Anda di halaman 1dari 26

Halaman Judul LAPORAN PRAKTIKUM PRAKTIKUM BIOLOGI DASAR I INTERAKSI ANTARA ORGANISME DENGAN LINGKUNGANNYA

Disusun oleh : Kelompok II

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN IPA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2013

Halaman Pengesahan HALAMAN PENGESAHAN PRAKTIKUM OBJEK FENOMENA DAN PERSOALAN BIOLOGI Oleh Kelompok II

Yogyakarta, 24 Oktober 2013 Anggota No. 1. 2. 3. 4. 5. Nama Wahyu Marliyani Endah Setyo Rini Firda Putri Darojati Annisa Fitri Sholikhah Esny Yanuartika NIM 13312241005 13312241010 13312241013 13312241027 13312241037

diserahkan pada tanggal................................................................jam.....................

Mengetahui Asisten

ii

Daftar Isi DAFTAR ISI Halaman Judul................................................................................................ i Halaman Pengesahan .................................................................................... ii Daftar Isi........................................................................................................ iii A. B. C. D. E. G. H. I. J. Judul .................................................................................................... 1 Tujuan Percobaan .............................................................................. 1 Dasar Teori .......................................................................................... 1 Metode Praktikum............................................................................ 11 Data Hasil Observasi ........................................................................ 12 Pembahasan ...................................................................................... 14 Kesimpulan dan Saran ..................................................................... 20 Daftar Pustaka ...................................................................................... 21 Lampiran............................................................................................... 22

iii

A. Judul Interaksi antara Organisme dengan Lingkungan

B. Tujuan Percobaan Setelah melakukan kegiatan ini mahasiswa dapat : 1. Memerikan jenis tanah atau permukaan lahan lokasi pengamatan. 2. Memerikan sifat fisik klimatik (suhu&kelembaban tanah, suhu&kelembaban udara, intensitas cahaya) tanah atau permukaan lahan lokasi pengamatan. 3. Memerikan sifat khemis (Ph dsb). Tanah atau permukaan lahan lokasi pengamatan. 4. Mengidentifikasi jenis-jenis dan spesifikasi vegetasi yang ada didalam lokasi pengamatan. 5. Mengidentifikasi jenis-jenis dan spesifikasi hewan yang ada didalam lokasi pengamatan. 6. Menjelaskan jenis-jenis asosiasi yang ada dilokasi pengamatan. 7. Mengaitkan sifat spesifik organisme dengan spesifikasi lingkungannya.

C. Dasar Teori Istilah ekologi berasal dari bahasa Yunani, oikos yang berarti rumah atau tempat tinggal, dan logos berarti ilmu.Jadi ekologi adalah ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup dalam rumahnya, rumah tangga makhluk hidup. a) Lingkungan Hidup 1. Tanah Tanah adalah alat atau faktor produksi yang dapat menghasilkan berbagai produk pertanian. Peranan tanah sebagai produksi pertanian adalah sebagai berikut: Tanah sebagai tempat berdirinya tanaman Tanah sebagai gudang tempat unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman Tanah sebagai tempat persediaan air bagi tanaman Tanah dengan tata udara yang baik merupakan lingkungan yang baik bagi pertumbuhan tanaman. (H. E. Saifuddin Sarief, 1993) Kondisi tanah yang perlu kita ketahui antara lain : a. Ketebalan Top soil
1

Top soil merupakan lapisan tanah bagian atas, tebalnya antara 15 sampai 35 cm atau lebih, lapisan tanah ini merupakan bagian yang teramat penting, pada lapisan inilah hidup dan penghidupan manusia akan bertumpu. Humus atau bahan-bahan organik serta variabel zat-zat hara mineral yang sangat diperlukan bagi tnaman terdapat pada lapisan tanah ini. b. Suhu dan kelembaban tanah Suhu tanah merupakan salah satu faktor fisika tanah yang sangat menentukan kehadiran dan kepadatan organisme tanah, dengan demikian suhu tanah akan sangat menentukan tingkat dekomposisi material organik tanah. Terhadap pelapukan bahan induk tanah suhu juga sangat besar peranannya.Fluktuasi suhu tanah lebih rendah dari suhu udara, dan suhu tanah sangat tergantung pada suhu udara.Suhu tanah lapisan atas mengalami fluktuasi dalam satu satu malam dan tergantung musim.Fluktuasi itu juga tergantung pada keadaan cuaca, topografi daerah, dan keadaan tanah. Suhu permukaan tanah dapat diukur dengan termometer air raksa.Untuk mengukur suhu tanah bagian dalam bisa digunakan termometer tanah atau thermistor.(Nurdin Muhammad Suin, 1997) Temperatur tanah merupakan salah satu sifat fisik tanah yang sangat berpengaruh pada proses-proses yang terjadi di tanah seperti pelapukan dan penguraian bahan induk, reaksi kimia dan lain-lain, dan juga dapat mempengaruhi pada pertumbuhan tanaman melalui perubahan kelembaban tanah, aerasi, aktivitas microbial, ketersediaan unsur hara tanah. Umumnya fluktuasi atau naik turunnya temperatur dalam tanah lebih kecil daripada fluktuasi temperatur udara.Hal ini menyebabkan temperatur udara menjadi faktor pembatas yang lebih utama daripada temperatur tanah. Temperatur tanah mempengaruhi aktivitas jasad renik dalam tanah.Hal ini terbatas pada temperatur di bawah 10o C. Tingkat aktivitas optimum bagi jasad hidup tanah terjadi pada temperatur antara 18o-30o C. Bakteri dapat memfiksasi nitrogen dari udara dengan baik yaitu pada keadaan panas atau tanah agak kering.Pada temperatur di atas 40oC jasad hidup tanah tidak dapat aktif.Begitu pula nirifikasi tergantung pada temperature, dengan temperature sekitar 30o C sebagai temperatur yang optimum.Temperatur rendah memperlambat pengambilan kalium oleh akar tanaman. Temperatur lapisan tanah atas, mengalami perubahan selama 24 jam, dan perubahan ini tergantung pada musim. Sedangkan lapisan tanah bawah sampai kedalaman 1 m tidak banyak mengalami perubahan temperatur.Perubahan temperatur tanah ini tergantung pada

banyaknya panas yang diterima dari matahari.Hal ini banyak dipengaruhi oleh keadaan cuaca, bentuk daerah, dan keadaan tanah. (H. E. Saifuddin Sarief, 1993: 60-61) Kelembaban tanah erat hubungannya dengan pembahasan mengenai dengan penyebaran pori-pori dalam tanah.Terdapat bermacam-macam ukuran pori-pori tanah yang fungsinya bagi pertumbuhan tanaman dapat berbeda-beda. Pori tanah yang ukurannya bernacam-macam itu dapat dibagi ke dalam pori berguna dan pori tidak berguna bagi tanaman. Yang dimaksud pori tidak berguna adalah pori yang mengandung air sedemikian rupa hingga akar tanaman tidak dapat menghisapnya. Pada keadaan ini kemudian tanaman akan layu. Untuk mengeluarkan air yang sangat sedikit dalam pori ini (0,2 mikron) diperlukan gaya sebesar 15 atm (pF 4,2) yang merupakan kekuatan maksimum akar tanaman secara umum. Sedangkan pori-pori berukuran lebih dari 0,2 mikron adalah pori yang berguna, terdiri dari pori yang diisi oleh air yang tersedia dan oleh udara tanah, atau dalam keadaan jenuh seluruhnya diisi air termasuk air drainase untuk pembuangan. Air yang tersedia menempati pori berukuran antara 0,2-8,6 mikron, sedangkan gaya yang diperlukan untuk mengeluarkan air ini cukup dengan 1/3 atm (pF 2,54). Pori-pori berukuran 30 mikron termasuk pori drainase cepat atau, kalau tidak jenuh air, disebut pori airasi yang berisi udara tanah. Pori berukuran antara 8,630 mikron disebut pori drainase lambat, oleh karena gerakan airnya lambat. Oleh sebab itu air tersedia bagi tanaman. Untuk pertumbuhan yang baik atau optimum bagi tanaman diperlukan suatu keadaan tata air dan udara yang baik dan seimbang sehingga akar tanaman dengan mudah dapat menghisap unsur hara. Tata air dan udara yang baik ini yaitu bila pori yang terisi air minimum 10% dan pori terisi udara minimum atau 10% atau lebih. (H. E. Saifuddin Sarief, 1993: 61-62) c. Kedalaman Tanah (Solum) Mengetahui solum tanah itu penting, baik pada pelaksanaan pertanian itu sendiri maupun bagi pembangunan prasana bagi kepentingan pertanian tersebut. Apabila solum tanah cukup tebal terutama lapisan top soilnya maka harapan-harapan para petani untuk meningkatkan produksinya akan selalu dapat terwujud lebih-lebih dengan adanya perawatan dan pemeliharaan terhadap tanah tersebut. d. Struktur Tanah Struktur tanah adalah susunan butir-butir primer dan agregat-agregat primer tanah yang secara alami menjadi bentuk tertentu yang dibatasi oleh bidang-bidang yang disebut agregat.Struktur tanah merupakan suatu sifat fisik yang penting karena dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman serta tidak langsung berupa perbaikan pereedaran air, udara dan panas,
3

aktifitas jasad hidup tanah, tersedianya unsur hara bagi tanaman, perombakan bahan organik, dan mudah tidaknya akar dapat menembus tanah lebih dalam. Struktur tanah dapat dikatakan baik apabila di dalamnya terdapat penyebaran ruang pori-pori yang baik yaitu terapatnya ruang pori di dalam dan di antara agregat yang dapat diisi air dan udara sekaligus mantap keadaannya. Suatu profil tanah tertentu bisa terdiri dari suatu pola sruktur tunggal, sering sejumlah bentuk agregasi dipergunakan untuk menilai horizon demi horizon. Proses dan karakteristik tanah seperti gerak tanah, perpindahan lengas, tata udara, berat volume tanah, porositas, dan infiltrasi banyak dipengaruhi oleh keadaan struktur tanah. Struktur tanah terbentuk dengan jalan penggabungan butir-butir primer tanah oleh pengikat koloid tanah yaitu koloid liat dan humus menjadi agregat primer.Penggabungan agregat-agregat primer ini tersusun lagi menjadi bentukan-bentukan yang masing-masing dibatasi bidang-bidang permukaan tertentu.Agregat primer disebut juga struktur mikro sedangkan agregat sekunder yang merupakan struktur pada lapisan tanah atas atau lapisan olah disebut struktur makro. Agregat mikro berukuran antara 0,25-0,5 mm sedangkan agregat makro paling besar berukuran 10 mm. Sedangkan agregat yang berukuran lebih dari 10 mm disebut dengan bongkah. Terdapat berbagai bentuk struktur tanah yang terdapat di lapangan, yaitu: 1) Struktur yang sederhana Struktur yang sederhana terdiri dari: Struktur butir tunggal Sebenarnya bukan merupakan struktur melainkan campuran butir-butir primer yang kasar tanpa adanya atau sedikit sekali bahan pengikat agregat.Struktur tersebut terjadi pada tanah-tanah pasir, pasir berlempung, dan pasir

berdebu.Keadaan porositas tanah cukup tinggi dengan pori-pori makro yang dominan sehingga mudah melakukan air untuk infiltrasi dan penguapan. Struktur pejal (masif) Seperti pada struktur butir tunggal, tetapi di sini kohesinya sangat besar sehingga pejal, dengan ruang pori yang bersambung biasanya terdapat pada horizon yang lebih bawah. Contohnya pada gumpalan tanah pejal hasil pembajakan. 2) Struktur gabungan/pautan

Sruktur ini mempunyai permukaan bidang bilah alami yang dapat dilihat dengan jelas. Struktur gabungan ini terdiri dari : Struktur kubus Sumbu vertikal dan horizontalnya hampir sama panjang. Struktur tipe tiang prismatik Struktur ini mempunyai sumbu vertikal lebih panjang daripada sumbu horizontal.Permukaan bidang bilah vertikal sangat dominan. Struktur tipe lempeng Struktur ini mempunyai sumbu horizontal lebih panjang daripada sumbu vertikal.Permukaan bidang bilah horizontal lebih dominan. Struktur remah Struktur ini terdapat ruang pori makro nonkapiler yang tidak dapat menampung air, oleh karena itu biasanya diisi oleh udara tanah. Sedangkan ruang pori mikro di antara agregat primer bersifat kapiler yang dapat menampung air hujan dan tidak merembes ke bawah sehingga berguna bagi tanaman. Struktur remah ini bisa atau tidak bisa larut dalam air hujan tergantung dari sifat bahan perekat butir-butir primer tanah yang membentuk struktur remah tersebut. (H. E. Saifuddin Sarief, 1993: 50-53) e. Tekstur Tanah Partikel tanah berbeda-beda ukurannya.Berdasarkan ukurannya maka partikel tanah digolongkan atas fraksi pasir, debu, dan liat. Tekstur tanah adalah perbandingan antara partikel tanah yang berupa liat, debu, dan pasir dari suatu massa tanah. (Nurdin Muhammad Suin, 1997) Tekstur tanah adalah perbandingan relatif tiga golongan besar partikel tanah dalam suatu massa tanah, terutama perbandingan antara fraksi-fraksi lempung (clay), debu (silt), dan pasir(sand). Butir tunggal tanah diberi istilah partikel tanah, dan golongan partikel tanah diberi istilah fraksi tanah. Tekstur suatu horizon tanah merupakan sifat yang hampir tidak berubah, berlainan dengan struktur dan konsistensi memang terkadang didapati perubahan dalam lapisan itu sendiri karena dipindahkannya lapisan permukaan atau berkembangnya lapisan permukaan yang baru.Pemindahan ini dapat juga disebabkan oleh erosi tanah. Tekstur tanah turut menentukan tata air dalam tanah, berupa kecepatan infiltrasi, penetrasi dan kemampuan pengikatan air oleh tanah.
5

Untuk mendapat gambaran yang lebih objektif mengenai tekstur tanah, para pakar tanah menggolongkan besar partikel-partikel tanah atas beberapa golongan yang disebut fraksi tanah. Dari penggolongan yang terpenting ialah: 1. 2. 3. Fraksi pasir (sand): diameternya antara 2mm dan 0,05mm (50) Fraksi debu (silt): diameternya antara 50 dan 2 Fraksi lempung (clay): diameternya lebih dari 2 Partikel yang lebih kecil dari 2mm disebut pula tanah halus.Yang lebih besar dari 2mm tidak dianggap tanah dan digolongkan sebagai kerikil untuk yang kecil dan batu untuk yang besar dengan batas ukuran lebih 20mm. Penggolongan tekstur tanah didasarkan atas perbandingan kandungan lempung, debu, dan pasir penyusun tanah. Nama kelas tekstur tanah pada umumnya diambil dari fraksi yang sebagian besar dikandung massa tanah tersebut jika campuran partikel lain dapat diabaikan karena sedikitnya, sehingga di kenal kelas-kelas tekstur tanah : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tanah pasir kasar (coarse sand) Tanah pasir (sand) Tanah pasir sangat halus (very fine sand) Tanah debu (silt) Tanah lempung (clay) Tanah lempung berat (heavy clay) Jika tercampur sedikit fraksi lain maka nama-nama kelas tekstur tanahnya menjadi: 1. 2. Tanah lempung pasiran (sandy clay) Tanah lempung debuan (silt clay) Kecuali itu juga terdapat istilah geluh (loam) untuk menunjukkan massa tanah yang terdiri atas ketiga fraksi dalam perbandingan sekitar sama besar, dan jika salah satu agak lebih banyak maka dikenal nama-nama tekstur tanah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Tanah geluh (loam) Tanah pasir geluhan (loamy sandy) Tanah geluh pasiran (sandy loam) Tanah geluh debuan (silt loam) Tanah geluh lempungan (clay loam) Tanah geluh lempung pasiran (sandy clay loam) Tanah geluh lempung debuan (silty clay loam)
6

Pembatasan ketiga fraksi masing-masing tanah dapat digambarkan dalam segitiga yang disebut trianguler texture.Titik sudutnya menunjukkan 100% salah satu fraksi, sedangkan tiap sisi menggambarkan persen berat masing-masing fraksi mulai 0%100%.Segitiga ini terbagi atas tiga belas bidang yang menunjukkan masing-masing tekstur tanah.

Keterangan X% = presentase pasir Y% = presentase liat Z% = presentase debu f. Keasaman dan Salinitas Tanah Sifat khemis tanah dapat dilihat dari pH tanah.Metode pengukuran pH tanah ada dua macam, yaitu secara kolorimetri dan pH meter. Pengukuran pHtanah secara kolorimetri adalah berdasarkan perubahan warna dengan menggunakan indikator, yang mana warna indikator tidak sama pada kadar ion H yang berbeda. (Nurdin Muhammad Suin, 1997) Reaksi tanah atau pH tanah dibagi ke dalam tiga keadaan yaitu reaksi tanah masam, reksi tanah netral, dan reksi tanah basa atau alkali.Reaksi tanah ini secara umum dinyatakan dengan pH tanah yaitu dari 0-14. Beberapa pH angka tanah : Reaksi Tanah pH
7

Paling masam (ekstrim) Sangat asam Asam Agak asam Netral Agak basa Basa Sangat basa

Kurang dari/sama dengan 4,0 4,0-4,5 4,5-5,5 5,5-6,5 6,5-7,5 7,5-8,5 8,5-9,0 9,0

Reaksi tanah sangat mempengaruhi ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Pada reaksi tanah yang netral, yaitu pH 6,5-7,5 maka unsur hara tersedia dalam jumlah yang cukup banyak (optimal). Pada pH tanah kurang dari 6,0 maka ketersediaan unsur-unsur fosfor, kalium, belerang, kalsium, magnesium, dan molibdinum menurun dengan cepat. Sedangkan pH tanah lebih dari 8,0 akan menyebabkan unsur-unsur nitrogen, besi, mangan, barium, tembaga, dan seng ketersediaannya relatif jadi sedikit. (H. E. Saifuddin Sarief, 1993: 85-91) 2. Iklim Cuaca dan iklim merupakan salah satu komponen ekositem alam sehingga kehidupan baik manusia, hewan dan tumbuhan tidak terlepas dari pengaruh atmosfir dengan prosesprosesnya. Iklim adalah rata-rata keadaan cuaca dalam jangka waktu yang cukup lama mminimal 30 tahun sifatnya tetap. Radiasi matahari merupakan sumber energi bagi peristiwa peristiwa yang terjadi dalam atmosfer yang dianggap penting bagi kehidupan, dapat dianggap sebagai pengendali iklim dan cuaca yang besar. 3. Suhu Suhu dikatakan sebagai derajat panas atau dingin yang dapat diukur berdasarkan skala tertentu dengan menggunakan berbagai termometer. Faktor- faktor yang mempengaruhi suhu di muka bumi dapat dikemukakan sebagai berikut: a. b. c. d. Jumlah radiasi yang diterima per tahun perhari permusim. Pengaruh daratan atau lautan. Pengaruh ketinggian tempat. Pengaruh angin secara tak langsung, misalnya angin yang membawa panas dari sumbernya secara horizontal. e. f. Pengaruh panas laten, panas yang disimpan dalam atmosfer. Penutup tanah, tanah yang ditutup vegetasi mempunyai temperatur < daripada tanah tanpa vegetasi.
8

g.

Pengaruh sudut datang sinar matahari, sinar yang vertikal akan membuat suhu > daripada yang datangnya miring.

h.

Tipe tanah, tanah tanah gelap indeks suhunya lebih tinggi. 4. Kelembaban udara Tentang kelembaban di bagian muka telah dijelaskan secara ringkas, dibawah ini akan

dikemukakan pula secara ringkas dalam hubungannya dengan menjelaskan tentang iklim. Kelembaban adalah banyaknya kadar uap air yang ada di udara, dalam hal ini kita mengenal beberapa istilah, antara lain : a. Kelembaban mutlak Adalah masa uap air yang berada dalam satu satuan udara yang dinyatakan dalam gram/m3. b. Kelembaban spesifik Merupakan perbandingan masa uap air di udara dengan satuan masa udara yang dinyatakan dalam gr/kg. c. Kelembaban relative Merupakan perbandingan jumlah uap air di udara dengan jumlah maksimum uap air yang dikandung secara tertentu yang dinyatakan dalam %. Angka kelembaban relative : 0 100%, 0% artinya udara kering, 100% artinya udara jenuh dengan uap air yang artinya kan terjadi titik-titik air hujan. 5. Intensitas Cahaya Intensitas cahaya tergantung pada sudut jatuhnya sinar. Apabila di waktu pagi hari dan sore hari sudut jatuhnya sinar kecil sehingga intensitas cahaya yang mengenai permukaan tanah kecil. Begitu pula pada waktu siang hari. Sudut jatuhnya sinar matahari tegak lurus dengan permukaan bumi sehingga intensitas cahaya yang diterima oleh permukaan bumi tinggi. Intensitas cahaya yang tinggi dapat menyebabkan penguapan pada tumbuhan juga tinggi. Apabila penguapan yang tinggi tidak disertai dengan penyerapan air dan unsure hara tanah maka tumbuhan bias layu dan akhirnya mati. Sedangkan pada hewan dapat mengakibatkan dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh.

b) Interaksi Antar Organisme Kita telah mengetahui bahwa antara satu individu denagn individu yang lainnya terjadi suatu interaksi.Hal ini juga berlaku dalam populasi dari suatu spesies dengan populasi spesies
9

lainnya. Interaksi antarspesies ini akanmempengaruhi sifat-sifat dari masing-masing populasi yang berinteraksi. Pengaruh-pengaruh yang mungkin terdapat dalam saling interaksi itu adalah : 1. Netralisme dan Antibiosis Netralisme adalah hubungan yang tidak saling mempengaruhi, meskipun berbagai organisme hidup pada habitat yang sama. Netralisme terjadi jika nisianya berbeda. Akan tetapi, pada dasarnya hubungan yang benar-benar netrla tidak ada, sebab setiap organisme memerlukan gas, ruangan, air dan cahaya yang sama serta mengeluarkan sisa-sisa yang dapat mengganggu organisme lai. Antibiosis adalah interaksi antar organisme dimana salah satu organisme menghasilkan zat antibiotik atau racun yang berbahaya bagi organisme lainnya. Misalnya, interaksi antara jamur Penicillium dengan spesies mikroorganisme lain. Jamur penicillium mengeluarkan antibiotik yang dapat atau mematikan organisme lain yang hidup di sekitarnya. 2. Predator-Mangsa Harimau makan kijang, singa makan jerapah, elang makan tikus, ular makan kelinci. Harimau,singa,ular,elang adalah predator (Latin : praeda = mangsa), yaitu organisme yang membunuh dan makan hewan. Organisme yang dimakan dinamakan mangsa. Ada predator yang membunuh mangsanya dulu, kemudian baru memakannya; ada juga predator yang menangkap mangsanya, kemudian langsung memakannya meskipun mangsanya itu belum mati. 3. Simbiosis Simbiosis adalah hubungan erat antara dua organisme berbeda spesies yang hidup bersama. Simbiosis dibedakan menjadi : a) Simbiosis mutualisme, adalah hubungan yang saling menguntungkan antara dua spesies organisme yang hidup bersama. b) Simbiosis parasitisme,adalah hubungan antara dua organisme berbeda spesies dimana salah satu pihak mendapatkan keuntungan sedangkan pihak lain dirugikan. Organisme yang hanya hidup pada tubuh organisme yang masih hidup, dan mendapatkan makanannya dari organisme tersebut disebut parasit. Organisme tempat hidup parasit ini dinamakan inang. Hubungan parasit dan organisme inang menguntungkan parasit dan merugikan mangsa.

10

c) Simbiosis komensalisme, adalah hubungan antara dua spesies organisme yang satu menguntungkan satu pihak, sedangkan pihak lain tidak diuntungkan dan juga tidak dirugikan. Organisme yang mendapatkan keuntungan disebut komensalisme. d) Simbiosis amensalisme, salah satu populasi bersifat amensal, mendapat hambatan, sedang populasi lain tidak mendapat pengaruh apa-apa dari interaksi itu. 4. Persaingan atau Kompetisi Kompetisi atau Persaingan adalah hubungan antara individu dari spesies yang berbeda untuk memperebutkan mangsa yang sama. Contohnya adalah adanya persaingan antara tikus dan burung gelatik untuk memperebutkan makanannya yaitu padi. Tumbuhan pengganggu seperti rumput teki, rumput jejagoan, eceng, bersaing dengan padi dalam hal cahaya, hara, air dan ruang. 5. Protokoperasi Interaksi yang memberi pengaruh positif bagi kedua belah pihak tetapi tidak merupakan syarat bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup bagi salah satu populasi yang berinteraksi. Protokoperasi adalah bentuk interaksi positif di mana dua populasi saling menolong satu sama lain tetapi membutuhkan organisme lain untuk kelangsungan hidupnya.

c) Hubungan Saling Ketergantungan Saling ketergantungan antarkomponen biotik Saling Ketergantungan Antarindividu Satu Spesies Antarindividu satu spesies (sejenis) terdapat saling ketergantungan antara lain memperoleh makanan, membuat sarang, dan berkembang biak Saling Ketergantungan Antarindividu Berbeda Spesies Saling ketergantungan antarindividu berbeda spesies terjadi antara lain dalam peristiwa makan-dimakan. Peristiwa makan-dimakan mengakibatkan terbentuknya rantai makanan, jaring-jaring makanan, dan piramida ekologi.

D. Metode Praktikum a. Tempat dan Waktu Praktikum Tempat Waktu Jam : Halaman Laboratorium Fisika : Praktikans, 24 Oktober 2013 : 11.00 12.40
11

b. Bentuk Kegiatan Observasi dan studi pustaka c. Objek Pengamatan Komponen abiotik dan biotik pada lokasi pengamatan di lingkungan terestrial. d. Alat dan Bahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. Termometer ruang Higrometer pH meter Luxmeter Roll meter Cetok 7. 8. 9. Akuades Kapas Raffia

10. Tabung reaksi 11. Penggaris

e. Langkah Kerja Membuat plot 1x1 m2 untuk membatasi lokasi pengamatan

Mengambil sampel tanah di beberapa sudut lokasi bagian top sil kedalaman 15 cm dengan menggunakan cetok. Kemudian menentukan tekstur dan struktur tanah (presentase masing-masing komponen liat, berpasir, berhumus, dsb.) Mengukur pH, suhu, dan kelembaban udara dalam tanah pada lokasi pengamatan. Mengukur suhu dan kelembaban udara, kecepatan angin, dan intesitas cahaya pada lokasi pengamatan Mengamati jenis vegetasi, hewan yang ada pada plot lokasi pengamatan, menghitung jumlahnya, dan mengamati atau menentukan bentuk interaksi antar komponen biotik ataupun antara biotik dengan abiotik Mencatat hasil pengukuran atau pengamatan pada table E. Data Hasil Observasi 1. Komponen Abiotik Aspek yang diukur / diamati Struktur tanah
12

Lempung liat berpasir

a) Debu b) Liat c) Pasir Kelembaban udara Suhu udara Kecepatan angin Suhu tanah pH tanah Intensitas cahaya

74 0C 31 0C 1,8 m/s 28 0C 6,9

22,22 % 26,67% 51,11%

1 candela

2. Komponen Biotik Jenis Komponen Biotik Rumput Semut merah Semut hitam Undur-undur Cemara norfolk Keterangan : + ++ +++ : jumlahnya sedikit : jumlahnya banyak : jumlahnya banyak sekali ++ 9 8 1 1 ++/1m2 9/1m2 8/1m2 1/1m2 1/1m2 Bebas Di atas tanah Di dalam tanah Di dalam tanah Bebas Jumlah Kepadatan Cara Hidup Bentuk Interaksi Kompetisi Kompetisi Kompetisi Kompetisi Kompetisi

3. Jenis Asosiasi atau Interaksi Gejala Asosiasi Nama Organisme yang Terlibat dalam Asosiasi Sekelompok hitam Sekelompok merah Sekelompok
13

Jenis Asosiasi

Mengorek-orek tanah

Semut Interaksi antara biotik dan abiotik semut Interaksi antara abiotik dan biotik semut Interaksi antara abiotik

Berjalan di atas rumput Menggali tanah

hitam Menggali tanah Undur-undur

dan biotik Interaksi antara abiotik dan biotik

F. Analisis Data Kepadatan Organisme a. Semut merah Kepadatan = b. Semut hitam Kepadatan =

c. Undur undur =

d. Tumbuhan cemara Norfolk =

G. Pembahasan Observasi yang bertopik interaksi antara organisme dengan lingkungan, yang telah dilaksanakan pada hari Praktikans 24 Oktober 2013 di halaman depan Laboratorium Fisika, memiliki tujuan agar mahasiswa dapat memerikan jenis tanah atau permukaan lahan lokasi pengamatan, memerikan sifat fisik klimatik (suhu dan kelembaban tanah, suhu dan kelembaban udara, intensitas cahaya) tanah atau permukaan lahan lokasi pengamatan, memerikan sifat khemis (pH dan sebagainya) tanah atau permukaan lahan lokasi pengamatan, menyebutkan jenis-jenis dan spesifikasi vegetasi yang ada di dalam lokasi pengamatan, menyebutkan jenis-jenis dan spesifikasi hewan yang ada di dalam lokasi pengamatan, menjelaskan jenis-jenis asosiasi yang ada di lokasi pengamatan, mengaitkan sifat spesifik organisme dengan spesifikasi lingkungannya. Adapaun alat yang digunakan dalam observasi tersebut yaitu termometer ruang, hygrometer, pH meter, luxmeter, roll meteer, kantong plastik, cetok, aquades, kapas, rafia, pipet, pinset, gelas beker, dan kertas label. Sedangkan objek biologi yang diamati yaitu komponen biotik dan abiotik pada lokasi pengamatan di lingkungan terestrial. Cara kerja yang dilakukan praktikan dalam praktikum tersebut yang pertama adalah membuat plot 1 x 1 m2 untuk membatasi lokasi pengamatan, yang kedua dengan
14

menggunakan cetok, mengambil sampel tanah dibeberapa sudul lokasi bagian top sill kedalaman 15 cm, kemudian menentukan tekstur dan struktur tanah ( presentase masingmasing komponen liat, berpasir, berhumus dan sebagainya). Selanjutnya yaitu mengukur pH, suhu dan kelembaban udara dalam tanah pada lokasi pengamatan, selain itu juga mengukur suhu dan kelembaban udara, kecepatan angin, dan intensitas cahaya pada lokasi pengamatan. Langkah selanjutnya praktikan mengamati jenis vegetasi, hewan yang ada pada plot lokasi pengamatan, dan menghitung jumlahnya serta mengamati atau menententukan bentuk interaksi antar komponen biotik ataupun antara biotik dengan abiotik, hasil pengukuran atau pengamatan ditulis ke dalam table pengamatan. Didalam plot yang praktikan ambil terdapat komponen abiotik dan komponen biotik. Komponen abiotik adalah komponen tak hidup. Aspek yang diukur yang diamati mengenai komponen abiotik ini diantaranya adalah struktur tanah, kelembaban udara, suhu udara, kelembaban tanah, suhu tanah, dan pH tanah. Sedangkan komponen biotik adalah komponen yang terdiri atas makhluk hidup. Pada komponen biotik ini praktikan mengidentifikasi mengenai jenis komponen biotik, jumlah, kepadatan, dan cara hidupnya, serta bentuk interaksinya. Selain komponen biotik dan komponen abiotik praktikan juga mengobservasi jenis asosiasi atau interaksi antara komponen biotik dengan komponen abiotik, sesama komponen biotik, dan sesama komponen abiotik. Berikut adalah uraian pembahasan dari hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh praktikan yaitu: 1. Jenis Tanah atau Permukaan Lahan Hasil Pengamatan Komponen abiotik yang berhasil diobservasi oleh praktikan yaitu struktur tanah. Tanah adalah alat atau faktor produksi yang dapat menghasilkan berbagai produk pertanian. Struktur tanah adalah susunan butir-butir primer dan agregat-agregat primer tanah yang secara alami menjadi bentuk tertentu yang dibatasi oleh bidang-bidang yang disebut agregat. Struktur tanah merupakan suatu sifat fisik yang penting karena dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman serta tidak langsung berupa perbaikan pereedaran air, udara dan panas, aktifitas jasad hidup tanah, tersedianya unsure hara bagi tanaman, perombakan bahan organik, dan mudah tidaknya akar dapat menembus tanah lebih dalam. Struktur tanah yang praktikan amati terdiri dari tanah debu, tanah liat, dan tanah pasir. Pengamatan struktur tanah dilakukan dengan cara mengambil tanah dengan kedalaman 15 cm dan dimasukkan kedalam tabung reaksi kemudian ditambahi air., lalu mengkocoknya.

15

Menunggu sampai tanah mengendap. Setelah terjadi pengendapan terlihat lapisan-lapisan tanah yang berbeda. Dari pengamatan yang praktikan lakukan didapatkan hasil bahwa terdapat tiga lapisan dari bawah ke atas yaitu lapisan pasir, lapisan tanah liat, dan lapisan debu. Diukur dengan menggunakan penggaris, didapatkan hasil bahwa tebal lapisan pasir adalah 2,3 cm, tebal lapisan tanah liat 1,2 cm, dan tebal lapisan debu yaitu 1 cm. Tekstur tanah adalah perbandingan relative tiga golongan besar partikel tanah dalam suatu massa tanah, terutama perbandingan antara fraksi-fraksi lempung (clay), debu (silt), dan pasir (sand). (M. Isa Darmawijaya, 1997). Dari hasil pengamatan diperoleh bahwa persentase tekstur tanah adalah sebagai berikut : Pasir Tanah liat Debu : 51,11 % : 26,67 % : 22,22 %

Dengan menggunakan ketiga data ini, dapat diketahui jenis tanah atau permukaan lahan lokasi pengamatan dengan cara menganalisis atau mengolah data pada segitiga tekstur tanah. Berdasarkan pengolahan data pada skema segitiga tekstur tanah, diketahui perpotongan dari ketiga garis tekstur tanah dan hasil yang diperoleh menyatakan bahwa jenis tanah atau permukaan lahan lokasi pengamatan termasuk ke dalam jenis tanah Lempung liat berpasir. Lempung liat berpasir terasa agak jelas. Dapat membentuk bola agak teguh bila kering dan juga dapat membentuk gulungan jika dipilin dan gulungan akan mudah hancur serta dapat melekat. 2. a. Sifat Fisik Klimatik Tanah atau Permukaan Lahan Pengamatan

Kelembaban Tanah Fungsi utama dari kelembaban tanah adalah mengontrol pembagian air hujan yang

turun ke bumi menjadi run off ataupun infiltrasi. Kelembaban tanah sangat penting untuk studi potensi air dan studi neraca air. Dalam pengamatan ini praktikan tidak mengukur kelembaban tanah dikarenakan keterbatasan alat. Akan tetapi berdasarkan peengamatan suhu dan kelembaban udaranya, kelembaban tanah tidak terlalu tinggi. b. Kelembaban Udara

16

Kelelmbaban adalah konsentrasi uap air di udara. Fungsi dari kelembaban udara salah satunya dalam hal respirasi, gutasi, dan transpirasi tumbuhan berperan mengatur dan mengkondisikan efektifitas dari penggunaan air dan mineral dari dalam tanah. Dalam pengamatan diperoleh hasil bahwa kelembaban udara sebesar 74C. Keadaan ini tidak begitu lembab dikarenakan cuaca pada saat pengamatan tergolong cuaca yang baik hanya sedikit mendung dan berangin. c. Temperatur/Suhu Temperatur tanah mrupakan salah satu sifat fisik tanah yang sangat berpengaruh pada proses-proses yang terjadi di tanah seperti pelapukan dan penguraian bahan induk, reaksi kimia dan lain-lain, dan juga dapat mempengaruhi pada pertumbuhan tanaman melalui perubahan kelembaban tanah, aerasi, aktivitas microbial, ketersediaan unsur hara tanah. Berdasarkan pengamatan, temperatur tanah yang terukur dengan menggunakan hygrometer yang juga dapat mengukur suhu, diperoleh temperatur sebesar 28oC. Temperatur tanah mempengaruhi aktivitas jasad renik dalam tanah. Tingkat aktivitas optimum bagi jasad hidup tanah terjadi pada temperature antara 18o-30o C. Jadi area ini merupakan tempat yang cocok bagi jasad renik dalam tanah untuk beraktivitas, seperti bakteri pengikat N2 yaitu Nitrobacter, bakteri Nitrosomonas dan Nitrosococcus yang dapat mengikat N2 dari udara. Karena temperatur tanah pada percobaan ini mendukung aktivitas mikrtobial maka aktivitas pengikatan N2 dari udara dapat berjalan baik sehingga dapat menyuburkan tanah pada lahan lokasi pengamatan ini. d. Intensitas cahaya Untuk mengetahui besarnya intensitas cahaya pada lokasi pengamatan digunakan alat yaitu luxmeter. Luxmeter ini penggunaannya harus ekstra hati-hati, tidak boleh ada sedikit getaran pun pada saat melakukan pengukuran karena jika bergerak sedikit saja angka yang tertera pada layar akan berubah sehingga nilai intensitas cahaya tidak seuai dengan yang sebenarnya. Dari pengamatan yang dilakukan, diperoleh data intensitas cahaya yaitu 1candela. Hal tersebut didasari. karena faktor cuaca yang sedang mendung. Cahaya matahari akan berpengaruh pada proses pembuatan makanan pada tumbuhan atau fotosintesis serta tingkah laku dan kegiatan hewan

e. Kecepatan Angin
17

Untuk menentukan kecepatan angin di lokasi pengamatan, alat pengukur yang digunakan praktikan adalah hygrometer. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan diperoleh hasil 1,8 m/s. 3. Sifat Khemis Tanah atau Permukaan Lahan Lokasi Pengamatan Sifat khemis tanah atau permukaan lahan lokasi pengamatan yang meliputi pH tanah. Reaksi tanah sangat mempengaruhi ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Pada reaksi tanah yang netral, yaitu pH 6,5-7,5 maka unsur hara tersedia dalam jumlah yang cukup banyak (optimal). Pada pH tanah kurang dari 6,0 maka ketersediaan unsur-unsur fosfor, kalium, belerang, kalsium, magnesium, dan molibdinum menurun dengan cepat. Sedangkan pH tanah lebih dari 8,0 akan menyebabkan unsur-unsur nitrogen, besi, mangan, barium, tembaga, dan seng ketersediaannya relative jadi sedikit. Pada lokasi pengamatan, tanahnya memiliki pH 6,9 yang berarti tanah tersebut bersifat asam tapi tidak jauh pada keadaan netral yakni yang memiliki pH 7. Jadi pada areal tersebut ketersediaan unsur-unsur fosfor, kalium, belerang, kalsium, magnesium, dan molibdinum mengalami penurunan dengan. 4. Jenis-jenis dan Spesifikasi Vegetasi yang Ada Vegetasi merupakan petunjuk kemampuan tanah atau sifat-sifat tanah tertentu. Umumnya perbedaan vegetasi liar juga merupakan indikasi perbedaan jenis tanah. Berdasarkan hasil identifikasi terhadap jenis-jenis tanaman atau vegetasi yang ada pada permukaan lahan dapat diketahui bahwa jenis tumbuhan yang teramati adalah vegetasi rerumputan dan satu tanaman cemara Norfolk. Jumlah organisme tumbuhan dalm plot ini dinyatakan dengan tanda (+), jika jumlahnya banyak maka semakin banyak jumlah (+) dan bila sedikit maka jumlah (+) semakin sedikit. Berdasarkan jumlah yang sudah dihitung, dapat ditentukan kepadatan dari setiap jenis tumbuhan . Kepadatan ini berhubungan dengan jumlah individu dengan ruang yang mereka tempati pada waktu tertentu. Untuk mengetahui kepadatan dari sebuah lokasi, dapat dihitung dengan membagi jumlah individu tiap jenis dengan luas lokasi yang diamati. Selain dapat diamati jumlah dan dihitung kepadatannya, jenis tumbuhan yang ada pada plot juga dapat diamati bagaimana cara hidup dan bentuk interaksinya. Cara hidup menunjukan bagaimana dia hidup, apakah hidup bebas, menumpang, terlindung, atau merambat pada pohon lain. Untuk tumbuhan pada plot satu, sebagian besar menggunakan cara hidup bebas. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, dapat diketahui bahwa tumbuhantumbuhan itu hidup bebas sendiri tanpa menumpang pada tanaman lain.
18

5.

Jenis-Jenis dan Spesifikasi Hewan yang Ada Berdasarkan hasil identifikasi terhadap jenis-jenis hewan yang ada pada permukaan

lahan dapat diketahui bahwa jenis hewan yang teramati adalah semut merah, semut hitam dan undur-undur. Jumlah organisme dalm plot ini dapat dihitung jumlahnya, yaitu semut merah 9 ekor, semut hitam 8 ekor, undur-undur 1 ekor. Berdasarkan jumlah yang sudah dihitung, dapat ditentukan kepadatan dari setiap jenis hewan . Kepadatan ini berhubungan dengan jumlah individu dengan ruang yang mereka tempati pada waktu tertentu. Untuk mengetahui kepadatan dari sebuah lokasi, dapat dihitung dengan membagi jumlah individu tiap jenis dengan luas lokasi yang diamati. Seperti halnya tumbuhan, selain menghitung kepadatan organisme hewan yang ada pada plot, cara hidup dan bentuk interaksi hewan pun ikut diamati. Pengamatan mengenai cara hidup yang ada pada hewan pun berbeda dengan cara hidup yang ada pada tumbuhan. Cara hidup hewan dapat dinyatakan hidup di atas tanah, dan di dalam tanah. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada plot, dapat diamati bahwa cara hidup semut merah adalah di atas tanah. Hal ini dikarenakan, semut merah tersebut sedang melakukan kegiatan di atas tanah. Cara hidup di atas tanah ini kemudian dibedakan kembali berdasarkan kegiatan atau aktivitas yang mereka lakukan. Sedangkan untuk semut hitam dan undur-undur cara hidupnya dibawah tanah karena sedang melakukan penggalian pada permukaan tanah. 6. Jenis-jenis Asosiasi Asosiassi merupakan hubungan atau interaksi antara makhluk hidup yang satu dengan yang lain. Ini dapat terjadi dalam spesies yang sama (intraspesies) maupun spesies yang berbeda (interspesies). Jenis asosiasi antarmakhluk hidup dapat berupa netralisme, kompetisi, protokoperasi, komensalisme, mutualisme, amensalisme, predasi dan parasitisme. Pada lokasi pengamatan, terdapat beberapa jenis asosiasi. Asosiasi yang pertama yaitu kompetisi intraspesies. Nama organisme yang terlibat dalam asosiasi ini yaitu rumput yang sejenis saling memperebutkan unsur hara tanah dan mineral-mineral lain untuk diolah menjadi makanan. Untuk kompetisi intraspesies pada jenis hewan organisme yang teribat yaitu semut merah dengan semut merah berkompetisi dalam memperebutkan makanan. Untuk jenis asosiasi yang lainnya yaitu kompetisi antar individu.Organisme yang terlibat dalam asosiasi ini yaitu semut merah, dan semut hitam berkompetisi dalam memperebutkan makanan. Jenis asosiasi lainnya yaitu simbiosis komensalisme. Di mana organisme yang terlibat dalam asosiasi ini adalah semut merah, dan semut hitam berteduh di sekitar rumput untuk mencari makan. Semut mendapatkan keuntungan dan rumput tidak dirugikan. Dan undur undur yang
19

menggali tanah untuk tempat tinggal. Komensalisme sendiri berasal dari bahasa latin ko yang berarti dengan bersama-sama dan mensa yang berarti meja sehingga simbiosis komensalisme adalah hubungan antarorganisme di mana dalam interaksi ini organisme yang satu mendapatkan keuntungan sedangkan organisme yang lainnya sama sekali tidak dirugikan. Sedangkan untuk asosiasi predasi tidak dapat diamati.

Adapun kesalahan-kesalahan yang dilakukan praktikan selama praktikum yaitu 1. Praktikan kurang teliti dalam membaca alat ukur. 2. Praktikan kurang teliti dalam mengamati setiap aspek asosiasi dari komponen abiotik maupun komponen biotik. 3. Praktikan kurang paham dalam menentukan struktur tanah dengan menggunakan segitiga tekstur tanah.

H. Kesimpulan dan Saran a. Kesimpulan 1. Jenis Tanah Berdasarkan hasil pengamatan jenis tanah lokasi pengamatan adalah tanah lempung liat berpasir, dengan presentasi lapisan pasir 51,11%, lapisan tanah liat 26,67%, dan lapisan debu 22,22%. 2. Sifat Fisik Klimatik Tanah Kelembaban udara sebesar 74C, suhu tanah 28oC, suhu udara 31C, intensitas cahaya sebesar 1 candela. 3. pH Tanah Hasil Pengamatan Berdasarkan hasil pengukuran, pH tanah pada lokasi pengamatan adalah 6,9. 4. Spesifikasi Vegetasi Hasil pengamatan Rumput Tumbuhan cemara Norfolk : banyak : 1 pohon

5. Spesifikasi Hewan Hassil Pengamatan Semut merah Semut hitam Undur-undur 6. Asosiasi yang Terjadi : 9 ekor : 8 ekor : 1 ekor

20

kompetisi interspesies, kompetisi intraspesies, intraspesies pada jenis hewan, kompetisi antarindividu, simbiosis komensalisme.

b. Saran Dalam praktikum mengobservasi tentang interaksi antara organisme dengan lingkungan, praktikan memberikan saran beberapa hal, antara lain: 1. Sebelum melakukan observasi, praktikan harus mempelajari dan memahami mengenai interaksi antara organisme dengan lingkungan. 2. Saat melakukan observasi pada objek kajian biologi, observasi harus dilakukan dengan menggunakan panca indera, baik penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba. 3. Pada proses penulisan laporan, praktikan harus menggunakan referensi buku-buku, serta menggunakan jurnal yang tepat dan sesuai hubungan interaksi antara organisme dengan lingkungannya yang telah diamati pada saat melakukan observasi.

I. Daftar Pustaka Anonim. 2011.Biologi Dasar I. Yogyakarta: FMIPA UNY. Blausteir, Daniel, dkk.1996.Biology.Alaska:Glencoe Darmawijaya, M. Isa.1997.Klasifikasi Tanah Dasar Teori bagi Peneliti Tanah dan Pelaksana Pertanian di Indonesia.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Karta sapoerta, G. dkk.1991. Teknologi Konservasi Tanah dan Air.Jakarta : PT rineka cipta. Nasir, mujhammad dkk.1993.Penuntun Praktikum Biologi Umum.Yogyakarta : UGM Odum, Eugene P.1994.Dasar-Dasar Ekologi.Yogyakarta:Gadjah Mada University Press Ramli, Dzaki.1989.Ekologi.Jakarta:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta Sarief, H. E. Saifuddin.1993.Ilmu Tanah Pertanian.Bandung: Pustaka Buana Suin, Nurdin Muhammad.1997.Ekologi Hewan Tanah.Jakarta: Bumi Aksara Widowati, Asri dan Ekosari R. 2012. Petunjuk Praktikum. Yogyakarta: FMIPA UNY.

21

J. Lampiran Foo Proses Observasi

22

23