Anda di halaman 1dari 43

UNIVERSITAS GUNADARMA FAKULTAS PSIKOLOGI

GAMBARAN KELEKATAN (attachment) REMAJA AKHIR PUTRI DENGAN IBU (STUDI KASUS)

Disusun Oleh Nama NPM Jurusan : Astrid Wiwik Liliana : 10502034 : Psikologi

Pembimbing : Siti Mufattahah, Psi.

Diajukan Guna Melengkapi Sebagaian Syarat Dalam Mencapai Gelar Sarjana Strata Satu (S1)

DEPOK 2009

ABSTRAKSI

Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Agustus 2008 Astrid Wiwik Liliana 10502034 Gambaran Kelekatan (attachment) Remaja Akhir Putri Dengan Ibu Vii + 88 halaman + lampiran; 5 bab Adanya fenomena yang terjadi di masyarakat, dimana seorang remaja akhir putri yang memiliki kelekatan (attachment) dengan ibunya. Kebutuhan akan kelekatan pada ibu menjadi hal yang penting dalam kehidupan seorang individu, demikian pula pada remaja. Selain itu, kelekatan pada ibu merupakan suatu langkah awal dalam proses perkembangan dan sosialisasi. Hal ini berarti bahwa kelekatan anak pada ibu selanjutnya akan dialihkan pada lingkungan sosialnya, karena keluarga merupakan tempat pertama bagi anak belajar bersosialisasi. Tujuan diadakan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kelekatan (attachment) antara remaja akhir putri dengan ibunya, faktor-faktor yang mempengaruhi kelekatan (attachment) remaja akhir putri terhadap ibunya, dan apa manfaat dan fungsi kelekatan (attachment) antara remaja putri dengan ibunya. Sedangkan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang berbentuk studi kasus dengan subjek penelitian seorang remaja akhir putri yang memiliki kelekatan (attachment) dengan ibunya. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode wawancarabebas terpimpin yang didukung oleh metode observasi langsung. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa secara umum kelekatan (attachment) pada subjek dengan ibu cenderung cukup baik. Dapat dilihat dari ciri-ciri subjek yang memiliki secure attachment, dimana subjek percaya bahwa orang lain menilai positif tentang dirinya, subjek percaya bahwa orang masih akan masih mencintai dan menghargainya. Subjek menilai figur attachment yang adalah ibunya, merupakan sesosok figur yang yang dapat dipercaya, selalu memperhatikan dan menyayangi subjek dimanapun, dan kapanpun subjek membutuhkan ibunya. Selain itu di dalam keluarga subjek lebih mudah menjalin hubungan dengan ibunya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kelekatan antara subjek dengan ibu adalah bahwa subjek memiliki kepuasan terhadap ibunya dalam kasih sayang, perhatian yang ditunjukkan ibu kepada subjek. Adanya reaksi atau merespon setiap tingkah laku yang menunjukkan perhatian disaat subjek sedang membutuhkan dekapan hangat dari ibu, membutuhkan perhatian yang lebih dari ibu, maka ibu merespon positif setiap tingkah laku yang ditunjukkan subjek kepada ibunya. Seringnya bertemu dengan subjek, maka subjek akan memberikan kelekatannya. Dalam penelitian ini terdapat fungsi kelekatan antara subjek dengan ibunya adalah subjek merasakan kehangatan dan kenyamanan bersama kedua orang tua subjek, terutama dengan ibunya. Disaat subjek sedang dalam keadaan tertekan atau sedang dalam menghadapi masalah, subjek selalu datang

kepada ibunya untuk meminta perlindungan dan pertolongan yang dibutuhkan subjek. Berdasarkan hasil penelitian, maka saran yang diajukan peneliti kepada subjek dapat membina hubungan didalam keluarga menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya, meskipun subjek sangat lekat dengan ibu tetapi ayah sebagai kepala rumah tangga jangan sampai diabaikan, tetap menjalin hubungan yang lebih baik lagi dengan ayah. Hubungan emosional yang terbentuk antara remaja akhir putri dengan ibu nampaknya dipengaruhi oleh komunikasi dan keterbukaan masing-masing dalam mengungkapkan perasaan dan pikiran. Dengan demikian, diharapkan remaja akhir putri dapat kebih terbuka kepada orang tua, sehingga awal dari hubungan yang lebih baik diantara keduanya Kepada para ibu disarankan untuk menjalin hubungan dengan remaja akhir putri dengan baik, anggaplah mereka seperti seorang sahabat, sehingga seorang anak tidak sungkan-sungkan untuk berbagi cerita dan kasih dengan ibunya

Kata kunci : Kelekatan (attachment), Remaja

KATA PENGANTAR

Puji Tuhan dan syukur-ku sampaikan kepada Tuhan Yesus Kristus yang senantiasa memberikan izin, berkat, kekuatan, surprise dan penghiburan kepada penulis selama menyelesaikan skripsi ini. Meskipun penuh perjuangan, banyak rintangan, halangan, gangguan, air mata tetapi berkatNya ku bisa menyelesaikan skripsi ini. Adapun maksud dan tujuan penulisan ini untuk memenuhi, melengkapi syaratsyarat untuk mencapai gelar sarjana strata satu (S1) fakultas Psikologi Universitas Gunadarma. Penulisan ini berjudul Gambaran Kelekatan (attachment) Remaja Akhir Putri Dengan Ibu. Tak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu baik dalam proses penulisan maupun penyelesaian Skripsi ini, antara lain : 1. Ibu Prof. Dr. E. S. Margianti, SE., MM., selaku Rektor Universitas Gunadarma. 2. Bapak Prof. Dr. A. M. Heru Basuki, M.Psi., selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma. 3. Ibu Dona Eka Putri, M.Psi., selaku Ketua Jurusan Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma. 4. Ibu Siti Mufattahah, Psi., selaku Dosen Pembimbing. 5. Kedua orang tua tercinta, Bapak dan Mama yang telah memberikan kasih sayang, serta semangat yang tak henti-hentinya baik yang bersifat materi maupun non materi & doa-doa. Selain itu, terima kasih juga kepada adik penulis yang telah meluangkan waktu untuk membantu (sedikit mengetik) dan menyemangati penulis & udah jadi TUKANG OJEK kalo g minta anterin fotokopi...Cepetan lo juga harus cepet SELESAI... 6. Kepada teman-teman kuliah seperjuangan konsul Selly, Indah, Hadian, Novita (AYO CEPAT KALIAN JUGA PASTI BISA, JANGAN PATAH SEMANGAT). Andre (BT), kak Yuli, Lili, Alin hei...akhirnya kita Wisuda bareng juga Welcome To The JCC, Betty (Bet..Bet..akhirnya wisuda juga, penantian panjang nih...& Thx buat tumpangan motornya si Honda Express, detik-detik terakhir nganterin g ke rumah Bu Retna..(darurat bos) hehehe...buat saling menyemangatinya thx bro..Bos

bagi kerjaan donk...). Atid ndut, Ririn (Ayo cuy cepet...), Indri (thx udah buat tenang batin g, dan dorongannya...), Irma, Lulu (Thx untuk spiritnya), dan temanteman yang lain yang tidak bisa dituliskan namanya satu persatu terima kasih buat persahabatannya selama ini (selama 6 tahun di Gundar,,,,,wah males bgt yah bow kelamaan di Gundar). Akhir kata, penulis berharap agar penulisan skripsi ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. GBU.

Depok, Mei 2009

(Penulis)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Kelekatan (attachment) adalah ikatan kasih sayang dari seseorang terhadap pribadi lain yang khusus (Allish, 1998). Pada usia yang sangat dini, ikatan ini adalah antara bayi dan orang tuanya, dan sebagian besar adalah antara bayi dengan ibunya. Ikatan antara bayi dan orang tuanya ini merupakan ikatan yang primer, dan ikatan dengan pribadi yang lain adalah bersifat sekunder. Ikatan ini juga merupakan keterikatan yang bersifat emosi, dengan kata lain adalah ikatan kasih. Riset menunjukkan bahwa dari usia yang sangat dini sampai usia dua tahun, perkembangan anak yang normal sangat dipengaruhi oleh faktor kelekatan ini. Ditemukan juga bahwa hubungan kasih dan ketergantungan ini merupakan suatu awal kehidupan yang baik. Hal ini akan sangat mempengaruhi kehidupan seorang anak baik dalam perkembangan kepribadiannya, maupun perkembangan hubungan sosialnya. Freud juga berpandangan bahwa kelekatan ini sebagai suatu hal yang penting bagi perkembangan anak

(http//www.geocities.kebutuhan anak.com). Anak yang mendapatkan kelekatan (attachment) yang cukup, akan merasa aman (secure) dan lebih positif terhadap kelompoknya, menunjukkan interes yang lebih besar di dalam mengajak bermain. Anak-anak ini juga lebih bersifat sosial tidak hanya dengan kelompoknya, tetapi juga dengan kelompok usia lain/intergenerasi. Studi terhadap anakanak prasekolah menunjukkan dengan jelas bahwa anak yang mendapatkan "secure attachment" lebih mampu menjalin relasi dengan anak lain daripada yang mengalami "insecure atttachment" (Matas dalam Hetherington & Parke, 1999). Yang harus diperhatikan oleh orang tua adalah anak juga membutuhkan keleluasaan untuk bereksplorasi. Padahal kelekatan (attachment) ini menjadikan anak dekat dengan ibunya. Karena itu, anak juga harus diberikan keseimbangan antara kelekatan (attachment) dengan eksplorasi. Kelekatan berbeda dengan perlindungan yang berlebihan terhadap anak. Anak-anak membutuhkan waktu-waktu dimana anak dapat bermain sendiri. Namun demikian, jikalau pada masa awalnya anak telah mendapatkan

kelekatan yang aman, lebih menunjukkan keseimbangan yang baik antara kelekatan dengan eksplorasi dari pada anak yang tidak mendapatkan atau yang ambivalen (Elsa, 2000 dalam http//www.kompas-online.kedekatan-anak.com). Kelekatan (attachment) yang mula-mula juga mempengaruhi perkembangan kognitif anak. Hal ini sangat berhubungan dengan kebutuhan anak, bahkan sebelum kebiasaan kelekatan itu dimulai. Walaupun secara sosialisasi kelompok pengaruh kelekatan ini tidak terlalu jelas secara ilmiah, tetapi anak yang mengalami kelekatan yang aman (secure attahment) lebih mampu berinteraksi dengan kelompoknya. Dan secara kepribadian, akan lebih berkembang baik dalam hal-hal yang berpengaruh positif, kemandirian, empati, dan kemampuan-kemampuan dalam situasi sosial. Dengan demikian hubungan kelekatan (attachment) ini merupakan dasar penting bagi tingkah laku selanjutnya (Matas, dalam Hetherington & Parke, 1999). Sebaliknya anak-anak yang kurang terpenuhi kebutuhan kelekatannya, baik yang ambivalen atau yang tidak aman, akan cenderung pasif, membutuhkan waktu yang lebih lama di dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya atau kelompoknya, dan kurang nyaman di dalam interaksi sosialnya (Matas, dalam Hetherington & Parke, 1999). Meneliti mengenai remaja merupakan hal yang menyenangkan dan penelitian mengenai remaja pun semakin waktu semakin banyak dilakukan. Kehidupan remaja memang menarik karena dalam masa remaja ada beberapa hal perubahan yang terjadi yang menuntut perhatian remaja, antara lain terjadinya perubahan fisik, proses pencarian jati diri, persahabatan di dalam peer group, interaksi dengan keluarga, dan sebagainya. Dalam pandangan orang dewasa, remaja seringkali menjadi sasaran dari rasa cemas dan frustasi, bahkan hingga saat ini masa remaja sering di pandang sebagai masa yang menegangkan dan menyulitkan. (Hurlock, 1991) Masa remaja merupakan periode dari perubahan yang dramatis terhadap perubahan relasi kelekatan (attachment). Masa remaja merupakan masa yang menentukan bagi proses perkembangan dimana interaksi dengan orang tua sudah terbentuk di pikiran dan tingkah laku sejak masih anak-anak, dimana untuk mempersiapkan mereka berinteraksi dengan orang lain diluar keluarganya. Lebih lanjut dikemukakan bahwa para remaja yang memiliki keluarga yang berfungsi dengan baik tetap menggunakan orang tuanya sebagai dasar yang aman dimana mereka dapat meneruskan penguasaan mereka

dibidang pendidikan, pekerjaan, dan sosial serta kesempatan-kesempatan lainnya (Hurlock, 1991). Keluarga adalah tempat yang penting dimana anak memperoleh dasar dalam membentuk kemampuannya agar kelak menjadi orang berhasil di masyarakat. Dapat diketahui bahwa keluarga menjadi tempat yang paling penting bagi remaja untuk pembentukkan sosial dan emosional remaja khususnya kondisi remaja yang sedang memasuki masa perubahan atau transisi (Gunarsa & Gunarsa, 2004). Remaja dalam keluarga tentu tidak akan lepas dari masalah, karena remaja pasti akan berhubungan dengan anggota lain dalam keluarga yang tentunya berbeda-beda kebutuhannya. Ada masalah akibat hubungan anak-orang tua, masalah karena hubungan ayah-ibu, masalah dengan saudara, masalah dengan sanak keluarga lain dan masalahmasalah sosiokultural seperti masalah keuangan. Masalah dalam keluarga juga dipengaruhi faktor lain seperti masalah seksual, penyalahgunaan obat dan alkohol serta kenakalan remaja (Sarwono, 2006). Secara umum kebutuhan yang diperlukan remaja adalah ingin berbagi masalah yang mereka hadapi terutama dengan keluarga (orang tua dan saudara), ingin lebih dekat dengan keluarga, ingin diperlakukan seperti orang dewasa dan ingin agar orang-orang dewasa disekelilingnya mengerti apa yang mereka butuhkan (http://www.depdiknas/kebudayaan.go.id). Menurut Bowlby (dalam Monks, dkk, 2002) tokoh ibu menjadi sosok yang cukup sentral dalam relasi antara remaja dan orang tua. Bowlby juga memaparkan bahwa dalam sebuah keluarga seringkali yang dipersepsikan sebagai keluarga oleh anak-anak adalah tokoh ibu. Kebanyakan orang mengasosiasikan ibu memiliki kualitas seperti hangat, tidak mementingkan diri sendiri, menjalankan kewajibannya dengan setia, dan toleran. Ibu adalah tokoh yang mendidik anak-anaknya, seorang tokoh yang dapat melakukan apa saja untuk anaknya, yang dapat mengurus serta memenuhi kebutuhan fisiknya dengan penuh pengertian. Ibu memiliki lebih banyak peranan dan kesempatan dalam mengembangkan anak-anaknya, karena lebih banyak waktu yang digunakan bersama anak-anaknya. Ia juga merupakan ibu yang selalu datang bilamana anak menemui kesulitan, hal ini dapat terlaksana bila ibu memainkan peranannya yang hangat dan akrab, melaui hubungan yang berkesinambungan dengan anaknya (Gunarsa & Gunarsa, 2006). Ibu juga memiliki peran dan tanggung jawab penuh meyakinkan bahwa

anak tetap berada pada jalan yang benar, sehingga ibu memiliki penekanan pada pentingnya membawa anak dalam lingkungan yang tepat dan bila remaja gagal hidup di lingkungan sosial dengan baik atau memiliki masalah perkembangan, maka sumber dari masalah tersebut adalah terletak pada ibu. Lebih lanjut Santrock (2003) menyatakan bahwa pada remaja akhir juga mengasosiasikan ibu dengan kualitas yang positif seperti hangat, tidak mementingkan diri sendiri, memenuhi kewajiban dan toleran, sehingga remaja akhir memiliki kelekatan (attachment) terhadap ibunya (Santrock, 2003). Penelitian yang dilakukan oleh Madnawidjaya (2001) terhadap 3 remaja putri berusia 11-21 tahun mengenai Gambaran Penghayatan Remaja Putri Atas Hubungan Dengan Orangtua dan Teman Sebaya Terhadap Pembentukkan Identitas Diri. Dari penelitian kualitatif tersebut diperoleh hasil, hubungan ibu yang dekat membuat remaja putri mampu membentuk pertemanan yang cukup akrab dan seimbang dalam arti ibu dapat dijadikan teman berbagi. Dukungan ibu membuat eksplorasi lebih nyaman dan bebas. Hubungan orangtua yang dekat khususnya dengan ibu membuat remaja putri lebih santai menjalani pertemanan dan tidak tertekan bila tidak dengan segera dapat menyesuaikan diri dalam situasi yang baru. Kebutuhan akan kelekatan (attachment) pada ibu menjadi hal yang penting dalam kehidupan seorang individu, demikian pula pada remaja akhir. Kelekatan (attachment) pada ibu merupakan suatu langkah awal dalam proses perkembangan dan sosialisasi. Hal ini berarti bahwa kelekatan (attachment) anak pada ibu selanjutnya akan dialihkan pada lingkungan sosialnya, karena keluarga merupakan tempat pertama bagi anak belajar bersosialisasi. Sekarang remaja sudah semakin tumbuh dewasa, maka ia akan memerlukan orang lain bukan hanya keluarganya saja. Ini semua terjadi karena remaja ingin menunjukkan eksistensinya di masyarakat (http://www.e-psikologi/keluarga.com). Peneliti menentukan topik tersebut selain berdasarkan penjabaran teori dan beberapa penelitian yang telah dipaparkan di atas juga karena asumsi pribadi yang menyatakan bahwa kelekatan (attachment) dengan ibu merupakan hal yang sangat penting khususnya ketika nanti remaja akan menghadapi kehidupan yang lebih luas, sehingga pada saat ini peneliti juga memiliki keinginan untuk meneliti mengenai gambaran kelekatan (attachment) remaja akhir putri dengan ibu, peneliti mengambil subjek remaja putri karena biasanya remaja putri lebih dekat dengan ibu.

B. Pertanyaan Penelitian Peneliti ingin mengetahui gambaran pertanyaan penelitian antara lain : 1. Bagaimana gambaran kelekatan (attachment) antara remaja putri dengan ibunya ? 2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi kelekatan (attachment) antara remaja putri dengan ibunya ? 3. Apa saja fungsi dari kelekatan (attachment) antara remaja putri dengan ibunya? C. Tujuan Penelitian Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kelekatan (attachment) antara remaja akhir putri dengan ibunya, faktor-faktor yang mempengaruhi kelekatan (attachment) remaja akhir putri terhadap ibunya, dan apa fungsi kelekatan (attachment) antara remaja putri dengan ibunya. D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Secara teoritis penelitian ini berguna untuk menambah wawasan pengetahuan psikologi, seperti psikologi perkembangan khususnya perkembangan remaja dan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan kelekatan (attachment) remaja akhir putri dengan ibu. 2. Manfaat Praktis Memberikan gambaran kepada masyarakat tentang keunikan pada masa remaja dan manfaat kedekatan orang tua khususnya ibu kepada remaja dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan remaja dan acuan konseling untuk ibu dalam menyelesaikan permasalahan remaja.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kelekatan (attachment) Pengertian Kelekatan (attachment) Kelekatan (attachment) pertama kali dikembangkan oleh Bowlby pada tahun 1958 yang mengatakan bahwa bayi mendemonstrasikan kedekatan mereka kepada ibunya melalui beberapa tipe perilaku seperti menghisap, mengikuti, menangis, dan tersenyum (Santrock, 2003). Ainsworth (dalam Collin, 1996) mengatakan kelekatan (attachment) merupakan ikatan emosional yang terus menerus ditandai dengan kecenderungan untuk mencari dan memantapkan kedekatan terhadap tokoh tertentu, khususnya ketika sedang berada dalam kondisi yang menekan. Herbert (dalam Marat 2006) mengatakan kelekatan (attachment) mengacu pada ikatan antara dua orang individu atau lebih, sifatnya adalah hubungan psikologis yang diskriminatif dan spesifik, serta mengikat seseorang dengan orang lain dalam rentang waktu dan ruang tertentu. Myers (dalam Marat 2006) mengatakan tidak ada tingkah laku sosial yang lebih mencolok dibanding dengan kekuatan ini, dan perasaan saling cinta antara bayi dan ibu ini disebut dengan kelekatan (attachment). Jadi, dari penjelasan para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kelekatan (attachment) merupakan suatu ikatan afeksi yang kuat dan bertahan dalam waktu yang lama terhadap figur tertentu yang ditandai oleh adanya keinginan untuk mencari dan memelihara kedekatan dengan figur tersebut terutama pada saat-saat yang menekan untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman. Model Kelekatan (attachment) Menurut Bowlby dan Ainsworth (dalam Santrock, 2003), menyebutkan attachment style terbagi ke dalam dua kelompok besar yaitu secure attachment dan insecure attachment, individu yang mendapatkan secure attachment adalah percaya diri, optimis, serta mampu membina hubungan dekat dengan orang lain, sedangkan

individu yang mendapatkan insecure attachment adalah menarik diri, tidak nyaman dalam sebuah kedekatan, memiliki emosi yang berlebihan, dan sebisa mungkin mengurangi ketergantungan terhadap orang lain. Apabila figur attachment seperti orang tua atau pun pelatih mampu memberikan secure attachment kepada individu maka untuk seterusnya individu tersebut cenderung akan mencari mereka setiap kali dirinya mendapat masalah atau berada dalam situasi tertekan. Hal itu terjadi karena figur attachment-nya tersebut telah menjadi secure base bagi dirinya (Aisworth, dalam Santrock, 2002). Perasaan secure dan insecure yang dimiliki seseorang tergantung dari internal working models of attachment yang dimilikinya (Bowlby dalam Collins & Feeney, 2004). Working models of attachment adalah representasi umum tentang bagaimana orang terdekatnya akan berespon dan memberikan dukungan setiap kali ia membutuhkan mereka dan bahwa dirinya sangat mendapat perhatian dan dukungan. Working models of attachment ini memainkan peran dalam membentuk kognisi, afeksi, dan perilaku seseorang dalam konteks yang berhubungan dengan attachment (Collins & Feeney, 2004). Working model dibentuk dari pengalaman masa lalu individu dengan figur attachment-nya, apakah figur tersebut adalah orang yang sensitif, selalu ada, konsisten, dapat dipercaya dan sebagainya. Individu yang mendapat secure attachment akan mengembangkan sebuah working model tentang dirinya sebagi orang yang dicintai dan memandang orang lain dekat, perhatian, dan responsif terhadap kebutuhan mereka. Di sisi lain, individu yang mendapat insecure attachment akan mengembangkan working model tentang dirinya sebagai orang yang tidak berharga atau tidak kompeten, dan memandang orang lain sebagai menolak atau tidak responsif terhadap kebutuhan mereka (Collins & Feeney, 2004). Variasi Kelekatan atau Kualitas Kelekatan (Attachment) Berdasarkan hasil penelitian esperimen dan observasional, Ainsworth (Davies, 1999) tentang Strange Situation, membagi kualitas attachment menjagi dua bagian utama yaitu secure dan insecure attachment. Selanjutnya insecure attachment dibagi lagi menjadi empat tipe, yaitu insecure attached avoidant attachment, securely attached infant, insecurely attached resinstant infant dan disorganized / disoriented attached.

a) Insecure Attached Avoidant Attachment (Type A ) Anak menolak kehadiran ibu, menampakkan permusuhan, kurang memiliki resiliensi ego dan kurang mampu mengekspresikan emosi negatif (Cicchetti dan Toth,1995). Selain itu anak juga tampak mengacuhkan dan kurang tertarik dengan kehadiran ibu (Dishion, French dan Patterson,1995). b) Securely Attached Infant (Type B) Ibu digunakan sebagai dasar eksplorasi. Anak berada dekat ibu untuk beberapa saat kemudian melakukan eksplorasi, anak kembali pada ibu ketika ada orang asing, tapi memberikan senyuman apabila ada ibu didekatnya (Cicchetti dan Toth,1995) Anak merasa terganggu ketika ibu pergi dan menunjukkan kebahagiaan ketika ibu kembali. c) Insecurely Attached Resinstant Infant (Type C) Menunjukkan keengganan untuk mengeksplorasi lingkungan. Tampak impulsive, helpless dan kurang kontrol (Cicchetti dan Toth,1995). Beberapa tampak selalu menempel pada ibu dan bersembunyi dari orang asing. Anak tampak sedih ketika ditinggal ibu dan sulit untuk tenang kembali meskipun ibu telah kembali. Mampu mengekspresikan emosi negatif namun dengan reaksi yang berlebihan. d) Disorganized/ Disoriented Attached (Type D) Ini merupakan tipe kempat yang dihasilkan dari pengembangan eksperimen yang dilakukan oleh Main, Hesse dan Solomon (dalam Dishion, Frech dan Patterson, 1995; Cummings, 2003). Ditemukan pada anak-anak yang mengalami salah pengasuhan (maltreated) dimana kekacauan emosi terlihat saat episode pertemuan kembali dengan ibu. Perilaku mereka tampak sangat tidak terorganisasi, mengalami konflik dalam dirinya serta menunjukkan kedekatan sekaligus penolakan. Adakalanya secara langsung menunjukkan kekhawatiran dan penolakan yang lebih besar pada ibu dibandingkan dengan orang asing. Berdasarkan variasi kelekatan tersebut kemudian dikelompokkan menjadi kelompok kelekatan yang aman (secure attachment) yaitu Tipe B dan kelompok kelekatan yang tidak aman (insecure attachment) yaitu Tipe A, Tipe C dan Tipe D.

Ainsworth (dalam Belsky,1988) menemukan bahwa anak yang memiliki kelekatan yang tidak aman mengalami masalah dalam hubungan dengan pengasuh atau figur lekat sebaliknya anak yang memiliki kelekatan aman memiliki pola hubungan dengan kualitas yang sangat baik. Anak dengan kelekatan insecure avoidant memiliki ibu yang tidak sensitif terhadap sinyal yang diberikan bayi dalam berbagai situasi pengasuhan dan situasi bermain. Sedangkan anak dengan kelekatan insecure resistant memiliki ibu yang tidak menyukai kontak fisik dengan anak dan memiliki ekspresi emosional yang kurang memadai atau kurang ekspresif, ibu juga menunjukan sikap yang tidak konsisten. Berbeda dengan anak yang memiliki pola kelekatan tidak aman, anak yang memiliki kelekatan aman (secure attached) memiliki ibu yang responsif pada kebutuhan dan sinyal-sinyal yang diberikan bayi dan mempunyai sikap yang konsisten. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa anak yang memiliki kualitas kelekatan yang paling baik adalah anak dengan kelekatan aman (Tipe B). Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa attachment dibedakan dua bagian utama yaitu secure dan insecure attachment. Selanjutnya insecure attachment dibagi lagi menjadi empat tipe, yaitu insecure attached avoidant attachment, securely attached infant, insecurely attached resinstant infant dan disorganized / disoriented attache. Ciri-ciri individu yang memiliki secure attachment Menurut Collins & Feeney (2004) ciri-ciri individu yang memiliki secure attachment adalah sebagai berikut : a. Individu yang secure adalah individu yang selalu percaya bahwa dirinya dicintai dan dihargai oleh orang lain dan mendapat perhatian penuh. b. Menilai figur attachment sebagai responsif, penuh perhatian dan dapat dipercaya. c. Individu merasa nyaman jika dalam sebuah kedekatan atau keintiman. d. Individu selalu bersikap optimis dan percya diri. e. Mampu membina hubungan dekat dengan orang lain. Ada beberapa karakteristik figur attachment yang memiliki secure attachment dan insecure attachment dengan anak, menurut Ainsworth (dalam Collin, 1996),

menyebutkan bahwa orangtua yang memiliki secure attachment dengan anak memiliki karakteristik sebagai berikut: a. Hangat (warm), orangtua menunjukkan antusiasme terhadap anak, hangat, dan ramah (friendly feelings). Kehangatan yang ditunjukkan oleh orangtua akan memberikan perasaan nyaman dan santai (relax). b. Sensitif (sensitive), orangtua mampu menunjukkan pengertian simpatik terhadap anak, mengerti kebutuhan anak dari sudut pandang anak. c. Responsif (responsive), orangtua mampu menyikapi kebutuhan anak akan rasa nyaman, rasa ingin dilindungi, dan selalu memberikan respon terhadap keinginan anak. d. Dapat diandalkan (dependable), tempat anak menggantungkan harapan dan kebutuhannya akan rasa aman dan nyaman, orangtua dapat diandalkan oleh anak terutama ketika anak membutuhkan dukungan atau dalam keadaan tertekan. Sedangkan menurut Cassidy dan Berlin (dalam Hetherington & Parke, 1999), menyebutkan bahwa figur attachment yang mengembangkan insecure attachment dengan anak memiliki karakteristik sebagai berikut : a. b. c. Unavailable dan rejecting, orangtua tidak responsif terhadap kebutuhan anak. Jarang melakukan kontak fisik yang hangat kepada anak. Sering marah, membentak-bentak, dan mudah tersinggung dalam menjalin komunikasi dengan anak. d. Tidak konsisten dalam menerapkan perilaku terhadap anak Kualitas kelekatan (attachment) orang tua yang secure menurut Chiccheti dan Rizley (dalam Karen, 1994), juga diasosiasikan dengan : a. Komitmen orangtua, orangtua memiliki komitmen untuk senantiasa beradadi dekat anak, senantiasa membantu, dan memberikan pertolongan jika dibutuhkan. b. Empati, orangtua memiliki kemampuan untuk dapat merasakan apa yang dirasakan oleh anak terutama jika anak berada dalam situasi tertekan.

c.

Kemampuan bekerjasama, orangtua memiliki kemampuan untuk menjalin kerjasama yang baik dengan anak, dalam kaitannya membantu anak untuk dapat mengeksplorasi dunianya.

d.

Terbuka dalam komunikasi, orangtua terbuka dalam komunikasi, menerima masukan dari anak, dan dapat memberikan masukan yang positif bagi anak.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kelekatan (attachment) pada Remaja dengan Ibu. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya kelekatan (attachment) antara seorang anak dan remaja dengan ibu, menurut Baradja (2005) adalah : a. Adanya kepuasan anak dan remaja terhadap pemberian objek lekat, misalnya setiap kali seorang anak membutuhkan sesuatu maka objek lekat mampu dan siap untuk memenuhinya. Dan objek lekat disini adalah ibu mereka. b. Terjadi reaksi atau merespon setiap tingkah laku yang menunjukkan perhatian. Misalnya, saat seorang anak dan remaja bertingkah laku dengan mencari perhatian pada ibu, maka ibu mereaksi atau meresponnya. Maka anak memberikan kelekatannya. c. Seringnya bertemu dengan anak, maka anak akan memberikan kelekatannya. Misalnya seorang ibu yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah memudahkan anak untuk berkomunikasi dengan ibu. Teori kelekatan (attachment) digunakan untuk menjabarkan ikatan afeksi antara seorang bayi dengan pengasuhannya (caregiver), tetapi konsep kelekatan (attachment) sekarang telah digunakan untuk meneliti relasi interpersonal yang lebih luas lagi termasuk di dalamnya relasi hubungan yang intim selama masa remaja dan dewasa muda (Walker, dalam Santrock, 2003). Interaksi antara remaja dengan ibunya dapat menghasilkan persepsi remaja terhadap orangtuanya. Ibu menjadi sosok yang cukup sentral dalam relasi antara remaja dan orang tua (Gunarsa dan Gunarsa, 2004). Dalam sebuah keluarga seringkali yang di persepsikan sebagai keluarga oleh anak-anak adalah ibu. Ibu memiliki kualitas yang hangat, toleran, mau berbagi. Dalam kehidupan remaja putri peran ibu dikatakan dapat mempengaruhi keterampilan pemecahan masalah sosial anak (social problem-solving skills). Hubungan orang tua

yang dekat khususnya ibu membuat remaja putri memiliki kelekatan (attachment) dengan ibu (Gunarsa dan Gunarsa, 2004). Manfaat dan Fungsi Kelekatan (attachment) Kelekatan (attachment) mamberikan banyak manfaat bagi individu, seperti menumbuhkan perasaan trust dalam interksi sosial di masa depan dan menumbuhkan perasaan mampu (Blatt, 1996). Secara umum kelekatan (attachment) memiliki empat fungsi utama (Davies, 1999), yaitu : a. Memberikan rasa aman. Saat individu berada dalam suasana penuh tekanan, kehadiran figur kelekatan (attachment) dapat memulihkan perasaan individu kembali kepada perasaan aman. b. Mengatur keadaan perasaan (regulation of affect and arousal). Arousal adalah perubahan keadaan subjektif seseorang yang disertai reaksi fisiologis tertentu. Apabila peningkatan arousal tidak diikuti dengan relief (pengurangan rasa takut, cemas, atau sakit) maka individu rentan untuk mengalami stres. Kemampuan figur kelekatan (attachment) untuk membaca perubahan keadaan individu dapat membantu mengatur arousal dari individu yang bersangkutan c. Sebagai saluran ekspresi dan komunikasi. Kelekatan (attachment) yang terjalin antara individu dengan figur kelekatan (attachment-nya) dapat berfungsi sebagai wahana untuk berekspresi, berbagai pengalaman, dan menceritakan perasaan. d. Sebagai dasar untuk melakukan eksplorasi kepada lingkungan sekitar. Kelekatan (attachment) dan perilaku eksploratif bekerja secara bersamaan. Individu yang mendapatkan secure attachment akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk mengeksplorasi lingkungan sekitarnya atau pun suasana yang baru karena individu percaya bahwa figur kelekatannya (attachment) sungguhsungguh bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu atas diriya. Simpson (Langer, 2004) menyebutkan manfaat lain dari kelekatan (attachment), yaitu dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam membina hubungan dengan orang lain, seperti aspek kepuasan, kedekatan, dan kemampuan

mencintai pasangan. Kelekatan (attachment) sangat membantu individu dalam menginterpretasi, memahami, dan mengatasi perasaan emosi yang negatif selama ia berada dalam situasi yang menekan B. Remaja Pengertian remaja Menurut Marat (2006) di negara-negara Barat, istilah remaja dikenal dengan adolescence yang berasal dari kata dalam bahasa Latin adolescere (kata bendanya adolescentia, yang artinya remaja), yang berarti tumbuh menjadi dewasa atau dalam perkembangan menjadi dewasa. Marat (2006) dan Monks, dkk (2002) menyimpulkan bahwa remaja akhir berusia antara 18-21 tahun. Gunarsa & Gunarsa (2006) mengatakan remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa, masa remaja akhir berusia sekitar 17 tahun 6 bulan-22 tahun. Santrock (2003) mengungkapkan masa remaja akhir (Late adolescence) menunjuk pada kira-kira setelah usia 15 tahun. Minat pada karir, pacaran, dan eksplorasi identitas seringkali lebih nyata dalam masa remaja akhir ketimbang dalam masa remaja awal. Menurut Hurlock (1991) remaja artinya tumbuh atau tumbuh mencapai kematangan, remaja akhir menurut Hurlock pada wanita 17-21 tahun dan pria 17 tahun 6 bulan-21 tahun. Remaja menurut Mappiare (1982) merupakan masa peralihan dari masa anakanak menuju arah kedewasaan. Kalau digolongkan sebagai anak-anak sudah tidak sesuai lagi, tetapi bila digolongkan dengan orang dewasa juga belum sesuai. Masa remaja akhir menurut Mappiare berusia 17/18 tahun sampai dengan 21/22 tahun. Batasan masa remaja dari berbagai ahli memang sangat bervariasi, masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa. Kurun waktu masa remaja menurut Witherington (dalam Rumini dan Sundari, 2004) late adolesence berusia antara 15-18 tahun.

Sedangkan, menurut Sarwono (2006) istilah remaja untuk masyarakat Indonesia sama sulitnya dengan menetapkan definisi remaja secara umum. Walaupun demikian, sebagai pedoman umum dapat digunakan batasan usia remaja antara 11-24 tahun dan belum menikah untuk remaja Indonesia. Dari penjelasan para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa remaja merupakan masa transisi (secara biologis, sosial, dan ekonomi) dari anak-anak menjadi orang dewasa. Ciri-ciri Remaja Akhir Mapiare (1982) menggambarkan tingkah laku yang menurut pendapatnya akan selalu terdapat pada remaja : a. Mulai stabil Dalam aspek-aspek fisik dan psikis, laki-laki muda dan wanita muda menunjukkan peningkatan kestabilan emosi. Kesempurnaan pertumbuhan bentuk jasmani membedakannya dengan awal masa remaja. Pada masa ini terjadi keseimbangan tubuh dan anggotanya. Begitu pula kestabilan dalam minat-minatnya, menentukan jabatan, pakaian, pergaulan dengan sesama ataupun lain jenis. Kestabilannya juga terjadi dalam sikap dan pandangan, artinya mereka relatif tetap atau mantap dan tidak mudah berubah pendirian hanya karena di bujuk atau dihasut. Gejala ini mengandung sisi positif. Dibanding masa-masa sebelumnya, remaja akhir lebih dapat menyesuaikan diri dalam banyak aspek kehidupannya. b. Lebih matang menghadapi masalah Masalah yang dihadapi remaja akhir relatif sama dengan masalah yang dihadapi remaja awal. Cara menghadapi masalah itulah yang membedakannya. Bila masa remaja awal menghadapinya dengan sikap bingung, remaja akhir

menghadapinya dengan lebih matang. Kematangan itu ditunjukkan dengan usaha pemecahan masalah-masalah yang dihadapi, baik dengan cara sendiri maupun diskusi dengan teman sebaya mereka. Langkah-langkah pemecahan masalah itu mengarahkan remaja akhir pada tingkah laku yang lebih dapat menyesuaikan diri dalam situasi perasaan dan lingkungan sekitar. c. Perasaan menjadi lebih tenang

Remaja akhir lebih tenang dalam menghadapi masalah-masalahnya dibanding pada awal remaja. Kalau pada masa remaja awal mereka sering memperlihatkan kemarahan-kemarahannya, sering sangat sedih dan kecewa, maka pada masa remaja akhir hal yang demikian tidak lagi sering nampak. Akibat dari keadaan positip ini, menambah rasa bahagia bagi remaja akhir. Kebahagiaan akan semakin kuat jika mereka mendapat respek dari orang-orang dewasa, orang tua, guru, terhadap diri dan usaha-usaha mereka. Dinamika Gambaran Kelekatan (attachment) Remaja Akhir Putri Dengan Ibu Kelekatan (attachment) merupakan suatu ikatan emosi, bukan hanya suatu tingkah laku, kelekatan (attachment) merupakan hubungan yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama bukan kenikmatan sementara dari pertemanan atau mencari pendamping atau kenyamanan dari orang lain. Tokoh kelekatan (attached) biasanya tokoh tersebut merupakan orang yang khusus (Collin, 1996), lebih lanjut Collin menjelaskan bahwa keberadaan dan nature dari kelekatan (attachment) diindikasikan dengan tingkah laku kelekatan (attachment). Hal itu juga termasuk tingkah laku yang dihasilkan dari kedekatan seseorang atau hubungan dengan individu tertentu atau yang disukai. Anak-anak melakukan tingkah laku kelekatan (attachment) dengan menangis, tersenyum, memanggil, menggapai, mendekati, mengikuti dan protes keras ketika ditinggalkan sendirian atau bersama orang asing. Individu mencari kedekatan atau kontak dengan tokoh kelekatan (attachment) dan melakukan hal tersebut khususnya ketika berada dalam tekanan (stres) dan membutuhkan perhatian serta perlindungan (Collin, 1996). Begitu juga dengan remaja akhir dalam menjalani kehidupan mereka memperoleh dorongan dan perlindungan dari tokoh kelekatan (attachment) pada masa kanak-kanaknya, biasanya ibu dan hubungan dengan peer menjadi bagian yang sangat penting, tetapi kelekatan dengan orang tua tetap menjadi sumber utama dari rasa aman. Remaja dalam keluarga yang berfungsi dengan baik akan terus menggunakan orangtuanya terutama ibu sebagai dasar keamanan untuk mereka mengeksplorasi dunia yang lebih luas seperti pendidikan, pekerjaan, dan

sosial serta kesempatan yang ada. Hubungan yang aman dengan ibu selama masa remaja memberikan tujuan yaitu membuat remaja merasa nyaman akan dukungan keluarga untuk mengeksplorasi di luar keluarga, termasuk membentuk relasi baru dengan peer atau orang dewasa lainnya (Meins, 1997). Setelah membaca uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ibu sebagai pengasuh utama seorang remaja memegang peranan penting dalam penentuan status kelekatan remaja, apakah anak akan membentuk kelekatan aman atau sebaliknya. Status kelekatan ini berhubungan dengan gangguan kelekatan dan perkembangan remaja di masa selanjutnya. Penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran kelekatan yang terjadi pada masa remaja akhir, khususnya dihubungkan dengan kelekatannya terhadap figur ibu, dengan gambaran yang tepat diharapkan mampu memahami dan memberikan perlakuan yang tepat terhadap remaja.

BAB III METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Penelitian

1.

Pengertian Studi Kasus Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan studi kasus. Menurut Stake (dalam Basuki, 2006) studi kasus adalah suatu bentuk penelitian (inquiry) atau studi tentang suatu masalah yang memiliki sifat kekhususan (particularity), dapat dilakukan baik dengan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif, dengan sasaran perorangan (individual) maupun kelompok, bahkan masyarakat luas. Sukmadinata (2005) mengatakan bahwa studi kasus merupakan metode untuk menghimpun dan menganalisa data berkenaan dengan studi kasus meskipun tidak ada masalah, malahan dijadikan kasus karena keunggulan atau keberhasilannya. Menurut Poerwandari (2001) studi kasus adalah fenomena khusus yang hadir dalam suatu konteks yang terbatas meski batas-batas antara fenomena dan konteks tidak sepenuhnya jelas.

2.

Ciri-ciri Studi Kasus Menurut Basuki (2006) adalah sebagai berikut : a. Studi kasus bukan suatu metodologi penelitian, tetapi suatu bentuk studi (penelitian) tentang masalah yang khusus (particular). b. Sasaran studi kasus dapat bersifat tunggal (ditujukan perorangan/individual) atau suatu keolompok, misalnya suatu kelas, kelompok profesional, dan lainlain. c. Masalah yang dipelajari atau diteliti dapat bersifat sederhana atau kompleks. d. Tujuan yang ingin dicapai adalah pemahaman yang mendalam tentang suatu kasus, atau dapat dikatakan untuk mendapatkan verstehen bukan sekedar erklaren (deskripsi suatu fenomena).

e. Studi kasus tidak bertujuan untuk melakukan generalisasi, walaupun studi dapat dilakukan terhadap beberapa kasus. Studi yang dilakukan terhadap beberapa kasus bertujuan untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap, sehingga pemahaman yang dihasilkan terhadap satu kasus yang dipelajari lebih mendalam.

3.

Terdapat tiga macam tipe studi kasus menurut Basuki (2006), yaitu : a. Studi kasus intrinsik (intrinsic case study), apabila kasus yang dipelajari secara mendalam mengandung hal-hal yang menarik untuk dipelajari berasal dari kasus itu sendiri, atau dapat dikatakan mengandung minat intrinsik (intrinsic interest). b. Studi kasus intrumental (intrumental case study), apabila kasus yang dipelajari secara mendalam karena hasilnya akan dipergunakan untuk memperbaiki atau menyempurnakan teori yang telah ada atau untuk menyususn teori baru. Hal ini dapat dikatakan studi kasus instrumental, minat untuk mempelajarinya berada di luar kasusnya atau minat eksternal (external interest). c. Studi kasus kolektif (collective case study), apabila kasus yang dipelajari secara mendalam merupakan beberapa (kelompok) kasus, walaupun masing-masing kasus individual dalam kelompok itu dipelajari, dengan maksud untuk mendapatkan karakteristik umum, karena setiap kasus mempunyai ciri tersendiri yang bervariasi.

4.

Kelebihan dan Kelemahan Studi kasus Kelebihan dan kelemahan studi kasus menurut Heru Basuki (2006), yaitu: a. Kelebihan studi kasus 1) Studi kasus mampu mengungkap hal-hal yang spesifik, unik, dan hal-hal yang amat mendetail yang tidak dapat diungkap oleh studi yang lain. Studi kasus mampu mngungkap makna di balik fenomena dalam kondisi apa adanya atau natural. 2) Studi kasus tidak sekedar mamberi laporan faktual, tetapi juga memberi nuansa, suasana kebatinan dan pikiran-pikiran yang berkembang dalam

kasus yang menjadi bahan studi yang tidak dapat ditangkap oleh penelitian kuantitatif yang sangat ketat. b. Kelemahan studi kasus Dari penelitian kuantitatif, studi kasus dipersoalkan dari segi validitas, reliabilitas dan generalisasi. Namun studi kasus yang sifatnya unik tidak dapat diukur dengan parameter yang digunakan dalam penelitian kuantitatif, yang bertujuan mencari generalisasi.

B. Subjek Penelitian

1.

Karakteristik Subjek Penelitian Dalam penelitian kualitatif, pemberian batasan pada partisipan merupakan suatu hal penting yang perlu dilakukan berkenaan dengan pengontrolan keakuratan penelitian (Banister dkk dalam Poerwandari, 2001). Peneliti menetapkan karakteristik subjek dalam penelitian ini adalah seorang seorang remaja akhir putri berusia 22 tahun yang memiliki kelekatan (attachment) dengan ibunya.

2.

Jumlah Subjek Penelitian Menurut Patton (dalam Poerwandari, 2001), tidak ada aturan pasti dalam jumlah subjek yang harus diambil dalam penelitian kualitatif. Jumlah subjek sangat tergantung pada apa yang ingin diketahui oleh peneliti, tujuan penelitian, konteks saat itu, apa yang dianggap bermanfaat dan dapat dilakukan dengan waktu dan sumber daya yang tersedia. Poerwandari (2001) juga mengatakan bahwa dengan fokus penelitian kaulitatif pada kedalamaan dan proses, maka penelitian kualitatif cenderung dilakukan dengan jumlah kasus sedikit. Berdasarkan pendapat diatas, maka dalam penelitian ini jumlah subjek sebanyak satu orang.

C. Tahap-tahap Penelitian

Tahap persiapan dan pelaksanaan penelitian yang dilakukan, yaitu : 1. Tahap Persiapan Penelitian a. b. c. Memilih subjek yang representatif dengan populasi penelitian Mempersiapkan instrumen penelitian beserta keabsahan dan keajegannya Membuat rancangan prosedur pengumpulan data Rancangan prosedur pengumpulan data berisi tentang daftar pertanyaan yang akan ditanyakan langsung dalam wawancara. Pertanyaan-pertanyaan dalam prosedur pengumpulan data merupakan hal-hal yang relevan dengan masalah penelitian. Selain daftar pertanyaan, rancangan prosedur pengumpulan data yang dibuat juga berisi tentang observasi dari perilaku subjek maupun significant order (perilaku yang akan di observasi meliputi fisik, penampilan, ekspresi, gesture). Hal-hal lainnya yang juga mencangkup dalam rancangan prosedur pengumpulan data adalah identitas subjek, waktu, tempat, dsb. 2. Pelaksanaan Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti berencana mengumpulkan data-data maupun fakta-fakta yang relevan dengan cara mengadakan wawancara, baik secara langsung dengan subjek penelitian, maupun wawancara dengan significant order. Selain wawancara, prosedur lainnya yang akan digunakan oleh peneliti dalam proses pengambilan data adalah observasi. Pengambilan data akan dilakukan langsung di rumah subjek. 3. Tahap Analasis Data Pada penelitian ini, analisis yang dilakukan pertama-tama terhadap masing-masing kasus. Peneliti menganalisis hasil wawancara berdasarkan pemahaman terhadap halhal yang diungkapkan oleh responden. Data yang telah dikelompokkan tersebut oleh peneliti dicoba untuk dipahami secara utuh dan ditemukan tema-tema penting serta kata kuncinya, sehingga peneliti dapat mengangkat pengalaman, permasalahan dan dinamika yang terjadi pada subjek.

4. Tahap Penulisan Laporan Dalam penelitian ini, penulisan yang dipakai adalah presentasi data yang didapat yaitu, penulisan data-data hasil penelitian berdasarkan wawancara mendalam dan observasi dengan subjek. Prosesnya dimulai dari data-data yang diperoleh dari subjek dipahami kembali dengan membacanya berulang-ulang hingga akhirnya penulis benar-benar mengerti permasalahannya dan kemudian dianalisis, sehingga didapatkan gambaran mengenai permasalahan dan pengalaman subjek. Selanjutnya dilakukan interpretasi secara keseluruhan dimana didalamnya tercangkup keseluruhan kesimpulan dari hasil penelitian ini.

D. Teknik Pengumpulan Data

1. Wawancara a. Pengertian Wawancara Menurut Kartono (dalam Basuki, 2006) wawancara adalah percakapan yang diarahkan pada suatu percakapan yang diarahkan pada suatu masalah tertentu; ini merupakan proses tanya jawab lisan, dimana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik. Menurut Kerlinger (dalam Basuki 2006), wawancara (interview) adalah situasi peran antar pribadi melalui tatap muka (face to face), ketika seseorang yakni pewawancara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk memperoleh jawaban-jawaban yang relevan dengan masalah penelitian kepada seseorang yang diwawancara atau responden. Sedangkan menurut Stewart & Cash, Jr (2000), mengatakan wawancara adalah proses interaksi komunikasi antara dua bagian, yang setidaknya salah satunya telah menetapkan dan memiliki tujuan yang sungguhsungguh, dan biasanya meliputi menanyakan dan menjawab pertanyaan. Pelaksanaan wawancara harus dilakukan secara teliti. Artinya, melaksanakan wawancara secara efektif bukanlah hal yang mudah, baik yang mewawancarai maupun yang diwawancarai. Agar mencapai sasaranya,

pewawancara perlu melakukan persiapan-persiapan yang matang dengan sedapat

mungkin mempunyai catatan-catatan pertanyaan yang akan diajukan dalam wawancara (Siagian, 1995). Dalam wawancara sebagai metode penelitian, terdapat adanya beberapa tahap (Walgito, 2003), yaitu : 1) Pengantar wawancara Dalam tahap ini selain untuk tahap perkenalan, juga disampaikan maksud dan tujuan dari wawancara agar tidak menimbulkan kecurigaan yang diwawancara. 2) Inti wawancara Tahapan ini merupakan tahapan untuk memperoleh data yang sebenarnya yang dibutuhkan dalam penelitian. 3) Penutup wawancara Pada tahap ini umumnya digunakan untuk merangkum dan untuk melihat kembali hal-hal yang mungkin terlewat untuk ditanyakan kembali. Proses wawancara menjadi lebih dari sekedar percakapan atau sebagaimana disarankan oleh Channel & Khan (dalam Prabowo, 1998) melibatkan setidaknya lima langkah yang berbeda yaitu : 1) Menciptakan atau menyeleksi skedul wawancara (seperangkat pertanyaan, pernyataan, gambar-gambar, atau stimulus lainnya yang dapat menimbulkan respon) dan seperangkat aturan main atau prosedur dalam menggunakan skedul tersebut. 2) Memimpin jalannya wawancara (yang perlu diingat adalah pengklasifikasian dari respon dan peristiwa) 3) Merekam respon 4) Kode angka (suatu skala atau cara lain yang dapat digunakan untuk merekam respon yang sudah diterjemahkan kedalam suatu perangkat dan aturan tertentu) 5) Mengkoding semua respon wawancara

b.

Keuntungan dan kerugian Wawancara Keuntungan dan kerugian wawancara menurut Soehartono (2004), yaitu: 1. Keuntungan wawancara a) Wawancara dapat mengecek kebenaran jawaban responden dengan mengajukan pertanyaan pembanding, atau dengan melihat wajah atau gerak-gerik responden. Yang terakhir ini tidak dapat dilakukan apabila wawancara dilakukan melalui telepon. b) Wawancara bisa digunakan pada responden yang tidak biasa membaca dan menulis. c) Jika ada pertanyaan yang belum dipahami, pewawancara dapat segera menjelaskannya. 2. Kerugian wawancara a) Wawancara memerlukan biaya yang sangat besar untuk perjalanan dan uang harian pengumpul data. b) Wawancara hanya dapat menjangkau jumlah responden yang lebih kecil c) Kehadiran pewawancara mungkin mengganggu responden.

c.

Jenis-jenis Wawancara Menurut Walgito (2003) ada beberapa macam wawancara, yaitu : 1) Wawancara Bebas Bentuk wawancara yang dimana interviewee diberi kebebasan dalam mengemukakan pendapat. Situasi wawancara situasi yang bebas. 2) Wawancara Terarah

Wawancara yang dituntun atau diarahkan oleh interviewer. Interviewer membacakan pertanyaan-pertanyaan yang pada umumnya sudah disiapkan dalam bentuk tertulis. Situasinya kurang bebas, kurang alami dan wawancara berjalan agak kaku. 3) Wawancara Bebas Terpimpin

Wawancara jenis ini merupakan kombinasi dari wawancara bebas dan terarah. Dalam wawancara ini, interviewee dapat memberikan jawaban

dalam situasi bebas, tetapi peneliti juga mengendalikan dan memberikan arah dari wawancara. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode wawancara menurut prosedurnya yaitu wawancara bebas terpimpin. Adapun peneliti menggunakan bentuk wawancara tersebut untuk memperoleh banyak data dari subjek yang tidak secara sengaja mengarah tanya jawab pada pokok persoalan.

2. Observasi a. Pengertian Observasi Istilah observasi diturunkan dari bahasa Latin yang berarti melihat dan memperhatikan. Istilah observasi tersebut diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan (Poerwandari, 2001). Menurut Prabowo (1997) observasi dapat dikatakan sebagai kegiatan melihat sesuatu diluar dirinya, sehingga sesuatu yang diperoleh melalui observasi merupakan data overt behavior atau perilaku yang tampak. Sedangkan menurut Young (dalam Walgito, 2003) observasi merupakan suatu metode penelitian yang dijalankan secara sistematis dan dengan sengaja dilakakukan dengan menggunakan alat indera (terutama indera penglihatan, yaitu mata) sebagai alat untuk menangkap secara langsung kejadian-kejadian sekarang maupun yang sedang terjadi. Hal ini berarti bahwa observasi tidak dapat digunakan terhadap kejadian-kejadian pada masa lalu. Observasi selalu menjadi bagian dalam penelitian psikologis, dapat berlangsung dalam konteks laboratorium (eksperimental) maupun dalam konteks alamiah (Banister, dkk dalam Poerwandari, 2001). Ditambahkan pula oleh Patton (dalam Poerwandari, 2001) menegaskan observasi merupakan metode hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut

pengumpulan data esensial dalam penelitian, terutama dalam penelitian kualitatif, untuk memberikan data yang akurat dan bermanfaat. Menurut Heru Basuki (2006) observasi bertujuan untuk mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas, dan makna kejadian dilihat dari

perspektif mereka yang terlibat dalam kejadian yang diamati tersebut. Deskripsi harus akurat, faktual sekaligus teliti tanpa harus dipenuhi berbagai hal yang tidak relevan.

b.

Keuntungan dan Kerugian Observasi Keuntungan dan kerugian observasi dari metode penelitian observasi (Soehartono, 2004) adalah sebagai berikut : 1) Keuntungan observasi a) Data yang diperoleh adalah data segar, dalam arti data yang dikumpulkan dan diperoleh dari subjek pada saat terjadinya tingkah laku. b) Keabsahan alat ukur dapat diketahui secara langsung. Tingkah laku yang diharapkan mungkin akan muncul. Karena tingkah laku dapat dilihat, maka kita dapat segera mengatakan bahwa yang diukur memang sesuatu yang dimaksudkan untuk diukur. 2) Kerugian observasi. a) Untuk memperoleh data yang diharapkan, maka pengamat harus menunggu dan mengamati sampai tingkah laku yang diharapkan terjadi. Jika dana yang tersedia cukup besar, pengamat dapat menggunakan video perekam (video tape). Ini pun harus menggunakan untuk merekam sejumlah tingkah laku lain sampai muncul tingkah laku yang relevan. b) Beberapa tingkah laku, seperti tingkah laku kriminal atau yang bersifat pribadi, sukar atau tidak mungkin diamati bahkan bisa membahayakan jika diamati. Untuk tingkah laku seperti ini, masih mungkin diperoleh data melalui wawancara (Atherton & Klemmack dalam Soehartono, 2004).

c.

Jenis-jenis Observasi Menurut Yin (dalam Poerwandari, 2001) jenis-jenis observasi dibagi 2 yaitu: 1) Observasi Langsung Observasi biasa dikatakan sebagai pengamatan. Yang dimaksud dengan observasi langsung adalah pengamatan yang dilakukan secara langsung

dengan mengunjungi secara langsung tempat subjek berada sehingga perilaku subjek dan situasi lingkungan tempat subjek berada dapat diamati secara langsung (Yin dalam Poerwandari, 2001). Pengumpulan data melalui observasi langsung dapat dilakukan secara formal maupun non formal. Observasi formal seperti ini biasanya dilakukan antara lain dalam pertemuan-pertemuan, pekerjaan dalam pabrik, dan situasi kelas.

Sedangkan observasi non formal adalah observasi secara langsung ke tempat subjek berada dalam kesempatan-kesempatan tertentu saja, seperti kunjungan bersama dengan cara pengumpulan data yang lain misalnya wawancara. 2) Obervasi tidak langsung Observasi tidak langsung adalah mengamati semua aspek yang ingin diamati seperti tempat subjek tetapi tidak langsung ketempatnya tetapi hanya melalui data yang diberikan seseorang yang dekat dengan sbjek yang akan diteliti. Jadi dalam metode observasi tidak langsung ini, peneliti tidak mengamati secara langsung. Metode observasi tidak langsung ini, kurang efisien atau kurang baik digunakan karena peneliti tidak langsung dapat mengetahui seluruh data dari observasi dan membuat data menjadi tidak akurat. Menurut Yin (dalam Poerwandari, 2001) berdasarkan keterlibatan pengamatan dalam kegiatan-kegiatan orang yang diamati, observasi dapat dibedakan menjadi : 1) Observasi Partisipan Dalam observasi ini pengamat ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh subjek yang diteliti atau diamati 2) Observasi Non Partisipan Pengamat berada diluar subjek yang diamati dan tidak ikut didalam kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan. Menurut Yin (dalam Poerwandari, 2001) berdasarkan cara pengamatan yang dilakukan, observasi juga dibedakan menjadi dua yaitu :

1)

Observasi Terstruktur Observasi ini digunakan apabila peneliti memustkan perhatian pada tingkah laku tertentu sehingga dapat dibuat pedoman tentang tingkah laku apa saja yang harus diamati.

2)

Observasi Tak Terstruktur Pengamat tidak membawa catatan tentang tingkah laku apa saja yang secara khusus akan diamati. Walgito (2003) juga membedakan observasi berdasarkan situasi yaitu :

1)

Free Situation Observation Observasi ini dijalankan dalam situasi bebas, alami, tidak dibuat-buat atau ditimbulkan. Observasi ini dilaksanakan dalam situasi yang noneksperimental.

2)

Manipulated Situation Observation Observasi ini dilaksanakan dalam situasi eksperimental, dengan sengaja situasi tersebut dibuat atau ditimbulkan. Observer dengan sengaja memasukkan dikehendaki. variabel-variabel untuk menimbulkan situasi yang

3)

Partially Controlled Situation Obsevation Observasi ini merupakan campuran dari observasi dalam situasi alami dengan observasi dalam situasi yang dibuat atau ditimbulkan. Berdasarkan jenis-jenis observasi yang disebutkan diatas, maka

peneliti memutuskan untuk menggunakan metode observasi langsung dimana peneliti melakukan pengamatan secara langsung dengan mengunjungi secara langsung tempat subjek berada sehingga perilaku subjek dan situasi lingkungan tempat subjek berada dapat diamati secara langsung.

E. Alat Bantu Penelitian Alat bantu pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Panduan Wawancara Dalam melakukan penelitian studi kasus lebih fokus pada instrumen wawancara berdasarkan tujuan penelitian, dan teori yang ada. Maka dibuat panduan wawancara

yang didasari teori-teori yang sesuai dengan tujuan penelitian. Peneliti menyusun pertanyaan-pertanyaan berdasarkan teori tentang gambaran mengenai remaja putri yang memiliki kelekatan (attachment) dengan ibunya. 2. Panduan Observasi Penelitian menyusun panduan observasi untuk mengamati perilaku kelekatan (attachment). Panduan observasi disusun berdasarkan ciri-ciri, faktor-faktor, dan fungsi dari kelekatan (attachment). Selain itu pada saat wawancara penelitian juga melakukan observasi dengan memperhatikan aspek-aspek fisik, cara menjawab dan gerakan tubuh subjek. 3. Alat Perekam (Tape Recorder) Alat bantu elektronik berupa tape recorder digunakan untuk merekam jawaban yang diberikan subjek, agar tidak ada satu jawaban yang terlewat oleh peneliti. 4. Alat-alat tulis, seperti pulpen, pensil, dan kertas untuk mencatat observasi. F. Keakuratan Penelitian

Menurut Yin (1994) keabsahan dan keajegan yang diperlukan untuk penelitian kualitatif terdapat empat, yaitu keabsahan, konstruk (construct validity), keabsahan internal (internal validity), keabsahan eksternal (external validity), dan keajegan (reliability). 1. Keabsahan Konstruk Keabsahan bentuk batasan berkaitan dengan suatu kepastian bahwa yang terukur benar-benar merupakan variabel yang ingin diukur. Keabsahan ini juga dicapai dengan proses pengumpulan data yang tepat, salah satunya adalah dengan proses triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang

memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekkan atau pembanding terhadap data itu. Moleong (2000) membagi teknik triangulasi menjadi empat macam, yaitu : a. Triangulasi Data (data triangulation) Menggunakan berbagai sumber data seperti dokumen, arsip, hasil wawancara, hasil observasi, atau juga dengan mewawancarai lebih dari satu subjek yang dianggap memiliki sudut pandang berbeda.

b. Triangulasi Metode (methodological triangulation) Penggunaan berbagai metode guna membantu dalm pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian ini, seperti wawancara, observasi. c. Triangulasi Teori (theory triangulation) Penggunaan berbagai teori yang berlainan tentang gambaran kelekatan (attachment) remaja putri dengan ibu, seperti : kelekatan (attachment), remaja. Semua teori diatas untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan sudah memenuhi syarat. d. Triangulasi Pengamat (investigator triangulation) Adanya pengamat di luar peneliti yang turut memeriksa hasil pengumpulan data. Dalam penelitian ini, dosen pembimbing bertindak sebagai pengamat (expert judgement) yang memberkan masukkan terhadap hasil pengumpulan data. 2. Keabsahan Internal Keabsahan internal merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh kesimpulan hasil penelitian menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Keabsahan ini dapat dicapai melalui proses analisis dan interpretasi yang tepat. Aktivitas dalam melakukan penelitian kualitatif akan selalu berubah dan tentunya akan mempengaruhi hasil dari penelitian tersebut. Sehingga walaupun telah dilakukan uji keabsahan internal, tetap ada kemungkinan munculnya kesimpulan lain yang berbeda. 3. Keabsahan Eksternal Keabsahan eksternal mengacu pada seberapa jauh hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada kasus lain walaupun dalam penelitian kualititaf tetap dapat dikatakan memiliki keabsahan ekternal terhadap kasus-kasus lain selama kasus tersebut memiliki konteks yang sama. 4. Keajegan Keajegan merupakan konsep yang mengacu pada seberapa jauh penelitian berikutnya akan mencapai hasil yang sama apabila mengulang penelitian yang sama sekali lagi. Dalam penelitian kualitatif keajegan mengacu pada kemungkinan peneliti selanjutnya memperoleh hasil yang sama apabila penelitian dilakukan sekali lagi dengan subjek yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa konsep keajegan penelitian kualitatif selain

menekankan pada desain penelitian, juga pada cara pengumpulan dan pengolahan data. Untuk meningkatkan keajegan, diperlukan protokol penelitian yang jelas, seperti pedoman wawancara yang memuat pertanyaan yang akan diajukan menjadi jelas dan terarah. Hal penting lainnya adalah pertanyaan yang diajukan pada subjek harus sama dengan tujuan bila penelitian ini diulang hasil yang keluar akan sama (Sulistiany, 1999). Untuk keakuratan penelitian, peneliti menggunakan triangulasi teori yaitu dengan mengaitkan teori-teori yang telah ada, triangulasi metode, yaitu menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode wawancara dan observasi, dan triangulasi dengan sumber atau data, yaitu hasil pengamatan dengan data hasil wawancara dengan subjek. G. Teknik Analisis Data

Marshall dan Rossman (dalam Nasution, 2003) mengajukan tahapan-tahapan teknik analisis dan kualitatif yang perlu dilakukan untuk proses analisis data dalam penelitian ini, yaitu : 1. Mengorganisasikan Data Peneliti mendapatkan data langsung dari subjek melalui wawancara mendalam (indepth interview), dimana data tersebut direkam dengan tape recorder dibantu alat tulis lainnya. Lalu dibuatkan transkipnya dengan mengubah hasil wawancara dari bentuk tulisan secara verbatim setelah selesai menemui subjek. Data yang telah didapat dibaca berulang-ulang, agar penulis mengerti benar data atau hasil yang telah didapat. 2. Pengelompokkan berdasarkan Kategori, Tema dan Pola Jawaban Pada tahap ini dibutuhkan pengertian yang mendalam terhadap data, perhatian yang penuh dan keterbukaan terhadap hal-hal yang muncul diluar apa yang ingin digali. Berdasarkan kerangka teori dan pedoman wawancara penbeliti menyusun sebuah kerangka awal analisis sebagai acuan dan pedoman dalam melakukan coding. Dengan pedoman ini, peneliti kemudian kembali mambaca transkip wawancara dan melakukan coding, melakukan pemilihan data yang relevan dengan pokok

pembicaraan. Data yang relevan diberi kode dan penjelasan singkat, kemudian dikelompokkan atau dikategorikan berdasarkan kerangka analisis yang telah dibuat. Pada penelitian ini, analisis dilakukan terhadap sebuah kasus yang diteliti. Penelitian menganalisis hasil wawancara berdasarkan pemahaman terhadap hal-hal yang diungkapkan oleh responden. Data yang telah dikelompokkan tersebut oleh peneliti dicoba untuk dipahami secara utuh dan ditentukan tema-tema penting serta kata kuncinya, sehingga peneliti dapat menangkap pengalaman, permasalahan, dan dinamika yang terjadi pada subjek. 3. Menguji Asumsi atau Permasalahan yang ada terhadap Data Setelah kategori dan pola data tergambar dengan jelas, peneliti menguji data tersebut terhadap asumsi yand dikembangkan dalam penelitian ini. Pada tahap ini, kategori yang telah di dapat melalui analisis ditinjau kembali berdasarkan landasan teori yang telah dijabarkan dalam bab II, sehingga dapat dicocokkan apakah ada kesamaan antara landasan teoritis dengan hasil yang dicapai. Walaupun penelitian ini tidak memiliki hipotesis tertentu, namun dari landasan teori dapat dibuat asumsiasumsi mengenai hubungan antara konsep-konsep dan faktor-faktor yang ada. 4. Mencari Alternatif Penjelasan bagi Data Setelah kaitan antara kategori dan pola data dengan asumsi terwujud, peneliti masuk ke dalam tahap penjelasan. Berdasarkan kesimpulan yang telah didapat dari kaitan tersebut, penulis perlu mencari alternatif penjelasan tentang kesimpulan yang telah di dapat. Sebab dalam penelitian kualitatif memang selalu ada alternatif penjelasan yang lain. Dari hasil analisis, ada kemungkinan terdapat hal-hal yang menyimpang dari asumsi atau tidak terpikirkan sebelumnya. Pada tahap ini akan dijelaskan dengan alternatif lain melalui referensi atau teori-teori lain. Alternatif ini akan sangat berguna pada bagian kesimpulan, diskusi, dan saran. 5. Menulis Hasil Penelitian Penulisan analisis data masing-masing subjek yang telah berhasil dikumpulkan, merupakan suatu hal yang membantu penulis untuk memeriksa kembali apakah ada kesimpulan yang dibuat telah selesai. Dalam penelitian ini, penulisan yang dipakai adalah presentasi data yang di dapat yaitu : penulisan data-data hasil penelitian berdasarkan wawancara mendalam dan observasi subjek. Prosesnya dimulai dari

data-data yang telah diperoleh dari tiap subjek dibaca berulang kali sampai penulis mengerti benar permasalahannya, lalu kemudian dianalisis. Sehingga didapatkan gambaran mengenai penghayatan pengamalan subjek. Selanjutnya dilakukan interpretasi secara keseluruhan dimana didalam mencangkup keseluruhan dari penelitian ini.

BAB V PENUTUP

A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyimpulkan beberapa hal, antara lain : 1. Dari hasil penelitian kelekatan (attachment) pada remaja putri dengan ibu, subjek cenderung cukup baik. Dapat dilihat dari ciri-ciri subjek yang

memiliki secure attachment, dimana subjek percaya bahwa orang lain menilai positif tentang dirinya, subjek percaya bahwa orang masih akan masih mencintai dan menghargainya. Subjek menilai figur attachment yang adalah ibunya, merupakan sesosok figur yang yang dapat dipercaya, selalu memperhatikan dan menyayangi subjek dimanapun, dan kapanpun subjek membutuhkan ibunya. Subjek termasuk bukan orang yang menutup diri dalam pergaulan, hal ini terbukti bahwa subjek bisa menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Selain itu di dalam keluarga subjek lebih mudah menjalin hubungan dengan ibunya. Subjek adalah orang yang selalu bersikap optimis dan percaya diri, hal ini terbukti karena subjek selalu berpikiran positif, selalu berusaha dan tidak mudah menyerah dalam hal apapun, memiliki rasa percaya diri dan selalu bersikap optimis. Subjek selalu berusaha dalam menjalin hubungan dengan sebaik mungkin dengan orang lain, selain itu subjek juga tidak mudah tergantung pada orang lain. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelekatan antara subjek dengan ibu adalah bahwa subjek memiliki kepuasan terhadap ibunya dalam kasih sayang, perhatian yang ditunjukkan ibu kepada subjek. Adanya reaksi atau merespon setiap tingkah laku yang menunjukkan perhatian disaat subjek sedang membutuhkan dekapan hangat dari ibu, membutuhkan perhatian yang lebih dari ibu, maka ibu merespon positif setiap tingkah laku yang ditunjukkan subjek kepada ibunya. Seringnya bertemu dengan subjek, maka subjek akan memberikan kelekatannya. Subjek lebih sering bertemu dengan ibu dibanding ayah, dan subjek lebih sering menghabiskan waktu berdua bersama ibunya,

hal ini yang membuat subjek selalu menunjukkan kelekatannya terhadap ibunya. 3. Dalam penelitian ini terdapat fungsi kelekatan antara subjek dengan ibunya adalah subjek merasakan kehangatan dan kenyamanan bersama kedua orang tua subjek, terutama dengan ibunya. Disaat subjek sedang dalam keadaan tertekan atau sedang dalam menghadapi masalah, subjek selalu datang kepada ibunya untuk meminta perlindungan dan pertolongan yang dibutuhkan subjek. Subjek selalu menjalin komunikasi yang baik dengan kedua orang tua subjek, meskipun terkadang terjadi kesalahpahaman antara subjek dengan ayahnya. Subjek selalu mendapatkan perhatian-perhatian dari kedua orang tua subjek, terutama dalam hal pergaulan.

B. Saran Berdasarkan hasil penelitian, maka saran yang diajukan peneliti adalah : 1. Kepada subjek disarankan untuk dapat membina hubungan didalam keluarga menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya, meskipun subjek sangat lekat dengan ibu tetapi ayah sebagai kepala rumah tangga jangan sampai diabaikan, tetap menjalin hubungan yang lebih baik lagi dengan ayah. 2. Hubungan emosional yang terbentuk antara remaja akhir putri dengan ibu nampaknya dipengaruhi oleh komunikasi dan keterbukaan masing-masing dalam mengungkapkan perasaan dan pikiran. Hal yang terpenting bagi orang tua yaitu menekankan pada anak bahwa mereka menyayanginya dengan tulus dan menerima mereka apa adanya. Dengan demikian, diharapkan remaja akhir putri dapat lebih terbuka kepada orang tua, sehingga awal dari hubungan yang lebih baik diantara keduanya. 3. Kepada para ibu disarankan untuk menjalin hubungan dengan remaja akhir putri dengan baik, anggaplah mereka seperti seorang sahabat, sehingga seorang anak tidak sungkan-sungkan untuk berbagi cerita dan kasih dengan ibunya. 4. Kepada peneliti selanjutnya, terutama yang berminat meneliti lebih lanjut mengenai gambaran kelekatan (attachment) remaja akhir putri dengan ibu

untuk menambahkan teori-teori, faktor-faktor lainnya yang turut mempengaruhi kelekatan (attachment) pada remaja dengan ibu.

DAFTAR PUSTAKA Adiyanti. M.G., (1990). Anak dalam keluarga : Perkembangan kelekatan anak. Jakarta : PT Bumi Aksara. Ainsworth, M. D. S., Blehar, M. C., Waters, E., & Wall, S. (1978). Patterns of attachments : a psychological study of the strange situation. Hillsdale, N. J, : Erlbaum. Ali, M., & Asrori, M.. (2006). Psikologi remaja : Perkembangan peserta didik. Jakarta : PT Bumi Aksara. Baradja, A. (2005). Psikologi perkembangan : Tahapan-tahapan dan aspek-aspeknya. Jakarta : Studia Press. Basuki, A. M. H. (2006). Penelitian kualitatif untuk ilmu-ilmu kemanusiaan dan budaya. Jakarta: Gunadarma. Belsky, J. (1988). Infancy, childhood and adollescene : Clinical implication of attachment. Lawrence Erlbaum Associate. Blatt, S. J. (1996). Representational structures in psychopatology, development and vulnerabilites in close relationships. New Jersey : Erlbaum. Cicchetti, D. & Linch, M. (1995). Failure in expectable environment and their impact on individual development : The case of child maltreatment psychopatology. Risk disorder and adaptation. Volume 2. Halaman 32-71. John Willey and Sons Inc. Cicchetti, D & Toth, S.L., (1995). Developmental psychopatology and disorder of affect : Developmental psychopatology. Risk disorder and adaptation. Volume 2. Halaman 369-420. John Willey and Sons Inc. Collin, V. L. (1996). Human attachment. USA : McGraw Hill. Collins, N. L. & Feeney, B. C. (2004). Working models of attachment shape perceptions of social support : Evidence from experimental and observational studies. Journal of Personality and Social Psychology. Volume 87, 363-383. Crowell, J. A., Treboux, D., & Waters, E. (2002). Stability of attachment representations: The trasition to marriage. Journal of Development Psychology. Volume 38, 467479 Davies, D. (1999). Child development : A practitioners guide. New York : The Guildford Press.

Durkin, K. (1995). Developmental Social Psychology. Massachussets : Blackwell Publisher Inc Gunarsa, S. D, & Gunarsa, Y. S. D. (2004). Psikologi praktis : Anak, remaja dan keluarga. Jakarta : PT BPK Gunung Mulia. Gunarsa, S. D, & Gunarsa, Y. S. D. (2006). Psikologi perkembangan anak dan remaja. Jakarta : PT BPK Gunung Mulia. Hetherington & Parke. (1999). Chid psychology : A cntemporary view point (4th ed). USA : Mcgraww-Hill College Companies, Inc. Hurlock, E. B. (1991). Psikologi perkembangan : Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Alih Bahasa : Tjandrasa, Med. Meitasari. Jakarta : Erlangga. Karen, R. (1994). Becoming attached. New York : Warner books. Langer, M. (2004). Attachment and perfectionism : A structural equation analysis. The University of North Carolina. Madnawidjaya, P. (2001). Gambaran penghayatan remaja putri atas hubungan dengan orang tua dan teman sebaya terhadap pembentukkan identitas diri. Skripsi (Tidak diterbitkan). Depok : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Mappiare, A. (1982). Psikologi remaja. Surabaya : Usaha Nasional. Marat, S. (2006). DESMITA. Psikologi perkembangan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Meins, E. (1997). Security of attachment and the social development of cognition. Psychology Press Ltd, UK. Moleong, L. (2000). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Monks, F. J. Knoers, A. M. P., & Haditono, S. R. (2002). Psikologi perkembangan : Pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Mulyana, D. (2002). Metodologi penelitian kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Nawawi, H. H. (2005). Metode penelitian bidang sosial. Yogyakarta : Gadja Mada University Press.

Poerwandari, E. K. (2001). Pendekatan kualitatif dalam penelitian psikologi. Jakarta : Lembaga Perkembangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Prabowo, H . & Puspitawati, I. (1997). Psikologi pendidikan. Jakarta : Universitas Gunadarma. Rumini, S & Sundari, S. (2004). Perkembangan anak dan remaja. Jakarta : PT Rineka Cipta. Santrock, J. W. (2002). Attachment related psychodynamics. attachment and human development. edisi ke 8. New Jersey : Mcgraw Hill. Santrock, W. J. (2003). Life span development : Perkembangan masa hidup. Jakarta : Erlangga. Sarwono, W. S. (2006). Psikologi remaja. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada. Siagian, S. (1995). Teori motivasi kerja dan aplikasinya. Jakarta : Rineka Cipta. Soehartono, I. (2004). Metode penelitian sosial. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya. Sukmadinata, N. S. (2005). Metode penelitian pendidikan bandung. Bandung: Rosdakarya. Turner, J. S. & Helms, D. B (1995). Life span development (5th ed). Fort Worth : Harcourt Brace College Publishers. Yin, R. K . (1994). Case study research : Design and methods (2nd edition). California : SAGE Publications. (Alish/1998/Kebutuhan Anak (Http//:www.geocities/kebutuhan anak.com). (Pitaloka/2002/Remaja Pada Umumnya (Http://www.e-psikologi/keluarga.com). (Setiono/2002/BeberapaPermasalahanRemaja(Http://www.epsikologi.com/konseling/prof il.htm). (Zaahara/2001/Ibu dalam Keluarga (Http://www.depdiknas/kebudayaan.go.id).