Anda di halaman 1dari 22

TUGAS MAKALAH MANAJEMEN AKUAKULTUR PAYAU KESESUAIAN LAHAN UNTUK BUDIDAYA TAMBAK DI KABUPATEN PINRANG PROVINSI SULAWESI SELATAN

Disusun oleh : Kelompok 3

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2012

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Bandeng adalah jenis ikan konsumsi yang tidak asing bagi masyarakat. Bandeng merupakan hasil tambak, dimana budidaya hewan ini mula-mula merupakan pekerjaan sampingan bagi nelayan yang tidak dapat pergi melaut. Itulah sebabnya secara tradisional tambak terletak di tepi pantai. Bandeng merupakan hewan air yang bandel, artinya bandeng dapat hidup di air tawar, air asin maupun air payau. Selain itu bandeng relatif tahan terhadap berbagai jenis penyakit yang biasanya menyerang hewan air. Sampai saat ini sebagian besar budidaya bandeng masih dikelola dengan teknologi yang relatif sederhana dengan tingkat produktivitas yang relatif rendah. Jika dikelola dengan sistim yang lebih intensif produktivitas bandeng dapat ditingkatkan hingga 3 kali lipatnya. Kegiatan pembudidayaan ikan Bandeng sebaiknya memperhatikan faktorfaktor lingkungan tertentu. Kesesuaian lahan yang tersedia maupun yang disediakan menjadi tolak ukur keberhasilan budidaya. Kesesuaian lahan (Land suitability) merupakan kecocokan (adaptability) suatu lahan untuk tujuan penggunaan tertentu, melalui penentuan nilai (kelas) lahan serta pola tata guna lahan yang dihubungkan dengan potensi wilayahnya, sehingga dapat diusahakan penggunaan lahan yang lebih terarah berikut usaha pemeliharaan kelestariannya. Dengan adanya lahan tambak yang sesuai, diharapkan dapat mendukung pemanfaatan lahan untuk keperluan budidaya. Selain pemanfaatan secara optimal yang diusahakan, adanya analisis mengenai kesesuaian lahan juga mampu menciptakan pemeliharaan yang lesatari bagi kegiatan budidaya.

1.2. Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini ialah sebagai berikut: 1. Mengetahui kesesuaian lahan tambak di kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan 2. Mengetahui teknik dan sayarat budidaya ikan nila pada lahan tambak tradisional, semi intensif dan intensif 1.3. Rumusan Masalah Rumusan masalah dari makalah ini ialah: 1. Kesesuaian lahan yang baik untuk budidaya ikan bandeng 2. Syarat Budidaya dan teknis pembudidayaan ikan bandeng pada tambak

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi, Fisiologi dan Morfologi Ikan Bandeng Ikan bandeng merupakan salah satu komoditas ekspor yang dikenal dengan sebutan milkfish. Ikan ini memiliki karakteristik berbadan langsing, sirip bercabang serta lincah di air, memiliki sisik seperti kaca dan berdaging putih. Ikan bandeng memiliki keunikan, yakni mulutnya tidak bergigi dan makanannya adalah tumbuh-tumbuhan dasar laut. Selain itu panjang usus bandeng 9 kali panjang badannya (Murtidjo 1989 dalam IPB 2010). Menurut Saanin 1984 dalam IPB 2010, klasifikasi ikan bandeng adalah sebagai berikut : Filum Subfilum Kelas Subkelas Ordo Famili Genus Spesies : Chordata : Vertebrata : Pisces : Teleostei : Malacopterygii : Chanidae : Chanos : Chanos chanos

Ikan bandeng mempunyai ciri-ciri morfologi badan memanjang, agak pipih, tanpa skut pada bagian perutnya, mata diseliputi lendir mempunyai sisik besar pada sirip dada dan sirip perut, sirip ekor panjang dan bercagak, sisik kecil dengan tipe cycloid, tidak bergigi, sirip dubur jauh di belakang sirip punggung (Saanin 1984 dalam IPB 2010). Morfologi ikan bandeng dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Morfologi ikan bandeng (Chanos chanos).

Ikan bandeng merupakan salah satu jenis ikan budidaya air payau yang potensial dikembangkan. Jenis ikan ini mampu mentolerir salinitas perairan yang luas (0-158 ppt) sehingga digolongkan sebagai ikan euryhaline. Ikan bandeng mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan seperti suhu, pH dan kekeruhan air, serta tahan terhadap serangan penyakit (Ghufron dan Kardi 1997 dalam IPB 2010).

2.2. Parameter tanah dan air serta nilai kesesuaian tambak bagi ikan bandeng 2.2.1. Kualitas tanah Elevasi lokasi adalah lokasi tambak yang berada di daerah pasang surut yang memadai. Lokasi yang ideal untuk tambak ikan bandeng berada di daerah pasang surut terendah 1,5 m dan pasang tertinggi 2,5 m. Salah satu potensi tanah tambak yang perlu diperhatikan adalah derajat keasaman (pH) tanah. Tanah dasar tambak yang memiliki potensi produktif adalah tanah dasar tambak yang memiliki pH berkisar 6,8 7,5 (Agus, 2002). Tambak dengan tanah bertekstur kasar seperti pasir berlempung dan pasir memiliki tingkat porositas yang tinggi, sebagai akibatnya tambak tidak bisa menahan air. Tanah tambak sering dijumpai bertekstur halus seperti liat, liat berdebu, dan liat berpasir dengan kandungan liat minimal 20% - 30% untuk menahan peresapan ke samping (Boyd, 1995 dalam Mustafa et.al,2008).

2.2.2. Kualitas air Karena komoditas yang dibudidayakan ditambak hidup dalam badan air, maka kualitas air merupakan faktor penentu keberhasilan budidaya tambak. Kualitas air yang baik untuk budidaya ditambak jika air dapat mendukung kehidupan organisme akuatik dan jasad makanannya pada setiap stadium pemeliharaan. Peubah kualitas air yang penting untuk budidaya sitambak adalah suhu, oksigen terlarut, salinitas, pH, kecerahan, NH4, NO2, dan NO3. Batas toleransi organisme akuatik terhadap pH bervariasi dan dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain: suhu oksigen terlarut, alkalinitas, adanya anion dan kation, sertajenis dan stadium organisme.

Sumber nitrogen yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tumbuhan akuatik adalah nitrat (NO3), amonium (NH3), dan gas nitrogen (N3). Nitrat adalah bentuk utama nitrogen di perairan alami dan merupakan nutrien utama bagi pertumbuhan tanaman dan alga. Nitrat tidak bersifat toksik terhadap organisme akuatik. Nitrit (NO2) merupakan bentuk peralihan antara NH3 dan NO3 (nitrifikasi) dan antara NO3 dan N2 (denitrifikasi). Seperti halnya NH3, maka NO2 juga beracun terhadap ikan. Karena mengoksidasi besi (Fe) di dalam hemoglobin, dalam saat ini kemampuan darah mengikat O2 sangat merosot Kandungan NO2 yang lebih dari 0,05 mg/l dapat bersifat toksik bagi organisme akuatik (Mustafa et.al 2008)

III. MATERI DAN METODE 3.1. Materi 1. Data primer yang meliputi data biofisik yaitu: pasang surut, topografi dan hidrografi, kondisi tanah, dan kualitas air. 2. Data sekunder yang meliputi pustaka dan hasil penelitian instansi terkait 3.2. Metode Penelitian dilaksanakan pada tahun 2006 di Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan. Lokasi penelitian adalah wilayah pesisir yang merupakan kawasan pertambakan di Kecamatan Lembang, Duampanua, Cempa,

Mattirosompe, Lanrisang, dan Suppa. Wilayah pesisir tersebut berada mulai dari garis pantai Kabupaten Pinrang di Selat Makassar sampai ke arah darat di mana masih ada tambak atau potensial lahan tambak. Selain tambak, penutup atau penggunaan lahan lain yang dominan di wilayah pesisir lokasi penelitian adalah sawah, tegalan, kebun, dan pemukiman. Sungai Saddang juga dikaji dalam penelitian ini, bukan saja sebagai sumber air untuk budidaya tambak, tetapi sebagai penyebab terjadinya genangan atau banjir di kawasan pesisir muara sungai tersebut.

3.3. Analisis data Data primer, sekunder, dan peta penutup/penggunaan lahan yang sudah dikumpulkan, selanjutnya dilakukan pengolahan data dengan menggunakan analisis spasial dalam Sistem Informasi Geografis (SIG)). Pada proses analisis menggunakan program ArcView 3.3 dengan cara memasukkan setiap peubah data untuk menghasilkan peta tematik bagi setiap peubah data. Bobot total setiap peubah data diperoleh dengan cara mengalikan nilai dari setiap peubah dengan bobot relatifnya. Pada setiapfaktor ditentukan bobot kumulatifnya dengan menambahkan bobot relatif setiap peubah. Selanjutnya dilakukan proses tumpang tindih pada semua peubah untuk penghitungan kembali bobot kumulatif untuk semua faktor. Pemberian kode ulang dari bobot kumulatif ini mempresentasikan kontribusi atribut dan faktor terhadap tingkat kesesuaian lahan. Kriteria yang digunakan dalam penentuankesesuaian

lahan untuk budidaya-tambak mengacu pada kriteria yang ada (Mustafa et al., 2008).

Tabel 1. Skoring kesesuaian perairan tambak berdasarkan parameter Temperature, DO, Salinitas, pH, Bahan organik, dan transparansi Parameter Kisaran Nilai Bobot Skor Temperatur(0C) < 26 > 30 1 8 8 26 27 2 16 27 28 3 24 28 30 4 32 Oksigen terlarut <3 >8 1 6 6 (mg/l) 3 5,5 2 12 5,5 8 3 18 >8 4 24 Salinitas (ppt) <20 > 32 1 10 10 20 24 2 20 24 29 3 30 29 32 4 40 pH <7,5 >8,3 1 8 8 7,5 7,8 2 16 7,8 8,0 3 24 8,0 8,3 4 32 Bahan organik <10 >20 1 6 6 total (mg/l) 10 15 2 12 3 18 15 20 4 24 Transparansi <30 > 40 1 8 8 (cm) 30 - 35 2 16 35 40 3 24 4 32 3.4. Analisis kesesuian lahan Asumsi yang diterapkan dalam evaluasi kesesuaian lahan tambak adalah usaha perbaikan lahan untuk mendapatkan kondisi potensial dipertimbangkan dan disesuaikan pada pengelolaan yang rendah atau sederhana sampai sedang. Hasil proses penilaian kesesuaian lahan ditampilkan dalam bentuk sistem klasifikasi kesesuaian lahan. Sistem klasifikasi kesesuaian lahan ditentukan sampai tingkat kategori Kelas dan Subkelas (semi-detil skala 1 :50.000). Pada kategori Kelas, kelas-kelas kesesuaian lahan adalah sebagai berikut: (a) Kelas sangat sesuai (kelas S1 )1 lahan ini tidak mempunyai faktor pembatas yang berarti untuk penggunaan terhadap suatu peruntukan secara berkelanjutan atau hanya sedikit faktor pembatas yang tidak akan mempengaruhi produktivitas; (b) Kelas cukup sesuai (kelas S2): lahan

ini mempunyai faktor pembatas yang agak berarti untuk penggunaan berkelanjutan dan dapat menurunkan produktivitas; dan (c) Kelas sesuai 'marjinal (kelas S3): lahan ini mempunyai faktor pembatas yang berat untuk penggunaan berkelanjutan dan akan mengurangi produktivitas; dan (d) Kelas tidak sesuai (kelas N): lahan ini mempunyai faktor pembatas yang sangat berat dan permanen yang dapat menghalangi kemungkinan pemanfaatannya. Pada kategori Sub-kelas akan ditampilkan faktor pembatas pada setiap Kelas (kecuali kelas S1) serta rekomendasi pengelolaannya.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Hasil dari pengematan terhadap kesesuian lahan di Kabupaten Pinrang Sulawesi selatan diperoleh sebagai berikut: a. Kualitas tanah Tabel 2. Kualitas tanah di Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan Peubah Kedalaman tanah (m) Nilai rata-rata pHf 0 0,2 0,2 0,4 0,4 0,6 0 0,2 0,2 0,4 0,4 0,6 0 0,2 0,2 0,4 0,4 0,6 0 0,2 0 0,2 0,2 0,4 0,4 0,6 0 0,2 0,2 0,4 0,4 0,6 0 0,2 0,2 0,4 0,4 0,6 0 0,2 0,2 0,4 0,4 0,6 0 0,2 0,2 0,4 0,4 0,6 6,67 6,77 6,86 4,84 4,71 4,56 1,82 2,04 2,3 6,23 0,16 0,21 0,34 1,39 1,65 1,46 136,43 152,66 150.11 2,01 2,16 1,83 C, SiC,SC, SCL, Si, L, SL, LS, S C, SiC, SC, SiCL, SCL, Si, S C, SiC, SC, SiCL, SCL, Si, L, SL, S

pHfox

pHf-pHfox

Bahan organik Pirit (%)

Fe (mg/l)

Al (mg/l)

Po4 (mg/l)

Tekstur

Keterangan : C = Liat (Clay), SIC = Liat berdebu (Silty clay), SC = Liat berpasir (Sandy clay), SiCL = Lempung liat berdebu (Silty clay loam), SCL = Lempung liat berpasir (Sandy clay loam),

Si = Debu (Silt), L = Lempung (Loam), SL = Lempung berpasir (Sandy loam), LS = Pasir berlempung (Loamy sand), S = Pasir (Sand) b. Kualitas air Tabel 3. Kualitas Air di Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan pada Musim kemarau Peubah Nilai rata-rata o Suhu ( C) 29,79 Salinitas (ppt) 37,5 Oksigen terlarut (mg/l) 8,36 pH 8,99 NH4(mg/l) 0,3200 NO3(mg/l) 0,9227 NO2(mg/l) 0,0174 PO4 (mg/l) 0,0174 So4(mg/l) 86,22 Fe (mg/l) 0,0826 Padatan tersuspensi (mg/l) 66 Tabel 4. Kualitas Air di Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan pada Musim hujan Peubah Nilai rata-rata Suhu (oC) 30,51 Salinitas (ppt) 19,5 Oksigen terlarut (mg/l) 7,80 pH 8,58 NH4(mg/l) 0,1079 NO3(mg/l) 1,0413 NO2(mg/l) 0,0077 PO4 (mg/l) 0,1086 So4(mg/l) 52,24 Padatan tersuspensi (mg/l) 57

4.2. Pembahasan 4.2.1. Kesesuaian lahan tambak a. Kualitas tanah Kawasan pertambakan di Kabupaten Pinrang secara umum tergolong datar dengan kemiringan lereng kurang dari 0,02% dan sangat sesuai untuk budidaya tambak. Kisaran pasang surut yang diukur pada bulan September 2006 di

Kabupaten Pinrang sebesar 0,90 m. Rendahnya kisaran pasang surut tersebut karena diukur pada saat konda yaitu saat di mana kisaran pasang surut sangat kecil. Sedangkan hasil penghitungan dari data Daftar Pasang Surut (Dinas HidroOseanografi, 2006) menunjukkan bahwa rata-rata kisaran pasang surut sebesar 1,53 m. Kisaran pasang surut yang ideal untuk tambak budidaya adalah antara 1,5 m dan 2,5 m. Kabupaten Pinrang umumnya tergolong tanah non-sulfat masam, sehingga kandungan piritnya relatif rendah yaitu dari tidak terdeteksi sampai 1,21%dengan rata-rata 0,16%dijumpai pada kedalaman 00,2 m. Dengan demikian keberadaan pirit di tambak Kabupaten Pinrang bukan menjadi masalah yang serius dalam budidaya tambak. Pada beberapa lokasi dijumpai tanah sulfat masam, maka pH tanah yang diukur di tambak Kabupaten Pinrang adalah pHF dan pHFOX yang merupakan peubah khas tanah sulfat masam. Hasil pengukuran pHF tanah tambak di Kabupaten Pinrang menunjukkan nilai antara 3,04 dan 7,78 dengan rata-rata 6,67 pada kedalaman tanah 00,2 m b. Kualitas air Suhu air di kawasan pertambakan Kabupaten Pinrang berkisar antara 26,1 5C dan 35,05C dengan rata-rata 29,76C pada musim kemarau dan berkisar antara 27,60C dan 36,20C dengan rata-rata 30,51 C pada musim hujan. Suhu air di kawasan pertambakan Kabupaten Pinrang tergolong cukup sesuai dan sangat sesuai untuk budidaya tambak. Salinitas air di kawasan pertambakan Kabupaten Pinrang berkisar antara 3,6 ppt dan 70,7 ppt dengan rata-rata 37,5 ppt pada saat musim kemarau dan berkisar antara 0 dan 50,0 ppt dengan rata-rata 19,5 ppt pada musim hujan. Ikan bandeng tumbuh optimum pada salinitas 15 sampai dengan 25 ppt . Kandungan oksigen terlarut di tambak Kabupaten Pinrang ratarata 8,36 mg/L pada musim kemarau dan 7,80 mg/L pada musim hujan. Oksigen terlarut sebesar 3-8 mg/L memberikan pertumbuhan yang baik pada ikan bandeng. Pertumbuhan ikan bandeng yang baik dijumpai pada pH 7,08,5. pH air di tambak Kabupaten Pinrang relatif tinggi yaitu rata-rata 8,99. Kandungan N03 di air tambak Kabupaten Pinrang rata-rata 1,0413 mg/L pada musim hujan dan lebih tinggi dibandingkan dengan musim kemarau yakni rata-rata 0,9227 mg/L. Kandungan N03 di air tambak Kabupaten Pinrang rata-rata

0,0174 mg/L pada musim kemarau dan 0,0077 mg/L pada musim hujan.. Perairan alami mengandung N03 sekitar 0,001 mg/L dan sebaiknya tidak melebihi 0,060 mg/L (Canadian Council of Resource and Environment Ministers, 1987 dalam Mustafa, 2008). Secara rata-rata, kandungan N03 air tambak masih dalam batas yang diperkenankan untuk budidaya perikanan, namun dijumpai kandungan N03 yang melebihi 0,060 mg/L dalam air tambak di Kabupaten Pinrang. Kandungan P0, di air tambak Kabupaten Pinrang berkisar 0,0174 mg/L pada musim kemarau dan berkisar 0,1086 mg/L pada musim hujan. Kandungan P0, pada perairan alami jarang melebihi 1 mg/L(Boyd, 1995 dalam Mustafa et.al 2008). Rata-rata padatan tersuspensi total air di kawasan pertambakan Kabupaten Pinrang adalah 66 mg/L pada musim kemarau dan 57 mg/L pada musim hujan. Berdasarkan kriteria Alabaster 8.1 Lloyd (1982) dalam Mustafa (2008), maka padatan tersuspensi total tersebut tergolong sedikit berpengaruh terhadap kepentingan perikanan. Curah hujan di kawasan pertambakan Kabupaten Pinrang adalah 2.341 mm/ tahun. Curah hujan ini sangat sesuai untuk budidaya tambak. Persiapan tambak adalah salah satu kegiatan yang harus dilakukan sebelum dilakukan penebaran. Pada saat persiapan tambak dilakukan pengeringan tambak dengan tujuan untuk memperbaiki sifat fisik tanah, meningkatkan mineralisasi bahan organik, dan menghilangkan bahan-bahan beracun berupa hidrogen sulfida (H35), amonia (NH3), dan metan (CH4). Pengeringan tambak di Kabupaten Pinrang sebaiknya dilakukan pada bulan Agustus dan September, sebab pada bulan tersebut termasuk bulan kering (curah hujan kurang dari 60 mm), sehingga pengeringan dapat dilakukan secara lebih sempurna. c. Kesesuaian Lahan Hasil analisis menunjukkan bahwa dari luas total tambak di Kabupaten Pinrang, 15.026,2 ha ternyata 7.389,4 ha tambak tergolong sangat sesuai (kelas S1); 1.235,1 ha tambak tergolong cukup sesuai (kelas S2); 3.229,0 ha tambak tergolong kurang sesuai (kelas S3); dan 3.102,7 ha tergolong tidak sesuai (kelas N) untuk budidaya tambak pada musim hujan.

Gambar 2. Peta kesesuaian lahan untuk musim hujan di kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan

Sumber : Mustafa et.al 2008

4.2.2. Syarat dan teknik budidaya ikan bandeng a. Syarat budidaya bandeng pada tambak Aspek teknis Untuk mendapatkan hasil optimal maka air dan tanah yang digunakan untuk tambak harus memenuhi beberapa syarat. Syarat teknis lahan dan air untuk pembesaran tidak berbeda dengan peneneran. Tabel 5. Mutu Air Optimal Bagi Pemeliharaan Nener di Petak Pendederan Peubah Ambang Kisaran atas Optimum bawah Oksigen terlarut (mg/l) 3,0 Sekitar jenuh Amoniak (mg/l) 0,0 0,1 0 Asam belerang (mg/l) 0,000 0,001 0 Bahan Organik total (mg/l) 10,0 30,0 15,0 20,0 pH 7,5 9,0 8,0-8,3 Temperatur(0C) 26,0 32,0 29-30 Salinitas (ppt) 20,0 35,0 29-32 Transparansi (cm) 30 50,0 35,0-40 Aspek Non Teknis Dalam memilih lokasi tambak perlu diperhatikan juga aspek nonteknis, misalnya aspek sosial ekonomis. Hal ini karena dalammembudidayakan ikan bandeng ditambak secara komersil dibutuhkan dana investasi yang tidak sedikit. Oleh karena itu lokasi tambak yang dipilih sebaiknya tidak terlalu jauh dari sumber pakan, benih, sarana produksi dan daerah pemasaran. Selain itu lokasi tambak sebaiknya keamanan mempunyai yang sarana dan Selain

prasarana transportasi/komunikasi, serta

memadai.

itu, status lahan juga harus dipertimbangkan kejelasannya. b. Teknik pengelolaan tambak

Teknologi pemeliharaan bandeng dapat dilakukan secara tradisional, semi intensif dan intensif. Sementara pola pemeliharaannya bisa monokultur dan polikultur. Terkait dengan tahap budidaya, teknologi yang digunakan dan pola

pemeliharaannya maka terdapat berbagai variasi budidaya yang dapat dipilih.

Tabel 6. Berbagai Variasi Budidaya Bandeng Tahap Pemeliharaan Pola Pemeliharaan Tradisional Mono Poli Ya Ya Ya Ya Ya Semi Intensif Mono Poli ya Tidak Tidak Ya Intensif Mono Poli Ya Tidak Ya Ya Tidak Tidak Tidak

Pembenihan Pendederan Pembesaran Pendederan dan Pembesaran

Tidak ya Ya Ya ya Ya

Tidak Tidak

Pola pemeliharaan tradisional umumnya dilakukan secara monokultur dan polikultur untuk berbagai tahap pemeliharaan. Pola pemeliharaan secara intensif dan semi intensif pada umumnya dilakukan secara monokultur, tetapi dijumpai juga pengelolaan secara polikultur. Pola polikultur semi intensif umumnya tidak dilakukan dengan sesama ikan melainkan dengan hewan lain misalnya ayam. Berdasarkan kondisi optimal maka studi ini selanjutnya memfokuskan pada pola pemeliharaan intensif sebagai pola yang seharusnya dijalankan untuk

mendapatkan hasil optimal. Pengelolaan semi intensif merupakan sistim pengelolaan yang sudah tidak tradisional tetapi belum intensif penuh, sehingga pola semi intensif bervariasi, yang terletak antara pola tradisional dan intensif. Sebuah contoh pengelolaan tambak semi intensif adalah, pengairan diatur secara sederhana, dilakukan pemberian pupuk dan makanan tambahan pada saat menjelang panen dengan kepadatan tebar 10.000 ekor per ha. Tabel 7. Perbedaan Perlakuan Budidaya Bandeng Kriteria Tradisional Spesifikasi tambak Sederhana Bibit (nener) Penangkapan tanpa seleksi sehingga ukuran tidak seragam Rendah, 5.000 ekor Alami, apa yang tersedia di tambak Bergantung pada pasang surut air laut Intensif Mengikuti aturan tertentu (lihat bab IV) Dari hatchery dan terseleksi sehingga ukuran seragam Tinggi, 50.000 ekor Dipupuk dan diberi makanan tambahan Diatur dengan bantuan peralatan

Kepadatan penebaran (ekor/Ha) Makanan Pengairan

Pada tambak tradisional, agar tambak berfungsi optimal maka tambak harus memenuhi syarat lingkungan biologi, salah satu cara agar tambak dapat memenuhi syarat lingkungan biologi adalah melakukan pengelolaan tambak. Pengelolaan tambak meliputi pengolahan lahan dan pemberian unsur tambahan serta pengaturan pengairan. (1). Pengolahan lahan Tujuan pengolahan lahan tambak adalah: (a). Menghilangkan lumpur yang berlebihan terutama di daerah caren yang merupakan arena mengendapnya lumpur. (b). Menghilangkan bahan organik yang merugikan. (c). Menutup lubanglubang yang biasanya ada disisi tambak yang bisa menjadi jalan masuk binatang pemangsa dan menjadi jalan keluar bagi bandeng. (d). Memacu pertumbuhan bahan makanan alami bandeng, untuk itu yang dilakukan pengeringan tambak dan pembalikan lahan. Pengolahan lahan dilakukan setiap habis panen (menjelang masa tebar berikutnya). Pengeringan yang dilakukan tergantung kepada kondisi lahan. Jika lahan dalam kondisi buruk pengeringan bisa dilakukan sampai tanah dasar menjadi pecah-pecah. Jika kondisi lahan normal maka pengeringan dilakukan sampai tanah terbenam 1 cm jika diinjak. Setelah pengeringan dilakukan pembalikan tanah. (2). Perbaikan dan pengontrolan pH Tujuan pengontrolan pH adalah untuk menormalkan asam bebas dalam air, menjadi penyangga dan menghindari terjadinya guncangan pH air/tanah yang mencolok, memberi dukungan kegiatan bakteri pengurai bahan organik dan mengendapkan koloid yang mengapung dalam air sehingga kejernihan air terjaga. Perbaikan pH dilakukan dengan dua cara yakni melalui pengeringan dan pemberian kapur. Dengan pengeringan pH yang turun pada saat pemeliharaan dapat ditingkatkan kembali. Pemberian kapur dilakukan saat pengeringan yakni saat pembalikan lahan. Prosesnya, sebelum lahan dibalik (dibrojul) taburkan kapur kemudian dilakukan pembalikan lahan, dengan cara ini maka kapur akan tersebar merata. Untuk lahan yang berpasir maka 3 ton kapur untuk setiap ha lahan adalah optimal, tetapi jika lahan semakin liat maka kapur yang diperlukan semakin banyak.

(3). Pemupukan Tujuan pemupukan adalah menumbuhkan makanan alami bandeng yakni klekap (lab-lab), lumut dan fitoplankton dan menjaga kecerahan air. Jika yang diharapkan tumbuh adalah klekap maka yang diperlukan adalah pupuk kandang dengan dosis 350 kg/ha. Untuk lumut diperlukan pupuk compund (NPK) dengan dosis 20 gram per m3 air. Untuk pedoman praktis pemberian dilakukan 2 minggu sekali dengan dosis 2 kg urea dan 15 kg TSP untuk setiap ha tambak. Untuk fitoplankton flagellata dan fitoplankton diatoma pemberian pupuk diberikan dengan perbandingan N dan P tertentu. Sebagai bahan makanan alami, fitoplankton diatoma lebih disukai oleh bandeng. (4). Oksigen terlarut dan suhu air Oksigen terlarut sangat penting untuk orgasnisme air, jika oksigen terlalu banyak maka akan ada gelembung di lamela bandeng sedangkan jika terlalu sedikit maka bandeng akan mati lemas. Oksigen paling rendah terjadi pada waktu pagi yakni sesaat setelah matahari terbit. Sementara oksigen tertinggi terjadi sekitar jam 14.00-17.00. Untuk menjaga oksigen dalam kondisi optimal perlu dilakukan pengadukan air sekitar jam 13.00-15.00 dan pada malam hari. Pengadukan dan penambahan oksigen bisa dilakukan dengan menggunakan aerator. Oksigen dan suhu air saling berhubungan, pada saat suhu naik maka oksigen turun. Pada suhu 120C bandeng akan mati kedinginan. Untuk menjaga agar suhu dan oksigen dalam keadaan optimal dilakukan pembuatan caren, sehingga saat suhu tinggi bandeng bisa bersembunyi dalam caren yang relatif lebih dalam dengan suhu yang lebih rendah dan oksigen tercukupi. (5). Amonia dan asam belerang Dua zat ini terbentuk dari sisa pakan, kotoran ikan maupun plankton dan bahan organik tersuspensi. Kedua zat ini bersifat meracuni bandeng. Makin tinggi suhu kemungkinan makin besar kandungan kedua zat ini. Oleh karena itu penjagaan suhu air sangatlah penting. Cara lain untuk menghilangkan kedua zat ini adalah dengan melakukan pengadukan dan pembuatan caren, pergantian air dan pengeringan lahan.

(6). Salinitas Salinitas adalah tingkat keasinan atau ketawaran air, walaupun bandeng termasuk hewan air yang relatif bandel tetapi jika budidaya dilakukan secara intensif maka tingkat salinitas harus diperhatikan. Pada salinitas optimal energi yang digunakan untuk mengatur keseimbangan kepekatan cairan tubuh dan air tambak cukup rendah sehingga sebagian besar energi asal pakan dapat digunakan untuk pertumbuhan

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan 1. Terdapat 7.389,4 ha tambak tergolong sangat sesuai (kelas S1); 1.235,1 ha tambak tergolong cukup sesuai (kelas S2); 3.229,0 ha tambak tergolong kurang sesuai (kelas S3); dan 3.102,7 ha tergolong tidak sesuai (kelas N) untuk budidaya tambak pada musim hujan di wilayah Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan 2. Budidaya ikan bandeng pada tambak baik tradisional, semi intensif dan intensif harus memenuhi syarat baik teknis maupun non teknis, dan teknik yang digunakan dalam pembudidayaan tambak tradisional menggunakan material alam seperti pakan alami dan kontrusksi tambak, pada tambak semi intensif telah menggunakan alat alat tambahan yang dapat meningkaatkan hasil tambak seperti kincir angin, dan pada tambak intensif secara keseluruhan telah menggunakan peralatan yang mempermudah

pembudidayaan dan meningkatkan hasil budidaya, namun umumnnya budidaya bandeng secara tradisional, semi intensif dan intensif diperlukan pengelolaan lahan terlebih dahulu terutama tambak tradisional.

5.2. Saran 1. Sebaiknya pembudidayaan pada tambak bisa lebih ditingkatkan terutama pembudidayaan dengan sistem pemanfaatan berkelanjutan, supaya hasil tambak meningkat dan kelestarian alam tetap terjaga; dan 2. Sebaiknya lokasi tambak harus diperhatikan baik secara teknis maupun non teknis dan memenuhi nilai keseseaian, supaya hasil tambak tidak mengecewakan.

DAFTAR PUSTAKA

Agus, Bambang M. 2002. Bandeng (Budidaya dan Pembenihan Bandeng). Kanisius. Yogyakarta. http://books.google.co.id/books?id= M1cXfk KCSx0C&printsec=frontcover&dq=agus+bambang+bandeng&source=b l&ots=LVGCSslJG6&sig=g0okz0YqS5rLZ2OkCp4pho6wA8I&hl=en& sa=X&ei=GI1fUIijCouQrgfc74HoCQ&redir_esc=y#v=onepage&q=agu s%20bambang%20bandeng&f=false (diakses 13 september 2012, pukul 19.30 WIB) Institut Pertanian Bogor. 2010. Deskripsi dan Klasifikasi Ikan Bandeng (Chanos chanos). Bogor. Mustafa et,al. 2008. Evaluasi kesesuaian lahan untuk budidaya tambak di Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan. J.Ris Akuakultur Vol : 3 No.2 Hal. 241 - 261