Anda di halaman 1dari 25

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL I. TUJUAN


Mempelajari pembuatan material dengan proses sol-gel.

II. TEORI
Metode sol-gel dikenal sebagai salah satu metode sintesis nanopartikel yang cukup sederhana dan mudah. Metode ini merupakan salah satu wet method karena pada prosesnya melibatkan larutan sebagai medianya. Pada metode solgel, sesuai dengan namanya, larutan mengalami perubahan fase menjadi sol (koloid yang mempunyai padatan tersuspensi dalam larutannya) dan kemudian menjadi gel (koloid tetapi mempunyai fraksi solid yang lebih besar daripada sol). Proses sol gel dapat didefinisikan sebagai proses pembentukan senyawa anorganik melalui reaksi kimia dalam larutan pada suhu rendah, dimana dalam proses tersebut terjadi perubahan fasa dari suspensi koloid (sol) membentuk fasa cair kontinue (gel). Salah satu metoda dalam pembuatan nanopartikel silika, SiO2 adalah

metoda sol-gel. Metoda sol-gel merupakan metoda yang paling banyak dilakukan. Hal ini disebabkan karena beberapa keunggulannya, antara lain: proses berlangsung pada temperatur rendah, prosesnya relatif lebih mudah, bisa diaplikasikan dalam segala kondisi (versatile), menghasilkan produk dengan kemurnian dan kehomogenan yang tinggi jika parameternya divariasikan. Dimana bisa dilakukan kontrol terhadap ukuran dan distribusi pori dengan mengubah rasio molar air/prekursor, tipe katalis atau prekursor, suhu gelasi, pengeringan, dan proses stabilisasi. Selain itu, yang paling mengesankan dari proses sol-gel adalah biayanya relatif murah dan produk berupa xerogel silika yang dihasilkan tidak beracun. Prekursor atau bahan awal dalam pembuatannya adalah alkoksida logam dan klorida logam, yang kemudian mengalami reaksi hidrolisis dan reaksi

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

polikondensasi untuk membentuk koloid, yaitu suatu sistem yang terdiri dari partikel-partikel padat (ukuran partikel antara 1 nm sampai 1 m) yang terdispersi dalam suatu pelarut. Bahan awal atau precursor juga dapat disimpan pada suatu substrat untuk membentuk film (seperti melalui dip-coating atau spin-coating), yang kemudian dimasukkan kedalam suatu container yang sesuai dengan bentuk yang diinginkan contohnya untuk menghasilkan suatu keramik monolitik, gelas, fiber atau serat, membran, aerogel, atau juga untuk mensintesis bubuk baik butiran mikro maupun nano. Dari beberapa tahapan proses sol-gel, terdapat dua tahapan umum dalam pembuatan metal oksida melalui proses sol-gel, yaitu hidrolisis dan polikondensasi seperti terlihat pada Gambar 1 berikut ini. Pada tahap hidrolisis terjadi penyerangan molekul air.

Metoda sol-gel memiliki beberapa keuntungan, antara lain : 1. Tingkat stabilitas termal yang baik. 2. Stabilitas mekanik yang tinggi. 3. Daya tahan pelarut yang baik. 4. Modifikasi permukaan dapat dilakukan dengan berbagai kemungkinan.

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

Prekursor yang biasa digunakan umumnya logam-logam anorganik atau senyawa logam organik yang dikelilingi oleh ligan yang reaktif seperti logam alkoksida (M(OR)z), dimana R menunjukkan gugus alkil (CnH2n+1). Logam alkoksida banyak digunakan karena sifatnya yang mudah bereaksi dengan air. Tahapan Proses Sol-Gel terdiri dari : 1. Hidrolisis Pada tahap pertama logam prekursor (alkoksida) dilarutkan dalam alkohol dan terhidrolisis dengan penambahan air pada kondisi asam, netral atau basa menghasilkan sol koloid. Hidrolisis menggantikan ligan (-OR) dengan gugus hidroksil (-OH) dengan reaksi sebagai berikut : M(OR)z + H2O M(OR) (z-1) (OH) + ROH

Faktor yang sangat berpengaruh terhadap proses hidrolisis adalah rasio air/prekursor dan jenis katalis hidrolisis yang digunakan. Peningkatan rasio pelarut/prekursor akan meningkatkan reaksi hidrolisis yang mengakibatkan reaksi berlangsung cepat. Katalis yang digunakan pada proses hidrolisis adalah jenis katalis asam atau katalis basa, namun proses hidrolisis juga dapat berlangsung tanpa menggunakan katalis. Dengan adanya katalis maka proses hidrolisis akan berlangsung lebih cepat dan konversi menjadi lebih tinggi.

Gambar tahapan preparasi dengan metoda sol gel

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

2. Kondensasi Pada tahapan ini terjadi proses transisi dari sol menjadi gel. Reaksi kondensasi melibatkan ligan hidroksil untuk menghasilkan polimer dengan ikatan M-O-M. Pada berbagai kasus, reaksi ini juga menghasilkan produk samping berupa air atau alkohol dengan persamaan reaksi secara umum adalah sebagai berikut : a. Kondensasi alkohol M-OH + M-OR b. Kondensasi air M-OH + M-OH M-O-M + H2O M-O-M + R-OH

Polimerisasi sol-gel terjadi dalam tiga tahap : - Polimerisasi monomer-monomer membentuk partikel - Pertumbuhan partikel - Pengikatan partikel membentuk rantai, kemudian jaringan yang terbentuk diperpanjang dalam medium cairan, mengental menjadi suatu gel, seperti ditunjukkan pada Gambar-2 berikut :

3. Pematangan (Ageing) Setelah reaksi hidrolisis dan kondensasi, dilanjutkan dengan proses pematangan gel yang terbentuk. Proses ini lebih dikenal dengan proses ageing.

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

Pada proses pematangan ini, terjadi reaksi pembentukan jaringan gel yang lebih kaku, kuat, dan menyusut didalam larutan. 4. Pengeringan Tahapan terakhir adalah proses penguapan larutan dan cairan yang tidak diinginkan untuk mendapatkan struktur sol gel yang memiliki luas permukaan yang tinggi.

Kelebihan metode sol-gel, antara lain : a. Kehomogenan yang lebih baik b. Kemurnian yang tinggi c. Suhu relatif rendah d. Tidak terjadi reaksi dengan senyawa sisa e. Kehilangan bahan akibat penguapan dapat diperkecil f. Mengurangi pencemaran udara

Kekurangan metoda sol-gel, antara lain : a. Bahan mentah mahal b. Penyusutan yang besar selama proses pengeringan c. Sisa hidroksil dan karbon d. Menggunakan pelarut organik yang berbahaya bagi kesehatan e. Memerlukan waktu pemprosesan yang lama.

Parameter Proses Sol Gel

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Sol Gel Dalam proses sol-gel, ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam menghasilkan produk yang diinginkan, yaitu : a. Senyawa logam Senyawa logam yang digunakan sebagai bahan awal pada reaksi hidrolisis dan kondensasi disebut prekursor. Persyaratan umum dari prekursor yang digunakan adalah harus dapat larut dalam media reaksi dan harus cukup reaktif dalam pembentukan gel. Perbedaan senyawa alkoksida yang digunakan sebagai prekursor dalam proses sol-gel akan memberikan perbedaan yang jelas pada densitas, ukuran pori dan luas permukaan gel. b. Katalis Penggunaan katalis menyebabkan reaksi hidrolisis menjadi lebih cepat dan sempurna. Katalis yang umum digunakan dalam reaksi pembentukan gel adalah asam-asam anorganik, seperti: HCl, HNO3 dan H2SO4. Disamping itu, asam-asam organik juga dapat digunakan sebagai katalis, seperti: asam asetat atau pembentukan gel dan sifat fisik gel. Namun demikian, katalis tidak diperlukan dalam reaksi kondensasi. c. Pelarut Pada tahap awal pelarut digunakan untuk menghomogenkan campuran bahan dasar dan air karea sifat kepolarannya berbeda. Pelarut berfungsi untuk menghalangi pemisahan fasa cair-cair pada waktu reaksi hidrolisis dan mengontrol konsentrasi logam. Pelarut yang umum digunakan dalam reaksi pembentukan gel adalah alkohol. Hal ini disebabkan karena alkohol mempunyai tekanan uap yang lebih tinggi pada temperatur kamar. d. Temperatur Temperatur dalam proses sol-gel akan mempengaruhi kecepatan pembentukan gel. Proses sol-gel yang telah dilakukan pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur kamar menyebabkan laju hidrolisis akan menjadi cepat dan juga menyebabkan gel cepat terbentuk.

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

III. PROSEDUR PERCOBAAN


3.1 Alat dan Bahan
N o 1 2 3 4 5 Alat Hot plate Stirrer Gelas piala Termometer Neraca analitik Kegunaan Untuk memanaskan Untuk mengaduk larutan Sebagai wadah larutan Untuk mengukur suhu Untuk menimbang zat

N o 1 2 3

Bahan TEOS Etanol 95 % HCl 2 N

Kegunaan Sebagai sumber Si Sebagai pelarut Sebagai katalis

3.2 Cara Kerja 1. Campurkan 20 mL etanol 95 % dan 5 tetes HCl 2 N (larutan A). 2. Sebanyak 2 mL TEOS dimasukkan ke dalam 10 mL larutan A. 3. Panaskan pada temperatur 60oC selama 2 jam sambil dilakukan pengadukan. 4. Campuran tersebut dipindahkan ke dalam gelas piala. 5. Tutup dengan aluminium foil yang telah dilubangi. 6. Biarkan pada temperatur kamar sampai terbentuk gel basah. 7. Lanjutkan pengeringan sampai terbentuk gel kering.

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

3.3 Skema Kerja 20 mL etanol + 5 tetes HCl - dimasukkan ke dalam gelas piala - dimasukkan 2 mL TEOS ke dalam 10 mL larutan A Larutan - dipanaskan pada suhu 60oC selama 2 jam - diaduk Campuran - dipindahkan ke dalam gelas piala - ditutup dengan aluminium foil - dibiarkan pada suhu kamar Gel basah - setelah beberapa hari Gel kering

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

3.4 Skema Alat

Keterangan : 1. Gelas piala 2. Hot plate stirer

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

4.2 PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini bertujuan untuk mempelajari bagaimana cara pembuatan material dengan proses sol-gel. Proses sol-gel merupakan suatu metoda penyebaran bahan anorganik dalam larutan. Bahan dasar yang digunakan antara lain: etanol 95% sebagai pelarut, HCl 2 N sebagai katalis, dan TEOS (tetra etoksi orto silikat) sebagai bahan penghasil logam Si. Si merupakan logam alkoksida yang digunakan sebagai prekursor sehingga metoda yang digunakan dalam pembentukan sol-gel ini disebut juga metoda alkoksida. Pada proses sol-gel ini memiliki kelebihan dibandingkan dengan metoda lainnya, dimana proses sol-gel ini kemurniannya lebih tinggi dn penggunaan suhu yang relatif lebih rendah yaitu 60C. Suhu pada percobaan ini memiliki peranan penting karena jika suhunya melebihi 60C, maka tidak akan terbentuk solgelnya. Pemanasan yang dilakukan pada suhu 60C selama dua jam, digunakan untuk mempercepat reaksi dalam pembentukan sol-gel. Pemanasan tidak boleh melebihi 60C karena akan menguapkan pelarut. Sol-gel yang kami dapatkan dalam percobaan ini dalam keadaan pecah, tidak jelas gel-nya. Hal ini diakibatkan kerena pengeringan yang terlalu lama. Seharusnya pengeringan ini hanya beberapa hari, sehingga sol-gel yang kami dapatkan rusak dan pecah. Gel kering ini merupakan suatu oksopolimer, yaitu polimer dengan rantai panjang yang antara satu logam dengan logam yang lainnya saling berhubungan dengan ikatan oksigen. Oksopolimer yang terbentuk pada proses sol-gel ini ialah SiO2 yang saling berikatan satu dengan yang lainnya. Percobaan yang kami lakukan kurang berhasil, hal ini disebabkan karena pemanasan yang terlalu lama dan sol-gel yang terbentuk malah terpecah-pecah dan susah untuk dioptis. Pada proses pembuatan sol-gel ini terdapat faktorfaktor yang mempengaruhi pembentukan gel silika dalam proses sol-gel adalah pengaruh katalis yang dapat mempercepat suatu reaksi pembentukan sol-gel yang terbentuk cepat dan sempurna.

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat diambil beberapa kesimpulan, antara lain : 1. Pada percobaan ini menggunakan metoda alkoksida dimana metoda ini menggunakan alkoksida sebagai prekursornya. 2. Sol-gel yang kami dapatkan rusak dan pecah sehingga tidak jelasnya gel-nya. 3. Pemanasan tidak boleh melebihi 60C karena akan menguapkan pelarut.

5.2 Saran Agar mendapatkan hasil yang lebih baik pada praktikum selanjutnya, maka disarankan kepada praktikan selanjutnya untuk : 1. Berhati-hati dalam pembuatan dan pencampuran zat. 2. Pemanasan harus dilakukan pada suhu 60oC. 3. Memahami prosedur kerja dengan baik.

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

JAWABAN PERTANYAAN

1. Fungsi etanol dalam percobaan ini adalah sebagai pelarut (melarutkan silikat). 2. Diagram kerja : 20 mL etanol + 5 tetes HCl - dimasukkan ke dalam gelas piala - dimasukkan 2 mL TEOS ke dalam 10 mL larutan A Larutan - dipanaskan pada suhu 60oC selama 2 jam - diaduk Campuran - dipindahkan ke dalam gelas piala - ditutup dengan aluminium foil - dibiarkan pada suhu kamar Gel basah - setelah beberapa hari Gel kering 3. Sol adalah sistem koloid yang fasa terdispersinya padat dan fasa pendispersinya cair dan gas. 4. Reaksi hidrolisis adalah reaksi penguraian garam oleh air atau reaksi ion-ion garam dengan air.

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

DAFTAR PUSTAKA

http://bennyriofernandez.blogdetik.com/files/2012/01/metoda-metoda-sintesisnanopartikel.pdf http://eprints.undip.ac.id/28272/1/E-20.pdf http://sariyusriati.wordpress.com/2008/10/21/sol-gel-technology/ http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_sma1/kelas_x/pengelompokankoloid/

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

JAWABAN RESPONSI

1.

Sebutkan judul, tujuan dan skema kerja ! Jawab : Judul Tujuan Skema Kerja : Pembuatan Material Anorganik Dengan Proses Sol-Gel. : Mempelajari pembuatan material dengan proses sol-gel. :

20 mL etanol + 5 tetes HCl - dimasukkan ke dalam gelas piala - dimasukkan 2 mL TEOS ke dalam 10 mL larutan A Larutan - dipanaskan pada suhu 60oC selama 2 jam - diaduk Campuran - dipindahkan ke dalam gelas piala - ditutup dengan aluminium foil - dibiarkan pada suhu kamar Gel basah - setelah beberapa hari Gel kering 2. Sebutkan fungsi bahan yang digunakan ! Jawab : Bahan yang digunakan : - TEOS sebagai sumber Si - Etanol 95 % sebagai pelarut - HCl 2 N sebagai katalis

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

3. Apa yang dimaksud dengan dengan sol dan gel? Jawab : Sol adalah suspensi koloid yang fasa terdispersinya berbentuk solid (padat) dan fasa pendispersinya berbentuk liquid (cairan). Gel adalah jaringan partikel atau molekul, baik padatan dan cairan, dimana polimer yang terjadi di dalam larutan digunakan sebagai tempat pertumbuhan zat anorganik.

4. Sebutkan kelebihan dan kekurangan metoda sol-gel ! Jawab : Kelebihan metode sol-gel, antara lain : a. Kehomogenan yang lebih baik b. Kemurnian yang tinggi c. Suhu relatif rendah d. Tidak terjadi reaksi dengan senyawa sisa e. Kehilangan bahan akibat penguapan dapat diperkecil f. Mengurangi pencemaran udara Kekurangan metoda sol-gel, antara lain : a. Bahan mentah mahal b. Penyusutan yang besar selama proses pengeringan c. Sisa hidroksil dan karbon d. Menggunakan pelarut organik yang berbahaya bagi kesehatan e. Memerlukan waktu pemprosesan yang lama.

5. Jelaskan tahapan proses sol-gel ! Jawab : Tahapan proses sol-gel, antara lain : a. Hidrolisis Pada tahap pertama logam prekursor (alkoksida) dilarutkan dalam alkohol dan terhidrolisis dengan penambahan air pada kondisi asam, netral atau basa

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

menghasilkan sol koloid. Hidrolisis menggantikan ligan (-OR) dengan gugus hidroksil (-OH) dengan reaksi sebagai berikut : M(OR)z + H2O M(OR) (z-1) (OH) + ROH

Faktor yang sangat berpengaruh terhadap proses hidrolisis adalah rasio air/prekursor dan jenis katalis hidrolisis yang digunakan. Peningkatan rasio pelarut/prekursor akan meningkatkan reaksi hidrolisis yang mengakibatkan reaksi berlangsung cepat. Katalis yang digunakan pada proses hidrolisis adalah jenis katalis asam atau katalis basa, namun proses hidrolisis juga dapat berlangsung tanpa menggunakan katalis. Dengan adanya katalis maka proses hidrolisis akan berlangsung lebih cepat dan konversi menjadi lebih tinggi. b. Kondensasi Pada tahapan ini terjadi proses transisi dari sol menjadi gel. Reaksi kondensasi melibatkan ligan hidroksil untuk menghasilkan polimer dengan ikatan M-O-M. Pada berbagai kasus, reaksi ini juga menghasilkan produk samping berupa air atau alkohol dengan persamaan reaksi secara umum adalah sebagai berikut : - Kondensasi alkohol M-OH + M-OR - Kondensasi air M-OH + M-OH c. Pematangan (Ageing) Setelah reaksi hidrolisis dan kondensasi, dilanjutkan dengan proses pematangan gel yang terbentuk. Proses ini lebih dikenal dengan proses ageing. Pada proses pematangan ini, terjadi reaksi pembentukan jaringan gel yang lebih kaku, kuat, dan menyusut didalam larutan. d. Pengeringan Tahapan terakhir adalah proses penguapan larutan dan cairan yang tidak diinginkan untuk mendapatkan struktur sol gel yang memiliki luas permukaan yang tinggi. M-O-M + H2O M-O-M + R-OH

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

6. Jelaskan faktor-faktor yang digunakan ! Jawab : a. Senyawa logam Senyawa logam yang digunakan sebagai bahan awal pada reaksi hidrolisis dan kondensasi disebut prekursor. Persyaratan umum dari prekursor yang digunakan adalah harus dapat larut dalam media reaksi dan harus cukup reaktif dalam pembentukan gel. Perbedaan senyawa alkoksida yang digunakan sebagai prekursor dalam proses sol-gel akan memberikan perbedaan yang jelas pada densitas, ukuran pori dan luas permukaan gel. b. Katalis Penggunaan katalis menyebabkan reaksi hidrolisis menjadi lebih cepat dan sempurna. Katalis yang umum digunakan dalam reaksi pembentukan gel adalah asam-asam anorganik, seperti: HCl, HNO3 dan H2SO4. Disamping itu, asam-asam organik juga dapat digunakan sebagai katalis, seperti: asam asetat atau pembentukan gel dan sifat fisik gel. Namun demikian, katalis tidak diperlukan dalam reaksi kondensasi. c. Pelarut Pada tahap awal pelarut digunakan untuk menghomogenkan campuran bahan dasar dan air karea sifat kepolarannya berbeda. Pelarut berfungsi untuk menghalangi pemisahan fasa cair-cair pada waktu reaksi hidrolisis dan mengontrol konsentrasi logam. Pelarut yang umum digunakan dalam reaksi pembentukan gel adalah alkohol. Hal ini disebabkan karena alkohol mempunyai tekanan uap yang lebih tinggi pada temperatur kamar. d. Temperatur Temperatur dalam proses sol-gel akan mempengaruhi kecepatan

pembentukan gel. Proses sol-gel yang telah dilakukan pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur kamar menyebabkan laju hidrolisis akan menjadi cepat dan juga menyebabkan gel cepat terbentuk.

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

PEMBAHASAN JURNAL Judul : Preparasi Lapisan Tipis ZnO Transparan menggunakan Metode Sol-Gel beserta Karakterisasi Sifat Optiknya. Analisis Jurnal : Lapisan tipis transparan ZnO telah berhasil disintesis dengan metoda solgel. Prekursor berasal dari zink asetat dihidrat yang dilarutkan dengan etilen glikol dan iso-propanol, lalu distabilkan dengan senyawa basa trietilamin. Pembentukan lapisan yang terdiri dari partikel ZnO diamati seiring dengan proses pemanasan. Berdasarkan hasil karakterisasi optik, lapisan yang mengalami pemanasan hingga 500oC memiliki tingkat ketransparanan yang paling tinggi melebihi 98 % pada daerah cahaya tampak (400-800 nm), dengan pita energi sebesar 3,21 eV. Absorbansi mengalami peningkatan pada sampel yang mengalami pemanasan sedangkan emisi visible menurun saat pemanasan pada suhu 500oC. Peningkatan sifat optik meliputi absorbansi, transmisi, disebabkan oleh berkurangnya kerapatan perbatasan antar bulir akibat pertumbuhan partikel baru dengan ukuran lebih kecil, serta keberadaan dari native defect oksigen vacancy. Sedangkan menurunnya intensitas emisi visible pada suhu tinggi berkaitan dengan mulai terbentuknya morfologi permukaan lapisan yang lebih baik.

Skema Kerja : a. Pembuatan larutan prekursor Proses sintesis zink oksida dengan menggunakan metode sol gel berdasarkan pada pekerjaan yang telah dilakukan oleh Kamalasanan dkk.[8] dengan sedikit modifikasi. Prekursor ZnO berasal dari zink asetat dihidrat (1gr) yang dilarutkan dalam etilen glikol (0,35 mL). Kelarutan zink asetat dihidrat kurang baik dalam alkohol, sehingga proses pelarutan harus disertai dengan pemanasan. Pemanasan dilakukan di atas hot plate pada rentang suhu 150oC 170oC. Pemanasan membutuhkan waktu sekitar 20- 30 menit sampai di dapatkan larutan bening dan transparan. Pada tahap ini, larutan yang terbentuk terdiri dari

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

nano partikel zink asetat yang telah larut di dalam etilen glikol, beserta senyawa asam asetat dan air. Zink asetat yang larut tersebut memiliki bulir yang sangat kecil sehingga larutan tersebut terlihat bening tak berwarna. Selama proses pendinginan larutan akan berubah fasa menjadi padatan bening (brittle solid), yang dapat larut pada 2 mL iso-propanol yang dicampur dengan 0,05 mL gliserol. Setelah larut tambahkan trietilamine untuk membantu proses hidrolisis zink asetat. Larutan prekursor yang terbentuk terlihat bening tak berwarna dan dapat bertahan selama 48 jam dalam keadaan tertutup pada suhu ruang. Pada hari ke tiga, larutan bening akan berubah menjadi koloid yang akhirnya terdapat endapan didasar labu reaksi. Endapan tersebut diasumsikan sebagai zink hidroksida (ZnOH) dengan bulir partikel yang besar dan kemungkinan pula mengandung zink asetat dihidrat, yang terbentuk dari senyawa zink acetat bereaksi dengan udara luar sehingga membentuk gugus dihidrat kembali, beserta senyawa organik lainnya yang terbentuk ketika proses reaksi. b. Teknik pelapisan Selanjutnya adalah pembuatan lapisan tipis ZnO dengan teknik spin coating. Kecepatan putaran bervariasi antara 1500 rpm, 2000 rpm, dan 3000 rpm, selama 15-30 detik untuk mendapatkan lapisan yang paling baik, rata, dan homogen. Berdasarkan percobaan, teknik pelapisan yang paling baik adalah dengan kecepatan putaran 2000 rpm selama 20 detik, pelapisan dilakukan di atas substrat gelas. c. Proses pre-heating dan post-heating Proses pemanasan (heating) dilakukan dengan menggunakan tanur mulai dari suhu ruang hingga 230oC. Temperatur dinaikkan secara perlahan-lahan hingga 230oC selama 5 jam. Sampel didiamkan selama 15 menit pada suhu 230oC, kemudian diturunkan secara perlahan hingga suhu ruang. Tahap ini dikatakan juga sebagai tahap pre-heating yang berfungsi untuk menghilangkan pelarut etilen glikol, air, iso-propanol, dan gugus asam, dan memfasilitasi perubahan ZnOH menjadi ZnO seiring dengan pemanasan (hidrolisis). Tahap selanjutnya adalah annealing atau post-heating pada suhu 500oC. Peningkatan

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

suhu dilakukan selama 10 jam. Sample dipanaskan pada suhu 500 oC selama 15 menit lalu temperatur diturunkan secara alami hingga kembali ke suhu ruang. Postheating ini berfungsi untuk pembentukan kristal dari partikel ZnO. Diharapkan kristal yang terbentuk memiliki orientasi yang seragam, dan memiliki ukuran butir kecil serta meminimalisir pori-pori yang terbentuk. Tahap pemanasan untuk sampel yang mengalami pre-heating (230oC) dan post-heating (500oC) dapat dilihat pada gambar 1 berikut :

Gambar 1. Proses pre-heating dan post-heating. Peningkatan pemanasan secara teraturdimaksudkan untuk memfasilitasi terbentuknya kristal dengan orientasi seragam dan teratur.

Gambar 2. Tahapan dalam pembuatan lapisan tipis ZnO

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

Selanjutnya dilakukan proses pembilasan menggunakan akuades dan aseton untuk menghilangkan sisa senyawa organik yang dimungkinkan masih tertinggal. Karakterisasi yang dilakukan untuk mengetahui morfologi lapisan yang terbentuk adalah SEM, dan untuk mengetahui sifat optik, pengukuran transmitansi, absorbansi, dan emisi menggunakan spectrometer ocean optic USB2000 .

Analisis metoda yang dipakai : Beberapa jenis metoda sintesis ZnO berstruktur nano adalah Chemical vapor deposition, metal-organic CVD, elektrodeposisi, solution process termasuk metoda sol-gel. Metode sol-gel merupakan proses yang mudah dan tidak memerlukan biaya tinggi, sehingga banyak digunakan beberapa tahun belakangan ini. Salah satu sifat menarik yang dimiliki oleh ZnO adalah pembentukan kristal yang dapat terjadi pada suhu di bawah 400 oC, tentu saja hal ini tergantung dari jenis deposisi dan pelarut yang digunakan. Seperti yang telah dilaporkan oleh Yiamsawas dkk. pada tahun 2009, mereka menggunakan PVP dan etanol sebagai pelarut dan dengan pemanasan pada suhu 80 oC morfologi kristal sudah terbentuk. Sedangkan hasil yang diperoleh oleh Huang (2008), pada temperatur deposisi kurang dari 300oC struktur yang terbentuk masih bersifat amorf, dan ketika temperatur melebihi 300oC, struktur sudah mulai mengkristal tetapi masih belum terorientasi dengan sempurna. Penelitian yang dilakukan oleh Olson pada tahun 2007 menyatakan bahwa nanokristal ZnO telah terbentuk ketika pemanasan mencapai 300oC, mereka menggunakan metal oksida ini untuk diaplikasikan pada sel surya hibrid. Ketika proses heating melebihi 500oC struktur kristal dengan orientasi dan ukuran yang sama mendominasi berdasarkan hasil spektrum XRD. Struktur kristal dan ukuran bulir partikel pada lapisan tipis ZnO sangat mempengaruhi sifat optik dan elektrik-nya, sedangkan agregasi partikel yang membentuk lapisan (cluster) tidak terlalu

mempengaruhi absorpsi optik nanopartikel yang dihasilkan. Pada dasarnya orientasi dari nanokristal yang membentuk lapisan tipis sangat bergantung pada

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

jenis substrat yang digunakan, hal ini berkaitan dengan energi permukaan yang terbentuk antara substrat dan lapisan yang ditumbuhkan. Penggunaan substrat yang memiliki lattice mismacth yang kecil, akan mempermudah pembentukkan kristal menjadi lebih teratur (preferred orientation) dan seragam sesuai dengan hasil yang dilaporkan oleh Srinivasan.

Analisis hasil yang didapatkan : Morfologi : Perubahan morfologi lapisan seiring dengan perlakuan pemanasan dapat dilihat pada gambar 3 di bawah ini :

Gambar 3. Citra SEM pada bagian permukaan untuk mengetahui morfologi lapisan. (a) sampel non-heating, (b) sampel pre-heating 230oC, (c) sampel post-heating 500oC.
OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

Berdasarkan hasil foto SEM, lapisan ZnO yang tidak mengalami pemanasan memiliki kerapatan perbatasan antar partikel yang sangat besar, sehingga terbentuk poros berukuran besar. ZnO yang terbentuk cenderung menggumpal dan tidak membentuk butiran. Ketika lapisan tersebut mengalami proses preheating pada suhu 230oC, butiran partikel ZnO mulai tumbuh dan bermunculan. Hal ini sesuai dengan hasil sampel yang mengalami perlakuan post-heating pada suhu 500oC, lapisan yang terbentuk terdiri dari butiran, sehingga mereduksi kerapatan perbatasan antar bulir dan poros lapisan. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti lain.

Sifat Optik : Hasil pengukuran transmitansi dilihat pada gambar 4 di bawah ini, lapisan yang dihasilkan bersifat transparan dengan transmitansi sebesar 98 % pada panjang gelombang sekitar 400 nm, dan 100% pada daerah panjang gelombang > 500 nm.

Pada sampel yang tidak mengalami perlakuan pemanasan, masih terlihat serapan pada panjang gelombang diatas 400 nm (dapat dilihat pada kurva absorbansi gambar 5). Tingkat ketransparanan yang paling tinggi dimiliki oleh sampel yang mengalami pemanasan hingga 500oC (post-heating). Sifat

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL

PRAKTIKUM KIMIA MATERIAL SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2011 / 2012

transparan yang dihasilkan berkaitan dengan kualitas film yang terbentuk dan dapat dipengaruhi oleh struktur kristal, ukuran bulir, dan pemilihan substrat. Selain itu peningkatan transmitansi pada suhu yang lebih tinggi kemungkinan diakibatkan oleh hamburan optik yang disebabkan oleh pemadatan dan penumbuhan bulir partikel yang diiringi dengan berkurangnya kerapatan perbatasan bulir antar partikel yang terbentuk. Sehingga dapat diketahui untuk menghasilkan kualitas lapisan yang baik, dibutuhkan pemanasan pada temperatur yang cukup tinggi. Gambar 5 merupakan spektrum absorbansi dari lapisan ZnO, pada sampel pre-heating dan post-heating puncak absorbansi berada pada panjang gelombang yang sama yaitu pada 362,5 nm. Sedangkan pada sampel non-heating puncak pertama berada pada panjang gelombang yang hampir sama dengan sampel lainnya, yaitu pada 365,8 nm, dan terdapat puncak-puncak serapan lain pada panjang gelombang di atas 400 nm. Spektrum absorbansi pada sampel nonheating, kemungkinan dilakukan oleh senyawa organik yang masih tertinggal di dalam lapisan, agregasi dan bulir ZnO dengan ukuran yang besar dan heterogen serta poros berukuran besar, hal ini terlihat dari lebarnya spektrum absorbansi dan munculnya shoulder pada daerah panjang gelombang yang lebih besar.

Gambar 5. Kurva absorbansi lapisan tipis ZnO dengan sumber cahaya halogen.

OBJEK V PEMBUATAN MATERIAL ANORGANIK DENGAN PROSES SOL-GEL