Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Sepanjang sejarah kehidupan manusia peperangan hampir selalu ada, baik antara individu, kelompok, negara, bahkan agama. Sejak Adam turun ke Bumi dan melahirkan keturunannya, pertentangan terus berlangsung di antara mereka seakan-akan sudah menjadi hukum kehidupan yang tidak bisa dihindari. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 3 !

Artinya! "#urunlah kamu$ sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai %aktu yang ditentukan." Selain itu, ketika &blis dikeluarkan dari surga karena ia tidak mau sujud kepada nabi Adam a.s, ia berjanji untuk menyesatkan semua anak Adam. Sehingga menjadi sebab adanya perselisihan yang terus berlangsung antara kebaikan dan kejahatan, dan menjadikan manusia untuk mengalirkan darah karena kesesatan tersebut. Allah telah menetapkan dalam hati manusia untuk menyukai kemenangan yang mengantarkan pada pertumpahan darah, bahkan untuk menang dalam masalah agama dan ibadah yang su'i. Seperti 'erita dua putera Adam ()abil dan *abil+ dalam surat al-,aidah ayat -.-3/. Antara kebaikan dan kejahatan yang saling mengalahkan menyebabkan orang jatuh dalam peperangan, baik antara individu, kelompok, maupun 0egara. 1an semua itu sudah menjadi fitrah. 2etika kejahatan merajalela, maka tidak boleh tidak bagi kebenaran untuk men'egahnya. 1an ketika

ked3aliman menjadi hukum, maka mau tidak mau kebenaran harus menolak dan menghukumi dengan kebenaran. 2ebenaran harus mempunyai kemampuan untuk men'egah kebatilan. 4leh karena itu agama-agama sama%iyah membolehkan berperang untuk mempertahankan ji%a, ibadah, dan risalah keagamaan. 2etika agama butuh mempertahankan diri maka perang adalah suatu kenis'ayaan bagian dari ajaran nabi dan rasul untuk memberi hukum manusia dengan hak5benar. ,ereka diutus untuk menolong kebaikan dan mengalahkan kebatilan. B. 6okok ,asalah 1ari uraian di atas dapat diambil beberapa pokok masalah sebagai berikut! 7. Apa pengertian perang dalam &slam8 -. Bagaimana etika perang dalam &slam8

BAB II PEMBAHASAN A. 6engertian 6erang a+ 9ihad 9ihad adalah bentuk isim masdar dari kata jahada-yujahidujihadan-mujahadatan .Se'ara etimologi jihad berarti men'urahkan usaha, kemampuan, dan tenaga. 9ihad se'ara bahasa berarti menanggung kesulitan . Al-)ur:an menyebut kata jihad dengan berbagai bentuknya sebanyak 3; kali. 2ata jihad kemudian lebih banyak dipergunakan dalam arti peperangan untuk menolong agama atau kehormatan umat. b+ 6eperangan (al-qital+ 6eperangan adalah bagian terakhir dari jihad, yaitu berperang dengan menggunakan senjata untuk menghadapi musuh. ,akna inilah yang banyak dipahami oleh orang-orang. Akan tetapi dari segi derivasi atau makna, peperangan (al-qital+ berbeda dengan jihad (al-jihad+. Alqital adalah isim masdar dari kata qatala-yaqtulu-qitalan-muqatalan. 1ari segi makna ia tidak sama dengan jihad, sebab kata qatala tidak sama dengan kata jahada , al-qital diambil dari al-qatlu, sedangkan al-jihad diambil dari kata al-juhd. 2ata al-qital dan berbagai derivasinya disebutkan dalam Al-)ur:an sebanyak . kali. '+ 6erang (al-harb+ 6erang berarti satu kelompok menggunakan senjata dan kekuatan materi untuk mela%an kelompok lain. Baik satu kabilah mela%an satu kabilah lain, beberapa kabilah mela%an beberapa kabilah lain, satu 0egara mela%an satu 0egara lain, dan beberapa 0egara mela%an beberapa 0egara lain.

9ihad berbeda dangan perang. 9ihad adalah makna yang berkaitan dengan agama. 9ihad berbeda seiring dengan perbedaan tujuan, motif, akhlak, dan batasan. Sedangkan perang adalah makna yang berkaitan dengan dunia. 6erang ada pada 3aman jahiliyyah, &slam berbagai umat, dan sepanjang masa. #ujuanya adalah melakukan hegemoni, menindas, atau merampas kekayaan orang lain. Sedangkan jihad harus dimaksudkan untuk meninggikan kalimat Allah. 2e'uali peperangan diberi sifat &slam, ia akan bermakna jihad. 6eperangan (al-qital+ yang berarti pertarungan militer tidak sama dengan al-harb dalam pemahaman 3aman sekarang. Sebab, peperangan bukan sebuah kela3iman yang harus dilakukan dalam perang 3aman modern, meskipun ia tidak terlepas dari perang. &ni karena peperangan berarti dua kelompok yang saling berhadapan. Sedangkan perang 3aman sekarang, terkadang hanya ada satu kelompok yang melemparkan bom 'anggih dan nuklir yang bisa lintas benua. B. <tika 6erang 1alam &slam 1i dalam ajaran &slam, perang harus dilakukan dengan memperhatikan etika dan nilai-nilai luhur, terikat dengan hukum-hukum syari:at, dan berjalan sesuai dengan batasan-batasan Allah yang tidak boleh dilanggar. Berbeda halnya dengan peradaban Barat dan orang-orang yang sepakat dengan falsafah Barat, bah%a perang tidak terikat dengan etika. 1engan kata lain, perang dalam pandangan Barat tidak harus memperhatikan etika dan norma. 6erang yang dijalani oleh umat ,uslim diatur oleh undang-undang moral yang komprehessif dan %ajib diperhatikan. Akhlak dalam &slam bukanlah hal yang bersifat anjuran dalam agama, dan sebaliknya, akhlak justru merupakan bagian paling penting dari agama. 1engan demikian, keutamaan-keutamaan adalah ke%ajiban dalam agama yang harus dilaksanakan, sedangkan kejelekan-kejelekan adalah keharaman dalam agama yang harus dijauhi.

2arena itu, keadilan, kebaikan, rahmat, kejujuran, amanah, dan keutamaan-keutamaan lainya merupakan ke%ajiban agama yang diperintahkan oleh Allah dan =asul-0ya. 6erbuatan-perbuatan ini kjuga dikategorikan sebagai 'abang-'abang iman. Sebaliknya, perbuatan-perbuatan jelek, seperti ke3aliman, menyakiti orang lain, keras hati, berbohong, dan kejelekankejelekan lainya merupakan perbuatan haram yang dilarang oleh Allah dan =asul-0ya. 1ari paparan tadi, kita bisa melihat bah%a undang-undang peperangan yang harus diperhatikan oleh pasukan perang dalam &slam adalah undangundang yang bersifat umum dan sempurna. >ndang-undang ini men'akup etika sebelum berperang, etika ketika berperang, dan etika setelah berperang. 7. <tika Sebelum 6erang Sebelum perang dimulai, &slam mengharamkan kepada umatnya dengan tegas dari menggunakan 'ara-'ara yang jauh dari etika. Biasanya &slam menggunakan pasukan intelijen militer untuk menyelidiki musuh, mengumpulkan berbagai informasi tentang mereka, serta melihat kekuatan dan kelemahan mereka. 6asukan intelijen ini juga bertugas untuk men'ari tahu rahasia militer musuh yang sangat penting diketahui oleh umat muslim tentang jumlah pasukan mereka, strategi mereka,antisipasi mereka, titik-titik kelemahan dari kekuatan mereka, ketahanan blok musuh untuk menyerang mereka, selain hal-hal yang sudah saya sebutkan, masih banyak tugas lain dari keintelijenan yang dipelajari dari ilmu militer se'ara terperin'i. ?ang paling penting dari pasukan intelijen militer dalam

mengumpulkan informasi dan hal-hal yang lainnya ini adalah mereka tidak boleh menggunakan berbagai perantara yang diharamkan dalam islam, seperti khamr atau %anita. 1ua hal ini merupakan perantara paling utama yang sering digunakan oleh banyak 0egara, untuk melakukan pendekatan terhadap para laki-laki yang menyimpan rahasia melalui pemuasan syah%at.

1engan demikian,dalam membela kebenaran, umat muslim tidak boleh menggunakan 'ara-'ara batil, dan tidak boleh me%ujudkan ketaatan kepada Allah dengan jalan maksiat kepada-0ya.1alam hadits ri%ayat ibn mas:ud dinyatakan,"Allah kejelekan,tetapi perbuatan yang buruk." -. <tika 2etika 1alam 6erang &slam tidak memberikan toleransi terhadap penggunaan senjata yang memakan korban dari kalangan orang-orang yang tidak bersalah dan ingin berdamai, serta mampu mene%askan jutaan manusia. Senjata inilah yang dikenal pada 3aman sekarang dengan istilah senjata pemusnah massal, berupa senjata kimia, bakteri, biologi, dan nuklir, yang bisa memusnahkan kehidupan dan makhluk hidup, merusak tanaman ,dan memusnakan binatang ternak. Semua hal ini merupakan bentuk kerusakan di muka bumi, yang sangat diben'i dan dilarang oleh Allah S%t. Al-)uran menyatakan tentang keadaan orang-orang yang berbuat kerusakan ini." Dan apabila ia berpaling (dari kamu) ,ia berusaha untuk ternak, sedangkan Allah tjdak menyukai kerus akan ()S Al-Baqarah @-A! -/B+. Al-)uran juga berbi'ara tentang keadaan orang-orang ?ahudi yang terus bertambah sesat dan kafir, " Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkanya. Dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan ()S Al-,aidah @BA! ;+. 3.<tika Setelah 6erang Adapun etika setelah perang, terutama apabila sudah meraih kemenangan, &slam sangat memperhatikan etika perlakuan terhadap ta%anan Dia tidak akan menghapus kejelekan akan menghapus kejelekan dengan dengan

kebaika.Sesungguhnya perbuatan yang buruk itu tidak akan menghapus

perang, mendorong untuk bersikap lembut kepada mereka, merasakan sisi-sisi kemanusiaan mereka, tidak merendahkan dan menghinakan mereka, serta tidak menakut-nakuti dan menyiksa mereka. Cirman Allah S%t." Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang dita an. Sesunggugnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula (u!apan) terimakasih dari kamu ()S Al-&nsan @. A! D-E+. 1emikianlah Allah dan =asul-0ya memerintahkan agar mengajak para ta%anan berdialog dan memberi kabar kepada mereka tentang hari esok yang lebih 'erah dan masa depan yang lebih baik. ?akni, apabila mereka mengikhlaskan niat serta meninggalkan perbuatan 3alim dan kekufuran, nis'aya Allah akan mengaruniakan kebaikan kepada mereka dari tebusan yang telah diambil dari mereka. #idak diragukan lagi bah%a =asulullah Sa%, juga memerintahkan para sahabatnya agar berlaku baik terhadap ta%anan perang Badar. Adapun perlakuan terhadap bangsa-bangsa yang sudah dikalahkan, tidak boleh kita merendahkan kemuliaan mereka, menginjak-injak kehormatan mereka, menghabisi mereka, menghilangkan harga diri mereka, menghan'urkan sarana ibadah dan tempat su'i milik mereka, atau menghalang-halangi kebebasan beribadah mereka. #idak boleh bagi umat ,uslim yang telah diberikan kemenangan oleh Allah S%t, dan ditempatkan-0ya di muka bumi, meniru 'ara-'ara yang dilakukan oleh kaum kafir dan berlaku seperti mereka dalam menghan'urkan negeri-negeri, merendahkan manusia, menghina bangsa-bangsa. Semua ini merupakan perbuatan yang dimurkai oleh Allah S%t. >mat ,uslim ketika menaklukkan negeri-negeri 6ersia dan =oma%i, baik di &rak, 6ersi, Syam, ,esir, Afrika >tara, mereka melakukanya dengan penuh keadilan, rahmat, memakmurkan, dan berbuat baik. 6enaklukkan yang

dilakukan

umat

,uslim

bukanlah

penaklukkan

yang

sifatnya

menghan'urkan, membinasakan, mengeksplotasi, atau berlaku sadis dan se%enang-%enang. Bahkan, sebagaimana yang dikatakan Fustave Le Bon dan yang lainnya bah%a sejarah tidak mengenal penaklukkan yang lebih adil dan penuh kasih sayang daripada penaklukkan yang dilakukan orang-orang Arab, yaitu umat ,uslim. Begitulah orang-orang memandang para penakluk dari umat ,uslim, Banyak negeri yang telah tunduk kepada umat ,uslim, dan pintu-pintu kota pun dibukakan untuk mereka. Akan tetapi, tidak pernah ter'atat dalam sejarah bah%a ada umat ,uslim yang menghan'urkan tempat ibadah, mengeksploitasi kelompok lemah, merampas harta pedagang atau orangorang kaya, tergoda oleh ke'antikan seorang perempuan sampai merenggut kehormatanya, atau mengambil apa yang tidak dihalalkan baginya dari negeri-negeri yang telah ditaklukkan. Bahkan, harta rampasan perang berupa permata, perhiasan-perhiasan ke'il, dan asset-aset berharga dari istana para raja, diserahkan kepada komandan perang dengan sangat amanah. 2etika dikirim sebagian rampasan perang dari 2isra, >mar ibn Al-2hatthab pun sampai mengatakan, "Sesungguhnya ada suatu kaum yang telah menyerahkan ini kepada orang-orang yang amanah." <tika-etika perang dalam &slam ini terlihat dari beberapa prinsip berikut! a+ ,elarang Segala Bentuk 6ermusuhan 6rinsip yang pertama adalah mengharamkan segala bentuk permusuhan kepada pihak lain. Allah S%t. ,elarang sikap memusuhi ini dengan tegas dalam Al-)uran, " Dan perangilah di jalan Allah orangorang yang memerangi kamu, (tetapi) ()S Al-Baqarah @-A! 7E/+. janganlah melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas

Al-"#tida# (penyerangan+ yang dilarang oleh ayat ini ditafsirkan dengan dua hal. $ertama, memerangi kelompok non-,uslim yang tidak memerangi umat ,uslim, tidak melakukan agresi terhadap mereka , dan tidak menampakkan permusuhan kepada mereka. %edua, membunuh %anita, anak-anak, orang tua yang lemah, dan orang-orang seperti mereka yang tidak termasuk anggota pasukan perang, serta tidak memiliki keterkaitan apa pun dalam peperangan, baik se'ara langsung atau sekadar memberikan pendapatnya. Al-)uran tidak membolehkan umat ,uslim untuk memusuhi kelompok lain, atau saling menolong dalam permusuhan, hanya karena ben'i terhadap orang-orang yang memusuhi kita atau karena sangat marah, baik kemarahan ini berasal dari mereka terhadap umat ,uslim, atau dari umat ,uslim terhadap mereka, atau bahkan dari masing-masing pihak. Seandainya keben'ian atau kemarahan ini mendorong pihak lain untuk menghalangi umat ,uslim pergi ke ,asjidil *aram , sebagaimana yang terjadi pada perang *udaibiyah, ketika kaum )uraisy menghalangi umat ,uslim yang ingin menunaikan umrah seperti bangsa Arab yang lainya. ,aka, dalam hal ini Allah S%t. ,enyatakan," Dan janganlah sekali-kali keben!ian-(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari &asjidil 'aram, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada ) mereka. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan ) kebajikan dan taq a, dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan permusuhan ()S Al-,a:idah @BA ! -+. b+ #idak ,embunuh 2e'uali *anya 4rang-4rang ?ang #urun 2e ,edan 6erang 1i antara etika-etika perang dalam &slam adalah haram membunuh orang-orang yang tidak ikut berperang dan tidak memba%a senjata. ,ereka inilah yang pada 3aman sekarang dikenal dengan sebutan %arga sipil, seperti anak-anak, perempuan, orang tua, pendeta yang

sedang menjalankan ibadahnya, orang buta , pengidap 'a'at, petani, pedagang, dan yang lainya. Adapun sabda 0abi yang mengatakan," &engapa anita ini dibunuh, padahal ia tidak ikut perang(" : *adis ini menunkjukkan bah%a larangan untuk membunuh %anita adalah apabila ia tidak terlibat peperangan, dan mereka tidak dibunuh karena pada umumnya, mereka memang tidak terlibat dalam peperangan. &bn *ajar menuturkan dalam )ath Al-*ari bah%a &bn *ubaib dari ,a3hab ,aliki mengatakan, "#idak boleh memfokuskan sasaran untuk membunuh %anita yang ikut berperang, ke'uali jika %anita tersebut juga se'ara langsung melakukan pembunuhan. 1emikian pula dengan anak-anak." &bn *ajar juga menguatkan pendapat mayoritas ulama dengan hadis yang dipakai oleh &bn )udamah, bah%a 0abi Sa%. Bersabda,"(&engapa anita ini dibunuh) padahal ia tidak ikut

berperang(" Se'ara implisit, hadis ini menjelaskan bah%a apabila %anita berperang, maka ia boleh dibunuh. 6endapat mayoritas ulama lebih mendekati kepada kebenaran dan masuk akal. &nilah yang harus diperhatikan dalam kenyataan pada 3aman sekarang. '+ ,engharamkan 6erlakuan Buruk #erhadap ,ayat 4rang-orang sejak 3aman dahulu telah mengenal berbagai

ma'am penganiayaan dalam peperangan, diantaranya mutslah. ?ang dimaksud mutslah adalah melakukan pembalasan terhadap musuh yang sudah mati, dengan 'ara menguliti mayatnya, memotong sebagian anggota tubuh, seprti telinga, hidung, alat kelamin, dan yang lainya. Gara-'ara ini dilakukan untuk memuaskan kemarahanya terhadap musuh, meskipun ia sudah mati dan tidak akan mengganggunnya lagi. Akan tetapi, manusia karena ke3aliman dan kejahilanya merasa tidak 'ukup dengan kematianya hingga ia bisa mengulitinya.

1alam perang >hud, kita melihat tindakan orang-orang musyrik yang telah membunuh sekitar tujuh puluh orang dari pasukan ,uslim, mereka menguliti beberapa mayat pasukan ,uslim tersebut. Setelah peperangan itu, Abu Sufyan melontarkan perkataan yang terdengar oleh umat ,uslim "Sungguh kalian akan dapatkan kaum (ka+ir) memutilasi jasad dan men!in!ang korban yang aku tidak memerintahkanya, tapi hal itu juga tidak merisaukanku." &slam dengan sangat tegas melarang perbuatan menguliti mayat, sebagaimana ditetapkan dalam beberapa hadis sahih. 1alam sahih muslim dari Buraidah r.a. bah%a 0abi Sa%. 6ernah bersabda kepada para komandan pasukanya, "*erperanglah, tetapi janganlah kalian menaruh dendam, jangan menipu, dan jangan menguliti mayat musuh." d+ ,elarang #ipuan 1an 2hianat 1iantara etika perang dan jihad dalam &slam adalah keharusan untuk memenuhi perjanjian yang dibuat oleh umat ,uslim dengan pihak tertentu dan berkomitmen terhadap segala yang telah disepakati, serta mengharamkan berbagai tindakan pengkhianatan dan menganggapnya sebagai sifat kemunafikan dan akhlak kaum kafir. 1emikian pula &slam melarang perbuatan khianat dalam segala amanah, baik bersifat materi maupun moral. &slam tidak membolehkan kita memutuskan perjanjian ke'uali dalam kondisi tertentu, yaitu ketika pihak lain melanggarnya, atau kha%atir terjadi pengkhianatan darinya terhadap perjanjian tersebut, dan tanda-tanda ke arah sana baik u'apan atau perbuatan sudah sangat jelas. 1alam kondisi seperti ini, perjanjian tersebut harus diputuskan se'ara terbuka, terang-terangan dan tanpa penipuan. #idak boleh memutuskan perjanjian se'ara sembunyi-sembunyi, sehingga pada saat-saat tertentu langsung memutuskan se'ara tiba-tiba.

&nilah yang ditegaskan oleh Al-)uran dengan jelas, " Dan jika kamu kha atir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan !ara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat ()S Al-Anfal @DA! BD+. &slam juga menetapkan agar memberikan pelajaran kepada orang-orang yang melanggar sumpah dan perjanjian. &slam mengharuskan agar memperlakukan mereka dengan tegas, sehingga menjadi pelajaran bagi yang lain, serta men'egah mereka dari berbuat hal yang sama dengan melanggar kesepakatan dan mengkhianati perjanjian tanpa memedulikan hukumnya. e+ ,engharamkan merusak bangunan dan menebang pohon &slam mengharamkan berbuat kerusakan di muka bumi, dengan 'ara menghan'urkan sumber-sumber kehidupan dan meluluhlantahkan segala yang dibutuhkan manusia, yang samakali tidak perlu untuk diperangi. ,isalkan, meruntuhkan bangunan, menghan'urkan rumah, menebang pohon, membakar sa%ah, mengotori air minum, dan hal-hal lain yang dilakukan oleh sebagian pasukan perang, sebagai bentuk kedengkian dan dendam terhadap musuh-musuhnya, padahal mereka tidak merasa perlu melakukanya. 1asar dalam hal ini adalah firman Allah S%t. " Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) men!iptakanya dengan baik dan berdo#alah kepada-,ya dangan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik ()S Al-A:raf @.A! B +. f+ ,elarang tindakan merampas dan menjarah 1i antara etika perang dalam &slam adalah mendidik tentaratentara &slam agar selalu mengusahakan yang halal, dam menyu'ikan diri

mereka dari makanan dan minuman yang haram. 6asukan ,uslim tidak boleh mengkonsumsi sesuap pun dari barang haram, dengan berkeyakinan bah%a jihad akan menghapuskan segala kesalahan mereka. 1alam hal ini, =asulullah Sa%. 1engan sangat tegas melarang tindakan merampas dan menjarah dalam masa-masa peperangan. Abu 1aud meri%ayatkan dari seorang Anshar, dia berkata, "2ami pernah bepergian bersama =asulullah Sa%., maka orang-orang pun mengalami kepayahan dan kelaparan. ,ereka pun lalu mendapati kambing, dan langsung menjarahnya. 6ada saat tungku api sudah dinyalakan, =asulullah Sa%. datang dengan memba%a busurnya. Lalu beliau menumpahkan tungku itu, dan mulai menaburi daging yang sedang dimasak dengan pasir. Beliau kemudian bersabda, #&akanan hasil jarahan tidak lebih halal daripada makanan hasil jarahan.### =asulullah melarang seorang menaiki kuda hasil rampasan perang, bahkan kalau ia telah membuat kuda tersebut kurus, ia harus tetep mengembalikanya. Beliau juga melarang seseorang memakai baju hasil rampasan perang, bahkan kalau ia sudah mengenakanya, ia harus melepasnya dan mengembalikanya lagi. =asulullah Sa%. juga bersabda perihal orang seseorang yang meninggal, dan ia berkhianat tentang rampasan perang, ""a berada dalam neraka." 6ara sahabat pun memeriksanya dan melihat keadaanya. #ernyata mereka mendapati orang itu telah men'uri jubah dari harta ghanimah.

BAB III PENUTUP A. 2esimpulan 6eperangan adalah bagian terakhir dari jihad, yaitu berperang dengan menggunakan senjata untuk menghadapi musuh. 6erang berarti satu kelompok menggunakan senjata dan kekuatan materi untuk mela%an kelompok lain. 9ihad berbeda dangan perang. 9ihad adalah makna yang berkaitan dengan agama. 9ihad berbeda seiring dengan perbedaan tujuan, motif, akhlak, dan batasan. Sedangkan perang adalah makna yang berkaitan dengan dunia.

<tika sebelum berperang, etika ketika berperang, dan etika setelah berperang. Sebelun perang biasanya &slam menggunakan pasukan intelijen militer untuk menyelidiki musuh, mengumpulkan berbagai informasi tentang mereka, serta melihat kekuatan dan kelemahan mereka. #etapi tidak boleh menggunakan berbagai perantara yang diharamkan dalam islam, seperti khamr atau %anita. 2etika perang &slam tidak memberikan toleransi terhadap penggunaan senjata yang memakan korban dari kalangan orang-orang yang tidak bersalah dan ingin berdamai, serta mampu mene%askan jutaan manusia. Adapun etika setelah perang, terutama apabila sudah meraih kemenangan, &slam sangat memperhatikan etika perlakuan terhadap ta%anan perang, mendorong untuk bersikap lembut kepada mereka, merasakan sisi-sisi kemanusiaan mereka, tidak merendahkan dan menghinakan mereka, serta tidak menakut-nakuti dan menyiksa mereka. <tika-etika perang dalam &slam ini terlihat dari beberapa prinsip berikut! a+ ,elarang Segala Bentuk 6ermusuhan b+ #idak ,embunuh 2e'uali *anya 4rang-4rang ?ang #urun 2e ,edan 6erang '+ ,engharamkan 6erlakuan Buruk #erhadap ,ayat d+ ,elarang #ipuan 1an 2hianat e+ ,engharamkan merusak bangunan dan menebang pohon f+ ,elarang tindakan merampas dan menjarah

0ilai dari prinsip-prinsip etika perang dalam &slam ini tidak akan diketahui, ke'uali dengan 'ara membandingkanya dengan peperangan yang terjadi pada masa sekarang. ?akni, ketika 0egara adidaya bisa mengalahkan

dan memutuskan kebenaran, sedangkan 0egara-negara lemah hanya bisa pasrah dan menerima penjajahan yang dilakukan oleh 0egara-negara kuat. 6ada 3aman sekarang, kekuatanlah yang menentukan undang-undang, yang kemudian bisa membenarkan yang batil dan membatalkan yang benar.

DAFTAR PUSTAKA ,uhammad Abu Hahrah, 0ad3ariyat al-*arb fi al-&slam, 1ar al-Cikr al-Araby ?usuf )ardha%i, Ciqih 9ihad, 6enerjemah! &rfan ,aulana *akim, dkk, 6# ,i3an 6ustaka, Bandung, -/7/