Anda di halaman 1dari 18

Hujjatul Islam: Ibnu Taimiyah, Sang

Mujaddid Teguh Pendirian (1)


Jumat, 03 Pebruari 2012 14:54 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Abul Abbas Taqiuddin Ahmad bin Abdus Salam bin Abdullah bin
Taimiyah Al- Harrani atau yang biasa disebut dengan nama Ibnu Taimiyah, adalah seorang
ulama besar Islam dari Harran, Turki. Ia lahir pada 10 Rabiul Awwal 661 H (22 Januari 1263
M).
Disamping dikenal sebagai Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah juga dikenal sebagai sosok ulama
yang keras dan teguh dalam pendirian, sesuai dengan yang disyariatkan dalam Islam. Dia dikenal
pula sebagai seorang mujaddid (pembaharu) dalam pemikiran Islam.
Ia berasal dari keluarga religius. Ayahnya Syihabuddin bin Taimiyah adalah seorang ulama,
hakim, dan khatib. Kakeknya, Majduddin Abul Birkan Abdussalam bin Abdullah bin Taimiyah
Al-Harrani adalah seorang ulama yang menguasai fiqih, hadits, tafsir, ilmu ushul dan hafidz
(penghapal Alquran).
Ibnu Taimiyah lahir di zaman ketika Baghdad merupakan pusat kekuasaan dan budaya Islam
pada masa Dinasti Abbasiyah. Ketika berusia enam tahun (tahun 1268), ia dibawa ayahnya ke
Damaskus, Suriah, disebabkan serbuan tentara Mongol atas Irak.
Semenjak kecil sudah terlihat tanda-tanda kecerdasannya. Begitu tiba di Damaskus, ia segera
menghapalkan Alquran dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, hafizh dan ahli
hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut
tercengang.
Ketika umurnya belum mencapai belasan tahun, ia sudah menguasai ilmu ushuluddin dan
mendalami bidang-bidang tafsir, hadits, dan bahasa Arab. Ia telah mengkaji Musnad Imam
Ahmad sampai beberapa kali, kemudian Kutubus Sittah dan Mujam At-Thabrani Al-Kabir.
Suatu kali ketika ia masih kanak-kanak, pernah ada seorang ulama besar dari Aleppo, Suriah,
yang sengaja datang ke Damaskus khusus untuk melihat Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya
menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan
matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghapalkannya secara cepat dan
tepat.
Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, ia pun dengan tepat pula mampu
mengucapkan ulang dan menghapalnya. Sehingga ulama tersebut berkata, "Jika anak ini hidup,
niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar. Sebab, belum pernah ada seorang bocah
sepertinya."
Sejak kecil, Ibnu Taimiyah hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama sehingga
mempunyai kesempatan untuk membaca sepuas-puasnya kitab-kitab yang bermanfaat. Ia

menggunakan seluruh waktunya untuk belajar dan menggali ilmu, terutama tentang Alquran dan
Sunah Nabi.
Redaktur: Chairul Akhmad
Sumber: Berbagai sumber
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/02/03/lyt4mn-hujjatulislam-ibnu-taimiyah-sang-mujaddid-teguh-pendirian-1

Ibnu Taimiyyah Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang terletak antara
sungai Dajalah (Tigris) dengan Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu`ul Awal tahun 661H. Beliau
adalah imam, Qudwah, `Alim, Zahid dan Da`i ila Allah, baik dengan kata, tindakan, kesabaran
maupun jihadnya; Syaikhul Islam, Mufti Anam, pembela dinullah daan penghidup sunah Rasul
shalallahu`alaihi wa sallam yang telah dimatikan oleh banyak orang, Ahmad bin Abdis Salam
bin Abdillah bin Al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyah An-Numairy Al-Harrany AdDimasyqy.

Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika umurnya
masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinyaa. Mereka menempuh perjalanan
hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan kitab-kitab
ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda, tanpa ada seekor binatang tungganganpun pada mereka.
Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir saja pasukan
musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka ber-istighatsah (mengadukan
permasalahan) kepada Allah Ta`ala. Akhirnya mereka bersama kitab-kitabnya dapat selamat.
PERTUMBUHAN DAN GHIRAHNYA KEPADA ILMU
Semenjak kecil sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau. Begitu tiba di Damsyik
beliau segera menghafalkan Al-Qur`an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama,
huffazh dan ahli-ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh
ulama tersebut tercengang.
Ketika umur beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai ilmu Ushuluddin
dan sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan bahasa Arab.
Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali,
kemudian kitabu-Sittah dan Mu`jam At-Thabarani Al-Kabir.

Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari Halab (suatu
kota lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang ke Damasyiq, khusus untuk melihat si
bocah bernama Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia
memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu
Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan
kepadanya beberapa sanad, beliaupun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan
menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata: Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai
kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah seperti dia.
Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama, mempunyai kesempatan
untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang bermanfaat. Beliau
infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar, menggali ilmu terutama kitabullah dan
sunah Rasul-Nya shallallahu`alaihi wa sallam.
Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh berpijak pada garisgaris yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala laranganNya. Beliau pernah berkata: Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu
merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau
kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di
pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan
beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.
Begitulah seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada putus-putusnya mencari
ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha` dan ilmu serta dinnya telah mencapai tataran
tertinggi.
PUJIAN ULAMA
Al-Allamah As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib AD-Darary yang
disusun kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah, berkata: Banyak
sekali imam-imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah) ini. Diantaranya: AlHafizh Al-Mizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas,
Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan para imam ulama lain.
Al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan: Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah.. dan
belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah
shallahu`alaihi wa sallam serta lebih ittiba` dibandingkan beliau.
Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: Setelah aku berkumpul dengannya, kulihat
beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan matanya, kapan saja beliau
menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya, terserah beliau. Dan aku pernah berkata
kepadanya: Aku tidak pernah menyangka akan tercipta manasia seperti anda.
Al-Qadli Ibnu Al-Hariry mengatakan: Kalau Ibnu Taimiyah bukah Syaikhul Islam, lalu siapa dia
ini ?

Syaikh Ahli nahwu, Abu Hayyan An-Nahwi, setelah beliau berkumpul dengan Ibnu Taimiyah
berkata: Belum pernah sepasang mataku melihat orang seperti dia .. Kemudian melalui baitbait syairnya, beliau banyak memberikan pujian kepadanya.
Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah,
hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau
melampaui kemampuan para ulama zamannya. Al-`Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany
(wafat th. 727 H) pernah berkata: Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun
yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya
membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa
menandinginya. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan
mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya
belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah
berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masingmasing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapanungkapan, susunan, pembagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan bukubuku.
Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: Dia adalah lambang kecerdasan
dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta
perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya baik
dalam hal ilmu, zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma`ruf, nahi mungkar, dan banyaknya
buku-buku yang disusun dan amat menguasai hadits dan
fiqh.
Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat menonjol
dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik pokok-pokoknya maupun
cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi lain Adz-Dzahabi mengatakan: Dia
mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta`dil,
Thabaqah-Thabaqah sanad, pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matanmatan hadits yang menyendiri padanya .. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa
menyamai atau mendekati tingkatannya .. Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa: Setiap hadits yang
tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist.
Demikian antara lain beberapa pujian ulama terhadap beliau.
DA`I, MUJAHID, PEMBASMI BID`AH DAN PEMUSNAH MUSUH
Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da`i yang tabah, liat, wara`,
zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang ahli berkuda. Beliau adalah
pembela tiap jengkal tanah umat Islam dari kedzaliman musuh dengan pedannya, seperti halnya
beliau adalah pembela aqidah umat dengan lidah dan penanya.
Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam untuk bangkit

melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan sekitarnya. Beliau sendiri
bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran. Sampai ada salah seorang amir yang
mempunyai diin yang baik dan benar, memberikan kesaksiannya: tiba-tiba (ditengah kancah
pertempuran) terlihat dia bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk
menyerbu dan memberikan peringatan keras supaya tidak lari. Akhirnya dengan izin Allah
Ta`ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam, Palestina, Mesir dan
Hijaz.
Tetapi karena ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak kepada al-haq,
akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama dan orangorang yang tidak senang kepada beliau. Kaum munafiqun dan kaum lacut kemudian meniupkan
racun-racun fitnah hingga karenanya beliau harus mengalami berbagai tekanan di pejara,
dibuang, diasingkan dan disiksa.
KEHIDUPAN PENJARA
Hembusan-hembusan fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta antek-anteknya yang
mengakibatkan beliau mengalami tekanan berat dalam berbagai penjara, justru dihadapi dengan
tabah, tenang dan gembira. Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal`ah di Dimasyq. Dan
beliau berkata: Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat
kebaikan besar.
Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata:
Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!!
Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku
Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku
dan tiada pernah tinggalkan aku.
Aku, terpenjaraku adalah khalwat
Kematianku adalah mati syahid
Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.
Beliau pernah berkata dalam penjara:
Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah
orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.
Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyah-nya, tidak
menghalanginya untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang aqidah, tafsir dan kitab-kitab

bantahan terhadap ahli-ahli bid`ah.


Pengagum-pengagum beliau diluar penjara semakin banyak. Sementara di dalam penjara, banyak
penghuninya yang menjadi murid beliau, diajarkannya oleh beliau agar mereka iltizam kepada
syari`at Allah, selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan melakukan amalan-amalan shahih.
Sehingga suasana penjara menjadi ramai dengan suasana beribadah kepada Allah. Bahkan
dikisahkan banyak penghuni penjara yang sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal di
penjara bersamanya. Akhirnya penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.
Tetapi kenyataan ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin serta ahlul bid`ah
semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya agar penguasa memindahkan beliau
dari satu penjara ke penjara yang lain. Tetapi inipun menjadikan beliau semakin terkenal. Pada
akhirnya mereka menuntut kepada pemerintah agar beliau dibunuh, tetapi pemerintah tidak
mendengar tuntutan mereka. Pemerintah hanya mengeluarkan surat keputusan untuk merampas
semua peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari tangan Ibnu Taimiyah.
Namun beliau tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan arang.
Beliau tulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada sahabat dan murid-muridnya. Semua
itu menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan berfikir dan
menulis pun dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan betapa sabar dan tabahnya beliau. Semoga
Allah merahmati, meridhai dan memasukkan Ibnu Taimiyah dan kita sekalian ke dalam
surganya.
WAFATNYA
Beliau wafatnya di dalam penjara Qal`ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya yang
menonjol, Al-`Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah.
Beliau berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua
puluh hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca
Al-Qur`an. Dikisahkan, dalam tiap harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat
menghatamkan Al-Qur`an delapan puluh atau delapan puluh satu kali.
Perlu dicatat bahwa selama beliau dalam penjara, tidak pernah mau menerima pemberian apa
pun dari penguasa.
Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami`Bani Umayah sesudah shalat Zhuhur. Semua
penduduk Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya, termasuk para Umara`,
Ulama, tentara dan sebagainya, hingga kota Dimasyq menjadi libur total hari itu. Bahkan semua
penduduk Dimasyq (Damaskus) tua, muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk
menghormati kepergian beliau.
Seorang saksi mata pernah berkata: Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang pun yang
ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga orang ini pergi menyembunyikan diri
karena takut dikeroyok masa. Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah terjadi jenazah yang

dishalatkan serta dihormati oleh orang sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad
bin Hambal.
Beliau wafat pada tanggal 20 Dzul Hijjah th. 728 H, dan dikuburkan pada waktu Ashar di
samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin. Semoga Allah merahmati
Ibnu Taimiyah, tokoh Salaf, da`i, mujahidd, pembasmi bid`ah dan pemusnah musuh. Wallahu
a`lam. []
Referensi :
- http://www.eramuslim.net/?buka=show_biografi&id=38
- www.hudzaifah.org
http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/11/biografi-ibnu-taimiyyah-sangmujahid.html

Ibnu Taimiyah
Ibnu Taimiyah
Nama besar Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah, sudah tak asing lagi di telinga
umat Islam. Ketokohan dan keilmuannya sangat disegani. Hal ini dikarenakan
luasnya ilmu yang dimiliki serta ribuan buku yang menjadi karyanya. Sejumlah
julukan diberikan Ibnu Taimiyah, antara lain Syaikhul Islam, Imam, Qudwah,
'Alim, Zahid, Da'i, dan lain sebagainya.
Ulama ini bernama lengkap Ahmad bin Abdis Salam bin Abdillah bin Al-Khidir
bin Muhammad bin Taimiyah An-Numairy al-Harrany al-Dimasyqy. Ia dilahirkan
di Harran, sebuah kota induk di Jazirah Arabia yang terletak di antara
sungai Dajalah (Tigris) dan Efrat, pada Senin, 12 Rabi'ul Awal 661 H (1263
M).
Dikabarkan, Ibnu Taimiyah sebelumnya tinggal di kampung halamannya di
Harran. Namun, ketika ada serangan dari tentara Tartar, bersama orang tua
dan keluarganya, mereka hijrah ke Damsyik. Mereka berhijrah pada malam hari
untuk menghindari serangan tentara Tartar tersebut. Mereka membawa sebuah
gerobak besar yang berisi kitab-kitab besar karya para ulama. Disebutkan,
orang tua Ibnu Taimiyah adalah seorang ulama juga yang senantiasa gemar
belajar dan menuntut ilmu. Ia berharap, kitab-kitab yang dimilikinya bisa
diwariskan kepada Ibnu Taimiyah.
Konon, sejak kecil Ibnu Taimiyah sudah menunjukkan kecerdasannya. Ketika
masih berusia belasan tahun, Ibnu Taimiyah sudah hafal Alquran dan

mempelajari sejumlah bidang ilmu pengetahuan di Kota Damsyik kepada para


ulama-ulama terkenal di zamannya.
Disebutkan dalam kitab *al-Uqud al-Daruriyah, * suatu hari ada seorang ulama
dari Halab (sebuah kota di Syria), sengaja datang ke Damsyik untuk melihat
kemampuan si bocah yang bernama Ibnu Taimiyah, yang telah menjadi buah bibir
masyarakat. Ketika bertemu, ulama ini menguji kemampuan Ibnu Taimiyah dengan
menyampaikan puluhan matan hadis sekaligus. Di luar dugaan, Ibnu Taimiyah
dengan mudah menghapal hadis tersebut lengkap matan dan sanadnya. Hingga
ulama tersebut berkata, ''Jika anak ini hidup, niscaya Ia kelak mempunyai
kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah yang memiiki
kemampuan
seperti dia.''
Berkat kecerdasannya, ia dengan mudah menyerap setiap pelajaran yang
diberikan. Bahkan, ketika usianya belum menginjak remaja, ia sudah menguasai
ilmu ushuluddin (teologi) dan memahami berbagai disiplin ilmu, seperti
tafsir, hadis, dan bahasa Arab. Sehingga, banyak ulama yang kagum akan
kecerdasannya. Dan ketika dewasa, kemampuan Ibnu Taimiyah pun semakin
matang.
Pada umurnya yang ke-17, Ibnu Taimiyah sudah siap mengajar dan berfatwa,
terutama dalam bidang ilmu tafsir, ilmu ushul, dan semua ilmu-ilmu lain,
baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya. ''Ibnu Taimiyah mempunyai
pengetahuan yang sempurna mengenai *rijalul hadis* (mata rantai sanad,
periwayat), ilmu *al-Jahru wa al-Ta'dil*, thabaqat sanad, pengetahuan
tentang hadis sahih dan dlaif, dan lainnya,'' ujar Adz-Dzahabi.
Sejak kecil, Ibnu Taimiyah hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama
besar. Karena itu, ia mempergunakan kesempatan itu untuk menuntut ilmu
sepuas-puasnya dan menjadikan mereka sebagai 'ilmu berjalan.'
Karena penguasaan ilmunya yang sangat luas itu, ia pun banyak mendapat
pujian dari sejumlah ulama terkemuka. Antara lain, Al-Allamah As-Syaikh
Al-Karamy Al-Hambali dalam kitabnya *Al-Kawakib Al-Darary,* Al-Hafizh
Al-Mizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu Sayyid
An-Nas, Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi, dan ulama lainnya.
''Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah, dan belum pernah
kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap*Kitabullah * dan Sunah
Rasulullah SAW selain dirinya,'' ungkap Al-Mizzy. ''Kalau Ibnu Taimiyah
bukan Syaikhul Islam, lalu siapa dia ini?'' kata Al-Qadli Ibnu Al-Hariry.
*Teguh pendirian*

Disamping dikenal sebagai Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah juga dikenal sebagai
sosok ulama yang keras dan teguh dalam pendirian, sesuai dengan yang
disyariatkan dalam Islam. Dia dikenal pula sebagai seorang
*mujaddid*(pembaru) dalam pemikiran Islam.
Ia pernah berkata, ''Jika dibenakku ada suatu masalah, sedangkan hal itu
merupakan masalah yang *musykil* (ragu) bagiku, aku akan beristigfar 1000
kali, atau lebih atau kurang, hingga dadaku menjadi lapang dan masalah itu
terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, masjid, atau madrasah.
Semuanya tidak menghalangiku untuk berzikir dan beristigfar hingga terpenuhi
cita-citaku. ''
Tak jarang, pendapatnya itu menimbulkan polemik di kalangan ulama, termasuk
mereka yang tidak suka dengan Ibnu Taimiyah. Karena ketegasan sikapnya dan
kuatnya dalil-dalil *naqli* dan *aqli* yang dijadikannya sebagai
*hujjah*(argumentas i), ia tak segan-segan melawan arus. Ulama yang
tidak suka
dengannya kemudian menyebutnya sebagai *ahlul bid'ah* dan pembuat kerusakan
dalam syariat.
Ibnu Taimiyah juga banyak dikecam oleh ulama Syiah dan menyebutnya sebagai
orang yang tidak suka terhadap *ahlul bayt* (keturunan Rasul dari Fatimah RA
dan Ali bin Abi Thalib RA). Ia juga banyak dikecam oleh para ulama wahabi
dengan menganggapnya sebagai seorang ulama yang merusak akidah Islam.
Karena dianggap berbahaya, termasuk oleh penguasa setempat, ia kemudian
dizalimi dan dimasukkan ke dalam penjara. Di penjara, ia justru merasakan
kedamaian, sebab bisa lebih leluasa mengungkapkan pikirannya dan
menuangkannya dalam tulisan-tulisan. Beberapa karyanya berasal dari
ide-idenya selama di penjara.
Di penjara, ia juga banyak menyampaikan persoalan-persoalan keagamaan.
Hingga akhirnya, banyak narapidana yang belajar kepadanya. Beberapa di
antaranya, yang diputuskan bebas dan berhak keluar dari penjara, malah
menetap dan berguru kepadanya.
Ia wafat di dalam penjara *Qal'ah Dimasyqy* pada 20 Dzulhijah 728 H (1328
M), dan disaksikan salah seorang muridnya, Ibnu al-Qayyim. Bersama
Najamuddin At-Tufi, mereka dijuluki sebagai trio pemikir bebas. Ibnu
Taimiyah berada di dalam penjara selama 27 bulan (dua tahun tiga bulan)
lebih beberapa hari.
Selama di penjara, Ia tidak pernah mau menerima pemberian apa pun dari
penguasa. Jenazahnya dishalatkan di Masjid Jami' Bani Umayah sesudah shalat

Dzhuhur dan dimakamkan sesudah Ashar. Ibnu Taimiyah dimakamkan di samping


kuburan saudaranya, Syaikh Jamal Al-Islam Syarifuddin. Semua penduduk
Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya, termasuk para
umara, ulama, tentara, dan lainnya, hingga Kota Dimasyq menjadi libur total
hari itu. Bahkan, semua penduduk Dimasyq (Damaskus) tua, muda, laki,
perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergiannya. sya/berbagai
sumber
*Cerdas Sejak Kecil*
Ibnu Taimiyah dikenal sebagai seorang Syaikhul Islam yang cerdas dan
memiliki ilmu yang sangat luas. Kepandaian dan kercerdasannya diperolehnya
dengan ketekunan dan kerajinannya dalam menuntut ilmu sejak kecil. Hampir
tak ada waktu senggang tanpa ia habiskan dengan menuntut ilmu. Dan setelah
dewasa, ia pun masih suka belajar dan berbagi pengetahuan dengan murid-murid
dan ulama lainnya.
Para ahli sejarah mencatat, meskipun dalam usia kanak-kanak, ia tidak
tertarik pada segala permainan dan senda gurau sebagaimana yang diperbuat
anak-anak pada umumnya. Dia tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk itu. Dia
pergunakan setiap kesempatan untuk menelaah soal-soal kehidupan dan sosial
kemasyarakatan, di samping terus mengamati setiap gejala yang terjadi
tentang tradisi maupun perangai manusia.
Ibnu Taimiyah mempelajari berbagai disiplin ilmu yang dikenal pada masa itu.
Kemampuannya berbahasa Arab sangat menonjol. Dia menguasai ilmu nahwu (tata
bahasa Arab) dari ahli nahwu, Imam Sibawaihi. Ibnu Taimiyah juga suka
belajar ilmu hisab (matematika) , kaligrafi, tafsir, fikih, hadis, dan
lainnya.
Ibnu Abdul Hadi berkata, "Guru-guru di mana Ibnu Taimiyah belajar dari
mereka lebih dari dua ratus orang. Di antaranya yang teristimewa adalah Ibnu
Abdid Daim Al-Muqaddasi dan para tokoh yang setingkat dengannya. Dia belajar
Musnad Imam Ahmad dan kitab-kitab Shahih Enam secara berulang-ulang.
Karena penguasaan ilmunya yang luas itu, banyak murid-muridnya yang sukses
menjadi ulama. Di antaranya *Al-Hafizh* Ibnu al-Qayyim Al-Jauziyah, Ibnu
Abdul Hadi, *Al-Hafizh* Ibnu Katsir, dan *Al-Hafizh* Ibnu Rajab Al-Hanbali.
Ibnu Taimiyah juga telah melahirkan banyak karya fenomenal yang menjadi
pegangan dan rujukan ulama-ulama sesudahnya. Di antaranya, *Minhajus Sunnah,
Al-Jawab Ash-Shahih Liman Baddala Dina Al-Masih, An Nubuwah, Ar-Raddu 'Ala
Al-Manthiqiyyin, Iqtidha'u Ash-Shirathi Al-Mustaqim, Majmu' Fatawa,
Risalatul Qiyas, Minhajul Wushul Ila 'Ilmil Ushul, Syarhu Al-Ashbahani war

Risalah Al-Humuwiyyah, At-Tamiriyyah, Al-Wasithiyyah, Al-Kailaniyyah,


Al-Baghdadiyyah, Al-Azhariyyah, * dan masih banyak lagi. (sya/berbagai
sumber)
Diposkan oleh Jihaduddin Fikri Amrullah di 10:29
http://tokoh-muslim.blogspot.com/2009/03/ibnu-taimiyah.html

Biografi
[sunting] Awal mula Menuntut Ilmu

Ilmu yang pertama kali dikuasai adalah Al Qur'an hingga ia hafal pada usia 15 tahun, ia juga
mahir baca-tulis dengan sempurna hingga dikenal sebagai orang yang terindah tulisannya. Lalu,
ia mulai konsentrasi belajar ilmu hadits di awal umur 15 tahun itu pula. Ia telah mempelajari
Hadits sejak kecil dan untuk mempelajari Hadits ini ia pernah pindah atau merantau ke Syam
(Syiria), Hijaz, Yaman dan negara-negara lainnya sehingga ia akhirnya menjadi tokoh ulama
yang bertakwa, saleh, dan zuhud. Abu Zur'ah mengatakan bahwa kitabnya yang sebanyak 12
buah sudah dihafalnya di luar kepala. Ia menghafal sampai sejuta hadits. Imam Syafi'i
mengatakan tetang diri Imam Ahmad sebagai berikut:
"Setelah saya keluar dari Baghdad, tidak ada orang yang saya tinggalkan di
sana yang lebih terpuji, lebih shaleh dan yang lebih berilmu daripada Ahmad
bin Hambal"

Abdur Rozzaq Bin Hammam yang juga salah seorang guru beliau pernah berkata,
"Saya tidak pernah melihat orang se-faqih dan se-wara' Ahmad Bin Hanbal"[2]
[sunting] Keadaan fisik

Muhammad bin Abbas An-Nahwi bercerita, Saya pernah melihat Imam Ahmad bin Hambal,
ternyata Badan beliau tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek, wajahnya tampan, di
jenggotnya masih ada yang hitam. Ia senang berpakaian tebal, berwarna putih dan bersorban
serta memakai kain. Yang lain mengatakan, Kulitnya berwarna coklat (sawo matang)
[sunting] Keluarga

Beliau menikah pada umur 40 tahun dan mendapatkan keberkahan yang melimpah. Ia
melahirkan dari istri-istrinya anak-anak yang shalih, yang mewarisi ilmunya, seperti Abdullah
dan Shalih. Bahkan keduanya sangat banyak meriwayatkan ilmu dari bapaknya.

[sunting] Kecerdasan

Putranya yang bernama Shalih mengatakan, Ayahku pernah bercerita, Husyaim meninggal
dunia saat saya berusia dua puluh tahun, kala itu saya telah hafal apa yang kudengar darinya.
Abdullah, putranya yang lain mengatakan, Ayahku pernah menyuruhku, Ambillah kitab
mushannaf Waki mana saja yang kamu kehendaki, lalu tanyakanlah yang kamu mau tentang
matan nanti kuberitahu sanadnya, atau sebaliknya, kamu tanya tentang sanadnya nanti kuberitahu
matannya.
Abu Zurah pernah ditanya, Wahai Abu Zurah, siapakah yang lebih kuat hafalannya? Anda
atau Imam Ahmad bin Hambal? Beliau menjawab, Ahmad. Ia masih ditanya, Bagaimana
Anda tahu? beliau menjawab, Saya mendapati di bagian depan kitabnya tidak tercantum namanama perawi, karena beliau hafal nama-nama perawi tersebut, sedangkan saya tidak mampu
melakukannya. Abu Zurah mengatakan, Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits.
[sunting] Pujian Ulama

Abu Jafar mengatakan, Ahmad bin Hambal manusia yang sangat pemalu, sangat mulia dan
sangat baik pergaulannya serta adabnya, banyak berfikir, tidak terdengar darinya kecuali
mudzakarah hadits dan menyebut orang-orang shalih dengan penuh hormat dan tenang serta
dengan ungkapan yang indah. Bila berjumpa dengan manusia, maka ia sangat ceria dan
menghadapkan wajahnya kepadanya. Ia sangat rendah hati terhadap guru-gurunya serta
menghormatinya. Imam Asy-Syafii berkata, Ahmad bin Hambal imam dalam delapan hal,
Imam dalam hadits, Imam dalam Fiqih, Imam dalam bahasa, Imam dalam Al Quran, Imam
dalam kefaqiran, Imam dalam kezuhudan, Imam dalam wara dan Imam dalam Sunnah. Ibrahim
Al Harbi memujinya, Saya melihat Abu Abdillah Ahmad bin Hambal seolah Allah gabungkan
padanya ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan dari berbagai disiplin ilmu.
[sunting] Kezuhudannya

Beliau memakai peci yang dijahit sendiri. Dan kadang beliau keluar ke tempat kerja membawa
kampak untuk bekerja dengan tangannya. Kadang juga beliau pergi ke warung membeli seikat
kayu bakar dan barang lainnya lalu membawa dengan tangannya sendiri. Al Maimuni pernah
berujar, Rumah Abu Abdillah Ahmad bin Hambal sempit dan kecil.
[sunting] Wara dan menjaga harga diri

Abu Ismail At-Tirmidzi mengatakan, Datang seorang lelaki membawa uang sebanyak sepuluh
ribu (dirham) untuk beliau, namun beliau menolaknya. Ada juga yang mengatakan, Ada
seseorang memberikan lima ratus dinar kepada Imam Ahmad namun beliau tidak mau
menerimanya. Juga pernah ada yang memberi tiga ribu dinar, namun beliau juga tidak mau
menerimanya.

[sunting] Tawadhu dengan kebaikannya

Yahya bin Main berkata, Saya tidak pernah melihat orang yang seperti Imam Ahmad bin
Hambal, saya berteman dengannya selama lima puluh tahun dan tidak pernah menjumpai dia
membanggakan sedikitpun kebaikan yang ada padanya kepada kami. Beliau (Imam Ahmad)
mengatakan, Saya ingin bersembunyi di lembah Makkah hingga saya tidak dikenal, saya diuji
dengan popularitas. Al Marrudzi berkata, Saya belum pernah melihat orang fakir di suatu
majlis yang lebih mulia kecuali di majlis Imam Ahmad, beliau perhatian terhadap orang fakir
dan agak kurang perhatiannya terhadap ahli dunia (orang kaya), beliau bijak dan tidak tergesagesa terhadap orang fakir. Ia sangat rendah hati, begitu tinggi ketenangannya dan sangat memuka
kharismanya. Beliau pernah bermuka masam karena ada seseorang yang memujinya dengan
mengatakan, Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas jasamu kepada Islam? beliau
mengatakan, Jangan begitu tetapi katakanlah, semoga Allah membalas kebaikan terhadap Islam
atas jasanya kepadaku, siapa saya dan apa (jasa) saya?!
[sunting] Sabar dalam menuntut ilmu

Tatkala beliau pulang dari tempat Abdurrazzaq yang berada di Yaman, ada seseorang yang
melihatnya di Makkah dalam keadaan sangat letih dan capai. Lalu ia mengajak bicara, maka
Imam Ahmad mengatakan, Ini lebih ringan dibandingkan faidah yang saya dapatkan dari
Abdirrazzak.
[sunting] Hati-hati dalam berfatwa

Zakariya bin Yahya pernah bertanya kepada beliau, Berapa hadits yang harus dikuasai oleh
seseorang hingga bisa menjadi mufti? Apakah cukup seratus ribu hadits? Beliau menjawab,
Tidak cukup. Hingga akhirnya ia berkata, Apakah cukup lima ratus ribu hadits? beliau
menjawab. Saya harap demikian.
[sunting] Kelurusan aqidahnya sebagai standar kebenaran

Ahmad bin Ibrahim Ad-Dauruqi mengatakan, Siapa saja yang kamu ketahui mencela Imam
Ahmad maka ragukanlah agamanya. Sufyan bin Waki juga berkata, Ahmad di sisi kami
adalah cobaan, barangsiapa mencela beliau maka dia adalah orang fasik.
[sunting] Masa Fitnah

Pemahaman Jahmiyyah belum berani terang-terangan pada masa khilafah Al Mahdi, Ar-Rasyid
dan Al Amin, bahkan Ar-Rasyid pernah mengancam akan membunuh Bisyr bin Ghiyats Al
Marisi yang mengatakan bahwa Al Quran adalah makhluq. Namun dia terus bersembunyi pada
masa khilafah Ar-Rasyid, baru setelah beliau wafat, dia menampakkan kebidahannya dan
menyeru manusia kepada kesesatan ini.
Di masa khilafah Al Mamun, orang-orang jahmiyyah berhasil menjadikan paham jahmiyyah
sebagai ajaran resmi negara, di antara ajarannya adalah menyatakan bahwa Al Quran makhluk.
Lalu penguasa pun memaksa seluruh rakyatnya untuk mengatakan bahwa Al Quran makhluk,

terutama para ulamanya. Barangsiapa mau menuruti dan tunduk kepada ajaran ini, maka dia
selamat dari siksaan dan penderitaan. Bagi yang menolak dan bersikukuh dengan mengatakan
bahwa Al Quran Kalamullah bukan makhluk maka dia akan mencicipi cambukan dan pukulan
serta kurungan penjara.
Karena beratnya siksaan dan parahnya penderitaan banyak ulama yang tidak kuat menahannya
yang akhirnya mengucapkan apa yang dituntut oleh penguasa zhalim meski cuma dalam lisan
saja. Banyak yang membisiki Imam Ahmad bin Hambal untuk menyembunyikan keyakinannya
agar selamat dari segala siksaan dan penderitaan, namun beliau menjawab, Bagaimana kalian
menyikapi hadits Sesungguhnya orang-orang sebelum Khabbab, yaitu sabda Nabi Muhammad
ada yang digergaji kepalanya namun tidak membuatnya berpaling dari agamanya. HR. Bukhari
12/281. lalu beliau menegaskan, Saya tidak peduli dengan kurungan penjara, penjara dan
rumahku sama saja.
Ketegaran dan ketabahan beliau dalam menghadapi cobaan yang menderanya digambarkan oleh
Ishaq bin Ibrahim, Saya belum pernah melihat seorang yang masuk ke penguasa lebih tegar dari
Imam Ahmad bin Hambal, kami saat itu di mata penguasa hanya seperti lalat.
Di saat menghadapi terpaan fitnah yang sangat dahsyat dan deraan siksaan yang luar biasa,
beliau masih berpikir jernih dan tidak emosi, tetap mengambil pelajaran meski datang dari orang
yang lebih rendah ilmunya. Ia mengatakan, Semenjak terjadinya fitnah saya belum pernah
mendengar suatu kalimat yang lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang
Arab Badui kepadaku, Wahai Ahmad, jika anda terbunuh karena kebenaran maka anda mati
syahid, dan jika anda selamat maka anda hidup mulia. Maka hatiku bertambah kuat.
[sunting] Ahli hadits sekaligus juga Ahli Fiqih

Ibnu Aqil berkata, Saya pernah mendengar hal yang sangat aneh dari orang-orang bodoh yang
mengatakan, Ahmad bukan ahli fiqih, tetapi hanya ahli hadits saja. Ini adalah puncaknya
kebodohan, karena Imam Ahmad memiliki pendapat-pendapat yang didasarkan pada hadits yang
tidak diketahui oleh kebanyakan manusia, bahkan beliau lebih unggul dari seniornya.
Bahkan Imam Adz-Dzahabi berkata, Demi Allah, beliau dalam fiqih sampai derajat Laits,
Malik dan Asy-Syafii serta Abu Yusuf. Dalam zuhud dan wara beliau menyamai Fudhail dan
Ibrahim bin Adham, dalam hafalan beliau setara dengan Syubah, Yahya Al Qaththan dan Ibnul
Madini. Tetapi orang bodoh tidak mengetahui kadar dirinya, bagaimana mungkin dia mengetahui
kadar orang lain!!
[sunting] Guru

Imam Ahmad bin Hambal berguru kepada banyak ulama, jumlahnya lebih dari dua ratus delapan
puluh yang tersebar di berbagai negeri, seperti di Makkah, Kufah, Bashrah, Baghdad, Yaman dan
negeri lainnya. Di antara mereka adalah:
1. Ismail bin Jafarss
2. Abbad bin Abbad Al-Ataky

3. Umari bin Abdillah bin Khalid


4. Husyaim bin Basyir bin Qasim bin Dinar As-Sulami
5. Imam Syafi'i
6. Waki bin Jarrah
7. Ismail bin Ulayyah
8. Sufyan bin Uyainah
9. Abdurrazaq
10.Ibrahim bin Maqil

[sunting] Murid-murid Ahmad bin Hanbal


Umumnya ahli hadits pernah belajar kepada imam Ahmad bin Hambal, dan belajar kepadanya
juga ulama yang pernah menjadi gurunya, yang paling menonjol adalah:
1. Imam Bukhari
2. Muslim
3. Abu Daud
4. Nasai
5. Tirmidzi
6. Ibnu Majah
7. Imam Asy-Syafi'i
8. Putranya, Shalih bin Imam Ahmad bin Hambal
9. Putranya, Abdullah bin Imam Ahmad bin Hambal
10.Keponakannya, Hambal bin Ishaq

[sunting] Kewafatan Ahmad bin Hanbal


Setelah sakit sembilan hari, beliau Rahimahullah menghembuskan napas terakhirnya di pagi hari
Jumat bertepatan dengan tanggal dua belas Rabiul Awwal 241 H pada umur 77 tahun. Jenazah
beliau dihadiri delapan ratus ribu pelayat lelaki dan enam puluh ribu pelayat perempuan.

[sunting] Karya tulis


Ahmad bin Hanbal menulis kitab al-Musnad al-Kabir yang termasuk sebesar-besarnya kitab
"Musnad" dan sebaik baik karangan beliau dan sebaik baik penelitian Hadits. Ia tidak

memasukkan dalam kitabnya selain yang dibutuhkan sebagai hujjah. Kitab Musnad ini berisi
lebih dari 25.000 hadits.
Di antara karya Imam Ahmad adalah ensiklopedia hadits atau Musnad, disusun oleh anaknya
dari ceramah (kajian-kajian) - kumpulan lebih dari 40 ribu hadits juga Kitab ash-Salat dan Kitab
as-Sunnah.
[sunting] Karya-Karya Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah
1. Kitab Al Musnad, karya yang paling menakjubkan karena kitab ini memuat
lebih dari dua puluh tujuh ribu hadits.
2. Kitab at-Tafsir, namun Adz-Dzahabi mengatakan, Kitab ini hilang.
3. Kitab an-Nasikh wa al-Mansukh
4. Kitab at-Tarikh
5. Kitab Hadits Syu'bah
6. Kitab al-Muqaddam wa al-Mu'akkhar fi al-Qur`an
7. Kitab Jawabah al-Qur`an
8. Kitab al-Manasik al-Kabir
9. Kitab al-Manasik as-Saghir
[sunting] Menurut Imam Nadim, kitab berikut ini juga merupakan tulisan
Imam Ahmad bin Hanbal
1. Kitab al-'Ilal
2. Kitab al-Manasik
3. Kitab az-Zuhd
4. Kitab al-Iman
5. Kitab al-Masa'il
6. Kitab al-Asyribah
7. Kitab al-Fadha'il
8. Kitab Tha'ah ar-Rasul
9. Kitab al-Fara'idh
10.Kitab ar-Radd ala al-Jahmiyyah

[sunting] Referensi
1. Disadur dari Biografi singkat para 'Ulama ahli hadist Abu rayyan (bicara)
09:47, 7 Agustus 2008 (UTC) Abu Rayyan

1.
2.

^ http://muslim-canada.org/hanbalschool.html
^ Manaqib Imam Ahmad bin Hanbal, oleh Ibnul Jawzy, diteliti oleh
Dr.'Abdullah Bin 'Abdul Muhsin At Turky, Rektor Universitas Muhammad Bin
Su'ud Al Islamiyyah di Arab Saudi

http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_bin_Hanbal#Biografi

Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Asy Syaibani. Beliau
lahir di kota Baghdad pada bulan rabiul Awwal tahun 164 H (780 M), pada masa Khalifah
Muhammad al Mahdi dari Bani abbasiyyah ke III. Nasab beliau yaitu Ahmad bin Muhammad
bin Hanbal bin Hilal bin Asas bin Idris bin Abdullah bin Hajyan bin Abdullah bin Anas bin Auf
bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin Dzahal Tsalabah bin akabah bin Shaab bin Ali bin bakar
bin Muhammad bin Wail bin Qasith bin Afshy bin Damy bin Jadlah bin Asad bin Rabiah bin
Nizar bin Maad bin Adnan. Jadi beliau serumpun dengan Nabi karena yang menurunkan Nabi
adalah Muzhar bin Nizar.Menurut sejarah beliau lebih dikenal dengan Ibnu Hanbal (nisbah bagi
kakeknya).
Dan setelah mempunyai beberapa orang putra yang diantaranya bernama Abdullah, beliau lebih
sering dipanggil Abu Abdullah. Akan tetapi, berkenaan dengan madzabnya, maka kaum
muslimin lebih menyebutnya sebagai madzab Hanbali dan sama sekali tidak menisbahkannya
dengan kunyah tersebut.
Sejak kecil, Imam Ahmad kendati dalam keadaan yatim dan miskin, namun berkat bimbingan
ibunya yang shalihah beliau mampu menjadi manusia yang teramat cinta pada ilmu, kebaikan
dan kebenaran. Dalam suasana serba kekurangan, tekad beliau dalam menuntut ilmu tidak pernah
berkurang. Bahkan sekalipun beliau sudah menjadi imam, pekerjaan menuntut ilmu dan
mendatangi guru-guru yang lebih alim tidak pernah berhenti. Melihat hal tersebut, ada orang
bertanya, Sampai kapan engkau berhenti dari mencari ilmu, padahal engkau sekarang sudah
mencapai kedudukan yang tinggi dan telah pula menjadi imam bagi kaum muslimin ? Maka
beliau menjawab, Beserta tinta sampai liang lahat.
Beliau menuntut ilmu dari banyak guru yang terkenal dan ahli di bidangnya. Misalnya dari
kalangan ahli hadits adalah Yahya bin Said al Qathan, Abdurrahman bin Mahdi, Yazid bin
Harun, sufyan bin Uyainah dan Abu Dawud ath Thayalisi. Dari kalangan ahli fiqh adalah Waki
bin Jarah, Muhammad bin Idris asy Syafii dan Abu Yusuf (sahabat Abu Hanifah ) dll. dalam
ilmu hadits, beliau mampu menghafal sejuta hadits bersama sanad dan hal ikhwal perawinya.
Meskipun Imam Ahmad seorang yang kekurangan, namun beliau sangat memelihara kehormatan
dirinya. Bahkan dalam keadaan tersebut, beliau senantiasa berusaha menolong dan tangannya
selalu di atas. Beliau tidak pernah gusar hatinya untuk mendermakan sesuatu yang dimiliki satusatunya pada hari itu. Disamping itu, beliau terkenal sebagai seorang yang zuhud dn wara.
Bersih hatinya dari segala macam pengaruh kebendaan serta menyibukkan diri dengan dzikir dan
membaca Al Quran atau menghabiskn seluruh usianya untuk membersihkan agama dan
mengikisnya dari kotoran-kotoran bidah dan pikiran-pikiran yang sesat.

Salah satu karya besar beliau adalah Al Musnad yang memuat empat puluh ribu hadits.
Disamping beliau mengatakannya sebagai kumpulan hadits-hadits shahih dan layak dijadikan
hujjah, karya tersebut juga mendapat pengakuan yang hebat dari para ahli hadits. Selain al
Musnad karya beliau yang lain adalah : Tafsir al Quran, An Nasikh wa al Mansukh, Al
Muqaddam wa Al Muakhar fi al Quran, Jawabat al Quran, At Tarih, Al Manasik Al Kabir, Al
Manasik Ash Shaghir, Thaatu Rasul, Al Ilal, Al Wara dan Ash Shalah.
Ujian dan tantangan yang dihadapi Imam Ahmad adalah hempasan badai filsafat atau pahampaham Mutazilah yang sudah merasuk di kalangan penguasa, tepatnya di masa al Makmun
dengan idenya atas kemakhlukan al Quran. Sekalipun Imam Ahmad sadar akan bahaya yang
segera menimpanya, namun beliau tetap gigih mempertahankan pendirian dan mematahkan
hujjah kaum Mutazilah serta mengingatkan akan bahaya filsafat terhadap kemurnian agama.
Beliau berkata tegas pada sultan bahwa al Quran bukanlah makhluk, sehingga beliau diseret ke
penjara. Beliau berada di penjara selama tiga periode kekhlifahan yaitu al Makmun, al
Mutashim dan terakhir al Watsiq. Setelah al Watsiq tiada, diganti oleh al Mutawakkil yang arif
dan bijaksana dan Imam Ahmad pun dibebaskan.
Imam Ahmad lama mendekam dalam penjara dan dikucilkan dari masyarakat, namun berkat
keteguhan dan kesabarannya selain mendapat penghargaan dari sultan juga memperoleh
keharuman atas namanya. Ajarannya makin banyak diikuti orang dan madzabnya tersebar di
seputar Irak dan Syam. Tidak lama kemudian beliau meninggal karena rasa sakit dan luka yang
dibawanya dari penjara semakin parah dan memburuk. Beliau wafat pada 12 Rabiul Awwal 241
H (855). Pada hari itu tidak kurang dari 130.000 Muslimin yang hendak menshalatkannya dan
10.000 orang Yahudi dan Nashrani yang masuk Islam. Menurut sejarah belum pernah terjadi
jenazah dishalatkan orang sebanyak itu kecuali Ibnu Taimiyah dan Ahmad bin Hanbal. Semoga
Allah senantiasa memberikan rahmat atas keduanya. Amin.
Al sofwah.or.id
http://kisahkayahikmah.wordpress.com/2010/01/12/riwayat-hidup-imam-ahmad-binhambal/