Anda di halaman 1dari 19

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)

PAKET PEKERJAAN :

PAGAR KELILING, PERATAAN TANAH (CUT AND FILL), PEMBANGUNAN JALAN ROW DAN JALAN INSPEKSI DI PUSDIKLAT PEMBANGUNAN KARAKTER APARATUR PERHUBUNGAN

KEMENTERIAN PERHUBUNGAN RI SEKRETARIAT BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERHUBUNGAN TAHUN ANGGARAN 2013

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) PAGAR KELILING , PERATAAN TANAH (CUT AND FILL), PEMBANGUNAN JALAN ROW, DAN JALAN INSPEKSI DI PUSDIKLAT PEMBANGUNAN KARAKTER APARATUR PERHUBUNGAN TAHUN ANGGARAN 2013 KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA UNIT ORGANISASI SATUAN KERJA : Kementerian Perhubungan : Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan : Sekretariat Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan PROGRAM SASARAN PROGRAM KEGIATAN PEKERJAAN : Pembangunan Karakter SDM : Pegawai : Konstruksi : Pagar Keliling , Perataan Tanah (Cut and Fill), pembangunan jalan row, dan jalan inspeksi.

BAB I

PENDAHULUAN 1.1. Dasar Hukum Dasar hukum yang mendasari pelaksanaan kegiatan ini antara lain: a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Pasal 3, Ayat (1): Keuangan Negara dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan; b. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mengamanatkan bahwa perencanaan pembangunan daerah adalah satu kesatuan dalam sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dengan tujuan untuk menjamin adanya keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi; c. Peraturan Penyusunan Ayat (2) Pemerintah Rencana Nomor Kerja 21 dan Tahun Anggaran 2004 tentang Kementerian

Negara/Lembaga, Pasal 7: Dalam penyusunan anggaran berbasis kinerja diperlukan indikator kinerja, standar biaya, dan evaluasi kinerja dari setiap program dan jenis kegiatan; Ayat (4) Menteri Keuangan menetapkan standar biaya, baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus bagi Pemerintah Pusat setelah berkoordinasi dengan Kementerian Negara/Lembaga terkait; d. e. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2012 tentang Sumber Daya Manusia di Bidang Transportasi. Peraturan Presiden R.I Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah;

f. g.

Peraturan Presiden R.I Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pengadan Barang/Jasa Pemerintah. Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Pereturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jassa Pemerintah.

h. i.

Peraturan Menteri Perhubungan KM. 52 Tahun 2007 tentang Pendidikan dan Pelatihan Transportasi; Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 7 Tahun 2010 tentang Rencana Strategis Kementerian Perhubungan Tahun 2010 2014;

1.2. Latar Belakang Sumber daya manusia merupakan unsur yang sangat penting dalam penyelenggaraan transportasi untuk dapat menjalankan peran transportasi dalam kehidupan bangsa dan negara yaitu sebagai urat nadi kehidupan ekonomi, sosial budaya, politik, dan pertahanan keamanan. Terwujudnya pelayanan transportasi yang andal, berdaya saing dan memberikan nilai tambah, sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas sumber daya manusia sebagai pelaksananya. Menyadari hal tersebut maka untuk mewujudkan sumber daya manusia di bidang transportasi yang prima, profesional, dan beretika sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang di Bidang Transportasi yang terdiri atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, perlu menyiapkan sumber daya manusia di bidang transportasi yang sesuai dengan kebutuhan.

Penyediaan dan pengembangan sumber daya manusia di bidang transportasi merupakan tanggung jawab pemerintah, yang di dalam penerapannya harus senantiasa diselenggarakan dengan berpedoman pada azas-azas umum pemerintahan yang baik serta mengedepankan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi baik dalam lingkup Pemerintah dan pemerintah daerah, dengan sektor pembangunan lainnya, dan seluruh pemangku kepentingan di dalam pengembangan sumber daya manusia di bidang transportasi. Pengembangan sumber daya manusia di bidang transportasi harus dilakukan secara merata di seluruh wilayah tanah air. Pemerintah dan pemerintah daerah beserta seluruh pemangku kepentingan dituntut peranannya untuk menyadarkan para pelaku kegiatan transportasi mengenai pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang transportasi. Mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2012 tentang Sumber Daya Manusia di Bidang Transportasi, pasal 1 : poin (1) Pendidikan dan Pelatihan di Bidang Transportasi yang selanjutnya disebut Diklat Transportasi adalah penyelenggaraan proses pembelajaran dan pelatihan dalam rangka meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan pembentukan sikap perilaku poin (6) Kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seseorang berupa seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dihayati dan dikuasai untuk melaksanakan tugas keprofesionalannya. sumber daya manusia yang diperlukan dalam penyelenggaraan transportasi.

pasal 2 : Sumber daya manusia di bidang transportasi, meliputi: a. sumber daya manusia di bidang lalu lintas dan angkutan jalan; b. sumber daya manusia di bidang perkeretaapian; c. sumber daya manusia di bidang pelayaran; d. sumber daya manusia di bidang penerbangan; dan e. sumber daya manusia di bidang multimoda transportasi. Sumber daya manusia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup sumber daya manusia yang menjalankan fungsi sebagai regulator, penyedia jasa transportasi, dan tenaga kerja di bidang transportasi. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan sebagai sebuah instituisi pendidikan yang mempunyai tanggung jawab mendidik, melatih dan menyiapkan sumber daya manusia perhubungan, yang berwawasan tinggi dan handal dalam bidangnya menyiapkan berbagai langkah strategis dalam rangka meletakkan suatu benchmark (acuan) ideal bagi terwujutnya sumber daya transportasi yang Prima, Profesional dan Beretika. Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi Badan Pengembangan SDM Perhubungan dalam mendidik dan melatih seluruh pegawai Kementerian Perhubungan mulai dari matra Darat, Laut dan Udara yang berjumlah 33.000 (tiga puluh tiga ribu) pegawai, pada saat ini akan dibangun Unit Pelayanan Teknis yang menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bidang pembangunan karakter sumber daya manusia perhubungan bersifat non teknis/non subtantif psikomotorik. Pembangunan karakter aparatur yang didalamnya dapat menyentuh tiga aspek: kognitif, afektif, dan perhubungan (pembentukan Soft Skill Competency) pada dasarnya akan

meliputi pengembangan kemampuan individu sehingga memiliki kemampuan memanage dirinya sendiri (intrapersonal skills), memanage hubungan dengan orang lain (interpersonal skills), memanage hubungan dengan organisasi tempat yang bersangkutan bekerja dan memanage hubungan dengan Tuhan YME. Saat ini telah berhasil dibebaskan lokasi tanah seluas 38.000 m2 (38 Ha) tepatnya berada di Desa Cibodas, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat yang berada pada ketinggian 1400 m dari permukaan laut di Pegunungan Cibodas berjarak sekitar 25 km dari kota Soreang dengan jarak tempuh sekitar 45 menit dari kota Bandung. Lokasi tersebut sangat ideal sebagai tempat pendidikan dan pelatihan pembangunan karakter (experiential learning) karena terletak pada daerah yang tidak langsung bersinggungan dengan pemukiman penduduk dan memiliki udara yang sejuk serta pemandangan yang indah. Lokasi tersebut akan dijadikan pusat pendidikan dan pelatihan pembangunan karakter aparatur perhubungan, yang dapat mendidik dan melatih 33.000 (tiga puluh tiga ribu) pegawai Kementerian Perhubungan, terdiri dari matra Darat, Laut dan Udara. Sejalan dengan perencanaan pembangunan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pembangunan Karakter Aparatur Perhubungan tersebut maka diperlukan pembangunan sarana dan prasarana penunjang kegiatan pendidikan dan pelatihan seperti lapangan upacara, area parkir, dan area gedung pusat yang lokasinya berada di wilayah yang memiliki kontur yang memiliki elevasi permukaan yang beragam dan memerlukan penyesuai dengan cara melaksanakan kegiatan perataan tanah (cut and fill). Selain itu pembangunan jalan row sepanjang 402 m dan jalan inspeksi yang mengelilingi area pusdiklat pembangunan karakter aparatur perhubungan sepanjang 3280 m.

Selain

sarana

dan

prasarana juga

penunjang diperlukan

kegiatan untuk

Pusdiklat

Pembangunan Karakter Aparatur Perhubungan kebutuhan akan pemagaran lingkungan menghindari tergarapnya lahan penduduk disekitar area pembangunan atau terjadinya penggunaan tanah aset milik Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Perhubungan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. 1.3. Tujuan Pembangunan sarana penunjang kegiatan pendidikan dan pelatihan pembangunan karakter aparatur perhubungan seperti lapangan upacara, area parkir, gedung kantor pusat, jalan row, dan jalan inspeksi. Selain itu pembangunan sarana pengamanan area lingkungan Pusdiklat Pembangunan Karakter Aparatur Perhubungan dengan cara melakukan pemagaran lingkungan. 1.4. Sasaran Tersedianya fasilitas penunjang kegiatan pendidikan dan pelatihan serta tersedianya di fasilitas Pusdiklat pengamanan Pembangunan aset milik Badan Aparatur Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Kementerian Perhubungan Perhubungan. 1.5. Ruang Lingkup Pembangunan sarana penunjang pendidikan dan pelatihan dan sarana pengamanan di Pusdiklat Pembangunan Karakter Aparatur Perhubungan terdiri dari beberapa kegiatan yang dilakukan secara bersamaan ataupun terpisah . Adapun kegiatan yang akan dilakukan berkaitan dengan pekerjaan pembangunan sarana penunjang pendidikan dan pelatihan serta sarana pengamanan lingkungan, antara lain : Karakter

1.

Pekerjaan

Pagar

Keliling

Pusdiklat

Pembangunan

Karakter

Aparatur Perhubungan memiliki tujuan untuk menghindari tergarapnya lahan penduduk disekitar area pembangunan dan juga untuk melindungi aset baik itu tanah ataupun gedung yang dimiliki oleh Badan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Kementerian Perhubungan sehingga penggunaan tanah ataupun bangunan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dapat dihindarkan. Panjang pemagaran lingkungan yang diperlukan adalah sepanjang 3800 m. 2. Pekerjaan Perataan tanah (Cut and Fill). Pekerjaan galian dan timbunan diperlukan untuk mendapatkan elevasi jalan rencana dengan cara menggali dan menimbun kondisi eksisting dengan menggunakan tanah urugan atau timbunan yang didapatkan dari luar lokasi proyek ataupun dari dalam lokasi proyek. Besarnya galian tanah ataupun urugan tanah disesuaikan dengan kebutuhan yang didasarkan pada elevasi jalan rencana yang terdapat pada masterplan atau DED pembangunan pusat pendidikan dan pelatihan pembangunan karakter aparatur perhubungan. Pekerjaan Galian dan Timbunan yang akan dilakukan diperuntukan untuk Lapangan Upacara, Gedung Kantor Pusat dan Area Parkir. 3. Pekerjaan pembangunan jalan row. Pembangunan jalan row dimaksudkan untuk memberikan aksesibilitas didalam area Pusdiklat jalan 6 m. 4. Pekerjaan pembangunan jalan inspeksi. Pembangunan jalan inspeksi bertujuan untuk memberikan lingkungan aksesibilitas disekitar untuk kepentingan inspeksi Pusdiklat Pembangunan Karakter Aparatur Perhubungan. Pembangunan jalan row sepanjang 400 m dengan lebar badan

Pembangunan Aparatur Perhubungan. Jalan inspeksi dibangun

mengelilingi area Pusdiklat Pembangunan Aparatur Perhubungan dengan panjang jalan 3280 m dengan lebar jalan 1,5 m. Semua sarana dan prasarana yang dibangun di Pusdiklat aspek

Pembangunan Aparatur

Perhubungan

mempertimbangkan

diantaranya mencakup persyaratan sebagai berikut : a. Peruntukan dan intensitas; b. Struktur Lingkungan; c. Kebisingan dan getaran; d. Kesehatan lingkungan; e. Ekonomis; f. Serta persyaratan yang sesuai dengan SNI (Standard Nasional Indonesia).

1.6.

KRITERIA

Pekerjaan yang akan dilaksanakan harus memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut : 1.6.1. KRITERIA UMUM

Pembangunan harus memperhatikan kriteria umum akses jalan yang disesuaikan berdasarkan fungsi dan kebutuhan jalan, yaitu: 1. Persyaratan Peruntukan dan Intensitas: a. Menjamin akses jalan dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. b. Menjamin keselamatan pengguna, masyarakat, dan lingkungan. c. Menjamin penggunaan lahan sesuai dengan fungsinya.

2.

Persyaratan Ketahanan : a. Menjamin struktur sarana dan prasarana yang akan dibangun dapat mendukung Beban rencana serta mampu bertahan dari perubahan iklim/cuaca yang terjadi. b. Sedemikian rupa sehingga mampu secara struktur stabil selama masa layan dan mampu bertahan sesuai umur rencana.

3.

Persyaratan geometrik : a. Menjamin keselamatan pengguna jalan dari struktur jalan dan juga dari bentuk geometrik jalan sehingga meningkatkan kenyamanan dan kemanan pada saat berkendara.

4.

Persyaratan konstruksi : a. Menjamin lahan kerja yang akan digunakan untuk pembangunan fisik pusdiklat pembangunan karakter aparatur perhubungan memenuhi persyaratan secara struktur untuk dilakukan kegiatan konstruksi diatasnya. b. Menjamin kondisi tanah yang digunakan untuk pekerjaan timbunan menggunakan tanah yang sesuai dengan peraturan yang berlaku.

1.6.2

KRITERIA KHUSUS

Kriteria khusus dimaksudkan untuk memberikan syarat-syarat yang khusus, spesifik berkaitan dengan pembangunan sarana dan prasarana yang akan dilaksanakan, baik dan segi fungsi khusus maupun segi teknis lainnya, misalnya:

1. Dikaitkan dengan upaya perbaikan kekuatan tanah sesuai dengan kebutuhan konstruksi yang akan dibangun diatasnya . 2. Solusi dan batasan-batasan kontekstual, seperti faktor sosial budaya setempat, geografi klimatologi, dan lain-lain. Selain kriteria diatas, di dalam pelaksanaannya kegiatan konstruksi hendaknya memperhatikan azas-azas pembangunan akses jalan yang sesuai dengan Masterplan dan DED sebagai berikut: A. Pembangunan sarana dan prasarana disesuaikan dengan kebutuhan dan sesuai dengan perencanaan. B. Metoda kerja disesuaikan dengan kondisi eksisting lokasi sehingga dalam pelaksanaan kegiatan konstruksi ini tidak mengganggu produktivitas kerja dan dapat diselesaikan dengan waktu dan biaya yang efektif dan efisien. C. Pembangunan dapat dilaksanakan dalam waktu yang efisien dan dapat dimanfaatkan secepatnya. Akses jalan yang akan dibuka hendaknya dapat meningkatkan kualitas lingkungan.

1.7.

TANGGUNG JAWAB KONTRAKTOR PELAKSANA 1. Dengan tidak mengurangi ketentuan dan keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 332/KPTS/M/2002 tanggal 21 Agustus 2002, Kontraktor bertanggung jawab untuk kerugian baik moril maupun material yang diterima sebagai akibat dari kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh Kontraktor atau orangorang yang bekerja untuk Konsultan Perencana pada waktu pelaksanaan tugas perencanaan jika kesalahan itu dibuat dalam keadaan yang seharusnya dapat dihindarkan dengan keahlian,

kewaspadaan serta cara perencanaan sesuai pedoman dan persyaratan. 2. Kontraktor tidak boleh merevisi/memperbaiki gambar kerja/disain apabila tanpa izin konsultan perencana. 3. Apabila dalam hal pengadaan kontraktor terjadi pelelangan ulang, maka pelelangan ulang tersebut masih dalam lingkup pekerjaan Konsultan Perencana. 4. Semua tugas pekerjaan yang tercantum dalam Surat Perjanjian dan ketepatan waktu penyelesaian pekerjaan dan merupakan ketentuan tanggung jawab Kontraktor. 5. Kontraktor harus mengetahui peraturan pemerintahan setempat dan dapat penyelesaian dan biayai pengurusan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). 6. Kontraktor harus dapat melakukan analisa dan estimasi mengenai kondisi tanah setempat terutama yang pada lokasi site sehingga dapat dipastikan struktur bangunan yang akan digunakan dan dapat dipastikan tidak akan menimbulkan keraguan dan permasalahan pada saat akan dilakukan tahap pembangunan fisik. 7. Mengurus perijinan sampai mendapatkan keterangan rencana kota, keterangan persyaratan bangunan dan lingkungan, dan IMB pendahuluan dari Pemerintah Daerah Setempat. 8. Mengadakan pengawasan berkala selama pelaksanaan konstruksi fisik dan melaksanakan satuan kerja seperti: a. Melakukan penyesuaian gambar dan spesifikasi teknis pelaksanaan bila ada perubahan dengan seizin konsultan perencana. b. Memberikan penjelasan terhadap persoalan-persoalan yang timbul selama masa pelaksanaan konstruksi. c. Memberikan saran-saran, pertimbangan dan rekomendasi tentang penggunaan bahan. d. Membuat laporan akhir pelaksanaan.

9. Menyusun buku petunjuk penggunaan peralatan bangunan dan perawatannya termasuk petunjuk yang menyangkut peralatan dan perlengkapan mekanikal-elektrikal bangunan. 10. Membantu Pemilik Pekerjaan/Satuan Kerja melakukan paparan di instansi terkait/Pemerintah Daerah, tentang detail pembangunan. 11. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS).
a. Rincian volume pelaksanaan pekerjaan, rencana anggaran biaya pekerjaan konstruksi . b. Laporan akhir pelaksanaan.

12. Kontraktor bertanggung jawab secara profesional hasil karya yang berlaku dilandasi Pasal 11 Undang Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi. 13. Apabila dalam hal pengadaan pelaksana terjadi pelelangan ulang, maka pelelangan ulang tersebut masih dalam lingkup pekerjaan Konsultan Perencana. 14. Semua tugas pekerjaan yang tercantum dalam Surat Perjanjian dan ketepatan waktu penyelesaian pekerjaan merupakan tanggung jawab Pelaksana. 15. Pelaksana harus dapat melakukan analisa dan estimasi mengenai kondisi tanah setempat terutama yang pada lokasi site sehingga dapat dipastikan struktur bangunan yang akan digunakan dan dapat dipastikan tidak akan menimbulkan keraguan dan permasalahan pada saat akan dilakukan tahap pembangunan fisik. 16. Mengadakan pengawasan berkala selama pelaksanaan perataan tanah dan melaksanakan satuan kerja seperti: a. Melakukan penyesuaian gambar dan spesifikasi teknis pelaksanaan bila ada perubahan dengan seizin perencana. b. Memberikan penjelasan terhadap persoalan-persoalan yang timbul selama masa pelaksanaan konstruksi. c. Memberikan saran-saran, pertimbangan dan rekomendasi tentang penggunaan bahan.

d. Membuat laporan akhir pelaksanaan. 17. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS). 1. Rincian volume pelaksanaan pekerjaan, rencana anggaran biaya pekerjaan konstruksi . 2. Laporan akhir pelaksanaan. 18. Pelaksana bertanggung jawab secara profesional hasil karya yang berlaku dilandasi Pasal 11 Undang Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi. 19. Melakukan analisa dan estimasi mengenai kondisi tanah setempat terutama yang pada lokasi site sehingga dapat memastikan struktur jalan yang akan digunakan dan dapat dipastikan tidak akan menimbulkan keraguan dan permasalahan pada saat penggunaanya selama umur rencana. 20. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS). a. Rincian volume pelaksanaan pekerjaan, rencana anggaran biaya pekerjaan konstruksi .
b.

Laporan akhir pelaksanaan.

1.8.

PROSES PELAKSANAAN 1. Dalam proses pelaksanaan untuk menghasilkan keluarankeluaran yang diminta, pelaksana harus menyusun jadwal pertemuan berkala dengan Pengelola Kegiatan. 2. Dalam pertemuan berkala tersebut ditentukan produk awal, antara dan pokok yang harus dihasilkan sesuai dengan rencana keluaran yang ditetapkan dalam dokumen pelaksanaan. 3. Dalam pelaksanaan tugas harus selalu memperhitungkan bahwa waktu pelaksanaan pekerjaan.

BAB II

KEGIATAN KONTRUKSI 2.1 Data Proyek : Pemilik Proyek : Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Pelaksana Teknis Kegiatan : Sekretariat Badan Sumber Daya

Manusia Perhubungan Nama Paket Kegiatan : Pemagaran Lingkungan, perataan tanah (cut and fill), pembangunan jalan row dan jalan inspeksi. Lokasi Paket Kegiatan : Desa Cibodas kecamatan Pasir Jambu Kabupaten Bandung Jangka Waktu Penyelesaian : 40 (Empat Puluh) hari kalender

2.2 Dasar Hukum :


1). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1999

tentang Jasa Konstruksi.


2). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2002

tentang Bangunan Gedung.


3). Undang-Undang Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun

1970 tentang Keselamatan Kerja.


4). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007

tentang Penataan Ruang.


5). Undang-Undang Republik Indonesia No.11 tahun 2010 tentang

Cagar Budaya.
6). Peraturan

Pemerintah

No.

29

Tahun

2000

tentang

Penyelenggaraan Jasa Konstruksi.

7). Keputusan Presiden RI Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman

Pelaksanaan

Pengadaan

Barang/Jasa

Instansi

Pemerintah,

sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 85 Tahun 2006.
8). Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 45/PRT/M/2007

tanggal

27

Desember

2007

tentang

Pedoman

Teknis

Pembangunan Bangunan Gedung Negara.


9). Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM.52 Tahun 2007

tentang Pendidikan dan Pelatihan Transportasi.


10). Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM.43 Tahun 2005

tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Perhubungan sebagaimana telah diubah terakhir dengan KM.37 Tahun 2006.
11). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 43/PRT/M/2007

tanggal 27 Desember 2007 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Jasa Konstruksi.
12). Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30/PRT/M/2006

tentang

Pedoman

Teknis

Fasilitas

dan

Aksesbilitas

pada

Bangunan Gedung dan Lingkungan. Standar Nasional Indonesia (SNI): SNI Tata Cara Perhitungan Harga Satuan Pekerjaan dibidang Sipil. 1. SNI DT-91-0006-2007 Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan tanah. 2. SNI DT-91-0008-2007 Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan beton. 3. SNI T-14-2004 Tentang geometrik jalan perkotaan. 4. SNI 03-3424-1994-Tentang tata cara perencanaan permukaan jalan.

5. SNI 03-1725-1989 Tata Cara Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya. 6. RSNI T-02-2005 (SNI jembatan). 7. SNI 7391 : 2008 Tentang spesifikasi penerangan jalan di wilayah perkotaan. 8. SNI 03-3438-1994 - Tata cara pembuatan rencana stabilisasi tanah dengan semen Portland . 9. SNI 03-3439-1994 - Tata cara pelaksanaan stabilisasi tanah dengan kapur untuk jalan. 10. SNI 03-3440-1994 - Tata cara pelaksanaan stabilisasi tanah dengan semen Portland untuk jalan. 11. SNI 03-4147-1996 - Spesifikasi kapur untuk stabilisasi tanah 12. SNI 03-1744-1989 - Metode Pengujian CBR Laboratorium. 13. Pd T-12-2003 - Perambuan sementara pada pekerjaan jalan 14. SNI 03-1738-1989 Tentang pengujian CBR lapangan. 15. SNI 03-1732-1989 tentang tata cara perencanaan tebal perkerasan lentur jalan raya. 16. SNI 03-6388-2000 tentang Spesifikasi agregat lapis pondasi bawah, lapis pondasi atas dan lapis permukaan 17. Pd T-05-2004-B Tentang pelaksanaan perkerasan jalan beton semen. dan SNI lainnya yang berkaitan dengan pekerjaan perencanaan jalan raya.

BAB III BIAYA PELAKSANAAN Anggaran biaya yang dibutuhkan untuk pekerjaan Pagar Keliling, Perataan tanah (cut and fill), Pembangunan Jalan ROW dan Jalan Inspeksi Pusdiklat Pembangunan Karakter Aparatur Perhubungan sebesar total Rp. 4.316.402.000.- (empat milyar tiga ratus enam belas juta empat ratus dua ribu rupiah). Lebih jelasnya rencana anggaran biaya dapat dilihat pada terlampir.