Anda di halaman 1dari 91

KATA PENGANTAR Bahan bacaan Pengantar Antropologi Sosial Budaya disusun untuk memenuhi kebutuhan tentang perlunya buku

pegangan bagi mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin dalam proses perkuliahan. Dalam rangka itu, diterbitkan modul untuk digunakan oleh jurusan Komunikasi, Administrasi, Hubungan Internasional, Politik, Pemerintahan, Sosiologi, dan Antropologi. Kajian antropologi dalam konteks ilmu-ilmu sosial tidak hanya memberi kejelasan mengenai hubungan antara ilmu antropologi dengan ilmu-ilmu lainnya, khususnya ilmu sosial, tetapi juga menunjukkan keluasan dan kedalaman domain kajian ilmu antropologi. Dalam pada itu, maka kehadiran modul ini, sedikit banyak dapat membantu pembaca dalam mengenali domain, konsep-konsep dan metode-metode yang khas ilmu Antropologi. Oleh karena itu, modul ini selain akan digunakan sebagai buku pegangan bagi mahasiswa yang memprogramkan mata kuliah antropologi, juga dapat digunakan sebagai bahan referensi bagi pemerhati masalah-masalah sosial budaya. Makassar,13 September 2011 Penyusun Yahya

SATUAN ACARA PERKULIAHAN


Tujuan Umum
Mata kuliah ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dasar kepada mahasiswa tentang antropologi, khususnya antropologi sosial budaya, sebagai suatu biding ilmu. Selain itu, dengan mata kuliah ini mahasiswa dapat memahami hubungan antara ilmu antropologi dengan ilmu-ilmu lainnya, konsep-konsep dan metode pendekatan ilmiah antropologi, dan tujuan paraktis antropologi. Pokok Bahasan 1. Pengertian dan Ruing Lingkup Antropologi 2. Sejarah Perkembangan Antropologi
1.

Pendekatan Ilmiah Antropologi

2. Makhluk Manusia 3. Masyarakat 6. 7. 8.

Kebudayaan Kebudayaan dan Kepribadian Perubahan Masyarakat dan Kebudayaan

9. Antropologi Terapan dan Pembangunan BUKU BACAAN Barnouw. Victor 1982 An Introduction to Anthropology; Volume Two Ethnology. Homewood, Illinois: The Dorsey Press; Fourth Edition. Beals, Ralph L., et.al. 1977 An Introduction to Anthropology. New York: Macipilland Pub. Co. Inc. Danandjaja, James 1988 Antropologi Psikologi: 7eori,..kfetode dan Sejarah Perkembangannya. Jakarta: Rajawali Press. Harsojo 1977 Pengantar Antropologi. Bandung: Binacipta, hal.144-172 Ihromi, T.O. 1984 Pokok-Pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Gramedia.Keesing, Roger M. 1989 Cultural Anthropology: A Contemporary Perspective, second edition. (Terjemahan Samuel Gunawan). Jakarta: Erlangga. Koentjaraningrat 1980 Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.

Spindler, Louise S. 1977 Culture Change and Modernisation. Illinois: Haveland Press. Spradley, James 1972 Culture and Cognition: Rules, Maps, And Rules. USA: Chandler Pub. Com.

BAHASAN 1 PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP ANTROPOLOGI


A. SASARAN BELAJAR

1 . Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian dan ruang lingkup antropologi. 2 . Mahasiswa dapat menjelaskan ilmu-ilmu bagian antropologi. 3 . Mahasiswa dapat membedakan antara ilmu antropologi dengan ilmu-ilmu sosial
lainnya. B. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP ANTROPOLOGI Secara etimologis antropologi berasal dari Bahasa Yunani dan merupakan bentuk kombinasi dari kata anthropos (makhluk manusia) dan logia (studi). Dengan demikian, antropologi berarti studi tentang umat manusia (the study of humanity). Ruth F. Benedict menyebutkan antropologi sebagai suatu disiplin ilmu yang mengkaji masyarakat (Benedict dalam Menno dkk. 1982). Sementara itu, Ralph L. Beals et.al., (1977) menyebutkan antropologi sebagai disiplin ilmu yang mengkaji tentang asal-usul, perkembangan, dan sifat spesies manusia. Selanjutnya Hoebel menyebutkan antropologi sebagai suatu bidang ilmu yang mengkaji tentang manusia dengan seluruh aspek kehidupannya (the study of mankind as whole). Diantara aspek manusia yang dimaksud ialah biologi, psikologi, sosial, dan budaya. Antropologi bukanlah satu-satunya disiplin ilmu yang mengkaji tentang manusia, melainkan terdapat pula disiplin ilmu lain yang berurusan dengan manusia. Beberapa diantaranya ialah biologi, psikologi, sosiologi, ilmu sejarah, ilmu hukum, ilmu ekonomi, dan ilmu politik. Namun, masing-masing disiplin itu mempunyai karakteristik dan penekanan khasnya sendiri-sendiri yang membedakannya dengan disiplin antropologi. Ketika Margaret Mead, Ruth F. Benedict, dan Bronislaw Malinowski melakukan kajian antropologis pada masyarakat terpencil dan eksotis, maka saat itu antropologi menjadi lebih dikenal sebagai suatu bidang ilmu yang kajiannya berfokus pada masyarakat terpencil atau orang-orang primitif. Namun, sekarang ini para pakar antropologi tidak lagi hanya bekerja pada masyarakat primitif, tetapi telah mengkaji petani dusun, termasuk yang bermukim di daratan Eropa; mengkaji kota-kota, baik di negara maju maupun di negara berkembang dan terbelakang; mengkaji perusahaan nasional dan multinasional; dan mengkaji berbagai organisasi-organisasi formal lainnya, seperti

lembaga-lembaga pelayanan kesehatan rumah sakit, Puskesmas, Posyandu, Pengadilan, dan sebagainya (Kalangie, 1994; Keesing, 1989). Dari uraian di atas tampak bahwa yang membedakan antara antropologi dengan disiplin ilmu sosial yang lain ialah tidak pada masyarakat (primitif atau eksotis) yang menjadi fokus kajiannya, tetapi pada pendekatan dan metode ilmiahnya (penjelasan mengenai hal itu, lihat sub bahasan 3). Lagipula, ruang lingkup kajian antropologi menjadi semakin kompleks dibandingkan dengan 50 tahun yang lalu, tatkala ketiga pendekar antropologi tersebut di atas memperkenalkan kepada khalayak mengenai ciri khas kajian disiplin antropologi. 1.3 ILMU-ILMU BAGIAN ANTROPOLOGI Spektrum kajian antropologi amat luas, meliputi mulai dari kajian yang mengkhusus pada biologi dan evolusi manusia sampai pada kajian mengenai kehidupan sosial manusia kontemporer, baik yang berdomisili di pedesaan maupun yang di perkotaan. Demikian luasnya menyebabkan di dalam disiplin ini berkembang beberapa bidang spesialisasi, atau ilmu-ilmu bagian antropologi. Secara umum antropologi terbagi atas dua bidang ilmu, yakni: (1) Antropologi Biologi; dan (2) Antropologi Budaya. Antropologi biologi mempelajari manusia, (Homo Sapiens) sebagai sebuah organisma biologi yang terutama mengkaji evolusi spesies manusia dan berupaya menjelaskan diversitas populasi manusia masa kini. Sedangkan antropologi budaya mengkaji tentang, kebudayaan manusia atau cara-cara hidup manusia, baik masa kini maupun masa lampau (Barnouw, 1982). Dari kedua bidang disiplin antropologi itu berkembang pula beberapa sub-sub bidang lain. Adapun bidang-bidang ilmu yang berkembang di dalam antropologi biologi, meliputi:
1 . Paleoantropologi, yaitu sub disiplin antropologi biologi yang meneliti dan mempelajari

asal-usul dan perkembangan evolusi manusia dari sudut fisiknya, mulai dari ketika kondisinya masih berupa Homo Erektus sampai menjadi Homo Sapiens modern. Pakar antropologi yang mengkhususkan perhatiannya pada bidang itu berusaha merekonstruksi kemunculan manusia di atas muka bumi ini dan evolusinya menjadi manusia dengan bentuk tubuh atau fisik sebagaimana yang ada sekarang ini.
2 . Antropologi fisik, yakni sub disiplin antropologi yang mengkaji tentang variasi-variasi

yang terdapat pada umat manusia dipandang dari sudut ciri-ciri fisiknya. Misalnya,

bentuk dan ukuran tubuh, warna kulit dan rambut, indeks tengkorak, frekuensi golongan darah, dan sebagainya. Kecuali itu, masih terdapat sub-sub bidang antropologi yang mengkaji tentang keadaan fisik manusia, diantaranya:
1)

Somatologi, yakni sub bagian antropologi fisik yang mengkaji tentang varitas manusia yang masih hidup, perbedaan jenis kelamin, penggolongan ras, dan variasi perorangan.

2)

Antropometri, yaitu sub bagian antropologi fisik yang mengkaji tentang pengukuran tubuh manusia.

3) Studi perbandingan tentang pertumbuhan organik dan antropologi konstitusi (ketubuhan) yang mempelajari efek-efek lingkungan terhadap bangsa-bangsa, dan interaksinya terhadap ciri-ciri khusus yang terdapat pada bangsa-bangsa serta bagaimana dan mengapa terdapat jenis-jenis penyakit tertentu yang menimbulkan efek terhadap bangsa-bangsa yang berbeda, dan tingkah laku khusus yang berkaitan dengan perilaku kriminalitas. Sementara itu, bidang-bidang ilmu yang berkembang di dalam antropologi budaya meliputi:
1 . Antropologi Linguistik, yaitu sub-bagian antropologi budaya yang kajiannya berfokus

pada penelusuran timbulnya bahasa dan terjadinya variasi dalam bahasa-bahasa itu selama suatu jangka waktu berabad-abad. Selain itu, menguji teori bahasa yang terutama didasarkan atas bahasa Eropa, dan mengamati bahasa dalam konteks latar belakang sosial budaya.
2 . Arkeologi (prasejarah) adalah sub bidang antropologi budaya yang kajiannya terfokus

pada cara hidup manusia pada periode sebelum mengenal tradisi tulis. Dewasa ini, pakar arkeologi juga telah mengkaji tentang munculnya negara perkotaan dengan perhatian lebih diarahkan pada teori proses sosial dan tidak pada peradaban klasik.
3 . Etnologi atau Antropologi Sosial, yaitu sub bidang antropologi budaya yang kajiannya

terfokus pada upaya untuk menyusun generalisasi dan teori tentang perilaku dan sosial budaya manusia (Keeling, 1989). Dalam bidang antropologi sosial berkembang pula sub-sub bidang kajian yang namanya disesuaikan dengan bidang yang digeluti dan orientasi teorinya. Adapun nama sub-sub bidang antropologi sosial yang serupa dengan bidang yang digelutinya adalah (1) antropologi hukum, (2) Antropologi Politik; (3) Antropologi Ekonomi, (4) Antropologi Pendidikan; (5) Antropologi Arsitektur, (6) Antropologi Musik;

(7) Antropologi Pariwisata; (8) Antropologi Agama; dan (9) Antropologi Pembangunan. Sedangkan nama sub bidang antropologi sosial yang disesuaikan dengan orientasi teorinya adalah (1) Antropologi Psikologi, (2) Antropologi simbolik, dan (3) Antropologi Kognitif. Dewasa ini, telah berkembang pula sub bidang Antropologi Kesehatan. Wilayah kajian sub bidang ini adalah mempertautkan antara kesehatan dan penyakit dari segi biologi dengan konseptualisasi dan pengobatan dari segi budaya. Ilmu-ilmu bagian yang berkembang dalam antropologi sebagaimana yang diuraikan di atas, dapat digambarkan dalam bentuk skema di bawah ini. Ilmu-Ilmu Bagian Antropologi
ANTROPOLOGI

Arkeologi (Prasejarah)

Antropologi Linguistik Antropologi Ekonomi Antropologi Agama Antropologi Sosial Antropologi Hukum Antropologi Politik Antropologi Ekologi Antropologi Terapan Antropologi Biologi

Antropologi Budaya

ANTROPOLOGI

1.4 Hubungan Ilmu Antropologi Dengan Ilmu-Ilmu Lain Telah disebutkan pada pembahasan terdahulu bahwa bukan hanya disiplin antropologi yang mengkaji tentang manusia, melainkan juga i1mu-ilmu lain. Dalam

pada itu, maka masing-masing disiplin tersebut berhubungan satu sama lain. Adapun disiplin ilmu yang dimaksud:

1.4.1 Sosiologi: Sosiologi merupakan suatu disiplin ilmu yang berkaitan erat dengan antropologi, khususnya sub-bidang antropologi sosial. Bahkan kedua bidang ilmu itu mempunyai tujuan yang sama, yakni mendapatkan pengertian tentang azas-azas hidup masyarakat dan kebudayaan manusia pada umumnya. Namun, jika dilihat dari asal-usul dan sejarah perkembangannya serta motede ilmiahnya, maka tampak perbedaan di antara keduanya. Sosiologi pada awaInya merupakan bagian dari ilmu filsafat, kemudian berubah menjadi suatu ilmu tersendiri karena krisis yang dialami oleh masyarakat Eropa pada saat itu, sehingga orang Eropa membutuhkan suatu pengetahuan yang lebih mendalam mengenai azasazas masyarakat dan kebudayaan. Berbeda dengan antropologi sosial yang pada mulanya hanya sebagai suatu himpunan bahan keterangan tentang masyarakat dan kebudayaan penduduk pribumi di luar Eropa untuk mendapatkan pengertian tentang tingkat-tingkat permulaan dan sejarah perkembangan masyarakat dan kebudayaannya sendiri. Dewasa ini, objek penelitian sosiologi bukan lagi hanya masyarakat kompleks di Eropa melainkan juga pada masyarakat pedesaan di luar Eropa. Hal itu, misalnya, tampak pada dikembangkannya sosiologi pedesaan (rural sociology). Sebaliknya, antropologi sosial tidak hanya memfokuskan kajiannya pada masyarakat eksotis dan pedesaan tetapi juga telah mengkaji masyarakat kompleks dan organisasi-organisasi formal. Dengan demikian, dalam konteks itu antara sosiologi dan antropologi terjadi overlapping. Hal yang membedakan antara kedua bidang ilmu itu adalah pada aspek metodologi. Misalnya, antropologi menyelidiki masyarakat dengan menggunakan

pendekatan holistik. Sebaliknya, sosiologi memusatkan perhatian pada unsur-unsur atau gejala khusus dalam masyarakat manusia dengan menganalisis kelompok-kelompok sosial khusus dan hubungan antara kelompok-kelompok sosial yang khusus (social

relations) atau proses-proses yang terdapat dalam kehidupan suatu masyarakat. Dengan demikian, bilamana ahli sosiologi dan antropologi sosial meneliti masyarakat tertentu, maka kedua ahli itu akan menggunakan pendekatan yang berbeda. Ahli antropologi sosial akan meneliti semua, unsur kehidupan masyarakat sebagai suatu kebulatan. Walaupun penelitiannya difokuskan pada satu unsur atau pranata tertentu saja, seperti pranata kesehatan, namun is tetap akan menghubungkan pranata tersebut dengan seluruh struktur kehidupan masyarakat. Sedangkan ahli sosiologi akan meneliti gejalagejala atau proses-proses khusus dengan tidak perlu melihat struktur dari keseluruhannya. Lagipula, ahli antropologi melakukan penelitian yang bersifat intensif dan mendalam terhadap objek kajiannya dengan menggunakan metode wawancara dan pengamatan terlibat. Sebaliknya, ahli sosiologi melakukan penelitian dengan menggunakan angket dengan bantuan ilmu statistik. Dewasa in, kedua disiplin itu telah saling meminjam metode untuk saling melengkapi dalam berbagai penelitian. Dalam kata lain, antropologi seringkali

menggunakan angket untuk mendapatkan data dasar perihal objek yang dikajinya dan kemudian dilanjutkan dengan pengamatan dan wawancara mendalam. Sebaliknya, sosiologi telah menggunakan pengamatan dan wawancara mendalam dalam

mendapatkan infoi-masi berkenaan dengan objek yang dikajinya. 1.4.2 Psikologi Antropologi mengkaji perilaku manusia yang terpolakan dan bahwa perilaku yang terpolakan itu (pattern behavior) itu dipaham! sebagai manifestasi dari struktur mental manusia. Struktur mental yang dimak-sud, meliputi pengetahuan (knowledge)

kepercayaan (believe), nilai (value), dan sikap (attitude) individu sebagai warga masyarakat. Psikologi merupakan suatu disiplin ilmu yang mengkaji struktur mental individu.

Dengan demikian, psikologi mempunyai kontribusi yang sangat berarti bag! antropologi. Sebaliknya, hasil-hasil penelitian antropologi berkenaan dengan pola-pola perilaku suatu kelompok komunitas tertentu sangat membantu bagi psikologi dalam menentukan ukuran dan pola struktur mental berbagal kelompok masyarakat. Dalam kata lain, dengan kerja sama antara psikologi dan antropologi diperoleh gambaran yang jelas mengenai hubungan timbal balik antara struktur mental dengan pola-pola perilaku suatu kelompok masyarakat. 1.4.3 Sejarah Parasasti, dokumen, naskah tradisional, dan arsip kuno sebagai sumber Sejarah seringkali hanya membet-i peristiwa-peristiwa Sejarah terbatas pada biding politik saja. Mengenai Tatar belakang sosial dari peristiwa-peristiwa politik itu dapat dijelaskan secara tepat manakala ahli sejarah menggunakan konsepkonsep tentang kehidupan masyarakat yang dikembangkan oleh antropologi dan ilmu-ilmu sosial lain. Sebaliknya, ahli antropologi juga membutuhkan sejarah, terutama sejarah dari suku-suku bangsa yang telah diteliti untuk memecahkan masalahmasalah yang terjadi karena masyarakat itu mengalami pengaruh dari kebudayaan lain. Pemahaman mengenai hal tersebut diketahui secara cermat. Kecuali itu, sejarah tersebut seringkali masih perlu direkonstruksi sendirl oleh peneliti, dan karena itu antropolog harus mempunyai pengetahuan tentang metode-metode untuk merekonstruksi sejarah dari suatu rangkaian peristiwa. 1.4.4 Geografi Geografi adalah berusaha mendapatkan pengertian tentang bumi Berta ciri-ciri dari segala macam bentuk kehidupan yang menduduki bumi. Manusia salah situ di antara bentuk kehidupan yang dimaksud yang mempunyai keragaman sifat di berbagai tempat di atas permukaan bumi. Oleh karena antropologi mempunyai kemampuan menyelami masalah keragaman makhluk manusia, maka tentu saja ilmu geografi sangat membutuhkan ilmu antropologi.

Sebaliknya, kalangan antropolog membutuhkan ilmu geografi, sebab kenyataankenyataan kebudayaan manusia mempunyai katerkaitan dengan keadaan lingkungan alamnya. 1.4.5 Ilmu Hayat Cabang antropologi yang berkaitan Brat dengan ilmu hayat adalah antropologi fisik. Bagian ilmu hayat yang membahas anatomi, fisiologi, genetika, dan embriologi bariyak memberi pengetahLian kepada ahli antropologi fisik yang kliustis menyelidiki masalah ras sebagai konsepsi biologi. Bantuan embriologi, anatomi, dan antropometri banyak membantu ahli antropologi fisik dalam mempelajari manusia. Ciri khas tubuh manusia dilihat darl sudut anatomi adalah makhluk yang berdiri tegak, kuantum otaknya yang terbesar di antara semua makhluk lainnya, tangan dan jarijarinya mudah digerakkan untuk berbagai kcperluan dan matanya adalah stereokopis. Ciriciri biologis itu, termasuk sistem saraf, merupakan dasar organis dari kemampuan manusia untuk berkebudayaan. 1.4.6 Ilmu Ekonomi Perekonomian suatu bangsa atau masyarakat sangat dipengaruhi oleh kebudayaan bangsa atau masyarakat itu. Dengan demikian, penerapan konsep-konsep dan teorl-teorl ekdnomi modern (umumnya berasal dari Ero-Amerika) di negara-negara non Ero-Amerika perlu penyesualan dengan kebudayaan yang berlaku dalam bangsa dan masyarakat bersangkkutan. Oleh karena itu, kalangan ekonom, tertitama yang bekerja di negara-negara belum dan sementara berkembang yang menganut ekonomi subsistensi, tidak dengan mudah menerapkan teoriteori ekonomi modern. Sebaliknya, kalangan antropolog yang hendak menjelaskan tentang sistem ekonomi pada masyarakat-masyarakat agraris dan masih sederhana perlu Pula mengetahui teorl-teori dan metode-metode ekonomi modern. Masalah-masalah pokok antropologi yang erat terkait dengan ekonomi adalah etos kerja, pengetahuan budaya dan kepercayaan, hubungan manusia dengan alamnya, nilai hidup, struktur sosial, dan normanorma yang mengatur hubungan manusia dengan alam dan semacamnya. Bagi para ahli antropologi, pengetahuan mengenai prinsip-prinsip dan teori-teori ekonoml akan

membuatnya lebih tepat dalam menganallsis perubahan sosial yang disebabkan oleh pembangunan ekonomi. 1.4.7 Ilmu Hukum Cabang ilmu hukum yang berkaitan erat dengan antropologi adalah hukum adat, khususnya di Indonesia. Hukum adat mulai dipelajari sebagai bagian dari ilmu hukum di Indonesia pada awal abad ke-20, dan antropologi telah digunakan sebagai alat bantu dalam mengkaji hukum adat, baik basil-basil penelitiannya maupun metode-metodenya, dalam menyelami latar belakang kchidupan Hukum adat di berbagal daerah di Indonesia. Sementara itu, bag! antropologi, hukum adat itu adalah penting, tidak hanya, sebagai suatu sistem hukum yang telah diabstraksikan sebagai aturan-aturan normatif yang timbul dan hidup langsung dari masalah-masalah pranata, yang bersumber dari kegiatan-kegiatan masyarakat itu sendiri. Setiap masyarakat, balk yang sederhana maupun yang kompleks, mempunyai kegiatan-kegalatan yang berfungsi sebagai peradilan sosial untuk menciptakan kehidupan yang tenteram, harmonis dan teratur dalam masyarakat. Konsepsi yang memandang hukum sebagai salah satu kegiatan kebudayaan yang berkaitan dengan kontrol sosial tentunya mengharuskan ahli antropologi untuk juga mempunyai pengetahuan umum tentang konsep-konsep hukum pada umumnya. 1.4.8 Ilmu Politik Akhir-akhir ini ilmu polltik, khususnya, di negara-negara berkembang, merasa perlu untuk mempelajarl latar belakang kebudayaan dalam masyarakat, terutama yang menyangkut struktur politik dan proses mencapai kektiasaan dalam masyarakat, serta yang mendukung kekuasaan itu. Dernikian pula dengan sistem norma dan adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat. Hal itu disebabkan oleh dijumpainya hal-hal yang menyimpang dari ketentuan-ketentuan norma kepartaian modern. Untuk keperluan pemahaman itulah, maka ilmuan politik merasa perlu untuk menggunakan metode analisis antropologi. Sebaliknya, ahli antropologi yang mempelajari suatu masyarakat, juga akan menghadapi adanya kekuatan dan proses politik lokal dan kegiatan partai politik nasional yang mulai berkembang untuk menganalisis gejalagejala itu, perlu diketahiii konsep dan teori ilmu politik.

1.4 RANGKUMAN Antropologi adalah studi tentang asal-usul, perkembangan, dan sifat spesies manusia. Manusia sebagai fokus kajian antropologi dapat disorot dari berbagal dimensi, diantarannya dimensi biologis, psikologis, sosial, politik, ekonoml, religi, dan sebagainya. Demikian luasnya wilayah cakupan disiplin antropologi menyebabkan dalam

perkembangannya muncul berbagai bidang spesialisasi. Secara umum bidang spesialisasi tersebut terangkum ke dalam sub disiplin antropologi biologi dan antropologi budaya. Di dalam sub disiplin biologi berkembang sub bidang tertentu, seperti paleoantropologi, antropologi fisik, somatologi, antropometri, dan stud! perbandingan. Sedangkan sub bidang ilmu yang berkembang dalam antropologi budaya seperti arkeologi (prasejarah), antropologi linguistik, dan antropologi sosial. Di dalam sub bidang antropologi sosial berkembang lagi bidang-bidang spesiallsasi. Nama bidang-bidang itu disesuaikan dengan bidang yang digeluti dan orientasi teorinya. Kecuali itu, berkembang pula sub bidang antropoloi kesehatan. Wilayah kajiannya mempertautkan antara kesehatan dan penyakit segi biologi dengan

koriseptualisasi dan pengobatan dari segi budaya. DAFTAR BACAAN Barnouw, Viktor 1982 An Introduction to Anthropology. Ethnology. Illinois: The Doresy Press., pp., 1-38. Beals, Ralph L. Et.al. 1977 An Introduction to Anthropology. New York: % Macmillan Pub., Co., Inc., pp., 121. Harsojo 1977 Pengantar Antropologi. Bandung: Binacipta, hal., 1-70 Kalangie, Nico S. 1994 Kebudayaan dan Kesehatan. Jakarta: Megapoin, hal., 1-23. Keening, Roger M. 1989 Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Kontemporer. Jakarta: Penerbit Erlangga. hal. 1-10. Koentjaraningrat

1980 Pengantar Dmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru. Hal., 17-36. 1.7 Tugas Latihan
1. Uraikan dengan menggunakan kata-kata sendiri mengenai ruang lingkup kajian

antropologi.
2.

Tulin dengan menggunakan kata-kata sendiri tentang ke khasan antropologi yang membedakannya dengan disiplin ilmu-ilmu sosial yang juga mengkaji manusia, terutama pada periode Mead, Benedict, Malinowski; dan setelah priode mereka itu.

3. Uraikan cabang-cabang antropologi biologi dan antropologi budaya. 4. Buatlah dalam bentuk skema mengenai antropologi berikut cabang-cabangnya.

BAHASAN 2 SEJARAH PERKEMBANGAN ANTROPOLOGI


2.1 SASARAN BELAJAR
1. Mahasiswa mampu menjelaskan sejarah perkembangan antropologi, mulai dari awal

pertumbuhan hingga mencapai tingRat kemamtapannya sebagai suatu bidang ilmu.


2. Mahasiswa

mampu menjelaskan tujuan ilmiah dan praksis dalam fase-fase

perkembangannya. 2.2 FASE-FASE PERKEMBANGAN ANTROPOLOGI Dewasa ini, antropologi telah melalui empat fase perkembangan. Masing-masing perkembangan tersebut ditandai dengan fokus perhatian dan tujuan tersendiri. Adapun keempat fase yang dimaksud dapat dilihat dalam uraian di bawah ini. 2.2.1 Fase Pertama. Fase pertama berlangsung selama kurang lebih empat abad lamanya, yakni abad ke-15 hingga abad ke-16, ditandai dengan usaha para ilmuan menghimpun buku-buku kisah perjalanan dan laporan yang ditulis oleh para musafir, penyiar agama Nasrani, penerjemaah Kitab Injil, dan pegawai pemerintahan jajahan negara-negara bangsa Eropa. BukLI-buku itu men desk ripsikan perihal adat-istiadat, susunan masyarakat, 8ahasa, dan ciri-ciri fisik dari beragam suku bangsa di Afrika, Asia, Oseania, dan suku bangsa Indian (penduduk pribumi benua Amerika), yang menjadi jajahan bangsa-bangsa Eropa pada masa itu. Bahan-bahan itu amat menarik pehatian orang Eropa, Kebab sangat berbeda dengan adat-istiadat, susunan masyarakat, bahasa, dan ciri-ciri fisik bangsa Eropa Barat. Bahan pengetahuan itu disebut etnografi, yakni pelukisan tentang bangsa-bangsa. Sungguhpun demikian, deskripsi itu tidak cermat dan seringkali bersifat kahLII- Berta kebanyakan hanya memperhatikan hal-hal yang di mata orang Eropa tampak anch. Keanehan tersebut memancing minat kalangan terpelajar di Eropa Barat sejak abad ke-18. Kemudian dalam pandangan orang Eropa timbul tiga macam sikap, yakni: (1) sikap negatif yang menganggap suku bangsa itu sebagai primitif, liar, keturunan iblis, batbar, dan sebagainya; (2) sikap positif yang menganggap suku bangsa itu masih harmonis,

murni, dan belum kemasukan kejahatan dan keburukan seperti yang terdapat pada masyarakat bangsa-bangsa Eropa waktu itu; dan (3) sikap tertarik terhadap adat-istiadat yang aneh; dan karena itu mereka mengumpulkan benda-benda budaya dari suku-suku bango& tersebut. Benda-benda budaya yang dikumpulkan secara pribadi itu, sebagian yang dipertontonkan kepada umum. Saat itulah untuk pertama kalinya muncul museummuseum yang menghimpun benda-benda budaya bangsabangsa di luar Eropa. 2.2.2 Fase Kedua Sekitar awal abad ke-19, dunia ilmiah tertarik dan berusaha mengintegrasikan himpunan bahan etnografi suku bangsa yang disebutkan di atas menjadi satu. Namun integrasi barn terjadi pada pertengahan abad ke-19, tatkala terbit keterangan-keterangan yang menyusun bahan etnografi berdasarkan cara berfikir evolusi masyarakat. Secara sinkat, cara berfikir seperti itu dapat dirumuskan sebagai berikut: Masyarakat dan kebudayaan manusia telah berevolusi dengan sangat lambat dalam satu jangka waktu beribu-ribu tahun lamanya, dari tingkat-tingkat yang rendah, melalui beberapa tingkat antara sampai ke tingkat-tingkat tertinggi. Bentuk-bentuk masyarakat dan kebudayaan manusia yang tertinggi itu adalah bentuk-bentuk seperti apa yang hidup di Eropa Barat. Semua bentuk masyarakat dan kebudayaan dari bangsa-bangsa di luar Eropa, yang oleh orrang Eropa disebut primitif, dianggap sebagai contoh dari tingkat-tingkat kebudayaan yang lebih rendah atau sebagai sisa dari kebudayaan manusia purba. Kecuali itu, timbal pula beberapa karangan yang hendak meneliti sejarrah persebaran kebudayaan bangsa-bangsa di muka bumf. Dalam pada itu, kebudayaankebudayaan di luar Eropa dianggap sebagai sisasisa dan contoh-contoh dari kebudayaan manusia kuno, sehingga dengan meneliti kebudayaan bangsa-bangsa di luar Eropa itu orang dapat menambah pengertiannya tentang sejarah persebaran kebudayaan manusia. 2.2.3 Fase Ketiga. Fase ketiga dari sejarah perkembangan antropologi ditandai oleh timbulnya

perhatian yang sangat besar di kalangan pemerintah negaraneara Eropa terhadap bahanbahan etnografi bangsa-bangsa jajahannya demi mantapnya satabilitas sistem

administrasi pemerintahan di daerah jajahannya. Selain itu, ilmu antropologi yang dikembangkan dari bahanbahan etnografi dianggap penting karena dengan pengetahuan tentang masyarakat dan kebudayaan yang kurang kompleks itu, akan menambah pula pengertian orang mengenai masyarakat yang sudah kompleks sepeti masyarrakat dan kebudayaan orrang Eropa sendiri. 2.2.4 Fase Keempat Dalam fase keempat, ilmu antropologi mengalami proses perkembangan yang paling lugs. Hal itu disebabkan oleh semakin bertambahnya bahan-bahan pengetahuan yang lebih teliti dan ditunjang oleh ketajaman metode-metode ilmiah yang digunakan. Pada fase ini sararan kajian ilmu antropologi bukan lagi hanya pada suku-suku bangsa di War Eropa, melainkan juga masyarakat Eropa sendiri, khususnya masyarakat pedesaan mereka. perkembangan kajian antropologi secara akademik berlangsung di UniversitasUniversitas Eropa pada saat setelah tahun 1951, namun perkembangan itu berlangsung paling pesat dl univeritas-universitas Amerika. Terjadinya perluasan lapangan penelitian ilmu antropologi itu disebabkan oleh adanya dua perubahan yang terjadi, yakhi: (1) timbulnya antipasi terhadap kolonialisme sesudah perang dunia ke-2; dan (3) menghilangnya bangsa-bangsa primitif di dunia sejak sekitar tahun 1930-an. 2.3 TUJUAN-TUJUAN AKADEMIK DAN PRAKSIS ANTROPOLOGI Pada fase pertama, perkembangan antropologi masih berupa pendeskripsian yang kabur mengenai adat istiadat dan susunan masyarakat di Afrika, Asia, Oseania, dan suku bangsa Indian. Pada fase ini, ilmu antropologi belum memberikan sumbangan ilmiah dan praktis yang jelas. Pada pase kedua, antropologi dengan bahan-bahan etnografinya yang telah melimpah ruah telah secara jelas memberikan sumbangan yang sangat berartl bag! penyusunan perkembangan teori-teori evolusl dan persebaran kebudayaan manusia.

Dengan demikian, pada pase in! antropologi telah memberikan kontribusi yang berharga dalam bidang akademik. Dalam pase ketiga, perhatlan antropologi terfokus pada bahanbahan etnograf! lama dan pentilisan etnngraf! diarahkan pada kepentingan stabilitas dan kelancaran sistem administrasi pemerintahan di negara-negara jajahan. Dengan demikian, tujuan anropologi pada pase ini leih berorientasi praksis. Dalam fase keempat, K-egiatan-kegiatan penelitian antropologi bertujuan, balk untuk perkembangan ilmu itu sendirl maupun untuk kepentingan praksis. Pada fase ini, lapangan-lapangan penelitian antropologi telah diperluas pada masyarakat pedesaan, tidak hanya yang berdomisil di daerah jajahan tetapi juga yang bermukim di Eropa. Lagi pula pada fase itu bermunculan spesialisasi-spesialisasi dalam antropologi budaya dan ditambah dengan adanya perluasan dan penajaman metodemetodenya. Tujuan praksis antropologi pada fase keempat ini bukan lagi untuk kepentingan negara-negara penjajah, melainkan juga untuk pembangunan masyarakat-masyarakat negara jajahan atati bekas jajahan bangsa-bangsa Eropa. Gagasan tentang

pembangunan kembali masyarakat-masyarakat jajahan tersebut muncul pertama kali dari kalangan orang Eropa sendiri dengan ide "politik etis" ditamnbah dengan semakin meningkatnya asplrasl bangsa-bangsa terjajah atau bekas jajahan untuk membangun kehidupan bangsanya sendiri. 2.4 RINGKASAN Ada empat fase sejarah perkembangan antropologi: Pertama sebelum tahun 1800; kedua pada pertengahan abad ke-19; ketiga pada permulaan abad ke-20; dan keempat sesudah tahun 1930-an. Fase pertama, yakni fase awal munculnya buku-buku etnorafi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa dan adanya ahli yang mengumpulkan bendy-bendy budaya dari masyarakat non Eropa untuk dimusiumkan agar dapat dilihat oleh banyak oran. Sekalipun pada fase ini belum menunjukkan adanya manfaat ilmiah dan praksis yan jelas, namun menjadi cikal akal berkembangnya ilmu antopologi.

Fase kedua, dilakukan penelitian dan penyusunan bahan-bahan etnografi secara teliti yang dimaksudkan untuk mengembangkan dan memperkuat teori-teori evolusi budaya dan sejarah persebaran kebudayaan. Dengan demikian tujuan antropologi pada pace tersebut berorientasi iliniah. Fase ketiga, perhatian terhadap penyusunan bahan-bahan etnografi (]an penelitian etnografi di negara-negara jajahan dimaksudkan untuk memamtapkan dan memperlancar adminsitrasi pemerintahan di negara-negara jajahan. Pada pase ini tujuan antropologi lebih besia paksis. Fase keempat, kajian antropologi mejadi semakin berkembang, bukan hanya pada lapangan perhatiannya, melainkan juga pada metodemetode ilmiahnya. Hasil-hasil penelitiannya pun tidak hanya untuk kepentingan ilmiah tetapi juga kepentingan pembangunan bangsa-bangsa jajahan dan bekas jajahan. 2.5 KEPUSTAKAAN Koentjaraningrat 1980 "Fase-Fase Perkembangan Antropologi Sebagai Suatu Ilmu". Dalam Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta; halaman 13-18. Koentjaraningrat 1980 "Tujuan Prkatis dan Akademis Antropologi dalam Sejarah Perkembangannya". Dalam Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta; halaman 13-36.

BAHASAN 3 PENDEKATAN DAN METODE PENELITIAN LAPANGAN ANTROPOLOGI


3.1 SASARAN BELMAR 1 . Mahasiswa mampu menjelaskan jenis pendekatan yang terdapat dalam disiplin antropologi
2 . Mahasiswa dapat menjelaskan metode penelitian lapangan antropologi 3 . Mahasiswa dapat memahami jenis data yang diperoleh melalui masing-masing

metode yang digunakan. 3.2 PENDEKATAN ILMIAH ANTROPOLOGI Seperti telah dinyatakan pada uraian terdahulu bahwa yang membedakan antropologi dengan disiplin ilmu-ilmu sosial lain yang juga mengkaji manusia adalah pada metode pendekatan. Metode pendekatan yang dimaksud: (1) Pendekatan holistik; (2)
p

endekatan historis;(3) Pendekatan komparatif; (4) Pendekatan emik; dan (5) Pendekatan

etik. Pendekatan holistik (holistic approach) adalah suatu pendekatan yang melihat kebudayaan manusia sebagai suatu fungsi yang menyeluruh yang tersusun dari sejumlah bagian-bagian yang sating berhubungan secara aktif. Dengan demikian, sesuatu yang terjadi pada suatu bagian tertentu yang merupakan bagian dari suatu sistem akin mempengaruhi struktur dan kerja keseluruhan sistem. Misalnya, pranata ekonomi, kesehatan, kekerabatan, politik, dan lain-lain adalah sating berhubungan satu sana lain. Satu bagian saja tidak dapat dimengerti secara utuh tanpa mengkaitkannya dengan pranata-pranata lain. Oleh karena itu, meskipun kajian difokuskan pada bidang tertentu dari kehidupan manusia, misalnya, pranata kesehatan, namun senantiasa terkait dengan pranata-pranata lain seperti pranata ekonomi, politik, kekerabatan, agama, dan lain-lain. Pendekatan historis (historical approach) adalah suatu pendekatan yang mellhat manusia sebagai konsekilens! dari rang.Raian proses-proses biologi dan social budaya. Arkeolog! sebagai suatu bidang dari antropologi budaya menekankan kajiannya

pada rekonstruksi bentuk awal, perkembangan, dan saling hubungan di antara berbagai macam manusia di atas permukaan bum! ini. Dalam konteks itu, antropolog! dengan pendekatan historis menginterpretasi kebudayaan yang dipunyai oleh suatu kelompok masyarakat tertentu dalam bentuk pengaruh sejarah. Pendekatan Komparatif (comparatif approach) digunakan dalam disiplin

antropologi untuk menjelaskan persamaan dan perbedaan d! antara berbagai makhluk manusia, baik darl segi bicfisik maupun dari segi budaya, di atas muka bumf ini. Pendekatan komparatif ini dapat digunakan dalam tingkat mikro maupun makro. Pendekatan komparatif dalam tingkat mikro adalah pendekatan yang digunakan untuk menyusun penjelasan mengenal persamaan dan perbedaan satu aspek kebudayaan tertentu. Pendekatan komparatif dalam tingkat makro adalah pendekatan yang digunakan untuk menyusun proposis! umum dan teorl tentang manusia dan kebudayaannya. Pendekatan emik (amic approach) dan etik (etic approach) adalah suatu pendekatan yang digunakan oleh ahli antropologi untuk membedakan antara pengertian orang dalam (native view) dan orang luar. Pengertian orang dalam berkenaan dengan kepercayaan, cara, dan kebiasaan tertentu dipahami sebagai perspektif emik; sedangkan pandangan orang luar tentang kepercayaan, cara, dan kebiasaan kelompok masyarakat tertentu dipahami sebagai perspektif etik. Pengertian berdasarkan perspektif emik sangat penting, terutama sekali dalam pengembangan dan implementasi suatu program. Sebab hanya dengan memahami perspektif masyarakat setempat yang menjadi sasaran program, barn terbuka pintu untuk diintrodusir program-program tertentu. Dalam kata lain, dengan memahami pandangan dunia (world view) masyarakat yang menjadi sasaran program, maka akan diketahui faktor potensi dan kendala bag! pelaksanaan dan keberhasilan program. Salah satu contoh mengenai perbeadaan antara perspektif emik dan etik adalah pada penyakit campak. Menurut masyarakat bahwa terdapat dua jenis penyakit campak yaitu yang disebabkan oleh faktor alamiah dan yang disebabkan oleh intervensi agenagen supernatural. Sedangkan menurut perspektif etik, hanya terdapat satu jenis penyakit campak, yakni yang disebabkan oleh virus campak.

3.3 METODE PENELITIAN LAPANGAN Penelitian lapangan merupakan hal yang sangat penting bagi disiplin antropologi. Hanya dengan penelitian lapangan, maka proposisi-proposisi dan teori-teori dapat ditemukan bukti-bukti empirisnya; dan melalui penelitian lapangan pula, maka dapat ditemukan konsep-konsep, proposisi-proposisi, dan teori dari data yang telah dikumpulkan di lapangan. Data atau informal! yang diperoleh di lapangan dikumpulkan melalui metode atau teknik penelitian tertentu. Metode atau teknik penelitian lapangan yang dimkasud selain yang khas digunakan dalam antropologi juga seringkali digunakan metode atau teknik penelitian ilmu social lain, seperti survey, riwayat hidup individu (life history) Focus Group Discussion (FGD), dan lain-lain. Namun yang akan dibahas dalam uralan ini adalah yang umum digunakan dalam limo antropologi, yakni pengamatan berperanserta (participant observation) dan wawancara mendalam (indepth interview). Penelitian dengan menggunakan metode atau teknik pengamatan sangat penting artinya dalam kerja lapangan antropologi. Sebab dengan pengamatan tidak hanya memberikan gambaran mengenai setting (latar belakang dan keadaan yang diamati), tetapi juga memberikan keterangan yang non-verbal yang berarti mengenai sesuatu yang benar-benar terjadi. Menurut Spradley (1980) terdapat tiga jenis pengamatan, yakni (1) pengamatan deskriptif; (2) pengamatan fokus; dan (3) pengamatan selektif. Pengamatan deskriptif adalah pengamatan yang sifatnya masih sangat umum dan bertujuan untuk menjawab pertanyaan apa yang sedang terjadi. Pengamatan deskriptif selalu termasuk perspektif dari pengamat (etic perspektif). Pengamatan deskriptif relatif mudah dikerjakan asalkan pengamat mengetahui tentang keadaan yang diamati. Adapun dimensi utama dari setiap keadaan sosial yang perlu diketahui oleh pengamat adalah:
Tempat

Apa keadaan fisik dari situasi sosial Pelaku Siapa-siapa orang yang terlibat Kegiatan Apa yang dilakukan orang-orang yang terlibat

Objek Waktu Sasaran

Benda-benda material apa yang ada pada situasi sosial itu. Kapan kejadian itu berlangsung Apa yang akan diselesaikan oleh orang-orang dalam situasi sosial itu

Perasaan Emosi apa yang terpendam dan terungkap dalam situasi sosial itu.

Pengamatan fokus adalah lebih spesifik dan membutuhkan tingkat keakraban yang tinggi dengan keadaan atau aktivitas yang diamati. Sebuali pengamatan fokus terhadap sebuah keadaan di ruang tunggu, misalnya, dapat diatur sebagai berikut:
Kegaiatan apa yang terjadi di ruang tunggu Siapa orang-orang yang termasuk dalam kegiatan itu Apa yang dilakukan orang-orang dalam ruang tunggu Bagaimana cara-cara orang berinteraksi

Pengamatan selektif adalah pengamatan terhadap kejadian yang lebih spesifik dan fokus biasanya diarahkan pada perbedaan yang spesifik. Ketiga jenis pengamatan yang dikemukakan di atas dapat dilakukan dengan pengamatan terlibat (participant observation). Pengamatan terlibat merupakan salah satu teknik.pengumpulan data yang dijalankan oleh sarjana antropologi. Dalam pada itu, peneliti terlibat dalam kehidupan sehari-hari orang yang diteliti. Melalui cara itu, peneliti dapat belajar menjadi "orang dalam" secara nyata. Secara umum pengamatan terlibat dapat dikelompokkan ke dalam 3 bagian yakni:
1.

Partisipasi pasif, yaitu pengamat hadir di dalam kegiatan objek yang diamati tetapi tidak secara sungguh-sungguh terlibat atau berhubungan dengan orang dan peristiwa yang menjadi objek penelitiannya.

2 . Partisipasi

aktif, yaitu pengamat mencoba untuk melakukan atau berbuat sebagalmana, yang diperbuat orang-orang yang menjadi objek kajiannya, mempelajari peranan kebudayaan, dan kebiasaan setempat. 3 . Partisipasi sempurna, yaitu pengamat mempelajari suatu situasi dan berpatisipasi setiap hari di dalam masyarakat yang diteliti. Metode pengumpulan data yang juga umum digunakan dalam disiplin antropologi

adalah wawancara. Teknik wawancara ini dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian, yakni wawancara informal dan wawancara formal. Wawancara informal biasanya dilaksanakan dalam bentuk percakapan, namun percakapan itu terarah sesuai dengan format pertanyaan yang telah disusun. Sungguhpun peneliti dalam melakukan wawancara mengikuti garis-garis umum (pedoman wawancara), namun !a bebas mengajukan pertanyaan sesuai dengan kondisi dan situasi yana:, dihadapi, asal saja percakapan itu seiring dengan tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kata lain, topik tambahan yang belum tertuang dalam daftar pertanyaan jika dianggap perlu dapat ditanyakan. Menurut Spradley (1979) wawancara informal mengandalkan pada tiga tipe pertanyaan, yaitu: 1. Pertanyaan Struktural, sebagal contoh: Dapatkah anda menyebutkan kepada saga tentang jenis-jenis pengobat tradisional (dukun). Jawaban yang mungkin diberikan oleh informan seperti: dukun patah tulang, dukun bay!, dukun ramuan, dan sebagainya. 2. Pertanyaan deskriptif, sebagal contoh: dapatkah anda menggambarkan kepada saga tentang cara-cara pengobatan yang dilakukan oleh dukun patah tulang? 3. Pertanyaan kontras, sebagai contoh: Dapatkah anda menyebutkan perbedaan antara dukun patah tulang dengan dukun ramuan. 3.4 RANGKUMAN Pendekatan ilmiah yang khas bagi ilmu antropologi adalah pendekatan holistik, historls, komparatif, emik, dan etik. Sementara metode penelitian yang umum digunakan dalain antropologi adalah pengamatan dan wawancara. Ada dua jenis pengamatan, yakni pengamatan terlibat dan pengamatan tidak terlibat. Demikian juga wawancara terbagi ke dalam dua jenis, yakni wawancara informal dan wawancara formal. Metode pengamatan yang digunakan oleh para peneliti antropologi ialah pengamatan terlibat; dan bahwa dalam pengamatan terlibat sekurang-kurangnya terdapat

tiga tipe keterlibatan, yakni terlibat pasif, terlibat aktif, dan terlibat sempurna. Sedangkan kegiatan pengamatan dikelompokkan ke dalam tiga tipe, yakni pengamatan deskriptif, pengamatan fokus, dan pengamatan selektif. Selanjutnya, dalam kegiatan wawancara informal mengandalkan pada tiga tipe pertanyaan, yakni: pertanyaan struktural, pertanyaan deskriptif dan pertanyaan kontras. DAFTAR BACAAN Beals, Ralph L. Et.al. 1977 An Introduction to Anthropology. New York: Macmillan Pub., Co., Inc., pp., 1-21. Pelto, Pertti & Gretel H. Pelto 1978 Anthropological Research: The Structure Inquiry. London: Cambridge University Press, pp., 54-66. Spradley, James 1980 Participant Observation. New York: Holt, Rinehart & Winston. Spradley, James 1979 The Ethnographic Interview. New York: Holt, Rinehart & Winston. 3.6 TUGAS LAYMAN 1. Uraikan dengan jelas pendekatan yang khan dalam ilmu antropologi.
2. Mengapa pendekatan emik dianggap penting dalam memahami peta-peta sosial

budaya masyarakat.
3 . Uraikan metode pengumpulan data lapangan yang senantiasa digunakan dalam

antropologi. Uraikan perbedaan data yang terkumpul melalui metode yang disebutkan dalam pertanyaan nomor 3 di atas.

BAHASAN 4 MANUSIA
4.1 SASARAN BELAJAR 1. Mahasiswa mampu menjelaskan manusia dari perspektif evolusi. 2. Mahasiwa mampu menjelaskan pengertian ras dan penggolongan ras manusia yang hidup pada masa kini. 3. Mahasiwa mampu menjelaskan metode klasifikasi ras. 4. Mahasiswa dapat menerangkan kemungkinan masalah psikologis dan sosial yang akan timbul karena kesalahpahaman mengenai pengertian ras. 4.2 HOMO SAPIENS Nenek moyang Homo Sapiens (manusia modern atau manusia sebagaimana yang hidup pada masa sekarang ini) diperkirakan dari kera besar yang digolongkan sebagai Ramapithecus yang hidup di pinggiran Tropis Afrika dan Asia Selatan pada kurun waktu sekitar 15 sampai 10 juta tahun yang lalu. Ramaphithecus kemungkinan besar merupakan binatang yang hidup di pohon-pohon, namun dapat juga berkeliaran di atas permukaan tanah untuk mencari makanan, dan dapat berjalan di atas kedua kakinya (Simon dalam Keesing, 1989). Hal yang patut dipertanyakan dari pernyataan di atas adalah sudah berapa lama terjadi perpisahan antara garis keturunan manusia (Homonid) dengan garis keturunan kera? Menyangkut hal itu terdapat ketidaksepakatan yang tajam di antara para ahli. Sebagian yang mengatakan bahwa perpisahan tersebut terjadi pada kurun waktu 15 sampai 10 juta tahun yang lalu, dan sebagian lain yang mengatakan bahwa perpisahan itu terjadi pada kurun waktu sekitar 5 juta yang 1,11U. Ketidaksepakatan itu muncul oleh karena tiadanya temuan fosil yang diperkirakan hidup pada kurun waktu 10 sampai 5 juta tahun yang lalu yang dapat menunjukkan secara jelas perbedaan garis keturunan manusia dengan garis keturunan kera. Akan tetapi setelah ditemukannya fosil yang usianya berasal dari kurun waktu 5 sampai 3 juta tahun yang lalu, maka garis keturunan manusia yang tertua sudah diketahui. Garis keturunan manusia tersebut dinamakan Australopithecine.

Cirl-cirl Australopithecine yang hidup pada masa-masa awal adalah berukuran kecil (30-50 kg), berjalan tegak, dan struktur tubuhnya relatif menyerupai manusia sekarang ini. Mereka memakan pangan yang umumnya berupa tumbuhan liar (akarakaran, biji-bijian, buah-buahan), dan pangan hewani (telur, binatang melata, binatang pengerat, dan berbagai jenis binatang lainnya). Akan tetapi rahang dan struktur wajahnya masih kasat dan lebih mirip kera ketimbang manusia; rongga otak agak keeil (separuh dart rongga otak manusia modern). Pada kurun waktu antara 3 sampai 2 juta tahun yang lalu terjadi perubahan dramatis bagi bentuk Australopithecine. Perubahan itu tidak hanya tampak pada bentuk fisik, tetapi juga pada meningkatnya ukuran rongga otak, intelegensi, dan kemampuan simbolik. Garis keturunan manusia (hominid) yang berada pada tahap evolusi seperti itu disebutkan oleh keluarga Leakey sebagai manusia Homo Habilis. Kenyataan itu memunculkan pertanyaan: Apa yang menjadi penyebab munculnya Homo Habilis? Dan tekanan apa yang telah mengganggu keseimbangan yang telah ada pada saat itu? Keunggulan apa yang ada pada evolusi intelegensi manusia? Perubahan pada kemampuan intelegensi Homo Habilis tampaknya disebabkan oleh adanya kerumitan dalam perburuan binatang besar, penggunaan peralatan, dan hidup dalam kelompok sosial yang terorganisir serta saling berkaitan. Jenis binatang yang diburu oleh Homo Habilis pada saat itu diantaranya jerapah, kuda nil, rusa, dan gajah; dan perburuan itu menghendaki adanya keterampilan, perencanaan, dan. organisasi. Kecuali ltu, sekalipun otaknya relatif kecil, is telah mampu membuat peralatan dari batu, dan boleh jadi sudah membuat peralatan dari tulang dan kayo. Peralatan dari batu digunakan untuk memotong, menggali, menglkis, dan memahat. Kemampuan membuat peralatan sepertl itu mengisyaratkan adanya kemampuan imajinasi mengenai keadaan benda yang akan dibentuk, dan hal itu pada gillrannya melahirkan kemampuan untuk menentukan ukuran tindakan. Dalam pada itu, diperlukan pula kemampuan mental untuk menyampaikan rencana, walaupun secara kasar, seperti halnya dalam kegiatan berburu yang terorganisasi. Tempat penemuan fosil Homo Habilis menunjukkan pemukiman sebagai basis tempat tinggal. Keadaan in! juga menuntut adanya perencanaan dan komunikasi; dan hal

tersebut memperluas kemungkinan adanya kehidupan sosial yang terorganisasi dan pembagian kerja. Kaum prig pada saat itu diduga bekerja sebagai pemburu binatang besar dan kaum wanita bekerja sebagai pengumpul pangan di hutan dan berburu binatang kecil serta mengasuh anak. Jlka pola hidup yang demikian itu telah dimulai, maka timbul berbagai kemungkinan barn, seperti: kegiatan membuat dan merawat peralatan yang tidak lag! bersifat sementara, kegiatan menghimpun pengetahuan setempat dan usaha

mengalihkannya; kegiatan yang dflakukan secara, bekerja sama ketimbang dengan bersaing; dan keglatan penciptaan pola distribus! pangan. Hal itu, pada gillrannya sangat berpengaruh bag! intelegens! serta pola perilaku dan f1sik yang bertaIlan. Dengan demikian, keseluruhan pola berevolusi secara bersama; perubahan struktur fisik dan perilaku yang, diturunkan secara genetik natipun secara sosial saling berkaitan. Keadaan tersebut mendorong bagi munculnya tahapan lain nenek moyang manusia; yakni telah memiliki kesanggupan dan daya penyesualan yang luar blasa. Mereka itu digolongkan sebagai Homo Erectus. Homo Ei-ectus memf)tinyai tubuh yang secara anatomi harnpir tidak dapat dibedakan dengan manusia modern, kecuali bentuk dahi yang pendek dan miring; alis lebat dan tebal; rahang dan gigi yang besar. Lebih dari kurun waktu sejuta tahun, Homo Erectus berevolusi secara berangsur-angsur ke arah Homo Sapiens dan bentuk tengkorak serta, ukuran otak yang semakin besar yang bergerak mendehati ukuran otak manusia modern. Fosil Homo Erectus yang hidup sekitar 400.000 tahun yang lalu yang ditemukan di pantai Laut Tengah daerah Perancis telah menunjukkan bukti-bukti tentang adanya perpindahan musiman yang teratur ke pantai untuk mengumpulkan kerang dan berburu rusa, gajah, babi hutan, badak, dan banteng liar. Mereka juga telah membuat dan menggunakan peralatan yang berdaya guna dari batu -dan tulang, memasak makanan mereka, mendirikan gubuk dan penahan angina menggunakan tempat persembunyian binatang, tempat tidur dan duduk serta telah menggunakan mangkuk. Perkembangan yang terjadi seperti yang disebutkan di atas dipandang oleh para

ahli sebagai pengejawantahan dari, dan dorongan bagi peningkatan intelegensi dan keteraturan kehidupan sosial. Selanjutnya, dalam kurun waktu 250.000 sampai 100.000 tahun yang lalu terjadi perkembangan fisik ke arah peningkatan rongga otak dan penciutan rahang raksasa. Dalam pada itu, maka lahirlah Homo Sapiens dengan jenis Neanderthal. sebagai Homo Sapiens awal yang tersebar lugs, manusia Neanderthal ditanadai oleh otak yang besar, seukuran otak manusia modern; tetapi rahangnya masih besar, wajahnya menjorok ke depan, keningnya tebal, dan dahinya landai, struktur per.%vajahan seperti itu menurut Brace (dalam Keesing, 1989) merupakan penyesuaian fisik karena masih menggunakan gigi sebagai alat untuk membuat peralatan, proses menguliti dan sebagainya. Dengan semakin majunya teknologi peralatan, maka gigi semakin kurang dipakai sebagai alat penggenggam atau pemotong dan akibatnya struktur wajah modern berevolusi. Kecuali itu, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa karma manusia Neanderthal telah mampu menghasilkan bunyi-bunyi vokal dengan baik, maka bentuk 'tengkoraknya berkembang bersama dengan evolusi kemampuan berbieara manusia modern. Proses evolusi tersebut berlangsung terns, sehingga pada kurun waktu antara 40.000 sampai 30.000 tahun yang lalu telah muncul Homo Sapiens modern sebagaimana yang ada sekarang in!. Hal itu terbukti dari adanya berbagai fosil yang ditemukan di berbagai tempat, diantaranya Eropa, Kalimantan, Australia, dan lain-lain. 4.3 RAS DAN METODE KLASIFIKASI RAS Ras menurut pengertian antropologi adalah suatu golongan manusia yang menunjukkan berbagai ciri tubuh tertentu. Ciri-ciri tubuh tersebut adalah sebagian yang dapat dilihat secara langsung dan diukur secara kuantitatif dan sebagian lagi merupakan organ bagian dalam tubuh serta organ-organ penciuman rasa dan bau yang unttik pengklasifikasiannya harus dengan metode ilmiah atau fenotipe. Metode klasifikasi ras yang termasuk klasik, namun masih digunakan adalah metode yang melihat ciri-ciri morfologi atau fenotipe, yaitu ciri-ciri kaulitatif berupa warna kulit, warna dan bentuk rambut, bentuk muka dan bagian-bagiannya; dan ciri-ciri kuantitatif

seperti berat dan ukuran badan, ukuran tengkorak dan indeks tengkorak, dan sebagainya. Metode klasifikasi ras yang relatif barn dan canggih adalah metode klasifikasi f7logentik, yaitu yang berdasarkan pengetahuan tentang ciri-ciri genotif seperti golongan darah dan ciri-ciri penciuman bau zat atau phenythlocarbomide. Dengan menggunakan metode klasifikasi filogentik, maka selain persamaan-persamaan dan perbedaanperbedaan antara ras dapat digambarkan, juga hubungan-hubungan asal-usul antara rasras tertentu Berta percabangannya dapat dijelaskan. 4.4 KLASIFIKASI RAS Klasifikasi ras yang diungkapkan dalam uraian ini adalah yang dibuat oleh A.L. Kroeber. Dalam klasifikasi itu, tampak secara jolas golongan ras-ras yang terpenting di dunia. Adapun golongan ras-ras yang dimaksud, meliputi: 1. Austroloid (penduduk asli benua Australia) 2. Caucasoid, yang termasuk ras Caucasoid adalah: 2.1 Nordic (Eropa Utara sekitar laut Baltik). 2.2 Alpine (Eropa tengah dan Timur). 2.3 Mediteranean (penduduk sekitar laut Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arab, dan Iran). 3. Mongoloid, yang termasuk ras Mongoloid adalah: 3.1 Asiatic Mongoloid (Asia Utara, Asia Tengah, dan Asia Timur). 3.2 Malayan Mongoloid (Asia Tenggara, Kep. Indonesia, Malaysia, Filipina, dan penduduk Taiwan). 3.3 American Mongoloid (penduduk asli Benua Amerika Utara dan Selatan, yaitu dari orang Eskimo di Amerika Utara sampai dengan penduduk Terra del Fuego di Amerika Selatan). 4. Negroid, yang termasuk ras \egrold adalah: 4.1 African Negroid (Benua Afrika) 4.2 Negrito (Afrika Tengah, semenanjung Melayu, dan Filipina). 4.3 Melanesian (Irian dan Melanesian).
5. Ras-ras khusus, yakni ras yang tidak dapat diklasifikasikan Ice dalam keempat ras

pokok. 5.1 Bushman (di daerah gunung Kalahari di Afrika Selatan).

5.2 Veddoid (di pedalaman Sri Langka dan Sulawesi Selatan). 5.3 Polynesian (di Kepulauan Mikronesia dan Polynesia). 5.4 Ainu (di pulau Karafuto dan Hokkaido di Jepang Utara). 4.5 SALAH FAHAM MENGENAI KONSEP RAS Dalam sejarah bangsa-bangsa, konsepsi mengena*i ciri tubuh manusia yang keliru telah menimbulkan berbagai masala- masalah kemanusiaan. Kesalahfahaman tersebut diantaranya memberikan penilaian yang tinggi atau rendah kepada ras-ras tertentu. Sebagaimana anggapan yang muncul bahwa ras Caucasoid atau ras kulit putih lebih kuat, lebih pandai, lebih maju, dan lebih luhur dibandingkan dengan ras-ras lain. Konsekuensi yang ditimbulkan oleh anggapan seperti itu, tidak hanya muncul dalam bentuk keinginan untuk menguasai atau menjajah bangsa-bangsa lain, tetapi juga adanya perlak-uaO diskriminatif terhadap ras lain yang hingga dewasa ini masih berlangsung di sebagian negara tertentu. A.de Gobineau pada pertengahan abad ke-19, mengemukakan bahwa ras yang paling unggul dan murni di dunia ini adalah ras Arya di Eropa Utara dan Tengah. Orang Perancis dari kalangan bangsawan merupakan keturunan ras unggul itu. Sementara itu, orang Perancis dari kalangan rakyat yang telah banyak bercampur dengan orang Negro dan Scmit memang telah ditakdirkan untuk dikuasai. Anggapan semacam itu diambil alih dan bahkan dijadikan sebagai dasar perjuangan bagi aliran Nasional Sosialis (,\asi) di bawah kepemimpinan Hitler. Mereka beranggapan bahwa orang-orang Jerman

merupakan keturunan langsung dari ras Arya dan karena itu harus menguasai seluruh dunia. Upaya yang dilakukan Hitler dalam mewujudkan anggapannya itu, menimbulkan malapetaka dan kesengsaraan bagi umat manusia. 4.6 RANCKUMAN Nenek moyang Homo Sapiens (manusia modern) diperkirakan dari kera besar yang digolongkan scbagai Ramapithecus yang hidup pada kurun waktu 15-10 juta tahun yang lalu di pinggiran Troplis Afrika dan Asia Sclatan. Pemisahan garis keturunan antara manusia dengan kera masih belum ada kata sepakat di antara para ahli. Sebagian yang mengatakan bahwa pemisahan itu terjadi pada

kurun waktu 15 sampai 10 juta tahun yang lalu; dan. sebagian lag! yang mengatakan bahwa pemisahan itu terjadi pada kurun waktu 5 sampai 3 juta tahun yang lalu yang diperkirakan sebdgal garis keturunan manusia yang tertua. Pada kurun waktu 3 sampai 2 juta tahun yang lalu Australopithecine berevolusi menjadi manusia Homo Habilis yang mempunyal ukuran rongga otak dan intelegensi semakin berkembang serta sudah mempunyai kemampuan simbolik. Homo Habilis itu kemudian berevolusi menjad! Homo Erectus. Homo Erectus ini meskipun mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi dan daya kemampuan penyesuaian yang tinggi, namun bentuk dahinya masih pendek dan miring; alisnya lebat dan tebal; rahang dan giginya besar. Lebih dari kurun waktu sejuta tahun, Homo Erectus ini kemudian berevolusi secara berangsur-angsur ke dalam Homo Sapiens yang bentuk dan ukuran otaknya semakin besar bergerak mendekat! ukuran otak manusia modern. Pada kurun waktu sekitar 250.000 sampai 100.000 tahun jenis Homo Sapiens ini mengalami perkembangan fisik berupa peningkatan rongga otak dan penciutan rahang; dan pada saat itu lahirlah Homo Sapiens jenis Neanderthal IHomo Sapien jenis itu kemudian berevolusi terns hingga pada kuran waktu 40.000 sampai 30.000 tahun yang lalu lahir Homo Sapiens modern atau manusia sebagaimana yang hidup sekarang ini. Homo Sapiens modern yang menghun! bumf sekarang ini terdistribusi ke dalam lima jenis ras, meluputi: (1) Austroloid; (2) Caucasoid; (3) Negroid; (4) .%fongoloid; (5) Rasras khusus. Penggolongan ras tersebut seringkali menimbulkan masalahmasalah

kemanusiaan. Masalah itu timbul oleh karena ad~nya kesalahfahaman yang menganggap ras tertentu lebih unggul daripada golongan ras lainnya. DAFTAR BACAAN Barnouw, Viktor

1982 An Introduction to Anthropology, Ethnology. Illinois: The Doresy Press., pp., 1-38. Beals, Ralph L. Et-al. 1977 An Introduction to Anthropology. New York: Macmillan Pub., Co., Inc., pp., 1-21. Keesing, Roger M. 1989 Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Kontemporer. Jakarta: Penerbit Erlangga. hal. 1-10. Koentjaraningrat 1980 Pengantar 11mu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru. Hal., 17-36. 4.8 TUGAS LATIHAN 1 . Uraikan perkembangan fisik manusla ditinjau dari perspektif evolusionis.
2 . Uraikan mengenai faktor pencetus bag! terjadi perubahan rongga otak,

kemampuan intelegensi, dan kemampuan simbolik manusia pada sekitar 3 sampai 2 juta tahun yang lalu.
3 . Uraikan faktor penyebab munculnya. Homo Sapiens jenis Neanderthal. 4 . Uraikan golongan-golongan ras yang tersebar d! permukaan bumf. 5 . Uraikan masalah yang kemungkinan timbul sebagai akibat dari kesalahpahaman

mengenai ras.

BAHASAN 5 MASYARAKAT
5.1 SASARAN BELAJAR 1. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep masyarakat dan kesatuan-kesatuan sosial lainnya.
2. Mahasiswa mampu menjelaskan unsur-unsur masyarakat dan menggambarkan

saling keterkaitan antara unsur-unsur tersebut.


3. Mahasiswa mampu menjelaskan konsep struktur sosial.

5.2 MASYARAKAT DAN KESATUAN-KESATUAN SOSIAL Di dalam pembahasan ini akan dipaparkan secara singkat mengenai konsep masyarakat, komunitas, kategori sosial, golongan sosial, kelompok, dan perkumpulan. Masyarakat berasal dari kata Arab 'syaraka' yang artinya bergaul. Kata itu dalam Bahasa Inggris disebut society. Secara umum kata masyarakat dapat diartikan sebagai orang-orang yang saling bergaul atau berinteraksi. Kalangan ilmuan sosial menanggapi kata masyarakat bukan sebagai istilah biasa melainkan sebagai konsep. Karena itu, Koentjaraningrat, misalnya, menyebutkan bahwa suatu kesatuan sosial dapat disebutkan sebagai masyarakat bilamana di dalamnya (1) terdapat interaksi antara warga-warganya; (2) terdapat adat-istiadat, norma-norma hukum dan aturan-aturan tertentu yang mengatur tirigkah laku warganya: (3) terdapat suatu kontinuitas dalam waktu; dan (4) terdapat rasa identitas yang mengikat warganya. Berdasar dari persyaratan itu. maka. Koentjaraningrat kemudian mendefinisikan masyarakat sebagai suatu kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistom adat istiadat tertentu yang berssifat kontinyu dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Dengan demikian, maka konsep masyarakat dapat nielingkupi kesatuan hidup manusia yang lebih besar dan dapat pula kesatuan h1up manusia yang lebih keell. Contoh masyarakat dengan kesatuan hidup yang lebih besar adalah masyarakat Indonesia, masyarakat Jepang, masyarakat Belanda, dan sebagainya. Sedangkan masyarakat

dengan

kesatuan

hidup

manusia Kota

yang Jakarta,

lebih

kecil

mcliputi Kota

1iidsyarakat Jogyakarta,

Kota hingga

Ujungpandang,

masyarakat

masyarakat

masyarakat dengan kesatuan hidup manusia yang lebih kecil lag!, sepert! masyarakat desa. Suatu kesatuan hidup manusia yang lebih keell dan khusus itu dalam disiplin antropolog! dan sosiologi dikenal dengan istilah komunitas (community). Dengan demikian, maka komunitas juga merupakan masyarakat dalam arti yang lebih sempit. Ciriciri suatu komunitas meliputi (1) terdapat kesatuan wilayah, (2) terdapat kesatuan adat istiadat, (3) terdapat rasa identitas komunitas, dan komunitas sendirl. Adapun kesatuan-kesatuan hidup manusia yang merupakan komunitas
1)

terdapat rasa loyalitas terhadap

diantaranya komunitas desa, komunitas petani, komunitas nelayan, komunitas pengrajin, dan lain-lain. Selain itu, kelompok-kelompok kekerabatan termasuk komunitas. Misainya, Marga pada orang Batak, Dadia di Ball, dan lain-lain. Berkaitan dengan itu, Koentjaraningrat mendefinisikan komunitas sebagai suatu kesatuan hidup manusia yang menem-pati suatu wilayah yang nyata, dan yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat Berta terikat oleh rasa identitas komunitas. Suatu kesatuan hidup manusia yang lebih khusus tetapi yang belum tentu memenuhi syarat sebagai masyarakat adalah kategori sosial. Kategori sosial adalah kesatuan-kesatuan hidup manusia yang terwujud karena adanya suatu ciri atau suatu kompleks ciri-ciri objektif, biasanya dikenakan oleh fihak dari luar kategori sosial itu sendiri tanpa disadari oleh pihak yang bersangkutan, dengan suatu maksud praktis tertentu. Sebagai contoh, penduduk yang berusia di atas atau di bawah 18 tahun untuk membedakan mereka yang telah mempunyai hak pilih atau belum mempunyai hak pilih; kategori sosial yang memiliki kendaraan bermotor dan tidak memiliki kendaraan bermotor; kategori usia 17 tahun untuk larangan menonton film yang diperuntukkan bagi orang dewasa. Orang-orang dalam kategori sosial biasanya tidak mempunyai orientasi sosial

bersama; tidak mempunyai potensi mengembangkan interaksi di antara mereka; dan juga tidak mempunyai identitas bersama yang mengikat mereka sebagai suatu keseluruhan. Selain itu, terdapat juga suatu kesatuan hidup manusia yang lebih khusus lagi yang menunjukkan beberapa ciri yang rrienjadl ukuran masyarakat, yaitu golongan sosial. Berbeda dengan kategori sosial, golongan sosial justeru mempunyai suatu ikatan identitas sosial, dan balikan mungkin terikat oleh suatu sistem nilai, sistem norma, dan adat istiadat tertentu. Ikatan identitas sosial dari suatu golongan sosial tumbuh sebagai respon terhadap cara orang luar memandang golongan sosial itu. Sebagai contoh adalah golongan pemuda, yang mempunyai ciriciri penuh idealisms, nasionalisme, dan patriotisme yang telah menggagas dan mencetuskan sumpah pemuda. Golongan Negro Amerika juga mempunyai kesadaran dan ikatan identitas sosial bersama yang tumbuh karena diskriminasi dari warga negara keturunan Eropa terhadapnya. Selain konsep-konsep kesatuan hidup manusia yang telah diuraikan di atas, masih terdapat dua konsep lain yang pengertiannya seringkali dikacaukan, yaitu konsep Kelompok dan Perkumpulan. Kelompok (group) mempunyai ciri-ciri seperti (1) terdapat sistem interaksi di antara para anggotanya; (2) terdapat adat istiadat dan sistem norma yang mengatur interaksi itu; (3) terdapat kontinuitas dalam waktu; (4) terdapat identitas yang mempertautkan semua anggota kelompok; dan (5) terdapat unsur-unsur tambahan, yakni organisasi dan pemimpin yang selalu tampak sebagai kesatuan dari individu-individu yang secara berulang kali berktimpul pada masa-masa tertentu kemudian bubar lagi. Kelompok atau group dengan sistem organisasi informal tidak dibentuk dengan sengaja, tetapi terbentuk melalui ikatan-ikatan alamiah dan keturunan yang mengikat warganya dengan adat istiadat dan sistem norma yang tumbuh seolah-olah tidak disengaja juga. Pimpinan dalam kelompok lebih didasarkan kewibawaan dan kharisma, sementara hubungan dengan anggota kelompok yang dipimpinnya lebih berdasarkan pada hubungan azas perorangan. Secara umum, pergaulan yang menggerakkan dan mempersatukan semua anggota kelompok bersifat kekeluargaan. Adapun solidaritas yang menjiwai hubungan antara individu dalam kelompok adalah solidaritas mekanik.

Solidaritas mekanik menurut Emile Durkheim muncul dari kesadaran sosial kolektif masyarakat yang sifatnya sosial. Hubungan solidaritas antarindividu oleh Durkheim dianalogikan dengan kohesi antarmolekul-molekul yang bersifat mekanika dan otomatis. Contoh dari kesatuan hidup manusia yang disebut kelompok diantaranya adalah Marga Tarigan di Tanah Karo, Medan; Keluarga Ind (nuclear- family), Keluarga Luas (extended family), Klen Kecil dan sebagainya. Lain halnya dengan Perkumpulan yang dalam Bahasa Inggris disebut association adalah dibentuk dengan sengaja sehingga dengan demikian sistem organisasinya bersifat formal. Pimpinan perkumpulan lebih berdasarkan wewenang atau hukum; sedangkan hubungannya dengan anggota perkumpulan yang dipimpinnya berlandaskan pada hubungan azas guna. Atau dalam istilah Sorokin hubungan yang berdasarkan kontrak (contractual relation) yang mendasari pergaulan di antara orang-orang dalam

perkumpulan (Sorokin dalam Koentjaraningrat, 1980:157). Solidaritas yang menjiwai perkumpulan adalah solidaritas organik. Solidaritas organik menurut E. Durkheim tumbuh dalam jiwa setiap individu yang dipengaruhi oleh adanya sistem pembagian kerja. Deegan terbentukiiya differensiasi kerja di antara para individu, maka tumbuh suatu kesadaran khusus yang merupakan ciri khas setiap individu. Semakin jelas dan ketat fungsi atau tugas setiap individu kian kuat pula ikatan solidaritas organik. Sebaliknya, solidaritas mekanik semakin melemah. Oleh karena hubungan azas guna yang mendasari perkumpulan, maka perkumpulan dapat dikelaskan berdasarkan prinsip guna, keperluan, dan fungsi. Di antara perkumpulan yang dimaksud, meliputi perkumpulan dagang, koperasi, perseroan, perusahaan, dan sebagainya yang gunanya untuk keperluan ekonomi; perkumpulan pemberantasan buta huruf, yayasan pendidikan, dan sebagainya yang bertujuan untuk memajukan pendidikan dalam masyarakat; Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS), Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI), dan sebagainya merupakan perkumulan yang dibentuk dalam rangka memajukan ilmu pengetahuan dan profesi; perkumpulan teater, perkumpulan mitra budaya, aliranaliran seni lukis; dan lain-lain merupakan perkumpulan yang dibentuk dalam rangka keperluan memajukan kesenian; organisasi gereja, sekte, remaja mesjid, gerakan-gerakan

ratu adil, dan sebagainya merupakan perkumpulan yang dibentuk untuk tujuan pelaksanaan kegiatan keagamaan; PPP, Golkar, PDI dan sebagainya merupakan perkumpulan yang dibentuk untuk keperluan pelaksanaan kegiatan-kegiatan politik. 5.3 UNSUR-UNSUR MASYARAKAT Yang termasuk unsur-unsur masyarakat adalah pranata (institution), lembaga (institute), kedudukan (status), dan peranan (role). Keempat unsur itu saling tcrkait lama lain dalam membentuk masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat individu-individu dimungkinkan berinteraksi oleh karena adanya pranata sosial. Dalam pada itu, konsep pranata didefinisikan sebagai suatu listen norma dan aturan-aturan tertentu yang menata tindakan guna memenuhi keperluan khusus dart manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena kebutuhan-kebutuhan manusia bervariasi, maka pranata sosial yang tercipta pun menjadi bervariasi. Variasi pranata yang dimaksud adalah:
1. Pranata kekerabatan (kinship institution) 2. Pranata mata pencaharian hidup (economik institution) 3. Pranata pendidikan (education institution) 4. Pranata Ilmiah (scientific institution) 5. Pranata Beni (aesthetic institution) 6. Pranata religi atau agama (religion institution) 7. Pranata politik (political institution) 8. Pranata pemeliharaan kesehatan (somatic institution).

Konsep lain yang sangat berkaitan dengan pranata adalah lembaga. Lembaga dalam hal ini dipahami sebagai wahana bagi berlangsungnya kegiatan tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhan tertentu. Dengan demikian, maka lembaga adalah yang mewadahi berlangsungnya pranata. Perbedaan antara pranata dan lembaga dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Kecuall itu, dalam setiap masyarakat, komunitas, dan kesatuan hidup manusia, termasuk yang lebih kecil seperti kelompok-kelompok kekerabatan atau yang paling kecil sekali pun berupa keluarga inti, selalu terdapat kedudukan-kedudukan dan peranan-peranan sosial. Kedudukan sama artinya dengan status dalam Bahasa Inggris. Setiap orang atau

individu dalam suatu masyarakat atau kesatuankesatuan sosial mempunyai status tersendiri dalam rangka kehidupan bersama. Di dalam status terdapat sekumpulan hak dan kewajiban yang dipunyai oleh seseorang dalam rangka kehidupan bermasyarakat. Dengan kesadaran akan status, seseorang dapat menuntut hak dan menjalankan kewajibannya sesuai dengan aturan-aturan atau not-ma-norma yang berlaku dalam masyarakatnya. Pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut disebutkan dalam antropologi dan sosiologi sebagai peranan (role). Harsojo (1977:130) menyebutkan status sebagai posisi polaritas yang terdapat dalam pola tingkah laku yang bersifat timbal batik. Lagipula, konsep komunitas lebih mengacu kepada kesatuan hidup manusia yang lebih kecil. Kategori sosial merupakan kesatuan manusia yang terwujud karena adanya suatu ciri atau kompleks ciri-ciri objektif yang dapat dikenakan kepada manusia-manusia itu. ciri-ciri objektif itu biasanya dikenakan olch pihak dari luar kesatuan sosial itu tanpa disadari oleh pihak yang bersangkutan, dengan suatu maksud praktis tertentu. Misalnya, kategori usia 18 tahun ke atas untuk ikut dalam pemi-lihan umum. Kategori sosial tidak dapat disebutkan sebagai masyarakat. Golongan sosial merupakan suatu kesatuan hidup manusia yang mempunyai suatu ikatan identitas sosial, bahkan mungkin golongan sosial itu terikat oleh suatu sistem nilai, norma, dan adat-istiadat tertentu. Ikatan identitas sosial dari suatu golongan tumbuh sebagai respon terhadap sikap orang luar yang memandang golongan sosial tertenrtu. Misalnya, golongan Negro Amcrika. Sekalipun golongan sosial mungkin mempunyai beberapa ciri yang serupa dengan ciri masyarakat, namun golongan sosial belum dapat disebutkan sebagai masyarakat. Kesatuan hidup manusia yang disebutkan sebagai kelompok (gioup) dapat dikategorikan sebagai masyarakat, sebab mempunyai ciriciri yang sama dengan yang dipuriyai oleh masyarakat. Namun kelompok mempunyai unsur-unsur tambahan, yakni organisasi dan pimpinan. Hubungan yang mendasari anggota kelompok adalah hubungan

kekeluargaan dan solidaritas yang tumbuh di dalam jiwa masing-masing anggota kelompok adalah solidaritas mekanik; organisasi berdasarkan adat, pemimpin

berlandaskan kewibawaan dan kharisma Berta hubungan yang berazas perorangan. Kesatuan hidup manusia yang berbeda dengan kelompok adalah perkumpulan (association). Perkumpulan dibentuk dengan sengaja dan dengan suatu tujuan tertentu yang akan dicapai. Dalam perkumpulan Urnpulan 4,5 Dengan demikian, maka sesungguhnya setiap individu menyandang lebih dari satu status. Sebagai contoh, seseorang mempunyai status sebagai suami, sebagai ayah, sebagai kepala rumah tangga, sebagai dosen, sebagai direktur perusahaan, dan sebagainya. Seseorang yang mempunyai status yang demikian itu, akan berperilaku sesuai dengan muatan hak-hak dan ke%,vajiban yang terkandung pada masing-masing status yang disandangnya; dan bahwa muatan hak dan kewajiban yang terkandung pada masingmasing status tersebut mengacu pada sistem norma dan aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakat. Lebih lanjut, Harsojo (1977:130) mengemukakan bahwa peranan merupakan aspek dinamis dari status. Dengan demikian peranan seseorang merupakan seluruh jumlah peranan yang dia lakukan sebagai suatu kebulatan antara hak dan kewajiban sesuai dengan nilai-nilai yang dikenakan kepada siapa saja yang menduduki status itu. 5.4 STRUKTUR SOSIAL Struktur sosial (social structure) merupakan salah satu konsep yang utama dalam antropologi. Konsep struktur sosial pertama kali dikembangkan oleh A.R. Redcliffe Brown (tokoh antropologi sosial dari Tnggris). Menurutnya struktur sosial adalah perumusan dari keseluruhan hubungan atau jaringan antarindividu dalam masyarakat. Hal yang dilihat dalam struktur sosial adalah tak lain dari prinsip-prinsip kaitan antara berbagai unsur masyarakat, seperti status, peranan, pranata, dan lembaga sosial. Lebih lanjut dikatakan bahwa hubungan interaksi antarindividu dalam masyarakat merupakan hal yang konkrit, sedangkan struktur sosial berada di belakang dan mengendalikan hal yang konkrit itu. Dalam pada itu, maka struktur sosial tidak dapat diamati.

Contoh mengenai struktur sosial adalah dLia orang individu yang berhubungan, yakni A dan C. A senantiasa bersikap menghormat terhadap C, dimana C merupakan orang tua anggota dari isteri A. Kelakuan sosial seperti itu dikendalikan oleh struktur sosial, dimana pihak penerima gadis harus bersikap menghormat terhadap kelompok kerabat pemberi gadis. Contoh di atas, bilamaria diamati secara lebih Was dan mendalam, akan ditemLikan kualitas hubungan seperti: A seb--gal seorang suami akan bersikap sungkam dan formal terhadap C (mertuanya), sebaliknya bersikap santai terhadap B (isterinya). Demikian juga B senantiasa bersikap sungkam dan formal terhadap D (mertuanya). Dalam hubungarihubungan yang digambarkan itu, terdapat dua bentuk kualitas hubungan, yakni hubungan yang bersifat formal dan tegang dan hubungan yang bersifat santai dan akrab. Hubungan-hubungan nyata seperti yang digambarkan di atas dikendalikan oleh struktur sosialnya. struktur sosial yang tak tampak itu berlangsung terns dan tidak mullah berubah, sekalipun individuindividu dengan kelaktian-kelakuannya yang tact pada struktur sosial silih berganti dari generasi ke generasi berikutnya. RANGKUMAN Konsep masyarakat mengacu pada kesatuan hidup manusia yang mempunyai ciri-ciri seperti: terdapat interaksi antara warganya; terdapat adat istiadat, norma-norma dan hukum atau aturan-aturan khas yang mengatur pola tingkah lake di antara anggotanya; terdapat kontinuitas dalam waktu; dan terdapat rasa identitas bersama yang mengikat warganya. Konsep mengenai kesatuan sosial yang mempunyai ciri-ciri sama dengan masyarakat adalah komunitas. Hanya saja, dalam komunitas terdapat unsur tambahan yang sangat menentukan, yakni lokasi atau wilayah, rasa identitas dan loyalitas terhadap komunitas sendiri. Terbina hubungan yang kontekstual, juga dalam perkumpulan

tumbuh jiwa solidaritas organik. Pimpinan'berdasarkan wewenang dan hukum serta dalam hubungannya dengan par-d anggota bawahan bersifat azas guna. Perkumpulan ini juga

tidak dapat disebutkan sebagai masyarakat. Suatu kesatuan hidup manusia yang disebut masyarakat mempunyai unsurunsur, seperti pranata, lembaga, status, dan peranan. Pranata adalah sistem norma atau aturan-aturan yang mengenai suatu kegiatan tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhankebutuhan khusus. Sedangkan lembaga adalah wahana yang mendinamisasikan kegiatankegiatan dalam pranata. Status atau kedudukan merupakan kumpulan dari hak-hak dan kewajiban. Kumpulan hak-hak dan kewajiban tersebut ditentukan dan diatur oleh norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Pelaksanaan hak dan kewajiban disebutkan sebagai peranan. Dalam kata lain, seperti adalah aspek dinamis dari status. Prinsip-prinsip hubungan yang mengkaitkan keseluruhan unsurunsur yang terdapat dalam masyarakat sebagaimana yang diuraikan di atas disebutkan oleh A.R. Redcliffe Brown sebagai struktur sosial. 5.6 DAFTAR BACAAN Beals, Ralph L. Et.al. 1977 An Introduction to Anthropology. New York: Macmillan Pub., Co., Inc., pp., 1-21. Brown, A.R. Radcliffe k 1940 fengenal Struktur Sosial (diterjemahkan oleh Koentjaraningrat dari Journal of the Royal Anthropological Institute). Harsojo 1977 Pengantar Antropologl. Bandung: Binacipta, hal., 1-70. Koentjaraningrat 1980 Pengantar 11mu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru. Hal., 17-36. 5.7 TUGAS LATIHAN 1. Uraikan perbedaan antara konsep masyarakat, komunitas, kategori sosial, golongan sosial, kelompok, dan perkumpulan.
2. Uraikan maksud dari konsep solidaritas mekanik. dan solidaritas organik. 3. Uraikan pengertian pranata, lembaga, status, peranan,
,

dan struktur sosial.

BAHASAN 6 KEBUDAYAAN
6.1 SASARAN BELMAR 1. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi dan pengertian kebudayaan.
2. Mahasiswa mampu menjelaskan secara analitis unsur-unsur kebudayaan. 3. Mahasiswa mampu menjelaskan tiga aspek mendasar dari pengalaman

manusia.
4. Mahasiswa mampu menjelaskan hubungan antara kebudayaan dengan perilaku.

6.2 DEFINISI DAN PENGERTIAN KEBUDAYAAN Telah banyak sarjana yang mencoba menjelaskan atau mendefinisikan kebudayaan, namun karena menggunakan perspektif yang berbeda-beda, maka definisi kebudayaan pun beragam. Keragaman itu, tampak dari adanya sekitar 160 buah pengertian dan definisi kebudayaan yang telah dikumpulkan oleh dua orang sarjana antropologi, yakni A.L. Kroeber dan C. Kluckhon. Definisi dan pengertian kebudayaan yang beragam itu, dikelompokkan oleh Spradley (1972) ke dalam lima tipe definisi, yakni:
1 . Definisi kelas sosial (social class definition), yaitu memandang kebudayaan sebagai

kebiasaan-kebiasaan yang beradab dan kesopanan dari kelas atas.


2.

Definisi hakekat manusia (human -nature definition), yaitu digunakan untuk membedakan perilaku manusia dengan perilaku binatang. Manusia mempunyai kebudayaan sedangkan binatang lainnya tidak. Maksudnya, baliwa kebudayaan manusia (human culture) merupakan suatu gagasan abstrak berkenaan dengan perilaku yang ditransmisikan secara sosial yang jauh lebih kompleks daripada perilaku primal lainnya.

3)

Defenisi kelompok manusia (human-group definition), yaitu penggunaan konsep kebudayaan sebagai sinonim dengan masyarakat atau komunitas. Dengan definisi itu memungkinkan untuk mengunjungi kebudayaan Hawai atau menjadi anggota kebudayaan Asmat. Konsep area kebudayaan yang pernah dikembangkan oleh ahli

Antropologi sangat terkait dengan ide itu.


4)

Defenisi artefak (artifak definition), yaitu menggunakan konsep kebudayaan dengan mengacu kepada hasil-hasil yang manusia ciptakan, seperti peralatan-peralatan, lukisan, perumahan, jarum suntik, candi, bom hidrogen, dan lain-lain.

5)

Defenisi omnibus (omnibus definition), yaitu melihat kebudayaan sebagai segala sesuatu meliputi perasaan-perasaan, pikiran, pengetahuan, kepercayaan, pranatapranata, perilaku dan karya seni. Defenisi yang teimasuk ke dalam kategori ini adalah yang dikemukakan oleh E.B. Tylor, Ralph Linton, dan Koentjaraningrat. Kebudayaan menurut E.B Tylor adalah keseluruhan yang kompleks, yang di

dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, litikum, adat istiadat, dan kemampuan lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Linton kebudayaan adalah keseluruhan dari pengetahuan, sikap, dan perilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan diwariskan oleh anggota suatu masyarakat. Rumusan kebudayaan menurut Koentjaraningrat adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia yang diperoleh dengan belajar. Tiga rumusan kebudayaan diuraikan terakhir di atas, ditolak oleh beberapa ahli antropologi, sebab terlalu lugs dan sangat tumpul untuk menggambarkan unsur-unsur pokok perilaku manusia. Karena itu, rumusan kebudayaan seperti itu, tidak lagi digunakan sebagai peralatan konseptual utama, dan kini semakin dipertajam dan dipersempit instrumennya agar dapat lebih operasional dalam menggambarkan unsur-unsur pokok perilaku manusia. Dalam pada itu, maka muncul dua rumusan kebudayaan yang dewasa ini sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan antropologi. Rumusan yang dimaksud adalah defenisi perilaku (behavior definition) dan defenisi kognitif (cognitive definition). Hal ini menjadi menarik, sebab berkaitan erat dengan pendekatan teoritis utama dalam antropologi. Defenisi perilaku tentang kebudayaan memfokuskan pada polapola perilaku yang dapat di observasi dalam beberapa kelompok sosial. Bagi pendekatan ini, konsep kebudayaan muncul dari pola perilaku yang berkaitan dengan adat istiadat atau cara hidup

dari kelompok orangorang tertentu (Hai-is dalam Spradley, 1972). Berbeda halnya dengan defenisi kognitif yang mengabaikan perilaku dan membatasi konsep kebudayaan hanya pada ide-ide, kepercayaan-kepercayaan, dan pengetahuan (Spradley, 1972). Rumusan kebudayaan seperti itu disebut juga ideasionalisme (Keesing, 1986). Rumusan kebudayaan yang termasuk dalam kategori ideasionalisme mempunyai penekanan yang bervarlasi di antara ahli antroplogi. Empat diantaranya akan diuraikan di bawah ini. 1) Rumusan kebudayaan yang dikemukakan oleh GoodenOLIgh, yang melihat kebudayaan sebagai suatu sistem kognitif -- suatu sistem yamg terdiri atas pengetahuan, kepercayaan, dan nilai -- yang tersusun dalam pikiran anggota masyarakat (Goodenough dalam Kalangie, 1994). Dengan demikin, kebudayaan merupakan perlengkapan mental yang oleh pendukung kebudayaan itu digunakan dalam proses-proses orientasi,

pertemuan, perumusan gagasan, penggolongan, dan penafsiran perilaku sosial nyata dalam masyaraliatnya. Dalam kata lain, kebudayaan berfungsi sebagai kerangka acuan bag! individu-individu dalam menghadap! lingkurigannya (lingkungan alam dan sosial).
2)

Rumusan kebudayaan yang dikemukakan oleh sathe yang melihat kebudayaan sebagal terdiri atas gagasan-gagasan dan asumsi-asumsi yang dipunyai oleh suatu masyarakat yang menentukan atau mempengaruhi komunikasi, pembenaran, dan perilaku anggotaanggotanya (Sathe dalam Kalangie, 1994).

3)

Rumusan kebudayaan yang dikemukakan oleh Clifford Geertz yang melihat kebudayaan sebagai suatu sitem simbolik. Dalam hal itu, kebudayaan merupakan sistem semiotik yang mengandung simbolsimbol yang berfungsi mengkomunikasikan maknanya dari pikiran seseorang ke pikiran orang lain. Simbol dan makna tersebut tidak berada dalam pikiran-pikiran individu-individu (superoi-gan1c) itu. Dengan demikian, rumusan itu berbeda dengan yang dikemukakan oleh Goodenough yang melihat kebudayaan berada dalam pikiran individu-individu.

4)

Rumusan kebudayaan yang dikemukakan oleh Parsud! Suparlan yang melihat kebudayaan sebagal pedoman menyeluruh atau bluefrint bag! kehidupan dari sebuah

masyarakat

yang

digunakan

oleh

para

vvarganya

untuk

memaham!

dan

menginterpretasikan lingkungan hidupnya, dan mendorong tindak-an-tindakan dalam upaya memanfaatkan sumber-sumber daya yang ada dalam lingkungan hidup
5)

tersebut untuk pemenuhan kebutuhan-kebutuhan mereka. Terlepas dari perbedaan rumusan kebudayaan yang termasuk dalam aliran ideasional, namun rumusan itu selain dapat digunakan untuk menelaah tipe-tipe masyarakat suku bangsa dan komunitas alamiah

6) 7)

(pedesaan)

seperti yang umum menjadi sasaran pepeliflan dalam

antropologi juga dapat digunakan untuk menelaah sistem-sistem organisasi formal, seperti inst-itusi-Institusi pelayanan kesehatan rumah sakit, puskesmas, posyandu, dan organisasi-organisasi bisnis swasta dengan kebudayaan korporatnya (lihat Kalangie, 1994:2).

8)

Sungguhpun defenisi kebudayaan yang termasuk dalam aliran ideasional tidak memasukkan perilaku sebagai kebudayaan, namun perilaku senantiasa ditanggapi sebagai konsekwensi logis atau menunggal tak terpisahkan dari kebudayaan. Dengan demikin, membicarakan mengenai sistem budaya tertentu senantiasa terkalt dengan perilaku aktor-aktor dalam sistem social tertentu. Salinghubungan itulah yang kemudian dikenal sebagai sistem soslobudaya (Keesing, 1989).

9)

Demikianlah, maka perilaku seseorang dipahami sebagai tidak terpisahkan dari pengetahuan, kepercayaan, nilai dan norma dalam lingkungan sosialnya.

1 0 ) Dengan demikian, pada saat kita meneliti dan menelaah pranatapranata kebudayaan

tertentu,

seperti

pranata

kesehatan

misalnya,

maka

aspek

pengetahuan,

kepercayaan, kelakuan, bahan dan peralatan yang digunakan orang berkenaan dengan perawatan. diri (self treatment), kebersihan diri (Self hygiene),

penanggulangan dan penyembuhan penyakit harus diperhatikan secara bersamasama. Seining dengan itu, dikatakan oleh Spradley (1980), bagi yang akan meneliti atau menelaah suatu kebudayaan tertentu, maka tiga aspek mendasar dari pengalaman malILIsia yang harus diperhatikan, yakni apa yang orang ketahui, apa yang orang lakukan, dan apa yang orang beat dan gunakan.

6.3 SIFAT DAN UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN Kebudayaan yang dipunyai oleh uincit manusia mempuriyai sifatsifat tertentu, yakni: 1. Bahwa kebudayaan itu merupakan milik yang dipahami dan dibagi bersama (shared) oleh sebagian terbesar anggota masyarakat pendukung kebudayaan itu.
2) Bahwa kebudayaan itu diperoleh dan diteruskan secara sosial melalui proses belajar. 3) Bahwa kebudayaan umat manusia di muka bumi ini sangat bervariasi. 4) Baliv.-a nilai dalam kebudayaan itu relatif. 5) Bahwa kebudayaan itu dinamis.

ad.l. Kebudayaan dipahami dan dibagi bersama oleh anggota masyarakat. Pengetahuan, kepercayaan, dan nilai berkenaan dengan sesuatu obyek dan peristiwa-peristivva tertentu manakala dipahami dan dibagi bersama oleh sebaliaglan besar anggota masyarakat atau komunitas, maka hal itu disebutkan sebagai kebudayaan. ad.2. Kebudayaan diperoleh dan diteruskan secara sosial Melalui proses belajar. Kebudayaan yang dipunyai oleh manusia tidak diturunkan secara genetis tetapi diperoleh dan d1warlskan secara sosial dengan melalui proses belajar. ad.3 Kebudayaan Ru sangat bervariasi Latar belakang tumbuhnya antropologi sebagai suatu bidang ilmu sosial ditandai oleh adanya kenyataan bahwa kebudayaan umat manusia yang hidup di muka bumi ini berlain-lainan. Variasi kebudayaan itu tidak hanya tampak dalam kesatuari-kesatuan sosial berupa masyarakat suku bangsa atau komunitas, seperti pedesaaan, tetapi juga tampak pada orga-riisasi-organisasi sosial tertentu.
ad.4.

Nilai dalam kebudayaan itu relatif Salah satu sifat dari kebudayaan adalah bahwa nilai-rillal yang terkandung di

dalanya bersifat relatif. sesuatu yang dinilai balk dalam satu kebudayaan tertentu, belum tentu dinilai demi`kian dalam kebudayaan-kebudayaan lainnya. Demikian pula sesuatu hal yang dipandang sangat tercela dalam suatu kebudayaan tertentu boleh jadi dalam kebudayaan lain justeru sangat terpuji. Sebagai contoh, seorang anak dengan sikap menatap wajah, tegas, dan kritis pada saat menyampaikan sesuatu dan menerima

sesuatu hal kepada orang tuanya merupakan perilaku yang tercela menurut penilaian kebudayaan tertentu di luar Eropa, tetapi bagi masyarakat di Eropa Barat sikap seperti itu justeru dinilai terpuji.
ad.5.

Kebudayaaan itu dinamis Setiap kebudayaan, cepat atau lambat, akan mengalaml perubahan atau berada

dalam proses perubahan. Makin mendalam kontak-kontak kebudayaan atau komunikasi gagasan baru dari luar ke suatu kebudayaan tertentu semakin pesat pula proses perubahan kebudayaan yang berlangsung pada kebudayaan tersebut. Kecuali itu, temuan-temuan baru yang muncul di dalam kesatuan budaya tertentu dapat menyebabkan terjadinya perubahan kebudayaan. Selanjutnya, setiap kebudayaan mempunyai unsur-unsur tertentu. Menurut Koentjaraningrat (1980) terdapat 7 unsur kebudayaan yang dapat ditemukan pada semua bangsa di dunia. Ketujuh unsur kebudayaan yang sifatnya universal itu adalah meliputi:
1) 2) 3) 4) 5) 6) 7)

Bahasa Sistem pengetahuan Organisasi sosial Sistem peralatan hidup dan teknologi Sistem mata pencahaijan hidup Sistem religi, dan Kesenian. Kognis! dalam uraian ini dipahanii/diartikan suatu yang unsurunsurnya terdiri atas

6.4 KOGNTSI, SIKAP, DAN PERILAKU

pengetahuan, kepercayaan dan nilai yang dipunyai dan dibagi bersama (shared) oleh anggota-anggota kesatuan sosial tertentu yang dijadikan sebagal pedoman dalam menginterpretasikan lingkungan yang dihadapi dan menghasilkan tindakan. Dengan demikian, kognisi yang dimaksud adalah sama dengan kebudayaan. Unsur-unsur kognisi tersebut merupakan. himpunan pengalaman yang diperoleh individu atau kelompok dalam berinteraksi dengan. lingkungannya. Dalam kata lain, pengetahuan, kepercayaan, dan nilai merupakan himpunan pengalaman yang tersusun

dalam peta-peta kognisi sebagai konsekwens! dari masukan-masukan yang individu dan kelompok dapatkan dari lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Sunguhpun pengetahuan, kepercayaan dan nilai seluruhnya tersimpan atau tersusun dalam peta-peta kognisi, namun masing-masing mempunyal wilayah penjelasan tersendiri. Secara sederhana. pengetahuan (knowledge) dapat diartikan sebagai ketahuan atau kesadaran seseorang -berkenaan dengan sesuatu objek atau peristliva tertentu; dan bahwa ketahuannya itu dapat d1jelaskan dan bahkan dapat dibuktikannya secara empiris; sedangkan kepercayaan (belief) adalah bagian dari stuktur kognitif seseorang berkenaan dengan sesuatu objek atau peristiwa yang diyakini yang seringkali tidak mampu dijelaskan dan dibuktikannya secara empiris. pengetahuan dan kepercayaan itulah kemudian yang menjadi dasar bag! seseorang untuk menilai baik atau but-uk; benar atau salah; tercela atau terhoimat. Dengan demikian Willa! 56 (value) merupakan bagian dari struktur kognitif seseorang yang menentukan baik atau buruk, benar atau salah; terhormat atau tercela. Dalam pada itu, maka unsur kognitif tersebut dapat dilacak dengan melalui bentuk pertanyaan; apa yang orang ketahui atau sadari tentang suatu objek atau peristiwa tertentu; apa yang orang yakini berkenaan suatu objek atau peristiwa tertentu; flan apa penilaian orang berkenaan dengan suatu objek atau peristiwa tertentu. Akan tetapi, manakala seseorang mendapatkan suatu gagasan baru, dan gagasan itu telah diketahui, dipercayai, dan dinilai: positif, namun tidak selalu langsung d1wujudkan dalam bentuk tindakan nyata. Hal in! terjadi, sebab antara kognisi dan perilaku di tengahi oleh sikap (attitude) setiap individu. sebagai contoh, seseorang ibu hamil yang menerima atau mengdapatkan penyuluhan yang berkenaan dengan manfaat gizi dan bagi diri dan kandungannya; dan bahwa makna dari penyuluhan itu telah diketahui, diyakini dan dinilai positif, namun ibu itu tidak langsung mewujudkannya dengan segera, menunda atau sama sekall tidak melakukannya. Dalam situasi pengambilan keputusan tersebut si ibu dipengaruhi oleh kondisi motivasi dan emosionalnya, risiko yang kemungkinan dialami bila dilakukan atau tidak dilakukan dan alasanalasan lainnya.

Alasan-alasan yang mempengaruhi pengambilan keputusan itulah yang disebutkan sebagal sikap. Berkaitan dengan itu, boleh jadi dalam struktur kognisi seseorang berkenaan dengan suatu gagasan baru positif, tetapi sikap negatif, maka akibatnya tidak diwujudkan dalam tindakan. Dalam pada itu, maka seyogianya antara kognisi dan sikap berkenaan dengan gagasan baru harus seiring agar kemudian terwujud dalam perilaku. Berdasar dari uraian di atas, maka tindakan atau perilaku dapat diartikan sebagai perwujudan dari pengetahtian, kepercayaan, nilai, dan sikap seseorang. MAN Japat banyak defenisi yang berkenaan dengan kebudayaan, ig kini banyak digandrungi oleh ahli Antropologi adalah ang mengacu pada perilaku dan kognisi. Defenis! perilaku kebudayaan sebagal pola-pola kebudayaan yang dapat dan konsep in! berkaitan erat dengan adat istiadat, atau dari kelompok orang-orang tertentu. Sedangkan defenisi embatasi kebudayaan hanya pada pengetahuan, kepercayaan ang menjadi pedoman bagi perilaku. Dengan demikian, kebulihat berada pada tatanan ideasional yang t1dak dapat

kipun kebudayaan yang termasuk dalam tatanan ideasional .n atau tidak menganggap perilaku sebagai kebudayaan, namun rlihat tidak terpisah dari, atau sebagai konsekwensi logis dari i. keterkaitan antara kebudayaan dan perilaku itulah yang lisebut sebagai sistem soslobudaya. udayaan mempunyai sifat-sifat tertentu diantaranya: (1) milik .hami dan dibagi bersama oleh sebagian besar anggota (H) diperoleh dan diteruskan secara sosial melalui proses i) kebudayaan yang ada di muka bum! ini bervariasi; (iv) nilai idayaan relatif; dan (v) kebudayaan itu dinamis. iin itu, dalam setiap kebudayan sekurang-kurangnya dapat unsur-unsur lain : (i) bahasa; (H) sistem pengetahuan; (Iii) sosial; (iv) sistem peralatan hidup dan teknologi; (v) sistem -aharian hidup; (vi) sistem religi dan kepercayaan, dan (vii) igetahuan, kepercayaan, dan nilai merupakan konstruk yang inelalul pengalaman yang diperoleh dan tersusun dalam peta seor-ang. Ketiga unsur kognitif itu, dapat dilacak

perbedaannya
3 . Uraikan varian rumusan kebudayaan yang termasuk kategori kognitivistik. 4 . Uraikan sifat dan unsur-unsur kebudayaan. 5 . Uraikan hubungan antara kebudayaan dan perilaku. 6 . 58 7 . melalui bentuk pernyataan, seperti; apa yang orang ketahui, apa yang orang percayai,

dan apa penilaian orang berkenaan dengan sesuatu objek atau peristiwa tertentu. Jika pengetahuan, kepercayaan, dan nilai itu dipuriyai dan dibagi bersama oleh sebagian besar anggota masyarakat, maka dapat disebut sebagai pengetahuan budaya, kepercayaan budaya, dan nilai budaya. DAFTAR BACAAN Kalangie, Nico S. 1994 7(ebudayaan dan Kesehatan: Pengembangan Pelayanan Kesehatan Primer melalui Pendekatan Sosiobudaya. Jakarta: Megapoin Keesing, Roger M. 1966 Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Kontemporer. Jakarta Erlangga. Koentjaraningrat 1980 Pengantar 11mu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta. Spradley, James P. 1972 Culture and Cognition: Rules, Maps, and Plans. USA: Chandler Pub. Com. 58 8 . melalui bentuk pernyataan, seperti; apa yang orang ketahui, apa yang orang percayai, dan apa penilaian orang berkenaan dengan sesuatu objek atau peristiwa tertentu. Jika pengetahuan, kepercayaan, dan nilai itu dipuriyai dan dibagi bersama oleh sebagian besar anggota masyarakat, maka dapat disebut sebagai pengetahuan budaya, kepercayaan budaya, dan nilai budaya.
9 . 6.7 DAFTAR BACAAN 10. 11.

Kalangie, Nico S. 1994 7(ebudayaan dan Kesehatan: Pengembangan Pelayanan Kesehatan Primer melalui Pendekatan Sosiobudaya. Jakarta: Megapoin 12. Keesing, Roger M. 13. 1966 Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Kontemporer. Jakarta Erlangga. 14. Koentjaraningrat 15. 1980 Pengantar 11mu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta. 16. Spradley, James P. 17. 1972 Culture and Cognition: Rules, Maps, and Plans. USA: Chandler Pub. Com. 18. 58

19.

melalui bentuk pernyataan, seperti; apa yang orang ketahui, apa yang orang

percayai, dan apa penilaian orang berkenaan dengan sesuatu objek atau peristiwa tertentu. Jika pengetahuan, kepercayaan, dan nilai itu dipuriyai dan dibagi bersama oleh sebagian besar anggota masyarakat, maka dapat disebut sebagai pengetahuan budaya, kepercayaan budaya, dan nilai budaya.
20.

6.7 DAFTAR BACAAN 21. Kalangie, Nico S. 22. 1994 7(ebudayaan dan Kesehatan: Pengembangan Pelayanan Kesehatan Primer melalui Pendekatan Sosiobudaya. Jakarta: Megapoin 23. Keesing, Roger M. 24. 1966 Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Kontemporer. Jakarta Erlangga. 25. Koentjaraningrat 26. 1980 Pengantar 11mu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta. 27. Spradley, James P. 28. 1972 Culture and Cognition: Rules, Maps, and Plans. USA: Chandler Pub. Com.
29. 30. 31.

58 melalui bentuk pernyataan, seperti; apa yang orang ketahui, apa yang orang

percayai, dan apa penilaian orang berkenaan dengan sesuatu objek atau peristiwa tertentu. Jika pengetahuan, kepercayaan, dan nilai itu dipuriyai dan dibagi bersama oleh sebagian besar anggota masyarakat, maka dapat disebut sebagai pengetahuan budaya, kepercayaan budaya, dan nilai budaya.
32.

6.7 DAFTAR BACAAN 33. Kalangie, Nico S. 34. 1994 7(ebudayaan dan Kesehatan: Pengembangan Pelayanan Kesehatan Primer melalui Pendekatan Sosiobudaya. Jakarta: Megapoin 35. Keesing, Roger M. 36. 1966 Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Kontemporer. Jakarta Erlangga. 37. Koentjaraningrat 38. 1980 Pengantar 11mu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta. 39. Spradley, James P. 40. 1972 Culture and Cognition: Rules, Maps, and Plans. USA: Chandler Pub. Com. 6.8 TUGAS LATIHAN 1 . Uraikan tipe-tipe rumusan kebudayaan yang dikemukakan oleh James P. Spradley.
2 . Uraikan perbedaan rumusan kebudayaan yang berorientasi behabioristik dan

kognitivistik.

BAHASAN 7 KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN 7.1 SASARAN BELAJAR 1 . Mahasiswa dapat kepribadian.
2.

menjelaskan

hubungan

antara

kebudayaan

dengan

Mahasiswa dapat menjelaskan konsep-konsep kepribadian menurut konsep antropologi psikologi.

3.

Mahasiswa dapat menjelaskan keragaman kepribadian.

7.2 HUBUNGAN ANTARA KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN Dalam disiplin antropologi terdapat satu bidang spesialisasi yang kajiannya berfokus pada hubungan antara kebudayaan dan kepribadian. Bidang spesialisasi itu dinamakan Antropologi PsIkologi. Bidang ini dikembangkan oleh pakar antropologi Amerika diantaranya: Margaret Mead, Ruth F. Benedict, dan Ralph Linton pada dasawarsa 1930-an dan 1940-an. Hal yang menjadi pendorong bagi mtinculnya penelitian 'Kebudayaan dan Kepribadian' adalah karena selama perang dunia ke-2 sangat dibutulikan data mengenai "Watak Nasional" dari sekutu dan musuh. Asumsi yang mendasari penelitian kebudayaan dan kepribadian sepanjang dasawarsa 1930-an dan 1940-an adalah bahwa tingkah laku ditentukan terutama oleh budaya. Seorang bocah yang dibesarkan dalam satu lingkungan sosial tertentu dibentuk oleh pengalaman budaya yang diterimanya. Seberapa sering dan dalam situasi yang bagaimana seorang anak disuapi dan dimandikan, bagaimana dia dipegangi, bagaimana dan kapan dia diajari berdisiplin, bagaimana dan kapan disapih dan diajari menggunakan kamar kecil tergantung pada lingkungan budayanya. Pola-pola pengalaman masa kecil umumnya menimbulkan orientasi kepribadian yang khusus; dan dalam mempelajari budaya seorang anak belajar mengartikan motif-motif dan nilai-nilai Berta pandangan dunia (world view) yang khas. Kepribadian menurut pandangan ini merupakan suatu internalisasi budaya.

Demikian asumsi tersebut, melahirkan beberapa teori dan konsep berkenaan dengan hubungan antara kebudayaan dan kepribadian. 7.3. TEORI DAN KONSEP YANG BERKENAAN DENGAN HUBUNGAN KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN Teori dan konsep berkenaan dengan hubungan kebudayaan dan kepribadian yang akan disajikan dalam uraian ini adalah teori pembawaan manusia (human-nature) dan kepribadian khas kolektif (typical personality). 7.3.1 Teori Pembawaan Manusia Teori Pembawaan manusia yang akan dibahas dalam uraian ini adalah teori seksualitas kanak-kanak yang dirumuskan oleh Sigmund Freud dan teori masa akil balig M. Mead. 7.3.1.1 Teori Seksualitas Kanak-Kanak Sigmund Freud Sigmund Freud merumuskan dua hipotesa dasar perihal teori psikoanalisa. Kedua hipotesa tersebut adalah seksualitas kanak-kanak dan Kompleks Oedipus (Oedipus Complex). Menurut Freud, manusia memiliki dua macam dorongan vital (vital drive), yakni dorongan untuk melindungi diri (the drive self preservation) dan dorongan untuk berkembang biak (the drive toward procreation). Dorongan yang disebutkan pertama tidak perlu dipersoalkan sebab dalam pemenuhannya tidak mendapatkan hambatan secara terusmenerus. Berbeda halnya dengan dorongan untuk berkembang biak scring d1hambat oleh keadaan social budaya. Dorongan untuk berkembang biak tersebut oleh Freud dinamakan libido atau tenaga seks (sexual energy). Oleh karena Freud menganggap bahwa dorongan atau naluri untuk melindungi dirl tidak sclalu mendapatkan hambatan, maka !a tidak mempersoalkannya, dan ia kemudian memfokuskan perhatiannya pada naluri yang kedua atau apa yang ia sebut sebagai libido (tenaga seks). Menurut Freud tenaga seks berpusat pada tiga daerah erotik di tubuh manusia, yaltu: mulut (oral), lubang dubur (anal), dan alat kelamin (genital). Lebih lanjut dikatakan

bahwa perhatian seorang anak terhadap ketiga daerah erotik tersebut terjad! secara bertahap, dengan urutan sebagai berikut: (i) tahap oral, (H) tahap anal, dan (iii) tahap genital. Tahap oral itu masih merupakan tahap pertama oleh karena bagi anak bagi sejak bare lahir, alat yang paling member! kenikmatan dalam hidupnya adalah mulutnya sendirl. Dengan mulutnya, ia dapat berhubungan dengan alat ketubuhan yang paling didambakannya. Apabila kebutuhan itu tidak dapat !a nikmati, maka ia akan mencari penggantinya dengan cara mengisap jempolnya. Tahap oral itu masih bersifat pasif hingga bay! itu berusia lima bulan: namun setelah anak itu berusia enam bulan, maka sifat itu berubah menjadi agresif. Sifat itu terjadi bersamaan dengan mulai tumbuhnya gigi pada mulut si anak. Face agresif ini oleh Karl Abraham disebutkan sebagal later oral phase (fase oral kemudian). Setelah itu, berkembang fase yang kedua, yakni tahap anal: dan tahap itu lambat laun mengambil alih peranan tahap oral. Tahap ini ditandai oleh kecenderungan secara agresif untuk membuang dan mempertahankan sesuatu. Bersamaan dengan itu, berkembang pula kemampuan si anak untuk mengendalikan gerakan otot di sekeliling duburnya. Tahap kedua ini berakhir setelah anak itu berumur sekitar satu tahun. Dengan berakhirnya tahap anal, song erotis si anak pun berlanjut ke tahap genital. Pusat perhatian erotik si anak, menurut Freud justeru bukan pada semua alat kelamin melainkan hanya pada alat kelamin pria (linggam). Setelah itu memasuki tahap laten (tidur) yang berlangsung sejak mulai si anak berusia lima tahun sampai sepuluh tahun. Laten yang dimaksud adalah perubahan libido hanya terjadi secara kualitatif dan tidak secara kuantitatif. Pada tahap akhir- ini si anak cenderung menjadi lebih tidak rapi dan pemberontak sebagai akibat dari adanya tekanan yang hebat terhadap dorongan seksnya yang telah berkembang itu. Semua itu akhirnya diganti oleh keakilbaligan yang disebabkan oleh berbagai perubahan kelenjar seksualnya yang menunjukan adanya kedewasaan dalam hal alat kelaminnya. Sungguhpun tahap-tahap perkembangan libido ditentukan oleh biologi, namun

harus diakui juga bahwa perkembangan itu dipengaruhi oleh reaksi tokoh-tokoh penting, cara-cara pengasuhan anak, sikap orang tua terhadap latihan buang air besar, dan larangan yang bersikap mengekang perkerkembangan libido seorang anak. Tahap genital dimulai sejak akhir tahun ketiga hidup seorang anak, yaitu pada waktu perhatiannya berpusat pada linggamnya sendiri, dan perhatian itu segera menimbulkan rasa birahi terhadap - ibunya sendiri dan dibarengi dengan timbulnya rasa camburu dan benci kepada ayahnya yang dirasakan sebagai saingan dalam mendapatkan rasa cinta ibuntya. Gejala ini disebut oleh Freud sebagai Odipus Kompleks. Berbeda halnya dengan anak wanita yang obyek perhatiannya tidak ditujukan kepada alat kelaminnya sendiri, tetapi pada alat kelamin laki-laki (linggam). Karena itu si anak wanita menjadi lebih dekat dengan ayahnya dan hal itu menyebabkan terjadi apa yang disebut Kompleks Elektra (Electra compleks) atau (Femme complex). Teori mengenal Odipus komplekss telah mendapat tanggapan oleh banyak sarjana antropologi. salah seorang d! antaranya adalah Bronislaw Mallnowski yang sengaja mengujinya di pulau Trobriand. Hasil pengujiannya itu menunjukkan bahwa di Trobriand tidak terdapat dalam kompleks Oedipus. keadaan itu terjadi, sebab di Trobriand ayah bukan tokoh kerabat yang berkewajiban mengasuh anak, sehingga !a tidak perlu dan tidak mempunyai peluang untuk bersikap otoriter terhadap anaknya; dan yang menjadi tokoh pengasuh si anak adalah saudara lakilaki ibunya. Karena itu, si anak tidak punya alasan untuk menjadikan ayah kandungnya sebagai penyaing cinta bundanya. Dalam pada itu, maka menurut Malinowski bahwa gejala Odipus Kompleks hanya mungkin ada dalam masyarakat dimana tokoh ayah bersifat otoriter dan keras serta mewajibkan disiplin yang ketat bag! anak-anaknya, terutama bagi anak laki-laki. 7.3.1.2 Teori Gejala Masalah Akil Balig Margaret Mead Ahli antropologi lainnya yang juga meneliti teori dan konsep mengenai pembawaan manusia adalah Margaret Mead, seorang murld F. Boas. Atas saran gurunya, ia melakukan penelitian lapangan di Kepulauan Samoa, yang terletak d! Polinesia. Ia menelit! seberapa jauh para remaja dalam kebudayaan Samoa, terutama wanita,

mengalami masalah ketegangan akil balig. Hal yang mendasari pelaksanaan penelitian itu adalah bahwa pada masyarakat Ero-Amerika, ada kecenderungan para remajanya untuk menentang kekuasaan dan otoritas pada umumnya. Pada mass itu kecenderungan semacam itu dianggap universal, dan M. Mead ingin melihat apakah kecenderungan semacam itu terdapat juga pada masyarakat di luar kebudayaan Ero-Amerika. Dar! hasil penelitiannya selama sembilan bulan ditiga desa di Samoa, Mead berkesimpulan bahwa para gadis Samoa tidak mengalami gejolak masa akil balig. Itu terjadi, sebab keluarga orang Samoa tidak bersipat keluarga inti, tetapi bersipat keluarga lugs. Akibatnya seorang anak tidak selalu hat-us berhubungan terus-menerus dengan kedua orang tuanya saja, tetapi juga mendapat kesempatan untuk berhubungan secara bebas dan emosional dengan anggota kerabatnya yang lain. Selain itu, pergaulan secara seksual antara para remaja dari lain jenis kelamin juga lebih bebas jika dibandingkan dengan para remaja Ero-Amerika pada tahun 1920-an. Karena tidak adanya pengekangan mengenai seks, maka gejala akil balig tidak terdapat pada remaja Samoa. 7.3.2 Teori Kepribadian Khas Kolektif Teori mengenai kepribadian khas kolektif tertentu telah banyak disajikan oleh sarjana, di antaranya adalah (1) teori pola kebudayaan oleh Ruth F. Benedict; (2) teori kepribadian status oleh Ralph Linton; (3) teorl kepribadian orang modern oleh Alex Inkeles; dan (4) teori kepribadian petan% desa oleh Robert Redfield ad.l. Teori Pola Kebudayaan Teori pola kebudayaan (pattern of culture) dapat disebut juga sebagai teori konfigurasi kebudayaan, teori mozaik kebudayaan, teori representasi kolektif, dan teori etos kebudayaan. Istilah pattern of culture adalah ciptaan Ruth F. Benedict, meskipun sebelumnya telah ada orang yang pernah menyinggungnya, namun beliaulah yang berhasil menarik perhatian kalangan cedikiawan dan orang awam mengenai teori itu melalui karyanya pattern of culture (1934). Inti dari teori pola kebudayaan Benedict adalah bahwa di dalam setiap kebudayaan terdapat aneka ragam tipe temperamen yang telah ditentukan oleh faktor ketubuhan (konstitusi) yang timbul berulangulang secara universal. Namun setiap kebudayaan hanya membolehkan sejumlah terbatas dari tipe temperamen tersebut

berkembang. Tentu saja tipe temperamen yang dimaksud adalah yang cocok dengan konfigurasi dominan. Umumnya orang-orang dalam setiap masyarakat akan berbuat sesuai dengan tipe dominan dari masyarakatnya; dan tipe itulah yang disebut kepribadian normal. Dalam pada itu, biasanya, terdapat juga sejumlah orang golongan minoritas yang tidak cukup berbakat menyesuaikan diri dengan tipe dominan. Colongan inilah yang disebutkan sebagai deviant atau abnormal. Kerangka teori tersebut kemudian diterapkan oleh Benedict dalam menelaah tiga suku bangsa di dunia, yakni orang Zuni di New Mexico, orang Kwakiutle di pantai Barat laut Amerika Utara, dan orang Dobu di Papua New Guinea. Orang Zuni di New Mexico yang bermata pencaharian sebagai petani mempunyai konfigurasi kebudayaan yang bertipekan appolonian, yang ditandai dengan sifat-sifat introversi, rapi, dapat menahan diri. Akibatnya kebudayaan mereka tidak banyak menunjukkan ketegangan-ketegangan. Selain itu, jiwa tolong menolong kuat sekali dan mereka patuh pada peraturan masyarakat serta mementingkan upacara-upacara keagamaan yang tenang tanpa histeris. Orang Kwakiutle yang bermata pencaharian sebagai nelayan mempunyai konfigurasi kebudayaan yang bersifat Dionysian yang ditandai dengan sifat-sifat ekstrovert, pemboros, suka bertindak ekstrim, gemar memamerkan kekayaan (potlatch), dan senang mempergunakan obat bins. Selain itu, pola kebudayaan orang Kwakiutle, juga digolonglan sebagai megalomanic paranoid. Suatu istilah psikiatri mengenai penyakit jiwa yang menganggap dirinya orang hebat (megalomania), dan di samping itu juga selalu curiga dirinya akan dicelakakan oleh orang (paranoid). Orang Dobu dari New Papua Guinea menurut Benedict mempunyai konfigurasi atau pola kebudayaan yang bertipekan schizophrenia dari jenis paranoid. Para pendukung kebudayaan bersifat penghianat, suka pada ilmu sihir, dan selalu curiga bahwa dirinya akan dicelakakan oleh orang lain.
ad.2. Teori Kepribadian Status Ralph Linton

Dapat dikatakan bahwa setiap orang mempunyai 16bih dari satu status, dan bahwa setiap status yang disandang itu membutuhkan seperangkat kepribadian tipikal agar sesuai dengan pecan yang harus dibawakan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Sebagai contoh, seseorang selain sebagai mahasiswa S2 (pascasarjana) yang telah menikah, juga sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi; dan dengan demikian sudah barang tentu akan mompunyal paling sedikit tiga kepribadian tipikal, yakni kepribadian tipikal mahasiswa, kepribadian tipikal sebagai kepala rumah tangga, dan kepribadian tipikal sebagai dosen, dan boleti jadi satu sama lain saling bertolak belakang. Seringkali beberapa kepribadian tipikal itu harus diperankan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, pagi sebagai mahasiswa, siang sebagai dosen, dan malam sebagai kepala rumah tangga. Tentu saja kepribadian tipikal tersebut berkaitan dengan status, dan karena itu Ralph Linton menyebutnya sebagai status personality (kepribadian status) (Linton dalam Danandjaja, 1988:49).
ad.3.

Teori Kepribadian Orang Modern Alex Inkeless Menurut Alex Inkeless ada dua jenis ciri khas orang modern, yakni ciri luar dan

ciri dalam. Ciri yang pertama menyangkut lingkungan, dan yang kedua mengenai sikap dan perasaan. Keadaan ciri luar yang dialami oleh orang modern adalah urbanisasi, pendidikan, politikisasi, komunikasi massa, dan industrialisasi. Sedangkan keadaan ciri dalam yang dipunyai oleh orang modern adalah:
1) Mempunyai kesediaan untuk mengalam! pengalaman barn dan terbuka bag!

pembaharuan dan perubahan.


2) Berpandangan lu s, tidak terpaku pada masalah yang ada di sekitarnya saja, tetapi
g

juga pada masalah negara dan dunia.


3) Tidak mementingkan masa lampau, melainkan masa kini dan masa yang akan datang;

selain itu juga menghargai waktu sehingga terikat padanya.


4) Suka bekerja dengan perencanaan dan organisasi yang ketat.
-

D) Yakin akan

kemampuan manusia untuk menguasai alam; tidak menyerahkan hidupnya kepada kemauan alam.
6 ) Yakin bahwa kehidupannya dapat diperhitungkan dan tidak ditentukan oleh nasib.

7 ) Bersedia menghargai martabat orang lain, terutama wanita dan anakanak. 8 ) Percaya pada ilmu pengetahuan dan teknologi 9)

Menganut prinsip bahwa ganjaran seharusnya diberikan sesuai dengan prestasi; dan bukan karena kedudukan yang diperoleh berdasarkan kelahlran atau keturunan. Mereka yang memiliki ciri sebaliknya dari yang dikemukakan itu digolongkan sebagai orang tradisonal (Inkeless dalam Danandjaja, 1988:60).

ad.4. Tipe Kepribadian Petani Desa Robert Redfield Redfield dalam menerangkan teorinya, ia membedakan masyarakat di dunia ini menjadi tiga macam, yakni masyarakat folk (folk society); masyarakat petani desa (peasant sociaty); dan masyarakat perkotaan (urban society). Masyarakat folk adalah masyarakat yang telah ada sebelum timbulnya kota. Istilah lain yang sinonim adalah tribal society, yang dahulu sering juga disebut sebagal masyarakat primitif atau masyarakat terpencil. Masyarakat folk sedikit sekall mendapat pengaruh dari peradaban besar di dunia seperti Ilan (Gina), Yunani, India, Islam, dan lainlain. Masyarakat perkotaan adalah masyarakat yang berkembang di daerah perkotaan. Kebudayaan masyarakat ini sudah sangat maju karena telah mendapatkan pengaruh dari bermacam-macam peradaban besar dunia, dan bahkan banyak yang telah terpengaruh oleh peradaban modern. Masyarakat petani desa adalah bentuk masyarakat folk dahulu yang telah mendapat kontak dengan masyarakat perkotaan, sehingga terpengaruh oleh kebudayaan modern. Walaupun pengarunya tidak mendalam atau hanya bersifat superfisial saja. Berbeda dengan masyarakat folk yang dapat hidup secara. otonom. Masyarakat petani desa tidak demikian, sebab !a sangat tergantung dari masyarakat perkotaan. Akibatnya kebudayaannya pun tidak bersifat otomon, itulah sebabnya Redfield mengatakan masyarakat petani desa bersifat setengah masyarakat dan setengah kebudayaan. Dengan demikian masyarakat petani desa tidak ada sebelum terbentuknya kota. Hubungan masyarakat petani desa dengan masyarakat perkotaan adalah hubungan

simbiosis. Masyarakat petani desa memperoleh benda-benda industri yang canggih, pendidikan modern, perlindungan keamanan, dan lain-lain dari masyarakat perkotaan; dan sebaliknya masyarakat perkotaan menerima hasil produksi pertanian dan peternakan, tenaga kerja, dan lain-lain dari masyarakat petani desa. Tipe kepribadian yang dipunyai oleh masyarakat petani desa, menurut Redfield meliputi:
1 . Sikap yang praktis dan mencari yang berfaedah terhadap alam. Motifikasinya dalam

bekerja tidak saja untuk menghasilkan sesuatu bagi hidupnya, tetapi juga untuk memenuhi perintah dewa.
2 . Mereka lebih menonjolkan perasaan dibandingkan dengan rasio. 3. Mereka sangat mengutamakan pada kesejahteraan hidup dan kepastian hidup. 4. Mereka sangat menghargai prokreasi, yakni urituk mempunyai keturunan yang

banyak.
5. Mereka mendambakan kekayaan. 6. Menghubungkan keadilan sosial dengan pekerjaan.

7.4 PROSES PEMBENTUKAN DAN PENYESUAIAN KEPRIBADIAN INDIVIDU DENGAN MASYARAKAT Sebagaimana telah disebutkan oleh Ruth F. Benedict bahwa setiap individu dalam masyarakat mempunyai potensi untuk mempunyai tipe kepribadian yang beragam sebagai akibat dari faktor genetik dan faktor konstitusi; namun hanya sejumlah terbatas yang diperbolehkan untuk berkembang dalam setiap kebudayaan. Tipe-tipe kepribadian yang dibolehkan itu adalah yang sesuai dengan konfigurasi dominan. Penyesuaian terhadap konfigurasi dominan itu dimungkinkan terjadi sebab, menurut Benedict temperamen seseorang cukup plastis untuk dibentuk oleh tenaga pencetak dari masyarakat. Adapun tenaga pencetak atau proses-proses pembentukan dan penyesuaian kepribadian individu di dalam masyarakat dan kebudayaan meliputi: 1. Proses internallsasi, yaitu proses panjang sejak seorang individu dilahirkan sampai is hampir meninggal, dimana is belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala perasaan, hasrat, nafsu, dan emosi yang diperlukannya sepanjang hidupnya. Manusia

mempunyai potensi yang terkandung dalam genenya untuk mengembangkan berbagai macam perasaan, hasrat, nafsu, dan emosi dalam kepribadiannya, tetapi dipengaruhi oleh berbagai macam stimulus yang berada di lingkungannya, balk lingkungan alam maupun lingkungan sosial dan budaya. 2. Proses Sosialisasi yaitu proses dimana seorang individu dari masa kanak-kanak

hingga masa tuanya pola-pola tindakan dalam intraksi dengan segala macam status dan menjalankan peran-peran sosial dalam kehidupan sehari-hari. 3. Proses enkulturasi, yaitu proses dimana seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat istiadat, sistem norma, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. 7.5 RANGKUMAN Pengkajian tentang kebudayaan dan kepribadian menarik perhatian di kalangan antropologi Amerika diantaranya Marget Mead, Ruth F. Benedict, dan Ralph Linton, pada sepanjang dasawarsa 1930-an dan 1940-an. Hal ini disebabkan karena pada fase itu, berlangsung perang dunia II sangat dibutuhkan data atau informasi mengenai watak nasional dari sekutu dan musuh. Asumsi yang mendasari penelitian budaya dan kepribadian sepanjang dasawarsa 1930-an dan 1940-an adalah bahwa tingkah laku orang dewasa ini ditentukan terutama oleh budaya. Asumsi ini kemudian melahirkan beberapa teori dan konsep berkenaan hubungan antara kebudayaan dan kepribadian. Teori yang dimaksud diantaranya adalah teori pembawaan manusia dan teori kepribadian khas kolektif Dalam teori pembawaan manusia, Sigmund Freud merumuskan teori seksualitas kanak-kanak dan kompleks Oedipus. Bagi Freud manusia memiliki dua macam dorongan, yakni dorongan untuk melindungi diri dan dorongan untuk berkembang biak. Dorongan yang pertama dianggap tidak terlalu mendapatkan hambatan secara terns menerus dalam mewujudkannya; berbeda dengan dorongan yang kedua yang seringkali dihambat oleh budaya. Karena itu, Freud memfokuskan perhatiannya pada IL dorongan atau naluri yang kedua atati apa yang disebut sebagai libido, dalam artian yang

lebih sempit adalah seks. Menurut Freud, tenaga seks berpusat pada tiga daerah erotik pada tubuh manusia yaitu mulut (oral), lubang dubur (anal), dan alat kelamin (genital). Perhatian seorang anak terhadap tenaga seks itu berlangsung secara bertahap. Sunggupun tahap-tahap perkembangan libido ditentukan oleh biologis, namun juga dipengaruhi oleh reaksi tokoh-tokoh penting, yaitu melalui cara-cara pengasuhan anak, sikap orang tua terhadap latihan buang air besar, dan larangan lainnya yang bersikap mengekang perkembangan libido seorang anak. Tahap genital dimulai pada tahun ketiga kehidupan anak, yaitu pada waktu perhatiannya berpusat pada linggam (kelamin laki-laki) dan perhatian itu segera menimbulkan rasa birahi terhadap ibunya sendiri dan dibarengi dengan timbulnya rasa cemburu dan benci kepada ayahnya yang dirasakan sebagai saingan dalam mendapatkan rasa cinta ibunya. Gejala inilah yang disebut oleh Freud sebagai Kompleks Oedipus. Gejala Kompleks Oedipus diuji oleh Malinowski di Pulau Trobriand; dan is menemukan bahwa di Trobriand tidak terdapat gejala Kompleks Oedipus. Hal itu disebabkan karma di Trobriand, ayah bukan tokoh kerabat yang berkewajiban meng-asuh anak sehingga dengan demikian ayah tidak diariggap sebagai saingan untuk mendapatkan cinta ibunya. Selain itu, Margaret Mead meneliti di Kepulauan Samoa untuk melihat apakah gadis-gadis Samoa mengalami ketegangan pada masa akil balig sama halnya dengan gadis di Ero-Amerika. Dari hasil penelitiannya ditemukan bahwa gadis-gadis di Pulau Samoa tidak mengalami masa akil balig. Sebab selain anak gadis berhubungan secara bebas dan emosional dengan anggota kerabatnya yang lebih Was, juga mereka bebas melakukan hubungan seks. Selanjutnya berkaitan dengan teori kepribadian khas kolektif yang diantaranya dicetuskan oleh (j) Ruth F. Benedict dengan teori pola kebudayaan, (ii) Ralph Linton dengan teori kepribadian status. (iii) Alex Inkeless dengan teori kepribadian orang Modern, dan (iv) Robert Redfield dengan teori kepribadian petani.

Teori pola kebudayaan Ruth F. Bendict adalah bahwa di dalam setiap kebudayaan terdapat aneka ragam tipe temperamen yang telah ditentukan oleh faktor genetik dan konstitusi, namun hanya terbatas yang diperbolehkan secara budaya, yakni yang sesual dengan pola-pola kebudayaan. Teori kepribadian status oleh Ralph Linton bahwa setiap individu dalam satu masyarakat memiliki lebih dari satu status dan kadangkandang dalam memerankan status itu di butuhkan kepribadian tipikal yang boleh jadi satu sama lain Baling bertentangan. Keperibadian tipikal itulah yang disebut oleh Linton sebagai kepribadian status. Teori Kepribadian orang modern menurut Inkeless, bahwa orang medern ditandai oleh dua ciri, yakni ciri luar yang menyangkut keadaan lingkungan, seperti urbanisasi, komunikasi massa, dan industrialisasi; dan ciri dalam yang menyangkut sikap, nilai, dan perasaan. Teori kepribadian petani oleh R. refield, disebutkan bahwa petani mempunyai tipe kepribadian, seperti; mereka bersikap menonjolkan perasaan, mengutamakam

kesejahteraan dan kepastian hidup; menghargai prokreasi, mendambakan kekayaan, menghubungkan keadilan social dengan pekerjaan. Proses pembentukan dan penyesuiaan kepribadian individu dengan

kebudayaanya dilalui dengan tiga tahap yakni Internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi. 7.6 DAFTAR BACAAN Danandjaja 1988 Antropologi PsIkologi: Teorl, Metode Perkembangannya. Jakarta: Rajawali Press. Koentjaningrat 1980 Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Akasara Baru.

dan

Sejarah

Keeling, Roger M. 1989 Antropolog! Rudaya: Suatu Perspektif Kontempoier. Jakarta: Penerbit Erlangga. 7.7 TUGAS LATiHAN 1. Jelaskan hubungan antara, kebudayaan dan kepribadian. 2. Uraiakan dengan menggunakan kata-kata sendiri teori seksualitas anak-anak menurut Sigmund Freud; teori gejala masalah akil balig Margaret Mead; teori pola kebudayaan R.F. Benedict; teori kepribadian status R. Linton; teori kepribadian

orang modern Alex Inkeles; dan teori tipe kepribadian petani desa R. Redfield.
3. Uraikan mengenal proses-proses penyesuaian individu ke dalam masyarakat.

BAHASAN 8 PERUBAHAN MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN 8.1 SASARAN BELAJAR 1. Mahasiswa mampu menjelaskan defenisi perubahan masyarakat dan perubahan kebudayaan.
2.

Mahasiswa mampu menjelaskan perbedaan antara perubahan masyarakat dengan perubahan kebudayaan.

3.

Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian discovery, invention, dan inovation.

4. Mahasiswa mampu menjelaskan mengenai proses keputusan. inovasi, komponen

sistem sosial dalam proses penyebaran inovasi dan akibatnya. 8.2 PERUBAHAN MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN Terdapat perbedaan pengertian antara perubahan masyarakat dan perubahan kebudayaan. Secara sederhana, pengertian perubahan masyarakat meliputi proses perubahan yang terjadi dalam huburigan antara manusia, perubahan yang dialami oleh lembaga-lembaga dan organisasi yang terjadi karena transformasi struktur sosial dan kektiatan-kekuatan yang menyebabkan perubahan itu terjadi. Kekuatankekuatan yang dimaksud: perubahan kondisi geografis, adanya hasilhasil kebudayaan yang berupa alai yang mempertinggi taraf kehidupan, dan perubahan komposisi penduduk. Sementara itu, perubahan kebudayaan adalah perubahan yang terjadi pada aspek pengetahuan, kepercayaan, nilai, dan norma yang menjadi milik bersama warga masyarakat, termasuk di dalamnya perubahan dalam struktur sosial masyarakat itu. Perubahan masyarakat dan kebudayaan berjalan terns menerus. Hanya saja sifat perubahan itu ada yang lambat dan ada pula yang cepat. Lagipula, di dalam masyarakat dan kebudayaan itu sendiri terdapat kekuatan yang mendukung dan menolak perubahan. Oleh karena itu, dalam mengkaji perubahan sosial dan kebudayaan, salah satu aspek yang dianalisis adalah proses bekerja dan berkembangnya perubahan itu yang disebabkan oleh perbenturan antara, koriservatisme dan keinginan akan perubahan Berta bagaimana suatu kebudayaan yang telah bersentuhan dan menerima unsur yang barn

menempatkannya dalam unsur kebudayaan itu. 8.3 PROSES-PROSES BERULANG DALAM EVOLUSI SOSIAL BUDAYA Sebelum tahun 1920-an kalangan sarjana antropologi umumnya hanya memperhatikan adat-istiadat yang lazim berlaku dalam suatu masyarakat yang menjadi objek penelitiannya. sementata sikap, perasaan, dan tingkah laku yang ditampilkan oleh individu tertentu dalam masyarakat itu yang mungkin bertentangan dengan adat istiadat yang lazim, diabaikan saja atau tidak mendapat perhatian yang layak. Akan tetapi, setelah dasawarsa 1920-an para sarjana antropologi telah menyadari bahwa tindakan individu warga masyarakat yang menyimpang dari adat istiadat umum seringkali pada suatu ketika dapat banyak terjadi dan Bering berulang (recurrent) dalam kehidupan sehari-hari di setiap masyarakat di dunia. Dalam pada itu, ternyata keadaan-keadaan yang menyimpang dari adat istiadat tersebut sangat penting artinya karena merupakan pangkal dari prosesproses perubahan sosial dan kebudayaan pada umumnya. Tentu saja anggota masyarakat pada umumnya tidak membiarkan

penyimpangan-penyimpangan itu terjadi. Karcna itu, maka dalam setiap masyarakat terdapat alat-alat pengendalian yang bertugas untuk mengurangi penyimpangan (deviant). Walau demikian, dalam setiap masyarakat senantiasa timbul masalah ketegangan antara individu dan masyarakat. Hanya saja, boleh jadi terdapat masyarakat yang teriang 77 untuk jangka ~,.aktu tertentu, tetapi pada suatu ketika akan muncul individu-individu yang membangkan. Dengan demikian, keteganganketegangan di dalam masyarakat akan menjadi (recurrent) lag!. Implikasinya adalah jika penyimpangan-penyimpangan itu pada suatu ketika menjadi demikian recurrent, maka masyarakat terpaksa member! konsesi, dan bahkan adat dan aturan diubah sesuai dengan desakan keperluaan-keperluan baru dari individu-individu dalam masyarakat. 8.4 PROSES MENGARAH DALAM EVOLUSI KEBUDAYAAN Dalam menelaah sejarah evolus! kebudayaan masyarakat, kalangan sarjana antropologi terutama pada abad ke-19, menjelaskan dengan mengambil interval waktu yang panjang, misalnya, beberapa tahun yang lalu. Melalui cara penjelasan seperti itu,

maka mereka menemukan perubahan-perubahan besar yang seolah-olah bersifat menentukan arch (direktional) dari sejarah perkembangan masyarakat dan kebudayaan. Dewasa ini dalam disiplin antropologi terdapat suatu sub disiplin yang kajiannya terpokus pada sejarah perkembangan kebudayaan manusia dalam jangka atau interval waktu yang panjang, yakni prehistori. 8.5. PEMAHAMAN TENTANG INOVASI, DISCOVERY, DAN INVENTION Sebagaimana dikemukakan oleh para ahli, inovasi adalah suatu pemikiran, perilaku atau suatu yang baru dan secara kualitatif berbeda dari yang ada sebelumnya. Dengan demikian inovasi selalu mengambil bentuk penciptaan yang bersifat subjektif dan tidak sekedar mengurangi atau menambahkan komponen pada sesuatu yang telah ada. Karena Itu, inovasi selalu menghasilkan pola baru. sesuatu penemuan baru, baik penemuan berupa alat maupun ide baru, yang diciptakan oleh seseorang individu dalam masyarakat disebut discovery. Apabila ide baru itu telah diakui dan diterima oleh sebagian besar anggota masyarakat, maka penemuaan baru itu menjadi apa yang disebut sebagai invention. Proses sejak tahap discovery sampai ke tahap invention, sering memakan waktu yang lama, dan kadang-kadang tidak hanya menyangkut seorang individu sang pencipta pertama, tetapi sejumlah individu. Untuk memahami konsep discovery dan in ven tion, maka pengertian kedua konsep itu dibedakan. Discovery adalah suatu penemuan dari suatu unsur kebudayaan yang baru, misalnya, teknologi pemanfaatan dan pengolahan lahan pertanian, yang diciptakan oleh seorang individu atau sejumlah individu dalam masyarakat tertentu. Discovery baru menjadi invention manakalah masyarakat sudah mengakui, menerima, dan menerapkan penemuan baru itu. Selain itu, ada pula yang menbedakan antara discovery dan invention atas dasar peristiwa penciptaannya. yakni peristiwa kebetulan. Dalam hal ini, discovery dianggap sebagai penemuan yang terjadi secara kebetulan, sedangkan pada invention penemuan itu merupakan hasil usaha secara sadar. Sarjana lain mengemukakan bahwa discovery adalah setiap penambahan pada pengetahuan dan invention adalah pengetrapan dari

pengetahuan yang baru itu. Secara umum, gejala discovery hares didahului oleh empat hal, yakni:
1) Kesempatan; 2) Pengamatan; 3) Penilaian dan imjinasi; 4) Adanya keinginan dan kebutuhan.

Kecuali itu, ada pendapat yang mengemukakan bahwa pendorong bagi individu dalam suatu masyarakat untuk memulai dan mengembangkan penemuan baru adalah:
1) Kesadaran para individu akin kekurangan dalam kebudayaan 2) Mutu dari keahlian dalam suatu kekurangan

3) Sistem perangsang bagi kegiatan mencipta dalam masyarakat. Lebih jauh dari itu, Barnett menyebutkan hal-hal yang mempengaruhi terjadinya inovasi:
1 . Besar dan kompleksitas inventaris budaya yang ada dalam masyarakat setempat. 2 . Adanya konsentrasi ide. 3 . Terjadinya kerja sama dan kebersamaan dalam usaha ide. 4 . Banyaknya alternatif dan banyaknya perbedaan yang bersilangan. 5 . Penduduk yang berjumlah besar. 6 . Harapan dan keinginan yang berubah. 7 . Derajat ketergantungan warga masyarakat pada otoritas. 8 . Kompetisi dalam usaha 9 . Tiadanya'benda-benda yang amat diperlukan dan 10.

Terjadinya modifikasi pada salah satu komponen kebudayaan. Tidak semua inovasi akan diterima secara serta-merta, oleh masyarakat. Inovasi

dapat saja ditentang atau ditolak setidak-tidaknya pada tahap-tahapriya yang awal. Untuk itu, maka penting untuk dipertanyakan: Faktor apa sajakah yang menentukan diterima atau ditolaknya sebuah inovasi? Bagaimana karakteristik inovasi itu sendiri? Siapa atau adakah orang-orang di dalam masyarakat yang secara potensial akan menjadi penentang atau penyokong inovasi tersebut? Salah satu faktor yang menentukan penerimaan inovasi adalah penganjur.

Penganjur yang potensial adalah yang memenuhi kriteria, sebagai berikut:


1) Status penganjur cukup terhormat atau bergengsi 2 ) Kepribadian penganjur sesuai dengan kepribadian yang diidealkan oleh kelompok

sasaran
3 ) Penganjur mempunyai hubungan yang akrab dengan kelompokkelompok sosial bagi

kemungkinan sebagai penerima inovasi


4 ) Pengajur

berafiliasi

dengan kelompok

yang

berkedudukan

mayoritas

dalam

masyarakat. Selain itu, karakteristik ide yang dianjurkan juga ikut menentukan bagi penerimaan inovasi. Adapun karakteristik ide yang dimaksud meliputi:
1) Memang didambakan untuk memenuhi sesuatu kebuttihan yang amat dirasakan; 2) Dipandang menguntungkan; 3) Tidak bertentangan dengan nilai-nilal dan kaidah-kaidah masyarakat setempat; 4) Sesuai dengan kemampuan dana yang dipunyai oleh kelompok sasaran untuk

menerima dan menggunakan inovasi tersebut,


5) Teknik dan tatacara penggunaannya mudah dipelajari dan dikuasai.

8.6 PEMAHAMAN TENTANG PROSES KEPUTUSAN INOVASI Suatu inovasi ditolak atau diterima bergantung pada keputusan yang dibuat oleh seseorang. Keputusan !novasi individu menurut Roegers dan. Shoemakers (1981) terdiri atas beberapa tipe, yakni:
1. Keputusan otoritas; 2.

Keputusan individu, balk dalam bentuk keputusan opsional maupun dalam bentuk keputusan kolektif dan keputusan kontingen. Keputusan yang dimaksudkan terakhir ini merupakan keputusan seseorang untuk menerima atau menolak inovasi setelah ada keputusan inovasi yang mendahuluinya. Proses keputusan menerima !novasi yang blasa jUga disebut sebagai proses

adopsi dimulai dengan tahap-tahap:


1) Tahap kesadaran, 2) Tahap menaruh minat

3) Tahap penilaian 4) Tahap mencoba-coba 5) Tahap penerimaan

Proses yang disebutkan di atas mendapat kritikan, sebab adopsi bukan merupakan tingkah laku yang kebetulan dan terpisah, melaikan merupakan hasil urutan kejadian. Dalam pada itu, maka keputusan inovasi diperbaharui menjadi empat tahap, yakni:
1 ) Pengenalan, pada tahap ini seseorang sudah mengetahui adanya inovasi dan telah

memperoleh beberapa pengertian berkenaan dengan bagaimana, inovasi itu berfungsi.


2 ) Persuasi, pada tahap ini seseorang telah membentuk sikap berkenan atau tidak

berkenan terhadap inovasi.


3 ) Keputusan, pada tahap ini seseorang sudah memutuskan untuk menerima atau

menolak inovasi.
4 ) Konfirmasi, pada tahap ini seseorang mencari penguat bagi keputusan yang

dibuatnya, jika is memperoleh imformasi yang bertentangan dengan keputusannya. Hal lain yang penting diperhatikan dalam proses penyebaran inovasi adalah sistem sosial kelompok penerima atau sasaran inovasi. Ada pun yang patut diperhatikan dari sistem sosial tersebut, meliputi:
1) Anggota, sistem sosial 2) Peranan agen pembaharu 3) Tokoh masyarakat sebagai sumber dari penyebaran inovasi 4) Saluran komunikasi yang dipergunakan dalam proses difusi. Selain itu, peranan

struktur sosial. Menurut para ahli, sekalipun ariggota sistem sosial merupakan satu kesatuan, namun boleh jadi mereka mempunyai perbedaan dalam menerima ide-ide baru. Ada anggota sistem sosial yang cepat menerima inovasi dan ada pulah yang lambat. Dalam kaftan itu, Roegers dan Shoemakers (1981) mengelompokkan penerima inovasi ke dalam

lima kelompok, yakni: 1) Inovator, mereka ini jumlahnya relatif terbatas, tetapi penuh dengan gagasan sehingga begitu gemar untuk mencoba hal-hal baru. Mereka 82 itu disebut sebagai petualang yang berani, khususnya dalam hal mengambil resiko. 2) Pelopor atau adopter pemula, yaltu orang-orang yang terbuka terhadap ide-ide baru, namun mereka ini lebih berorientas! ke dalam sistem sosial sendiri. Mereka itu, biasanya meneliti lebih dahulu suatu !novas! sebelum memutuskan untuk

menggunakannya. Kelompok pelopor ini biasanya terdiri atas beberapa pemuka pendapat. 3. Pengikut din! atau mayoritas awal, terdiri atas orang kebanyakan dan jarang di antara mereka yang memegang posisi pimpinan. Sebelum menerima inovasi si pengikut dini itu mempertimbangkannya secara cermat lebih dahulu. Dalam kata lain, pengikut dini adalah orangorang yang mengikuti atau mengadopsi inovasi dengan penuh pertimbangan.
4 ) Pengikut akhir atau mayoritas akhir, yakni orang-orang yang sangat lamban dalam

menerima suatu ide baru. Biasanya mereka menerima inovasi karena pertimbangan ekonomi atau karena tekanan sosial.
5)

Kolot (laggard), yaitu golongan masyarakat yang paling akhir menerima inovasi. Mereka itu, selain hampir t1dak ada yang menjadi pemuka pendapat, juga ~.'awasannya sangat sempit, terutama yang berkenan dalam lial-hal baru, sehingga dengan demikian banyak diantaranya yang terisolasi.

8.7 RANGKUMAN Masyarakat dimana pun pasti akin mengalam! suatu perubahan yang sebagian disebabkan oleh pengaruh darl dalam dan dari luar masyarakat itu. Pengaruh yang ditimbulkan tidak hanya perubahan sosial tetapi juga perubahan kebudayaan. Perubahan kebudayaan dapat diidentifikasi dengan memahami proses evolus! sosial dalam bentuk recurrent process dan proses efolusi dalam bentuk directional

process. Discovery dan invention merupakan dasar bagi berkembang dan berubalinya kebudayaan. Sebab, hanya dean proses itulah unsur-unsur yang baru dapat ditambahkan pada keselLiruhan kebudayaan manusia. Discovery adalah bentuk penemuan unsur kebudayaan baru, sedangkan invention merupakan penerimaan dan penerapan unsur budaya baru tersebut. Hal yang erat berkaitan dengan discovery dan invention adalah inovasi. Sungguhpun inovasi diartikan juga sebagai penemuan baru, namun pengertiannya lebih lugs dibandingkan dengan discovery. Inovasi diartikan sebagai segugus ide yang sebagian tetap mengambil bentuk ide dan sebagian lagi muncul dan menampakkan diri dalam wujud benda. Inovasi tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya inovasi, seperti adanya inovator, kesempatan, ,dana, dan kebutuhn masyarakat itu sendiri. Berkaitan dengan itu, maka hal yang penting untuk digaris bawahi adalah bahwa !novasi dapat diterima dan dapat juga ditolak. Hal itu sangat bergantung pada materi !novasi dan pengaruh dari si penganjur. 8.8 DAFTAR BACAAN Harsoyo 1977 Pengantar Antropologi. Bandung: Binacipta; hal, 174-190. Koentjaraningrat 1980 Pengantar 11mu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru, hal. 89- 91 & 240-254. Roegers, Everett M., dan F. Floyd shoemakers 1987 Memasyarakatkan Ide-Ide Baru. Surabaya: Usaha Nasional. 8.9 TUGAS LATIHAN 1 . Terangkan perbedaan antara perubahan masyarakat dan perubahan kebudayaan. 2 . Terangkan perbedaan antara recurrent prosesses dan directional prosesses. 3. Terangkan arti discovery, invention, dan 1novation. 4 . Terangkan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya inovasi. 5. Terangkan bagaimana suatu proses keputusan inovasi terjadi.

BAHASAN 9 DIFUSI KEBUDAYAAN 9.1 SASARAN BELJAR 1. Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian difusi kebudayaan
2.

Mahasiswa mampu menjelaskan difusionisme Jerman-Austria, difusionisme Inggris, dan difusionisme Amerika Serikat.

3. 4. 5.

Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian dan jalannya proses akulturasi. Mahasiswa mampu menjelaskan masalah psikologi dalam proses akulturasi. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang metode-metode untuk mengamati, melukiskan, dan menganalisis suatu proses akulturasi.

6.

Mahasiswa mampu menjelaskan tentang pengertian asimilasi dan faktor-faktor yang memudahkan asimilasi.

9.2 DIFUSI KEBUDAYAAN Di dalam bagian ini akan diuraikan mengenal persebaran manusia, balk karena pembiakan maupun karena migrasi yang disertai dengan proses penyesuaian atau adaptasi fisik dan sosial budaya dari makhluk manusia dalam jangka waktu beratus-ratus tahun lamanya sejak zaman purba. Migrasi itu sendiri terjadi disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya: (1) karena bencana alam; (2) karena wabah penyakit; (3) karena perkembangan pelayaran dari beberapa suku bangsa dan lain-lain. Bersamaan dengan itu, maka ikut pula tersebar unsur-unsur kebudayaan ke seluruh penjuru dunia yang disebut sebagai proses difusi. Persebaran unsur-unsur kebudayaan tidak saja terjadi karena perpindahan kelompok manusia dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga terjadi oleh karena ada individu tertentu yang membawa, unsurunsur kebudayaan itu hingga jauh sekali. Bentuk difusi yang lain lag! yang terutama mendapat perhatian antropologi adalah persebaran unsur-unsur kebudayaan yang berdasarkan pertemuan-pertemuan antara individu-individu dalam suatu kelompok manusia dengan individu-individu kelompok tetangga. Pertemuan-pertemuan

semacam itu dapat berlangsung dengan berbagai cara. Pertama, dapat berbentuk hubungan simbiosis, dan kedua sering disebut (penetration pacifigue). 9.3 DIFUSIONISME JERMAN-AUSTRIA Frist Graebner merupakan tokoh. difusi. Jerman-Austria yang menjadi peletak dasar aliran sejarah kebudayaan. Di dalam tinjauannya mengenai difusionisme, ia memakai kriteria kulitas dan kriteria kuantitas Berta mengajukan konsep kebudayaan. Yang dimaksud kriteria kualitas adalah ciri-ciri yang khas atau kualitas dari unsur-unsur kebudayaan yang terdapat dibeberapa daerah yang sama keadaannya. Dalam mengadakan studi perbandingan itu, t1dak hanya satu unsur Baja yang diperhatikan tetapi dicarl sebanyak-banyaknya unsur yang sama. Berdasarkan atas kriteria tersebut dapat dikembangkan konsep menganal Kulturkrelse, yaitu unsur-unsur yang sama yang terdapat di berbagai tempat. Sebagaimana Graebner, Wilhelm Schmidt pun memakai kriteria kualitas dan kuantitas untuk menyusun lingkaran-lingkaran kebudayaan. Schmidt beranggapan akan adanya:
1. Kebudayaan kuno 2. Kebudayaan primer 3. Kebudayaan. sekunder 4. Kebudayaan tertier

9.4 DIFUSIONISME INGGRIS Rivers adalah tokoh yang menggunakan pendekatan sejarah dalam pemikiran etnologi, yang terkenal dalam ekspedisinya yang bermaksud menyelidiki hubungan antara kebudayaan-kebudayaan suku;-suku bangsa yang mendiami daerah sekitar Selat Torres. Etnolog lainnya yang menggunakan pendekatan sejarah adalah Schmidt yang memandang bah, a:
1. Manusla itu tidak mempunyai daya untuk menemukan. Oleh karena itu kebudayaan

hanya timbul di daerah-daerah yang mengandung banyak kemungkinan bagi terciptanya kebudayaan.

2. Keadaan dan tempat yang mengandung kemungkinan-kemungkinan seperti itu adalah

Mesir. Daerah itulah yang menjadi pusat penyebaran kebudayaan ke belahan bumf lainnya.
3.

Secara kodrat alam, jika peradaban itu bergerak darl satu tempat atau pusat ke daerah tepi, maka, kebudayaan itu makin jauh dari pusatnya dan makin tidak murni lagi. Karena kebudayaan manusia itu mengalami dekandens! dalam sejarahnya.

9.5 DIFUSIONISME AMERIKA SERIKAT Studi difusi di Amerika Serikat dipelopori oleh Frans Boas, dengan berpendapat bahwa persoalan pokok mengenai studi difusi bukanlah pada adanya kontak, melainkan yang terpenting adalah adanya timbul efek yang dinamis sebagai akibat dari adanya kontak itu yang kemudian dapat terjadi pencampuran kebudayaan. Dalam pada itu, maka yang terpenting adalah proses pencampuran kebudayaan dengan berbagal masalahnya. Prinsip-prinsip metode difusi yang dikemukakan oleh Boas: 1. Stud! deskriptif merupakan pengantar terhadap studi analisis tentang proses. 87
2.

Studi difusi itu harus dikerjakan dengan metode induktif. Kompleks kebudayaan yang terdiri atas unsur-unsur yang mengalami difusi haraus dilihat dalam hubungannya dengan atau dari alam yang sudah bersenyawa dan janganlah unsur-unsur yang membentuk kompleks kebudayaan itu sendiri oleh peneliti.

3 . Stud! difusi itu harus dimulai dengan meneliti tentang hal yang khusus menuju kepada

masalah yang umum.


4.

Pendekatan terhadap studi mengenai proses-proses dinamis itu harus dilihat dan ditinjau secara psikologis dan diperhatikan pula kedudukan serta sifat individu untuk mendapatkan gambaran tentang realitas akulturasi.

9.6 JALANNYA SUATU PROSES AKULTURASI Dalam pembahasan mengenai jalannya suatu proses akulturasi, konsep covert culture dan overt culture yang dikeniukakan oleh Linton masih relevan untuk diuraikan. Menurut Linton terdapat perbedaan antara bagian inti kebudayaan (covert culture). Yang termasuk bagian inti kebudayaan:

1. Sistem nilal budaya. 2. Keyakinan-keyakinan tentang keagamaan yang dianggap keramat. 3. Beberapa adat yang dipelajarl dan ditanamkan sejak din! dalam proses sosiallsasi.

Hal yang menai-ik bagi jalannya proses akulturasi menyangkut:


1 . Keadaan masyarakat penerima sebelum proses akulturasi mulai berjalan;

adalah

2. Individu-individu dari kebudayaan asing yang membawa unsur-unsur kebudayaan

asing;
3 . Salut-an-salut an yang (Malul oleh unsur-unsur kebudayaan asing

untuk masuk ke dalam kebudayaan penerima; 4. Bagian-bagian dari masyarakat penerima yang terkena pengaruh unsur-unsur kebudayaan asing tali; 5. Reaksi para individu yang terkena unsur-unsur kebudayaan asing. Foster meringkas pola proses akulturasi yang biasanya terjadi ti bila suatu kebudayaan terkena pengaruh-pengaruh kebudayaan asing, yaitu:
1 . Hampir semua proses akulturasi mulai dengan golongan atas (upper

class) lalu menyebar ke golongan-golongan yang lebih rendah di daerah pedesaan. Proses ini biasanya mulai dengan perubahan sosial2.

ekonomi. p erubahan dalam bidang ekonomi hampir selalu menyebabkan perubahan yang penting dalam asas-asas kehidupan kekerabatan.

3 . Penanaman tanaman untuk ekspor dan perkembangan ekonomi yang merusak pola-

pola gotong royong tradisional, dan karena itu berkembanglah sistem pengerahan tenaga kerja barn. 4.. perkembangan sistem ekonomi uang juga menyebabakan perubahan dalam kebiasaankebiasaan makan, dengan segala akibatnya dalam aspek gizi, ekonomi, dan sosial. 5. Proses akulturasi yang berkembang cepat menyebabkan berbagai pergeseran sosial yang tidak seragam dalam semua unsur dan sektor masyarakat sehingga dengan demikian terjadi keretakan masyarakat.

6. Gerakan-gerakan nasionalisme juga dapat dianggap sebagai salah satu tahap dalam proses akulturasi. 9.7 MASALAII PSIKOLOGI DALAM SUATU PROSES AKULTURASI Sebagaimana diketahui bahwa dalam suatu masyarakat yang sedang terkena proses akulturasi dan berada dalam masa transisi dari kebudayaan tradisional ke kebudayaan masa kini, tentu banyak individu atau golongan sosial yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan keadaan "I krisis seperti itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak tahan hidup dalam suasana tegang terus-menerus, namun juga tidak suka kepada pembaharuan. Dari analisis para ahli antropologi, manakala keadaan seperti yang diuraikan di atas terjadi, maka akan muncul gerakan rata adil yang mempunyai empat aspek penting, yakni: 1. Aspek keagamaan 2. Aspek psikologi 3. Aspek rata adil 4. Aspek keaslian budaya 9.8 PEMAHAMAN TENTANG GEJALA ASIMILASI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMUDAHKAN ASIMILIASI. Asimilasi adalah proses sosial yang timbal bila terdapat hal-hal sebagai berikut: 1. Golongan-golongan manusia dengan Tatar belakang kebudayaan yang berbeda-beda, 2. Saling bergaul langsung secara intensif untuk waktu yang lama; 3. Kebudayaan-kebudayaan golongan-golongan tersebut masing-masing wujudnya menjadi unsur-unsur kebudayaan campuran. berobah yang

Faktor-faktor

memudahkan bagi terjadinya asimilasi: 1. Faktor toleransi; 2. Faktor adanya persamaan kriteria aspek ekonomi: 3. Faktor adanya simpati terhadap kebudayaan lain; dan 4. Faktor perkawinan campuran. 9.9 RANGKUMAN Difusi kebudayaan sebenarnya terjadi akibat adanya pesebaran manusia di maka

bumf karena berbagai hal. Pesebaran itu dapat terjadi secara kelompok dan dapat pula secara individual. Difusi dapat terjad! karena faktor simbiosis dan karena penetration pacifique. Kedua gejala itu mendapat perhatian khusus dalam kajian antropologi. Tokoh-tokoh antropologi penganut difusionisme dikelompokkan ke dalam difus! Jerman-Austria, Inggris, dan Amerika Serikat. Pengkategorian ini didasarkan atas latar belakang daerah asal dan perbedaan penekanan dan pandangan dalam mengkaji masalah difusi. Masalah akulturasi dewasa ini banyak mendapat perhatian di kalangan sarjana antropolgi, terutama dalam mempelajari metode-metode untuk mengamati, melukiskan, dan mengana4isis proses akulturasi, jalannya suatu proses akulturas, serta masalah psikologi dalam suatu proses akulturasi. Selain itu, dibahas pula mengenal pengertian asimilasi, yaitu proses sosial yang telah melanjut yang ditandal oleh kurangn5,a perbedaan antara individu-individu dan antara kelompok-kelompok, dan makin eratnya persatuan aksi, sikap, dan proses mental yang berhubungan dengan kepentingan dan tujuan yang sama. Berkaitan dengan itu dibahas pula mengenai faktor-faktor yang memudahkan bag! terjadinya asimilasi. 9.10 DAFTAR BACAAN ffarsojo 1977 Pengantar Antiopologi. Bandung: Binacipta. Koentjaraningrat 1980 Pengantai 11mu Antropologi. Jakarta: Akasara Baru. Roegers, Evereet M. dan F. Floyd Shoemaker 1987 Afemasyai-akatkan Ide-ide Baru. Surabaya: Usaha Nasional. 91 9.11 TUGAS LATIIIAN 1. Terangkan pengertian difusi dan akulturasi.
2. Terangkan teori difusi dari tokoh-tokoh difusionisme JermanAustria; dan Inggris 3. Terangkanlah teori difusionis Frans Boas.

4 . Terangkan metode-metode untuk mengamati, m'eltikiskan, dan menganalisis

suatu proses alkulturasi.


5 . Terangkan apa yang dimaksud dengan asimilasi dan faktor yang memudahkan

terjadinya asimilasi.

BAHASAN 10 ANTROPOLOGI DAN PEMBANGUNAN 10.1 SASARAN BELAJAR 1. Mahasiswa dapat memahami kedudukan antropologi terapan dalam disiplin antropologi.
2. Mahasiswa dapat menjelaskan fungsi-fungsi praktis antropologi. 3. Mahasiswa

dapat

menganalisis masalah-masalah sosial budaya

yang

berkaitan dengan pembangunan. 10.2 ANTROPOLOGI TERAPAN DAN PEMBANGUNAN 10.2.1 Antopologi Terapan Jika kita menengok sejarah perkembangan antropologi, maka tampak bahwa pada fase ke-3 dari perkembangannya (akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20) dimensi praktis mendapatkan porsi perhatian yang sepadan dengan dimensi akademis. Hal mana negara-negara Erropa seperti Inggris, Perancis, Belanda, Belgic, Portugal, Spanyol, Jerman dan Italia sebagai negara-negara kolonial melakukan pengkajian terhadap masyarakat dan kebudayaan suku bangsa di luar Fropa dalam rangka memantapkan sistem administrasi pemerintahannya di daerah-daerah jajahan. Bersamaan denan iu muncul keinginan di kalangan negara penjajah, terutama Inggeris dan Belanda, untuk memajukan dan memperbaiki kesejahteraan penduduk di daerah-daerah jajahannya. Sebagai contoh di dalam Dewan Perwakilan Rakyat Belanda pada akhir abad ke19 mulai dilancarrkan kecaman-kecaman keras oleh kaum politikus terhadap pemeintah jajahan belanda di Indonesia, sehubungan dengan adanya berita mengenai meningkatnya kemiskinan yang luar biasa di antara rakyat Indonesia, terutama di Pulau Jax%,a. 'rekanan politik itu, memaksa pemerintah Belanda untuk mengambil kebijaksanaan yang lebih berorientasi pada peningkatan kesejahteraan, kesehatan, dan pendidikan rakyat. Dalam rangka pelaksanaannya, maka pengetahuan mengenai manusia, masyarakat, dan kebudayaan rakyat Indonesia dengan Tatar suku bangsa yang berbeda ditingkatkan. Dalam pada itu, jadilah ilmu antropologi Indonesia sebagai suatu bidang ilmu yang

mempelajari tentang cara berfikir bangsa Indonesia dan bersifat terapan. Ketika itu ilmu antropologi disebut sebagai ethnology atau volkehkunde (ilmu bangsa-bangsa). Di negara-negara jajahan lain, terutama jajahan Inggeris, perkembangan ilmu antropologi disesuaikan dengan keperluan pemerintah jajahannya. Dalam pada itu, para calon pegawai pemerintah daerah jajahan, para perwira, dan para pendeta penyebar agama Nasrani Inggeris mempelajari bahasa, masyarakat, dan kebudayaan daerahdaerah di mana mereka akan ditempatkan. Pendidikan itu mereka peroleh dari univesitasuniversitas Inggeris yang ternama, seperti University of Oxford, Cambridge atau London University. Dalam rangka pendidikan itu ilmu antropologi wajib diambil sebagai mata kuliah pokok. Sementara itu, Amerika Serikat meskipun tidak termasuk negara kolonial, namun memiliki penduduk pribumi (orang Indian) yang di beberapa tempat hidup dalam keadaan yang sangat menderita miskin karena mereka terpusat di daerah-daerah yang terbatas dengan kualitas tanah yang rendah. Keadaan itu memaksa pemerintah Amerika Serikat untuk membina dan meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Dalam rangka itu, maka didirikan biro yang berada di bawah naungan Departemen Dalam Negeri yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup orang Indian. Biro itu mempekerjakan seorang ahli antropologi. Sungguhpun demikian, kalangan ahli antropologi Amerika pada saat itu umumnya lebih berminat pada pengembangan konsep dan teori, sedang penelitian yang berorientas praktis atau terapan dianggap rendah. Pengembangan antropologi yang lebih berorientasi akademik itu rilengalami perubahan sesudah tahun 1930-an, tatkala didirikan Bureau of American Fthnology yang bergerak dalam kajian ilmu alam dan sejarah alam semesta, termasuk sejarah dan evolusi manusia. Lembaga itu berhasil melakukan penelitian yang lugs dengan bantuan ilmu-ilmu antopologi dari perguruan-perguruan tinggi, yang rhengkaji sifat kepemimpinan suku-suku Indian. Implikasi praktis dari hasil penelitian itu adalah dibentuk undangundang dalam tahun 1934 untuk mengatur daerah-daerah pemukiman orang Indian. Bersamaan dengan itu Bureau of Indian Affairs and Soil Conservation Service

dengan bantuan ahli-ahli antropologi di kalangan universitas, mengadakan survei luasa mengenai hak tanah dan hak guna tanah pada suku-suku bangsa Indian (penelitian antropologi hokum). Selain itu, dilakukan survey berkenaan dengan pendidikan orang Indian (antropologi pendidikan), yang bertujuan untuk memperbaiki sistem pendidikan sekolah-sekolah di Indian. Kedudukan antropologi terapan di Amerika Serikat semakin penting tatkala pada ahun 1941 didirikan Society for Applied Anthropology oleh beberapa tokoh terkenal, yang menerapkan ilmu mereka untuk membantu negerinya dalam perang dunia II. Tokoh penting yang dimaksud, seperti Ruth F. Benedict, R.H Lowie, M. Mead dan lain-lain, melakukan "penelitian jarak jauh" selama era perang dan menulis buku-buku mengenai kehidupan masyarakat dan kebudayaan serta Cara berfikir musuh negaranya, yaitu bangsa Jepang di laut Fasifik dan bangsa Jerman di benua Eropa, untuk digunakan oleh pimpinan angkatan perang Amerika Serikat. Selain itu, G.P Murdock dan W. Goodenough adalah ahli antropologi Ameika yang maju ke medan pertempuran dan bekerja di staf markas besar angkatan laut Amerika Serikat di laut Fasifik, Mikronesia. Kedua ahli itu, selain menulis buku-buku

ilmiah, juga data yang disajikan dapat dimanfaatkan langsung oleh pemerintah daerahdaerah yang diduduki oleh angkatan laut Amerika Serikat. Seusai perang dunia ke-2, ilmu antropologi di Amerika Serikat juga dimanfaatkan dalam penelitian-penelitian terhadap masalah-masalah yang bersifat praktis, diantaranya penelitian masalah daya guna kerja kaum buruh dalam industri, hubungan antarmanusla dala?n industri, dan lainnya. 10.2.2 Antropologi Pembangunan Koentjaraningrat (1990) merumuskan tiga bidang masalah yang menjadi pusat kajian antropolol pembangunan, yakni: (1) masalah teori dan metodologi pembangunan; (2) masalah kebijaksanaan pembangunan; dan (3) masalah sektor-sektor dan unsur-unsur yang dibangun dan akibat sosial politiknya. ad.1 Masalah teori dan metodologi pembangunan 1.1 Masalah dualisme ekonomi, atau kesenjangan antara ekonomi pedesaan dan

ekonomi industri di negara-negara yang sedang membangun. 1.2 Masalah kesenjangan kemajuan sosial budaya antar berbagai golongan sosial dan bagian-bagian tertentu dalam negaranegara yang sedang membangun. 1.3 Masalah merangsang orientasi nilai budaya dan jiwa wiraswasta yang mendorong kemakmuran. 1.4 Masalah peranan agama dalam pembangunan. ad.2. Masalah kebijaksanaan pembangunan 2.1 Aspek manusla dan model-model perencanaan pembangunan. 2.2 Masalah arah pembangunan yang berbeda dari arah pembangunan yang menuju ke masyarakat scrupa dengan masyarakat Eropa Barat atau Amerika. 2.3 Kajian Antropologi mengenai pembangunan ekonomi marxisme. 2.4 Aspek manusia dari pembangunan pada karya atau pembangunan padat modal. ad.3. Masalah sektor-sektor serta unsur-unsur yang dibangun, dan Social politiknya 3.1 Masyarakat desa 3.2 Penduduk (migrasi, urbanisasi, transmigrasi, dan KB) 3.3 Lingkungan 3.4 Kepemimpinan dan pembangunan 3.5 Perubahan sosial budaya akibat pembangunan 3.6 pendidikan sebagai masalah khusus dalam pembangunan 3.7 Aspek manusia dalam reorganisasi administrasi dan pemerintahan. 3.8 Masyarakat majemuk dan integrasi nasional. Ke-16 masalah tersebut dalam kenyataan kehidupan masyarakat tidak berdiri sendiri, tetapi sating berkaitan. Masalah dualisme ekonomi (1.1) misalnya, berkaitan dengan masalah orientasi nilai budaya dan jiwa kewiraswastaan dalam pembangunan (1.3). Selanjutnya, masalah itu berkaitan dengan masalah manusia dalam model-model perencanaan pembangunan (2.1) dan pembangunan padat karya (2.4), masalah pembangunan masyarakat desa (3.1), dan masalah pendidikan sebagai masalah khusus dalam

pembangunan (3.5). Masalah (1.2), yaitu kesenjangan kemajuan sosial budaya pada umumnya antara golongan-golongan tertentu dalam masyarakat dan negara, sudah barang tentu merupakan suatu masalah politik. Namun di dalamnya terdapat bagian-bagian yang lebih khusus, seperti masalah kesenjangan kemajuan pendidikan antara penduduk masyarakat desa dan masyarakat kola. Oleh karma itu, masalahnya menjadi masalah pendidikan dan untuk menelitinya, antropologi pendidikan dapat

menjalankan peranan yang penting (3.6). Kecuali itu, masalah kesenjangan kemajuan pendidikan antara masyarakat desa dan masyarakat kota mengakibatkan sederet masalah lain, seperti urbanisasi (3.2) dan perubahan sosial budaya akibat pembangunan (3.5). Masalah (1.3) juga berkaitan dengan masalah-masalah lain. Dalam pada itu, ahli antropologi terapan dapat melakukan penelftian berkenaan dengan aspek manusia dalam pembangunan atau jiwa kewiraswastaan dalam. pembangunan. Masalah (1.4), yaitu masalah peranan agama dalam pembangunan, berkaitan dengan masalah (2.1), yakni masalah aspek manusia dalam model-model perencanaan pembangunan, dan dengan sendirinya juga menyangkut serangkaian masalah lain. Karya yang terkenal mengenai peranan agama dalam pembangunan di antarartya yang ditulis oleh Max Weber. Karya yang dimaksud adalah pengaruh suatu agama yang bersifat puritan dan ketat, yakni agama Protestan Calvinis, pada pembentukan modal di negaranegara Eropa Barat sejak abad ke-17. Masalah (2.1) berkaitan dengan masalah (2.2), (2.4), (3.1), (3.4), dan (3.5). Model pembangunan dalam perencanaan pembangunan nasional di berbagai negara yang barn berkembang agaknya diilhami oleh dan disesuaikan dengan konsepsi ahli sejarah ekonomi W.W Rostow. Adapun konsepsi pembangunan ekonomi Rostow melewati 5 (lima) tahap pertumbuhan, yakni: (1) tahap masyarakat traditional (traditional society) atau tahap permulaan pembangunan ekonomi; (2)tahap pra kondisi untuk memasuki tahap industrialisasi (precondition for take-off); (3) tahap dimana semua faktor

ekonomi sudah cukup untuk bertumbuh sendiri (take-off); (4) tahap dimana ekonomi itu sudah mampu untuk berkembang menjadi makmur atas kekuatannya sendiri (drive to maturity); dan (5) tahap dimana rak3,at banyak telah menikmati hasil produksi massanya sendiri (age of mass consumption). Dalam tahap (1) dan (2) di atas, terdapat banyak masalah yang dapat diteliti dengan menggunakan pendekatan antropologi. Di antara masalah-masalah yang dimaksud adalah adat-istiadat dan sikap mental serta pranata-pranata sosial budaya yang menjadi kendala hagi pelaksanaan dan keberhasilan pembangunan harus digeser sesuai dengan tujuan pembangunan itu sendiri. Sedangkan tahap (2), ketika telah terjadi surplus prodilksi pertanian, maka harus dialihkaln ke tangan golongan-golongan sosial yang memiliki kemampuan untuk mengubah surplus itu menjadi modal kerja untuk membangun dengan menginvestasikannya secara berhasil guna dan berdaya guna ke dalam usahausaha non pertanian, sehingga diperoleh modal yang lebih besar. Masalah (2.2) yakni masalah arah pembangunan yang berbeda dari arah pembangunan yang menuju ke masyarakat seperti di Eropa, Barat dan Amerika, tentu merupakan masalah yang khan dan bersifat politik. Dalam hal ini antropologi tidak dapat memberikan sumbangan yang memadai, kecuali secara tidak langsung, yaitu dengan memberi data mengenai kehidupan sosial budaya di negara-negara yang

pembangunannya tidak mengambil arah seperti pembangunan masyarakatmasyarakat Eropa Barat atau Amerika. Misalnya, Birma atau negaranegara Komunis seperti RRC dan Kampuchea. Hal itu tentu tidak dimaksudkan agar arah pembangunan di negara-negara tersebut terakhir menjadi model pembangunan bag! semua negara yang sedang berkembang, melainkan untuk melihat kekuatan dan kelemahan dari arah pembangunan yang tidak berorientasi ke masyarakat Eropa Amerika. Masalah (2.2) tentu berkaitan erat dengan masalah (2.3) mengenai pembangunan ekonomi Marxisme. Masalah (2.4) yaltu masalah aspek manusla dalam pembangunan padat karya atau padat modal, jelas merupakan masalah yang layak pula Lintuk diteliti dengan pendekatan antropologi ekonomi. Beberapa ahli antropologi malahan telah

memperlihatkan bahiva asumsi berbagal ahli ekonomi pembangunan mengenai adanya

kelebihan tenaga kerja tetapi 99 kekurangan modal dalam masyarakat yang berada pada tahap persiapan untuk pembangunan (atau tahap 2 dalam model Rostov), tidak selamanya benar. H.K. Schneider, misalnya, menunjukkan bahwa dalam masyarakat tradisional di negara-negara Afrika Timur dan Selatan yang baru mulai berkembang, tidak menghadapi masalah kekurangan modal, sebab modal dalam bentuk ternak terdapat dalam jumlah yang melimpah."Fetapi untuk dapat mengubah sistem peternakan tradisional menjadi peternakan modern masalahnya terletak pada kekurangan tenaga yang berkompetensi untuk itu. Masalah (3.1), yaitu pembangunan masyarakat desa di negaranegara baru yang sedang berkembang meliputi upaya peningkatan produksi pertanian dengan penggunaan bibit unggul, peningkatan teknologi pemupukan dan pemberantasan hama, perbaikan sistem irigasi, perbaikan sarana dan prasarana jalan, perbaikan lingkungan, penyempurnaan administrasi desa, pengembangan koperasi, penyempurnaan sistem pendidikan umum dan pendidikan agama, dan peningkatan kesehatan masyarakat. Melihat sektorsektor tersebut, maka jelas bahwa hampir semua sub bidang antropologi dapat memberikan kontribusi melalui penelitian-penelitian untuk pembangunan masyarakat desa. Menurut. Goodenough (1963) pembangunan masyarakat desa pada dasarnya merupakan upaya untuk merubah adat-istiadat, kepercayaan, sikap mental, dan orientasi nilai budaya penduduk. Dengan demikian berkaitan erat dengan masalah (1.3), (3.2), (3.3), (3.4), (3.5) dan (3.6). Masalah (3.2) yaitu masalah penduduk merupakan masalah nasional dalam pembangunan, karena menyangkut pengendalian laju pertumbuhan penduduk yang berlangsung terlalu cepat. Misalnya, melalui program-program keluarga berencana, mengatur proporsi kepadatan penduduk yang tidak seimbang di berbagai daerah di wilayah nasional yang antara lain ditanggulangi dengan program transmigrasi. Masalah tersebut, selain menjadi tanggung jawab ahli demografi dan kedokteran, juga menjadi

kajian antropologi. Ahli antropologi dapat mengkaji tentang nilai anak bag! suatu kelompok komunitas tertentu dan adat istiadat berkenaan dengan waktu berhubungan kelamin bagi swami isteri setelah melahirkan. Kecuali itu, ahli antropologi dapat menciptakan kondis! sosial budaya yang mengarahkan perhadan para ibu ke hal lain dari pada hanya melahirkan. Misalnya, meningkatkan peranserta mereka delam angkatan kerja,

meningkatkan mute pengasuhan dan pendidikan anak dengan cara memberikan perhatian yang penuh kepada anak dan lain-lain. Masalah (3.3), (3,4), (3,6), dan (3,7) pembahasannya serupa dengan yang telah dibahas dalam uraian mengenai antropologi ekonomi, antropologi pendidikan dan antropologi politik diatas. Masalah (3.5) akan dibahas secara khusus dibawah ini. 10.2.2.1 Masalah-masalah Sosial Budaya dalam Pembangunan Kondisi sosial budaya kelompok masyarakat yang menjadi sasaran pembangunan seringkali menjadi faktor kendala (barrier) bagi keberhasilan pembangunan. Hal itu tampak dari pengalaman pembangunan di berbagal negara berkembang dimana pelaksanaan pembangunan seringkali mengalami hambatan untuk mengenalkan dan mengubah perilaku pihak sasaran (recipient) sebagaimana tujuan yang diinginkan oleh program yang mereka implementasikan. Sebagai contoh, pengadaaan sarana dan prasarana kesehatan di suatu komunitas tertentu dengan tujuan agar warga masyarakat yang bersangkutan dapat memanfaatkan sumber perawatan kesehatan tersebut manakala mereka membutuhkan pertolongan perawatan kesehatan. Namun, seringkali masyarakat yang bersangkutan lebih percaya pada sumber perawatan kesehatan pribumi mereka manakala

membutuhkan perawatan kesehatan. Berkaitan dengan itu, para pelaksana pembangunan (provider) hares memahami terlebih dahulu kondisi sosial budaya masyarakat sasaran (recipient) sebelum kegiatan pembangunan dilakukan. Dalam kata lain, perlu dilakukan penelitian pendahuluan berkenaan dengan kondisi sosial budaya kelompok sasaran sebelum program diimplementasikan. Disiplin ilmu yang berkompeten dalam

meneliti dan mengungkap kondisi sosial budaya kelompok masyarakat adalah antropologi. Kecuali itu, antroPologi dapat ikut berperan serta dalam menjembatani antra budaya provider dan budaya recipient; serta dapat ikut mengevaluasi program pembangunan yang sementara atau telah dilaksanakan. Selain itu, pelaksanaan program pembangunan tertentu seringkali menimbulkan konsekwens% sosial budaya tertentu. Hal yang terakhir ini juga menjadi wilayah kajian antropologi, dan bahwa hasil pengkajian itu menjadi masukan bagi perencana dan pelaksana pembangunan. 10.3 RANGKUMAN Sejak fare ke-3 dari sejarah perkembangan antropologi telah menunjukkan orientasi praktis. Hanya raja kedudukan antropologi yang berorientasi praktis, terutama di Amerika Serikat, ketika itu dianggap rendah. Namun, anggapan itu mulai berubah sesuadah tahun 1930-an dan bahkan pada tahun 1941 di Amerika Serikat beberapa ahli antropologi mendirikan lembaga yang mereka rebut Society for Applied Anthropology. Diantara ahli yang dimaksud: Ruth F. Benedict, R. H Lowie, dan M. Mead. Mereka itu melakukan penelitian "jarak jauh" perihal masyarakat dan kebudayaan bangsa yang menjadi musuh Amerika Serikat. Kecuali itu, setelah perang dunia ke-2 usai hingga kini ahli antropologi telah terlibat dalam meneliti, merencanakan, melaksanakan. dan mengevaluasi berbagai program pembangunan. Bahkan dewasa ini telah berkembang sub bidang antropologi pembangunan. 10.4 DAFFAR BACAAN Kalangie, Nico S. 1994 Kebudayaan dan Kesehatan. Jakarta: Megapoin. Koentjaraningrat 1990 "Antropologi Terapan dan Antropologi Pembangunan. Dalam Sejarah Teori Antropologi 11. Jakarta: UI-Press 10.5 TUGAS LATIHAN 1 . Uraikan kedudukan antropologi terapan dalam kerangka ilmu antropologi
2 . Uraikan funsi-fungsi praksis ilmu antropologi

3 . Jelaskan perihal antropologi pembangunan 4 . Uraikan masalah-masalah sosial budaya

yang

berkaitan

Oengan

pembangunan.