Anda di halaman 1dari 3

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Menurut Bappenas (2005) penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 273,65 juta jiwa pada tahun 2025 dan pada tahun yang sama angka harapan hidup diperkirakan mencapai 73,7 tahun1. Hal ini disebabkan karena adanya peningkatan taraf hidup dan pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia. Keadaan ini juga berdampak pada jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia. Pada tahun 2007, jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia sebanyak 18,96 juta jiwa dan meningkat pada tahun 2009 menjadi 19,32 juta jiwa. Badan Pusat Statistik memperkirakan jumlah penduduk usia lanjut di Indonesia akan terus meningkat menjadi 28,8 juta jiwa (11,34% dari total keseluruhan penduduk Indonesia) pada tahun 20202. Usia lanjut sering dikaitkan dengan usia yang tidak produktif lagi. Hal ini terjadi karena adanya penurunan fungsi tubuh dan proses degenerasi sel-sel dalam tubuh usia lanjut, kurangnya informasi atau pengetahuan yang mereka dapatkan mengenai pentingnya aktivitas fisik, keadaan lingkungan sosial yang kurang mendukung, dan keadaan yang berasal dari pribadi mereka sendiri seperti perasaan rasa malas, perasaan lemah, perasaan tidak mampu untuk melakukan sesuatu, dan sebagainya. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas hidup pada usia lanjut, banyaknya usia lanjut yang memiliki ketergantungan hidup dengan orang lain, dan meningkatkan terjadinya berbagai gangguan kesehatan. Menurut perkiraan the Behavioral Risk Factor Surveillance System tahun 2010, di Amerika Serikat mayoritas usia lanjut (umur 75 tahun) sekitar 60 % melakukan sedentary life3. Di daerah Zuthpen, Belanda, total waktu yang dihabiskan oleh para usia lanjut untuk melakukan aktivitas fisik turun sekitar 30% dalam kurun waktu 10 tahun, bahkan waktu untuk berkebun dan bersepeda pun berkurang, serta jalan kaki hanya dilakukan kurang dari 18 menit per hari3. Selain itu,

terdapat pula peningkatan prevalensi sindrom metabolik pada dewasa yang tidak aktif sekitar 11,4% pada laki-laki dan 7,2% pada perempuan4. Aktivitas fisik merupakan salah satu pola hidup aktif yang dapat dilakukan pada usia lanjut agar kualitas hidupnya tidak turun atau tetap dipertahankan dan tidak memiliki ketergantungan terhadap orang lain. Selain itu, aktivitas fisik merupakan kebutuhan utama dalam kehidupan sehari-hari karena dapat meningkatkan kebugaran jasmani. Di Australia, 44% laki-laki dan 36% perempuan sering melakukan aktifitas fisik untuk meningkatkan kesehatan mereka5. Pengaruh aktivitas fisik terhadap kebugaran usia lanjut merupakan suatu pertanyaan yang masih diperdebatkan. Tidak banyak penelitian yang membahas tentang pengaruh aktivitas fisik terhadap kebugaran usia lanjut. Kebanyakan penelitian yang ada hanya membahas tentang aktivitas fisik pada dewasa. Oleh karena itu, penulis ingin mengetahui lebih lanjut mengenai pengaruh aktivitas fisik terhadap kebugaran usia lanjut. 1.2 Rumusan Masalah Apakah aktivitas fisik berpengaruh terhadap kebugaran usia lanjut? 1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh aktivitas fisik terhadap kebugaran usia lanjut 1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui pengaruh aktivitas fisik terhadap komposisi lemak tubuh pada usia lanjut. 2. Mengetahui pengaruh aktivitas fisik terhadap fleksibilitas tubuh pada usia lanjut. 3. Mengetahui pengaruh aktivitas fisik terhadap kekuatan dan ketahanan otot pada usia lanjut. 4. Mengetahui pengaruh aktivitas fisik terhadap ketahanan jatung-paru pada usia lanjut.

5. Mengetahui jenis aktivitas fisik yang paling berpengaruh terhadap kebugaran usia lanjut. 1.4 Manfaat Penulisan 1.4.1 Bagi Penulis

Meningkatkan pengetahuan mengenai pengaruh aktivitas fisik terhadap kebugaran usia lanjut. 1.4.2 Bagi Masyarakat

1. Memberikan informasi tentang pentingnya aktivitas fisik terhadap kebugaran usia lanjut. 2. Memberikan edukasi tentang jenis aktivitas fisik yang tepat untuk meningkatkan kebugaran pada usia lanjut.