Anda di halaman 1dari 17

SURAT PERJANJIAN PEMBORONGAN

(Kontrak)

NOMOR

1812/PL5/PPK/LK/2012

TANGGAL

23 JANUARI 2012

PEKERJAAN

: PEMBUATAN DINDING PENAHAN SEBELAH GEDUNG C


POLITEKNIK NEGERI SEMARANG

HARGA BORONGAN :

Rp 88.975.000,- ( DELAPAN PULUH DELAPAN JUTA


SEMBILAN RATUS TUJUH PULUH LIMA RIBU RUPIAH )

TAHUN ANGGARAN : 2012

DILAKSANAKAN OLEH :
RISMA KARYA Engineering
JL. SUMURBOTO TIMUR III NO.11
SEMARANG

SURAT PERJANJIAN PEMBORONGAN


PEMBUATAN DINDING PENAHAN SEBELAH GEDUNG C
POLITEKNIK NEGERI SEMARANG
DILAKSANAKAN OLEH :
RISMA KARYA Engineering
JL. SUMURBOTO TIMUR III NO.11
SEMARANG

Pada hari ini Senin tanggal dua puluh tiga bulan Januari tahun dua ribu dua belas ( 23 01
2012 ), kami yang bertanda tangan dibawah ini :
I.

Nama

: Drs. Samsul Maarif, MM

Jabatan

: Pejabat Pembuat Komitmen Politeknik Negeri Semarang

Alamat Kantor

: Jl. Prof. Soedarto, SH. Tembalang Semarang

Selaku Pejabat Pembuat Komitmen Politeknik Negeri Semarang berdasarkan Surat


Keputusan Mendiknas RI Nomor : 813/A.A3/KU/2011 tanggal 3 Januari 2011, dalam
hal ini bertindak untuk dan atas nama Politeknik Negeri Semarang yang selanjutnya
disebut sebagai PIHAK PERTAMA.
II. N a m a

: Putriana Chomsati S.T, M.T

Jabatan

: Direktur Utama RISMA KARYA Engineering

Alamat Kantor

: JL. Sumurboto Timur III No.11

Yang didirikan sesuai dengan Akte Notaris Nomor : 50 tanggal 22 Nopember 2008 oleh
Raj. SA. RINI ANDRIJANI, SH., yang dalam hal ini sesuai dengan ketentuan Anggaran
Dasarnya, bertindak untuk dan atas nama RISMA KARYA Engineering yang selanjutnya
disebut sebagai PIHAK KEDUA.
Kedua belah pihak sepakat mengadakan Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Pembuatan
Dinding Penahan Sebelah Gedung C Politeknik Negeri Semarang, selanjutnya disebut dengan
Surat Perjanjian, dengan ketentuan dan syarat syarat sebagaimana tercantum dalam pasal pasal sebagai berikut :

PASAL 1
LINGKUP PEKERJAAN
PIHAK PERTAMA memberikan tugas pekerjaan kepada PIHAK KEDUA, dan PIHAK
KEDUA menerima tugas tersebut, yaitu untuk melaksanakan pekerjaan : Pembuatan Dinding
Penahan Sebelah Gedung C Politeknik Negeri Semarang sesuai Daftar Terlampir.
PASAL 2
DASAR PELAKSANAAN PEKERJAAN

Sebagai dasar pelaksanaan pekerjaan ini adalah :


1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945;
2. Keppres Nomor 42 Tahun 2002 jo. Keppres No. 72 tahun 2004 tentang Pedoman
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
3. Perpres Nomor 54 Tahun 2010, Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah
4. DIPA Nomor : 0526/026.05.2.02/14/2011, tanggal 18 Desember 2010
5. Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS) dengan semua perubahan sesuai dengan Berita
Acara Penjelasan Nomor : 2605/PL5/Pan/LK/2011 tanggal 12 Nopember 2011;
6. Surat Keputusan Penetapan Penyedia Barang/Jasa
tanggal 21 Nopember 2011

: Nomor : 2301/PL4/Pan/LK/2011

PASAL 3
DIREKSI / PENGAWAS PEKERJAAN

1. Untuk melakukan pengendalian pekerjaan yang terdiri atas pengawasan dan tindakan
pengoreksian, sehingga PIHAK KEDUA dapat melaksanakan pekerjaan sebaik-baiknya
dan sesuai dengan ketentuan dalam Surat Perjanjian ini, maka PIHAK PERTAMA
menunjuk Staff Pengawas Politeknik Negeri Semarang, sebagai Pengawas Pekerjaan dan
bertindak atas nama PIHAK PERTAMA, penunjukan tersebut akan diberitahukan secara
tertulis kepada PIHAK KEDUA.
2. PIHAK KEDUA harus memenuhi segala petunjuk ( dalam hal teknis, berdasarkan RKS
dan Addendum / Berita Acara Aanwijzing ) dan atau perintah dari Pengawas Pekerjaan /
PIHAK PERTAMA.
3.

PASAL 4
BAHAN - BAHAN DAN ALAT ALAT

1. Bahan-bahan, Alat-alat dan segala sesuatunya yang dipergunakan untuk melaksanakan


pekerjaan pemborongan tersebut dalam Pasal 1 perjanjian ini, harus disediakan oleh
PIHAK KEDUA.
2. PIHAK KEDUA wajib membuat tempat atau gudang yang baik untuk menyimpan bahanbahan dan alat-alat tersebut guna kelancaran pekerjaannya.
3. PIHAK PERTAMA / Pengawas Pekerjaan berhak menolak bahan-bahan dan alat-alat
yang disediakan oleh PIHAK KEDUA, jika spesifikasi dan kualitasnya tidak memenuhi
persyaratan.
4. Jika bahan-bahan dan alat-alat tersebut ditolak oleh PIHAK PERTAMA / Pengawas
Pekerjaan, maka PIHAK KEDUA harus menyingkirkan bahan-bahan dan alat-alat dari
lokasi pekerjaan dalam waktu 2 x 24 jam, kemudian menggantinya dengan memenuhi
persyaratan.
5. Tidak tersedianya bahan-bahan dan alat-alat, tidak dapat dijadikan alasan penyebab
kelambatan pekerjaan.
PASAL 5
TENAGA KERJA DAN UPAH

1. Agar pekerjaan berjalan seperti yang ditetapkan, PIHAK KEDUA harus menyediakan
tenaga kerja yang cukup dalam jumlah, keahlian dan ketrampilannya.
2. Ongkos-ongkos dan upah kerja untuk pelaksanaan pekerjaan tersebut ditanggung oleh
PIHAK KEDUA.
3. PIHAK KEDUA wajib menyelenggarakan Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja
(JAMSOSTEK) sesuai dengan ketentuan dalam Undang Undang No. 3 tahun 1992
juncto Peraturan Pemerintah No. 14 tahun 1993.
PASAL 6
PELAKSANA PIHAK KEDUA

1. Ditempat pekerjaan harus selalu ada wakil PIHAK KEDUA yang ditunjuk sebagai
Pemimpin Pelaksana / Tenaga Ahli, yang mempunyai wewenang / kekuasaan penuh
untuk menerima / memberikan / memutuskan segala petunjuk - petunjuk dari PIHAK
PERTAMA.
2. Penunjukan Pemimpin Pelaksana / Tenaga Ahli ini harus mendapat persetujuan secara
tertulis dari PIHAK PERTAMA.
3. Apabila menurut pertimbangan PIHAK PERTAMA, Pemimpin Pelaksana / Tenaga Ahli
yang digunakan oleh PIHAK KEDUA tidak memenuhi persyaratan yang diperlukan,
maka PIHAK PERTAMA akan memberitahukan secara tertulis kepada PIHAK KEDUA,
dan PIHAK KEDUA segera mengganti dengan Pemimpin Pelaksana / Tenaga Ahli lain
yang memenuhi persyaratan tersebut.
4. PIHAK KEDUA bertanggung jawab atas kerugian PIHAK PERTAMA sebagai akibat
perbuatan orang-orang yang dipekerjakan olehnya.
PASAL 8
JANGKA WAKTU PELAKSANAAN

1. Jangka waktu pelaksanaan sampai pekerjaan selesai 100 % yang disebut dalam Pasal 1
Perjanjian ini ditetapkan selama 21( dua puluh satu ) hari kalender terhitung sejak
diterbitkannya Surat Perintah Mulai Kerja ( SPMK ).
2. Waktu penyelesaian pekerjaan tersebut dalam ayat (1) Pasal ini tidak dapat diubah oleh
PIHAK KEDUA, kecuali adanya Keadaan memaksa ( Force Majeure ) seperti diatur
dalam Pasal 9 Surat Perjanjian ini, atau adanya perintah penambahan pekerjaan sesuai
Pasal 15 Surat Perjanjian ini atau perubahan-perubahan yang dipandang perlu oleh kedua
belah pihak seperti diatur dalam Pasal 24 ayat 1 Surat Perjanjian ini.
3. Perubahan jangka waktu tersebut pada ayat 2 Pasal ini, harus disetujui oleh PIHAK
PERTAMA secara tertulis.
PASAL 9
KEADAAN MEMAKSA ( FORCE MAJEURE)

1. Yang termasuk dalam Keadaan Memaksa ( Force Majeur ) adalah peristiwa-peristiwa


antara lain seperti berikut :

Bencana alam ( gempa bumi, tanah longsor, angintopan dan banjir ).

Kebakaran.

Perang, huru-hara, pemogokan, pemberontakan, demonstrasi, dan epidemi atau


keadaan-keadaan di luar kekuasaan PIHAK KEDUA untuk mengatasinya, yang
secara keseluruhan atau sebagian ada hubungan langsung dengan penyelesaian
pekerjaan pemborongan ini.

Peraturan Pemerintah dibidang moneter yang pelaksanaannya diatur sesuai dengan


Peraturan Pemerintah, dan kebijakan Pemerintah dibidang moneter yang secara
langsung atau tidak langsung, mempengaruhi jalannya pelaksanaan proyek.

2. Apabila terjadi Keadaan Memaksa ( Force Majeur ) PIHAK KEDUA harus


memberitahukan kepada Pengawas pekerjaan / PIHAK PERTAMA secara tertulis dalam
jangka waktu 3 x 24 jam sejak terjadinya Keadaan Memaksa ( Force Majeur ) tersebut.
3. Pemberitahuan tersebut pada ayat 2 Pasal ini harus dilengkapi dengan data-data yang
dapat dipertanggung jawabkan dan disahkan oleh pihak yang berwenang dalam jangka
waktu 3 x 24 Jam.
4. Dalam pemberitahuan PIHAK KEDUA, PIHAK PERTAMA dapat menyetujui atau
menolak secara tertulis adanya Keadaan Memaksa ( Force Majeur ) itu dalam jangka
waktu 3 x 24 jam, setelah diterimanya pemberitahuan tersebut pada ayat (2) dan (3) Pasal
ini.
5. Jika dalam waktu 3 x 24 jam sejak diterimanya pemberitahuan PIHAK KEDUA kepada
PIHAK PERTAMA dan PIHAK PERTAMA tidak memberikan jawabannya, maka
PIHAK PERTAMA dianggap menyetujui adanya Keadaan Memaksa ( Force Majeur )
tersebut.
6. Bilamana Keadaan Memaksa ( Force Majeur ) itu ditolak oleh PIHAK PERTAMA,
maka berlaku ketentuan-ketentuan Pasal 18, 19, 20, 21 dan 24 dalam perjanjian ini.
PASAL 10
MASA PEMELIHARAAN

1. Masa pemeliharaan dari hasil pekerjaan ditetapkan selama 90 (sembilan puluh) hari
kalender setelah tanggal selesainya pekerjaan atau prestasi pekerjaan mencapai 100%
yang dinyatakan dalam Berita Acara Serah Terima Pertama Pekerjaan.
2. Selesainya masa pemeliharaan dinyatakan dalam Berita Acara Pemeliharaan dan
diterimanya pekerjaan pemeliharaan oleh PIHAK PERTAMA dalam keadaan baik yang
dinyatakan dalam Berita Acara Penyerahan Kedua Pekerjaan.
3. Dalam hal adanya perbaikan-perbaikan yang dilakukan dalam ayat ( 1 ) Pasal ini, maka
masa pemeliharaan untuk pekerjaan perbaikan tersebut dihitung sampai dengan
berakhirnya perbaikan yang dilakukan tersebut.

4. Semua biaya perbaikan yang dikeluarkan dalam masa pemeliharaan ditanggung oleh
PIHAK KEDUA.
5.

Selama masa pemeliharaan tersebut PIHAK KEDUA diharuskan dan bertanggung jawab
atas perbaikan / pembetulan dan penyempurnaan dari segala kekurangan - kekurangan
serta cacat - cacat dari pekerjaan seperti yang tersebut dalam Pasal 1 sehingga dapat
diterima oleh PIHAK PERTAMA.
PASAL 11
JAMINAN PELAKSANAAN / PEMELIHARAAN

A. Jaminan Pelaksanaan
1. Sebagai jaminan pelaksanaan pekerjaan borongan, maka selambat-lambatnya, pada saat
perjanjian ini ditandatangani, PIHAK KEDUA harus menyerahkan kepada PIHAK
PERTAMA jaminan pelaksanaan pekerjaan berupa Surat Jaminan Bank Pemerintah/Bank
lain/Lembaga Keuangan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia.
2. Berdasarkan Dokumen Pelelangan Sederhana dan Berita Acara Penjelasan Pekerjaan
(Aanwijzing) serta Addendum Dokumen Pelelangan Sederhana
Nomor
2605/PL5/Pan/LK/2011 tanggal 12 Nopember 2011 untuk pekerjaan tersebut di atas,
PIHAK KEDUA harus menyediakan Jaminan Pelaksanaan sebesar 5 % dari Harga
Borongan yaitu 5 % X Rp. 88.975.000,- = Rp. 4.448.750,- ( empat juta empat ratus empat
puluh delapan ribu tujuh ratus lima puluh rupiah )
3. Surat Jaminan Pelaksanaan tersebut, akan diserahkan kembali oleh PIHAK PERTAMA
kepada PIHAK KEDUA, setelah pekerjaan dilaksanakan dengan baik yang dinyatakan
dengan Berita Acara Serah Terima Pertama dan diganti dengan Surat Jaminan
Pemeliharaan.
4. Jaminan pelaksanaan tersebut pada huruf B ayat (1) Pasal ini dapat dicairkan PIHAK
PERTAMA secara langsung dan disetor ke Kas Negara apabila PIHAK KEDUA
mengundurkan diri dan atau apabila terjadinya pemutusan perjanjian.
5. Apabila terjadi perpanjangan jangka waktu pelaksanaan yang telah disetujui oleh PIHAK
PERTAMA, maka PIHAK KEDUA wajib memperpanjang jaminan pelaksanaannya.
B. Jaminan Pemeliharaan
1. Sebagai jaminan pemeliharaan atas pekerjaan pemeliharaan pada masa pemeliharaan
dimana penyelesaian pekerjaan pemeliharaan tersebut melewati batas akhir tahun
anggaran.
2. Jaminan Pemeliharaan ini harus diserahkan oleh PIHAK KEDUA kepada PIHAK
PERTAMA berupa Surat Jaminan Bank Pemerintah/Bank lain yang ditetapkan oleh

Menteri Keuangan Republik Indonesia, pada saat pengajuan angsuran terakhir pada tahun
anggaran yang sama ( bilamana masa pemeliharaan berakhir pada tahun anggaran
berikutnya ).
3. Besarnya Jaminan Pemeliharaan yang harus diserahkan PIHAK PERTAMA kepada
PIHAK KEDUA sebesar : 5 % dari Harga Borongan yaitu 5 % X Rp. 88.975.000,- = Rp
4.448.750,- (empat juta empat ratus empat puluh delapan ribu tujuh ratus lima puluh
rupiah ).
4. Surat Jaminan Pemeliharaan tersebut dapat dicairkan kembali oleh PIHAK KEDUA
setelah masa pemeliharaan berakhir dengan diterbitkannya Berita Acara Pemeliharaan
dan Berita Acara Serah Terima Kedua Pekerjaan.
5. Apabila PIHAK KEDUA tidak melaksanakan pekerjaan pemeliharaan pada masa
pemeliharaan seperti diatur dalam pasal 10 Surat Perjanjian ini, maka PIHAK KEDUA
dapat mencairkan Jaminan Pemeliharaan tersebut setelah memberikan surat teguran
secara tertulis kepada PIHAK KEDUA, dan PIHAK KEDUA tidak mengindahkan surat
teguran PIHAK PERTAMA tersebut.

PASAL 12
HARGA BORONGAN PEKERJAAN

1. Jumlah harga borongan untuk pekerjaan tersebut pada Pasal 1 ( satu ) perjanjian ini
termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah sebesar Rp. 88.975.000,- (DELAPAN
PULUH DELAPAN JUTA SEMBILAN RATUS TUJUH PULUH LIMA RIBU
RUPIAH ) merupakan jumlah yang tetap dan pasti (lumpsum fixed price) dibebankan
pada DIPA Anggaran 2011 Politeknik Negeri Semarang, Nomor :
0526/026.05.2.02/14/2011,
tanggal
18
Desember
2010
MAK.
026.05.09.4981.23.005.535222.
2. Dalam jumlah Harga Borongan tersebut diatas sudah termasuk segala pengeluaran
pemborong : Jasa Kontraktor dan iuran-iuran daerah lainnya yang harus dibayar oleh
PIHAK KEDUA sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.

PASAL 13
CARA PEMBAYARAN

1. Pembayaran Harga Borongan tersebut akan dibayarkan melalui Kantor Pelayanan dan
Perbendaharaan Negara ( KPPN ) di Semarang dengan anggaran DIPA Nomor :
0526/026.05.2.02/14/2011,
tanggal
18
Desember
2010
MAK.
026.05.09.4981.23.005.535222
2. Pembayaran dilakukan secara voor vinanciering diatur sebagai berikut :

PERSTASI
100 %
Selesai Masa
Pemeliharaan

TAHAP
PEMBAYARAN
Angsuran I = 95 %
Angsuran II = 100 %

PEMBAYARAN
95 % x NK
100
- 95 % X NK
%

= 95 %
=5

3. Pengaturan Pembayaran :
Pembayaran dilakukan Oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA melalui PT.
Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah dengan Nomor Rekening : 2-055-02337-1
dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Pembayaran Angsuran I (Pertama) diperhitungkan sebagai berikut :
Pembayaran dilakukan sekaligus setelah prestasi 100% (voor vinanciering)
diperhitungkan sebagai berikut :
Prestasi : 100 %
Akan dibayarkan sebesar 95% dari Harga Borongan atau sebesar : 95 % X Rp.
88.975.000,- = Rp.84.526.250 ( delapan puluh empat juta lima ratus dua puluh enam
ribu dua ratus lima puluh rupiah ) dan dikurangi pajak.
b. Pembayaran Angsuran II (Kedua) diperhitungkan sebagai berikut :
Prestasi : Masa Pemeliharaan selesai
Tahap Pembayaran Angsuran kedua akan dibayarkan sebesar 5 % dari Harga
Borongan atau sebesar : 5 % X Rp. 88.975.000,- = Rp. 4.448.750,- (empat juta
empat ratus empat puluh delapan ribu tujuh ratus lima puluh rupiah ), dibayarkan
kepada PIHAK KEDUA setelah Selesainya Masa Pemeliharaan dan dinyatakan
dengan Berita Acara Serah Terima Kedua Pekerjaan atau dengan menyampaikan
Jaminan Pemeliharaan dari Bank Pemerintah/Bank lain sebesar 5 % dari Harga
Borongan atau sebesar 5 % X Rp. 88.975.000,= Rp. 4.448.750,- (empat juta

empat ratus empat puluh delapan ribu tujuh ratus lima puluh rupiah ) dan dikurangi
pajak.
4. Setiap permohonan pembayaran angsuran diserahkan atau dilampiri Berita Acara yang
telah disetujui oleh pengawas pekerjaan dan kedua belah pihak yaitu PIHAK PERTAMA
dan PIHAK KEDUA dengan menyerahkan foto dokumentasi sesuai dengan kemajuan
dan prestasi yang dikerjakan, sedangkan ukuran foto dokumentasi sesuai dengan
ketentuan yang ada pada RKS.
5. Pembayaran angsuran harus mengacu dari jadwal pelaksanaan yang telah disetujui oleh
pengawas pekerjaan, dan PIHAK KEDUA wajib membuat dan memberikan alasan-alasan
yang dapat dipertanggungjawabkan tentang pekerjaannya secara teknis.
6. Sebelum mengajukan permintaan pembayaran angsuran harus dilakukan pemeriksaan di
lapangan untuk menilai bahwa pekerjaan yang dilaksanakan oleh PIHAK KEDUA telah
memenuhi prestasi pekerjaan yang dicapai, sebagaimana yang disebutkan di atas dalam
surat perjanjian ini.
PASAL 14
KENAIKAN HARGA

1. Kenaikan harga bahan - bahan, alat - alat, dan upah selama masa pelaksanaan
pemborongan ini ditanggung sepenuhnya oleh PIHAK KEDUA.
2. Pada dasarnya PIHAK KEDUA tidak dapat mengajukan tuntutan / klaim atas kenaikan
harga bahan-bahan, alat-alat, dan upah, kecuali apabila diadakan pengaturan khusus oleh
Pemerintah sehubungan dengan terjadinya tindakan / kebijaksanaan Pemerintah Republik
Indonesia dalam bidang moneter, yang diumumkan secara resmi dan diatur dalam
Peraturan Pemerintah, khususnya untuk Pekerjaan Pemborongan.

PASAL 15
PEKERJAAN TAMBAH KURANG

1. Segala penyimpangan dan atau perubahan merupakan penambahan atau pengurangan


pekerjaan, yang tidak melebihi 10 % dari harga borongan, hanya dianggap sah sesudah

mendapat perintah tertulis dari pengawas pekerjaan / PIHAK PERTAMA, dengan


menyebut jenis dan rincian pekerjaan secara jelas.
2. Perhitungan biaya untuk pekerjaan tambah kurang diperhitungkan menurut harga satuan
pekerjaan yang dimasukkan oleh PIHAK KEDUA kepada PIHAK PERTAMA pada
waktu pemasukan penawaran untuk pelelangan pekerjaan ini. Untuk pekerjaan tambah
kurang yang belum ada harganya ditetapkan bersama oleh kedua belah pihak.
3. Adanya pekerjaan tambah kurang tidak dapat dipakai sebagai alasan untuk mengubah
jangka waktu pelaksanaan pekerjaan, kecuali atas persetujuan tertulis dari PIHAK
PERTAMA / Pengawas Pekerjaan.
4. Untuk pekerjaan tersebut diatas apabila diperlukan dapat dibuat perjanjian tambahan
(Addendum).
PASAL 16
PENGAMANAN TEMPAT KERJA DAN TENAGA KERJA

1. PIHAK KEDUA bertanggung jawab atas keamanan tempat kerja / tenaga kerja,
kebersihan bangunan-bangunan, kebersihan lingkungan, alat-alat dan bahan-bahan
bangunan selama pekerjaan berlangsung.
2. PIHAK KEDUA bertanggung jawab / wajib menyediakan sarana untuk menjaga
keselamatan para tenaga kerja, guna menghindarkan bahaya yang mungkin terjadi pada
saat melaksanakan pekerjaan.
3. Jika terjadi kecelakaan pada saat melaksanakan pekerjaan, maka PIHAK KEDUA
diwajibkan memberikan pertolongan pertama kepada korban-korban dan segala biaya
yang dikeluarkan sebagai akibatnya, menjadi beban/tanggung jawab PIHAK KEDUA.
4. PIHAK KEDUA wajib menyediakan tempat yang memenuhi syarat-syarat kesehatan,
sanitasi dan ketertiban, dalam hal para pekerja tinggal sementara di lokasi pekerjaan.
5. Hubungan antara para pekerja dan PIHAK KEDUA sepanjang tidak diatur secara khusus,
tunduk pada peraturan-peraturan yang berlaku.
6. PIHAK KEDUA diwajibkan mengasuransikan tenaga kerjanya melalui Perum Jamsostek.

PASAL 17
LAPORAN
1. PIHAK KEDUA wajib membuat laporan harian secara tertulis baik mengenai
pelaksanaan secara keseluruhan maupun pelaksanaan pekerjaan oleh Sub-Kontraktor dan
segala sesuatunya yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut dalam Pasal 1 surat
perjanjian ini.
2. PIHAK KEDUA wajib membuat catatan catatan yang jelas mengenai kemajuan
pekerjaan yang telah dilaksanakan, dan jika diminta oleh PIHAK PERTAMA untuk
keperluan pemeriksaan sewaktu-waktu dapat diserahkan.
3. Segala laporan dan atau catatan tersebut dalam ayat (1) dan (2) Pasal ini, dibuat berbentuk
buku harian rangkap 5 (lima) diisi pada formulir yang telah disetujui oleh Pengawas
Pekerjaan, dan selalu berada di tempat pekerjaan.
4. Dokumen Foto :
PIHAK KEDUA wajib membuat dokumen berupa foto-foto, sebelum pekerjaan dimulai
dan tiap tahap permintaan angsuran disertai keterangan lokasi, arah pengambilan dan
tahap pelaksanaan pekerjaan serta disusun secara rapi dan diterima oleh PIHAK
PERTAMA.
Syarat-syarat foto dokumentasi :
a. Setiap Unit Bangunan diambil dari empat arah
b. Gambar menyeluruh pandangan dari empat arah
c. Sudut pengambilan gambar dari tiap tahapan harus tetap pada sudut pengambilan
tersebut pada butir a ayat ini
Gambar dimasukkan dalam album dan diserahkan kepada Pejabat Pembuat Komitmen
Politeknik Negeri Semarang melalui pengawas pekerjaan rangkap 2 (dua) biaya dokumen
merupakan tanggung jawab PIHAK KEDUA.
PASAL 18
SANKSI DAN DENDA

1. Jika PIHAK KEDUA telah melakukan kelalaian dan mendapat peringatan tertulis 3 (tiga)
kali berturut turut tidak mengindahkan kewajiban-kewajiban sebagaimana tercantum
dalam Pasal 3 ayat ( 3 ), Pasal 5 ayat ( 1 ) dan ( 2 ), Pasal 7, Pasal 16 ayat 2 dan 4 dan
Pasal 17, maka untuk setiap kali melakukan kelalaian PIHAK KEDUA wajib membayar

denda kelalaian sebesar 1 0/00 (satu permil) dari Harga Borongan untuk setiap kali
melakukan kelalaian.
2. JIka PIHAK KEDUA tidak dapat menyelesaikan pekerjaan pemborongan sesuai dengan
jangka waktu yang tercantum dalam Pasal 8 perjanjian ini, maka untuk setiap hari
keterlambatan, PIHAK KEDUA harus membayar denda kelambatan sebesar 1 0/00
(satu permil) dari Harga Borongan untuk setiap hari kelambatan sampai sebanyak
banyaknya sebesar 5 % (lima prosen) dari Harga Borongan.
3. Denda denda tersebut dalam ayat (1) dan (2) pasal ini, akan diperhitungkan dengan
kewajiban pembayaran PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA.
Disamping itu kepada PIHAK KEDUA dibebankan pula biaya pengawasan lapangan
dan / atau biaya Direksi Pekerjaan perhari kelambatan sebesar Rp 150.000,- (Seratus lima
puluh ribu rupiah) akibat keterlambatan pelaksanaan pekerjaan yang ditimbulkan sebagai
akibat kesalahan PIHAK KEDUA.
PASAL 19
RESIKO

1. Jika hasil pekerjaan PIHAK KEDUA sebagian atau seluruhnya musnah dengan cara
apapun sebelum diserahkan kepada PIHAK PERTAMA, maka PIHAK KEDUA
bertanggung jawab sepenuhnya atas segala kerugian yang timbul kecuali jika PIHAK
PERTAMA telah lalai untuk menerima pekerjaan tersebut.
2. Jika hasil pekerjaan PIHAK KEDUA sebagian atau seluruhnya musnah atau hancur
akibat Keadaaan memaksa sebagaimana tersebut dalam pasal 9 sebelum pekerjaan
diserahkan kepada PIHAK PERTAMA dan PIHAK PERTAMA tidak lalai untuk
menerima/menyetujui hasil pekerjaan tersebut, maka kerugian yang timbul akibat
keadaan itu, akan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak secara musyawarah dan
mufakat.
3. Jika hasil pekerjaan PIHAK KEDUA sebagian atau seluruhnya rusak disebabkan oleh
suatu cacat-cacat tersembunyi dalam pelaksananaan strukturnya, maka PIHAK KEDUA
bertanggung jawab selama 10 (sepuluh) tahun, terhitung sejak tanggal penyerahan hasil
pekerjaan kepada PIHAK PERTAMA (KUH. Perdata bagian ke-enam pasal 1609 tentang
Pemborongan Pekerjaan).
4. Jika pada waktu pelaksanaan pekerjaan terjadi kemacetan-kemacetan yang diakibatkan
tidak masuknya atau tidak tersedianya bahan-bahan dan alat-alat karena semata-mata
kesalahan PIHAK KEDUA, maka segala resiko akibat kemacetan pekerjaan tersebut pada
dasarnya menjadi tanggung jawab PIHAK KEDUA.
5. Segala persoalan dan tuntutan para tenaga kerja menjadi beban dan tanggung jawab
sepenuhnya dari PIHAK KEDUA, atau dengan kata lain bahwa PIHAK KEDUA

membebaskan PIHAK PERTAMA dari segala tuntutan para tenaga kerja yang berkenaan
dengan pelaksanaan perjanjian ini baik didalam maupun diluar pengadilan.
6. Bilamana selama PIHAK KEDUA melaksanakan pekerjaan pemborongan ini
menimbulkan kerugian bagi PIHAK KETIGA (orang-orang yang tidak ada sangkut
pautnya dalam perjanjian ini) maka kerugian sepenuhnya ditanggung oleh PIHAK
KEDUA.

PASAL 20
PENYELESAIAN PERSELISIHAN

1. Jika terjadi perselisihan antara kedua belah pihak, maka akan diselesaikan secara
musyawarah.
2. Jika perselisihan itu tidak dapat diselesaikan secara musyawarah, maka akan diselesaikan
oleh suatu Panitia Pendamai yang dibentuk dan diangkat oleh kedua belah pihak, yang
terdiri dari :
2.1 Seorang wakil dari PIHAK PERTAMA sebagai anggota
2.2 Seorang wakil dari PIHAK KEDUA sebagai anggota
2.3 Seorang PIHAK KETIGA, sebagai Ketua, yang telah disetujui oleh kedua belah
pihak.
3. Keputusan Panitia Pendamai ini mengikat kedua belah pihak, dan biaya penyelesaian
yang dikeluarkan akan dipikul secara bersama.
4. Jika keputusan sebagaimana dimaksud ayat ( 3 ) Pasal ini tidak dapat diterima oleh salah
satu atau kedua belah pihak maka perselisihan akan diteruskan ke Pengadilan Negeri
Semarang.
PASAL 21
PEMUTUSAN PERJANJIAN

1. PIHAK PERTAMA berhak memutuskan perjanjian ini secara sepihak, dengan


pemberitahuan tertulis 7 (tujuh) hari sebelumnya setelah melakukan peringatan/teguran
tertulis 3 (tiga) kali berturut turut kepada PIHAK KEDUA apabila :
a. Dalam satu bulan terhitung tanggal Surat Perjanjian ini tidak atau belum memulai
melaksanakan pekerjaan pemborongan sebagaimana diatur dalam Pasal 1
b. Dalam waktu satu bulan berturut-turut tidak melanjutkan pekerjaan borongan yang
telah dimulainya secara langsung atau tidak langsung dengan sengaja memperlambat
penyelesaian pekerjaan pemborongan ini
c. Memberikan keterangan tidak benar atau dapat merugikan PIHAK PERTAMA,
sehubungan dengan pekerjaan pemborongan ini
d. Jika pekerjaan pemborongan ini dilaksanakan oleh PIHAK KEDUA tidak sesuai
dengan jadual waktu (Time Schedule) yang dibuat oleh PIHAK KEDUA dan telah
disetujui oleh PIHAK PERTAMA dan atau pengawas pekerjaan dan kelambatan yang
diatur dalam Pasal 18 ayat 2 Surat Perjanjian ini telah melampaui batas maksimum
sebesar 5 % dari harga borongan
e. Terpenuhinya ketentuan pasal 7 ayat ( 7 ) surat perjanjian ini.
2. Jika terjadi pemutusan perjanjian ini secara sepihak oleh
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini, maka :

PIHAK PERTAMA

a. PIHAK PERTAMA dapat menunjuk pemborong lain atas kehendak dan berdasarkan
pilihannya sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan pemborongan tersebut
b. PIHAK KEDUA harus menyerahkan kepada PIHAK PERTAMA segala arsip,
gambar-gambar, perhitungan-perhitungan dan keterangan-keterangan lainnya yang
berhubungan dengan Surat Perjanjian tersebut
c. PIHAK KEDUA harus membuat Berita Acara perhitungan prestasi hasil pekerjaan
yang telah dilakukan.
3. Jika terjadi pemutusan perjanjian ini secara sepihak oleh PIHAK PERTAMA
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini, maka Jaminan Pelaksanaan sebagaimana
dimaksud dalam Surat Perjanjian ini menjadi milik Negara, sedangkan Jaminan Uang
Muka akan dicairkan PIHAK PERTAMA dan diperhitungkan dengan prestasi pekerjaan
yang telah diselesaikan PIHAK KEDUA.

PASAL 22
BEA METERAI DAN PAJAK

1. Bea meterai surat perjanjian ini sebesar Rp 6.000,00 ( enam ribu rupiah ) untuk setiap
ganda yang diperlukan dan menjadi beban PIHAK KEDUA.
2. Segala pajak-pajak yang timbul akibat dari surat perjanjian ini menjadi beban PIHAK
KEDUA.
PASAL 23
TEMPAT KEDUDUKAN

Segala akibat yang terjadi dari pelaksanaan perjanjian ini, kedua belah pihak telah memilih
tempat kedudukan (Domisili) yang tetap dan sah di Kantor Kepaniteraan Pengadilan Negeri
di Semarang.
PASAL 24
LAIN - LAIN

1. Hal - hal lain yang belum diatur dalam Surat Perjanjian ini atau perubahan-perubahan
yang dipandang perlu oleh kedua belah pihak, akan diatur lebih lanjut dalam Surat
Perjanjian tambahan (Addendum ) dan merupakan Perjanjian yang tidak terpisahkan dari
Surat Perjanjian ini.
2. Dengan ditandatanganinya surat perjanjian ini oleh kedua belah pihak, maka seluruh
ketentuan yang tercantum dalam pasal pasal surat perjanjian ini dan seluruh ketentuan
tambahan serta bagian yang tidak terpisahkan dari surat perjanjian ini, termasuk segala
sanksinya, mempunyai kekuatan yang mengikat dan berlaku sebagai undang undang
bagi kedua belah pihak, berdasarkan ketentuan dalam pasal 1338 ayat (1) Kitab Undang
Undang Hukum Perdata.
3. Apabila PIHAK KEDUA tidak memenuhi kewajibannya, dengan dan karena ketentuan
tersebut pada ayat (1) dan ayat (2), maka ketentuan pada pasal 1266 Kitab Undang
Undang Hukum Perdata tidak diperlukan lagi dalam Surat Perjanjian ini.
4. Surat Perjanjian dibuat dalam rangkap secukupnya dan bermeterai cukup yang sama
kuatnya untuk PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA, selebihnya diberikan kepada
pihak - pihak yang berkepentingan dan ada hubungannya dengan pekerjaan ini.
PASAL 25
PENUTUP

1. Segala sesuatu akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya apabila dikemudian hari
ternyata terdapat kesalahan-kesalahan didalam Surat Perjanjian ini.

2. Surat Perjanjian ini.


3. Surat perjanjian pemborongan ini dinyatakan berlaku sejak tanggal ditanda tangani.
4. Demikian Surat Perjanjian ini ditanda tangani oleh kedua belah pihak di Semarang dan
dinyatakan berlaku pada hari, tanggal, bulan dan tahun seperti tersebut diatas dan
diketahui oleh para pejabat yang berwewenang, atau pejabat yang ditunjuk olehnya

Dibuat di

: Jl.SUMURBROTO TIMUR III NO. I SEMARANG

Tanggal

: 23 Januari 2012

PIHAK KEDUA

PIHAK PERTAMA

RISMA KARYA Engineering

PEJABAT PEMBUAT KOMITE


POLITEKNIK NEGERI SEMARANG

PUTRI CHOMSATI S. T,M.T


DIREKTUR UTAMA

DRS. SAMSUL MAARIF, MM


NIP. 195602011988111002