Anda di halaman 1dari 4

KEBUN TANAMAN OBAT BADAN POM RI

LATAR BELAKANG DAN TUJUAN Indonesia dikenal sebagai negara dengan sumber daya hayati kedua terbesar yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Di Indonesia terdapat lebih kurang 30.000 jenis tumbuh-tumbuhan, lebih kurang 7.500 jenis diantaranya termasuk tanaman berkhasiat obat (Kotranas, 2006), lebih dari 1.800 jenis tanaman telah diidentifikasi dari beberapa formasi hutan, namun hingga saat ini pemanfaatannya belum optimal. Jumlah tanaman obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat baru sekitar 1.000 hingga 1.200 jenis, dan yang digunakan secara rutin dalam industri obat tradisional baru sekitar 300 jenis. Pada beberapa tahun terakhir ini, minat akan produk makanan maupun obat-obatan berbasis bahan baku alami semakin meningkat. Namun yang sangat penting dicermati adalah konsekuensi dari pemanfaatan sumber daya hayati tanaman berkhasiat obat tanpa upaya pembudidayaannya dan diperoleh dengan mengeksploitasi/ memanen secara liar, tentunya akan mendorong timbulnya kerusakan ekologi dan mengakibatkan laju kelangkaan tumbuhan di habitat alaminya semakin cepat. Sesuai dengan Keputusan Presiden RI Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2005, Keputusan Presiden RI Nomor 110 Tahun 2001 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Lembaga Pemerintah Non Departemen sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 52 Tahun 2005 dan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Nomor 02001/SK/KB/KBPOM Tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Obat dan Makanan sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor HK.00.05.21.4231 Tahun 2004, Direktorat Obat Asli Indonesia diberi wewenang untuk penetapan pedoman penggunaan, konservasi, pengembangan dan pengawasan tanaman obat. Sejalan penyelenggaraan fungsi Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) RI dalam penetapan pedoman penggunaan, konservasi, pengembangan dan pengawasan tanaman obat maka sebagai implementasinya Badan POM mengelola dan mengembangkan Kebun Tanaman Obat (KTO) seluas 3,2 Ha yang berlokasi di Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. KTO tersebut diharapkan menjadi sarana penunjang kegiatan pengembangan dan konservasi obat asli Indonesia melalui kegiatan penerapan budidaya tumbuhan obat secara konvensional maupun kultur jaringan; komunikasi, informasi dan edukasi; pengolahan pasca panen (pembuatan simplisia, ekstrak, penyulingan minyak atsiri); penyediaan bibit tanaman obat; serta bermanfaat untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap tumbuhan obat dan lingkungan.

FASILITAS Fasilitas yang tersedia saat ini di KTO Badan POM antara lain: Gedung Curcuma (Kantor); Gedung Hibiscus (Aula); Gedung Eurycoma (Laboratorium) terdiri dari: laboratorium kultur jaringan, laboratorium simplisia dan ekstrak,tempat penyulingan minyak atsiri, rumah kassa; Gedung Artemisia (Rumah Kaca), Gedung Myristica dan Valeriana (Mess), tempat pembibitan, petakan kebun koleksi dan perangkat lunak Sistem Informasi Kebun Tanaman Obat (SIKTOC).

KOLEKSI TANAMAN OBAT

KTO Badan POM saat ini telah memiliki koleksi 420 jenis tanaman obat. Koleksi tanaman obat tersebut walapun masih terbatas bila dibandingkan dengan jumlah tanaman yang secara empiris memiliki khasiat sebagai obat, namun dari waktu ke waktu diharapkan dapat terus diperbanyak terutama tumbuhan obat yang memiliki satu atau lebih kriteria yaitu: tumbuhan obat langka; bernilai ekonomi tinggi; tumbuhan obat yang kemanfaatannya sudah didukung data ilmiah dan banyak dimanfaatkan oleh industri obat tradisional; serta tumbuhan obat yang perbanyakan secara alami lambat atau sulit dilakukan karena memerlukan kondisi tertentu sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Koleksi tumbuhan obat tersebut ditata di areal kebun antara lain berdasarkan pada kekerabatannya.

KEGIATAN Kegiatan yang dilakukan di KTO Badan POM antara lain konservasi dan budidaya tanaman obat baik melalui metode konvensional maupun kultur jaringan, melakukan perbanyakan bibit unggul tanaman obat, pembuatan simplisia tanaman obat, pembuatan ekstrak tanaman obat. KTO Badan POM ke depan direncanakan dapat dikembangkan menjadi penyedia bibit unggul tanaman obat bagi petani/ industri obat tradisional, tempat pelatihan terhadap industri kecil obat tradisional tentang cara pembuatan simplisia dan ekstraksi yang baik. Disamping itu, terdapat juga kegiatan penyulingan minyak atsiri.