Anda di halaman 1dari 25

BAB I

LAPORAN KASUS KEDOKTERAN KELUARGA

Klinik Dokter Keluarga FK UNISMA Berkas Pembinaan Keluarga

No. Berkas No. RM Nama Pasien : Tn. A

: :

Tanggal kunjungan pertama kali

: 15 April 2013

KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA

Nama Kepala Keluarga Alamat lengkap Bentuk Keluarga

: Tn. A : JL LA Sucipto RT 05/ RW03, Malang : Nuclear Family

Tabel 1. Daftar Anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah No Nama Status L/P Umur Pendidikan Pekerjaan Pasien Klinik 1 Tn. L Ayah L 36 th D3 Pegawai Pabrik 2 Ny. L Ibu P 33 th SD Ibu Rumah Tidak Tangga 3 An. V Anak P 8 th SD Pelajar Tidak Ya ISPA Ket

4 An. A

Anak

2 th

Tidak

Sumber : Data Primer,15 April

2013

Kesimpulan : Keluarga Tn. A adalah nuclear family yang terdiri atas 4 orang dalam satu rumah. Terdapat satu orang sakit yaitu Tn. A, umur 36 tahun, beralamat di jalan LA Sucipto

RT 05/ RW03, Malang. Diagnosa klinis penderita adalah ISPA. Penderita adalah tamatan D3. Penderita adalah seorang ayah dan tinggal bersama istri dan kedua anaknya yang tinggal dalam satu rumah.

STATUS PASIEN

A. Identitas Pasien Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan Pendidikan Agama Alamat : Tn. A : 36 th : Laki-laki : Pegawai pabrik : D3 : Islam : JL LA Sucipto RT 05/ RW03, Malang

Status Perkawinan : Menikah Suku Tanggal periksa B. Anamnesis 1. Keluhan utama Harapan Kekhawatiran : Batuk berdahak : Pasien berharap keluhannya bisa cepat sembuh : Pasien takut apabila batuknya tak kunjung sembuh : Batuk berdahak dan susah tidur : Jawa : 15 April 2013

Riwayat penyakit sekarang

2. Riwayat penyakit dahulu Riwayat penyakit serupa : Pernah batuk, sesak dan panas dingin sejak waktu

kuliah. Dan pernah mengalami TBC sekitar 1 tahun yang lalu Riwayat sakit gula Riwayat penyakit jantung Riwayat hipertensi Riwayat sakit kejang Riwayat alergi obat : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

Riwayat alergi makanan

: disangkal

4. Riwayat penyakit keluarga Riwayat keluarga dengan penyakit serupa Riwayat hipertensi Riwayat sakit gula Riwayat penyakit jantung : nenek dan adik pernah batuk lama. : disangkal : disangkal : disangkal

5. Riwayat kebiasaan Riwayat merokok Riwayat minum alcohol Riwayat olah raga : 2pack/hari : dahulu waktu masih bekerja di hotel : jarang

Riwayat pengisian waktu luang : Ketika waktu luang sering dibuat untuk rekreasi karena masih mempunyai anak-anak yang masih kecil

6. Riwayat Sosial Ekonomi Sumber penghasilan utama pada keluarga adalah kepala keluarga atau pasien yang bekerja sebagai pegawai pabrik. Yang penghasilan tiap bulannya sekitar Rp. 1.600.000 dan masuk kriteria cukup untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Untuk biaya kesehatan, pasien menggunakan ASKES yang diberikan oleh perusahaan. 7. Riwayat gizi Penderita untuk makan sehari-hari biasanya tidak teratur tetapi paling tersering biasanya 2 kali dengan nasi sepiring, sayur, dan lauk pauk tahu, tempe, telur, ayam, daging. Buah-buahan jarang. Pasien biasanya minum kopi sekitar 4 kali dan susu 1 kali per harinya. 8.Riwayat pengobatan Untuk batuknya ini pasien diberikan obat ciprofloxacin 500mg 2x sehari dan paraflu 3x sehari.

C. Anamnesis Sistem 1. Kulit 2. Kepala : warna kulit sawo matang, pucat (-), gatal (-), kulit kering (- ). : rambut hitam,migren ( - )

3. Mata

: pandangan mata berkunag-kunang ( - ), penglihatan kabur ( - ), ketajaman penglihatan (-) / dalam batas normal

4. Hidung 5. Telinga 6. Mulut

: tersumbat ( - ), mimisan ( - ) : pendengaran berkurang ( - ), berdengung ( - ), keluar cairan ( - ) : sariawan ( - ), mulut kering ( - ) : sakit menelan ( - ), serak ( - ) : sesak nafas ( - ), batuk ( + )

7. Tenggorokan 8. Pernafasan

9. Kadiovaskuler : nyeri dada ( - ), berdebar-debar ( - ) 10. Gastrointestinal : mual (- ), muntah (- ), diare (- ), nyeri perut (-) 11. Genitourinaria : BAK lancar, warna dan jumlah dalam batas normal 12. Neurologik : kejang (- ), lumpuh (- ), kesemutan dan rasa tebal (- )

13. Muskuloskeletal : kaku sendi (- ), nyeri otot (- ) 14. Ekstremitas Atas kanan Atas kiri Bawah kanan Bawah kiri : : bengkak (- ), sakit (- ), luka (- ) : bengkak (- ), sakit (- ), luka (- ) : bengkak (- ), sakit (- ), luka (- ) : bengkak (- ), sakit (- ), luka (- )

D. Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan Umum: Pasien tampak sakit ringan, compos mentis (E4V5M6) dan kesan status gizi cukup. 2. Tanda Vital a. Tensi : 110/90 mmHg b. Nadi : 72 x/menit c. Pernafasan d. Suhu : 37C e. BB f. TB : 58kg : 168cm : 24 x/menit

g. BMI : 20,5 3. Kepala Bentuk mesocephal, tidak ada luka, rambut tidak mudah dicabut, makula ( - ), papula (- ), nodul ( - )

4. Mata Konjungtiva anemis ( - / - ), sklera ikterik ( - / -), reflek cahaya ( + / +), katarak ( - / - ) 5. Hidung Nafas cuping hidung ( - ), secret ( - ), epistaksis ( - ), deformitas ( - ), hiperpigmentasi ( ) 6. Mulut Bibir pucat ( - ), bibir kering ( - ), lidah kotor ( - ), tremor ( - ) 7. Telinga Nyeri tekan mastoid ( - ), secret ( - ), pendengaran berkurang ( - ) 8. Tenggorokan Sakit menelan ( - ), hiperemi ( - ) 9. Leher JVP tidak meningkat, trakea ditengah, pembesaran kelenjar tiroid ( - ), pembesaran kelenjar limfe ( - ), lesi pada kulit ( - ) 10. Toraks Simetris, bentuk normochest , retraksi (-), spider nevi (-), pembesaran kelenjar limfe ( - ) Cor : I : ictus cordis tak tampak P : ictus cordis tak kuat angkat P : batas kiri atas batas kanan atas batas kiri bawah batas kanan bawah : SIC II 1 cm lateral PSS : SIC II LPSD : SIC V 1 cm lateral LMSC : SIC IV LPSD

batas jantung kesan tidak melebar A : BJ I-II intensitas normal, regular, bising (-) Pulmo : statis (depan dan belakang) I : pengembangan dada kanan sama dengan kiri P : fremitus kanan sama dengan kiri P : sonor/sonor A : suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-), dinamis 11. Abdomen I : dinding perut sejajar dengan dinding dada

A : peristaltic (+) normal P : timpani seluruh lapang perut P : supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba 12. Sistem Collumna Vertebralis : Inspeksi Palpasi : deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-) : nyeri tekan (-)

13. Ektremitas: palmar eritema -/Akral dingin oedem ulkus -

14. Sistem genetalia: dalam batas normal 15. Pemeriksaan Neurologik : dalam batas normal 16. Pemeriksaan Psikiatrik : Penampilan Kesadaran Afek Psikomotor Proses pikir : sesuai umur, perawatan diri cukup : kualitatif tidak berubah, kuantitatif compos mentis : appropriate : normoaktif : bentuk : realistic Isi Arus Insight : baik : waham (-), halusinasi (-), ilusi (-) : koheren

E. Pemeriksaan Penunjang (Tidak ada data) PEMERIKSAAN PENUNJANG (DISARANKAN) Darah Lengkap Urine Lengkap Sputum F. RESUME

Laki-laki. Usia 36 tahun datang ke praktek dokter keluarga untuk periksa dengan keluhan batuk berdahak sejak 3 hari yang lalu dan susah tidur. Pasien mempunyai riwayat TBC dan sudah melakukan pengobatan selama 9 bulan. Hasil foto thorax tanggal 5 Desember 2012 adalah COR : bentuk dan ukuran dalam batas normal, Pulmo: Infiltrat proses + kedua apex paru, corakan bronchovaskular normal, kedua hilus normal, sinus phrenicocostalis kanan tak tampak, kiri normal dan hemidiaphragma normal dan kesimpulannya KP duplex minimal lesion. G. Diagnosa Holistik 1. Diagnosa dari segi biologis Tn A adalah pasien ISPA 2. Diagnosa dari segi psikologis Hubungan Tn. A dengan keluarganya sangat harmonis, saling mendukung dan saling pengertian. Hubungan dengan anak-anaknya pun berjalan dengan akrab.

3. Diagnosa dari segi social Tn. A adalah anggota masyarakat biasa dalam kehidupan masyarakat dan sering mengikuti pengajian dan beberapa kegiatan di daerah sekitar tempat tinggal mereka. a. Personal Keluhan Utama : batuk berdahak Harapan: Pasien berharap agar keluhannya bisa cepat sembuh Kekhawatiran: Pasien takut kalau keluhannya tak kunjung sembuh b. Klinis ISPA c. Resiko Internal Pola makan pasien tidak teratur, jarang olahraga, pasien mengkonsumsi kopi dan rokok, dan pasien tidak rutin minum obat batuk. d. Resiko Ekternal

Pasien memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan tetangga. Kebersihan dan kerapian tempat tinggal cukup baik. e. Fungsional Pasien tetap bisa beraktivitas seperti biasa, tidak ada kesulitan (derajat 1)

BAB II

IDENTIFIKASI FUNGSI KELUARGA

A. 1.

FUNGSI HOLISTIK Fungsi biologis Keluarga ini terdiri dari 4 orang anggota keluarga. Tn. A sebagai pasien adalah kepala keluarga . Pasien tinggal dengan seorang istri dan 2 orang anak yang masih kecil..

2.

Fungsi Psikologis Pasien adalah kepala keluarga. Hubungan Tn. A dengan anggota keluarga sangat baik, dimana satu sama lain saling mendukung, memperhatikan dan saling pengertian.

3.

Fungsi Sosial Keluarga ini tidak mempunyai kedudukan social tertentu di dalam masyarakat, hanya sebagai anggota masyarakat biasa. Penderita sering berkumpul dengan tetangga seperti pengajian, tahlilan dan ronda.

Kesimpulan Fungsi biologis, psikologis dan social dalam keluarga Tn.A cukup baik.

B.

FUNGSI FISIOLOGIS DENGAN APGAR SCORE Adaptation Kemampuan anggota keluarga tersebut beradaptasi dengan anggota keluarga yang lain, serta penerimaan, dukungan dan saran dari anggota keluarga yang lain. Partnership Menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi antara anggota keluarga dalam segala masalah yang dialami oleh keluarga tersebut Growth Menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang dilakukan anggota keluarga tersebut Affection Menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi antar anggota keluarga Resolve

Menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan dan waktu yang dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain.

A. Fungsi Fisiologis APGAR score Tn. A APGAR Tn. A Terhadap Keluarga Sering/ Kadang- Jarang/ selalu Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru Saya puas dengan cara keluarga mengekspresikan kasih sayangnya saya dan kadang Tidak

merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama

Ket erangan 0 1 2

: jarang/tidak sama sekali : kadang-kadang : sering/selalu

Untuk Tn. A APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut: Jumlah score: 8 ADAPTATION

Pasien mendapat dukungan dari keluarga untuk pergi periksa ke dokter ketika ada keluhan. Pasien merasa senang atas dukungan yang diberikan oleh keluarganya. PARTNERSHIP Pekerjaan pasien sebagai kepala keluarga dan pekerja dipabrik, tidak mengurangi hubungan dan komunikasi karena berada dalam satu rumah. GROWTH Tn.A merasa keluarganya terkadang mendukung apa yang dilakukan beliau apabila kegiatan-kegiatan itru mengarah pada kebaikan. AFFECTION Tn.A bisa mengekspresikan kasih sayangnya kepada Ny.L karena kedekatan, keterbukaan, komunikasi yang baik. RESOLVE Waktu yang tersedia bagi penderita dan keluarga untuk berkumpul sudah cukup baik

B. APGAR score Ny. L APGAR Ny.L Terhadap Keluarga Sering/ Kadang- Jarang/ selalu Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya bila saya menghadapi masalah Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan membagi masalah dengan saya Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan baru atau arah hidup yang baru Saya puas dengan cara keluarga mengekspresikan kasih sayangnya saya dan kadang Tidak

merespon emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll

Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya membagi waktu bersama-sama

Ket erangan 0 1 2

: jarang/tidak sama sekali : kadang-kadang : sering/selalu

Untuk Tn. A APGAR score dapat dijelaskan sebagai berikut: Jumlah score: 8 ADAPTATION Ny L terkadang mendapat dukungan dari keluarga untuk pergi periksa ke dokter ketika ada keluhan. Pasien merasa senang atas dukungan yang diberikan oleh keluarganya. PARTNERSHIP Pekerjaan Ny.L sebagai ibu rumah tangga, tidak mengurangi hubungan dan komunikasi karena berada dalam satu rumah. GROWTH Ny.L merasa keluarganya terkadang mendukung apa yang dilakukan beliau apabila kegiatan-kegiatan itru mengarah pada kebaikan. AFFECTION Ny.L sangat bisa mengekspresikan kasih sayangnya kepadaTn.A dan kedua putrinya karena kedekatan, keterbukaan, komunikasi yang baik. RESOLVE Waktu yang tersedia bagi penderita dan keluarga untuk berkumpul sudah cukup baik Kesimpulan: Fungsi fisiologis keluarga Tn. A baik

C. Fungsi Patologis Fungsi patologis dari keluarga Tn. A dinilai dengan menggunakan alat S.C.R.E.E.M sebagai berikut:

SUMBER Social

PATHOLOGY Meskipun menderita ISPA dan mempunyai riwayat TBC, Tn A Tidak mengalami hambatan untuk bersosialisasi dengan masyarakat setempat, masih bisa berkumpul dengan anggota keluarga seperti biasanya.

KET

Cultural

Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, dapat dilihat pada pergaulan penderita menggunakan bahasa jawa dalam kehidupan sehari-hari. -

Religius

Pemahaman terhadap ajaran agama cukup, demikian juga ketaatanya dalam beribadah. -

Economy

Ekonomi keluarga ini termasuk cukup, pendapatan dari gaji sudah mencukupi standart hidup layak sehari-hari. -

Education

Pendidikan terakhir adalah tamatan cukup mengerti dengan kondisi penyakitnya yaitu lulusan D3 -

Medical

Pasien mendapat pelayanan yg baik dalam kesehatan karena sudah dijamin dalam ASKES -

Kesimpulan: Keluarga Tn. A tidak ditemukan fungsi patologis.

D. GENOGRAM DALAM KELUARGA

AYAH

IBU

Keterangan

: : Laki-laki : Perempuan : Meninggal dunia : Pernah menderita TBC : Anak : Sesak nafas : Tinggal serumah : ISPA

Kesimpulan: Tidak ditemukan ISPA pada anggota keluarga lainnya.

E. Informasi pola interaksi keluarga Pola interaksi keluarga ;


Ny. L Tn. A

An. V

An, A

Keterangan: : hubungan baik : hubungan tidak baik : laki-laki : perempuan

Kesimpulan : Hubungan antara Tn. A sengan keluarga baik

BAB III

IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN

A. Identifikasi Faktor Perilaku Dan Non Perilaku 1. Faktor Perilaku Keluarga a. Pengetahuan Dalam struktur keluarga pasien merupakan kepala keluarga yang bekerja di perusahaan. Istri pasien seorang ibu rumah tangga dan mempunyai dua orang putri yang masih kecil. Pasien memiliki pengetahuan yang baik tentang kesehatan karena memiliki tingkat pengetahuan yang relative tinggi. Walaupun mengerti tentang kesehatan tetapi life style pasien sangat buruk, yaitu masih mengkonsumsi rokok dan kopi. b. Sikap Keluarga ini sangat peduli terhadap kesehatan penderita maupun anggota keluarga yang lain. Jika ada anggota keluarga yang menderita sakit, maka langsung diperiksakan ke dokter keluarga. c. Tindakan Pasien langsung pergi ke dokter keluarga apabila terdapat gejala batuk yang tak kunjung sembuh. Disamping itu, mereka sangat menjaga kesehatan lingkungan. Namun Tn.A mempunyai pola makan yang kurang teratur dan masih mengkonsumsi rokok dan kopi.

2. Faktor Non Perilaku Keluarga Keluarga Tn. A biasanya menggunakan dokter keluarga sebagai sarana untuk mendapatkan pelayanan kesehatan karena keluarga pasien menggunakan ASKES yang telah dijamin oleh perusahaan.. Rumah yang dihuni keluarga ini belum memenuhi standart kesehatan, karena luas bangunan terkenan sempit, yaitu dengan ukuran 5x7 m Untuk ventilasi dan pencahayaan rumah cukup. Untuk kebutuhan air sehari-hari pasien menggunakan air sumur.

Diagram factor perilaku dan non perilaku


Pengetahuan Keluarga ini cukup mengerti masalah kesehatan Lingkungan
rumah kurang memenuhi syarat kesehatan

Sikap Keluarga ini sangat peduli dengan kesehatan anggota keluarga satu sama lain

Keluarga Tn. A

Pelayanan kesehatan Praktek dokter keluarga dengan rumah pasien sedikit jauh

Tindakan Tn.A segera pergi ke dokter keluarga

Keturunan Tidak ada keturunan yang menderita penyakit serupa

Kesimpulan: Identifikasi faktor perilaku dan faktor non perilaku keluarga Tn. A cukup mendukung kesehatan Tn.A karena cukup memahami tentang masalah kesehatan, kepedulian keluarga

terhadap penyakit yang diderita Tn.A pasien juga segera pergi ke tempat praktek dokter keluarga apabila ada keluhan.

B. Identifikasi Lingkungan Rumah Lingkungan luar rumah Keluarga Tn. A tinggal di sebuah rumah berukuran 5 x 7 m, yang saling berdekatan dengan rumah tetangganya. Tidak memiliki pekarangan rumah dan pagar pembatas. Pembuangan sampah dirumah di buang dibelakang rumah dengan cara dibakar.

Lingkungan dalam rumah Dinding rumah terbuat dari batu bata yang sudah diplester dan telah dicat sedangkan lantai rumah terbuat bukan dari keramik. Rumah ini terdapat empat ruangan yaitu ruang tamu, satu kamar, satu dapur dan satu kamar mandi. Rumah ini terdapat 2 pintu untuk keluar masuk dibagian depan dan di belakang. Untuk belakang rumah ada tanah kosong yang belum sempat dibangun. Keluarga ini memiliki jendela kaca disetiap ruangannya dan mempunyai fasilitas MCK yang cukup baik. Dan ventilasi udara yang sangat cukup.

Denah Rumah Tn. A Ukuran rumah 5 x 7 m


K. MANDI

RUANG SETRIKA+RUANG MAKAN

DAPUR

KAMAR

RUANG TAMU+RUANG KELUARGA

Keterangan :

Indoor Luas rumah 35 m2. Lantai belum menggunakan keramik Pencahayaan dan ventilasi baik.

Outdoor Halaman rumah sempit dan tidak mempunyai pekarangan Sumber air bersih dari air sumur. Saluran pembuangan air langsung menuju selokan. Saluran jamban menuju septic tank.

BAB IV DAFTAR MASALAH MEDIS DAN NON MEDIS

A. Masalah Medis ISPA B. Masalah Non Medis 1. Rumah kurang memenuhi syarat kesehatan 2. Keluarga kurang peduli terhadap life style penderita 3. Pasien tidak teratur dalam menjaga pola makannya

C. Diagram permasalahan pasien


Tn. A tidak teratur dalam menjaga pola makannya Kepedulian keluarga terhadap life style penderita sangat kurang

Tn.A 36 tahun Penderita ISPA

Rumah kurang memenuhi syarat kesehatan

BAB V PEMBAHASAN

A. ISPA 1. Definisi ISPA ISPA adalah penyakit infeksi pada saluran pernafasan atas maupun bawah yang disebabkan oleh masuknya kuman mikroorganisme (bakteri dan virus) kedalam organ saluran pernafasan yang berlangsung selama 14 hari (Dinkes, 2002) 2. Etiologi Etiologi ISPA terdiri dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebab ISPA antara lain Streptokokus, Stapilokokus, Pnemokokus, Hemofillus, Bordetella dan

Korinobakterium. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Mikosovirus, Adenovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus. (Dinkes, 2002). 3. Klasifikasi ISPA menurut Depkes RI (2002) adalah : a. ISPA ringan Seseorang yang menderita ISPA ringan apabila ditemukan gejala batuk, pilek dan sesak. b. ISPA sedang ISPA sedang apabila timbul gejala sesak nafas, suhu tubuh lebih dari 390 C dan bila bernafas mengeluarkan suara seperti mengorok. c. ISPA berat Gejala meliputi: kesadaran menurun, nadi cepat atau tidak teraba, nafsu makan menurun, bibir dan ujung nadi membiru (sianosis) dan gelisah. 4. Penyebab penyakit ISPA ISPA disebabkan oleh bakteri atau virus yang masuk kesaluran nafas. Salah satu penyebab ISPA yang lain adalah asap pembakaran bahan bakar kayu yang biasanya digunakan untuk memasak. Asap bahan bakar kayu ini banyak menyerang lingkungan masyarakat, karena masyarakat terutama ibu-ibu rumah tangga selalu melakukan aktifitas memasak tiap hari menggunakan bahan bakar kayu, gas maupun minyak. Timbulnya asap tersebut tanpa disadarinya telah mereka hirup sehari-hari, sehingga banyak masyarakat mengeluh batuk, sesak nafas dan sulit untuk bernafas. Polusi dari bahan bakar kayu tersebut mengandung zat-zat seperti

Dry basis, Ash, Carbon, Hidrogen, Sulfur, Nitrogen dan Oxygen yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Depkes RI, 2002). 5. Faktor resiko

Faktor resiko timbulnya ISPA menurut Dharmage (2009) : a. Faktor Demografi Faktor demografi terdiri dari 3 aspek yaitu : Jenis kelamin Bila dibandingkan antara orang laki-laki dan perempuan, lakilakilah yang banyak terserang penyakit ISPA karena mayoritas orang laki-laki merupakan perokok dan sering berkendaraan, sehingga mereka sering terkena polusi udara. Usia Anak balita dan ibu rumah tangga yang lebih banyak terserang penyakit ISPA. Hal ini disebabkan karena banyaknmya ibu rumah tangga yang memasak sambil menggendong anaknya. Pendidikan Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam kesehatan, karena lemahnya manajemen kasus oleh petugas kesehatan serta pengetahuan yang kurang di masyarakat akan gejala dan upaya penanggulangannya, sehingga banyak kasus ISPA yang datang kesarana pelayanan kesehatan sudah dalam keadaan berat karena kurang mengerti bagaimana cara serta pencegahan agar tidak mudah terserang penyakit ISPA. b. Faktor Biologis Faktor biologis terdiri dari 2 aspek yaitu (Notoatmodjo, 2007): Status gizi Menjaga status gizi yang baik, sebenarnya bisa juga mencegah atau terhindar dari penyakit terutama penyakit ISPA. Misal dengan mengkonsumsi makanan 4 sehat 5 sempurna dan memperbanyak minum air putih, olah raga yang teratur serta istirahat yang cukup. Karena dengan tubuh yang sehat maka kekebalan tubuh akan semakin menigkat, sehingga dapat mencegah virus ( bakteri) yang akan masuk kedalam tubuh. c. Life style Kebiasaan Merokok Satu batang rokok dibakar maka akan mengelurkan sekitar 4.000 bahan kimia seperti nikotin, gas karbon monoksida, nitrogen oksida, hidrogen cianida, ammonia, acrolein, acetilen,

benzol dehide, urethane, methanol, conmarin, 4-ethyl cathecol, ortcresorperyline dan lainnya, sehingga di bahan kimia tersebut akan beresiko terserang ISPA. d. Lingkungan Faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit menurut Bloom dikutip dari Effendy (2004) menyebutkan bahwa lingkungan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, sehat atau tidaknya lingkungan kesehatan, individu, keluarga dan masyarakat sangat tergantung pada perilaku manusia itu sendiri. Disamping itu, derajat kesehatan juga dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya membuat ventilasi rumah yang cukup untuk mengurangi polusi asap maupun polusi udara, keturunan, misalnya dimana ada orang yang terkena penyakit ISPA di situ juga pasti ada salah satu keluarga yang terkena penyakit ISPA karena penyakit ISPA bisa juga disebabkan karena keturunan, dan dengan pelayanan seharihari yang baik maka penyakit ISPA akan berkurang dan kesehatannya sedikit demi sedikit akan membaik, dan pengaruh mempengaruhi satu dengan yang lainnya. 6. Tanda dan Gejala Tanda gejala ISPA menurut Depkes RI (2002) adalah : a. Gejala dari ISPA Ringan ISPA ringan jika ditemukan satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut: 1) Batuk 2) Serak (bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misal pada waktu berbicara atau menangis). 3). Demam (suhu badan lebih dari 370 C)

Gejala dari ISPA Sedang ISPA sedang jika dijumpai gejala dari ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut: 1) Pernafasan lebih dari 50 kali per menit pada anak yang berumur kurang dari satu tahun atau lebih dari 40 kali per menit pada anak yang berumur satu tahun atau lebih. Cara menghitung pernafasan ialah dengan menghitung jumlah tarikan nafas dalam satu menit. 2) Suhu lebih dari 390 C 3) Tenggorokan berwarna merah.

4) Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak. 5) Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari 6) Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur).

c. Gejala dari ISPA Berat ISPA berat jika dijumpai gejala-gejala ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut: 1) Bibir atau kulit membiru. 2) Anak tidak sadar atau kesadaran menurun. 3) Pernafasan berbunyi seperti orang mengorok dan anak tampak gelisah. 4) Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernafas. 5) Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba. 6) Tenggorokan berwarna merah. Penatalaksanaan ISPA Pencegahan dan penatalaksanaan ISPA menurut Depkes RI, 2007 meliputi langkah dan tindakan sebagai berikut : 1) Upaya pencegahan Pencegahan dapat di lakukan dengan : (a) Menjaga keadaan gizi agar tetap baik (b) Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan. (c) Pengobatan segera 2) Pengobatan dan perawatan (a) Meningkatkan istirahat minimal 8 jam per hari (b) Meningkatkan makanan bergizi. (c) Bila demam beri kompres (d) Bila hidung tersumbat karena pilek bersihkan lubang hidung dengan sapu tangan yang bersih (e) Bila badan seseorang demam gunakan pakaian yang cukup tipis tidak terlalu ketat

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Holistik 1. Diagnosa dari segi biologis ISPA 2. Diagnosa dari segi psikologis Pasien adalah kepala keluarga. Hubungan Tn. A dengan anggota keluarga sangat baik, dimana satu sama lain saling mendukung, memperhatikan dan saling pengertian. Intensitas waktu untuk berkumpul bersama keluarga juga cukup sering. 3. Diagnosa dari segi social Keluarga ini tidak mempunyai kedudukan social tertentu di dalam masyarakat, hanya sebagai anggota masyarakat biasa. Penderita sering berkumpul dengan tetangga seperti pengajian, tahlilan dan ronda. . a. Personal

Tn. A datang dengan keluhan batuk berdahak. Pasien berharap keluhannya bisa cepat sembuh Pasien takut apabila batuknya tak kunjung sembuh b. ISPA c. Resiko Internal Klinis

Laki-laki, usia 36 tahun. Hubungan dengan istri sangat baik, begitu pula dengan seluruh keluarga besarnya. kasih sayang dan saling terbuka satu sama lain membuat keluarga yang harmonis. d. Resiko Ekternal

Hubungan dengan masyarakat sangat baik dan aktif dalam kegiatan masyarakat. keterbukaan dan saling mendukung antara Tn. A dan Ny. L membuat keduanya

semakin harmonis. Keadaan rumah keluarga ini kurang memenuhi syarat, sosial ekonomi cukup. e. Fungsional

Derajat fungsionalnya dengan score 1 karena pasien masih mampu melakukan pekerjaan seperti sebelum sakit, mandiri dalam perawatan diri, bekerja didalam dan diluar rumah. B.Saran komprehensif Tn. A dan keluarga perlu membiasakan pola hidup sehat, mengetahui tentang ISPA. Dan menjaga pola makannya dengan teratur, meneruskan terapi yang diberikan. Serta melakukan aktivitas olahraga yang teratur. 1. Promotif Tn. A dan keluarga perlu diberikan penjelasan mengenai Pola hidup sehat. Selain itu juga tentang ISPA dan contoh-contoh penyakit berbahaya yang gejalanya batuk. 2. Preventif - Makan makanan yang cukup bergizi dan makan teratur - Merokok dan kopinya dikurangin 3. Kuratif Antibiotik Ekspektoran 4. Rehabilitatif Edukasi dan motivasi kepada pasien bahwa penderita ISPA sebaiknya membatasi pola hidup tak sehat seperti merokok dan minum kopi yang berlebihan dan menambah waktu istirahat serta pola makan penderita harus teratur memberikan motivasi untuk terus merubah sikap dan prilaku yang tidak sehat menjadi lebih sehat.