Anda di halaman 1dari 2

Pentingnya Vaksin HPV, Cegah Kanker Cervix

Senin, 19 Desember 2011 17:07

berita2.com (Surabaya, Jawa Timur): Kanker cervix (leher rahim dan mulut rahim) ibarat momok yang mengincar kaum wanita. Di Indonesia, kanker ini menempati peringkat pertama untuk penyakit kanker. Karena itu, kaum wanita harus mewaspadainya. Seluk beluk kanker cervix ini dibahas dalam seminar yang diadakan dalam Gathering Pasien Kanker Cervix bertema Bersama Kita Bisa Memerangi Kanker Cervix di Graha Amerta dr. Soetomo Surabaya pada Sabtu (17/12/2011). Salah satu pembicara di seminar ini adalah Prof. dr. Heru Santoso SpOG (K) yang memaparkan materi berjudul Kenker Mulut Rahim: Deteksi Dini, Pencegahan dan Penanganan. Kanker adalah tumor ganas yang tumbuh cepat dan mampu menyebar, ujarnya. Prof. Heru mengatakan, mereka yang beresiko mengalami kanker cervix adalah yang berhubungan seksual pada usia muda, berhubungan seksual dengan banyak mitra, memiliki banyak anak, punya riwayat keluarga yang menderita kanker cervix dan merokok. Penyebab kanker cervix adalah human papilloma virus (HPV). HPV tak bisa hidup dalam darah atau tempat lain, namun hanya menginfeksi sel epitel cervix. Ada 120 tipe HPV, 30 40 tipe diantaranya menyerang anogenital yaitu area kelamin termasuk kulit penis, mulut vagina dan anus. HPV terbagi dalam tipe resiko tinggi dan tipe resiko rendah. HPV tipe resiko tinggi yang utama adalah tipe 16 & 18 yang dapat menyebabkan kanker cervix. Kedua tipe ini menempati porsi 70% dibandingkan HPV resiko tinggi lainnya. Sedangkan HPV tipe resiko rendah adalah tipe 6 & 11 yang tak menyebabkan kanker. HPV didapat sebagian besar melalui hubungan seksual dan menginfeksi sel yang mengalami lecet. Namun hanya 4% yang terinfeksi HPV akan menjadi kanker cervix dan butuh 5 8 tahun untuk menjadi kanker. Tak ada pengobatan khusus terhadap infeksi HPV. Sebanyak 75% akan hilang dengan sendirinya dalam waktu 6 12 bulan, ujarnya. Prof. Heru menjelaskan perjalanan kanker cervix. Sebelum menjadi kanker, terjadi pra-kanker. Hal ini bisa diantisipasi dengan deteksi dini yaitu menemukan kelainan sebelum menjadi kanker. Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan antara lain dengan Pap Smear. Pap Smear adalah metode pengambilan sel mulut rahim dan sel leher rahim dengan cara mengusap mulut rahim kemudian diperiksa dengan mikroskop. Pap Smear disarankan pada wanita yang telah berhubungan seksual (dalam 3 tahun pertama setelah mulai berhubungan seksual). Pap Smear dilakukan setahun sekali dan dihentikan pada usia 70 tahun ke atas setelah hasilnya 3 kali berturut-turut normal. Kelainan pra-kanker cervix bisa didiagnosis bila pada Pap Smear ditemukan kelainan. Maka dilanjutkan dengan pemeriksaan kolposkopi (memperbesar gambar cervix), ujar Prof. Heru. Ia mengatakan, Pap Smear bukan mendiagnosis secara pasti, namun merupakan pemeriksaan awal. Diagnosis yang pasti dilakukan dengan pemeriksaan histologi (memeriksa jaringan) dari bahan hasil biopsi. Pap Smear bisa menunjukkan hasil normal, pra-kanker tahap I, II dan III, kanker stadium 0 dan kanker invasif. Pengobatan pada tahap pra-kanker bisa memberikan hasil yang memuaskan. Pada pra-kanker tahap I bisa dilakukan obesrvasi dengan ulangan Pap Smear 3 6 bulan dan Cauter / LEEP. Sedangkan pada pra-kanker tahap II & III, harus dilakukan tindakan dengan Cauter / LEEP. Bagi wanita yang sudah memiliki anak cukup, bisa dilakukan pengangkatan rahim

1/2

Pentingnya Vaksin HPV, Cegah Kanker Cervix


Senin, 19 Desember 2011 17:07

(histerektomi). LEEP dilakukan dengan mengambil bagian cervix yang tak normal. Lama operasi 10 15 menit sehingga pasien tak perlu menginap. Cervix akan kembali normal dalam 1,5 2 bulan. Prof Heru menekankan, wanita perlu waspada terhadap kanker cervix jika mengalami gejala perdarahan saat berhubungan intim, keputihan yang berbau dan tidak sembuh dengan pengobaan, serta nyeri yang terjadi jika kanker pada stadium lanjut. Namun perdarahan dan keputihan tidak otomatis disebabkan kanker cervix. HPV bisa dicegah dengan monogami, menjaga higienitas dan sanitasi serta melakukan vaksin HPV. Vaksin ini memberikan proteksi hingga 80% terhadap HPV resiko tinggi yang paling banyak menyebabkan kanker. Ia menambahkan, bila hasil Pap Smear abnormal, misalnya terdapat lesi pra-kanker, maka harus diobati dulu. Vaksin bukan merupakan pengobatan untuk lesi pra-kanker. Vaksin HPV diberikan 3 kali. Injeksi kedua dilakukan 2 bulan setelah injeksi pertama, sedangkan injeksi ketiga dilakukan 4 bulan setelah injeksi kedua. Menurut Prof. Heru, manfaat vaksin HPV bagi setiap wanita tidak sama, bergantung pada seberapa besar paparan terhadap HPV yang sudah terjadi. Karena itu, lebih efektif bila vaksin diberikan pada umur 9 26 tahun dan belum pernah berhubungan seksual. Pada rentang usia tersebut, efek proteksi mencapai 100%. Efektivitasnya berkurang pada usia di atas 26 tahun, namun vaksin tetap penting karena dapat mengurangi resiko. Vaksin bisa diberikan langsung pada wanita yang belum pernah berhubungan seksual. Wanita yang pernah berhubungan seksual sebaiknya melakukan Pap Smear lebih dulu untuk melhat kondisi sel-sel cervix. Vaksin masih bermanfaat pada wanita yang telah terinfeksi HPV karena mungkin saja ia hanya terinfeksi HPV 16 sehingga masih terproteksi terhadap HPV 18. Efek samping vaksin relatif minimal, antara lain kemerahan pada area suntikan, pusing dan demam. Setelah divaksinasi, bukan berarti bebas Pap Smear. Ini perlu tetap dilakukan secara rutin, paparnya. Prof. Heru menekankan, vaksin tak boleh diberikan pada orang yang sedang sakit berat, wanita hamil atau dalam waktu dekat berencana hamil. (natalia)

2/2