya/

This

entry

was

posted

on

Thursday,

February

4th,

2010

at

2:58

pm

and

is

filed

underUncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to Permasalahan remaja


1.

CHESTER says:
July 3, 2010 at 7:55 am

Pillspot.org. Canadian Health&Care.No prescription online pharmacy.Best quality drugs.Special Internet Prices. No prescription pills. Order drugs online

Buy:Acomplia.Lipothin.Seroquel.Amoxicillin.Lipitor.Prozac.Female Cialis.Buspar.SleepWell.Aricept.Zocor.Zetia.Benicar.Female SR.Ventolin.Nymphomax.Lasix.Advair. Pink Viagra.Cozaar.Wellbutrin

https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=7&cad=rja&ved=0CFgQFjAG&url =http://mo2gi.student.umm.ac.id/2010/02/04/permasalahanremaja/&ei=VGlFUZa_LJDorQfxlIDYDw&usg=AFQjCNHlT7fqjcSDDDKJYX4PpFpLPlLP_A&bvm=bv.4382854 0,d.bmk http://books.google.co.id/books?id=gZ633M6V42AC&pg=PA6&dq=kecanduan+NAPZA+pada+remaja&hl =id&sa=X&ei=TFxFUZq6BYr3rQflr4CQBw&ved=0CCkQ6AEwAA#v=onepage&q=kecanduan%20NAPZA%2 0pada%20remaja&f=false

Anda mungkin juga menyukai