Anda di halaman 1dari 9

2.1 Kehamilan Ektopik 2.1.

1 Definisi Istilah ektopik berasal dari bahasa Inggris, ektopik dengan asal kata dari bahasa Yunani, topos yang berarti tempat. Jadi itilah ektopik dapat diartikan Berada di luar tempat semestinya (Emedicine, 2009). Kehamilan ektopik ialah kehamilan dimana setelah fertilisasi, implantasi terjadi di luar endometrium kavum uteri (Sarwono, 2002). Kehamilan ektopik merupakan suatu kehamilan berbahaya bagi wanita yang bersangkutan berhubungan dengan besarnya kemungkinan terjadi keadaan yang gawat. Keadaan yang gawat ini dapat terjadi apabila kehamilan ektopik terganggu (Winkjosastro, 2005). 2.1.2 Etiologi Etiologi kehamilan ektopik terganggu telah banyak diselidiki, tetapi sebagian besar penyebabnya tidak diketahui. Wiknjosastro dalam bukunya menjelaskan beberapa faktor yang berhubungan dengan penyebab kehamilan ektopik terganggu. 1. Faktor Dalam Lumen Tuba a. Endosalpingitis, sehingga lumen tuba menyempit atau membentuk kantong buntu. b. Pada hipoplasia uteri lumen tuba sempit dan berkeluk-keluk dan hal ini sering disertai gangguan fungsi silia endosalping. c. Operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tak sempurna dapat menjadi sebab lumen tuba menyempit. 2. Faktor Pada Dinding Tuba a. Endometrosis tuba dapat memudahkan implantasi telur yang dibuahi dalam tuba.

b. Divertikel tuba kongenital atau ostium assesorius tubae dapat menahan telur yang dibuahi. 3. Faktor di Luar Dinding Tuba a. Perlekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba dapat menghambat perjalanan telur.

b. Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tuba. 4. Faktor Lain

a.

Mingrasi luar ovum yaitu perjalanan dari ovarium kanan ke tuba kiri atau sebaliknya dapat memperpanjang perjalanan terlalu cepat dan menyebabkan implantasi prematur.

b. Fertilisasi In-Vitro

2.1.3 Klasifikasi Sarwono Prawirohardjo dan Cuningham masing-masing dalam bukunya mengklasifikasikan kehamilan ektopik berdasarkan lokasinya antara lain. 1. a. b. c. d. e. 2. a. b. c. d. 3. 4. 5. 6. Tuba Fallopi Pars-Interstisialis Isthimus Ampula Infundibulum Fimbrae Uterus Kanalis servikalis Divertikulum Korno Tanduk rudimenter Ovarium Intraligamenter Abdominal Kombinasi kehamilan dalam dan luar uterus

2.1.4 Epidemiologi Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun. Lebih dari 60% kehamilan ektopik terjadi pada wanita 20-30 tahun dengan sosial ekonomi rendah dan tinggi di daerah prevalensi gonore dan prevalensi tuberkalusa yang tinggi. Di antara kehamilan ektopik terganggu, yang banyak terjadi ialah pada daerah tuba (90%). (Wiknjosastro, 2005) Penelitian Cumningham di Amerika Serikat melaporkan bahwa kehamilan ektopik terganggu lebih sering dijumpai pada wanita kulit hitam daripada kulit putih karena prevalensi

penyakit peradagangan pelvis lebih banyak pada wanita kulit hitam. Frekuensi kehamilan ektopik terganggu yang berulang adalah 1-4%.

2.1.5 Patogesis Proses implantasi ovumnya dibuahi pada dasar sama dengan terjadi di kavum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumnar atau interkalumnar. Pada nidasi secara kolumnar telur bernidasi pada ujung atau sisi jonjot. Endosalping. Perkembangan telur selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan direabsorsi. Pada nidasi interkolumner, telur bernidasi antara dua jonjot endosalping. Setelah empat nidasi tertutup maka ovum dipisahkan dari lumen oleh lapisan jaringan yang menyerupai desidua dan dinamakan pesudokapsularis. Karena pembentukan desidua di tuba melahan kadang-kadang sulit dilihat vili khorealis menembus endosalping dan masuk ke dalam otot-otot tuba dengan jaringan dan pembuluh darah. Perkembangan janin selanjutnya merusak

terganggu dari beberapa

faktor, yaitu : tempat implantasi, tebalnya dinding tuba dan banyaknya perdarahan yang terjadi oleh invasi trofoblas. (Wiknjosastro, 2005) Di bawah pengaruh hormon esterogen dan progesteron dari corpus liteum gaviditi dan tropoblas, uteri menjadi besar dan lembek, endometrium dapat berubah menjadi desidua. Perubahan endomentrium secara keseluruhan disebut sebagai reaksi Arias-Stella. Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6 sampai 10 minggu. Karena tuba bukan tempat pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin tumbuh secara utuh seperti dalam uterus. Beberapa kemungkinan yang bisa terjadi : 1. Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi

Pada implantasi secara kolumna, ovum yang dibuahi cepat mati karena vaskularisasi yang kurang dan dengan mudah diresorbsi total. 2. Abortus ke dalam lumen tuba Perdarahan yang terjadi karena terbukanya dinding pembuluh darah oleh vili koriolis pada dinding tuba di tempat implantasi dapat melepaskan mudigah dari dinding tersebut bersamasama dengan robeknya pseudokapsularis. Segera setelah perdarahan, hubungan antara plasenta serta membran terhadap dinding tuba terpisah bila pemisahan sempurna, seluruh hasil konsepsi dikeluarkan melalui ujung fimbrae tuba ke dalam kavum peritonium. Dalam keadaan tersebut perdarahan berhenti dan gejala-gejala menghilang. 3. Rupture dinding tuba Penyebab utama dari rupture tuba adalah penembusan dinding vili koriolis ke dalam lapisan muskularis tuba terus ke peritoneum. Rupture tuba sering terjadi bila ovum yang dibuahi berimplantasi pada isthimus dan biasanya terjadi pada kehamilan lebih lanjut. Rupture yang disebabkan trauma ringan seperti pada koltus dan pemeriksaan vagina.

2.1.6 Gambaran Klinik Gambaran klinik kehamilan tuba yang belum terganggu tidak khas, dan penderita maupun dokternya biasanya tidak mengetahui adanya kelainan dalam kehamilan, sampai terjadinya abortus atau ruptur tuba. (Wiknjosastro, 2000) Gejala-gejala yang terpenting menurut Sastrowinata. 1. Nyeri perut Gejala ini sering dijumpai pada setiap penderita. Bila kavum abdomen terisi darah lebih dari 500 ml akan menyebabkan perut tegang, nyeri tekan ke bahu dan leher karena adanya rangsang darah pada diafragma. 2. Amenore

Riwayat amenore tidak ditemukan pada seperempat kasus atau lebih. Salah satu sebabnya adalah karena pasien menganggap perdarahan pervaginam yang lazim pada kehamilan ektopik sebagai periode haid yang normal, dengan demikian memberikan tanggal haid terakhir yang keliru. 3. Perubahan Pervaginam Dengan matinya telur desidua yang mengalami degenerasi dan nekrosis, selanjutnya dikeluarkan dalam bentuk perdarahan. Perdarahan tersebut biasanya sedikit-sedikit berwarna coklat, gelap dan dapat terputus-putus atau terus-menerus. 4. Hipovolemi Penurunan nyata tekanan darah dan kenaikan denyut nadi dalam posisi duduk merupakan tanda yang paling sering menunjukkan adanya penurunan volume darah yang cukup banyak. Semuanya perubahan tersebut mungkin baru terjadi setelah timbul hipovolemi yang serius. 5. Perubahan uterus Uterus pada kehamilan ektopik akan membesar, karena pengaruh hormon-hormon kehamilan, tetapi sedikit lebih kecil dibandingkan dengan uterus pada kehamilan intouterin yang sama umumnya. 6. Tumor dalam rongga panggul Dalam rongga panggul dapat teraba tumor lunak kenyal yang disebabkan oleh kumpulan darah di tuba dan sekitarnya. 7. Perubahan darah Karena perdahan yang terlalu banyak di rongga perut, sehingga kadar hemoglobin akan cenderung turun pada kehamilan ektopik terganggu.

2.1.7 Gejala Kehamilan Ektopik

Gejala-gejala kehamilan ektopik terganggu beraneka ragam, sehingga pembuatan diagnosis kadang menimbulkan kesulitan. Berikut ini merupakan jenis pemeriksaan untuk membantu diagnosis kehamilan ektopik ( Sarwono, 2002) a. Tes Kehamilan Tes ini dapat membantu diagnosis khususnya terhadap tumor-tumor adneks, yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehamilan, apabila tesnya positif. b. Dilatasi dan Kuretase Biasanya kuretase dilakukan apabila sesudah amenore terjadi perdarahan yang cukup lama tanpa menemukan kelainan yang nyata disamping uterus. c. Laparaskopi Laparaskopi merupakan cara pemeriksaan yang sangat penting untuk diagnosis kehamilan ektopik pada umumnya pada kehamilan ektopik yang tidak terganggu. d. Ultrasonografi Keunggulan cara pemeriksaan ini terhadap laparaskopi ialah tidak invasif, artinya tidak perlu memasukan rongga perut. Dapat dinilai kavum uteri, kosong atau berisi, tebal endometrium, adanya masa di kanan kiri uterus dan apakah kavum douglas berisi cairan. e. Kuldosentesis Tindakan kuldosintesis atau punksi douglas. Adanya darah yang diisap berwarna hitam (darah tuba) biarpun sedikit, membuktikan adanya darah di kavum douglas. f. Histerosalpingografi Memberikan gambara kavum uteri kosong dan lebih besar dari biasa, dengan janin di luar uterus.

2.1.8 Diagnosis Diferensial Yang perlu diperkirakan sebagai diagnosis difrerensial adalah (Winkjosastro, 2005) 1. Infeksi Pelvis

Gejala yang menyertai infeksi pelvik biasanya timbul waktu haid dan jarang setelah mengenai amenore, nyeri perut bagian bawah dan tekanan yang dapat diraba pada pemeriksaan vagina pada umumnya bilateral. Pada infeksi pelvik perbedaan suhu rektal dan ketiak melebih 0,5 oC. Selain itu leukositosis lebih tinggi daripada kehamilan ektopik terganggu dan tes kehamilan menunjukkan hasil negatif. 2. Abortus Iminens Dibandingkan dengan kehamilan ektopik terganggu perdarahan lebih merah sesudah amenore, rasa nyeri yang sering beralokasi di daerah medial, dan adanya perasaan subjektif penderita yang merasakan rasa tidak enak di perut lebih menunjukkan kearah abortus iminens atau permulaan abortus incipiens. Pada abortus incipiens, pada abortus tidak dapat diraba tekanan disamping atau di belakang uterus, dan gerakan serviks uteri tidak menimbulkan rasa nyeri. 3. Appendisitis Pada appendisitis tidak ditemukan tumor dan nyeri pada gerakan servik uteri seperti yang ditemukan pada kehamilan ektopik terganggu, nyeri bagian bawah pada appendisitis.

2.1.9 Penanganan Pada kehamilan ektopik terganggu, walaupun tidak selalu bahaya terhadap jiwa penderita, dapat dilakukan terapi konservatif, tetapi sebaiknya tidak dilakukan tindakan operasi. Kekurangan dari terapi konservatif yaitu walaupun darah berkumpul di rongga abdomen lambat laun dapat diresorbsi atau untuk sebagian dapat dikeluarkan dengan kolpotomi (pengeluaran melalui vagina dari darah di kavum douglas), sisa darah dapat menyebabkan perlekatanperlekatan dengan bahaya ileus. Operasi terdiri atas sakpingektomi, tetapi jika ovarium masuk dalam gumpalan darah dan sukar dipisahkan, sehingga dilakukan salpingo-ooferektomi. Jika penderita sudah punya anak

yang cukup, dan terdapat kelainan pada tuba, dapat dipertimbangkan untuk mengangkat tuba dan untuk mencegah berulangnya kehamilan ektopik. Pada rupture tuba, segera dilakukan transfusi darah, perdarahan selekas mungkin dihentikan dengan menjepit bagian adneks sumber perdarahan. Sedangkan pada rupture pars interstisialis tuba seringkali terpaksa dilakukan histerektomi subtotal.

2.1.10 Prognosis Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung turun dengan diagnosis dini dan persediaan darah yang cukup. Pada umumnya kehamilan yang menyebabkan kehamilan ektopik bersifat bilateral. Sebagian wanita menjadi steril, setelah mengalami kehamilan ektopik, atau dapat mengalami kehamilan ektopik lagi pada tuba yang lain. Angka kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan antara 0% sampai 14,6%. Untuk wanita dengan anak yang sudah cukup, sebaiknya pada operasi dilakukan salpingektomi bilateralis.

2.2 Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kehamilan Ektopik Terganggu 2.2.1 Umur Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik terganggu berumur antara 2535 tahun (Sarwono, 2002).

2.2.2 Paritas Pada umumnya kelainan-kelainan yang menyebabkan kehamilan ektopik bersifat bilateral. Sebagian wanita menjadi steril, setelah mengalami kehamilan ektopik, atau mengalami ektopik lagi pada tuba yang lain. Angka kehamilan berulang ektopik yang dilaporkan 0%-14,6%

untuk wanita dengan anak yang sudah cukup, resiko untuk menderita kehamilan ektopik terganggu pada ibu dengan hamil 3 ke atas dibandingkan dengan ibu hamil dengan paritas 1-2 kali (Wiknjosastro, 2005).

2.2.3 Status Ekonomi Penyebab utama kehamilan ektopik banyak terdapat bersamaan dengan keadaan gizi buruk dan keadaan kesehatan yang rendah, maka kejadian lebih tinggi di negara sedang berkembang dan pada masyarakat yang berstatus ekonomi rendah dari pada negara maju dan pada masyarakat yang berstatus ekonomi tinggi.

2.2.4 Pemakaian Antibiotik Pemakaian entibiotik dapat meningkatkan frekuensi kehamilan ektopik. Antibiotik dapat mempertahankan terbukanya tuba yang mengalami infeksi, tetapi perlekatan menyebabkan pergerakkan silia dan peristalsis tuba terganggu dan menghambat perjalanan ovum yang dibuahi dari ampula ke rahim, sehingga implantasi terjadi pada tuba (Winkjosastro, 2005).