Anda di halaman 1dari 7

1. Hydrothermal proses 2.1.

1 Endapan mineral yang berhubungan dengan proses- proses magmatik

Magma berasal dari mantel dan terbawa ke zona regangan samudra, mengalami pendinginan dan kristalisasi dengan cepat membentuk batuan basaltik yang menyusun kerak samudra. Jika di lain pihak, magma berpindah menuju kerak benua, maka akan mendingin lebih lambat dan mengkristal secara bertahap, menghasilkan kumpulan batuan yang khas dan komposisi bijih yang berbeda pada tahap yang berbeda pada proses pendinginan. Kristalisasi tahap awal membentuk batuan yang kaya akan besi, magnesium, dan silikat yang umumnya berwarna hijau tua sampai hitam. Mineralmineral bijih dapat mengalami segregasi membentuk lapisan yang terpisah pada tahap ini, sebagai contoh lapisan-lapisan ekstensif dari kromit, atau sulfida nikel, dan platinoid di Bushveld Complex, Afrika Selatan atau Stillwater Complex di Montana, USA. Krsitalisasi awal menghabiskan magma besi dan magnesium, dan mengawali pengkayaan relatif dalam silikon, aluminium, kalsium, sodium, dan potasium. Magma tersebut mengkristal membentuk batuan yang kaya kwarsa-feldspar dari kelompok granit yang menyusun sebagian besar kerak benua bagian atas. Kristalisasi magma membebaskan banyak air yang bermigrasi ke atas dan keluar melalui area yang bertekanan dan bertemperatur lebih rendah, aliran yang meningkat oleh aliran air konvektif yang berasal dari batuan sekitarnya. Air panas atau hydrothermal solution sering mengandung logam yang diendapkan dalam kerak bumi yang paling atas. Tergantung pada kedalaman dan temperatur pengendapan, mineral-mineral dan asosiasi elemen yang berbeda sangat besar , sebagai contoh oksidaoksida timah dan tungsten di kedalaman zona-zona bertemperatur tinggi; sulfida-sulfida tembaga, molibdenum, timbal, dan seng dalam zona intermediet; sulfida-sulfida atau sulfosalt perak dan emas native di dekat

permukaan pada zona temperatur rendah (lihat Gambar 2.1). Mineralmineral dapat mengalami disseminated dengan baik antara silikat-silikat, atau terkonsentrasi dalam rekahan yang baik dalam batuan beku, sebagai contoh endapan tembaga porfiri Bingham di Utah (Gambar 2.2 dan Tabel 2I).

Gambar 2.2 Model Geologi

Jenis Endapan Tembaga di Amerika Selatan (After Porfiri

Sillitoe,1973)

2. Principles of hydrothermal processes Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat aqueous sebagai hasil differensiasi magma. Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relative ringan, dan merupakan sumber terbesar (90%) dari proses pembentukan endapan. Berdasarkan cara pembentukan endapan, dikenal dua macam endapan hidrothermal, yaitu : 1. Cavity filing, mengisi lubang-lubang ( opening-opening ) yang sudah ada di dalam batuan. 2. Metasomatisme, mengganti unsur-unsur yang telah ada dalam batuan dengan unsur-unsur baru dari larutan hidrothermal. Sistem hidrotermal didefinisikan sebagai sirkulasi fluida panas ( 50 >500C ), secara lateral dan vertikal pada temperatur dan tekanan yang bervariasi di bawah permukaan bumi. Sistem ini mengandung dua

komponen utama, yaitu sumber panas dan fase fluida. Sirkulasi fluida hidrotermal menyebabkan himpunan mineral pada batuan dinding menjadi tidak stabil dan cenderung menyesuaikan kesetimbangan baru dengan membentuk himpunan mineral yang sesuai dengan kondisi yang baru, yang dikenal sebagai alterasi ( ubahan ) hidrotermal. Endapan mineral hidrotermal dapat terbentuk karena sirkulasi fluida hidrotermal yang melindi ( leaching ), mentranspor, dan mengendapkan mineral-mineral baru sebagai respon terhadap perubahan fisik maupun kimiawi ( Pirajno, 1992, dalam Sutarto, 2004 ). 3. Opening in rocks 4. Pore spaces 5. Porosity 6. Permeability 7. Bedding planes 8. Vesicles or blow holes 9. Volcanic flow drains 10. Igneous breccias cavities Breksi beku terdiri dari fragmen berbagai jenis batuan,

termasuk hornfels, nepheline syenite, gabbros dan pyroxenites biasanya disemen oleh albite halus. Fragmen batuan cenderung sudut dalam bentuk, dan bervariasi dalam ukuran dari beberapa sentimeter hingga hampir 1 meter di seberang. Memanjang, tidak teratur rongga 5 - 15cm panjang terjadi di albite di celah antara fragmen, dan mengandung suite unik luar biasa mineral mengkristal. Dalam beberapa zona breksi fragmen batuan mempunyai pelelehan parsial dan reaksi rims, dan terlihat lebih bulat sebagai akibat dari yang telah dicerna sebagian oleh magma meningkat. Rongga kurang umum, lebih kecil, atau tidak ada dalam jenis breksi Minerals found in igneous breccias Actinolite Fluorapophyllite Parisite-(Ce)

Aegirine Albite Analcime Anatase Ancylite-(Ce) Arsenopyrite Ashcroftine-(Y) Barite Bastnsite-(Ce) Biotite Brookite Calcite Carbocernaite Catapleiite Cerussite Cordylite-(Ce) Donnayite-(Y) Elpidite Epididymite Eudialyte Eudidymite Ewaldite Fluorapatite

Fluorite Gaidonnayite Galena Ganophyllite Gismondine Gonnardite Harmotome Joaquinite-(Ce) Kainosite-(Y) Labuntsovite Lead Leucosphenite Lorenzenite Magnesio-hornblende Mangan-neptunite Microcline Millerite Molybdenite Monteregianite-(Y) Narsarsukite Natrolite Nenadkevichite Paranatrolite

Pectolite Pyrite Pyrophanite Pyrrhotite Quartz Richterite Rutile Sodalite Sphalerite Steacyite Stillwellite-(Ce) Strontianite Synchysite-(Ce) Tadzhikite-(Ce) Tainiolite Thomsonite Titanite Vinogradovite Wulfenite Xenotime-(Y) Yofortierite Zircon

* From Mineralogical Record Vol 21, Horvth L. and Gault R.A 11. Fissure 12. Shear zone cavities 13. Folding and warping 14. Volcanic pipes 15. Rock alteration opening

16. Hydrothermal alteration Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat "aqueous" sebagai hasil differensiasi magma. Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relatif ringan, dan merupakan sumber terbesar (90%) dari proses pembentukan endapan-endapan bijih. Berdasarkan cara pembentukan endapan, dikenal dua macam endapan hidrothermal,yaitu : 1. Cavity filing : mengisi lubang-lubang (opening-opening) yang sudah ada di dalam batuan. 2. Metasomatisme : mengganti unsur-unsur yang telah ada dalam batuan dengan unsur-unsur baru dari larutan hydrothermal. Berdasarkan cara pembentukan endapan, dikenal dua macam endapan hidrothermal, yaitu : Epitermal : Temp 0-200 c Meso thermal : Temp 150 350 Hypothermal : temperature 300 500

Setiap tipe endapan hydrothermal diatas selalu membawa mineral-mineral yang tertentu (spesifik), berikut altersi yang ditimbulkan barbagai macam batuan dinding. Tetapi minera-mineral seperti pirit (FeS2), kuarsa (SiO2), kalkopirit (CuFeS2), florida-florida hampir selalu terdapat dalam ke tiga tipe endalan hydrothermal. Beberapa alterasi yang dapat ditimbulkan untuk setiap tipe endapan hidrothermal pada batuan dinding dapat dilihat pada Tabel III-2. Alterasi-alterasi yang terjadi pada fase hydrothermal : Tabel III-2 Macam-macam Alterasi Pada Fase Hydrothermal Keadaan Epithermal Batuan dinding batuan gamping lava batuan beku intrusi Hasil alterasi Silisifikasi alunit, clorit, pirit, beberapa sericit, mineral-mineral lempung klorit, epidot, kalsit, kwarsa, serisit, mineral-mineral lempung Mesothermal batuan gamping Silisifikasi selisifikasi, mineral-mineral lempung

serpih, lava batuan beku sebagian besar serisit, kwarsa, beberapa mineral asam Hypothermal batuan beku granit, sekis lava basa lempung greissen, putih, tourmalin, piroksen, serpentin,topaz, epidotmika dan klorit amphibole.

Paragenesis endapan hipothermal dan mineral gangue adalah : emas (Au), magnetit (Fe3O4), hematit (Fe2O3), kalkopirit (CuFeS2), arsenopirit (FeAsS), pirrotit (FeS), galena (PbS), pentlandit (NiS), wolframit : Fe (Mn)WO4, Scheelit (CaWO4), kasiterit, (SnO2), Mo-sulfida (MoS2), Ni-Co sulfida, nikkelit (NiAs), spalerit (ZnS), dengan mineral-mineral gangue antara lain : topaz, feldspar-feldspar, kuarsa, tourmalin, silikat-silikat, karbonat-karbonat. Sedangkan paragenesis endapan mesothermal dan mineral gangue adalah : stanite (Sn, Cu) sulfida, sulfida-sulfida : spalerit, enargit (Cu3AsS4), Cu sulfida, Sb sulfida, stibnit (Sb2S3), tetrahedrit (Cu,Fe)12Sb4S13, bornit (Cu2S), galena (PbS), dan kalkopirit (CuFeS2), dengan mineral-mineral ganguenya : kabonat-karbonat, kuarsa, dan pirit. Paragenesis endapan ephitermal dan mineral ganguenya adalah : native cooper (Cu), argentit (AgS), golongan Ag-Pb kompleks sulfida, markasit (FeS2), pirit (FeS2), cinnabar (HgS), realgar (AsS), antimonit (Sb2S3), stannit (CuFeSn), dengan mineral-mineral ganguenya : kalsedon (SiO2), Mg karbonat-karbonat, rhodokrosit (MnCO3), barit (BaSO4), zeolit (Al-silikat) 17. Dolomitazion Mineral dolomit merupakan variasi dari batu gamping (CaCO3) dengan kandungan mineral karbonat > 50%. Istilah dolomit pertama kali digunakan untuk batuan karbonat tertentu yang terdapat di daerah Tyrolean Alpina (Pettijohn, 1956). Dolomit dapat terbentuk baik secara primer maupun sekunder. Secara primer dolomit biasanya terbentuk bersamaan dengan proses mineralisasi yang umumnya berbentuk urat-urat. Secara sekunder, dolomit umumnya terjadi karena terjadi pelindihan (leaching) atau peresapan unsur magnesium dari air laut kedalam batugamping atau istilah ilmiahnya proses dolomitisasi. Proses

dolomitisasi adalah proses perubahan mineral kalsit menjadi dolomit. Halhal yang mempengaruhi pembentukan dolomit yaitu tekanan air laut yang banyak mengandung unsure magnesium dalam jangka waktu yang relatif lama. 1. Silicificatipon

Merupakan salah satu tipe alterasi hidrotermal yang paling umum dijumpai dan merupakan tipe terbaik. Bentuk yang paling umum dari silika adalah (E-quartz, atau -quartz, rendah quartz, temperatur tinggi, atau tinggi kandungan kuarsanya (>573C), tridimit, kristobalit, opal, kalsedon. Bentuk yang paling umum adalah quartz rendah, kristobalit, dan tridimit kebanyakan ditemukan di batuan volkanik. Tridimit terutama umum sebagai produk devitrivikasi gelas volkanik, terbentuk bersama alkali felspar. Selama proses hidrotermal, silika mungkin didatangkan dari cairan yang bersirkulasi, atau mungkin ditinggalkan di belakang dalam bentuk silika residual setelah melepaskan (leaching) dari dasar. Solubilitas silika mengalami peningkatan sesuai dengan temperatur dan tekanan, dan jika larutan mengalami ekspansi adiabatik, silika mengalami presipitasi, sehingga di daerah bertekanan rendah siap mengalami pengendapan (Pirajno, 1992). 2. Sericitization