Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kehamilan ektopik adalah suatu kehamilan dimana sel telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh diluar endometrium kavum uteri. Kehamilan ektopik dapat mengalami abortus atau ruptur pada dinding tuba dan peristiwa ini disebut sebagai Kehamilan Ektopik Terganggu. Sebagian besar kehamilan ektopik terganggu berlokasi di tuba (90%) terutama di ampula dan isthmus. Sangat jarang terjadi di ovarium, rongga abdomen, maupun uterus. Keadaan-keadaan yang memungkinkan terjadinya kehamilan ektopik adalah penyakit radang panggul, pemakaian antibiotika pada penyakit radang panggul, pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim IUD (Intra Uterine Device), riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, infertilitas, kontrasepsi yang memakai progestin dan tindakan aborsi. Gejala yang muncul pada kehamilan ektopik terganggu tergantung lokasi dari implantasi. Dengan adanya implantasi dapat meningkatkan vaskularisasi di tempat tersebut dan berpotensial menimbulkan ruptur organ, terjadi perdarahan masif, infertilitas, dan kematian. Hal ini dapat mengakibatkan meningkatnya angka mortalitas dan morbiditas Ibu jika tidak mendapatkan penanganan secara tepat dan cepat. Insiden kehamilan ektopik terganggu semakin meningkat pada semua wanita terutama pada mereka yang berumur lebih dari 30 tahun. Selain itu, adanya kecenderungan pada kalangan wanita untuk menunda kehamilan sampai usia yang cukup lanjut menyebabkan angka kejadiannya semakin berlipat ganda. Kehamilan ektopik terganggu menyebabkan keadaan gawat pada reproduksi yang sangat berbahaya. Berdasarkan data dari The Centers for Disease Control and Prevention menunjukkan bahwa kehamilan ektopik di Amerika Serikat meningkat drastis pada 15 tahun terakhir. Menurut data statistik pada tahun 1989, terdapat 16 kasus kehamilan ektopik terganggu dalam 1000 persalinan. Menurut hasil penelitian yang dilakukan Cuningham pada tahun 1992 dilaporkan kehamilan ektopik terganggu ditemukan 19,7 dalam 100 persalinan. Pada makalah ini akan dibahas lebih lanjut tantang masalah Kehamilan Ektopik Terganggu.

1.2 Tujuan Penulisan

1.2.1

Tujuan Umum

Membantu mahasiswa dalam memahami secara umum konsep dari Kehamilan Ektopik Terganggu 1.2.2 Tujuan Khusus Mengetahui masalah yang mungkin dapat diketahui dan diatasi pada Kehamilan Ektopik Terganggu.

Mengetahui dan menambah pengetahuan tentang Kehamilan Ektopik Terganggu Mengetahui defenisi, etiologi, klasifikasi, epidemiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, diagnosis, penatalaksanaan, prognosis, dan komplikasi pada Kehamilan Ektopik Terganggu Mengetahui dasar teoritis dari Kehamilan Ektopik Terganggu Mengetahui asuhan keperawatan Kehamilan Ektopik Terganggu

BAB II TINJAUAN TEORITIS

2.1 Defenisi

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi di luar rongga uterus (Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Meternal dan Neonatal, 2001). Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang di tandai dengan terjadinya implantasi di luar endometrium kavum uteri setelah fertilisasi (Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2001). Kehamilan Ektopik terjadi bila telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uteri. Kehamilan ektra uterin tidak sinonim dengan kehamilan ektopik karena kehamilan pada pars interstisialis tuba dan kanalis servikalis masih termasuk dalam uterus, tetapi jelas bersifat ektopik ( Ilmu Kebidanan Edisi Ketiga, 1992). Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang tempat implantasi/ nidasi/ melekatnya buah kehamilan di luar tempat yang normal, yakni di luar rongga rahim. Sedangkan yang disebut sebagai Kehamilan Ektopik Terganggu adalah suatu kehamilan ektopik yang mengalami abortus ruptur pada dinding tuba.

2.2 Etiologi

Etiologi kehamilan ektopik terganggu telah banyak diselidiki, tetapi sebagian besar penyebabnya tidak diketahui. Trijatmo Rachimhadhi dalam bukunya menjelaskan beberapa faktor yang berhubungan dengan penyebab kehamilan ektopik terganggu, yaitu: 1. Faktor mekanis Hal-hal yang mengakibatkan terhambatnya perjalanan ovum yang dibuahi ke dalam kavum uteri, antara lain: Salpingitis, terutama endosalpingitis yang menyebabkan aglutinasi silia lipatan mukosa tuba dengan penyempitan saluran atau pembentukan kantong-kantong buntu. Berkurangnya silia mukosa tuba sebagai akibat infeksi juga menyebabkan implantasi hasil zigot pada tuba falopii. Adhesi peritubal setelah infeksi pasca abortus/ infeksi pasca nifas, apendisitis, atau endometriosis, yang menyebabkan tertekuknya tuba atau penyempitan lumen Kelainan pertumbuhan tuba, terutama divertikulum, ostium asesorius dan hipoplasi. Bekas operasi tuba memperbaiki fungsi tuba atau terkadang kegagalan usaha untuk memperbaiki patensi tuba pada sterilisasi

Tumor yang merubah bentuk tuba seperti mioma uteri dan adanya benjolan pada Adneksia Penggunaan IUD

2. Faktor Fungsional Migrasi eksternal ovum terutama pada kasus perkembangan duktus mulleri yang abnormal Refluks menstruasi Berubahnya motilitas tuba karena perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron

3. Peningkatan daya penerimaan mukosa tuba terhadap ovum yang dibuahi. 4. Hal lain seperti; riwayat KET dan riwayat abortus induksi sebelumnya.

2.3 Klasifikasi

Menurut Titus, klasifikasi pembagian tempat-tempat terjadinya kehamilan ektopik, 1. Kehamilan tuba Intertisial (2%) Istmus (25%) Ampula (17%) Fimbriae (17%

2. Kehamilan Ovarial (0,5%) 3. Kehamilan Abdominal (0,1%) Primer Sekunder

4. Kehamilan tuba-ovarial 5. Kehamilan Intraligamenter 6. Kehamilan Servikal 7. Kehamilan Tanduk rahim rudimenter

2.4 Patofisiologi

Tempat-tempat implantasi kehamilan ektopik antara lain ampula tuba (lokasi tersering, ismust, fimbriae, pars interstisialis, kornu uteri, ovarium, rongga abdomen, serviks dan ligamentum kardinal. Zigot dapat berimplantasi tepat pada sel kolumnar tuba maupun secara intercolumnar. Pada keadaan yang pertama, zigot melekat pada ujung atau sisi jonjot, endosalping yang relative sedikit mendapat suplai darah, sehingga zigot mati dan kemudian di reabsorbsi. Pada implantasi interkolumnar, zigot menempel diantara dua jonjot. Zigot yang telah bernidasi kemudian tertutup oleh jaringan endosalping yang menyerupai desidua, yang disebut

pseudokapsul. Villi korialis dengan mudah menembus endosalping dan mencapai lapisan miosalping dengan merusak integritas pembuluh darah di tempat tersebut. Selanjutnya, hasil konsepsi berkembang dan perkembangannya tersebut di pengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu tempat implantasi, ketebalan tempat implantasi dan banyaknya

perdarahan akibat invasi trofoblas. Seperti kehamilan normal, uterus pada kehamilan ektopikpun mengalami hipertropi akibat pengaruh hormon estrogen dan progesteron, sehingga tanda-tanda kehamilan seperti tanda hegar dan Chadwick pun ditemukan. Endometriumpun berubah menjadi desidua, meskipun tanpa trofoblas. Sel-sel epitel endometriummenjadi hipertropik, hiperkromatik, intinya menjadi lobular dan sitoplasmanya bervakuola. Perubahan selular demikian disebut sebagai reaksi Arias-Stella. Karena tempat pada implantasi pada kehamilan ektopik tidak ideal untuk berlangsungnya kehamilan, suatu saat kehamilan akan terkompromi. Kemungkinan yang dapat terjadi pada kehamilan ektopik adalah : a) Hasil konsepsi mati dini dan direabsorbsi b) Abortus kedalam lumen tuba c) Ruptur dinding tuba.

2.5 Manifestasi Klinis

Dikenal trias gejala klinik KET, yaitu : 1. Amenorrhoe Lamanya aminorea bervariasi dari beberapa hari sampai beberapa bulan. Dengan aminorea terdapat hamil muda yaitu morning sicknes, mual-mual, perasaan ngidam. 2. Nyeri Abdomen Disebabkan kehamilan tuba yang pecah, rasa nyeri dapat menjalar keseluruh abdomen tergantung perdarahan didalamnya. Bila rangsangan darah dalam abdomen mencapai diafragma dapat terjadi nyeri di daerah bahu. 3. Perdarahan Terjadinya abortus atau rupture kehamilan tuba terdapat perdarahan kedalam cavum abdomen dalam jumlah yang bervariasi.

Gejala lain yang dapa muncul antara lain : 1. Syock Hipovolemia 2. Nyeri bahu dan leher 3. Nyeri pada palpasi : perut penderita biasanya tegang dan agak gembung. 4. Nyeri pada toucher 5. Pembesaran Uterus 6. Tumor dalam rongga panggul 7. Gangguan berkemih 8. Perubahan darah

2.6 Epidemiologi

Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun. Lebih dari 60% kehamilan ektopik terjadi pada wanita 20-30 tahun dengan sosio-ekonomi rendah dan tinggal didaerah dengan prevalensi gonore dan prevalensi tuberkulosa yang tinggi. Pemakaian antibiotik pada penyakit radang panggul dapat meningkatkan kejadian kehamilan ektopik terganggu. Diantara kehamilan-kehamilan ektopik terganggu, yang banyak terjadi ialah pada daerah tuba (90%). Antibiotik dapat mempertahankan terbukanya tuba yang mengalami infeksi tetapi perlengketan menyebabkan pergerakan silia dan peristaltik tuba terganggu sehingga menghambat perjalanan ovum yang dibuahi dari ampula ke rahim dan berimplantasi ke tuba. Kontrasepsi IUD juga dapat mempengaruhi frekuensi kehamilan ektopik terhadap persalinan di rumah sakit. Banyak wanita dalam masa reproduksi tanpa faktor predisposisi untuk kehamilan ektopik membatasi kelahiran dengan kontrasepsi, sehingga jumlah persalinan turun, dan frekuensi kehamilan ektopik terhadap kelahiran secara relatif meningkat. Selain itu IUD dapat mencegah secara efektif kehamilan intrauterin, tetapi tidak mempengaruhi kejadian kehamilan ektopik.

2.7 Pemeriksaan Diagnostik

Gejala-gejala kehamilan ektopik terganggu beraneka ragam, sehingga pembuatan diagnosis kadang-kadang menimbulkan kesulitan, khususnya pada kasus-kasus kehamilan ektopik yang belum mengalami atau ruptur pada dinding tuba sulit untuk dibuat diagnosis. Berikut ini merupakan jenis pemeriksaan untuk membantu diagnosis kehamilan ektopik: 1. HCG- Pengukuran subunit beta dari HCG- (Human Chorionic Gonadotropin-Beta) merupakan tes laboratorium terpenting dalam diagnosis. Pemeriksaan ini dapat membedakan antara kehamilan intrauterin dengan kehamilan ektopik. 2. Kuldosintesis Tindakan kuldosintesis atau punksi Douglas. Adanya darah yang diisap berwarna hitam (darah tua) biar pun sedikit, membuktikan adanya darah di kavum Douglasi. 3. Dilatasi dan Kuretase Biasanya kuretase dilakukan apabila sesudah amenore terjadi perdarahan yang cukup lama tanpa menemukan kelainan yang nyata disamping uterus. 4. Laparaskopi Laparaskopi hanya digunakan sebagai alat bantu diagnosis terakhir apabila hasil-hasil penilaian prosedur diagnostik lain untuk kehamilan ektopik terganggu meragukan. Namun beberapa dekade terakhir alat ini juga dipakai untuk terapi.

5. Ultrasonografi Keunggulan cara pemerikssan ini terhadap laparoskopi ialah tidak invasif, artinya tidak perlu memasukkan rongga dalam rongga perut. Dapat dinilai kavum uteri, kosong atau berisi, tebal endometrium, adanya massa di kanan kiri uterus dan apakah kavum Douglas berisi cairan. 6. Tes Oksitosin Pemberian oksitosin dalam dosis kecil intravena dapat membuktikan adanya kehamilan ektopik lanjut. Dengan pemeriksaan bimanual, di luar kantong janin dapat diraba suatu tumor. 7. Foto Rontgen Tampak kerangka janin lebih tinggi letaknya dan berada dalam letak paksa. Pada foto lateral tampak bagian-bagian janin menutupi vertebra Ibu. 8. Histerosalpingografi Memberikan gambaran kavum uteri kosong dan lebih besar dari biasa, dengan janin diluar uterus. Pemeriksaan ini dilakukan jika diagnosis kehamilan ektopik terganngu sudah dipastikan dengan USG (Ultra Sono Graphy) dan MRI (Magnetic Resonance Imagine) (1,4,8,15). Trias klasik yang sering ditemukan adalah nyeri abdomen, perdarahan vagina abnormal, dan amenore.

2.8 Penatalaksanaan

Pada kehamilan ektopik terganggu, walaupun tidak selalu ada bahaya terhadap jiwa penderita, dapat dilakukan terapi konservatif, tetapi sebaiknya tetap dilakukan tindakan operasi. Kekurangan dari terapi konservatif (non-operatif) yaitu walaupun darah berkumpul di rongga abdomen lambat laun dapat diresorbsi atau untuk sebagian dapat dikeluarkan dengan kolpotomi (pengeluaran melalui vagina dari darah di kavum Douglas), sisa darah dapat menyebabkan perlekatan-perlekatan dengan bahaya ileus. Operasi terdiri dari salpingektomi ataupun salpingoooforektomi. Jika penderita sudah memiliki anak cukup dan terdapat kelainan pada tuba tersebut dapat dipertimbangkan untuk mengangkat tuba. Namun jika penderita belum mempunyai anak, maka kelainan tuba dapat dipertimbangkan untuk dikoreksi supaya tuba berfungsi. Tindakan laparatomi dapat dilakukan pada ruptur tuba, kehamilan dalam divertikulum uterus, kehamilan abdominal dan kehamilan tanduk rudimenter. Perdarahan sedini mungkin dihentikan dengan menjepit bagian dari adneksia yang menjadi sumber perdarahan. Keadaan umum penderita terus diperbaiki dan darah dari rongga abdomen sebanyak mungkin dikeluarkan. Serta memberikan transfusi darah. Untuk kehamilan ektopik terganggu dini yang berlokasi di ovarium bila dimungkinkan dirawat, namun apabila tidak menunjukkan perbaikan maka dapat dilakukan tindakan sistektomi ataupun oovorektomi. Sedangkan kehamilan ektopik terganggu berlokasi di servik uteri yang sering menngakibatkan perdarahan dapat dilakukan histerektomi, tetapi pada nulipara yang ingin sekali mempertahankan fertilitasnya diusahakan melakukan terapi konservatif.

2.9 Prognosis

Angka kematian ibu yang disebabkan oleh kehamilan ektopik terganggu turun sejalan dengan ditegakkannya diagnosis dini dan persediaan darah yang cukup. Kehamilan ektopik terganggu yang berlokasi di tuba pada umumnya bersifat bilateral. Sebagian ibu menjadi steril (tidak dapat mempunyai keturunan) setelah mengalami keadaan tersebut diatas, namun dapat juga mengalami kehamilan ektopik terganggu lagi pada tuba yang lain. Ibu yang pernah

mengalami kehamilan ektopik terganggu, mempunyai resiko 10% untuk terjadinya kehamilan ektopik terganggu berulang. Ibu yang sudah mengalami kehamilan ektopik terganggu sebanyak dua kali terdapat kemungkinan 50% mengalami kehamilan ektopik terganggu berulang. Ruptur dengan perdarahan intraabdominal dapat mempengaruhi fertilitas wanita. Dalam kasus-kasus kehamilan ektopik terganggu terdapat 50-60% kemungkinan wanita steril. Dari sebanyak itu yang menjadi hamil kurang lebih 10% mengalami kehamilan ektopik berulang.

2.10 Komplikasi 1. Pada pengobatan konservatif, yaitu jika rupture tuba telah lama berlangsung (4-6 minggu), terjadi perdarahan ulang (recurrent bledding). Ini merupakan indikasi operasi. 2. Infeksi 3. Sub-ileus karena massa pelvis 4. Sterlitas

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN KET

3.1 Pengkajian Adanya Amenorrhoe Adanya nyeri Adanya perdarahan Syock Hipovolemia Nyeri bahu dan leher Nyeri pada palpasi : perut penderita biasanya tegang dan agak gembung. Nyeri pada toucher Pembesaran Uterus Tumor dalam rongga panggul Gangguan berkemih Perubahan darah

3.2 Diagnosa Keperawatan Kemungkinan diagnosis keperawatan yang muncul adalah sebagai berikut : a. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan yang lebih banyak pada uterus. b. Defisit volume cairan yang berhubungan dengan rupture pada lokasi implantasi , perdarahan . c. Nyeri yang berhubungan dengan rupture tuba fallopii, perdarahan intraperitonial. d. Kelemahan berhubungan dengan banyaknya darah yang keluar saat perdarahan. e. Berduka berhubungan dengan kematian janin.

3.3 Intervensi Keperawatan a. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan yang lebih banyak pada uterus. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1x24 jam

diharapkan pasien mampu mendemonstrasikan perfusi yang adekuat secara individual. KH : 1. Kulit hangat dan kering 2. Ada nadi perifer / kuat 3. Tanda vital dalam batas normal
9

4. Pasien sadar/berorientasi 5. Keseimbangan pemasukan/pengeluaran 6. Tak ada edema Intervensi :

1. Awasi tanda vital, kaji pengisisn kapiler, warna kulit atau membran mukosa dan dasar kuku Rasional : Memberikan informasi tentang derajat/keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan kebutuhan intervensi 2. Kaji respon verbal melambat, mudah terangsang, agitasi, gangguan memori, bingung. Rasional : Dapat mengindikasikan gangguan funsi serebral karena hipoksia atau defisiensi vitamin B12. 3. Catat keluhan rasa dingin. Pertahankan suhu lingkungan dan tubuh hangat sesuai indikasi. Rasional : Fase konstriksi (organ vital) menurunkan sirkulasi perifer. Kenyamanan pasien atau kebutuhan rasa hangat harus seimbang dengan kebutuhan untuk menghindari panas berlebihan pencetus fasodilatasi (penurunan perfusi organ). 4. Berikan SDM yang lengkap/packed, produk darah sesuai indikasi. Awasi ketat untuk komplikasi tranfusi

Kolaborasi : 5. Berikan SDM yang lengkap/packed, produk darah sesuai indikasi. Awasi ketat untuk komplikasi tranfusi. Rasional : Meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen ; memperbaiki defisiensi untuk menurunkan risiko perdarahan. 6. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi. Rasional : Memaksimalkan transfer oksigen ke jaringan. b. Defisit volume cairan yang berhubungan dengan rupture pada lokasi implantasi sebagai efek dari tindakan pembedahan. Tujuan : Setelah diberikan askep selama 1x24 jam diharapkan pasien

menunjukkan volume cairan yang adekuat. KH : 1. Tanda vital stabil 2. Nadi teraba 3. Haluaran urine, berat jenis dan pH dalam batas normal Intervensi :

1. Awasi tekanan darah dan frekuensi jantung.

10

Rasional

Perubahan

dapat

menunjukkan

efek

hipovolemik

(perdarahan/dehidrasi). 2. Evaluasi turgor kulit, pengisian kapiler dan kondisi umum membran mukosa. Rasional : Indicator langsung status cairan/hidrasi. 3. Catat respon fisiologis individual pasien terhadap perdarahan misalnya : perubahan mental, kelemahan, gelisa, ansietas, pucat, berkeringat, tacipnea, peningkatan suhu. Rasional : Simtomatologi dapat berguna dalam mengukur berat/ lamanya episode perdarahan. Memburuknya gejala dapat menujukkan berlanjutnya perdarahan atau tidak adekuatnya penggantian cairan. 4. Pertahankan pencatatan akurat sub total cairan / darah selama terapi penggantian Rasional : Potensial kelebihan tranfusi cairan khususnya bila volume tambahan diberikan sebelum tranfusi darah. Kolaborasi : 5. Berikan cairan Iv sesuai indikasi. Rasional : Mempertahankan keseimbangan cairan/elektrolit pada tak adanya pemasukan melalui oral; menurunkan risiko komplikasi ginjal. 6. Memberikan SDM, trombosit, dan factor pembekuan. Rasional : Memperbaiki/ menormalkan jumlah SDM dan kapasitas pembawa oksigen untuk memperbaiki anemi, berguna untuk mencegah/ mengobati perdarahan. c. Nyeri yang berhubungan dengan rupture tuba fallopii, perdarahan intraperitonial Tujuan KH : Setelah dibserika askep selama 1x24 jam rasa nyeri pasien berkurang. : 1. Teknik relaksasi. 2. Tanda-tanda vital dalam batas normal. 3. Tidak meringis. Intervensi : 1. Tentukan sifat, lokasi, dan dirasi nyeri. Kaji kontraksi uterus, perdarahan, atau nyeri tekan abdomen. Rasional : Membantu dalam mendiagnosis dan menentukan tindakan yang akan dilakukan. Ketidaknyamanan dihubungkan dengan aborsi spontan dan molahidatidosa karena kontraksi uterus yang mungkin diperberat oleh infuse oksitosin. Ruptur kehamilan ektopik mengakibatkan nyeri hebat karena hemoragi yang tersembunyi saat tuba fallopii rupture ke dalam abdomen.

11

2. Kaji stress psikologi ibu atau pasangan dan respon emosional terhadap kejadian. Rasional : Ansietas sebagai respon terhadap situasi darurat dapat memperberat ketidaknyamanan karena sindrom ketegangan, ketakutan dan nyeri. 3. Berikan lingkungan yang tenang dan aktifitas untuk menurunkan rasa nyeri. Instruksikan klien untuk menggunakan metode relaksasi misalnya nafas dalam, visualisasi distraksi dan jelaskan prosedur. Rasional : Dapat membantu dalam menurunkan tigkat nyeri dan karenanya mereduksi ketidaknyamanan. Kolaborasi : 1. Berikan narkotik atau sedative berikut obat-obat praoperatif bila prosedur pembedahan diindikasikan. Rasional : Meningkatkan kenyamanan, menurunkan risiko komplikasi pembedahan. 2. Siapkan untuk prosedur bedah bila terdapat indikasi. Rasional : Tindakan terhadap penyimpangan dasar akan menghilangkan nyeri. d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan dan banyaknya darah yang keluar saat perdarahan. Tujuan : Setelah diberikan askep selama 1x24 jam diharapkan pasien mampu

melaporkan peningkatan toleransi aktivitas dan menunjukkan penurunan tanda fisisologis intoleransi dengan KH : 1. Tanda vital masih dalam rentang normal. Intervensi : 1. Kaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas, catat laporan kelelahan, keletihan, dan kesulitan dalam menyelesaikan tugas. Rasional : Mempengaruhi pemilihan intervensi/ bantuan. 2. Awasi tekanan darah, pernapasan dan nadi selama dan sesudah aktivitas. Catat respon terhadap aktivitas (misal peningkatan denyut jantung atau tekanan darah, disritmia, pusing, dipsnea, takipnea, dan sebagainya). Rasional : Manifestasi kardio pulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan. 3. Berikan lingkungan tenang, pertahankan tirah baring bila diindikasikan. Pantau dan batasi pengunjung, telepon, dan gangguan berulang tindakan yang tak direncanankan. Rasional : Meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan regangan jantunga dan paru. 4. Ubah posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing.

12

Rasional : Hipotensi postural atau hipoksia serebral dapat menyebabkan pusing, berdenyut, dan peningkatan risiko cedera. 5. Rencanakan kemajuan aktivitas dengan pasien termasuk aktivitas yang pasien pandang perlu. Tingkatkan tingkat aktivitas sesuai toleransi. Rasional : Meningkatkan secara bertahap tingkat aktivitas sampai normal dan memperbaiki tonus otot / stamina tanpa kelemahan. 6. Gunakan teknik penghematan energy misal mandi dengan duduk, duduk untuk melakukan tugas-tugas. Rasional : Mendorong pasien untuk melakukan banyak dengan membatasi penyimpangan energy dan mencegah kelemahan. e. Berduka berhubungan dengan kematian janin. Tujuan dan tegar. KH : 1. Pasien menunjukkan rasa pergerakan kearah resolusi dari rasa duka. 2. Memiliki harapan untuk masa depan. Intervensi : 1. Berikan lingkungan yang terbuka dimana pasien merasa bebas untuk dapat mendiskusikan perasaan dan masalah secara realistis. Rasional : Kemampuan komunikasi terapiutik seperti aktif mendengarkan, diam, selalu bersedia, dan pemahaman dapat memberikan pasien kesempatan untuk berbicara secara bebas dan berhadapan dengan perasaan/ kerugian actual. 2. Identifikasi rasa duka (seperti penyangkalan, marah, tawar menawar, depresi, dan penerimaan). Rasional : Kecermatan akan memberikan pilihan intervensi yang sesuai pada waktu individu menghadapi rasa duka dslam berbagai cara yang berbeda. 3. Identifikasi dan solusi pemecahan masalah untuk keberadaan responrespon fisik misalnya : makan, tidur, tingkat aktifitas, dan hasrat seksual. Rasional : Mungkin dibutuhkan tambahan bantuan untuk berhadapan dengan aspek-aspek fisik dari rasa berduka. 4. Dengarkan dengan aktif pandangan pasien dan selalu sedia untuk membantu jika diperlukan. Rasional : Proses berduka tidak berjalan dalam cara yang teratur, tetapi fluktuasinya dengan berbagai aspek dari berbagai tingkat yang muncul pada suatu kesempatan atau pada kesempatan yang lain. : Seteleh diberikan askep selama 1x24 jam diharapkan pasien dapat tenang

13

Jika prosesnya bersifat disfungsional atau perpanjangan intervensi yang lebih agresif mungkin dibutuhkan untuk mepermudah proses. Kolaborasi : 1. Rujuk pada sumber-sember lainnya misalnya konseling psikoterapi sesuai petunjuk. Rasional : Mungkin dibutuhkan bantuan tambahan untuk mengatasi rasa duka membuat rencana dan menghadapi masa depan.

14

BAB IV PENUTUP

4.1 KESIMPULAN Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi di luar rongga uterus (Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Meternal dan Neonatal, 2001). Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang di tandai dengan terjadinya implantasi di luar endometrium kavum uteri setelah fertilisasi (Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2001). Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang tempat implantasi/ nidasi/ melekatnya buah kehamilan di luar tempat yang normal, yakni di luar rongga rahim. Sedangkan yang disebut sebagai Kehamilan Ektopik Terganggu adalah suatu kehamilan ektopik yang mengalami abortus ruptur pada dinding tuba.

4.2 SARAN

Dari penulisan Asuhan Keperawatan diatas kami menyarankan agar mahasiswa memahami dan mengerti tentang penyakit KET pada ibu hamil, bagaimana gejala, penyebab, cara mengobati, dan cara pencegahannya. Demikian saran yang dapat diberikan,atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

15

DAFTAR PUSTAKA

Yulianingsih, Maryunanni, Anik. 2009. Asuhan Kegawatdaruratan Dalam Kebidanan. Penerbit : Trans Info Media, Jakarta

Yuliaikhah, Lily S.Si. T, 2009. Seri Asuhan Kebidanan Kehamilan. Penerbit Buku Kedokteran ECG, Jakarta

Wiknjosastro, Hanifa. 1992. Ilmu Kebidanan Edisi Ketiga. Penerbit PT Gramedia.Jakarta

file:///E:/matrenitas2.htm

16