Anda di halaman 1dari 80

Serambi

Oleh-oleh Ilmu Dari Singapura


Ir. Saat Suharto Amjad
(Ketua Pengurus KJKS TAMZIS)

Indonesia. Sebagaimana lazimnya kunjungan muhibbah tentu dihiasi pula acara jalanjalan, akan tetapi sesungguhnya tujuan ke Singapura tersebut bukan wisata, tetapi untuk silaturrahim, mencari ilmu dan membuka cakrawala. Dimulai dengan silaturrahim ke Lembaga Pengamanat dan Pentadbir Masjid Sultan, yang merupakan masjid tertua kedua di Singapura dan merupakan masjid bersejarah yang dilindungi pemerintah. Suasana ramah-tamah antara saudara serumpun begitu kental terasa, kami diterima oleh pengurus secara lengkap. Bahkan sebelum acara dimulai tuan rumah menjamu pula makan siang. Malam harinya kami serombongan berkunjung ke Kedutaan Besar Indonesia di Singapura. Tak kalah menggugah, ketika diputar Video dengan background nyanyian Tanah airku terasa begitu berbeda ketika masuk dalam ruang, waktu dan situasi di negeri orang Tanah air ku tidak kulupakan. Sebagian dari kami mengikuti acara yang sangat bersejarah bagi BMT dibanding beberapa forum-forum Internasional sebelumnya, ketika untuk pertama kali BMT dibicarakan dalam forum internasional yang lebih luas dengan komunitas yang lebih beragam mulai dari pebisnis, aktifis sosial dan para profesional yang bergerak dibidang hukum, keuangan dan lain sebagainya. Seminar itu bertajuk Poverty Alleviation Through Islamic Microfinance: The BMT Model in Indonesia terselenggara atas inisiatif dari salah satu private Bank terbesar di dunia yakni Union Bank of Switzerland (UBS) yang bekerjasama dengan Singapore Menagement University (SMU) sebuah universitas bisnis yang cukup bergengsi di dunia. Meskipun mulai dari gagasan hingga pelaksanaan hanya 10 hari, karena harus menyesuaikan dengan acara Silatnas, sehingga undangan pun baru beredar seminggu sebelum acara via email. Akan tetapi acaranya tersebut penuh dipenuhi peserta bahkan harus ditambah kursi. Bertempat di jurusan International Islamic Law & Finance yang dibuka oleh dekannya yaitu Professor Andrew White. Pidato pengantarnya sendiri sangat luar biasa karena professor menjelaskan mengenai konsep harta dan uang dalam Islam serta menjelaskan mengenai sejarah Baitul Maal. Yang lebih mengejutkan adalah ternyata professor yang masih nonmuslim ini ternyata sangat memahami tentang BMT. Bahkan dengan tegas profesor

eberapa hari lalu, alhamdulillah beserta rombongan 150 menejer dan pengurus BMT-BMT anggota Perhimpunan BMT Indonesia, kami dapat melaksanakan serangkaian acara yang bertajuk Silaturrahim nasional BMT, International Conference and Gathering (Silatnas BMT 2013) yang diselenggarakan di dua negara yaitu Singapura dan Batam,

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Serambi
membuat pernyataan bahwa BMT yang ada di Indonesia merupakan model Islamic microfinance yang terbaik di dunia. Menyambut pada sesi keduanya Bapak Abdul Rasyeed mantan menteri luar negeri Singapura dan sekarang menjabat sebagai Ambassador Singapura untuk Timur Tengah. Menjelaskan mengenai penanganan kemiskinan melalui pendekatan komunitas, dan memperkenalkan konsep Baitul Maal wa Tamwil. Setelah beberapa sambutan tersebut, sebagai pembicara inti, saya diberi kepercayaan untuk menjelaskan mengenai hal-hal yang telah kita lakukan bersama selama 20 tahun. Mulai dari identifikasi masalah keumatan yang melatarbelakangi kelahiran BMT, serta respon gerakan BMT untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Dimulai dari gerakan menabung dan mengelola keuangan, hingga pendampingan usaha dan pembiayaan yang dilakukan. Lebih dari itu, BMT telah pula melakukan kegiatan-kegiatan yang lebih dari sekedar lembaga keuangan, akan tetapi bersamaan dengan itu membangun komunitasnya dengan melakukan kegiatan-kegiatan sosial atara lain; pembiayaan nonkomersial kepada masyarakat kurang mampu dengan akad qard yang tidak mensyaratkan penambahan apa-apa kecuali pengembalian pokoknya saja; kegiatan lain adalah asuransi mikro; pelayanan kesehatan; dll. Pada pokoknya BMT adalah suatu lembaga keuangan yang memiliki keunikan karena mengintegrasikan antara fungsi bisnis dan fungsi sosial dalam suatu lembaga. Sambutan terhadap acara tersebut sungguhlah membesarkan hati, selepas acara usai, para peserta masih belum beranjak pergi, keinginan tahu tentang BMT sangat besar dan sebagian besar membuka diri untuk melakukan kerja-sama, bahkan salah satu media milik pemerintah Singapura Berita Harian turut pula meliput. Di negeri sendiri, harian Republika beberapa hari meliput mengenai event tadi. Keseriusan terhadap hal itu tampak dari respon berupa korespondensi surat maupun pertemuanpertemuan serta kunjungan pihak-pihak yang tertarik kepada BMT. Keramahan khas melayu juga kental terasa, sekental rasa santan di masakan rendang yang disajikan tatkala bersilaturrahim, dan disambut resmi dan lengkap oleh pengurus Pertapis. Pertapis sendiri merupakan yayasan sosial yang bergerak di bidang pengembangan pendidikan, pengembangan generasi muda, santunan-santunan sosial seperti layanan bimbingan bagi para tahanan di penjara, dan santunan serta pembinaan kepada keluarganya. Dengan kegiatan tersebut, mempunyai maksud agar para tahanan dapat memiliki kepercayaan diri untuk kembali ke masyarakat lagi. Pemerintah Singapura pun memberi kepercayaan kepada Pertapis untuk melakukan pembinaan mental, rehabilitasi dan proses sosialisasi selama enam bulan pada tahanan narkoba sebelum masa penahanannya berakhir. Yayasan Pertapis hidup dan digerakkan oleh muslimin-mukhlisin yang terdiri dari para profesional maupun pebisnis dimana hampir seluruh di susunan pengurusnya adalah kelas menengah di Singapura. Di Jum'at siang itu pula kami mendapat inspirasi yang banyak mengenai pengelolaan Zakat infaq dan shadaqah yang lebih profesional, dan program-programnya pun banyak memberi inspirasi. Acara Silatnas kemudian berlanjut di Asrama Haji Batam dan dibuka oleh Wakil Gubernur Kepulauan Riau. Pembukaan pun terasa makin gembira karena dimeriahkan oleh partisipasi dari masyarakat dengan menampilkan tarian selamat datang yang dibawakan secara menggemaskan oleh anak-anak. Sebagai awal tonggak baru, telah disepakatinya suatu standar akreditasi lembaga bagi BMT di Indonesia, yaitu Islamic Microfinance Standard. Dan setelah melewati proses pengujian dan verifikasi maka diumumkan bahwa hingga September 2013 ada 34 BMT yang telah lolos standar, dan patut disyukuri bahwa Alhamdulillah, TAMZIS, lembaga kita ini telah lolos standar IMS. Terakhir, kesan saya atas acara silaturrahim nasional tersebut telah membawa beberapa hasil yang sangat produktif dan bermanfaat bagi gerakan BMT dan bukan hanya itu memberi manfaat pula bagi berkembangnya ekonomi Islam di masyarakat. Semoga bermanfaat dalam pengembangan pribadi dan sekaligus sebagai oleh-oleh dan pelajaran yang bisa diterapkan pada pribadi atau lembaga. Selebihnya, insyaa Allah akan saya tuliskan pada kesempatan yang akan datang. []

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Salam Redaksi
Assalamualaikum Wr. Wb. Para pengamat ekonomi mengatakan bahwa problem inti bangsa Indonesia adalah bagaimana mengurangi kemiskinan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. Dan ditangan pengusaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai penentunya. Tentu, tak lepas dari beberapa alasan, seperti, mayoritas masyarakat banyak bergantung pada UMKM, kuat terhadap terpaan krisis, mampu menjadi basis ekonomi nasional dan UMKM pula yang mampu menjaga stabilas ekonomi secara menyeluruh. Wajar, bila Indonesia selaku tuan rumah APEC 2013 di Bali kemarin, mengusung UMKM menjadi salah satu isu yang akan digolkan. Artinya, Indonesia ingin menunjukkan niat baiknya pada dunia akan keberpihakan pada sektor UMKM. Angin segar bagi UMKM tersebut sebenarnya harus dibarengi dengan beberapa instrumen yang mendukung dalam mengembangan UMKM itu sendiri antara lain, kebutuhan modal usaha, bimbingan dan pendampingan dan pemasaran produk serta akses informasi yang memadai dalam pengembangannya. Selama ini problem dasar UMKM secara umum ada tiga, yakni pergeseran cara pandang atau maind set, SDM dan pemasaran. Oleh karenanya, bagaimana perkembangan UMKM di Indonesia saat ini? Tamaddun dalam edisi ini mencoba mengurai mulai dari UMKM Tumbuh, Ekonomi Maju yang disusul dengan wawanca eksekutif Tamaddun dengan Dr. Pariaman Sinaga, Staf Ahli Kementerian Koperasi dan UMKM RI di kantornya jalan H.R. Rasuna Said Kav. 34, Kuningan, Jakarta. Dan dipungkasi dengan artikel Ekonomi UMKM Butuh Pemberdayaan dan Permodalan. Bicara perberdayaan dan permodalan, kita tidak bisa menutup mata, bahwa yang banyak berperan terkait dengan UMKM adalah koperasi, utamanya BMT (Baitul Maal wa Tamwil). Kita juga sadar, bahwa lembaga keuangan lain juga memiliki peranan dalam pengembangan UMKM. Program KUR (Kredit Usaha Rakyat) salah satunya yang mengharuskan 20% untuk UMKM. Sedang BMT hampir 100% untuk UMKM. Begitu pentingnya UMKM bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Redaktur berharap pada pembaca memiliki pandangan dan pemahaman yang sama dalam melihat dua realitas yang notabene tanggungjawab bersama yakni pengentasan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi secara stabil. Terakhir, kami mohon maaf atas keterlambatan terbitnya majalah Tamaddun dengan berbagai kesibukan dan kendala yang dihadapi. Mohon dimaklumi. Tak lupa, kami ucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1435 H. Semoga tahun depan kita bisa lebih banyak beramal saleh, banyak memberi manfaat bagi orang lain dan penuh berkah dalam menjalani hidup dan kehidupan. Amin. [red] Wassalamualaikum Wr. Wb.

Foto Cover: Perajin bambu cendani, berkreasi sepenuh hati

Tamaddun
Redaktur Ahli: Edi Ryanto, Anwar Tribowo Dewan Redaksi: Maksun, Anung Karyadi, Attabik Ali, Tri Wuryanto, Erwin Saleh, M. Alfarid Agus Pemimpin Redaksi: Muhammad Irkham Redaktur Pelaksana: Zubaeri Distribusi: Agustin, Indri, Adam Andi Usman Lay out: Tim Creative Tamaddun Alamat Redaksi: Gd. TAMZIS. Jl. S. Parman 46, Wonosobo (56311) Telp. (0286) 325303 Fax. (0286) 325064 E-mail: redaksitamaddun@gmail.com Website: www.tamzis.com Diterbitkan oleh: Baituttamwil TAMZIS, sebagai media komunikasi dan edukasi ekonomi syariah.

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Daftar Isi

10

Memahami Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)


Dr. Pariaman Sinaga, MM.
Asset hingga Rp 50 juta atau omset mencapai Rp 300 juta maka dikelompokkan dalam usaha mikro. Asset Rp 50 juta hingga Rp 500 juta dan omsetnya sampai Rp 2,5 milyar maka disebut usaha kecil dan asset Rp 500 juta hingga Rp 10 miliar dan omsetnya sampai Rp 50 milyar maka masuk usaha menengah. Diatas itu disebut usaha besar.

44 TAMZIS Menjawab
Pilihan Investasi di TAMZIS Menunaikan ZISWAF Lewat TAMZIS

46 Ekonomi Syariah
Pembiayaan Multi Jasa

49 Kamus Ekonomi Syariah 50 Pustaka Syariah 51 Jendela Keluarga


Ajaklah Ananda Belanja Ke Pasar Tradisional

54 Inspirasi
Muhammad Rosim, Menjahit Rizki Melalui Seragam Sekolah Joko Purnomo, Sukses Mendring, Sukses Mencicil Keuntungan Manijan, Investasi Sederhana Ala Petani Salak Nur Wahyu Santoso, Pemuda Kreatif Pengolah Cendani

1 Serambi
Oleh-oleh Ilmu dari Singapura

18 Dinamika
Silatnas PBMTI 2013 Penguatan BMT Sebagai LKMS yang Potensial Memperbaiki Tatanan dan Sistem Keuangan Dunia APEC Untinkable Week 2013 Pembiayaan Mikro Syariah TAMZIS Dialog PBMT Indonesia Korda Wonosobo, Outlook BMT 2013-2014" TAMZIS Adakan Presentasi dan Uji RAB 2013 Bagi Cabang TAMZIS se-Indonesia TAMZIS Adakan Pelatihan Selling dan Negotiation Skill

6 Cover Story
Cendani Penuh Kreasi

8 Sajian Utama
UMKM Maju Ekonomi Tumbuh Memahami Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Ekonomi UMKM Butuh Pemberdayaan dan Permodalan

67 Santap Kuliner
Getuk Pojok Bu Endang, Oleh-oleh yang Cocok di Setiap Zaman

69 Tegar
Ratimah, Menapaki Hari Berharap Rizki

71 Refleksi
Bencmarking

30 Profil
4

TAMZIS Muntilan, Menjadi LKMS yang Lebih Dikenal dan Dipercaya

38 Sosok

Pasar Induk Kertek, Pasar Pusat Sayur Mayur yang Ramai dan Ideal

Eko Purnono, SE. (Ketua PBMTI Wonosobo) Membangun Kebersamaan Demi Besar Bersama

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Selamat tahun baru

Hijriyyah

1 Muharram 1435 H
Saatnya mengajak keluarga

Hijrah ke ekonomi syariah

Cover Story

Penuh Kreasi
ua pekan lalu, kami kru redaksi Tamaddun berkesempatan mengunjungi rumah produksi bambu cendani, salah satu kerajinan khas Wonosobo Jawa Tengah. Kami bertemu dengan sosok pemuda desa kreatif pemilik usaha tersebut. Meski hanya lulusan Sekolah Dasar ia mampu berdikari membangun usahanya sendiri. Pemuda tersebut bernama Nur Wahyu Santoso yang beralamat di Pagude, Pagerkukuh, Wonosobo Jawa Tengah. Kegiatan produksi bambu cendani itu diberi nama Rumah NWS Production. Nama NWS sendiri merupakan singkatan dari Nur Wahyu Santoso (NWS). Kami sebenarnya telah dua kali mengunjungi rumah produksi Santo, sapaan akrab Nur Wahu Santoso. Setelah ngobrol panjang lebar seputar usaha kreatifnya, lika-liku dan peliknya mengawali usaha ini, termasuk sosok Santo yang terbilang masih sangat muda, sehingga kami menyajikan versi lengkapnya di Rubrik Inspirasi. Disamping juga kami pilih sebagai sampul (cover) edisi kali ini. Harapannya agar sosok Santo ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk tak kenal lelah dalam berkreasi.

Cendani

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Pemuda ini menyakini bahwa keahlian itu harus diperjuangan sekuat tenaga. Agar apapun yang dihasilkan mampu memiliki daya tarik dan menghasilkan pendapatan.

Bambu cendani sendiri adalah jenis bambu yang tumbuh pada daerah pegunungan tropis dengan suhu udara yang relatif rendah. Bambu cendani mempunyai ukuran yang relatif pendek 4-6 meter, dengan diameter 1-5 cm. Di tangan Santo ini, bambu cendani yang terdapat banyak di lereng gunung Sindoro Wonosobo, bisa bernilai seni lebih. Sebelumnya, orang lebih mengenal bambu cendani hanya sebagai tanaman di pinggiran ladang atau kalaupun berguna biasanya hanya digunakan untuk gagang sapu ijuk atau sejenisnya. Kini setelah disulap menjadi bunga atau hiasan, selain menjadi pajangan juga bernilai ekonomi tinggi. Bagi Santo sendiri, pengalaman membuat ketrampilan bambu cendani, bukan sekedar kerja kreatif yang tanpa perjuangan hingga bisa seperti sekarang ini. Ia bercerita, semasa anakanak seusianya senang belajar di sekolahsekolah, Santo sudah terbiasa berjuang membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Kerja apapun dia lakukan, mulai dari menjual balon, mejual roti, hingga menjual es keliling dengan sepeda onthel telah ia lakoni.

Apa yang dilakukan Santo kini, sebenarnya tidak terlepas dari jiwa seni sang Bapak. Bapaknya dulu merupakan satu diantara orang-orang kreatif yang mengolah akar pohon menjadi bonsai mati. Meski sebenarnya pekerjaan rutinya adalah TPK (Tukang Payung Keliling). Di sela-sela pekerjaanya menyervis payung itulah ia menyibukkan diri dengan kreatifitas. Melihat aktifitas sanga Bapak itulah yang kelihatannya menjadikan Santo cinta dengan ketrampilan. Sebelum menekuni bambu cendani, nasib baik juga telah membawanya belajar seni patung di Bali. Ia belajar langsung dengan ahli-ahli seni patung disana. Namun, selesai ia belajar dan sepulangnya ke Wonosobo, ia kesusahan untuk menerapkan ilmunya. Disamping minimnya bahan baku, harga jual atau minat masyarakat juga rendah. Pemuda ini menyakini bahwa keahlian itu harus diperjuangan sekuat tenaga. Agar apapun yang dihasilkan mampu memiliki daya tarik dan menghasilkan pendapatan. Setiap permintaan konsumen bagi Santo adalah tantangan sekaligus menumbuhkan kreasi. Disamping juga bisa menambah dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan alat yang masih sederhana, seperti kompor tangan yang dikreasi sendiri untuk membuat motif lekukan bambu dan pewarnaan bambu yang masih menggunakan penggodokan tradisional. Tapi orderan demi orderan tak pernah berhenti. Meski berusaha dengan keterbatasan dan lebih bermodalkan semangat, kreatifitas dan keinginan untuk terus maju, Santo tetap melayani para pelanggan sekaligus memasarkan secara mandiri. Keahlian Santo secara pribadi sebenarnya sudah siap dengan kehadiran pasar global. Buktinya, acara APEC 2013 di Bali kemarin ia juga diundang untuk meramaikan. Semoga akan lahir lebih banyak lagi sosok Santo yang lainnya, yang muda yang kreatif dan berdikari. [red]

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Sajian Utama

Tahun 2013, diperkirakan penduduk Indonesia mencapai 250 juta. Ada 98,8% penduduk Indonesia bergerak pada sektor UMKM. Wajar, bila Bank Indonesia (BI) mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia nomor 14/22/PBI/2012 tentang kuota kredit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) minimal 20%.

redit usaha papan bawah merupakan isu penting agar distribusi kesejahteraan masyarakat tidak timpang. Terutama dalam hal akses keuangan maupun permodalan. Perbincangan UMKM menjadi menarik, mengingat UMKM terkait erat dengan program pengentasan kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi baik nasional maupun secara global. Secara umum, UMKM sektor yang masih mempunyai peluang besar membutuhkan kredit. Terutama kredit mikro, artinya kredit-kredit kecil yang diberikan pada pengusaha mikro, baik dalam skala usahanya maupun dalam jumlah modal yang dibutuhkan. Dampaknya bagi perekonomian Indonesia, kredit mikro ini diperuntukkan bagi usaha-usaha yang sebagian besar tumbuh dan berkembang di pedesaan, di pinggiran kota, dan sebagian kecil di perkotaan. Pada tahun 2006 jumlah pelaku UMKM masih 49 juta dan menjadi 52 juta tahun pada tahun 2009 dan pada tahun 2012 menjadi 56 juta. Artinya, setiap tahun terjadi pertumbuhan lebih dari 1 juta pelaku usaha. Dengan demikian, mayoritas pelaku umkm

berada dikelas mikro, yaitu mencapai 98.79% atau 55,58 juta pelaku, dan sebagian besar memiliki usaha yang belum layak dan belum bankable. Dari 55,58 juta pengusaha mikro, ada sekitar 13 juta pelaku usaha mikro yang berstatus layak tapi belum bankable dan 32 juta pelaku usaha yang belum berstatus layak dan butuh binaan. Makanya, pemberdayaan usaha mikro melalui kredit dan upaya-upaya pengentasan kemiskinan. Usaha mikro pada umumnya merupakan pintu masuk bagi para pemula pengusaha kecil. Jika mereka tumbuh dan berkembang secara otomatis mereka terentaskan, baik karena menjadi pengusaha atau diakibatkan dari banyaknya usaha. Bisa dibayangkan, bila sekarang ada 55juta usaha mikro, kecil dan menengah yang sekarang ada dan mampu menyerap tambahan satu orang tenaga kerja saja, maka akan menyerap tambahan 55 juta orang yang masih mengganggur. Dalam kaitan usaha mikro, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan lebih cermat oleh pihak pihak terkait, khususnya lembaga keuangan, baik bank maupun nonbank.

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Pertama, harus memperhatikan usaha mikro atau pengusaha mikro. Selintas tidak ada perbedaan, sama-sama orientasinya pengembangan mikro. Bila diteliti lebih lanjut, tampak bahwa usaha mikro adalah pelaku yang mempunyai kemampuan usaha berskala mikro. Sedang pengusaha mikro diartikan pengusaha besar memulai bisnisnya berskala mikro sehingga dimungkinkan mendapat kredit mikro sesuai dengan syarat dan ketentuan lembaga keuangan. Kedua, menghilangkan persepsi bahwa usaha mikro adalah usaha yang kecil dan tidak sehat. Persepsi ini harus diluruskan agar lembaga keuangan tertarik dalam memberi pembiayaan. Ketiga, pemberdayaan usaha dan pengusaha mikro belum banyak dilakukan. Padahal usaha mikro ini merupakan industri yang cepat berkembang. Hingga sekarang, usaha mikro ini masih minim mendapatkan value chain (keterkaitan langsung) dengan industri. Padahal ketika usaha mikro terlibat langsung dengan industri, dapat dipastikan kalau industri maju, pengusahanya juga akan

terbawa maju yang pada gilirannya dapat mengentaskan kemiskinan. Keempat, siapa yang berhak memberi permodalam usaha mikro. Ada persepsi yang harus dirubah bahwa yang berhak memberi permodalan usaha mikro adalah bank. Padahal, sebagian besar dari usaha mikro belum bisa dilayani oleh bank (not bankable). Jelas, lembaga-lembaga keuangan non-bank seperti koperasi dan BMT (Baitul Maal Wat Tamwil) mempunyai peran yang strategis, disamping tumbuh dari bawah dan mempunyai kedekatan secara emosional dengan pengusaha mikro. Dari keempat hal diatas bahwa apapun program dan kebijakan yang terkait dengan kredit mikro maupun UMKM harus diupayakan meningkatkan daya tawar pengusaha mikro agar mendapatkan arena yang sama dengan pengusaha lainnya. Itulah tugas utama pemerintah sebagai inisiator dan regulator. Selain itu, pemerintah juga harus meningkatkan kemampuan, pemasaran dan daya tarik pengusaha mikro. [red]

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Sajian Utama

Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)


Akhirakhir ini wacana mengenai kepedulian pembiayaan kredit mikro semakin banyak peminatnya, terutama bagi lembaga keuangan negeri ataupun swasta terkait dengan pengentasan kemiskinan dan pertumbuhan perekonomian nasional secara umum. Tentunya, hal ini menjadi berita gembira bagi prospek perekomian nasional ke depan lebih baik.

MEMAHAMI

su utamanya tak lain adalah usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Bagaimana memahami UMKM secara utuh beserta skenario pencapaiannya? Berikut wawancara khusus Zubaeri At dengan Dr. Pariaman Sinaga, Staf Ahli Kementerian Koperasi dan UMKM RI di kantor kementerian Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 3-4, Kuningan, Jakarta. Apa persoalan ekonomi saat ini? Dalam perekonomian ada dua masalah pokok bangsa ini yakni soal pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan. Hal ini terkait dengan peran koperasi, UMKM dan pemberdayaan usaha pada level mikro. UMKM harus fokus untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Pada gilirannya, bisa menyerap tenaga kerja. Dalam kontek ini koperasi harus terlibat dalam pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan. Itu termasuk KJKS (BMT), KSP, KSU dan lain sebagainya. Dengan lembaga-lembaga koperasi tersebut yang akan melakukan pendampingan terhadap pengusaha mikro. Dan usaha mikrolah secara bersama-sama mensukseskan

program-program pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan. Bagaimana memahami UMKM? Perlu diketahui, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah berdasar UU No 20 tahun 2008 bahwa diklasifikasikan berdasar asset. Asset hingga Rp 50 juta atau omset mencapai Rp 300 juta maka dikelompokkan dalam usaha mikro. Asset Rp 50 juta hingga Rp 500 juta dan omsetnya sampai Rp 2,5 milyar maka disebut usaha kecil dan asset Rp 500 juta hingga Rp 10 miliar dan omsetnya sampai Rp 50 milyar maka masuk usaha menengah. Diatas itu disebut usaha besar. Pemahaman ini penting bagi setiap stakeholder untuk memotret/gambaran bagi seseorang maupun lembaga untuk masuk wilayah yang mana. Karena masing-masing kriteria memiliki tujuan dan maksud yang berbeda. Usaha mikro dalam upaya mengurangi kemiskinan. Jangan sampai masing-masing usaha salah kamar, mikro, kecil atau menengah. Berapa data UMKM di Indonesia? Ini pekerjaan besar bagi pusat dan daerah untuk memotret usaha UMKM tersebut. Karena

10

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Dr. Ir. Pariaman Sinaga, MM.


(Staf Ahli Kementerian Koperasi dan UKM RI)
skala usaha hampir mencapai 56%. Ternyata yang paling banyak usaha adalah pelaku mikro dengan prosentase lebih dari 98,8%. Meskipun begitu, masing-masing wilayah harus diperbarui baik pusat dan daerah. By name, by addres tentulah daerah yang lebih tahu sehingga enak dalam membuat program yang pas untuk UMKM tersebut. Upaya apa dalam mengembangkan UMKM ke depan? Sebenarnya banyak sekali yang bisa kita lakukan. Tetapi harus jelas dulu, bagaimana bisnis dan lingkungan bisnisnya. Baik internal maupun eksternal. Lingkungan eksternal, kita harus melihat kondisi ekonomi global. Bagaimana politik suatu bangsa. Bagaimana kondisi sosial-hukum dalam kelompok masyarakat. Baru kita lihat lingkungan internal koperasi. Bagaimana kondisi pasar. Bagaimana pemasarannya. Bagaimana teknologi yang digunakan. Bagaimana tingkat permodalan yang sudah ada. Bagaimana kualitas dan kuantitas sumberdaya manusianya. Itulah lingkungan internalnya. Apa skenario kebijakan pemerintah? Dari landasan kondisi internal dan eksternal itulah pemerintah menyusun skenario kebijakan. Skenario pertama, kita harus menciptakan iklim dan kondisi

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

11

Sajian Utama
lingkungan bisnis. Terkait dengan kondisi eksternal kondisi perekonomian, maka dibuatlah perundang-undangan. Maka diterbitkan undang-undang koperasi no. 17 tahun 2012. Menerbitkan undang-undang no. 20 tahun 2008 tentang pelaku UMKM. Bagaimana tentang peraturan-peraturan daerah agar singkron. Begitu juga, pemerintah membuat kebijakan lintas sektoran agar saling mendukung. Sekaligus koordinasi lintas instansi dan lintas sektoran. Skenario kedua, adalah penguatan kelembagaan. Bagaimana kita memformulasikan terutama tentang managemennya. Penguatan badan hukum koperasi. Bagaimana pemantapkan RAT (Rapat Anggota Tahunan). Hal ini harus terus dilakukan. Skenario ketiga adalah penguatan permodalan. Karena sebagian besar UMKM sudah menjadi anggota koperasi maka permodalan koperasi menjadi instrumen yang paling besar bagi mereka pelaku usaha mikro karena terkait dengan simpan pinjam, termasuk BMT itu sendiri didalamnya. Selain itu, ada Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) dari BUMN itu ada 1% hingga 5% diperuntukkan untuk koperasi dan UMKM. Sekarang ada juga BWI (Badan Wakaf Indonesia) merupakan asset yang diperoleh dari masyarakat dan bisa dikelola secara produktif dan hasilnya itulah yang akan diberikan pada masyarakat yang membutuhkan. Misalnya, ada satu masyarakat yang mewakafkan tanah pada koperasi, kemudian dibangun ruko atau swalayan sehingga menghasilkan. Itu bisa dianggap modal juga bagi koperasi. Begitu pula dengan BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) bisa dipakai sebagai pemberdayaan ekonomi bagi pelaku usaha mikro. Karena hakikat wakaf dan zakat adalah dari manusia untuk manusia. Ini juga bisa dibuat sebagai kebijakan permodalan. Skenario keempat adalah penguatan penjaminan kredit koperasi dan UMKM, sehingga kelak anggota yang menyimpan dananya dikoperasi ada jaminannya, tentu dengan persyaratan dan ketentuan tertentu. Tidak semua koperasi bisa ikut program tersebut. Selain itu juga, ada dana APBN yang dialokasikan untuk koperasi dan UMKM yang sekarang dikemas dalam KUR (Kredit Usaha Rakyat). KUR itu uang dari perbankan tetapi sebagian dijamin dari APBN. Bagaimana dengan pemasaran UMKM? Selain yang di atas, harus ada kebijakan pemasaran. Inti dari kebijakan ini tak lain adalah mendekatkan produk pelaku UMKM dengan konsumen. Disini ada program pengembangan koperasi melalui pengembangan pasar tradisional. Dananya tidak hanya dari APBN, tapi tidak menutup kemungkinan koperasi (BMT) dan masyarakat umum untuk ikut serta membangun pasar tradisional. Misalnya, di Medan, ada pasar tradisional yang dibangun dari dana UMKM. Tidak menggunakan dana APBN dan APBD. Kalau membuat sendiri akan lebih murah karena tidak usah bayar kontrak dan retribusinyapun masuk pada pelaku usaha lagi. Selain itu pula, harus membuat tempattempat promosi/pameran produk UMKM. Dan mulai membuka pasar ekspor. Koperasi dan UMKM juga bisa melakukan bukan hanya pengusaha besar dalam konteks ini. Ketika saya masih menjadi direktur koperasi, juga sudah pernah mengekspor ikan dan udang ke Jepang. Selain pasar dan modal, apa yang mesti ada penguatan bagi UMKM? UMKM harus menggunakan teknologi produksi. Maka penting adanya sertifikasi mutu, teknologi budidaya, prosesing dan teknologi pengemasan bagi UMKM. Teknologi informasi juga sudah harus mulai dikenalkan bagi UMKM. Yang lebih penting lagi adalah peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM)

12

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

mampu menangkap peluang dengan mental yang tangguh dalam menghadapi persaingan bisnis. Hal itu menjadi bagian dari skenario kita dalam membangun sikap kewirausahaan. Baik kewirausahaan individu UMKM-nya maupun kelembagaan koperasinya. Tentu tidak mudah yang kita bayangkan, membangun jiwa kewirausahaan, tidak semudah membuka telapak tangan. Ada proses-proses yang harus dilalui. Dulu, koperasi di kampus-kampus digalakkan. Sehingga muncul KOPMA (Koperasi Mahasiswa) sebagai persemaian awal, setelah lulus akan memiliki jiwa wirausaha yang tangguh dan menjadi cikal bakal lahirnya HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia). Bisa dijelaskan, hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan? Memang, antara pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan masih dirasakan tinggi bisa mencapai 0,4 %. Artinya, kesenjangan pendapatan diantara kelompok masyarakat semakin menganga. Pembangunan antar wilayah juga semakin tinggi. Kita ingin dalam UUD 1945 disebutkan bahwa kesejahteraan umum yang harus diutamakan daripada orang perorang. Makanya, pendekatan pada yang harus dilakukan adalah pendekatan kelompok. Sebagaimana dalam teori pembangunan pendekatan kelompok ini harus dikemas dalam usaha bisnis dalam bentuk koperasi. Kita tidak bisa berpangku tangan, apabila tidak bergerak akan berjalan begitu-begitu saja. Ke depan, makin banyak tantangan dan saingannya. Makanya harus kompak, bahu membahu dalam dalam peningkatan usaha bisnis tersebut. Dulu, ada istilah Indonesia in Corporation yakni ekonomi bahu-mebahu antara UMKM, koperasi, swasta dan BUMN. Kini tak terlihat lagi. Padahal harus ada kebersamaan dalam pemberdayaan pada masyarakat. Dengan tatanan seperti itu, koperasi bisa melakukan apa saja. Koperasi bisa bergerak pada bidang jasa, listrik, pupuk dan sebagainya. []

Profil:
: Dr. Ir. Pariaman Sinaga, MM : Simalungun, 08 April 1956 : Dr. Moskwadina Gultom, M.Pd : Dipa Elyana Sinaga, Dipa Elyana Sinaga Alamat : Jl.Gas Alam Komp. Depkop Blok A13 Rt.01/Rw.09, Curug, Cimanggis Depok, Kode Pos : 16953, Telp. 0218730482 Riwayat Jabatan: 1. Jurnalis Harian Umum Suara Indonesia, Unibraw (1980 1981) 2. Asdep Urusan Penelitian Koperasi, Kementrian KUKM (2004 2010) 3. Deputi Menteri Bidang Pembiayaan, Kementrian KUKM (2010 2012) 4. Anggota Delegate ASEAN SME Working Group XI AMEICC SME/SI/RI/Working Group V di Bangkok (2002 2002) 5. Ketua Delegasi ASEAN SME Working Group dan AMEICC di Brunei (2003 2003) 6. Anggota Tim Perumus Renstra Pengembangan KUKM, Kementerian Negara Koperasi dan UKM (2001 2001) 7. Anggota Tim Gender UMKMK Nasional (2009 sekarang) 8. Dosen Tidak Tetap pada Universitas Pancasila (1995 sekarang) Riwayat Pendidikan: 1. Universitas Brawijaya Malang, Jurusan Perikanan (1981) S1 2. Program Magister STIE / ABS Ekonomi, Jurusan Manajemen (1995) S2 3. De La Salle University Philippines, Jurusan Counselling Psychology In Industrial Setting (2005) S3 Aktivitas Organisasi: 1. Anggota Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia 2. Anggota Assosiasi Counseling Psikologi Internasional (IPC) 3. Anggota Assosiasi Psikologi Industri & Organisasi 4. Asosiasi Dosen dan Peneliti Koperasi (ADOPKOP) 5. Tim Evaluasi Tenaga KerjaNasional, Depnaker Nama TTL Istri Anak

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

13

Sajian Utama

Butuh Pemberdayaan dan Permodalan


Tahun 2015, Indonesia akan memasuki era globalisasi, yakni Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN (AFTA) dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). UMKM adalah satu benteng pertahanan ekonomi nasional. Bila tidak diperhatikan secara serius, maka pertumbuhan ekonomi nasional akan rapuh.

EKONOMI UMKM

ersiapan infrastruktur yang kokoh dan matang adalah keniscayaan sebelum pasar UMKM dibanjiri barang impor.

Hal ini tentu menjadi tantangan berat UMKM yang bergerak dalam kegiatan produksi. Sebagaimana data BPS tahun 2010 mengemukakan, hampir sebagian besar sekitar 78%, UMKM industri manufaktur mengalami kesulitan usaha untuk memperoleh bahan baku, pemasaran dan permodalan. Bagaimana UMKM mengantisipasi fenomena global tersebut? Agar bisa unggul dalam persaingan internasional, tidak cukup bersandar kepada kelimpahan Sumber Daya Alam (SDM). Juga dituntut mempunyai teori keunggulan kompetitif yang bisa melalui soliditas manajemen, penerapan metode cost leadership (memproduksi dengan biaya murah), pemantapan jaringan bisnis, dan menghasilkan produk unik. Pemberdayaan Upaya pemberdayaan bagi UMKM harus sesegera mungkin dilakukan. Mengingat pemberdayaan merupakan bagian dari ekonomi inklusif yang membuka peluang bagi siapa saja untuk tumbuh dan berkembang, tak

terkecuali bagi UMKM. Makanya pemberdayaan UMKM disarankan melalui peningkatan kemampuan dalam pergaulan global (outward looking), peningkatan kohesivitas anggota UMKM agar mempunyai semangat kekompakan, pembudayaan produksi yang berkualitas sesuai standard mutu dan selera konsumen. Selain itu, perlu peningkatan kualitas sumber daya manusia dan jiwa kewirausahaan, memanfaatkan teknologi informasi, membangun jejaring pasar yang lebih luas. Memang, secara kasat mata, kita akan menyaksikan geliat ekonomi masyarakat dalam skala usaha mikro, kecil, dan menengah yang umumnya bergabung dalam koperasi. Menurut catatan diakhir masa Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), tercatat jumlah koperasi 154.964 unit dan 5 tahun kemudian pada akhir 2012 naik menjadi 194.295 unit, dimana dalam analisis statistik terdapat pertumbuhan koperasi yang baru rata-rata 5,8% per tahun; sementara jumlah anggota pada 2008 ada 27,3 juta orang dan pada akhir 2012 tercatat 33,87 juta orang; yang secara statistik rata-rata pertumbuhan anggota sebesar 5,5% per tahun. Selaku badan usaha, terdapat omzet usaha pada 2012 sebesar Rp 119.182 triliun,

14

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Kegiatan sentra home industri Batik khas Bantul Yogyakarta dan Carica khas Wonosobo Jateng atau naik rata-rata 15% per tahun. Data di atas selalu menunjukkan animo masyarakat ada perkembangan positif, bahkan data per semester I tahun 2013, koperasi telah mencapai 200.808 unit. Dalam seminar Strategi, Peluang Tantangan Bagi UMKM dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, Sjarifuddin Hasan (Menteri Koperasi dan UKM), mengatakan guna mendorong pertumbuhan UKM ini, maka akan terus memberikan pembinaan, dan terus melakukan pendampingan kepada para pelaku usaha. Dengan begitu Pertumbuhan UKM bisa mencapai 6 persen per tahun. Permodalan UMKM Sjarifuddin Hasan mengungkapkan, realisasi pembinaan terhadap para pelaku UKM, bisa berupa KUR dan training bagi para pelaku usaha UKM. Melihat hasil survei Bank Dunia pada 2010 yang dipaparkannya, hanya sekitar 17% dari penduduk Indonesia yang memperoleh pinjaman dari perbankan. Sedangkan mereka yang menggunakan akses dari lembaga pembiayaan formal (termasuk bank dan non bank), mencapai 20%. Sedangkan sekitar 40% penduduk menggunakan jasa keuangan informal. Dengan demikian, dari sisi akses terhadap kredit, terdapat sekitar 40% yang tergolong financially excluded (tidak tersentuh jasa keuangan). Pada APEC 2013 kemaren, Indonesia berhasil menggolkan agenda pembahasan penguatan UMKM, sebagai prioritas dalam KTT APEC. Mengingat, besarnya kontribusi UMKM dalam menopang kemakmuran dan pertumbuhan ekonomi Indonesia, menjadi alasan yang rasional mengapa agenda tersebut perlu didesakkan. Jumlah UMKM lebih dari 99% dari total keseluruhan perusahaan di Indonesia. Total tenaga kerja yang diserap mencapai 97%. Sementara sumbangan UMKM terhadap terciptanya Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 57%.
Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

15

Sajian Utama
Harus diakui, hambatan utama UMKM dalam mengakses kredit dari lembaga pembiayaan formal adalah ketiadaan atau ketidaklengkapan dokumen untuk pengajuan pinjaman. Sedangkan ketiadaan agunan hanya menjadi hambatan kedua. Agus Martowardoyo, Gubernur Bank Indonesia membuat kebijakan menaikkan plafon program Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk pelaku usaha mikro, karena secara umum pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Nilainya mencapai Rp 673,9 triliun, atau sekitar 55,6% dari total pertumbuhan PDB. Kontribusi itu berasal dari nilai investasi sebesar Rp 640,4 triliun atau sekitar 52,9% dari total nilai investasi nasional. Dengan kebijakan menaikkan plafon KUR mikro dari Rp 20 juta ke plafon lebih tinggi, diharapkan bisa menjaga tingkat investasi di tengah gejolak perekonomian akibat tekanan inflasi yang mencapai 8,79% per Agustus 2013. Tak bisa dipungkiri, masih ada keraguraguan dalam penyaluran kredit ke segmen UMKM, utamanya terkait dengan profil risiko calon debitur UMKM. Bank sentral sendiri telah mengeluarkan aturan minimal penyaluran kredit ke segmen UMKM sebesar 20% dari total kredit. Aturan ini akan diterapkan secara bertahap, dan mulai dilihat porsinya minimal 5% dari total kredit pada 2015, 10% pada 2016, 15% pada 2017, sebelum akhirnya harus paling sedikit 20% pada 2018. Faktanya, ekonomi mikro merupakan penggerak ekonomi Indonesia. Data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per Juni 2013, saat ini ada Rp 55,2 juta UMKM atau 99,98% dari total unit usaha di Indonesia. UMKM saat ini menyerap sebanyak 101,72 juta tenaga kerja atau 97,3% dari total tenaga kerja Indonesia serta menyumbang 57,12% dari total produksi domestik bruto (PDB). BMT Mitra Setia UMKM BMT merupakan lembaga jasa keuangan syariah yang bergerak pada sektor mikro, kecil dan menengah. Hal ini tak terlepas dari sejarah pendirian yang memiliki semangat membantu mengedukasi, berdakwah dan menyejahterahkan rakyat bawah. Makanya kedekatan dengan anggota menjadi faktor penentu, karena sistem keluarga dan syariah menjadi unggulan dalam menyejahterakan umat. Dari sisi sejarah, niatnya sederhana yakni membantu pedagang mikro agar tidak terjerat rentenir. Kemudian BMT berlanjut membantu memanage keuangan sekaligus memberi bantuan dengan pembiayaan yang meliputi sosial dan bisnis secara bersamaan. Maka pemberdayaan dan permodalan bagi BMT tak bisa dilepaskan. Dari sisi angka, sebagaimana dilaporkan dalam annual report PT PBMT Ventura, besaran portofolio yang disalurkan dengan jumlah outstanding pembiayaan di 2011 mencapai Rp 80,2 miliar dengan jumlah UMK penerima manfaat sebanyak 28.800 orang yang tersebar di 28 Kabupaten dan Kota. Hal tersebut disebabkan, pertama, PBMT Ventura menjaga kepercayaan publik atas dana yang dikelola. Kedua, PBMT Ventura juga memiliki kepentingan dalam mengedukasi pengusaha mikro untuk menjalankan bisnisnya secara profesional dan amanah. TAMZIS sebagai salah satu anggota PBMT Ventura, pada tahun 2012, sebagaimana tercatat dalam laporan Rapat Anggota Tahun (RAT) besaran pembiayaan mencapai Rp 257.023.000.000 dengan jumlah Anggota yang dibiayai sebanyak 37.038 orang . Tentunya, pembiayaan TAMZIS berdasarkan sektor ekonomi dengan perincian 77% perdagangan, 9% jasa, 5% pertanian dan perikanan, 3% industri rumah tangga dan 6% untuk konsumsi. []

16

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

KANTOR PUSAT OPERASIONAL : Jl. S. Parman No. 46, Wonosobo (56311). Telp. 0286 325303, Fax. 0286 325064 KANTOR PUSAT NON OPERASIONAL : Jl. Buncit Raya 405 Jakarta Selatan. Telp. 021 79198411, Fax. 021 7993346 KANTOR JAKARTA : 1. Jl. Buncit Raya 405 Jakarta Selatan. Telp. 021 79198411, Fax. 021 7993346 2. Jl. Margonda Raya No. 302 B, Depok. Telp. 021 77201291, Fax. 021 77215543 KANTOR BANDUNG : 1. Jl. Sangkuriang No. 27 Cimahi. Jawa Barat. Telp. 022 6626941. Fax. 022 6626941 2. Jl. Inggit Garnasih (Ciateul) No. 62 D. Bandung. Telp 022 5220006. 3. Jl. AH. Nasution Kav. 46 A, Ruko Cyber Plaza, Blok A10 Komplek Bandung Timur Plaza. Telp. 022 87797979 KANTOR PURWOKERTO : 1. Jl. Gatot Subroto, Ruko No. 05 Sokaraja. Telp. 0281 6441454. Fax. 0281 6441454 2. Jl. Gatot Subroto No 16 A, Purwokerto. Telp. 0281 621286. Fax. 0281 621286 KANTOR PURBALINGGA : Jl. Ahmad Yani Ruko 6 Purbalingga, Jawa Tengah. Telp. 0281 6597167. Fax. 0281 6597167 KANTOR CILACAP Jl. A. Yani No. 12 Kedaung Kroya Cilacap. Telp. 0282 494131. Fax. 0282 494131 KANTOR BANJARNEGARA : 1. Jl. Raya Batur No. 27, Batur Banjarnegara. Telp. 0286 5986303 2. Jl. A. Yani Purwareja Klampok. Telp. 0286 479296 3. Pertokoan Plaza Wanadadi Kios B3, Wanadadi Banjarnegara. Telp. 0286 5800344, Fax.0286 3398676 4. Jl. Pemuda Ruko Atrium Square No. 1, Banjarnegara. Telp. 0286 592183 Fax. 0286 592183 KANTOR MAGELANG : 1. Ruko Prayudan C5, Magelang. Telp. 0293 5529150. Fax. 0293 3276364 2. Jl. Raya Secang Magelang No. 171, Secang Magelang. Telp. 0293 5503394 Fax. 0293 3217085 KANTOR MUNTILAN Ruko Prayudan B7 Mertoyudan Magelang. Telp. 0293 326411 Fax. 0293 326411 KANTOR TEMANGGUNG : 1. Jl. Wonosobo No 246, Parakan Temanggung. Telp 0293 5914386, Fax. 0293 5914386 2. Jl. Jendral Sudirman No 60, Temanggung. Telp 0293 5529170 KANTOR WONOSOBO : 1. Jl. Raya Dieng No. 2 Km.17. Kejajar Wonosobo. Telp. 0286 3326504 2. Pasar Induk Wonosobo (PIW) Blok E4 Lt. 1. Telp. 0286 324701 3. Jl. Kyai Muntang No. 03 Wonosobo. Telp. 0286 325303 4. Jl. Purworejo No. 46 Km. 16 Sapuran Wonosobo. Telp. 0286 611240 5. Jl. Parakan 127 Kertek Wonosobo. Telp. 0286 329236 6. Pertokoan Plaza Kaliwiro No. 05 Wonosobo. Telp. 0286 6125600 KANTOR YOGYAKARTA : 1. Jl. Kemasan No. 77 Kotagede, Yogyakarta. Telp. 0274 383100 Fax. 0274 4436286 2. Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 7 Yogyakarta. Telp. 0274 377601 Fax. 0274 377601 3. Komplek Ruko Sido Agung, Senuko Sido Agung Godean Sleman Yogyakarta. Telp. 0274 6496460, 0274 7426275 4. Jl. Jend. Sudirman Plaza A6, Bantul. Telp. 0274 6461024 Fax. 0274 6461024 5. Jl. Ring Road Utara Sawit Sari E4, Condongcatur Depok Sleman. Telp. 0274 885519, 0274 889423. Fax. 0274 889423 6. Jl. Mutian Ruko Wetan Pasar No. 03, Wates Kulon Progo. Telp. 0274 7745961 Fax. 0274 7745961 KANTOR KLATEN : Jl. YogyaSolo, Kebondalem, Prambanan, Klaten. Telp. 0274 497609, Fax. 0274 497609 KANTOR KAS Jl. Prambanan Piungan Km. 02 Marangan Bokoharjo Prambanan Sleman Yogyakarta. Telp. 088216410307

ISLAMIC MICROFINANCE STANDAR 2013 PBMT INDONESIA

2nd RANK THE BEST ISLAMIC MICROFINANCE 2013 KARIM BUSINESS CONSULTING

100 KOPERASI BESAR INDONESIA 2012 MAJALAH PELUANG & INFO PASAR

www.tamzis.com

Dinamika

Silatnas PBMT Indonesia 2013


Penguatan BMT Sebagai LKMS Yang Potensial Memperbaiki Tatanan dan Sistem Keuangan Dunia
sengaja agar mengingatkan peserta semua bahwa gerakan BMT merupakan gerakan dakwah. Masjid merupakan simbol awal gerakan dakwah Rasulallah. Malam harinya, peserta Silatnas BMT 2013 berkunjung ke kantor Kedutaan Besar (Kedubes) RI di Singapura yang juga mengundang Indonesian Muslim Association in Singapore (IMAS). Acara ini sendiri dikemas dalam Gala Dinner; International Conference and Gathering. Perwakilan Duta Besar Indonesia untuk Singapura, menyambut baik kedatangan peserta Silatnas BMT 2013 ini, terlebih yang datang merupakan para pegiat ekonomi terutama islamic micro finance. Semoga forum ini mampu merekatkan jalinan antar peserta dan membuka komunikasi BMT untuk go international. Dalam sambutannya, Imanuddin Amril, Ketua IMAS, menyampaikan bahwa IMAS merupakan wadah bagi kaum muslim Indonesia yang tinggal di Singapura, mereka terdiri dari profesional dan para pekerja dari Indonesia. Menurutnya, selama ini komunikasi dan konsolidasi antara anggota lebih banyak menggunakan jaringan sosial (dunia maya). Karena memang waktu untuk bisa berkumpul dan ketemu secara langsung cukup sulit. Ia sendiri, menyambut baik kedatangan peserta Silatnas BMT 2013, apalagi jika dikemudian hari bisa menjalin kerjasama dengan PBMT Indonesia. Pagi harinya dilanjutkan pertemuan dengan Persatuan Taman Pengajian Islam Singapura (Pertapis). Pertapis sendiri merupakan lembaga sosial, mirip seperti Dompet Dhuafa. Mereka mengelola danadana Zakat Infak Sedekah dan Wakaf yang kemudian cara penyalurannya selain santunan juga dalam bentuk pemberdayaan mulai dari anakanak, remaja, orang tua bahkan manula. Dalam

International conference and gathering di kantor Kedubes Indosia Singapura

ingapura. Perhimpunan BMT Indonesia (PBMTI) setiap tahun melaksanakan hajatan akbar. Setelah berkunjung ke Malaysia dua tahun lalu (2011), kali ini giliran negara Singapura. Acara yang sebelumnya disebut sebagai BMT Summit ini, kini disebut sebagai Silatnas BMT. Hal ini sesuai dengan fungsi utamanya memperkokoh tali persaudaraan, meningkatkan kerjasama dan memperkuat gerakan BMT. Acara tahunan ini, digelar di dua negara Singapura (2425 Oktober 2013) dan Batam Indonesia (2527 Oktober 2013). Tema yang diangkat ialah Penguatan BMT Sebagai LKMS yang Potensial Memperbaiki Tatanan dan Sistem Keuangan Dunia. Studi di Singapura Semua peserta Silatnas BMT 2013 berkumpul di bandara Changi Singapura. Peserta sekitar 150 orang ini merupakan para pegiat BMT dari beberapa kota di Indonesia. Mengawali kegiatannya di negeri Singa ini, para peserta berkunjungan ke masjid Sultan (masjid tertua di Singapura) dan bersilaturahim dengan takmir masjid. Hal ini

S
18

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

sambutannya, pihak Pertapis mengatakan bahwa dana sosial yang mereka peroleh justru 80% berasal dari non muslim. Selain itu, ada hal yang spesial dalam rangkaian kegiatan di Siangpura ini. Yakni beberapa wakil dari rombongan diundang oleh Singapore Management University (SMU) untuk mempresentasikan Islamic Micro Finance model BMT. Presentasi di hadapan dosen dan mahasiswa ini diwakili oleh Saat Suharto, Ceo PBMT Ventura. Agenda di Singapura merupakan studi dan silaturahim bagi para pegiat BMT Indonesia. Disisi lain hal ini sebagai penegasan bersama bahwa BMT sebagai gerakan dakwah di bidang ekonomi syariah bervisi global atau mendunia. Sehingga tujuan untuk memperbaiki tatanan sistem keuangan dunia kedepan bisa terwujud. Pembukaan di Batam Kegiatan rutin tahunan ini kemudian dibuka secara simbolis oleh Wakil Gubernur Kepulaun Riau. Sementara itu, Joelarso, Ketua PBMT Indonesia, dalam sambutannya menegaskan kembali bahwa jati diri dari BMT ialah lembaga dakwah. Jati diri ini harus tercermin dalam keseluruhan perilaku, proses dan kinerja BMT. Dengan demikian, semua pejuang BMT adalah aktifis dakwah atau dai yang tercemin dalam perilaku sebagai pribadi, anggota masyarakat maupun pekerja profesional. Menurut Joelarso, bahwa penekanan tema kali ini bukanlah pada pendirian kantor kantor cabang dari BMT anggota di berbagai negara lain, meski hal itu pun dianjurkan jika feasible dan bermanfaat. Penekanannya ialah agar konsep dan praktik BMT menjadi kajian, menjadi best practice, kemudian diterapkan di banyak negara oleh berbagai pihak. Pada saat bersamaan, sumber daya keuangan pada level dunia terbuka matanya untuk mendukung gerakan BMT, baik di Indonesia atau negara lainnya. Pada gilirannya, otoritas ekonomi banyak negara semakin menyadari keniscayaan memberi ruang posisi dan peran bagi BMT dalam sistem keuangannya.

Budi Santoso, SE., (pertama dari kanan) saat menerima sertifikat IMS bersama para manajer dari 34 BMT

Selanjutnya, di hari ketiga (26/10), secara berkelanjutan, digelar seminar dan diskusi bersama. Pertama, Ahmad Juwaini, Direktur Dhompet Dhuafa, tentang Bank bagi kaum miskin. Kedua, Dr. Adiwarman A. Karim, tentang BMT sebagai alternatif lembaga keuangan dunia. Ketiga, Prof. Abdul Ghafar Ismail, IRTI IDB, tentang BMT sebagai lembaga keuangan mikro Islam. Keempat, Prof. Tolhah Hasan, Badan Wakaf Indonesia, tentang Peranan Badan Wakaf Indonesia dalam mendukung BMT sebagai nadzir Wakaf. Dan terakhir Dr. San Rego, DSN MUI, tentang Pedoman akad syariah BMT. Sebelum penutupan Silatnas BMT 2013 ini, PBMT Indonesia melaunching sekaligus menyerahkan sertifikat IMS kepada 33 BMT. IMS (Islamic Microfinance Standard) lembaga sertifikasi bagi BMT anggota PBMT Indonesia yang telah memenuhi standar kelayakan yang ditetapkan. IMS ini sendiri merupakan kerjasama antara PBMT Indonesia dengan Karim Business Consulting. Sertifikat IMS ini diserahkan secara langsung oleh Joelarso, Ketua PBMT Indonesia, dan juga Adi Warman Karim, Direktur Karim Business Consulting. Sertifikat ini diterima secara simbolis oleh masingmasing Manajer BMT. Salah satunya yakni, Budi Santoso, SE., Manajer Utama TAMZIS. Joelarso menyampaikan selamat kepada 34 BMT yang penerima IMS, ia berharap semoga menjadi motivasi untuk mempersembahkan karya terbaik untuk negeri di bidang koperasi dan ekonomi syariah. Dan juga kepada BMT yang belum menerima IMS untuk terus meningkatkan kualitas diri, sehingga kedepannya akan segera mendapatkan sertifikat standar ini. [ir]

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

19

Dinamika

APEC Untinkable Week 2013

Pembiayaan Mikro Syariah TAMZIS


ali. Dalam rangka menyemarakkan dan mensukseskan pelaksanaan KTT APEC 2013, Kemenko Perekonomian menyelenggarakan Sosialisasi dan Promosi Kebijakan Pengembangan Kewirausahaan Nasional pada tanggal 25 Oktober 2013. Acara yang digelar di Bali ini dikemas dengan tema APEC Unthinkable Week 2013. Acara yang berlangsung di Segara Asia Grill, Jl. Kartika Plaza, Kuta Bali ini dihadiri sekitar lima puluh peserta, baik dari praktisi, pengamat dan akademisi. Acara dimulai pukul 14.00 waktu setempat dan dibuka oleh Deputi Menko Perekonomian Bidang Koordinasi Perniagaan dan Kewirausahaan. Dalam hal ini, TAMZIS sebagai Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) diundang sebagai salah satu pembicara dalam forum tersebut. Budi Santoso, Manajer Utama TAMZIS, menyampaikan materi terkait dengan Pembiyaan Mikro Syariah. Mengawali materinya, Budi Santoso memaparkan singkat profil TAMZIS, mulai dari sejarah berdirinya, badan hukum hingga jumlah anggota. Ia menambahkan, bahwa peran BMT cukup besar kaitannya dalam pemberdayaan atau mengentaskan

Budi Santoso, Manajer Utama TAMZIS (Kedua dari kanan)

masyarakat dari kurang sejahtera (kemiskinan) menuju masyarakat sejahtera (berdaya). Peran BMT sebagai Baitul Tamwil menyalurkan dana dari mereka yang berlebih (investor) kepada mereka yang membutuhkan pembiayaan. Sedang peran BMT sebagai Baitul Maal menyalurkan dana dari muzaki atau munfiq kepada para mustahik. Karena sejatinya, kemiskinan itu ibarat siklus yang terus berputar. Satu dan lainnya berpengaruh, sehingga harus ditemukan satu sebab utama yang kemudian rantai kemiskinan itu bisa diputus. Salah satunya, yakni pemberdayaan atau pendampingan dalam sisi modal untuk usaha tambahnya. Menurutnya, bahwa banyak pegusaha mikro terutama pedagang pasar yang tidak bankable, padahal sebetulnya mereka membutuhkan dana atau pembiayaan. Disinilah peran BMT kaitannya dengan pembiayaan, mereka yang tidak bankable tadi bisa dengan mudah mendapat pembiayaan dari BMT. Hingga akhir tahun 2012, anggota pembiayaan TAMZIS berdasar sektor ekonomi terdiri dari pedagangan 77%, jasa 9%, pertanian/ peternakan 5%, industri rumah tangga 3%, dan konsumsi 6%. Jumlah anggota yang bibiayai 64.256 orang dengan ratarata pembiayaan Rp 4 juta jelas Budi Santoso. Selain Budi Santoso, hadir juga sebagai pembicara Dinno Indiano (Direktur Utama PT BNI Syariah); Perbankan Syariah, Arifin Indra (Senior Vice President LPEI); Pembiayaan Ekspor, dan Supriyadi (Wakil Kepala Divisi Kredit Program, BRI Pusat); Kredit Usaha Rakyat. [ir]

20

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

TAMZIS Adakan Presentasi dan Uji RAB 2014 Bagi Cabang TAMZIS se-Indonesia
onosobo. Semua pandangan, gagasan dan tindakan serta mengantisipasi resiko harus direncanakan. Apalagi masih ada kaitan dengan anggaran, tentu harus dibuat sebaik dan sedetail mungkin. Tanpa rancangan semua tindakan bisa jadi salah sasaran dan tak terarah. Rancangan Anggaran Belanja (RAB) TAMZIS tahun 2014, berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, RAB 2014, lebih lengkap, lebih terperinci, lebih terprogram dan lebih pada pengembangan edukasi kesyariahan, target lending dan funding serta tetap fokus pada mikro. Dalam penyusunan RAB 2014, masingmasing cabang TAMZIS menggunakan pedoman yang rijit dan terarah serta menggunakan pendekatan button up, yakni pendekatan menurut realitas masingmasing wilayah yang dilayani TAMZIS. Dengan niat, masingmasing cabang yang paling menguasai kondisi wilayahnya. Harapannya, masingmasing cabang bisa melakukan pengembangan, bimbingan dan peningkatan asset dan omset TAMZIS masingmasing, dimana targetpun yang menentukan adalah masingmasing kantor cabang. Dalam laporan RAB 2014 tersebut, berisi, pertama, fakta. Hal ini berkaitan sisi pertumbuhan asset, fresh lending bulanan, outstanding pembiayaan, pengelolaan NPF. Kedua, teori. Yang dimaksud teori adalah acuan atau landasan masingmasing cabang terkait potensi wilayah (kecamatan dalam angka), kebijakankebijakan pemerintah setempat yang berhubungan dengan aktivitas TAMZIS dan gambaran umum kompetitor. Ketiga, opini atau harapan cabang setelah melihat fakta dan teori yang ada. Hal ini agar masingmasing cabang ada upaya cabang melakukan percepatan meningkatkan

Forum Presentasi dan Uji RAB 2014 berjalan serius

pembiayaan, dan pencapaian funding, optimalisasi pendapatan dan penanganan NPF. Terakhir Keempat, berisi Kebijakan, strategi, dan program kerja yang akan dilaksanakan setahun kedepan. Presentasi dan uji RAB 2014, tersebut dilakukan secara bergilir; tanggal 2122 Oktober di area Yogyakarta, 2324 Oktober di area Kedu, 25 Oktober di Area Bandung, 26 Oktober di area Jakarta, 2829 Oktober di area Banyumas, 12 November di Area Wonosobo. Untuk pelaksanaan RAB sendiri rencananya akan dilaksanakan tanggal 1415 Desember 2013 di Jakarta dan akan ditetapkan oleh Pengurus TAMZIS. Dalam presentasi dan Uji RAB 2014 dilakukan masingmasing cabang Tamzis dengan tim penguji dari manajermanager TAMZIS mulai dari Manajer Operasional, Manajer Pembiayaan, Manajer SDI dan Manajer Administrasi serta Litbang TAMZIS. Dengan adanya presentasi dan Uji RAB 2014 ini diharapkan TAMZIS akan selalu ada penambahan wilayah yang dilayani dan ada peningkatan asset dan omset secara maksimal. Tentu, tetap teguh dalam menjaga prinsip prinsip syariah disetiap apaapa yang dijalani, sehingga keberkahan TAMZIS itu nyata wujudnya. [zbr]
Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

21

Dinamika PBMT Indonesia dan TAMZIS Bebaskan Rp 77,7 Juta Sisa Pembiayaan Pedagang Korban Kebakaran Pasar Cisalak
epok. Perhimpunan BMT Indonesia dan TAMZIS menggulirkan program pembebasan pembiayaan kepada 30 pedagang pasar Cisalak yang mengalami kebakaran pasar. Perhimpunan BMT Indonesia sebagai wadah berhimpunannya BMTBMT seIndonesia dapat merasakan kesulitan yang akan dihadapi para pedagang yang mengalami kebakaran. Untuk itu, melalui Program Taawun Pembiayaan, Perhimpunan BMT membebaskan 30 orang pedagang yang menerima pembiayaan dari TAMZIS dengan nominal sebesar Rp 77.684.279. Kebakaran Pasar Cisalak yang bertempat di Kelurahan Cisalak Pasar, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat pada Kamis (30/5), terjadi sekitar pukul 22.00. Manajer Divisi Taawun TAMZIS Pusat, Tri Wuryanto menjelaskan bahwa program pembebasan pembiayaan kepada anggota TAMZIS ini merupakan hasil kerja sama dengan Perhimpunan BMT Indonesia. Dana yang digunakan diambil dari dana cadangan resiko untuk mengcover kejadian atau bencana tertentu seperti meninggal dunia, kebakaran atau bencana alam. Lebih lanjut disampaikannya, program ini merupakan penerapan dari pola syariah yang diterapkan oleh BMT, yakni saling berbagi hasil. Apabila anggota mendapat keuntungan BMT pun menerima hasilnya begitu juga saat anggota terkena musibah, BMT secara bergotong royong ikut membantu untuk meringankan beban yang dialami anggota. Program ini baru pertama kali di Depok, namun di Jawa Barat sudah beberapa

kali dilaksanakan dengan total pembebasan senilai Rp. 1,28 Milyar, paparnya. Setelah para pedagang dinyatakan lunas, para pedagang dipersilakan untuk mengajukan kembali pembiayaan guna permodalan usahanya. Hal ini dilakukan agar para pedagang dapat menjalankan kembali usahanya. Hal ini dilakukan agar ekonomi di lingkungan Cisalak khususnya dan Kota Depok umumnya semakin tumbuh dan berkembang. Perwakilan pedagang menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada TAMZIS atas dibebaskannya sisa pembiayaan para pedagang korban kebakaran. Setidaknya hal ini dapat memperingan beban dan mengobati duka bagi para pedagang yang menggantungkan mata pencahariannya di pasar itu. Apalagi musibah itu terjadi menjelang bulan Ramadhan dimana ketenangan berusaha dan kekhusukan beribadah sangat diharapkan. Beliau menyampaikan agar permodalan baru bisa segera terealisir sehingga bisa usaha lagi dan pedagang bisa bangkit. Acara yang mengambil tema TAMZIS Berbagi Indahnya Ekonomi Syariah ini digelar pada hari Kamis

Media Arief Rizqie (Perhimpunan BMT Indonesia) didampingi Tri Wuryanto (TAMZIS) menyerahkan secara simbolis

22

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

(18/7) bertempat di Lapangan Futsal Love Jl. Raya Gadog Cisalak. Hadir dalam acara tersebut antara lain, Perwakilan Perhimpunan BMT Indonesia Media Arif Rizki, Seksi Pemberdayaan Masyarakat Kec. Cimanggis Iskandar Zulkarnain, Kasie Ekonomi dan Pembangunan Kelurahan Cisalak Pasar Ahmad, Babinkamtibmas, Babinsa, Kecamatan Cimanggis , Manager TAMZIS Area Jakarta Haendarsyah dan Marketing Manager Cabang Depok Hendi Suhendi serta para pedagang. Sekretaris Executif Perhimpunan BMT Indonesia , Media Arief Rizqie menambahakan, saat ini ada 560 BMT yang bernaung di Perhimpunan BMT Indonesia . BMT sepakat menggulirkan program pembebasan pembiayaan bagi korban bencana, dengan tujuan saling berbagi dan memperingan beban musibah, saling tolong menolong. Program tersebut dinamakan program taawun yang dijalankan dengan

konsep sosial (tabarru). Dengan bertaawun berarti saling tolongmenolong maka setiap pembiayaan akan dimintai sumbangan sebesar 0,25% per tahun dari plafon yang diberikan yang dibayar oleh anggota dan atau BMT. Jumlah yang kecil ini akan dihimpun secara nasional sehingga didapati jumlah yang relatif besar, dengan demikian bisa menopang musibahmusibah yang dialami anggota seperti kebakaran, kematian dan bencana alam. Mengutip pernyataan dari CEO PBMT Ventura Bapak Saat Suharto Program Taawun ini digagas dengan mengikuti khittah kehadiran BMT di seluruh Indonesia yakni untuk meringankan beban umat. Untuk itu sebisa mungkin para anggota penerima pembiayaan yang sedang mengalami musibah tidak merasa terbebani dan BMT sebagai lembaga keuangan mikro juga bisa hadir tidak saja saat mereka mengalami kesenangan tetapi juga kesusahan. Tahun ini Perhimpunan BMT telah melakukan pembebasan sisa pembiayaan hampir Rp. 2 Milyar. Program taawun ini tidak disediakan oleh lembaga keuangan lain. Hal ini terealisasi berkat gotong royong sesama anggota yang dikumpulkan dari dana sosial. [mar/tri]

Beta Beasiswa Ustadz-Ustadzah


onosobo. Cara menunjukkan kepedulian pendidikan tentu masingmasing orang maupun lembaga berbedabeda. Ada yang menunjukkan kepeduliannya bagi anak yatim, bagi keluarga miskin, ada pula diwujudkan dalam membantu orangorang yang cacat. Bagi Tamaddun (Baitul Maal TAMZIS) ingin membantu ustadzustadzah TPA/TPQ. Sore kemarin (12/10) yang terletak dilantai V gedung TAMZIS Pusat berlangsung pengarahan sekaligus pemberian Beta (Beasiswa Ustadzustadzah) TPQ se kabupaten Wonosobo. Adapun kriteria penerima Beta antar lain; pertama, tentu secara finansial perlu dibantu. Kedua, mengajar di TPA/TPQ.

Setelah mendapatkan bimbingan tartil Al Quran, peserta menerima beasiswa

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

23

Dinamika
Ketiga, sanggup untuk diberi bimbingan terutama dalam mengembangkan kualitas pengetahuannya terkait dengan alQur'an. Biasiswa ini tergolong masih relatif baru. Dengan begitu, pastilah ada yang bertanya, apa perlunya menunjukkan kepedulian pagi pengajar Taman Pendidikan Qur'an (TPQ) ini? Secara singkat Anwar Tribowo, Manajer Tamaddun menjelaskan bahwa, pertama Tamaddun ingin membantu ustadzustadzah mengembangkan diri dalam pendidikannya. Kedua, memotivasi agar perjuangan dalam mengajar TPA/TPQ tidak surut di tengah jalan. Ketiga, memberi bimbingan dalam menghafal Qur'an. Tentunya tahap demi tahap. Keempat, Tamaddun mempunyai maksud, bila ustadzustadzah berkualitas secara otomatis akan meningkatkan muridmurid di TPQ/TPA masing masing. Beasiswa ini diberikan selama enam bulan berturutturut dan setiap bulan diadakan bimbingan dan motivasi serta setoran hafalan Qur'an bagi ustadzuztadzah. Besaran beasiswa, untuk ustadzuztadzah yang duduk di bangku SMP sebesar Rp 100 ribu, SMA Rp 150 ribu dan untuk yang sedang kuliah Rp 300 ribu diberikan setiap bulan. Mudahmudahan program beasiswa ini menjadi pemantik agar semua stakeholder masyarakat melek mata sehingga dapat memberikan kepeduliannya pada ustadz uztadzah. Apalagi Qur'an merupakan pedoman bagi kehidupan manusia. Baik membaca dan memahami Qur'annya, insya Allah akan baik generasi mendatang. [zbr]

TAMZIS adakan Pelatihan Selling dan Negotiation Skill


karyawan TAMZIS dari berbagai kantor seluruh Indonesia. Sugianto, bagian HRD mengatakan bahwa pelatihan Selling dan Negotiation Skill dimaksudkan untuk melakukan pengembangan skill karyawan, sekaligus untuk merefres kemampuan karyawan dalam menawarkan produk dan negosisasi pada calon anggota. Pelatihan ini, dipandu oleh Tulus widodo dan Alfian Noor Sofyan dari Shering Banking Training Center. Pelatihan yang dimulai pukul 09.00 pagi hingga pukul 04.00 sore ini, dibagi menjadi dua termin, pertama, penyampaian materi Selling dan Negotiation Skill dan kedua, lebih banyak praktek negosiasi dan studi kasus agar peserta lebih bisa praktek langsung setelah pelatihan. Peserta terdiri dari Selling Officer (SO), Account Officer (AO) dan Manajer Marketing Cabang (MMC) serta Manager Area (MA) dari kantor TAMZIS seluruh Indonesia. [zbr]

Konsentrasi peserta saat pelatihan berlangsung

onosobo. Divisi Human Resource Develoment (HRD) TAMZIS menggelar pelatihan peningkatan Selling dan Negotiation Skill (19/10). Pelatihan bertempat di kantor Pusat TAMZIS jalan S. Parman No. 46 Wonosobo dan dihadiri 32

W
24

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

BMT Merespon Perkembangan Ekonomi Makro Indonesia Terkini


onosobo. Perhimpunan BMT Kabupaten Wonosobo menggelar sarasehan bersama Awalil Rizky (Chief Economic PBMT Indonesia). Acara yang digelar di kantor pusat TAMZIS Jalan S. Parman No. 46 Wonosobo Jawa Tengah (26/08) ini, mengangkat tema Pengaruh makro ekonomi Indonesia dalam perkembangan BMT. Hal ini sebagai respon BMT terhadap pertumbuhan ekonomi makro yang semakin merosot, salah satu indikasinya adalah lemahnya nilai Rupiah di pasaran dunia. Sarasehan dibuka oleh Eko Purnomo, Ketua Perhimpunan BMT Indonesia Kabupaten Wonosobo. Eko mengatakan, bahwa kita semua bersamasama mengamati dan menilai perkembangan ekonomi makro Indonesia ini dengan maksud agar BMTBMT bisa mengambil langkahlangkah yang tepat dan benar kedepan dari segala kemungkinan yang tak diinginkan bersama. Selanjutnya, Awalil langsung memulai sarasehan dengan tema Outlook Ekonomi Indonesia 2013/2014; membaik atau menuju krisis?. Ia mengatakan, bahwa perkembangan makro ekonomi Indonesia telah mengalami pelemahan khususnya nilai Rupiah dibandingkan dengan dolar. Hal ini berpengaruh pada faktor imporekspor luar negeri. Selain itu, Awalil mengatakan bahwa merosotnya pertumbuhan ekonomi makro yang dicapai pemerintah selama ini lebih dari 6,3 % menurun secara bertahap meski tidak signifikan sebagaimana tahun 1998 lalu. Tetapi turun beberapa persen saja akan berpengaruh pada sektor mikro khususnya

Eko Purnomo, dihadapan para pegiat ekonomi syariah

UMKM. Apalagi beberapa waktu lalu sudah ada kenaikan BBM. Secara angka memang bisa kita antisipasi, tetapi secara kinerja ekonomi khususnya faktor psikis para pemegang saham keuangan tidak bisa dikendalikan. Artinya, faktor psikologis para pemilik modal besar tergantung pada keuntungan dan faktor keamanan kekayaan mereka. Dan mereka cenderung tidak mau susahsusah dalam memilih dan meletakkan modalnya. Pengaruh lain, Indonesia akan mempunyai hajatan politik dimana suasana politik akan memanas yang mempengaruhi suhu ekonomi Indonesia. Meski begitu, dalam kondisi politik memanas, peredaran uang di tingkat bawah akan relatif besar. Itu artinya, mampu tidak BMT melakukan pembiayaan pada usaha mikro agar dapat menyediakan kebutuhan kebutuhan masyarakat secara maksimal. Tapi tetap harus lebih hatihati, karena kemungkinan terjadi kemacetan akan lebih besar juga jelas Awalil. Dalam penutup, Awalil berharap sarasehan ini memberikan pengetahuan, cara analisis dan menentukan sikap bagi BMT agar dapat menyikapi peluang sekaligus tantangan BMT di tahuntahun mendatang, khususnya tahun 2014. Tahun pemilu pilpres. [zbr]

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

25

Dinamika

BMT-BMT Daerah Boyolali Studi Banding ke TAMZIS


kunjungannya ke TAMZIS. Ditemani Rena Bangun Luhur dan Maksun, ia memaparkan sejarah berdiri TAMZIS, produkproduk, divisidivisi dan struktur organisasi TAMZIS. Saat Suharto (Ketua Pengurus TAMZIS) juga hadir dalam ruangan untuk menyambut peserta studi banding. Dalam kesempatan tersebut, Saat menceritakan tentang proses berdirinya TAMZIS, problem awal yang dihadapi serta bagaimana kiatkiat menyelesaikan masalah. Dalam sesi pertanyaan, Ahmadi dari BMT AnNaafi, menyatakan bahwa sekecil apapun studi banding pastilah ada manfaatnya. Pertanyaanya, bagaimana membangun kepercayaan masyarakat pada TAMZIS? Dan bagaimana pula tentang UU No.17 tahun 2012? Menerima kepercayaan itu mudah, tapi merawat kepercayaan itu yang sulit dan seumur hidup. Tetapi lebih sulit lagi, adalah menerima dan merawat kepercayaan secara institusi, makanya harus ada SOP (Standar Operasional Perusahaan). Kenapa TAMZIS dipercaya dan bisa besar? Pertama, awalanya, kepercayaan itu muncul dari individu pengurus dan pengelolaannya. Kedua, Seiring dengan perkembangan waktu, TAMZIS mengembangakan kepercayaan secara sistem dan lembaga jawab Saat Suharto. Sedang soal UU No.17 Tahun 2012, Saat menjawab bahwa memang akan ada perubahan Anggaran Dasar (AD) bagi BMT BMT, tetapi tidak usah khawatir karena Peraturan Pemerintah (PP) belum terbit. Bersamaan dengan itu pula, PBMT Indonesia akan terus melakukan pengkajian dan membuat standar BMT sesuai dengan UU tersebut. BMT ke depan tinggal meyesuaikan secara bersamasama. [zbr]

Ir. Saat Suharto, menyambut peserta studi banding

onosobo. Bus pariwisata berplat AD berhenti di depan TAMZIS. Udara dingin Wonosobo sudah mulai hangat. Jam menunjukkan pukul 10.00 pagi. Penumpang yang sekaligus peserta studi banding menuju tangga TAMZIS. Melihat gedung yang tinggi dan besar berwarna hijau dominan tak mengira itu adalah BMT. Tangga demi tangga mengantarkan peserta sampai di lantai V gedung TAMZIS Jalan S.Parman No.46 Wonosobo Jawa Tengah (07/9). Screen proyektorpun sudah menyala dan tertulis Ahlan wasahlan para mujahid ekonomi syariah daerah Boyolali. Nur Isnaini, Ketua Pengurus Daerah Boyolali mengatakan studi banding sebagai media silaturrahim serta menambah pengetahuan dan pengelolaan BMT agar BMTBMT Boyolali bisa lebih besar dan bagus. Peserta yang berjumlah 33 orang berasal dari 8 BMT. Studi banding ini fokus pada empat hal yang ingin diketahui, yakni tentang perubahan Anggaran Dasar (AD) terkait dengan UU No.17 tahun 2012, SOP BMT, manajemen pengembangan kantor cabang dan sistem penggajian serta internal kontrol. Erwin Saleh, Manajer SDI dalam sambutannya menyampaikan selamat datang dan terima kasih atas

26

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

THK Tamaddun; Berkurban Demi Menyembelih Nafsu Hewaniah Kita


onosobo. Menjelang Idul Adha, tepatnya sehari sebelumnya, (14/10/2013), Tamaddun mulai menebarkan hewan kurbannya ke beberapa desa yang terpencil dan minim akan adanya hewan kurban. Melalui program Tebar Hewan Kurban (THK) Tamaddun (Baitul Maal TAMZIS) ingin mendistribusikan hewan kurban bagi masyarakat. Dari program tersebut, Anwar Tribowo, Manajer Tamaddun mengatakan selama ini masih banyak masyarakat khususnya kabupaten Wonosobo Jawa Tengah, belum bisa menikmati daging kurban sebagaimana masyarakat perkotaan. Dengan THK ini Tamaddun ingin menyampaikan niatnya untuk menebar kurban bagi masyarakat di pelosok desa. Meski tidak seberapa, Tamaddun yang tahun tahun sebelumnya bekerja sama dengan Dompet Dhuafa (DD), tahun ini Tamaddun mampu menyalurkan kurban sebanyak sebelas kambing yang diberikan kepada sepuluh desa di wilayah Wonosobo. Antara lain; Kyuni Sapuran,

Salah seorang panitia kurban, menerima kambing dari Tamaddun

Warangan Kepil, Kenjuran, Balusari, Karang Duwur, Pagentan Watumalang, Kadipalen, Jombor Giyanti, Kaliwiro dan Kejiwan. Ketika Tamaddun survey mencari desa yang akan diberi hewan kurban, selain jaraknya yang jauh, Tamaddun juga melihat kenyataan di masyarakat betapa belum ada satu kesamaan persepsi dalam berkurban, misalnya, beberapa masyarakat tidak mau hewan kurbannya diberikan ke masyarakat pelosok desa, padahal masyarakat pelosok desa belum kebagian hewan kurban atau jarang sekali menikmati Idul Adha dengan menyembelih hewan kurban. Anwar mengatakan, ketika bertemu dengan panitia masyarakat yang akan menerima kurban di TAMZIS, Kita baru mendapat satu ekor kambing dari Tamaddun ini, sedangkan warga kami ada 300 kepala keluarga. Kami belum tahu bagaimana nanti membaginya. Yang penting kurban tetap harus dilaksanakan, siapa tahu di tahun tahun mendatang mendapatkan lebih banyak lagi kata Anwar menirukan pihak panitia kurban desa Kepil. Bahkan ada kisah yang lebih miris lagi, ketika ada kenyataan masyarakat, karena dapat hewan kurban yang seidikit sedangkan warga desanya banyak sampai sampai ada panitia kurban yang rela menyembelih ayam untuk menambahi daging kurban yang terlalu sedikit. Alasannya sederhana, gak enak bila memberi daging kurban terlalu sedikit. Tebar Hewan Kurban (THK) Tamaddun selalu siap melayani kurban Anda. Tidak bisa tahun ini, mudahmudahan tahun depan diberi kemampuan untuk berkurban oleh Allah. Amin.. [zbr]

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

27

Dinamika

Wisata Kuliner Di Pujasera; Saling Menguntungkan Dan Berkah

Suasana transaksi jual beli di Pujasera 8

onosobo. Membangun kebersamaan, membangun sinergi, membangun kesadaran, membangun kemandirian, membangun amal produktif dan membangun kemanfaatan bersama itulah pemberdayaan sesungguhnya. Selama hampir sebulan penuh di bulan Ramadhan 1434 H, Tamaddun (Baitul Maal TAMZIS) melakukan pemberdayaan ekonomi produktif berupa Pujasera (Pusat Jajanan Selama Ramadhan) di jalan Veteran, Sudagaran Wonosobo Jawa Tengah. Dalam kegiatan Pujasera tersebut diikuti oleh 120 pedagang. Mereka berjualan mulai dari sayur mayur dan lauk, berbagai macam minuman manis seperti jus, kolak dan jenang bali, berbagai macam gorengan khususnya tempe kemol yang khas Wonosobo, Batagor, Bakso kikil dan berbagai jajanan tradisional.

W
28

Kesuksesan Pujasera 8 tak lepas dari kerjasama dan saling sinergi antara Tamaddun dengan Dinas Pariwisata Wonosobo dan radio Purnamasidi FM serta berbagai pihak yang mendukung. Pujasera tahun ini sudah menemani pedagang dan masyarakat Wonosobo sudah delapan kali atau memasuki tahun ke8. Ada beberapa agenda yang menjadi rangkaian Pujasera 8. Pertama, wisata kuliner yang mulai habis sholat ashar hingga beduk maghrib ditabuh. Kedua, lomba

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

mewarnai dan menggambar kenclengan. Ketiga, pentas nasyid dan rebana. Keempat, buka bersama dan pemberian bingkisan bagi anak yatim melalui program Ramadhan Bahagia Bersama 1.000 Yatim. Dan kelima, Dakwah on the street (Obrolan menjelang buka puasa) setiap minggu dua kali. Ramadhan Berkah, Ramadhan Untung Kita tahu, dalam ekonomi ukuran keberhasilan yang nyata adalah untung. Berbeda dengan ukuran kebahagian ketika menjalani suatu kebaikan, yakni berkah atau tambahan kepuasan batin yang tak bisa dinilai secara nominal. Bulan Ramadhan memberi keduaduanya, untung dan berkah. Para pedagang Pujasera 8 sebagaimana niat awal dari panitia, yaitu ingin menyemarakkan bulan suci Ramadhan dengan halhal yang produktif. Bentuk produktifitas dalam ekonomi itu berupa menyediakan kebutuhan berbuka dan saur bagi shoimin (orang yang berpuasa). Berarti dengan berdagang, secara otomatis mempermudah

shoimin dalam memenuhi kebutuhannya dan para pedagang Pujasera juga bisa mengambil keuntungan dan menambah ekonomi keluarga. Pedagang Pujasera yang kebanyakan ibuibu merasa cukup terbantu dengan adanya Pujasera yang diadakan oleh Tamaddun (Baitul Maal TAMZIS). Selain pendaftaran yang relatif ringan, juga memperoleh beberapa fasilitas dalam meningkatkan ekonomi keluarga, misalnya saja, disediakan meja dan payung. Ada juga kaos. Dan tidak ketinggalan pula pinjaman Qordul Hasan (QH) pinjaman tanpa bagi hasil atupun tambahan bagi pedagang sebagai tambahan modal. Ramadhan berkah dan untung tidak saja sebagai ucapan di bibir saja, tetapi telah dirasakan oleh para pedagang, pengunjung Pujasera dan juga Tamaddun sebagai penyelenggara acara. Akankah keberkahan dan keuntungan ini akan di tambah di tahun mendatang, tentu tergantung masingmasing individu yang bisa menilai dengan selalu menjaga aktivitas Ramadhan di sebelas bulan yang akan datang. [zbr]

Rekam Lensa PUJASERA 8


1. Suasana jalanan di Pujasera 8 2. Lomba menggambar dan mewarnai kenclengan 3. Obrolan (Dakwah on the street) 4. Penyerahan hadiah Lomba menggambar dan mewarnai kenclengan 5. Pentas rebana anak-anak 6. Penyerahan santunan Bahagia Bersama 1.000 Yatim

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

29

Profil

TAMZIS MUNTILAN Menjadi LKMS yang Lebih Dikenal dan Dipercaya


Secara geografis, Muntilan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang menjadi pusat perdagangan dan jasa di bagian Selatan Kabupaten Magelang. Muntilan terletak sekitar 15 Km dari kota Kabupaten Magelang, dan 25 Km dari Kota Yogyakarta. Muntilan telah lama menjadi pusat perdagangan dan jasa di bagian Selatan Kabupaten Magelang karena berada di jalur provinsi yang menghubungkan Kota Semarang, Kota Magelang, dan Kota Yogyakarta.

elihat potensi Muntilan, TAMZIS yang awalnya hanya ada di kota Magelang, ingin memperluas jangkauan sekaligus melakukan ekspansi secara ekonomi. Mengingat TAMZIS merupakan Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS). Memang ada beberapa alasan membuka TAMZIS Muntilan, antara lain. Pertama, tentunya, ingin lebih mendekatkan pada anggota atau pasar. Kedua, peningkatan pelayanan. Dan ketiga, ingin memperluas pelayanan bagi anggota. Kecamatan Muntilan merupakan salah satu kecamatan yang cukup gemilang dan banyak kelebihannya di kabupaten Magelang. Seperti, memiliki pasar tradisional besar, tak kalah dibanding pasar tradisional Magelang. Memiliki sentral perdagangan yang besar. Pasar hewan yang besar dan juga industriindustri kerajianan yang cukup terkenal di Jawa Tengah. Misalnya, sentral ikan yang terletak di Ngrajek, Bojong dan Menayu. Sentral sovenir dan kerajinan batu di Karang Watu. Sentral kayu di Bakalan. Kerajianan sapu di Bojong Mungkid. Produksi roti kering di Gulon,

Salam. Sentral tahu di Tanjungsari dan Gerabah di di Ngadiwinatan di Borobudur. Selain itu, mempunyai prospek ke depan dengan adanya industri karoseri (bengkelbengkel mobil khusus body) yang menjadi target pembiayaan TAMZIS yang berada di luar pasar. Meski begitu, secara prosentase, fokus pembiayaan TAMZIS Muntilan 75% pada pasar tradisional dan 25% sisanya tetap menggarap luar pasar. Sebagaimana dikatakan Ava Mazarodin NS, Manajer Marketing Cabang (MMC) TAMZIS Muntilan, semua pembiayaan akan ada pengikat berupa agunan agar semua kerjasama TAMZIS dengan anggota bisa terjalin dengan baik. Kebijakan menggunakan agunan dengan alasan. Pertama, kebijakan TAMZIS berdasarkan pengalaman. Bila tanpa agunan, anggota mengalami produktifitas yang rendah terutama dalam mencicil pembiayaan. Kedua, mempercepat pembiayaan. Dalam arti, bila ada agunan, pertimbangan pembiayaan relatif lebih cepat dalam mengambil keputusan. Ketiga, hal ini bergaris lurus dengan pengembangan cabang dan mengurangi resiko.

30

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Para Pegiat Ekonomi Syariah TAMZIS Muntilan

TAMZIS Muntilan mulai beroperasi 5 November 2012 dengan anggota 2.753 anggota yang notabene merupakan anggota pemekaran dari TAMZIS Magelang. Pembiayaannya, mencapai Rp 2 milyar lebih. Dengan modal awal TAMZIS Muntilan sebesar Rp 150-an juta. Untuk lebih mudahnya koordinasi dengan cabang Magelang, TAMZIS Muntilan masih berkantor di Ruko Prayudan B7, Mertoyudan, Magelang. Para pegiat ekonomi syariah TAMZIS Muntilan, mulai 12 Oktober 2013 kemarin yakni; Ava Mazarodin NS (Manajer Marketing Cabang), Anak Agung Ardhana (Manager Administrasi Cabang). Fredi Antoro dan Yudi Irawan sebagai Account Officer. Fatkhul Huda, Sigit Prasetiyo dan Muhammad Erwin Ariyadi sebagai kolektor marketing dan Slamet Budiyanto dan Niswatul Ashifah sebagai administrasi. sedang pasar yang dilayani TAMZIS Muntilan antara lain; pasar Borobudur, pasar Jagalan, Kalibawang, pasar Japunan, dan Pasar Induk Muntilan. Ke depan, pengembangan pasar akan membuka yang meliputi,

kecamatan Sawangan, Srumbung, Salam, Ngluar dan Mungkid. Strategi dan Budaya TAMZIS Muntilan TAMZIS Muntilan Sebagai lembaga keuangan syariah yang baru berdiri, tentu tidak sama dengan kantor TAMZIS yang lama. Menurut Ava Mazarodin NS, ada beberapa hal yang terus dilakukan untuk memperkenalkan (promo) TAMZIS Muntilan terutama bagi warga sekitar Muntilan. Promo yang dilakukan meliputi, penyebaran brosur oleh Sales Officer (SO) dan Account Officer (AO) atau melalui anggota TAMZIS yang loyal. Selain itu, memasang spanduk-spanduk di titik strategis. Cara lainnya dengan getok tular (dari mulut ke mulut). Strategi ini bisa lebih efektif, mengingat getok tular terkait dengan pelayanan yang baik, cepat dan syariah. Karyawan TAMZIS Muntilan juga melakukan door to door (dari pintu ke pintu) mendatangi pelaku usaha calon anggota. Sebuah strategi tak bermakna dan hanya sekedar tulisan bila tidak didukung dengan budaya perusahaan yang kuat, kokoh

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

31

Profil

32

Ekonomi syariah adalah identitas, brand dan nilai yang harus diperjuangkan. Tak lain, agar ada kemanfaatan dunia akhirat secara seimbang. Kemakmuran masyarakatpun insya Allah akan tumbuh kembang

dan berkesinambungan. Kantor TAMZIS Muntilan sebagai kantor baru lagi-lagi memiliki tekad untuk membangun budaya perusahaan sebagai basis fondasi dimasa depan meliputi; pertama, membangun komunikasi yang efektif terutama terkait dengan kejujuran, sikap terbuka terhadap kinerja perusahaan. Baik formal, maupun informal yang dilakukan setiap sore. Kedua, TAMZIS Muntilan setiap hari Kamis sore secara rutin melakukan pembacaan Qur'an yang dilanjutkan sharing pekerjaan, terutama terkait dengan kendala-kendala di lapangan, persoalan anggota dan menjaring ide-ide antar karyawan. Ketiga, TAMZIS Muntilan, dianjurkan untuk membaca satu hari satu ayat. Keempat, dalam tiga bulan sekali, TAMZIS Muntilan memprogramkan untuk membeli satu buku. Hal ini tak lain, untuk meningkatkan skill dan pengetahuan dalam menjalankan tugas perusahaan. Kelima, Account Officer terus melakukan prospek pembiayaan dalam satu hari minimal dua sampai tiga anggota. Mengingat, peningkatan aset perusahaan harus terus ada peningkatan. Budaya perusahaan tidaklah selalu identik dengan yang serius-serius, TAMZIS Muntilan juga mengadakan program yang bersifat permainan atau olah raga, seperti futsal, bulu tangkis dan sekali-kali melakukan refreshing bersama dalam upaya membangun kebersamaan sehingga dalam bekerja merasa enjoy. TAMZIS Muntilan juga memiliki budaya yang terkait dengan kepedulian sosial, yakni dengan memberi bantuan bagi anggota yang membutuhkan. Tentunya dengan dana sosial yang tersedia di TAMZIS Muntilan. Hal ini untuk melatih rasa kepekaan pegiat ekonomi syariah bagi anggota yang juga merupakan bentuk tanggungjawab perusahaan bagi masyarakat. Teguh dengan Ekonomi Syariah Ekonomi syariah adalah identitas, brand dan nilai yang harus di perjuangkan. Tak lain, agar ada kemanfaatan dunia akhirat secara seimbang. Kemakmuran masyarakatpun insya Allah akan tumbuh kembang.

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Memang, TAMZIS Muntilan sadar, bahwa keberhasilan syiar ekonomi syariah terkait erat dengan pemahaman dan pengetahuan karyawan itu sendiri. Makanya, TAMZIS Muntilan ingin karyawannya mengetahui akad-akad syariah yang banyak diterapkan oleh TAMZIS, misalnya akad mudharabah. Dengan penguasaan itu akan lebih mudah dalam menjelaskan ekonomi syariah bagi anggota dan masyarakat di lingkungan kantor, karena karyawan TAMZIS adalah corong utama. Dalam edukasi ekonomi syariah ke anggota pun, TAMZIS Muntilan memberi majalah Tamaddun yang banyak menginformasikan seputar ekonomi syariah, dinamika perusahaan dan visi serta misi TAMZIS secara umum. Tantangan TAMZIS Muntilan Sebagai cabang pemekaran dari TAMZIS Magelang, TAMZIS Muntilan memiliki tantangan yang berbeda bila dibanding dengan kantor sebelumnya. Tetapi tantangan demi tantangan harus menjadi motivasi sekaligus memantapkan langkah untuk selalu tumbuh melebihi kantor Magelang. Tantangan itu adalah pertama, TAMZIS Muntilan harus menyelesaikan pemisahan secara administratif terkait dengan data-data yang akan masuk TAMZIS Muntilan. Terutama sejarah transaksi, akad-akad, besaran pembiayaan dan pola penanganan anggota ke depan. Tantangan kedua, letak kantor TAMZIS Muntilan masih terlalu jauh dengan pasar Muntilan. Hal ini tentunya akan menghambat pengenalan kantor khususnya bagi anggota yang sudah banyak di pasar Muntilan. Tantangan ketiga, belum dikenal oleh masyarakat. Tantangan ini merupakan hal wajar terkait dengan proses pendirian kantor

baru atau pemekaran. Tantangan keempat, kompetitor dari lembaga keuangan yang lebih dulu mengelola daerah Muntilan. Makanya, TAMZIS Muntilan akan lebih mengunggulkan pada sisi pelayanan dan pola ekonomi syariah yang diterapkan. Selain beberapa tantangan di atas yang harus dihadapi secara arif dan bijak, TAMZIS Muntilan memiliki kelebihan antara lain, sepeti; TAMZIS Muntilan telah memiliki anggota, pembiayaan telah berjalan dan sudah mengetahui peta potensi daerah yang bisa dikembangkan ke depan. TAMZIS Muntilan 5 Tahun ke Depan Melihat perkembangan selama setahun beroperasi. TAMZIS Muntilan mengalami kenaikan rata-rata 20%. Terlebih lagi, ketika Ramadhan dan lebaran Idul Fitri kemarin TAMZIS Muntilan mengalami kenaikan pembiayaan sebesar 40%. Tahun 2013 akan mencapai tiga milyar dan perkiraan lima tahun ke depan sudah bisa menembus sepuluh milyar. Menurut Ava, MMC TAMZIS Muntilan, pencapaian di 5 tahun mendatang tak terlepas dari tiga faktor yang harus dikembangkan secara bersamaan dan istiqomah bagi semua elemen TAMZIS Muntilan utamanya, antara lain; pengembangan infrastruktur yang kokoh, sistem syariah yang telah diterapkan secara benar, khususnya akad-akad syariah dan kinerja TAMZIS Muntilan yang tetap berpegang pada aturan perusahaan (SOP). Dengan begitu, TAMZIS Muntilan akan mampu menjadi lembaga keuangan mikro syariah yang lebih dikenal dan dipercaya di Muntilan, bahkan bisa menyebarkan jaringan pelayanan kepada masyarakat luas di luar Muntilan sendiri. Sehingga hal itu membuat dakwah di bidang ekonomi syariah, hari demi hari menjadi lebih terasa kemanfaatannya. [zbr]

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

33

Profil

PASAR INDUK KERTEK


Pasar Pusat Sayur Mayur yang Ramai dan Ideal
Bila diibaratkan tubuh manusia, pasar adalah perutnya. Dalam tradisi masyarakat, pasar juga menjadi tumpuan kebutuhan seharihari sekaligus sebagai wahana untuk saling tukar menukar kebutuhan hidup. Dengan begitu pasar adalah pusat kehidupan.

erjalan-jalan di pasar tradisional seolah menyapa masyarakat yang sedang berjuang untuk menghidupi keluarga. Ada yang menjual hasil bumi berupa sayur, beras, bumbu-bumbu, ikan, pakaian dan sebagainya. Pasar tradisional Kertek adalah pasar terbesar kedua setelah Pasar Induk Wonosobo (PIW), Jawa Tengah. Selain letaknya yang strategis berada di pertigaan yang menghubungkan kabupaten Temanggung dan Magelang serta Purworejo. Pasar Kertek juga memiliki jam kunjung 24 jam dengan pembagian, pasar sayur pagi mulai sebelum subuh hingga jam 07.00 pagi. Pasar siang mulai 07.00 hingga pukul 17.00 sedang pasar sore mulai pukul 16.00 hingga 02.00 malam. Pasar Kertek menempati luas area keseluruan mencapai 15.675,50 m2. Dengan luas kios 3.214 m2, luas los 7.280,42 m2 sehingga total mencapai 10.494.45 m2. Dimana dibangun kios sejumlah 207, los 1.574 dan jumlah PKL yang terdaftar 356 orang. Sisanya untuk terminal dan parkir. Tahun 2009, TAMZIS mengadakan TAMZIS Pasar Festival, untuk memotivasi pasar tradisional Kertek, Wonosobo Jawa Tengah agar tetap bersih dan ramaikan pasar. Tetapi ketika kegiatan tersebut sudah lama

tidak diadakan lagi, kondisi pasar kembali pada keadaan semula. Pasar Kertek, dibagi menjadi tiga bagian, pasar bawah, pasar tengah dan pasar atas. Pasar bawah meliputi ikan asin, daging sapi, ayam potong dan warung-warung makan. Pasar tengah yang terdiri dari perdagang seperti kelontong, roti, tembakau, snack-snack untuk anak-anak, tahu-tempe, sayuran yang dijual eceran, bibit, obat pertanian dan alat-alat pertanian serta buahbuahan. Sedang pasar atas untuk pakaian, sandal, sepatu, gerabah, tukang jahit dan tukang cukur. Bagian belakang pasar Kertek dipakai untuk pasar unggas dan pasar ikan. Memang, belum ada pemisahan secara spesifik disetiap jenis barang dagangannya, masih dipisahkan secara umum antara pasar bawah, tengah dan atas serta pasar belakang. Kondisi dan Dinamika Pasar Kertek Susman Hidayat (52), sudah empat tahun menjadi Kepala Pasar Kertek Wonosobo. Pria kelahiran Wonosobo ini menjelaskan bahwa wewenang pasar Kertek berada di bawah Disperindagkop Kabupaten Wonosobo. Ia bercerita, pada tahun 1994 pasar Kertek kebakaran, semua terbakar. Setelah

34

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Slogan Pasar Kertek Bersih Pasare Berkah Rejekine

kebakaran pembangunan pasar dilakukan oleh PT Jasinkar dan diresmikan pada Juni 1997 dan siap untuk ditempati para pedagang. Meskipun pengelolaan pasar Kertek dikelola Dinas Pasar tetapi hak kepemilikan pasar masih di tangan PT Jasinkar hingga tahun 2017. Hingga sekarang belum ada perencanaan untuk pembangun dan perluasan. Apalagi para pedagang tidak mau lagi ada pembangunan, kata Susman. Secara luas area, pasar Kertek tergolong pasar kelas II milik daerah. Pasar Kertek ini setiap harinya dikunjungi kurang lebih 2.500 orang. Jumlah tersebut sudah termasuk semua pengunjung pasar pagi, siang dan sore. Sedang hari pasaran pasar Kertek adalah Pahing dan Kliwon setiap minggunya.

Suswan dibantu 10 pegawai dalam mengelola pasar Kertek. Dan dibantu tujuh satpam untuk kemanan. Kebersihan dan parkir dikerjasamakan dengan pihak ketiga, mengingat keterbatasan pegawai dan lebih efektif serta lebih memberdayakan pemuda Kertek. Pasar Kertek, secara pengelolaan merupakan pasar yang cukup dinamis. Hal itu dibuktikan dengan adanya Paguyuban Pedagang Pasar Kertek (PPPK) yang bernama Guyub Rukun. Sedang untuk kebersihan dan keamanan ditarik oleh petugas pasar. Kebersihan Rp 100/ hari untuk retribusi pelayanan pasar bulanan los Rp 18.000,-. kios Rp 24.000, dengan surat izin pemakaian akan diperbaharui setiap 5 tahun sekali ujar Susman.

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

35

Profil
Kekhasan Pasar Kertek Pasar Kertek memiliki beberapa kekhasan yang jarang ditemui di pasar tradisional lainnya, seperti kerajianan ceting, tikar mendong dan sagon. Sagon sendiri adalah jenis jajanan pasar yang terbuat dari tepung sagu. Jajanan pasar memang memiliki cita rasa yang beragam dan enak dilidah. Keunikan lain dari pasar Kertek adalah banyaknya pedagang keliling yang menggunakan sepeda motor kulakan di pasar Kertek ini mencapai 600 pedagang. Pedagang keliling ini membuat perkumpulan yang diberi nama FORPA (Forum Pedagang Pasar Pagi) dan ALFAS (Asosiasi Lintas Pedagang Sayur). Selain diatas, pasar Kertek adalah pasar tradisional yang memiliki keunggulan terkait dengan sayur mayur. Mengingat, Wonosobo merupakan salah satu daerah penghasil sayur yang terbesar di Jawa Tengah. Mulai kentang, kubis, sawi putih, cabe, wortel dan sebagainya. Dari pasar Kertek inilah bermacam-macam sayuran didistribusikan ke luar kota, mulai Purworejo, Magelang, Jogjakarta bahkan sebagian ke Jakarta dan Bandung. Kendala dan Solusi Pasar Kertek Setiap tempat pastilah ada kelebihan dan kekurangannya. Hal tersebut merupakan tugas dan tanggungjawab bagi lingkungan terkait. Entah masyarakat, pengelola dan pemerintah serta lembaga-lembaga yang terkait. Tak terlepas dari pasar Kertek, yang memiliki beberapa kendala, antara lain. Pertama, kesadaran retribusi pedagang masih kurang, sehingga pasar Kertek setiap tahunnya tidak bisa memenuhi target yang diberikan oleh pemerintah daerah. para pedagang tidak bayar retribusi dengan alasan sepi, banyak minimarket dan juga banyaknya pedagang keliling, sehingga mereka tidak membayar retribusi secara teratur jelas Susman. Kedua, fasilitas pasar Kertek masih minim, seperti sempitnya jalan, beberapa sarana-prasarana bocor dan terlalu banyaknya

Susman Hidayat, Kepala Dinas Pasar Kertek Wonosobo

36

Keunikan lain dari pasar Kertek adalah banyaknya pedagang keliling yang menggunakan sepeda motor kulakan di pasar Kertek ini mencapai 600 pedagang. Pedagang keliling ini membuat perkumpulan yang diberi nama FORPA (Forum Pedagang Pasar Pagi) dan ALFAS (Asosiasi Lintas Pedagang Sayur)
Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

pedagang sehingga pasar Kertek sudah tidak muat pedagang lagi. Ketiga, dengan banyaknya pedagang keliling, para pengunjung yang biasa membeli di pasar lebih memilih berbelanja pada pedagang keliling, tentu dengan alasan tidak usah repot-repot datang ke pasar dan lebih irit. Susman mengatakan, bahwa Dinas Pasar Kertek telah melakukan beberapa kegiatan bagi pedagang untuk meningkatkan pengunjung pasar Kertek seperti menghimbau kepada pedagang untuk memberi pelayanan yang baik bagi pembeli, membuat suasana pasar nyaman dan aman sehingga pembeli kerasan untuk datang di pasar Kertek, melakukan pemisahan barang dagangan, kerjasama dengan TNI untuk bersih-bersih pasar serta membangun komunikasi dengan pedagang melalui sound sistem. Meskipun begitu, kata Susman, pedagang tetaplah masih banyak yang mengatakan, bahwa pedagang PKL di luar yang membuat pembeli enggan untuk masuk pasar, membuat pengunjung masih sepi, pendapatan belum ada peningkatan serta yang dirasa ramai hanya pada saat Ramadhan dan lebaran kemarin. Banyak orang-orang pemerintah gembar-gembor belanja di pasar tradisional,

tapi dirinya sendiri belanja ke pasar modern kata Susman mengkritik. Pasar Ideal Setiap dinas pastilah memiliki anganangan untuk mengelola pasar tradisional yang ideal. Mampu menampung pedagang sebanyak mungkin dan selalu ramai dengan pengunjung. Tak terkecuali bagi Susman Hidayat, ia mempunyai cita membangun pasar ideal yang memiliki karakteristik, pertama, pasar dilakukan perbaikan sehingga pasar terlihat lebih bersih dan segar sehingga pengunjung akan lebih memilih pada pasar daripada minimarket. Kedua, pelayanan pada pengunjung yang baik, senyum kepada pembeli dan tidak marah-marah. Ketiga, kenali konsumen secara mendalam, sehingga bisa diketahui karakter dan kebiasaan. Keempat, diberi potongan harga atau tidak mengambil keuntungan yang banyak serta jujur dalam memberi timbangan. Pasar ideal tersebut yang menjadi kenyataan, bila semua pihak memiliki kesadaran dalam membangun bersama yang disertai dengan niat bahwa pasar tradisional adalah pilar penyangga kehidupan setiap masyarakat. [zbr]

Simpanan Pendidikan GEMAR MENABUNG

masa depan untung


www.tamzis.com

Sosok

38

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Profil:
Nama : Eko Purnomo Tempat Tanggal Lahir : Wonosobo, 01 Oktober 1976 Alamat : Merapi Mulyo, RT 02, RW 05, Ds. Sedayu Kec. Sapuran, Kab. Wonosobo, JaTeng Nama Istri : Muniroh Nama Anak : 1. Annas Taufiquzaman 2. Ilham Miftakhurrozaq Pendidikan: 1. SMPN I Kertek, Wonosobo 2. SMU Muhammadiyah I Wonosobo 3. Sarjana Ekonomi di UNSIQ Jawa Tengah Pengalaman Pekerjaan: 1. Karyawan PT SRITEX Sukoharjo Solo Tahun 1996 1997 2. Karyawan BMT Melati Tahun 1997 Sekarang Pengalaman Pelatihan: 1. Diklat Pengembangan Unit Simpan Pinjam yang diselenggarakan Departemen Koperasi Propinsi Jawa Tengah tahun 1999 2. Pelatihan Teknis dan Manajemen Usaha Produk BMT melalui Program Proyek Peningkatan Kemandirian Ekonomi Rakyat (P2KER) yang diselenggarakan oleh Departemen Koperasi dan BMI Tahun 2000 3. Lokakarya Pengembangan Konsep Produk Syari'ah BMT yang diselenggarakan oleh PINBUK Jawa Tengah dan BMI Cab. Semarang Tahun 2000 4. Pelatihan Advance Training BMT (Karim Bussiness Consultant) tahun 2001 5. Pelatihan Program Perencanaan Strategis dan Penyusunan Program kerja dan Anggaran ( DD Republika dan CDC) tahun 2003 6. Top Manager Development Programe For Sharia Microfinance (DD Republika dan BMT Center) tahun 2005 7. Developing Managerial Skills Training (IAS & Associates Training Consultant) Tahun 2008 8. Pelatihan Manajemen KSP/USP Berbasis Kompetensi (Dinas Koperasi dan UMKM Prov. Jawa Tengah) Tahun 2008 9. Workshop Manager Executive review (PBMT Institute) tahun 2009 10. TOT (Training On Trainer) PBMT Institute tahun 2011 11. Pelatihan Konsultasi Perpajakan Koperasi (Kementrian Koperasi dan UMKM) tahun 2012 12. Workshop Sosialisasi Undang Undang Koperasi terbaru ( Januari 2013)

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

39

Sosok
ebagai pegiat Ekonomi Syariah, waktu berjalan tak terasa. Tahun 2013, bagi Eko yang mempunyai nama lengkap Eko Purnomo sudah tiga belas tahun berjuang dan berdakwa melalui Ekonomi syariah dengan BMT Melatinya. Dengan modal keyakinan, bahwa bila membela agama Allah, insya Allah Allah akan memberi jalan. Suami dari Muniroh ini, awalnya setelah lulus SMU Muhammadiyah I Wonosobo memilih langsung bekerja mengingat ingin membantu ekonomi keluarga. Itu pun kuat hanya setahun, bekerja PT Sritex Sukoharjo, Solo antara 1996-1997. Setelah itu kembali ke kampungnya yang beralamat di dusun Merapi Mulyo, RT 02, RW 05, Ds. Sedayu Kec. Sapuran, Kab. Wonosobo dimana ia tumbuh besar. Setelah pulang di kampungnya, tak lama kemudian, tahun 1997, Sarjana Ekonomi di UNSIQ Jawa Tengah ini diberi tugas mendirikan BMT yang sudah memperoleh izin operasional dari ICMI. Kisah awalnya, kata Eko, bulan Juli tahun 1997. Dari awal memang diundang oleh ICMI, kemudian dapat sertifikat operasional BMT oleh Pak Suharto (waktu itu masih Presiden). Awalnya, dari Yayasan Bakti Sosial Melati, dimana setiap anggota iuran Rp 500. Waktu itu uang terkumpul Rp 350 ribu. Dan uang itulah yang menjadi modal awal berdiri BMT Melati. Pengurusnya ada bapak Widodo (Ketua), Sudarno, Tukijo dan M. Khusnu. Belajar BMT By Doing Ada pepatah, belajar yang baik adalah belajar sambil melakukan (by doing). Prinsip itulah yang diterapkan Eko pada awal merintis BMT Melati. Kemudian Eko bersama bapak Widodo berkonsultasi ke bapak Saat Suharto Amjad yang notebene mempunyai pengalaman mendirikan TAMZIS. Saat itu TAMZIS masih di Kertek.

Tanpa panjang lebar, pak Saat menyarankan datang langsung ke kantor. Selama dua hari belajar operasional, transaksi dan melayani anggota. Tak hanya itu, dari TAMZIS tersebut Eko dan Widodo mendapat contoh-contoh slip dalam melayani anggota. Untuk kantor, BMT Melati menempati serambi Masjid Al-Akrom dibelakang BMT Melati yang sekarang. Memang, sejak awal BMT melati fokus menarik tabungan dari tokotoko sekitar yang sudah berjalan, para PNS dan disalurkan pada bakul-bakul gendong yang menjual tempe bungkusan daun pisang. Alhamdulillah berjalan lancar dan respon dari masyarakatpun cukup menggembirakan terutama di kampung Merapi Mulyo, Sapuran, Wonosobo. Pria kelahiran asli Wonosobo, 01 Oktober 1976 ini cerita, waktu itu hanya ia sendiri yang menjadi kolektor. Pada bulan September 1997, ada pelatihan TKPMT, untuk melatih dan mencetak manajer-manajer BMT yang diadakan oleh Pinbuk. Ia masih SMA, padahal syarat peserta pelatihan minimal Sarjana. Pada waktu itu ada ibu Estiningtiyas bersedia mengikuti pelatian tersebut dan bersedia magang tiga bulan tidak digaji. Karena memang belum mampu menggaji. Maka dibagilah tugas, Eko sebagai orang yang manggawangi marketing. Sedang Esti, panggilan akrabnya bertanggungjawab mengelola manajemen. Antara tahun 1999 hingga 2001, pertumbuhan BMT Melati penuh dengan dinamika. Mulai Pelatihan Proyek Penanggulangan Pengangguran Terpadu (P3T), merekrut empat karyawan dan mendapat bantuan Rp 40 juta dari Program Proyek Peningkatan Kemandirian Ekonomi Rakyar (P2KER), sewa kantor di balai desa hingga ekspansi pelayanan ke toko-toko, hingga ke pasar tradisional. Tahun 2001, BMT Melati menyewa tempat di perkebunan hingga tahun 2005. Baru

40

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

penambahannya (riba). Ketiga, berkhidmat pada desa. Hal ini dibuktikan BMT Melati tetap berkantor pusat di Sapuran. Peran Strategis Eko dalam BMT Melati Sejak 2001, Eko menjadi Manajer Utama BMT Melati. Ia melakukan banyak perubahan salah satunya mengubah maindset karyawan dari berpola pikir bisnis semata menjadi tipikal pejuang ekonomi syariah. Ia juga menerapkan beberapa strategi. Pertama, marketing 20% di kantor dan 80% di luar kantor. Begitu juga sebaliknya administrasi, 20% di luar 80% di kantor. Kedua, dalam merekrut karyawan, BMT Melati memilih karyawan yang sudah mempunyai pengaruh baik di masyarakat, baik dari keluarganya maupun memiliki peran penting di masyarakat kemudian didekati dan ditawari untuk bekerja di BMT Melati. Memang perkembangannya luar biasa bagus. Hal ini bisa meningkatkan aset secara signifikan. Dari ratusan juta menjadi milyaran. Ketiga, begitu juga dengan pelayanan, BMT melati memilih melayani akar rumput atau sekmen bawah yang mempunyai loyalitas tinggi. pendekatannya sebenarnya sederhana, yang penting komunikasi dan saling menguntungkan serta loyal pada lembaga. Itu yang kita tanamkan. Ketiga, menggunakan pendekatan kekeluargaan. Tetapi tetap menjaga sisi-sisi profesionalisme. Jadi dekatpun itu dalam hubungannya dengan profesionalisme kerja bukan kedekatan personal. Karena dekat secara personal itu akan berbahaya. takut, orang hutang, mau di tagih gak enak kata Eko. Hal ini tidak diinginkan. Keempat, hubungan sosial harus benarbenar dijaga. Karena BMT Melati berada di desa, semua kerahasiaan tetap dijaga. Sisi humanisme dalam menjaga interaksi dengan masyarakat itulah yang tetap selalu dijaga. Mungkin karena komunikasi dan interaksi yang baik itupula, ia bisa diterima menjadi

Eko menunjukkan mobil Kas Keliling BMT Melati

tahun 2005, BMT melati sudah buka kantor di Sapuran dan Kertek. Tahun 2005 itu juga sudah bisa membeli tanah sendiri dan tahun 2007 bangunan tersebut sudah ditempati sepenuhnya. Dan tahun 2007 mulai ekspansi kantor ke Wonosobo kota, Kaliwiro, Kepil dan Banjarnegara. Peningkatan aset tahun 1997 mulai dari Rp 350 ribu. Tahun 2000-an naik Rp 100 juta. Tahun 2005 Rp 7 milyar. Tahun 2007 kisaran Rp 12 milyar. Tahun 2013 mencapai Rp 30 milyar. Jadi rata-rata kenaikan aset lebih dari 100%. Mulai tahun 2010 hingga 2013 kenaikan aset mencapai 50% hingga 60%. Secara umum ada tiga motivasi yang melatarbelakangi BMT Melati antara lain. Pertama, melihat kondisi masyarakat yang memprihatinkan. Anak-anak putus sekolah dan warga yang lanjut usia. Banyak juga janda-janda yang tak bisa mengelola lahan. Hingga kini BMT Melati tetap mensupport pengelolaan TPQ Melati, tentunya melalui Baitul Maalnya. Kedua, tentu ingin meminimalisir rentenir yang sering beroperasi di masyarakat. Bahasa rentenir disini, ngrolasi (12-an). Artinya, pinjam seratus ribu, bayar seratus dua puluh ribu. Berarti 20% setiap bulan. Kalau seratus, kalau satu juta akan jelas harus bayar satu juta dua ratus ribu. Kelihatan sekali

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

41

Sosok

42

Ketua PBMT Kabupaten Wonosobo menggantikan bapak Budi santoso (Manajer Utama TAMZIS). Mobil Keliling Bencmark Khas BMT Melati Ekonomi syariah itu indah dan Berkah dengan bencmarking ini BMT Melati mengatakan bahwa seseorang yang bertransaksi ekonomi syariah akan merasakan keindahan dan penuh keberkahan. Selain itu, melati itu kan jenis mawar, yang wanginya memiliki radius menyebar kemana-mana. Kecil tapi mampu memberi wangi pada semua orang kata pria peserta Silatnas PBMT 2013 di Batam dan Singapura ini . Ke depan, BMT Melati tetap fokus pada tingkatan kecamatan dan desa-desa agar keberkahan dan keindahan syariah dirasakan semua orang. Dalam merealisasikan keinginan tersebut, BMT Melati memiliki gagasan mobil kas keliling hingga pelosok desa. Mungkin bisa dua atau tiga mobil yang akan keliling ke depannya. Dari keliling-keliling tersebut, BMT Melati bisa membentuk komunitas yang nantinya didirikan kantor baru. Begitu seterusnya. Mobil-mobil keliling ingin menjamah desadesa yang belum ada lembaga keuangan. Kalau di Wonosobo, keliling ke Kalibawang yang jaraknya sekitar 15-20 kilometer, akses jalannya pun masih susah. Sekmen pelayanan BMT Melati, melayani 10% ke konsumtif dan selebihnya ke sektor produktif dan masih komitmen pembiayaan Rp 100 juta ke bawah. Pelayanan BMT Melati juga dibarengi dengan pemberdayaan seperti pemberian beasiswa pendidikan, santunan ke TPQ, pengobatan gratis, perbaikan rumah dan yang rutin adalah santunan pada anak yatim piatu dan orang tua jompo setiap bulan. meski terkesan tidak mendidik, tetapi kita memiliki tanggungjawab ngopeni bagi mereka Eko mengakui. Bagi yang masih bisa bekerja kita kasih kambing, tapi ketika sudah tidak bisa kita santuni setiap bulannya. Keberkahan itu tidak tahu darimana datangnya tambahnya.

Sebagai ketua PBMT Wonosobo, Eko memiliki program. Pertama, mewujudkan Wonosobo sebagai kota BMT. Makanya nanti ketika sudah disetujui oleh pihak Kabupaten akan dibuat plankplank Selamat Datang di Kota BMT. Kedua, penguatan infrastruktur, SDI dan penguatan modal. Kata Eko, jangan sampai kita besar tapi tidak kuat fundrisingnya, selain itu juga sinergi dalam pembiayaan antar BMT. Ketiga, membangun image Wonosobo sebagi Barometer BMT Indonesia.

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Guyup Bersama, Besar Bersama Bapak Erie Sudewo, Pelopor Dompet Dhuafa, mengakui bahwa PBMT Kabupaten Wonosobo terkenal guyub dan kompak dibandingkan PBMT di kabupaten lain. Kata Eko, sebenarnya BMT-BMT di Wonosobo sejak awal terbentuknya hampir bersamaan dan antar pegiat BMT sudah saling kenal terutama manajer-manajernya. Dari latar belakang yang sama inilah mempermudah adanya koordinasi. Seperti BMT Melati dan Marhamah juga awalnya belajar dari TAMZIS. Dan BMT lainnya juga ada yang belajar dari Marhamah dan Melati dan seterusnya. Dalam menjaga kebersamaan, ada ide pokok yakni membangun kebersamaan dan besar bersama. Hal ini diwujudkan dalam beberapa kesepakatan bersama, antara lain; Pertama, Open management, dalam bentuk saling sharing dan saling koordinasi setiap bulan. Kedua, menjaga dan menguatkan ukhuwah. Di lapangan saling benturan itu biasa, tetapi bagaimana hal itu bisa diselesaikan dan disinergikan bersama. Itulah fungsi kita ketemu dan saling koordinasi kata Eko. Ketiga, saling menghormati dan berusaha meminimalisir ego pribadi atau institusi. Dengan begitu, eksplorasi dalam menyelesaikan persoalan bisa bersama-sama. Awal-awal sulit, karena ada saling ego, tetapi karena seringnya ketemu sehingga akhirnya bisa terbuka. alhamdulillah PBMT Wonosobo menjadi barometer PBMT se-Indoneisa terutama dalam kekompakan dan keguyubannyatutur Eko. Ketua PBMT Wonosobo periode 20102015 ini, mengungkapkan bahwa inti agar bisa guyub itu sederhana. Pertama, tak lain adalah komunikasi. Ada masalahpun karena komunikasi tak berjalan. Kedua, saling menyelami masing-masing karakter BMT-BMT sehingga bisa saling menerima. Ketiga, ada keinginan terutama di Wonosobo, pada tahun 2020 nantinya 80%

masyarakat harus menggunakan ekonomi syariah. Misalnya, di Sapuran, ada bank konvensional tidak bertahan lama karena fundrisingnya sulit berkembang sehingga ditutup. Itu bukti dan tidak perlu kita koar-koar (siar-siarkan). Begitu juga sebaliknya, menurut Eko, mengapa susahnya guyub disebabkan; Pertama, ego masing-masing lembaga. Mereka tidak ingin lembaganya tidak diketahui orang lain. Menurutnya, lembaga yang seperti ini ke depan akan susah berkembang. Karena salah satu visi PBMT adalah besar secara bersamasama. Yang kecil kita besarkan. Tidak puas terhadap apa yang sudah dicapai. Kedua, tidak mau berkembang bersamasama. Hal ini menganggap bahwa BMT yang dimiliki mampu berkembang tanpa bantuan orang lain, artinya kembali lagi yakni adanya ego. Sebagai ketua PBMT Wonosobo, Eko memiliki program. Pertama, mewujudkan Wonosobo sebagai kota BMT. Makanya nanti ketika sudah disetujui oleh pihak Kabupaten akan dibuat plank-plank Selamat Datang di Kota BMT. Kedua, penguatan infrastruktur, SDI dan penguatan modal. Kata Eko, jangan sampai kita besar tapi tidak kuat fundrisingnya, selain itu juga sinergi dalam pembiayaan antar BMT. Ketiga, membangun image Wonosobo sebagi Barometer BMT Indonesia. Harapan ke depan, PBMT Wonosobo bisa memberi manfaat besar dalam melayani masyarakat Wonosobo. Secara pribadi, Eko memiliki niat kuat bahwa BMT Melati bisa go nasional dan menjadi barometer BMT nasional. Ia juga memiliki cita-cita sebagaimana Pak Saat Suharto Amjad sekarang yakni menjadi CEO Peromodalan BMT Ventura. Obsesi bagi Eko adalah semangat. Menyatukan BMT Indonesia. Tidak mungkin bisa besar, kalau tidak bersatu. Dan itu menjadi kekuatan BMT agar besar bersama Eko menutup perbincangan dengan Tamaddun. [zbr]

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

43

TAMZIS Menjawab
1). Pilihan Investasi di TAMZIS
Selamat Sore, Nama saya Dias, kemarin saya sempat melihat artikel mengenai kripik belut Godean, saya masuk dalam web www.TAMZIS.com. Saya tertarik ini dengan layanan investasi. Dalam bentuk apakah investasi yang disediakan oleh TAMZIS? apakah saya mungkin bisa ikut produk Investasi TAMZIS? Keuntungan yang akan saya dapat dan syaratnya apa saja? Mungkin sekian saja pertanyaan dari saya. Terima kasih. Salam Dias Amitriono.

Assalamu'alaikum wr. wb. Kami ucapkan terima kasih atas kunjungan bapak ke website kami. TAMZIS adalah lembaga keuangan non bank yang berbadan hukum koperasi. TAMZIS berperan sebagai penghubung antara anggota pemilik dana (investor) dengan para profesional usaha. TAMZIS menawarkan produk investasi yang diberi nama Ijabah, singkatan dari investasi berjangka mudharabah. Yaitu produk investasi semacam deposito di perbankan. Ada dua macam akad dalam Ijabah. Pertama, akad mudharabah mutlaqoh. Yaitu akad pembiayaan syariah dengan pola bagi hasil, dimana pemilik dana menyerahkan kebijakan sepenuhnya (mutlak) ke TAMZIS, kepada siapa dan ke jenis usaha apa dana yang dititipkan akan disalurkan. Pemilik dana akan mendapatkan bagi hasil sesuai nisbah dan porsi dananya terhadap keseluruhan penyaluran ijabah yang dilakukan TAMZIS. Pada ijabah akad mutlaqoh ini anggota pemilik dana (investor) tidak dapat terlibat langsung maupun tidak langsung dengan kegiatan usaha anggota pengelola dana. Kedua, akad mudharabah muqayadah atau akad pembiayaan syariah dengan pola bagi hasil bersyarat. Pada akad ini investor dapat menentukan kepada siapa dan ke

dalam jenis usaha apa dana akan disalurkan. Investor pun dalam batas tertentu dapat ikut terlibat dan mengontrol kegiatan usaha. Laba rugi dihitung individual dari usaha yang dipilih. Bapak Dias dapat memilih dari dua jenis akad di atas. Ada pun jenis usaha yang dibiayai TAMZIS masih didominasi sektor perdagangan baik di dalam pasar maupun di luar pasar. TAMZIS juga membiayai home industry seperti produk pangan (tahu, tempe, pengolahan beras, produksi makanan ringan dll), kerajinan, mebel dan sebagainya. Syarat untuk berinvestasi di TAMZIS sangat sederhana yaitu terlebih dahulu harus menjadi anggota TAMZIS. Persyaratan dan prosedur detail keanggotaan dapat bapak diskusikan dengan costumer service TAMZIS terdekat dengan tempat tinggal bapak. Terima kasih.

RUBRIK TAMZIS Menjawab berisi tanya jawab seputar Manajemen TAMZIS, Ekonomi Syariah dan Sektor Mikro. Kirimkan pertanyaan Anda ke alamat redaksi kami atau email: redaksitamaddun@gmail.com

44

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

2). Menunaikan Ziswaf Lewat TAMZIS


Assalamu'alaikum wr wb. Saya melakukan perjalanan dengan keluarga dari Yogyakarta ke Purwokerto, sengaja melewati kota Magelang, Temanggung, Wonosobo, dan Banjarnegara. Di kotakota tersebut saya melihat papan nama kantor TAMZIS hanya bertuliskan TAMZIS Baituttamwil. Saya ingin tahu, pertama apakah TAMZIS juga mengelola dana maal sebagimana BMT lain? Kedua apakah saya dapat membayarkan kewajiban zakat maal saya melalui pemotongan bagi hasil dari Ijabah yang saya miliki di TAMZIS? Atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih. Wa'alaikum salam wr.wb. Apa yang bapak sampaikan benar, bahwa papan nama KJKS TAMZIS hanya berupa neon box bertuliskan TAMZIS Baituttamwil. Meskipun demikian TAMZIS melayani juga transaksi maal sama dengan BMT lainnya. Kalau mau disebut lengkap maka TAMZIS menjadi BMTT atau (Baitul Maal wa Tamwil wa Ta'awun) artinya rumah maal, rumah bisnis dan rumah tolong menolong. KJKS TAMZIS terdiri dari tiga divisi utama yaitu: Pertama, divisi maal yang menghimpun dan menyalurkan zakat, infaq, sodaqoh dan wakaf (Ziswaf). Divisi ini diberi nama Tamaddun (sama dengan nama majalah ini). Penghimpunan dilakukan dari karyawan, anggota TAMZIS dan dari masyarakat umum. Selain dapat membayar infaq, sodaqoh dan wakaf yang bersifat sukarela, karyawan TAMZIS setiap bulannya dipotong zakat 2,5 % dari gaji bulanannya. Anggota TAMZIS juga dapat membayar semua produk maal di atas. Jika bapak pemilik rekening Ijabah, sebenarnya pada form pembukaan rekening ada opsi yang menawarkan apakah bagi hasil Ijabah bapak akan dipotong zakat atau tidak. Jika bapak mengijinkan, maka pemotongan zakat dari bagi hasil Ijabah bapak setiap bulan dilakukan secara otomatis oleh sistem TAMZIS. Sebagian besar anggota sangat terbantu dengan fitur ini. Mereka ingin dana yang diperolehnya sudah disucikan lewat sistem TAMZIS. Untuk itu mintalah Customer Service kami melakukan aktivasi fitur tersebut. Penyaluran zakat bapak dilakukan oleh Tamaddun dalam berbagai bentuk kegiatan sosial seperti pembiayaan modal kerja dengan akad qordul hasan, beasiswa, bantuan untuk ustadz di daerah mayoritas non muslim, edukasi syariah dan lain lain. Bapak pun dapat menitipkan dana infaq, sodaqoh dan wakaf bapak ke Tamaddun yang dilayani di semua kantor cabang TAMZIS. Kedua, divisi tamwil. Divisi ini tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut karena bapak tentu sudah mendapat informasi yang cukup. Ketiga, divisi ta'awun atau tolong menolong. Divisi ini bertugas menghimpun dan mengelola dana hibah para anggota TAMZIS yang mendapat pembiayaan. Dana yang dikelola nantinya digunakan untuk menolong anggota TAMZIS yang mengalami musibah bencana alam seperti kebakaran, gempa bumi, atau sakit yang berkepanjangan yang menyebabkan anggota kesulitan melanjutkan pembiayaan. Mereka yang terkena musibah ini dilunasi sebesar sisa pembiayaannya. Itulah sebabnya divisi ini disebut sebagai divisi tolong menolong. Semoga penjelasan ini dapat membantu bapak. Terima kasih. []

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

45

Ekonomi Syariah

Pembiayaan Multi Jasa


Dalam kehidupan seharihari, masyarakat memiliki kebutuhankebutuhan yang harus dipenuhi baik kebutuhan primer, sekunder maupun tersier. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut ada kalanya masyarakat tidak memiliki cukup dana untuk memenuhinya. Oleh karenanya, masyarakat mencari dana kepada lembaga keuanagan bank dan lembaga keuangan non bank.

(market share) perbankan syariah di Indonesia yang sampai saat ini belum menembus batas 5 % sebagaimana yang diharapbkan BI. Dengan membuat produk yang inovatif seperti ini akan menyebabkan minat masyarakat untuk menggunakan perbankan syariah semakin tinggi. Demikian juga, produk yang kompetitif ini tetap harus sesuai dengan prinsip-prinsip syariah (shariah compliance). Salah satu pembiayaan yang bisa dijadikan produk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat diatas (biaya pendidikan, pengobatan, pernikahan dll) dalam fatwa DSN MUI disebut dengan pembiyaan multijasa. Memahami Produk Multijasa Secara terminologi atau menurut bahasa multijasa terdiri dari dua (2) kata, multi yaitu banyak dan jasa yaitu perbuatan yang berguna atau bernilai bagi orang lain. Jadi multijasa adalah perbuatan atau manfaat yang bermacammacam gunanya bagi orang lain. Pembiayaan multijasa merupakan fasilitas pembiayaan untuk konsumtif yang tidak bertentangan dengan syariah, seperti pendidikan, kesehatan, pernikahan, umrah atau haji dan lainnya.

D
46

iantara kebutuhan masyarakat saat ini adalah kebutuhan untuk biaya pendidikan, pengobatan, pernikahan dan lainnya. Kondisi inilah yang mendorong LKS (Lembaga Keuangan Syariah) untuk membuat produk yang inovatif guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin hari semakin bervariasi tersebut. Alasan lain LKS membuat produk ini adalah upaya LKS untuk meningkatkan pangsa pasar

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Dengan pembiayaan multijasa ini LKS memberikan nilai manfaat kepada anggota atau nasabah, kemudian anggota atau nasabah akan membayar fee (ujrah) sebagai kompensasi atas manfaat yang telah diperolehnya dengan cara mengangsur atau melunasi sekaligus sesuai dengan kesepakatan diawal akad. Bagi LKS, melalui pembiayaan multijasa ini LKS mendapatkan kemudahan dalam mengelola likuiditasnya, karena dapat menyalurkan pembiayaan dengan memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap jasa-jasa yang dibenarkan secara syara'. Pijakan Hukum Multijasa Produk LKS memang banyak, beragam, dan mudah dilaksanakan, karena seirama dan sejalan dengan transaksi di sektor riil. Tapi ia memiliki karakter, prosedur dan teknik yang harus diikuti dengan disiplin. Jika tidak, maka ia tidak lebih sekedar produk di perbankan konvensional dengan nama Arab. Ia akan kosong dari falsafah keuangan Islam yang saling menguntungkan, aman dan tidak cenderung inflatoir alias berpotensi menciptakan gelembung uang seperti yang terjadi di dunia keuangan konvensional. Kalau nama akadnya saja yang dipakai sementara substansinya mengikuti tradisi keuangan konvensional, ia akan kehilangan ruh alias elanvital yang dapat menjaga sistem ketahanan ekonomi di habitatnya. Produk pembiayaan multijasa merupakan produk inovasi LKS yang lahir dari fatwa DSN MUI. No. 40/2004 tentang pembiayaan multijasa. Dalam perkembangannya produk ini meliputi berbagai produk pembiayaan yang melayani semua jasa (multiguna). Secara prinsip tidak masalah, hanya saja tetap harus mengikuti prosedur dan teknik secara disiplin agar, karakter dan falsafah akad yang digunakan tidak hilang. Karakteristik dari pembiayaan multijasa adalah nilai manfaat yang diberikan LKS kepada anggotanya/nasabah atas suatu jasa. Hukumnya jaiz (boleh) dengan menggunakan

akad ijarah dan kafalah. Kalau LKS menggunakan akad ijarah dalam melaksanakan skema pembiayaan mutijasa, maka harus mengikuti semua ketentuan yang ada dalam akad ijarah. Begitu pula jika LKS menggunakan akad kafalah, maka harus mengikuti semua ketentuan yang ada dalam akad kafalah. Dalam kedua akad pembiyaan multijasa tersebut LKS mendapatkan fee (ujrah). Skema Akad Pembiayaan Multijasa Pembiayaan multijasa ini merupakan implementasi dari fatwa DSN MUI. No 44 tahun 2004. Sehingga bagi LKS yang mengaplikasikan dalam produk pembiayaannya dari segi hukum Islam sudah sah. Yang perlu diperhatikan kemudian bagaimana akad yang akan digunakan dan bagaimana prosedur dan teknik pelaksanaannya. Mengacu pada fatwa DSN MUI. No. 44 akad yang digunakan untuk pembiayaan multijasa adalah akad ijarah dan kafalah. Dalam hal LKS menggunakan akad ijarah maka segala ketentuan ijarah yang tercantum dalam fatwa DSN No. 09 / 2000 harus dikuti. Begitu pula jika LKS dalam pembiayaan multijasa menggunakan akad kafalah, maka segala ketentuan kafalah yang tercantum dalam fatwa DSN No. 11/2000 juga harus diikuti. Pembiayaan multijasa dengan akad ijarah. Jika mengacu pada fatwa DSN tentang ijarah, maka LKS membeli/menyewa aset (ijarah muwazi/ bertingkat) dan menyewakannya kepada nasabah atau anggota, lalu nasabah menyewanya secara cicilan. Ini jika objek sewanya adalah barang. Tetapi jika objeknya adalah jasa maka LKS memberikan jasa atas manfaat kepada anggota atau nasabah. Dengan demikian LKS dapat memperoleh imbalan jasa (ujrah) atau fee atas pelayanan yang dilakukan terhadap anggota. Besar ujrah atau fee harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal bukan dalam bentuk prosentase. Sedang pembiayaan multijasa dengan menggunakan akad kafalah. Disini LKS menjadi

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

47

Ekonomi Syariah

Setiap akad dalam syariah mempunyai teknik dan prosedur yang harus diikuti secara disiplin. Tidak dibenarkan bagi LKS karena alasan efisiensi dan efektifitas, LKS menabrak teknik dan prosedur ini yang berdampak pada hilangnya karakter dan filosofi dari akad yang digunakan.

kafil (penjamin) atas kebutuhan anggota yang dapat ilustrasinya sebagai berikut: LKS bertindak sebagai penjamin/ penanggung (kafil) atas kewajiban nasabah (makful 'anhu) kepada pihak ketiga (makful lahu). Teknik dan prosedur pembiayaan dilakukan dengan cara LKS menjamin kebutuhan anggota dengan membayar langsung kepada pihak ketika (makful lahu) atau LKS mentransfer langsung dana ke rekening pihak ketiga/ makful lahu (bukan ke rekening nasabah sebagaimana yang terjadi selama ini), untuk kemudian nasabah atau anggota melunasi sekaligus atau mencicil kewajibannya kepada LKS selama jangka waktu tertentu. Dalam pembiayaan multijasa dengan akad kafalah ini, LKS dapat memperoleh imbalan jasa (ujrah) atau fee sepanjang tidak memberatkan. Dan kafalah dengan imbalan bersifat mengikat dan tidak boleh dibatalkan secara sepihak Multijasa dalam Praktek Setiap akad dalam syariah mempunyai teknik dan prosedur yang harus diikuti secara disiplin. Tidak dibenarkan bagi LKS karena

alasan efisiensi dan efektifitas, LKS menabrak teknik dan prosedur ini yang berdampak pada hilangnya karakter dan filosofi dari akad yang digunakan. Misalnya dalam melaksanakan pembiayaan multijasa ini, biasanya LKS mewakilkan kepada anggota atau nasabah untuk membayar atau melunasi kebutuhan yang telah disepakati dalam akad apakah itu ijarah atau kafalah. Sehingga transaksi pembiayaan multijasa ini dilakukan sama seperti akad murabahah bil wakalah. Padahal adanya ujrah yang harus dibayar oleh anggota atau nasabah kepada LKS, meniscayakan LKS melakukan aktifitas, sehingga ada alasan bagi LKS memperoleh ujrah atas manfaat yang diberikan. Maka realisasi pembiayaan multijasa kepada anggota atau nasabah dilakukan dengan cara LKS membayar atau mengurus langsung kepada pihak ketiga, atau mengirim langsung ke rekening pihak ketiga (bukan ke rekening nasabah sebagaimana yang terjadi selama ini). Jika LKS tidak melakukan aktifitas apapun, misalnya dengan membayarkan, menguruskan kemudian LKS meminta ujrah, maka esensi pembiayaan yang seharusnya multijasa berubah menjadi qord. Karena teknis dan prosedur demikian lebih tepat untuk pembiayaan dengan qord. Bukan untuk pembiayaan multijasa yang menggunakan akad ijarah atau kafalah. Salah satu upaya agar dalam melaksanakan pembiayaan multijasa baik dengan akad ijarah atau kafalah benar dan aman dari sisi syariah, maupun risk management, adalah mendorong LKS untuk menciptakan kerjasama sebanyak-banyaknya dengan penyedia jasa, seperti sekolah, rumah sakit, agen perjalanan (untuk umroh) dan lainlain, meskipun sebagian ulama masih keberatan dengan pembelian jasa pendidikan seperti sekolah. Bagaimanapun, jika mengikuti pendapat yang lebih bebas dari Imam Abu Hanifah, tentu semua jasa dibolehkan selama halal dan thayyib. (wallahu 'alam bisshowab). [Maksun dari banyak sumber]

48

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Kamus Ekonomi Syariah

ARIYAH: Pinjaman; meminjamkan suatu barang dari seseorang kepada orang lain secara cumacuma. Para fuqaha' mendefinisikan 'ariyah sebagai pembolehan oleh pemilik akan miliknya untuk dimanfaatkan oleh orang lain dengan tanpa ganti (imbalan). BAI' AL WAFA: Jual beli yang dilangsungkan dua pihak yang dibarengi dengan syarat bahwa barang yang dijual itu dapat dibeli kembali oleh penjual, apabila tenggang waktu yang ditentukan telah tiba. CASH BASIS: Asas tunai; pencatatan pendapatan dan pengeluaran yang dilakukan saat penerimaan atau pengeluaran tunai. CASH IN HAND: Kas di tangan; Uang tunai atau bentuk lain yang dipersamakan yang dimiliki. DAIN: Pinjaman atau hutang; Etika Islam dalam utang piutang adalah harus ditulis dan disaksikan oleh dua orang laki laki, atau seseorang lakilaki dan dua orang perempuan yang adil sesuai alQur'an surat alBaqarah ayat 282. DHAMAN: Jaminan utang, atau dalam hal

lain menghadirkan seseorang atau barang ke tempat tertentu untuk diminta pertanggungjawabannya, atau sebagai barang jaminan. FAI': Harta rampasan yang didapat dengan baik melalui perang. Dalam fiqih kontemporer, fai' diartikan sebagai pendapatan negara selain zakat. INSIDER TRAIDING: Menyebarluaskan informasi yang menyesatkan atau memakai informasi orang dalam untuk memperoleh keuntungan transaksi yang dilarang. JA'ALAH: Memberi imbalan atau bayaran kepada seseorang sesuai dengan jasa yang diberikannya kepada kita. JIZYAH: Pajak yang dibayar oleh kalangan non muslim sebagai kompensasi atas sosial ekonomi, layanan kesejahteraan, serta jaminan keamanan. MARHUN BIHI: Dana rahin; dana yang diperoleh oleh rahin (nasabah) setelah aplikasi rahnnya diterima oleh pihak murtahin (bank), dengan syarat setelah ada penyerahan marhun (jaminan) ke pihak murtahin.

MAUQUF: Terhenti, objek wakaf; harta benda yang akan diwakafkan, harus jelas wujudnya atau zatnya dan bersifat abadi. NAJSY: Penawaran palsu; yakni penawaran atas sesuatu barang yang dilakukan bukan karena motif untuk membeli, tetapi hanya bermotifkan agar pihak lain berani membelinya dengan harga tinggi. AKAD MAUQUFAH Secara bahasa berarti akad yang ditangguhkan. Maksudnya ialah akad yang dilakukan oleh seseorang/badan hukum yang dipandang sebagai cakap hukum (orang yang dapat bertindak hukum tanpa bantuan orang lain) namun ia tidak bisa melangsungkan akad tersebut karena kekuasaannya terhadap objek akad belum ada padanya. AKAD MAMNUU'AH Akad yang terlarang menurut syara', seperti membeli ikan dalam kolam dan membeli buahbuahan yang masih di pohon.
Sumber: Kamus Ekonomi Syariah Alifa Digital Media

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

49

Pustaka Syariah

Judul Buku : Islamic Risk Management For Islamic Bank Penulis : Prof. Dr. Veithzal Rivai, SE. MM. MBA dan Rifki Ismail, SE. M.Ec. Ph.D Penerbit : Gramedia Tahun : 2013 Bank merupakan unit bisnis yang terbanyak diatur dibandingkan dengan unit bisnis lainnya, serta bisnis yang dilengkapi dengan berbagai pagar dan rambu rambu pengaman sebagai proteksi agar bisnis bank tetap terpelihara dengan baik, sebagaimana kita tahu bahwa bank sebagai unit bisnis yang lebih mengedepankan atau menjadikan lembaga bisnis yang amanah. buku ini selain mengurai aspek manajemen risiko yang lazim dalam bisnis perbankan, juga lebih mengemukakan perlunya bank diurus oleh figurfigur yang menjunjung tinggi etika bisnis dalam perspektif Islam, berakhlak mulia sebagaimana dicontohkan Rasulallah Saw., sehingga para bankir bukan saja mahir dan piawai dalam operasional bank akan tetapi juga memiliki akhlakul karimah dan beretika, sehingga dalam setiap aktivitasnya lebih mengedepankan Clean Govervance. Buku ini dipersiapkan untuk praktisi perbankan Islam, BPRS, BMT, mahasiswa S1, S2 dan S3 serta masyarakat pengamat dan pecinta ilmu pengetahuan untuk melengkapi dan memutakhirkan pengetahuan.

Judul Buku Penulis Penerbit Tahun

: Manajemen Baitul Mal Wa Tamwil : Dr. H. Ahmad Hasan Ridwan, M.Ag : Pustaka Setia : 2013

Ekonomi syariah di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini ditandai dengan banyak berdirinya lembaga keuangan yang secara konsep ataupun operasional menggunakan prinsipprinsip syariah. Basis utama sistem ekonomi syariah terletak pada aspek kerangka dasarnya yang berlandaskan syariat, tetapi juga pada aspek tujuannya, yaitu mewujudkan suatu tatanan ekonomi masyarakat yang sejahtera berdasarkan keadilan, pemerataan, dan keseimbangan. Atas dasar itulah, pemberdayaan ekonomi syariah di Indonesia hendaknya dilakukan dengan strategi yang ditujukan bagi perbaikan kehidupan dan ekonomi masyarakat. Dalam buku ini dibahas dua lembaga keuangan syariah, yaitu Baitul Mal Wa Tamwil (BMT) dan Lembaga Zakat (LAZ). Baitul Mal Wa Tamwil (BMT) adalah lembaga keuangan nonbank sebagai balai usaha mandiri terpadu yang merupakan bait almal wa attamwil, yaitu lembaga yang mengembangkan usahausaha produktif dan investasi untuk meningkatkan kualitas usaha para pengusaha kecil dan mendorong bentukbentuk investasi dengan tujuan pemberdayaan usaha duniawi dan ukhrawi melalui infak, zakat, dan sedekah. Sebagai lembaga keuangan nonperbankan yang bersifat informal, BMT berusaha menciptakan sistem manajemen yang diwarnai sepenuhnya oleh nilainilai dasar yang islami dan bertitik tolak dari prinsip keadilan, kemanusiaan, tolongtolong, kekeluargaan, dan kerjasama.

50

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Jendela Keluarga

Ajaklah Ananda Belanja Ke Pasar Tradisional


Sehingga, meskipun setiap hari anak bersama orang tuanya, namun seolah-olah ia jauh dari orang tuanya. Inilah yang sering psikolog sebut, anak butuh kehadiran dan peran kita, bukan sekedar adanya kita saja. Terlebih lagi dengan adanya teknologi, yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh. Selain itu juga kita dituntut untuk tidak hanya hadir dikeluarga secara fisik saja, namun juga bersama dengan peran, fungsi dan sisi emosi kita. Maka, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana caranya? Ananda dan Pasar Tradisional Untuk menjawab pertanyaan di atas, penulis yakin masing-masing orang tua punya caranya sendiri-sendiri. Bagi penulis sendiri, pasar tradisional bisa menjadi salah satu jawaban agar anak merasa dibersamai orang tuanya. Pertanyaannya bagaimana bisa? Kenapa harus pasar tradisional bukan mall, supermarket atau minimarket? Jika kita perhatikan dengan seksama, sebenarnya ada pelajaran luar biasa yang bisa kita berikan kepada anak-anak kita dengan mengajaknya liburan belanja ke pasar tradisional. Dan hal ini tidak akan kita temukan jika ke mall, supermarket atau minimarket. Pertama, bahwa pasar tradisional merupakan tempat berkumpulnya banyak orang yang berbeda, baik jenis kelamin, usia, bahasa, karakter, ras, warna kulit dan sebagainya. Sedikit demi sedikit anak kita akan belajar banyak; menerima perbedaan, mengerti keragaman dan saling menghargai sesama.

ebagai orang tua, tentu kita seringkali diajak oleh keluarga, khususnya anak, untuk berlibur. Ajakan tersebut biasanya datang kalau hampir sebulan penuh kita tidak intens bersama mereka. Jadi wajar kalau ada keinginan untuk sekedar bersama seharian dengan berjalan-jalan atau liburan baik ke tempat wisata atau sekedar ke pusat keramaian. Waktu yang dipilih pun biasanya akhir pekan atau akhir bulan. Namun, sesungguhnya, yang diperlukan oleh anak-anak kita ialah perasaan bahwa ia selalu dibersamai orang tuanya, terlebih ketika ia membutuhkan. Misalnya, sebagai teman bermain, meminta pertolongan, mengadu dan melimpahkan tangisan. Justru perasaan selalu dibersamai oleh orang tuanyalah yang jarang dirasakan anak-anak kita.

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

51

Jendela Keluarga
Kedua, kita menemukan keramahan sekian banyak orang. Karena setiap melewati pedagang, kita pasti akan disapa, Pak, bu, dek tumbas jajan (beli jajan). Semakin lama berkeliling di pasar maka akan semakin banyak keramahan yang kita jumpai. Apalagi sapaan khas pedagang pasti dengan senyuman. Ini pelajaran menarik bagi anak untuk terbiasa menyapa terlebih dahulu disertai senyuman. Ketiga, terdapat interaksi secara langsung dengan pedagang. Terutama dalam proses tawar menawar harga. Hampir semua barang-barang di pasar tradisional, mulai dari sayur mayur, buah-buahan, pakaian, gerabah sampai dengan elektronik, bisa ditawar. Yang menarik dalam proses tawar menawar akan semakin mengeratkan antara kita dengan pedagang. Apalagi, biasanya pedagang punya trik khusus dengan guyonan, sehingga sama-sama enak dan cair. Tak heran jika lebih dari tiga kali membeli di pedagang yang sama, maka kita seolah sudah jadi saudara, bahkan kadang sudah tidak perlu tawar menawar dan dikasih harga pelanggan. Apalagi jika sudah berbelanja lebih dari sepuluh kali, pasti kalau kita punya hajatan, pedagang tersebut akan datang. Kalau sudah begini, maka yang terjadi tidak hanya hubungan penjual dan pembeli tapi persaudaraan lintas generasi. Keempat, mengajari anak kita belajar bertransaki secara benar. Kita tahu bahwa salah satu syarat jual beli adalah adanya kerelaan (antarodin) antara penjual dengan pembeli. Adanya proses tawar menawar tentunya dalam rangka menuju kerelaan tersebut. Dalam hal ini, bahkan kita bisa mengajari anak kita untuk menerima barang dan membayarnya sendiri. Mengajari mereka mengenal pecahan uang sekaligus matematika sederhana. Kelima, mengajari anak peduli sosial. Sebagai orang tua, kita tahu bahwa tujuan kita berbelanja ke pasar tradisional tidaklah sekedar memenuhi kebutuhan. Namun, jauh didalamnya kita ingin turut membantu para pedagang pasar tradisional mencukupi kebutuhan sehariharinya. Terlebih, banyak pedagang di pasar yang menjadi tulang punggung keluarga. Artinya, secara tidak langsung kita mengajak anak kita untuk peduli sosial. Selisih jual Rp 200, Rp 500 hingga Rp 1.000, adalah keuntungan yang sangat berarti bagi pedagang pasar. Bahkan, pedagang seringkali menjual impas bila sudah kenal baik dengan pelanggannya. Karenanya, kita sering mendengar lontaran pedagang gak untung gak papa mas yang penting kembali modal dan besok bisa kulakan lagi. Keenam, mengajarkan anak mengolah makanan sendiri. Kalau yang ini, barangkali lebih subjektif dari sisi pribadi penulis. Penulis mendapati bahwa sepulangnya anak diajak belanja dari pasar tradisional, ia akan segera membongkar belanjaan. Setelah satu persatu ditanyakan, maka mulailah ia menawarkan bantuan pada ibunya untuk ikut memasak. Hal ini, penulis lihat sebagai keterlibatan emosional ketika ia memilih barang-barang dan membayarnya di pasar. Karena saking seringnya, ia kini telah terbiasa membantu ibunya setibanya dari pasar. Banyaknya pasar tradisional baik di tingkat kabupaten, kecamatan bahkan desa semakin memudahkan kita mengajak keluarga dan anak kita ke pasar. Ada yang harian, dua harian dan pasaran (5 hari sekali). Kita tinggal mengatur waktu mana yang kita bisa. Bahkan banyak yang pagi buta sudah ramai beraktifitas. Tidak perlu berlama-lama, jika waktunya mepet, cukup satu jam. Meski hanya sebentar, keenam manfaat di atas rasanya sudah bisa kita berikan pada anak kita. Sehingga, mengajak anak kita belanja ke pasar tradisional tidak hanya sekedar memuhi kebutuhan sehari-hari saja. Namun, kalau boleh dikatakan, terdapat multifungsi. Pertama, membersamai anak kita dalam proses belajar, jalan-jalan, sekaligus berwisata. Kedua, mengajarkan banyak hal yang tidak bisa ditemukan di mall, supermarket atau minimarket. Ketiga, belanja ke pasar tradisional merupakan salah satu gerakan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Mari biasakan keluarga kita belanja di pasar tradisional. [Abu Arina]

52

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Berita Karyawan

Pernikahan Telah Melangsungkan Pernikahan:


1. Purnomo (IC TAMZIS Pusat) dengan Sita Nur Maghfiroh. Akad nikah, Banjarnegara 6 Juni 2013. 2. Ponco Raharjo (FO TAMZIS Jakarta) dengan Nur'ain. Akad nikah, Jakarta 30 Juni 2013. 3. Oki Marta Nugraha (Admin TAMZIS Cimahi) dengan Siti Aisyah. Akad nikah, Bandung 1 September 2013. 4. Slamet (Marketing TAMZIS Kroya) dengan Endah Setiani. Akad nikah, Purbalingga 3 September 2013. 5. Slamet Vaoyan (IT TAMZIS Pusat) dengan Amini. Akad nikah, Wonosobo Jum'at 25 Oktober 2013. 6. Jaka Saptawijaya (Marketing TAMZIS Ciateul) dengan Lira Finalista. Akad nikah, Ahad 10 November 2013 di Bandung.
Segenap keluarga besar TAMZIS mengucapkan selamat atas pernikahan tersebut, semoga terbina keluarga sakinah mawadah warahmah. Amiin.

Kelahiran Dianugerahi Putra-Putri:


1. Radithya Chandra Arsakha, putra kedua dari pasangan Syukur (Bendahara TAMZIS Pusat) dan Ismy. Lahir di Wonosobo, 17 Juni 2013. 2. Zanetta Addia Alesha PK, putri kedua dari pasangan Ganda Untung K (MMC TAMZIS Kertek Wonosobo) dan Endah Saraswati S. Lahir di Wonosobo, 29 Juni 2013. 3. Delisa Nanda Rossari, anak kedua dari pasangan Suroso (MAC TAMZIS Kejajar) dan Ari Priyati. Lahir di Wonosobo, Senin 15 Juli 2013. 4. Gabrillian Bilqis Anthoni, anak kedua dari pasangan Agustri Anthoni (MAC TAMZIS Temanggung) dan Kristiyarini. Lahir di Wonosobo, 27 Juli 2013. 5. Mahira Sakira, anak kedua dari pasangan Ahmad Yusuf (AO TAMZIS Temanggung) dan Siti Nurasih. Lahir di Temanggung, 26 Agustus 2013. 6. Callysta Faidah Sakhi, putri kedua dari Agustin Zullaycha (Personalia TAMZIS Pusat) dan Aan Setiawan. Lahir di Wonosobo, 27 Agustus 2013. 7. Azizah Syafiyah Tabina, putri kedua dari pasangan Ahmad Gunawan Saputra (AO TAMZIS BCR) dan Novy Eka Widyanti. Lahir 8 September 2013. 8. Kinara Ayudia Putri Kinasih, putri kedua dari pasangan Fredi Antoro (Marketing TAMZIS Muntilan) dan Dwi Martdalena. Lahir di Magelang, 12 Oktober 2013. 9. Fakhri Sholahuddin Askari, putra ketiga dari pasangan Rena Bangun Luhur (TAMZIS Pusat) dan Sunarsih. Lahir di Wonosobo, Selasa 15 Oktober 2013.
Segenap keluarga besar TAMZIS mengucapkan selamat atas kelahiran putraputri tersebut, semoga menjadi anak yang sholehsholehah, berguna bagi agama bangsa dan negara. Amiin.

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

53

Inspirasi

MUHAMMAD ROSIM

Menjahit Rizki Melalui Seragam Sekolah

S
54

etiap usaha tak harus dimulai dari diri sendiri. Mengingat, setiap usaha butuh beberapa persiapan agar usaha tetap berjalan. Dalam setiap usaha, minimal harus ada modal, pengalaman atau keahlian, cocok dengan pasar atau kebutuhan masyarakat. Ketiga hal tersebut harus berseiringan dalam menjalani usaha. Kalau tidak, siap-siap saja berhenti di tengah jalan. Tak ubahnya dengan M. Rosim (51), pria asli Cirebon ini, mulai merintis usaha awalnya
Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

ikut usaha orang lain yang kebetulan Guru mulai tahun 1990 hingga 1995 dalam bidang konveksi terutama seragam sekolah. Selama lima tahun Rosim belajar usaha dan keahlian. Pada tahun 1996, Rosim ingin mandiri dan membuka usaha. Waktu itu, pria lulusan S3 (bukan Doktoral tapi SD, SMP dan SMA, jelasnya sambil bercanda) mempunyai modal tidak sampai Rp 10 juta. Tetapi karena keahlian dan pengalamannya, suami Titin Hasanah (44) bisa tumbuh berkembang.

Dalam menjalankan bisnis, antara Rosim dan istrinya memiliki tugas masing masing. Rosim sebagai sales dan belanja bahanbahan. Sedang istrinya, sebagai administrasi sekaligus bendahara.

Bisnis Seragam Rosim Bisnis yang prospek adalah usaha yang selalu dibutuhkan pasar. Tak salah bila Rosim mengambil usaha konveksi khususnya seragam sekolah. Setiap tahun kebutuhan pasar akan seragam sekolah selalu bertambah. Dan tetap ramai. Terutama, waktu ajaran baru masuk sekolah. Apalagi kebanyakan pihak sekolah menjadikan seragam sekolah menjadi satu paket dengan beberapa pembayaran sekolah penerimaan siswa baru. Rosim juga tak hanya menerima pesanan seragam sekolah formal, tapi juga menerima pesanan pakaian olah raga dan pakaian muslim, seperti baju koko misalnya. Ditanya soal merk, Rosim mengatakan sengaja tidak pakai merk tertentu, karena memang yang menggunakan adalah muridmurid sekolah. Ketika pasang merk, biasanya disalah artikan dan cenderung bersifat negatif. Dengan tidak ada merk, menandakan objektifitas dalam memesan seragam sekolah. Asal kualitas bagus, tepat waktu dalam pemesanan dan harga pun ketika ditawarkan bagi murid sekolah tidak memberatkan. Dalam menjalankan bisnis, antara Rosim dan istrinya memiliki tugas masing-masing. Rosim sebagai sales/ pemasaran ke sekolahsekolah dan belanja bahan-bahan yang

dibutuhkan dalam produksi seragam sekolah. Sedang istrinya, sebagai administrasi sekaligus bendahara. Ayah dari Fatiyatus Syifa, Tazkiya Putri Tiara Sani dan Salsa Anisa Sehatul Aqliya ini menjelaskan, dalam Produksi seragam biasanya sekalian. Tentu sudah memiliki pertimbangan tertentu, berapa yang akan diproduksi, berapa jenis pakaian yang akan diproduksi dan juga kenaikan harga bahan dasar seragam. Selain itu, yang juga menjadi pertimbangan adalah mengacu pada hasil penawaran dari pihak sekolah sebelum produksi. Selebihnya, sebagai stok dalam memenuhi kebutuhan sekolah yang mendesak. Soal harga, satu pasang baju seragam dibandrol berbeda-beda. Untuk SD rata-rata Rp 55 ribu. SMP seragam panjang rata-rata Rp 85-90 ribu. Dan untuk SMA rata-rata antara Rp 90 hingga Rp 100 ribu. Secara matematis, dapat dihitung secara sederhana. Misalnya, bila ada pesanan sembilan kelas dari SMP dan SMA, setiap kelas ada 40 siswa berarti bisa di kalikan 9x 40 siswa = 360 x 70 ribu (harga seragam perpotong dihitung rata-rata) akan ketemu Rp 2.520.000,-. Ini masih satu potong. Bila ada tiga potong bisa mencapai Rp 7.560.000,-. Itu baru satu nama sekolahan. Seandainya, Rosim dapat order lebih dari 50 sekolah dikali sembilan kelas sudah berapa potong seragam yang harus digarapnya. biasanya, pembayaran dilakukan pada saat tahun ajaran barukata Rosim. Yang paling penting, MOU atau kesepakatan dengan pihak sekolah jauh-jauh hari sehingga ketika dibutuhkan seragam sudah tersedia. MOU hanya sebagai pengikat saja tambahnya. Wajar, bila Rosim produksi terus setiap bulan. Januari hingga bulan Oktober biasanya produksi seragamnya. November hingga Desember biasanya melayani kebutuhan sekolah swasta. Kendala dan Tips Pengembangan Dalam meningkatkan aset dan omset, Rosim biasanya melakukan pemasaran ke

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

55

Inspirasi
sekolah-sekolah. Menunjukkan produk seragam yang dibuat, bahan dan kualitas jahitan serta harga yang selama ini bisa dikerjasamakan dengan sekolah. Beberapa sekolah yang sudah menjadi langganan Rosim, biasanya bercerita ke sekolah lain, getok tular (dari mulut ke mulut). Sehingga beberapa sekolahpun memesan ke Rosim. Tentu, bukan tanpa alasan, karena memang kualitas produk Rosim bagus dan tidak pernah mengecewakan. Dan pelayanan yang tepat waktu serta menjaga nama baik pihak sekolah. Bukan tanpa kendala, Rosim menjelaskan ada beberapa kesulitan dalam mengelola usaha konveksinya antara lain. Pertama, tenaga kerja yang betul-betul ahli menjahit. Biasanya, Rosim memang sengaja melatih orang-orang dilingkungan kampungnya untuk diajari menjahit, itupun baru dianggap ahli bila sudah enam bulan bekerja di tempatnya. Tapi tak jarang pula, setelah dilatih dan bisa kemudian keluar bekerja di tempatnya. Kedua, tepat waktu. Kerjasama dengan sekolah dalam menyediakan seragam, Rosim memang selalu komitmen untuk tepat waktu. Selain menyangkut kepercayaan, juga menyangkut menjaga nama baik sekolah itu sendiri. Dengan begitu, Rosim selalu mendapat kepercayaan setiap tahunnya. Ketiga, kebutuhan modal. Memang modal dalam setiap usaha menjadi kebutuhan utama. Apalagi, usaha konveksi yang menggunakan sistem orderan dan saling percaya. Modal yang harus dipunyai harus dua kali lipat. Satu, modal untuk produksi. Dua, modal untuk menomboki dulu orderan hingga sesuai dengan waktu kesepakatan membayar. Pria yang tinggal di Jalan TPU II Kalimulya II (Kebon Duren I) Depok ini bercerita, ketika awal-awal mulai produksi sudah biasa hutang pada saudara atau teman dekatnya yang mempunyai kelebihan modal. Kemudian setelah dihitung-hitung bagi hasilnya lumayan yang diberikan kepada pemilik modal. Tapi masih bersyukur ada yang meminjami modal. Setelah dihitung, bagi hasil yang diberikan sampai 2%, jadi kalau mendapat keuntungan Rp 80 juta harus memberi bagi hasil Rp 16 juta. Tapi alhamdulillah sejak empat tahun yang lalu sudah tidak meminjam untuk modal bahkan sekarang sudah bisa Ijabah (deposito) di TAMZIS. Bagi Anda yang ingin usaha sama dengan Rosim ada beberapa tip-tip pemasaran yang harus anda ingat yakni, jujur, berusaha tepat waktu, harga bersaing (servis) dan pemasaran ke sekolah. Tahu dunia pendidikan serta tahu unggah ungguh (sopan santun). Servis ke sekolah itu berbeda-beda, ada yang meminta fee. Diskon/cas back hanya bahasa yang beda, intinya sama. Atau yang kedua, melalui kesepakatan akad. Misalnya, saya jual sekian, lalu terserah bapak mau jual berapa ungkap Rosim. Ketika ditanya Tamaddun, bagaimana meningkatkan produksi? Ia menjawab, sesuai dengan kemampuan saja. Jadi stabil. saya orangnya gak serakah, biar gak jadi masalah dan tidak dimaki-maki orang jawabnya. Hingga kini usahanya mampu menyerap tenaga kerja 24 orang di rumahnya. 7 orang di Bogor, di Celengsih kurang lebih 20 orang dimana semua bahan, potong, benang dan pola sudah disediakan dari rumah Rosim. Ke depan ada rencana pengembangan buka toko. Itupun kalau menemukan tempat yang strategis dan murah. Adapun kegiatan sehari-hari, Rosim tetaplah sebagai warga Depok pada umumnya yaitu mengikuti Arisan RT dan di malam Jum'at biasanya mengadakan kajian mingguan baca Qur'an sesuai tajwid, yasinan, serta dilanjutkan tanya jawab agama. Kenal dengan TAMZIS sejak 2009, sebagai lembaga keuangan syariah. Selain itu, bagi hasil yang lumayan dibanding dengan lembaga keuangan lain. Menabung gampang, sevisnya enak. Kadang-kadang dijemput kerumah. Hingga kini, ia percaya ke TAMZIS dengan menaruh puluhan juta untuk Ijabah (Investasi berjangka mudharabah). [zbr]

56

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

JOKO PURNOMO

Sukses Mendring, Sukses Mencicil Keuntungan

iang itu, para pedagang dan para pengunjung pasar saling bertransaksi, meski sebagian pasar-pasar tradisional Bantul masih beralas tanah. Setelah melewati lorong-lorong pasar saya menemui karyawan TAMZIS yang akan mengajak saya bertemu dengan salah satu anggota TAMZIS Bantul. Kami pun diantar berjalan kaki. Kira-kira tak lebih dari sepuluh menit. Ternyata rumahnya tak jauh dari pasar. Rumahnya masih belum sepenuhnya dicat. Terkesan baru selesai dibangun. Inilah rumah tinggal Joko Purnomo (44). Joko Purnomo, biasa dipanggil Joko oleh kolega, tetangga dan bagi pedagang pasar. Joko yang setiap harinya sibuk melayani warga atau pedagang yang ingin memiliki barang secara kredit. Selain itu, Joko juga menarik cicilan dari masyarakat dan pedagang pasar tradisional yang membeli barang secara kredit. Awalnya, pria lulusan D3 Sosiatri, APMD Jogjakarta tahun 1991 ini hanya membantu mengelola usaha hasil bumi yang lama digeluti orangtuanya, seperti jual-beli beras, kacang dan kedelai serta hasil tani yang lain. Semua usahanya mulanya tidak direncanakan, hanya ngisi waktu, karena memang usaha hasil bumi itu sifatnya musiman. Puncaknya bulan Desember. Hari esok tidak ada yang tahu. Tugas manusia hanyalah usaha kata Joko di sela-sela menjelaskan sejarah dirinya. Dari sisi bisnis, naik turunnya harga ada poin (keuntungan) hasil bumi. Karena

memang tidak mesti untung, kadang pula merugi bila barang membanjiri pasar. Itu sudah biasa dalam perdagangan ucap Joko. Bila dihitung, usaha hasil bumi mulai 1990-an sudah ikut memanaje dan ikut kulakan, meskipun masih di sekitar Bantul. Tahun 1998, krisis moneter terjadi, semua orang terkena imbasnya, tak terkecuali Joko. Usaha hasil bumi secara pelan tapi pasti mulai ada

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

57

Inspirasi
penurunan. Baik aset maupun omset. Perubahan tak terduga seolah sudah ditentukan oleh yang di atas, keuntungan atau kerugian tidak tahu berpihak pada siapa, kata Joko Setelah semua terjadi, kenyataan tak perlu berlama-lama diratapi. Karena kenyataan itulah yang mengajarkan hidup harus bangkit kembali dan terus diperjuangkan, cerita pria yang bertempat tinggal di alamat dusun Kurahan, desa Bantul, kecamatan Bantul, kabupaten Bantul ini. Usaha Mendring Dulu, ibu punya los di pasar dekat rumah. Tapi kalau di pasar ada istilah tutup. Kalau di rumah kan tidak ada istilah tutup, biasanya barang datang pagi, siang atau malam bisa langsung diantar ke rumah. Apalagi rumah tidak begitu jauh dari pasar, ujar pria yang telah menunaikan haji kemarin ini. Sejak 2006, sehabis gempa Yogyakarta, ibu sering sakit-sakitan dan tidak bisa aktivitas, makanya hasil bumi sudah tidak dilanjutkan. Joko pun selain fokus merawat orang tua. Tanpa rencana, Joko mulai menawarkan barang-barang pada temanteman yang dikenalnya. Mereka pesan, baru dicari barangnya. istilah sekarang, disebut usaha kredit barang. Usaha kredit tak banyak digeluti secara perorangan. Orang Jawa menyebut Mendring (membeli barang, kemudian dihutangkan) dengan jangka waktu tertentu. Sama dengan Columbia, tapi milik pribadi jelas Joko. Bila sudah memilih usaha ditambah kondisi lingkungan mendukung, itu menunjukkan bahwa seseorang telah menemukan peluang untuk dikelola menjadi satu bisnis yang menguntungkan. Tak heran, bila Joko sejak 2007 mulai usaha pelayanan pengadaan barang ini digeluti dengan serius, mengingat permintaan barang cukup banyak. Disamping banyak waktu luang yang harus diisi sebaik mungkin. Dalam usaha, selain peluang, seseorang harus pintar-pintar membaca pasar, kapan harga naik dan kapan pula harga akan turun. Joko mengakui, dalam membaca pasar lebih mudah di masa orde baru. Menurutnya, pada masa orde baru, berbisnis masih bisa dibaca. Tetapi sekarang, masa Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dunia bisnis sulit untuk dibaca. Apalagi politik juga ikut berpengaruh. Contohnya, BBM baru akan naikpun, masyarakat sudah menaikan harga. Bisa dibayangkan harga bawang mencapai Rp 100 ribu perkilogram. Begitu juga dengan cabe mencapai Rp 50 ribu perkilogram. Pasar sudah susah untuk dibaca. Maka Joko memberi nasehat, bila mau terjun dalam dunia swasta, seseorang harus berpikir ke depan. Sembari bergerak untuk mencari peluang yang memungkin untuk dikerjakan. Dan jika memiliki cukup modal harus berani berinvestasi, bisa berupa tabungan, tanah ataupun emas. Kendala dan Tips Usaha Mendring Kendala atau tantangan dalam setiap usaha pastilah ada. Karena dari situlah para pengusaha bisa belajar dan terus belajar. Untung dan rugi seperti mata uang yang selalu melekat dalam usaha. Dan itu merupakan karakter atau sifat dari sebuah usaha. Adapun kendala yang sering dialami Joko antara lain, pertama, pasar tradisional yang menjadi arena usaha sudah mulai digeser oleh minimarket-minimarket. Masyarakat lebih suka ke minimarket, selain tempatnya yang nyaman juga buka 24 jam. Sehingga mempengaruhi pendapatan pedagang pasar. Kedua, selalu belajar dari pengalaman. Kalau kita berjalan sesuai dengan jalan yang benar, maka Insya Allah tidak akan berbelok. Dan yang tak kalah penting adalah kita mampu belajar dari kenyataan dalam dunia usaha. Ketiga, harus jujur, bila jelek dikatakan jelek. Jangan jelek dikatakan bagus. Harus

58

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Menejemen sederhana yang diterapkan seperti, satu, setiap transaksi harus dicatat, walaupun tidak ada target. Dua, molor suwi (telat lama) tidak dilayani. Karena kalau tetap dilayani akan semakin buruk. Tiga, telat bayar karena sakit tetap dilayani.

Dalam menjajakan usaha kredit ini, Joko mengambil konsumen pedagang pasar tradisional, tentu dengan pertimbangan, kalau orang pasar setiap hari pegang uang, berbeda dengan orang yang di rumah, mungkin mingguan pegang uangnya, bisa juga bulanan. Menejemen Mendring ala Joko Setiap usaha agar terus berkembang, tentulah harus dikelola dengan baik dan serinci mungkin. Jokopun menerapkan hal yang sama. Meskipun secara sederhana. Seperti, satu, setiap transaksi harus dicatat, walaupun tidak ada target. Dua, molor suwi (telat lama) tidak dilayani. Karena kalau tetap dilayani akan semakin buruk. Tiga, telat bayar karena sakit tetap dilayani. Empat, selalu eksperimen. Mencoba hal-hal yang baru. Lima, semua pengalaman yang baik yang akan diambil. Sudah jadi resiko, bila ada yang pinjam kemudian tidak mengembalikan. Pria asli Bantul ini mengatakan, dalam usaha yang ia jalani tidak ada istilah perjanjian apalagi bermaterei. Karena konsumen cenderung takut dan tidak jadi pesan. Dan hal itulah yang kita hindari. Semua berjalan atas dasar kepercayaan dan rasa kekeluargaan. Itulah mengapa usaha mendring tetap berjalan hingga kini. Soal pilihan investasi Ijabah (Investasi berjangka mudharabah) di TAMZIS, ia menjawab ringan, minimal ada dua alasan. Pertama, tentu karena memakai sistem ekonomi syariah. Kedua, ia juga kepengen investasi yang tenang, kalau ditempat pada umumnya menggunakan bunga, kalau TAMZIS syariah itu bagi hasil. Dan investasi (Ijabah) di TAMZIS sejak 2007, awalnya hanya Rp 10 juta, kini sudah puluhan juta. Ke depan punya rencana membuka usaha baru yang dianggap mempunyai poin (keuntungan) yang besar yakni usaha laundry. Modalnya tidak seberapa besar, tetapi keuntungannya melebihi usaha-usaha lain. Doakan saja, ucapnya mengakhiri obrolan dengan Tamaddun. [zbr]

sesuai dengan kenyataan barang yang ditawarkan. Sehingga mereka menilai pelayanan kita dan percaya dengan apa-apa yang ditawarkan. Meskipun semua hal tergantung pada pelakunya. Dalam menjalani usaha mendring, Joko selalu melayani semua permintaan dari konsumennya, mulai dari barang-barang elektronik, perlengkapan keluarga, kasur, kursi, ban motor dan meja rumah. Semua kebutuhan kalau bisa dicarikan akan diusahakan. Joko mengakui, barang yang paling banyak dipesan adalah TV, kulkas dan kipas. Dan ketika menjelang lebaran, kredit pakaian akan lebih banyak lagi yang memesan. Dalam suasana obrolan yang santai di teras rumahnya, Tamaddun bertanya, berapa persen pengambilan keuntungan dari setiap barang kreditnya? ia menjawab, masingmasing konsumen dua juta Rupiah, dengan kredit maksimal tiga bulan dengan keuntungan 30%. podo enak yang penting selesai, bisnis itu seperti keluarga, jadi tidak kaku Joko menambahi.

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

59

Inspirasi

MANIJAN

Investasi Sederhana Ala Petani Salak

etelah kesulitan pasti ada kemudahan. Hal inilah yang benarbenar dialami sendiri oleh Manijan (60), seorang petani salak di Banjaran, Cendana, Banjarnegara, Jawa Tengah. Mbah Manijan, demikian warga kampung memanggilnya, adalah sosok seorang pekerja keras. Meski ia buta huruf, tidak bisa baca tulis, namun semangat kerjanya tinggi. Sisa-sisa semangat masa mudanya masih kelihatan jelas hingga kini. Meskipun telah bercucu tujuh, ia masih biasa merawat kebun salaknya, bahkan seringkali masih mencangkul di sawah. Sebenarnya anak-anak sudah melarang bekerja, biar di rumah saja, tapi saya yang tidak mau ujar Mbah Manijan. Mbah Manijan berpikir sederhana, bahwa meski sudah tua harus tetap bekerja. Kesederhanaan cara berpikir Mbah Manijan tercermin juga dalam hidupnya, baik dalam berpakaian maupun rumahnya. Pakaiannya sangat sederhana. Rumahnya juga demikian, berlantai plaster biasa. Di ruang tamu hanya ada satu pasang dipan kayu, lemari kayu dan televisi kecil tua di pojok ruangan. Kerja Keras Sebelum hidupnya mapan seperti sekarang ini, tepatnya 35 tahun silam, Mbah Manijan muda lebih sering merantau ke Jakarta. Karena modalnya hanya tenaga, maka menjadi buruh bangunan adalah pilihan satusatunya. Jika dirasa sudah ada uang yang bisa

dibawa pulang maka ia akan pulang terlebih dahulu, setelah itu berangkat lagi. Hasil kerjanya di perantauan saat itu cukup untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya di rumah. Sama sekali belum bisa menyisihkan uang walau hanya sedikit. Namun, Mbah Manijan mula menyadari bahwa jalan itulah yang memang harus ditempunya terlebih dulu. Ia ingat pesan orang tuanya, bahwa urip kudu gelem rekasa (hidup itu mau kerja keras). Lain dulu lain sekarang, Mbah Manijan yakin bahwa setelah rekasa pasti ada kemudahan. Hal ini bermula ketika ia diberi saran oleh salah satu anaknya yang telah berkeluarga, untuk mengganti tanaman kayu dengan tanaman salak. Setahap demi setahap Mbah Manijan mengiyakan saran dari anaknya tersebut. Mbah Manijan menuturkan, pernah suatu saat orang bertanya, lha nanti bagaimana kalau salaknya sudah besar, siapa yang akan ngopeni? Dengan ringan Mbah Manijan menjawab, nanti mau tak buat rumah di tengahnya. Ternyata ucapan itu jadi kenyataan sekarang ujarnya. Untuk mencapai rumah Mbah Manijan yang sekarang cukup melelahkan, dari jalan Raya Wonosobo-Banjarnegara, masuk desa ke arah kiri sekitar 6 Km. Kemudian, masuk menyusuri jalan setapak turun dan naik. Rumah Mbah Manijan terletak di tengahtengah kebun salak di atas bukit. Jadi naik bukit sekitar 50 meter barulah ketemu rumah satu-satunya di kebun salak.

60

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Investasi Sederhana Saat ditemui tim Tamaddun di rumahnya, Mbah Manijan dan istrinya Rumini (50) sempat kaget. Karena memang selama ini jarang ada tamu yang bertandang ke rumahnya. Kalaupun ada biasanya anakanaknya atau cucunya dan juga tetangganya. Meski sudah ada tetangga, rumah Mbah Manijan tetap sendirian, pasalnya tetangga terdekatnya jaraknya sekitar 50 meter. Itupun belum terlalu lama ada. Kalau sekarang sudah lumayan, ada sekitar sembilan rumah dan satu musholla, dulu sendirian tidak ada rumah sama sekali ujar Rumini. Sejalan dengan bertambahnya umur dan pahit getirnya kehidupan. Mbah Manijan bisa dikatakan kini telah keluar dari masa rekasa (susah). Ada beberapa pelajaran hidup yang ia

terapkan. Pertama, jangan sampai membuat orang lain susah, kalau kita yang dibuat susah lebih baik bersabar. Kedua, jangan mengambil yang bukan hak kita, lebih baik mengelola dengan sebaik-baiknya milik sendiri. Ketiga, menyerahkan semua pada Allah, pasrah dengan semua kenyataan hidup. Yang terpenting lagi, dalam hal mengelola harta atau investasi, Mbah Manijan punya cara unik berinvestasi. Jika punya uang berlebih yang tidak dipakai ia biasanya mengIjabahkan (deposito) di TAMZIS. Uang tersebut hanya akan diambil jika ada orang mau menjual tanah. Setelah tanah dibeli, Mbah Manijan akan menebangi pohonnya dan menggantinya dengan yang baru. Kemudian, kalau ada yang berminat maka tanah tersebut akan dijual lagi dan uangnya diIjabahkan di TAMZIS kembali, begitu seterusnya. Sehingga,

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

61

Inspirasi

62

Dalam hal mencari materi, Mbah Manijan merasa tidak ngoyo seperti dulu lagi, ia lebih merasa seperti menjalankan klangenan, kesenangannya, ketika merawat maupun memanen kebun salaknya. Itu semua sebagai bentuk syukurnya atas segala nikmat dari Allah.

Banjarnegara. Karena sudah sering dan cukup lama mengenal TAMZIS, Mbah Manijan percaya dengan TAMZIS untuk mengelola uangnya. Menurut Mbah Manijan, pola yang selama ini ia terapkan sebenarnya bagus juga untuk ditiru siapa saja. Menurutnya, menabung dalam bentuk kayu, tanah atau pohon salak adalah cara yang sederhana dan mudah. Ia kini memiliki sekitar 400 pohon salak yang telah 25 tahun terus berbuah. Jika musim kurang mendukung biasanya dapat kuintal, tapi kalau musim bagus bisa mencapai 3 kuintal. Harga jualnya Rp 4.000 sampai dengan Rp 6.000 perkilonya. Tidak Lupa Bersyukur Keempat anak Mbah Manijan telah berumah tangga semua. Sebagai orangtua hal ini yang pertama kali ia syukuri. Selain itu, bahwa masa-masa seperti dulu harus banting tulang memeras keringat telah ia lewati. Kini ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama istri dan cucunya. Di luar waktu merawat kebun salak, ia lebih banyak beribadah. Begitu juga sang istri yang setiap selapanan, 45 hari sekali, mengikuti pengajian bersama di Banjarnegara. Dalam hal mencari materi, Mbah Manijan merasa tidak ngoyo seperti dulu lagi, ia lebih merasa seperti menjalankan klangenan, kesenangannya, ketika merawat maupun memanen kebun salaknya. Itu semua sebagai bentuk syukurnya atas segala nikmat dari Allah. Dulu serba pas-pasan dan kekurangan, sekarang sudah berlimpah. Bapak yang hanya jebolan kelas 2 SD ini menuturkan, untuk ngati-ngati dalam menjalani hidup, tidak sombong. Karena yang kita miliki sebetulnya tidak seberapa. Selain itu harus teliti dan tekun. Insya Allah kita akan berhasil dan bahagia pungkasnya. [ir]

Mbah Manijan dapat dua keuntungan, keuntungan menjual kayu dan keuntungan dari tanahnya. Selain itu, biasanya setiap kali panen salak, minimal enam bulan sekali, Mbah Manijan akan menyimpan hasil penjualannya. Tentunya setelah dikurangi biaya hidup dan keperluan sehari-hari. Jika simpananya sudah cukup banyak, biasanya ia akan sengaja datang ke kantor TAMZIS Banjarnegara untuk berIjabah lagi. Mbah Manijan mengenal TAMZIS dari saudaranya yang berjualan di Pasar Induk Banjarnegara yang juga anggota TAMZIS

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

NUR WAHYU SANTOSO

Pemuda Kreatif Pengolah Cendani


Pemuda kreatif tersebut adalah Nur Wahyu Santoso (22). Ia sedikit dari pemuda yang telah mampu menciptakan usahanya sendiri. Warga Pagude, Pagerkukuh, Wonosobo, Jawa Tengah ini, sejak kecil dikenal kreatif dan giat bekerja. Sebagaimana penuturan Kusnanto, bapaknya, bahwa dari dulu ia suka membuat kerajinan. Terutama yang berbahan dasar limbah, seperti cangkang telur untuk kaligrafi, streofom yang dibuat hiasan dengan air mancur dan sebagainya. Opo wae digawe (apa saja dibuat)tutur Kusnanto. Bahkan, ia juga pernah merantau ke Yogyakarta, Kalimantan dan Bali. Bagi Santo, masing-masing tempat perantauan mengisahkan cerita tersendiri. Tahun 2005, di Yogya misalnya, ketika ia menonton televisi yang meliput cara mengolah limbah cangkang telur di Jombang Jawa Timur. Seketika ia merasa terinspirasi untuk mengolah cangkang telur menjadi kaligrafi. Ia menganggap bahwa siapapun yang memberikan ilmu pada dirinya adalah gurunya. Meski tidak mudah dalam prakteknya, Santo segera mencobanya setelah pulang ke Wonosobo. Namun, pengalaman pertama ternyata bukan pada cara membuatnya, tapi ketika ia harus dihina orang karena meminta cangkang telur di sebuah warung martabak. Mas, masih muda kok sudah jadi pemulung tutur Santo mengenang.

osoknya masih muda, namun ia telah menghasilkan banyak karya. Meski tak mengenyam perguruan tinggi, tapi untuk urusan bambu cendani dan pengolahannya dialah ahlinya. Tak heran ia seringkali diminta memberikan pelatihan kepada remaja yang diadakan oleh dinas di Wonosobo. Bahkan pernah juga diminta mengisi pelatihan bertajuk usaha kreatif di Provinsi Jawa Tengah.

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

63

Inspirasi
Mengasah Bakat Seni Meski belum berhasil mengolah limbah cangkang telur, nasib baik membawa Santo merantau ke Kalimantan. Meski ia bekerja di kebun sawit, namun melihat banyaknya limbah kayu, membuat jiwa seninya bangkit. Ia mencoba memanfaatkan limbah kayu tersebut. Sampai suatu saat ia kenal dengan orang Bali yang kemudian dianggapnya sebagai bapak angkatnya. Melihat bakat seni pada diri Santo, bapak angkatnya merekomendasikan Santo untuk belajar seni kepada salah satu temannya di Bali. Jadilah Santo berangat ke pulau dewata Bali, semua biaya ditanggung bapak angkatnya. Selama di bali inilah ia banyak belajar tentang seni baik ukir, lukis dan sebagainya. Setelah enam bulan di Bali dan merasa cukup dengan bekal ilmu, pada tahun 2010 ia akhirnya memutuskan pulang kampung. Harapannya, segera berkarya setelah di rumah. Namun, lagi-lagi ia belum bisa mewujudkan mimpinya. Ia malah seringkali mengikuti bapaknya servis payung keliling. Kadang juga jualan balon dan roti secara keliling. Kalau ada waktu luang membuat bonsai mati dari akar pohon yang telah ditebang. Pekerjaan serabutan tersebut terus Santo jalani hingga suatu ketika ia membaca katakata home stay di sebuah rumah yang ia lewati. Karena rasa penasaran, apa artinya home stay, iapun kemudian membuka internet. Namun, herannya setelah ia menemukan arti home stay, justru ia menemukan banyak hasil kerajinan dari bambu cendani. Kontan saja hasrat jiwa seninya bangkit lagi. Ia terus mengikuti rasa penasarannya, sampai kemudian ia tahu bahwa ternyata Wonosobo merupakan pusat bambu cendani. Tak berpikir panjang, ia lalu mencari daerah yang banyak bambu cendaninya, maka ketemulah di daerah Kejajar. Di sana pula kemudian ia bertemu dengan pengepul

Menurutnya, ada beberapa prinsip yang harus dipegang kuat. Pertama, menjadikan kesalahan dan kegagalan sebagai pelajaran berharga. Kedua, ketika kita sudah berhasil tidak boleh sedikitpun angkuh. Ketiga, menjadikan siapapun yang memberi ilmu sebagai guru kita.

sekaligus perajian bambu cendani yakni Pak Wakijo. Sekali lagi, Santo menganggap bahwa siapapun yang memberikan ilmu itulah gurunya, termasuk Pak Wakijo. Mantap Dengan Cendani Meski telah belajar seni di Bali, namun dengan rendah hati Santo belajar sepenuhnya tentang seluk beluk dan pengolahan bambu cendani pada Pak Wakijo. Dan terbukti, hanya belajar sebentar saja, Santo telah menguasai semuanya. Dalam proses belajar, kesalahan sekali dua kali masih wajar. Misalnya saja ketika membeli bahan baku tidak sesuai yang dibutuhkan, sehingga banyak yang terbuang. Atau ketika mengolah cendani yang belum kering, otomatis setelah jadi akan kusam dan muncul jamur. Itulah harga mahal dalam

64

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

belajar yang saya alamiujar Santo. Selain kesalahan dalam proses belajar, ia juga pernah putus asa. Dalam tahap awal, ia dua kali gagal memperoleh order pesanan dari Bali dan Semarang. Persoalannya karena telat dalam perjalanan, sehingga pihak pemesan membatalkan, dan yang parah karena barangnya tidak kembali dan entah hilang kemana. Pesanan bernilai besar bagi Santo, terlebih baru mengawali usaha, apalagi modal yang digunakan adalah modal yang yang selama ini ia kumpulkan dan harus hangus begitu saja. Saat itu saya benar-benar putus asa. Tapi harapan untuk membantu orangtua, apalagi melihat adik-adik yang masih sekolah ditambah lagi keinginan saya untuk mandiri kembali membesarkan hati saya untuk bangkit lagi ujar Santo. Santo menuturkan, namun, setelah cobaan itu datang, alhamdulillah satu persatu kenalan dan teman mulai memesan hasil karyanya. Pada saat yang tepat, ia juga kemudian diminta dinas untuk ikut Expo HUT Wonosobo. Disinilah titik balik dari perjuangan panjang Santo mewujudkan citacitanya. Karena dari Expo tersebut, bambu cendani karya Santo dikenal banyak orang dan telah menjadi andalan produk kreatif asli Wonosobo. Dari tingkat kabupaten, ia juga kemudian mengikuti pameran di Semarang mewakili Wonosobo. Bahkan baru-baru ini dalam APEC 2013 di Bali, ia juga ikut andil memajang karya-karyanya. Kini, sekitar dua tahun terakhir ini, Santo total memusatkan jiwa seninya pada pengolahan bambu cendani. Dan hanya sesekali saja jika ada pesanan ia akan membuat kerajinan lain. Tak heran jika sekarang ia telah jadi ahlinya. Bahkan gurunya, Pak Wakijo, sudah tidak mengolah cendani lagi, ia hanya menjual bahan baku dan telah menyerahkan bakat sepenuhnya pada Santo. Bambu cendani hasil kreatifitas Santo berupa batang-batang bunga baik natural

maupun variasi, rak buku, vas bunga, gapura untuk pernikahan dan sebagainya. Untuk batang bunga saja, ia kewalahan memenuhi pesanan. Pesanan yang rutin dari daerah Bali, Bandung, Semarang, Banjarnegara dan Wonosobo sendiri. Jika pesanan banyak, Santo biasa dibantu bapak dan adiknya. Ia pernah mencoba memperkerjakan remaja sekitar, namun beberapa tidak sabar dan telaten, sehingga hasilnya kurang baik. Sebenarnya ingin memperkerjakan orang lagi, tapi mencari yang senang, sabar dan telaten itu tidak gampang jelas Santo. Untuk membuat batang bunga, ia membutuhkan waktu dua sampai tiga hari dari bahan mentah hingga jadi. Sekitar tiga hari sekali, Santo mengolah 3.000 batang bambu cendani yang ia beli dari daerah Kejajar Wonosobo. Harganya sekitar Rp. 1.2 juta untuk ukuran bambu kecil, sedang untuk ukuran bambu yang super atau lebih besar harganya bisa tiga kali lipat. Untuk harga jualnya, kalau yang natural sekitar Rp 1.000/ batang, sedang yang variasi sekitar Rp 2.000 Rp. 3.500/ batang. Bermitra dengan TAMZIS Selain dari pesanan, Santo juga mengembangkan usaha dengan membuka kios di dua tempat sekaligus. Masing-masing ia percayakan orang lain untuk mengelola. Untuk pengembangan usaha ini, ia dibantu Pembiayaan TAMZIS. Ke depan saya berharap usaha ini semakin berkembang, meski pelan tapi pasti ujarnya. Secara tidak langsung, Santo menginspirasi dan juga memberikan pelajaran hidup. Menurutnya, ada beberapa prinsip yang harus dipegang kuat. Pertama, menjadikan kesalahan dan kegagalan sebagai pelajaran berharga. Kedua, ketika kita sudah berhasil tidak boleh sedikitpun angkuh. Ketiga, menjadikan siapapun yang memberi ilmu sebagai guru kita. [ir]

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

65

Info Bisnis

BELIA HIJAB Sedia Jilbab segitiga, segiempat, dan pashmina ekslusive, desain terbatas. Made by order, terima pesanan. Harga mulai dari Rp. 25.000,. Setiap pembelian 4 item diskon 10%, bisa grosiran. Alamat: Jl. Turonggo No. 32F Pakuncen, Wirobrajan Yogyakarta Kontak: Ibu Nur. Hp. 0857 4366 1263 GIYONO KUNINGAN Produsen pernakpernik dan accesoris dari kuningan. Alamat: Purbayan Rt/ Rw 55/13 Purbayan Kotagede Yogyakarta. Telp. 027496659741 TOKO SARI 50 FURNITURE Sedia berbagai macam mebel furniture rumah tangga dan perkantoran. Alamat: Jalan Raya Batur No. 8 Batur Banjarnegara. Kontak: Ismail Setyabakti. Hp. 081327727777 S. TIN BATIK Menerima pesanan: batik tulis, batik cap, batik kombinasi, batik lukis, kaos batik dll. Alamat: Padekuhan Sapuangin Rt 128, Mangiran Trimurti Srandakan Bantul Yogyakarta. Kontak: Bedrun/ Yamtini Hp. 087839748991

RUMAH CARICA MURNI ALAMI Jl. Raya Dieng Km. 24 Patak Banteng Wonosobo. (Sirup Carica, Kripik Carica, Dodol Carica, Kripik Jamur, Purwaceng dll) Kontak: Bu Nur Hidayah. Hp. 085227313876/ 085641937699 NWS CENDANY CRAFT Pusat kerajinan bambu cendani Alamat; Pagude pagerkukuh Wonosobo Kontak: Nur Wahyu Santoso. Hp. 085293397500 GETUK POJOK BU ENDANG Menerima pesanan: Acara resepsi, ulang tahun, arisan, dll Alamat: Depan toko Mas Rajawali Pasar Rejowinangun Magelang. Atau Karet Rt/Rw 5/3 Bulurejo Magelang. Kontak: Bu Endang. Telp. 0293312558

Kirimkan info usaha Anda ke alamat Redaksi Tamaddun: Gedung Pusat TAMZIS Jl. S. Parman No. 46. Wonosobo Jateng. Telp.: (0286) 325303. Fax.: (0286) 325064. e-mail: redaksitamaddun@gmail.com www.tamzis.com

66

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Santap Kuliner

Getuk Pojok Bu Endang Oleh-oleh yang Cocok di Setiap Zaman

edikitnya ada dua makanan tradisional khas Jawa Tengah yang namanya sama-sama getuk. Pertama, getuk goreng Sokaraja. Getuk ini dikenal sejak dulu sebagai oleh-oleh khas Sokaraja Purwokerto. Rasanya manis dan empuk. Warnanya kecoklatan karena menggunakan gula jawa atau gula kelapa. Yang kedua, getuk Magelang. Jika getuk Sokaraja digoreng, tidak demikian dengan getuk Magelang. Getuk Magelang ini termasuk makanan basah dan disajikan dengan parutan kelapa warnanya variatif sesuai dengan rasanya. Yang sama diantara keduanya ialah sama-sama manis dan empuk, halal, diolah secara tradisional dan sehat karena tanpa bahan pengawet. Salah satu pembuat getuk khas Magelang ialah Bu Endang (55). Ia merupakan generasi ke 4 yang mewarisi turun temurun resep getuk Magelang. Pendahulunya, generasi pertama telah memulai pembuatan getuk sejak tahun 50 an. Getuk khas Magelang Bu Endang diberi nama Getuk Pojok. Merk ini diambil dari tempat jualan yang memang berada di pojok pasar Rejowinangun Magelang. Kini usaha Getuk Pojok Bu Endang dikelola oleh Rifa (27), putri Bu Endang. Getuk Pojok rasanya empuk dan manis. Begitu digigit renyah dan aroma rasanya menyeruak hidung. Dari lapis ke lapis rasa pandan, stroberi, cokelat terus tergoda untuk mencicipinya.

Senyum Rifa menyambut pembeli Getuk Pojoknya

Sangat pas dijadikan teman minum teh atau kopi pagi maupun sore hari. Rasa yang Tradisional dan Orisinil Rasa maupun aromanya sungguh alami, tak sedikitpun berasa pengawet. Dari Getuk Pojok inilah berasa ketradisionalan dan orisinalitas diramu jadi satu dan terus terjaga rasanya. Potong demi potong Getuk Pojok tak membuat kita jemu menikmatinya. Untuk bisa menikmati Getuk Pojok ini kita hanya perlu merogoh saku Rp 5.000. Mbak Rifa akan langsung membungkus satu box Getuk Pojok komplit semua rasa. Biasanya juga, ia akan memberikan bonus klepon, jajanan khas pasar, untuk melengkapi menu Getuk Pojok. Bisa dicicipi di tempat, bisa juga dibawa pulang untuk oleh-oleh. Namun, jika mau dibawa pulang kami sarankan membungkus lebih dari satu box, karena dijamin akan ketagihan.

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

67

Santap Kuliner
dijaga kehigienisannya. Yakni setelah singkong direbus kemudian ditumbuk secara manual dengan lesung, dikasih gula terus mentega dan pewarna khusus makanan. Setelah itu baru digiling dengan mesin untuk mendapatkan getuk yang lembut, bumbu dan pewarnanya juga menyatu sempurna. Agar getuk kenyal dan empuk, penggilinganpun diulang sampai tiga kali. Untuk bisa membungkus getuk pojok, kita harus datang ke kios jualannya di Jalan Pemuda (depan toko Rajawali) Pasar Rejowinangun Magelang. Mulai jam 10.00 pagi sampai jam 05.00 sore. Khusus untuk hari libur, kalau Anda mau mampir untuk membeli, jangan sampai kehabisan karena biasanya jam 02.00 siang getuknya sudah ludes dibeli pelanggan. Terutama yang luar kota sengaja untuk oleh-oleh. Meski tidak menggunakan bahan pengawet, kita tak usah kuatir kalo membeli untuk oleh-oleh apalagi dibawa keluar kota. Karena Rifa, sudah punya resep sendiri biar getuknya bisa tahan lebih dari satu hari. Caranya ia membungkus secara terpisah antara getuk dan kelapanya. Getuk pojok ini setiap harinya diserbu pembeli, baik untuk jajanan sendiri maupun untuk oleh-oleh. Ya hampir sama jumlah pembeli lokal dan mereka yang luar kota sengaja untuk oleh-oleh ujar Rifa. Selain rasa, Getuk Pojok juga dijamin baru karena proses pembuatan setiap hari dan dijual untuk hari itu juga. Selain getuk dalam kemasan ini, kita jika bisa memesan getuk variasi (untuk resepsi/ model tampahan). Bentuknya melingkar berupa getuk warna-warni dan parutan kelapa di tengahnya. Alas berupa lipatan daun pisang di pinggiran semakin membuat segar dan keindahan sajian ini. Biasanya getuk ini dipesan untuk ulang tahun ataupun resepsi pernikahan ujar Rifa. Untuk ukuran yang kecil satu paket spesial ini dihargai Rp 55 ribu, ukuran sedang Rp 65 ribu dan yang besar Rp 75 ribu. Tenang saja, jika kita berminat memesan tidak perlu kuatir karena pesanan bisa lewat telepon dan hasilnya pun bisa diantar sampai ke tujuan, apalagi untuk hajatan dalam jumlah banyak, di luar kota pun pasti sampai. [ir]

Satu box Getuk Pojok lengkap, dibandrol dengan harga Rp. 5.000,-

Kelezatan rasa Getuk Pojok terletak pada; pertama, penggunaan gula asli dan tanpa pemanis buatan ataupun pengawet. Kedua, singkong/ ketela pohonyapun pilihan, harus yang jenis klenteng. Singkong inilah yang berkualitas tinggi, baik rasa maupun warnanya ketika sudah diolah jadi getuk. Singkong juga harus sudah tua, agar getuk tidak terlalu lembek. Ketiga, kaya rasa; frambus, cokelat, gula jawa, pandan dan mentega. Yang tak kalah penting, pengolahan Getuk Pojok ini juga tetap

68

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Tegar

Ratimah, Menapaki Hari Berharap Rizki


merupakan jajanan pasar yang menyerupai donat, tapi rasanya tidak manis melainkan gurih dan asin. Di tempat lain, gembus ini sering disebut juga dengan lekok atau geblek. Usaha membuat gembus ini telah Ratimah lakoni sejak 20 tahun lalu. Dari usaha ini pulalah ia dan keluarganya bertumpu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Baik untuk bayar sekolah anak-anak, makan, bayar listrik, dan kebutuhan lainnya. Suaminya, Rejoyonatan (60) hanyalah petani kecil biasa dan tidak punya pemasukan yang berarti dari sepetak tanah warisan orang tuanya. Dua puluh tahun lalu, ibu lima anak ini memutar otak untuk bisa membantu ekonomi keluarga. Modal satu-satunya yang ia miliki ialah keinginan untuk berusaha. Bukan modal uang atau sejenisnya. Keinginan itu yang kemudian memberikan inspirasi untuk mengolah singkong hasil kebunnya sendiri. Singkong yang tidak seberapa itu ia olah menjadi gembus, setelah itu digoreng dan dijajakan di keramaian-keramaian sekitar desanya. Meski hasil yang diperoleh tidak seberapa, namun sudah lumayan baginya untuk sedikit menambah pemasukan keluarga. Karena memang harga jualnya untuk setiap 10 kluwer (buah) sama dengan Rp 350. Itu juga kalau laku, kalau tidak terpaksa dibawa pulang kembali dan disantap sendiri. Namun, usaha sederhana ini telah Ratimah jalani tanpa mengeluh. Ia tetap tekun menjalaninya sembari dibantu suami dan anak-anaknya. Kita bisa bayangkan untuk proses pengolahan singkong menjadi gembus ini tidaklah mudah. Karena singkong yang telah dikelupas, satu persatu harus diparut (dihaluskan) secara manual. Lalu dikukus

Ratimah mengolah gembus dengan tungku api

agi menjelang siang, suasana jalanan kampung begitu hening pertanda masing-masing orang masih beraktifitas mencari penghidupannya. Udara terasa panas menelusuri rumah joglo tua, di sebelahnya nampak gubuk bambu dengan kepulan asap di atasnya. Ratimah (55) keluar menyambut kedatangan Tamaddun ketika bertandang ke rumahnya di desa Tegal Karangmangu Kroya Cilacap. Gubuk bambu itulah yang merupakan dapur tempatnya mengolah singkong menjadi gembus, makanan khas Kroya Cilacap. Gembus

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

69

Tegar
dengan api yang cukup besar, setelah itu dikasih garam dan kelapa. Baru kemudian dibuat adonan dan dibentuk seperti donat kecil-kecil. Karena menjual gembus yang sudah matang terlalu beresiko, apalagi kalau tidak habis maka modal tidak kembali. Akhirnya Ratimah memilih strategi lain, ia menjual gembus mentah di Pasar Induk Kroya. Para pembelinya juga tidak hanya konsumen langsung, tapi lebih banyak pedagang yang akan dijual kembali. Strategi ini membuat usaha Ratimah bisa bertahan hingga kini. Karena setidaknya ia masih memperoleh keuntungan meski tidak seberapa. Resikonya juga tidak terlalu besar, karena seberapapun banyak gembus yang ia bawa pasti habis terjual. Kini, setiap hari, pagi-pagi betul Ratimah sudah berangkat ke Pasar Kroya, jam 04.00 pagi ia sudah di pasar dan baru pulang jam 06.00 pagi. Sesampainya di rumah, setelah istirahat sebentar maka ia segera mengolah gembus yang akan dijual esok harinya, begitu seterusnya. Ibu yang murah senyum ini sudah lumayan terbantu, karena ia tidak lagi mengaluskan singkong secara manual. Kini telah menggunakan diesel berbahan bakar bensin. Untuk 1 liter bensin bisa untuk menggiling 3 kg singkong. Sebenarnya menambah pengeluaran untuk beli bensin, tapi gaweane sedikit ringan dan leih cepat ujar nenek empat cucu ini. Sekarang, ia tidak pernah membeli singkong untuk bahan baku. Secara rutin sudah ada pemasok yang datang menyetori singkong. Tidak hanya dari daerah Kroya, ada juga dari daerah Wonosobo. Menurutnya, singkong Wonosobo yang terbaik. Kalau singkong lokal harganya Rp 1.200/ kg, singkong Wonosobo mencapai Rp 1.400/ kg. Bersyukur setiap pemasok tidak minta bayaran langsung, Ratimah diperkenankan membayar setelah singkong diolah dan dijual. Syukur sampai sekarang saya masih dipercaya katanya. Ratimah, setiap hari rata-rata mengolah 1 kwintal singkong. Dari 1 kwintal akan jadi gembus 4.000 kluwer. Untuk harga jual sekarang sudah lumayan, setiap 10 kluwer dijual dengan harga Rp 750. Dari hasil jualan masih dipotong bahan baku, bensin untuk mesin penggilingan, bungkus plastik, kelapa, tenaga serta ongkos transportasinya. Kulo mboten nate ngitung untunge, seng penting taseh saged mlampah mawon syukur (saya tidak pernah menghitung untung, yang penting masih bisa berjalan sudah syukur) katanya. Tak Henti Berusaha Hampir setiap hari ia tidak pernah berhenti membuat gembus, meski capek mendera ia tetap semangat. Kalau tidak berproduksi, bagaimana untuk mencukupi keluarga jelasnya. Selain suami, anak bungsunya sering membantu Ratimah mengolah gembus. Ia juga yang mengantarnya ke pasar Kroya untuk berjualan gembus. Tapi namanya anak muda, kadang susah kalo disuruh bantu-bantu di rumah tambahnya. Kedua anaknya telah lama berkeluarga dan ikut suami, sementara anak yang nomor tiga merantau ke luar Jawa. Jadi di rumah tinggal dirinya, suami dan putra bungsunya. Waktu dua puluh tahun bukanlah sebentar bagi Ratimah menggeluti usaha ini. Namun, meski selama ini tidak ada perkembangan usaha, dan hasilnya pun hanya cukup untuk memutar modal dan biaya hidup sehari-hari, ia tak pernah mengeluh apalagi berpikir untuk menyerah. Semua ia jalani dengan sabar dan telaten. Mau gimana lagi, ya jalani saja semuanya dengan sabar katanya. Keadaan membuatnya kuat dan bertahan hingga sekarang. Keadaan pula yang menjadikan ia bersyukur atas nikmat Sang Maha Kuasa ini. Ia akan terus menggeluti pembuatan gembus tersebut, dengan keyakinan mencukupi kebutuhan keluarga dan sepanjang masih diberikan kesehatan serta kesempatan untuk terus berusaha. [ir]

70

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Refleksi

Bencmarking

alau kita membaca koran, melihat televisi bahkan di internet, Pers nasional tidak bosan-bosannya meributkan studi banding anggota DPR ke luar negeri. Opini yang berkembang adalah bahwa setiap studi banding anggota DPR ke luar negeri sebagai sesuatu yang buruk, mubazir dan akal-akalan. Sebagian opini tersebut menjadi benar jika hanya melihat fakta bahwa banyak studi banding tidak jelas laporannya dan tidak tampak hasilnya. Apalagi jika menghitung biaya untuk kegiatan tersebut, belum lagi setiap anggota DPR mengantongi uang saku yang cukup untuk menghidupi sepuluh keluarga miskin selama satu tahun. studi banding hanyalah dalih dan akal-akalan untuk mengajak anak istri tamasya menggunakan uang negara. Namun studi banding jika dilakukan dengan benar dan tepat, sungguh sangatlah besar manfaatnya bagi perbaikan pengelolaan negara kita. Studi banding dibutuhkan untuk melakukan komparasi dan bencmark (penandaan) dari negara atau lembaga yang dikunjungi. Bencmark terhadap hal-hal baik yang dapat diterapkan di negara kita. Pepatah mengatakan pengalaman adalah guru terbaik mencapai kemajuan. Pengalaman negara lain, lembaga lain atau orang lain bisa menjadi pengalaman kita melalui studi banding dan bencmarking. Tentu tidak adil jika kita tidak mengapresiasi ada beberapa studi banding yang melahirkan tata kelola kepentingan umum menjadi lebih baik. Sebut saja misalnya usaha pemerintah mengembangkan transportasi masal melalui busway dan kereta commuter. Kedua proyek tersebut walau belum sepenuhnya berhasil sudah

menunjukkan kemajuan. Pengelolaan transportasi masal ini diawali studi banding dan bencmarking pemerintah dan DPR terhadap pengelolaan proyek serupa yang telah berhasil di negara lain. Bencmarking bukanlah monopoli negara. Lembagalembaga yang lebih kecil seperti sekolah, perusahaan, perpustakaan juga melakukan studi banding dan bencmarking. Tidak ketinggalan pula koperasi syariah yang lebih di kenal dengan BMT. Bahkan sebagai individu kita bisa melakukan bencmarking terhadap individu lain yang berprestasi dan berhasil mengembangkan potensi dirinya.

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

71

Refleksi

Kecenderungan sebuah lembaga keuangan kepada salah satu ormas atau orpol tertentu terbukti membelenggu lembaga keuangan tersebut dan menimbulkan berbagai konflik kepentingan para pengelolanya dan menjadi awal kehancuran.

Sebagai BMT yang termasuk assabiqunal awwalun, TAMZIS sering menjadi tujuan studi banding dan bencmarking. TAMZIS dianggap memiliki segudang pengalaman dalam mengelola dan mengembangkan BMT di Indonesia sehingga perlu dipelajari dan dibencmarking oleh BMT-BMT yang lahir belakangan. Hampir sepanjang tahun TAMZIS mendapat kunjungan BMT tidak hanya dari pulau Jawa tetapi juga dari pulau-pulau lain bahkan lembaga keuangan dari negara lain, Malaysia misalnya. TAMZIS pun sering melakukan studi banding ke BMT lain baik secara formal maupun informal. TAMZIS menyadari bahwa banyak yang dapat dipelajari dari BMT lain sebagai bahan inspirasi untuk inovasi TAMZIS ke depan. Banyak pertanyaan yang diajukan para tamu seputar rahasia sukses TAMZIS. Bagaimana TAMZIS yang lahir di sebuah kecamatan di kabupaten yang tidak banyak dikenal orang mampu menjadi icon BMT nasional? Mengutip para manajer yang biasa bertugas menerima kunjungan BMT lain, ada empat faktor utama yang mengantarkan TAMZIS dengan wajah dan positioning seperti sekarang. Pertama,TAMZIS dikelola sepenuh hati. Semua manajer dan karyawan TAMZIS tidak nyambi bekerja di lembaga lain

apalagi lembaga yang sejenis. Kalau pun ada pekerjaan, baik pekerjaan yang bersifat sosial maupun bisnis, karyawan tidak diperkenankan mengerjakannya pada jam kerja TAMZIS. Kedua, TAMZIS fokus hanya menjalankan kegiatan simpan pinjam dan jasa keuangan. TAMZIS bukan tidak tertarik mengelola sektor riil. Bahkan godaan itu selalu muncul terutama pada saat likuiditas TAMZIS sedang tinggi. Piawai mengelola lembaga keuangan belum tentu piawai mengelola sektor riil. Ada sederetan nama BMT, menjadi almarhum karena bekerja tidak fokus. Ketiga, manajer dan karyawan TAMZIS menjaga jarak yang sama dengan semua organisasi masa dan organisasi politik. Dengan demikian TAMZIS menjadi milik semua orang, semua ormas dan semua orpol sehingga tidak satu individu, satu ormas maupun satu orpol yang dapat mengklaim TAMZIS sebagai miliknya. Kecenderungan sebuah lembaga keuangan kepada salah satu ormas atau orpol tertentu terbukti membelenggu lembaga keuangan tersebut dan menimbulkan berbagai konflik kepentingan para pengelolanya dan menjadi awal kehancuran. Prinsip ini tidak menghalangi para individu baik manajer maupun karyawan aktif di ormas atau orpol mana saja. Bahkan setiap karyawan dianjurkan aktif dilingkungannya agar memberi dampak positif bagi masyarakat sekitarnya. Keempat, di bidang promosi TAMZIS menerapkan promosi dan marketing yang terukur dan terarah. TAMZIS sangat pilih-pilih media untuk beriklan. Koran, Televisi dan media sejenis lainnya termasuk bukan pilihan promosi TAMZIS. Hanya sekali-sekali saja biasanya berkaitan dengan momentum tertentu. Sementara semua mobil operasional TAMZIS dibranding (dipasangi stiker promosi) secara mencolok sebagai media promosi bergerak yang murah dan efektif. Satu kilometer jalan di kota, ribuan pasang mata melihatnya. Branding juga bermanfaat bagi para pemakainnya menjadi pengingat bahwa mobil yang dibawanya bukan milik pribadi tetapi milik umat, milik para anggota TAMZIS. Sampai kapan dan sejauh mana para pegiat TAMZIS konsisten melaksanakan empat prinsip manajemen ini? Wallahu alam. [edr]

72

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

LAPORAN TAMADDUN (BAITUL MAAL TAMZIS)

Sedekah kita bahagiakan mereka.....


PEMASUKAN INFAK

LAPORAN PROGRAM

Ramadhan Bahagia
Bersama 1.000 Yatim

DAFTAR YAYASAN PANTI ASUHAN YATIM


NO AREA TAMZIS 1 TAMZIS Area Kedu Secang Magelang 2 TAMZIS Banyumas Timur Banjarnegara Wanadadi Klampok Purbalingga 3 TAMZIS Banymas Barat Purwokerto Sokaraja Kroya 4 TAMZIS Area Jogya Godean Kotagede Prambanan A.H. Dahlan 5 TAMZIS Area Wonosobo Wonosobo, Kaliwiro, Kejajar Sapuran dan Kertek Pasar Induk Wsb dan Batur 6 TAMZIS Area Bandung BandungUjung berung Cimahi 7 TAMZIS Area Jakarta Jakarta Depok 8 TAMZIS Pusat TOTAL Rabu, 24 Juli 2013 Senin, 22 Juli 2013 Senin, 22 Juli 2013 50 anak 51 anak 50 anak 976 anak Yayasan Shohibul Al Istiqomah Yayasan Yatim Piatu Al Muaawanah Yayasan Panti Asuhan Hidayatussibyan Kamis, 18 Juli 2013 Sabtu, 20 Juli 2013 69 anak 40 anak Ponpes Salafiyah Al Falah Panti Asuhan Ulul Azmi Kamis, 18 Juli 2013 Senin, 22 Juli 2013 Senin, 22 Juli 2013 21 anak 29 anak 30 anak Panti Asuhan Al Manan Panti Asuhan Yani Fazzahra Panti Asuhan Ddarul Aitam Senin, 15 Juli 2013 Kamis, 18 Juli 2013 Sabtu, 20 Juli 2013 Selasa, 16 Juli 2013 50 anak 100 anak 56 anak 49 anak Yayasan sinar melati Godean Pundung Wukirsari Imogiri Kotagede Al Munir Panti Sari Gumul Klaten Yatim putra Islami Senin, 22 Juli 2013 Kamis, 18 Juli 2013 29 anak 16 anak 48 anak Yayasan Kuncup Emas Purwkokerto Yayasan Panti Asuhan Putri Insan Mulia Ponpes Al Muhtar Kamis, 18 Juli 2013 Kamis, 1 Agustus 2013 Kamis, 25 Juli 2013 Senin, 22 Juli 2013 50 anak 50 anak 73 anak 39 anak Panti Asuhan Yatim PKU Aisyiyah BNA Panti Asuhan Al Mu'awanah Panti Asuhan Al Khoerot Bukateja Senin, 15 Juli 2013 Senin, 22 Juli 2013 26 anak 50 anak Yayasan Anak Kita (YAK) Secang Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah WAKTU KETERANGAN NAMA YAYASAN

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

LAPORAN TAMADDUN (BAITUL MAAL TAMZIS)

LAPORAN Penerimaan ZAKAT, INFAK DAN WAKAF Tamaddun Bulan September 2013
PENERIMAAN ZAKAT

PENERIMAAN INFAK

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

LAPORAN Kas ZAKAT & INFAK Tamaddun Bulan September 2013


PENERIMAAN WAKAF

Mudah-mudahan Allah memberi pahala kepadamu atas apa yang telah engkau berikan, dan menjadikannya pensuci dosa bagimu, dan memberkati atas apa yang masih ada ditanganmu

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

LAPORAN NISBAH (BAGI HASIL) IJABAH

Laporan Bagi Hasil IJABAH TAMZIS Periode Juli - September 2013 per Rp. 1.000.000,Ijabah (Bulan) 1 s/d 2 3 s/d 5 6 s/d 11 12 s/d 23 >=24 Nisbah Anggota:TAMZIS 32,50%:67,50% 40,00%:60,00% 45,00%:55,00% 47,50%:52,50% 50,00%:50,00%

NO 1 2 3 4 5

Juli 7.570 9.320 10.480 11.060 11.640

Agustus 7.540 9.280 10.440 11.020 11.600

September 7.530 9.260 10.420 11.000 11.580

Berkembang penuh barokah

Tamaddun edisi 38/th.08/September-Oktober 2013

Baitul Maal TAMZIS