Anda di halaman 1dari 10

1. Jihad Jihad adalah bentuk isim masdar dari kata jahada-yujahidu-jihadanmujahadatan .

Secara etimologi jihad berarti mencurahkan usaha, kemampuan, dan tenaga. Jihad secara bahasa berarti menanggung kesulitan . Al-Qur'an menyebut kata jihad dengan berbagai bentuknya sebanyak 34 kali. Kata jihad kemudian lebih banyak dipergunakan dalam arti peperangan untuk menolong agama atau kehormatan umat. 2. Peperangan (al-qital) Peperangan adalah bagian terakhir dari jihad, yaitu berperang dengan menggunakan senjata untuk menghadapi musuh. Makna inilah yang banyak dipahami oleh orang-orang. Akan tetapi dari segi derivasi atau makna, peperangan (al-qital) berbeda dengan jihad (al-jihad). Al-qital adalah isim masdar dari kata qatala-yaqtulu-qitalan-muqatalan. Dari segi makna ia tidak sama dengan jihad, sebab kata qatala tidak sama dengan kata jahada , al-qital diambil dari al-qatlu, sedangkan al-jihad diambil dari kata al-juhd. Kata al-qital dan berbagai derivasinya disebutkan dalam Al-Qur'an sebanyak 67 kali. 3. Perang (al-harb) Perang berarti satu kelompok menggunakan senjata dan kekuatan materi untuk melawan kelompok lain. Baik satu kabilah melawan satu kabilah lain, beberapa kabilah melawan beberapa kabilah lain, satu Negara melawan satu Negara lain, dan beberapa Negara melawan beberapa Negara lain. Jihad berbeda dangan perang. Jihad adalah makna yang berkaitan dengan agama. Jihad berbeda seiring dengan perbedaan tujuan, motif, akhlak, dan batasan. Sedangkan perang adalah makna yang berkaitan dengan dunia. Perang ada pada zaman jahiliyyah, Islam berbagai umat, dan sepanjang masa. Tujuanya adalah melakukan hegemoni, menindas, atau merampas kekayaan orang lain. Sedangkan jihad harus dimaksudkan untuk meninggikan kalimat Allah. Kecuali peperangan diberi sifat Islam, ia akan bermakna jihad. Peperangan (al-qital) yang berarti pertarungan militer tidak sama dengan alharb dalam pemahaman zaman sekarang. Sebab, peperanga bukan sebuah kelaziman yang harus dilakukan dalam perang zaman modern, meskipun ia tidak terlepas dari perang. Ini karena peperangan berarti dua kelompok yang saling berhadapan. Sedangkan perang zaman sekarang, terkadang hanya ada satu kelompok yang melemparkan bom canggih dan nuklir yang bisa lintas benua.

A. UNDANG-UNDANG PERANG DALAM ISLAM Di dalam ajaran Islam, perang harus dilakukan dengan memperhatikan etika dan nilai-nilai luhur, terikat dengan hukum-hukum syari'at, dan berjalan sesuai dengan batasan-batasan Allah yang tidak boleh dilanggar. Berbeda halnya dengan peradaban Barat dan orang-orang yang sepakat dengan falsafah Barat, bahwa perang tidak terikat dengan etika. Dengan kata lain, perang dalam pandangan Barat tidak harus memperhatikan etika dan norma. Perang yang dijalani oleh umat Muslim diatur oleh undang-undang moral yang komprehessif dan wajib diperhatikan. Dengan menjalankan dan memperhatikan undang-undang ini, umat Muslim dianggap telah beribadah, karena ia berasal dari Allah Tabaraka wa Ta'ala. Tidak boleh seorang mukmin menolak atau mengabaikan apa yang berasal dari Allah. Akhlak dalam Islam bukanlah hal yang bersifat anjuran dalam agama, dan sebaliknya, akhlak justru merupakan bagian paling penting dari agama. Dengan demikian, keutamaan-keutamaan adalah kewajiban dalam agama yang harus dilaksanakan, sedangkan kejelekan-kejelekan adalah keharaman dalam agama yang harus dijauhi. Karena itu, keadilan, kebaikan, rahmat, kejujuran, amanah, ikhlas, pemenuhan janji, kesucian, rasa malu, tawadhu, kedermawanan, senang berbuat baik kepada orang lain, memperhatikan hal-hal yang haram, berbakti kepada orang tua, silaturahmi, menghormat i tetangga, dan keutamaan-keutamaan lainya merupakan kewajiban agama yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Perbuatanperbuatan ini kjuga dikategorikan sebagai cabang-cabang iman. Sebaliknya, perbuatan-perbuatan jelek, seprti kezaliman, menyakiti orang lain, keras hati, berbohong, khianat, riya, menipu, berbuat jahat, sombong, kikir dendam, hasud, zina, meminum minuman keras, mengonsumsi makanan haram , memakan harta riba, mengekploitasi kekayaan anak yatim, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar, dan kejelekan-kejelekan lainya merupakan perbuatan haram yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Perbuatan-perbuatan ini dikategorikan sebagai cabang-cabang kemunafikan, Bahkan sebagian dari perbuatan ini termasuk dosa besar, tindakan keji dan kemaksiatan yang diperingatkan oleh Islam agar dijauhi, serta dapat merusak individu maupun kelompok. Dari paparan tadi, kita bisa melihat bahwa undang-undang peperangan yang harus diperhatikan oleh pasukan perang dalam Islam adalah undang-undang yang bersifat umum dan sempurna. Undang-undang ini mencakup etika sebelum berperang, etika ketika berperang, dan etika setelah berperang.

1) Etika Sebelum Perang


Sebelum perang dimulai,Islam mengharamkan kepada umatnya segara tegas dari menggunakan cara-cara yang jauh dari etika,yang biasanya digunakan oleh pasukan intelijen militer untuk menyelidiki musuh,mengumpulkan berbagai informasi tentang mereka,serta melihat kekuatan dan kelemahan mereka.Pasukan intelijen ini juga bertugas untuk mencari tahu rahasia militer musuh yang sangat penting diketahui oleh umat muslim:tentang jumlah pasukan mereka,strategi mereka,antisipasi mereka,titik-titik kelemahan dari kekuatan mereka,ketahanan blok musim untuk menyerang mereka,selain hal-hal yang sudah saya sebutkan,masih banyak tugas lain dari keintelijenan yang dipelajari dari ilmu militer secara terperinci. Yang paling penting dari pasukan intelijen militer dalam mengumpulkan informasi dan hal-hal yang lainnya ini adalah mereka tidak boleh menggunakan berbagai perantara yang diharamkan dalam islam,seperti khamr atau wanita.Dua hal ini merupakan perantara paling utama yang sering digunakan oleh banyak Negara,untuk melakukan pendekatan terhadap para laki-lak yang menyimpan rahasia melalui peumuasan syahwat. Dengan demikian,dalam membela kebenaran,umat muslim tidak boleh menggunakan cara-cara batil,dan tidak boleh mewujudkan ketaatan kepada Allah dengan jalan maksiat kepada-Nya.Dalam hadits riwayat ibn mas'ud dinyatakan,"Allah tidak akan menghapus kejelekan dengan kejelekan,tetapi Dia akan menghapus kejelekan dengan kebaika.Sesungguhnya perbuatan yang buruk itu tidak akan menghapus perbuatan yang buruk."

2) Etika Ketika Perang


Mengenai etika-etika yang harus diperhatikan ketike berlangsung peperangan, hal ini sudah saya jelaskan pada pembahasan-pambahasan sebelumnya. Di sini saya hanya ingin menegaskan bahwa islam tidak memberikan toleransi terhadap penggunaan senjata yang memakan korban dari kalangan orang-orang yang tidak bersalah dan ingin berdamai,serta mampu menewaskan jutaan manusia. Senjata inilah yang dikenal pada zaman sekarang dengan istilah senjata pemusnah massal, berupa senjata kimia, bakteri, biologi, dan nuklir, yang bisa memusnakan kehidupan dan makhluk hidup,merusak tanaman ,dan memusnakan binatang ternak. Semua hal ini merupekan bentuk kerusakan di muka bumi, yang sangat dibenci dan dilarang oleh Allah Swt. Al-Quran menyatakan tentang keadaan orang-orang yang berbuat kerusakan ini." Dan apabila ia berpaling (dari kamu) ,ia berusaha untuk ternak, sedangkan Allah tjdak menyukai kerus akan (QS Al-Baqarah [2]: 205).

Al-Quran juga berbicara tentang keadaan orang-orang yahudi yang terus bertambah sesat dan kafir, " Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkanya. Dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi. Dan Allah tidak menyukai orangorang yang berbuat kerusakan (QS Al-Maidah [5]: 64).

3) Etika Setelah Perang


Adapun etika setelang perang, terutama apabila sudah meraih kemenangan, Islam sangat memperhatikan etika perlakuan terhadap tawanan perang, mendorong untuk bersikap lembut kepada mereka, merasakan sisi-sisi kemanusiaan mereka, tidak merendahkan dan menghinakan mereka, serta tidak menakut-nakuti dan menyiksa mereka. Firman Allah Swt." Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesunggugnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula (ucapan) terimakasih dari kamu (QS Al-Insan [76]: 8-9). Demikianlah Allah dan Rasul-Nya memerintahkan agar mengajak para tawanan berdialog dan memberi kabar kepada mereka tentang hari esok yang lebih jcerah dan masa depan yang lebih baik. Yakni, apabila mereka mengikhlaskan niat serta meninggalkan perbuatan zalim dan kekufuran, niscaya Allah akan mengaruniakan kebaikan kepada mereka dari tebusan yang telah diambil dari mereka. Tidak diragukan lagi bahwa Rasulullah Saw, juga memerintahkan para sahabatnya agar berlaku baik terhadap tawanan perang Badar. Adapun perlakuan terhadap bangsa-bangsa yang sudah dikalahkan, tidak boleh kita merendahkan kemuliaan mereka, menginjak-injak kehormatan mereka, menghabisi mereka, menghilangkan harga diri mereka, menghancurkan sarana ibadah dan tempat suci milik mereka, atau menghalang-halangi kebebasan beribadah mereka. Tidak boleh bagi umat Muslim yang telah diberikan kemenangan oleh Allah Swt, dan ditempatkan-Nya di muka bumi, meniru cara-cara yang dilakukan oleh kaum kafir dan berlaku seperti mereka dalam menghancurkan negeri-negeri, merendahkan manusia, menghina bangsa-bangsa. Semua ini merupakan perbuatan yang dimurkai oleh Allah Swt. Umat Muslim ketika menaklukkan negeri-negeri Persia dan Romawi, baik di Irak, Persi, Syam, Mesir, Afrika Utara, mereka melakukanya dengan penuh keadilan, rahmat, memakmurkan, dan berbuat baik. Penaklukkan yang dilakukan umat Muslim bukanlah penaklukkan yang sifatnya menghancurkan, membinasakan, mengeksplotasi, atau berlaku sadis dan sewenang-wenang. Bahkan, sebagaimana

yang dikatakan Gustave Le Bon dan yang lainya bahwa sejarah tidak mengenal penaklukkan yang lebih adil dan penuh kasih saying daripada penaklukkan yang dilakukan orang-orang Arab, yaitu umat Muslim. Begitulah orang-orang memandang para penakluk dari umat Muslim, Banyak negeri yang telah tunduk kepada umat Muslim, dan pintu-pintu kota pun dibukakan untuk mereka. Akan tetapi, tidak pernah tercatat dalam sejarah bahwa ada umat Muslim yang menghancurkan tempat ibadah, mengeksploitasi kelompok lemah, merampas harta pedagang atau orang-orang kaya, tergoda oleh kecantikan seorang perempuan sampai merenggut kehormatanya, atau mengambil apa yang tidak dihalalkan baginya dari negeri-negeri yang telah ditaklukkan. Bahkan, harta rampasan perang berupa permata, perhiasan-perhiasan kecil, dan asset-aset berharga dari istana para raja, diserahkan kepada komandan perang dengan sangat amanah. Ketika dikirim sebagian rampasan perang dari Kisra, Umar ibn Al-Khatthab pun sampai mengatakan, "Sesungguhnya ada suatu kaum yang telah menyerahkan ini kepada orang-orang yang amanah." Etika-etika perang dalam Islam ini terlihat dari beberapa prinsip berikut: 1. Melarang Segala Bentuk Permusuhan Prinsip yang pertama adalah mengharamkan segala bentuk permusuhan kepada pihak lain. Allah Swt. Melarang sikap memusuhi ini dengan tegas dalam Al-Quran, " Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (QS Al-Baqarah [2]: 190). Al-I'tida' (penyerangan) yang dilarang oleh ayat ini ditafsirkan dengan dua hal. Pertama, memerangi kelompok non-Muslim yang tidak memerangi umat Muslim, tidak melakukan agresi terhadap mereka , dan tidak menampakkan permusuhan kepada mereka. Kedua, membunuh wanita, anak-anak, orang tua yang lemah, orang yang cacat, orang buta, dan orang-orang seperti mereka yang tidak termasuk anggota pasukan perang, serta tidak memiliki keterkaitan apa pun dalam peperangan, baik secara langsung atau sekadar memberikan pendapatnya. Al-Quran tidak membolehkan umat Muslim untuk memusuhi kelompok lain, atau saling menolong dalam permusuhan, hanya karena benci terhadap orang-orang yang memusuhi kita atau karena sangat marah, baik kemarahan ini berasal dari mereka terhadap umat Muslim, atau dari umat Muslim terhadap mereka, atau bahkan dari masing-masing pihak. Seandainya kebencian atau kemarahan ini mendorong pihak lain untuk menghalangi umat Muslim pergi ke Masjidil Haram , sebagaimana yang terjadi pada perang Hudaibiyah, ketika kaum Quraisy menghalangi umat Muslim yang ingin menunaikan umrah seperti bangsa Arab yang

lainya. Maka, dalam hal ini Allah Swt. Menyatakan," Dan janganlah sekali-kali kebencian-(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada ) mereka. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan ) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong- menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan (QS Al-Ma'idah [5] : 2).

2. Tidak membunuh kecuali hanya orang-orang yang turun ke medan perang


Di antara etika-etika perang dalam Islam adalah haram membunuh orang-orang yang tidak ikut berperang dan tidak membawa senjata. Mereka inilah yang pada zaman sekarang dikenal dengan sebutan warga sipil, seperti anak-anak, perempuan, orang tua, pendeta yang sedang menjalankan ibadahnya, orang buta , pengidap cacat, petani, pedagang, dan yang lainya. Adapun sabda Nabi yang mengatakan," Mengapa wanita ini dibunuh, padahal ia tidak ikut perang?"' Hadis ini menunkjukkan bahwa larangan untuk membunuh wanita adalah apabila ia tidak terlibat peperangan, dan mereka tidak dibunuh karena pada umumnya, mereka memang tidak terlibat dalam peperangan. Ibn Hajar menuturkan dalam Fath Al-Bari bahwa Ibn Hubaib dari Mazhab Maliki mengatakan, "Tidak boleh memfokuskan sasaran untuk membunuh wanita yang ikut berperang, kecuali jika wanita tersebut juga secara langsung melakukan pembunuhan. Demikian pula dengan anak-anak." Ibn Hajar juga menguatkan pendapat mayoritas ulama dengan hadis yang dipakai oleh Ibn Qudamah, bahwa Nabi Saw. Bersabda,"(Mengapa wanita ini dibunuh) padahal ia tidak ikut berperang?" Secara implisit, hadis ini menjelaskan bahwa apabila wanita berperang, maka ia boleh dibunuh. Seluruh ulama juga sepakat tentang larangan memfokuskan sasaran untuk membunuh wanita dan anakanak. Pendapat mayoritas ulama lebih mendekati kepada kebenaran dan masuk akal. Inilah yang harus diperhatikan dalam kenyataan pada zaman sekarang. Pada saat ini, kita melihat orang-orang Zionis merampas bumi Palestina dan mengusir rakyatnya. Pasukan Zionis terdiri dari tentara laki-laki dan wanita. Dengan demikian, wanita ini adalah wanita yang berperang, dan ia harus diperlakukan sama layaknya tentara bersenjata dari kalangan laki-laki. 3. Mengharamkan perlakuan buruk terhadap mayat Orang-orang sejak zaman dahulu telah mengenal berbagai macam penganiayaan dalam peperangan, diantaranya mutslah. Yang dimaksud mutslah adalah melakukan pembalasan terhadap musuh yang sudah mati, dengan cara menguliti mayatnya, memotong sebagian anggota tubuh, seprti telinga, hidung, alat kelamin, dan yang lainya. Adakalanya juga dengan mengeluarkan organ tubuh bagian

dalam, seperti hati dan jantung. Cara-cara ini dilakukan untuk memuaskan kemarahanya terhadap musuh, meskipun ia sudah mati dan tidak akan mengganggunnya lagi. Akan tetapi, manusia karena kezaliman dan kejahilanya merasa tidak cukup dengan kematianya hingga ia bisa mengulitinya. Dalam perang Uhud, kita melihat tindakan orang-orang musyrik yang telah membunuh sekitar tijuh puluh orang dari pasukan Muslim, mereka menguliti beberapa mayat pasukan Muslim tersebut. Setelah peperangan itu, Abu Sufyan melontarkan perkataan yang terdengar oleh umat Muslim, "Sungguh kalian akan dapatkan kaum (kafir) memutilasi jasad dan mencincang korban yang aku tidak memerintahkanya, tapi hal itu juga tidak merisaukanku." Islam dengan sangat tegas melarang perbuatan menguliti mayat, sebagaimana ditetapkan dalam beberapa hadis sahih. Dalam sahih muslim dari Buraidah r.a. bahwa Nabi Saw. Pernah bersabda kepada para komandan pasukanya, "Berperanglah, tetapi janganlah kalian menaruh dendam, jangan menipu, dan jangan menguliti mayat musuh." 4. Melarang tipuan dan khianat Diantara etika perang dan jihad dalam Islam adalah keharusan untuk memenuhi perjanjian yang dibuat oleh umat Muslim dengan pihak tertentu dan berkomitmen terhadap segala yang telah disepakati, serta mengharamkan berbagai tindakan pengkhianatan dan menganggapnya sebagai sifat kemunafikan dan akhlak kaum kafir. Demikian pula Islam melarang perbuatan khianat dalam segala amanah, baik bersifat materi maupun moral. Islam tidak membolehkan kita memutuskan perjanjian kecuali dalam kondisi tertentu, yaitu ketika pihak lain melanggarnya, atau khawatir terjadi pengkhianatan darinya terhadap perjanjian tersebut, dan tanda-tanda kea rah sana baik ucapan atau perbuatan sudah sangat jelas. Dala, kondisi seperti ini, perjanjian tersebut harus diputuskan secara terbuka, terang-terangan dan tanpa penipuan. Tidak boleh memutuskan perjanjian secara sembunyi-sembunyi, sehingga pada saat-saat tertentu langsung memutuskan secara tiba-tiba. Inilah yang ditegaskan oleh Al-Quran dengan jelas, "Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat (QS Al-Anfal [8]: 58). Islam juga menetapkan agar memberikan pelajaran kepada orang-orang yang melanggar sumpah dan perjanjian. Islam mengharuskan agar memperlakukan mereka dengan tegas, sehingga menjadi pelajaran bagi yang lain, serta mencegah mereka dari berbuat hal yang sama dengan melanggar kesepakatan dan mengkhianati perjanjian tanpa memedulikan hukumnya.

5. Mengharamkan merusak bangunan dan menebang pohon Islam mengharamkan berbuat kerusakan di muka bumi, dengan cara menghancurkan sumber-sumber kehidupan dan meluluhlantahkan segala yang dibutuhkan manusia, yang samakali tidak perlu untuk diperangi. Misalkan, meruntuhkan bangunan, menghancurkan rumah, menebang pohon, membakar sawah, mengotori air minum, dan hal-hal lain yang dilakukan oleh sebagian pasukan perang, sebagai bentuk kedengkian dan dendam terhadap musuh-musuhnya, padahal mereka tidak merasa perlu melakukanya. Dasar dalam hal ini adalah firman Allah Swt. "Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) menciptakanya dengan baik dan berdo'alah kepada-Nya dangan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik (QS Al-A'raf [7]: 56). 6. Melarang tindakan merampas dan menjarah Di antara etika perang dalam Islam adalah mendidik tentara-tentara Islam agar selalu mengusahakan yang halal, dam menyucikan diri mereka dari makanan dan minuman yang haram. Pasukan Muslim tidak boleh mengkonsumsi sesuap pun dari barang haram, dengan berkeyakinan bahwa jihad akan menghapuskan segala kesalahan mereka. Dalam hal ini, Rasulullah Saw. Dengan sangat tegas melarang tindakan merampas dan menjarah dalam masa-masa peperangan. Abu Daud meriwayatkan dari seorang Anshar, dia berkata, "Kami pernah bepergian bersama Rasulullah Saw., maka orang-orang pun mengalami kepayahan dan kelaparan. Mereka pun lalu mendapati kambing, dan langsung menjarahnya. Pada saat tungku api sudah dinyalakan, Rasulullah Saw. datang dengan membawa busurnya. Lalu beliau menumpahkan tungku itu, dan mulai menaburi daging yang sedang dimasak dengan pasir. Beliaukemudian bersabda, 'Makanan hasil jarahan tidak lebih halal daripada makanan hasil jarahan.''' Rasulullah melarang seorang menaiki kuda hasil rampasan perang, bahkan kalau ia telah membuat kuda tersebut kurus, ia harus tetep mengembalikanya. Beliau juga melarang seseorang memakai baju hasil rampasan perang, bahkan kalau ia sudah mengenakanya, ia harus melepasnya dan mengembalikanya lagi. Rasulullah Saw. juga bersabda perihal orang seseorang yang meninggal, dan ia berkhianat tentang rampasan perang, "Ia berada dalam neraka." Para sahabat pun memeriksanya dan melihat keadaanya. Ternyata mereka mendapati orang itu telah mencuri jubah dari harta ghanimah.

Kesimpulan Nilai dari prinsip-prinsip etika perang dalam Islam ini tidak akan diketahui, kecuali dengan cara membandingkanya dengan peperangan yang terjadi pada masa sekarang. Yakni, ketika Negara adidaya bisa mengalahkan dan memutuskan kebenaran, sedangkan Negara-negara lemah hanya bisa pasrah dan menerima penjajahan yang dilakukan oleh Negara-negara kuat. Pada zaman sekarang, kekuatanlah yang menentukan undang-undang, yang kemudian bisa membenarkan yang batil dan membatalkan yang benar. Tanpa perlu melakukanya, Amerika pernah melancarkan bom atom ke Hiroshima dan Nagasaki, yang menewaskan ribuan orang dan meyebabkan trauma ratusan ribu orang. Pada saat itu, jepang sebetulnya telah menyatakan menyerah. Amerika juga membantai orang-orang Afganistan, yang kebanyakan warga sipil yang tidak memiliki kaitan apa pun dengan perang. Amerika pun meminta maaf dan menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan suatu kesalahan. Lalu Amerika memberikan kompensasi kepada setiap korban tewas dengan tiga ratus dolar, seakan-akan Amerika mengganti binatang yang telah disembelih. Akan tetapi, pada saat yang sama, Amerika meminta ganti atas setiap warga Amerika yang menjadi korban dalam peristiwa 11 September 2001 dengan ratusan juta dolar. Amerika juga menuntut pemerintah Libia dalam kasus meledaknya pesawat Lockerbie, yang menewaskan banyak warga Amerika, dengan ribuan juta dolar. Amerika juga membunuh banyak warga Irak, menghancurkan fasilitas-fasilitas sipil dan bangunan bawah tanah dengan membabi-buta. Amerika seakan-akan tidak peduli untuk menghabiskan orang-orang yang masih hidup. Amerika pun bersekongkol dengan pencuri-pencuri internasional dan professional, untuk merampas koleksi museum dan perpustakaan di Irak, serta menghancurkan warisan keilmuan di Irak. Amerika benar-benar menghalalkan segala tindakan tersebut, sebagaimana telah terjadi dalam peristiwa Holocaust. Negara-negara di seluruh dunia pun, baik di Barat maupun di Timur, menentang agresi Amerika terhadap Irak dan mengatakan, "Tidak, untuk perang yang didasari kebencian." Dewan keamanan Internasional juga tidak memberikan hak Amerika untuk mengerahkan kekuatan militernya. Para pemuka agama pun, baik dari Islam maupun Kristen, mengecam segala tindakan Amerika terhadap Irak. Akan tetapi, Amerika sama sekali tidak menggubris segala kecaman tersebut, sehingga hegemoni pun bisa mengalahkan kekuatan kebenaran. Dengan demikian, Amerika sudah menyatakan permusuhan, baik sebelum dan sesudah peperangan. Begitulah fakta perang yang terjadi pada abad ke-22 di dunia yang semakin modern ini. Lalu, di manakah etika-etika perang yang dibawa oleh Islam, yang senantiasa dipegang oleh umat Muslim? Prinsip etika perang ini merupakan syariat Allah dan agama-Nya, yang merupakan sarana ibadah seorang hamba, dan langkah

untuk bertaqarrub ke pada-Nya dengan menghormati dan menjalankan prinsip tersebut.