Anda di halaman 1dari 16

BAB IV PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA INSIDER TRADING DI INDONESIA

Insider Trading sebagai salah satu pemicu kurangnya minat masyarakat untuk berinvetasi di bidang pasar modal, memang cukup membuat perusahaanperusahaan lokal di Indonesia mengalami kekurangan modal. Padahal sudah ada aturan yang jelas dalam pemberantasan Tindak Pindana Insider Trading ini, baik dalam bentuk undang-undang maupun peraturan-peraturan lain yang dikeluarkan oleh Bapepam-LK yang pada saat ini menjadi Otoritas Jasa Keuangan (selanjutnya disebut OJK).

Hanya saja sepertinya memang Indonesia sendiri masih kekurangan aturan hukum dari segi hukum formil, hal tersebut dikarenakan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (selanjutnya disebut UUPM) dalam pembuktiannya masih mengacu pada Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (selanjutnya disebut KUHAP), sedangkan seharusnya untuk tindak pidana seperti ini sudah tidak dapat lagi mengunakan pembuktian sederhana, karena tindak pidana ini termasuk dalam kategori White Collar Crime yang membutuhkan pembuktian khusus dalam pengungkapannya.

Perkembangan teknologi infomasi dan transaksi perdagangan saham saat ini terlampau jauh dengan pembuktian sederhana, tidak selaras rasanya apabila hukum tidak dapat menjangkau Tindak Pidana Insider Trading sampai saat ini. Ini bukan lagi sesuatu yang harus dituntut kepada pemerintah selaku legulator, namun

juga kepada pelaku pasar modal itu sendiri, karena apabila transaksi perdagangan saham yang fair dapat dilaksanakan maka akan memunculkan kepercayaan investor untuk berkecimpung dalam bisnis pasar modal, tentunya dengan dukungan peraturan-peraturan yang dapat menjangkaunya.

IV. 1. Penerapan Pembuktian Insider Trading Menggunakan Pembuktian yang Sudah Dianut di Undang-Undang Tindak Pidana Lain

Berbicara mengenai pembuktian, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah mengenai tata cara pembuktian dan aturan-aturan yang menjadi dasar kewenangan lembaga pasar modal dalam membuktikan praktik Insider Trading ini. Tentunya dalam tindak pidana lain, sudah terdapat berbagai pembuktian yang berbeda dari yang terdapat di KUHAP. Berikut berbagai macam pembuktian diluar KUHAP Indonesia:

IV. 1. 1. Beban Pembuktian Terbalik atau Omkering van het Bewijslast

Pada penerapannya, Indonesia telah menganut pembuktian terbalik secara terbatas. Dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia Gandjar Laksmana mengatakan bahwa pembuktian masih berimbang antara penuntut umum dan terdakwa karena ternyata penuntut umum masih harus ikut membuktikan, walau memang bebannya tidak sebesar pada pembuktian biasa.1

Lihat Gagasan Hukum. Tersedia di http://gagasanhukum.wordpress.com/2011/08/29/pembuktian-terbalik/ dengan judul artikel Pembuktian Terbalik. Artikel ini diunduh pada tanggal 6 November 2013 pukul 16.10

Beban pembuktian negatif dengan menganut asas Beyond Reasonable Doubt yang menjadi roh dari sistem hukum di Indonesia, untuk mencari keadilan belumlah dapat menjawab kasus-kasus berat dan sensitif.2

Keberhasilan tuntutan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam perkara pencucian uang dalam perkara tipikor selain karena penyadapan, tidak lain karena menggunakan pembuktian terbalik Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (selanjutanya disebut UU TPPU) sebagaimana diatur dalam Pasal 77 dan Pasal 78 Pasal 77 berbunyi:

Untuk kepentingan pemeriksaan di sidang pengadilan, terdakwa wajib membuktikan bahwa harta kekayaannya bukan merupakan hasil tindak pidana; secara a contrario, dapat dibaca, terdakwa wajib membuktikan bahwa harta kekayaannya adalah berasal dari tindak pidana..

Hal

ini

secara

hukum

penting

untuk

mencegah Abuse

Of

Power dan Selfincriminating Evidence terhadap terdakwa yang ditentang secara universal. Rumusan kalimat Pasal 77 UU TPPU, bersifat memaksa terdakwa untuk tidak lain harus membuktikan harta kekayaannya ada kaitan dengan tindak pidana yang hanya dipersangkakan kepadanya. Sedangkan negara (penuntut) yang sangat berkepentingan tidak wajib membuktikan tindak pidana (asal) nya (Pasal 69 UU TPPU 2010).
2

Lihat Hukumpedia. Tersedia di http://hukumpedia.com/pidana/pelaksanaan-bebanpembuktian-terbalik-dalam-tindak-pidana-pencucian-uang-hk5242a525c212b.html dengan judul artikel Pelaksanaan Beban Pembuktian Terbalik Dalam Tindak Pidana Pencucian Uang. Artikel ini diunduh pada tanggal 29 Oktober 2013 pukul 20.32

Kalimat Pasal 69 harus dimaknai bahwa, bagi negara, hanya mementingkan merampas harta kekayaan terdakwa yang diduga berasal dari tindak pidana, bukan memberikan perlindungan hukum yang sama seperti terhadap kepentingan negara. Jika kepentingan perampasan aset/harta kekayaan terdakwa yang diutamakan, persoalan ini merupakan masalah moralitas hukum pidana (the Morality of the Criminal Law).

Hakim pengadilan tipikor tidak berwenang memberikan perintah dimaksud karena tidak memiliki kewenangan berdasarkan Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya disebut UU TIPIKOR) dan UU TPPU. Proses pembuktian tersebut hanya berlaku dan dapat diterapkan pada tindak pidana memperkaya diri sendiri secara tidak sah atau Illicit Enrichment.3

Dalam Tindak Pidana Pencucian Uang (selanjutnya disebut TPPU) terdapat lembaga khusus yang berfungsi aparat penyidik yait Pusat Pelaporan dan Analisis Keuangan Transaksi Keuangan (PPATK). Lembaga ini merupakan lembaga independen yang akan melakukan fungsi penyelidikan yaitu mengumpulkan, menyimpan, mengalisis, mengevaluasi informasi transaksi yang diurigai dan diduga sebagai perbuatan pencucian uang, sebelum informasi itu diteruskan kepada penyidik untuk di proses berdasarkan KUHAP.4

Lihat SINDONEWS.com. Tersedia di http://metro.sindonews.com/read/2013/11/06/18/802259/pembuktian-terbalik-tppu dengan judul artikel Pembuktian Terbalik TPPU. Artikel ini di unduh pada tan ggal 6 November 2013 pukul 16.05 4 Edi Setiadi dan Rena Yulia, Hukum Pidana Ekonomi, Yogyakarta, Graha Ilmu, 2010, hal. 149

Fungsi PPATK sangat penting karena merupakan kunci untuk membongkar praktik pencucian uang. Fungsi PPATK mirip dengan Financial Intelegence Unit yang diberi otoritas sebagai suatu lembaga strategis dalam pemberantasan pencucian uang secara preventif maupun represif.5

Dalam kasus Insider Trading, seseorang yang duduga kuat oleh penyidik sebagai pelaku tindak pidana, dapat dimintakan beban pembuktian terbalik terhadapt dirinya. PPATK sulit melacak keuangan seorang Trader, Pemilik Saham dan Pemain Saham karena perputaran uang yang mereka lakukan adalah wajar dan itu terjadi setiap hari. Walaupun penyidik meminta data dari bank akan kerahasiaan uang yang disimpan, tetap saja pada saat disidik akan terlihat bahwa uang yang tersimpan di dalam bank tersebut akan dianggap sebagai uang halal atau bukan dari tindak pidana.

Untuk pelaku Tindak Pidana Insider Trading, penyidikan awal adalah bagaimana membuktikan bahwa pelaku tersebut adalah pelaku dengan bukti permulaan yang cukup untuk melajutkannya ke dalam persidangan. Apabila Penuntut Umum mengembalian perkara untuk dilengkapi (biasanya disebut sebagai P-19)6 dengan alasan kurangnya alat bukti untuk melajutkan ke persidangan, Beban Pembuktian Terbalik harus dilaksanakan disaat penyidikan walaupun itu jarang terjadi.

5 6

Ibid. Lihat hukumonline.com. Tersedia di http://www.hukumonline.com/klinik/detail/cl5170/p-18,-p19,-p-21,-dan-lain-lain dengan judul artikel P-18, P-19, P-20 dan lain-lain. Artikel ini diunduh pada tanggal 10 November2013 pukul 10.17

Beban pembuktian yang ada dalam TPPU mengacu kepada pembuktian harta kekayaan pelaku apakah berasal dari tindak pidana atau bukan, sedangkan dalam Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya disebut TIPIKOR) dalam Pasal 37 ayat (1) UU TIPIKOR tertulis Terdakwa mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi. Berarti pada saat pembuktian ini diterapkan pada Tindak Pidana Insider Trading, maka seharusnya dapat melahirkan kepastian hukum terhadap tindak pidana tersebut.

Sehingga pada saat seseorang yang diduga melakukan Tindak Pidana Insider Trading dapat diberikan hak untuk membuktikan sebaliknya. Dengan demikian pembuktian Insider Trading dapat menggunakan Beban Pembuktian Terbalik yang sesuai dengan Beban Pembuktian Terbalik yang terdapat di dalam kasus TIPIKOR.

Hal ini dapat didukung apabila para regulator di Indonesia memposisikan Tindak Pidana Insider Trading sebagai kejahatan serupa dengan TIPIKOR, maka pembuktian serupa tidak mustahil untuk dilaksanakan. Walaupun dalam pratiknya Tindak Pidana Insider Trading masih dianggap sebagai bukan tindak pidana serius, perbedaan pandangan ini mengakibatkan lambatnya investigasi dan penyidikan kasus-kasus dugaan Insider Trading.

IV. 1. 2. Strict Liability

Konsep Strict Liability atau tanggung jawab mutlak ini berbeda dengan sistem tanggung jawab pidana umum yang mengharuskan adanya kesengajaan atau kealpaan. Dalam sistem tanggung jawab pidana mutlak hanya dibutuhkan pengetahuan dan perbuatan dari terdakwa. Artinya, dalam melakukan perbuatan tersebut, apabila Terdakwa mengetahui atau menyadari tentang potensi kerugian bagi pihak lain, maka kedaan ini cukup untuk menuntut pertanggungjawaban pidana. Jadi, tidak diperlukan adanya unsur sengaja atau alpa dari Terdakwa, namun semata-mata perbuatan yang telah menimbulkan akibat.7

Konsep Strict Liability sebagai eksepsional asas Mens Rea sebagai asas fundamental dalam pertanggungjawaban pidana.8 Lamintang menyebutkan bahwa unsur subyektif adalah unsur-unsur yang melekat pada diri pelaku atau yang berhubungan dengan diri pelaku, dan termasuk ke dalamnya yaitu segala sesuatu yang terkandung dalam hatinya. Sedangkan unsur-unsur obyektif adalah unsurunsur yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaan, yaitu di dalam keadaankeadaan mana tindakan-tindakan dari si pelaku itu harus dilakukan.9

Lihat hukumonline.com. Tersedia di http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4d089548aabe8/konsep-dan-praktik-strict-liabilitydi-indonesia dengan judul artikel Konsep dan Praktik Strict Liability di Indonesia. Artikel ini diunduh pada tanggal 10 November 2013 pukul 09.48 8 Hamzah Hatrik, Asas Pertanggungjawaban Korporasi dalam Hukum Pidana Indonesia (Strict Liability dan Vicarious Liability), Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 1996, hal. 186 9 Lihat Dimensi Ilmu. Tersedia di http://dimensilmu.blogspot.com/2013/07/unsur-unsur-tindakpidana.html dengan judul artikel Unsur-Unsur Tindak Pidana. Artikel ini diunduh pada tanggal 10 November 2013 pukul 15.30

Lebih lanjut, Lamintang merinci unsur subyektif dan unsur obyektif dari perbuatan pidana sebagai berikut:10 a. Kesengajaan atau ketidaksengajaan (Dolus Atau Culpa); b. Maksud atau Voornemen pada suatu percobaan seperti yang dimaksud dalam Pasal 53 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (selanjutnya disebut KUHP); c. Macam-macam maksud atau Oogmerk seperti yang terdapat misalnya di dalam kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan, pemalsuan dan lain-lain; d. Merencanakan terlebih dahulu atau Voorbedachte Raad seperti yang misalnya terdapat di dalam kejahatan pembunuhan menurut Pasal 340 KUHP; e. Perasaan takut atau Vress seperti yang antara lain terdapat di dalam rumusan tindak pidana menurut Pasal 308 KUHP.

Adapun unsur-unsur obyektif dari perbuatan pidana terdiri dari: a. Sifat melanggar hukum; b. Kualitas dari pelaku, misalnya keadaan sebagai pegawai negeri di dalam kejahatan jabatan menurut Pasal 415 KUHP atau keadaan sebagai pengurus atau komisaris dari suatu perseroan terbatas di dalam kejahatan menurut Pasal 398 KUHP; c. Kausalitas, yakni penyebab hubungan suatu tindakan sebagai penyebab dengan sesuatu kenyataan sebagai akibat.11

Menurut ahli diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:


10 11

Ibid. Ibid.

Unsur Subjektif, yang merupakan unsur dari pembuat/pelaku pidana, yaitu: a. Adanya kesalahan pembuat, yang terdiri dari Dolus dan Culpa. b. Adanya kemampuan bertanggung jawab (tidak ada alasan pemaaf).

Unsur Objektif, yang merupakan unsur perbuatan, yaitu: a. Perbuatan tersebut mencocoki rumusan delik dalam undang-undang b. Perbuatan tersebut bersifat melawan hukum, baik secara formil maupun materiil (tidak ada alasan pembenar).

Dalam tindak pidana biasa pembuktian mengacu terhadap empat syarat diatas, pada saat salah satu syarat tindak terpenuhi makan terdakwa dapat dinyatakan bebas atau lepas. Disini penulis mengacu kepada unsur subjektif dalam unsur pemidaan di hukum pidana Indonesia. Tindak Pidana Insider Trading adalah tindak pidana yang tergolong sebagai tindak pidana yang sulit pembuktiannya, salah satunya dalam membuktikan kesalahan pada pelaku tindak pidana tersebut.

Bertukar informasi dalam bisnis bukanlah suatu kejahatan, karena saat hal tersebut bisa menguntungkan masing-masing pihak maka wajar saja kalau banyak digunakan dalam transaksi bisnis sehari-hari. Namun pada saat ketentuan tersebut bertentangan dengan apa yang diatur dalam undang-undang maka hal tersebut dikatakan melanggar undang-undang.

Pertukaran informasi dalam pasar modal bisa menjadi hal yang riskan apabila menyangkut tentang informasi yang ada dalam sebuah perusahaan apalagi

merupakan informasi yang belum disebarkan ke publik. Penyidik dan Penuntut Umum juga perlu membuktikan kesalahan dalam Tindak Pidana Insider Trading, apakah penyebaran informasi oleh pelaku adalah untuk keuntungan sendiri atau persusahaannya adalah sebuah bentuk kesengajaan yang dimaksud dengan Dolus dalam hukum pidana Indonesia.

Seperti yang terdapat dalam Pasal 96 huruf a dan b UUPM, dikenakan kepada orang dalam yang: a. mempengaruhi Pihak lain untuk melakukan pembelian atau penjualan atas Efek dimaksud; b. memberi informasi orang dalam kepada Pihak mana pun yang patut diduganya dapat menggunakan informasi dimaksud untuk melakukan pembelian atau penjualan atas Efek.

Serta dalam Pasal 97 ayat (1) UUPM yang ditujukan untuk Tippee: Setiap Pihak yang berusaha untuk memperoleh informasi orang dalam dari orang dalam secara melawan hukum dan kemudian memperolehnya dikenakan larangan yang sama dengan larangan yang berlaku bagi orang dalam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 95 dan Pasal 96.

Dalam konsep Strict Liability, unsur sengaja oleh Tipper dan Tippee dalam memberikan informasi seperti yang terdapat dalam pasal diatas tidak perlu dibuktikan oleh Penuntut Umum, sepanjang akibat dari tindak pidana tersebut terbukti yakni merugikan Trader lain di dalamnya.

10

Dengan menganut konsep Strict Liability disamping asas tiada pidana tanpa kesalahan, maka kesulitan pembuktian pembuktian unsur kesalahan dalam Tindak Pidana Insider Trading, dapat dipecahkan. Artinya penggunaan Strict Liability dapat diutamakan dalam menghadapi selain tindak pidana korporasi saja melainkan juga terhadap Tindak Pidana Insider Trading. IV. 1. 3. Vicarious Liability

Vicarious Liability adalah pertanggungjawaban menurut hukum atas perbuatan salah yang dilakukan oleh orang lain.12

Terdapat 2 syarat untuk dapat diterapkannya Vicarious Liability, yaitu:13 Telah ada pendelegasian wewenang dari majikan kepada karyawan. Apabila perbuatan tersebut sedemikian rupa dapat dipandang sebagai perbuatan majikan atau dalam hal ini majikan bertindak sebagai pembuat intelektual dan karyawan bertindak sebagai pembuat fisik.

Menurut doktrin Vicarious Liability seseorang dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatan dan kesalahan orang lain. Pertanggungjawaban demikian hampir semuanya ditujukan pada delik undang-undang (Statutory Offences) dan dasarnya adalah maksud pembuat undang-undang (sebagaimana dapat dibaca dari ketentuan di dalamnya) bahwa delik ini dapat dilakukan baik secara Vicarious
12

Lihat yeremiaindonesia. Tersedia di http://yeremiaindonesia.wordpress.com/tag/vicariousliability/ dengan judul artikel Catatan Kejahatan Korporasi. Artikel ini diunduh pada tanggal 10 November pukul 21.13 13 Ibid.

11

maupun secara langsung. Dengan kata lain, tidak semua delik dapat dilakukan secara Vicarious. Pengadilan telah mengembangkan sejumlah prinsip-prinsip mengenai hal ini. Salah satunya adalah Employment Principle.14

Menurut doktrin ini, majikan (Employer) adalah penanggungjawab utama dari perbuatan-perbuatan para buruh/karyawan yang melakukan perbuatan itu ruang lingku tugas/pekerjaannya.

Apabila doktrin ini dimasukkan dalam sistem pembuktian Tindak Pidana Insider Trading, maka pada saat tindak pidana ini dilakukan oleh Trader/Broker/Pialang Saham yang melakukan jual-beli saham atas dasar pekerjaan/tugas yang didapat dari perusahaan sekuritas tempatnya bekerja. Maka dapat diketahui kebenaran bahwa tindak pidana tersebut dilakukan oleh dan untuk dirinya sendiri (dalam hal ini Trader/Broker/Pialang Saham) yang dengan dengan sengaja melakukan Insider Trading dengan maksud pribadi atau merupakan tugas yang diberikan perusahaan sekuritas tersebut atas dasar keuntungan perusahaan yang akan banyak mendapatkan banyak investor apabila para Trader/Broker/Pialang Saham membuat keuntungan besar.

Namun semua tetap memiliki kendala untuk menghadirkan alat bukti permulaan. Karena umumnya pada kasus pidana, diperlukan adanya bukti permulaan yang cukup sampai seseorang dapat dinyatakan sebagai tersangka. Setelah adanya penyidikan lanjutan, kemudian ditentukan apakah tersangka tersebut bersama
14

Barda Nawawi Arief, Perbandingan Hukum Pidana, Semarang, PT. Raja Grafindo Persada, 2002, hal. 151

12

kasusnya dapat atau tidak diajukan ke tahap penuntutan. Namun kendala yang ada untuk sampainya kasus pada tahap diterimanya berkas penyidikan oleh Penuntut Umum (atau biasanya disebut sebagai P-21) adalah alat bukti yang cukup sesuai yang tercantum dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP.

IV. 2. Pembuktian Insider Trading di Negara Amerika Serikat

Seperti yang sudah dibahas di bab sebelumnya, pembuktian di Amerika memang sudah sangat maju, dikarenakan kemajuan pertumbuhan ekonomi di Amerika khususnya di bidang pasar modal. Amerika memperketat aturan-aturan mengenai pasar modal sejak peristiwa jatuhnya harga saham Amerika pada tahun 1929, yang kemudian membuat Amerika gencar dalam menekan jumlah kejahatan di bidang pasar modal, seperti mengeluarkan the Securities Act of 1933, the Securities Act of 1934, The Insider Trading Sanctions Act of 1984 dan The Insider Trading and Securities Fraud Enforcement Act of 1988.15

SEC juga melakukan pertukaran informasi dalam melakukan investigasi yang disepakati bersama negara-negara ekonomi maju yang bersifat saling

menguntungkan. Di Amerika Insider Trading digolongkan sebagai kejahatan yang dapat di hukum dengan denda dan penjara, karena Insider Trading dianggap sebagai salah satu tindak pidana berbahaya yang pernah merusak perekonomian Amerika.

15

Ellen Maharani, Urgensi Aturan Hukum atas Insider Trading di Indonesia dalam Perspektif Manajemen Risiko, Seminar Pasar Modal, Scribd, tersedia di http://www.scribd.com/doc/38544779/12/II-Kasus-PT-Indosat-Tbk, hal. 16

13

Wewenang lain yang dimiliki SEC adalah penggunaan penyadapan dengan prosedur tertentu dan pengungkapan kejahatan oleh Unnamed Whistleblower, serta hasil dari kerjasama internasional. Amerika sendiri memberikan wewenang kepada penegak hukum dengan tujuan kepentingan pemodal, penegakkan hukum dan pertumbungan ekonomi dilindungi.

Bercermin dari peristiwa tersebut membuat Amerika dalam hal ini SEC untuk mendeteksi dan pemantauan secara khusus dalam setiap aktivitas perdagangan saham, dalam hal ini SEC juga diberikan kewenangan luas untuk melakukan investigasi terhadap Insider Trading. Saat ini OJK masih belum memiliki wewenang khusus seperti yang dimiliki oleh SEC, untuk membantu penyidikan sampai pembuktian Insider Trading.

IV. 3. Upaya yang Seharusnya Dilakukan OJK Selaku Regulator dan Penyidik dalam Kasus Pasar Modal

Sangat diperlukan keseriusan dalam penanganan kasus Insider Trading, Amerika memiliki SEC dengan wewenang yang luas dapat memberikan konstribusi yang sangat dirasakan secara positif oleh pemodal, dengan kebenaran suatu informasi dan kepastian hukum yang terjadi dari suatu kasus pasar modal. Tentunya pengaruh dari hal tersebut membuat investor tidak ragu dalam menanamkan modalnya.

14

Di Indonesia, permasalahan ini masih belum menjadi sesuatu yang wajib dipehatikan, karena perbedaan cara pandang pihak terkait dalam menyikapi kasuskasus dalam pasar modal. Hal ini dirasa sangat merugikan investor di Indonesia, sehingga menjadi salah satu penyebab kurangnya minat pemodal khususnya masyarakat dalam menanakam modalnya di bursa saham. Seharusnya hal tersebut sudah menjadi permasalahan serius, terkait dengan pertumbuhan ekonomi negara ini.

Memang dalam kasus Perusahaan Gas Negara (PGAS) ada beberapa orang yang ditarik sebagai pelaku dugaan Insider Trading, tetap lolos dari pidana penjara, padahal dalam Pasal 104 UUPM dijelaskan bahwa pelaku yang melanggar Pasal 96 dan Pasal 97 UUPM dapat dikenakan pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak 15 milyar rupiah. Hukuman yang diterima pelaku dalam kasus PGAS jauh di bawah apa yang ditetapkan oleh Pasal 104 UUPM dan hal tersebut bukan merupakan pidana denda, melainkan hanya sanksi administratif dari peraturan yang dibuat oleh Bapepam-LK pada saat itu.

Penegakkan hukum di bidang pasar modal khususnya dalam kasus-kasus dugaan Insider Trading terkendala dari lambatnya penanganan dari pihak penyidik dari kepolisian dan OJK, ditambah OJK pada saat ini masih mengalami masa transisi pasca perubahan nama dan fungsi dari Bapepam-LK. Memang aturan-aturan yang pernah dikeluarkan oleh Bapepam-LK, masih dipakai sampai saat ini, namun dengan bertambahnya tugas dari OJK dikhawatirkan bahwa bentuk pengawasan

15

dalam transaksi pasar modal menjadi longgar dan dapat dimanfaatkan untuk perbuatan-perbuatan curang sampai tindak pidana.

Pernah ada wacana OJK akan membentuk tim khusus investigasi untuk kasuskasus pelanggaran dan kejahatan di pasar modal, yang membuat penyidikan bukan lagi dari pihak kepolisian. Sehingga pada saat terdapat kasus-kasus pasar modal OJK akan langsung melakukan investigasi, namun wacana ini sepertinya masih jauh pelaksanaannya, karena saat ini OJK masih dalam masa transisi perubahan nama dan fungsi dari Bapepam-LK. Sampai sekarang pun kesibukan OJK masih dalam rangka pengenalan melalui seminar-seminar mengenai investasi, sedangkan dari pihak OJK sendiri masih belum terlihat pergerakannya dalam penanganan kasus-kasus pasar modal.

16