Anda di halaman 1dari 16

BAB IITINJAUAN PUSTAKA 2.1 Telur Telur merupakan salah satu pangan asal hewan selaindaging,ikandansusu.

Umumnya telur yang dikonsumsi berasal dari unggas, sepertiayam,bebek, danangsa(Muchtadi & Sugiyono 1992). Sebagai salah satu bahan pangan sumber protein yang sangat sempurna, telur mengandung asam amino esensial lengkapyang bermanfaat bagi tubuh manusia. Selain itu, telur mengandung berbagaivitamin dan mineral, termasuk vitamin A, riboflavin, asam folat, vitamin B6,vitamin B12, choline, besi, kalsium, fosfor serta potasium, dan memiliki dayacerna yang tinggi (Anonim 2007).Hampir semua telur unggas memiliki kandungan gizi yang sama, hanya berbeda pada jumlah dan komposisinya (Tabel 1). Sebutir telur dengan berat58 gram terdiri atas 11% kerabang telur, 58% putih telur, dan 31% kuning telur (Muchtadi & Sugiyono 1992). Telur ayam utuh tanpa kerabang telur terdiri atas65% bagian putih telur dan 35% kuning telur dan memiliki kandungan gizi yang berbeda. Komposisi kimia sebutir telur ayam dapat dilihat pada Tabel 2.Tabel 1 Komposisi kimia berbagai macam telur HewanKadar air (%)Protein(%)Lemak (%)Karbohidrat(%)Abu(%)Ayam 73.7 12.9 11.5 0.9 1.0Itik 70.4 13.3 14.5 0.7 1.1Angsa 70.4 13.9 13.3 1.5 -Merpati 72.8 13.8 12.0 0.8 0.9Puyuh 73.7 13.1 11.1 1.0 1.1Kalkun 72.6 13.1 11.8 1.7 0.8Penyu 66.7 16.6 11.6 3.3 1.9 Sumber: Muchtadi & Sugiyono (1992)

T I N J A U A N P U S T A K A Pengertian Pengemasan dan Kemasan Pengemasan merupakan suatu cara dalammemberikan kondisi sekeliling yang tepat bagi bahan pangan dan dengan demikian membutuhkan pemikiran dan perhatian yang lebih besar daripadayang biasanya diketahui (Buckle, dkk. 2007). Herudiyanto (2009), pengemasan merupakan suatuusaha yang bertujuan untuk melindungi bahan pangan dari penyebab-penyebab kerusakan fisik, kimia, biologis maupun mekanis sehingga dapatsampai ke tangan konsumen dalam keadaan baik danmenarik.

Pendahuluan Keamanan pangan merupakan persyaratan utama yang semakin penting di era perdagangan bebas. Masalah pentingnya keamanan pangan juga telah tercantum dalam Deklarasi Gizi Dunia dalam Konferensi Gizi Internasional pada tanggal 11 Desember 1992 kesempatan untuk mendap atkan pangan yang bergizi dan aman adalah hak setiap orang (ICD/SEAMEO TROPMED RCCN 1999). Pangan yang aman, bermutu, bergizi, berada dan tersedia cukup merupakan prasyarat utama yang harus dipenuhi dalam upaya terselenggaranya suatu sistem pangan yang memberikan perlindungan bagi kepentingan kesehatan serta makan berperan dalam meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Setiap negara membutuhkan program keamanan pangan yang efektif untuk melindungi kesehatan

bangsa dan berpartisipasi dalam produk perdagangan pangan internasional. Perdagangan merupakan pendorong penting bagi pengembangan ekonomi suatu negara dan dengan ekonomi global saat ini, tidak mungkin suatu negara tetap mengisolasi dari perubahan tuntutan persyaratan internasional tentang peraturan keamanan pangan. Berkaitan dengan pengaturan pangan, Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan. Undang-undang tersebut merupakan landasam hukum bagi pengaturan, pembinaan, dan pengawasan terhadap kegiatan atau proses produksi, peredaran, dan atau perdagangan pangan. Undang-undang ini juga merupakan acuan dari berbagai peraturan perundangan yang berkaitan dengan pangan. Agar Undang-undang Pangan ini dapat diterapkan dengan mantap, maka pemerintah melengkapinya dengan Peraturan Pemerintah. Salah satu peraturan pemerintah yang telah ditetapkan adalah Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan. Pangan asal hewan seperti daging, susu dan telur serta hasil olahannya umumnya bersifat mudah rusak (perishable) dan memiliki potensi mengandung bahaya biologik, kimiawi dan atau fisik, yang dikenal sebagai potentially hazardous foods (PHF). Oleh sebab itu, penanganan produk tersebut harus higienis.

Keamanan Pangan Asal Hewan Menurut Codex Alimentarius (FAO/WHO 1997), keamanan pangan didefinisikan sebagai jaminan bahwa pangan tidak akan menyebabkan bahaya bagi konsumen saat disiapkan dan atau dikonsumsi sesuai dengan tujuan penggunaannya. Dalam Undang-Undang Pangan, definisi keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia. Persediaan pangan yang aman dan tidak membahayakan kesehatan konsumen melalui pencemaran kimia, biologi atau yang lain adalah hal penting untuk mencapai status gizi yang baik. Perlindungan konsumen dan pencegahan terhadap penyakit yang disebabkan oleh makanan ( foodborne illness) adalah dua elemen penting dalam suatu program keamanan pangan, dan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, industri pangan (produsen) dan konsumen. Pangan asal hewan memiliki potensi mengandung bahaya biologis, kimia dan atau fisik yang dapat mengganggu kesehatan manusia. Selain itu, pangan asal hewan juga dapat membawa agen penyakit hewan (bakteri, cacing, protozoa, prion) yang dapat menular ke manusia atau yang dikenal dengan zoonosis, antara lain antraks, salmonelosis, bruselosis, toksoplasmosis, sistiserkosis, bovine spongioform encephalopathie). Menurut WHO (2005), sekitar 75% penyakit-penyakit baru yang menyerang manusia dalam 2 dasa warsa terakhir disebabkan oleh patogen-patogen yang berasal dari hewan atau produk hewan. Dengan demikian, pangan asal hewan lebih berpotensi berbahaya dibandingkan pangan nabati karena dapat menyebabkan zoonosis pada konsumen. Oleh sebab itu, aspek keamanan pangan asal hewan perlu mendapat perhatian khusus.

Pangan Asal Hewan yang ASUH Kebijakan pemerintah dalam penyediaan pangan asal hewan di Indonesia didasarkan atas pangan yang aman, sehat, utuh dan halal atau dikenal dengan ASUH. Hal tersebut sejalan dengan keamanan ( safety) dan kelayakan (suitability) pangan untuk dikonsumsi manusia yang ditetapkan oleh Codex Alimentarius. Aman berarti tidak mengandung penyakit dan residu, serta unsur lain yang dapat menyebabkan penyakit dan mengganggu kesehatan manusia. Sehat berarti mengandung zat-zat yang berguna dan seimbang bagi kesehatan dan pertumbuhan tubuh. Utuh berarti tidak dicampur dengan bagian lain dari hewan tersebut atau dipalsukan dengan bagian dari hewan lain. Halal berarti disembelih dan ditangani sesuai dengan syariat agama Islam.

Masalah Pangan Asal Hewan di Indonesia Beberapa masalah yang terkait dengan ASUH di Indonesia antara lain cemaran mikroorganisme (E. coli, Staphylococcus aureus), antraks, residu antibiotika, residu hormon, cemaran mikotoksin, penggunaan formalin pada daging ayam, penggunaan boraks pada daging olahan, pemalsuan daging (daging sapi dengan daging celeng), penjualan ayam bangkai, penggunaan bahan pewarna non-pangan untuk daging ayam, penyuntikan air ke dalam daging ayam, daging sapi glonggongan. Namun data yang terkait dengan permasalahan tersebut relatif jarang, hanya beberapa yang dilaporkan secara tertulis dan dilakukan pengawasan, seperti Pelaksanaan Monitoring dan Surveillans Residu (PMSR) terhadap cemaran mikroorganisme dan residu antibiotik yang telah dilaksanakan oleh BPMPP (Balai Pengujian Mutu Produk Peternakan), BPPV (Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner), dan Laboratorium Kesmavet. Masalah ASUH yang terkait dengan sistem penyediaan antara lain higiene sanitasi, tidak ada pengawasan dan pemeriksaan yang konsisten (misalnya pemeriksaan kesehatan hewan dan kesehatan daging di RPH/RPU), belum adanya penegakan hukum, serta belum adanya sistem kesehatan masyarakat veteriner yang bertanggung jawab terhadap keamanan, kesehatan dan kelayakan pangan asal hewan.

Higiene Sanitasi Istilah sanitasi dan higiene memiliki arti yang berbeda. Definisi sanitasi adalah menciptakan segala sesuatu yang higienis dan kondisi yang menyehatkan. Tujuan sanitasi ini adalah untuk meningkatkan atau mempertahankan suatu tempat atau benda yang sehat sehingga tidak berpengaruh negatif terhadap lingkungan hidup kita. Sedangkan definisi higiene adalah seluruh tindakan untuk mencegah atau mengurangi kejadian bahaya terhadap kesehatan dan lingkungan. Secara umum, sanitasi lebih ditekankan terhadap lingkungan di sekitar pangan, sedangkan higiene ditekankan terhadap pangan itu sendiri. Penerapan higiene dan sanitasi secara umum dikenal sebagai Good Hygienic Practices (GHP) atau Good Manufacturing Practices (GMP), yang diterapkan dalam setiap tahapan dan dijadikan pedoman pada setiap tahapan tersebut. Penerapan GHP mulai dari peternakan sampai di meja meliputi Good Farming Practices (GFP), Good Veterinary Practices (GVP), Good Miliking Practices (GMP), Good Handling Practices (GHP), Good Transportation Practices (GTP), Good Slaughtering Practices (GSP), Good Handling Practices (GHP), Good Distribution Practices (GDP), Good Manufacturing Practices (GMP) dan Good Catering Practices (GCP). Secara umum praktek higiene dan sanitasi pada pangan mencakup penerapan pada personal, bangunan, peralatan, proses produksi, penyimpanan dan distribusi (Luning et al. 2003). Dalam sistem jaminan keamanan pangan, penerapan praktek higiene merupakan persyaratan dasar mutlak. Adanya cemaran mikroorganisme pada pangan asal hewan umumnya terkait dengan praktek higiene sanitasi yang kurang baik selama proses penyediaan pangan tersebut. Sebagai contoh dalam penyediaan daging, terutama Rumah Pemotongan Hewan. Dilihat dari mata rantai penyediaan daging di Indonesia, maka salah satu tahapan terpenting adalah penyembelihan hewan di RPH. Jumlah RPH di Indonesia menurut Buku Statistik Peternakan 2003 sebanyak 777 RPH sapi/kerbau dan 208 RPH babi. Namun secara umum, lokasi dan kondisi hampir seluruh RPH tersebut tidak lagi memenuhi persyaratan, baik dari aspek lingkungan, higiene dan sanitasi. Umumnya RPH yang ada saat ini dibangun sejak zaman penjajahan Belanda (+ 50-70 tahun), dikelola oleh pemerintah daerah dan proses penyembelihan hewan dilakukan secara tradisional. Kondisi RPH yang demikian sangat mempengaruhi kualitas dan keamanan daging.

Menjaga dan Menciptakan Pangan Asal Hewan yang ASUH

Untuk menjaga, menciptakan dan meningkatkan program ASUH pada pangan asal hewan, maka perlu penerapan sistem jaminan keamanan dan mutu pangan asal hewan secara bertahap, terencana dan berkesinambungan dengan tetap memperhatikan sumberdaya lokal (alat, manusia dan metode). Pada tahap awal, konsep better practice atau best practice perlu direncanakan dan diterapkan sebagai bagian dari penerapan Good Hygienic Practice (GHP) atau Good Manufacturing Practice (GMP). Dalam konsep tersebut, terdapat perpaduan atau campuran antara metode/cara konvensional dan cara modern. Praktek higiene diterapkan mulai dari hal yang relatif mudah dan sederhana. Sistem jaminan keamanan dan kualitas pangan asal hewan dirancang dan dikembangkan sebagai bagian dari Sistem Kesehatan Masyarakat Veteriner (Siskesmavet). Siskesmavet ini harus dirancang, dikembangkan dan diimplementasikan. Agar sistem berjalan baik, maka perlu ditopang dengan peraturan perundangan yang diikuti dengan penegakan hukum yang konsisten, organisasi yang baik dan tangguh, penyediaan sarana dan prasarana fisik, sumberdaya manusia yang mumpuni, serta anggaran dana yang memadai dan operasional. Peningkatan pengetahuan sumberdaya manusia baik di pemerintah, produsen atau stakeholder, maupun konsumen diperlukan untuk menumbuhkan pemahaman, kesadaran dan kepedulian. Komitmen dan konsistensi Pemerintah di tingkat pusat dan daerah untuk penyediaan pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH) sangat mutlak.

Kesimpulan 1. Pangan asal hewan dikategorikan sebagai pangan yang mudah rusak dan berpotensi berbahaya. Untuk penyediaan pangan asal hewan yang ASUH diperlukan penerapan sistem jaminan keamanan dan mutu pangan pada setiap tahapan dalam mata rantai penyediaannya, mulai dari peternakan sampai ke meja makan atau dikenal sebagai konsep safe from farm to table. 2. Pengembangan konsep better practice atau best practice pada praktek penyediaan pangan asal hewan menuju perbaikan higiene dan sanitasi yang terus menerus sangat diperlukan sebagai bagian dari penerapan Good Hygienic Practice dalam penyediaan pangan asal hewan. 3. Untuk menjaga dan menciptakan pangan asal hewan yang ASUH diperlukan perancangan, pengembangan dan implementasi sistem keamanan dan mutu pangan asal hewan. Sistem tersebut ditunjang oleh sarana dan prasarana fisik, sumberdaya manusia, organisasi dan dana yang memadai.

Daftar Pustaka FAO/WHO. 1997. Food Hygiene Basic Texts. FAO and WHO, Rome. ICD/SEAMEO TROPMED RCCN. 1999. Isu Mengenai Keamanan Pangan: Pedoman untuk Meningkatkan Program Keamanan Pangan Nasional. SEAMEO Tropmed RCCN UI, Jakarta. Luning, PA, Marcelis, WJ, Jongen WMF. 2003. Food Management Quality a Techno-Managerial Approach. Wageningen Pers, Wageningen. Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan. Peraturan Pemerintah RI Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan WHO. 2005. Zoonoses and veterinary public health. http://www.who.int/zoonoses/v[h/en/ [6 April 2005].

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Umum Karantina Hewan Karantina hewan adalah tempat pengasingan dari atau tindakan sebagai upaya pencegahan masuk dan tersebarnya hama dan penyakit hewan karantina dari luar negeri dan dari suatu area ke area lain di dalam negeri atau keluarnya dari dalam wilayah Negara Republik Indonesia. 2.2. Kedudukan, Tugas dan Fungsi Karantina Hewan 2.2.1. Kedudukan Karantina hewan berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada kepala pusat karantina pertanian dan secara administratif operasional dikoordinasikan oleh kepala kantor wilayah Departemen Pertanian setempat 2.2.2. Visi Pelayanan karantina hewan yang Terpercaya, Tangguh, Profesional, Rasional dan mandiri (Tepat Prima) berwawasan agribisnis, peduli lingkungan dan global untuk mendukung Sistem karantina Pertanian Nasional. 2.2.3. Misi a. Melindungi SDA hayati fauna dari ancaman penyakit hewan dari luar negeri b. Mempertahankan status bebasnya Indonesia dari penyakit hewan menular utama ( Major Epizootic Diseases). c. Mewujudkan pelayanan karantina hewan yang mandiri dan professional terhadap lalu lintas hewan dan produk hewan dan media pembawa lain beik ekspor, impor dan antar area dalam wilayah Republik Indonesia. d. Optimalisasi pengawasan lalu lintas media pembawa hama dan penyakit hewan karantina antar pulau/ area dalam wilayah negara Republik Indonesia e. Sertifikasi kesehatan terhadap tindakan karantina hewan dan produk hewan serta media lainnya yang dilalu lintaskan baik antar negara maupun antar pulau/ area yang memenuhi standar internasional. 2.2.4. Tugas Tugas Pokok Badan Karantina Pertanian adalah melaksanakan perkarantinaan tumbuhan tanaman pangan hortikultura dan tanaman perkebunan, serta hewan dan pengawasan keamanan hayati terhadap hewan, produk hewan, tumbuhan dan produk tumbuhan yang diimport, diekspor, dan diantar areakan Tugas karantina hewan adalah : a. Mencegah masuknya hama dan penyakit hewan karantina dari luar negeri ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia b. Mencegah tersebarnya hama dan penyakit hewan karantina dari suatu area ke area lain di dalam wilayah Negara Republik Indonesia c. Mencegah keluarnya hama dan penyakit hewan karantina dari wilayah Negara Republik Indonesia 2.2.5. Fungsi Fungsi karantina hewan adalah : a. Tindakan karantina terhadap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina di tempat pemasukan dan pengeluaran. b. Pengembangan teknik dan metode tindakan karantina hewan c. Pemetaan daerah sebar hama dan penyakit hewan karantina

d. Pembuatan koleksi hama dan penyakit hewan karantina e. Pengumpulan dan pengolahan data tindakan karantian hewan f. Urusan tata usaha dan rumah tangga Balai Besar Karantina Hewan g. Pengawasan dan pemeriksaan lalu lintas hewan dan produk hewan 2.3. Landasan Hukum Karantina Hewan 1. Undang - Undang Republik Indonesia No. 16 tahun 1992 tentang karantina hewan, ikan dan tumbuhan. 2. Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2000 tentang Karantina Hewan 3. Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 2004 tentang tarif atas jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak ( PNBP) yang berlaku pada Departemen Pertanian 4. Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 442/Kpts/LB.720/6/1988 tentang Peraturan Karantina Hewan 5. Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 206/ Kpts/TN.530/3/2003 tentang Penggolongan jenis - jenis hama dan penyakit hewan karantina dan Penggolongan dan Klasifikasi media pembawa 2. 4. Struktur Organisasi Balai Besar Karantina Hewan Tanjung Perak Balai Karantina Pertanian membawahi Pusat Karantina Hewan yang memiliki Unit Pelaksana Teknis, yaitu : Balai Besar Karantina Hewan Balai Karantina Hewan Stasiun Karantina Hewan Kelas I Stasiun Karantina Hewan Kelas 2 Berdasarkan SK Mentan No.501/Kpts/OT.210/8/2002 tanggal 21 Agustus 2002, Balai Karantina Hewan wilayah III berubah menjadi Balai Besar Karantina Hewan Tanjung Perak yang berada di pelabuhan laut Tanjung Perak Surabaya dengan wilayah kerja meliputi : 1. Bandar Udara Juanda - Surabaya 2. Pelabuhan laut Gresik - Gresik 3. Pelabuhan Laut Kalibuntu - Probolinggo 4. Pelabuhan Laut Kalbut - Situbondo 5. Pelabuhan penyeberangan Ketapang - Banyuwangi 6. Pelabuhan Laut Sangkapura - P. Bawean Bagan struktur organisasi Balai Besar Karantina Hewan Tanjung Perak SK Mentan No. 619/Kpts/OT.140/12/2003 tanggal 22-12-2003 2.5. Tindakan Karantina Hewan Adalah semua tindakan yang bertujuan untuk mencegah masuk keluarnya hama dan penyakit hewan karantina ke dalam dan dari wilayah Republik Indonesia dan mencegah tersebarnya hama dan penyakit hewan karantina dari satu pulau ke pulau lain dalam Republik Indonesia, meliputi : 1. Pemeriksaan Tindakan yang dilakukan untuk mengetahui kelengkapan dan kebenaran isi dokumen dan mendeteksi hama penyakit hewan karantina, status kesehatan dan sanitasi media pembawa, atau keyakan sarana prasarana karantina dan alat angkut 2. Pengasingan 3. Pengamatan 4. Perlakuan Pengasingan, pengamatan dan perlakuan dilakukan apabila pemeriksaan fisik tidak dapat dilakukan di tempat pemasukan/pengeluaran atau memerlukan pemeriksaan lebih cermat dan memerlukan waktu yang lama, menurut pertimbangan dokter hewan karantina 5. Penahanan

Dilakukan bila : dokumen tidak lengkap, terdapat ketidaksesuaian antara dokumen dan fisik, terdapat kecurigaan adanya hama penyakit hewan karantina 6. Penolakan Dokumen tidak sesuai dengan fisik/tidak dapat dilengkapi dalam waktu tertentu, terdapat kecurigaan adanya hama penyakit hewan karantina eksotik, terdapat hama penyakit hewan karantina yang tidak dapat dibebaskan atau disembuhkan. 7. Pemusnahan Setelah dilakukan tindakan penolakan, pemilik/kuasanya tidak menyanggupi sesuai waktu yang ditentukan, selama masa pengasingan ditemukan adanya hama penyakit hewan karantina eksotik atau terdapat hama penyakit hewan karantina yang tidak dapat dibebaskan atau disembuhkan. 8. Pembebasan Semua tindakan karantina yang dipersyaratkan telah dilaksanakan atau tidak ditemukan hama penyakit hewan menular, memenuhi kewajiban terhadap imbalan jasa karantina sesuai peraturan yang berlaku 2.6. Media Pembawa Hama dan penyakit Hewan Karantina Karantina hewan mempunyai kewenangan mengawasi lalu lintas dan melakukan tindak karantina hewan terhadap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina baik ekspor, impor, pemasukan maupun pengeluaran antar area atau domestik yang terdiri dari : 1. Semua jenis hewan 2. Bahan Asal Hewan : Bahan yang berasal dari hewan yang dapat diolah lebih lanjut seperti daging, telur, susu, jerohan, kulit, darah, tanduk, tulang, sarang burung wallet, rnadu, embrio beku, mani beku, hewan opset. 3. Hasil Bahan Asal Hewan : Bahan asal hewan yang telah diolah seperti sosis, bakso, dendeng, abon, keju, cream, yugurt, mentega. 4. Media Pembawa Lain : berupa pakan hewan, ternak (pellet, konsentrat, hay, silase, cubes meal), pakan burung, pakan hewan kesayangan (cecak, ulat, kadal, tokek, kecoa, belalang, jangkrik, pet food) 5. Benda lain : adalah media pembawa yang bukan tergolong hewan, bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan yang mempunyai potensi penyebab hama dan penyakit hewan berupa bahan biologik seperti vaksin, sera, hormon, obat hewan, dan bahan diagnostik lainnya seperti antigen, media pertumbuhan. 6. Alat angkut : berupa alat angkut udara, perairan, darat dan kemasan 2.7. Persyaratan dan Prosedur Lain Lintas Hewan dan Produknya 2.7.1 Persyaratan dan Prosedur Impor 1. Berasal dari negara yang tidak dilarang pemasukannya 2. Dilengkapi surat Persetujuan Impor / pemasukan dari Dirjen Bina Produksi Peternakan 3. Surat keterangan Kesehatan Hewan ( Health Certificate) dari negara asal 4. Sertifikat halal untuk produk hewan yang akan dikonsumsi manusia 5. Surat Keterangan Asal (Certificate of Origin) dari negara asal; Bill of loading dari bea cukai negara asal 6. Surat Ijin Pengeluaran (CITES) dari pemerintah negara asal (CITES Authority) untuk satwa liar 7. Melalui tempat- tempat yang ditetapkan 8. Dilaporkan 2 hari sebelum pemasukan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat pemasukan untuk keperluan tindakan karantina hewan 9. Untuk barang tentengan dilaporkan pada saat pemasukan 10.Keterangan mutasi muatan untuk hewan, bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan

11.Dilakukan tindak karantina hewan sesuai PP no 82 tahun 2000 yaitu : a. Pemeriksaan dokumen oleh Balai Besar Karantina Hewan yang bersangkutan b. Dokter hewan karantina meberikan persetujuan untuk bongkar atau menolak pembongkaran c. Perintah masuk karantina d. Selama dalam karantina dilaksanakan pemeriksaan klinis dan laboratorium e. Setelah masa karantina berakhir (ternak = l4 hari, DOC = 21 hari, burung = 21 hari, hewan lainnya = l4 hari) maka diberikan sertifikat pembebasan oleh Balai Besar Karantina Hewan 2.7.2. Persyaratan dan Prosedur ekspor 1. Memenuhi persyaratan yang diminta oleh Negara penerima 2. Dilengkapi Surat Persetujuan Ekspor atau pengeluaran dari Dirjen Bina Produksi Peternakan 3. Surat Ijin Pengeluaran (CITES) dari Dirjen PHKA khusus satwa liar 4. Melalui tempat-tempat pengeluaran yang telah ditetapkan 5. Dilaporkan 2 hari sebelum pengeluaran dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat pengeluaran untuk keperluan tindakan karantina hewan 6. Untuk barang tentengan dilaporkan pada saat pengeluaran 7. Dilakukan Tindak Karantina Hewan sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2000, yaitu : Dokter Hewan Karantina melakukan pemeriksaan fisik di perusahaan sebelum dilakukan pengemasan Pemberian sertifikat kesehatan oleh Balai Besar Karantina Hewan 2.7.3. Persyaratan dan prosedur pengeluaran domestik l. Berasal dari daerah yang sedang tidak terjangkit penyakit hewan karantina berdasarkan rekomendasi dari dinas peternakan setempat 2. Surat ljin pemasukan dari daerah penerima jika dipersyaratkan 3. Dilakukan tindak karantina hewan sesuai PP No.82 tahun 2000

2.7.4. Persyaratan dan prosedur pemasukan domestik l. Berasal dari daerah yang sedang tidak terjangkit penyakit hewan karantina 2.Dilengkapi sertifikat kesehatan dari karantina hewan daerah asal 3.Dilakukan tindak karantina hewan sesuai PP No. 82 tahun 2000 Apabila dokumen tidak lengkap, maka dilakukan penahaan selama 7 hari untuk memberikan kesempatan pemilik untuk melengkapi dokumen yang diperlukan. Jika selama kurun waktu yang diberikan tidak dapat melengkapi maka barang akan disita atau dimusnahkan dengan dibuat berita acaranya. 2.7.5. Persyaratan transit Transit biasanya dilakukan untuk keperluan perbaikan karena adanya kerusakan, kehabisan bahan baker atau karena incidental cases, persyaratannya sebagai berikut : l. Persetujuan transit pada tempat-tempat yang telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri 2. Dilengkapi sertifikat kesehatan hewan dan harus berada di bawah pengawasan dokter hewan karantina selama transit 2.8. Sertifikat Karantina Hewan Setiap komoditi yang masuk dan keluar domestik, ekspor dan impor mempunyai sertifikat tersendiri, yaitu : KH 1. Pemeriksaan KH 2. Pengasingan KH 3. Pengamatan

KH 4. Perlakuan KH 5. Penahanan KH 6. Penolakan KH 7. Pemusnahan KH 8. Pembebasan KH 9. Kesehatan Hewan KH 10. Kesehatan anjing, kucing, dan kera KH 11. Kesehatan unggas KH 12. Kesehatan DOC, DOD, dan telur tetas KH 13. Produk Hewan Pangan KH 14. Sanitasi produk hewan non pangan KH 15. Pakan ternak dan benda lain KH 16. Non pangan, vaksin, spesimen, semen beku,sanitasi produk 2.9. Pintu masuk Balai Besar Karantina Hewan Tanjung Perak memiliki banyak entry point yang harus diperiksa komoditasnya yaitu pada pintu masuk : - Nilam - Berlian Barat - Berlian Tlmur - Mirah - Jamrud Utara - Jamrud Selatan - Kalimas Selain itu dimungkinkan juga pemeriksaan dilakukan pada depo-depo penumpukan container dan terminal peti kemas (ICT) 2.10. Penggolongan Hama dan Penyakit Hewan Karantina (SK Mentan 206/Kpts/TN. 530/3/2003) a. Penyakit karantina hewan golongan I - PMK - Avian Encephalomyelitis - Rinderpest - Nipon Virus - Lumpy Skin Disease - Japanese Encephalitis - African Horse Disease - Leishmaniasis - Rift Valley Fever - Hog Cholera - Blue Tongue - Duck Virus Enteritis - Cacar kambing & domba - Duck Virus Hepatitis - Glanders - African Swine Fever - Equin Infectious Anemia - Swine Vesicular Disease - Scrapie - Avian Influensa - Vesicular Stomatitis - Mad Cow - Transmissible Gastroenteritis of Swine - Contagious Bovine Pleuropneumonia b. Penyakit karantina hewan golongan II - Rabies - Pseudorabies - Black Leg

- Pseudotuberculosis - Anthrax - Vibriosis - Leukosis sapi - Actinomycosis - SE - Lepra Kerbau - Trichomoniasis - Scabies - Anaplasmosis - Penyakit ingusan sapi - Thieleriosis - Stephanofilariasis - Brucellosis - Jembrana - Pseudo malleus - Ingus terang - Hydatiasis - Babesiosis - Cysticercosis - TBC - Contagious pustular - Dermatitis - Ring worm - Erysipelas - ND IBR

Latar Belakang Bakso merupakan makanan yang sudah dikenal baik dikalangan masyarakat luas. Selain karena rasanyayang enak dan gurih, juga karena makanan ini sangat mudah ditemukan. Bakso tidak perlu susah payah ditemukankarena sebagian besar penjual bakso menjajakan dagangannya setiap hari ditempat yang sama.Bakso yang mudah ditemukan adalah bakso yang terbuat dari daging sapi. Teksturnya kenyal, berwarnaabu-abu, aromanya harum dan berbau rempah, serta rasanya gurih. Selain bakso yang terbuat dari daging, ada jugabakso yang terbuat dari surimi. Bakso ini disebut dengan bakso ikan.Bakso ikan hampir sama dengan bakso yang terbuat dari daging. Perbedaannya hanya terletak pada bahanbaku, yaitu ikan. Ikan yang digunakan dalam pembuatan bakso ikan bervariasi, tergantung rasa yang diinginkan.Kekenyalan dapat diatur berdasarkan tepung tapioka yang digunakan.Salah satu ikan yang dapat digunakan untuk membuat bakso ikan adalah ikan kakap. Kakap putih sangatbaik digunakan karena dagingnya yang putih dapat mempengaruhi warna bakso yang dihasilkan, sehingga baksoyang dihasilkan berwarna putih cerah. Beberapa bahan tambahan seperti bawang merah, bawang putih, merica,garam, gula pasir, dan telur, bakso ikan dapat dibuat dengan mudah. Oleh karena itu, praktikum ini perludilaksanakan agar dapat diketahui proses pembuatan dari bakso ikan.

Bahan Tambahan Pangan Berbahaya dalam Pangan Asal Hewan PendahuluanKeamanan pangan merupakan persyaratan utama yang semakin penting di era perdagangan bebas. Masalah pentingnya keamanan pangan juga telah tercantum dalam Deklarasi Gizi Duniadalam Konferensi Gizi Internasional pada tanggal 11 Desember 1992 kesempatan untuk mendapatkan pangan yang bergizi dan aman adalah hak setiap orang (ICD/SEAMEOTROPMED RCCN 1999). Pangan yang aman, bermutu, bergizi, berada dan tersedia cukupmerupakan prasyarat utama yang harus dipenuhi dalam upaya terselenggaranya suatu sistem pangan yang memberikan perlindungan bagi kepentingan kesehatan serta makan berperan dalammeningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.Setiap negara membutuhkan program keamanan pangan yang efektif untuk melindungikesehatan bangsa dan berpartisipasi dalam produk perdagangan pangan internasional.Perdagangan merupakan pendorong penting bagi pengembangan ekonomi suatu negara dandengan ekonomi global saat ini, tidak mungkin suatu negara tetap mengisolasi dari perubahantuntutan persyaratan internasional tentang peraturan keamanan pangan. Berkaitan dengan pengaturan pangan, Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentangPangan. Undang-undang tersebut merupakan landasam hukum bagi pengaturan, pembinaan, dan pengawasan terhadap kegiatan atau proses produksi, peredaran, dan atau perdagangan pangan.Undang-undang ini juga merupakan acuan dari berbagai peraturan perundangan yang berkaitandengan pangan. Agar Undang-undang Pangan ini dapat diterapkan dengan mantap, maka pemerintah melengkapinya dengan Peraturan Pemerintah. Salah satu peraturan pemerintah yangtelah ditetapkan adalah Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutudan Gizi Pangan.Pangan asal hewan seperti daging, susu dan telur serta hasil olahannya umumnya bersifat mudahrusak (perishable) dan memiliki potensi mengandung bahaya biologik, kimiawi dan atau fisik,yang dikenal sebagai potentially hazardous foods (PHF). Hal tersebut berhubungan denganfaktor intrinsik pangan asal hewan yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme. Selain itu, pangan asal hewan secara alami memiliki enzim-

enzim yang dapat mengurai protein dan lemak sehingga terjadi autolisis. Oleh sebab itu, telah banyak cara atau metode yang dikembangkanuntuk mengawetkan pangan dengan cara menghambat pembusukan dengan mengurangi ataumenghilangkan mikroorganisme pembusuk dalam pangan asal hewan, bahkan juga dapatmengurangi dan menghilangkan mikroorganisme patogen.Salah satu metode pengawetan pangan adalah pemakaian bahan tambahan pangan (BTP). Dariaspek keamanan pangan, pemakaian BTP yang salah dan berlebihan dapat membawa dampak negatif bagi kesehatan konsumen.Bahan Tambahan PanganBahan tambahan pangan (BTP) adalah bahan atau campuran bahan yang secara alamai bukanmeruapakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi ditambahkan ke dalam pangan untuk

Latar Belakang
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan panjang garis pantai sepanjang 81.000 km memiliki potensi kekayaan sumber daya kelautan dan perikanan yang besar. Kekayaan sumberdaya alam kelautan dan perikanan tersebut telah memberikan kontribusi terhadap kehidupan penduduk Indonesia diantaranya sebagai sumber pangan, neutraceutical, kosmetik dan bioenergi. Bahan-bahan tersebut dapat dijadikan sebagai sumber devisa negara dan prime mover perekonomian bangsa melalui ekspor berbagai produk perikanan sumberdaya hayati (SDH) laut non ikan. Potensi tersebut selama ini belum dimanfaatkan secara ekonomis di Indonesia. Kekayaan SDH juga menjadikan Indonesia memiliki peluang mengembangkan industri berbasis bioteknologi seperti enzim dan bahan baku industri farmasi dan industri lainnya yang selama ini sebagian besar masih impor. Disebutkan bahwa potensi farmasi dan kosmetika dari SDH laut dapat mencapai 81 triliun rupiah (Kompas 23 Feb, 2012). Karena itu, perlu digali potensi SDH laut, yang dapat dijadikan sumber ekonomi terbarukan. Indonesia dengan wilayah lautan meliputi 70% tidak saja menyimpan kekayaan biodiversitas tetapi juga memiliki kekayaan bahan kimia aktif. Bahan kimia aktif tersebut memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai pangan, obat-obatan, kosmetik dan lain sebagainya. Biota laut seperti spons, koral, rumput laut, hewan lunak merupakan sumber yang kaya akan senyawa bioaktif dengan aktivitas sebagai anti kanker, anti tumor, antidepresi, antiinflamatori, immunomodulator, antioksidan dan antibiotik. Explorasi dan pemanfaatan biodiversitas sumberdaya hayati laut (SDH) untuk memperoleh bahan obat, makanan, kosmetik, agrokimia, bioenergi, biopigmen alami dan aplikasi industri lainnya disebut sebagai kegiatan bioprospeksi laut. Kegiatan ini dipandamg sebagai pintu gerbang pertama dalam kegiatan bioteknologi kelautan dengan kegiatan berupa isolasi, purifikasi dan determinasi senyawa bioaktif. Selanjutnya, untuk membawa temuan ini menjadi ketingkat yang lebih lanjut yaitu produksi dan komersialisasi, maka peran bioteknologi sangat penting untuk memperoleh teknologi pemanfaatan yang bersifat lestari dan tidak merusak ekosistem wilayah laut dimana SDH penghasil bahan akti laut tersebut hidup. Oleh sebab itu dipandang

perlu untuk menyelenggarakan kegiatan seminar tentang bioteknologi kelautan dan perikanan yang termasuk didalamnya adalah kegiatan eksplorasi bahan alam, budidaya, pasca panen dan pengolahan, keamanan pangan dan lingkungan, biodiversitas dan SDH Laut, dan bioenergi dalam mendukung industrialisasi kelautan dan perikanan. Peserta berasal dari perguruan tinggi negeri maupun swasta peneliti berbagai lembaga-lembaga penelitian maupun kalangan swasta. Peningkatan jumlah peserta dan makalah yang dipresentasikan pada setiap tahunnya menunjukkan bahwa pemangku kepentingan (stakeholder) di bidang perikanan dan kelautan memerlukan wahana untuk mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan. Oleh karena itu, seminar ini diagendakan akan dilaksanakan pada setiap tahunnya pada bulan oOktober sampai November diaitkan dengan Dies Natalis UNDIP