Anda di halaman 1dari 22

Laporan Praktikum

Dosen Pembimbing

Operasi Teknik Kimia I

Ida Zahrina, ST., M.T

PERPINDAHAN PANAS SECARA KONDUKSI

Kelompok

: III (Tiga)

Nama Kelompok

: 1. Lady Astari (1107036434)


2. Rahmat Kamarullah (1107035706)
3. Ryan Tito (1107021186)

Tanggal Praktikum

: 26 November 2012

Tanggal Pemasukan Laporan

: 21 Desember 2012

LABORATORIUM INSTRUKSIONAL DASAR PROSES


DAN OPERASI PABRIK PROGRAM STUDI D3 TEKNIK KIMIA
UNIVERSITAS RIAU
2012

ABSTRAK
Perpindahan kalor konduksi merupakan perpindahan kalor yang terjadi
jika dalam suatu bahan yang bersifat kontinu terdapat gradient suhu, dimana
kalor akan mengalir tanpa ada disertai oleh suatu gerakan zat. Prinsip dasarnya
adalah jika ada dua benda yang berbeda suhu maka kalor akan mengalir dari
benda yang suhunya lebih tinggi ke benda yang suhunya lebih rendah. Percobaan
ini bertujuan untuk menentukan laju aliran kalor melintasi benda padat satu
dimensi pada keadaan stedi dan menentukan overall heat transfer coefficient
aliran kalor melintasi kombinasi bahan dalam susunan seri. Pada percobaan ini
dilakukan pengukuran temperatur disetiap thermocouple pada masing-masing
bahan (brass dan stainless steel) dengan memvariasikan voltage ( 5V, 6V dan 7V),
sehingga didapatkan data-data temperatur di setiap posisi thermocouple T1, T2,
T3, T4, T5, T6, T7, dan T8 untuk bahan brass serta untuk bahan stainless steel
didapatkan data-data temperatur disetiap posisi thermocouple T1, T2, T3, T6, T7,
dan T8. Laju aliran kalor yang diperoleh untuk bahan brass yaitu sebesar 8 Watt
dan Overall Heat Transfer Coefficient yang diperoleh sebesar 683 W/m2 oC,
sedangkan pada bahan stainless stell laju aliran kalor yang diperoleh yaitu
sebesar 7,65 Watt dan Overall Heat Transfer Coefficient yang diperoleh sebesar
245,27 W/m2 oC. Hasil percobaan ini sesuai dengan data teoritis yang
menyatakan bahwa bahan brass memiliki kemampuan untuk menghantarkan
panas yang lebih baik dibandingkan dengan bahan stainless steel.

Kata kunci : perpindahan kalor, konduksi, thermocouple, laju aliran kalor,


overall heat transfer coefficient.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Tinjauan Pustaka


Secara umum proses perpindahan panas dari suatu sistem atau benda ke
sistem atau benda lain terdiri atas tiga mekanisme yaitu perpindahan panas/energi
secara konduksi, konveksi, dan radiasi. Ilmu konsep perpindahan panas berbeda
dengan termodinamika. Ilmu termodinamika hanya menjelaskan bagaimana cara
energi itu berpindah dari suatu benda ke benda lain, sedangkan pada ilmu
perpindahan panas selain menjelaskan bagaimana cara energi panas tersebut
berpindah juga dapat memprediksi laju alir perpindahan panas yang terjadi pada
kondisi-kondisi tertentu (Yusnimar, 2007).
Konduksi dapat didefenisikan sebagai perpindahan kalor dari suatu daerah
yang memiliki temperatur lebih tinggi ke daerah yang memiliki temperature lebih
rendah di dalam suatu medium (padat, cair, atau gas) atau antara medium yang
berlainan kontak fisik secara langsung. Pada aliran kalor secara konduksi,
molekul-molekul pada daerah bertemperatur tinggi akan memindahkan bagian
dari energi yang dimilikinya kepada molekul-molekul bertemperatur rendah.
Perpindahan energi tersebut dapat berlangsung dengan tumbukan elastis (elastic
impact), misalnya dalam fluida atau dengan difusi dari elektron-elektron yang
bergerak lebih cepat dari daerah yang bertemperatur tinggi ke daerah yang
bertemperatur lebih

rendah misalnya pada logam-logam. Perpindahan kalor

induksi pada ahkirnya akan menuju kesetimbangan temperature (Yusnimar, 2007).


1.2. Dasar Teori
Konduksi adalah proses perpindahan kalor yang terjadi tanpa disertai
dengan perpindahan partikel-partikel dalam zat itu (Kreith, 2005). Perpindahan
panas secara konduksi adalah energi (panas) dipindahkan sebagai energi kinetik
dari satu molekul ke molekul lain, tanpa molekul-molekul tersebut berpindah

tempat (Yusnimar, 2007). Contoh perpindahan kalor secara konduksi antara lain:
perpindahan kalor pada logam cerek pemasak air atau batang logam pada dinding
tungku.
Perpindahan Kalor Konduksi di dalam Zat Padat
Aliran kalor konduksi terjadi jika dalam suatu bahan kontinu terdapat
gradient suhu, maka kalor akan mengalir tanpa disertai oleh suatu gerakan zat.
Pada logam-logam padat, konduksi termal merupakan akibat dari gerakan elektron
yang tidak terikat. Konduktivitas termal berhubungan erat sekali dengan
konduktivitas listrik. Pada zat padat yang bukan penghantar listrik, konduksi
termal merupakan akibat dari transfer momentum oleh masing-masing molekul di
samping gradient suhu (Mc.Cabe, 1999).
Hubungan dasar yang menguasai aliran kalor melalui konduksi adalah
berupa kesebandingan antara laju aliran kalor melintas permukaan isothermal dan
gradient suhu yang terdapat pada permukaan itu. Hubungan umum ini disebut
hukum Fourier yang berlaku pada setiap lokasi di dalam suatu benda, pada setiap
waktu. Hukum tersebut dapat dituliskan sebagai (Mc.Cabe, 1999) :
.....(1.1)
dimana A = luas permukaan isothermal yang tegak lurus terhadap arah aliran
kalor
n = jarak, diukur tegak lurus terhadap permukaan itu
q = laju aliran kalor melintasi permukaan itu pada arah normal terhadap
permukaan
T = suhu
k = konstanta proporsionalitas (tetapan kesebandingan)
Konduksi pada kondisi distribusi suhu konstan disebut konduksi keadaan
stedi (steady-state conduction). Pada keadaan stedi, T hanya merupakan fungsi
posisi saja dan laju aliran kalor pada setiap titik pada dinding itu konstan. Untuk
aliran stedi satu-dimensi, persamaan (1.1) dapat dituliskan sebagai :
..(1.2)

Konstanta proporsionalitas k di atas adalah suatu sifat fisika bahan yang disebut
konduktivitas termal (Mc.Cabe, 1999).
Aliran Kalor Melintasi Lempeng
Jika pada suatu lempeng rata seperti terlihat pada Gambar 1.1, diandaikan
bahwa k tidak tergantung pada suhu dan luas dinding sangat besar dibandingkan
dengan tebalnya, sehingga kehilangan kalor dari tepi-tepinya dapat diabaikan.
Permukaan-permukaan luar dinding tegak lurus terhadap bidang gambar, dan
kedua permukaan itu isothermal (Tim Penyusun, 2012).

T1

T2

x1

x2

Gambar 1.1. Pemanasan suatu lempeng pada keadaan stedi


Arah aliran kalor tegak lurus terhadap dinding. Karena keadaan stedi, tidak ada
penumpukan ataupun pengurasan kalor di dalam lempeng itu, dan q konstan di
sepanjang lintas aliran kalor. Jika x adalah jarak dari sisi yang panas, maka
persamaan (1.2) dapat dituliskan :
....(1.3)

Oleh karena hanya x dan T yang merupakan variabel dalam Pers. (1.3),
integrasi langsung akan menghasilkan :
(1.4)

Dimana

= beda suhu melintas lempeng


= tebal lempeng

Bila konduktivitas termal k berubah secara linier dengan suhu, maka k


diganti dengan nilai rata-rata . Nilai

dapat dihitung dengan mencari rata-rata

aritmetik dari k pada kedua suhu permukaan, T1 dan T2, atau dengan menghitung
rata-rata aritmetik suhu dan menggunakan nilai k pada suhu itu. Persamaan (1.4)
dapat dituliskan dalam bentuk :
..(1.5)
dimana R adalah tahanan termal zat padat antara titik 1 dan titik 2.
Karena dalam aliran kalor stedi semua kalor yang melalui tahanan pertama
harus seluruhnya melalui tahanan kedua pula, dan lalu tahanan ketiga, maka q a, qb
dan qc tentulah sama, dan ketiganya dapat ditandai dengan q.
..(1.6)
Selanjutnya,

.(1.7)
atau :
(1.8)

dimana :
..(1.9)
U adalah overall heat transfer coefficient.

Konduktivitas Thermal (Daya Hantar Panas)


Konduktivitas termal adalah sifat bahan yang menunjukkan seberapa cepat
bahan itu dapat menghantarkan panas konduksi (Gerald, 2005). Pada umumnya
nilai k dianggap tetap, namun sebenarnya nilai k dipengaruhi oleh suhu (T).
Berdasarkan daya hantar kalor, benda dibedakan menjadi dua, yaitu:

Konduktor, yaitu bahan-bahan yang mudah dalam menghantarkan


kalor (mempunyai konduktivitas yang baik)
Contoh : aluminium, besi, baja, dan tembaga.

Isolator, yaitu bahan-bahan yang lebih sulit dalam menghantarkan


kalor (mempunyai konduktivitas yang jelek).
Contoh : plastik, kayu, kain, kertas, dan kaca.

Konduktivitas termal zat cukup berbeda-beda. Nilainya adalah tertinggi pada


logam, dan paling rendah untuk bahan berbentuk serbuk yang telah dihampakan
dari udara (Mc.Cabe, 1999). Data-data konduktivitas termal berbagai jenis logam
disajikan pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1 Konduktivitas termal, densitas, dan kapasitas panas beberapa logam
(Geankoplis, 1997).
T
( C)

(kg/m3)

Cp
(kJ/kg.K)

Aluminium

20

2707

0,896

Brass (70-30)

20

8522

0,385

Cast iron

20

7953

0,465

Material

k (W/m.K)
202
(0 0C)
97
(0 0C)
55

206
(100 0C)
104
(100 0C)
52

215
(200 0C)
109
(200 0C)
48

Cooper

20

8954

0,383

Lead

20

11370

0,130

Steel 1% C

20

7801

0,473

308 stainless
steel

20

7849

0,461

(0 0C)
388
(0 0C)
35
(0 0C)
45,3
(0 0C)
15,2
(0 0C)

(100 0C)
377
(100 0C)
33
(100 0C)
45
(100 0C)
21,6
(100 0C)

(200 0C)
372
(200 0C)
31
(200 0C)
45
(200 0C)
18,9 (200
0
C)

Koefisien perpindahan panas menyeluruh (overall heat transfer coefficient), U

Overall heat transfer coefficient (U) merupakan aliran panas menyeluruh


sebagai hasil gabungan proses konduksi, konveksi, dan radiasi (Yusnimar, 2007).
........(1.10)
Koefisien perpindahan panas menyeluruh dinyatakan dengan W/m2oC.
1.3. Tujuan Percobaan
1. Menentukan laju aliran kalor melintasi benda padat satu dimensi pada
keadaan stedi.
2. Menetukan overall heat transfer coefficient aliran kalor melintasi kombinasi
bahan dalam susunan seri.

BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN

2.1 Alat
Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan perpindahan panas secara
konduksi ini antara lain:

HT10X Heat Transfer Service Unit


HT11 Linier Heat Conduction Accessory
SFT2 Flow Sensor
Chart recorder with voltage input (1 V = 100 0C)
Lempeng stainless steel dan brass.
2.1 Prosedur Percobaan
a. Set-up Peralatan
1. Tempatkan HT11 linier heat conductin accessory berdekatan dengan
HT10X heat transfer service unit.
2. Pada HT11, selipkan brass section atau stainless steel section antara
heated section dan cooled section
3. Hubungkan 8 thermocouple ke HT11
4. Set voltage control potensiometer ke minimum dan switch selector ke
manual.
5. Hubungkan power heat dari HT11 ke socket marked O/P3 service unit.
6. Pastikan bahwa suplai air pendingin berhubungan ke masukan
pressure regulating valve pada HT11.
b. Tahap Percobaan
1.

Alirkan air pendingin atau atur flow control valve pada laju alir
tertentu.

2.

Set heater voltage pada 5 volt (pembacaan pada voltage control


potentiometer dan top panel meter diset ke posisi V).

3.

Tunggu sampai HT11 stabil (monitor temperaturnya dengan lower


selector swith/meter)

4.

Jika temperaturnya stabil, catat T1, T2, T3, T4, T5, T6, T7, T8 (0C) dan
I (Ampere) pada bahan brass serta T1, T2, T3, T6, T7, T8 (0C) dan I
(Ampere) pada bahan stainless steel.

5.

Ulangi percobaan di atas pada voltage 6 dan 7 Volt.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada percobaan ini dilakukan pengukuran temperatur disetiap thermocouple
pada masing-masing bahan (brass dan stainless steel) dengan memvariasikan
voltage ( 5V, 6V dan 7V). Pada bahan brass, didapatkan data-data temperatur di
setiap posisi thermocouple T1, T2, T3, T4, T5, T6, T7, dan T8, sedangkan pada bahan
stainless steel didapatkan data-data temperatur disetiap posisi thermocouple T1,
T2, T3, T6, T7, dan T8. Untuk setiap bahan dengan variasi voltage yang berbeda,
harga temperatur pada thermocouple cenderung mengalami penurunan dari T1
hingga T8. Hal ini terjadi karena posisi T 1 berada dibagian paling atas (menerima
panas paling awal) sementara T8 berada di bagian paling bawah, dekat dengan
aliran air pendingin. Aliran air pendingin ini akan menyebabkan terjadinya
perpindahan panas dari T1 menuju T8 (karena adanya perbedaan temperatur),
sehingga laju aliran kalor ketika melewati bahan yang ditempatkan di bagian
tengah HT11 (antara head dan cooled section) dapat diketahui. Secara lengkap,
data hasil percobaan perpindahan panas secara konduksi dapat dilihat pada Tabel
3.1.
Tabel 3.1 Data hasil percobaan perpindahan panas secara konduksi pada
bahan brass dan stainless steel.
V1

6
7

Bahan

T1

T2

T3

Brass

49,9

48,55

47,2

Stainless
steel

77,6

75,8

74,1

61,1

58,85

56,7

100,9

98

95,1

Brass
Stainless
steel
Brass
Stainless

T4

T5

T6

T7

T8

44,3 41,45 38,6 36,6 34,6


-

V2

9,48

1,45

36,8 35,6 34,2 10,00 1,36

52,2 47,45 42,7 39,4 36,1 12,14 1,37


-

38,5 36,2 33,9 12,20 1,28

78,2 73,25 68,23 62,1 55,35 48,6 44,1 39,7 14,70 1,22
121,0 113,55 106,1
39,4 36,2 33,3 14,53 1,21

steel
Keterangan : V1

= Tegangan input (Volt)

V2

= Tegangan output (Volt)

= Kuat arus (A)

T1

= Suhu pada thermocouple 1 (0C)

T2

= Suhu pada thermocouple 2 (0C)

T3

= Suhu pada thermocouple 3 (0C)

T4

= Suhu pada thermocouple 4 (0C)

T5

= Suhu pada thermocouple 5 (0C)

T6

= Suhu pada thermocouple 6 (0C)

T7

= Suhu pada thermocouple 7 (0C)

T8

= Suhu pada thermocouple 8 (0C)

Berdasarkan Tabel 3.1 juga didapat hubungan antara voltage (V) dan kuat
arus (I). Untuk setiap jenis bahan yang digunakan, semakin besar voltage yang
diberikan maka kuat arusnya semakin kecil. Hubungan ini sesuai dengan
persamaan penentuan laju aliran kalor, yaitu Q = V x I . Dari persamaan tersebut
juga di dapat hubungan antara Q dengan V, dimana harga Q sebanding dengan
harga V. Ini berarti setiap kenaikan voltage akan menyebabkan terjadinya
kenaikan laju aliran kalor. Secara lengkap hubungan antara laju aliran kalor
melewati bahan brass dan stainless steel dengan voltage dapat dilihat pada Grafik
3.1.
Berdasarkan Grafik 3.1, untuk setiap bahan (brass dan stainless steel),
semakin besar voltage yang diberikan, maka laju aliran kalor bahan semakin besar
pula. Untuk bahan stainless steel, kurva yang terbentuk hampir linear. Sementara
untuk bahan brass, kurva yang terbentuk memang cenderung meningkat, namun
pada voltage 7V, laju aliran kalornya hampir sama dengan laju aliran kalor bahan
stainless steel pada voltage yang sama. Hal ini terjadi karena ketidakakuratan

dalam pengukuran kuat arus yang melewati bahan brass pada voltage 7V. Error
ini bisa dimaklumi karena untuk pengukuran kuat arus itu sendiri tidak
menggunakan HT10 (karena faktor umur alat yang sudah tua), melainkan
menggunakan alat manual berupa digital multitester (read out-nya tidak stabil).

Grafik 3.1. Hubungan laju aliran kalor terhadap voltage pada bahan brass
dan stainless steel.
Berdasarkan Grafik 3.1 juga dapat dilihat bahwa laju aliran kalor (Q)
bahan brass lebih besar dari pada bahan stainless steel, sehingga data yang
didapatkan pada percobaan sesuai dengan data teoritis (Geankoplis, 1997). Hasil
ini membenarkan data teoritis yang menunjukkan bahwa bahan brass lebih mudah
menyerap kalor dibandingkan stainless steel. Besarnya harga Q untuk brass dan
stainless steel yang diperoleh yaitu :

= 8 Watt

Watt

= 7,65 Watt
Overall heat transfer coefficient (U) merupakan aliran panas menyeluruh
sebagai hasil gabungan proses konduksi, konveksi, dan radiasi. Nilai U ini
bergantung pada jenis zat atau bahan yang digunakan, daya hantar, laju aliran
kalor dan ada atau tidak adanya kerak pada alat. Dari hasil percobaan pada setiap
kenaikan voltage, perbedaan temperatur awal dan akhir (

untuk bahan brass

selalu lebih kecil dibandingkan dengan bahan stainless steel (lihat Tabel 3.1). Dari
persamaan penentuan harga U (lihat persamaan 1.10) juga diketahui bahwa harga
U berbanding terbalik dengan

. Artinya, harga U untuk bahan brass akan lebih

besar dibandingkan untuk bahan stainless steel. Hasil ini sesuai dengan hasil
percobaan yang disajikan pada Grafik 3.2.

Grafik 2. Hubungan overall heat transfer coefficient terhadap laju aliran


kalor pada bahan brass dan stainless steel.
Besarnya harga U untuk brass dan stainless steel yang diperoleh yaitu :

= 683 W/m2 oC

= 245,27 W/m2 oC

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
1. Bahan brass memiliki kemampuan menghantarkan panas yang lebih baik
dibandingkan bahan stainless steel.
2. Laju aliran kalor (Q) yang diperoleh pada bahan brass yaitu sebesar 8
Watt, sedangkan pada bahan stainless stell sebesar 7,65 Watt.
3. Overall heat transfer coefficient (U) yang diperoleh pada bahan brass
yaitu sebesar 683 W/m2 oC, sedangkan pada bahan stainless stell hanya
sebesar 245,27 W/m2 oC.

4.1 Saran
Alat yang digunakan dalam percobaan ini (khususnya HT10) dalam kondisi
yang tidak baik, dimana pengukuran temperatur dan kuat arus pada alat tidak bisa
dilakukan sehingga digunakan digital multitester dengan read-out yang tidak
stabil. Oleh karena itu, praktikan harus teliti dalam melakukan pengukuran
temperatur disetiap thermocouple dengan digital multitester ini. Kesalahan dalam
pengukuran ini akan mempengaruhi harga laju aliran kalor dan koefisien
perpindahan panas menyeluruhnya.

DAFTAR PUSTAKA

Geankoplis, CJ. 1997. Transport Processes and Unit Operations.


3rd edition. Eastern Economy Edition. Prentice-Hall of India
Private Ltd. New Delhi, India.
Gerald, C.F. 2005. Applied Numerical Analysis. Addison-Wesley Publishing
Company.
Kreith, F. 2005. Principles Heat Transfer. Harper & Row Publisher.
Mc.Cabe, W.L, Smith, JC, Harriot, P. 1999. Operasi teknik Kimia. Ed. 4. Jilid 1
Jakarta: Erlangga.
Tim Laboratorium Dasar Proses dan Operasi Pabrik Program Studi
D-III Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau. 2012.
Penuntun Praktikum Operasi Teknik Kimia I. Pekanbaru
Yusnimar. 2007. Konsep Dasar Perpindahan Panas. Pusat
Pengembangan Pendidikan Universitas Riau. Pekanbaru

LAMPIRAN B
PERHITUNGAN

Xhot
Xint
Xcold
Diameter

= 0,0375 m
= 0,030 m
= 0,0375 m
= 0,025 m

1. Pengolahan data untuk bahan brass pada voltage 5V


I = 1,45 A
Heat Flow
Q =VxI
= 5 V x 1,45 A
= 7,25 Watt
Cross sectional area

= 0,0005 m2
Temperature difference in heated section
Thot = T1 T3
= (49,9 47,2) oC
= 2,7 oC
Conductivity in heated section

= 201,4 W/moC
Temperature difference in cooled section
Tcold = T6 T8
= (38,6 34,6) oC
= 4 oC
Conductivity in cooled section

= 136 W/moC
Temperature at hotface of specimen

= 46,525 oC

Temperature at coldface of specimen

= 39,6 oC
Temperature difference across specimen
Tint = T4 T5
= (44,3 41,45) 0C
= 2,85 0C
Conductivity in intermediate section

= 152,6 W/moC

= 163,3 W/moC
Overall Heat Transfer Coefficient

= 948 W/m2 oC
Perhitungan di atas juga digunakan untuk bahan brass pada voltage 6V dan
7V. Hasil perhitungan keseluruhan untuk bahan brass dan stainless steel dapat
dilihat pada Tabel B.1.
2. Pengolahan data untuk bahan stainless steel pada voltage 5V
I = 1,36 A
Heat Flow

Q =VxI
= 5 V x 1,36 A
= 6,8 Watt
Cross sectional area

= 0,0005 m2
Temperature difference in heated section
Thot = T1 T3
= (77,6 74,1) oC
= 3,5 oC
Conductivity in heated section

= 145,7 W/moC
Temperature difference in cooled section
Tcold = T6 T8
= (36,8 34,2) oC
= 2,6 oC
Conductivity in cooled section

= 196 W/moC
Temperature at hotface of specimen

= 73,25 oC

Temperature at coldface of specimen

= 37,4 oC
Temperature difference across specimen
Tint = Thotface Tcoldface
= (73,25 37,4) oC

= 35,85 oC
Conductivity in intermediate section

= 11,38 W/moC

= 117,7 W/moC
Overall Heat Transfer Coefficient

= 313,4 W/m2 oC
Perhitungan di atas juga digunakan untuk bahan stainless steel pada voltage
6V dan 7V. Hasil perhitungan keseluruhan untuk bahan brass dan stainless steel
dapat dilihat pada Tabel B.1.