Anda di halaman 1dari 16

BUPIVACAINE Struktur mirip dengan lidokain, kecuali gugus yang mengandung amin dan butyl piperidin.

Merupakan anestetik lokal yang mempunyai masa kerja yang panjang, dengan efek blockadeterhadap sensorik lebih besar daripada motorik. Karena efek ini bupivakain lebih popular digunakan untuk memperpanjang analgesia selama persalinan dan masa pascapembedahan. Suatu penelitian menunjukan bahwa bupivakain dapat mengurangi dosis penggunaan morfin dalam mengontrol nyeri pada pascapembedahan Caesar. Pada dosis efektif yang sebanding, bupivakain lebih kardiotoksik daripada lidokain. Lidokain dan bupivakain, keduanya menghambat saluran Na+ jantung (cardiac Na+channels) selama sistolik. Namun bupivakain terdisosiasi jauh lebih lambat daripada lidokain selama diastolic, sehingga ada fraksi yang cukup besar tetap terhambat pada akhir diastolik. Manifestasi klinik berupa aritma ventrikuler yang berat dan depresi miokard. Keadaan ini dapat terjadi pada pemberian bupivakain dosis besar. Toksisitas jantung yang disebabkan oleh bupivakain sulit diatasi dan bertambah berat dengan adanya asidosis, hiperkarbia, dan hipoksemia.Ropivakain juga merupakan anestetik lokal yang mempunyai masa kerja panjang, ddengan toksisitas terhadap jantung lebih rendah daripada bupivakain pada dosis efektif yang sebanding, namun sedikit kurang kuat dalam menimbulkan anestesia dibandingkan bupivakain.Larutan bupivakain hidroklorida tersedia dalam konsentrasi 0,25% untuk anestesia infiltrasi dan 0,5% untuk suntikan paravertebral. Tanpa epinefrin, dosis maksimum untuk anestesia infiltrasi adalah sekitar 2 mg/KgBB. Indikasi Bupivakain digunakan untuk anestesi local termasuk infiltrasi, block saraf, epidural, dan anestesi intratekal. Bupivakain sering diberikan melalui injeksi epidural sebelum melakukan arthroplasty panggul total. Juga sering di injeksikan ke luka pembedahan untuk mengurangi nyeri hingga 20 jam setelah operasi. Terkadang, bupivakain dikombinasikan dengan epinephrine untuk memperlama durasi, dengan fentanil untuk analgesia epidural atau glukosa Kontra indikasi Kontraindikasi bupivakain untuk anestesi regional intravena karena resiko dari kesalahan tourniquet dan absorpsi sistemik obat.

Efek Samping Dibandingkan dengan obat anestesi local lainnya, bupivakain dapat mengakibatkan kardio toksik. Akan tetapi, efek samping akan menjadi jarang bila diberikan dengan benar. Kebanyakan efek samping berhubungan dengan cara pemberian atau efek farmakologis dari anestesi. Tetapi reaksi alergi jarang terjadi. Bupivakain dapat mengganggu konsentrasi plasma darah yang diakibatkan karena efeknya yang mempengaruhi CNS dan kardiovaskular. Bupivakain dapat mengakibatkan beberapa kematian ketika pasien diberikan anestesi epidural dengan mendadak. Mekanisme Kerja Bupivakain berikatan dengan bagian intracellular dari kanal sodium dan menutup sodium influk kedalam sel saraf PENDAHULUAN Obat-obatan hipnotik sedatif adalah istilah untuk obat-obatan yang mampu mendepresi sistem saraf pusat. Sedatif adalah substansi yang memiliki aktifitas moderate

yang memberikan efek menenangkan, sementara hipnotik adalah substansi yang dapat memberikan efek mengantuk dan yang dapat memberikan onset serta mempertahankan tidur. Secara klinis obat-obatan sedatif-hipnotik digunakan sebagai obat-obatan yang berhubungan dengan sistem saraf pusat seperti tatalaksana nyeri akut dan kronik, tindakan anestesia, penatalaksanaan kejang, serta insomnia. Obat-obatan sedatif hipnotik diklasifikasikan menjadi 3 kelompok, yakni: 1.Benzodiazepin 2.Barbiturat 3.Golongan obat nonbarbiturat nonbenzodiazepin

Obat golongan benzodiazepin berkerja pada reseptor g amma-aminobutyric acid. Efek farmakologi benzodiazepin merupakan akibat aksi g amma-aminobutyric acid sebagai

neurotransmitter penghambat di otak. B enzodiazepine meningkatkan kepekaan reseptor gamma-aminobutyric acid terhadap neurotransmitter penghambat sehingga kanal klorida terbuka dan terjadi hiperpolarisasi post sinaptik membran sel dan mendorong post sinaptik membran sel tidak dapat dieksitasi. Contoh preparat benzodiazepin antara lain midazolam, alprazolam, diazepam, clobazam.

Obat-obatan barbiturat bekerja pada neurotansmiter penghambat ( g amma-aminobutyric acid) pada sistem saraf pusat. Aktifasi reseptor ini meningkatkan konduktase klorida transmembran, sehingga terjadi hiperpolarisasi membran sel postsinaps. Contoh obat-obatan

golongan barbiturat antara lain tiopental dan phenobarbital

2 BENZODIAZEPIN A.

M IDAZOLA M

M iltliitt976lFWl M il wtlliititllilli tjiitltlitjii M ililiiVU Brand name ), H i nove l , dan

Dorm i m. M i dazo l am ada l ah der i va t benzod i azep i ne yang mem ilii mas ker j a sanga t

pendek. Systematic ( IUP AC ) name 8-chloro-6-(2-fluorophenyl ) -1-methyl-4 H -imidazo[1,5-a][1,4]benzodiazepine

FARAKO L OGI M idazolam merupakan benzodiazepine yang larut air dengan struktur cincin imidazole yang stabil dalam larutan dan metabolisme yang cepat. Obat ini telah menggantikan diazepam selama operasi dan memiliki potensi 2-3 kali lebih kuat. Selain itu affinitas terhadap reseptor GA B

A 2 kali lebih kuat dibanding diazepam. Efek amnesia pada obat ini lebih kuat diabanding efek sedasi sehingga pasien dapat terbangun namun tidak akan ingat kejadian dan pembicaraan yang terjadi selama beberapa jam. Larutan midazolam dibuat asam dengan pH < 4 agar cincin tidak terbuka dan tetap larut dalam air. Ketika masuk ke dalam tubuh, akan terjadi perubahan pH sehingga cincin akan menutup dan obat akan menjadi larut dalam lemak. Larutan midazolam dapat dicampur dengan ringer laktat atau garam asam dari obat lain. FARAKOKIN ET IK M idazolam diserap cepat dari saluran cerna dan dengan cepat melalui saar darah otak. Namun aktu equilibriumnya lebih lambat dibanding propofol dan thiopental. Hanya 50% dari obat yang diserap yang akan masuk ke sirkulasi sistemik karena metabolisme porta hepatik yang tinggi. Sebagian besar midazolam yang masuk plasma akan berikatan dengan protein. aktu durasi yang pendek dikarenakan kelarutan lemak yang tinggi mempercepat distribusi dari otak ke jaringan yang tidak aktif begitu juga dengan klirens hepar yang cepat. aktu paruh midazolam adalah antara 1-4 jam, lebih pendek daripada aktu paruh diazepam. aktu paruh ini dapat meningkat pada pasien tua dan gangguan fungsi hati. Pada pasien dengan obesitas, klirens midazolam akan lebih lambat karena obat banyak berikatan dengan sel lemak. Akibat eliminasi yang cepat dari midazolam, maka efek pada CNS akan lebih pendek dibanding diazepam. Awitan aksi

: I 30 detik-1 menit; I M 15 menit; PO/rektal menit; intranasal < 10 menit; intranasal < 5 menit Efe k Puncak : I 3-5 menit; I M 15-30 menit; PO 30 menit; intranasal 10 menit; rektal 20-30 menit L ama aksi : I/I M 15-80 menit; PO/rectal 2- jam

http://www.scribd.com/doc/55475303/MIDAZOLAM http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en%7Cid&u=http://realnurseed.com/fe ntan.htm (fentanil)

http://artikelkedokteran.net/cara-kerja-oksitosin.html http://www.scribd.com/rhelovez/d/27490881-OBAT-KEBIDANAN

http://ningrumwahyuni.wordpress.com/2009/07/05/obat-obat-bronkodilator/ http://indofarma.co.id/index.php?option=com_product&catid=1&Itemid=60&prodid=107

Uterus Tonika Obat yang kerjanya mempengaruhi kontraksi rahim. Obat obat uterus tonika : Methylergometrine Indikasi Sebagai Stimulan Uterus pada : Perdarahan Pasca Persalinan Perdarahan Pasca Abortus

Cara kerja 1. Mulai kerja cepat IV 40 detik ; IM 7 8 ,emit , oral 10 menit 2. Bio Tranformasi dalam hati 3. Ekskresi melalui hati dan ginjal Dosis, cara pemakaian, pemberian 1. Oral 0,2 0,4 mg sehari 2 4 kali, selama 2 hari 2. IV atau IM 0,2 mg ( 1 ml ) 3. IM boleh diulang setelah 2 4 jam bila perdarahan hebat Efek Samping T/D naik terutama penderita tekanan hypertensi kronis / preklamsi Mual , Muntah Penglihatan Kabur Sakit Kepala Kejang Diare

Gatal Kulit Dingin Nadi Lemah dan Cepat Bingung

Kontra Indikasi Persalinan pada Kala I dan II Hipersensitif pada ergo Kehamilan Penderita Toxemia Gravidarum

oksitoksin Kerja oksitoksin Bersama dengan faktor-faktor lainnya, oksitoksin memainkan peranan yang sangat penting dalam persalinan dan injeksi ASI. Oksitoksin bekerja pada reseptor oksitoksik untuk menyebabkan : Kontraksi uterus kehamilan aterm yang terjadi lewat kerjalan gsung pada otot polos maupun lewat peningkatan produksi prostaglandin Konstriksi pembuluh darah umbilicus Kontraksi sel-sel miopitel (refleks ejeksi ASI) Oksitoksin bekerja pada reseptor hormone antidiuretik (ADH)* untuk menyebakan : Peningkatan atau penurunan yang mendadak pada tekanan darah (khususnya diastolic) karena terjadinya vasodilatasi. Retensi air Kerja oksitoksin yang meliputi : kontraksi tuba uterine (fallopi) untuk membantu pengangkutan sperma; luteolisis (involusi korpus luteum); perana neurotransmitter yang lain dalam system saraf pusat. Oksitoksin disintesis I dalam hipotalamus, kelenjar gonad, plasenta dan uterus. Mulai dari usia kehamilan 32 minggu dan selanjutnya, konsentrasi oksitoksin dan demikian pula aktivitas uterus akan lebih tinggi pada malam harinya. Pelepasan oksitoksin endogenus di tingkatkan oleh:

Persalinan. (pelepasanendogenus oksitoksin bersifat pulsatil, control umpan balik yang positif dari persalinan akan mencapai puncaknya pada saat terjadi gelombang pelepasan oksitoksin

Stimulasi serviks, vagina atau payudara Estrogen yang beredar dalam darah Peningkatan osmolalitas/ konsentrasi plasma (glosarium) Volume cairan yang rendah dalam sirkulasi darah Sters. Stress dalam persalinan dapat memicu partus prespitatus yang di kenal dengan istilah refleks ejeksi fetus. Sters yang disebabkan oleh tangisan bayi menstimulasi produksi ASI.

Pelepasan oksitoksin di supresi oleh: Alcohol. (hal ini menggangu awal pemberian asi) Relaksin Penurunan osmolalitas (konsentrasi) plasma Volume cairan yang tinggi dalam sirkulasi darah

Efek Samping Penggunaan Oxitocin Efek Samping Maternal : Stimulasi uterus berlebihan Solusio placenta perdarahan postpartum Emboli cairan amnion Trauma Hematom pelvis,rupture uterus System kardiovaskuler Kolaps kardiovaskuler Hipotensi Stroke mual dan muntah Retensi cairan intoksikasi air Hipertensi

Efek Samping: Fetal / Neonatal Asidosis distrimia jantung Asfiksia hipoksia Trauma lahir ikterus neonatal

Indikasi, Dosis, Cara Pemakaian, Pemberian Induksi Partus Aterm Efek Samping : Kadang terjadi kontraksi uteri yang menetap dan mengganggu sirkulasi plasenta. Apabila diberikan pada stad I dan II persalinan akan terjadi : o Kontraksi uterus akan bertambah kuat o Bagian tubuh bayi akan terdorong ke luar lewat serviks sehingga timbul bahaya laserasi seviks. o Dapat terjadi Tuptura Uteri o Kontraksi tetanik yang terlalu kuat ii.Mengontrol perdarahan pasca persalinan Dosis dan Cara pemberian : 0,2 0,3 mg IM atau dapat pula diberikan IV dengan dosis 0,2 mg untuk mendapatkan efek lebih cepat. iii.Menginduksi abortus Therapeutic sesudah trimester I kehamilan. 4

Pemberian harus hati hati pada pasien : b)Pasien dengan penyakit jantung c)Paru paru d)Ginjal e)HT f)Hati g)Asma h)Anemia i)Epilepsi Kontra Indikasi : -Penyakit radang pelvis -Terdapat jaringan perut pada uterus -Hipersensitif terhadap obat Ondansentron Cara Kerja Ondansetron suatu antagonis reseptor 5HT3 yang bekerja secara selektif dan kompetitif dalam mencegah maupun mengatasi mual dan muntah akibat pengobatan dengan sitostatika dan radioterapi. Indikasi Penanggulangan mual dan muntah karena kemoterapi dan radioterapi serta operasi. Dosis Pencegahan mual dan muntah pasca bedah :

4 mg/i.m. sebagai dosis tunggal atau injeksi i.v. secara perlahan. Pencegahan mual dan muntah karena kemoterapi. Dewasa : Kemoterapi yang sangat emetogenik, misalnya cisplatin. Mula-mula diberikan injeksi 8 mg ondansetron i.v. secara lambat atau diinfuskan selama 15 menit segera sebelum diberikan kemoterapi, diikuti dengan infus 1 mg ondansetron/jam selama terus-menerus selama kurang dari 24 jam atau 2 injeksi 8 mg i.v. secara lambat atau diinfuskan selama 15 menit dengan selang waktu 4 jam. Atau bisa juga diikuti dengan pemberian 8 mg peroral 2 kali sehari selama kurang dari 5 hari. Kemoterapi yang kurang emetogenik, misalnya siklospamid. Injeksi i.v. 8 mg ondansetron secara lambat atau diinfuskan selama 15 menit segera sebelum diberikan kemoterapi, diikuti dengan 8 mg peroral 2 kali sehari selama kurang dari 5 hari. Anak-anak > 4 tahun : 5 mg/ml secara i.v. selama 15 menit segera sebelum diberikan kemoterapi, diikuti dengan memberikan 4 mg peroral tiap 12 jam selama kurang dari 5 hari. Usia lanjut : Ondansetron dapat ditoleransi dengan baik pada penderita usia diatas 65 tahun tanpa mengubah dosis, frekuensi, ataupun cara pemberian. Penderita dengan gangguan fungsi ginjal : Tidak memerlukan penyesuaian dosis harian, frekuensi ataupun cara pemberian. Penderita dengan gangguan fungsi hati: Dosis total harian tidak boleh lebih dari 8 mg. Efek Samping Sakit kepala, konstipasi, rasa panas pada kepala dan epigastrum, sedasi dan diare. Kontraindikasi Penderita yang hipersensitif terhadap ondansetron.

Overdosis Pada dosis 84 mg 145 mg i.v. terjadi efek samping. Antidotum yang khusus tidak ada. Cara Penyimpanan Simpan pada suhu 15 25oC (dalam ruang AC), terlindung dari cahaya. Perhatian Sebaiknya tidak digunakan pada wanita hamil terutama pada semester pertama dan wanita menyusui, kecuali bila manfaat lebih besar dari resiko yang mungkin terjadi

MIDAZOLAM FARMAKOLOGI Midazolam merupakan benzodiazepine yang larut air dengan struktur cincin midazole yang stabil dalam larutan dan metabolisme yang cepat. Obat ini telah menggantikan diazepam selama operasi dan memiliki potensi 2-3 kali lebih kuat. Selain itu affinitas terhadap reseptor GABA 2 kali lebih kuat dibanding diazepam. Efek amnesia pada obat ini lebih kuat diabanding efek sedasi sehingga pasien dapat terbangun namun tidak akan ingat kejadian dan pembicaraan yang terjadi selama beberapa jam. Larutan midazolam dibuat asam dengan pH < 4 agar cincin tidak terbuka dan tetap larut dalam air. Ketika masuk ke dalam tubuh, akan terjadi perubahan pH sehingga cincin akan menutup dan obat akan menjadi larut dalam lemak. Larutan midazolam dapat dicampur dengan ringer laktat atau garam asam dari obat lain.

INDIKASI

Intramuskular atau intravena untuk sedasi pra operasi / anxiolysis / amnesia; Intravena sebagai agen untuk sedasi / anxiolysis / amnesia sebelum atau selama prosedur diagnostik, terapeutik atau endoskopi, seperti bronkoskopi, gastroskopi, cystoscopy, angiografi koroner dan kateterisasi jantung, onkologi prosedur, prosedur radiologis, jahitan dari luka dan prosedur lainnya baik sendiri atau dikombinasikan dengan depresan SSP lain;

Intravena untuk induksi anestesi umum, sebelum pemberian agen anestesi lain. Dengan penggunaan narkotik premedikasi, induksi anestesi dapat dicapai dalam rentang dosis yang relatif sempit dan dalam aktu singkat.Midazolam intravena juga dapat digunakan sebagai komponen suplementasi intravena nitrous oxide dan oksigen (anestesi seimbang);

Infus intravena terus menerus untuk sedasi pasien intubasi dan ventilasi mekanik sebagai komponen anestesi atau selama peraatan dalam pengaturan peraatan kritis