Anda di halaman 1dari 28

memahami Filosofi Tokoh Semar

memahami Filosofi Tokoh Semar Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis,( filosofi Jawa ) disebut Badranaya Bebadra = Membangun sarana dari dasar Naya = Nayaka = Utusan mangrasul Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia Filosofi, Biologis Semar Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi to koh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal” . Sedang tangan kirinya bermakna ―berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik‖. Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar ―kuncung‖ (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar berjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas " id="pdf-obj-0-4" src="pdf-obj-0-4.jpg">

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya

Bebadra = Membangun sarana dari dasar

Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia

Filosofi, Biologis Semar

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna ―berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik‖.

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan

jiwa. Rambut semar ―kuncung‖ (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan

: akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.

Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar berjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas

(sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.

Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.

ciri ciri sosok semar adalah:

* Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua * Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan * Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa * Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok * Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi atas nasehatnya

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa.

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual . Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .

Gambar tokoh Semar nampaknya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya katanya ber bunyi:

Semar (pralambang ngelmu gaib) kasampurnaning pati. Gambar kaligrafi jawa tersebut bermakna :

Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya ―merdekanya jiwa dan sukma‖, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.

Filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka dalam lakon Semar Mbabar Jati Diri

Dalam Etika Jawa ( Sesuno, 1988 : 188 ) disebutkan bahwa Semar dalam pewayangan adalah

punakawan ‖ Abdi ‖ Pamomong ‖ yang paling dicintai. Apabila muncul di depan layar, ia

disambut oleh gelombang simpati para penonton. Seakan-akan para penonton merasa berada dibawah pengayomannya.

Simpati para penonton itu ada hubungannya dengan mitologi Jawa atau Nusantara yang menganggap bahwa Semar merupakan tokoh yang berasal dari Jawa atau Nusantara ( Hazeu dalam Mulyono 1978 : 25 ). Ia merupakan dewa asli Jawa yang paling berkuasa ( Brandon dalam Suseno, 1988 : 188 ). Meskipun berpenampilan sederhana, sebagai rakyat biasa, bahkan sebagai abdi, Semar adalah seorang dewa yang mengatasi semua dewa. Ia adalah dewa yang ngejawantah ‖ menjelma ‖ ( menjadi manusia ) yang kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatria utama lainnya yang tidak terkalahkan.

Oleh karena para Pandawa merupakan nenek moyang raja-raja Jawa ( Poedjowijatno, 1975 : 49 ) Semar diyakini sebagai pamong dan danyang pulau Jawa dan seluruh dunia ( Geertz 1969 : 264 ). Ia merupakan pribadi yang bernilai paling bijaksana berkat sikap bathinnya dan bukan karena sikap lahir dan keterdidikannya ( Suseno 1988 : 190 ). Ia merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe ‖ sepi akan maksud, rajin dalam bekerja dan memayu hayuning bawana ‖ menjaga kedamaian dunia ( Mulyono, 1978 : 119 dan Suseno 1988 : 193 )

Dari segi etimologi, joinboll ( dalam Mulyono 1978 : 28 ) berpendapat bahwa Semar berasal dari sar yang berarti sinar ‖ cahaya ―. jadi Semar berarti suatu yang memancarkan cahaya atau dewa cahaya, sehingga ia disebut juga Nurcahya atau Nurrasa ( Mulyono 1978 : 18 ) yang didalam dirinya terdapat atau bersemayam Nur Muhammad, Nur Illahi atau sifat Ilahiah. Semar yang memiliki rupa dan bentuk yang samar, tetapi mempunyai segala kelebihan yang telah disebutkan itu, merupakan simbol yang bersifat Ilahiah pula ( Mulyono 1978 : 118 Suseno 1988 : 191 ). Sehubungan dengan itu, Prodjosoebroto ( 1969 : 31 ) berpendapat dan menggambarkan ( dalam bentuk kaligrafi ) bahwa jasat Semar penuh dengan kalimat Allah.

Sifat ilahiah itu ditunjukkan pula dengan sebutan badranaya yang berarti ‖ pimpinan rahmani ‖

yakni pimpinan yang penuh dengan belas kasih ( timoer, tt : 13 ). Semar juga dapat dijadikan simbol rasa eling ‖ rasa ingat ‖ ( timoer 1994 : 4 ), yakni ingat kepada Yang Maha Pencipta dan segala ciptaanNYA yang berupa alam semesta. Oleh karena itu sifat ilahiah itu pula, Semar dijadikan simbol aliran kebatinan Sapta Darma ( Mulyono 1978 : 35 )

Berkenaan dengan mitologi yang merekfleksikan segala kelebihan dan sifat ilahiah pada pribadi

Semar, maka timbul gagasan agar dalam pementasan wayang disuguhkan lakon ‖ Semar Mbabar Jati Diri ―. gagasan itu muncul dari presiden Suharto dihadapan para dalang yang sedang

mengikuti Rapat Paripurna Pepadi di Jakarta pada tanggal, 20-23 Januari 1995. Tujuanya agar para dalang ikut berperan serta menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan manusia seutuhnya, termasuk pembudayaan P4 ( Cermomanggolo 1995 : 5 ). Gagasan itu disambut para

dalang dengan menggelar lakon tersebut. Para dalang yang pernah mementaskan lakon itu antara lain : Gitopurbacarita, Panut Darmaka, Anom Suroto, Subana, Cermomanggolo dan manteb

Soedarsono ( Cermomanggolo 1995 : 5 Arum 1995 : 10 ). Dikemukan oleh Arum ( 1995:10 ) bahwa dalam pementasan wayang kulit dengan lakon ‖ Semar Mbabar Jadi Diri ‖ diharapkan agar khalayak mampu memahami dan menghayati kawruh sangkan paraning dumadi ‖ ilmu asal

dan tujuan hidup, yang digali dari falsafat aksara Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi yang bersumber filsafat aksara Jawa itu sejalan dengan pemikiran Soenarto Timoer ( 1994:4 ) bahwa filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka mengandung makna sebagai sumber daya yang dapat memberikan tuntunan dan menjadi panutan ke arah

keselamatan hidup. Sumber daya itu dapat disimbolkan dengan Semar yang berpengawak sastra dentawyanjana. Bahkan jika mengacu pendapat Warsito ( dalam Ciptoprawiro 1991:46 ) bahwa aksara Jawa itu diciptakan Semar, maka tepatlah apabila pemahaman dan penghayatan kawruh sangkan paraning dumadi tersebut bersumberkan filsafat Ha-Na-Ca-Ra-Ka.

KAKANG SEMAR LAN ANTAGA KAKI

WECAN TUNJUNG SETA

TUMEKA KAKI SEMAR

GINUBAH DENING : PANEMBAHAN PRAMANA SETA ING GIRIMAYA

dandang gulo

1.INGSUN MELING MRING SIRA KALIHNYA

KANG DADYA SESENGGEMANE

NGIRIDA GUNG LELEMBUT

BALA SILUMAN NUSA JAWI

KABYANTOKNA SANG NATA

H E R U C A K R A P R A B U

NATA TEDHAKING BARATA

WIJILIRA ING KETANGGA SONYARURI

SAJRONING ALAS PUDHAK

2.DUK TIMURNYA BABARAN SURANDHIL

INGKANG IBU TEDHAKING MATARAM

KANG RAMA TRAHING RASULE

G I N A I P M I Y O S I P U N

SANG TUNJUNG SETA JEJULUK NEKI

DUK SIH KINEKER MARANG HYANG

KESAMPAR KESANDUNG

JALMA SAMYA KATAMBUHAN

TAN WIKAN MRING PUDHAK SINUMPET SINANDI

DEWA MANGEJAWANTAH

Paradoks Semar Oleh JAKOB SUMARDJO

PARA pencinta wayang kulit Jawa tentu tak asing lagi dengan tokoh Semar. Setiap pertunjukan tokoh ini selalu hadir. Semar dan anak-anaknya selalu menjadi pelayan atau pembantu kesatria yang baik, umumnya Arjuna atau anak Arjuna, penengah Pandawa. Semar adalah sebuah filsafat, baik etik maupun politik. Di balik tokoh hamba para kesatria ini, terdapat pola pikir yang mendasarinya.

Tokoh Semar juga disebut Ismaya, yang berasal dari Manik dan Maya. Manik itu Batara Guru, Maya itu Semar. Batara Guru menguasai kahiyangan para dewa dan manusia, sedangkan Semar menguasai bumi dan manusia. Manik dan Maya lahir dari sebuah wujud sejenis telur yang muncul bersama suara genta di tengah-tengah kekosongan mutlak (suwung-awang-uwung).

Telur itu pecah menjadi kenyataan fenomena, yakni langit dan bumi (ruang, kulit telur), gelap dan terang (waktu, putih telur), dan pelaku di dalam ruang dan waktu (kuning telur menjadi Dewa Manik dan Dewa Maya). Begitulah kisah Kitab Kejadian masyarakat Jawa.

Kenyataannya, ruang-waktu-pelaku itu selalu bersifat dua dan kembar. Langit di atas, bumi di bawah. Malam yang gelap, dan siang yang terang. Manik yang tampan dan kuning kulitnya, Semar (Ismaya) yang jelek rupanya dan hitam kulitnya. Paradoks pelaku semesta itu dapat dikembangkan lebih jauh dalam rangkaian paradoks-paradoks yang rumit.

Batara Guru itu mahadewa di dunia atas, Semar mahadewa di dunia bawah. Batara Guru penguasa kosmos (keteraturan) Batara Semar penguasa keos. Batara Guru penuh etiket sopan santun tingkat tinggi, Batara Semar sepenuhnya urakan.

Batara Guru simbol dari para penguasa dan raja-raja, Semar adalah simbol rakyat paling jelata. Batara Guru biasanya digambarkan sering tidak dapat mengendalikan nafsu-nafsunya, Semar justru sering mengendaikan nafsu-nafsu majikannya dengan kebijaksanaan kebijaksanaan. Batara Guru berbicara dalam bahasa prosa, Semar sering menggunakan bahasa wangsalan (sastra).

Batara Guru lebih banyak marah dan mengambil keputusan tergesa-gesa, sebaliknya Semar sering menangis menyaksikan penderitaan majikannya dan sesamanya serta penuh kesabaran.

Batara Guru ditakuti dan disegani para dewa dan raja-raja, Semar hanyalah pembantu rumah tangga para kesatria. Batara Guru selalu hidup di lingkungan yang ―wangi‖, sedang Semar suka kentut sembarangan. Batara Guru itu pemimpin, Semar itu rakyat jelata yang paling rendah.

Seabrek paradoks masih dapat ditemukan dalam kisah-kisah wayang kulit. Pelaku kembar semesta di awal penciptaan ini, Batara Guru dan Batara Semar, siapakah yang lebih utama atau lebih ―tua‖? Jawabannya terdapat dalam kitab Manik-Maya (abad ke-19).

Ketika Batara Semar protes kepada Sang Hyang Wisesa, mengapa ia diciptakan dalam wujud jelek, dan berkulit hitam legam bagai kain wedelan (biru-hitam), maka Sang Hyang Wisesa (Sang Hyang Tunggal?) menjawab, bahwa warna hitam itu bermakna tidak berubah dan abadi;

hitam itu untuk menyamarkan yang sejatinya ―ada‖ itu ―tidak ada‖, sedangkan yang ―tidak ada‖ diterka ―bukan‖, yang ―bukan‖ diterka ―ya‖.

Dengan demikian Batara Semar lebih ―tua‖ dari adiknya Batara Guru. Semar itu ―kakak‖ dan Batara Guru itu ―adik‖, suatu pasangan kembar yang paradoks pula.

Semar itu lambang gelap gulita, lambang misteri, ketidaktahuan mutlak, yang dalam beberapa ajaran mistik sering disebut-sebut sebagai ketidaktahuan kita mengenai Tuhan.

Mengingat genealogi Semar yang semacam itu dalam budaya Jawa, maka tidak mengherankan bahwa tokoh Semar selalu hadir dalam setiap lakon wayang, dan merupakan tokoh wayang yang amat dicintai para penggemarnya. Meskipun dia hamba, rakyat jelata, buruk rupa, miskin, hitam legam, namun di balik wujud lahir tersebut tersimpan sifat-sifat mulia, yakni mengayomi, memecahkan masalah-masalah rumit, sabar, bijaksana, penuh humor.

Kulitnya, luarnya, kasar, sedang dalamnya halus. ** DALAM ilmu politik, Semar adalah pengejawantahan dari ungkapan Jawa tentang kekuasaan, yakni ―manunggaling kawula-Gusti‖ (kesatuan hamba-Raja). Seorang pemimpin seharusnya menganut filsafat Semar ini.

Seorang pemimpin sebesar bangsa Indonesia ini harus memadukan antara atas dan bawah, pemimpin dan yang dipimpin, yang diberi kekuasaan dan yang menjadi sasaran kekuasaan, kepentingan hukum negara dan kepentingan objek hukum.

Hukum-hukum negara yang baik dari atas, belum tentu berakibat baik, kalau yang dari atas itu tidak disinkronkan dengan kepentingan dan kondisi rakyat. Manunggaling kawula-Gusti. Pemimpin sejati bagi rakyat itu bukan Batara Guru, tetapi Semar. Pemimpin sejati itu sebuah paradoks.

Semar adalah kakak lebih tua dari Batara Guru yang terhormat dan penuh etiket kenegaraan- kahiyangan, tetapi ia menyatu dengan rakyat yang paling papa. Dengan para dewa, Semar tidak pernah berbahasa halus, tetapi kepada majikan yang diabdinya (rakyat) ia berbahasa halus.

Semar menghormati rakyat jelata lebih dari menghormati para dewa-dewa pemimpin itu. Semar tidak pernah mengentuti rakyat, tetapi kerjanya membuang kentut ke arah para dewa yang telah salah bekerja menjalankan kewajibannya. Semar itu hakikatnya di atas, tetapi eksistensinya di bawah.

Badan halusnya, karakternya, kualitasnya adalah tingkat tinggi, tetapi perwujudannya sangat merakyat. Semar gampang menangis melihat penderitaan manusia yang diabdinya, itulah

sebabnya wayang Semar matanya selalu berair. Semar lebih mampu menangisi orang lain daripada menangisi dirinya sendiri. Pemimpin Semar sudah tidak peduli dan tidak memikirkan

dirinya sendiri, tetapi hanya memikirkan penderitaan orang lain. Ego Semar itu telah lenyap,

digantikan oleh ―yang lain‖.

Semar itu seharusnya penguasa dunia atas yang paling tinggi dalam fenomena, tetapi ia memilih berada di dunia bawah yang paling bawah. Karena penguasa tertinggi, ia menguasai segalanya. Namun, ia memilih tidak kaya. Semar dan anak-anaknya itu ikut menumpang makan dalang, sehingga kalau suguhan tuan rumah kurang enak karena ada yang basi, maka Semar mencegah anak-anaknya, yang melalui dalang, mencela suguhan tuan rumah. Makanan apa pun yang datang padanya harus disyukuri sebagai anugerah. Batara Semar, di tanah Sunda, dikenal dalam wujud Batara Lengser.

Lengser, longsor, lingsir, selalu berkonotasi ―turun‖. Semar itu adalah pemimpin tertinggi yang

turun ke lapis paling bawah. Seorang pemimpin tidak melihat yang dipimpinnya dari atas

singgasananya yang terisolasi, tetapi melihat dari arah rakyat yang dipimpinnya. Seorang pemimin tidak menangisi dirinya yang dihujat rakyat, tetapi menangisi rakyat yang dihujat bawahan bawahannya. Seorang pemimpin tidak marah dimarahi rakyatnya, tetapi memarahi dirinya akibat dimarahi rakyat.

Pemimpin sejati itu, menurut filsafat Semar, adalah sebuah paradoks. Seorang pemimpin itu majikan sekaligus pelayan, kaya tetapi tidak terikat kekayaannya, tegas dalam keadilan untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang salah namun tetap berkasih sayang. Filsafat paradoks kepemimpinan ini sebenarnya bersumber dari kitab Hastabrata atau Delapan Ajaran Dewa.

Dewa Kekayaan berseberangan dengan Desa Kedermawanan, yang bermakna seorang pemimpin harus mengusahakan dirinya (dulu, sebagai raja) agar kaya raya, tetapi kekayaan itu bukan buat dirinya, tetapi buat rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin Indonesia sekarang ini selayaknya seorang enterpreneur juga, yang lihai menggali kekayaan buat negara. Dewa Keadilan berseberangan dengan watak Dewa Kasih Sayang.

Seorang pemimpin harus membela kebenaran, keadilan, tetapi juga mempertimbangkan rasa keadilannya dengan kasih sayang untuk memelihara kehidupan.

Dewa Api (keberanian) itu berseberangan dengan Dewa Laut (air), yakni keberaniannya bertindak melindungi rakyatnya didasari oleh pertimbangan perhitungan dan kebijaksanaan yang dingin-rasional. Dewa Maut berseberangan dengan watak Dewa Angin.

Menumpas kejahatan dalam negara itu harus dipadukan dengan ketelitiannya dalam mengumpulkan detail-detail data, bagai angin yang mampu memasuki ruang mana pun.

Ajaran tua tentang kekuasaan politik bersumber dari Hastabrata tersebut, dan dimitoskan dalam diri Semar yang paradoks itu. Etika kekuasaan itu ada dalam diri tokoh Semar. Ia Dewa Tua tetapi menjadi hamba.

Ia berkuasa tetapi melayani. Ia kasar di kalangan atas, tetapi ia halus di kalangan bawah. Ia kaya raya penguasa semesta, tetapi memilih memakan nasi sisa. Ia marah kalau kalangan atas bertindak tidak adil, ia menyindir dalam bahasa metafora apabila yang dilayaninya berbuat salah. Bentuk badan Semar juga paradoks, seperti perempuan tetapi juga mirip lelaki, kombinasi ketegasan dan kelembutan

3.WUS PINASTI KANG MURBENG DUMADI

SANG TUNJUNG SETA KINARYA DHUTA

JUMENENG PARANPARANE

N G A D I L I N U S A N I P U N

NGASTHA DARMANING UMUM‘

KALIS ING MAYANE NDOYA

WUS WINELEG MUKTI WIBAWANING DIRI

ING KETANGGA SILUMAN

4.SATRU MUNGSUH SAMYA HANGEMASI

TUMPES TAPIS KATAMAN PRABAWA

KASEKTEN SABDA CIPTANE

NGGEGIRISI BALANIPUN

WUJUD KALABANG KALAJENGKING

S I R U L L A H A J I N I P U N

P R A J U R I T L E L E M B U T

IKU KANG WEKAS INGWANG

SIRA NDEREK ANGEMONG ING TEMBE WURI

SANG NATA BINATHARA

5.WONG CILIK SAMYA SUKA ING ATI

GUMUYU MURAH SANDHANG LAN TEDHA

GUYUB RUKUN SESAMANE

SAMYA MADHEP SUMUJUD

NGARSENG HYANG WIDHI LAN NJENG GHUSTI

W E D I W E W A L A T I R A

WINGITING SANG RATU

MANANGKA JAMAN KENCANA

KAKANG SEMAR GYA TINDAKNA WELING MAMI

NGIRIDTA GUNG LELEMBUT

6.MANANGKA WELINGE SANG AJI

SRI JAYABAYA NATA BINATHARA

MRING SANG PAMONG KALIHE

KAKANG SEMAR UMATUR

PUKULUN JAYABAYA AJI

PUN KAKANG WUS ANAMPA

KABEH SABDANIPUN

DADYA PASEKSENING JANGKA

MANGEJA WANTAHIRA PADUKA AJI

SANG NATA BINATHAR

7.JUMENENGIRA GUSTHI PRIBADI

LAMUN JANGKANING NUSA TUMEKA

NORA ENDHAS LAN BUNTUTE

PUN KAKANG WUS SUMAGGUH

NGEMONG SANG TUNJUNG SETA AJI

LAN NGIRID BYANTOKNA

S A G U N G I N G L E L E M B U T

SINEGEG WAWAN SABDANYA

SRI JAYABAYA LAN PAMONGNYA KEKALIH

MECA JANGKANING NUSA

Buku 2

Mengenal Tokoh Wayang Kulit Punakawan (Semar, Petruk, Gareng dan Bagong) dalam Gambar / (Introducing of Punakawan)

LAN NGIRID BYANTOKNA S A G U N G I N G L E L Ehttp://aly-ahmad.blogspot.com/2012/07/mengenal-filosofi-tokoh- semar.html#ixzz2EG96rmcn Buku 2 Mengenal Tokoh Wayang Kulit Punakawan (Semar, Petruk, Gareng dan Bagong) dalam Gambar / (Introducing of Punakawan) GAMBAR PUNAKAWAN " id="pdf-obj-9-21" src="pdf-obj-9-21.jpg">
LAN NGIRID BYANTOKNA S A G U N G I N G L E L Ehttp://aly-ahmad.blogspot.com/2012/07/mengenal-filosofi-tokoh- semar.html#ixzz2EG96rmcn Buku 2 Mengenal Tokoh Wayang Kulit Punakawan (Semar, Petruk, Gareng dan Bagong) dalam Gambar / (Introducing of Punakawan) GAMBAR PUNAKAWAN " id="pdf-obj-9-23" src="pdf-obj-9-23.jpg">

GAMBAR PUNAKAWAN

GAMBAR SEMAR GAMBAR GARENG

GAMBAR SEMAR

GAMBAR SEMAR GAMBAR GARENG

GAMBAR GARENG

GAMBAR PETRUK GAMBAR BAGONG

GAMBAR PETRUK

GAMBAR PETRUK GAMBAR BAGONG

GAMBAR BAGONG

Buku 3

Konon suatu ketika, menurut pencerita Ki Lurah Semar gundah gulana hatinya. Hal ini menyebabkan ia beberapa kali tak menghadiri pertemuan di negeri Amarta. Melihat lelaku Semar, petruk sang anak menanyakan gerangan penyebabnya. Semar hanya mengatakan bahwa ia galau memikirkan nasib Para Pandawa ke depan. Ia ingin membantu, namun ia membutuhkan sejumlah pusaka Amarta. Oleh karena itu Semar memerintahkan petruk agar berangkat ke Negeri Amarta menghadap Raja Puntadewa untuk meminjam jimat kalimasada, payung kencana, dan tombak untuk membangun kayangan. Singkat cerita, petruk menemui Puntadewa yang saat itu bersama ksatria Pandawa lainnya, Werkudara, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Mendengar pesan Semar yang di Sampaikan oleh Petruk, Raja Puntadewa meminta pendapat para penggede Amarta lainnya, termasuk Krisna. Sayangnya Krisna tak menyetujui permintaan Semar, menurutnya keinginan untuk membangun Kayangan adalah hal yang mustahil, menyalahi kodrat Semar saat di turunkan ke dunia, dan akan membuat murka para dewa, karena urusan kayangan bukan tugas dan wewenag Semar. Maka niat Semar adalah keliru dan harus diluruskan. Petruk menimpali bahwa keinginan Semar baik, oleh karena itu sebaiknya Ksatria Pandawa mendukungnya. Kengototan Petruk membuat Krisna muntab, bahkan menuduh Semar hanya akan menjadikan Ksatria Pandawa sebagai tameng dalam menghadapi murka para dewa saat Semar melanjutkan niatnya untuk membangun kayangan. Benarkah Semar ingin membangun Kayangan yang di huni oleh para dewa? Sampai di sini kita akan digiring untuk memahami alur pemikiran Semar. Dan untuk memahaminya kita perlu mengetahui kontestasi budaya dimana tokoh ini dihidupkan. Semar adalah figure dalam pewayangan yang menggambarkan seorang Begawan, sosok punakawan yang menjadi penasehat Ksatria Pandawa sekaligus sebagai simbol rakyat jelata. Oleh karena itu ia dijuluki manusia setengah dewa. Dalam dunia pewayangan, simbolisasi peran dan pesan sangat penting. Bentuk wajah dan tubuh sang tokoh menggambarkan sifat-sifat yang mewakili kepribadian yang dihidupkan oleh pencerita. Tokoh Ki Lurah Semar misalnya digambarkan berwajah bulat dan pucat, oleh karena itu ia juga disebut Ki Badranaya, badra berarti rembulan, naya berarti wajah. Dan juga dijuluki

Nayantaka, naya berarti wajah, taka berarti pucat. Kedua julukan tersebut menyimbolkan bahwa Semar memiliki watak rembulan, yang dalam pusaka hasta brata, menunjukkan seorang yang tenang, tidak mengumbar hawa nafsu. Semareka den prayitna: semare artinya menidurkan diri, agar supaya batinnya selalu awas. Maka yang ditidurkan adalah panca inderanya dari gejolak api atau nafsu negatif. Ini merupakan nilai dari kalimat wani mati sajroning urip ‗berani mati di dalam hidup‘. Perbuatannya selalu pasrah pada sang pencipta, dengan cara mematikan hawa nafsu negatif. Dengan demikian, dalam perspektif spiritual Semar mewakili watak yang sederhana, rendah hati, tulus, tidak munafik, tak pernah menunjukkan perasaan yang berlebihan. Pembawaannya tenang, memiliki ketajaman batin, jenius, kaya pengalaman hidup dan ilmu pengetahuan. Wayang memiliki makna simbolik yang diyakini oleh masyarakat Jawa. Makna dan simbol pada dasarnya merupakan 2 unsur yangg berbeda namun berkaitan erat saling melengkapi. Dengan demikian simbol lebih merupakan bentuk lahiriah dari maksud, dan makna adalah isinya. Seni wayang sebagai suatu sistem budaya tidak dapat semata-mata dipahami sebagai ‗fine art‟ seni murni, melainkan perlu dikaitkan dengan latar belakang sosial budaya masyarakat jawa, dimana wayang itu tumbuh dan terekonstruksi. Budaya jawa, sebagaimana budaya timur lainnya dikenal memiliki banyak symbol- simbol social yang merepresentasikan filosofi, tujuan, dan perilaku masyarakatnya. Hal ini merujuk pada perkembangan budaya timur yang memang lahir dari budaya visual dan bukan budaya konsep sebagaimana budaya barat. Budaya jawa menjadi sangat artifiasial. Dalam terminology jawa, tokoh Semar merupakan pengejawantahan dari simbol pemelihara kebaikan, penjaga kebenaran, dan penghindar angkara. Tokoh Semar yang demikian hebat dalam tradisi penceritaan Mahabrata, bahkan mengilhami kitab Jangka Jayabaya untuk menggunakan tokoh ini sebagai sosok penasehat raja-raja yang memerintah tanah jawa yang hidup lebih dari 2500 tahun. Sosoknya kemudian dijewantahkan dalam figure Ki Sabdapalon dan Ki Nayagenggong, dua saudara kembar penasehat spiritual Raja-raja. Dalam berbagai lakon perwayangan sosoknya sangat misterius, seolah antara nyata dan tidak nyata. Ki Lurah Semar dalam konteks Sabdapalon dan Nayagenggong merupakan bapak atau Dahyang-nya manusia Jawa. Sikap dan sifatnya konon merepresentasikan sikap dan sifat manusia jawa. Membangun kayangan dalam narasi perwayangan bukanlah membangun surganya para dewa, sebagaimana yang juga disalah mengerti oleh Krisna. Untuk memahami kayangan dalam

perspektif Semar, harus ‗diteropong‘ dari penempatan figur ini dalam sentral lakon penceritaan

Mahabarata dimana Semar berperan sebagai penasehat Raja Puntadewa pemimpin Negeri Amarta. Dalam cerita dikisahkan bahwa saat itu negeri Amarta berada dalam situasi yang kritis, perilaku para pemimpin dan nayaka praja Amarta tidak merakyat lagi. Para pejabat istana mengalami degradasi moral. Para pemimpin yang seharusnya mengayomi dan melayani rakyatnya malah menjauh dan tidak merakyat. Bahkan, dalam memegang tampuk pemerintahan, para pemimpin jauh dari hati nurani. Untuk memahami setiap symbol dalam pewayangan, obyek tersebut harus dipahami secara kontekstual dalam pakem ceritanya. Suatu objek yang menjadi symbol dalam cerita telah melalui proses pemikiran simbolis penciptanya. Ketika sang pencerita menetapkan alur ceritanya

maka ia menempatkan objek symbol dengan maksud dan makna tertentu menurut alur cerita. Obyek ini menjadi sangat penting menurut Mead, Blumer, dan Kuhn. Ia bisa menjadi apa saja dalam dunia nyata: benda, kausalitas, peristiwa dan kejadian. Satu-satunya persyaratan bagi

‗sesuatu‘ menjadi obyek adalah ia diberi nama, yang mewakilinya secara simbolis, suatu realitas

yang bermakna bagi masyarakat yang merupakan totalitas dari objek-objek social mereka yang selalu dinyatakan secara social. Oleh karena itu dalam membangun interpretasi makna, Blumer membedakan obyek dalam tiga tipe, yaitu fisikal (benda-benda), social (orang-orang), an abstrak (ide-ide)- yang keseluruhan memiliki arti melalui interaksi simbolik. Simbol kayangan dalam filosofi perwayangan yang ingin dibangun Semar adalah jiwa para pemimpin dan kawula Kerajaan Amarta. Jiwa pemimpin bagi Semar adalah kayangan di dunia, jagat kecil dimana rakyat hidup dan ternaungi. Pemimpin yang memiliki jiwa laksana kayangan akan mampu melindungi, memberi kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya. Karena ia jiwa dari negeri rakyatnya, maka ia tak berjarak dengan rakyat. Simbolisasi kayangan memberi pencerahan bahwa kehidupan bahagia layaknya di surga dapat dikecap oleh rakyat bila pemimpin dapat mengayomi dan melayani. Untuk mewujudkan membangun kayangan, menurut Semar hanya dapat dilakukan dengan pusaka kalimasada, payung kecana, dan tombak. Perlu diketahui bahwa wayang dalam sejarah seni budaya jawa merupakan seni pertunjukan yang diciptakan untuk menyebarkan agama islam, sehingga pengaruh ajaran islam dalam filosofi perwayangan sangat kental, misalnya dalam terminology hindu jawa dan bali tidak dikenal adanya sang maha tunggal, sang hyang widhi. Penganut politheisme menempatkan dewa-dewa sebagai sejajar dengan peran-

peran yang berbeda. Tapi para penyebar agama islam di tanah jawa memasukkan sang hyang widhi sebagai dzat yang lebih besar dan berkuasa dari para dewa. Proses penyebaran agama islam yang berusaha mengakulturasi dalam agama budaya masa itu juga menyebabkan pengakulturasian symbol-simbol keagamaan dalam budaya masyarakat jawa. Pusaka kalimasada yang dalam perwayangan digambarkan sebagai pusaka immateri dan

abstrak sesunggunhnya merupakan symbol dari ucapan kalimat syahadat, ‗tiada tuhan selain

Allah dan nabi Muhammad adalah utusannya. Maksud dari pusaka ini dalam lakon Mahabrata adalah bahwa negara Amarta hanya dapat ditegakkan bila Raja dan naya prajanya selalu eling lan netepi kodrat hyang widhi. Sementara, pusaka payung kencana merupakan simbolisasi dari perlindungan pemimpin terhadap rakyatnya, maksud dari pusaka ini bahwa negara Amarta dapat

menjadi negara yang makmur dan sejahtera bila raja dapat menaungi, mengayomi, dan melayani rakyatnya. Sedangkan pusaka tombak adalah simbolisasi dari penegakan hokum dan keadilan. Simbol tombak berarti negara Amarta dapat menjadi kuat bila raja memerintah dengan adil dan bijaksana. Salah satu kelebihan dari cerita pewayangan adalah ia masih relevan bahkan dalam konteks kekinian. Lakon Semar mbangun kayangan bisa saja dijadikan sebagai sarana untuk mengingatkan bagaimana seharusnya pemimpin menjalankan pemerintahannya. Cerita ini syarat dengan makna yang bersifat konstruktif. Mungkin para pemimpin perlu sesekali mendengar, belajar, dan meneladani cerita ini, karena membangun kayangan dapat dimaknai sebagai membangun negara yang aman, damai, makmur dan sejahtera dimulai dari membangun kepribadian pemimpinannya. Untuk itu diperlukan pribadi pemimpin yang berpegang teguh pada ‗kalimasada‘, pada ajaran agama, undang-undang, dan peraturan yang berlaku di dalam negara. Mampu melindungi rakyatnya dengan ‗payung kencana‘ yang menaungi, mengayomi, dan

melayani. Dan berani menegakkan kebenaran dan memerangi keangkaramurkaan dengan

‗tombak‘ keadilan.

Toh hubungan antara pemimpin dan yang dipimpin tidak hanya melulu relasi kekuasaan.

Ada hubungan simbiosis mutualisme, dimana sang pemimpin membutuhkan rakyatnya sebagai syarat mutlak keberadaannya untuk melegalkan kekuasaan, sementara rakyat membutuhkan pemimpin sebagai figur pelindung, panutan, pemberi aturan, pengayom dan sebagainya. Oleh karena itu pemimpin dalam kesehariannya harus berpihak pada rakyat, tidak menjaga jarak

dengan rakyat dan tidak disibukkan dengan hal-hal formalitas dan protokoler semata. Karena ia bekerja untuk rakyat. Wajar jika kemudian petruk, yang saat itu ke Amarta atas perintah Ki Lurah Semar, marah besar saat Krisna menyatakan bahwa para punakawan itu hanya orang kecil, „gedhibal pitulikur,‟ babu yang melayani Pandawa. Dalam muntabnya Petruk berseru bahwa Puntadewa dapat menjadi raja karena asuhan para punakawan. Bahwa ia naik tahta karena dukungan orang- orang kecil, dan sudah sepatutnya ia mengingat rakyat kecil ini ketika ia berkuasa, bukan menjadikan mereka seperti keset dan alas kaki. Barangkali nasehat Sang Hyang Wenang kepada Semar perlu di simak untuk mengingatkan bahwa seorang pemimpin harus memberikan pencerahan yang bijaksana. Pemimpin harus menerima perbedaan atau pluralisme yang ada. Tidak memihak salah satu golongan dan harus bertindak adil kepada rakyatnya. Negara, bagaimanapun juga dibangun berdasarkan masyarakat yang plural atau majemuk dan berasal dari berbagai suku, ras, dan agama, segala perbedaan itu sebagai kekuatan dan jati diri dalam membangun bangsa.

Buku 4

Ria Jenaka dan Pesan-Pesan Pembangunan

dengan rakyat dan tidak disibukkan dengan hal-hal formalitas dan protokoler semata. Karena ia bekerja untuk rakyat.

Seorang ayah dengan tiga orang anaknya, laki-laki semua. Sang Ayah itu bernama Semar alias Sang Hyang Ismaya. Seorang ayah yang sudah mulai didera oleh tua. Ketika semua rambutnya sudah mulai tidak bersahabat, memutih seperti butir-butir kapas. Perutnya membuncit, dan pantatnya menggelembung. Dan dia terlalu jelek untuk dibandingkan dengan Arjuna misalnya. Tapi konon dia bukan manusia sembarangan, meskipun bukan berasal dari kasta yang tinggi. Karena selain bijaksana Semar juga sakti mandraguna, sebab konon dia adalah dewa yang menitis menjadi manusia. Dewa? Maaf, saya bercerita tentang wayang.

Dan inilah anak-anaknya: Gareng. Dia anak yang tertua meskipun dia tidak bisa dijadikan panutan oleh adik-adiknya. Dia juga tidak rupawan. Matanya juling, hidung bulat seperti tomat, perut gendut, kaki pincang, tangannya juga tidak sempurna. Orang Jawa mengatakan ceko, dengan pronounce seperti kita mengucapkan negara Cheko. Dia selalu membawa sabit, seperti untuk menunjukkan bahwa dia merupakan representasi dari kalangan kawulo alit, rakyat kecil.

Adiknya bernama Petruk, yang paling tinggi di antara keluarga. Hidungnya terlalu panjang untuk ukuran biasa dan jalannya juga tidak tegak, sebab kakinya tidak simetris. Rambutnya dikucir ke atas seperti ekor tikus. Di pinggangnya sering terselip kapak.

Sedangkan Bagong adalah anak yang terkecil. Tubuhnya pendek, perutnya membesar dan mulutnya lebar tidak proporsional. Dengan wujudnya yang karikatural tersebut, peran Bagong diperankan dengan sangat pas oleh Ateng atau Kho Tjeng Lie seorang komedian di tahun 80-an.

Faktanya adalah semua anggota keluarga tersebut bisa dibilang abnormal secara fisik. Dalam dunia pewayangan mereka lebih sering berperan sebagai penghibur. Baik kepada para ksatria atau ndoro mereka Pandawa yang lelah bersengketa, atau kepada penonton yang mulai bosan melihat peperangan di antara kaum wayang, dan ingin segera melihat sinden yang bergoyang. Sebab sesuatu yang abnormal di negeri ini masih seringkali mengundang tertawa, ketika kekurangan secara fisik seperti tubuh yang cebol, atau kelebihan fisik seperti gigi yang maju seringkali dijadikan senjata untuk memancing kelucuan. Dan lawakan yang mengolok-olok fisik itu masih kerap mewarnai sejumlah dagelan hingga sekarang.

Mereka keluarga Punakawan tersebut dulu sering muncul saban hari Minggu siang di layar TVRI. Dalam acara Ria Jenaka mereka tidak hanya bertutur dan mengundang tawa. Mereka terbiasa memparodikan kondisi teraktual masyarakat saat itu, atau konflik-konflik yang terjadi di antara anak-anak mereka, tentu saja dengan kemasan komedi alias tidak serius. Dan ujung- ujungnya tentu saja sudah bisa diduga, Semar yang datang memberikan petuah-petuah tentang hidup dan kehidupan. Tentang hal-hal yang baik dan kebaikan.

Tentu saja sebagai televisi pemerintah, keluarga ini hanya salah satu agen dalam menyampaikan pesan-pesan pembangunan kepada masyarakat. Dan bila Unyil memberi nasehat kepada anak- anak, maka Ria Jenaka bertutur kepada keluarga. Suatu saat melalui Semar yang bijaksana dan pandai berpetuah, mereka akan berbicara tentang program KB untuk membentuk keluarga sejahtera, pentingnya penataran P4 atau transmigrasi. Tapi di penampilan yang lain mereka akan bertutur tentang perlunya membayar pajak, iuran televisi atau keberhasilan pembangunan pemerintahan Soeharto.

Lewat Ria Jenaka, Orde Baru memperalat peran para punakawan. Di sini peran Semar dan anak- anaknya direduksi menjadikan mereka partisan. Mereka diharuskan untuk menyuarakan kepentingan pemerintah, tanpa diberi kesempatan untuk mengkritisi kebijakan pemerintah. Sebab pada pemerintah Orde Baru, menyuarakan perbedaan pendapat adalah hal yang tabu.

Buku 5

FILOSOFI JAWA

suluk sunan kali jaga

Buku 5 FILOSOFI JAWA suluk sunan kali jaga SUNAN KALIJAGA Adalah simbol sufistik jawa.karena di dalama WUJUD d irimu menunjukkan akan adanya Allah dengan " id="pdf-obj-18-9" src="pdf-obj-18-9.jpg">

SUNAN KALIJAGA

Adalah simbol sufistik jawa.karena di dalam penyampaian ajaran ajarannya beliau selalu bisa menempatkan diantara budaya ataupun adat adat jawa yang saat itu sangat kental di kalangan

masyarakat jawa sendiri.sehingga masyarakat dengan mudah menerima ajarannya. wlaupun ketika itu masyarakat masih sangat awam dengan ajaran islam. Beliau sendiri mengedepankan keyakinan terhadap Dzatulloh dalam ajaranya. lalu di ikuti dengan syariatnya Dan untuk pendekatan diri kepada yang maha hidup Sunan Kalijogo senantiasa menggunakan media dzikir sebagai sarananya.Begitupula ia mengajarkan kepada murid-muridnya. berbagai cara yang bisa dilakukan untuk berdzikir kepada yang maha agung,karena dzikir sendiri mempunyai artian yang luas. sehingga berbagai cara bisa dilakukan,yang intinya selalu mengingat Dia(alloh). Salah satunya dengan cara:dzikir lisan, dzikir nafas,dzikir kolbu,dzikir ruh,dzikir perbuatan dan sebagainya. Beliau mengetahui bagaimana keadaan iman murid muridnya sehingga dia memberikan Dzikir kepada seseorang sesuai dengan tingkat ketaqwaan atauMAQOM orang tersebut, jadi wajar saja jika di kalangan masyarakat banyak yang mengaku bersumber dari ajaran Sunan Kalijaga,meskipun mereka berbeda baik bacaan maupun caranya berdzikir. Berikut ini salah satu SULUK SUNAN KALI JAGA yang kami kutip dari berbagai sumber:

semoga kita bisa mengambil hikmah dari suluk ini dan bertambahnya keimanan kita terhadap dzatulloh.amin ya robbal alamin.

Birahi ananiroku,aran ira Allah jati.

Tan ana kalih tetiga. Timbullah hasrat kehendak "dzatulloh dengan adanya WUJUD dirimu menunjukkan akan adanya Allah dengan

sesungguhnya; Allah itu tidak mungkin ada dua apalagi tiga

sapa wruha yen wus dadi,ingsun weruh pesti nora,ngarani namanireki

Siapa yang mengetahui asal muasal kejadian dirinya, saya berani memastikan bahwa orang itu tidak akan membanggakan dirinya sendiri.

Sipat jamal ta puniku,ingkang kinen angarani,pepakane ana ika,akon ngarani puniki, iya Allah angandika, maring Muhammad kang kekasih.

Ada pun sifat jamal (sifat terpuji bagus) itu ialah, sifat yang selalu berusaha

menyebutkan,bahwa pada dasarnya adanya dirinya, karena ada yang mewujudkan adanya. Demikianlah yang difirmankan Allah kepada Nabi Muhammad yang menjadi Kekasih-Nya

Yen tanana sira iku,ingsun tanana ngarani,mung sira ngarani ing wang, dene tunggal lan sireki iya Ingsun iya sira, aranira aran mami.

Kalau tidak ada dirimu, Allah tidak dikenal/disebut-sebut,Hanya dengan sebab ada kamulah

yang menyebutkan keberadaan-Ku, Sehingga kelihatan seolah-olah satu dengan dirimu. Adanya AKU, Allah, menjadikan dirimu.Wujudmu menunjukkan adanya Dzatku.

TAUHID hidayat sireku,tunggal lawan Sang Hyang Widhi, tunggal sira lawan Allah,uga donya uga akhir,ya rumangsana pangeran,ya Allah ana

nireki.Tauhid hidayah yang sudah ada padamu, menyatu dengan Tuhan. Menyatu dengan Allah,baik di dunia maupun di akherat. Dan kamu

merasa bahwa Allah itu ada dalam dirimu.

Ruh idhofi neng sireku, MAKRIFAT ya den arani,uripe ingaranan Syahdat,urip tunggil jroning urip sujud rukuk pangasonya,rukuk pamore Hyang Widhi.

Ruh idhofi ada dalam dirimu. Makrifat sebutannya. Hidupnya disebut Syahadat (kesaksian), hidup tunggal dalam hidup. Sujud rukuk sebagai penghiasnya. Rukuk berarti dekat dengan Tuhan.

Sekarat tananamu nyamur,ja melu yen sira wedi,lan ja melu-melu Allah,iku aran sakaratil,ruh idhofi mati tannana,urip mati mati urip.

Penderitaan yang selalu menyertai menjelang ajal,sekaratul maut.tidak terjadi padamu. Jangan takut menghadapi sakratulmaut, dan jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Allah. Perasaan takut itulah yang disebut dengan sekarat. Ruh idhofi tak akan mati,Hidup mati, mati hidup

Liring mati sajroning ngahurip, iya urip sajtoning pejah,urip bae selawase,kang mati nepsu iku,badan dhohir ingkang nglakoni, katampan badan kang nyata,pamore sawujud, pagene ngrasa matiya,Syekh Malaya (Sunan Kalijaga) den padhang sira nampani,Wahyu prapta nugraha.

mati di dalam kehidupan. Atau sama dengan hidup dalam kematian. Ialah hidup abadi. Yang mati itu keakuhan sifat hambanya. Lahiriah badan yang menjalani MATI Tertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataannya satu wujud. Raga sirna, sukma mukhsa. Jelasnya mengalami kematian! Syeh Malaya (S.Kalijaga), terimalah hal ini sebagai ajaranku dengan hatimu yang lapang. Anugerah berupa wahyu akan datang padamu.

Buku 6

Sabtu

«filosofi di balik makna aksara jawa»

mati di dalam kehidupan. Atau sama dengan hidup dalam kematian. Ialah hidup abadi. Yang mati ituMATI T ertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataannya satu wujud. Raga sirna, sukma mukhsa. Jelasnya mengalami kematian! Syeh Malaya (S.Kalijaga), terimalah hal ini sebagai ajaranku dengan hatimu yang lapang. Anugerah berupa wahyu akan datang padamu. Sumber : http://aly-ahmad.blogspot.com/2012/02/filosofi-jawa-suluk-sunan-kali- jaga.html#ixzz2EGA4czsX Buku 6 Filosofi aksara jawa Sabtu «filosofi di balik makna aksara jawa» VERSI Paku Buwana IX dikutip oleh Yasadipura sebagai bahan sarasehan yang diselenggarakan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta pada tanggal, 13 Juli 1992. Judul makalah yang dibawakan Yasadipura adalah ‖ Basa Jawi Hing Tembe Wingking Sarta Haksara Jawi kang Mawa Tuntunan Panggalih Dalem Hingkang Sinuhun Paku Buwana IX Hing Karaton Surakarta Hadiningrat ―. Dalam makalah itu dikemukakan oleh Yasadipura ( 1992 : 9 – 10 ) bahwa Paku Buwana IX memberikan ajaran ( filsafat hidup ) berdasarkan aksara ha-na-ca-ra-ka dan seterusnya, yang dimulai dengan tembang kinanthi, tembang kinanthi Nora kurang wulang wuruk (tak kurang piwulang dan ajaran.) Tumrape wong tanah Jawi (bagi orang tanah Jawa) Laku-lakune ngagesang (perilaku dalam kehidupan) Lamun gelem anglakoni " id="pdf-obj-20-20" src="pdf-obj-20-20.jpg">

VERSI Paku Buwana IX

dikutip oleh Yasadipura sebagai bahan

sarasehan yang diselenggarakan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta pada tanggal, 13 Juli 1992. Judul makalah yang dibawakan Yasadipura

adalah ‖ Basa Jawi Hing Tembe Wingking Sarta

Haksara Jawi kang Mawa Tuntunan Panggalih Dalem Hingkang Sinuhun Paku Buwana IX Hing Karaton Surakarta Hadiningrat ―. Dalam makalah itu dikemukakan oleh Yasadipura ( 1992 : 9 10 ) bahwa Paku Buwana IX memberikan ajaran ( filsafat hidup )

berdasarkan aksara ha-na-ca-ra-ka dan seterusnya, yang dimulai dengan tembang kinanthi, tembang kinanthi Nora kurang wulang wuruk (tak kurang piwulang dan ajaran.) Tumrape wong tanah Jawi (bagi orang tanah Jawa) Laku-lakune ngagesang (perilaku dalam kehidupan) Lamun gelem anglakoni

( jika mau menjalaninya Tegese aksara Jawa (maknanya aksara Jawa) Iku guru kang sejati itu guru yang sejati

MAKNA HURUF(HA-NA-CA-RA-KA-DA-TA-SA-WA-LA-PA-DA-JA-YA-NYA-MA- GA-BA-TA-NGA) HA»

Hana hurip wening suci. (adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci)

NA»

Nur candra,gaib candra,warsitaning candara. (pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi.)

CA»

Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi. (satu arah*dan tujuan pada Yang Maha Tunggal.)

RA»

Rasaingsun handulusih. (rasa cinta sejati muncul daricinta kasih nurani.)

KA»

Karsaningsun memayuhayuning bawana. ( hasratdiarahkan untuk kesajetraan alam.)

DA»

Dumadining dzat kang tanpa winangenan:

(menerima hidup apa adanya.)

TA»

Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa.

(mendasar ,totalitas,satu visi, ketelitian dalam memandang hidup.)

SA»

Sifat ingsun handulu sifatullah. ( membentuk kasihsayang seperti kasih Tuhan.)

WA»

Wujud hana tan kena kinira .(ilmu manusia hanya

terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas.)

LA»

Lir handaya paseban jati.

( mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi .)

PA»

Papan kang tanpa kiblat .

(Hakekat Allah yang ada disegala arah.)

DHA»

Dhuwur wekasane endek wiwitane.

(Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar.)

JA»

Jumbuhing kawula lan Gusti -selalu berusaha menyatu.

(memahami kehendak Nya.)

YA»

Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi.

(yakin atas titah /kodrat Illahi. )

NYA»

Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki .

( memahami kodrat kehidupan. )

MA»

Madep mantep manembah mring Ilahi.

(mantap dalam menyembah Ilahi.)

GA»

Guru sejati sing muruki.

( belajar pada guru nurani. )

BA»

Bayu sejati kang andalani.

( menyelaraskan diri pada gerak alam. )

THA»

Tukul saka niat

berawal dari niat.

NGA»

Ngracut busananing manungso.

( melepaskan egoisme pribadi -manusia.)

Semoga bisa menjadi penggugah jiwa kita amin

..

..

Sumber : <a href=http://aly-ahmad.blogspot.com/2012/01/filosofi-aksara-jawa.html#ixzz2EGATwwOE Buku 7 Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya • Bebadra = Membangun sarana dari dasar • Naya = Nayaka = Utusan mangrasul Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia Javanologi : Semar = Haseming samar-samar Harafiah : Sang Penuntun Makna Kehidupan Karakteristik Semar : • Semar tidak lelaki dan bukan perempuan • Tangan kanannya ke atas dan tangan kirinya ke belakang. Maknanya : "Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tunggal". Sedang tangan kirinya bermakna "berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik". • Domisili Semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. • Rambut semar "kuncung" (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) makn anya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah (mewujud) melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. • Semar berjalan menghadap ke atas maknanya : "dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang ke atas (sang Khaliq), yang Maha Pengasih serta Penyayang umat". " id="pdf-obj-23-6" src="pdf-obj-23-6.jpg">

Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya

• Bebadra = Membangun sarana dari dasar

• Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi

kesejahteraan manusia

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar

Harafiah : Sang Penuntun Makna Kehidupan

Karakteristik Semar :

• Semar tidak lelaki dan bukan perempuan

• Tangan kanannya ke atas dan tangan kirinya ke belakang. Maknanya : "Sebagai pribadi tokoh

semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tunggal". Sedang tangan kirinya bermakna

"berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik".

• Domisili Semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel =

keteguhan jiwa.

• Rambut semar "kuncung" (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak

mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan

mengejawantah (mewujud) melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah

sesuai dengan sabda Ilahi.

• Semar berjalan menghadap ke atas maknanya : "dalam perjalanan anak manusia

perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang ke atas (sang Khaliq), yang Maha

Pengasih serta Penyayang umat".

• Kain Semar Parangkusumorojo : perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia),

agar memayuhayuning bawono : menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi.

MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu.

Yang ada itu sesungguhnya tidak ada. Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.

Yang bukan dikira iya. Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya),

sebab takut kalau keliru.

Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.

Di dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa. Ia diberi anugerah

Mustika Manik Astagina, yang mempunyai 8 daya, yaitu:

  • 1. tidak pernah lapar

  • 2. tidak pernah mengantuk

  • 3. tidak pernah jatuh cinta

  • 4. tidak pernah bersedih

  • 5. tidak pernah merasa capek

  • 6. tidak pernah menderita sakit

  • 7. tidak pernah kepanasan

  • 8. tidak pernah kedinginan

kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun atau kuncung.

Gelar Semar/Ismaya :

  • 1. Batara Semar

  • 2. Batara Ismaya

  • 3. Batara Iswara

  • 4. Batara Samara

  • 5. Sanghyang Jagad Wungku

  • 6. Sanghyang Jatiwasesa

  • 7. Sanghyang Suryakanta.

Ia diperintahkan untuk menguasai alam Sunyaruri (alam kosong), tidak diperkenankan menguasi

manusia di alam dunia.

SEMAR adalah sebuah misteri, rahasia Sang Pencipta. Rahasia tersebut akan disembunyikan

kepada orang-orang yang egois, tamak, iri dengki, congkak dan tinggi hati, namun dibuka bagi

orang-orang yang sabar, tulus, luhur budi dan rendah hati. Dan orang yang dianugerahi Sang

Rahasia, atau SEMAR, hidupnya akan berhasil ke puncak kebahagiaan dan kemuliaan nan abadi.

Monggo kalau mau

ditambahken....saya

bukan jawa asli dan ga jago dalam

pewayangan trokk tok tok

..

.. .. ..

Buku 8

Semar Sebagai Simbol

Buku 8 Semar Sebagai Simbol Pernahkah menyaksikan pagelaran wayang? Dalam dunia pewayangan, kita mengenal sosok bernama

Pernahkah menyaksikan pagelaran wayang? Dalam dunia pewayangan, kita mengenal sosok bernama Semar. Sosok Semar ini dilukiskan sebagai mahluk yang serba "samar", tidak jelas jatidirinya. Dapat juga dia dikatakan sebagai sosok yang gaib dan tidak kasat mata. Ia bisa dikatakan sebagai sosok laki-laki, karena biasa dipanggil dengan sebutan rama atau kakang. Namun jika dilihat dari perawakannya, ia seperti perempuan, karena serba bulat, dengan dada berkembang seperti payudara perempuan dan pantat yang besar.

Dikatakan tua, namun rambutnya dikuncung seperti anak kecil. Wajahnya juga sulit dibedakan

antara sedihkah atau gembirakah. Terhadap para majikan atau bendhara, ia selalu menunjukkan

sikap rendah hati sebagai seorang abdi. Bicaranya halus dan penuh sopan santun. Terhadap para

dewa, ia menyapa tanpa menyebut gelar kehormatan, atau ngoko (suatu tingkatan berbahasa

dalam bahasa Jawa). Ia tidak menunjukkan rasa rendah diri di hadapan para dewa.

Konon, Semar adalah dewa bernama Batara Ismoyo, yang tak lain adalah kakak Batara Guru. Ia

turun ke bumi dengan misi suci, yaitu mengabdi kepada manusia yang berbudi luhur serta

beriman kepada Sang Pencipta. Karena misinya itu, ia dikenal sebagai "Dewa ngawulo kang

ngawulo Dewa", artinya Dewa yang mengabdi kepada manusia yang beriman.

Keberadaan Semar lebih banyak sebagai tokoh di belakang layar, sebagai punakawan. Ia hanya

tut wuri handayani terhadap para majikan yang menjadi momongannya. Dari kesederhanan,

kerendahhatian, kejujuran, dan kesetiaan inilah terpancar nur ilahi yang seakan menjadi kekuatan

gaib yang menjadi pembimbing dan penuntut menuju kebenaran sejati.

Semar juga disebut Badranaya. Kata badra berarti "kebijaksanaan" dan naya berarti

"kebahagiaan". Jadi Badranaya bisa diartikan sebagai kebijaksanaan menuju kebahagiaan, yaitu

dengan jalan memimpin rakyat untuk beribadah. Negara akan stabil bila Semar berwujud ksatria

yang bersemayam di pertapaan Kandang Penyu. Makna simbolis dari hal ini adalah, hendaknya

pemimpin tekun menjalankan ibadah untuk memohon (penyuwunan) ke hadirat Allah swt. demi

kesejahteraan dan kebahagiaan rakyatnya.

Perawakan Semar adalah bulat. Ini melambangkan tekad Semar yang bulat untuk senantiasa

mengabdi kepada kebaikan dan kebenaran. Sementara, jari tangan kiri Semar selalu menunjuk,

maknanya ia selalu memberi petunjuk kepada kebaikan dan kebenaran. Sedangkan tangan

kanannya selalu menggenggam, artinya bahwa kebaikan itu bersifat subyektif, sehingga tidak

perlu ditampakkan kepada orang lain. Mata Semar setengah tertutup dan condong melihat ke

atas. Ini melambangkan bahwa Semar memiliki jiwa yang idealis dalam menegakkan kebaikan

dan kebenaran.

Secara filosofis, Semar merupakan simbol dari aspek dan sifat Ilahi, namun jangan sekali-kali

diidentikkan dengan Tuhan. Semar hendaknya tidak dipandang sebagai sebuah fakta sejarah,

namun lebih bersifat mitologis dan simbolis tentang ke-Esa-an Tuhan. Hal ini menunjukkan

bahwa bangsa Indonesia, khususnya masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang religius dan

berketuhanan Yang Maha Esa.

Buku 8

atas. Ini melambangkan bahwa Semar memiliki jiwa yang idealis dalam menegakkan kebaikan dan kebenaran. Secara filosofis,http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2285728-semar-sebagai- simbol/#ixzz2EGCV1qV2 Buku 8 Catatan MazNoer - Mengenal Punakawan . Punakawan berarti kawan yang mengiringi. Punakawan hanya ada dalam kisah Wayang ketika telah mengalami gubahan di tanah Jawa. Punakawan terdiri dari empat, yaitu sang ayah, Semar, Dan anak-anaknya, Gareng, Petruk, dan Bagong. Kisah kehidupan Punakawan begitu lama, dari sejak jaman Purwacarita sampai dengan jaman setelah kejayaan Parikesit. Tidak jelas kapan dan bagaimana terjadinya kematian mereka. Punakawan, memiliki kedudukan istimewa di mana mereka sebenarnya adalah orang-orang yang memiliki wawasan tinggi dan luas tentang kehidupan, sampai kemudian membuat mereka berkeputusan untuk membuang jauh apa yang bersifat dunia, pangkat, kekayaan. Mereka memilih hidup sebagai abdi, dan istimewanya, mereka mengabdi raja-raja besar dari sejak jaman Harjunasasra sampai Parikesit. Merekalah yang selalu mengingatkan raja-raja mereka bila khilaf atau melakukan kesalahan. Para pujangga Jawa dalam karya-karya sastra mereka mengisahkan Semar bukan sekadar rakyat jelata biasa, melaikan penjelmaan Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru, raja para dewa. Dalam pewayangan Jawa Tengah, Semar selalu disertai oleh anak-anaknya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong. Namun sesungguhnya ketiganya bukan anak kandung Semar. Gareng " id="pdf-obj-26-23" src="pdf-obj-26-23.jpg">

Catatan MazNoer - Mengenal Punakawan. Punakawan berarti kawan yang mengiringi.

Punakawan hanya ada dalam kisah Wayang ketika telah mengalami gubahan di tanah Jawa.

Punakawan terdiri dari empat, yaitu sang ayah, Semar, Dan anak-anaknya, Gareng, Petruk, dan

Bagong.

Kisah kehidupan Punakawan begitu lama, dari sejak jaman Purwacarita sampai dengan jaman

setelah kejayaan Parikesit. Tidak jelas kapan dan bagaimana terjadinya kematian mereka.

Punakawan, memiliki kedudukan istimewa di mana mereka sebenarnya adalah orang-orang

yang memiliki wawasan tinggi dan luas tentang kehidupan, sampai kemudian membuat mereka

berkeputusan untuk membuang jauh apa yang bersifat dunia, pangkat, kekayaan.

Mereka memilih hidup sebagai abdi, dan istimewanya, mereka mengabdi raja-raja besar dari

sejak jaman Harjunasasra sampai Parikesit. Merekalah yang selalu mengingatkan raja-raja

mereka bila khilaf atau melakukan kesalahan.

Para pujangga Jawa dalam karya-karya sastra mereka mengisahkan Semar bukan sekadar rakyat

jelata biasa, melaikan penjelmaan Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru, raja para dewa.

Dalam pewayangan Jawa Tengah, Semar selalu disertai oleh anak-anaknya, yaitu Gareng,

Petruk, dan Bagong. Namun sesungguhnya ketiganya bukan anak kandung Semar. Gareng

adalah putra seorang pendeta yang mengalami kutukan dan terbebas oleh Semar. Petruk adalah

putra seorang raja bangsa Gandharwa. Sementara Bagong tercipta dari bayangan Semar berkat

sabda sakti Resi Manumanasa.

Dalam pewayangan Sunda, urutan anak-anak Semar adalah Cepot, Dawala, dan Gareng.

Sementara itu, dalam pewayangan Jawa Timuran, Semar hanya didampingi satu orang anak saja,

bernama Bagong, yang juga memiliki seorang anak bernama Besut.

Semar memiliki bentuk fisik yang sangat unik, seolah-olah ia merupakan simbol penggambaran

jagad raya. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan

makhluk lainnya.

Semar selalu tersenyum, tapi bermata sembab. Penggambaran ini sebagai simbol suka dan duka.

Wajahnya tua tapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil, sebagai simbol tua

dan Ia berkelamin laki-laki, tapi memiliki payudara seperti perempuan, sebagai simbol pria dan

wanita. Ia penjelmaan dewa tetapi hidup sebagai rakyat jelata, sebagai simbol atasan dan

bawahan.

Keistimewaan Semar

Semar merupakan tokoh pewayangan ciptaan pujangga lokal.Meskipun statusnya hanya sebagai

abdi, namun keluhurannya sejajar dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Jika dalam

perang Baratayuda menurut versi aslinya, penasihat pihak Pandawa hanya Kresna seorang, maka

dalam pewayangan, jumlahnya ditambah menjadi dua, dan yang satunya adalah Semar

dalam pementasan wayang yang bertemakan Ramayana, para dalang juga biasa menampilkan

Semar sebagai pengasuh keluarga Sri Rama ataupun Sugriwa. Seolah-olah Semar selalu muncul

dalam setiap pementasan wayang, tidak peduli apapun judul yang sedang dikisahkan.

Dalam pewayangan, Semar bertindak sebagai pengasuh golongan kesatria, sedangkan Togog

sebagai pengasuh kaum raksasa. Dapat dipastikan anak asuh Semar selalu dapat mengalahkan

anak asuh Togog.

Hal ini sesungguhnya merupakan simbol belaka. Semar merupakan gambaran perpaduan rakyat

kecil sekaligus dewa kahyangan.

Jadi, apabila para pemerintah yang disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar

mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka negara yang dipimpinnya

pasti menjadi negara yang unggul dan sentosa.