Anda di halaman 1dari 4

JOURNAL READING :

Neuroimmunological Response in HIV Associated Guillain Barre Syndrome

Oleh : Beatty Daoni Sianipar 0861050118 Pembimbing : Dr. Jan Andreas ang!ilisan
SA&A+

"#PA$% #&AA$ "'%$%" %'() P#$*A"%

P#&%OD# 10 S#P #(B#& , 6 O" OB#& -01+A")' AS "#DO" #&A$ )$%.#&S% AS "&%S #$ %$DO$#S%A

JA"A& A -01Abstrak Pendahuluan: HIV dikaitkan dengan beberapa jenis peripheral neuropati: polineuropati distal aksonal didominasi sensorik, seperti sindrom Guillain Barre. Kasus Presentasi: Seorang anita !! tahun berkulit putih "ang menderita HIV , di diagnosa dengan sindrom Guillain Barre "ang sudah diteliti. Serum dan #S$ imunoglobulin G dan tingkat Albumin "ang diukur dengan menggunakan teknik imunodi%usi. &erdapat gejala in%eksi 'irus. (iagnosis klinis pen"akit pada pasien ini adalah parestesia atau kehilangan sensori, re%leks tendon. Setelah diamati ditemukan juga kelainan sara% kranial, neuropati aksonal akut motor dan sensorik dan ophthalmo)plegia. *umlah #(+ rata)rata adalah ,-./mm,, #S$ putih sel darah 0! b1/mm,. 2atrium serum konsentrasi ion se1ara signi%ikan rendah 34,, mmol / 56. Pasien mempun"ai respirator" 1ompromise sebagai akibat neuropat" dan berkembang menjadi gagal jantung kongesti% , h"potension dan meninggal karena serangan jantung.(ari pasien diatas terjadi respon neuro) imunologi "aitu dis%ungsi barier #S$ tanpa IgG di)trathe1al sintesis. Kesimpulan: &idak ada keraguan bah a penelitian ini sangat penting karena akan membantu dokter dalam meningkatkan pengetahuan tentang pen"akit autoimun 4. P72(AH858A2 Human immunode%i1ien1" 'irus 3HIV6 berhubungan dengan berbagai jenis neuropati peri%er: distal polineuropati aksonal sensorik, seperti sindrom Guillain Barre, multiple mononeuritis, poli)radi1ulopath", akut atau kronis in%lamasi demielinasi polineuropati dan neuropati toksik "ang disebabkan oleh obat . Asosiasi sindrom Guillain Barre dengan in%eksi HIV telah di1atat segera setelah a al epidemi in%eksi HIV. 5aporan a al menggambarkan biasan"a terjadi di a al perjalanan in%eksi HIV atau bahkan pada saat sero)kon'ersi. Selain 1airan serebrospinal 3#S$6 pleo1"tosis, HIV)terkait sindrom Guillain Barre mirip dengan "ang terlihat pada pasien "ang non HIV. Ban"ak penelitian menunjukkan bah a Guillain Barre s"ndrome terjadi pada a al in%eksi HIV dengan jumlah #(+ "ang tinggi 39 !::6 . Ada ban"ak bukti "ang mendukung hubungan antara imunitas seluler dengan kedua proses pen"akit tersebut . Imunitas humoral berkontribusi juga dalam patogenesis pen"akit ini. ;ang terpenting dalam pemeriksaan laboratorium pada sindrom Guillan Barre adalah adan"a peningkatan #S$ dengan konsentrasi protein tanpa pleositosis. ;ang paling khas pada pasien dengan sindrom Guillain Barre adalah dis%ungsi penghalang darah 3blood barrier d"s%un1tion6 dapat dinilai dengan mudah dengan reibergram atau gra%ik #S$.(iagram ini menganalisis se1ara terpadu antara %ungsi dari barier darah)#S$ dengan intratrakeal sintesis protein. (iagnosis dilakukan dengan mengambil #S$ dan serum se1ara bersamaan untuk mengukur Albumin dan imunoglobulin G 3IgG6. Albumin adalah protein penanda "ang disintesis dalam hati.

&ujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan respon neuroimmunologi1al melalui reibergram pada pasien dengan HIV terkait sindrom Guillain Barre.

0. KAS8S P<7S72&ASI Pasien kami adalah seorang anita !! tahun berkulit putih dengan in%eksi HIV, didiagnosis dengan sindrom Guillain Barre "ang dira at di rumah sakit pada bulan *uni 0:44. 8ntuk semua pengukuran,serum dibekukan dan disimpan pada 0: = # untuk analisis lebih lanjut. Serum dan #S$ dilakukan dengan teknik imunodi%usi menggunakan 2>< dan 5# Partigen immunoplates 3Siemens, ?arburg6. Pasien memiliki pen"akit lain sebelumn"a, seperti gejala in%eksi 'irus, gejala in%eksi pernapasan bagian atas, sakit kepalka, malaise, konjungti'itis, mialgia dan pusing khas in%eksi HIV akut). (iagnosis klinis pen"akit pada pasien ini adalah parestesia atau kehilangan sensori, re%leks tendon. Harus juga dinilai apakah ada kelainan sara% kranial, motor akut dan neuropati aksonal sensorik dan ophthalmoplegia, ataksia, adalah "ang paling men1olok dari nenerapa kondisi "ang berhubungan. Pada saat masuk, jumlah #(+ rata)rata adalah ,-./mm, 3kisaran !!)@::6. Guillain Barre s"ndrome adalah bukan gejala pertama in%eksi HIV pada pasien ini. #S$ sel darah putih 3AB#6 adalah 0! b1/mm,. Konsentrasi natrium se)rum se1ara signi%ikan rendah 34,, mmol / 56, hiponatremia. Pasien mempun"ai respirator" 1ompromise akibat hasil dari neuropati "ang sebelumn"a sudah pernah dibantu dengan melakukan intubasi untuk dukungan pernapasan dan dan slanjutn"a berkembang menjadi gagal jantung kongesti% dan hipotensi dan meninggal karena serangan jantung 4@ hari setelah timbuln"a gejala pada Pera atan Intensi% <umah Sakit. Konsentrasi IgG dan Albumin dalam darah dan #S$ ditunjukkan pada &abel 4. 2ilai normal dari masing)masing protein serum dan #S$ dilaporkan . (arah dan #S$ pro%il ditunjukkan. ,. P7?BAHASA2 Pendapat "ang berlaku adalah bah a demielinasi dalam sindrom Guillain Barre adalah respon sekunder "ang diarahkan terhadap komponen mielin peri%er. Imunitas humoral juga berhubungan dan dapat menjadi salah satu hal "ang berkontribusi dalam terjadin"a patogenesis sindrom Guillain Barre. 5aboratorium "ang paling penting dalam sindrom Guillain Barre adalah peningkatan kadar protein #S$ dengan dis%ungsi barier #S$/darah.

Sebuah pleo1"tosis #S$ ringan pada sindrom Guillain Barre menunjukkan in%eksi HIV B44C, seperti terjadi dalam kasus kami. ?eskipun pleo1"tosis #S$ dapat menunjukkan in%eksi HIV, kurangn"a pleo1"tosis tidak men"ampingkan in%eksi HIV. Karena #S$ pleo1"tosis telah di1atat dalam bergejala HIV)positi%, #S$ pleo1"tosis mungkin tidak selalu "ang terkait dalam sindrom Guillain Barre B40C. Pada sindrom Guillan Barre dengan pleositosis #S$ ringan dapat di1urigai adan"a in%eksi HIV. Pasien dengan in%eksi HIV mungkin memiliki pleo1"tosis #S$, pleo1"tosis tidak bertahan dengan tanda)tanda sindrom Guillain Barre, seperti "ang diharapkan jika pleo1"tosis itu terkait semata)mata untuk in%eksi HIV dan bukan untuk sindrom Guillain Barre. <eibergrams atau #S$ / gra%ik Duotient serum dialog)gram "ang menganalisis se1ara terpadu baik %ungsi penghalang darah)#S$ dan sintesis protein intratekal, untuk membantu dalam diagnosis pen"akit SSP terkait dengan pola tertentu dari respon imunoglobulin. &anggapan neuroimmunologi1al paling khas dijelaskan dalam sindrom Guillain Barre adalah #S$ / darah penghalang dis%ungsi "ang dapat dengan mudah dihargai dengan reibergram B-C. *uga, umumn"a gangguan ini tidak ada IgG sintesis intratekal meskipun telah dikomunikasikan beberapa penge1ualian. (alam kasus kami, kami bisa menghargai pola "ang khas. +. K7SI?P85A2 &idak diragukan lagi bah a penelitian ini sangat penting dan berguna karena akan membantu dokter dalam meningkatkan pengetahuan tentang respon imun terhadap pasien dengan gangguan autoimun, di mana, untuk pertama kalin"a, akan ditemukan neuroimunologikal respon terhadap pasien dengan HIV "ang berhubungan dengan Sindrom Guillain Barre melaluireirbergram . Guillain Barre s"ndrome pada pasien HIV bisa menjadi kombinasi "ang %atal. pada pasien seperti ini di mana agen in%eksi oportunistik dapat 1epat terjadi.