Anda di halaman 1dari 17

Naruto3012s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Menu
Langsung ke isi

Beranda Perihal

laporan subkultur (anggrek dan krisan)


Desember 25, 2010na angelwind,,, Tak Berkategori 1 Komentar

BAB I PENDAHULUAN 1. A. Latar Belakang Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril. Sedangkan tahapan-tanhapan dari kultur jaringan itu sendiri dimulai dari pemilihan dan penyiapan tanaman induk sumber eksplan, inisiasi kultur, multifikasi dan perbanyakan propagul, pemanjangan tunas dan pertumbuhan akar dan aklimatisasi. Pada saat tahapan-tahapan tersebut berlangsung terutama pada tahapan multifikasi dan elongasi media untuk eksplan harus diganti, pergantian dari media lama ke media baru disebut dengan subkultur. Pada kesempatan kali ini, penulis akan melaporkan hasil praktikum subkultur pada tanaman anggrek dan krisan. 1. B. Tujuan

Tujuan dari Praktikum ini adalah :


Mahasiswa dapat mengetahui tahapan tahapan kultur jaringan Mahasiswa mampu melakukan subkultur pada tanaman anggrek dan krisan

BAB II KAJIAN PUSTAKA 1. TAHAPAN-TAHAPAN KULTUR JARINGAN 1. Pemilihan dan penyiapan tanaman induk sumber eksplan Sebelum melakukan kultur jaringan untuk suatu tanaman, kegiatan yang pertama harus dilakukan adalah memilih bahan induk yang akan diperbanyak. Tanaman tersebut harus jelas jenis, spesies, dan varietasnya serta harus sehat dan bebas dari hama dan penyakit. Tanaman indukan sumber eksplan tersebut harus dikondisikan dan dipersiapkan secara khusus di rumah kaca atau greenhouse agar eksplan yang akan dikulturkan sehat dan dapat tumbuh baik serta bebas dari sumber kontaminan pada waktu dikulturkan secara in-vitro. Lingkungan tanaman induk yang lebih higienis dan bersih dapat meningkatkan kualitas eksplan. Pemeliharaan rutin yang harus dilakukan meliputi: pemangkasan, pemupukan, dan penyemprotan dengan pestisida (fungisida, bakterisida, dan insektisida), sehingga tunas baru yang tumbuh menjadi lebih sehat dan dan bersih dari kontaminan. Selain itu pengubahan status fisiologi tanaman induk sumber eksplan kadang-kadang perlu dilakukan seperti memanipulasi parameter cahaya, suhu, dan zat pengatur tumbuh. Manipulasi tersebut bisa dilakukan dengan mengondisikan tanaman induk dengan fotoperiodisitas dan temperatur tertentu untuk mengatasi dormansi serta penambahan ZPT seperti sitokinin untuk merangsang tumbuhnya mata tunas baru dan untuk meningkatkan reaktivitas eksplan pada tahap inisiasi kultur (Yusnita, 2003). 1. Inisiasi kultur Tujuan utama dari propagasi secara in-vitro tahap ini adalah pembuatan kultur dari eksplan yang bebas mikroorganisme serta inisiasi pertumbuhan baru (Wetherell, 1976). Ditambahkan pula menurut Yusnita, 2004, bahwa pada tahap ini mengusahakan kultur yang aseptik atau aksenik. Aseptik berarti bebas dari mikroorganisme, sedangkan aksenik berarti bebas dari mikroorganisme yang tidak diinginkan. Dalam tahap ini juga diharapkan bahwa eksplan yang dikulturkan akan

menginisiasi pertumbuhan baru, sehingga akan memungkinkan dilakukannya pemilihan bagian tanaman yang tumbuhnya paling kuat,untuk perbanyakan (multiplikasi) pada kultur tahap selanjutnya (Wetherell, 1976). Untuk mendapakan kultur yang bebas dari kontaminasi, eksplan harus disterilisasi. Sterilisasi merupakan upaya untuk menghilangkan kontaminan mikroorganisme yang menempel di permukaan eksplan. beberapa bahan kimia yang dapat digunakan untuk mensterilkan permukaan eksplan adalah NaOCl, CaOCl2, etanol, dan HgCl2. Kesesuaian bagian tanaman untuk dijadikan eksplan, dipengaruhi oleh banyak faktor. Tanaman yang memiliki hubungan kekerabatan dekat pun, belum tentu menunjukkan rspon in-vitro yang sama (Wetherell, 1976). Penggunaan eksplan yan tepat merupakan hal penting yang juga harus diperhatikan pada tahap ini. Umur fisiologis dan ontogenetik tanaman induk, serta ukuran eksplan bagian tanaman yang digunakan sebagai eksplan, merupakan faktor penting dalam tahap ini. Bagi kebanyakan tanaman, eksplan yang sering digunakan adalah tunas pucuk (tunas apikal) atau mata tunas lateral pada potongan batang berbuku. Namun belakangan ini, eksplan potongan daun yang dulunya hanya digunakan untuk tanaman-tanaman herba, seperti violces, begonia, petunia dan tomat, ternyata dapat digunakan juga untuk tanaman-tanaman berkayu seperti Ficus lyrata, Annona squamosa, dan melinjo. Eksplan yang dapat digunakan untuk memperbanyak tanaman Anthurium sendiri diantaranya adalah tunas pucuk, daun, tangkai daun muda, tangkai bunga, spate, spandik, biji, ruas batang dan anther. Umur fisiologis dan umur ontogenetik jaringan tanaman yang dijadikan eksplan juga berpengaruh terhadap potensi morfogenetiknya. Umumnya, eksplan yang berasal dari tanaman juvenile mempunyai daya regenerasi tinggi untuk membentuk tunas lebih cepat dibandingakan dengan eksplan yang berasal dari tanaman yang sudah dewasa. Masalah yang sering dihadapi pada kultur tahap ini adalah terjadinya pencokelatan atau penghitaman bagian eksplan (browning). Hal ini disebabkan oleh senyawa fenol yang timbul akibat stress mekanik yang timbul akibat pelukaan pada waktu proses isolasi eksplan dari tanaman induk. Senyawa fenol tersebut bersifat toksik, menghambat pertumbuhan atau bahkan dapat mematikan jaringan eksplan. 1. Multiplikasi atau Perbanyakan Propagul Tahap ini bertujuan untuk menggandakan propagul atau bahan tanaman yang diperbanyak seperti tunas atau embrio, serta memeliharanya dalam keadaan tertentu sehingga sewaktu-waktu bisa dilanjutkan untuk tahap berikutnya (Yusnita, 2004). Pada tahap ini, perbanyakan dapat dilakukan dengan cara merangsang terjadinya pertumbuhan tunas cabang dan percabangan aksiler atau merangsang terbentuknya

tunas pucuk tanaman secara adventif, baik secara langsung maupun melalui induksi kalus terlebih dahulu. Seperti halnya dalam kultur fase inisiasi, di dalam media harus terkandung mineral, gula, vitamin, dan hormon dengan perbandingan yang dibutuhkan secara tepat (Wetherell, 1976). Hormon yang digunakan untuk merangsang pembentukan tunas tersebut berasal dari golongan sitokinin seperti BAP, 2-iP, kinetin, atau thidiadzuron (TDZ). Kemampuan memperbanyak diri yang sesungguhnya dari suatu perbanyakan secara in-vitro terletak pada mudah tidaknya suatu materi ditanam ulang selama multiplikasi (Wetherell, 1976). Eksplan yang dalam kondisi bagus dan tidak terkontaminasi dari tahap inisiasi kultur dipindahkan atau disubkulturkan ke media yang mengandung sitokinin. Subkultur dapat dilakukan berulang-ulang kali sampai jumlah tunas yang kita harapkan, namun subkultur yang terlalu banyak dapat menurunkan mutu dari tunas yang dihasilkan, seperti terjadinya penyimpangan genetik (aberasi), menimbulkan suatu gejala ketidak normalan (vitrifikasi) dan frekuensi terjadinya tanaman off-type sangat besar. 1. Pemanjangan Tunas, Induksi, dan Perkembangan Akar Tujuan dari tahap ini adalah untuk membentuk akar dan pucuk tanaman yang cukup kuat untuk dapat bertahan hidup sampai saat dipindahkan dari lingkungan in-vitro ke lingkungan luar. Dalam tahap ini, kultur tanaman akan memperoleh ketahanannya terhadap pengaruh lingkungan, sehingga siap untuk diaklimatisasikan (Wetherell, 1976). Tunas-tunas yang dihasilkan pada tahap multiplikasi di pindahkan ke media lain untuk pemanjangan tunas. Media untuk pemanjangan tunas mengandung sitokinin sangat rendah atau tanpa sitokinin. Tunas tersebut dapat dipindahkan secara individu atau berkelompok. Pemanjangan tunas secara berkelompok lebih ekonomis daripada secara individu. Setelah tumbuh cukup panjang, tunas tersebut dapat diakarkan. Pemanjangan tunas dan pengakarannya dapat dilakukan sekaligus atau secara bertahap, yaitu setelah dipanjangkan baru diakarkan. Pengakaran tunas in-vitro dapat dilakukan dengan memindahkan tunas ke media pengakaran yang umumnya memerlukan auksin seperti NAA atau IBA. Keberhasilan tahap ini tergantung pada tingginya mutu tunas yang dihasilkan pada tahap sebelumnya. Disamping itu, beberapa perlakuan yang disebut hardening in vitro telah dilaporkan dapat meningkatkan mutu tunas sehingga planlet atau tunas mikro tersebut dapat diaklimatisasikan dengan persentase yang lebih tinggi. Beberapa perlakuan yang bisa dilakukan sebagai berikut: Mengondiskan kultur di tempat yang pencahaannya berintensitas lebih tinggi (contohnya 10000 lux) dan suhunya lebih tinggi.

Pemanjangan dan pemanjangan tnas mikro dilakukan dalam media kultur dengan hara mineral dan sukrosa lebih rendah dan konsentrasi agar-agar lebih tinggi (Yusnita, 2004).

1. Aklimatisasi Dalam proses perbanyakan tanaman secara kultur jaringan, tahap aklimatisasi planlet merupakan salah satu tahap kritis yang sering menjadi kendala dalam produksi bibit secara masal. Pada tahap ini, planlet atau tunas mikro dipindahkan ke lingkungan di luar botol seperti rumah kaca , rumah plastik, atau screen house (rumah kaca kedap serangga). Proses ini disebut aklimatisasi. Aklimatisasi adalah proses pengkondisian planlet atau tunas mikro (jika pengakaran dilakukan secara ex-vitro) di lingkungan baru yang aseptik di luar botol, dengan media tanah, atau pakis sehingga planlet dapat bertahan dan terus menjadi bibit yang siap ditanam di lapangan. Prosedur pembiakan dengan kultur jaringan baru bisa dikatakan berhasil jika planlet dapat diaklimatisasi ke kondisi eksternal dengan keberhasilan yang tinggi. Tahap ini merupakan tahap kritis karena kondisi iklim mikro di rumah kaca, rumah plastik, rumah bibit, dan lapangan sangatlah jauh berbeda dengan kondisi iklim mikro di dalam botol. Kondisi di luar botol bekelembaban nisbi jauh lebih rendah, tidak aseptik, dan tingkat intensitas cahayanya jauh lebih tinggi daripada kondisi dalam botol. Planlet atau tunas mikro lebih bersifat heterotrofik karena sudah terbiasa tumbuh dalam kondisi berkelembaban sangat tinggi, aseptik, serta suplai hara mineral dan sumber energi berkecukupan. Disamping itu tanaman tersebut memperlihatkan beberapa gejala ketidak normalan, seperti bersifat sukulen, lapisan kutikula tipis, dan jaringan vaskulernya tidak berkembang sempurna, morfologi daun abnormal dengan tidak berfungsinya stomata sebagai mana mestinya. Strutur mesofil berubah, dan aktifitas fotosintesis sangat rendah. Dengan karakteristik seperti itu, palanlet atau tunas mikro mudah menjadi layu atau kering jika dipindahkan ke kondisi eksternl secara tiba-tiba. Karena itu, planlet atau tunas mikro tersebut diadaptasikan ke kondisi lngkungan yang baru yang lebih keras. Dengan kata lain planlet atau tunas mikro perlu diaklimatisasikan ( Yusnita, 2004). 1. SUBKULTUR Subkultur merupakan salah satu tahap dalam perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan. Pada dasarnya subkultur kita memotong, membelah dan menanam kembali eksplan yang telah tumbuh sehingga jumlah tanaman akan bertambah banyak. Pada

dasarnya subkultur merupakan tahap kegiatan yang relatif mudah dibandingkan dengan kegiatan lain dalam kultur jaringan. Subkultur dilakukan karena beberapa alasan berikut: 1. Tanaman sudah memenuhi atau sudah setinggi botol 2. Tanaman sudah berada lama didalam botol sehingga pertumbuhannya berkurang 3. Tanaman mulai kekurangan hara 4. Media dalam botol sudah mongering Kegiatan subkultur dilakukan sesuai dengan jenis tanaman yang dikulturkan. Setiap tanaman memiliki karakteristik dan kecepatan tumbuh yang berbeda-beda. Sehingga cara dan waktu subkultur juga berbeda-beda. Tanaman yang harus segera atau relatif cepat disubkultur adalah jenis pisang-pisangan, alokasia, dan caladium. Tanaman yang relatif lama adalah aglaonema. (Pelatihan, 2009) Untuk tanaman yang diperbanyak dengan multifikasi tunas, maka subkultur dapat dilakukan dengan memisahkan anakan tanaman dari koloninya atau melakukan penjarangan. Contoh tanamannya adalah anggrek, pisang, dan tanaman lain yang satu tipe pertumbuhan. Untuk tanaman yang tipe pertumbuhannya dengan pemanjangan batang maka subkultur bisa dilakukan dengan memotong tanaman perruas tanaman yang ada. Namun jika ada planlet yang masih terlalu kecil dan beresiko tinggi untuk dipotong, maka subkulturnya cukup dilakukan dengan dipisahkan dari induknya dan ditanam kembali secara terpisah. Contoh tanamannya adalah jati, krisan, dan tanaman lain yang memiliki karakteristik pertumbuhan yang sama. kita dapat menghitung kecepatan produksi tanaman dengan mengetahui kecepatan tanaman melakukan multifikasi hingga siap disubkultur. 1. ANGGREK Anggrek merupakan salah satu anggota family Orchidaceae yang dapat dijumpai hampir diseluruh belahan dunia terutama daerah tropis mulai dari dataran rendah hingga tinggi, bahkan sampai ke daerah perbatasan pegunungan bersalju. Bermacam variasi bentuk, warna, bau, dan ukuran dengan cirri-ciri yang unik menjadi daya tarik anggrek yang dikenal sebagai tanaman hias berbunga indah. Contonya adalah Arundina graminifolia, Bulbophylum binnendijkii, Calanthe sp., Paphilopedilum sp., dan lain sebagainya. Anggrek merupakan salah satu tanaman yang mempunyai kecepatan tumbuh lambat dan berbeda-beda. Hal ini sangat berpengaruh jika yang menjadi tujuan pemeliharaan adalah memproduksi bunga. Tanaman anggrek mempunyai pola pertumbuhan yang

berbeda dengan tanaman hias lainnya. Pertumbuhan anggrek, baik vegetatif (pertumbuhan tunas, batang, daun, dan akar) serta pertumbuhan generatif (pertumbuhan primordial bunga, buah, dan biji) tidak hanya ditentukan oleh faktor genetic, tetapi juga oleh faktor iklim dan faktor pemeliharaan. (Widiastoety, 2007) Pada dasarnya tanaman anggrek merupakan tanaman yang sulit untuk melakukan penyerbukan sendiri, sehingga perkembangbiakannya pun cukup sulit. Selain itu, biji yang kecil, tidak mengandung cadangan makanan dan kulit yang sangat keras serta tebal membuat tanaman anggrek sulit ditumbuhkan tanpa bantuan manusia, kecuali anggrek yang tumbuh liar di hutan. Untuk mengatasi hal tersebut dan menumbuhkan anggrek secara masal, maka tindakan yang bisa dilakukan adalah dengan mengawinkan anaman anggrek (dapat sekaligus memperoleh varietas persilangan yang baru). Perbanyakan anggrek pada umumnya dilakukan dengan cara perkecambahan biji secara in-vitro (young et.al., 2001 dalam Rianawati dkk., 2009), sehingga hasil yang diperoleh tidak seragam dan menghasilkan warna bunga yang beragam. (Rianawati, dkk. 2009) Setelah membentuk buah dan berbiji, maka penumbuhan bijinya dilakukan secara invitro hingga menjadi tanaman yang siap ditanam di area terbuka untuk berproduksi atau dipasarkan. Berdasarakan pola pertumbuhannya, tanaman anggrek dibedakan menjadi dua tipe yaitu, simpodial dan monopodial. Anggrek tipe simpodial adalah anggrek yang tidak memiliki batang utama, bunga ke luar dari ujung batang dan berbunga kembali dari anak tanaman yang tumbuh. Kecuali pada anggrek jenis Dendrobium sp. yang dapat mengeluarkan tangkai bunga baru di sisi-sisi batangnya. Contoh dari anggrek tipe simpodial antara lain : Dendrobium sp., Cattleya sp., Oncidium sp.dan Cymbidium sp. Anggrek tipe simpodial pada umumnya bersifat epifit. Anggrek tipe monopodial adalah anggrek yang dicirikan oleh titik tumbuh yang terdapat di ujung batang, pertumbuhannnya lurus ke atas pada satu batang. Bunga ke luar dari sisi batang di antara dua ketiak daun. Contoh anggrek tipe monopodial antara lain : Vanda sp., Arachnis sp., Renanthera sp., Phalaenopsis sp., danAranthera sp. Habitat tanaman anggrek dibedakan menjadi 4 kelompok sebagai berikut :

Anggrek epifit, yaitu anggrek yang tumbuh menumpang pada pohon lain tanpa merugikan tanaman inangnya dan membutuhkan naungan dari cahaya matahari, misalnya Cattleya sp. memerlukan cahaya +40%, Dendrobium sp. 50 60%, Phalaenopsis sp. + 30%, dan Oncidium sp. 6075%.

Anggrek terestrial, yaitu anggrek yang tumbuh di tanah dan membutuhkan cahaya matahari langsung, misalnya Aranthera sp., Renanthera sp., Vanda sp.dan Arachnis sp. Tanaman anggrek terestrial membutuhkan cahaya matahari 70 100 %, dengan suhu siang berkisar antara 19 380C, dan malam hari 18210C. Sedangkan untuk anggrek jenis Vanda sp. yang berdaun lebar memerlukan sedikit naungan. Anggrek litofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada batu-batuan, dan tahan terhadap cahaya matahari penuh, misalnya Dendrobium phalaenopsis. Anggrek saprofit, yaitu anggrek yang tumbuh pada media yang mengandung humus atau daun-daun kering, serta membutuhkan sedikit cahaya matahari, misalnya Goodyera sp. (www.deptan.go.id)

Perbanyakan anggrek pada umumnya dilakukan dengan cara perkecambahan biji secara in-vitro (young et.al., 2001 dalam Rianawati dkk., 2009), sehingga hasil yang diperoleh tidak seragam dan menghasilkan warna bunga yang beragam. (Rianawati, dkk. 2009) Pada dasarnya 1. KRISAN Krisan merupakan tanaman bunga hias berupa perdu dengan sebutan lain seruni atau bunga emas (golden flower) berasal dari dataran Cina. Krisan kuning dari dataran cina dikenal dengan Chrisanthenum indicum (kuning). C.morifolium (ungu dan pink) dan C.daisy (bulat, ponpon). (www.docstoc.com) Tanaman krisan dapat diperbanyak dengan cara vegetative, yaitu dengan anakan, setek pucuk dan kultur jarinngan. 1. Bibit asal anakan, diperoleh dari tanaman kecil krisan yang dibudidayakan. 1. Bibit stek pucuk didapat dengan menentukan tanaman yang sehat dan cukup umur, pilih tunas pucuk yang tumbuh sehat, diameter pangkal 35mm, panjang 5cm, mempunya tiga helai daun dewasa berwarna hijau terang, potong pucuk teersebut, langsung semaikan atau disimpan dalam ruangan dingin bersuhu udara 4oC, dengan kelembaban 30% agar tetap tahan segar selama 3-4minggu. Cara penyimpanan stek adalah dibungkus dengan beberapak lapis kertas tisu, kemudian dimasukkan kedalam kantong plastik rata-rata 50 stek. 2. Bibit dengan kultur jaringan didapat dengan cara : menentukan mata tunas atau eksplan dan ambil dengan pisau silet, sterilisasi mata tunas dengan sublimat 0,04% (HgCl) selama 10menit, kemudian bilas dengan

air suling steril. Melakukan perbanyakan tanaman dalam media padat MS. Hasil penelitian lanjutan perbanyakan tanaman krisan secara kultur jaringan : 1. Medium MS padat ditambah 150 ml air kelapa/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 1,5 mg kinetin/liter, paling baik untuk pertumbuhan tunas dan akar eksplan. Pertunasan terjadi pada umur 29 hari, sedangkan perakaran 26 hari. 2. Medium MS padat ditambah 150 ml air kelapa/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5 BAP/liter, kalus bertunas waktu 26 hari, tetapi medium tidak merangsang pemunculan akar. 3. Medium MS padat ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5-0.2 mg kinetin/liter ditambah 0,5 mg NAA/liter ditambah 0,5-2,0 BAP/liter pada eksplan varietas Sandra untuk membentuk akar pada umur 21-31 hari. Penyiapan bibit pada skala komersial dilakukan dengan dua tahap yaitu: 1) Stok tanaman induk : Fungsinya untuk memproduksi bagian vegetatif sebanyak mungkin sebagai bahan tanaman Ditanam di areal khusus terpisah dari areal budidaya. Jumlah stok tanaman induk disesuaikan dengan kebutuhan bibit yang telah direncanakan. Tiap tanaman induk menghasilkan 10 stek per bulan, dan selama 4-6 bulan dipelihara memproduksi sekitar 40-60 stek pucuk. Pemeliharaan kondisi lingkungan berhari panjang dengan penambahan cahaya 4 jam/hari mulai 23.30 03.00 lampu pencahayaan dapat dipilih Growlux SL 18 Philip. 2) Perbanyakan vegetatif tanaman induk :

Pemangkasan pucuk, dilakukan pada umur 2 minggu setelah bibit ditanam, dengan cara memangkas atau membuang pucuk yang sedang tumbuh sepanjang 0,5-1 cm. Penumbuhan cabang primer. Perlakuan pinching dapat merangsang pertumbuhan tunas ketiak sebanyak 2-4 tunas. Tunas ketiak daun dibiarkan tumbuh sepanjang 15-20 cm atau disebut cabang primer. Penumbuhan cabang sekunder. Pada tiap ujung primer dilakukan pemangkasan pucuk sepanjang 0,5-1 cm, pelihara tiap cabang sekunder hingga tumbuh sepanjang 10-15 cm. (www.docstoc.com)

BAB III METODOLOGI 1. A. Waktu dan tempat pelaksanaan Hari / tanggal : Jumat / 10 Desember 2010 Waktu Tempat : Pkl. 08.00 11.00 WIB : Laboratorium Kultur Jaringan

1. B. Alat dan bahan


Alat: Dissecting set Lampu bunsen Kertas steril Tissu Petridish Botol semprot Planlet anggrek yang sudah siap disubkultur Media MS0+arang+sari buah Alkohol 70% Alkohol 96% Bahan : Media MS0

Planlet bunga krisan yang siap disubkultur

pisang

1. Prosedur Kerja 1. Menyiapkan semua alat dan bahan yang diperlukan 2. Melakukan subkultur terhadap tanaman krisan dengan cara : 1. Menyemprot tangan menggunakan alkohol 70% sebelum bekerja. 2. Mengambil kertas steril dan diletakkan pada papan kaca sebagai alas pada saat melakukan pemotongan eksplan. 3. Mensterilkan semua alat diseksi yang akan digunakan dengan cara mencelupkannya kedalam alkohol lalu membakarnya dengan lampu Bunsen. 4. Mengambil planlet tanaman krisan dar botol kultur awal sesuai kebutuhan dengan cara memotong batangnya secara hati-hati. 5. Memotong bagian nodus krisan sepanjang + 1,5cm atau satu ruas jika jarak antar ruas cukup panjang dan dua ruas jika jarak antar ruas pendek 6. Menyimpan hasil potongan planlet kedalam petridish agar tidak layu sementara kita menyiapkan media tanam baru yaitu media MS0 7. Menanam hasil stek krisan pada media tanam baru dengan jarak yang proporsional dan rapi agar tanaman tidak berebutan unsur hara, (biasanya +7 potong per botol kultur) lalu menutupnya. 8. Memberikan label pada botol kultur yang baru ditanamami yang berisi keterangan mengenai nama tanaman, tanggal penanaman, dan nama penanam. 9. Menyimpan hasil subkultur pada ruang pertumbuhan. 10. Melakukan subkultur tanaman anggrek dengan cara : 1. Menyemprot tangan menggunakan alkohol 70% sebelum bekerja. 2. Mengambil kertas steril dan diletakkan pada papan kaca sebagai alas. 3. Mensterilkan media dengan mendekatkannya pada lampu spirtus dan menyiapkannya. 4. Mengambil plantlet tanaman anggrek satu persatu dengan menggunakan pinset, dan membersihkannya dari kotoran maupun sisa media yang terikut pada akar. 5. Memasukkan satu persatu tanaman anggrek kedalam media MS0+arang+jus pisang yang telah disiapkan sebanyak 7-10 batang per botol dan diatur agar tersusun rapi dengan jarak proporsional agar tidak berebutan nutrisi. 6. Menutup botol kultur yang telah ditanami dan memberi label yang berisi informasi tentang nama tanaman, tanggal penanaman, dan nama penanam. 7. Menyimpan botol kultur diruang pertumbuhan.

8. Mengemasi semua alat yang telah digunakan dan mengembalikannya ketempat semula. 9. Melakukan pengamatan terhadap hasil subkultur satu minggu setelah dilaksanakan subkultur. 10. Melakukan diskusi, pembahasan dan membuat laporan praktikum BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN 1. A. Hasil Hasil yang didapatkan dari praktikum subkultur ini adalah: 1. Didapatkan kultur krisan sebanyak 7 nodus krisan dengan bentuk melingkar pada setiap botolnya. 2. Didapatkan kultur anggrek sebanyak 7 10 batang anggrek dengn bentuk melingkar rapi pada media yang menggunakan arang aktif Dengan hasil pengamatan setelah satu minggu disimpan di ruang pertumbuhan dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Tanaman krisan setalah 1 minggu

Tanaman anggrek setelah 1 minggu

1. B. Pembahasan : Dari hasil yang kita dapat di atas, kita dapat mengetahui kondisi hasil subkultur setelah satu minggu di simpan di ruang pertumbuhan. Untuk tanaman krisan, kondisi awal ketika sebelum disubkultur tanaman krisan berada dalam botol kultur bersama tanaman krisan lainnya yang sudah mengalami pertambahan panjang. Tanaman tersebut memiliki panjang hampir bahkan sudah mencapai tutup dari botol kultur tersebut. Untuk kenampakan dari dari krisan tersebut juga tidak menarik yaitu berwarna hijau pucat, kurus dan agak layu. Hal ini sangat wajar terjadi karena

tanaman tersebut mulai berebut unsur hara dengan tanaman krisan lainnya yang tumbuh pada media dan botol yang sama. Setelah dilakukan subkultur, terjadi perubahan kenampakan pada tanaman krisan tersebut. Yaitu warna tanaman hijau segar dan tanaman tumbuh tegar dan segar. Hal ini dikarenakan tanaman tersebut telah mendapatkan penyegaran ketika subkultur. Penyegaran tersebut dapat berasal dari media baru maupun udara baru yang masuk ketika melakukan subkultur. Ada hal yang harus diperhatikan ketika melakukan subkultur tanaman krisan. Yaitu ketika tanaman krisan dikeluarkan untuk dipotong dan ditanam kembali pada media baru, tanaman tersebut jangan dibiarkan berada di LAFC terlalu lama secara terbuka. Karena tanaman ini sangat sensitif terhadap panas dan cahaya. Apabila tanaman tersebut dibiarkan di LAFC terlalu lama secara terbuka dapat menyebabkan tanaman tersebut layu. Untuk itu dalam melakukan subkultur harus dilakukan secara tepat dan cepat. Selain menghindari hal tadi kecepatan dan ketepatan dalam melakukan subkultur juga dapat mengurangi tingkat kontaminasi yang bisa terjadi. Sedangkan untuk tanaman anggrek kondisi awal tanaman pada saat subkultur ialah karena kuantitas eksplan pada media sebelumnya sudah sangat padat. Untuk itu diperlukan pergantian media sehingga tanaman tersebut dapat tumbuh dengan optimal karena tidak kekurangan unsur hara untuk diserap. Pada saat subkultur, tanaman anggrek lebih mudah dan tidak terlalu rentan terhadap cahaya ataupun panas. Selain itu tanaman ini cukup menempel pada media, tidak perlu menancapkan terlalu keras pada media. Hal ini disebabkan akar tanaman anggrek lebih mudah untuk menyesuaikan dengan kondisi media tersebut. Setelah satu minggu disimpan di ruang pertumbuhan terjadi perubahan kenampakan dan ukuran pada tanaman tersebut. Tanaman anggrek tersebut tampak lebih segar sedangkan ukurannya lebih panjang dibandingkan ketika sebelum disubkultur. Akan tetapi karena kedua tanaman tersebut disubkultur pada media MS0 dimana belum ditambahkan ZPT sintetis untuk merangsang pertumbuhan secara cepat. Akan tetapi media ini telah ditambahkan jus pisang sebagai ZPT alami akan tetepi tanaman tersebut tidak mengalami perubahan secara signifikan. Mungkin disebabkan butuhnya waktu yang cukup lama untuk mengetahui perubahan pertumbuhan eksplan tersebut. BAB V PENUTUP 1. A. SIMPULAN

Dari hasil dan pembahasan di atas dapat disimpulkan beberapa hal dalam melakukan subkuktur,diantaranya:

Subkultur harus dilakukan karena memperhatikan beberapa faktor untuk kelangsungan hidup eksplan tersebut. Lakukan subkultur sebaik mungkin untuk menghindari melukai eksplan ketika dipindahkan ke dalam media baru. Kedua tanaman yang disubkultur belum mengalami perubahan yang signifikan dalam pertumbuhannya. Kedua tanaman tersebut tidak mengalami kontaminasi baik pada media maupun tanamannya. Kecepatan dan ketepatan ketika melakukan subkultur berpengaruh terhadapa hasil yang didapatkan.

1. B. SARAN Kepada para pengamat selanjutnya semoga dapat mendapatkan hasil yang lebih akurat dan lengkap dibandingkan dengan hasil pengamatan saya yang masih sangat sederhana ini. Semoga Laporan Praktikum ini dapat bermanfaat dan digunakan seperti sebagaimana mestinya.

DAFTAR PUSTAKA Budiarta, Atat. (2004). Dasar Dasar Kultur Jaringan. Cianjur: Pusat Pengembangan dan Penataran Guru Pertanian ______,2010. [online] dokumen Budidaya Tanaman Krisan tersedia di http://www.docstoc.com/docs/19913335/Budidaya-Tanaman-Krisan, diunduh pada Selasa, 21 Desember 2010, pukul 19.00WIB

______, 2005. [online] artikel Budidaya Tanaman Anggrek tersedia di : http://www.deptan.go.id/ditlinhorti/ , diunduh pada Jumat, 17 Desember 2010, pukul 16.40 WIB Wetherell, 1976 [online] dokumen Tahapan-tahapan Kultur Jaringan tersedia di www.kultujaringan.blogspot.com diunduh pada sabtu 20 November 2010, pukul 17.00 WIB Yusnita, 2003 [online] dokumen Tahapan-tahapan Kultur Jaringan tersedia di www.kultujaringan.blogspot.com diunduh pada sabtu 20 November 2010, pukul 17.00 WIB Yusnita, 2004 [online] dokumen Tahapan-tahapan Kultur Jaringan tersedia di www.kultujaringan.blogspot.com diunduh pada sabtu 20 November 2010, pukul 17.00 WIB Materi yang di sampaikan Dosen pengajar Pengantar Kultur Jaringan Tanaman Subkultur dan pemeliharaan tanaman in vitro yaitu bapak Ir. Heru Sugito, MP dan Ibu Wangi Satutik,SP.

Like this: Suka Memuat...

Navigasi tulisan
mengenangmu
first love (Utada Hikaru)

One thought on laporan subkultur (anggrek dan krisan)

1.

Andria Bin Muhayat (@MilikiAku) April 22, 2012 pada 5:07 pm

Terima Kasih, Ini sangat Membantu saya.

Balas

Tinggalkan Balasan Enter your comment here...

Fill in your details below or click an icon to log in:


Surel (wajib) (Address never made public) Nama (wajib) Situs web

You are commenting using your WordPress.com account. ( Log Out / Ubah )

You are commenting using your Twitter account. ( Log Out / Ubah )

You are commenting using your Facebook account. ( Log Out / Ubah )
Batal

Connecting to %s Beritahu saya balasan komentar lewat surat elektronik.


Kirim Komentar

Cari

Lanjut

Arsip

Maret 2011 Januari 2011 Desember 2010 Juli 2010 Mei 2010 Desember 2008 Oktober 2008 September 2008 Juni 2008 Mei 2008 April 2008 Maret 2008

Meta

Daftar Masuk

Blog pada WordPress.com. | Tema: Crafty oleh CraftyCart. Ikuti

Follow Naruto3012's Weblog Get every new post delivered to your Inbox.
Sign me up

Powered by WordPress.com

%d bloggers like this: