Anda di halaman 1dari 19
PROBLEMATIKA PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ALTERNATIF SOLUSINYA I WAYAN BAWA PARMITA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

PROBLEMATIKA PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ALTERNATIF SOLUSINYA

PROBLEMATIKA PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ALTERNATIF SOLUSINYA I WAYAN BAWA PARMITA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
PROBLEMATIKA PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ALTERNATIF SOLUSINYA I WAYAN BAWA PARMITA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
PROBLEMATIKA PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ALTERNATIF SOLUSINYA I WAYAN BAWA PARMITA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

I WAYAN BAWA PARMITA

MATEMATIKA DAN ALTERNATIF SOLUSINYA I WAYAN BAWA PARMITA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA PROGRAM PASCASARJANA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA TAHUN 2012

DAFTAR ISI

 

Halaman

PRAKATA

i

DAFTAR ISI

ii

BAB I

PENDAHULUAN

1

1.1

Latar Belakang

1

1.2

Rumusan Masalah

2

1.3

Tujuan Penulisan

3

1.4

Manfaat Penulisan

3

BAB II

PEMBAHASAN

4

2.1

Hakekat Pembelajaran Matematika

4

2.2

Pembelajaran Matematika di Sekolah

5

2.3

Problematika dalam Pendidikan Matematika di Sekolah

6

2.4

Solusi dari Problematika dalam Pendidikan Matematika di Sekolah

8

BAB III

PENUTUP

15

3.1 Simpulan

15

 

3.2 Saran

16

DAFTAR PUSTAKA

i

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Belajar merupakan suatu proses yang mengakibatkan adanya perubahan perilaku baik potensial maupun aktual dan bersifat relatif permanen sebagai akibat dari latihan dan pengalaman. Sedangkan kegiatan pembelajaran adalah kegiatan interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam kegiatan pembelajaran siswa dituntut keaktifannya. Aktif yang dimaksud adalah siswa aktif bertanya, mempertanyakan, mengemukakan gagasan dan terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran, karena belajar memang merupakan suatu proses aktif dari siswa dalam membangun pengetahuannya. Sehingga, jika pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebut bertentangan dengan hakikat belajar. Dalam kegiatan pembelajaran siswa tidak hanya dituntut keaktifannya saja tapi juga kekreativitasannya, karena kreativitas dalam pembelajaran dapat menciptakan situasi yang baru, tidak monoton dan menarik sehingga siswa akan lebih terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Tujuan diberikannya matematika di jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah memberi tekanan pada penataan nalar dan pembentukan sikap siswa serta pada keterampilan dalam penerapan matematika, seperti yang dikemukakan Erman Suherman . Belajar matematika merupakan kegiatan mental yang tinggi sebab matematika berkaitan dengan konsep-konsep abstrak yang berkenaan dengan ide-ide, struktur hubungan-hubungan yang diatur secara logis yang akan membawa terjadinya proses pembelajaran matematika itu sendiri. Beberapa faktor yang mementukan terjadinya proses pembelajaran matematika meliputi : siswa, pengajar atau tenaga pendidik, sarana, dan prasarana, serta penilain disamping materi pelajaran. Proses pembelajaran akan berhasil apabila faktor-faktor tersebut dikelola dengan baik. Pengelolaan pembelajaran di kelas biasanya didominasi oleh guru, disinilah pangkal kesalahan dari guru dalam mengelola kelas. Guru seharusnya bisa mengurangi dominasi dan dalam

[Type the document title]

pembelajaran siswa yang seharusnya lebih banyak diberikan porsi. Keberhasilan proses pembelajaran terletak pada turut sertanya peserta didik secara aktif oleh karena itu apapun metode yang digunakan dalam proses pembelajaran harus memungkinkan peserta didik dapat belajar secara aktif. Karena apabila peserta didik tidak dapat diarahkan untuk aktif, maka interaksi dan komunikasi dalam pembelajaran tidak akan terjadi. Untuk itulah perlu diguakan cara-cara mengajar yang sesuai dan bervariasi dalam proses pembelajaran matematika Dalam pembelajaran matematika seringkali siswa merasa kesulitan dalam belajar, selain itu belajar siswa belum bermakna, sehingga pengertian siswa tentang konsep salah. Akibatnya prestasi siswa baik secara nasional maupun internasional belum menggembirakan. Rendahnya prestasi disebabkan oleh faktor siswa yaitu mengalami masalah secara komprehensip atau secara parsial. Sedangkan guru yang bertugas sebagai pengelola pembelajaran seringkali belum mampu menyampaikan materi pelajaran kepada siswa secara bermakna, serta penyampaiannya juga terkesan monoton tanpa memperhatikan potensi dan kreativitas siswa sehingga siswa merasa bosan karena siswa hanya dianggap sebagai botol kosong yang siap diisi dengan materi pelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran matematika guru harus menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi dan disesuaikan dengan kondisi siswa sehingga siswa lebih memahami materi yang disampaikan dan siswa lebih berkesan dengan pembelajaran yang telah disampaikan serta siswa akan lebih mengingat dan tidak mudah melupakan hal- hal yang dipelajarinya.

1.2. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang diangkat dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut. 1) Apakah problematika yang ditemui di sekolah dalam pembelajaran

2)

matematika? Bagaimana alternatif solusi untuk mengatasi problematika yang dihadapi?

2

[Type the document title]

1.3.

Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.

 

1)

Menginformasikan problematika yang ditemui di sekolah dalam pembelajaran matematika.

2)

Untuk

mengetahui

alternatif

solusi

untuk

mengatasi

problematika

yang

dihadapi.

1.4.

Manfaat Penulisan

 

Makalah ini diharapkan bermanfaat bagi banyak pihak dan golongan, baik masyarakat umum, pemerintah, praktisi pendidikan, matematikawan, maupun civitas akademika. Manfaat penulisan makalah ini adalah diharapkan mampu menambah informasi kepada pembaca tentang problematika dan alternatif solusi yang dapat diimplementasikan dalam pendidikan matematika khususnya interaksi belajar yang terjadi di kelas. Dengan bertambahnya wawasan tentang problematika dan berbagai alternatif solusinya ini, diharapkan semakin banyak pihak yang tertarik untuk mengembangkan dan meneliti metode ataupun pendekatan-pendekatan pembelajaran guna mengatasi masalah pendidikan yang dihadapi dan tentunya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di negara ini.

3

[Type the document title]

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Hakekat Pembelajaran Matematika Belajar adalah suatu proses aktif dalam memperoleh pengalaman/pengetahuan baru sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku. Belajar matematika melibatkan suatu struktur hirarki dari konsep-konsep tingkat tinggi yang dibentuk atas dasar apa yang dipelajari sebelumnya. Terkait dengan hakekat belajar matematika ini, siswa akan belajar dengan baik jika mereka termotivasi. Situasi yang menyenangkan atau rasa senang akan dapat menimbulkan motivasi siswa untuk belajar. Belajar matematika itu akan lebih efektif apabila matematika itu menarik, menyenangkan, dan menantang. Dengan demikian aktivitas pembelajaran hendaknya memberikan kegiatan yang menantang sehingga dapat menimbulkan rasa ingin tahu. Pengalaman aktual yang dimiliki oleh siswa hendaknya digunakan sebagai landasan dalam pembelajaran matematika. Siswa harus diarahkan untuk menyadari akan manfaat matematika terhadap kehidupan sehari-hari. Vselain itu siswa hendaknya diupayakan agar senantiasa merasa berhasil dalam belajar sehingga timbul sikap positif terhadap matematika itu sendiri. Matematika merupakan ilmu yang bersifat abstrak. Untuk membantu siswa memahami konsep matematika yang bersifat abstrak maka pembelajaran matematika sebaiknya melibatkan interaksi baik dengan lingkungan fisik atau lingkungan social. Siswa belajar matematika lewat interaksi. Interaksi ini akan mengarahkan proses abstraksi yang diperoleh siswa dalam matematika. Implikasinya dalam pembelajaran adalah : pemahaman siswa terhadap ide-ide matematika hendaknya dikembangkan lewat interaksi mereka dalam berbagai situasi pembelajaran. Kesempatan berinteraksi sesame siswa juga perlu di upayakan, sehingga para siswa saling memberikan bantuan ketika ada siswa yang mengalami kesulitan. Salah satu karakteristik matematika yaitu matematika sebagai kegiatan penelusuran pola dan hubungan (Departemen Pendidikan Nasional, 2003). Oleh karena itru dalam proses pembelajaran matematika hendaknya melibatkan

4

[Type the document title]

investigasi mengenai pola, hubungan serta proses. Kesempatan untuk menggunakan proses matematis dlam pemecahan masalah sebaiknya diupayakan ada dalam semua aktivitas pembelajaran matematika. Siswa akan belajar dengan baik kalau mereka sempat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri di benak mereka. (Departemen Pendidikan Nasional, 2003). Hal ini didasarkan atas 3 hal yaitu : (1) pengetahuan tidak diterima secara pasif, (2) siswa mengkonstruksi pengetahuan matematika melalui aktivitas baik fmaupun mental, dan (3) belajar itu mencerminkan proses sosial. Dari ketiga hal tersebut maka perlu diupayakan suatu kondisi pembelajaran yang kondusif sehingga siswa menjasi aktif dan proses sosial yang terjadi menjadi harmonis. Dengan begitu siswa akan merasa senag dan nyaman dalam belajar, sehingga kesempatan untuk mengkonstruksi pengerahuannya sendiri menjadi lebih baik.

2.2. Pembelajaran Matematika di Sekolah Berbagai pendapat muncul mengenai definisi matematika, dipandang dari pengetahuan dan pengalaman masing- masing yang berbeda. Ada yang mengatakan bahwa matematika itu bahasa simbol; matematika adalah bahasa numerik; matematika adalah bahasa yang dapat menghilangkan sifat kabur, majemuk dan emosional, dan masih banyak lagi yang lainnya. Banyak jawaban yang muncul terhadap pertanyaan " what is matematics?, diantaranya ada yang mendefinisikan" mathematics is power dan " mathematics is a tool". Mathematics is power, Ruseffendi ET (1980 : 148) mengemukakan bahwa matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran. Simbol ataau notasi dalam matematika mempunyai peranan penting dalam mengkomunikasikan ide-ide dalam membangun matemaiika. Terbentuknya suatu konsep matematika melalui proses berikut, adanya simbol-simbol dari ide-ide dengan mengkomunikasikan simbol-simbol akan membangun konsep-konsep matematika sebagai kekuatan. Kline (1973) dealam bukunya mengatakan matematika bukanlah pengetahuan yang menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan dan menguasai persoalan sosial, ekonomi dan alam. Matematika tumbuh dan berkembang karena

5

[Type the document title]

proses berpikir, dikatakan sebagai alat karena matematika dapat membantu mengembangkan ilmu yang lain memecahkan masalah kehidupan serta mengembangkan ilmu untuk dirinya sendiri dan dikkembangkan untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karakteristik pembelajaran matematika diantaranya: pembelajaran matematika adalah berjenjang, pembelajaran matematika mengikuti metoda spiral, pengajaran matematika menekankan pola berfikir deduktif, pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi. Salah satu tujuan diberikannya matematika dijenjang pendidikan dasar dan menengah, yaitu untuk “Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari …” (Depdikbud 1994:1). Dikatakan pula oleh Gagne (Ruseffendi, 1988: 165), bahwa objek tidak langsung dari mempelajari matematika adalah agar siswa memiliki kemampuan memecahkan masalah. Dari pendapat Gagne dan tujuan Kurikulum Matematika, dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk dapat memecahkan suatu masalah, para siswa perlu memiliki kemampuan bernalar yang dapat diperoleh melalui pembelajaran matematika.

2.3. Problematika dalam Pendidikan Matematika di Sekolah Peraturan Menteri (Permen) nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan secara jelas menyiratkan bahwa kompetensi yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah mempelajari matematika yaitu kemampuan pemecahan masalah yang meliputi kemampuan untuk memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Kompetensi lain yang diharapkan dimiliki oleh peserta didik yaitu memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Kedua kompetensi tersebut memberikan makna bahwa dalam proses belajar mengajar matematika, guru dan siswa harus menyadari bahwa sasaran dari belajar matematika adalah kemampuan untuk memecahkan masalah serta menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam NCTM (1989) dinyatakan

6

[Type the document title]

bahwa “… problem solving should become the focus of mathematics in school”. Ini berarti bahwa fokus dari pembelajaran matematika di sekolah adalah kemampuan siswa untuk memecahkan masalah. Masalah yang diberikan kepada siswa mencakup masalah tertutup yaitu masalah dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Katagori masalah tersebut dikenal sebagai problem solving question. Dengan diberikannya soal pemecahan masalah kepada siswa, maka kemampuannya dalam menyelesaiakan dengan langkah-langkah yang tepat merupakan indikator ketercapaian kompetensi tersebut. Langkah-langkah yang seharusnya dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah penyelesaian masalah menurut Polya, yaitu: a) Memahami masalahnya. Dalam hal ini, pemecah masalah harus mengetahui apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan; b) Merencanakan cara penyelesaian; c) Memecahkan masalah sesuai dengan rencana; dan d) Melakukan pengecekan kembali terhadap semua langkah yang telah dikerjakan. Namun, dari hasil observasi proses belajar mengajar di kelas VIII SMP Negeri 3 Ubud Kabupaten Gianyar serta diskusi dengan guru mata pelajaran Matematika terindikasi beberapa permasalahan dalam proses belajar mengajar, diantaranya:

a) Kemampuan siswa, khususnya dalam pemecahan masalah matematika masih memerlukan perhatian khusus.

b) Motivasi siswa untuk menyelesaikan soal pemecahan masalah masih kurang

c) Siswa lebih berorientasi untuk memecahkan soal-soal yang dapat diselesaikan dengan prosedur rutin dan kurang memperhatikan bahwa kompetensi yang dituntut adalah kemampuan dalam pemecahan masalah

d) Siswa kurang terbiasa untuk memecahkan masalah. Ini yang merupakan indikasi minimnya kesempatan berlatih dalam proses belajar mengajar di kelas.

e) Sebagian besar siswa belum mampu mengkomunikasikan gagasannya dengan menggunakan simbol-simbol matematika, tabel dan grafik

7

[Type the document title]

f) Terdapat kesalahan prosedur (algoritma) dalam proses penyelesaian masalah

g) Masih terdapat kecendrungan terjadi kesalahan penulisan notasi ataupun

langkah dalam pemecahan masalah Sebagian dari permasalahan yang dihadapi peserta didik di atas memerlukan penangan secara cepat dan inovatif tentu oleh guru sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, terdapat indikasi bahwa kesenjangan yang terjadi disebabkan karena implementasi pendekatan pembelajaran yang belum mendukung secara maksimal kesempatan siswa untuk berlatih memecahkan masalah. Padahal, jika dikaji secara rinci sasaran yang ingin

dicapai dalam belajar matematika dan karakteristik masing-masing pendekatan pembelajaran, terdapat beragam model, strategi, pendekatan, ataupun metode pembelajaran yang bisa diterapkan diantaranya model kooperatif (STAD, JIGSAW, TAI, TGT, NHT, GI, dan sebagainya), pembelajaran kontekstual, inkuiri, dicovery learning, problem based learning, project based learning, problem possing, dan masih banyak pendekatan lainnya. Namun, dengan memperhatikan muara dari pembelajaran matematika serta karakteristik masalah yang dialami oleh siswa kelas VIII SMP N 3 Ubud, pendekatan Problem-Based Learning merupakan salah satu pendekatan yang relevan.

2.4. Solusi dari Problematika Pendidikan Matematika di Sekolah Suatu masalah dalam matematika sering diidentikan dengan soal matematika. Sehingga apabila seseorang dihadapkan pada suatu masalah dalam hal ini soal matematika, maka akan ada beberapa kemungkinan yang mungkin terjadi di dalam proses pemecahan masalah. Salah satu diantaranya adalah ia tidak mempunyai gambaran tentang penyelesaiannya tetapi berkeinginan untuk menyelesaikannya, maka dapat dikatakan orang tersebut berhadapan dengan suatu masalah. Sutawidjaja (1998: 2) mengatakan bahwa “ suatu soal merupakan suatu masalah bagi seseorang apabila diprlukan dua syarat: (1) orang itu tidak mempunyai gambaran tentang jawaban soal itu, dan (2) orang itu berkeinginan atau berkemauan untuk menyelesaikan soal tersebut’.Ini berhati suatu soal mepuakan masalah atau tidak bagi seseorang sangat relaitf bagi orang tersebut.

8

[Type the document title]

Suparno (1997:6) menyatakan bahwa “mengajar bukanlah suatu kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya”. Dalam pembelajaran matematika terutama dalam belajar dan mengajar pemecahan masalah seorang

guru memposisikan dirinya sebagai fasilitator bagi siswa. Dalam peranannya sebagai fasilitator seperti yang dijelaskan oleh Munandar (1992: 45) seorang guru seharusnya:

1. mendorong belajar mandiri sebanyak munkin

2. dapat menerima gagasan- gagasan dari semua siswa

3. memupuk siswa untuk memberi kritik secara konstuktif dan untuk memberikan penilaian diri sendiri

4. berusaha menghindari pemberian hukuman atau celaan terhadap ide- ide yang tidak biasa

5. dapat menerima perbedaan menurut waktu dan kecepatan antar siswa

dalam kemampuan berpikir. Untuk dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah sangatlah diperlukan suatu strategi khusus. Perry dan Conroy (dalam Sutawidjaja, 1998: 9) mengemukakan mengenai strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah yaitu:

1) strategi untuk meningkatkan kemampuan untuk memecahkan masalah yang berkaitam dengan siswa;

a. siswa harus diberanikan untuk menerima ketidaktahuan dan merasa senang untuk mencari tahu

b. setiap siswa dalam kelompok harus diberanikan untuk membuat soal atau pertanyaan

c. siswa diperbolehka memilih masalah-masalah dari sejumlah masalah yang diberikan

d. siswa harus diberanikan untuk mengambil resiko atau mencari

alternatif 2) strategi untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah yang berkaitan dengan guru;

9

[Type the document title]

a. guru harus sadar akan sikap positif dan cara-cara yang mengembangkan hal ini

b. guru harus berani mencari dan mengembangkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalah

c. guru harus mencari masalah yang menarik yang sering muncul secara spontan

d. guru perlu memperjelas situasi belajar dengan bertanya untuk menggalakkan jawaban dan penyajian siswa

e. guru harus mau membiarkan pemecahan suatu masalah menurut persepsi siswa walaupun mungkin mempunyai arah yang berbeda dengan yang direncanakan

f. masalah tidak harus selalu diselesaikan oleh siswa. Masalah dapat dilontarkan sebagai awal dari penyajian materi baru

Berkaitan dengan pendekatan Problem-Based Learning yang merupakan pendekatan yang relevan sebagai salah satu alternatif solusi dari masalah pendidikan matematika yang penulis temui di tingkat sekolah khususnya di SMP Negeri 3 Ubud, ada beberapa hal yang sudah sepatutnya diperhatikan untuk meredusir masalah yang ditemui.

1. Pengajuan masalah atau pertanyaan

Pengajaran berbasis masalah bukan hanya mengorganisasikan prinsip- prinsip atau ketrampilan akademik tertentu, pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang kedua- duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa. Mereka dihadapkan situasi kehidupan nyata yang autentik , menghindari jawaban

sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi itu. Menurut Arends (dalam Abbas, 2000:13), pertanyaan dan masalah yang diajukan haruslah memenuhi criteria sebagai berikut.

a. Autentik

Yaitu masalah harus lebih berakar pada kehidupan dunia nyata siswa dari

pada berakar pada prinsip-prinsip disiplin ilmu tertentu.

b. Jelas

10

[Type the document title]

Yaitu masalah dirumuskan dengan jelas, dalam arti tidak menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya menyulitkan penyelesaian siswa.

c. Mudah dipahami.

Yaitu masalah yang diberikan hendaknya mudah dipahami siswa. Selain

itu masalah disusun dan dibuat sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.

d. Luas dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Yaitu masalah yang disusun dan dirumuskan hendaknya bersifat luas, artinya masalah tersebut mencakup seluruh materi pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang dan sumber yang tersedia. Selain itu, masalah yang telah disusun tersebut harus didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah

ditetapkan.

e. Bermanfaat.

Yaitu masalah yang telah disusun dan dirumuskan haruslah bermanfaat, baik siswa sebagai pemecah masalah maupun guru sebagai pembuat masalah. Masalah yang bermanfaat adalah masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir memecahkan masalah siswa, serta membangkitkan motivasi belajar siswa.

2. Penyelidikan autentik

Pengajaran berbasis masalah siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Mereka harus menganalisis

dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis dan membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi dan merumuskan kesimpulan. Metode penyelidikan yang digunakan bergantung pada masalah yang sedang dipelajari.

3. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya

Pengajaran berbasis masalah menuntut siswa untuk menghasilkan produk tertentu

dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk itu dapat berupa transkip debat, laporan, model fisik, video atau program komputer (Ibrahim & Nur, 2000:5-7 dalam Nurhadi, 2003:56)

4. Kerjasama.

Model pembelajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa yang bekerjasama satu

sama lain, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil.

11

[Type the document title]

Bekerjasama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir.

Adapun prosedur-prosedur PBL yang penulis sarankan dalam pembelajaran di kelas sesuai dengan fase/ tahapan pelaksanaan PBL sebagai berikut. Fase Aktivitas guru Fase 1: Mengorientasikan siswa pada masalah Pembelajaran dimulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas- aktivitas yang akan dilakukan. Dalam penggunaan PBL, tahapan ini sangat penting dimana guru/dosen harus menjelaskan dengan rinci apa yang harus dilakukan oleh siswa/mahasiswa dan juga oleh dosen. Disamping proses yang akan berlangsung, sangat penting juga dijelaskan bagaimana guru/dosen akan mengevaluasi proses pembelajaran. Hal ini sangat penting untuk memberikan motivasi agar siswa dapat engage dalam pembelajaran yang akan dilakukan.

Fase 2: Mengorganisasikan siswa untuk belajar Disamping mengembangkan ketrampilan memecahkan masalah, pembelajaran PBL juga mendorong siswa/mahasiswa belajar berkolaborasi. Pemecahan suatu masalah sangat membutuhkan kerjasama dan sharing antar anggota. Oleh sebab itu, guru/dosen dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok siswa dimana masing-masing kelompok akan memilih dan memecahkan masalah yang berbeda. Prinsip-prinsip pengelompokan siswa dalam pembelajaran kooperatif dapat digunakan dalam konteks ini seperti: kelompok harus heterogen, pentingnya interaksi antar anggota, komunikasi yang efektif, adanya tutor sebaya, dan sebagainya. Guru/dosen sangat penting memonitor dan mengevaluasi kerja masing-masing kelompok untuk menjaga kinerja dan dinamika kelompok selama pembelajaran. Setelah mahasiswa diorientasikan pada suatu masalah dan telah membentuk kelompok belajar selanjutnya guru dan mahasiswa menetapkan subtopik-subtopik yang spesifik, tugas-tugas penyelidikan, dan jadwal. Tantangan utama bagi guru pada tahap ini adalah mengupayakan agar semua mahasiswa aktif terlibat dalam

12

[Type the document title]

sejumlah kegiatan penyelidikan dan hasil-hasil penyelidikan ini dapat menghasilkan penyelesaian terhadap permasalahan tersebut.

Fase 3: Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok Penyelidikan adalah inti dari PBL. Meskipun setiap situasi permasalahan memerlukan teknik penyelidikan yang berbeda, namun pada umumnya tentu melibatkan karakter yang identik, yakni pengumpulan data dan eksperimen, berhipotesis dan penjelasan, dan memberikan pemecahan. Pengumpulan data dan eksperimentasi merupakan aspek yang sangat penting. Pada tahap ini, guru harus mendorong mahasiswa untuk mengumpulkan data dan melaksanakan eksperimen (mental maupun aktual) sampai mereka betul-betul memahami dimensi situasi permasalahan. Tujuannya adalah agar mahasiswa mengumpulkan cukup informasi untuk menciptakan dan membangun ide mereka sendiri. Pada fase ini seharusnya lebih dari sekedar membaca tentang masalah-masalah dalam buku-buku. Guru membantu mahasiswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber, dan ia seharusnya mengajukan pertanyaan pada mahasiswa untuk berifikir tentang massalah dan ragam informasi yang dibutuhkan untuk sampai pada pemecahan masalah yang dapat dipertahankan.

Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan artifak (hasil karya) dan mempamerkannya Tahap penyelidikan diikuti dengan menciptakan artifak (hasil karya) dan pameran. Artifak lebih dari sekedar laporan tertulis, namun bisa suatu videotape (menunjukkan situasi masalah dan pemecahan yang diusulkan), model (perwujudan secara fisik dari situasi masalah dan pemecahannya), program komputer, dan sajian multimedia. Tentunya kecanggihan artifak sangat dipengaruhi tingkat berfikir mahasiswa. Langkah selanjutnya adalah mempamerkan hasil karyanya dan guru berperan sebagai organisator pameran. Akan lebih baik jika dalam pemeran ini melibatkan mahasiswa-mahasiswa lainnya, guru-guru, orangtua, dan lainnya yang dapat menjadi “penilai” atau memberikan umpan balik.

13

[Type the document title]

Fase 5: Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah Fase ini merupakan tahap akhir dalam PBL. Fase ini dimaksudkan untuk membantu mahasiswa menganalisis dan mengevaluasi proses mereka sendiri dan kete-rampilan penyelidikan dan intelektual yang mereka gunakan. Selama fase ini guru meminta mahasiswa untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya. Kapan mereka pertama kali memperoleh pemahaman yang jelas tentang situasi masalah? Kapan mereka yakin dalam pemecahan tertentu? Mengapa mereka dapat menerima penjelasan lebih siap dibanding yang lain? Mengapa mereka menolak beberapa penjelasan? Mengapa mereka mengadopsi pemecahan akhir dari mereka? Apakah mereka berubah pikiran tentang situasi masalah ketika penyelidikan berlangsung? Apa penyebab perubahan itu? Apakah mereka akan melakukan secara berbeda di waktu yang akan datang? Tentunya masih banyak lagi pertanyaan yang dapat diajukan untuk memberikan umpan balik dan menginvestigasi kelemahan dan kekuatan PBL untuk pengajaran.

14

[Type the document title]

BAB III

PENUTUP

3.1. Simpulan Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan dua hal sebagai berikut. 1) Terdapat beberapa problematika dalam pembelajaran matematika di sekolah khususnya di SMP N 3 Ubud yang memerlukan penangan secara cepat dan inovatif tentu oleh guru sebagai fasilitator dan mediator pembelajaran di kelas. Terdapat indikasi bahwa kesenjangan yang terjadi disebabkan karena implementasi pendekatan pembelajaran yang belum mendukung secara maksimal kesempatan siswa untuk berlatih memecahkan masalah 2) PBL adalah suatu pendekatan yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan yang esensial dari materi pelajaran. Pembelajaran berbasis masalah dirancang untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi pada masalah. 3) Pembelajaran berbasis masalah dikembangkan terutama untuk membantu kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual dan belajar menjadi pembelajar yang otonom. Keuntungan PBL adalah mendorong kerja sama dalam menyelesaikan tugas. Pembelajaran berbasis masalah melibatkan siswa dalam penyelidikan pilihannya sendiri, yang memungkinkan siswa menginterpretasikan dunia nyata dan membangun pemahaman tentang fenomena tersebut. Hal ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu alternatif solusi dalam menghadapi problematika yang dihadapi.

15

[Type the document title]

3.2. Saran Bagi para praktisi pendidikan utamanya guru diharapkan dapat menggali lebih jauh problematika apa yang mungkin bisa dihadapi dalam melaksanakan proses belajar mengajar di kelas. Baik itu faktor fisik maupun faktor non fisik. Dengan mengidentifikasi masalah yang dihadapi maka akan bisa ditentukan alternatif-alternatif solusi untuk mengatasi masalah tersebut. Dimana jika dikaji secara rinci sasaran yang ingin dicapai dalam belajar matematika dan karakteristik masing-masing pendekatan pembelajaran, terdapat beragam model, strategi, pendekatan, ataupun metode pembelajaran yang bisa diterapkan sesuai dengan masalah yang dihadapi.

16

[Type the document title]

Erman

,

Suherman.

DAFTAR PUSTAKA

2003.

Strategi

Pembelajaran

Matematika

Konterporer.

Jakarta: IMSTEP Universitas Pendidikan Indonesia.

National Council of Teachers of Mathematics. (1989). Curriculum and evaluation standards for school mathematics. Reston, VA: Author.

Roh & Kyeong Ha. 2003). Problem-Based Learning in Mathematics. ERIC Digest. ERIC Clearinghouse for Science Mathematics and Environmental Education Columbus OH.

Shadiq, Fajar. 2004. Pemecahan Masalah, Penalaran dan Komunikasi. Makalah disajikan dalam diklat instruktur/Pengembang Matematika SMA Jenjang Dasar di PPPG Matematika Yogyakarta.

Sulianto, Joko. 2011. Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Kreativitas Siswa dalam Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar dengan Metode Pemecahan Masalah http://www.dikti.go.id/index.php diakses 4 Mei 2012

17