Anda di halaman 1dari 7

BIJIH BESI

OLEH KEOMPOK : YUAN JAYA PRATAMA : IV (EMPAT) (12 02 0034)

GENESA BIJIH BESI

Proses terjadinya cebakan bahan galian bijih besi berhubungan erat dengan adanya peristiwa tektonik pra-mineralisasi. Akibat peristiwa tektonik, terbentuklah struktur sesar, struktur sesar ini merupakan zona lemah yang memungkinkan terjadinya magmatisme, yaitu intrusi magma menerobos batuan tua, dicirikan dengan penerobosan batuan granitan (Kgr) terhadap Formasi Barisan (Pb,Pbl). Akibat adanya kontak magmatik ini, terjadilah proses rekristalisasi, alterasi, mineralisasi, dan penggantian (replacement) pada bagian kontak magma dengan batuan yang diterobosnya.

Perubahan ini disebabkan karena adanya panas dan bahan cair (fluida) yang berasal dari aktivitas magma tersebut. Proses penerobosan magma pada zona lemah ini hingga membeku umumnya disertai dengan kontak metamorfosa. Kontak metamorfosa juga melibatkan batuan samping sehingga

menimbulkan bahan cair (fluida) seperti cairan magmatik dan metamorfik yang banyak mengandung bijih.

Proses terjadinya cebakan bijih besi didaerah penelitian berkaitan dengan proses-proses tersebut diatas, dalam hal ini peristiwa tektonik, metamorfosa dan metasomatisme kontak berperan untuk terjadinya cebakan bijih besi di daerah penelitian. Bila dikaitkan dengan batuan yang tersingkap didaerah

penelitian yaitu batuan metamorfosa seperti marmer yang dulunya merupakan batugamping, maka dapat disimpulkan bahwa terbentuknya bijih karena terjadinya proses metamorfosa pada batugamping. Kemudian akibat proses magmatisme pada batugamping terjadi proses penggantian (replacement) sehingga larutan yang mengandung mineral bijih terendapkan bersamaan dengan terbentuknya batuan metamorfosa (marmer).

Setelah proses mineralisasi (pasca-mineralisasi), terjadi kembali peristiwa tektonik setempat yang membentuk sesar mendatar dan sesar normal, struktur tersebut akan membentuk kembali geometri dari cebakan mineral atau akan terjadi dislokasi. http://rafiedbungsu.blogspot.com/2012/06/proses-terbentuknya-endapanbijih-besi.html

CARA PENAMBANGAN BIJIH BESI a. Open Pit Penambangan dengan cara open pit adalah penambangan terbuka yang dilakukan untuk menggali endapan-endapan bijih metal seperti endapan bijih bijih besi, endapan bijih tembaga, dan endapan bijih nikel. Penambangan dengan cara open pit biasanya dilakukan untuk endapan bijih atau mineral yang terdapat pada daerah datar atau daerah lembah. Tanah akan digali ke bagian bawah sehingga akan membentuk cekungan atau pit.

Cara pengangkutan pada open pit tergantung dari kedalaman endapan dan topografinya. Pada dasarnya cara pengangkutannya ada 2 (dua) macam, yaitu : Cara konvensional atau cara langsung, yaitu hasil galian atau peledakan diangkut oleh truck / belt conveyor / mine car / skip dump type rail cars, dan sebagainya, langsung dari tempat penggalian ke tempat dumping dengan m enelusuri tebing-tebing sepanjang bukit. Cara inkonvensional atau cara tak langsung adalah cara pengangkutan hasil galian / peledakan ke tempat dumping dengan menggunakan cara kombinasi alat-alat angkut. Misalnya dari permuka/medan kerja (front) ke tempat crusher digunakan truk, dan selanjutnya melalui ore pass ke loading point; dari sini diangkut ke ore bin dengan memakai belt conveyor, dan akhirnya diangkut ke luar tambang dengan cage.

b.

Open Cast/ Open Mine/ Open Cut Penambangan dengan cara ini hampir sama dengan cara penambangan

open pit. Namun, teknik penambangan ini dilakukan untk daerah lereng bukit. Medan kerja yang digali dari arah bawah ke atas atau sebaliknya (side hill type). Bentuk tambang dapat pula melingkari bukit atau undakan, hal tersebut tergantung dari letak endapan penambangan yang diinginkan.

Cara pengangkutan endapan bijih atau mineral pada metode ini sama dengan pengangkutan yang dilakukan pada metode open pit. r-jotambang.blogspot.com/2011/12/tambang-terbuka_31.html

ESTIMASI CADANGAN BIJIH BESI DI INDONESIA Endapan bijih besi telah diteliti dan dieksplorasi oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Pada periode 1957-1964 Indonesia yang bekerja sama dengan Pemerintah Uni Sovyet, melaksanakan eksplorasi bijih besi untuk kepentingan pembangunan industri baja di Cilegon (Banten) dan menemukan beberapa daerah prospek di Kalimantan Selatan. Pada masa pemerintahan orde baru, (1967-1998) Indonesia mengalami demam eksplorasi yang bertujuan untuk mencari bijih

endapan bauksit, nikel, tembaga, emas dan batubara, tetapi

besi tidak tersentuh sama sekali. Ini menunjukkan bahwa potensi geologi Indonesia untuk endapan besi tidak menarik, karena geologi Indonesia merupakan busur magmatis yang tidak mempunyai batuan berumur pra-Kambrium seperti misalnya Banded Iron Formation. Walaupun demikian pihak Departemen Perindustrian, banyak

melakukan evaluasi kemungkinan penggunaan bijih besi untuk kepentingan industri dalam negeri. Evaluasi ini dilakukan berdasarkan data penemuan bijih besi yang terdapat di unit-unit dalam lingkungan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

Data potensi endapan besi di Indonesia, diperoleh dari hasil penyelidikan masa kolonial Belanda, hasil penyelidikan kerja sama antara Pemerintah Indonesia Uni Sovyet (akhir 1950an) untuk pengembangan industri baja di Krakatau Steel, dan berbagai penyelidikan yang dilaksanakan olehg pemegang Kuasa Pertambangan serta lembaga pemerintah. Endapan besi yang ditemukan di Indonesia umumya terdiri dari tiga jenis endapan yaitu bijih besi laterit, besi primer, besi sedimen dan pasir besi (lihat Tabel 2, Potensi Bijih Besi Indonesia). Besi sedimen ditemukan di Indonesia merupakan hal baru.

Tabel 2. Sumber Daya dan Cadangan Bijih Besi Indonesia (2008) Sumber Bijih 381.107206,95 1.585.195.899,30 1.014.797.646,30 23.702.188,00 Daya (ton) Logam 198.628764,63 631.601.478,77 132.919.134,62 15.496.162,00 Cadangan (ton) Bijih Logam 2.216.005 1.383256,80 80.640.000 18.061.569,20 4.732.000 15.063.748 -

Jenis Cebakan Bijih Besi Primer Besi Laterit Pasir Besi Besi Sedimen

Berdasarkan data Pusat Sumber Daya Geologi 2008, endapan besi sedimen ditemukan di Kabupaten Trenggalek (Jawa Timur) dengan sumber daya tereka mencapai 23, 7 juta ton lebih yang ditemukan di Kecamatan Dongko sebanyak 4 lokasi. Besi sedimen terbesar ditemukan di Kali Telu-Pagergunung dengan sumber daya tereka mencapai 11,3 juta ton dengan kadar logam 7 juta ton. Dengan penemuan ini diduga di pulau Jawa terdapat endapanyang mirip dengan Banded Iron Formation berumur para-Kambrium, hanya umur formasi ini muda (Pleistosen ?) Endapan besi laterit merupakan hasil

pelapukan batuan ultrabasa dengan potensi sumber daya pada tahun 2008 mencapai 1.585.195.899,30 dan cadangannya mencapai

80.640.000. Sumber daya tahun 2008, terjadi kenaikan, cadangannya menurun. Hal lain, terjadi kenaikan sumber daya bijih besi primer dan munculnya cadangan bijih besi primer yang pada tahun 2003 belum diperoleh data (Tabel 3). Dengan demikian, selama lima tahun terjadi kenaikan kegiatan eksplorasi bijih besi primer baik yang dilakukan perusahaan pemegang kuasa pertambangan, Pemerintah Kabupaten/Kota dan penyelidikan yang dilakukan oleh Pusat Sumber Daya Geologi.
Tabel 3, Sumber Daya dan Cadangan Bijih Besi Indonesia (2003) Sumber Daya (ton) Cadangan (ton) Jenis Cebakan Bijih Logam Bijih Logam Bijih Besi Laterit Besi Pasir Besi 76.147.311 1.151.369.714 89.632.359 35.432.196 502.317.988 45.040.808 215.160.000 28.417.600 8.193.580 15.063.748

Endapan besi laterit ini ditemukan secara tersebar dengan endapan berukuran kecil dan berkadar rendah. Potensi terbaik di Kalimantan Selatan yang ditemukan dari hasil penyelidikan Uni Soyyet, menunjukkan sumber daya terukur mencapai 5,0 juta ton yang terbentuk secara metasomatik dengan kadar besi antara 60-62%, sedangkan jumlah sumber daya di Kalimantan Selatan mencapai 560.247.700 ton (tabel 4,6). Walaupun demikian masih perlu dikaji seandainya akan dikembangkan untuk penambangan sekala kecil. Saat ini penambangan besi sekala kecil di RRC, memiliki kapasitas terendah 300.000 ton pertahun dengan umur tambang 10 tahun. Dengan contoh tersebut, daerah yang mungkin dapat dikembangkan memiliki cadangan minimal 3.000.000 ton.
Tabel 4. Sumber Daya dan Cadangan Besi Laterit Provinsi Sumber Daya (Ton) Cadangan (Ton) Bijih Logam Bijih Logam Nanggroe Aceh Darussalam 400.000 Lampung 135.000 93.150 Banten 126.000 61.147.000 Jawa Barat 500.000 225.000 Jawa Timur 84 46,58 Kalimantan Selatan 560.247.700 265.371.407 Sulawesi Selatan 371.500.000 182.035.000 Sulawesi Tenggara 59.080.930 10.261.997 4.520.000 670.349 Maluku Utara 193.425.000 58.50.000 52.320.000 7.218.856

Berdasarkan hasil penyelidikan Pusat Sumber Daya Geologi tahun 2005, mineralisasi biji besi ditemukan di daerah Air Manggis Kabupaten Pasaman dengan sumber daya hipotetik 3,08 juta ton dengan kadar Fe total 40,34%. Sedangkan dari aspek kelas cadangan, maka cadangan besi terdapat di Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara namun dalam bentuk mineral ikutan dari nikel dan kobal yang ditambang oleh PT Inco dan PT Aneka Tambang. Cadangan tersebut ikut ditambang sehingga data cadangan tersebut tidak bernilai. Sedangkan pasir besi banyak tersebar di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa (Tabel 5), pantai barat Sumatera dan tempat lainnya. Umumnya pasir besi di Indonesia ditambang untuk keperluan bahan korektif dalam industri semen. Kebutuhan besi dalam industri semen mencapai 5%, dan sebagian besar telah terpenuhi dalam bahan baku lempung atau lempung laterit. Sebagai bahan korektif, pada tahun 2002, industri semen hanya memerlukan sekitar 378.587 ton.

Tabel 5. Sumber Daya dan Cadangan Pasir Besi tahun 2003 PROVINSI UMBER DAYA (Ton) CADANGAN (Ton) BIJIH LOGAM BIJIH LOGAM NanggroeAceh Darussalam 124.124 68.268 Bengkulu 738.241 434.027 Lampung 74 34 Jawa Barat 23.165.506 11.925.668 10.465.200 5.894.001 Jogjakarta 60.606.000 30.727.000 Jawa Timur 1.100 462 700.000 351.400 Nusa Tenggara Barat 4.270 2.859 Nusa Tenggara Timur 175.000 89.250 Sulawesi Selatan 3.402.500 1.357.125 Sulawesi Tengah 609.772 1.824.110

www.idgrindingmill.com/peralatan/2562.html

TEMPAT KETERDAPATAN BIJIH BESI D INDONESIA Di Jawa barat terdapat bijih besi 1. Di banten terdapat bijih besi dengan pengolahan di cilegon. 2. Di jawa tengah terdapat bijih besi 3. Di Kalimantan Barat terdapat bijih besi 4. Di sulawesi tengah terdapat bijih besi http://v3fatmawati.blogspot.com/2011/04/daerah-di-indonesia-penghasilsumber.htm