Anda di halaman 1dari 6

TUGAS MATA KULIAH ANALISIS SISTEM PERIKANAN TANGKAP

Pengaruh Variabilitas Parameter Oseanografi Terhadap Penentuan Daerah Penangkapan Ikan (Suhu, Klorofil-a, Upwelling)

Oleh : Nora Akbarsyah (C451130061)

Dosen : Dr. Mustaruddin

JURUSAN TEKNOLOGI PERIKANAN LAUT FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2013

Ikan adalah hewan air yang sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Keberadaan ikan diperairan tidak bisa dipisahkan dari faktor faktor biofisik perairan seperti suhu, salinitas, oksigen terlarut, klorofil, zathara, dsb. Suhu permukaan laut Indonesia mempunyai kisaran antara 28 310 C dan tergolong suhu yang tinggi. Hal ini disebabakan karena wilayah Indonesia secara geografis berada didaerah ekuator, sehingga memperoleh panas matahari terbanyak. Sebaran suhu permukaan laut Indonesia secara horizontal pada kedalaman antara 0 200 m masih diengaruhi oleh arus permukaan sehingga variasi lebih tinggi. Sedangkan pada kedalaman lebih dari 200 m suhu air lebih homogen. Menurut sebaran suhu secara vertikal, lapisan air dibagi menjadi 3 bagian, yaitu lapisan hangat dibagian paling atas, lapisan termoklin dibawahnya, serta lapisan paling dingin di bagian paling bawah. Risamasu (2011), mengatakan bahwa suhu merupakan salah satu parameter yang berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan dilaut. Pengaruh suhu secara langsung yaitu pada pembentukan makanan atau fotosintesa tumbuh tumbuhan, sistem metabolisme serta sistem reproduksi pada hewan. Distribusisuhu secara vertikal dan horizontal juga berpengaruh pada periode pemijahan, kemampuan / kecepatan perkembangan telur dan larva , serta ketersediaan makanan di perairan. Suhu secara tidak langsung juga berpengaruh terhadap daya larut oksigen yang digunakan oleh biota laut untuk bernafas. Apabila suhu naik maka daya larut oksigen menurun dan kandungan karbondioksida dalam peraira bertambah. Menurut Pralebda dan Suyuti (1983), Indrawatit (2000), Risamasu (2011), dengan melihat pola distribusi suhu permukaan laut, maka dapat diidentifikasi pula parameter-parameter laut lainnya, seperti arus laut, upwelling, dan front. Peristiwa upwelling merupakan fenomena atau kejadian bergeraknya massa air laut secara vertikal. Penyebab dar upwelling ini adalah adanya statifikasi densitas air laut. Semakin dalam perairan maka suhu akan semakin menurun dan densitas meningkat, hal ini menimbulkan pergerakan air secara vertikal. Massa air yang beasal dari bawah yang kaya akan zat hara atau nutrient akan naik keatas, sehingga akibat dari peristiwa ini adalah pencampuran secara merata antara nutrient dasar dan nutrient permukaan. Ketika Nutrient, cahaya, dan fitoplankton bertemu dilapisan yang sama, maka produktivitas perairan tersebut akan meningkat. Front, seperti yang di kemukakan oleh Robinson (1985) daam Indrawatit (2000),merupakan daerah dimana terjadi pertemuan dua buah massa air (khususnya suhu dan salinitas) yang mempunyai karakteristik berbeda, misalnya, pertemuan antara masssa air dari Laut Jawa yang agak panas dengan massa air Samudera Hinda yang lebih dingin. Front berperan penting dalam produktivitas perairan di laut, karena zat hara atau nutrient yang terbawa dari air yang dingin bercampur dengan kandungan hara pada air yang hangat.

Kondisi seperti ini akan memacu peningkatan pertumbuhan plankton. Daerah yang kaya akan makanan biasanya menjadi feeding ground bagi ikan ikan pelagis. Hasil penelitian oleh Monintja dkk, (2006), menunjukkan bahwa hampir sepanjang tahun kosentrasi klorofil-a tinggi di perairan Laut Arafura, hal ini merupakan fenomena yang berbeda dengan sebagian besar wilayah perairan Indonesia, karena pada umumnya konsentrasi klorofil-a cenderung lebih tinggi pada saat musim angin musson tenggara. Dalam Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pada bulan Maret hingga Mei 2004 konsentrasi klorofil-a berkisar antara 0,412 18,490 /l dengan rata rata 3,021 /l. Konsentrasi klorofil-a ini tergolong sangat tinggi. Tingginya konsentrasi klorofil menunjukkan bahwa ekosistem perairan Laut Arafura subur dan kondisinya masih baik. Tingginya konsentrasi klorofil-a ini juga disebabkan terjadinya upwelling yang terjadi pada musim yang sama. Menurut Siregar dan Waas (2006) dalam penelitian nya di daerah sebelah utara perairan Papua, klorofil-a merupakan indikator produktivitas perairan yang mempunyai pengaruh secara tidak langsung dengan tersedianya makanan dari ikan Tuna yang berada di daerah fishing ground. Konsentrasi klorofil-a yang terdeteksi berkisar antara 0,21 0,35 mgm3, dan tergolong konsentrasi yang tinggi (>0,2 mg m3), hal ini mengindikasikan bahwa keberadaan fitoplankton di perairan ini sangat bagus untuk perkembangan perikanan skipjack dan Yellowfin Tuna. Dalam Penelitian ini menunjukkan bahwa Skipjack dan Yellofin Tunabanyak tertangkap di daerah yang berklorofil-a tinggi. Faktor-faktor perairan tersebut diatas, berlangsung secara terus menerus di perairan. Pada ikan ikan tertentu biasanya peka terhadap kondisi perairan tertentu pula. Perbedaan faktor lingkungan perairan tersebut lama kelamaan akan membentuk suatu kebiasaan pola tingkah laku yang berbeda. Misalnya ikan Cakalang dan Tuna biasanya menghindar terhadap suhu perairan yang lebih tinggi, dan berenang ke lapisan pada kedalaman tertentu. Menurut Indrawatit (2000), Ikan Lemuru tertangkap pada kisaran suhu permukaan laut antara 25,01 0C 29,000C. Ikan lemuru ini juga cenderung tertangkap pada suhu 26,010C 27,000C pada bulan April, Mei, Juli. Sedangkan untuk bulan Oktober, tertangkap pada kisaran suhu 28,010C 29,000C, dan pada bulan Nopember tertangkap pada kisaran suhu 26,010C 27,000C. Selanjutnya menurut Laevastu dan Hayes (1981), ikan Sardin Iwashi (Sardinops melanostica) memijah pada suhu sekitar 13 170C dengan suhu optimum 140C 15,50C. Dalam banyak kasus yang terjadi dilapangan, untuk mengetahui lokasi yang potensial untuk daerah penangkapan ikan (Fishing ground), peta sebaran klorofil-a dan suhu

permukaan laut dapat digunakan dengan mengkolaborasikan keduanya secara bersamaan. Metode ini dapat direkomendasikan sebagai metode atau teknik yang penting untuk mengidentifikasi lokasi penangkapan ikan yang potensial. Metode ini juga menyediakan secara tidak langsung informasi mengenai percampuran massa air secara horizontal, yang mana percampuran massa air ini berkontribusi terhadap tingginya produktivitas atau tingginya konsentrasi dari fitoplankton (klorofil-a) di perairan. Informasi mengenai suhu dan produktivitas perairan tersebut bias menjadi acuan penting yang bias mendukung terhadap keberhasilan penangkapan. Akan tetapi kita harus teliti dan jeli menghadapi fenomena alam seperti diatas. Penetapan potensi produksi perikanan berdasarkan data plankton telah banyak dilakukan melalui pendekatan pemodelan matematik. Dalam berbagai pemodelan tersebut, panjang rantai makanan dan hubungan antar rantai pakan sangat diperhatikan, mulai dari fitoplankton yang menduduki tingkat trofik I sampai dengan tingkatan trofik ikan yang akan di tangkap. Ikan-ikan yang ditangkap pada umumnya berada pada tingkatan trofik II V. Misal fitoplankton pada tingkat trofik I dimakan zooplankton herbivore (tingkat trofik II), kemudian zooplankton herbivore dimakan oleh zooplankton karnivora (tingkat trofik III), Zoo plankton karnivora dimakan oleh ikan-ikan kecil (tingkat trofik IV), ikan kecil dimakan oleh ikan yang lebih besar yang menjadi target tangkapan (Tuna, dll) (tingkat trofik V). Pengalihan energy antar trofik pada umumnya terjadi pada efisiensi yang sangat rendah, dan berbeda persentase antara perairan samudera terbuka, kawasan pantai, dengan kawasan terjadinya upwelling. Pada samudera terbuka efisiensi trofik yang terjadi sangat rendah yaitu 10%. Pada daerah pantai, pengalihan energy berlangsung lebih tinggi yaitu 15%. Pada daerah ini terjadi pengalihan energi yang lebih efisien, sehingga rantai pakan bias menjadi lebih pendek. Ikan yang berada pada tingkat trofik lebih tinggi hanya membutuhkan sedikit saja tenaga/energi untuk memperoleh makanan, serta dapat tumbuh dan berkembang lebih banyak dan lebih cepat. Sedangkan diperairan yang terjadi upwelling atau penaikan massa air yang kaya akan zat hara dengan massa air yang berada diatasnya, akan membuat pengalihan energi menjadi lebih efisien, yaitu sekitar 20% dari produksi pada tiap tingkat trofik. Ilustrasi hubungan antara total produksi fitoplankton (produksi primer) dengan produksi ikan yang tertangkap, misalnya, produksi fitoplankton 4 x 1010 ton C/tahun, dengan efisiensi pengalihan energi sebesar 10% di samudera terbuka, maka produksi ikan pada tingkat trofik V (melalui 4 jenjang pengalihan trofik) adalah 4 x 10 6 ton C/ tahun. Jumlah Produk perikanan yang dapat ditangkap dan dipanen akan semakin efisien apabi;pa rantai pakannya lebih pendek. Ilustrasi tersebut dapat di lihat pada tabel 1 dan gambar 1.

Tabel 1. Produksi Pakan di Laut (Duxbury, dkk, 2002, dalam Nontji, 2008) Produksi Area Fitoplankton (ton C/th) Samudera Terbuka Kawasan Pantai Kawasan upwelling 39,9 x 109 8,6 x 109 0,23 x 109 Efisiensi Pengalihan Energi Trofik 10 % 15 % 20 % Tingkat Trofik biota yang akan di panen 5 4 2,5 Produksi perikanan (ton C/th) 4 x 104 29 x 106 4,6 x 106

Unit energi tersedia

II I

Anchovy 200

IV III

Herring 3,4

V IV III II

Tuna/ 0,1

Fitoplankton 1000

Zooplanklton karn/ 22,5

Ikan karni/ 1

A I

II

Zooplankton herb/ 150

Zooplanklton karn/ 10

Fitoplankton 1000

Zooplankton herb/ 100

I C

Fitoplankton 1000

Gambar 1. Antara Fitoplankton dan ikan yang di tangkap terpisah beberapa tingklat trofik. A) kawasan Upwelling : efisiensi 20% di tangkap pada trofik II, B) Perairan pantai : efisiensi 15%, ditangkap pada trofik IV, C) Perairan samudera terbuka: efisiensi10%, ditangkap pada trofik V, (Sumber : Duxbury dkk, 2002, dalam Nontji, 2008)

Pada Perairan Laut Banda dan Arafura, telah ada dua model empiric untuk menduga potensi produksi perikanan di perairan tersebut, yaitu pendugaan untuk perikanan pelagis dan perikanan demersal. Perikanan pelagis diduga dengan produktivitas perairan, perikanan demersal di duga dengan menggunakan produktivitas perairan dan kedalaman paparan rata-rata.

Tabel 2. Pendugaan Potensi Produksi Untuk Perikanan Pelagis dan Demersal Laut Banda
Produksi Primer rata2 (g C/m / th) Kedalaman Paparan rata-rata (m) Potensi perikanan pelagis (ton/km/th) Pelagis Kecil Pelagis Besar Potensi Perikanan Demersal (ton/km/tahun) 1,00 1,52 2,99 2,10 0,89 3,51 2,46 1,05
2

Laut Arafura
167 40

152 100

Sumber: Dalzell dan Pauly,(1990), dalam Nontji, (2008)

Tingginya kandungan klorofil di perairan mengindikasikan lokasi tersebut merupakan sumberpakan ikan yang subur. Akan tetapi sebaiknya informasi ini harus diteliti terlebih dahulu karena antara fitoplankton dengan jenis ikan yang akan ditangkap terpisah beberapa tingkat trofik. Jumlah fitoplankton dengan jumlah stok ikan yang tersedia bias terdapat perbedaan waktu (time lag) yang perlu diperhatikan.

Referensi Moninjta,D.R, A. Sularso, M.F.A. Sondita, A. Purbayanto. 2006. Perspektif Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Tangkap Laut Arafura. Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. FPIK IPB.Bogor. Nontji, A.2008.Plankton laut. Jakarta: LIPI Press. Risamasu, F.J.L. 2011. Peranan Suhu Dalam penentuan Daerah Penangkapan Ikan. Artikel Web. Siregar dan Waas. 2006. Identification of Oceanographic Parameters for Determining Pelagic Tuna Fishing Ground In The North Papua Waters Using Multi Sensor Satellite Data. Biotroviapol Journal 13. Num.I, 2006:37-48